Blog

  • Ia Yang Mengajariku Allah Memerlukan Manusia Itu Telah Pergi

    Ia Yang Mengajariku Allah Memerlukan Manusia Itu Telah Pergi

    Oleh   JB  Kleden   (Ledalero 85 Terlibat dan Alumni Wisma Ekstern Wairpelit)

     

    SAYA sedang menonton Imlie ketika pesan whatsapp Pater Leo Kleden SVD muncul di WAG Kleden Lamadira. “ Berita duka. Telah meninggal dalam damai Tuhan Konfrater kami tercinta: Pater Georg Kirchberger SVD (76 th, 54 th Kaul, 48 th Imam), Senin, 5 Juni 2023, Jam 19.45 Wita, di RSU Hilers, Maumere. Requescat In Pace.” Pater Kirch meninggal?

    Saya mematikan tv, dan rasa duka dengan cepat menyelinap. Sejenak saya mengenang tuan guru saya ini dalam doa. Semoga Tuhan maharahim, pencipta dan pengasih sejati hidup kita, menerimamu dalam cahaya abadi. “Domine, requiem aeternam dona eis, et lux perpetua luceat eis quoque”

    Pater Kirch meninggal. Di ujung perjalanan hidupnya, ia mempertemukan dan memperjumpakan semua muridnya yang tersebar di seluruh dunia melalui berbagai platform media sosial. Apakah SVD sejagat  berkabung untuknya, seorang formator yang telah menghasilkan banyak imam SVD yang tersebar di seluruh dunia? Negeri ini tak berduka untuk seorang imam yang meninggal, betapapun imam ini telah melahirkan banyak orang hebat untuknya. Belum genap satu tahun Pater John M. Prior, SVD  meninggal tanpa kita tahu apakah itu berarti sebuah kehilangan?

    Pater Kirch memang tidak berada di lingkaran Puncak Bukit Ledalero, ia memilih untuk tinggal bersama para mahasiswa ekstern di Wisma St Agustinus Wairpelit yang memang dibangunnya untuk mereka yang dianggap “tidak layak” menjadi imam dan biarawan tersebut. Cara hidupnya ini bahkan dianggap “ganjil” kala itu (1980an) oleh umat Wairpelit di kaki bukit “tempat sandar matahari” itu.

    Ia jalani kehidupannya di kaki bukit tanpa merasa kelojotan. Hari-harinya diisi dengan mengajar dan membimbing. Tetapi hanya dalam hitungan detik setelah berita kematiannya diumumkan, ungkapan duka membanjir dari seluruh penjuru. Media sosial dihiasi ucapan duka dan catatan kehilangan dari para muridnya, kongregasi, juga mereka yang mengenalnya. Kematiannya seperti dua sisi yang bertentangan, tapi juga bertaut: sebuah kehilangan tetapi juga sebuah perjumpaan yang mempertautkan banyak orang. Apakah ia begitu penting?

    Saya memang tak memiliki cukup panjang ingatan. Waktu berjalan membawa perubahan tetapi juga membentuk zaman. Ratusan pemuda calon imam datang dan pergi setelah mendapatkan ilmu tentang Allah darinya. Mereka membentuk angkatan dan pergi dengan membawa kenangan. Barangkali karena itulah setiap angkatan memiliki pengalaman tersendiri. Artikel ini tidak lebih dari suatu retrospeksi tentang adanya Pater Kirch dalam hidup pribadi saya dalam angkatan kami.  Ledalero 85 Terlibat.

    ***

    TAHUN 1985 saya masuk novisiat SVD di Ledalero. Novis satu. Tahun 1986 Novis II dan mulai kuliah tingkat I di STFK Ledalero. Di tahun pertama ini kami belajar yang pengantar-pengantar saja. Ada Pengantar Filsafat, Pengantar Teologi, Pengantar Perjanjian Lama, Pengantar Perjanjian Baru, Pengantar Kepada Bapa-Bapa Bangsa dan berbagai pengantar lainnya. Di tingkat pengantar-pengantar inilah saya mulai menaruh minat pada teologi dan fisafat ketuhanan, di samping islamologi dan sastra yang tidak diajarkan.

    Seperti matahari pagi yang perlahan menyibak rerimbunan Ketapang di taman filosofen, menyepuh puncak-puncak Kapela Agung, memberikan kehangatan bagi penghuninya yang memadah mazmur pagi, ia berdiri di awal fajar, menyibak pintu dan membiaskan cahaya, “Pandangan Kristen tentang Dunia dan Manusia” kepada kami. Meski suka duduk di belakang bersama si Bhisu dari Riung, saya mendengar dan mendalaminya dengan sungguh-sungguh. Penuturannya mengenai kisah penciptaan menurut tradisi Yahwista yang ia sampaikan dengan gaya story telling  membuat saya terkagum-kagum. Ia seperti membimbing kami yang mendengarkan kuliahnya, secara perlahan membaca kehidupan manusia dan kehidupan kami sendiri di Ledalero.

    Seperti menara Kapela Agung Ledalero yang menggapai langit, ia memperkenalkan para penjaga tradisi iman, the deposit of faith di abad-abad awal gereja kepada kami. Yustinus Martir, Irenaeus,  Origenes, Ambrosius, Hironimus, Tertullianus, Basilius Agung, Gregorius Nyza, Athanasius, Agustinus, Yohanes Chrisostomus, Gregorius Agung ia kupas satu persatu. Melalui Pengantar Kepada Bapa-Bapa Gereja ia mengantar kami secara perlahan tapi pasti memasuki relung-relung kekayaan iman, ajaran dalam membela iman dan tradisi dari konsili ke konsili dalam abad-abad awal pertumbuhan gereja.

    Beberapa istilah seperti gnostik, agnostik, bidaah mulai saya kenal. Meskipun ia menjelaskan bahwa para Patres mengajarkan apa yang gereja sendiri telah pelajari, “Ecclesiam docuerunt quod in Ecclesia didicerunt” bagi saya ini tetap sesuatu yang baru. Sebuah periode penting dan mengesankan dalam sejarah Gereja sebagai landasan perkembangan doktrin Kristen yang diakui oleh aliran-aliran besar Gereja Kristus (Anglikan, Ortodoks, Lutheran, Calvin/Reformed dan Gereja Katolik) yang tidak didapatkan oleh banyak umat.

    Seperti sungai yang mengalir ke hilir, dari jaman para Patres ia mengajak kami mendayung lebih jauh, menjelajahi pemikiran-pemikiran para teolog-teolog terkenal yang hangat didiskusikan pada masa itu dari Eropa, Asia, Afrika dan Indonesia. Dengan kalimat-kalimat yang panjang tetapi apik, Ia mengenal Karl Rahner, W.Pannenberg, Barth, Bultman, E. Schillebeeckx, Leonardo Boff, Aylward Shorter, Alois Pieris dan Banawiratman SJ ke dalam budi dan pikiran kami. Sambil di sana-sini memperlihatkan “Lumen Gentium” serta “Gaudium et Spes” dan berbagai hasil Konsili Vatikan II dan meminta kami membuat transformasi secara kreatif untuk melahirkan pemikiran yang lebih kontekstual.

    .Meskipun bukan dosen filsafat, ia  fasih berbicara berbagai aliran ateisme. Freud, Marx dan Nietzshe ia bawa ke ruang kuliah. Tuhan adalah proyeksi psikologis dari kerunduan dan ketakutan manusia (Freud),  agama adalah candu yang meninabobokkan manusia dari realitas hidup yang keras (Marx) dan Nietzche mengumumkan Tuhan telah mati, ia kupas tuntas. Tapi tak lupa ia mengingatkan kami akan kuroritas Dr Faust yang tak terkendali dan berubah menjadi kesia-siaan seorang Sisiphus. Hanya iman yang menolong budi, indra tak mencukupi.

    Matakuliahnya selalu menarik perhatian saya meski berat. Ia tidak hanya menghubungkan ajaran-ajaran para Patres sebagai sebuah konstruksi yang harus dipelajari. Juga tidak sekadar menghubungkan pemikiran para teolog modern dengan pengalaman kongkrit sebagai sebuah operasi yang harus dilaksanakan dengan cermat. Lebih dari itu ia membuat  teologi menjadi hidup karena menghubungkannya dengan imaji dan menghadir dihadapan kami sebagai sebuah lukisan yang indah untuk dinikmati.

