Blog

  • Universalisme Pendidikan: Memaknai Ulang Pendidikan Kita

    Universalisme Pendidikan: Memaknai Ulang Pendidikan Kita

    Oleh Nardi Maruapey*

    “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia”

    (Nelson Mandela)

    Kata-kata Nelson Mandela di atas kiranya dapat menjadi bahan untuk kita bisa ber-kontemplasi mengenai penting dan luar biasanya pengaruh dari pendidikan. Sehingga ada banyak dari kita yang bertanya baik dari dalam hati, dengan mengeluarkan suara, bertanya pada diri sendiri maupun pada orang lain tentang apa itu pendidikan, untuk apa pendidikan, terutama terhadap masa depan setiap orang terlebih lagi bagi orang belum sadar dan masih berada dalam alam pikir yang primitif. Satu kalimat penegasan dari tulisan ini adalah jelas pendidikan itu penting — sangat penting.

    Dalam berbagai macam perspektif entah itu tokoh, cendekiawan, ataupun penulis kita dapat menemukan ujung dari semuanya bahwa pendidikan adalah mendidik untuk cerdas atau upaya membuat orang cerdas. Sehingga saya sangat bersepakat dengan tujuan dari pendidikan bangsa kita yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan kehidupan bangsa tentu dasarnya adalah membuat orang cerdas.

    Pada konteks yang lebih universal lagi, pendidikan itu harus menyentuh nilai-nilai kemanusiaan atau membuat kita sebagai manusia untuk lebih memiliki sifat-sifat yang manusiawi. Ini kerja pendidikan untuk membentuk seseorang dari sisi karakterkter. Kiranya sangat sesuai konsepnya Paulo Freire dalam hal ini, bahwa pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Dimana pendidikan mampu mengangkat hatkat dan martabat serta kualitas hidup manusia dari segi ilmu. Ini yang saya maksudkan dengan universalisme  pendidikan.

    Memaknai Ulang Pendidikan

    Dalam memaknai pendidikan dengan betul-betul perlu ada penulusuran secara mendalam dan berulang-berulang agar tujuan sejati dari pendidikan itu dapat tercapai. Bahwa pendefenisian dari pendidikan sebagaimana terdapat dalam rumusan undang-undang tentang sistem pendidikan nasional bahwa menurut UU Nomor 20 Tahun 2003: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

    Memaknai pendidikan dapat diperkuat dengan mengambil penjelasan dari dua tokoh besar dalam bidang pendidikan. 1) Menurut Ki Hadjar Dewantara bahwa, Pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat. 2) Sedangkan menurut Jhon Dewey (2003) Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia.

    Dengan demikian, pendidikan itu sifatnya hakiki bagi manusia sepanjang peradabannya seiring perubahan jaman dan berkaitan dengan usaha manusia untuk memerdekakan batin dan lahir sehingga manusia tidak tergantung kepada orang lain akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.

    Dengan begitu akar dari pendefenisian yang kemudian menjadikankannya sebagai tujuan dari sistem pendidikan itu sendiri atau yang lebih luas lagi yang merupakan amanat dari konstitusi kita yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah mencerdaskan manusia Indonesia secara keseluruhan tanpa terkecuali. Bahwa sesuai dengan bunyi tujuan pendidikan nasional kita yang terdapat Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional yakni “untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

    Universalisme Pendidikan

    Sampai hari ini tidak bisa lagi dipungkiri kalau kehidupan manusia tidak terlepas dari yang namanya pendidikan. Pernyataan ini sejalan dengan penggolongan oleh Sutan Rajasa dalam “Kamus Ilmiah Populer” yang mengatakan bahwa pendidikan merupakan kebutuhan pokok manusia, selain akan adanya kebutuhan pokok manusia lainnya, seperti sandang, papan, dan pangan.

    Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu proses yang terus-menerus sejak manusia dalam kandungan sampai kembali dalam liang lahat, sehingga pendidikan sering kali disebutkan sebagai pendidikan seumur hidup atau dalam bahasa Inggris yang dikenal dengan sebutan long life education.

    Universalisme pendidikan artinya meluaskan  pemahaman kita pada makna pendidikan yang bukan saja hanya sekedar mencerdaskan. Menurut Plato, pendidikan akan membawa manusia dari kegelapan menuju pencerahan. Pendidikan bukan hanya memberikan jiwa-jiwa yang lapar dengan ilmu, namun juga untuk mengeluarkan potensi yang ada di dalam diri kita ke luar.

    Dengan semangat dari universalisme pendidikan, kita pada prinsipnya akan selalu mempunyai keinginan untuk terus-menerus melakukan aktifitas atau kegiatan belajar. Belajar untuk lebih mengetahui dari pengetahuan awal kita sebagai manusia. Disitulah tujuan kita bergaul dengan dunia pendidikan yakni dunia yang mengharuskan kita untuk belajar, belajar, dan belajar. Belajar mengetahui, memahami, dan melaksanakan.

    Satu hal yang perlu diingat bahwa pendidikan itu sangat luas — universal. Sehingga pendidikan bukan hanya untuk pendidikan, tapi lebih dari itu, pendidikan untuk masyarakat. Pendidikan dilakukan untuk mempersiapkan masa depan kita bukan hanya sebagai individu, tetapi juga sebagai masyarakat. Pendidikan merupakan sumber daya untuk mencapai dan menjaga keselamatan masyarakat. Pendidikan diselenggarakan untuk society (state) dan untuk individu. Tingkatan tertingginya ketika manusia sadar bahwa pendidikan bukan hanya untuk keuntungan dan kesenangan semata, “the aim of education in Plato is to enable the learners to know the metaphysical truth”.

    Diambil dari salah satu jurnal yang membahas pendidikan menurut Driyarkara, seorang filsuf yang berbicara pendidikan (Aziz, 2016), tujuan pendidikan sendiri adalah memanusiakan manusia muda. Bukan, muda bukan tentang umurnya. Melainkan tentang manusia yang belum mencapai taraf keutuhannya. Sehingga tujuan pendidikan itu sendiri untuk mengutuhkan manusia tersebut.

    Driyarkara

    Menjawab Krisis

    Krisis yang melanda segala aspek kehidupan negara bangsa salah satu penyebabnya diakibatkan karena lemahnya pendidikan yang tertanam dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara itu sendiri. Sebagai sebuah negara bangsa kita harus keluar dari krisis ini dengan sebuah solusi. Dan pendidikan harus dijadikan pondasi kokoh dari solusi itu, karena sejatinya pendidikan merupakan proses penenaman budaya dan nilai moral etik manusia.

    Mengenai krisis, kita tentu mengalami banyak krisis yang kemunculan seperti virus yang secara perlahan akan menyebar dan mematikan perkembangan manusia sebagai makhluk rasional. Krisis-krisis itu diantaranya: krisis intelektual, krisis moral etik, krisis rasionalitas dan krisis budaya (identitas). Pertama, krisis intelektual yang dimaksud adalah dimana pikiran dan kecerdasan manusia mengalami penurunan. Kedua, krisis moral etik adalah seseorang telah kehilangan sikap dan perilakunya untuk serta di depan umum atau dengan orang lain. Ketiga, krisis rasionalitas itu karena potensi untuk menuju pada kebenaran berpikir pada dirinya sudah tidak ada lagi atau biasanya pikirannya tak lagi logis. Keempat, krisis budaya adalah ketika kebiasaan baik-positif sebagai identitasnya telah hilang pada dirinya.

    Semua hal itu akibat menjauhnya seseorang dari proses-proses pendidikan. Ini yang disebut dengan krisis multi-dimensional yang sedang melanda. Dan dengan pendidikan diharapkan dapat merubah semua krisis menjadi sesuatu yang kaya, yakni: kaya intelektual, kaya moral etik, kaya rasionalitas, dan juga kaya budaya. Sehingga kondisi di atas yang sudah dipaparkan dapat menjadi sebaliknya.

    Kita semua termasuk juga saya harus tetap pastikan kalau orang-orang yang terbentuk dari proses-proses pendidikan secara langsung dan secara universal adalah orang-orang yang mampu membaca tanda-tanda pergerakan zaman dengan kapasitas intelektual dan moral yang dimiliki.  Sebab mereka merupakan orang-orang terpilih.

    *****************

    *Nardi Maruapey, Mahasiswa FKIP Universitas Darussalam Ambon

  • Aku Disandera – Aku dan Orang Lain, Menurut Emmanuel Levinas

    Aku Disandera – Aku dan Orang Lain, Menurut Emmanuel Levinas

    Oleh  Prof. Dr. Alexander S. Lanur, OFM

    Pengantar

    Pada tahun 1978 kami menulis sebuah artikel berjudul “Hubungan antar pribadi menurut Emmanuel Levinas”. Tulisan itu dimaksudkan untuk sedikit memperkenalkan pemikiran tokoh tersebut pada sidang pembaca di tanah air. Perkenalan itu terutama dilakukan dengan bantuan karyanya yang berjudul Totalite et Infini. Essai sur I’exteriorite. Perkenalan yang kami lakukan itu sulit untuk dikatakan lengkap, utuh dan komprehensif. Sebab sesudah menulis karya tersebut Levinas masih menulis banyak karya lagi sampai ia meninggal 25 Desember 1995. Pemikirannya juga semakin berkembang dan bahkan semakin radikal. Hal itu terutama nampak dalam karya yang ditulisnya sesudahnya yakni Auttrement qu etre ou au-dela de l’essence. Karya tersebut mengembangkan dan bahkan meradikalkan gagasan dasar yang disajikan oleh Levinas dalam Totalite et Infini.

    Egologi dalam Filsafat Barat

    Ungkapan “filsafat Barat”, sejauh dipakai oleh Levinas serta para filsuf Prancis lainnya, mau menunjukkan pengetahuan yang rata-rata dimiliki oleh seorang profesor perguruan tinggi Prancis tentang pelbagai tradisi Eropa. Ungkapan tersebut menekankan ciri-ciri modern budaya “Barat” tetapi tidak terlalu tahu akan filsafat Abad Pertengahan. Selain itu ungkapan tersebut juga menyamakan saja warisan Yunani terutama dengan teks-teks dari Parmenides, Herakleitos, Plato, Aristoteles dan Plotinus.

    Sejak Parmenides sampai dengan Heidegger “filsafat Barat” menurut Levinas, sebenarnya tidak lebih daripada suatu egologi. Disebut egologi karena seluruh diskursus filsafat berpusatkan si Aku. Si Aku ini berfungsi sebagai subjek pemikiran. Selain itu si Aku tersebut juga menjadi pusat dan tujuan dunia dan sumber segala makna. Dengan demikian egologi melahirkan egosentrisme. Keduanya merupakan segi teoritis dari suatu sikap yang jauh lebih mendasar lagi. Sikap yang mendasar itu adalah objektivasi, manipulasi, teknologi, perencanaan serta eksploitasi. Sikap tersebut menciptakan suatu pola hidup tertentu. Pola itu disebut egonomi. Artinya, si Aku merupakan nomos (hukum) untuk segala sesuatu. Egonomi harus menjadi sesuatu yang efektif dan praktis. Dan untuk menunjukkan segi itu Levinas menggunakan istilah ekonomi. Istilah tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu diatur serta ditata oleh rumah (oikos). Hukum (nomos) rumah menguasai seluruh dunia si Aku.

    Bagian kedua Totalite et Infini berbicara tentang Interiorite et Economie. Di situ Levinas menyatakan bahwa berada – di – dunia tidak pertama-tama ditandai oleh faktisitas melainkan oleh “kenikmatan” (jousance}. Yang dimaksudkan dengan “kenikmatan” (jousance) itu adalah kenyataan bahwa aku hidup dari (vivre de…) barang-barang material serta memelihara diriku dengan menggunakannya. Barang-barang tersebut adalah udara, air, makanan dan sebagainya. Dalam “kenikmatan” (jousance) itu, cinta akan hidup, kebahagiaan dan hidup afektif berpusatkan diri sendiri. Keadaan tersebut merupakan egoisme hidup dalam bentuknya yang biasa dan wajar. Dimensi itu membuat setiap individu menjadi sesuatu yang independent dan berdiri sendiri. Dimensi tersebut serentak pula memisahkan individu yang satu dari individu yang lain.

    Karena itu eksistensi manusia di dunia ini tidak pertama-tama ditandai oleh “keadaan terlempar” (geworfen sein). Eksistensi itu, sebaliknya, ditandai oleh adanya rumah (la maison) atau tempat tinggal (la demeure). Rumah atau tempat tinggal itu menjadi suatu wilayah pribadi bagiku. Dan sebagai wilayah pribadi rumah atau tempat tinggal itu diandaikan oleh pelbagai kemungkinan untuk menggunakan dunia sebagai jaringan hubungan-hubungan yang ditandai dan ditentukan oleh maanfaat. Sebuah rumah atau tempat tinggal mendahului suatu dunia yang ditandai dan ditentukan oleh manfaat. Rumah atau tempat tinggal merupakan pusat keadaan manusia sebagai manusia.

    Dari rumah atau tempat tinggal itu aku dapat keluar dan masuk ke dalam dunia. Dalam dunia itu aku dapat menemukan dan memanfaatkan pelbagai kemungkinan yang ada. Hanya karena aku memiliki rumah serta tempat tinggal sendiri, dapatlah aku membawa makhluk-makhluk lain termasuk orang-orang lain ke dalam kehadiranku. Hanya atas dasar itu pula dapatlah aku membuatnya menjadi objek yang dapat kupikirkan, kuselidiki, kumanfaatkan serta kuubah dengan bantuan pekerjaan. Semua itu juga dapat kupelajari secara ilmiah. Dunia seperti itu adalah dunia objek, teori-teori objektif, industri, teknologi, politik dan sebagainya. Adanya dunia tersebut mengandaikan adanya penguasa yang membuat dirinya menjadi pusat seluruh jagat serta mengubahnya menjadi wilayah kekuasaan serta penguasaannya. Dalam bidang filsafat dunia itu menampakkan dirinya dalam suatu pandangan yang sistematis. Dalam pandangan tersebut seluruh jagat nampak sebagai suatu keseluruhan (totalite) di depan mata si Aku yang menguasai segala-galanya. Artinya, suatu kesadaran menguasai dan mengalami segala sesuatu sebagai suatu keseluruhan (totalite). Kesadaran itu adalah dunia egologis filsafat Barat. Dunia tersebut juga dapat dicirikan sebagai ontologi. Disebut ontologis karena si Aku yang menjadi pusat itu memandang serta memikirkan segala sesuatu sebagai suatu keseluruhan (totalite) dan memandang serta memikirkannya sebagai satu pengada saja.

    Nilai Positif Totalitas Teoritis dan Praktis

    Agar tidak salah paham baiklah diberikan catatan berikut. Levinas mengakui secara eksplisit segi positif dan niscaya pelabagai totalisasi teoritis dan praktis yang dihasilkan oleh setiap peradaban dan yang ada di dalamnya. Dia pernah menunjukkan bahwa keseluruhan (totalite) sistematis adalah sesuatu yang baik dan tak terhindarkan.

    Ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, keadilan, politik  dan sebagainya pasti menjadi mustahil bila semua fakta serta pengada tidak dipandang dan diuraikan sebagai faktor-faktor yang saling berkaitan dalam bermacam-macam jaringan, perencanaan dan organisasi. Dunia yang adil tidak dapat tidak membutuhkan lembaga-lembaga. Dan dengan bantuan lembaga-lembaga tersebut manusia juga diperlakukan sebagai salah satu unsur dari suatu keseluruhan (totalite) yang lebih besar. Artinya, manusia dapat dan nyatanya dihitung, dipakai dan dipandang sebagai bagian yang berhubungan dengan bagian-bagian yang lain. Bagian tersebut tidak dapat hidup hanya dari dirinya dan hanya untuk dirinya sendiri saja. Suatu masyarakat yang tidak dihubungkan satu sama lain oleh suatu peraturan, hukum atau perundangan bersama pasti akan hilang tanpa bekas dan menghadapi ajalnya.

    Kendati menerima adanya suatu totalitasi Levinas juga menetapka syarat yang harus ditepati. Syarat itu adalah bahwa keseluruhan (totalite) tersebut tidak boleh dimutlakan dan tidak boleh menjadi sesuatu yang mutlak. Sebab, bila semua hal yang disebut tadi menjadi mutlak atau dimutlakan serta menjadi tolok ukur yang tertinggi, maka hidup sebagai individu tidak lagi bernilai mutlak dalam dirinya. Karena itu semua bentuk keseluruhan (totalite) harus takluk pada tolok ukur yang lebih tinggi tadi. Tolok ukur tersebut mesti menerima dan menghormati martabat masing-masing individu.

