Blog

  • Dua Sajak Indah Astryanthi Korebyma: – Serasa Usiamu Hanya Sehari Adik – Sepasang Sandal Jepit –

    Dua Sajak Indah Astryanthi Korebyma: – Serasa Usiamu Hanya Sehari Adik – Sepasang Sandal Jepit –

    DUA PUISI ASTRYANTHI KOREBYMA

     

    Redaksi menerbitkan dua buah puisi karya Astryanthi Korebyma. Puisi pertama, “Serasa usiamu hanya sehari, adik” menggambarkan perasaan kehilangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan keluarga. Struktur puisi ini dimulai dengan pengantar yang menyebutkan bahwa adiknya, yang disebut “Hijaumu,” memberinya kejutan. Selanjutnya, puisi teruntuk kepada keluarga, mengarah pada pengalaman masa lalu di ladang yang ditanami bersama. Pengalaman ini kini dihadapi dengan kesedihan karena ladang-ladang itu mulai gagal panen, yang menyebabkan ibu menangis dan membuat bapak merenungkan masa depan.

    Puisi kemudian berpindah ke pesan kepada adiknya yang telah meninggal, di mana penutur meminta agar adiknya bahagia dengan pilihan hidupnya, meskipun merelakan kepergian adiknya terasa sulit. Puisi berakhir dengan permohonan agar taman di halaman rumah dan bunga-bunga tetap hijau, sebagai simbol kesetiaan dan kenangan yang mereka rawat bersama.

    Secara keseluruhan, puisi ini menggambarkan perjalanan emosional seseorang dalam menghadapi kehilangan, perubahan, dan menerima takdir dengan penuh ketabahan.

    Puisi kedua, “Sepasang Sandal Jepit” mencerminkan tema tentang kehilangan, kerinduan, dan harapan untuk menyatukan kembali apa yang telah hilang. Seperti sepasang sandal jepit yang tertinggal, puisi ini merujuk pada keadaan di mana sesuatu yang berharga telah hilang atau terpisah.

    Penyair merenungkan tentang ikal (jejak) yang ditinggalkan oleh sandal jepit tunggal, yang mencerminkan kerinduan dan keinginan untuk mengulang kembali masa lalu yang indah. Meskipun waktu terus berjalan dan menghadirkan tantangan (duri) serta perubahan (senja), tokoh dalam puisi ini tetap setia dalam mencari dan menanti, meskipun hasilnya tidak pasti.

    Dengan latar belakang Pelabuhan Larantuka, puisi ini menggambarkan perjalanan emosional seseorang dalam menghadapi kehilangan dan harapan untuk mendapatkan kembali sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Hal ini mengajak pembaca untuk merenungkan tentang nilai kesetiaan, ketabahan, dan keyakinan dalam menghadapi perubahan dan tantangan kehidupan.

     

     

    SERASA USIAMU HANYA SEHARI ADIK

     

    Serasa usiamu hanya sehari, adik
    ‘Hijaumu’ mengejutkanku, adik.
    Teruntuk: Familia
    Adik, ladang yang dahulu kita tanami
    pun kita kunjungi saat liburan
    dengan tanah hitam dan sedikit sedih dan pedih
    untuk keluarga dan sanak saudara kita
    masih ingatkah engkau?
    Kini, ladang-ladang itu mulai gagal panen
    Ibu menangis

    Bapak merenung:
    Kapan bisa dituai (lagi)
    hasil ladang yang kau tinggalkan
    bersama sisa usiamu yang begitu hijau?
    Engkau akan belajar
    menanam pada tandusnya tanah milik tetangga

    Kau harus belajar menerima apapun yang
    diperbuat untuk dirimu yang masih belia, seorang diri.
    sungguh, merelakan itu susah, adik
    tapi tak ada cara lain selain melepasmu pergi,
    melihatmu bahagia dengan pilihanmu.

    pintaku, biarkan taman di halaman rumah
    dan daun bunga tetap hijau
    yang pernah dengan setia kau rawat
    bersama nenek dan adikmu.
    Hingga mereka kau temui
    dalam rencana-Nya.

     

    Lewonama, April 2018

     

    =============================

     

    SEPASANG SANDAL JEPIT

     

    Waktu tak bertanggal
    Pada kalender bugenville
    Bersama sepasang sandal jepit
    Yang tertinggal

    Hingga kini, kau masih yang tunggal; ikal
    Dalam guratan penaku; menggumpal
    Sedang kau mengais
    Sisa kisah masa lalu
    Dengan ingin yang menggebu
    Berharap temukan (lagi) yang dahulu
    Pada kalbu yang merindu
    Hingga kita kembali bersatu

    Sampai tiba saatnya
    Senja hendak memaksamu kembali
    Kau enggan, seakan tak mau sudahi hari ini

    Tak jenuh mencari
    Tetap menanti meski tak pasti
    Sampai tiba waktunya
    Duri dan puisi jadi saksi
    Meretas puing kenangan
    Dan melahirkan anak-anak kerinduan.

     

    Pelabuhan Larantuka, Juli 2016

     

    ==================================

     

     

    Tentang  Penyair

     

     

    Astryanthi Korebyma, nama pena dari Agustina. Gadis kelahiran 03 Agustus 1993 ini berdomisili di Larantuka, Flores Timur, NTT. Saat ini bekerja sebagai Staff Tata Administrasi SMAK Frateran Podor – Larantuka. Astry bisa dihubungi melalui FB: Astryanthi Agustina Korebyma, IG: korebyma_acy0308, e-mail : agustinasurat@gmail.com, Nomor HP/WA : 0821 4699 2440.

  • Pertarungan yang Sebenarnya  (Menyikapi Hasil Pilpres 2024)

    Pertarungan yang Sebenarnya (Menyikapi Hasil Pilpres 2024)

     

     

    Oleh Robert Bala

     

    Pilpres dan pileg sudah selesai. Pengumuman Quick Count, terlepas dari kecurigaan di baliknya, yang juga didukung perhitungan real count KPU, maka harus diterima, Prabowo dan Gibran menjadi Presiden dan Wakil Presiden 2024-2029. Gambar keduanya akan dipasang di hampir semua ruang publik.

    Tetapi apakah pertarungan itu selesai? Apakah dengan kemenangan itu maka suara-suara kritis yang ramai menjelang pesta demokrasi itu juga bisa disebut kalah? Apakah persoalan persoalan etik yang cukup ramai dipertanyakan sekadar ‘omon-omon?’

    Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Tetapi beberapa anomali yang membuat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas semakin tidak mudah dijawab. 

    Pada satu sisi kemenanangan sampai hampir 60% menjadi sebuah pencapaian yang luar biasa. Bahkan ketika hanya ada 2 paslon, Jokowi hanya menang 53,15% (2014) dan naik sedikit menjadi 55,50% di 2019.

    Apakah ini karena faktor kualitas diri Prabowo dan Gibran atau ada faktor X? Fakta empiris justru sangat minim untuk mendukung kesimpulan bahwa kemenangan itu dikarenakan oleh kualitas pribadi Prabowo (apalagi Gibran). Rekam jejak tidak menghadirkan fakta meyakinkan. Yang ada justru janji yang lebih terdengar muluk-muluk.

    Lalu apakah faktor Jokowi sangat berpengaruh? Bisa saja ya. Bansos yang begitu gencar ‘diobral’ pasti ada pengaruh. Tetapi pada sisi lain semestinya ada fakta lain yang meragukan hal ini. Lihat saja PSI yang begitu mengobral gambar Jokowi (bersama Kaesang) dalam bayang-bayang abu-abu di balik aneka foto yang melihat PSI sebagai partainya Jokowi dalam kenyataannya tidak seperti diharapkan. Diprediksi PSI bakal tersingkir.

    Dari sisi PDIP tentu aneka penjelasan harus dicari. PDIP tentu tidak sebatas menyalahkan pihak lain (seperti Jokowi yang seperti ‘kacang lupa kulit). Bahkan keheranan mengapa Jawa Tengah yang jadi ‘markas’ Ginjar seakan dibuat keok. Semuanya ini tentu tidak bisa dipersalahkan semuanya kepada Jokowi. Soalnya faktor internal pun perlu dicari penjelasan. Misalnya saja, kalau massa PDIP itu cukup kuat imannya, tentu godaan itu akan ‘lari lewat’. Yang terjadi selama ini PDIP terlalu merasa nyaman.

    Tidak hanya itu. Selain Jokowi yang bisa dipersoalkan karena ‘air susu dibalas dengan air tuba’, tetapi cara PDIP menyikapi hal ini pun tidak bisa dianggap benar. Upaya menyerang Jokowi ‘habis-habisan’ bisa menjadi salah satu celah. Semua bobrok diumbar yang bukannya mendatangkan keuntungan bagi PDIP tetapi justru membuat Gerindra menuai berkah. Gerinda akhirnya menjadi ‘pembela’ seakan melupakan bahwa tidak begitu lama mereka menyerang Jokowi tanpa ampun.

    Tetapi ada fakta lain yang bisa disebut mencengangkan untuk terus mengaumi PDIP. Meski di pilpres dibuat sepertinya tak berdaya (sama sekali), tetapi dari segi perolehan partai, partai besutan Megawati ini bisa dianggap luar biasa. Pencapaian hampir 17% menyadarkan bahwa fakta ini tidak bisa dianggap hal kecil.  Karena sudah terbukti, PDIP bakal ‘kuat iman’ agar tidak mudah digoyang oleh Jokowi (yang telah tak setia) akan menjadi partai yang bakal menyulitkan Prabowo dan Gibran dalam menunaikan masa pemerintahannya dengan mudah. Prabowo bisa dengan mudah merangkul partai lain yang tidak tahan berdiri di luar pemerintahan tetapi tidak akan mudah merangkul PDIP apalagi berusaha ‘membelai’ Megawati.

    Anomali terakhir tentang Gerindra. Meski Prabowo menang ‘gemilang’, tetapi justru Gerindra sepertinya ‘terseok’. Partai ini tidak seperti PDIP yang selama pilpres 2014 dan 2019 sama-sama menang baik dari segi partai maupun pilpres. Gerindra justru di pileg 2024 hanya menempati posisi ketiga, mundur 1 posisi dari pileg 2019. Itu menunjukkan bahwa secara ke dalam Gerindra tidak akan mudah. Partai ini harus ‘bertandang’ ke partai lain untuk meminta dukungan yang tentu semuanya bukan gratis.  Meski Prabowo tawarkan makan siang gratis kepada 90 juta warganya tetapi tahu bahwa dalam politik tidak ada makan sian gratis.