    Dalam mengajar dan membimbing ia tidak hanya menjelaskan tetapi juga melukis. Ia melukis semua itu dalam traktak-traktak kuliahnya yang kini sudah dibukukan. Ia menghadirkan lukisan lama dengan warna-warni baru dan mengajak kami untuk berselancar di dalamnya. Guru yang mengajar dengan cara melukis itu kini telah berpulang, kembali ke Seniman Sejatinya.

    ***

    DIEUX besoin des hommes. Sore itu setelah haustus saya menjumpainya. Haustus. Kami sangat suka dengan waktu itu. Bukan saja karena kami boleh berhenti studi sore, minum teh bersama lalu pergi main bola, atau lopas ke Ribang kemudian menunggu oto dari Nita dan bolos ke Maumere, pulang sebelum vespere. Tetapi karena saat haustus juga menjadi kesempatan untuk berdiskusi, dan omong-omong dengan pembimbing rohani kami.

    Beliau pembimbing rohani saya. Demikianlah sore itu di tahun 1989 saat menjelang akhir tingkat III, setelah haustus saya menemuinya. Ia mengajak kami duduk di Pendopo Agung Ledalero. Angin berhembus dari laut membasuh jiwa. Saya omong-omong dengan beliau mengenai sekularisasi yang mulai merasuki pemikiran saya dan mengganggu kehidupan rohani.  Ketika manusia menerima hidup dan dunianya sebagai tanggungjawab sendiri tanpa bergantung pada Tuhan, iman rasanya berakar dalam dunia yang lain, menuntut sikap lain. Saya mengatakan kepadanya ingin menulis skripsi teologi Allah sudah mati.

    Ia melihat tajam ke muka saya dengan pandangan matanya yang saya rasa saat itu lebih tajam dari matahari. Kemudian sambil memandang matahari yang mulai turun ke laut, ia menjelaskan bahwa beriman kepada Allah sebagai dasar dan sumber gratuitas dan kebebasan manusiawi, bukan seperti layaknya percaya akan adanya tata surya, yang sebetulnya tidak terlalu kita acuhkan. Beriman kepada Allah adalah kenikmatan, kemewahan, kesejahteraan, keselamatan dalam dan untuk manusia.

    Allah itu lebih daripada perlu, IA bukan menjadi fungsi pada kemanusiaan kita. Allah itu mewah melimpah.  Dan karena itu IA memerlukan manusia. Dieus besoin des hommes. Allah memerlukan manusia bukan untuk menjadi Allah tetapi untuk menjadi Allah bagi manusia. Allah memerlukan manusia untuk menjadi anugerah bagi manusia. Allah yang demikian tak akan meninggalkan kita bahkan tidak disaat kita meninggalkannya.

    Lalu dengan penuh kebapakan ia menjelaskan titik tolak modern yakni subyektifitas manusia yang mengandalkan Allah sebagai syarat sudah kehilangan pamornya, sebab tidak seorangpun berdoa kepada salah satu syarat. Allah tidak bisa diredusir menjadi fungsi tertentu bagi manusia, masyarakat dan dunia. Teologi “Allah sudah mati” hanyalah omong kosong belaka hasil dari pandangan yang menjadikan Allah sebagai syarat. Ia menjadi saksi bahwa Tuhan yang super-instumental adalah Tuhan yang gagal total dan tak berguna.

    Itulah alasan mengapa ia tidak merekomendasikan saya menulis teologi Allah sudah mati. Ia berargumen bukan tidak boleh, tapi itu hanya membuang energi membahas teisme kuno yang kian hari kian tidak berlaku. Lebih tidak berguna lagi membahas Allah yang telah mati.”

    Lalu ia menawarkan saya mendalami pemikiran Schillebeckx untuk menyikapi konfrontasi iman-sekularisasi dan memikirkan kemungkinan ideal untuk transformasi kultural misalnya. Memang tidak banyak pihak yang menghargai Schillebeckx,  tetapi pemikirannya amat membantu manusia sekuler agar tetap seimbang, penuh matang. Ia juga menawarkan sebuah tema baru yang langsung saya suka, mencoba “berteologi dengan satra,” mendalami novel Dostoevsky, “The Brothers Karamazov”. Novel filosofis penuh gairah yang masuk jauh ke dalam pertanyaan tentang Tuhan, kehendak bebas, dan moralitas memang menantang. Sebuah drama teologis yang menampilkan masalah iman, keraguan, dan nalar dalam konteks modernisasi Rusia.

    Lonceng angelus berdentang. Hari telah benar-benar senja dan kami harus melakukan pujian senja. Saat berjalan bersama menuju Kapela Agung, saya merasakan apa yang disampaikannya lebih dari sebuah pengajaran, tetapi sebuah kasih sayang untuk memberikan kekuatan kepada anak didiknya yang terperangkap dalam badai sekularisasi. Terasa ada suatu yang jatuh di relung hati, entah rahmat entah sukacita. Semua itu berantakan ketika saya menerima keputusan kongregasi untuk meninggalkan Ledalero pada akhir tingkat III di tahun 1989 sebelum menjalani masa TOP.

    Saat hendak meninggalkan bukit Ledalero, saya menjumpainya di Wairpelit untuk pamit. Kami tidak banyak bicara, saya juga tidak mencoba mencari jawab meskipun beliau pembimbing rohani saya. Hidup ini akan selalu memberikan dengan tepat apa yang berhak kita dapatkan. We can all shed tears but it won’t change a thing.

    ***

    Cemara menderai sampai jauh

    Terasa hari akan jadi malam

    Ada beberapa dahan ditingkap merapuh

    Dipukul angin yang terpendam (Ch. Anwar, Derai-Derai Cemara)

    HIDUP mengalir dengan irama alam yang abadi, permulaan dan akhir yang tiada henti. Meskipun pada akhirnya kematianlah yang memisahkan, sebuah kehidupan terlalu agung untuk tidak dirayakan. Sebuah retrospeksi dihadirkan untuk mempertahankan harapan.

    Sang guru telah berpulang, tapi tidak membawa pergi semua yang telah dilakukannya. Formator itu telah menghasilkan banyak generasi yang berguna bagi gereja dan bangsa dan negara. Dosen teologi itu telah menghadirkan ilmunya sebagai sebuah lukisan yang indah untuk dinikmati. Pater Kirch, guru dan pembimbingku,  selamat jalan bersama Tuhan menuju Kerajaan Surga. Everything is beauty and joy for ever. Terima kasih untuk senja yang mengagumkan itu.

    Pater Kirch, saat kutulis kisah ini kuyakini sepenuhnya angin masih terus berhembus dari tengah samudera semilirnya jatuh di bukit Ledalero, membawa warta membasuh jiwa para muridmu dengan pesan yang sama: Dieus besoin des hommes. Untuk berjalan bersama. Terlibat.

    —————————————————————————————————-                                                

  • Puisi sebagai Medium – Sajak-sajak Mochtar Pabottingi

    Puisi sebagai Medium – Sajak-sajak Mochtar Pabottingi

    I G N A S    K L E D E N

     

    Ketika membaca 29 sajak Mochtar  Pabottingi dalam kumpulan sajaknya Dalam Rimba Bayang-Bayang, saya tak dapat menghindari kesan, bahwa sajak-sajak ini – buat sebahagian besarnya – ditulisnya sebagai catatan kaki untuk berbagai pengalamannya: pribadi, keluarga, atau sosial politik. Tidak terasa ambisi yang menggebu-gebu untuk “hidup seribu tahun lagi” dalam puisi Indonesia. Uniknya, semakin dibiarkannya sajak-sajak itu menjadi catatan kaki dalam pengalamannya,  semakin kuat daya pengucapan sajak itu sendiri, dan sebaliknya, semakin sadar penyairnya untuk menjadikan sajak sebagai suatu medium deklarasi atau maklumat sebuah tekad, semakin kurang meyakinkan daya ucapnya.