    Tolok Ukur yang Tertinggi

    Manakah tolok ukur yang tertinggi itu? Tolok ukur yang tertinggi bukanlah kemanusiaan yanga ada baik di dalam diriku sendiri maupun di dalam diri orang lain. Tolok ukur tersebut adalah penampilan wajah orang lain dan percakapan serta pembicaraan. Keduanya berhubungan saangat erat satu sama lain. Wajahlah yang bercakap dan berbicara. Keduanya menggoyahkan dan meretakkan kesatuan duniaku serta meruntuhkan keseluruhan (totatalite) diriku. Tidak dapat disangkal bahwa orang lain ada. Kenyataan itu saja sudah menurunkan aku dari takhtaku dan serentak pula membuat aku menjadi hamba yang menopang hidup orang lain dan bertanggung jawab atasnya. Artinya, setiap orang – baik laki-laki maupun perempuan, baik orang dewasa maupun anak kecil – yang kujumpai menghukum aku termasuk seluruh dunia ekonomis serta egonomisku. Selanjutnya, hanya dengan menampakkan dirinya saja mereka sudah membebankan tuntutan yang tidak terbatas kepadaku. Wajah orang lain, kenyataan bahwa mereka – entah laki-laki entah perempuan, entah orang dewasa entah anak-anak – ada dan menatapku sudah membuat aku menjadi seorang hamba, yang bertanggung jawab atas keberadaan mereka, atas hidup serta tingkah laku mereka.

    Dengan demikian daya dan kekuatan ekonomis sudah dihukum dan dipatahkan. Daya dan kekuatan itu dihukum serta dipatahkan bukan oleh kesetaraan, karena mempunyai hakekat yang sama, sebagai manusia melainkan oleh asimetrisnya hubungan antar pribadi. Karena hakekatnya sama maka manusia setara satu sama lain. Gagasan bahwa manusia mempunyai hakekat yang sama itu mengandaikan adanya suatu pandangan yang mengatasi kebersamaan semua individu. Tetapi apakah pandangan tersebut mengandaikan suatu sudut pandang yang bersifat egologis dan totaliter? Setiap pembicaraan dan percakapan mengandaikan adanya sudut pandang yang lain daripada sudut pandang yang egologis dan totaliter. Sebab bila aku berbicara, maka aku memperkenalkan diriku pada orang lain. Dan orang lain itu pada gilirannya menyatakan bahwa penguasaanku dan kedudukanku yang memonopoli segala sesuatu termasuk dirinya sudah berakhir. Orang lain tersebut – entah seorang laki-laki entah seorang perempuan – merebut kedaulatanku dari tanganku. Dengan berbuat demikian ia serentak pula membebaskan aku dari kesendirianku. Hubungan antar manusia yang pertama dan asali bersifat simetris. Kehadiran orang lain saja sudah memberi kepadaku perintah, paling tidak, untuk membunuhnya. Aku memandangnya seperti seorang yang berasal dari tempat yang tinggi. Keluhurannya mencirikan orang lain itu. Keberadaannya merupakan sesuatu yang mutlak. Kemutlakan itu menolak semua tuntutan dari duniaku yang hanya berpusatkan diriku sendiri saja. Kemutlakan tersebut juga mengatasi tuntutan dari duniaku dengan tuntutan-tuntutan yang jauh lebih radikal lagi. Kemutlakan tersebut oleh Levinas disebut “Yang tak berhingga”. Yang tak berhingga datang dari atas segala hal lain yang nampak dan mengatasi cakrawala Ada itu sendiri. Artinya, “Yang tak terhingga” berada dengan cara yang lain daripada Ada itu sendiri. Caranya justru adalah keberlainannya.

    Hubungan antar-manusia yang Asimetris

    Hubungan yang asimetris ini dapat saja disalahpahami. Artinya, hubungan tersebut dapat saja dipahami sebagai pembalikan suatu hubungan yang tidak setara yang terkandung dalam sikap si Aku yang hidup sendirian, tetapi yang menguasai segala sesuatu. Si Aku itu bertindak sebagi titik tolak dan titik pangkal toeri sosial seperti yang, antara lain, diajarkan oleh Thomas Hobbes. Dia mengajarkan bahwa manusia adalah serigala untuk manusia yang lain (homo homini lupus). Menurutnya, kodrat sebagai serigala dalam diri manusia itu harus berubah dan diubah menjadi kodrat yang lebih bersifat ilahi. Dan jalan yang ditempuh agar sampai ke perubahan seperti itu adalah peperangan, revolusi.

    Selain itu ada juga orang yang berpendapat bahwa Levinas adalah seorang moralis. Sebagai seorang moralis dia menentang tindakan orang-orang, yang memperlakukan orang-orang lain hanya sebagai hamba dan budaknya saja. Karena itu mereka menarik kesimpulan bahwa Levinas mengajarkan kita agar kita menjadi hamba dan budak orang-orang lain dan bukan sebaliknya.

    Kiranya bukan itulah yang dimaksudkan oleh Levinas. Dia juga tidak bermaksud menulis serta memperkenalkan suatu etika yang baru. Sebaliknya, dia hanya mau menunjukkan dan memerikan dengan bantuan analisisnya bahwa pandangan etis hendaknya menjadi titik tolak untuk setiap filsafat, yang mau setia pada fakta. Levinas menemukan bahwa aku adalah subjek yang bertanggung jawab tanpa batas atas hidup orang lain. Penemuan tersebut merupakan awal untuk pelbagai permenungan lebih lanjut. Dengan bantuan penemuan tersebut kata-kata seperti “mengada”, “pengada”, “hakekat” dan sebagainya, paling tidak mendapat “warna” yang baru. Makna kata-kata itu berubah karena kata-kata tersebut “diwarnai” oleh serta dikaitkan dengan subjek yang bertanggung jawab tanpa batas atas orang lain. Penemuan itu merupakan awal dan permulaan untuk semua pengetahuan pada umumnya dan pengenalan diri pada khususnya. Bagaimana pun juga semua pengetahuan itu secara alamiah cenderung menjadi egosentris. Karena itu semua pengetahuan tersebut juga harus dibersihkan dan dimurnikan dari kecenderungan tersebut. Pembersihan dan pemurnian itu terjadi berkat pewahyuan yang unik dari yang mutlak. 

    Dalam hidup sehari-hari kita juga mengalami bahwa kita lebih mempunyai kewajiban terhadap orang lain daripada membebankan kewajiban kepadanya. Artinya, aku dapat mengorbankan diriku untuk orang lain. Namun, begitu aku mewajibkan orang lain, apalagi memaksanya untuk mengorbankan diri serta hidupnya untukku, berubahlah aku menjadi seorang pembunuh. Artinya, hubungan antar manusia tetap merupakan hubungan yang asimetris. Untuk menunjukkan hubungan itu Levinas mengacu pada The Brothers Karamazov karya Dostoevski, di mana Zosima menyampaikan gagasan yang sama. Gagasan itu adalah: “Kita semua bertanggung jawab di hadapan semua orang atas segala sesuatu dan atas semua orang, dan aku lebih bertanggung jawab daripada semua orang yang lain”. Orang tidak sadar akan tanggung jawab dan akan kesalahan tersebut. Tetapi bila mereka sungguh memahaminya, maka Firdaus sudah dekat.

    Penyerahan dan pengorbanan diri bukanlah pertama-tama suatu sikap yang perlu diwartakan apalagi digembar-gemborkan. Penyerahan dan pengorbanan diri itu, sebaliknya, merupakan suatu struktur dasar yang ada dalam diriku. Struktur dasar itulah yang membuat aku menjadi subjek. Kata subjek di sini hendaknya dipahami dalam artinya yang asli dan sebenarnya. Bila aku adalah subjek, maka aku adalah subjectus, seorang yang ditempatkan di bawah orang lain. Dengan kata lain, aku adalah orang yang mengemban tanggung jawab yang tidak terbatas terhadap keberadaan orang lain, siapa pun orangnya. Karena itu struktur dasarku adalah “seorang untuk yang lain” (l’un pour l’autre). Struktur dasar itu membuat aku menjadi seorang yang unik dan tak tergantikan. Mengapa? Sebab aku sadar bahwa diriku sendirilah satu-satunya orang yang mempunyai tanggung jawab yang tidak terbatas atas orang lain. Hal itu menyebabkan aku menjadi tawanan, sandera (otage) untuk orang lain. Artinya, aku bertanggung jawab tidak hanya atas pemuasan keinginannya, atas kehausan dan kelaparannya, tetapi juga atas semua tingkah lakunya, atas semua kesalahan dan kejahatannya bahkan atas penganiayaan yang dilakukannya terhadap orang-orang lain dan terhadap diriku.

    Tetapi menjadi substitusi (substitution) untuk orang lain bukanlah suatu kemungkinan yang dapat dipilih oleh suatu subjek yang otonom. Sesungguhnya substitusi (substitution) itu bukanlah suatu loncatan atau pun pembebasan. Mengapa? Sebab suatu loncatan mengandaikan suatu landasan yang kokoh agar dengan sekuat tenaga seseorang dapat meloncat. Tetapi Levinas berbicara tentang diangkat, dilantik atau ditugaskan untuk kebebasan sebagai diturunkan dari takhta, dilemparkan dari pelana kuda – berhentinya daya dan kekuatan hidup. Daya dan kekuatan ini “dibalikkan” – dihentikan. Karena itu substitusi (substitution) bukanlah suatu tindakan subjek yang bebas. Dipanggil untuk kebebasan merupakan bentuk kepasifan yang paling tinggi. Karena itu muncullah gambaran tentang penyanderaan tadi. Orang yang disandera adalah seorang tawanan wajah bukan tawanan kekerasan. Dia adalah seorang tawanan sukarela berdasarkan kebebasan.

    Orang-orang Ketiga

    Hubungan antara aku dan orang lain bukanlah hubungan yang terjadi hanya antara dua orang saja. Hubungan itu tidak menyisihkan orang ketiga. Dalam Moi  et Totalite Levinas bahkan sudah membicarakan dan menguraikan tentang hubungan yang mengatasi hubungan antara dua orang itu. Dia menampilkan ajaran tentang orang ketiga, yang tidak hadir dan tidak kelihatan namun selalu hadir dalam setiap hubungan antara aku dan orang lain. Sesamaku bukanlah satu-satunya orang lain. Sesamaku  juga mempunyai seorang sesama yang juga adalah sesamaku. Dengan tampilnya orang ketiga, orang-orang ketiga, orang-orang lain, maka aku juga bertanggung jawab atas semua orang itu, atas semua perbuatan, tindak-tanduk serta tingkah laku mereka. Aku juga disandera oleh semua orang itu dan menjadi substitusi (substitution) untuk mereka semua.

    Namun dengan tampilnya orang-orang ketiga itu, muncullah juga kebutuhan untuk membandingkan dan menimbang serta mempertimbangkan pelbagai kewajiban serta memikirkan dan menyusun teori-teori tentangnya. Dengan sederhana dan tulus Levinas menambahkan bahwa kehadiran orang-orang ketiga itu membawa serta perbaikan pada tuntutan-tuntutan yang tak terbatas yang dibebankan oleh orang-orang lain padaku. Aku masuk ke dalam lingkaran dan lingkup hidup sesamaku, yang mempunyai kewajiaban terhadapku. Itulah asal-usul suatu masyarakat di mana aku menjadi salah seorang warganya dengan pelbagai hak dan kewajiban yang sudah dipikirkan dan dirumuskan dengan baik. Tanggung jawab yang tak terbatas atas orang-orang lain itu diterjemahkan dalam rupa dan bentuk keadilan sosial.

    Suatu Pengalaman Hidup

    Menurut hakekatnya suatu filsafat adalah suatu refleksi tentang pengalaman, suatu refleksi tentang hidup. Karena itu filsafat juga mau mengungkapkan pengalaman eksistensi yang prafilosofis.

    Bila Levinas berbicara tentang subtitusi (substitution), penyanderaan (otage), penganiayaan, pengalaman akan kepasifan yang mutlak dan total, kiranya ada pengalaman yang mendasarinya. Dalam autobiografi filosofisnya dia berkata bahwa hidupnya dikuasai oleh pertanda dan kenangan akan kekejaman Nazi. Bila ia berbicara tentang pengalaman kepasifan yang mutlak dan total dia mengacu pada Yesaya 53 dan pengalaman orang-orang Yahudi selama Perang Dunia II. Dalam suatu dunia yang dikuasai oleh naluri, katanya, dengan mengutip Yossel ben Yossel, adalah wajar dan biasa saja bahwa orang yang membaktikan dirinya pada yang ilahi dan yang murni menjadi korban pertama dari penguasaan itu.

    Menurut Levinas, perang tersebut menyatakan pada orang Yahudi kebenaran Yesaya 53 itu. Nubuat itu mengidungkan “Hamba Tuhan yang menderita”. Dia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia.

    Tetapi sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes. 53:4-5).

    Karena mengacu pada suatu sumber yang sangat tua, dapatlah dipahami bahwa filsafat Levinas berhubungan sangat erat dengan tradisi dan refleksi tentang penganiayaan. Hal ini bahkan mengangkatnya ke tingkat yang mengatasi suatu autobiografi filosofis. Pemikirannya berasal dari suatu warisan rohani yang sangat tua umurnya.

    Dalam bukunya Le dernier de Justes ( Orang budiman yang terakhir ) Andre Schwarz-Bart menampilkan dunia di mana kidung Yesaya itu menjadi suatu kenyataan yang hidup dan terus dihayati. Dia menceritakan sebuah cerita Yahudi kuno tentang Lamed Waf:

    “Menurut kisah dunia bertumpu pada tiga puluh enam Orang Budiman, Lamed-Waf, yang sama sekali tidak dapat dibedakan dari makhluk hidup yang lain; seringkali mereka tak sadar akan hal itu. Tetapi andaikan hanya satu saja dari Lamed-Waf itu tidak ada, penderitaan umat manusia akan menyebarkan racun bahkan dalam jiwa anak-anak dan umat manusia akan menjerit-jerit kesakitan. Lihatlah, Lamed-Waf adalah hati dunia yang bermacam ragam; di dalam diri mereka semua kesedihan kita ditumpahkan seolah-olah dalam sebuah kolam.

    Schwarz-Bart bercerita tentang sejarah atau dinasti. Dalam setiap generasi lahirlah satu orang Budiman. Garis keturunan itu berhenti dengan meninggalnya Emie Levy di kamar gas di Auschwitz. Buku ini menceritakan tentang bagaimana pada suatu sore, sesudah pertemuan di dalam sinagoga, pembicaraan beralih ke kedatangan Almasih. Bagimana kedatangannya dapat dipercepat? Salah seorang dari yang hadir menjawab: “Kita harus menderita…….ada tertulis: penderitaan serasi dengan Israel seperti pita merah serasi dengan leher seekor kuda jantan putih. Dan ada tertulis: kita akan menanggung penderitaan dunia; kita akan menanggung semua kesedihannya, dan bagi orang banyak rupanya kita akan nampak sebagai orang-orang yang dihukum, dijatuhkan dan direndahkan oleh Yang Mahatinggi. Hanya pada saat itu, pada saat Israel akan menderita dalam setiap bagian tubuhnya, dalam setiap tulangnya, di seluruh tubuh dan syarafnya, dan ditinggal tergeletak di persimpangan jalan, – hanya pada saat itulah Allah melahirkan seorang Almasih!” Dan Mordekhai, selain seorang Budiman itu berkata kepada isterinya: “Lamed-Waf menanggung sendiri penderitaan……membawanya ke surga dan meletakkan bebannya di kaki Tuhan – yang memberikan pengampunan. Karena itulah dunia tetap ada.

    Latar belakang inilah yang kiranya melandasi pernyataan-pernyataan Levinas tentang yang satu untuk yang lain (l’un pour l’autre), tanggung jawab yang terbatas atas orang-orang lain, substitusi (substitution) dan yang serupa.

    Emmanuel Levinas

    Kesaksian tentang Allah

    Tetapi selain yang baru disebut perlulah ditambahkan yang berikut ini.

    Sudah dikatakan bahwa hubungan antar aku dan orang-orang lain bersifat asimetris. Artinya, aku lebih bertanggung jawab tanpa batas daripada setiap orang lain.

