Berandanegeri.com – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Drs. Josef A. Nae Soi, MM, mengucapkan terimakasih bagi Ketua dan para Anggota Forum Lembata Memanggil yang turut memberikan kepedulian dan membantu masyarakat Kabupaten Lembata yang mengalami musibah akibat Erupsi Gunung Ile Lewotolok beberapa waktu yang lalu. “Pemerintah Provinsi NTT memberikan support atas partispasi kemanusiaan yang dilakukan oleh Forum Lembata Memanggil untuk membantu saudara-saudara kita di sana (Lembata)”, sebut Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Drs. Josef A. Nae Soi, MM saat Audiens Bersama Forum Lembata Memanggil di Ruang Kerja Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Senin 21/12/2020.
“Tentu saja dengan mengenakan baju seperti ini menunjukkan bahwa Forum Lembata Memanggil ikut merasakan, empathy dengan masyarakat di sana. Mereka tidak akan mengambil ahli tugas dari pada pemerintah, tapi mereka ikut membantu dan mereka meminta kepada saya, dimana tempatnya mereka akan bantu, dan apa yang masyarakat di sana butuhkan, supaya tidak overlapping, tidak tumpang tindih dengan yang lainnya”, jelas Wakil Gubernur Josef.
“Forum Lembata Memanggil ini diprakarsai oleh tokoh Lembata luar biasa yaitu Almarhum Anton Tifaona, dan mereka akan melakukan pulang kampung untuk menghibur masyarakat yang terkena bencana gunung api yang meletus. Mereka sudah kirim dokter dengan alat kesehatan semuanya dan itu yang paling dibutuhkan di sana. Kita tahu bahwa kita sangat kurang untuk kesehatan. Terimakasih buat Forum Lembata Memanggil yang telah memberikan perhatian kepada kampung halaman dan membantu masyarakat di Lembata”, jelas Wagub Josef.
Sementara itu, Ketua Forum Lembata Memanggil, Bernard Tifaona mengatakan Forum Lembata Memanggil ini terbentuk secara spontanitas oleh Diaspora NTT yang ada di Jakarta, bukan hanya warga Lembata saja tetapi seluruh warga Diaspora NTT yang ada di Jakarta. Tujuannya kemanusiaan. “Kami datang dan bertemu dengan Bapak Wakil Gubernur NTT untuk minta petunjuk supaya tidak terjadi tumpang tindih atas perilaku kemanusiaan yang ingin kami sampaikan”, kata Bernard.
“Bahasa beliau (Wagub) adalah kita mengunjungi kampung bikin happy dan bantu semua saudara yang ada di sana tanpa menyinggung adanya hal-hal yang dilakukan yang menjadi tanggung jawab Pemerintah daerah. Dan beliau sendiri (Wagub) akan support untuk masalah bantuan kemanusiaan”, jelas Bernard.
Bernard juga mengatakan, kegiatan yang dijalankan ini sudah dilakukan dan sumbangan kita untuk kebanyakan adalah baju APD (alat pelindung diri), test rapid, antigen, semua sudah kita sumbangkan, dokter, obat-ibatan dan alat-alat kesehatan juga kita datangkan ke sana (Lembata), yang memang dibutuhkan oleh Pemda dalam hal ini BNPB”, kata Bernard Tifaona.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut Ketua Umum Forum Lembata Memanggil (Bernard Tifaona, SH, MH) dan para Anggota Forum Lembata Memanggil (Willy Leba, Mikael Kleden dan Vincentius Repu).
Berandanegeri.com – FORUM LEMBATA MEMANGGIL terus melangkah membantu pengungsi di Lembata lewat jaringan kemitraan dengan pihak lainnya. Dalam rilisnya yang diterima media ini, FLM membangun kerjasama dengan Skadron 31 Halim Perdanakusuma untuk bisa memobilisasi bantuan dari Jakarta menggunakan Hercules.
Terbaca pada surat FLM yang ditujukan kepada Komandan
Skadron 31 Wing I Lanud Halim Perdanakusuma Letkol PnB Yulius Marvien Aryaka,
M.Sc.
“Dengan pertimbangan kemanusiaan dan relasi yang terbangun,
Komandan Skadron 31 berkenan membantu pengangkutan sumbagan dari Jakarta ke
NTT. FLM menyampaikan rasa syukur dan terimakasih atas tangan terbuka yang
diberikan pihak Angkatan Udara untuk ikut membantu pengungsi di Lembata, “
jelas Bernard Tifaona, Ketua FLM.
Pengangkutan pertama sudah dilakukan, Sabtu, 18/12/2020 via
Maumere selanjutnya ke Larantuka untuk dibawa ke Lembata. Angkutan pertama ini
sekitar 2 ton sembako dan sejumlah jenis sumbangan lainnya.
FLM juga membangun kemitraan dengan Karila, sebuah lembaga
sosial karitatif yang bernaung di bawah hirarki gereja Katolik, dalam hal ini
Keuskupan Larantuka. Bersama Karila, FLM ingin menjangkau para pengungsi di
lokasi mereka masing-masing.
Sebelumnya FLM sudah mengirim sejumlah bantuan. Tahap
pertama mengirim kebutuhan mendesak sebanyak 40 kodi barang-banrang kebutuhan
mendesak. Menurunkan tiga personil untuk membantu sekaligus memetakan masalah
dan kebutuhan selama masa tanggap darurat, rehabilitasi hingga rekonstruksi.
Tahap kedua dengan mengirim obat-obatan dan Tim Dokter sebagai Relawan
Kesehatan untuk berkolaborasi dengan Dinkes Lembata sebagai Koordinator
membantu masyarakat dalam masa tanggap darurat.
FLM di Jakarta memindahkan sekretariat logistiknya dari
Tebet ke Bekasi untuk mempermudah mobilisasi dan pergerakan tim kerja. “Bantuan
terus dikonsolidasi dan ditampung di Posko Logistik Bekasi. Rencananya akan
diangkut dengan Herkules atau dengan Kapal Pelni,” ungkap Bernard Tifaona.
Beberapa angenda masih terus berproses. Dalam waktu dekat ini, FLM akan melauncing Lagu “Lembata Memanggil” untuk menyapa semua pihak yang peduli. “Lagunya sudah siap dan sedang diproses oleh video klipnya,” tambah Bernard lagi.
Ket. Foto: Bernard Tifaona, Ketua Umum Forum Lembata Memanggil
Ketua FLM Bernard Tifaona menyampaikan rasa syukur dan
terimakasih kepada semua pihak yang telah dengan ikhlas dan rela hati membantu
urusan kemanusiaan di Lembata lewat FLM ini. Terimakasih kepada semua relawan
yang dengan berbagai bentuk dan cara telah ikut membantu semua proses bantuan
hingga sampai ke para pengungsi.
“Terimakasih kepada semua pihak yang memberi dengan hati dan
telah bersedia menjadi saluran berkat bagi sesama yang tertimpah bencana erupsi
Gunung Lewotolok di Lembata, NTT. Kami dari keluarga besar Tifaona di Jakarta
khususnya dan anggota/pengurus FLM umumnya, berniat dengan ikhlas hati ingin
membantu warga yang tertimpah bencana. Tidak ada tendensi atau kepentingan
apapun selain pertimbangan kemanusiaan.”
Tak lupa pula Bernard, putra Alm. Brigjen. Pol Anton Enga
Tifaona ini memohon dukungan dan doa dari semua pihak terutama warga Lembata
agar agenda yang sudah direncanakan dapat dilaksanakan. “FLM juga meminta maaf
kepada para pihak, termasuk Pemda Lembata, kepada warga pengungsi khususnya dan
warga Lembata umumnya jika dalam proses kegiatan kemanusiaan di Lembata ini
masih ada kekurangan dan kelemahan di sana-sini.
“Atas nama keluarga besar Tifaona, anggota dan pengurus FLM, kami Mengucapkan Selamat Memasuki Hari Natal bagi keluarga, para relawan dan umat Kristiani di Lembata serta Bahagia emasuki Tahun Baru di tengah situasi yang belum menentu ini di Lembata.” ***
Berandanenegeri.com – BANTUAN Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani untuk warga korban erupsi Ile Lewotolok dari dua kecamatan masing-masing Ile Ape dan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, akan tiba di Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, pada Senin, (21/12 2020).
Selain bantuan
Wakil Gubernur Papua Barat, bantuan berupa sembilan bahan pokok dari Ketua
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Sorong Petronela Kambuaya, Ikatan
Pemuda, Pelajar, dan Mahasiswa (IPPM) NTT Kota Sorong, warga Flobamora, para
dermawan, dan masyarakat Kota Sorong akan tiba di hari yang sama untuk
meringankan beban korban.
“Bantuan Bapak
Wakil Gubernur Papua Barat, ibu Ketua DPRD, para dermawan, IPPM NTT, masyarakat
Flobamora, dan masyarakat Kota Sorong saya diutus langsung untuk mengantar
bantuan untuk korban pengungsi di rumah-rumah penduduk dan posko. Saya bersama Hairul
Sabah dari IPPM NTT Kota Sorong bersama dua mahasiswa relawan mengantar langsung
donasi ini bagi para korban,” ujar Ety Wukak, pengurus Keluarga Flobamora Kota
Sorong sesaat transit di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang,
Banten, Sabtu, (19/12 2020) pagi.
Erupsi Ile
Lewotolok pada Minggu (29/11 2020) pagi nyaris melumpuhkan sebagian besar
wilayah Ile Ape dan Ile Ape Timur akibat semburan awan hitam pekat disertai
pasir tak hanya terjadi di sekitar lereng gunung Lewotolok. Namun, abu vulkanik
dan bau belerang juga menimpah sejumlah kecamatan di Lembata dan kabupaten tetangga,
Flores Timur. Untugnya, erupsi itu terjadi pada pagi hari sehingga warga segera
melarikan diri menuju Lewoleba.
“Sebagai warga
Flobamora yang tinggai di Kota Sorong, kami ikut merasakan penderitaan yang
menimpa saudara dan saudari kami di kampung halaman. Saya bersama Ketua IPPM
NTT Kota Sorong Adrianus Henan dan anggotanya, kami ramai-ramai turun ke jalan
untuk mengetuk hati warga dan para dermawan untuk ikut bersolider bagi korban.
