Maumereberandanegeri.com – DALAM rangka Operasi Tameng Nusa Tenggara Timur BKO Guskamla Koarmada II untuk Mendukung Logistik Bantuan Sosial Korban Badai Siklon Seroja Banjir Bandang di Pulau Adonara dan Lembata, KRI Tanjung Kambani-971 kembali tiba di Pelabuhan Laut Larantuka Kelurahan Postoh Kecamatan Larantuka Kabupaten Flores Timur, Propinsi NTT, Senin (19/4) pukul 11.55. WITA.
KRI Tanjung Kambani –
971 yang dikomandani oleh Letkol Laut (P) Tri Hidayat,S.Sos. MPM., beserta 11 (sebelas) orang Perwira dan 125 (seratus dua puluh lima) orang
Prajurit.
Turut menyambut di Pelabuhan Larantuka, Komandan Lanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga Pariyadi, M. Tr. Hanla, M.M., CTMP., Dandim 1604/Flotim diwakili Kasiops Kapten Weking, Kapolres Flotim diwakili Kasat Tahpi Iptu Atam, Dankal Balibo Lettu Laut (P) Malik Setia Budi, Syahbandar Larantuka Bpk. Sailudin Umar, Kasi Pemanfaat Logistik Kemensos RI Bpk. Muhammad Delmi, Danposmat Flotim Serka Kom Bayu Primanto serta Tim Satgas Bencana Pulau Adonara dan Lembata dari Lanal Maumere dan Yonmarhanlan VII Kupang.
Komandan Lanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga Pariyadi, M.Tr.
Hanla, M.M., CTMP mengatakan KRI Tanjung Kambani – 971 membawa berbagai macam
bantuan logistik dari Jakarta dan Surabaya dalam rangka menyalurkan bantuan
untuk korban bencana di pulau Adonara Kab. Flores Timur, serta merupakan kapal
ke-5 (lima) yang dikerahkan TNI-AL untuk mengangkut bantuan ke daerah bencana
NTT.
Bantuan terdiri dari berbagai macam kebutuhan hidup sehari hari seperti, beras, mie instan, air mineral kemasan, pakaian layak pakai, makanan bayi, tenda, selimut, alat mandi, perlengkapan ibadah, obat-obatan, masker, ada pula 1 (satu) Unit Excavator dari Kementerian Sosial Republik Indonesia yang diwakili Bapak Muhammad Delmi untuk Kab. Flotim .
Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Komandan KRI KBI-971 kepada Bupati Flores Timur selaku Dansatgas Bencana Alam di daerahnya disaksikan oleh Komandan Lanal Maumere, untuk selanjutnya disalurkan kepada para Korban Terdampak Bencana Alam Banjir Bandang dan Tanah Longsor di Kab. Flotim serta Kab. Lembata.
“Lanal Maumere memiliki tugas mengawal bantuan bencana alam
agar sampai di daerah sasaran dengan baik, disamping itu, Pulau Adonara dan
Pulau Lembata merupakan wilayah kerja Lanal Maumere, dimana di Flotim terdapat
Posmat dan di Lembata terdapat Posal.
Keberadaan Posal maupun Posmat ini merupakan perpanjangan tugas organisasi TNI Angkatan Laut di daerah dalam rangka Pemberdayaan wilayah Pertahanan Laut” ujar Komandan Lanal Maumere. (Penlanalmaumere/Atick)
BORONG – Jarum jam menunjukkan 09.05 Wita, Camat Kota Komba,
Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Ibu Regina Malon memperoleh
informasi dari stafnya bahwa sebanyak 46 siswa dan siswi SMP Satu Atap (SATAP)
Munde, Desa Komba melaksanakan Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) di
semak-semak di kebun milik warga setempat di lereng bukit di tikungan Siku Ara,
Desa Komba, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, Rabu,
(14/4/2021).
Lalu dari ruang kerjanya, Ibu Camat mengatakan ayo kita ke
sana. Ayo kita ke sana. Kita memantau lokasi USBD tersebut. Kemudian kendaraan
dinasnya dihidupkan oleh Pak Feliks Bensa melaju ke arah barat dari Kantor
Kecamatan tersebut.