    Menerima tanggung jawab tersebut hendaklah terjadi sekarang dan di sini. Penerimaan seperti itu merupakan kesaksian tentang Allah. Kata Levinas, “aku takut akan Allah”, yang sering kali muncul dalam tulisan-tulisanku. Menurut pendapatku, wajah menandakan Yang tak berhingga atau menjadi tanda-Nya. Hal itu tidak pernah tampak sebagai suatu pokok (artinya, sesuatu yang dibicarakan, yang diamati atau didiskusikan dan sebagainya), tetapi dalam arti etis (artinya, tanda-tanda yang diberikan oleh sikap etis). Semakin aku adil, semakin aku bertanggung jawab. Seseorang tidak pernah tanpa utang terhadap yang lain. Selanjutnya “apabila aku berkata dihadapan orang lain “Ini aku (me voici), maka “Ini aku (me voici) tersebut merupakan tempat di mana Yang tak berhingga itu masuk dalam bahasa, tetapi tanpa membiarkan aku melihatnya. Kukatakan bahwa subjek yang berkata “Ini aku” (me voici) memberikan kesaksian tentang Yang tak berhingga. Melalui kesaksian tersebut terjadilah pewahyuan dari Yang tak terhingga. Melalui kesaksian itu kemuliaan dari Yang tak terhingga memuliakan dirinya sendiri. “Ini aku” (me voici) bermakna profetis. Hal itu mengingatkan kita akan ungkapan hineni (bahasa Ibrani) dalam Kitab Suci. Abraham mengatakan hineni ketika ia dipanggil untuk mengorbankan anaknya Ishak (Kej. 22:1); Musa mengatakan hineni tatkala ia berdiri di depan semak duri yang menyala (Kel. 3:4); nabi Yesaya mengatakan hineni ketika Allah bertanya tentang siapa yang akan diutus-Nya (Yes. 6:8). Hineni – “Ini aku” (me voici) – adalah tanda yang menunjukkan bahwa seseorang adalah seseorang untuk orang lain (l’un pour l’autre). Bagi Levinas hineni (ini aku, me voici) adalah “akusatif” yang menakjubkan: ini aku (me voici) yang engkau tatap, yang berutang budi kepadamu, hambamu. Atas nama Allah.

    “Ini aku…..kepadamu…….atas nama Allah” mengungkapkan rasa keagamaan yang mendalam yakni bahwa bila kita memberikan pakaian pada orang yang telanjang atau memenuhi kebutuhan orang yang berkekurangan, bila kita menerima orang asing atau membantu orang yang tak berdaya, kita “memberikan kesaksian” tentang kehadiran Allah. Kita seolah-olah merasakan bahwa dalam perbuatan-perbuatan yang menunjukkan tanggapan dan cinta kasih  manusiawi terhadap orang lain. Yang tak berhingga sedang lewat. Kita seolah-olah mengalami suatau sentuhan dari Kebaikan yang tak terhingga, suatu isyarat dari cinta kasih yang tak terperikan, suatu jejak dari yang ilahi sendiri yang sedang melewati jalan tersebut. Menyerahkan diri kepada orang lain, kepada orang yang berada dalam kekurangan, mengundang dan menandakan kehadiran Allah yang sedang lewat.

    Allah yang dimaksudkan Levinas adalah Allah Musa dan para nabi. Allah itu Allah keadilan. Dia bukan Allah yang bersifat mistis, mitis atau sakramental sejauh ungkapan-ungkapan tersebut menunjukan tidak adanya jarak atau terjadinya semacam peleburan antara yang tak berhingga dengan Yang tak berhingga. Levinas lebih mengikuti tradisi Talmud dengan menolak pelbagai bentuk entusiasme dalam hidup keagamaan. Entusiasme seperti itu, menurutnya, dapat membahayakan kemurnian inspirasi kenabian.

    Penutup

    Baiklah disajikan beberapa kesimpulan sebagai penutup tinjauan yang singkat ini.

    . Filsafat Levinas dapat disebut filsafat transedental etis. Tekanan dapat diberikan pada kata sifat etis. Ia sendiri bahkan menyetujui nama itu: “Saya sangat setuju dengan rumusan transedentalisme etis yang mencirikan filsafat saya, dengan catatan bahwa kata sifat transedental menyatakan adanya semacam prioritas, yakni bahwa etika mendahului ontologi. Karena itu dapat disebut suatu transendentalisme yang bertolak dari etika.

    • Tanggung jawab terhadap orang-orang lain mendahului kebebasan yang mencirikan diriku sebagai subjek. Dengan bertanggung jawab dan semakin bertanggung jawab aku menemukan dan semakin menemukan jati diriku sebagai subjek dalam arti subjectus. Aku di tempatkan di bawah orang-orang lain dan menjadi taklukan serta sandera (otage) mereka. Aku menjadi substitusi (substitution) untuk mereka. Aku tidak lagi menjadi pusat segala sesuatu, termasuk orang lain.
    • Munculnya orang-orang ketiga membuat aku disandera oleh semua orang itu dan menjadi substitusi (substitution) untuk mereka semua. Tetapi munculnya orang-orang itu membawa serta perbaikan pada tuntutan-tuntutan yang tidak terbatas yang disampaikan mereka semua padaku. Mereka juga mempunyai kewajiban terhadapku. Tanggung jawab yang tak terbatas diwujudkan dalam bentuk keadilan institusional-sosial, politik yang jujur dan tulus, serta ekonomi yang manusiawai.
    • Di samping dan di belakang orang lain yang hadir sekarang dan di sini, yang adalah yang mutlak untukku, juga hadirlah orang-orang yang lain lagi. Mutlaknya tuntutan mereka melarang aku untuk memusatkan perhatian hanya pada satu orang saja dan menyingkirkan orang-orang lain. Pembatasan penyerahan diri yang tidak terbatas kepada orang lain kiranya tak terhindarkan. Namun pembatasan itu tidak membuat orang kembali kepada egoisme. Banyaknya orang itu menampakkan persaudaraan (fraternite) yang universal, yang menjamin diri dan hidupnya dengan membangun suatu masyarakat yang adil. Maka perlulah adanya perencanaan bersama, adanya pemerintahan serta strategi politis dan sebagainya. Namun semua hal itu selalu harus menimba inspirasinya dari hubungan yang asimetris, di mana aku lebih bertanggung jawab tanpa batas daripada orang lain.
    • Bersikap adil terhadap orang-orang lain dan hidup dalam keadilan dengan mereka memberi kesaksian tentang kehadiran Allah yang mahaadil yang sedang lewat serta mendekatkan aku secara tak terperikan dengan Allah yang abadi dan mahatinggi. Seorang mengikuti Allah yang mahaadil, mahatinggi dan abadi terutama dengan mendekati sesamanya dan dengan memperhatikan para janda dan yatim-piatu, orang-orang asing dan para pengemis. Pendekatan itu tidak boleh dilakukan dengan tangan yang hampa.

                               ************

    Sumber: “Pidato yang diucapkan pada Sidang Terbuka Senat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Pengukuhan Jabatan Guru Besar Biasa Ilmu Filsafat di Jakarta Pada Tanggal 23 September 2000”.

  • Pendidikan Humanis: Kritik atas Pendidikan Kita

    Pendidikan Humanis: Kritik atas Pendidikan Kita

    Oleh Nardi Maruapey *

    PRAKTEK pendidikan di bangsa ini sering keluar jalur atau tidak sesuai dengan konsep yang sesungguhnya berdasarkan cita-cita pendiri bangsa yakni berbasis pembentukan etika dan moral manusia menjadi beradab.

    Pendidikan saat ini lebih cenderung menjadikan peserta didik sebagai generasi masa depan hanya untuk mencapai kepintaran saja sehingga mengabaikan hal-hal lain.

    Hal-hal lain yang dimaksud itu seperti pentingnya membangun relasi dengan orang lain, perlunya melakukan aktivitas sosial dalam masyarakat, saling berbagi pengetahuan dengan sesama dan tentunya moralitas generasi. Hasilnya manusia yang keluar dari proses pendidikan akhir-akhir ini lebih bersifat individualistik.

    Padahal orientasi yang diharapkan dari semangat awal pendidikan Indonesia pra dan pasca kemerdekaan adalah menyadarkan manusia Indonesia dari ketidaksadaran akibat penjajahan dan mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang telah hilang. Atau sederhananya dengan pendidikan dapat membentuk karakter manusia Indonesia.

    Seperti dalam gambaran bapak pendidikan nasional kita, Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi- tingginya (Zahara Idris, 1991: 9).

    Ki Hadjar Dewantara



    Pendidikan yang menjadi cita-cita Ki Hadjar Dewantara adalah membentuk anak didik menjadi manusia yang merdeka lahir dan batin. Luhur akal budinya serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air serta manusia pada umumnya.


    Namun, ada kontradiksi ketika kita melihat antara konsep pendidikan sebagaimana yang dicita-citakan dahulu dengan sistem pendidikan hari ini. Misalkan, dalam sistem pendidikan formal kita sudah sangat tergantung pada modal atau pendidikan kita telah dikapitalisasi. Sehingga pendidikan akan menjadi batu sandungan terhadap para kelompok yang tidak memiliki kapital yang cukup.

    Kita tentu bisa mengecek itu dalam buku Orang Miskin Dilarang Sekolah (2004), yang ditulis Eko Prasetyo bahwa kini wajah pendidikan semakin dicemari oleh mahalnya biaya dan kekerasan yang terjadi di dalamnya.

    Para korban lagi-lagi adalah orang miskin yang menjadi mayoritas penduduk negri ini. Kepercayaan atas pendidikan kian luntur, apalagi jaminan masa depannya juga kabur.

    Dan pendidikan yang dikapitalisasi akan cenderung melahirkan generasi hedonis, pragmatis. Di lain sisi, keluaran pendidikan kita cenderung melahirkan generasi yang berkarakter pekerja dari pada pemikir akibat dari berbagai sistem yang diterapkan. Lembaga sekolah sudah selayaknya perusahaan industri.

    Ini juga akan berdampak pada bagaimana indikator kita melihat kualitas sumber daya manusia (SDM) pada seseorang. Cak Nun menegaskan itu lewat tulisannya “SDM versus Manusia Indonesia Seutuhnya” (2020), bahwa SDM yang kita maksud selama ini sesungguhnya adalah SDM atau sumber daya industrial (pada) manusia.

    Cak Nun

    Cak Nun mengatakan kalau term SDM tidak lahir, misalnya, dari arena kebudayaan atau keberbudayaan, dengan sumber daya primer yang dimaksudkan adalah potensi kepribadian seseorang dalam kaitan-kaitan kebersamaan makhluk hidup: integritas dan kasih sayang sosial, kesalehan hati, empati dan toleransinya kepada orang lain, akhlak dan tasamuh-nya.

    Kalau perkembangan pendidikan kita terus demikian, maka ini adalah malapetaka bagi masa depan generasi dan bangsa. Olehnya itu, perlu adanya alternatif demi menjelaskan pengaruh pendidikan terhadap peradaban dan kualitas suatu bangsa.

    Alternatif yang dimaksud adalah pendidikan yang mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan atau pendidikan yang humanis. Pendidikan humanis merupakan cerminan untuk melihat masa depan.

    Sehingga pendidikan humanis mampu menjadi solusi terbaik terhadap hilangnya nilai-nilai kemanusiaan dalam proses pendidikan kita.

    Pendidikan Humanis

    Secara konsep, pendidikan humanis ialah pendidikan yang menempatkan seseorang sebagai salah satu subjek terpenting dalam pendidikan sebagai pelaku yang sebenarnya dalam pendidikan itu sendiri.



    Paulo Freire menjelaskan pendidikan humanis sebagai pendidikan yang mempertegas dan memperjelas arah pendidikan yang membebaskan dan memerdekakan, yaitu sebuah upaya pemberdayaan masyarakat tertindas menuju sebuah paradigma kritis dan trasformatif dalam mewujudkan sebuah kebebasan sebagai hak asasi setiap manusia.

    Pendidikan mesti dimaknai sebagai proses humanisasi (upaya memanusiakan manusia) yang mengandung implikasi bahwa tanpa pendidikan, manusia tidak akan menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya.

    Dalam pendidikan humanis, yang melandasi dan medasarinya adalah adanya
    kesamaan kedudukan dan kebebasan manusia. Ini berarti bahwa manusia satu dengan yang lain adalah sama, dan bebas sebagai fitrahnya.

    Tujuan

    Sejatinya, tujuan dalam pendidikan yang humanis adalah membentuk seorang individu yang memiliki kesadaran, kebebasan, dan tanggung jawab sebagai makhluk individual sekaligus sosial.

    Bahwa dengan pendidikan humanis kemudian dapat membentuk manusia dan sekaligus generasi yang berkarakter, punya akhlak, moral etik dan tentunya kecerdasan secara intelektual. Sederhananya pendidikan humanis itu tujuannya menjadikan manusia yang seutuhnya.

    Sehingga yang dibutuhkan pelaksanaan dari pendidikan yang humanis adalah sistem pendidikan, kurikulum yang dijalankan, proses pembelajaran, sistem penilaian serta kebijakan-kebijakan yang diberlakukan haruslah bersifat humanis pula untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

    **********

    Nardi Maruapey, Mahasiswa FKIP Universitas Darussalam Ambon

  • Bencana yang Mengobarkan Harapan

    Bencana yang Mengobarkan Harapan

     

    Oleh  J.   S U M A R D I A N T A

     

    Novel ini bertutur tentang ironi kehidupan penduduk Anand Nagar, perkampungan kumuh di sudut kota Calcutta, India. Dengan penuh impresi, Dominique Lapierre, mengisahkan tiga tokoh protagonist: Stephen Kovalski, pekerja sosial keturunan Polandia; Hasari Pal, penarik angkong (rickshaw); dan Max Loeb, dokter muda Amerika. Novel ini adalah karya fiksi yang didasarkan pada riset yang panjang dan intensif. Novel ini membuat pembaca meremehkan hal-hal yang begitu diagungkan masyarakat seperti jabatan, uang, dan kekayaan, dan sekaligus mengajak pembaca menyadari kembali pentingnya perkara-perkara kecil namun indah yang tenggelam ditelan gemuruh rutinitas keseharian. Pendeknya, karya sastra ini membuat hidup manusia jadi semakin relatif.

    DOMINIQUE LAPIERRE, penulis Prancis, menciptakan kisah dramatis perihal perjuangan parianya kaum paria (the out sider) untuk bertahan hidup, menghadapi kekerasan yang melembaga, dan praksis sosial budaya yang begitu menyantuni pluralisme di lingkungan slum yang jorok, rombeng, dan dekil. Ia mengisahkan bagaimana di Anand Nagar. Penderitaan, kematian, dan kehancuran bergandengan tangan dengan belas kasih, harapan, dan cinta yang menyala. Ini sebuah epik kepahlawanan dan keyakinan; bukti nyata bahwa ketegaran menaklukkan kesulitan dan ketabahan manusia melampaui segala bentuk tragedi. Kisah ini menunjukkan bagaimana manusia terus belajar menyalakan harapan ketika berada dalam situasi yang paling kelam dan kurang manusiawi.

    Kaum laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang terlempar di kota bengis Calcutta, pada paruh kedua abad ke-20, menjadi setting cerita ini. Calcutta, ibu kota Provinsi Bengali, adalah kota tempat bencana urban terbesar di dunia terjadi. Di sini orang bisa mati di pinggir jalan dengan hanya dikelilingi ketidakpedulian. Kota yang didirikan tahun 1690 oleh sekelompok saudagar Inggris ini juga menjadi seperti tabung mesiu yang tumpat pedat kekerasan dan anarki. Selain konflik komunal, penduduk kota ini juga harus bergulat dengan cuaca panas terburuk di dunia yang berjalan selama delapan bulan.

    Mereka menjadi korban fenomena endemik lingkaran setan kemiskinan bernama deprivatisasi ekonomi. Orang dipaksa menuruni anak tangga sosial yang mengubah kedudukan petani dari penggarap menjadi petani tanpa tanah, kemudian buruh tani, dan akhirnya terpinggirkan sama sekali. Hasari Pal adalah salah satunya. Kisah Hasari menjadi fokus dalam pemabahasan resensi ini, mengingat Hasarilah jantung dari seluruh ide penulis novel ini. 

    Perjalanan Hasari berawal dari bencana kekeringan berkepanjangan yang memaksanya menjual Rani, sapi yang selama ini telah setia menemaninya mengolah sawah. Saat itu tampak bahwa Rani tidak mau pergi. Sembari sekuat tenaga bertahan, Rani mengeluarkan lenguhan yang menyayat hati ketika ditarik ke luar dari kandang. Semua orang menangkap firasat buruk dari reaksi Rani. Satu isyarat bahwa Radha, kekasih Dewa Khrisna, telah murka. Tapi, tidak ada pilihan lain bagi Hasari kecuali pergi menuju kota yang kelak menghancurkan kehidupannya.

    Keluarga Hasari, seperti jutaan kaum petani lainnya di Provinsi Bihar dan Bengali, terseret di kaki lima Calcutta. Supaya tidak mati kelaparan mereka terpaksa menyuruh anak-anak mengemis di pinggir jalan. Sungguh, bagi seorang petani, ini adalah suatu tindakan nista yang betapapun miskin masih memiliki harga diri. Sebagai petani yang selalu bangga akan dirinya, Hasari pun dipaksa melakukan tindakan paling hina: mengais remah-remah roti dan buah busuk di tempat pembuangan sampah. Begitu hinanya hingga ia membayangkan diri tak ubahnya anjing buduk yang berkeliaran di jalanan.