Kami sangat terharu. Bapak Wakil Gubernur Papua Barat. Ibu Ketua DPRD Kota
Sorong, dan Ketua IPPM NTT Kota Sorong beserta
anggotanya langsung tergerak mendukung gerakan kami di jalan berorasi mencari
dukungan dana,” lanjut Ety Wukak, akitivis perempuan Flobamora Kota Sorong
kelahiran kampung Kluang, Desa Belabaja, Nagawutun.
Bergerak
cepat
Menurut Ety, setelah
erupsi Ile Lewotolok terjadi pada Minggu (29/11 2020) selama tiga hari mulai 2-4
Desember sejumlah elemen di atas langsung bergerak cepat. Mereka semua terjun
di dua titik lampu merah di Kota Sorong mengetuk hati warga dan dermawan untuk
membantu korban. Seluruh anggota IPPN NTT Kota Sorong juga terlibat langsung
dalam aksi soidaritas ini bagi korban erupsi.
“Ketua Flobamora Kota
Sorong ama Syafruddin Sabonama Riantobi mengontak Pak Wakil Gubernur. Kala itu
beliau lagi dinas di Sorong. Pak Wagub bersedia meresmikan posko penggalangan
dana di rumah singgah Satu Harapan Jalan Sriti II HBM, Kota Sorong. Pak Wagub menyerahkan
langsung tanda kasih beliau untuk korban erupsi Lewotolok. Puji Tuhan, bantuan
yang berhasil kami himpun akan kami distribusikan bagi para korban. Tentu terlebih
dahulu kami melapor diri kepada Pemerintah Kabupaten Lembata dan posko
pengungsi yang dibentuk pemerintah daerah,” ujar Ety Wukak.
Perjalanan panjang Kota
Sorong menuju Makassar, Jakarta, Labuanbajo hingga Lembata tak melemahkan
semangat Ety Wukak dan tiga rekannya sesama warga asal Lembata di perantauan. Keluarga
besar Flobamora Kota Sorong memberikan keluasan kepada para anggota yang
bersedia mengantar bantuan bagi korban. Namun, dengan catatan biaya
transportasi ditanggung sendiri.
“Saat kami rapat
bersama para pengurus Flobamora Kota Sorong dan rekan-rekan keluarga besar IPPM
NTT Kota Sorong menugaskan saya dan adik Hairul Saban, Sekretaris IPPM NTT
mengantar langsung bantuan untuk para korban. Mereka semua berharap agar
bantuan Pak Wakil Gubernur, warga Flobamora, donatur, para pengurus paguyupan
asal NTT, dan masyarakat Kota Sorong benar-benar tepat sasaran dan layak bagi para
korban di kampung halaman, tanah lepanbatan,” ujarnya.
Ety juga menyampaikan
apresiasi dan rasa hormat kepada Wakil Gubernur Papua Barat, Ketua DPRD Kota
Sorong, Ketua Flobamora Kota Sorong, dan semua pihak yang bersimpati kepada
warga masyarakat korban erupsi di Lembata. Ety mengaku, secara pribadi ia
berterima kasih kepada Wakil Gubernur karena sekalipun bencana erupsi Ile
Lewotolok terjadi di Lembata namun beliau peduli dan rela memberi sedikit berkat buat saudara
yang tengah dilanda prahara menyusul erupsi gunung di wilayah utara Lembata itu.
”Selaku Wakil Gubernur
Papua Barat, saya sangat bersimpati atas musibah meletusnya gunung Ile
Lewotolok di Lembata. Oleh karena itu, melalui kesempatan ini saya mengajak
seluruh lapisan masyarakat yang ada di Papua Barat terutama di wilayah Sorong
Raya. Mari kita bersatu membantu meringankan beban warga di Lembata yang saat
ini terkena musibah. Jika ada yang ingin memberikan bantuan, bisa langsung
diantar ke posko bantuan yang ada di Rumah Singgah Satu Harapan HBM Kota
sorong,” kata Ety Wukak mengutip kata-kata Wakil Gubernur saat meresmikan posko
penggalangan dana di Kota Sorong.
Sedangkan Ketua Ikatan
Keluarga Flobamora Kota Sorong Syafruddin Sabonama menjelaskan, saat ini
kondisi Indonesia berpotensi untuk terjadinya bencana alam seperti gunung
meletus. Musibah seperti ini bisa saja terjadi di mana-mana karena Indonesia
dikelilingi oleh cincin api.
“Hari ini terjadi di Lembata. Namun, kapan saja bisa terjadi di tempat lain. Musibah erupsi Ile Lewotolok adalah momentum bagi Ikatan Keluarga Besar Flobamora Kota Sorong merekatkan kesadaran nasional bahwa satu musibah di tempat lain adalah duka bagi kita semua. Sehingga kehadiran Wakil Gubernur Papua Barat yang adalah orang Papua untuk meresmikan posko bantuan buat daerah lain yang jauh di sana, itu adalah sebuah pesan bahwa sebagai sebuah bangsa kita semua harus ambil bagian atas duka yang terjadi di negeri ini,” ujar Syafruddin Sabonama, pria asal Adonara dan anggota DPRD Kota Sorong. (AD).
Berandanegeri.com – DARI Mowanemani, Ibu Kota Kabupaten Dogiyai, Sabtu 19 Desember 2020, Bupati Dogiyai, Yakobus Dumupa, menyuarakan pesan Sukacita Natal dan Tahun baru:
Koya, Koha, Kosa, Bida.
Seraya menghaturkan puji dan syukur kepada ALLAH, Sang Sumber Kehidupan, menyambut Perayaan Natal Tahun 2020 dan Tahun Baru 2021, selaku Bupati Dogiyai, saya menyampaikan Pesan Natal Tahun 2020 dan Tahun Baru 2021 kepada segenap warga masyarakat Kabupaten Dogiyai sebagai berikut.
Pertama, Perayaan Natal merupakan momentum suci bagi umat Kristiani untuk memperingati kelahiran YESUS sebagai Sang Juru Selamat segenap umat manusia. Perayaan Tahun Baru Masehi merupakan momentum pergantian tahun yang dirayakan oleh hampir semua umat manusia. Kedua perayaan ini mempunyai makna yang penting tidak hanya bagi umat Kristiani, tetapi juga bagi segenap umat manusia dalam semangat kebersamaan, kemanusiaan, dan toleransi.
Kedua, telah terbukti selama ini bahwa kehidupan yang toleran antar umat beragama di Kabupaten Dogiyai telah berjalan dengan baik. Karena itu, menjadi tugas dan tanggung jawab bagi kita semua untuk terus melestarikan kehidupan yang toleran tersebut. Semua umat beragama apapun di Kabupaten Dogiyai wajib menjaga kehidupan yang toleran selama perayaan Natal dan Tahun Baru berlangsung.
Ketiga, semua warga Kabupaten Dogiyai DILARANG melakukan tindakan-tindakan kejahatan dalam bentuk apapun yang tidak sesuai dengan ajaran Kristen, yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan, yang kemudian dapat berakibat pada terganggunya pelaksanaan perayaan Natal dan Tahun Baru.
Keempat, kepada seluruh umat Kristiani di Kabupaten Dogiyai agar menyiapkan diri secara pribadi maupun bersama untuk menyambut kelahiran YESUS sebagai Sang Juru Selamat umat manusia dengan mengikuti seluruh perayaan Natal dan Tahun Baru dengan aman dan damai. Jadikanlah Perayaan Natal dan Tahun Baru sebagai momentum untuk memperbarui diri dengan cara berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan sesama manusia, berdamai dengan alam semesta, dan berdamai dengan TUHAN.
Jakarta, berandanegeri.com. FORUM LEMBATA MEMANGGIL (FLM), bekerjasama dengan Asosiasi Pilot Garuda (APG), mengirim bantuan kemanusiaan ke Lembata, NTT, Rabu, 16/11/2020. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai tindakan tanggap darurat atas bencana meletusnya Gunung Lewotolok di Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), 29/11/2020, lalu. Sebelumnya, FLM juga sudah mengirim 40 bal paket bantuan kemanusiaan dari Jakarta untuk meringankan masyarakat yang terimpah bencana di Lembata.
Ketua Umum FLM, Bernard Tifaona, menjelaskan pada pengiriman kali ini, FLM membangun mitra
dengan Asosiasi Pilot Garuda (APG). Melihat kebutuhan masyarakat di lokasi
bencana, maka FLM memprioritaskan pengiriman Tim Dokter, obat-obatan dan alat
Kesehatan.
“FLM mengirim alat kesehatan serta obat-obatan. Selain
itu, FLM juga mengirim dua tenaga dokter sebagai Relawan Kesehatan untuk bersama-sama
Dinas Kesehatan Lembata selaku Koordinator Tim Kesehatan bisa membatu situasi
tanggap darurat pasca bencana di Lembata. Tim dokter dan barang-barang bantuan
kemanusiaan sudah tiba di Kupang sejak Rabu, 16/11.”
Perjalanan yang cukup jauh dengan cuaca yang tidak
menentu, membuat perjalanan diatur per etape. FLM mengirim pula seorang relawan
lainnya, Alfredo da Silva untuk mengawal logistik bantuan kemanusiaan. Kamis,
17/12 , pagi dari Jakarta ke Kupang dan selanjutnya membawa logistik bantuan
ini ke Larantuka dan/atau ke Lewoleba.
Kerjasama Asosiasi Pilot Garuda (APG)
Mobilisasi logistik bantuan kemanusiaan dari Jakarta
ini sepenuhnya dibantu oleh Asosiasi Pilot Garuda (APG), menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA-448 dari
Jakarta menuju Kupang.
“Kami terpanggil untuk terlibat dalam bantuan
kemanusiaan di Lembata untuk mengurangi penderitaan Saudara-saudara disana”,
demikian ucap Captain Isays Sampesule, perwakilan APG yang juga membawa pesawat
GA-448 menuju Kupang, Rabu, 16/12/2020.