    Bagaimanapun Mochtar Pabottingi barangkali hanyalah suatu gejala, fenomena dari tantangan lebih umum yang dihadapi oleh penyair Indonesia: apakah mungkin dan bagaimanakah caranya menggabungkan lirik dengan politik? Dalam pandangan saya lirik mempunyai tendensi mempersatukan perasaan dan gerak hati manusia mendapatkan eksistensinya dalam gerak daun atau desir angin, dan sebaliknya alam besar dapat terpantul dalam setiap gerak kelopak mata atau senyuman di bibir. Ada semacam unio lyrica, kalau istilah itu boleh dipergunakan di sini, sebagai parafrase dari unio mystica dalam kehidupan mistik.

    Politik tidak mengijinkan persamaan seperti itu, karena politik selalu identic dengan perjuangan, persaingan dan kompetensi yang cenderung menghadirkan manusia sebagai representasi kepentingan dan sebagai kelompok-kelompok yang ingin memperebutkan kekuasaan untuk mewujudkan apa yang mereka percayai sebagai tujuan terbaik. Persaingan dan rivalitas itu tak dapat tidak akan membagi manusia dalam kategori kawan dan lawan, sementara perkawanan itu sendiri pun hanya provisoris sifatnya, sejauh ada kepentingan yang untuk sementara waktu harus dicapai dan dibela bersama. Kesulitan yang dihadapi Mochtar Pabottingi ternyata juga tidak dapat diatasi sepenuhnya oleh penyair lain yang jauh lebih berpengalaman seperti, Rendra misalnya. Ketika keterlibatan politik mengharuskan seorang penyair harus mengangkat pena, apakah dia harus tetap menulis sajak, atau dengan sadar memilih untuk menulis pamplet, risalah, brosur, atau propaganda? Dapatkah format sajak dapat dipakai untuk keperluan komunikasi politik, sekalipun dengan itu, makna tekstual sebuah puisi mengalami jalan buntu untuk dikembangkan?

     

    Kita hanyut dalam peradaban

    Di mana kita hanya mampu berak dan makan

    Tanpa ada daya untuk menciptakan.

    Apakah kita akan berhenti sampai disini?

     

    Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri?

    Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik

    Yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan…….

    Harus senantias menghasilkan …..

    Dan akhirnya memaksa negara lain

    Untuk menjadi pasaran barang-barang kita?

    (dari sajak “Sajak Sebotol Bir” Rendra)

     

    Bisa dibayangkan baris-baris di atas akan menjadi sangat efektif kalau dibacakan di depan suatu pertemuan politik atau menjelang suatu demonstrasi. Namun demikan tenaga yang menggerakan pendengar dan pembacanya adalah makna referensial, lukisan ketimpangan sosial akibat kebijaksanaan ekonomi politik yang ingin menerapkan industrialisasi  tanpa mempertimbangkan efek ketergantungan, yang dari segi lain merupakan uraian sosiologis yang menarik dan meyakinkan, tetapi pastilah bukanlah suatu makna yang lahir dari kandungan teks sajak itu karena interaksi hubungan-hubungan internal dalam teks sajak itu sendiri. Dengan perkataan lain, baris-baris sajak tersebut akan amat bermanfaat dijadikan bahagian dari suatu ceramah politik, tapi kita kehilangan lirik yang lahir dari kandungan teks itu sendiri.

     

    Aku tulis pamplet ini

    Karena lembaga pendapat umum

    Ditutupi jaring labah-labah

    Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,

    Dan ungkapan diri ditekan

    Menjadi peng-iya-an

    (……………………………….)

     

    Aku tulis pamplet ini

    Karena pamplet bukan tabu bagi penyair

    Aku inginkan merpati pos

    Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore  di tanganku.

    Aku ingin membuat syarat kaum Indian?

    (kutipan dari sajak “Aku Tulis Pamplet” Rendra)

     

    Rendra menyatakannya dengan tepat “Aku tulis pamplet ini/karena pamplet bukan tabu bagi penyair.” Tetapi persoalan penyair adalah satu hal, sementara persoalan puisi adalah hal yang lain. Pertanyaan kita: pamplet dan politik bukan tabu bagi penyair, tetapi apakah juga bukan tabu untuk puisi? Seorang penyair dapat aktif mengikuti latihan bela diri yang pasti bukanlah barang yang tabu bagi penyair. Sekalipun demikian, kualitas sebuah sajak yang ditulis penyair tersebut tentulah tak diukur berdasarkan berapa banyak jurus silat yang dikauasainya.

    Pada titik itulah kita berbicara tentang kebebasan penyair sebagai pribadi, dan keterbatasan sajak sebagai seuah genre kesusastraan. Sebuah sajak barangkali tidak dapat menampung dan menanggung segala-galanya. Pada akhirnya, yang dicari pembaca dari sebuah sajak, tetaplah puisi, yaitu makna tekstual yang terlahir dari kandungan teks itu sendiri, dan bukannya karena teks tersebut dijadikan medium informasi tentang perjuangan politik, aksi sosial, promosi bisnis, atau kampanye akademis. Hal-hal yang baru disebutkan ini dapat dengan mudah dilakukan melalui teks ilmu pengetahuan atau jurnalisme, tanpa harus bersusah paya membaca sebuah sajak yang gersang. Sebuah teks ilmu pengetahuan hanyalah medium. Tetapi sebuah sajak, seperti dikatakan oleh Marsahll Mcluhan adalah sekaligus sarana dan sasaran, jalan dan tujuan, bahasa dan makna, karena the medium is the message. Dan makna tekstual bukanlah suatu misteri, karena sudah berkali-kali diungkapkan para penyair kita yang lain.

     

    Pada suatu hari nanti

    Jasadku tak akan ada lagi

    Tapi dalam bait-bait sajak ini

    Kau takkan kurelakan sendiri

     

    Pada suatu hari nanti

    Suaraku tak terdengar lagi

    Tapi di antara larik-larik sajak ini

    Kau akan tetap kusiasati

     

    Pada suatu hari nanti

    Impianku pun tak dikenal lagi

    Namun di sela-sela huruf sajak ini

    Kau takkan letih-letihnya kucari

    (sajak “Pada Suatu Hari Nanti” Sapardi Djoko Damono)

     

    Dalam sajak di atas, segala yang berhubungan dengan jasad, suara dan impian, menunjuk kepada makna referensial, sedangkan apa yang menemani kita, apa yang menggoda kita, dan apa yang memburu kita buat seterusmya adalah makna yang ada dalam bait-bait sajak, yang menyembunyikan diri di sela-sela huruf sajak tersebut. Dengan perkataan lain, adalah makna tekstual sebuah sajak yang menyebabkan bahwa:

     

    Sesuatu yang kelak retak

    Dan kita membikinnya abadi

    (dari sajak “Kwatrin Tentang Sebuah Poci” Goenawan Mohamad).

    —————————————————————————————————–

     

    *Tulisan ini diringkas dari Kata Pengantar Ignas Kleden, dalam kumpulan sajak Mochtar Pabottingi, Dalam Rimba Bayang-bayang, Jakarta, Penerbit Buku Kompas, 2003. Tulisan ini juga dimuat dalam buku Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan, Ignas Kleden, Grafiti, 2004.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Mojokuto   atau   Kuba

    Mojokuto atau Kuba

     

    Goenawam  Mohamad

     

    KOTA Mojokuto bukanlah kota khayalan. Tapi lebih dulu barangkali kita harus membaca lagi Peddlers and Princes, karya Clifford Geertz yang tiga tahun yang lalu telah disalin ke bahasa Indonesia dengan judul Penjaja dan Raja. Siapa saja yang pernah berkunjung ke Jawa akan gampang mengenalnya: ”Mojokuto kelihatannya serupa saja dengan setiap kota kecil di Jawa yang: pohon beringin, dengan patung Hindu di bawah naungannya, tumbuh di tengah alun-alun; sekelompok kantor pemerintahan di sekitar rumah wedana dengan pendapa dan halamannya yang luas; sederetan gudang-gudang dan tokotoko Cina yang terbuka bagian depannya dan berkain tenda-pasar terbuka yang luas dengan bangsa-bangsal seng yang karatan dan kedai-kedai kayu….”