    Bila mendapat sedikit uang, Hasari acap kali membeli beberapa conthong beras sangria, makanan yang sangat populer di kalangan kaum miskin karena dapat mencega rasa lapar. Beginilah caranya, karena butirnya keras, beras sangria ini harus dikunya berlama-lama untuk memperpanjang ilusi seakan-akan mereka sungguh menyantap makanan lezat. Memang kelaparan telah lama menggerogoti jutaan orang Calcutta sampai pada titik di mana batas antara kaya dan miskin adalah ukuran isi perut mereka. Tidak ada apa pun yang lebih bisa meredakan kesedihan dan ketakutan daripada makanan enak bagi mereka yang terpaksa hidup menggelandang di kaki lima, tanpa sepotong seng atau kain sebagai pelindung.

    Setelah sekian lama menggelandang, berkat jasa Ram Chander, tetangga desa di kampung halaman, Hasari memperoleh pekerjaan sebagai penarik angkong. Bekerja sebagai manusia kuda penghela angkong sudah merupakan anugerah yang disyukuri keluarga gelandangan seperti Hasari. Amat jarang bagi gelandangan bisa mendapatkan penghasilan 15 rupe se hari. Untuk itu ia harus berlarian sepanjang hari bertelanjang kaki mengangkut orang di jalanan Calcutta yang panas aspalnya melelehkan telapak kaki dan di tengah arus lalu lintas yang sudah tumpat pedat serta masih disesaki bus tingkat, trem, lori, taksi, telagahri (gerobak panjang yang ditarik dorong 4 sampai 5 kuli).

    Angkong, sejenis becak di India yang ditarik oleh manusia

    Yang paling berat dalam kehidupan manusia kuda penarik angkong bukanlah beban fisik. Di desanya, Hasari pun terbiasa melakuakn pekerjaan-pekerjaan yang sama melelahkannya dengan mengangkut dua penumpang gendut dari Jalan Park ke Bara Bazar tapi pekerjaan-pekerjaan itu hanya bersifat musiman, dengan masa jeda yang panjang di mana orang bisa beristirahat. Akan tetapi, kehidupan penarik angkong adalah sebentuk perbudakan yang berlangsung merentang setiap hari sepanjang minggu dan setiap minggu sepanjang tahun.

    Yang paling dahsyat dari semua itu adalah perasaan balas dendam yang tiba-tiba menguasai Hasari ketika musim hujan tiba. Ketika itu, kota raksasa Calcutta menjadi milik penarik angkong, yang oleh pengemudi taksi, bus, dan lori biasanya dihina dan direndahkan. Pengangkut manusia yang disiksa dan dipukuli polisi, budak yang bermandi peluh dan bisa mati terjeblos lubang drainase itu tiba-tiba menjadi tuan. Bagi Hasari, sampai mati pun akan tetap terngiang di telinganya permintaan para penumpang yang dengan nada putus asa memintanya mengangkut mereka di atas angkong. Karena peristiwa itu, tiba-tiba Hasari tidak lagi menjadi binatang yang disingkang-singkang dan dihina, yang disodok-sosdok dengan kaki dari belakang supaya lari lebih cepat, dan yang ditipu sepuluh atau duapuluh pis oleh penumpang setelah sampai di tempat tujuan. Sekarang orang saling berebut, menawarkan dua, tiga, bahkan empat kali lipat upah dari biasanya, sekadar untuk bisa menempati tempat duduk rombeng dari satu-satunya perahu yang bisa mengapung di lautan Calcutta. Bagi Hasari, hujan yang mengucur dari langit itu bukan air, tetapi bungkahan emas yang kelak menyelamatkan rencana perkawinan Amrita, anaknya.

    Hasari adalah petani miskin realistis yang tidak suka berangan-angan dan bangla rupanya telah menumbuhkan sayap di tubuhnya yang renta untuk tetap tegar dan berpengharapan. Bangla adalah liqueur kampung, minuman keras paling mematikan yang disuling di suatu kawasan dekat tempat pembuangan sampah akhir Calcutta. Bangla dibuat dari segala macam sampah sayur dan buah-buahan, isi perut binatang, dan sari tetes tebu yang difermentasi selama berbulan-bulan dalam gentong kedap air di dasar kolam busuk tidak mengalir. Di India, minuman keras murahan ini setiap tahun merenggut nyawa manusia sama banyaknya dengan malaria. Satu-satunya yang tidak merugikan dari minuman ini hanyalah harganya yang murah meriah.

    Setelah berbulan-bulan tinggal di kaki lima, akhirnya Hasari berhasil memboyong keluarganya ke rumah komunal Hindu di Anand Nagar. Proses perpindahan ini agak menegangkan dan menggetarkan karena sampai melibatkan campur tangan godfather wilayah itu. Kedatangan keluarga jembel ini harus di kompensasi dengan dibukanya panti-panti minuman gelap milik sang mafioso. Di rumah komunal, ketegangannya begitu tinggi sehingga, bagaikan kilat, kematian bisa datang kapan saja. Yang sangat mengherankan dari semua itu adalah di tengah semua mimpi buruk itu, ternyata kehidupan terus berlangsung, dan tak sedetikpun berhenti.

    Anand Nagar adalah kamp kosentrasi dengan rekor menyedihkan sebagai daerah hunian terpadat di planet bumi, dua ratus ribu orang per mil per segi. Tujuh puluh ribu tinggal bersama dalam situasi semrawut dan ketiadaan sarana higienis. Di sini, udara begitu pekat, mengandung karbon dioksida dan sulfur sehingga polusi merupakan pembunuh berdarah dingin. Di sini menjadi tempat di mana lepra, TBC, disentri, dan semua penyakit karena malnutrisi akut telah menurunkan tingkat harapan hidup warganya menjadi terendah di dunia. Di sini kemiskinan ekstrem meluas. Ghetto ini dianggap sebagai daerah berbahaya dengan reputasi buruk tempat mangkal keluarga mafia yang mengontrol urusan spekulasi tanah untuk kandang ternak, penyulingan minuman keras, pengadilan di tempat, pondok permadatan dan pelacuran.

    Perkampungan kumuh ini ibarat sebuah panci mendidih yang selalu siap bergejolak. Gabungan dari segala yang ada di kampung kumuh ini menjadikan penghuninya melarat dan putus asa: sempitnya lapangan kerja, pengangguran yang merajalela, upah yang luar biasa rendah, pekerja anak-anak di bawah umur, tidak adanya kemungkinan menabung, lilitan utang yang tidak pernah bisa dilunasi, penggadaian harta milik pribadi yang lambat atau cepat akan lepas dari tangan pemilik, dan tiadanya privasi karena belasan orang harus hidup dalam satu kamar tanpa ventilasi. Namun toh, keajaiban dari kamp konsentrasi ini juga adalah gabungan dari semua elemen yang merusak itu dengan diimbangi faktor-faktor lain yang memungkinkan penghuninya tidak saja tetap bertahan secara manusiawi, tetapi bahkan bisa mentransedensikan kondisi mereka menjadi contoh ketangguhan spiritual bagi umat manusia. Di perkampungan kumuh ini orang benar-benar menjadikan cinta dan sikap saling membantu sebagai praktik nyata keseharian. Mereka tahu bagaimana harus bertoleransi terhadap segala kepercayaan dan kasta, bagaimana menyantuni para pengemis, orang cacat, dan pengidap lepra, bahkan orang gila. Di sini mereka yang lemah dibantu bukan diinjak dan anak yatim dengan cepat akan diadopsi oleh tetangga.

    Perkampungan kumuh Anand Nagar, India

    Sebelas keluarga, hampir delapan puluh orang, termasuk keluarga Hasari, tinggal di deretan bangunan bujur sangkar dengan panjang sekitar sepuluh meter dan lebar sekitar tiga meter. Mereka pemeluk Hindu. Memang demikian peraturannya; orang dari agama yang berlainan tidak akan tinggal dalam rumah komunal yang sama, di mana perbedaan adat kebiasaan sekecil apa pun bisa menjadi perkara besar. Toleransi dan gaya hidup santun terhadap keragaman agama semacam ini juga berlaku bagi pemeluk agama yang lain. Dalam masyarakat, di mana praktik-praktik keagamaan dianggap begitu penting, memang lebih baik dari awal mencegah segala hal yang memicu timbulnya potensi konflik. Di sini, setiap jam di setiap hari merupakan waktu untuk satu bentuk perayaan atau peringatan. Disini pulah kaum Hindu, Sikh, Muslim, dan Kristen seakan bersaing secara sehat dalam menunjukkan semangat dan spiritualitas mereka. Di samping perayaan-perayaan keagamaan yang utama, kelahiran, perkawinan, dan segala macam perayaan peringatan menjadikan rumah komunal ini terus menerus hidup dengan penuh gairah.

    Di Anand Nagar, bisa terjadi secara berturut-turut, misalnya hari ini adalah hari perayaan haid pertama seorang gadis, lalu esoknya perayaan bagi semua gadis yang sudah mencapai usia menikah menghaturkan persembahan ke lingga Dewa Shiwa untuk memohon seorang suami yang sehebat sang dewa, lalu hari berikutnya lagi perayaan seorang calon ibu untuk bulan pertama kehamilannya, dan lalu setelah itu lagi, perayaan satu puja besar lengkap dengan Brahmin, rombongan pemusik dan kenduri besar untuk mengagungkan saat ketika seorang bayi menerima sesuap nasi yang pertama dari tangan ayahnya.

    Di Anand Nagar, para bekas petani, seperti Hasari, bukanlah petani yang berhenti jadi petani. Mereka membangun kembali kehidupan desa mereka di tempat pengungsian baru. Satu bentuk kehidupan yang diadaptasikan; walau mengalami distorsi, di mana mereka saling berbagi dalam satu dunia komunal, menghormati nilai-nilai sosial keagamaan, dan tetap memprtahankan tradisi kepercayaan leluhur. Kemiskinan memang bukan kesalahan mereka, melainkan akibat siklus bencana permanen yang menimpa tempat-tempat asal mereka. Orang miskin tidak akan menutup pintu untuk orang miskin lainnya. Inilah hukum di perkampungan kumuh ini. Hanya si miskin yang membutuhkan bantuan si miskin lainnya. Semakin absolut kemiskinan seseorang semakin hangat sambutannya kepada orang lain.

    Bagi petani yang terbiasa sehari-hari mandi di kolam, tinggal di gubuk yanh bersih dan menyantap makanan pedesaan yang sehat, kemungkinan hidup di perkampungan kumuh tanpa air, tanpa saluran pembuangan air, dan kadang-kadang tidak ada kakus, memang tidak banyak menawarkan kegembiraan. Namun, apa pun itu, masih jauh lebih baik daripada kaki lima di jalanan. Dari sudut bencana, tumpukan kardus masih tetap lebih baik daripada menggelandang di kaki lima. Di perkampungan, paling tidak, beberapa potong kain dan lempengan besi yang dipasang pada empat kayu pancang akan memberi mereka sesuatu yang menyerupai tempat tinggal, sekadar tempat berteduh dari udara musim dingin dan beberapa bulan setelah itu musim hujan yang meluap.

    Di Anand Nagar, kaum perempuan setia dengan tradisi India yang selalu memberi semua masakannya dengan cabai dan rempah-rempah yang pedas dan panas. Alasan utama tradisi ini, karena cabai dan rempah-rempah merangsang keluarnya keringat, memperlancar peredaran darah, dan mempermudah perpadaun bahan makanan. Cabai pertama-tama untuk membujuk rasa lapar jutaan orang yang kuraqng gizi. Dan, rempah-rempah menjadikan bahan makanan apa pun, bahkan yang sudah busuk, bisa masuk perut. Makanan bukanlah benda mati di Anand Nagar, melainkan satu karaunia kehidupan.

    Di sini, kerbau, sapi, anjing, ayam, dan babi berkeliaran di antara anak-anak yang bermain layang-layang. Layang-layang memang mainan yang sangat digemari, karena sepotong kertas yang melayang di atas atap rumah itu seakan membawa serta impian anak-anak untuk lari dari nasib yang melilit mereka. Layang-layang yang meninggi di awan menggambarkan seluruh kerinduan mereka untuk pergi menjauh dari penjara lumpur, bau busuk got mampat penuh kotoran manusia, kebisingan, dan kemiskinan berlarut-larut.

    Bukan hanya penderitaan dan kekelaman saja yang ada di Anand Nagar tapi juga cahaya-cahaya dunia. Ibu Sabia adalah salah satunya. Ibu seorang anak penderita TBC akut ini adalah teladan kehidupan. Sepanjang hari-harinya yang penuh cobaan tidak pernah wajah perempuan itu menunjukkan kemurungan. Ia selalu bersyukur kepada dewa yang telah menghidupkan sinar harapan yang begitu kuat di tempat laknat ini. Ia tidak pernah putus asa. Ia bahkan berjuang seperti macan betina. Padanya tidak ada fatalisme atau sikap menyerah. Dari mulutnya tidak pernah terdengar kata-kata keluhan atau pemberontakan. Yang ada padanya hanya senyum pengharapan. Dalam penderitaannya, perempuan ini mengajarkan keimanan dan cinta. Dan, ciri lain perkampungan kumuh ini adalah apa pun yang terjadi, kehidupan terus berlangsung dengan kekuatan dan semangat yang tiada hentinya diremajakan. Kematian Selima, perempuan muda yang menemui ajal di meja operasi saat menjual janin anak kelimanya yang berusia tujuh bulan, yang tidak menenggelamkan keluarganya dalam kesedihan merupakan salah satu contohnya.

    Harta kekayaan cahaya dunia yang juga dimiliki perkampungan ini adalah para penderita lepra. Dengan sangat menyentuh Dominique Lapierre mengisahkan kehidupan mereka. Dalam salah satu rumah komunal di Anand Nagar itulah enam ratus penderita lepra tinggal. Mereka berdesakan sepuluh atau dua belas orang dalam satu kamar. Di India sendiri, ada sekitar lima juta orang di antara  seluruh penduduk yang menderita lepra. Rasa ngeri dan takut yang ditimbulkan oleh muka yang rusak, tangan kaki yang buntung, dan borok yang kadang penuh ulat, menyebabkan para penderita lepra di Anand Nagar dikucilkan sama sekali. Walaupun mereka bebas berkeliaran di seluruh perkampungan, tapi ada satu peraturan tak tertulis yang melarang mereka memasuki rumah atau lingkungan tempat tinggal orang-orang yang sehat. Apabila peraturan itu dilanggar, sebagaimana yang telah terjadi beberapa kali, maka akan ada pengeroyokan massa sampai ajal. Sebetulnya ketakutan para warga yang sehat itu lebih banyak disebabkan oleh ketakutan akan adanya pengaruh setan yang dianggap bisa ditimbulkan penderita lepra daripada ketakutan tertular penyakit lepra. Walaupun untuk memperbaiki karma-nya penduduk akan memberikan sedekah kepada penderita lepra, tetapi kebanyakan orang India memandang lepra sebagai kutukan para dewa.

    Parapenyandang lepra adalah orang-orang yang membutuhkan cinta lebih dari siapa pun juga. Mereka adalah parianya para paria. Mereka inilah yang banyak mendapatkan pertolongan dari klinik keliling yang dikelola Bunda Teresa. Meski demikian situasi dalam ghetto kaum terkutuk itu sungguh meriah penuh sukaria yang gaduh. Di dalam ghetto itu, di mana akan ditemui suara canda tawa yang meriah, dipadu segala macam bau, di tengah kerumunan tubuh-tubuh setengah busuk dan cacat, pembaca bisa mendapatkan “kebijaksanaan yang menakjubkan tentang harapan” dan mengagumi bahwa betapa begitu banyak daya hidup dan kegembiraan yang bisa memancar dari kepapaan yang begitu rupa.

    Sistem tubuh mereka memang begitu berantakan tapi mayat-mayat berjalan itu benar-benar masih hidup. Mereka saling dorong, berbantah, dan bercanda. Di Negeri Bahagia, kekuatan kehidupan tampaknya selalu menang melawan kematian. Hanya tempat di mana orang hidup begitu berdekatan dengan kematianlah yang bisa memberikan begitu banyak kasih sayang dan solidaritas. Dalam ketakberdayaan fisiknya, mereka bersemangat dengan tenaga yang begitu besar. Mereka sungguh-sungguh penuh dengan daya hidup. Melihat kenyataan itu, tak seorang pun bisa mengatakan bahwa penderita lepra hanyalah orang-orang apatis, seonggok daging busuk, atau sekumpulan gelandangan yang menyerah pada nasib. Para laki-laki dan perempuan ini adalah kehidupan itu sendiri. KEHIDUPAN dengan huruf besar, kehidupan yang berdegup, kehidupan yang bergetar dalam diri mereka sebagaimana juga ia bergetar di tempat lain di kota yang penuh berkat ini, Calcutta.