Dari Kupang akan diupayakan dengan Fery atau kapal
Pelni ke Lewoleba atau ke Larantuka.
“Sejak kemarin, barang-barang sudah tiba di Kupang.
Sesuai konfirmasi terakhir, mengingat cuaca yang tidak menentu di wilayah NTT, barang-barang
akan diberangkatkan dengan Kapal Pelni ke Larantuka, selanjutnya akan dibawa ke
Lembata,” jelas Alex Tifaona, Wakil Ketua Umum.
Sutera Pharma Sumbang Alat Rapid Test Covid-19
dan Obat-obatan
Mengingat
situasi Covid-19 yang masih jadi kesiagaan nasional, selain obat-obatan, FLM
juga mengirim alat-alat Rapid Test. Dari relasi pribadi yang selama ini
terbangun, ternyata efektif membantu para pengungsi di Lembata. Antara lain, sumbangan
rapid test yang diberikan oleh Sutera Pharma turut dalam daftar obat-obatan
yang dikirimkan oleh FLM.
“Kami kirimkan sumbangan rapid test agar penularan covid-19 dapat mudah ditekan di lokasi-lokasi pengungsian,” demikian ujar dr. Ellysa dari Sutera Pharma. ***
Foto
1. Serah Terima Paket Obat-obatan oleh Captain Isays Sampesule kepada Tim
Dokter FLM di Airport El-Tari, Kupang, 16 Desember 2020
Foto 2. Serah terima paket obat-obatan kepada Pilot Garuda Captain Isays Sampesule oleh Waketum FLM, Alex Tifaona disaksikan Sekjen FLM, Michael Kleden.
Foto
3. Tim FLM Bersama tim cargo Garuda Indonesia saat proses loading cargo
Berandanegeri.com. RIBUAN warga dan umat Kristiani Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua, tumpah ruah penuh gembira dan rasa syukur menghadiri prosesi pengresmian Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua Jemaat Eben-Haezer Mowanemani Klasis Kamuu di Mowanemani, ibu Kota Kabupaten Dogiyai, Rabu (16/12 2020).
Pada hari berbahagia itu, Bupati Dogiyai Yakobus Dumupa, atas nama pemerintah dan masyarakat Dogiyai berkenan meresmikan gereja tertinggi bagi Jemaat Eben-Haezer Mowanemani. Proses pengresmian ditandai pembukaan selubung papan nama, penandatanganan prasasti, pengguntingan pita, dan pembukaan pintu gereja.
“Gedung gereja ini cukup megah dan paling tinggi di Dogiyai. Proses pengerjaan hingga penyelesaian gedung gereja ini menghabiskan dana Rp. 4 miliar lebih. Dana pembangunan berasal dari swadaya dan sumbangan jemaat serta bantuan Pemerintah Kabupaten Dogiyai,” kata Bupati Dumupa usai meresmikan Gereja Kingmi Jemaat Eben-Haezer Klasis Kamuu dalam keterangan tertulis yang diterima berandanegeri.com, Kamis (17/12 2020).
Pada
kesempatan itu, Bupati Dumupa menyampaikan sejumlah hal penting di hadapan
warga dan umat Kristiani. Pertama,
gedung Gereja Eben-Haezer Mowanemani memecahkan dua rekor sekaligus, yaitu durasi
pembangunan hingga penyelesaian gedung Gereja tersebut paling cepat di Dogiyai
dan merupakan gedung paling tinggi di kota Mowanemani.
Kedua,
selama tiga tahun masa pemerintahan periode pertama memimpin Dogiyai daerah itu
telah menggelontorkan anggaran sebesar hampir Rp. 40-an milyar untuk membangun
rumah ibadah. Gereja Eben-Haezer merupakan salah satu Gereja yang mendapat dana
hibah pembangunan gedung Gereja.
Ketiga,
pihaknya meminta warga masyarakat Mowanemani dan sekitarnya menjaga gedung
Gereja Eben-Haezer yang baru diresmikan. Artinya, tidak boleh merusak gedung
gereja ini agar digunakan sebagai tempat berdoa. Keempat, ia juga meminta agar
umat Kristiani di Mowanemani lebih berperan aktif dalam pembangunan bersama
pemerintah. Hal ini penting mengingat urusan pembangunan merupakan tugas dan
tanggungjawab semua warga, baik baik secara personal maupun kolektif.
“Saya
juga meminta warga terutama umat Kristiani ikut menjaga keamanan dan ketertiban
menjelang, sesaat, dan setelah pelaksanaan Hari Raya Natal 2020 dan Tahun Baru
2021 agar dua momentum penting itu bisa dilaksanakan dengan aman dan damai,”
lanjut Dumupa, mantan anggota Majelis Rakyat Papua (MRP).
Bupati Dumupa melanjutkan, selama masa kepemimpinannya sebagai Bupati Dogiyai pihanya memberikan perhatian serius pembangunan di bidang rohani dan sosial keagamaan bagi warga masyarakat. Misalnya, selama ini Pemerintah Kabupaten Dogiyai memberi dana hibah untuk membangun ratusan rumah ibadah.
Selain
itu, lanjut Dumupa, Pemerintah Kabupaten Dogiyai juga membiayai berbagai kegiatan
di bidang sosial dan keagamaan. Misalnya memberi honor bulanan kepada 500 orang
hamba Tuhan dan memfasilitasi kegiatan tour wisata rohani dan ibadah umroh ke
tanah suci, dan lainnya. Pemerintah daerah juga memberikan perhatian serius
pada aspek pembangunan sosial keagamaan.
“Saya
berpikit agama adalah sarana paling efektif menumbuhkan atau mengembangkan aspek
rohani dan spiritual umat dan warga masyarakat,” kata Dumupa, bupati di tanah
Papua yang sudah menerbitkan belasan buku. Usai prosesi pengresmian dilanjutkan
dengan ibadah bagi umat Kristiani dan acara syukuran bersama warga masyarakat.
RESPON kritis terhadap teknologi bermula pada masa Revolusi Industri di Inggris. Inovasi mesin uap dalam dunia industri pada masa itu telah memicu gerakan antimesin karena dipercaya berpotensi mereduksi kreatifitas manusia. Dari gerakan inilah dikenal Luddisme, yaitu sebuah paham antiteknologi yang melihat pentingnya biosphere dibandingkan dengan technosphere. Pada masa kontemporer, Neo-Luddism menjadi gerakan intelektual yang memperluas kritiknya tidak hanya pada mesin-mesin, tetapi juga sistem ekonomi kapitalistik.
Selain
technophobia seperti Luddisme, yang
melihat hanya dari perspektif bahayanya, kita ketahui adanya technophilia. Istilah ini merujuk pada orang-orangyang percaya hanya pada keutamaannya. Mereka melihat status ontologis
teknologi tanpa mempertimbangkan dampak-dampaknya yang merugikan. Futurisme, pascahumanisme,
dan transhumanisme berada dalam kategori technophilia.
Ia dikatakan tidak hanya dapat menebus keterasingan manusia modern, tetapi juga
membawa kebahagiaan yang diinginkan.
Eksistensialisme selalu
dikategorikan technophobia. Namun, kita ketahui kritik mereka
lebih dari perspektif esensinya, bukan pada dampak empirisnya. Martin Heidegger,
filsuf yang secara sistematis merumuskan cara pandang esensialis,
mendefinisikan teknologi sebagai penyingkapan realitas. Menurutnya, ia dipahami
bukan dalam konteks genus seperti pemahaman kita
akan
esensi entitas-entitas filosofis lainnya
(1977: 15). Demikian pula filsuf-filsuf
eksistensialis lainnya seperti Karl Jaspers (Verbeek,
2000) dan Gabriel Marcel (1962). Dengan melihat
pada esensinya, menurut mereka, ia
berpengaruh secara merugikan. Para filsuf eksistensialis tersebut mengajukan pentingnya kualitas-kualitas eksistensial
seperti kebebasan, keotentikan, dan juga kesakralan diri manusia.
Dalam artikel ini, saya mengajukan gagasan
humanisme dalam wacana filsafat teknologi berdasarkan problem non-netralitas teknologi
(bahwa ia dapat menjadi baik dan buruk). Kerangka filosofisnya dielaborasi berdasarkan
filsafat Armahedi Mahzar, Lewis Mumford, Gilbert Simondon dan Carl Mitcham. Bentuk
humanisme ini menjadi solusi teoritis untuk mengatasi dampak-dampak teknologi yang
membuat manusia terasing dari dunianya. Selain itu, akan dirumuskan juga langkah-langkah
empiris mengacu pada proposisi-proposisi filosofis berciri humanistik.
Argumen-argumen Humanisme
dalam Wacana Filsafat Teknologi
Humanisme bermula pada masa Renaisans di Italia.
Gerakan intelektual ini memiliki agenda mengembalikan otonomi manusia dengan
melihat khazanah kebudayaan (filsafat dan seni) klasik yang terlupakan. Pada
masa modern, humanisme kembali dipopulerkan oleh mahzab filsafat
eksistensialisme. Mereka menyatakan perlunya manusia merefleksikan dirinya
sebagai eksistensi yang penuh determinasi di tengah gejala materialisme. Para
filsuf seperti Martin Heidegger, Jean-Paul Sartre dan Karl Jaspers mengajukan
relevansi humanisme perspektif eksistensialisme. Kemanusiaan, menurut para
filsuf eksistensialisme, melampaui rasionalitas manusia.
Saya akan mendedah humanisme dalam wacana filsafat teknologi berdasarkan ide bahwa ia tidak terbatas pada eksistensi manusia. Fokus utamanya bukan pada respon kritis dimana posisi manusia mesti menjadi keutamaan seperti humanisme filsafat teknologi perspektif eksistensialisme, melainkan cara pandang yang menjelaskan karakter manusiawi dari semua teknologi.
Argumen
pertama mengacu pada Armahedi Mahzar, futuris dan filsuf sains dan teknologi
integralis. Mahzar melihat adanya kesamaan antara biologi dan teknologi.