    Tak ada yang aneh. Juga bila Geertz berbicara tentang ”ekonomi tipe pasar” dan ”ekonomi tipe firma” di Mojokuto. Geertz, dengan ”Mojokuto”nya, pada dasarnya melukiskan prototipe kota-kota yang beberapa tahun ini mencoba mendirikan pusat pertokoan—well, shopping centre—seraya menggusur pasarnya. Para pembangun kota mungkin mendesakkan ”modernisasi” itu karena pasar begitu kuno dan menjijikkan. Tapi sekaligus agaknya ada hasrat untuk memperlihatkan pola kegiatan ekonomi yang lebih efektif. Ekonomi tipe pasar yang ”hiruk-pikuk, campur baur dan individualistis” itu hendak ditinggalkan. Ekonomi tipe firma akan diperkenalkan.

    Tapi, pasar bukan cuma tempat, seperti juga ditunjukkan Geertz. Ia adalah sistem kegiatan menjajakan dan membeli barang dan jasa dalam ukuran kecil. Ia juga tempat tenaga kerja— pedagang cabai, tukang angkut dan lain-lain—muncul dan dimanfaatkan hampir tanpa batas. Ia tempat bagi mereka yang, seandainya kegiatan itu hilang, akan terhempas sebagai buangan yang liat. Dengan pasar, lumpen-proletariat di kota belum sepenuhnya terdesak menjadi ”segerombolan tikus” yang betapapun disepak dan dilempari batu, akan terus ”melobangi akar sang pohon”—seperti kata Fanon, pemikir revolusioner Aljazair, dalam Les Damnes de la Terre.

    Kira-kira lima tahun yang lalu dua ahli menulis risalah yang berjudul Revolutionary Change and the Third World City. Mereka, Amstrong dan McGee, berbicara tentang ”model Indonesia” dan ”model Kuba”. Yang pertama didasarkan pada ”Mojokuto”nya Geertz: kota yang masih belum sepenuhnya dirasuki sistim kapitalisme. Yang kedua berdasarkan Kuba sebelum Fidel Castro, akhir 50-an, di mana perembesan ekonomi kapitalis nyaris sempurna.

    Akan punahkah ”Mojokuto”—untuk digantikan ”model Kuba” yang ditunggu revolusi?

     

    —————————————————————-

     

    *Sumber  Majalah Tempo, 3 April 1976

    *Tulisan ini juga sudah di jadikan buku dalam Catatan Pinggir 1, Goenawan Mohamad, Grafitipers – 1982.

  • Misa Arwah – Misa Lefa dan Mendulang Cinta Tuhan

    Misa Arwah – Misa Lefa dan Mendulang Cinta Tuhan

     

    Setiap tanggal 2 November, Gereja Katolik merayakan Hari Arwah untuk mengenang dan mempersembahkan doa bagi semua orang beriman yang telah meninggal. Gereja merayakan peringatan ini tepat sesudah Hari Raya Semua Orang Kudus (1 November). Dengan mempersembahkan Kurban Ekaristi pada Hari Arwah, imam bersama umat mengharapkan agar semua orang beriman yang telah wafat disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan. Secara singkat, kita akan membahas latar belakang Gereja merayakan Hari Arwah.

    Sejak awal Kristianitas, praktik dan tradisi memperingati dan mendoakan arwah telah berkembang di dalam Gereja melalui teks-teks liturgi awal. Praktik mendoakan arwah telah dilakukan sejak Perjanjian Lama, tepatnya ketika Yudas Makabe mendoakan arwah orang-orang yang gugur dalam pertempuran melawan Gorgias (2 Mak 12:38-45). St. Paulus pun berdoa bagi Onesiforus, kawan yang mengunjunginya di Roma (2 Tim 1:18). Pada abad ke-4, St. Yohanes Krisostomus, Uskup Agung Konstantinopel, berpesan dalam homilinya, “Baiklah kita membantu dan mengenangkan mereka [yang telah meninggal]. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh bapanya (Ayb 1:5). Bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka.”

    Pada abad-abad awal Kristianitas, nama-nama umat beriman yang telah meninggal dicatat pada plakat yang disebut diptych. Praktik mendoakan orang-orang mati menjadi tradisi Biara Benediktin sejak abad ke-6 dan dirayakan pada hari Sabtu sebelum Pentakosta. Praktik ini bermunculan pula di Spanyol maupun Jerman. Pada tahun 1030, St. Odilo, Abbas Biara Benediktin di Cluny, menetapkan agar diadakan peringatan arwah setiap tahunnya di biara-biara ordonya. Tradisi inilah yang di kemudian hari diikuti oleh keuskupan-keuskupan di Eropa sampai menjadi peringatan universal Gereja.

    Dasar teologis dari perayaan Hari Arwah tidak dapat dilepaskan dari ajaran Gereja bahwa arwah semua orang beriman belum disucikan sepenuhnya dan masih harus menjalankan penyucian agar dapat masuk ke dalam kegembiraan surga (KGK 1030). Proses penyucian ini disebut Gereja sebagai purgatorium – api penyucian (KGK 1031). Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi, dan karya penitensi demi orang-orang mati (KGK 1032). Kita pun dapat merefleksikan mengapa Gereja merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus pada 1 November dan mendoakan semua arwah pada 2 November. Kedua perayaan tersebut menunjukkan suatu refleksi iman bahwa selalu ada ikatan kasih yang kuat antara yang masih hidup, yang sudah meninggal, dan yang sudah bahagia di surga.

    Kematian orang-orang yang kita kasihi menggoreskan duka yang mendalam yang biasanya diungkapkan dalam sebuah upacara atau ritus. Ritus sebagai sebuah cara mengolah pengalaman kehilangan orang-orang yang kita kasihi dan dengan ritus membantu kita menegaskan bahwa kita tidak sendirian dalam rasa kehilangan itu. Ritus mempertemukan orang dan menggabungkan orang menjadi sebuah kelompok yang dipersatukan dalam rasa duka yang sama. Kematian mendekatkan orang, menjadikan orang pelaku ritus dan menyadarkan orang bahwa antara kekasih-kekasih kita yang sudah meninggal masih terjalin relasi dan kita yang masih berziarah ini dapat mendoakan mereka. Kita dapat belajar dari kematian kekasih-kekasih kita bahwa kualitas hidup kita ditentukan oleh kesadaran akan kematian (Kleden Budi, 2022).

    Dengan mengadakan Perayaan Ekaristi untuk mengenang para kekasih-kekasih kita, kita dipanggil untuk menghayati secara khusus saat kematian kita. Dalam iman dan doa kita, kita menjalin kembali hubungan keluarga kita dengan mereka; mereka sedang menanti kita, melindungi serta membantu kita. Mereka telah melihat Allah “dalam keadaan-Nya yang sebenarnya”. Mereka meyakinkan serta memberi kita semangat untuk bertekun meneruskan perjalanan serta peziarahan kita yang masih tinggal di dunia ini. “Sebab disini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang” (Ibr 13:14). Jangan cemas, tetapi tengadahkanlah pandanganmu ke tujuan akhir hidup kita; itulah yang terpenting bagi kita. Kekasih-kekasih kita yang telah meninggal dunia sudah berada di sana, ke tempat kita akan berada pula. Sesungguhnya di sanalah tanah air kita bersama mereka, sehingga mereka menjadi sesama kita. Di situ pulah kita akan memasuki misteri tritunggal Bapa. Anak dan Roh Kudus, karena kita dibaptis dengan baptisan yang sama. Kita saling bergandengan tangan, karena maut sudah tidak ada lagi di sana, selain kehidupan kekal.

    Dilandasi pemikiran bahwa para kekasih-kekasih kita yang sudah meninggal amat perlu dikenang dan didoakan, keluarga besar Lamalera Jakarta melangsungkan Misa Peringatan Arwah untuk mengenang orang-orang Lamalera baik yang sudah meninggal di Jabodetabek maupun keluarga besar Lamalera yang sudah meninggal di darat maupun di laut, yang dilaksanakan pada tanggal 1 Mei 2023, di Gereja St. Yoseph Matraman Jakarta Timur. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh P. Andreas Atawolo, OFM, diiringi koor Ina Lefa dengan dirigen Lia Keraf, yang membawakan lagu-lagu Ekaristi dalam bahasa Lamalera.