    Kendati dililit nestapa, uang terkesan dihamburkan oleh penduduk Anand Nagar untuk upacara keagamaan. Penghuni slum ini hidup dalam satu atmosfir bersama para adikodrati. Setiap campur tangan atas peruntungan, baik atau jelek; pekerjaan, hujan, kelaparan, kelahiran, kematian, bahkan apa pun, dianggap berasal dari para dewa. Dan itulah sebabnya mengapa perayaan-perayaan terpenting di negeri itu, sebagaimana dikisahkan, bukanlah peringatan-peringatan peristiwa sejarah, bukan pula hari besar Kemerdekaan India, tetapi peringatan yang berkaitan dengan peristiwa keagamaan. Tidak ada penduduk yang menghormati para dewa dan nabinya dengan penuh semangat seperti penduduk Anand Nagar – walapun mereka yang dilangit seringkali seolah tidak peduli, dan menyerahkan kota itu kepada nasibnya sendiri yang tragis. Setiap hari, di perkampungan kumuh itu dan di daerah-daerah di bagian lain kota, terdengar suara arak-arakan yang menjadi saksi perkawinan mistis antara manusia dan penciptanya.

    Salah satu dewa yang sangat dipuja orang-orang Anand Nagar adalah Viswakarma, dewa pelindung peralatan kerja. Dengan penuh semangat dan keimanan, setiap tahun, mereka menjamu dewa pemberi nasi itu dan memohon berkahnya atas mesin dan peralatan kerja yang menjadi gantungan hidup mereka. Begitu buruknya kemiskinan yang melilit sehingga pekerjaan apa pun, bahkan yang paling rendah sekalipun, sudah merupakan satu karunia untuk mereka. Hal ini tentu saja dapat dipahami, bila di tengah merajalelanya pengangguran, bagaimana mungkin orang akan menolak pekerjaan yang paling tidak akan memberi sesuap nasi buat keluarga mereka setiap hari? Dan, ketika satu keluarga jatuh ke dalam kemiskinan yang paling ekstrem karena si ayah, pencari nafkah keluarga, sakit atau meninggal, bukankah bisa dimengerti kalau salah satu anak harus siap mengambil alih tongkat estafet dengan bekerja apa pun?

    Di Calcutta, daun-daun pepohonan di lapangan jatuh lebih awal ketimbang di daerah pedesaan. Usia uzur cenderung datang terlalu awal bagi para penarik angkong seperti Hasari. Para penarik angkong rata-rata penyakitan. Hasari menderita TBC. Untuk mengelabui para penumpang dan memberi kesan sehat, para penarik angkong biasanya mengunyah sirih agar ludah mereka berwarna merah dan tidak ketahuan bahwa sebenarnya mereka berbatuk dahak campur darah. Ketika Hasari menceritakan dirinya muntah darah, istrinya pun terisak-isak. Dan penulis novel ini mengatakan bahwa kaum perempuan memang seperti binatang, mereka bisa merasakan badai yang akan datang jauh-jauh hari sebelum laki-laki menyadarinya.

    Orang India bilang ular cobra selalu mematuk dua kali. Dengan kata lain, tidak akan ada bencana yang berdiri sendiri. Paru-paru Hasari telah digerogoti TBC. Dia telah ditimpa begitu banyak pukulan sehingga satu pukulan lagi tidak akan terlalu ada pengaruhnya. Roda bundar karma belum mau melepaskan cengkeramannya. Kendati terserang TBC akut Hasari belum mau menyerah dan mati. Ia sudah menjalani masa yang sulit sejak meniggalkan desa. Ia yakin bahwa satu hari nanti karma-nya akan lebih ringan dan ia akan dilahirkan kembali dengan nasib yang lebih baik. Sebagai penganut Hindhu yang saleh, Hasari tidak ingin mati sebelum menikahkan Amrita, anaknya. Untuk itu, Hasari harus menyiapkan mas kawin. Memang Indira Gandhi telah melarang kebiasaan kuno ini tetapi ternyata itu tidak menghalangi keberlangsungannya pada masa India modern dalam bentuknya yang lebih menindas.

    Ket, Foto dari kiri : Hasari Pal – Amrita (anak gadis Hasari) – gambar diambil dari poster Film City of Joy.

    Anak perempuan penarik angkong memang bukan calon pasangan pengantin yang diburu orang. Kendati demikian, Hasari tidak mau memberikan anak gadisnya kepada seoarng laki-laki lumpuh, buta, atau lepra. Bagi Hasari, hanya orang-orang terbuang saja yang setuju menikahi seorang gadis tanpa mas kawin. Hasari, laki-laki malang itu, tidak henti-hentinya menghitung, tetapi tetap saja ia mendapatkan angka yang tidak masuk akal baginya. Lima ribu rupee adalah jumlah yang harus dikumpulkannya untuk bisa mendapatkan anak laki-laki yang paling biasa. Lima ribu rupee itu artinya dua tahun penuh berlarian di antara dua kayu penghela angkong atau berhutang seumur hidup kepada lintah darat di perkampungan kumuh itu. Tahun-tahun kehidupan yang penuh sengsara sebagai gelandangan yang akhirnya tersangkut di perkampungan kumuh telah menjadikan Hasari bisa menerima kompromi-kompromi yang ideal antara keimanan dan tuntunan untuk mempertahankan hidup. Hasari, demi mendapatkan suami untuk anaknya, sekaligus  penghormatannya kepada dewa, akhirnya setuju menjual kerangka tubuhnya seharga lima ratus rupee ke perusahaan penyedia alat peraga kedokteran yang banyak bertebaran di Calcutta. Ironis memang, di kemudian hari Hasari mati ketika menikahkan anaknya. Jasad Hasari diangkat saat pesta pernikahan anaknya sedang berlangsung. Hasari mati dalam keagungan. Dalam tradis Hindhu, seorang ayah – sebelum mati memang punya kewajiban religius menikahkan anak perempuannya. Ajaib, lima ribu rupee akhirnya bisa dipenuhi Hasari, kecuali dengan menjual kerangka tubuh juga dari mengumpulkan uang hasil menghela angkong di musim hujan menjelang kematiannya dan hasil menjual arloji yang ditemukan Sambu anak laki-lakinya di tempat pembuangan sampah.

    Begitu banyak cinta yang terpancar dari perkampungan kumuh yang menyedihkan itu. Novel City of Joy menunjukkan makna sesungguhnya pepatah India, “Segala yang tidak diberikan berarti hilang tanpa bekas”. Bencana bagi manusia Anand Nagar, konstruktif dan menyelamatkan. Dominique Lapierre berhasil membuktikan ucapan Pujangga India, Rabindranath Tagore, “Penderitaan itu agung, tetapi manusia tetap lebih mulia dari penderiataan”. Orang-orang papa, terhina, dan kelaparan di Anand Nagar benar-benar tak terpatahkan. Semangat hidup mereka, kemampuan mereka memelihara harapan, kemauan mereka untuk tetap bertahan hidup membuat mereka selalu mampu mengatasi kutukan karma mereka.

    Pertama kali novel City of Joy diterbitkan di Prancis, Spanyol, Italia, Belanda, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat pada tahun 1985. Novel ini juga telah difilmkan dengan dibintangi Patrick Swayze. Hingga tahun 1992 saja novel ini telah terjual enam juta kopi dalam 31 bahasa. Separuh dari royalitinya (pada 1992 sebesar dua juta dolar Amerika) telah disumbangkan untuk pembangunan pusat-pusat penampungan anak-anak penderita lepra dan polio, klinik pengobatan, sekolah, bengkel rehabilitasi, berbagai program pelatihan, gerakan sanitasi, dan pendayaan proyek irigasi di sembilan belas desa di Provinsi Bengali yang diharapkan bisa mencegah 100 ribu penduduk melakukan urbanisasi. Terjemahan judul novel ini mestinya “Kota Sukacita”. Selain lebih dekat dengan teks aslinya judul terjemahan demikian secara literer berkesesuaian dengan isi buku.

     

                              Judul : Negeri Bahagia

    Penulis : Dominique Lapierre

    Penerjemah : Wardah Hafidz

    Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta

    Halaman : 799 halaman

    ***********************************************

    J. Sumardianta, guru sosiologi SMA Kolese de Britto, Yogyakarta.

    Sumber: Majalah BASIS No. 03-04, Tahun Ke-54, Maret-April 2005.

  • Bila Tuhan Mesti Bertanggung Jawab atas Musibah

    Bila Tuhan Mesti Bertanggung Jawab atas Musibah

    Oleh  A. SUDIARJA, SJ

    DUA tahun sudah gempa dan tsunami di Aceh dan Nias yang menelan korban 200.000 jiwa berlalu, tetapi pemulihannya belum selesai sama sekali. Musibah besar itu telah menggugah hati begitu banyak orang untuk terlibat, memberikan sumbangan ataupun menjadi relawan “kemanusiaan”.

    Akan tetapi, lebih jauh, musibah itu bisa juga menjadi inspirasi untuk permenungan agama, mengenai posisi Allah yang “Mahabaik” dan “Mahakuasa” berhadapan dengan bencana yang terjadi di dunia ciptaan-Nya, salah seorang orang yang terinspirasi untuk menuliskan renungan itu adalah Paul Budi Kleden. Bukunya berjudul Membongkar Derita. Teodice: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi (Penerbit Ledalero 2006).

    Buku ini mencoba menjawab dilema klasik yang pernah diajukan Epikuros (341-270SM): “…..Atau Tuhan mau menghapuskan keburukan, tetapi tidak mampu; atau sebenarnya ia mampu, tetapi tidak mau; atau ia tidak mampu dan tidak maue. Jikalau ia mau, tetapi tidak mampu, ia lemah…….Jikalau ia mampu, tetapi tidak mau, dia jahat ….Tetapi, jikalau Tuhan mampu dan mau menghapuskan kejahatan, ….lantas bagaimana kejahatan ada di dunia?” (dalam Lee Strobel, The Case for Faith, Zondervan 2000:25. bdk. Teodice, 2006:230). Dalam wacana filsafat dan teologi, upaya menjawab dilema inilah yang disebut teodice.

    Bagi yang mau berpikir mendalam, teodice tentu saja sangat relevan untuk merenungkan keimanan yang dewasa berhadapan dengan musibah-musibah yang beruntun menerpa Tanah Air kita, baik itu gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya maupun lumpur panas di Sidoarjo.

    Akan tetapi, lebih rumit lagi adalah sikap iman menghadapi musibah yang diakibatkan oleh manusia sendiri, sejak dari tragedi Trisakti dan Semanggi, pebunuhan Munir, mapun korban-korban tak berdosa dari konflik di Ambon dan Poso.

    Suara korban dan suara pemerhati

    Berhadapan dengan musibah dan penderitaan, ada dua kemungkinan posisi manusia, yaitu para korban yang mengalami sendiri dan mereka yang tidak mengalami, tetapi menaruh kepedulian. Secara psikologis, kelompok korban adalah pihak yang diam, bisu, tidak mampu bicara. Yang mampu bicara dan mengatasnamakan korban adalah mereka yang tidak terlihat langsung, tetapi peduli.

    Susunan Teodice (2006) tampaknya memperlihatkan kesesuaian dengan pembagian ini. Sebelum memasuki bagian kedua tentang teodice, Budi Kleden mencoba mempersoalkan penderitaan itu sendiri. Dari pihak korban, kesulitan itu sangat dirasakan sebab pembicaraan tentang musibah dan penderitaan hanya akan mengulang rasa sakit dan ketidakenakan yang dialaminya. Oleh sebab itu, banyak korban yang lebih suka diam.

    Filsafat mengakui adanya berbagai macam bahasa yang digunakan manusia untuk mengartikulasikan diri. Wittgenstein menyebutnya sprachspiel atau permainan bahasa (hal.54). Ungkapan, pernyataan, atau artikulasi penderitaan yang dialami langsung oleh korban berupa jeritan kepedihan yang biasanya tidak bersifat diskursif, tetapi sangat ekspresif dan intensif.

    Seni pada umumnya dianggap sebagai bahasa yang mengena untuk mengartikulasikan hal-hal yang berkait dengan kepedihan. Dalam kerangka pemikiran inilah kiranya peryataan Adorno bisa dipahami: “…..sesudah Auschwitz tidak mungkin lagi orang menulis puisi. Menulis puisi sesudah Auschwitz adalah sebuah kebiadaban” (hal.37).

    Genosida, yang disimbolkan dengan Auschwitz, di kamp kosentrasi di Polandia yang diciptakan Hitler itu begitu ngeri, sampai puisi (baca seni) pun tidak mampu lagi mengartikulasikan jeritan korban. Diam, tanpa artikulasi apa pun, yang berarti juga melupakan penderitaan masa lampaunya, merupakan jalan keluar terakhir untuk menyelamtakan diri.

    Para pemerhati korban, teis ataupun ateis berada dalam posisi yang berbeda, kalau tidak bisa dikatakan berlawanan dengan para korban yang mengalami langsung penderitaan atau musibah. Sementara para korban hanya bisa diam, para pemerhatilah yang mampu berteriak keras menyuarakan penderitaan para korban.

    Namun, sementara para pemerhati ateis menyangkal eksistensi Allah, dengan pretensi membela korban, pemerhati teis membela eksistensi dan keadilan (dike) Allah (theos) sambil berusaha menghibur korban dan mendamaikannya dengan kehendak Allah yang belum dipahaminya.

    Berbagai aliran “teodice”

    Dalam Teodice (2006) Budi Kleden memaparkan panorama teodice dalam empat kerangka, teori dosa dari Agustinus merupakan salah satu bagian darinya (hal.173 dan seterusnya). Semua kerangka pemikiran tersebut berasal dari latar belakang filsafat dan teologi Barat, kecuali Hinduisme dan Buddhisme, yang disebut dalam satu bagian kecil dari paparan mengenai kerangka pemikran tentang keharmonisan (hal.128).

    Dua kerangka lainnya adalah teori privation boni (ketiadaan kebaikan) ketika tokoh Agustinus dimunculkan lagi (hal.147) dan teodice yang otentik. Yang memaparkan, antara lain, pemikiran Immanuel Kant yang mendapat inspirasi dari gempa bumi di Lisabon tahun 1775 (hal.195).

    Teori dosa asal dari Agustinus dikemukakan penulis tidak dengan mengaitkan dosa dan penderitaan sebagai hubungan sebab akibat yang langsung, melainkan secara prinsip saja.

    Mengartikan penderitaan sebagai hukuman langsung dari Allah atas individu yang berdosa akan berakhir dengan kenaifan karena tidak jarang yang terkena musibah dan penderitaan justru bukan orang yang berdosa, sebagaimana diilustrasikan Budi Kleden dengan novel La Peste, karangan Albert Camus. Di situ dilukiskan banyak anak-anak tak berdosa ikut mati sebagai korban (hal.186-189).

    Sementara itu, kerangka pemikiran tentang keharmonisan dalam teodice menempatkan keadilan Allah dalam pemahaman bahwa keburukan (malum) tidak bertentangan, melainkan sejalan dengan kebaikan Ilahi. Bagi Agustinus, “penderitaan memperindah panorama kehidupan” karena merupakan bagian dari keteraturan yang lebih tinggi, yang sering tidak kita lihat sehingga tidak perlu diprihatinkan.

    Apa pun ungkapan kebijakan yang bisa muncul dari bencana, yang jelas Budi Kleden memperingatkan kesulitan untuk menerima “kehancuran alam dan keretakan batin manusia” sebagai sarana yang dikehendaki Allah untuk “tujuan yang mulia, yakni mempersatukan manusia pendosa ke dalam tatanan yang harmonis” (hal.98).

    Pemikiran lain yang disebut dalam buku Kleden menyangkut kerangka keharmonisan adalah pemikiran Leibniz tentang kemungkinan terbaik dari dunia ciptaan (the best possible word). Bisa dibayangkan bahwa penciptaan manusia yang bebas merupakan pokok yang menjadi persoalan di sini karena Allah tidak bisa memangkas konsekuensi dari penciptaan-Nya, yakni kebebasan manusia yang konsekuensinya bisa memilih dan mendatangkan keburukan.

    Dalam kerangka pemikiran privat boni, teodice menempatkan keburukan (malum) sebagai ketiadaan kebaikan saja. Sebagai ketiadaan atau kekosongan, keburukan tidak mempunyai substansi yang perlu dikhawatirkan. Keburukan bukanlah prinsip dan karenanya tidak menotalisasi.

    Tidak ada keburukan yang menyeluruh di dunia. Setiap yang buruk selalu hanya dalam arti parsial, bagian tertentu dari sesuatu; keburukan hanya membonceng pada kebaikan. Dalam kerangka pemikran ini penulis Teodice sekali lagi memasukan tokoh Agustinus, yang pemikirannya tentang teodice rupanya mencakup hampir semua kerangka yang dipaparkan.