Teknologi merupakan kelanjutan dari biologi dengan manusia penentu gerak
kemajuannya. Ia menyatakan adanya
kesejajaran struktural fungsional yang meliputi
material, energetik, dan informatik. Ia
mencontohkan kesejajaran struktural fungsional material: tulang sejajar dengan kayu
atau besi (subsistem penopang). Daging dan lemak dengan gudang atau kamar
(subsistem penyimpan). Kulit dengan pakaian (subsistem pelindung). Sel dan
organ dengan perkakas (subsistem perlengkapan). Lalu energetik: otot sejajar dengan mesin atau kincir angin (subsistem
penggerak), pembuluh darah dengan jalan atau sungai (subsistem penyebar).
Sedangkan informatik: mata sejajar
dengan kamera, telinga dengan mikrofon (subsistem penerima). Jaringan syaraf
dengan telepon, radio, dan televisi (subsistem penyalur). Sedangkan otak
(subsistem pengolah) dengan internet (2004: 172-175).
Dengan adanya kesamaan struktural fungsional ini, baik itu disadari atau
tidak, teknologi selalu merupakan biomimikri digunakan untuk menyelesaikan
persoalan-persoalaan. Biomimikri dalam konteks ini dijelaskan olehnya secara
struktural fungsional. Kesajaran fungsional menyatakan ia bukanlah suatu yang
berbeda dengan biologi. Ia memiliki karakteristik yang sama terutama dengan manusia
yang merupakan puncak evolusi alam. Bahkan ia berevolusi menuju keadaan singularistik dimana Bumi
suatu saat akan sadar diri. Humanisme filsafat Mahzar terletak pada bagaimana
teknologi dikatakan memiliki kesejajaran fungsional dengan alam dan terutama
tubuh manusia dengan segala kapasitas teknisnya.
Ia juga menjelaskan aspek-aspek antropomorfis yang menjadi syarat suatu kebudayaan
berkembang, yaitu melalui ilmu, teknologi dan seni yang merupakan ekstensi
(atau refleksi) dari trifungsi otak manusia (2004: 200). Melalui proses ini,
maka semua bentuk teknologi (secara lebih luas kebudayaan) bersifat manusiawi.
Kapasitas kecerdasan yang berekstensi secara material inilah yang nantinya mengondisikan
singularitas teknologi.
Namun demikian, materialitasnya, yang merupakan manifestasi dari
kecerdasan manusia, diteorikan bergerak menuju kondisi determinisme distopian.
Trifungsi otak manusia (ilmu, teknologi dan seni) tidak akan mampu mengatasi
persoalan ini. Ia kemudian menawarkan kecerdasan ruhaniah yang khas pada
manusia sebagai solusi mengatasi mesin-mesin super canggih yang merupakan ekstensi
dari trifungsi otak manusia. Hanya nilai-nilai ruhaniah yang ada pada manusia,
menurut Mahzar, yang dapat mengatasi hegemoni dan dampak-dampak merugikan
teknologi (2004:186).
Selain karakteristik teknologi yang merupakan refleksi dari keberadaan manusia, humanisme filsafat teknologi Mahzar menemukan bentuknya pada bagaimana nilai-nilai ruhaniah memainkan peran penting dalam memanusiakan teknologi. Namun demikian, bagaimana proses nilai-nilai ruhaniah mengatasi persoalan secara praktis-metodologis tidak dibahas secara rinci olehnya. Dalam diskursus filsafat teknologi, kita bisa mengacu filsafat relasi-relasi manusia-teknologi (atau teori mediasi) yang menjelaskan non-netralitas teknologi. Melalui teori ini, kontrol terhadap teknologi dapat dilakukan melalui pilihan-pilihan rasional yang ditentukan secara demokratis atau melalui nilai-nilai ruhaniah seperti ditawarkan oleh Mahzar.
Argumen kedua dari Lewis Mumford, filsuf teknologi asal Amerika. Ia
mengatakan semua alat-alat teknik (tool-technics)
merupakan bioteknik. Dengan kata lain, ia bagian dari teknik-teknik yang ada
pada biologi atau secara khusus tubuh manusia. Organ-organ tubuh manusia,
seperti tangan dan gigi, bersifat teknis digunakan untuk bertahan hidup dan
mencipta relasi-relasi sosial, demikian pula alat-alat yang diciptakan oleh
manusia menjadi ekstensi dari kemampuan teknik tubuhnya (2014: 383). Pemikiran
ini menyatakan bahwasannya artefak teknis memiliki ciri khas manusiawi. Filsafat
Mumford menjelaskan tentang teknologi yang merupakan manifestasi dari
teknik-teknik yang bersifat alami. Seperti halnya Mahzar yang melihat adanya
kesajajaran dengan biologi. Namun, Mahzar berfokus pada kesamaan bentuk dan
manisfestasi, sedangkan Mumford melihatnya sebagai ekstensi tubuh digunakan untuk
bertahan hidup dan relasi-relasi sosial.
Selain itu, Mumford menjelaskan ciri megamesin teknologi modern. Megamesin
mengacu pada mekanisme manusia-manusia yang bekerja secara organisasional dan
manajerial. Pembuatan Piramida di Mesir pada zaman kuno hanya dimungkinkan
dengan mesin terdiri dari manusia-manusia yang bekerja menurut aturan-aturan di
bawah kontrol kekuasaan. Oleh karena itu, mesin pada dasarnya merupakan sesuatu
yang alami. Ia mengatakan kecanggihan mesin primordial tersebut baru dapat
dibandingkan sampai ditemukannya mesin jam dan mesin-mesin modern lainnya.
Megamesin dengan sistem manajerialnya, yang terdiri dari manusia dan mesin,
seperti kita ketahui, telah mengondisikan peradaban modern. Namun megamesin,
menurut Mumford, menjadikan teknologi tidak sesuai dengan idealitas nilai-nilai
kemanusiaan karena berorientasi pada kekuasaan dan kekayaan. Teknologi berwajah
megamesin telah meninggalkan ciri manusiawinya. Mekanisasi dan regimentasi kemudian
menjadikan manusia semata-mata roda gigi mesin (2014: 385).
Humanisme filsafat Mumford, seperti halnya Mahzar, terletak pada
bagaimana teknologi tidak terpisah dengan yang alamiah. Namun demikian, menurut
Mumford, ia menghasilkan visi determinisme distopian dimana manusia secara
eksistensial kemudian tersubordinasi. Pandangan inilah yang membawa kita pada
kecenderungan melihat teknologi berjarak dengan manusia. Munculnya mesin-mesin
super canggih, terutama seiring dengan perkembangan komputer, menguatkan
pandangan ini. Sikap kritis Mumford terhadap teknologi dengan ciri megamesin
(atau monoteknik) kemudian membawanya pada kajian yang berfokus pada seni dan
kehidupan urban.
Mengenai posisi dikotomi manusia vis
a vis teknologi kita bisa lihat “filsafat” Gilbert Simondon, yang merupakan
argumen ketiga humanisme dalam wacana filsafat teknologi, tentang
individu-individu teknis. Mesin-mesin, menurutnya, bukanlah teknologi dengan
makna instrumentalnya, melainkan proses konkretisasi (dan konvergensi) benda-benda
dari keadaan ontogenesis (preindividual
being) menuju keutuhan individu teknis yang terus memiliki potensi berkembang.
Keterhubungan anasir-anasir teknis menjadi pemikiran utama filsafat teknologi Simondon.
Teknologi merupakan individu dengan manusia menjadi bagian dari individu
tersebut (2013: 58).
Dalam filsafat Simondon, kita tidak bisa melihat teknologi sebagai entitas
yang dikuasai, melainkan harus memosisikannya sebagai individu teknis yang terbentuk
secara evolutif. Karena itu, dalam relasi-relasi manusia-teknologi, kita tidak bisa
berada dalam posisi menguasai atau dikuasai. Untuk moda relasi ini, Simondon menganalogikannya
dengan ansambel teknis seperti musik orkestra (1980: 4). Tujuan-tujuan teknis menjadi
mungkin bila kita memosisikan diri bagian dari ansambel. Berdasarkan pemikiran
ini, karena adanya simetri, maka ketika menggunakan alat-alat kita tidak bisa
mengkonstitusikan diri sebagai individu teknis. Alat-alat yang berada dalam
relasi-relasi dikonseptualisasikan seperti manusia dengan segala kapasitas
teknis tubuhnya.
Berdasarkan filsafat Simondon, humanisme dipahami ketika kita perlu menyimetrikan diri dengan teknologi. Secara fungsional, tidak ada dikotomi antara manusia dan objek-objek teknis. Objek-objek teknis memiliki ciri manusiawi karena diteorikan berada dalam relasi-relasi ansambel untuk menggapai tujuan. Kita tidak bisa melihat mesin dalam arti objek berhadapan dengan manusia. Sebagaimana dijelaskan Muriel Combes, penafsir Simondon, ini berawal dari bagaimana kita selalu mengkonstitusikan diri sebagai individu teknis yang mensubordinasi teknologi (2013: 59). Karena itu, ketika ia berevolusi menjadi objek teknis yang cukup diri, seperti mesin, seolah-olah kekuasaan kita atasnya menjadi hilang. Padahal, bila kita melihatnya dari perspektif relasi-relasi ansambel, teknologi sejak awal sudah selalu merupakan individu teknis yang cukup diri.
Argumen terakhir, kita bisa mengacu pada definisi diajukan Carl Mitcham
tentang teknologi dalam arti kemauan atau niat (technology as volition). Definisi filosofis ini menyatakan ia
bukanlah sesuatu yang material. Menurut Mitcham, ini merupakan proses kembalinya
makna teknik (sebagai objek, pengetahuan, dan aktivitas) ke filsafat (1994:
247). Manusia mesti punya kemauan untuk bisa bertahan hidup. Demikian pula kemauan
diperlukan untuk membuat hidup lebih mudah. Ia menjadi prasyarat munculnya kecerdasan
teknis yang kemudian memungkinkan teknologi. Kemauan yang terdiri dari hasrat, motivasi
dan persetujuan kolektif tidak memiliki makna secara umum. Karena kemauan yang
berbeda akan menghasilkan teknologi yang berbeda pula. Teknologi dunia
kesehatan, transportasi, militer, dan pendidikan merepresentasikan bentuk kemauan
yang berbeda. Kemauan (volition) telah
membuat perubahan, kemajuan, dan revolusi dalam sejarah peradaban. Kita bisa
katakan tanpanya tidak akan ada kecerdasan berwujud objek, pengetahuan dan
aktivitas.