Ibu Camat dikawal dua anggota Satuan Polisi Pamong Praja
(Satpol PP), Robertus Jawa dan Moses N Rodja. Di dalam kendaraan itu ada tiga
wartawan termasuk KOMPAS.com. kurang lebih 10 menit, rombongan tiba di lokasi
ujian tersebut.
Dari bawah jalan terlihat 46 anak-anak sekolah dari SMP Satu
Atap Munde duduk diatas batu, tanah sambil memegang handphone untuk mengerjakan
soal ujian.
Ibu Camat naik ke lokasi ujian tersebut. Disambut kepala
sekolah, Robertus Jani, guru-guru sedang mengawasi jalannya ujian tersebut.
Ibu Camat menyapa siswa dan siswi guru-guru dengan ucapan
selamat pagi. Disambut gembira oleh guru dan siswa, siswi dengan ucapan selamat
pagi Ibu Camat.
Camat Malon memberikan motivasi kepada siswa,siswi, guru-guru
dengan menyampaikan apapun kendala yang dihadapi terkait susah sinyal tidak
mengurangi semangat untuk mengerjakan ujian lewat handphone.
“Anak-anak tetap semangat walaupun melaksanakan USBD di
ruang terbuka seperti di bukit tikungan Siku Ara,” jelasnya.
Camat Malon mengucapkan terima kasih kepada Kepala Sekolah, guru-guru yang memiliki semangat juang untuk melancarkan USBD walaupun di tengah tantangan susah sinyal di sekolah.
“Pagi ini saya bawa tamu 3 wartawan untuk meliput USBD
di ruang terbuka di beberapa sekolah. Diantaranya, SMPN 04 Kota Komba, Desa
Gunung yang melaksanakan USBD di Bukit Wokonggoro. Setelah ini kami meninjau
USBD di tenda biru dibawah rumpun Bambu Betong Torok dari SMP Satu Atap (SATAP)
Mesi, Desa Rana Kolong. Kemarin, Selasa, (13/4/2021) saya bersama Kepala Dinas
Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto
meninjau USBD SMPN 04 Kota Komba di Bukit Wokonggoro dibawah tenda biru campur
orange,” jelasnya.
Kepala SMP Satu Atap (SATAP) Munde, Robertus Jani kepada
wartawan di lokasi USBD Tikungan Siku Ara menjelaskan, hari pertama dan kedua
masih dilaksanakan USBD di ruang kelas di SMP tersebut.
“Selasa malam, (13/4/2021) sinyal sangat susah untuk
mengakses internet. Pagi Rabu, (14/4/2021) saat berada di sekolah dan mau siap
ujian, akses internet susah. Saya bersama guru mengambil keputusan cepat
mencari lokasi sinyal. Kami memilih tempat di Tikungan Siku Ara untuk sinyal
dari Waelengga dan Aimere. Sekolah sewa mobil pick up dua buah untuk mengangkut
46 anak-anak.jarak dari sekolah ke tikungan ini 3 kilometer.
Peserta ujian tampak santai mengerjakan soal-soal di bawah
tempat teduh. Meski duduk bergerombol, mereka tetap menaati prokes COVID-19
seperti menjaga jarak dan memakai masker.
Mengerjakan ujian di atas rerumputan,semak-semak memang
menemui banyak gangguan, antara lain peserta ujian selalu di gigit semut. Yang
cukup menjengkelkan, misalnya ketika sedang mengerjakan ujian tiba-tiba baterai
handphone mati.
Guru-guru pendamping memang sigap menolong peserta ujian yang
mengalami kesulitan. Mereka meminjamkan handphone kepada siswa siswi yang
handphone-nya mati mendadak.
Seperti yang dialami Tian, siswa kelas IX A Satu Atap (SATAP)
Munde ini handphonenya sempat mati, hingga akhirnya ada guru meminjamkan
Handphone kepadanya. Tapi sayangnya, Tian harus kembali mengerjakan soal dari
awal.