    “Teodice” yang otentik

    Budi Kleden mengakhiri rentetan ulasan teodice-nya dengan mengemukakan ajaran Immanuel Kant sebagai teodice yang otentik (hal.195). Bagi Kant, problem teodice terletak pada penggunaan rasio yang berlebihan, yang melampaui batas kemungkinannya untuk untuk berpikir logis, lebih dari itu dengan berkutat pada rasio atau logika dalam pembicaraan tentang keadilan Allah, teodice mempersempit kodrat manusia sekadar sebagai makhluk rasioanal.

    Immanuel Kant

    Bagi Immanuel Kant secara keseluruhan manusia lebih dari sekadar makhluk rasional. Ini karena selain rasio murni untuk memahami dan rasio praktis untuk menjalankan tindakan, manusia juga mempunyai daya perasaan untuk memepertimbangkan tujuan tindakan.

    Dari sini bisa ditarik pengertian lebih luas tentang perlunya tujuan terakhir segala sesuatu menuju kesatuan yang menyeluruh. Manusia tidak saja menjadi tujuan pada dirinya, melainkan juga tujuan akhir dari seluruh ciptaan. Oleh karena itu, ajaran Kant amat penting dalam mempromosikan martabat “kemanusiaan”.

    Kant mengemukakan fahamnya tentang teodice yang otentik, yakni “membiarkan Allah sendiri menjadi penafsir dan pemberi keterangan mengenai relasi antara kehendak-Nya dan keadaan dunia…..Teodice yang otentik meminta pertanggungan jawab dari Allah, tetapi memberikan hak kepada Allah untuk membela diri berkenaan dengan tuduhan yang muncul karena adanya malum di dunia (hal.220-221).

    Dengan kata lain, manusia – filsuf atau teolog – tidak seharusnya memberi keterangan seolah bisa mewakili penalaran Allah sendiri. Namun, dalam arti ini, tampak bahwa teodice bergeser bukan lagi pembelaan Allah sebagaimana lazimnya dimengerti, melainkan justru merupakan semacam tuntutan kepada Allah untuk memberikan penjelasan terhadap persoalan malum.

    Masalahnya, apakah Allah pernah akan menjawab tuntutan semacam ini? Kalua tidak melalui penalaran teodice para filsuf dan teolog, lantas melalui cara manakah Allah bisa diharapkan untuk memberikan penjelasan ?

    Dari “teodice” ke Teologi Harapan

    Dalam dua bagian akhir buku Teodice, Budi Kleden membicarakan atribut-atribut Allah (bagian ketiga) dan Allah yang menderita (bagian keempat). Kedua bagian ini merupakan telaah yang sangat sukar untuk pembaca biasa karena bagaimana pun juga terpaksa berspekulasi tentang Allah. Namun, yang menarik, berbeda dari pemahaman kita sehari-hari yang kurang kritis, Teodice menawarkan refleksi yang seolah bisa menelanjangi Allah, bahkan dalam sifat-sifat kelemahan-Nya.

    Dalam bagian ketiga, misalnya, dikemukakan antara lain pandangan Hans Jonas bahwa Allah tidak berdaya sebagai risiko dari penggunaan kemahakuasaan-Nya untuk mencipta manusia dengan kebebasannya. David Blumental menerangkan bahwa dalam diri-Nya, Allah juga merangkum kejahatan. Ada “kebukan-baikan” dalam diri Allah, yang bisa dirasa melecehkan manusia ciptaan-Nya.

    Manusia harus mengajukan protes terhadap Allah, kata Blumental (hal.258), karena Allah ikut bertanggung jawab atas hasil ciptaan-Nya. Tokoh ketiga yang diajukan penulis adalah Wolfgang Borchert yang mengajak orang beriman merenungkan ulang providential dei (penyelenggaraan ilahi) setelah didapatinya Allah lepas kontrol terhadap ciptaan-Nya.

    Providential dei yang baru menempatkan penafsiran tentang Allah mengikuti faham “Teologi Proses”, yang melihat rencana ilahi bukan sebagai sesuatu takdir yang sudah jadi, melainkan sedikiit banyak tergantung juga pada tanggung jawab manusia.

    Bagian terakhir dari buku mempelihatkan ciri Kristiani dari teodice karena bicara mengenai Allah yang menderita dan salib. Oleh penulis ditampilkan Elberhard Jungel yang memperlihatkan kemahakuasaan Allah dalam cinta, melalui Yesus Kristus dan teologi Jurgen Moltman yang mengangkat harapan dari refleksi yang mendalam tentang peristiwa salib. Menurut Moltman, dalam Allah sendiri terdapat dialektika.

    Pada akhir buku ini, penulis mengutarkan, inti harapan manusia terletak pada kenyataan bahwa Allah solider pada manusia yang menderita. Disatu pihak dia tidak bisa menolong menghilangkan penderitaan yang terjadi di dunia karena dosa, dari lain pihak dia bukan tidak berbuat apa-apa.

    Penderitaan Yesus di salib merupakan ungkapan paling nyata dari solidaritas tersebut. Namun inti persoalannya bukan penderitaan itu sendiri, betapa pun ngerinya penderitaan pada salib, melainkan cinta Allah yang solider itu. Ini karena penderitaan sendiri tidak bermakna, atau dari penderitaan sendiri tidak dapat ditangkap secara langsung motivasi kebaikan Allah. Padahal, justru dalam penderitaan itulah terlaksana atribut-atribut kemahabaikan dan kemahakuasaan Allah (hal. 323).

    Akhir kata

    Teodice (2006) merupakan buku dengan topik yang diulas secara mendalam dan kaya akan refleksi yang menarik karena di situ dipersoalkan hubungan dilematik antara kemahakuasaan dan kemahabaikan Allah dengan penderitaan manusia, atau adanya malum di dunia.

    Di dalam banyak gagasan baru yang jarang kita dengar tentang Allah karena kita terbiasa dengan pemikiran kesalehan yang naif dan tidak kritis. Namun, buku ini meskipun sudah diberi ilustrasi dengan teks-teks dari kesusastraan dan contoh-contoh tentang penderitaan pada bagian depan, tetap merupakan telaah teologis yang berat sehingga hanya mereka yang sudah belajar filsafat dan teologi saja, yang bisa memahaminya.

                                          ******

    A. Sudiarja, SJ, Pengajar Filsafat di STF Driyarkara, Penulis Buku – Bayang-Bayang – ( Galang Press-2003).

    Sumber Tulisan Kompas 16 Desember 2006

  • Maria, Bunda Perdamaian –  Perayaan Bunda Kudus Allah

    Maria, Bunda Perdamaian – Perayaan Bunda Kudus Allah

    Paus Yohanes Paulus II

    Mintalah perdamain bersama kami. Keibuan Maria…mirip dengan pesan Minggu Oktaf kelahiran Tuhan. Kelahiran selalu berbicara tentang Sang Bunda, tentang Dia yang memberikan kehidupan…….

    Hari pertama Tahun Baru adalah hari Ibu. Tidak ada gambar—–misteri kelahiran Tuhan yang lebih sederhana daripada gambar Sang Bunda bersama Yesus dipangkuannya. Bukankah gambar ini menjadi sumber kepercayaan kita?

    Pieta

    Tetapi ada gambar lain Sang Bunda dan Anak di pangkuannya: “P i e t a,” Maria yang memangku Yesus yang diturunkan dari salib. Bersama Yesus, yang berlalu dihadapan matanya…….dan, setelah kematian-Nya, Ia kembali ke pangkuan di mana Dia ditawarkan sebagai Penyelamat dunia di Betlehem.

    Oleh karena itu, saya akan menggabungkan doa kita bagi perdamaian dengan kedua gambar tadi: “Ya Bunda, engkau yang tahu apa artinya memangku jenazah Putramu….bebaskanlah semua ibu dari kematian putra mereka, dari penderitaan, dari perbudakan, dari kehancuran karena perang, dari penyiksaan, dari kamp-kamp kosentrasi dan dari penjara! Berikanlah kegembiraan kelhiran bagi mereka, kegembiraan perawatan, kegembiraan akan perkembangan manusia dan hidupnya.”

    Dalam nama…..kelahiran Tuhan, pintalah perdamaian bersama kami, dengan segala keindahan dan keagungan keibuanmu, yang dimuliakn oleh Gereja dan dikagumi dunia. Kami mohon kepadamu: seratilah kami setiap saat ! Buatlah Tahun Baru ini menjadi tahun perdamaian berkat kelahiran dan kematian Puteramu!      A m i n.

    Sumber Doa dan Devosi, Paus Yohanes Paulus II, Penerbit Erlangga, 1995.

  • Memaknai Waktu dan Ruang-Tempat

    Memaknai Waktu dan Ruang-Tempat

    * Simply da Flores

    TAHUN 2020 sudah di penghujung, sehari lagi berakhir. Tahun 2021 segera tiba. Masing-masing pribadi, keluarga, kelompok, organisasi, bangsa memberikan tanggapan sesuai dengan keyakinan, cara berpikir, penghayatan, kepentingan serta kesanggupannya. Ada juga yang sibuk dan tidak mau peduli dengan soal pergantian kalender dan perayaan akhir tahun serta tahun baru tersebut.

    Satu aspek penting sehubungan dengan penanggalan atau kalender tersebut, apapun kalendernya, adalah soal konteks “waktu dan tempat”. Kenyataan alamiah setiap pribadi, keluarga dan kelompok manusia adalah sangat tergantung dengan waktu dan tempat. Kita mengalami kehidupan dalam waktu dan ruang-tempat, dimana kita berada dan kapan saatnya. Ada yang bisa direncanakan, ada yang di luar kemampuan perencanaan kita; entah secara pribadi, keluarga atau berkelompok lainnya. Prinsip dan misterinya adalah kenyataan bahwa tidak ada seorangpun “meminta – mengusul – merencakanan” kelahiran dirinya di dunia ini; masuk dalam kehidupan, dalam ruang dan waktu. Inilah salah satu alasan alamiah kodrati, kenapa ada tradisi dan kebiasaan untuk merayakan peristiwa, merayakan makna ruang dan waktu. Salah satunya adalah menyadari dan merayakan akhir tahun dan tahun yang baru, di samping berbagai perayaan peristiwa lainnya dalam kehidupan.

    Sejatinya perayaan tentang waktu dan ruang adalah penegasan tentang hakekat kehidupan setiap pribadi. Hidup adalah ziaran setiap pribadi dalam ruang dan waktu. Dalam proses itulah, setiap pribadi, keluarga dan kelompok memberi makna atas pengalaman melalui ruang dan waktu tersebut. Maka hidup ini sejatinya adalah perjalanan memberi makna terhadap ruang dan waktu yang kita terima secara kodrati dan cuma-cuma. Termasuk yang memilih masa bodoh dan tidak peduli dengan segala bentuk perayaan syukur, juga adalah bentuk tanggapan terhadap ruang dan waktu. Alasannya, setiap pribadi memiliki hak dan kehendak bebas untuk memilih, mensikapi dan memberi makna terhadap ruang dan waktu yang mutlak dialami serta diterima dari Sang Pemberi dan Pemilik kehidupan.

    Ada doa, ritual, upacara, ucapan, musik, hiasan warna-warni, aneka makanan, atraksi dan berbagai bentuk ekspresi terhadap ruang dan waktu, peristiwa yang dialami. Semuanya menjadi ungkapan makna dari dalam setiap pribadi, keluarga dan kelompok manusia, agar dapat memperoleh makna baru dan kekuatan melanjutkan ziarah kehidupan dalam ruang dan waktu ke depannya. Perbedaannya adalah alasan, cara dan tujuan yang dipilih oleh masing-masing pribadi, keluarga dan kelompok untuk setiap waktu dan ruang – tempat dalam kehidupan ini. Inilah kenyataan yang disebut ‘cronos – Tempus – time – waktu’ dan Locus – ruang – tempat; yang memungkinkan manusia sudah melahirkan sejarah kehidupan dan peradaban, serta peluang untuk menulis – membuat sejarah budaya saat ini, serta kemungkinan demi menggapai masa depan. Kita manusia menyebutnya dengan ‘kemarin, hari ini – saat ini, dan esok’. Kemarin adalah kenangan, hari ini kenyataan dan besok adalah harapan.

    Karena kehidupan adalah ziarah dalam waktu dan ruang untuk memberi makna bagi diri masing-masing di tengah relasi mutlak dengan sesama, alam lingkungan, semesta di hadapan Sang Pemilik ruang dan waktu; maka marilah kita saling MENDOAKAN, agar kita mau dan mampu BERSYUKUR dan hidup kita masing-masing bisa menjadi BERKAT – Berkah sampai ajal menjemput jiwa kita keluar dari waktu dan ruang kehidupan. Kita telah terima dengan cuma-cuma berkat – berkah kehidupan ini dengan cuma-cuma, maka kewajiban kodratinya adalah mau kasih – memberi juga dengan cuma-cuma kepada sesama dan alam lingkungan kehidupan ini; dimana hakekatnya setiap pribadi kita adalah bagian kecil dari sesama dan alam lingkungan semesta ini, untuk satu tujuan: Rencana dan Kehendak Sang Maha Pencipta – Sang MAHA PENGASIH dan MAHA PENYAYANG.

    Hemat saya, banyak masalah dalam kehidupan kita saat ini, akarnya adalah sangat kurangnya – bahkan hilangnya BERSYUKUR (Terima – Kasih), dalam pemahaman, kesadaran dan tingkah laku kita; baik secara pribadi maupun bersama dalam keluarga dan berkelompok. Ketika seseorang dan atau satu keluarga dan kelompok HANYA mau terima, tetapi tidak mau Kasih – memberi – berbagi (kepada sesama dan alam lingkungan) – maka saat itulah masalah mulai timbul, laku beranak pinak. Jika kepada sesama dan alam lingkungan saja kita tidak Kasih – memberi – berbagi, sangat pasti bahwa kepada Sang Pencipta juga kita lupa dan abaikan. Karena pada hakekatnya, setiap pribadi hanya bisa Kasih – berbagi kepada sesama dan alam lingkungannya jika dirinya sadar – tahu – mau dan melakukan syukur kepada Sang Maha Pemberi kehidupannya; entah apa pun keyakinan – kepercayaan, adat, agama-nya. Isi dan makna dari bersyukur adalah TERIMA – KASIH. Semoga kita sekalian semakin sadar dan mampu bersyukur, dalam jiwa, hari nurani dan pikiran, dan terlahir dalam perkataan dan perbuatan sehari-hari, sebagai sumber kekuatan untuk berziarah mengalami waktu dan ruang menuju ajal – akhir hayat di dunia ini. Syukur atas Tahun 2020, dan semoga diberkahi menyambut Tahun Baru 2021, untuk mengisi ruang dan waktu yang baru dengan SYUKUR, sehingga hidup kita masing-masing menjadi Berkah – Berkat bagi sesama dan alam lingkungan. Di sanalah damai tumbuh bersemi, melahirkan Surga di atas bumi bagi semua ciptaan Sang Maha Cinta dan Maha Misteri. “Ya ALLAH, syukur kepadaMU atas segala berkah kehidupan ini, jadikanlah kami pembawa berkat serta pribadi yang selalu tahu dan mampu BERSYUKUR….Amin” SYALLOM, SYALLAM, RAHAYU, SELAMAT bagi segenap Saudari-saudara kehidupan.

    *Simply da Flores, Peminat Masalah Sosial Budaya, Alumnus STF Driyarkara

  • Kehadiran Allah dalam Waktu

    Kehadiran Allah dalam Waktu

    Paus Yohanes Paulus II

    Di hadapan palungan, dengan hati menyembah, marilah kita merenungkan waktu yang berlalu, yang mengalir dan membawa eksistensi kita yang sementara di dalamnya. Dengan kata-kata Ilahi-Nya, Yesus melepaskan kita dari kecemasan akan hal-hal yang tidak berarti dan mengatakan kepada kita bahwa, sesuai dengan perjalanan waktu yang Panjang dan misterius, sejarah manusia adalah suatu perjalanan kembali ke rumah Bapa, suatu perjalanan kembali ke Tanah Terjanji. Karena itu, setiap orang akan mengikuti perjalanan ini menuju Bapa. Hidup berarti melalui jalan itu kembali ke rumah, setiap hari dan setiap jam.