Jika Mahzar dan Mumford melihat melalui bentuk dan karakteristik
materialnya, Mitcham kembali ke esensinya yang unik bagi manusia. Seperti
halnya Martin Heidegger (enframing) dan
juga Simondon (konkretisasi) yang mendefinisikan teknologi bukan dari makna
instrumental dan materialnya. Definisi mereka menjelaskan bahwa secara
filosofis ia bersifat non-empiris. Di balik bentuk empirisnya, ketika kita
melihatnya sebagai objek, pengetahuan dan aktivitas, terdapat kemauan manusia. Inilah
yang membuatnya, sesulit apapun bagi kita untuk memahaminya, selalu memiliki ciri-ciri
yang bersifat manusiawi, yaitu adanya kepentingan-kepentingan yang terkandung di
dalamnya.
Humanisme filsafat Mitcham berpijak pada kritik teknologi mengacu pada keutamaan
manusia. Ia, misalnya, membuat distingsi antara filsafat teknologi ilmu budaya
(humanities philosophy of technology)
dan filsafat teknologi ilmu teknik (engineering
philosophy of technology). Yang pertama terdiri dari para filsuf, seperti
Heidegger, Mumford dan Mitcham sendiri, yang lebih melihat dari perspektif
kritik, karena itu bersikap pesimistis. Berbeda dengan yang kedua, yaitu kategori
teknik, yang bersikap optimistis. Para filsuf kategori ini biasanya merupakan
ahli teknik yang berjuang untuk kemajuan peradaban teknologis (1994: 20-61). Di
Indonesia, filsuf kategori ini bisa kita lihat contohnya BJ. Habibie. Habibie, melalui
program-program pembangunannya, berfilsafat melalui teknologi, bukan
berteknologi melalui filsafat seperti halnya para filsuf teknologi ilmu budaya.
Dari filsafat Mahzar, Mumford, Simondon dan Mitcham, kita ketahui
humanisme senyatanya tidak terbatas pada eksistensi dan juga tentunya rasionalitas
manusia, melainkan meliputi teknologi. Dengan demikian, kita tidak bisa melihatnya
sebagai objek non-netral yang berdiri secara diametral dengan manusia.
Kesadaran humanistik dalam memandang teknologi mengandaikan etika hidup bersama
dengan tanpa adanya kontestasi dan juga determinisme.
Keterasingan-keterasingan
Dihasilkan oleh Teknologi
Teknologi menghasilkan dampak-dampak yang membuat
manusia terasing dari nilai-nilai kemanusiaannya. Keterasingan ini saya kategorikan
menjadi tiga bentuk: keterasingan ontologis,
etis dan epistemologis. Saya meminjam istilah keterasingan dari filsafat
Karl Marx dengan asumsi ia membawa pada kondisi yang tidak sesuai dengan yang
diharapkan.
Keterasingan
ontologis kita temukan pada respon diajukan oleh
para filsuf eksistensialis. Mereka percaya peradaban teknologis berpotensi mereduksi
subjektivitas. Heidegger menyatakan bagaimana keotentikan diri menjadi hilang mengacu
pada esensi teknologi modern sebagai enframing.
Enframing
membawa pada kondisi ketika kita tidak lagi bisa berada dalam kondisi alamiah.
Manusia menjadi objek-objek relasional yang diposisikan standingreserve. Menurut
Heidegger, ia menjadi berbahaya bukan pada potensinya yang merusak, melainkan
ketika berpengaruh terhadap esensi manusia. (1977: 5).
Eksistensialis
lainnya, Gabriel Marcel, menyatakan perkembangan peradaban modern telah
menjadikan kita semata-mata manusia teknis. Hidup dengan mensyaratkan mediasi teknologi,
menurutnya, bukanlah kondisi yang ideal. Menurut Marcel, “a technical world with its compass set in such direction, can only end
in despair.” (1962: 94). Teknik tidak akan pernah bisa menjawab persoalan-persoalan
eksistensial manusia di dunia. Marcel mencontohkan bagaimana teknik tidak bisa
mengatasi misteri kematian manusia. Bahkan, alih-alih membebaskan manusia,
teknik menurutnya diciptakan terutama untuk mendegradasi manusia. Teknik digunakan
untuk penghancuran massal menjadi ciri perkembangan teknologi modern. Karena
itu ia diteorikan hanya akan mencerabut subjektivitas dan nilai-nilai
kesakralan.
Dengan keterasingan ontologis, teknologi mereduksi manusia seperti halnya
benda-benda. Bahkan, seturut dengan logikanya, kemanusiaan manusia menjadi
hilang karenanya. Solusi dari persoalan ini dapat kita rujukkan pada visi humanisme
Mahzar. Mahzar punya strategi menghumanisasi teknologi dengan nilai-nilai ruhaniah
yang khas ada pada diri manusia. Materialitasnya yang terus berkoevolusi secara
sosio-teknologis suatu saat menghasilkan kondisi dehumanisasi, teknologi tidak
dapat dikontrol, dan akhirnya menguasai manusia. Kondisi ini hanya dapat
diatasi dengan nilai-nilai ruhaniah. Memberi nilai-nilai ruhaniah merupakan
proses humanisasi.
Selain berpengaruh secara eksistensial,
kita ketahui pengaruhnya terhadap lingkungan dan masyarakat. Saya
mengistilahkannya dengan keterasingan
etis. Keterasingan ini mengacu pada bagaimana ia dicitrakan menghasilkan
persoalan yang sebelumnya tidak kita temukan. Limbah industri, senjata pemusnah
massal, penebangan pohon, dan polusi udara merupakan dampak-dampak nyata yang
merugikan.
Keterasingan etis merupakan konsekuensi dari perkembangan
megamesin yang distimulasi oleh kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik. Kita
bisa lihat contohnya industri-industri berorientasi kapitalistik dan juga
tentunya persenjataan militer. Pendekatan humanistik melihat keterasingan etis muncul
disebabkan oleh kemauan manusia. Meski amplifikasi fungsi memiliki peran
menentukan, sehingga membuatnya seakan-akan menjadi sumber kerusakan itu
sendiri, ia pada dasarnya masih berada dalam relasi-relasi yang ditentukan manusia.
Mengenai hal ini, kita bisa mengacu pada filsafat Carl Mitcham tentang
teknologi sebagai kemauan (technology as
volition). Tidak akan ada teknologi tanpa kemauan, tentunya juga tidak akan
ada dampak-dampak etis yang dihasilkannya. Dampak-dampaknya yang merugikan merupakan
perwujudan dari kemauan. Berdasarkan pemahaman ini, solusi terhadap
keterasingan etis digapai melalui kemauan itu sendiri yang mewujud dalam bentuk
tindakan.
Dengan melihatnya berdasarkan refleksi dari keberadaan manusia, penyebab
keterasingan etis tidak bisa dilimpahkan pada teknologi semata seperti kritik para
filsuf eksistensialis dan neo-luddite.
Alasan mereka mungkin masuk akal, terutama ketika mesin-mesin secara teknis
memiliki kekuatan amplifikasi yang merusak dan menggerakkan kita untuk
menggunakannya tanpa pertimbangan etis. Namun kemauan tetap memiliki peran
signifikan mendahului aksi. Konsekuensinya, segala bentuk tindakan terkait
dengan penciptaan dan penggunaan teknologi bisa dipertanggungjawabkan.
Keterasingan lainnya bersifat epistemologis. Keterasingan ini merupakan
dampak-dampak merugikan disebabkan oleh ketidaktahuan kita akan teknologi. Sebuah
objek teknis, selain bentuk dan fungsinya, secara intrinsik terkandung ilmu
pengetahuan. Ketidaktahuan akan hal tersebut menyebabkan keterasingan. Kita
bisa lihat contohnya kultus kargo pada suku tertinggal di Melanesia pada awal
abad 20. Kultus kargo disebabkan oleh ketidaktahuan akan kemajuan peradaban
modern. Karena ketidaktahuan ini, mereka percaya pesawat terbang yang
melemparkan barang-barang merupakan kekuatan illahiah. Suku Melanesia tidak
tahu kalau pesawat merupakan pencapaian kecerdasan manusia. Lalu mereka membuat
pesawat dari kayu beserta landasannya berharap kekuatan illahiah dalam wujud
pesawat tersebut akan datang kembali memberi mereka kemakmuran.
Dampak lainnya dari kategori keterasingan
ini mengacu pada kondisi ekonomi. Kemajuan ekonomi suatu negara berjalan seiring
dengan kemajuan industri yang selalu mengandaikan penggunaan teknologi. Kategori
negara maju, berkembang dan tertinggal, seperti kita ketahui, ditentukan oleh
sejauhmana ia mengatasi persoalan ekonomi. Selain itu, ia juga memiliki dampak
secara politik. Persenjataan, seperti kepemilikan senjata nuklir, menjadi
simbol kekuasaan suatu negara terhadap mereka yang tidak memilikinya. Maka
dapat kita nyatakan relevansinya serta potensi keterasingan yang dihasilkan apabila
kita tidak memahaminya.
Keterasingan ini juga berdampak secara individual, setiap orang dapat merasakan,
tidak hanya di negara tertinggal atau budaya primitif, tapi juga di negara
berkembang dan bahkan negara maju. Tentu banyak faktor yang membuat apakah
suatu negara, budaya, dan bahkan individu itu terasing. Selain ilmu pengetahuan,
faktor mendasar yang dapat mengatasi keterasingan epistemologis adalah keterhubungan
yang memungkinkan didapatkannya informasi. Informasi membuat mungkin kita
mengetahui, mempelajari dan kemudian menguasai teknologi. Fenomena kultus kargo
di Melanesia disebabkan terputusnya informasi. Publisitas (informasi) dan
sosialisasi menjadi solusi bagaimana keterasingan epistemologis kemudian dapat diatasi.