“Saya sempat pusing pak, tadi itu handphone saya mati
karena lowbat padahal saya sudah mengerjakan soal nomor 30, itu mau selesai
tiba-tiba handphone mati. Lalu ada guru yang bantu, dia pinjamkan handphone-nya
ke saya, saya nyaris putus asa karena harus login lagi dan kerja soal dari awal
lagi,” jelas Tian.
Terpisah Siswi SMP Satu Atap (SATAP), Ermelinda Febriliadi
Selvi Putri menjelaskan, mengikuti ujian hari ketiga ini dilaksanakan di
semak-semak di bukit di Tikungan Siku Ara. Duduk di tanah, di atas batu kecil
serta di sela-sela pohon jati yang sejuk. Udara segar. Lokasinya teduh. Namun,
sesekali agak terganggu dengan bunyi kendaraan yang melintasi jalan Trans
Flores.
“Saya bersyukur bisa mengerjakan soal ujian di handphone
walaupun berada di ruang terbuka. Saya tidak membayangkan sebelumnya bahwa
melaksanakan ujian hari ketiga di ruang terbuka. Harapan saya, semoga hanya
kali ini saja melaksanakan ujian di ruang terbuka,” jelasnya.
Terpisah Kepala SMP SATU ATAP (Satap) Mesi, Desa Rana Kolong,
Baltazar Rana menjelaskan, sekolahnya membangun tenda biru di bawah rumpun
bambu Betok Torok. Jaraknya 4 kilometer dari sekolah yang berada di kampung
Mesi.
Baltazar menjelaskan, 56 siswa dan siswi melaksanakan USBD
didalam tenda biru dibawah rumpun Bambu. Tempat ini dikisahkan sangat mistis.
Untuk itu sebelum ujian hari pertama dilaksanakan ritual adat oleh tetua adat
setempat dengan nama ritual Tei Ghan Embo (beri sesajian kepada leluhur).
Baltazar mendapatkan informasi dari tetua adat setempat bahwa
rumpun Bambu ini dinamakan Betong Torok. Betong artinya bambu besar, dan torok
artinya bersujud. Jadi jikalau diterjemahkan secara harfiah, bambu bersujud.
“Rumpun Betong Torok dilarang ditebang. Bambu kering
yang jatuh ke tanah juga tidak diambil masyarakat setempat. Tempat ini sangat
mistis dan memiliki sejarah masa lalu,” jelasnya.
Baltazar menjelaskan, hingga hari ketiga USBD berjalan
lancar. Sinyal dari tower Aimere tidak ada gangguan.
“Saya dan guru pernah mencoba di sekitar sekolah naik ke
pohon untuk mencari sinyal. Namun, sinyalnya tidak bisa ditangkap. Letak
sekolah ini memang ada di lembah di Kampung Mesi,” jelasnya.
Data yang dihimpun menunjukkan bahwa dari 16 SMP yang
melaksanakan USBD, tujuh diantaranya melaksanakan di ruang terbuka dan memakai
gedung sekolah dasar. Seperti SMPN 09 Nangarawa memakai gedung sekolah dasar di
Kisol. Jarak dari Nanga Rawa ke Kisol 6 kilometer, SMP SATU ATAP (Satap) Bonggirita
memakai gedung Sekolah SDK Waelengga, SMPN 04 Kota Komba melaksanakan USBD di
Bukit Wokonggoro, SMP SATU ATAP (satap) Mesi di bawah rumpun bambu, SMPN 02
Kota Komba di Mok di ruang terbuka di sekitar sekolah tersebut. Sementara itu
SMP SATU ATAP (satap) Munde dihari ketiga melaksanakan USBD di Tikungan Siku
Ara dan SMPK Rosa Mistika Waerana terpaksa melaksanakan USBD di Pinggir Pantai
Mbolata karena sinyal di sekolah tidak bagus.
Tantangan di Era
Digital di Tengah Wabah Covid19
Tantangan dunia pendidikan mengikuti perkembangan teknologi
yang semakin canggih mengejutkan semua lembaga pendidikan yang belum memiliki
sarana jaringan internet yang memadai di pelosok-pelosok Nusantara, khususnya
di Manggarai Timur.