    Misa Arwah dan Misa Lefa bagi lefa alep adalah kepasrahan, penyerahan diri, kegiatan melaut mereka kepada Yang Kudus dan sekaligus permohonan kepada  Allah agar Ia berkenan memberikan berkat-Nya agar laut memberikan hasil yang berlimpah. Para lefa alep juga meyakini bahwa laut dengan murah hati memberikan seluruh ikan, baik ikan yang kecil-kecil sampai ke ikan Paus (kotoklema) sebagai kiriman dari leluhur dan Tuhan (knato). Ikan Paus (kotoklema) menjadi sangat penting bagi lefa alep karena hasil tangkapan ikan Paus diperuntukan untuk seluruh kampung, seluruh pulau Lembata. Cara pandang ini yang menumbuhkan pada diri mereka spirit untuk terus berharap (mengaji pole). Mengaji (berdoa) dan pole (berharap) sungguh menjadi nafas mereka.

    Pada diri lefa alep selalu terpancar h a r a p a n besar bahwa laut akan memberikan kelimpahan bagi mereka.  Bagi lefa alep laut adalah rahim yang menyimpan sejuta kekayaan. Laut di mata lefa alep juga dipandang sebagai  sebuah ruang perjumpaan dengan Tuhan. Kesulitan di laut adalah ujian iman dan panggilan untuk bertobat dan melakukan rekonsialisasi.

    Dalam kosmologi masyarakat Lamalera, leluhur juga menduduki peran penting. Leluhur dalam pandangan  masyarakat Lamalera adalah orang tua serta nenek moyang yang telah meninggal secara fisik tetapi roh atau jiwanya tetap hidup. Para leluhur ini diyakini akan menjaga dan melindungi laut. Dari leluhur, orang Lamalera belajar tentang keberanian, kejujuran, kemurahan hati, bela rasa, serta kasih sayang. Penghormatan dan kenangan kepada leluhur inilah yang mendorong orang-orang Lamalera mengadakan Misa Arwah dan Misa Lefa setiap tahun tanggal 1 Mei.  (Paskalis Liko Bataona)

  • Dua Puisi Yoseph Yapi Taum tentang Jakarta

    Dua Puisi Yoseph Yapi Taum tentang Jakarta

    Yoseph Yapi Taum

     

    Jakarta sebagai ibu kota negara dapat memancarkan sejuta warna bagi para seniman. Puisi-puisi Yoseph Yapi Taum tentang Jakarta, “Petir di Jakarta” dan “Kutinggalkan Kota Jakarta,” menggambarkan sisi kelamnya. Penggunaan kata-kata kiasan yang kuat dan berani dimaksudkan untuk menggambarkannya sebagai simbol kekuatan sekaligus ketakutan. Penggunaan kata-kata yang berkonotasi kuat seperti “terbakar api dan amarah” mengekspresikan rasa putus asa dan rasa ingin segera meninggalkannya. Puisi ini memancarkan suasana sedih dan kehilangan, dengan tema yang meskipun mengandung rasa nostalgia yang kuat.

     

    PETIR DI JAKARTA

    Tawa kanak-kanak terdiam tiba-tiba
    Langit biru masih menggantung
    Namun petir itu merobek jantung juga
    Berlarilah wahai kanak-kanak,
    berlarilah demi surga yang tertunda

    Merataplah wahai kanak-kanak,
    Merataplah demi luka yang pedih
    Petir itu serigala liar, bertaring, dan bertanduk
    Lucifer yang menyala dari kusut jiwanya

    Maka merunduklah dalam-dalam
    di lembah bisu ini, hapus semua air matamu
    karena itu mata air murni, sangat murni
    yang bakal menangkal petir di Jakarta

    Tarian kanak-kanak terhenti tiba-tiba
    Wajah mereka sayu, sedih, dan menangis
    Menangislah dalam sepi anak sungai
    Yang bakal mengalirkan susu dan madu
    Karena setiap butir tangismu dihitung langit

    Yogyakarta, 28 Juni 2021

    —————————————————————–

     

    KUTINGGALKAN KOTA JAKARTA

    Di tengah hujan asin dan air laut duka
    perempuan-perempuan menangis
    Seorang laki-laki menyebut namamu
    dengan mata berlinang di simpang jalan

    Kuketuk dinding-dinding Jakarta
    kala kota itu terbakar api dan amarah
    Mereka teriakkan nama tuhan di sudut-sudut kota
    dinding baja merancap keras di jantungnya

    Kutinggalkan Jakarta yang sangar
    menjemput masa depan anak-anakku
    Bunga-bunga bakung di sungai ciliwung
    tenggelam dengan perlahan

    Kutinggalkan semua tuhan dan malaikatnya
    matahari, bumi, bulan, dan bintang-bintangnya
    Kota ini menyimpan dendam tak sudah
    maka kulambaikan tangan bersama hujan gerimis

    Yogyakarta, 10 Oktober 2019


     

    Tentang Penulis

    *Yoseph Yapi Taum lahir di Ataili, Lembata, NTT, 16 Desember 1964. Saat ini menjadi ketua Program Studi Magister Sastra di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Pendidikan: (1) SMA Seminari San Dominggo, Hokeng (1984), (2) Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta (1984-1985) dari biara Oblat Maria Imaculata (OMI). (3) S-1 dari di IKIP Sanata Dharma (1990); (4) S-2 dari Universitas Gadjah Mada (1995); (5) S-3 dari FIB Universitas Gadjah Mada (2013) dengan disertasi berjudul Representasi Tragedi 1965: Kajian New Historicism atas Teks-teks Sastra dan Nonsastra Tahun 1966-1998. Melakukan penelitian tentang Konflik dan Kekerasan di Papua (2015-2016). Antologi puisinya Ballada Arakian (2015), Ballada Orang-orang Arfak (2019), dan Kabar dari Kampung (2023).

     

     

  • Tan Malaka:  Nasionalisme  Seorang  Marxis

    Tan Malaka: Nasionalisme Seorang Marxis

      Ignas  Kleden

     

    TAN MALAKA  meninggal pada usia 52 tahun. Setengah dari usia itu dilewatkannya di luar negeri: enam tahun belajar di Negeri Belanda dan 20 tahun mengembara dalam pelarian politik mengelilingi hampir separuh dunia. Pelarian politiknya dimulai di Amsterdam dan Rotterdam pada 1922, diteruskan ke Berlin, berlanjut ke Moskow, Kanton, Hong Kong, Manila, Shanghai, Amoy, dan beberapa desa di pedalaman Tiongkok, sebelum dia menyelundup ke Rangoon, Singapura, Penang, dan kembali ke Indonesia. Seluruhnya berlangsung antara 1922 dan 1942 dengan masa pelarian yang paling lama di Tiongkok.

    Selama masa itu, dia menggunakan 13 alamat rahasia dan sekurangnya tujuh nama samaran. Di Manila dia dikenal sebagai Elias Fuentes dan Estahislau Rivera, sedangkan di Filipina Selatan dia menjadi Hasan Gozali. Di Shanghai dan Amoy dia adalah Ossario, wartawan Filipina. Ketika menyelundup ke Burma, dia mengubah namanya menjadi Oong Soong Lee, orang Cina kelahiran Hawaii. Di Singapura, ketika menjadi guru bahasa Inggris di sekolah menengah atas, dia bernama Tan Ho Seng. Setelah masuk kembali ke Indonesia, dia bekerja di pertambangan Bayah, Banten, dan menjadi Ilyas Hussein.

    Pelarian dan penyamaran itu dimungkinkan, salah satunya, karena dia menguasai bahasa-bahasa setempat dengan baik. Ketika dia ditangkap di Manila pada Agustus 1927, koran Amerika, Manila Bulletin, menulis, “Tan Malaka, seorang Bolsyewik Jawa, ditangkap. Dia berbicara bermacam-macam bahasa: Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Tagalog, Tionghoa, dan Melayu.” Dalam pelarian itu, bermacam-macam pekerjaan sudah dilakukannya.