     

    Tiga Awasan

    Melihat fakta di atas maka sesungguhnya pertarungan sebenarnya baru akan terjadi setelah hasil kemenangan ini dipatenkan. Pertama, kemenangan Prabowo-Gibran meski di tengah kontroversi tetapi cepat akan lambat akan diterima. Tetapi penerimaan itu disertai tanggungjawab yang tidak sedikit. Aneka pelanggaran etik seperti ditetapkan MKMK menunjukkan bahwa hal itu menjadi beban yang tidak kecil. Suara-suara dari kampus hari-hari terakhir sebelum ‘pencoblosan’ membuktikan bahwa kali ini pihak kampus tidak akan ‘sayang-sayang’ pada presiden terpilih.

    Hal ini akan  menjadi pembeda. Bila pada periodenya Jokowi menjadi ‘media darling’ di mana ia selalu menjadi “newsmaker” atau “name makes news”, maka kali ini tidak akan semudah itu. Bahkan di tahun ke-10 dengan putusan ‘etik’  MKMK, apapun yang dilakukan Jokowi yang meski benar pun disalahkan (apalagi kalau salah). Hal itu berbeda sebelumnya. Walau Jokowi melakukan kesalahan pun dianggap benar.

    Hal ini menjadi ‘alarm’ serius bagi Prabowo – Gibran. Hal yang benar saja bakal dipersoalkan hingga menjadi isu negatif apalagi hal yang jelas-jelas bersifat negatif. Kampus akan menjadi kekuatan besar yang membuat ketenangan politik tidak akan mudah dibentangkan pada 5 tahun tersebut. Hal itu mestinya menjadi dorongan agar kualitas kepemimpinan dan profesionalisme benar-benar perlu diberi ruang, hal mana tentu menjadi pekerjaan yang tak semudah yang dibayangkan.

     Kedua, meski kemenangan Prabowo-Gibran tidak lepas dari pengaruh Jokowi tetapi perlu diwaspadai bahwa faktor Jokowi tidak akan terus dipertahankan begitu saja. Fakta bahwa PSI yang nyaris lolos ke Senayan meski sudah ‘mengumbar habis-habisan wajah Jokowi’ menandakan bahwa Jokowi bukan segalanya. Dengan demikian maka diperlukan untuk mengambil jarak dengan menghadirkan kepemimpinan yang ‘khas Prabowo’ meski di dalamnya Gibran sebagai putera Presiden ikut serta.

    Tetapi apakan Prabowo bisa berani mengambil jarak? Tidak mudah menjawabnya. Infrastruktur yang ‘gila-gilaan’ yang dibanggakan dari Jokowi akan menjadi beban karena harus diikuti dengan pengembalian dana pinjamannya. Itu berarti bila ingin lepas dari Jokowi, Prabowo mesti sangat kreatif dalam menata ekonomi dengan pembantu dekat yang inovatif. Persosalannya, ganjalan dukungan parpol akan menjadi hal yang tidak mudah dilakukan karena dalam politik tidak ada makan siang gratis. Lalu dari mana dana besar diperoleh untuk mewujudkan janji-janji manis? Hal itu akan memungkinkan bahwa bayang-bayang Jokowi tidak akan mudah dilepas begitu saja tetapi pada saat yang sama menjadi duri dalam daging.

    Yang terakhir, kondiri internal yang tidak terlampau kuat akan menghadapkan Prabowo-Gibran pada fakta tentang ‘opisisi’ yang tidak akan membuat mereka tenang. Mereka akan berhadapan dengan kenyataan bahwa yang tidak memilih Prabowo-Gibran justru akan mengawal suaranya. Seperti kata George Carlin bahwa mereka akan mengawal suaranya tetapi juga para pendukung pun akan meminta pertanggungjawaban:  If you don’t vote, you lose the right to complain. Mereka justru bakal menuntut karena sudah memberikan suaranya.

    Tidak hanya itu. Kampus akan ‘turun’ dan ikut dalam barisan orang yang mengawal dan menuntut. Karena itu terbayang bahwa usai pilpres dan pileg, justru pertarungan sebenarnyalah yang terjadi. Tetapi dengan mengurai panorama yang tak positif tidak berarti mengingingkan agar hal itu terjadi. Justru sebaliknya dibeberkan demikan agar awasan itu diharapkan tidak terjadi.

     

    ————————–

     

    Robert Bala, Diploma Resolusi Konflik Asia Pasifik Facultad Ciencia Politica Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

  • Nepotisme, Kroniisme, Dinasti

    Nepotisme, Kroniisme, Dinasti

     

    Oleh  Ignas Kleden

     

     

    Dalam tinjauan moral dan hukum, korupsi dan segala variannya adalah praktik yang harus ditolak dalam politik yang sehat dan demokratis. Namun, secara sosiologis meluasnya korupsi membawa suatu akibat yang menguntungkan bagi tegaknya public good governance karena bersama dengan terungkapnya kasus korupsi-korupsi besar, tersingkap juga berbagai konspirasi politik dalam bentuk nepotisme yang pada giliran berikutnya melahirkan kroniisme. Ada persamaan dan perbedaan di antara nepotisme dan kroniisme sebagai praktik dalam birokrasi. Dua praktik itu mempunyai kesamaan bahwa penempatan seseorang dalam birokrasi tidak didasarkan pada kompetensi teknis, tetapi pada faktor-faktor nonteknis. Bedanya, dalam nepotisme, posisi dalam birokrasi ditentukan oleh hubungan kekeluargaan dan kekerabatan, sedangkan dalam kroniisme posisi itu ditentukan oleh hubungan perkoncoan. Dinasti politik merupakan gejala nepotisme, yang dalam perkembangannya akan menciptakan kroniisme.

    Dalam organisasi yang baik, nepotisme dianggap sebagai praktik yang menyimpang. Namun, mengapa menyimpang? Ada pertanyaan kritis menyangkut soal ini yang patut mendapat perhatian. Apa dasarnya bahwa kalau saya menjadi gubernur, saudara-saudara saya tidak boleh bekerja dalam kantor gubernur, sekalipun mereka terbukti sanggup? Kalau mereka sudah melewati semua tes seleksi dengan benar dan lulus tes tersebut, mengapa mereka tak boleh mendapat pekerjaan dan posisi yang mereka kehendaki? Melarang mereka bekerja dalam kantor gubernur hanya karena mereka adalah sanak dan kerabat gubernur, bukankah itu suatu diskriminasi? Selayaknya mereka diterima bekerja sampai terbukti bahwa hubungan kekeluargaannya dengan gubernur membuat mereka melakukan penyimpangan dalam tugas, atau tidak bekerja efektif sebagaimana dituntut oleh tugasnya.

    Kiranya jelas bahwa argumen seperti itu didasarkan pada asas nondiskriminasi dan asas praduga tak bersalah. Kita tahu juga bahwa praduga tak bersalah adalah asas yang berlaku dalam pengadilan. Namun, birokrasi pemerintahan dan manajemen organisasi bukanlah pengadilan. Di sini yang perlu dilakukan adalah mencegah kemungkinan dan memperkecil kesempatan untuk melakukan penyimpangan. Dengan demikian, yang harus berlaku dalam organisasi dan manajemen bukanlah asas presumption of innocence atau praduga tak bersalah, tetapi asas presumption of fallibility atau praduga tentang kemungkinan jatuhnya seseorang dalam kelemahan dan kesalahan karena ketiadaan kontrol. Seorang bos di kantor sebaiknya memercayai semua stafnya. Namun tak berarti lemari besi yang berisi uang kantor boleh dibiarkan tidak terkunci karena sangat besar kemungkinan uang itu menimbulkan godaan untuk diambil.

    Rupanya ini juga pertimbangannya mengapa suami-istri tidak diperbolehkan bekerja dalam kantor bank yang sama karena diandaikan bahwa hubungan yang amat dekat antara suami dan istri akan mempersulit terjaganya kerahasiaan bank, yang dapat merugikan kepentingan nasabah serta merugikan reputasi dan kredibilitas bank tersebut. Kalau salah satu dari pasangan suami-istri itu ditolak oleh bank untuk bekerja di bank itu, walaupun yang bersangkutan sudah lulus tes seleksi dengan baik, kebijakan ini bukanlah suatu tindakan diskriminatif, tetapi tindakan preventif untuk mencegah pelanggaran kerahasiaan bank, yang besar kemungkinan akan terjadi, kalau ada hubungan personal yang terlalu dekat di antara karyawan seperti antara suami dan istri. Dalam hal ini, kalau harus ditunggu dulu sampai ada bukti terjadinya pelanggaran kerahasiaan bank, maka situasinya sudah terlambat, dan baik bank maupun nasabah sudah telanjur dirugikan.

    Selain itu, cukup terbukti dalam beberapa kasus di Indonesia bahwa hubungan yang terikat oleh faktor kekeluargaan cenderung menjadi tertutup dan eksklusif, terutama apabila para kerabat itu sudah terlibat dalam penyelewengan dan pelanggaran hukum. Ketertutupan itu mempersulit transparansi dan akuntabilitas. Juga menjadi penghambat bagi monitoring dan pengawasan. Akibatnya, penyelewengan dan pelanggaran hukum yang terjadi akan terus menumpuk dari waktu ke waktu, dan merugikan kepentingan publik secara akumulatif.

     

    Memperlemah birokrasi
    Contoh ini memperlihatkan bahwa asas presumption of innocence tidak selalu tepat diterapkan di luar pengadilan, seperti juga asas presumption of fallibility tidak akan dibenarkan diterapkan di pengadilan. Di sini kita bisa berkata bahwa kebijaksanaan tercapai kalau kita berpegang pada asas right principle in the right place atau asas yang benar harus diterapkan di tempat yang benar. Inilah pertimbangan utama bahwa nepotisme dianggap praktik yang merugikan birokrasi dan manajemen karena hadirnya terlalu banyak kaum kerabat dalam birokrasi akan memperlemah sifat birokrasi yang seharusnya impersonal. Kita tahu pemerintahan dan birokrasi pemerintahan adalah lembaga publik, yang harus bertanggung jawab atas kepentingan umum melalui kebijakan-kebijakan publik. Karena itu, sifat publik dari jabatan-jabatan pemerintahan perlu dijaga agar tidak dipersulit oleh hubungan-hubungan yang terlalu personal, yang menjadi ciri pemerintahan patrimonial zaman baheula.

    Kroniisme juga kadang kala dibela dengan jalan pikiran yang sama. Argumennya, kalau kita memulai suatu usaha, lebih baik memulainya bersama orang-orang yang sudah kita kenal, atau dengan teman-teman yang sudah saling tahu, daripada langsung mengajak orang-orang yang baru saja dijumpai dalam wawancara untuk perekrutan staf. Orang-orang yang sudah dikenal dan teman-teman dekat lebih mudah diramalkan perilakunya, dapat diperkirakan reaksinya dalam menerima usul atau suatu rencana kerja.