Langkah-langkah Empiris Menuju Visi Humanistik
Dari
problem-problem keterasingan dan solusi filosofisnya, saya mengajukan langkah-langkah
empiris yang relevan diterapkan untuk menggapai suatu visi humanistik filsafat
teknologi. Ada empat proposisi yang dapat dijadikan acuan: (a) sosialisasi diperlukan untuk mencipta
kesempatan yang sama menggapai kebahagiaan dihasilkan oleh teknologi.
Pendekatan institusional dan politik di sini menjadi penting selain pendekatan
ekonomi. Mengikuti proses sosialisasi ini, (b) kita memiliki hak untuk memilih teknologi sesuai dengan yang diperlukan.
Aplikasi objek-objek dan sistem-sistem teknis ke tengah masyarakat, yang
dipercaya bersifat global, harus sesuai dengan nilai-nilai lokalitas.
Untuk mencipta kesadaran publik (awareness)
berkenaan dengan perkembangan teknologi terbaru, maka (c) perlu dipertimbangkan signifikansi budaya teknologis. Budaya ini
terbentuk melalui pendidikan ilmu pengetahuan, teknologi, engineering dan matematika (STEM
education) dan juga tentunya lembaga-lembaga pengembangan. Kemudian karena
alasan non-netralitas, objek-objek teknis dapat menjadi baik dan tidak baik, (d)
etika mediasi teknologis digunakan untuk
menyelesaikan persoalan-persoalan dihasilkan oleh teknologi. Contohnya,
ketika bencana teknologi terjadi, kita selalu menyalahkan perangkat-perangkat
teknis; relevan bila kita lihat faktor-faktornya dalam ranah relasi-relasi
manusia teknologi. Selain itu, mengikuti etika ini kita mesti memosisikan
manusia sebagai manusia bukan benda-benda dan juga sebaliknya benda-benda (bagian
dari manusia itu sendiri).
Proposisi (a) bertujuan
mencipta pemahaman publik melalui sosialisasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Di Indonesia, sosialisasi penggunaan tenaga nuklir menjadi relevan karena kita
belum memberdayakan pembangkit listrik tenaga nuklir. Pertimbangan-pertimbangan
penggunaan tenaga nuklir mesti mengacu pada kepentingan publik lebih luas. Sosialisasi
tenaga nuklir, meliputi keuntungan dan potensi kerugiannya, lewat pendidikan di
sekolah, workshop, seminar, dan diskursus di media menjadi relevan. Publisitas
diperlukan guna mewujudkan teknologi yang demokratis.
Lembaga non-government di Indonesia yang
memiliki program sosialisasi, seperti kita ketahui, The Habibie Center. Meski kini berfokus pada demokrasi dan hak
asasi manusia, program sosialisasi menjadi fokus lembaga ini. Berdasarkan
wawancara dengan Susdiarto, ahli teknik piano, partisipan workshop The Habibie Center pada tahun 2000, ada
unit kerja untuk program sosialisasi, yaitu TheCenter for the Socialization and Dissemination of Technology. Workshop yang diikutinya tersebut bertema
“Undang-undang Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) sebagai Rangsangan
Kreativitas demi Pengecilan Jurang Kaya-miskin di dalam Setiap Bangsa dan di
antara Bangsa-bangsa di Dunia.” Sosialisasi undang-undang hak kekayaan
intelektual, seperti undang-undang hak cipta dan undang-undang hak paten, untuk
menstimulasi kreativitas dalam menggapai pemerataan kebahagiaan, dalam konteks
tertentu memang relevan. Namun karena kecenderungan privatisasinya,
undang-undang ini sebenarnya juga dapat mereduksi proses pemerataan teknologi.
Dalam program terbarunya, tampaknya unit sosialisasi tersebut tidak lagi
diberdayakan diganti dengan visi berorientasi lingkungan.
Bila proposisi (a) mengajukan pentingnya
sosialisasi, maka (b) menyatakan hak untuk menggunakan dan tidak menggunakan teknologi
berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sosial dan budaya. Kearifan lokal,
misalnya, relevan untuk dihormati keberadaannya. Kita ketahui budaya-budaya
lokal di Indonesia, yaitu kepercayaan-kepercayaan dan teknik-teknik tertentu
yang bersifat unik dalam memanfaatkan alam, selalu menghormati kelestarian lingkungan.
Pemanfaatan sumber daya perikanan dan kelautan mengacu pada hukum adat sejalan
dengan visi menjaga keanekaragaman hayati. Kearifan lokal menjadi upaya alternatif
dalam mereduksi kerusakan lingkungan.
Teori
filsafat yang mendukung proposisi
(b) adalah pascafenomenologi. Pendekatan filosofis
diajukan oleh Don Ihde ini melihat teknologi bersifat inheren dengan budaya.
Fungsi teknis suatu alat dipahami dalam konteks budaya. Ihde menyatakan bagaimana
pengalaman budaya menentukan bagaimana kita memahami, mencipta dan menggunakan
teknologi. Banyak artefak dalam proses transfer teknologi tidak dapat bernilai
teknis disebabkan oleh sistem sosial dan budaya yang berbeda. Artefak-artefak
berciri teknis keberadaannya integral dengan budaya. Tidak hanya bentuknya,
tetapi juga fungsinya yang khas.
Mengacu pada ide tentang kebebasan
menggunakan teknologi ini, kita bisa mengacu pada proses rasionalisasi
demokratis seperti diteorikan oleh Andrew Feenberg, filsuf dengan tradisi
filsafat kritis. Menurut Feenberg, teknologi dapat didemokratisasikan melalui
teori instrumentalisasi (2010). Dengan teori ini, fungsi pertama-pertama
didekontekstualisasikan dari realitas (instrumentalisasi
primer), kemudian baru kita terapkan dengan mengkontektualisasikannya
berdasarkan nilai-nilai sosial dan budaya yang ada (instrumentalisasi sekunder). Selain pengaruhnya secara sosial dan
budaya, tentu juga diperlukan penyesuaian terhadap kondisi geografis. Mengaplikasikannya
ke tengah masyarakat perlu mempertimbangkan nilai-nilai yang bersifat lokal. Di
Indonesia, rasionalisasi demokratis dapat kita rujukkan pada nilai-nilai etis Pancasila
yang menghormati keragaman budaya.
Proposisi
(a) dan (b) melihat teknologi ketika disosialisasikan dan diaplikasikan ke
tengah masyarakat, berbeda dengan (c) yang berfokus pada penguasaan fungsi dan
terutama ilmu dan teknik yang mendasarinya. Seperti halnya (a) dan (b), ia juga
menjadi solusi mengatasi bentuk-bentuk keterasingan. Budaya teknologis
terbentuk berdasarkan pendidikan ilmu pengetahuan, teknologi, engineering, dan matematika (STEM). STEM menjadi syarat
berkembangnya budaya teknologis suatu negara. Selain itu, lembaga-lembaga
pengembangan juga menjadi faktor menentukan. Lembaga-lembaga resmi berorientasi
pada pengembangan STEM di Indonesia seperti
kita ketahui yaitu LIPI, BPPT, dan PUSPIPTEK.
Dinamika STEM bisa kita lihat
pada kegiatan lembaga-lembaga pemerintah seperti tersebut di atas. Dibandingkan
dengan negara-negara maju, Indonesia memang dikatakan ‘relatif’ tertinggal. Ini
dapat kita lihat pada indikasi kesuksesan STEM
yang menghasilkan tenaga-tenaga ahli dalam bidangnya dan terutama pengetahuan publik
berkenaan dengan perkembangan teknologi terbaru. Indikasi lainnya, jumlah publikasi
ilmiah internasional dan inovasi-inovasi beserta penerapannya. Publikasi ilmiah
internasional terindeks Scopus berdasarkan laporan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tahun 2016 berjumlah 9457 di bawah negara-negara
ASEAN lainnya seperti Thailand dan Singapura. Jumlah terbanyak, berdasarkan
laporan LIPI dalam Science and Technology
in Indonesia-in Brief (2014), publikasi dalam bidang teknik, setelah itu
agrikultur dan ilmu biologi, dan kemudian kedokteran.
Jepang merupakan negara yang berhasil mengembangkan budaya
teknologisnya. Ia menjadi tandingan budaya tradisional yang telah mengakar
dalam kehidupan masyarakat Jepang. Modernisasi, terutama pasca Restorasi Meiji pada
abad 19, telah membentuk budaya baru menggabungkan budaya tradisional dan ilmu
dan teknologi Barat. Jepang menjadi negara maju terkait revolusi mental dengan
mengembangkan budaya teknologis negara-negara Barat. Selain itu, peran lembaga ilmu
RIKEN yang berdiri tahun 1917 juga menentukan kesuksesan. Lembaga ini
memfasilitasi (menyediakan segala yang dibutuhkan) ilmuwan sehingga mereka dapat
dengan bebas melakukan penelitian. RIKEN menjadi wadah bagi ilmuwan untuk mengembangkan
ilmu-ilmu yang digunakan pertama-tama untuk memajukan ekonomi negara. Menurut
Kojiro Honda, peserta konferensi dari Jepang, dalam presentasinya di pertemuan
ke 19 The Society for Philosophy and
Technology di Northeastern University, Shenyang, Tiongkok, RIKEN memiliki
pengaruh lebih terhadap kemajuan ekonomi Jepang dibandingkan dengan
perusahaan-perusahaan berbasis modal.
Berbeda dengan
Indonesia yang memiliki pengalaman ambivalen terhadap ilmu dan teknologi Barat karena
diasosiasikan dengan kolonialisme. Selain ambivalensi disebabkan oleh kolonialisme,
juga kita ketahui faktor keanekaragaman sikap budaya dalam mempertimbangkan
relevansinya. Selain dikondisikan budaya-budaya
yang beragam, kondisi geografisnya yang 70% lautan dan terletak di zona ring of fire, yaitu zona gunung berapi
di lingkaran lautan Pasifik yang menstimulasi seringnya terjadi gempa, menjadi
faktor menentukan perkembangan budaya teknologis di Indonesia.