    Sementara kita berpikir tentang tahun sulit yang kita lewati ini, marilah kita ingat bahwa pesan Natal menguatkan dengan kepastian mutlak bahwa Allah senantiasa hadir, bahkan dalam pertentangan-pertentangan sejarah manusia sekalipun. Dengan menciptakan manusia bebas dan berakal, Dia mewariskan sejarah ini dengan puncak-puncak yang tinggi dan jurang-jurang yang dalam dan mengerikan, namun Ia tidak pernah meninggalkan manusia. Kelahiran adalah jaminan bahwa kita dicintai oleh Yang Maha Tinggi, bahwa kekuasan-Nya dijalin dengan Penyelenggaraan-Nya dengan cara yang biasanya gelap dan kabur dan tidak dapat dimengerti oleh akal manusia. Inilah sebabnya mengapa kita harus mengingat perkataan Santo Paulus kepada Umat di Korintus: “Hanya Tuhanlah yang menghakimi aku, karena itu janganlah melakukan penghakiman sebelum Ia datang kembali. Ia akan menyingkap segala yang tersembunyi di dalam kegelapan dan membuka isi hati kita. Pada waktu itu, setiap orang akan memuji Allah.”

    Seorang pemikir besar abad ini, Kardinal Newman, mengatakan dalam suatu kotbahnya: “Tangan Allah selalu berada di atas orang-orang kesayangan-Nya, dan membimbing mereka dengan jalan yang tidak mereka ketahui. Mereka hanya bisa percaya akan apa yang tidak bisa mereka lihat, tetapi akan melihatnya kemudian, dan, sambil tetap bertekun dalam iman mereka, mereka bekerja dengan Allah ke arah itu.”

                                      ******

    Sumber: Doa dan Devosi, Paus Yohanes Paulus II, Penerbit Erlangga, 1995

  • Sesudah Modal Lolos dari Trias Economica

    Sesudah Modal Lolos dari Trias Economica

    B. Herry-Priyono

    Bagi para globalis, nasionalisme adalah lokalisme sempit. Untuk para nasionalis, globalisme adalah sebentuk abstraksi tak bernyawa. Tegangan itu bisa rekaan, bisa juga kenyataan. Rekaan, sebab yang terjadi adalah gejala keserentakan: semakin mengglobal gerak hidup kita, semakin intensif pencarian akar lokal kita. Semakin kencang globalisasi terjadi, makin kuat pula pencarian identitas diri. Bisa juga sebuah kenyataan, karena dalam kawanan gejala yang sama kita saksikan makin banyak ledakan (backlash) yang muncul dari tegangan keduanya.

    Antara komunitas dan kerumunan

    Nasionalisme adalah paham/gerakan pembentukan bangsa. Orang seperti Ernest Renan melihat bangsa sebagai “solidaritas agung yang terbentuk dari penderitaan bersama,” dan solidaritas itu menjadi dasar pembentukan komunitas hari ini dan di masa depan. Konsepsi semacam diajukan Anthony Smith, seorang neo-classicist. Bangsa adalah komunitas kultural-politik yang ada dalam gerak berayun antara pencarian identitas ke masa lalu dan pencarian arah pada rentang sejarah ke depan. Ia bahkan mengartikan “bangsa” sebagai penjelmaan (avatar) modern dari sentimen etnik yang bekerja dalam sejarah.

    Bagi orang lain, pertanyaan apa itu bangsa hanya bisa di dekati dengan lebih dulu menjawab soal bagaimana bangsa terbentuk. Benedict Anderson melihat bangsa sebagai komunitas persaudaraan yang direka-bayangkan (imagined community). Proses me-reka-bayang-kan terjadi melalui medium yang muncul dari perkembangan kapitalisme-cetak (print capaitalism), seperti koran, majalah dan novel.

    Soal bagaimana bangsa terbentuk, membawa cita-cita komunitas politik ke dalam hiruk-pikuk gejala yang kita hidupi dewasa ini. Juga tanpa meniadakan gagasan bangsa sebagai (kemungkinan) komunitas solidaritas, real politik pembentukan bangsa menjadi kunci memahami apa yang terjadi.

    Dengan kaca mata realis, almarhum Enrnest Gellner melihat nasionalisme dan bangsa sebagai produk transisi masyarakat dari masyarakat agraris ke industrial. Industrialisasi mensyaratkan bentuk baru pengorganisasian masyarakat yang bersandar pada “kultur seragam”. Jika Anda seorang akuntan dan anda sakit, cuti, kena pemutusan hubungan kerja atau pension, kelangsungan kinerja industri menuntut keberadaan orang-orang yang siap mengganti. Proses ini hanya mungkin bila tersedia orang-orang yang juga tahu akuntansi. Penjaga kultur seragam itulah negara (state). Tata komunitasnya disebut bangsa (nation). Paham/gerakan menciptakan tata itu disebut nasionalisme (nationalism)”

       “Nasionalisme bukanlah bangkitnya kekuatan masa lalu yang tertidur, meski punya klaim seolah-olah demikian. Dalam kenyataan nasionalisme merupakan konseukensi bentuk baru pengorganisasian masyarakat yang bersandar pada budaya-tinggi yang dibentuk oleh perseolahan, dan dijaga oleh negara. Bangsa sebagai komunitas alamiah adalah mitos.,,,”

    Simbol apa saja yang membantu legitimasi akan dinobatkan sebagai ‘nasional’: dari citra kebesaran masa lalu (misal: Majapahit) sampai tarian suku dari zaman batu. Bagi Gellner, para intelegensia borjuis menjadi pelaku proses itu. Cuma, ‘rakyat’ lalu menjadi sekedar kerumunan yang diseret oleh rekayasa penyeragaman kultur bagi industrialisasi. Sejarahwan Eric Hobsbawm melangkah lebih jauh: bangsa adalah satu dari berbagai tradisi rekaaan (invented tradition) yang diciptakan untuk menyalurkan insting komunal massa, misalnya melalui penghormatan bendera, lagu, dan simbol lain. Dalam gerak politiknya menjadi kelas dominan, para borjuis merupakan pelaku utama penciptaan bangsa.

    Fokus pada real politik pembentukan bangsa memberi gambaran tentang apa yang terlibat dalam nasionalisme. Namun juga segera kelemahan besar. Fakta bahwa pembentukan bangsa melibatkan tindakan manipulasi sama sekali tidak meniadakan potensi bangsa sebagai pemberi makna identitas personal serta komuniter. Itu juga kritik Perry Anderson terhadap konsepsi Gellner: hilanglah “…dimensi makna komuniter yang terlibat di dalam nasionalisme; bukan fungsinya bagi industri, melainkan pemenuhannya bagi identitas diri.”

    Dalam soal pemenuhan identitas itu, kita bertemu dengan proses identifikasi, spasial temporal-kultural yang bisa (tapi juga bisa tidak) terkait dengan nasionalisme. Pengakuan “saya orang Indonesia” atau “saya orang Jerman” adalah ungkapan ikatan kita dengan social memory yang sudah menjadi bagian tak terpisah dari hidup kita. Di dalamnya terhampar beragam unsur seperti “taman kenangan” yang sudah melekat bagai stempel pada memori: wajah orang-orang terkasih, teman bermain, rumah masa kecil, landscape sungai, jalan, gedung, dan pepohonan.

    Kita punya ikatan emosional bukan dengan manusia, rumah, dan landscape tertentu, tunggal maupun jamak. Karena pribadi rumah, dan landscape itu merupakan bagian dari patria (tanah air) tertentu (Yogyakarta di Indonesia, Kairo di Mesir, Bavaria di Jerman), dan bukan tanah air lain, maka kita mengaku diri dengan menunjuk nama patria itu. Indonesia, Mesir, Jerman. Landscape membentuk memori kita, dan mengarahkan identitas kita dengan komunitas yang menjadi bagian landscape itu.

    Tetapi nasionalisme bukan hanya psikologi, bukan semata rasa-merasa nostalgia, bukan pula sekedarreal politik. Ikatan emosiaonal pada ‘tanah air’ tidak identik dengan kecintaan pada ‘bangsa’. Membaurkan perbedaan keduanya sama dengan membiarkan ‘dunia seolah-olah’ menyerobot realitas. Bangsa sebagai komunitas solidaritas adalah sebuah aspirasi, bukan deskripsi. Pada aspirasi itu terlibat prasyarat yang bersifat sine-quo-non. Mungkin tak ada orang yang memberi tekanan lebih pada prasyarat ini daripada Benedict Anderson ketika ia mengajukan sentralitas ‘merekabayangkan’ (imagining).

    Membayangkan apa? Mereka membayangkan tata solidaritas dalam wilayah negeri tertentu, di mana keberadaan individual kita ‘tertanam’ (embedded). Dengan itu juga mau ditunjuk bahwa proses merekabayangkan melibatkan pengakuan adanya kepentingan bersama di samping kepentingan pribadi. Ringkasnya, pengakuan akan adanya hidup bersama (shared life), dan di sini share life itu disebut ‘Indonesia’.

    Sebagaimana dulu, sekarang kita juga tersobek di antara cita-cita bangsa sebagai tata solidaritas dan real politik manipulatif, yang terlibat di dalamnya. Selama beberapa dasawarsa ini, satu faktor lain masuk ke arena real politik itu: globalisasi. Ratapan atas pudarnya nasionalisme merupakan satu manifestasi dari tegangan antara cita-cita dan real politik bangsa yang ada dalam pusaran globalisasi. Banyak faktor yang membuat nasionalisme dirasakan semakin kosong. Salah satunya adalah pergeseran ‘filsafat’ ekonomi-politik yang menyangga corak globalisasi dewasa ini.

    Antara laba dan patria

    Di paruh dasawarsa 1970-an, suatu tata ekonomi baru mulai melaju. Namanya globalisasi. Filsafat ekonomi-politiknya disebut neoliberalisme, yang kira-kira bisa diringkas begini. Manusia pertama-tama dan terutama adalah homo economicus (manusia ekonomi). Itulah ontologi (hakikat) manusia. Cara kita bertransaksi dalam jual beli bukan satu dari berbagai hubungan manusia, melainkan satu-satunya model yang mendasari tindakan dan relasi manusia. Baik itu keluarga, tata negara maupun hubungan internasional. Dengan kata lain, tindakan serta hubungan antar pribadi maupun hubungan lain hanyalah ungkapan model hubungan menurut dalil untung rugi individual yang berlangsung dalam transaksi ekonomi. Ada dua implikasi.

    Pertama, relasi sosial kita mesti dipahami dengan memakai konsep dan indikator ekonomi sistem pasar. Jadi, ontologi economicus pula. Kemacetan yang terjadi ataupun perubahan yang ingin dilakukan juga mesti didekati dengan konsep dan solusi sistem pasar.

    Kedua, prinsip ekonomi sistem pasar pula yang digunakan sebagai tolok ukur untuk mengevaluasi berbagai kebijakan. Ontologi dan epistemologi economicus pada gilirannya memperanakkan etika economicus. Jika liberalisme klasik abad ke-18 hanya menuntut pemerintah menghormati kinerja pasar sebagai cara jitu kegiatan ekonomi, neoliberalisme menuntut agar kinerja sistem pasar menjadi satu-satunya tolok ukur menilai berhasil tidaknya kebijakan pemerintah. Sistem pasar bebas adalah hakim bagi setiap kebijaksanaan.

    Kita menganggap filsafat ini berasal dari Adam Smith (1723-1790). Cuma apa yang diajukan Smith tak sesederhana seperti anggapan luas. Bahkan dari judul karya besarnya, kita bisa mengenali bahwa liberalisme Smith tetap menempatkan kesejahteraan seluruh bangsa sebagai tujuan. Neoliberalisme menggusur “kesejateraan bersama (common wealth) dengan akumulasi “kekayaan individu” (individual wealth). Penggusuran ini analog dengan mengganti judul buku Adam Smith, …the Wealth of Nation, menjadi ….the Wealth of Individuals. Ringkasnya, penggusuran arena hidup sosial dengan urusan individual. Hal itu dapat dilihat dalam dua gejala berikut.

    Pertama, konsepsi neoliberal tentang modal manusia. Ekonomi-politik klasik melihat produksi barang/jasa tergantung pada kaitan intrinsik tiga faktor: tanah, modal dan tenaga kerja. Demi hemat kata, saya akan menyebut kaitan intrisik ketiganya dengan istilah trias ecomonica. Ekonomi neoliberal tidak melihat modal dan tenaga kerja dalam arti obyektif seperti itu, tetapi dalam arti subyektif (subjective voluntarist). Dalam gagasan neoliberal, misalnya, upah/gaji seseorang bukanlah “harga” bagi tenaga kerja yang dijual, melainkan “laba” dari “modal” yang dipunyainya (otot, keterampilan, dan pengetahuan). Otot, keterampilan, dan pengetahuan bukan modal seperti tanah atau gedung, karena modal seperti itu tidak bisa dipisahkan dari para pemiliknya, dimana pun mereka berada.

    Orang-orang itu tidak dilihat sebagai buruh/pegawai yang tergantung pada badan usaha, tetapi sebagai para wirausahawan/wati (entrepreneurs) bebas yang bertanggungjawab atas keputusan sendiri dan yang (sama seperti para kapitalis) berusaha memproduksi nilai surplus (surplus value) bagi dirinya. Mereka (entah buruh, manajer ataupun guru) adalah para entrepreneurs bebas. Masing-masing dari kita adalah orang swasta.

    Kedua, sebuah paradoks sedang terjadi. Sementara modal diprivatkan sampai titik di mana modal semakin kehilangan dimensi komunitasnya, ia juga dilepas dari kaitannya dengan “tanah” dan “tenaga kerja”. Ringkasnya, personalisasi dan depersonalisasi modal dilakukan secara serentak. Neoliberalisme secara mendasar menjungkir trias economica. Yang berlangsung pada dataran mikro (ekonomi produksi) ini terjadi secara paralel pada tataran makro (struktur ekonomi global). Yang dimaksud “tanah” dalam ekonomi-politik klasik tentu aksis fisik-spasial dari pabrik/kantor. Namun, “tanah” juga menunjuk partikularitas wilayah-spasial di mana komunitas politis-kultural hidup. Itulah patria, Bahasa Latin untuk tanah air. Dalam arti ini, patria tidak hanya menunjuk titik spasial teritorial, melainkan juga wilayah hidup politis-kultural sebuah bangsa.

    Apa yang terjadi dalam neoliberalisme adalah dilepasnya kinerja modal finansial dari kaitannya dengan proses survival warga negara dan patria. Atau lebih tepat, kalaupun terkait, kaitan itu berupa an unintended consequence. Dilepasnya modal dari tata trias ecomonica itu juga berisi pemberian gratis hak istimewa dan kekuasaan yang sedemikina besar kepada (para pemilik) modal finansial. Itulah mengapa patria dan tenaga kerja akhirnya menjadi bulan-bulanan mobilitas dan kekuasaan modal. Apakah para buruh dan petani mati, atu apakah patria remuk karena krisis ekonomi, adalah soal yang dianggap semakin tidak terkait lagi dengan logika kinerja modal finansial.

    Apa kaitan semua ini dengan globalisasi? Itulah yang rupanya sedang berlangsung dalam corak globalisasi dewasa ini. Pada dataran eksistensial, globalisasi menyangkutkan “pencabutan” waktu dari ruang. Anthony Giddens menyebut gejala itu “penjarakan waktu-ruang”(time space distanciation), sedang David Harvey menyebutnya “pemadatan waktu-ruang” (time-space compression).

    Dulu kala, untuk membeli batik di Kota Gede, Yogyakarta (tempat), seseorang di Batavia harus berjalan sebulan (waktu). Transakasi jual beli batik menuntut temu muka penjual dan pembeli, peristiwa yang hanya mungkin terjadi dengan pertemuan keduanya pada titik waktu dan tempat yang sama (kesatuan waktu-ruang). Kini, transaksi itu dapat dilakukan sekejap melalaui telepon/e-mail. Pembeli di Jakarta penjual di Kota Gede, namun pada momen waktu yang sama meski dilakukan dari tempat yang berbeda (pemisahan waktu dari ruang). Rentanglah proses itu pada lingkup global, dan kita dapati gejala globalisasi (ekonomi). 

    Pada dataran empiris, globalisasi berisi kaitan yang semakin erat dari hampir semua aspek kehidupan, gejala yang muncul dari interaksi perdagangan, transportasi, transaksi finansial, media, dan teknologi. Benar bahwa globalisasi menyangkut aspek kultural, sosial, dan politis juga mensyratkan kinerja modal finansial. Perkawinan praktik-praktik mengglobal itu melahirkan cara pandang (epistemologi) baru pula. Artinya, globalisasi bukan lagi hanya kaitan mondial antara berbagai tindakan (misal: transaksi finansial), tetapi juga cara baru memandang persoalan. Ringkasnya, seluruh dunia merupakan unit tindakan dan pemikiran.

    Dengan itu, dinamika tindakan pemikiran kita juga tak lagi hanya berlangsung pada lingkup desa, suku, kota, provinsi atau negara-bangsa, melainkan merentang pada lingkup global. Selain karena pembusukan yang terjadi dalam politik interen negara, pada pergeseran kondisi sejarah ini rupanya ratapan pudarnya nasionalisme perlu dipahami.