    Hal-hal ini lebih sulit kalau kita langsung bekerja dengan orang-orang baru karena belum ada pegangan tentang bagaimana mengantisipasi sikap mereka terhadap teguran, peringatan, atau disiplin kantor yang hendak diterapkan. Di sini kita berhadapan dengan tingkat ketidakpastian yang terlalu tinggi, yang akan menyulitkan proses pengambilan keputusan dan menghambat juga implementasi keputusan yang sudah diambil.

    Sebaiknya diperjelas di sini bahwa sekelompok orang dengan semangat yang sama dan visi yang sama memang lebih mudah menjalankan suatu usaha bersama, seperti mendirikan koran atau majalah, membangun sekolah, perguruan tinggi, mengelola sebuah klub sepak bola yang profesional, atau membangun sebuah perusahaan bisnis. Dalam situasi semacam itu, orang-orang yang saling mengenal ini tidak dapat dinamakan kroni, tetapi rekan kerja yang kompak yang dipersatukan oleh suatu komitmen yang sama. Perbedaan di antara teamwork dengan kroniisme ialah bahwa yang pertama bekerja untuk kepentingan usaha bersama dengan SOP yang jelas, sedangkan yang kedua bekerja untuk kepentingan dan keuntungan sekelompok orang dalam usaha bersama itu, berdasarkan favoritisme pemimpin kelompok. Kroniisme baru terjadi kalau segelintir orang dari mereka yang telah memulai usaha bersama mendapat dan menikmati keuntungan khusus yang tidak dibagikan kepada rekan-rekan lainnya. Dengan demikian, kroniisme selalu berdiri di atas suatu in-group yang menutup diri dari mereka yang tidak termasuk dalam kelompoknya, dan tidak memperjuangkan kepentingan bersama, tetapi membela suatu egoisme kelompok secara eksklusif.

    Dalam politik, kroniisme seperti ini tidak saja menguasai sumber daya ekonomi, tetapi juga sumber daya politik yang berhubungan dengan akses kepada sumber daya ekonomi, dan cenderung berkembang menjadi suatu oligarki dalam pemerintahan. Memang, setiap oligarki selalu dapat berdalih bahwa meskipun kekuasaan ekonomi dan politik hanya ada pada beberapa orang, mereka tetap saja bekerja untuk kepentingan rakyat dan memperjuangkan kemajuan umum. Dalih seperti ini, seandainya pun benar terwujud dalam kenyataan (suatu yang hampir tak mungkin terjadi), secara prinsipiil tidak dapat diterima asas demokrasi. Karena rakyat tidak cukup hanya dijadikan obyek kebaikan dan kemurahan hati melalui kerja yang dilaksanakan “untuk rakyat”. Prinsip demokrasi menetapkan bahwa rakyat adalah subyek kekuasaan politik dalam pemerintahan, malah subyek yang terpenting, dan hal ini harus diperlihatkan dalam pemerintahan “dari rakyat” dan “oleh rakyat” dan bukan saja dalam pemerintahan “untuk rakyat”.

    Dalam pelaksanaan demokrasi Indonesia saat ini, dapat disaksikan bahwa asas “dari rakyat” dan “oleh rakyat” lebih sering disimulasikan dalam demokrasi prosedural melalui institusi-institusi politik, sementara pemerintahan “untuk rakyat” cenderung diabaikan, khususnya melalui nepotisme dan kroniisme dalam politik.

    Beberapa ahli hukum mengatakan bahwa kita sulit mengambil langkah-langkah untuk menentang praktik nepotisme saat ini karena belum ada undang-undang yang melarang praktik nepotisme. Pada hemat saya, keberatan semacam ini tidak mengimplikasikan bahwa nepotisme tidak bisa ditentang, tetapi justru menunjukkan belum lengkapnya sistem hukum kita.

     

    Legislasi yang mempersulit
    Pengalaman politik dalam masa pasca-Reformasi memberi beberapa contoh bahwa beberapa praktik yang tadinya dilakukan secara meluas, seperti pemberian hadiah besar-besaran kepada seorang atasan dalam birokrasi pada kesempatan tertentu (seperti pernikahan anaknya, atau hari raya), lebih banyak mudaratnya dari manfaatnya, karena tanpa sengaja hadiah-hadiah itu berfungsi sebagai gratifikasi yang membuat orang yang menerima tidak dapat bersikap correct dalam jabatannya. Sekarang ini hal itu sudah sulit dilakukan karena sudah ada UU yang melarang gratifikasi semacam itu. Nepotisme jelas merugikan kehidupan politik dan praktik demokrasi karena beberapa kecenderungan dalam wataknya. Sifat eksklusif nepotisme mempersulit terciptanya tata kelola yang baik (good governance) karena kelompok yang mempraktikkan nepotisme cenderung tertutup, serta tidak mudah dimonitor dan diawasi. Ketertutupan itu sendiri sudah bertentangan dengan prinsip equal opportunity atau kesempatan yang sama untuk melakukan partisipasi politik secara terbuka karena peran-peran tertentu dalam pemerintahan sudah diblokir untuk anggota in-group yang menikmati hak-hak istimewa.

    Dengan tertutupnya partisipasi politik untuk sebagian warga negara yang tidak termasuk dalam blok nepotisme, baik birokrasi maupun politik Indonesia tidak akan mendapat tenaga-tenaga terbaik dalam menjalankan tugas karena mereka sudah tersingkir secara alamiah dari pola perekrutan yang berlangsung tertutup. Selain itu, nepotisme akan terus berusaha melestarikan vested interest kelompoknya dengan mengorbankan kepentingan publik dan kemajuan umum. Kekayaan yang ekstrem dari sekelompok orang dan kemiskinan ekstrem dari banyak orang merupakan hal yang tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun dalam suatu negara yang beradab. Mungkin sudah saatnya perlu disusun legislasi yang akan mempersulit praktik nepotisme, kroniisme, dan dinasti politik dalam pemerintahan karena ini langkah pertama yang efektif menuju keadilan dan kesejahteraan rakyat, yang menjadi alasan satu-satunya bahwa ada, mengapa harus ada, negara merdeka yang bernama Republik Indonesia.

     

    ——————————-

     

    Sumber:  Kompas. Kamis, 31 Oktober 2013

  • Presiden dan Kepresidenan

    Presiden dan Kepresidenan

     

    Oleh Ignas Kleden

     

     

    “The institution of the presidency is more important than the person who holds it—lembaga kepresidenan lebih penting daripada orang yang menjabatnya.” Kalimat itu ditulis Presiden George W Bush dalam otobiografinya berjudul Decision Points (2010) yang menjadi bestseller.

    Dia selalu menyebut dirinya Presiden Bush 43 untuk membedakan diri dari ayahnya, Presiden Bush 41. Ayahnya, Presiden AS ke-41 dan dia sendiri Presiden AS ke-43. Pikiran itu rupanya muncul ketika dia baru saja diresmikan sebagai presiden pada 20 Januari 2001. Suatu pagi tatkala dia sedang membenahi kamar kerjanya di Gedung Putih dia mendapat kunjungan ayahnya. Sang ayah memberikan selamat kepadanya dengan ucapan ”Mr President” dan spontan dia menjawab dengan hormat ”Mr President”. Dalam pidato pengukuhan pertama pada Januari itu dia berkata, ”Kadangkala perbedaan-perbedaan di antara kita demikian dalamnya sehingga kita tampaknya menghuni bersama suatu benua, tetapi bukannya suatu negeri.”

    Karena itu, dia meneruskan, ”Keadaan ini tidak kita terima dan tidak kita inginkan terjadi. Persatuan dan kesatuan kita merupakan tugas berat bagi para pemimpin dan para warga negara dalam tiap generasi. Maka inilah sumpah mulia saya: Saya akan bekerja membangun suatu bangsa yang memberi keadilan dan kesempatan (a nation of justice and opportunity)”.

     

    Presiden dan lembaga kepresidenan

    Distingsi yang dibuat antara pribadi presiden dan institusi kepresidenan sangat mungkin masih cukup asing bagi pengertian politik di Indonesia. Dalam membicarakan kemungkinan calon-calon presiden Indonesia saat ini seluruh perhatian seakan tersedot pada pribadi seorang calon. Hampir tak ada refleksi tentang lembaga kepresidenan dengan tanggung jawab dan martabat yang seyogianya dijunjung tinggi oleh siapa pun yang menjabatnya.

    Hal sama terjadi dalam pembicaraan tentang para calon anggota legislatif. Pertukaran pendapat cenderung fokus pada pribadi calon tertentu dan bukan pada lembaga perwakilan rakyat tempat orang-orang itu menjalankan tugas. Presiden Bush 43 dalam otobiografinya menulis bahwa setiap orang yang ingin bekerja dalam bidang politik berkewajiban to serve a cause larger than oneself. Politikus mana pun harus melayani suatu tujuan dan kepentingan yang lebih besar dan lebih penting daripada dirinya sendiri.

    Kita tahu, dalam tata negara Indonesia yang menganut sistem presidensial, presiden adalah kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Sebagai kepala pemerintahan, dia melaksanakan berbagai kebijakan publik, setelah mendapat persetujuan DPR dan bertanggung jawab kepada DPR. Sebagai kepala negara, dia berkewajiban menjaga kesatuan bangsa dan memberikan jaminan bagi kelangsungan hidup bangsanya dalam suatu kesatuan teritorial negara. Dalam tugas ini dia tak hanya bertanggung jawab kepada DPR, tetapi juga kepada seluruh bangsa dan rakyat.

    Sebagai kepala pemerintahan, presiden menjadi chief executive atau eksekutif utama dan tertinggi bagi pelaksanaan semua kebijakan publik. Meski tak mungkin seorang presiden sebagai kepala pemerintahan dapat menguasai semua masalah teknis yang ada dalam tugasnya, dengan asistensi menteri sebagai pembantu presiden dan dengan nasihat dan input berbagai lembaga yang membantunya serta dengan mendengar pendapat umum yang tersiar di berbagai media, sebagai eksekutif tertinggi dia akan dan harus mengambil keputusan tentang apa yang harus dilaksanakan dan memikul tanggung jawab politik atas tepat atau tidak tepatnya kebijakan yang ditetapkan.