Relevansi budaya teknologis di Indonesia saya kira juga relevan
dirumuskan secara hukum dalam bentuk undang-undang. Undang-undang berkenaan
dengan komitmen negara mengembangkan ilmu dan teknologi dijelaskan dalan
Undang-undang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Tahun 2019. Undang-undang
ini menegaskan posisi negara dalam menyikapi pentingnya
perkembangan ilmu dan teknologi. Dalam UU tersebut dijelaskan bahwa negara
menjamin dan mendukung secara hukum setiap usaha mengembangkan ilmu dan
teknologi. Selain itu, juga dirumuskan mekanisme ‘inovasi bertanggungjawab’ terutama
terhadap lingkungan dan kelestarian pengetahuan dan kearifan lokal.
Meski demikian, tidak lantas sosialisasi dan budaya teknologis itu bebas
dari persoalan-persoalan etis. Mengenai hal ini kita mengacu pada proposisi (d)
tentang etika mediasi teknologis digunakan untuk mengatasi non-netralitas
teknologi. Di sini kita bisa lihat etika mediasi (atau teori mediasi) yang dikembangkan
oleh Peter-Paul Verbeek (2004) berdasarkan filsafat pascafenomenologis. Etika
ini menjelaskan bagaimana perilaku manusia diarahkan oleh teknologi. Ia dapat digunakan
untuk memahami faktor-faktor yang menyebabkan persoalan-persoalan yang ada di
lingkungan dan masyarakat. Kerusakan lingkungan tentunya tidak bisa dikatakan
bersumber pada teknologi semata, melainkan bersifat kompleks melibatkan manusia,
demikian pula sebaliknya.
Selain itu, kita mesti memosisikan manusia bukan sebagai benda-benda,
dan benda-benda (baca: teknologi) bagian dari manusia itu sendiri. Inovator
berperan penting dalam mendesain artefak-artefak dan sistem-sistem. Inovator
juga memiliki tanggung jawab menyesuaikan desainnya seturut dengan nilai-nilai
kemanusiaan. Penyesuaian menjadi penting untuk mengatasi persoalan yang
memosisikan manusia semata-mata objek-objek belaka. Demikian pula sebaliknya, teknologi
tidak bisa diposisikan berhadapan dengan manusia. Melihatnya melalui visi
humanisme mengandaikan ia bagian dari manusia itu sendiri. Karena itu, perawatan
(maintenance), check list dan penyempurnaan objek-objek dan sistem-sistem teknis
menjadi penting agar fungsinya tetap dapat digunakan dengan baik. Faktor-faktor
yang menyebabkan kerusakan biasanya terjadi karena tidak adanya proses
perawatan, check list dan
penyempurnaan.
Proposisi-proposisi seperti telah dijabarkan di atas menjadi acuan dalam
membuat kebijakan berciri humanistik. Perkembangan teknologi tentu memerlukan
sebuah visi dan haluan agar sesuai dengan cita-cita kemanusiaan.
Penutup
Nilai-nilai kemanusiaan yang dianggap telah usang seiring dengan perkembangan teknologi yang mentransformasikan kehidupan perlu disikapi secara filosofis. Humanisme filsafat teknologi mencoba menghumanisasi melalui teori-teori dan langkah-langkah empiris. Untuk merespon kemajuannya, selain menteknologikan manusia diperlukan sebuah usaha memanusiakan teknologi.
Budi Hartanto, Alumnus STF Driyarkara, Peneliti Filsafat Teknologi, Penulis Buku Dunia Pasca-Manusia: Menjelajah Tema-tema Kontemporer Filsafat Teknologi (Kepik, 2013).
Daftar
Rujukan
Combes, Murial. (2012). Gilbert Simondon and the Philosophy of the
Transindividual. Diterjemahkan oleh Thomas LaMarre. The MIT Press.
Feenberg,
Andrew (2010). Ten Paradoxes of
Technology. Kuliah Andrew Feenberg di YouTube. Canada Research Chairs.
Seminar Series. Simon Fraser University.
——————– (2005). “Critical Theory of
Technology: An Overview”.
Handayani,
Tri., Asmara, Indri Juwita., et.al. (2014). Science
and Technology in Indonesia-in Brief 2014. Center for Science and Technology Development Studies, LIPI.
Heidegger,
M. (1977). The Question Concerning
Technology and Other Essays. Penerjemah: W. Lovitt. Harper and Row. New
York.
Mahzar, Armahedi (2004). Revolusi Integralisme Islam: Merumuskan Sains dan Teknologi Islami.
Penerbit Mizan, Bandung.
————- (1999). “Mencari
Kesadaran Semesta di Mayantara”. Dalam pengantar buku Spritualitas Cyberspace, Leff Zaleski. Penerbit Mizan, Bandung.
Marcel,
Gabriel (1962). Man Against Mass Society.
H Regnery, Chicago.
Ihde,
Don (1990). Technology and the Lifeworld: from Garden to Earth. Indiana University Press.
Bloomington/Indianapolis.
Verbeek, Peter-Paul (2000). WhatThingsDo: Philosophical Reflections on Technology, Agency, and Design. Diterjemahkan
dari bahasa Belanda oleh Robert P. Crease. The Pennsylvania State University Press, Pennsylvania.
Mumford,
Lewis. 2003. “Tool-User Vs. Homo Sapiens and the Megamachines”, dalam Philosophy of Technology: The Technological
Condition: An Anthology. Editor: Scharff, Robert C. and Dusek, Val. US.
Wiley-Blackwell.
Mitcham, Carl. (1994). Thinking Through Technology: The Path
between Enginering and Philosophy. The University of Chicago Press.
Chicago.
Simondon, Gilbert (1980). Gilbert Simondon: On the Mode of Existence
of Technical Objects. Translator: Ninian Mellamphy. University of Western Toronto. www. academia.edu.
Gigi laut utara menggiring kami kemari, ke laut Sawu yang hangat dan biru begini. Langit begitu rendah. Seperti hendak rebah. Lengkungnya sesekali disaput semburan air yang tegak lurus meniti dalam hembusan napas paru-paru paus pembunuh. Orang-orang yang mendiami pulau kecil di sini menyebut mereka seguni. Sementara aku dan kaumku, mereka beri nama kotoklema.
Setahun sekali kami melintas di tengah laut ini. Beberapa mil dari rumah penduduk yang jumlahnya tak seberapa. Menyediakan diri sebagai umpan yang akan menghidupi mereka selama laut utara dingin membekukan. Hubungan kami dan mereka, yang sudah berabad-abad, membuat mereka hafal bahwa paus jenis kami adalah buruan yang mudah ditaklukan. Sekali tempuling tertancap, kami bukannya melawan, malah mempermudah pertarungan. Kami tidak akan melawan sebagai mana paus pembunuh yang akan menggeliat meronta dalam darah, berputar-putar, menyiksa atau meremukkan perahu seisi-isinya. Membuat ombak marah, memerah, amisnya mencemari langit yang begitu biru, begitu damai. Terkadang di antara pemburu yang baik hati tapi tak berdaya itu ada yang mati atau tinggal terkatung-katung berminggu-minggu sebelum terdampar di benua selatan. Sementara untuk menaklukkan kami layaknya seperti mengikuti pesta besar yang pada akhirnya toh akan usai.
Begini jalannya pesta perburuhan itu. Tempuling yang sudah tertanam di jantung kami di hubungkan dengan leo, tali yang terbuat dari kapas yang dipilin dan disamak, ditambatkan ke sebatang galar di dalam perahu. Sesungguhnya kami adalah makhluk pemasrah. Kami tahu kami tahu kami adalah untuk mereka, para pemburu itu. Tetapi, kami ingin mati terhormat dengan berenang menyongsong laut lepas di mana tiada dosa. Karena kami mengejar kematian ke tengah laut, maka para pemburu itu terseret tali yang menegang, lurus-lurus menuju tepi langit. Sampai kami lemas kehilangan darah dan tenaga, lalu mati.
Para pemburu itu adalah makhluk yang menertawakan. Yang mereka kerjakan lucu. Mereka tak perlu terjun ke laut sambil menghunus pisau untuk melukai, mencabik-cabik nadi kami supaya darah menyembur lebih deras. Kami akan menemukan kematian kami sendiri demi mereka. Kami tahu, mereka tidak berbakat pembunuh. Ini cuma kesalahpahaman yang sudah berabad-abad. Kami tak pernah dipahami.
Langit begitu biru. Semburan-semburan air yang melukis dinding langit membuat hati para pengintai di pantai sana berdebur rasa riang bercampur cemas. Apalagi semburan itu tidak tampak tegak lurus mencakar langit, melainkan condong ke depan, membentuk buah pir yang sedang granum-ranumnya. Pertanda bahwa lakonnya adalah kami, kotoklema, dan bahwa pesta akan berlangsung mudah. Tubuh-tubuh manusia terpacak di atas kaki yang tegak gemetaran. Seperti hendak memecahkan urat leher mereka berseru sejadi-jadinya begitu melihat semburan napas kami yang sedang menyingkapkan hari yang baru di laut yang hangat ini. “Baleo…..! Baleo…..!” Jeritan itu secepat libasan angin bersahut-sahutan dalam lengking yang dipantulkan pasir di pantai dan batu cadas yang mendaki tebing-tebing bukit.
Manisnya hidup ini, kawan. Hari ini 1 Mei, saat mereka yang tak punya apa-apa kecuali darah dan tenaga, menari-nari di semua benua. Sementara di sini, agama menemukan jiwanya yang sejati. Sesaat lalu, di pantai itu berlangsung “misa”, di mana doa bercampur dengan mantra kaum Jahiliah untuk memanggil roh kami. Oh….pekerjaan manusia yang sia-sia! Tuhan terlalu baik. Dia tak usah disembah supaya menghanyutkan kami kemari. Adalah seruan hidup kami untuk sengaja datang dan menyerahkan diri. Bukankah kami lebih kuat dari agama, kalau diingat bahwa agama dikenal penduduk pulau kecil itu hanya karena kecelakaan. Dua pastor, dengan tujuan pulau yang lebih besar terdampar ke sini. Perahu mereka diterjang badai dan gelombang yang mengamuk.