    Di Amsterdam dan Rotterdam dia berkampanye untuk partai komunis Belanda pada waktu diadakan pemilu legislatif dan ditempatkan pada urutan ketiga. Di Moskow dia menjadi pejabat Komintern dengan tugas mengawasi perkembangan partai komunis di negara-negara Selatan, yang mencakup Burma, Siam, Annam, Filipina, dan Indonesia. Di Kanton dia menerbitkan majalah berbahasa Inggris, The Dawn. Di Manila dia menjadi kontributor untuk koran El Debate. Di Amoy dia mendirikan “Foreign Languages School” yang mendapat banyak peminat dan memberinya cukup uang. Di Singapura dia menjadi guru bahasa Inggris di sekolah menengah atas walau tanpa ijazah.

    Sebelum dibuang ke luar negeri, dia dipenjarakan tiga kali oleh pemerintah kolonial, di Bandung, Semarang, dan Jakarta. Dalam pelariannya ke luar negeri, dia dipenjarakan di Manila dan Hong Kong. Setelah kembali ke Indonesia, dia dimasukkan ke penjara oleh pemerintah Indonesia di Mojokerto (1946-1947).

    Dia mengagumi secara khusus pejuang kemerdekaan Tiongkok, Dr Sun Yat-sen, yang di kalangan pengikut bawah tanah dipanggil Sun Man. Dia membaca buku San-Min-Chu-I dan berkesimpulan bahwa Dr Sun tidak sepaham dengan dia dalam teori dan metode. Menurut Tan Malaka, Dr Sun bukanlah seorang Marxis, melainkan sepenuh-penuhnya seorang nasionalis. Dalam metode, dia tidak berpikir dialektis, tapi logis. Namun kesanggupan analisisnya tinggi, kemampuan menulisnya baik sekali, dan dia seorang effective speaker. Kekuatan Dr Sun terdapat dalam dua hal lain, yaitu satunya kata dan tindakan serta tabah menghadapi kegagalan. Usahanya memerdekakan Tiongkok dari Kerajaan Manchu baru berhasil pada percobaan ke-17, setelah 16 kali gagal.

    Dr Jose Rizal menjadi pahlawan Filipina dan pahlawan Tan Malaka karena ketenangannya menghadapi maut. Beberapa saat sebelum dia ditembak mati, seorang dokter Spanyol rekan seprofesinya meminta izin kepada komandan agar diperbolehkan memeriksa kondisi kesehatannya. Dengan tercengang si dokter melaporkan bahwa denyut pada pergelangan tangan Dr Rizal tetap pada ketukan normal, tanpa perubahan apa pun. Ini hanya mungkin terjadi pada seseorang yang sanggup menggabungkan keyakinan penuh pada perjuangan, ketabahan dalam menderita, dan keteguhan jiwa menghadapi maut. Di sini terlihat bahwa Tan Malaka bukanlah seorang Marxis fundamentalis, karena dia dapat menghargai Dr Sun Yat-sen, nasionalis pengkritik Marxisme, dan mengagumi Dr Rizal, seorang sinyo borjuis dengan berbagai bakat tapi menunjukkan sikap satria sebagai pejuang kemerdekaan.

    Kritik Tan Malaka kepada Bung Karno tidaklah ada sangkut-pautnya dengan sikap Soekarno terhadap Madilog, tapi merupakan kritik yang wajar terhadap seseorang yang sangat dihormatinya. Dasar kritiknya adalah apa yang dilihatnya sebagai kebajikan Dr Sun Yat-sen, yaitu satunya kata dengan perbuatan. Menurut Tan Malaka, ketika memimpin PNI, Soekarno selalu mengajak penduduk Hindia Belanda yang berjumlah 70 juta jiwa itu untuk berjuang mencapai Indonesia merdeka dengan menggunakan tiga pegangan, yakni sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan aksi massa yang tak mengenal kompromi. Dia memberikan apresiasi tinggi bahwa Soekarno telah banyak menderita dan dibuang ke pengasingan karena gagasan-gagasan politiknya.

    Maka dia kecewa melihat Soekarno berkolaborasi dengan Jepang selama pendudukan di Indonesia. Kekecewaan ini disebabkan oleh dua latar belakang. Pertama, Tan Malaka merasa dekat dengan Soekarno, yang menerapkan aksi massa dalam perjuangan politiknya hampir sepenuhnya menurut apa yang ditulisnya di Singapura pada 1926 dalam sebuah brosur tentang aksi massa. Kedua, dia sangat terpesona oleh perjuangan kemerdekaan Filipina dengan semboyan immediate, absolute and complete independence (kemerdekaan segera, tanpa syarat, dan penuh). Kekecewaan ini sedikit terobati ketika Soekarno-Hatta atas desakan pemuda revolusioner membuat proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

    Salah satu karya Tan Malaka yang boleh dianggap sebagai opus magnum-nya adalah buku Madilog, yang ditulis selama delapan bulan dengan rata-rata tiga jam penulisan setiap hari di persembunyiannya dekat Cililitan. Buku itu menguraikan tiga soal yang menjadi pokok pemikirannya selama tahun-tahun pembuangan, dengan bahan-bahan studi yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, tapi sebagian besar harus dibuang untuk menghindari pemeriksaan Jepang. Naskah buku ini praktis ditulis hanya berdasarkan ingatan setelah bacaan dihafal di luar kepala dengan teknik pons asinorum (jembatan keledai).

    Ketiga soal itu adalah materialisme, dialektika, dan logika. Materialisme diperkenalkannya sebagai paham tentang materi sebagai dasar terakhir alam semesta. Logika dibutuhkan untuk menetapkan sifat-sifat materi berdasarkan prinsip identitas atau prinsip nonkontradiksi. Prinsip logika berbunyi: A tidak mungkin sama dengan yang bukan A. Atau dalam rumusan lain: a thing is not its opposite. Sebaliknya, dialektika menunjukkan peralihan dari satu identitas ke identitas lain. Air adalah air dan bukan uap. Tapi dialektika menunjukkan perubahan air menjadi uap setelah dipanaskan hingga 100 derajat Celsius.

    Madilog adalah penerapan filsafat Marxisme-Leninisme. Tesis utama filsafat ini berbunyi: bukan ide yang menentukan keadaan masyarakat dan kedudukan seseorang dalam masyarakat, melainkan sebaliknya, keadaan masyarakatlah yang menentukan ide. Kalau kita mengamati hidup dan perjuangan Tan Malaka, jelas sekali bahwa sedari awal dia hidup untuk merevolusionerkan kaum Murba, agar menjadi kekuatan massa dalam merebut kemerdekaan politik. Dia bergabung dengan Komintern di Moskow dan Kanton karena setuju dengan tesis Komintern bahwa partai komunis di negara-negara jajahan harus mendukung gerakan nasionalis untuk menentang imperialisme.

    Semenjak masa mudanya di Negeri Belanda, Tan Malaka sudah terpesona oleh Marxisme-Leninisme. Paham inilah yang menyebabkan dia dipenjarakan berkali-kali dan dibuang ke luar negeri. Ini berarti bukan penjara dan pembuangan itu yang menjadikan dia seorang Marxis, melainkan sikap dan pendiriannya yang Marxislah yang menyebabkan dia dipenjarakan dan dibuang. Selain itu, dia pertama-tama tidak berjuang untuk kemenangan partai komunis di seluruh dunia, tapi untuk kemerdekaan tanah airnya.

    Dengan demikian, hidup Tan Malaka menjadi falsifikasi radikal terhadap gagasan Madilog yang dikembangkannya. Paradoksnya: dia seorang Marxis tulen dalam pemikiran, tapi nasionalis yang tuntas dalam semua tindakannya. Kita ingat kata-katanya kepada pemerintah Belanda sebelum dibuang: Storm ahead (ada topan menanti di depan). Don’t lose your head! Ini sebuah language game yang punya arti ganda: jangan kehilangan akal dan jangan kehilangan kepala. Tragisnya, dia yang tak pernah kehabisan akal di berbagai negara tempatnya melarikan diri akhirnya kehilangan kepala di tanah air yang amat dicintainya.