    Dalam ekonomi, presiden akan memutuskan apakah sebaiknya mencukupkan suplai beras dengan mengimpor beras yang lebih murah dari luar negeri atau membantu para petani dalam memperkuat sektor pertanian agar lambat laun dalam jangka waktu yang diperhitungkan para petani dapat memproduksi beras dengan harga bersaing. Hal yang sama dapat dikatakan tentang gula dan penguatan usaha petani tebu. Dalam bidang politik, presiden harus bersikap dan memutuskan apakah pemilihan kepala daerah (gubernur, bupati, wali kota) tetap dilaksanakan secara langsung atau menerima desakan untuk memberlakukan kembali pemilihan bupati dan wali kota oleh DPRD.

    Secara umum presiden diharuskan memilih apakah dia berani mengambil keputusan yang tidak populer meski dalam keyakinannya keputusan itu perlu dibuat demi kepentingan orang banyak atau dia selalu terombang-ambing di antara pro dan kontra pendapat umum tentang masalah yang harus diputuskannya. Dalam sejarah, menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945 muncul ketegangan tinggi antara Soekarno sebagai seorang pemimpin dan kaum muda revolusioner yang tidak sabar menunggu dan enggan berkompromi.

    Para pemuda menghendaki agar kemerdekaan direbut melalui suatu perang terbuka dengan Jepang sesegera mungkin untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa kemerdekaan itu hasil perjuangan dan pengorbanan dan bukan sekadar hadiah dari pihak Jepang. Sementara itu, Soekarno amat yakin bahwa militer Jepang masih kuat di Pulau Jawa sehingga sebuah perang dan konflik bersenjata akan menimbulkan pertumpahan darah yang luar biasa dan malahan menimbulkan komplikasi baru soal kemerdekaan. Di bawah todongan senjata para pemuda, Soekarno bertahan pada pendiriannya dan kemerdekaan Indonesia diproklamasikan tanpa pertumpahan darah yang tak perlu.

    Sebagai suatu dalil, eksekutif utama seperti presiden diandaikan mampu menerjemahkan semua pertimbangan teknis menjadi kesimpulan politis dan selanjutnya berani menerjemahkan kesimpulan politis (sebagai kategori teoretis) menjadi keputusan politik (sebagai kategori praktis) melalui tindakan yang harus dilaksanakan. Dalam praktiknya presiden dapat memutuskan sesuatu berdasarkan pertimbangan-pertimbangan teknis yang ada (because of technical considerations), tetapi dapat juga memutuskan sesuatu bertentangan dengan pertimbangan-pertimbangan teknis yang diajukan (in spite of technical considerations). Ini terjadi karena politik tak identik hal-hal teknis saja sehingga seorang petinggi setingkat presiden dapat mengambil keputusan berdasarkan intuisi politiknya yang berlainan atau melampaui pertimbangan teknis. Secara psikologis ini dapat menjelaskan mengapa presiden sebagai eksekutif utama punya beberapa prerogatif atau hak khusus yang dibenarkan oleh UU.

     

    Tiga kemampuan

    Singkat kata, sebagai eksekutif tertinggi presiden diharapkan mempunyai minimal tiga kemampuan. Secara intelektual dia harus sanggup menerjemahkan segala detail, kerumitan, dan komplikasi teknis menjadi suatu kesimpulan politis yang jelas dan dapat dikomunikasikan. Secara mental dia diharapkan mempunyai keberanian dan keteguhan hati untuk menerjemahkan kesimpulan politis menjadi keputusan politis yang dapat dilaksanakan. Seterusnya, secara moral dia harus mampu mempertahankan semacam netralitas terhadap berbagai desakan kepentingan pragmatis dan tuntutan ideologis berbagai kelompok politik yang dapat menghambat eksekusi keputusannya. Dalam bentuk ideal, presiden sebagai kepala pemerintahan menjadi gabungan seorang analis, seorang pengambil keputusan (decision-maker), seorang eksekutor yang efektif, dan seorang pribadi dengan independensi moral yang tinggi.

    Tentu saja tak semua presiden selalu unggul dalam semua persyaratan itu. Ada yang sangat menonjol dalam analisis, tetapi lemah dalam mengambil keputusan. Ada yang sangat berani dalam mengambil keputusan, tetapi lemah dalam analisis. Ada pula yang efektif sebagai eksekutor, tetapi mudah terseret oleh tekanan ideologi atau tarikan kepentingan pragmatis.

    Jika sebagai kepala pemerintahan seorang presiden tampil sebagai pengambil keputusan dan pelaksana keputusannya, sebagai kepala negara dia bertugas menjaga integrasi nasional ke dalam dan menjadi representasi negara dan bangsanya ke dunia internasional. Para anggota DPR juga menjalankan fungsi representasi, tetapi mereka mewakili rakyat, khususnya rakyat yang telah memilih mereka. Berbeda dari seorang anggota DPR, presiden mewakili negara dan bangsanya dalam berhadapan dengan negara dan bangsa lain. Memang sebagai kepala negara presiden tetap harus dibedakan dari negara yang dipimpin dan bangsa yang harus dilindunginya. Meski demikian, karena fungsi representasinya demikian kuat, dia, dalam praktik dipandang sebagai personifikasi negara dan bangsanya.

    Fungsi kepala negara ini menjadi lebih jelas di negara-negara yang menerapkan sistem parlementer dalam tata negara mereka. Dalam sistem ini fungsi kepala pemerintahan dipisahkan dari fungsi kepala negara. Ratu Inggris, Ratu Belanda, Presiden Jerman, Raja Thailand, tak punya kekuasaan eksekutif, tetapi rakyat di negara-negara tersebut merasa kedudukan raja, ratu, atau presiden mereka sebagai kepala negara tetap penting sebagai faktor pemersatu seluruh bangsa dan penjamin integrasi politik dan kerukunan nasional. Tugas seperti itu rupanya diharapkan dilaksanakan oleh seorang presiden sebagai kepala negara dalam sistem presidensial.

    Dilukiskan dalam kontras yang dipertajam: presiden sebagai kepala pemerintahan, sebagai eksekutif tertinggi, diharapkan melaksanakan tugasnya dengan mengeksekusi keputusan politiknya, berbuat dan bertindak atas dasar suatu kompetensi, mengambil risiko yang mungkin merugikan kedudukannya, tetapi diperhitungkan untung ruginya, teguh dan konsisten dalam sikap, dan relatif independen dari tekanan kepentingan-kepentingan pragmatis dan ideologis. Keberhasilannya sebagai kepala pemerintahan akan diukur berdasarkan tingkat implementasi kebijakan yang telah diputuskannya. Jelas dia akan mendapat kritik dan perlawanan dari pihak-pihak yang tidak sepaham dengan keputusan dan kebijakannya.

    Di sini, kontra kritik seorang kepala pemerintahan tak dilakukan secara verbal dengan pernyataan-pernyataan publik yang defensif, tetapi dengan determinasi yang konsisten dalam mendorong pelaksanaan kebijakannya sampai terbukti bahwa kebijakan itu lebih membawa manfaat, menjawab kebutuhan masyarakat luas, dan tidak merugikan kepentingan publik. Seorang kepala pemerintahan mempertaruhkan kebijakannya dalam eksekusi yang berhasil dan bukannya dengan turut serta dalam riuh rendah polemik dan debat pro kontra, atau membela diri dari mimbar kepresidenan.

    Sebaliknya, presiden sebagai kepala negara diharapkan tak banyak berbuat dan bertindak secara politik. Semakin dia menahan diri dari berbagai kontroversi politik atau konflik-konflik kepentingan, semakin dia mengukuhkan wibawa dan pengaruhnya. Sebagai kepala pemerintahan dia diharapkan bertindak, tetapi sebagai kepala negara dia diharapkan hadir di tengah bangsanya. Kepala pemerintahan memerintah rakyatnya, kepala negara mengayomi semua warga negara dengan rasa aman. Kepala pemerintahan memberikan kepastian hukum, kepala negara mengusahakan kepastian moral. Kepala pemerintahan mengelola kekuasaan, kepala negara mengelola nilai-nilai dalam kebudayaan. Kepala pemerintahan berbicara tentang naik turunnya angka pertumbuhan ekonomi, kepala negara berbicara tentang naik turunnya penghormatan kepada martabat dan hak asasi manusia. Kepala pemerintahan bekerja dengan mengikuti intuisi politik, kepala negara hadir untuk menciptakan ambiance etis.

    Jika sekarang ini seluruh kalangan di Indonesia sibuk membicarakan calon-calon presiden, sebaiknya diingat bahwa dalam sistem presidensial presiden Indonesia mempunyai dua sisi tugas yang berbeda tanggung jawabnya, tetapi tak banyak berbeda dalam kepentingannya. Kita akan memilih bukan hanya kepala pemerintahan, melainkan juga kepala negara. Mengomentari kepresidenan Richard von Weizsaecker di Jerman ketika Helmut Kohl menjadi kanselir (kepala pemerintahan), seorang penulis Jerman memberi komentar bahwa tatkala kanselir memerintah dengan Autoritaet der Macht atau otoritas kekuasaan Weizsaecker berhasil mengayomi rakyat dan masyarakat Jerman dengan Autoritaet der Machtlosigkeit atau otoritas yang lahir dari keadaan tanpa kuasa. Ini dilakukannya dengan menjadi ein mann fuer schwierige zeiten yang selalu hadir dan mendampingi bangsanya pada saat sulit.

     

    ————————————

     

    Sumber: Kompas, 29 April 2014

     

  • “Manunggal Kawuloning Gusti” atau “Manunggal Kalawaning Gusti” dalam Perspektif Kepemimpinan Nasional

    “Manunggal Kawuloning Gusti” atau “Manunggal Kalawaning Gusti” dalam Perspektif Kepemimpinan Nasional

    Oleh   Agus Widjajanto

     

     

    Perhelatan Demokrasi lima tahunan baru selesai digelar hari ini, yaitu Pemilihan Umum (Pemilu) secara langsung untuk memilih pemimpin kedepan , Baik Pemilihan Presiden dan wakil presiden maupun Untuk pemilihan  wakil rakyat di DPR RI, DPRD Propinsi,  DPRD kabupaten/kota serta DPD.  

    Hiruk pikuk pesta demokrasi diawali dengan kampanye yang tidak lepas dari saling menghujat  diantara Paslon. Demikian juga pada saat masa tenang digemparkan oleh tayangan film dokumenter Dirty Vote  dan pernyataan tokoh pengamat militer. Rakyat kemudian bertanya, kemana muara dan arah tujuan ini semua, sedangkan tujuan Pemilu adalah untuk memilih pemimpin bangsa untuk lima tahun kedepan. Seharusnya, masing-masing pihak menghormati masa tenang tetapi muncul hal-hal yang terkesan memprovokasi pemilih untuk tidak pilih paslon tertentu. 