    Antara lokal dan global

    Sejarah bukan kisah ketidakterelakkan.  Hanya karena “prinsip” kawanan hewan” (herd principle), ia seperti deretan kisah keniscayaan. Globalisasi sebagai kondisi baru juga bukan gejala yang akan terelakan. Artinya, globalisasi bukan gejala seperti gempa bumi, melainkan terjadi karena pengulangan tindakan mengglobal yang membentuk gugus praktik global; kemudian berbagai praktik global itu membentuk struktur globalisasi seperti yang kita hidupi dewasa ini. Fokus pada faktor ekonomi sebagai salah satu kunci memahami globalisasi bukan suatu kebetulan.

    Tanpa perlu menganut determinisme, pergeseran filsafat dari kondisi ekonomi-politik ini merupakan salah satu kunci memahami ratapan atas pudarnya nasionalisme, Beberapa pokok berikut mungkin bisa menjadi kemungkinann sketsa.

    Pertama, juga setelah menimbang berbagai sanggahan, lepasnya modal finansial dari trias ecomonica membuat pemerintah dan warga suatu bangsa semakin tergantung pada para pemilik modal finansial. Claus Offe merumuskan gejala ini dengan tegas “bentuk kelembagaan negara bisa saja diatur melalui prosedur demokrasi dan perwakilan, tetapi isi materialnya ditentukan oleh prasyarat akumulasi modal”. Bagi para pemilik modal, globalisasi adalah berkah. Bagi mereka yang tak punya, globalisasi adalah kutuk. Sedang bagi mereka yang ada dia antara keduanya, globalisasi adalah ambivalensi.

    Apa yang kemudian berkembang adalah kesenjangan yang semakin tajam. George Soros, pelaku yang fasih dengan bagaimana kesenjangan itu terjadi, menjatuhkan putusan berikut dalam bukunya, On Globalization: “Mungkin saja kondisi buram itu tidak disebabkan oleh globalisasi, namun corak globalisasi yang berlangsung dewasa ini jelas-jelas tidak berbuat banyak untuk mengatasinya.”

    Kemudian Soros melanjutkan: “…sejumlah bukti menunjukkan, para pemenang dapat melakukan kompensasi pada kelompok-kelompok yang disingkirkan (oleh globalisasi), dan toh mereka tetap keluar sebagai pemenang. Masalahnya adalah para pemenang tidak melakukan kompensasi apa pun. “Dan bila, seperti yang diproklamirkan Milton Friedman, “satu dan hanya satu, tanggungjawab sosial bisnis, yaitu menggunakan seluruh sumber dayanya untu aktivitas yang mengabdi akumulasi laba….,” cita-cita bangsa tentu menjadi fatamorgana. Dalam bahasa Alasdair MacIntyre, “…komunitas patriotisme tidak akan terbentuk, karena tidak ada lagi patria dalam arti sebenarnya.”

    Kedua, seperti disebut dalam pusaran gejala itu juga sedang berlangsung agenda memprivatkan berbagai prasyarat dan prasarana yang menyangga kemungkinan suatu komunitas bangsa. Juga setelah mengakomodasi pertimbangan efisiensi ekonomi, agenda deregulasi yang serampangan dapat dikatakan sebagai manifestasi gejala itu. Hal ini bisa terjadi tanpa maksud mengosongkan “cangkang” nasionalisme. Agenda itu dapat dikenalin dalam berbagai praktik bisnis. Namun semakin jelas, gejala itu juga menyangkut gejala lebih luas. Iklan handphone mereka Philips, “individualism is perfectly human” adalah proklamasi gaya neoliberal par excellence.

    Pada titik ini, kesenjangan yang makin tajam dalam akses ekonomi dan gaya hidup menjadi relevan bagi persoalan nasionalisme. Juga seandainya tidak disengaja, kawanan gejala kesenjangan yang tiap hari berpacu melalui “prinsip kawanan hewan” itu membuat gagasan bangsa sebagai komunitas solidaritas semakin menjadi utopia.

    Ketiga, sekuat apa pun pacuan itu, kita belajar dari sejarah bahwa kinerja ekonomi yang dilepas dari proses survival suatu komunitas politik rupanya tidak akan bertahan lama. Pokok itu bukan argument tentang kematian kapitalisme. Dari Karl Polanyi, pemikir ekonomi Hungaria, kita belajar pola berikut. Setiap kali kinerja ekonomi dilepaskan dari kaitannya dengan gugus kelembagaan lain yang menyangga hidup bersama, tiap kali pula terjadi double movement. Maksudnya, setiap kali sistem pasar melakukan kolonisasi atas semakin banyak bidang kehidupan, setiap kali berkembang gerakan perlawanan terhadap kolonisasi itu.

    Dalam Bahasa sketsa ini, semakin kinerja modal finansial dilepaskan dari kaitannya dengan patria dan warga negara, semakin berkembang gerakan untuk membawa kembali kinerja modal itu ke pangkuan trias economica. Dalam bidang ekonomi-politik, sekuensi peristiwa deregulasi di awal dekade 1980-an, bom finansial, perluasan ekonomi maya (dotcom), krisis ekonomi sejak 1977, kerontokan harga saham, gerakan kritik terhadap globalisasi, terbongkarnya berbagai skandal bisnis, lalu reformasi regulasi, merupakan contoh double movement itu. Dalam arti ini, kebanyakan gerakan kritik pada globalisasi bukanlah gerakan anti modal dan antiglobalisasi (seperti biasa dituduhkan), melainkan gerakan mengembalikan kinerja modal supaya terkait kembali dengan proses survival tenaga kerja dan patria.

    Keempat, manusia tanpa partikularitas kultur dan emosi adalah ilusi. Yang rupanya terjadi adalah paradoks ini: semakin mengglobal kawanan gerak hidup kita, semakin intensif pencarian identitas lokal kita. Paradoks ini bukan bentuk irasionalitas, melainkan penjelmaan keutamaan manusia yang diberkati dengan transendensi-universalitas dan sekaligus kerinduan-partikularitas. Itulah mengapa kebangkitan etnik dan nasionalis menguat pada periode ketika gerak globalisasi juga sedang intensif terjadi.

    Dalam arti itu tuduhan subversif pada kritik globalisasi merupakan histeria yang mengada-ada. Dalam bahasa ekonom Joseph Siglitz, tuduhan ini muncul karena “special commercial and financial interests prevailed”. Tentu, dengan itu tidak mau dibenarkan lokalisme sempit dalam rupa rasisme (seperti anti-Cina), nasionalisme buta (seperti konfrontasi dengan Malaysia), atau nasionalisme jagal (seperti Nazizme Hitler).

    Kelima, paradoks mengglobal (dis-embedding) dan melokal (re-embedding) adalah tegangan sehari-hari kita dalam kehidupan modern. Mengelak dari tegangan itu sama dengan membekukan waktu. Dalam arti ini, tuntunan kejelasan (anti globalisasi atau pro globalisasi) merupakan salah satu akibat kemalasan kita menemukan wilayah-wilayah baru sintesa. Kita ingin kejelasan pro atau anti, lantaran ‘titik tengah’ terasakan sebagai suasana yang membosankan karena tak punya ketajaman yang menggairahkan. Dalam kenyataan, sejarah berisi lebih banyak kesimpangsiuran. Paradoks mengglobal-melokal hanya salah satu contoh. 

    Paradoks itu bukan sesuatu yang tak terelakkan, bukan juga gejala tanpa pelaku. Ia produk tegangan berbagai praktek, tindakan, dn kerinduan yang nyata dalam sejarah modern. Hanya jika kita memahami kondisi sebagai bukan niscaya (not inevitable), dan hanya bila kita memahami kondisi itu sebagai sesuatu yang melibatkan pelaku, maka terbukalah ruang untuk melakukan transformasi. Upaya perubahan tidak punya makna pada apa yang sudah niscaya. Dua arah gerakan berikut mungkin berguna.

    Pertama, sementara kritik pada lokalisme sempit dilancarkan, gerakan kritik pada corak globalisasi dewasa ini menjadi satu urgensi. Fokusnya, bagaimana membuat kinerja modal punya civic accountability. Saya sadar, ambivalensi globalisasi berarti ia berupa ‘berkat’ dan ‘kutuk’. Gerakan kritik pada globalisasi perlu semakin peka membedakan ‘padi’ dan ‘alang-alang’, membedakan ‘berkat’, dan ‘kutuk’. Fakta bahwa gerakan kritik pada globalisasi yang peka terhadap dilema itu terasa lebih sulit, sama sekali tidak menegasi validitas kebutuhan akan sensivitas itu.

    Kedua, gerakan membangkitkan kebijakan politik (public policy). Selama kita menghendaki hidup bersama – terungkap dalam istilah ‘Indonesia’, ‘umum’, ‘publik’ – selama itu pula kita membutuhkan keberadaan badan publik (public agency). Kelemahan fatal yang terjadi adalah berbagai kebijakan yang dilakukan badan publik semakin kehilangan ciri publiknya, karena semakin sering hanya pelaksanaan kemauan para pelaku dominan dari corak globalisasi dewasa ini. Tidak keliru mengatakan para pemilik/pengontrol aset finansial merupakan kelompok paling dominan dalam proses ini. Itulah gejala yang oleh Joel Helman dkk disebut state capture, di mana kapasitas legitim ‘badan publik’ menjadi tawanan para pemilik/pengontrol modal finansial.

    Gejala itu punya implikasi jauh. Kebijakan publik makin makin tidak lagi digerakan oleh maksud (intended motives) melaksanakan kepentingan publik. Kepentingan bersama makin menjadi sekadar akibat sampingan (unintended consequences) dari keputusan yang mengungkapakan kebutuhan kelompok finansial itu. Bila kesejahteraan bersama (common welfare) itu terlaksana, ya syukurlah. Bila tidak terjadi, common welfare toh juga bukan tujuan awalnya. Akibatnya, kesejahteraaan bersama (ekonomi, kultural, politis) menjadi sekedar remah-remah yang jatuh dari meja pesta para tuan besar. Dengan itu, public policy juga kehilangan raison d’tre (alasan adanya), karena ia bukan lagi ‘kebijakan’, dan tidak juga dibuat untuk ‘publik’. Membangkitkan public policy berarti memasukan kembali tujuan (telos) kepentingan bersama ke dalam berbagai kebijakan (pendidikan , hukum, ekonomi, kesehatan, dsb).

    Pada titik ini, perkenankan saya mengajukan satu pokok yang barangkali relevan untuk public policy. Sebuah Indonesia modern yang sehat dan beradab dibangun di atas perimbangan tiga poros kekuatan: komunitas, badan publik, dan pasar. Dominasi satu /dua poros atas satu/dua poros lainnya menjadi jalan menuju malapetaka. Dominasi badan publik atas hidup komunitas dan kinerja pasar menhasilkan Stalinisme. Dominasi komunalisme atas otoritas legitim badan publik dan kinerja pasar melahirkan tribalisme agamais-etnik-rasial. Dominasi pasar atas badan publik dan komunitas memperanakkan brutalitas neoliberal, seperti rezim Thatcher dan Reagan.

    Tiga poros Indonesia itu bisa menjadi panduan praktis, bisa juga menjadi perangkat analisis dalam pembuatan public policy. Kebijakan ekonomi, kesehatan, atau pendidikan yang hanya mengungkapkan kebutuhan para pemilik/pengontrol modal (dengan dampak negatif pada survival komunitas dan badan publik (bukanlah public policy, dan tidak juga membantu rekontruksi Indonesia. Demikan pula kebijakan yang hanya mengungkapkan kebutuhan para pejabat negara lebih menyumbang pada kehancuran Indonesia.

    Epilog

    Masalah hidup mati sebuah bangsa melibatkan banyak faktor. Beberapa faktor punya daya yang mengosongkan cangkang nasionalisme. Nasionalisme tidak mungkin lagi dihidupi seperti 100 atau 50 tahun silam. Sejarah adalah “sungai ada” yang melahirkan peristiwa. Berbagai peristiwa itu telah melahirkan kondisi baru tegangan antara yang lokal dan yang global. Meskipun dalam konteks yang agak berbeda, Cifford Geertz mengungkapkan pokok ini hampir 30 tahun lalu:

          “Tegangan antara dua dorongan instingtif itu-antara berlayar dalam arus zaman dan memeluk tradisi warisan-membawa nasionalisme ke dalam suasana yang khaas begitu bernafsu meraih modernitas, dan sekaligus berang terhadap hasil modernitas.”

    Dalam kaitan dan tegangan antara yang lokal dan yang global itulah sungai waktu di negeri ini sedang melaju. Dan cita-cita tentang bangsa? Ia belum mati. Namun, gagasan tentang imagined community yang bernama “Indonesia” seperti sedang berjalan ketakutan ke masa depan. Mengapa? Karena di gerbang masa depan itu, neoliberalisme ekonomi, premanisme-birokrat dan komunalisme-tribal bagaikan sosok-sosok para bandit yang rebut menyeret kita dalam pacuan yang penuh tabrakan.

                                   ********

    Sumber dari buku Esei-Esei Bentara 2003, Penerbit Kompas, 2003.

  • Natal dan Pesan Perdamaian

    Natal dan Pesan Perdamaian

    Oleh Yakobus Odiyaipai Dumupa, Bupati Dogiyai Papua

    PASTOR yang memimpin misa Natal di Gereja Katolik Gembala Baik, Abepura, Jayapura, 25 Desember 2012, dalam kotbahnya mengemukakan bahwa, “Tuhan Yesus lahir ke dunia dan rela menjelma menjadi manusia karena Allah hendak menyelamatkan manusia. Keselamatan itu diwujudkan oleh Tuhan Yesus dengan menebus dosa manusia. Tuhan Yesus juga lahir untuk membawa kedamaian di bumi, agar manusia saling mengasihi satu sama lain dan mengasihi Allah sebagaimana Allah terlebih dahulu mengasihi manusia.”

    Program berita Editorial Media Indonesia di Metro TV juga mengemukakan, “Natal identic dengan damai. Kedamaina sejatinya punya makna universal. Setiap orang, apa pun agama, keyakinan, budaya, dan bangsanya, senantiasa berupaya mencapai kedamaian. Berdamai dengan diri sendiri, baik sebagai pribadi maupun bangsa, ialah ikhtiar yang pertama-tama harus kita lakukan untuk mencapai kedamaina hakiki. Kita telah berdamai dengan diri sendiri bila kita berhasil menaklukan nafsu di dalam diri kita. Hasrat memperkaya diri, berkuasa dengan menempuh segala cara, serta merasa paling benar merupakan syahwat dalam diri yang harus kita taklukan.”

    Di tengah kehendah Allah yang luar biasa bagi manusia dan impian sebagian besar manusia untuk hidup damai, apakah manusia telah menciptakan kedamaian di bumi ini? Jika disimak dengan seksama, maka sesungguhnya banyak orang belum berdamai. Pertama, banyak orang belum berdamai dengan dirinya sendiri. Banyak orang masih terbelenggu dalam berbagai dosa yang tak henti-hentinya dilakukan setiap saat, sehingga menjadikan dirinya sebagai ‘hamba iblis’. Kedua, banyak orang juga masih belum berdamai dengan sesamanya. Bahkan ada kecenderungan dari waktu ke waktu manusia saling bermusuhan satu sama lain, hanya karena kebetulan punya pribadi yang berbeda, punya bangsa (negara) yang berbeda, punya agama dan keyakinan yang berbeda, dan karena perbedaan lainnya, padahal sejatinya semua manusia punya derajat yang sama sebagai ciptaan Allah. Ketiga, banyak orang yang belum berdamai dengan Allah. Makin hari makin banyak orang yang menjauhkan diri dari Allah. Allah dianggap ‘tidak kelihatan’(tidak nyata), sehingga dianggap tidak ada.

    Setiap perayaan Natal pesan kedamaian selalu disampaikan kepada umat manusia, terutama bagi umat Kristiani yang merayakannya. Banyak pihak selalu berharap agar Natal melahirkan manfaat yang nyata untuk menciptakan kedamaian. Tetapi kedamaian yang sejati; berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan sesama, dan berdamai dengan Allah nampaknya masih jauh dari harapan. Manusia harus berjuang terus dengan mengandalkan campur tangan Allah, sesuai dengan kapasitasnya sebagai pribadi, sebagai makhluk sosial dan sebagai anak Allah untuk menciptakan kedamaian yang nyata. Jika tidak, maka kedamaian hanyalah impian yang tak kunjung menjadi nyata.

    Selamat Ulang Tahun Yesus. Selamat Natal Umat Kristiani.

    Sumber: Ungkapan Kegelisahan (Catatan Yakobus Odiyaipai Dumupa), Penerbit Ikan Paus, 2020.