    ————————————————————

    Sumber: Majalah Tempo, September 2011

     

     

     

    T

     

     

     

  • PANCA SAJAK DARI KOTA ENDE  – Puisi-puisi Simply da Flores

    PANCA SAJAK DARI KOTA ENDE – Puisi-puisi Simply da Flores

    Foto: Simoly da Flores

     

    Mencatat  Pelangi  Makna  di  Kota  Ende

    Bagi saya, kota kecil Ende di pulau Flores telah mencatat banyak sejarah bagi dinamika perkembangan kehidupan generasi di pulau ini. Ketika sempat mengunjungi Ende beberapa waktu yang lalu, saya catat kekaguman atas warna-warni peran kota Ende dalam sejarah Indonesia dan dunia. Lalu, lahirlah lima sajak dalam tulisan yg kuberi judul: Panca Sajak dari Kota Ende

     

     TIKAMAN   TERIK  DAN  TANYA

    Masih di awal bulan Maret
    ketika siang di kota Ende
    Jarum panas menusuk ubun
    Tombak terik menikam raga
    Ramai hilir mudik kendaraan

    Beberapa kabut putih merana
    melangkah gontai menapaki kota
    Sayap-sayap garuda terkulai
    Antara bahu gunung Ia Meja Wongge
    Mungkin tertusuk jarum intrik
    Mungkin tertiiam tombak politik

    Laut di pantai kota senyap
    ada diam seribu kata
    mengandung sejuta gelombang tanya
    Entah dari kampung-kampung
    Entah dari tengah kota
    Entah dari seberang lautan
    Ini musim pancaroba

    ———————————————-

    NUSA INDAH – ENDE

    Terbersit dalam ingatan
    lewati jalan kota Pancasila
    Ende tempat sejarah bangsa
    Ada satu nama penjasa
    Penerbit Nusa Indah

    Ladang kata dan karya
    pernah suburkan anak bangsa
    dengan karya mencerdaskan manusia
    Dari buku dan majalah
    ketika gelap menutup mata
    saat gulita kuasai nalar
    merana tak punya informasi
    lara dicengkram kebodohan

    Nusa Indah masih ada
    namun ditikam terik mentari
    mungkin terkulai dihempas badai
    di tengah gelombang digital
    dan aneka saran komunikasi

    ———————————————————

    TERPATRI  JEJAK  PATRIOT

    Kota Ende jadi saksi sejarah
    seorang pemuda patriot diasingkan
    Jauh dari sahabat pejuang
    untuk wujudkan Indonesia Merdeka

    Ada situs rumah pengasingan
    Ada sumur air warisan
    Cerita perjuangan Sang Patriot
    Ada pohon sukun inspiirasi
    Ada panggung pentas sandiwara
    Ada juga dibuat serambi
    Semuanya tentang Ir. Soekarno
    yang sering disapa Bung Karno
    Sang Proklamator Indonesia
    Presiden pertama NKRI

    Terpatri abadi jejak Sang Patriot
    mungkin generasi bisa lupa
    mungkin banyak politisi abaikan
    Namun
    Panglima di Ia Meja Wongge
    tetap setia menjaga lestarinya
    Selama aliran sungai Wolowona
    belum kering untuk mandi
    dan jadi mata air kehidupan
    untuk pewaris Bumi Lio
    untuk generasi Nusa Nipa

    Ada Perjumpaan jejak para patriot
    Berbagai suku bangsa di Nusantara
    menulis tapaknya di kota Ende
    Ada jejak musyafir makna
    dari Jepang dan Belanda
    dari berbagai bangsa dunia
    Terpatri di kota ini
    Ende, Nusa Indah, Flores
    Tana Lio Bumi Naga
    Taman Eden yang terlupakan

    ———————————————————

    ADZAN  DAN  lONCENG GEREJA

    Terdengar Adzan menggema
    sebuah payung sejuk dibentang
    halau jarum terik menusuk
    lindungi hati saGereja
    Ingatkan umat berdoa angelus
    Seperti tameng halau tombak
    yang ganas menikam jiwa
    Di tengah derap zaman edan

    Ada tanya kecil mengusik
    apakah tolerasi kota ini
    apakah persaudaraan warga kota
    dengan adat budaya agama
    Menjadi inspirasi bagi Patriot
    Bung Karno Sang Proklamator
    menggali dan terilhami merumuskan
    Wahyu Pancasila untuk dunia ?

    ————————————–

    ENDE  KOTA  PANCASILA

    Jasmerah
    Jangan sekali-kali melupakan sejarah
    Kejadian itu fakta kehidupan
    Karya Sang Proklamator itu berkah
    dan
    dicatat abadi Kota Ende
    disimpan lestari Bumi Lio
    Nusa Nipa Pulau Naga

    Rajawali masih setia mengawal
    terbang menyusuri sungai sejarah
    terus meneguk mata air fakta
    dan
    membuat jembatan peradaban
    Antara gunung dan pantai
    Antara kampung dan Samudera
    Agar
    generasi minum dan disegarkan
    lalu berlayar seberani lautan
    gapai pelabuhan damba cita

    Pancasila adalah kita
    Pancasila itu aku
    Pancasila itu engkau
    Pancasila itu dia
    Pancasila itu mereka
    Semuanya kita “Sesama Saudara”
    Kita satu udara semesta
    Kita satu darah manusia
    Bergandeng tangan rajut martabat
    Bersatu-padu menenun harkat
    Jadi Putra-Putri Fajar
    Jadi anak-anak Terang
    Junjung mentari di kepala
    Cium bumi di telapak kaki
    Dipeluk Sang Maha Cahaya

    ——————————————————————-

    Tentang  Penulis

    Simply da Flores, terlahirahir di Maumere, Flores, NTT.
    Menyelesaikan studi di STF Driyarkara – Jakarta 1990. Ikut kegiatan advokasi Lingkungan dan Masyarakat Adat, berkenalan ke berbagai daerah di tanah air dan tetangga negeri, lalu pulang ke kampung untuk belajar tradisi lisan sejak 2020, sambil terus belajar menulis

  • Trilogi tentang Bulan Purnama  –  Sajak-sajak Yoseph Yapi Taum

    Trilogi tentang Bulan Purnama – Sajak-sajak Yoseph Yapi Taum

    Yoseph Yapi Taum

     

    Pengantar

    Bulan Purnama adalah simbol romantisme universal. Dalam karya-karya sastra, bulan sering digambarkan sebagai penanda cinta dan kerinduan. Puisi “Trilogi tentang Bulan Purnama” karya Yoseph Yapi Taum menggambarkan perjalanan cinta, kerinduan, kedahsyatan, dan bayang-bayang kematian. Sebuah permenungan yang mendalam tentang hakikat cinta, kekuatan, dan keruntuhannya sekaligus

     

    BULAN TELAH KEMBALI

    Bulan telah jatuh lagi
    Dentingnya teduh ungu menyilaukan
    Sepasang burung menariknya
    Rindu tak bisa digantung di langit

    Bulan telah terbangun kembali
    di musim yang sudah mengering
    Sepasang burung memendamnya
    di telaga bagai seonggok kenangan

    Bulan telah bercahaya kembali
    Dilukisnya bumi dengan warna langit
    Sepasang burung tak lagi murung
    Selembar doa jatuh ke telaga

    Yogyakarta, 23 April 2020

    ———————————————————-

     

    PURNAMA DI LADANG JAGUNG

    Malam purnama di ladang jagung
    Bukit, sungai, laut, dan sepasang remaja
    Menyusuri jejak purba yang membeku di sunyi malam
    “Hujan masih membasahi mayang jagung, kekasih!
    Kucium kembang mawar dan melati di sanggul pengantin!”

    Keheningan bersembunyi di sudut-sudut ladang
    Desir angin menggetarkan denyut jantung
    Jalan setapak diterangi purnama raya
    Aku menyentuhmu di balik pohon berulangkali
    Ciuman demi ciuman susul menyusul menjadi buas

    Malam purnama di ladang jagung
    Gunung, jurang, desah, dan sepasang remaja
    Melintas di atas bayang pohon-pohon di kejauhan
    “Tabir malam membentangkan sayap bekunya, kekasih!
    Kucium kembang kamboja dan sapaan para pelayat!”