    Berbicara soal kepemimpinan Nasional maupun Daerah setingkat Gubernur dan Bupati/Walikota, kita bisa mengadopsi Etika dan Spiritualitas masyarakat Jawa sehari hari dalam kontek budaya kepemimpinan yang dikenal dengan Manunggal Kawuloning Gusti, menyatunya makhluk atau Kawulo, yaitu rakyat dengan Gusti atau Pemimpin yang dulu disebut Raja, pada saat dinasti kerajaan-kerajaan besar di Nusantara.

    Mamunggaling Kawulo Gusti dalam konteks kepemimpinan adalah mampu memahami dan sadar kapan menjadi pemimpin sebagai panggilan jiwa selaku anak bangsa demi kepentingan Bangsa dan Negara, bukan ambisi politik pribadi (Den koyo Segoro) dan juga sadar kapan saatnya dipimpin.

    Ketika pemimpin  harus mementingkan kepentingan yang dipimpin, sedangkan pada saat dipimpin harus sadar dan tunduk, serta tawadhu mengikuti kepemimpinan sang pemimpin, karena adanya batasan waktu jabatan baik untuk Presiden dan Wakil Presiden maupun Gubernur, Bupati atau Walikota.

    Sifat mamunggaling Kawulo dan Gusti tersebut harus  dipahami dan dijalani  sehingga dengan sendirinya dalam diri pemimpin tersebut terpatri sifat kenegarawan. Dalam ajaran Wulang Reh, selalu mendengar, melihat, menyatu dan mengambil keputusan berdasarkan kepentingan rakyat bukan untuk golongan apalagi untuk dirinya sendiri.

    Sebaliknya, dalam dimensi budaya Jawa juga dikenal dengan Manunggaling Kawulo “Kalawan Gusti”, yang artinya, rakyat bersatu padu  untuk  melawan pemimpin nya yang dianggap tidak demokratis maupun otoriter, yang tidak lagi mementingkan kepentingan rakyat, padalah hakekat demokrasi modern yang diadopsi dari filsuf Yunani kuno, Suara Rakyat adalah Suara Tuhan (Vox Populi Vox Dei

    Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah sudah benar dan sesuai dengan karakteristik adat istiadat dan budaya serta  tujuan awal dari pemikiran para Pendiri Bangsa (Fonding Father) dalam membentuk Desain Awal Negara ini  dimana konsep pemilu secara  langsung seperti  saat ini?

     

     Untuk itu

    Seperti dikemukakan oleh Moh Kusnadi dan Harmayli Ibrahim dalam paham kedaulatan rakyat (Democracy), rakyat dianggap sebagai pemilik dan pemegang kekuasaan tertinggi dalam suatu Negara, penentu  corak dan cara pemerintahan diselenggarakan dan  rakyat yang menentukan tujuan yang hendak dicapai oleh negara. Tapi dalam praktek nya sering dijumpai pada negara yang jumlah penduduknya sedikit dan wilayah tidak begitu luas saja kedaulatan rakyat tidak bisa berjalan penuh dan efektif. Apalagi di Negara negara yang jumlah penduduk nya diatas ratusan juta penduduk dengan wilayah yang begitu luas nya seperti Indonesia yang lima kali luas dari Eropa.

    Dapat dikatakan tidak mungkin menghimpun pendapat rakyat seorang demi seorang dan menentukan jalannya pemerintahan, belum lagi dalam masyarakat modern dan pluralisme yang terdiri dari berbagai suku, ras, agama, dan tingkat pendidikan yang tidak merata sama, yang sangat komplek dan Dinamis. Berakibat kedaulatan Rakyat tidak mungkin dilakukan secara murni. Maka oleh para pendiri bangsa, Bapak dan Ibu Bangsa, sudah memikirkan jauh kedepan melampaui jaman-nya karena kompleksitas nya masalah maka kedaulatan rakyat dilakukan dengan cara perwakilan dengan sistem perwakilan. (Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Prof Dr Jimly Asshiddiqie , hal 414)

    Yang dalam prakteknya, demokrasi perwakilan (Representatif Democracy ) adalah para wakil wakil rakyat di DPR. Dimana para wakil rakyat itulah yang sebenarnya bertindak untuk kepentingan rakyat, yang akan menentukan corak , arah , tujuan dari Negara ini lewat lembaga perwakilan  yang dikenal dengan Majelis Permusyawaratan Rakyat ( MPR ) yang mengkaji dan membentuk GBHN untuk arah( kompas)  tujuan  pada Bangsa ini kedepan. Akan tetapi, fenomena yang terjadi wakil wakil rakyat melalui partai partai politik, tidak lagi mewakili rakyat yang memilih tapi mewakili kepentingan partai termasuk dalam menentukan Calon Presiden dan Wakil Presiden.  Sehingga bisa terjadi, seperti dalam dimensi Jawa, disebut Manunggal Kawuloning Kalawan Gustine (Menyatunya rakyat melawan para wakil rakyat dan pemimpin). Hal  Ini karena fenomena  yang  orientasinya bukan lagi kepada kepentingan rakyat, tapi kepentingan partai politik yang ditentukan oleh elit partai  dan itu jangan sampai terjadi .

    Dalam kontek sistem  memerintahan yang dulu para pendiri bangsa dan sesuai pendapat Mr. Soepomo bahwa sesungguhnya pemerintahan ini adalah pemerintahan desa dalam lingkup nasional, karena memang diadopsi dari adanya pemerintahan desa, dimana ada rembuk desa, wakil desa, wakil pemuda, wakil tokoh agama, untuk melakukan Musyawarah mencapai mufakat, agar tidak terjadi kegaduhan, karena sifat kompleksitas nya tadi dalam luasan dan jumlah penduduk.

    Tidak ada salahnya kalau kita eling dan waspodo , merujuk pada pernyataan Bung Karno yang dikenal dengan JAS MERAH (Jangan sekali kali melupakan sejarah), maka sejarah gerakan Reformasi tahun 1998 yang telah berhasil menumbangkan atau mengakhiri pemerintahan  Orde Baru, yang berujung pada tuntutan Reformasi yang salah satu tuntutan Reformasinya adalah Constitution Reform.

    Terjadi perubahan UUD 1945 yang lebih dilatar belakangi oleh Euforia Reformasi sehingga terkesan perubahan UUD 1945 yang hingga 4 Kali dilakukan secara gegabah, tidak hati hati dan emosional. Berakibat relatif, banyak pilar dan prinsip prinsip kenegaraan yang telah digariskan dalam UUD 1945 oleh “Founding Father”, pendiri bangsa kita dihapus dan dihilangkan. Terutama, pilar prinsip kedaulatan rakyat yang tersuplemasi kedalam konsep MPR sebagai penjelmaan rakyat yang berdaulat dengan kewenangan dasar yang dimiliki oleh MPR diantaranya, Menetapkan GBHN, memilih Presiden dan Wakil Presiden, mengubah UUD 1945 (Prof. Dr. I Gede Pantja Astawa, Guru Besar Hukum Tata Negara UNPAD Bandung).

    Lebih lanjut Prof Gde  menyatakan, Perihal susunan dan kedudukan MPR yang terdiri dari seluruh anggauta DPR (Political Representation) bukanlah tanpa alasan tetapi sebagai presentasi dari prinsip kedaulatan rakyat, sepertu yang diinginkan Founding Father kita.

    Dengan pengalaman sejarah dan situasi reformasi yang sudah 25 tahun ini, sejak UUD 1945 diubah, maka sudah waktunya kita kembali melakukan amandemen/ merubah secara terbatas yaitu mengembalikan lagi kedudukan wewenang dari MPR seperti dulu, mengembalikan DPD sebagai utusan daerah  yang duduk di MPR, mengembalikan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dilakukan oleh MPR yang tidak lagi dipilih oleh rakyat yang dalam praktek nya lebih banyak mudarat dari pada manfaatnya.  Terutama soal cost yang terlampau besar yang harus ditanggung oleh negara. Terlampau mahal hal yang dipertaruhkan buat Kesatuan dan Persatuan Negeri ini. Khusus untuk Mahkamah Kontitusi dan Komisi Yudisial sebaiknya tetap dipertahankan dengan segala kelebihan dan kekurangannya untuk menguji Undang-undang dan pengawasan Kekuasaan kehakiman di Indonesia.

    Kembali lagi pada Manunggal Kawuloning Gusti dalam kontek kepemimpinan raja – raja pada masa lalu, saat ini masih berlaku di Jepang dan Thailand, dimana Raja adalah Gusti atau wakil Ilahi, sedang Kawulo adalah rakyat. Raja selalu bertindak bijaksana menyatu dengan rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat dalam posisinya sebagai Kepala Negara. Sedangkan kepala  Pemerintahan akan dijabat oleh Perdana Menteri (Maha Patih, dalam Dinasti Kerajaan Majapahit dan Singosari) yang dalam demokrasi modern tetap dilakukan pemilihan umum untuk Memilih Perdana menteri, walaupun harus tetap mendapat persetujuan Raja, sebagai Kepala Negara.

    Dengan Amandemen UUD 1945 yang sudah dilakukan hingga empat kali, apakah perlu dilakukan Amandemen terbatas, untuk mengembalikan kedudukan MPR sesuai tugas dan fungsinya lagi ? Mengembalikan syarat Presiden harus orang Indonesia asli, tergantung Para elit politik dalam hal ini, rakyat sudah terwakilkan  atau bahkan akan merubah dalam UUD 1945 khusunya pasal 1 ayat  (1) menjadi, “Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan yang berbentuk Kerajaan”, sehingga tidak lagi ada Pilpres tapi dimungkinkan adanya pemilu, Perdana Menteri sebagai Kepala Pemerintahan.

    Seperti di Jepang, Thailand, Inggris, “Segalanya mungkin bagi Allah dan mungkin juga bagi rakyat”. Semuanya kembali kepada kehendak bersama, dari para elit politik. Dalam sistem multi partai ini, yang penting mari kita bertindak demi kepentingan Bangsa dan Negara bukan untuk kepentingan golongan saja. Untuk mencapai tujuan negara, membentuk masyarakat adil dan makmur, Gemah Ripah loh Jinawi, Toto Tenteram Kerto Raharjo.