Misa Lefa di Pantai Lamalera
Tetapi baiklah kalau “misa” memanggil roh sudah terlanjur diniatkan. Niat selalu suci. Namun, misa itu tetaplah misa yang ganjil. Lihatlah, di situ tak ada gereja. Cuma ada kapel dan altar yang terbuat dari batu gunung yang ditatah, dionggokan dengan rasa hormat di pojok dusun. Lelaki dan perempuan mengenakan sarung dan baju terbaik. Mereka berdiri dengan tertib. Kuping mereka tampak lebih besar yang mereka tadahkan dengan baik-baik, untuk menyimak pastor yang sedang memimpin misa yang digelar di atas pasir di bibir pantai. Di bibir pantai….Pujian setinggi angkasa dan permohonan yang mengiba-iba kepada Roh Kudus diperdengarkan untuk mengundang kami, para paus, yang diharapkan datang bergulung-gulung dalam jumlah yang akan membuat laut menjadi hitam. Mengalun pula doa bagi orang yang meninggal dan hilang dalam perburuan yang ganas tahun kemarin, atau berabad-abad yang silam, agar mereka mendapatkan belaian kasih dan pengampunan Allah di surga.
Kampung Lamalera
Ini desa nelayan tiada duanya. Malam-malam terdengar orang mengaji Injil. Kata-kata Ilahiahnya melintasi pintu dan jendela-jendela rumah yang tak pernah ditutup supaya kecipak ikan masuk leluasa. Dan hidup benar-benar terasa duniawi karena dibeberapa sudut tercium aroma tuak dan ceracau mereka yang mabuk.
“Baleo….!Baleo…..!” Dalam hitungan sekecipak air laut, selusin perahu bercadik meluncur dan dikayuh kuat-kuat. Hati para pemburu itu dikuasai keinginan untuk meratah daging kami, mereguk minyak dan darah kami. Begitu sulitkah sebuah pengertian? Seakan seratus tahun tak pernah cukup untuk memahami bahwa kami melintas di sini untuk memenuhi panggilan penyerahan diri, pengorbanan untuk berlangsungnya hidup mereka di pulau yang kering sengsara. Lamalera!
Pandanglah si Lamafa, pemegang tempuling yang berdiri di haluan perahu itu. Dia yang segagah itu harus berkelahi menenangkan hatinya yang gentar dan tangannya yang gemetar memegangi tempuling seraya matanya lapar mencari bagian tubuh kami yang paling empuk untuk dirajam. Kalau kami dipahami dengan benar. Kalau saja mereka mengerti bahwa hidup kami memang buat mereka, tak seharusnya hati seorang lamafa adalah campuran kecemasan dan keberanian. Orang semanis dia tak seharusnya menyimpan hasrat membunuh. Sama seperti tidak seharusnya anak-anak kami berniat membunuh kami supaya bisa menyusui di puting susu kami. Kami bukan makhluk yang haus darah sebagaimana manusia di Jawa dan Bali yang memangsa saudaranya sendiri, berpuluh tahun yang lalu, ketika kami sekaum sedang menjelajahi laut selatan. Menjijikan. Ada jenderal yang bangga telah membinaskan orang tak bersenjata, tak bersalah, jutaan jumlahnya. Jung pecah yu yang kenyang, kata peribahasa. Sesudah pembantaian itu, langit pun tahu siapa yang mati kekenyangan.
Langit semakin biru. Garis pantai terputus-putus terlindung haluan perahu yang menderu, beradu cepat mengejar kami. Para pemburu maju bersama perahu mereka yang begitu sederhana, yang tak pernah berubah sejak ratusan tahun yang lampau sejak kami saling bertemu. Memang, seharusnya seperti itulah. Berangkat dengan doa. Bertolak dengan kesederhanaan. Melaut membawa perut yang hanya sejengkal. Tidah seperti pemburu di daratan lain, yang datang dengan kapal-kapal besi. Tempuling mereka bukan bambu, tapi meriam.
Setengah mil dari iringan-iringan kami, tempuling pertama sudah dihunjamkan si lamafa sekuat-kuatnya dengan seluruh tubuhnya ikut mencebur ke laut. Mata senjata itu tertancap persis di jantung seguni jantan. Dalam sekejap perahu berputar seligat gasing. Ekor si jantan berkelabat menghantam perut perahu. Ombak membalun. Darah menyebar darah! Tapi, tak aka nada hiu yang punya nyali untuk mendekat karena pemburu itu akan terjun membantu si lamafa dengan membawa duri (pisau) dan menikam hiu yang mendekat. Laut menggelora , gulungan ombak memerah kusumba. Paus pembunuh itu tetap tak rela mati dibunuh. Berputar-putar dia mengitari perahu. Ekornya melibas, menggapai-gapai. Pagi ini, tempuling, duri (pisau panjang) sudah mencabik-cabik tubuhnya, tapi baru menjelang malam nanti darah timpas dari nadinya.
Di laut sini, jantan menunjukkan kelaki-lakian mereka yang tiada duanya. Mereka memilih mati daripada betinanya yang dibunuh. Di musim kemarin, jantanku sengaja menyerahkan diri, membiarkan jantungnya dirajam tempuling, agar aku dan kaumku bisa meneruskan perjalanan menghanyutkan diri di laut yang hangat ini, aku sudah memohon dia supaya menjauh. Menjauh……Aku percaya, kematianku takkan menyebabkan kepunahan kotoklema. Para pembunuh itu manusia sederhana yang menyambut seruan hidup untuk memuliakan para janda dan si miskin dengan mempersembahkan daging kami kepada mereka. Usus mereka terlalu pendek untuk melenyapkan kami semua. Mereka bukan orang-orang berkulit putih atau kuning, yang memangsa kami bersenjatakan kapal-kapal besi bermesiu di belahan dunia di utara sana.
Berkelabat aku menikung, semakin jauh dari jantanku. Sekali ekorku berdebur mengepak udara, tubuhku meluncur bearatus meter ke bawah permukaan laut. Ketika aku muncul kembali para pemburu itu terperanjat bukan kepalang melihat ekorku mengegol-egol di buritan. Kuapungkan tubuhku. Dan peledang (perahu) pemburu itu menempel seperti bayi yang mungil di punggungku. Tak ada jerit ketakutan di antara mereka. Bukan karena keberanian, tapi karena adat mengharamkan suara dalam perburuhan.
“Jangan tikam e…..! Kamu jangan jadi pengecut ……Betina….Jangan bunuh betina! Dia bagus seperti Yesus.” Kudengar seseorang berbicara tertahan. Pasti ada pengkhianat di antara pemburu. Sebab adat melarang mereka melontarkan sepatah kata pun. Dalam perjalanan pulang menghela hasil buruan yang sudah tertambat di sisi perahu, juga tak boleh ada kata. Apalagi menyebutkan daratan seperti Adonara, Larantuka. Bisa bikin perjalanan pulang bakalan lama, sejauh jarak daratan yang disebutkan. Suatu ketika ada yang ngomel: “Apa saya bicara Belanda sehingga kamu orang tidak mengerti?” Gara-gara umpatan itu, pantai seperti Eropa jauhnya.
Tapi, suara di haluan itu, seruan si lamafa itu, boleh dimaafkan dewa-dewa karena ini memang kejadian luar biasa. Aku, kotoklema, paus berbobot 40 ton sedang menyerahkan diri bulat-bulat. Supaya laut tidak berdarah-darah lagi.
Langit biru, laut senyap. Di punggungku, perahu dengan delapan pemburu yang berserah diri kencang menjelajah ke pantai. Dengan tertempel di punggungku, muncung perahu deras menyisir ombak ditingkah gemercik air di ujung cadik. Layar yang terbuat dari daun gebang dibiarkan saja kuncup, tak ada gunanya.
Dalam tatinganku perahu seisi-isinya tambah menepi. Sekali ekorku melibas, daguku sudah akan mendarat di pasir pantai. Di haluan, kudengar si lamafa mengutuk dirinya dengan kata-kata yang tak bisa kupahami. Dia terisak-isak. Kupikir dia menangis sambil memegangi ujung haluan. Mencium kayu itu, kayu yang beberapa hari sebelum perahu itu melaut, diselimuti dengan anyaman daun lontar, diperlakukan seperti manusia.
“Anna,” si lamafa memuja. “Maafkan aku. Memang aku membelai pipi Leoni dan sembunyi-sembunyi kasih dia jepitan rambut dari plastik yang selalu dia pakai. Bikin dia senang. Aku lupa sumpah di depan pastor kamu satu-satunya istriku. Sampai mati…..”
Penduduk desa nelayan itu terdiam, takjub, terkejut, tak percaya melihat aku sendiri yang menghamparkan tubuhku di pasir. Orang-orang mengerumuniku. Menepuk-nepuk perutku yang buat mereka kokoh seperti bukit yang tak bisa dirobohkan. Penuh daging dan lemak, lebih dari cukup untuk lauk mereka setahun. Semua merapat ke tubuhku. Kecuali si lamafa, yang merasa malu karena mata tempulingnya sia-sia. Dia menuntun dirinya menjauh.
Si lamafa bercerita kepada istrinya tentang jalannya perburuhan yang gagal, tetapi membawa pulang seekor paus sebesar rumah. “Dia kotoklema betina. Seperti kamu. Dia menyerahkan diri. Juga seperti kamu. Dan menuntun kami pulang. Seperti kamu. Aku malu pada kamu Anna……..”
Anna Margaretha Cuma mengais-ngaiskan kaki di pasir. Matanya haus menatap kerumunan orang di pantai. Ia kepingin menjamah perut mamalia itu, tanda terima kasih. Bersyukur untuk daging dan lemakku, juga untuk penyerahan diriku yang telah menyadarkan suaminya pada sumpah dan cinta pertama.
**************
*Catatan: Penulis cerpen ini , Martin Aleida, menulis tentang ikan paus dan Lamalera dengan sangat bagus walaupun beliau belum pernah berkunjung ke Lamalera.
*Sumber: Buku Kata-kata Membasuh Luka, Penerbit Kompas, 21 Juni 2019