    Yogyakarta, 10 Agustus 2019

    ———————————————————————

     

    PURNAMA MEMUDAR DI KAKI BUKIT

    Satu lagi purnama memudar di kaki bukit
    Wangi yang memberi sayap bagi sejoli menepi
    Segala rindu dan duka berakhir di suatu titik
    Simpang jalan dan lorong sunyi menyambutnya

    Musafir pembangkit mantra sudah letih
    (Sepasang kekasih masih bernyanyi hingga larut
    di taman anggur dengan purnama merah)
    Dengan punggung jari disekat isaknya

    Cahaya terakhirnya terpantul dinding purba
    Selaksa dua sejoli menghapus dingin air matanya
    Siapa yang menjaga tidurmu malam-malam?
    Adakah segudang puisi penjaga mimpimu?

    Satu lagi purnama memudar di kaki bukit
    Kepaknya melemah di batas cakrawala
    Para peziarah melantunkan mazmur
    Mengantarkan ke rumah kekalnya

    Yogyakarta, 3 Agustus 2019

    ——————————————————————

     

    Tentang Penulis

    *Yoseph Yapi Taum lahir di Ataili, Lembata, NTT, 16 Desember 1964. Saat ini menjadi ketua Program Studi Magister Sastra di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Pendidikan: (1) SMA Seminari San Dominggo, Hokeng (1984), (2) Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta (1984-1985) dari biara Oblat Maria Imaculata (OMI). (3) S-1 dari di IKIP Sanata Dharma (1990); (4) S-2 dari Universitas Gadjah Mada (1995); (5) S-3 dari FIB Universitas Gadjah Mada (2013) dengan disertasi berjudul Representasi Tragedi 1965: Kajian New Historicism atas Teks-teks Sastra dan Nonsastra Tahun 1966-1998. Melakukan penelitian tentang Konflik dan Kekerasan di Papua (2015-2016). Antologi puisinya Ballada Arakian (2015), Ballada Orang-orang Arfak (2019), dan Kabar dari Kampung (2023).

     

  •  JNE Bagikan 10.000 Takjil di Ramadan 2023  

     JNE Bagikan 10.000 Takjil di Ramadan 2023  

     

    Jakarta berandanegeri.com – Pada Ramadan 2023 JNE turut berbagi keberkahan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memberikan kebermanfaatan kepada masyarakat luas, diantaranya bagi-bagi 10.000 bingkisan takjil yang dilakukan di 12 Kantor Cabang Utama seperti Jakarta, Tangerang, Bandung, Surabaya, Bekasi, Semarang, Pontianak, Makassar, Palembang, Medan, Jogjakarta, dan Denpasar, berlangsung dari tanggal 24 Maret – 14 April 2023.

    Dalam acara puncak bagi-bagi takjil yang berlangsung di sekitar area Jalan Tomang Raya Jakarta Barat, tanggal 14 April 2023 lebih dari 2.000 bingkisan takjil dibagikan kepada masyarakat sekitar, pedagang dan UMKM, serta pengendara roda dua dan empat yang melintas. Tidak hanya itu untuk memeriahkan bagi-bagi takjil tersebut ditampilkan komunitas sepeda BMX, Street Dance dan ikon badut JONI agar semakin semarak.

    Pada bagi – bagi takjil tahun ini JNE mengajak Wahyoo untuk berkolaborasi kembali setelah jalinan kerjasama dalam beragam program positif kemanusiaan yang sudah dilaksanakan sejak 2020 yang lalu.

    Foto Bersama Ksatria dan Srikandi JNE X Wahyono

    Program ini sekaligus untuk membantu dan mendukung mitra rumah makan dan UKM binaan Wahyoo untuk tetap eksis dalam menjalankan roda usahanya sehingga dapat membantu meningkatkan perekonomian.

    Eri Palgunadi, VP of Marketing JNE melalui rilis yang diterima media ini menyampaikan, “Kegiatan bagi – bagi takjil rutin JNE lakukan di setiap moment Ramadan, dan pada tahun ini program bagi – bagi takjil dilaksanakan dengan tujuan untuk mendukung keberlangsungan UKM, sehingga dapat terus merasakan manfaatnya.

    Sesuai dengan tagline Connecting Happiness, JNE pun ingin berbagi melalui berbagai program – program menarik sebagai bentuk dukungan nyata kepada semua pihak sehingga dapat membantu meningkatkan perekonomian nasional,” ujarnya.

    Peter Shearer S – CEO Wahyoo mengatakan, “Pada bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah ini menjadi momen yang baik bagi Wahyoo untuk kembali melakukan inisiasi program kebaikan bersama JNE.

    Wahyoo memiliki semangat yang sama dengan JNE yaitu salah satunya memberikan dampak yang positif dengan menyalurkan ungkapan kepedulian terhadap sesama.

    Ksatria dan Srikandi JNE Bagi-bagi Takjil

    Membawa brand terbaru dari Wahyoo yaitu Senang Hatea, diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat sekaligus membantu pelaku usaha (UMKM) mitra Wahyoo agar tetap senang hati”, tutupnya. ( ATHICK).

     

  • Drama Penyaliban dalam Satu Adegan

    Drama Penyaliban dalam Satu Adegan

     

    Oleh    Subagio Sastrowardoyo

     

    – “Di sinilah aku bergantung
    Domba hitam terbantai di tiang
    Perempuan malang bersimbah debu
    meratap. Merataplah sepatut seorang
    ibu meratap kematian anak sulung
    Tapi merataplah tanpa kegusaran terhadap
    mereka yang menyeret aku dari lurung ke lurung
    yang menombak dan memaku aku di tiang gantung
    Manusia itu baik. Kelaliman hanya kesesatan
    sesaat yang akan luluh dalam penyesalan.
    Bagi nabi, pemikir dan penyair hanya ada satu jalan
    untuk menghadapi kekejaman. Bagi kami tak ada senjata,
    gigi, kuku atau pedang. Hanya penyerahan dan cinta
    kepada manusia dan keyakinan akan kebenaran.
    Jangan bimbang. Darahku yang berceceran
    dari luka tubuhku akan mendekatkan mereka
    kepada keinsafan: mereka telah membunuh sesama insan
    yang juga mengenal gembira, rindu dan luka
    Mereka akan berhenti mengancam, malahan akan mencampakkan diri
    ke bumi karena menyadari kekejian budi
    Ibu, maafkan mereka. Mereka tidak sadar
    apa yang mereka perbuat. Tidakkah kau dengar
    mereka berkeluh dan mundur ke kota dengan teriak
    penyesalan”? –

    – Aduh anak
    Aduh putera Bapak yang tunggal. Begitu banyak
    pengorbanan yang dilakukan, begitu banyak sudah
    bunuh diri buat keagungan martabat manusia.
    Tapi penindasan
    terus menindih dan punah keindahan mimpi
    Lihatlah
    Keluh mereka adalah untuk yang dilontarkan ke mukamu
    Dan mundur mereka ke kota adalah untuk berpesta
    menyambut kematian-Mu
    – “Bunda, penglihatanmu kabur oleh pedih air mata”
    – “Tidak, hanya hati-Mu yang lemah cinta manusia
    Cinta Tuhan lebih kejam. Ia meruntuhkan alam lata”.

    – Demi Allah,
    Berilah aku senjata. Beri aku gigi
    dan kuku dan pedang untuk memerangi
    kebengisan ini. Akan kugigit dan robek
    perut jahanam dan penggal setiap kepala
    yang tunduk ke bumi. Beri aku hidup lagi
    serta pembalasan satu ini. Gusti!

    ———————————————————————-

    -Sumber Puisi  Dan Kematian Makin Akrab, Subagio Sastrowardoyo, Grasindo 1995

    Biodata Subagio Sastrowardoyo:
    • Subagio Sastrowardoyo lahir pada tanggal 1 Februari 1924 di Madiun, Jawa Timur.
    • Subagio Sastrowardoyo meninggal dunia pada tanggal 18 Juli 1996 (pada umur 72 tahun) di Jakarta.