     

    ———————————————

     

    *Penulis adalah Praktisi Hukum, Penulis dan Pemerhati Masalah-masalah Sosial Politik dan Budaya
  • Sajak – sajak Julia Utami: – Mata Ibu – Tablo Paskah – Kembali ke Titik Nol – Anakmu Merindu –

    Sajak – sajak Julia Utami: – Mata Ibu – Tablo Paskah – Kembali ke Titik Nol – Anakmu Merindu –

    Mata  Ibu

     

    Mata Ibu adalah bulan purnamaku
    kucari pendarnya dan selalu kutangkap sinarnya
    tak pernah aku kehilangan pualam matamu
    Bersiaplah jadi sinar terang
    untuk palung hatiku yang lelah, Ibu

    Izinkan aku jeda, Ibu
    Aku ingin tidur sejenak
    meletakkan kepala dan sayu mataku
    di bawah terang cahaya purnama matamu

    Aku akan merasa tenang
    dalam linangan air matamu yang menyala
    Aku akan berenang dan tenggelam
    dalam terangmu yang bagai samudera

    Kelak ketika aku pulang
    mata Ibu sudah semakin senja
    aku tetap temukan cahaya purnamamu
    walau alam sekitar tak bersahabat berikan terang

    Semua duka tersapu angin
    Ibu tertawa lepas memeluk anak cucumu
    aku pulang membawa cinta
    mengobati rindumu yang tak pernah padam

    ********************

     

    Tablo Paskah

     

    Abu basah yang disilangkan di dahi
    Ada yang palangkan dosa
    Siap dilebur kembali menjadi abu

    Setiap lembar daun palma
    Ada yang mengelukan sekaligus menyalibkan
    Lalu daun palma teronggok di jok kendara terinjak

    Pada peristiwa perjamuan terakhir
    Pastor mencuci kaki para rasul masa kini berbaju putih
    Satu di antara tak bisa bersih hatinya

    Setiap kecupan di kayu salib
    pada saat Jumat Agung nan suci
    Mendongaklah pada putra-putri altar yang menjaganya
    Bisikkan ciumanku lebih khianat dari Yudas Iskariot

    Dalam prosesi malam Paskah dengan lilin terangi hati
    Kita menanti kebangkitan-Nya di tengah kita
    Terdampar sebuah tanya :
    Siapakah yang bermain-main dengan abu, daun palma, air pembasuhan

    ***************************

     

    Kembali ke Titik Nol

     

    Tak ada riak
    Ombak pun terpaku
    Lebih tenang dari diam

    Mulut linu ketika lidah kelu
    Wajah kaku ketika tubuh kikuk
    Mata terpejam Ketika atma melayang
    Lutut berlekuk kaku ketika kubaluri doa

    Hati terbelit rindu
    Sapa telah tersapu
    Kenangan yang berlalu
    Kukembali tergugu
    Langkah berat kutuju

    Diam tak bergerak
    Tak ada tapak pada langkah
    Kuulur panjang doa untukmu ibu
    Hanya itu hubungkan aku denganmu

    Bahagia di surga ibu,
    Biarkan aku menunggu saatku
    Aku terpaku pada titik
    Antara minus dan plus

    Commuter line, 09 September 2022

    **********************************

     

    Anakmu  Merindu

     

    Baru kemarin terucap niat
    Menemuimu meminta memandang
    anak-anakku rindu kata
    Kata yang kau pintal dengan benang sulaman kasih
    Benang yang beraneka warna menjadi pelangi hati mereka

    Mereka ingin bercanda menarik kain jarikmu
    dan merenda rambut ubanmu
    menjerat siapa yang melintas

    Ingin bergelayut pada teriakanmu yang menggema
    Menggoncang hati menangis menggamit sepi menepi
    Melihat aksimu menjeritkan lara hati dalam puisi

    ini semua tinggal mimpi
    kau memilih pergi ke rumah abadi
    meninggalkan bulan mengandung birahi

    kau awetkan dirimu lewat kenang tak bertepi
    kami masih harus setia di labirin kehidupan fana ini

    tenanglah,
    pasti senyum masih terselip di ujung bibir kami
    karena di atas sana bersama yang lain,
    kau patri dirimu melintasi siang
    berbagi tugas dengan rembulan,
    menjadi penjaga buat semua

    Masihkah akan ada air mata tertumpah?
    Mengiringi keikhlasan melepas kepergianmu

    Commuter line, 8 September 2022

    ________________________________________

     

     

     

    Tentang  Penyair

     

     

    JULIA UTAMI atau Yulia Sri Utami, juga dikenal sebagai Julia Daniel Kotan lahir di Lampung, 28 Mei 1972. Guru SMP Santa Ursula Jakarta sejak tahun 1996. Sarjana FKIP Universitas Sanata Dharma, dan S2 dari Universitas Pelita Harapan. Buku puisinya Ribuan Jejak di Pelataranmu (2016), Kereta dan Penyairnya (2019), Januari Jangan Pergi (bersama Kurniawan Junaedhie (2020), Kapuk Randu Negeriku (2020). Novelnya, Perempuan-Perempuan Abhipraya (2021). Buku puisi lainnya, Keluh Senja Mengejar Cakrawala (2016) bersama Windu Setyaningsih, Ujang Nurochmat, dan Lidia Tokan. Ikut dalam 300-an antologi puisi al. Dari Negeri Poci: Pesisiran (2019), Rantau (2021), Raja Kelana (2022), Kulminasi (2023), Kumpulan Pentigraf dari Robot Sempurna sampai Alea Ingin ke Surga (2016), Ibarat Bagai Seperti Andai (2022), Studio Kita (2023). “Oase di Tepian Kota”(Esai, 2023), Pulang ke Kampung Nenek (2023). Antologi puisi Pertanyaan Tentang Tanggal Lahir (2023).

     Ia juga menulis buku Memahami SGA: Melalui Pendekatan Ekspresi atas Pembacaan Buku Saksi Mata (2022). Editor buku Ubayatizen, buku-buku antologi garapan siswi di SMP Santa Ursula, dan menjadi pemrakarsa buku Flobamora NTT. Aktif menjadi pengurus Komunitas Rumah Sastra Kita NTT (RSK) sejak 2018 bersama Yoseph Yapi Taum dan Yohanes Sehandi. Tahun 2017 menjadi kontributor untuk penerbitan buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia (ASPI) yang dieditori oleh Maman Mahayana, dkk. Bersama Kurniawan Junaedhie mendirikan Komunitas Aksi Swadaya Menulis dari Rumah (ASMDR) (sejak 2020), dan sekaligus menjadi editor untuk seri buku yang diterbitkan Aksi Swadaya Menulis dari Rumah yang sudah mencapai angka 60 judul buku. Oleh JB Kleden, pemerhati sastra NTT, dijuluki Penyair Kereta. Dapat dilihat dalam Youtube Julia Utami Puisi.

  • “Selasar Kapale St. Rafael”, “Seroja”, dan “Keajaiban di Puncak Bukit”, Puisi-puisi Agatha Abon Taum

    “Selasar Kapale St. Rafael”, “Seroja”, dan “Keajaiban di Puncak Bukit”, Puisi-puisi Agatha Abon Taum

     

    PUISI-PUISI AGATHA ABON TAUM (NANDA TAUM)

     

    Kali ini Redaksi menampilkan tiga puisi karya Agatha Abon Taum atau yang akrab disapa Nanda Taum. Ketiga puisi itu adalah: “Selasar Kapale St. Rafael”, “Seroja”, dan “Keajaiban di Puncak Bukit”.

    Puisi “Selasar Kapela St. Rafael” menggambarkan suasana alam yang indah dan menyentuh di sekitar kapela, dengan langit biru, air yang mengalir dengan gemericik, dan pohon hijau yang tersenyum. Penyair merenungkan tentang berlalunya waktu yang cepat, meninggalkan kenangan yang terpatri dalam ingatan, serta perasaan sedih dan syahdu yang bercampur menjadi satu. Puisi ini juga mencerminkan perubahan yang terjadi seiring berjalannya waktu, dengan menyadari bahwa tiga puluh enam tahun telah berlalu dan menandakan perjalanan menuju senja. Di tengah refleksi ini, penyair juga mempertanyakan apakah sesuatu atau seseorang masih sama seperti dulu, menggambarkan kerinduan dan nostalgia terhadap masa lalu.

    Puisi “Seroja” menggambarkan suasana tragedi alam di suatu desa saat hujan deras dan angin kencang melanda, menyebabkan banjir dan kerusakan yang parah. Penyair menyampaikan perasaan keputusasaan dan duka cita atas kerugian yang ditimbulkan oleh bencana tersebut, dengan menyebutkan nama “Seroja” yang menyisakan luka dalam hati. Meskipun demikian, puisi ini juga menyoroti kekuatan dan ketegaran manusia dalam menghadapi tragedi, serta empati terhadap makhluk lain seperti camar yang tak memiliki tempat berteduh. Puing-puing dan luka yang mendalam dihadapi bersama-sama, mencerminkan semangat kebersamaan dalam mengatasi cobaan.

    Puisi “Keajaiban di Puncak Bukit” menggambarkan pemandangan yang menakjubkan di puncak bukit, dengan fatamorgana yang mempesona, pegunungan yang menjulang, dan sungai yang mengalir. Penyair merenungkan keindahan alam yang tak tergantikan dan menggoda, menyebutnya sebagai gambaran keindahan yang tak tercapai. Namun, di tengah keindahan tersebut, penyair juga menyadari bahwa pemandangan itu hanyalah cermin dari impian dan cita-cita, mencerminkan kedalaman makna di balik keindahan visualnya. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan keajaiban alam dan makna yang tersembunyi di baliknya.

     

     

    SELASAR KAPELA ST. RAFAEL

     

    Langit membentang biru menderu…
    Air jernih mengalir gemericik…..
    Pohon hijau membelai tersenyum….
    Sang fajar perlahan cumbui senja…..

    Waktu berlalu begitu cepat….
    Meninggalkan kenangan tersapu oleh ingatan…..
    Sedih dan syahdu bercampur jadi satu …..
    Tapak – tapak kebisingan mulai sirna…..
    Tiga puluh enam tahun sudah berlalu …….
    Menandakan kita semakin menuju senja……

    Di sepanjang selasar kapela kudengungkan…….
    Masihkah kau seperti yang dulu?
    Masihkah kau seperti yang dulu?
    Masihkah kau seperti yang dulu?

    Oepoi, September 2021

    —————————————-

     

    SEROJA

     

    Sore itu, langit tampak gelap.
    Hanya segerombolan camar
    membuat formasi menghiasi langit…..

    Perlahan, dari langit turun rintik gerimis
    kemudian menjadi lebat….
    Angin kencang, air surut
    dan gelombang yang mengamuk,
    desa terendam…

    Tanah-tanah hilang ditelan sungai,
    berjuang, dalam keputusasaan…
    Berharap akan cahaya di ufuk yang gelap…
    Seroja, nama yang menyisakan luka dalam hati…

    Dalam tragedi ini,
    kita menemukan kekuatan,
    bersama berdiri kokoh dan tegar…
    Ah. Kasihan si camar
    tak ada tempat berteduh
    seraya mengeringkan tubuhnya yang kuyub…
    Puing-puing dan
    kehilangan luka yang mendalam…

    Oekalipi, 6 April 2021

    —————————————————-

     

     

    KEAJAIBAN DI PUNCAK BUKIT

     

    Di puncak bukit yang mengintai langit biru…
    Fatamorgana menari dengan indahnya…
    Pegunungan menjulang, sungai mengalir…
    Kau membawa kami ke dunia yang tak tergantikan…
    Kau adalah gambaran keindahan yang tak tercapai…
    Keajaiban yang menggoda dan mempesona…
    Namun, di antara bunga-bunga liar dan rumput hijau,
    kau hanya cermin dari impian dan cita…

    Jogja, Desember 2017

    ———————————————–

    BIONARASI

     

    Agatha Abon Taum atau yang akrab disapa Nanda Taum adalah gadis Lembata kelahiran Bajawa. Nanda Taum merupakan alumni Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan saat ini menjadi guru di SMA Seminari St Rafael, di Jl. Thamrin No 15 Oepoi, Kota Kupang.

  • Filosofis Etika Kebajikan dan Relevansinya  dalam Dinamika Zaman Modern

    Filosofis Etika Kebajikan dan Relevansinya dalam Dinamika Zaman Modern

     

    Oleh Odemus Bei Witono

     

     

    Etika kebajikan dalam menjawab kebutuhan, sumber:Pexels

    Dalam keseharian dalam lingkungan pendidikan etika kebajikan perlu diperkenalkan sebagai proses pendidikan yang memberikan peneguhan tindakan yang secara etis dapat dipertanggungjawabkan. Etika merupakan kajian tentang baik buruk dan kebajikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai ‘sesuatu yang mendatangkan kebaikan (keselamatan, keberuntungan, dan sebagainya)’, ‘perbuatan baik’.

    Etika kebajikan dalam pandangan Aristotelian bersifat teleologis karena nilai karakter dianggap bergantung pada hubungannya dengan kesejahteraan manusia, dan beberapa gagasan non-moral tentang kebaikan tampaknya dianggap sebagai hal utama.

    Menurut Rosalind Hursthouse (dalam Steutel and Carr 1999), etika kebajikan, sebagai contoh, tidak sama sekali menghambat pemahaman orang terhadap aturan moral seperti ‘berbohong dianggap buruk secara moral’ atau ‘seseorang harus memenuhi janjinya’: esensi dari etika keutamaan adalah bahwa penilaian deontik umum tersebut dapat dibenarkan dalam istilah yang pada dasarnya bersifat aretaic.

    Kata ‘deontik’ berasal dari kata Yunani ‘δεóντως’, yang dapat diterjemahkan sebagai ‘sebagaimana mestinya’ atau ‘seharusnya’. Jeremy Bentham menggunakan istilah ‘deontologi’ untuk merujuk pada “ilmu moralitas”.

    Sementara itu Ernst Mally adalah orang pertama yang menggunakan istilah tersebut, dalam bentuk ‘Deontik’, mengacu pada studi logis tentang penggunaan bahasa secara normatif. Sedangkan aretaic dari bahasa Yunani Kuno ἀρετή (aretḗ, “kebajikan atau keunggulan”). Aretaic terkait dengan etika yang berkaitan dengan kebajikan atau keunggulan.

    Dengan kata lain, berbohong dianggap tidak elok karena tidak jujur, dan ketidakjujuran dianggap sebagai keburukan; tidak memenuhi janji dianggap sebagai tindakan yang tidak boleh dilakukan, karena tidak adil atau dianggap sebagai pengkhianatan; dan seterusnya. Dengan singkatnya, penilaian deontik dianggap sebagai hasil dari —bukan dapat digantikan oleh — evaluasi aretaic.

    Pendekatan terhadap pendidikan moral menemukan akar dalam beragam konsepsi tujuan dan metode, terutama yang tercermin dalam literatur penelitian. Dalam domain psikologi, fokus pada pendidikan moral secara unik mempertimbangkan faktor-faktor seperti pengaruh orang tua, pembentukan perilaku, dan diskusi dilema.

    Pendekatan dalam kajian psikologi sejalan dengan pandangan psikoanalisis, pembelajaran sosial, dan teori perkembangan kognitif yang menggarisbawahi peran signifikan proses psikologis dalam pembentukan karakter moral.

    Meskipun telah dilakukan upaya menyimpulkan pendidikan moral dari penelitian kuasi-empiris, sangat sulit untuk mengabaikan dimensi filosofis, etis, dan bahkan politis yang secara kuat mempengaruhi penafsiran hasil penelitian.

    Dengan demikian, pendidikan moral tidak hanya dapat dipahami melalui lensa ilmiah semata, tetapi juga memerlukan pemahaman mendalam terhadap aspek-aspek filosofis dan etis yang melingkupi, untuk merangkul kekayaan kompleksitas manusia dalam konteks pembentukan nilai-nilai moral.

    Dalam konteks pendidikan moral pada zaman sekarang, terlihat adanya pergeseran minat menuju pendekatan klasik, khususnya pendekatan kebajikan. Pendekatan ini menitikberatkan pada pengembangan kebajikan sebagai dasar untuk mencapai tujuan pendidikan moral.

     

     Pilihan etika kebajikan dalam praksis, sumber: Pexels

     

    Relevansi peningkatan minat terhadap pendekatan kebajikan mencerminkan upaya dalam mengatasi tantangan kontemporer yang berkaitan dengan pengembangan karakter dan nilai-nilai moral dalam masyarakat. Meskipun demikian, kebingungan terkait status filosofis pendekatan ini masih menjadi fokus diskusi di kalangan akademisi dan praktisi pendidikan.

    Peningkatan minat terhadap pendekatan kebajikan juga disertai dengan kecenderungan untuk mencampuradukkan konsep etis dengan penjelasan lain, seperti pendidikan karakter, etika kepedulian, bahkan utilitarianisme.

    Hal demikian menimbulkan kerumitan dalam memahami secara menyeluruh ciri khas pendekatan kebajikan terhadap pendidikan moral. Dalam menghadapi kerumitan tersebut, Steutel & Carr (1999) menyoroti perlunya klarifikasi filosofis mengenai etika kebajikan agar kontribusinya dapat dipahami dengan jelas dan dibedakan dari kerangka konseptual lainnya.

    Klarifikasi demikian menjadi krusial dalam menjelajahi pemahaman yang mendalam terhadap cara efektif mengintegrasikan pendekatan kebajikan dalam konteks pendidikan moral, serta sejauh mana relevansinya dalam merespons tuntutan dan dinamika zaman modern.

    Sebagai catatan akhir, filosofi etika kebajikan merujuk pada landasan filosofis atau prinsip-prinsip dasar yang membentuk pendekatan etis yang dapat dipertanggungjawabkan. Filosofi ini melibatkan pemahaman mendalam tentang kebajikan sebagai nilai-nilai moral yang diupayakan dan dikembangkan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan etis.

    Dalam dinamika zaman modern yang kompleks dan berubah dengan cepat, pertanyaan mengenai bagaimana filosofi etika kebajikan dapat diintegrasikan dan diterapkan guna memenuhi kebutuhan moral masyarakat menjadi sangat relevan. Klarifikasi filosofis diperlukan untuk memastikan bahwa pendekatan kebajikan tidak hanya dapat dipahami dengan jelas tetapi juga mampu merespons dinamika zaman modern secara tepat.

     

    *********************************

  • Sebuah Obituari

    Sebuah Obituari

     

    Oleh Kurniawan Junaedhie

     

    Saya menyambut baik ketika Julia Utami merencanakan penerbitan buku puisi tentang biografi Ibu. Saya senang dengan judul yang dipilih Julia Utami: Mata Ibu. Ini mengingatkan saya pada ucapan Mitch Albom, seorang wartawan olahraga di AS: “Saat kamu melihat ke dalam mata ibumu, kamu tahu itu adalah cinta paling murni yang bisa kamu temukan di bumi ini.” Yes, Albom betul. Dan ketika saya membaca semua puisi Julia di buku puisi ini, –yang ditulisnya setiap malam dengan air mata—semakin sadarlah saya, tentang kedalaman cinta seorang Ibu itu.

    Ada kenangan yang tak pernah saya lupakan bersama Ibu Elisabeth. Hari itu, Kamis sore 8 September 2022. Setelah melalui proses yang melelahkan oleh Mbak Tutik, kakak Julia, yang selalu setia merawat dan mengurus surat-surat perawatan dan keperluan tindakan, akhirnya Ibu Elisabeth masuk di kamar rawatnya di sebuah rumahsakit di Jakarta karena Ibu dijadwalkan akan menjalani operasi jantung-nya keesokan paginya. Ini adalah operasi jantung Ibu yang kedua kalinya setelah sebelumnya menjalani operasi. 

    Ketika tahu Ibu sudah berada di kamar rawat, kepada Julia yang saat itu menemaninya, saya minta ber video call dengan beliau.

    Begitu layar gajet terbuka, saya langsung melihat Ibu tertawa melihat saya, dan dengan semangat Ibu melambai-lambaikan tangan. Wajahnya bersemangat, dan suaranya jelas. Ibu langsung menanyakan kabar istri saya yang saat itu sedang sakit. Saya tercekat. Di saat seperti itu Ibu masih ingat dan bersimpati dengan keadaan istri saya. Saya pun cepat-cepat memotong, dan mengatakan, semoga besok pagi operasi lancar, dan meyakinkan bahwa Ibu akan segera sehat seperti sediakala. Beliau mengangguk dengan gembira tanda menangkap kata-kata saya. Alih-alih cemas, saya justru merasa tenang melihat kondisi Ibu itu, sehingga saya tak punya firasat sama sekali  menjelang esok subuh Ibu akan dibawa ke ruang operasi.

    Esok paginya, Jumat pagi, sekitar pukul 10, saya terima WA dari Julia: “Ibu sudah tidak ada.”

    Saya buru-buru angkat telepon: “Tidak ada gimana?

    “Ibu meninggal.”

    Ya Tuhan. Saya lemas. Saya tak menyangka bahwa pertemuan dan percakapan saya dengan Ibu Elisabeth kemarin sore adalah yang terakhir. Mungkin saya ada dalam jepretan mata Ibu, karena saya termasuk orang yang dalam detik-detik terakhirnya berjumpa dan berbincang dengan saya.

    Buat saya Ibu Elisabeth adalah ibu istimewa, yang selama ini mengingatkan saya pada Mami saya almarhum. Melalui cerita-cerita yang dikisahkan Julia kepada saya, dan melalui beberapa kali interaksi saya dengan beliau –meski terbatas melalui video call—Ibu Elisabeth sungguh mirip dengan almarhumah Mami saya. Itu sebabnya mungkin, saya merasa ada jalinan batin dengan Ibu.

    Saya mengagumi kecintaan dan kemandirian Ibu sebagai seorang single mother, utamanya setelah ditinggal almarhum Bapak. Dengan caranya yang khas, saya selalu memperhatikan bahwa beliau selalu mencoba  untuk menjadi pohon pelindung yang rindang dan teduh bagi keenam anak-anaknya. Ibu yang hingga sepuh jago naik motor itu juga sangat kreatif, semangat, terutama saat anak-anak masih kecil, selalu menjadi penopang semangat Bapak untuk bisa membeayai sekolah anak-anaknnya. Meski anak-anaknya sukses di kota berbeda, ia tetap memilih tinggal seorang diri di rumahnya yang luas tapi lengang, di Totokarto, Adiluwih, Lampung Selatan, sambil menemani Bapak, yang makamnya di dekat rumah. Saya melihat Ibu sudah merasa bahagia, selama anak-anaknya berbahagia, meski harus berpisah di kota-kota berbeda. Ibu tak pernah ikut cawe-cawe terhadap rumah tangga anak-anaknnya.

    Saya juga menjadi saksi, betapa beliau berhasil mendidik ke-6 putra-putrinya untuk selalu berempati dan memiliki kepedulian pada sesama. Beliau juga berhasil membuat anak, menantu dan cucu-cucunya untuk selalu rukun dan kompak saling membantu satu sama lain.

    Saya ingat ketika awal mula saya dikenalkan dengan Ibu. Kata Julia: “Ibu itu heran, wong cino karo wong jowo kok melu njawani ya nduk?” Ketika saya bilang saya suka kelanting, dan kerupuk Lampung, Ibu juga heran. “Heran ya, Nduk, Oom KJ kok suka makanan ndeso.”

    Setiap Ibu berkunjung ke Jakarta, atau Julia pulang ke Lampung, Ibu pun selalu tak lupa mengoleh-olehi saya dengan penganan lokal. Seperti lanting, kemplang, pisang kapok mentah, kopi Lampung, kerupuk dan marning jagung kesukaan Maria, istri saya, bahkan khusus ibu membuatkan keripik pisang  untuk kami, Ibu konon membungkusnya secara spesial.

    Saya tak pernah lupa pada senyum Ibu yang tulus, dan matanya itu yang selalu berseri: Mata Ibu. Ya, saya melihat mata Mami, pada mata Ibu. Mata yang penuh kasih sayang yang begitu dalamnnya.

    Ketika Julia Utami terbaring sakit di sebuah rumahsakit di Jakartai selama tiga minggu pada akhir tahun 2022,  suatu hari saya bertemu Ibu di dalam mimpi. Dalam mimpi itu, saya coba memberitahu Ibu, bahwa Julia sakit. Tapi saya hanya melihat Ibu tersenyum. Dan lagi-lagi, mata Ibu, yang lagi-lagi bercahaya.

    Akhir tahun lalu, saya kebagian kiriman beras hasil sawah Ibu Elisabeth almarhumah. Dan setiap kami menikmati beras itu, saya selalu membayangkan saat  Ibu berlari-lari membunyikan kentongan/goprak bambu pengusir burung.

    Buku puisi ini pada akhirnya merupakan sebuah buku puisi cinta – sebuah homage – yang ditulis oleh seorang anak tentang ibu yang dicintainya. Buku puisi ini juga buku puisi biografi karena selain menghimpun foto-foto kenangan, buku puisi ini juga mencatat dengan runtut dan detil tentang kenangan-kenangannya, perasaan-perasaannya dan tentang cintanya yang tak terperi pada sang ibu yang melahirkannya, dalam bahasa puisi serta dalam perspektif berbeda.

    Buat saya buku puisi ini juga meneguhkan keyakinan saya, bahwa cinta ibu itu sepanjang jalan, sedang cinta anak sepanjang galah. Dan saya menjadi saksi mata keluhuran budi Ibu Elisabeth.

    Tahun lalu, ketika keluarga besar Julia Utami mengadakan peringatan genap acara pendhak setahun berpulangnya Ibu, di Lampung, diam-diam saya menulis puisi ini:

     

    CERMIN IBU

    Ibu Elisabeth Siti Rejeki dalam kenangan

     

    Setelah mengancing kutubarunya, Ibu mematut-matut kebayanya di depan cermin. Cermin menatap wajah ibu dengan riang. Ibu sungguh cantik dan  menawan, kata cermin. Ibu jengah. “Kamu berlebihan,” kata Ibu. 

    Ibu lalu merapikan sanggulnya dengan hairnet, dan mengikatnya dengan  karet lalu menguncinya dengan tusuk konde. Cermin itu takjub, tak berkedip  menatap wajah Ibu.   

    Langit suwung. Hari berlalu. Kesibukan meraja seperti putik dan aroma  arumdalu.

    Sekarang Ibu yang baik hati, cantik dan menawan itu telah berpulang. Hampir setahun cermin itu kesepian dan kehilangan. Cermin yang sedih itu bertanya padaku, ke mana peniti, tusuk konde, kebaya dan sanggul ibu itu  harus dilabuhkan. Aku tak bisa menjawab. Aku terlalu sibuk bercermin pada  wajah Ibu. 

    (2023)

     

    Buku ini sungguh buku puisi yang sangat layak dibaca oleh siapa saja  yang merasa dilahirkan oleh seorang ibu.

     

    ———————————————

     

    *Kurniawan Junaedhie, Penerbit KKK, dan Sahabat Keluarga

    *Sumber:  Tulisan ini adalah Kata Pengantar Buku Puisi Mata Ibu, Julia Utami, Penerbit KKK, 2023

     

  • Sajak-sajak Pulo Lasman Simanjuntak: -Kami Senang Mendaki Bukit-bukit Rohani – Sepi Kapan Mencair – Perkawinan Membusuk –

    Sajak-sajak Pulo Lasman Simanjuntak: -Kami Senang Mendaki Bukit-bukit Rohani – Sepi Kapan Mencair – Perkawinan Membusuk –

     

    KAMI SENANG MENDAKI BUKIT-BUKIT ROHANI

     

    kami senang
    mendaki bukit-bukit rohani
    sepanjang dua puluh enam tahun
    keluar dari air dosa
    kolam baptisan
    bertubuh lumut
    hitam legam

    kadangkala kaki kami
    sering terjebak
    dalam panas membara
    api belerang
    berbau kecacatan
    sperma tunggal

    kami senang mendaki bukit-bukit rohani
    dalam rumah sengketa
    yang dihuni ratusan kecoa
    pecahan kaca di atas kepala

    bacaan mantera
    dalam tanah
    berakar sampah perzinahan
    berhamburan kesedihan
    kepanikan tertinggal
    di atas meja surat perkawinan

    rajin ibadah
    disodorkan pelayanan
    kadang telanjang kemarahan
    pada bangunan yang telah ditahbiskan
    tanpa papan nama
    dalam kota tua
    dekat terminal bus ledakan bom ransel

    nyaris mencuri nyawaku
    yang kian terluka parah
    kini telah kehilangan
    jabatan orang lewi
    maupun roh semangat
    dibanting di atas tanah berkarat

    kami senang mendaki bukit-bukit rohani
    mengalir dari puncak gunung berapi
    ada di sekitar kehidupan
    masa dewasa pandai berpuisi ria
    sampai kami menjadi
    manusia yang tumbuh subur
    dipeluk kitab suci
    setiap pagi

    sungguh
    kami senang mendaki
    bukit-bukit rohani

    Jakarta, Minggu 11 Februari 2024

    —————————

     

    SEPI KAPAN MENCAIR

     

    sunyi merayap
    sepi tiarap
    hening berharap
    hidup nyaris kiamat

    aku bertanya lagi,
    tetapi pertanyaanku yang membeku
    membentur jidat para pejabat
    tak mau lagi berjabat erat

    ketika berita kusebar
    makin berkarat
    ketika siaran kudendangkan
    makin melarat

    dengarlah,
    oi, para pewarta
    oi, para pujangga
    di ujung otot usia menua
    di muara ibu negeri
    hijrah tumpah ruah

    sepi
    kapan mencair
    akankah sampai
    tiba
    nyawa kita turun ke liang bumi
    orang-orang mati
    tak punya lagi
    pengharapan
    kepastian

    Jakarta, Rabu, 31/1/2024

    ——————————————

     

    PERKAWINAN MEMBUSUK

     

    perkawinan ini makin membusuk-
    dipahat dengan air liur amarah berkepanjangan
    dibenturkan suara jeritan ratusan hewan buas
    yang muncul tiba-tiba
    karena selalu ada kabar
    kemurtadan hari kemarin

    lalu segera dimasaknya
    bumbu dan menu perkawinan
    dalam dapur perapian
    tempat para pendekar iblis
    bertarung mau turun
    ke dunia paling sunyi

    nyaris menjelma menjadi seekor matahari terbenam
    bintang-bintang berguguran
    hari ketujuh jadi pesakitan
    disiram air keras
    sekeras hatinya yang kian
    membatu

    setelah melewati aliran-aliran sungai penghakiman
    maka perkawinan harus menghadap pengadilan

    semoga ada pasukan balatentara dari langit
    yang mau jadi pembela
    sehingga nama kita jangan sampai terhapus
    dari kitab kehidupan
    dari ayat-ayat suci hapalan
    dari Tuhan yang masih kendali perkawinan

    Jakarta, Senin, 22-1-2024

    ———————————————–

    ——————————————————-

    Tentang Penyair

     

    Pulo Lasman Simanjuntak, karya puisinya telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal dan 26 buku antologi puisi bersama. Kini tengah persiapan untuk penerbitan buku antologi puisi tunggal ke-8 diberi judul Meditasi  Batu. Sering diundang membaca puisi di PDS.HB. Jassin, TIM, Jakarta. Bekerja sebagai.wartawan beritarayaonline.co.id dan harianterbitonline.id, sekarang bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan.
    Kontak person : 08561827332 (WA)
    Email : pulo_lasman@yahoo.com
    Medsos :
    IG: Lasman Simanjuntak
    Facebook: Bro
    Youtube: Lasman TV
    Tik Tok: Lasman Simanjuntak