Keterbatasan jaringan internet tidak mengurangi semangat
guru-guru untuk menyiapkan generasi cerdas di tengah perkembangan zaman yang
terus berubah dengan kecanggihan teknologi.
Sejumlah Kepala Sekolah, Guru, pengurus komite sekolah, orang tua murid dan anak sekolah bahu membahu mencari lokasi sinyal, baik di bukit maupun di lereng-lereng bukit, bahkan meminjam gedung sekolah dasar untuk tempat ujian online.
Tuntutan regulasi dengan Ujian sekolah berbasis digital
(USBD) membuat lembaga pendidikan berjuang keras untuk mencari sinyal agar ujian
berjalan lancar dan sukses.
Salah satu Guru SMP Satu Atap (SATAP) Munde, Yohanes Arianto
Anggal menceritakan bahwa mencari sinyal di lereng bukit tikungan Siku Ara pada
Rabu, (14/4/2021).
Awalnya, Cerita Anggal, pagi Rabu, sejumlah guru dibagi untuk
mencari sinyal di bagian barat dan timur. Di bagian barat susah juga sinyal,
sementara di bukit itu sinyal lancar dengan jaringan 4G. Lalu sejumlah guru itu
melaporkan bahwa sinyal bagus di lereng bukit tersebut. Kemudian Kepala
Sekolah, Robertus Jani bersama guru memutuskan mencari dua mobil pick up untuk
mengangkut 46 siswa dan siswi agar melaksanakan USBD di lokasi itu.
“Jadi USBD selama dua hari, Rabu, (14/4/2021) dan Kamis,
(15/4/2021) melaksanakan USBD di lereng bukit tersebut. Bersyukur ujian online
berjalan lancar. Kami terima kasih kepada Camat Kota Komba, Ibu Regina Malon
dan wartawan yang mempublikasikan peristiwa ujian di lereng bukit dan
bukit-bukit di Kecamatan Kota Komba,” jelasnya.
************
Penulis adalah wartawan tinggal di kompleks Mabako,
Waelengga, Manggarai Timur, NTT.
Maumere Berandanegeri.com – Anggota DPR/MPR RI dari Fraksi
PDI Perjuangan Yohanis Fransiskus Ansi
Lema menggelar sosialisasi Empat
Pilar Kebangsaan di Universitas Nusa Nipa Indonesia.
Sosialiasi Empat Pilar Kebanggsaan dilakukan secara virtual bertempat di meeting room gedung Sapientia, Universitas
Nusa Nipa Indonesia Maumere, Kabupaten Sikka, Propinsi NTT, Jumad 16 April
2021 dengan moderator Hendrikus Darwin Beja,S.P.,M.Si yang juga
sebagai Kaprodi Agroteknologi.
Kegiatan sosialisasi ini merupakan kerjasama antara Fakultas pertanian Universitas Nusa Nipa bersama anggota DPR /MPRI RI Fraksi PDI Perjuangan Yohanis Fransiskus Lema, S.IP. M.Si Komisi IV yang membidangi Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kelautan, Perikanan, Kehutanan dan Lingkunganan Hidup.
Turut hadir Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Nusa Nipa Drs.
Sabinus Nabu, Rektor UNIPA Indonesia Dr. Ir. Angelinus Vincentius, M.Si, Dekan Fakultas Pertanian Julianus Jeksen,
S.P.,MP, Kaprodi, para dosen dan mahasiswa/wi
Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Nusa Nipa Drs. Sabinus Nabu
dalam kesempatan itu mengatakan dengan kehadiran anggota DPR Yohanis Fransiskus
Lema, S.IP. M.Si melalui virtual ini
bisa memotivasi mahasiswa-mahasiswi tentang makna empat pilar kebanggsaan dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara
“Selain itu kami berharap untuk membantu mempercepat upaya
proses penegrian Universitas Nusa Nipa sehingga bisa terwujud
kedepannya,,”kata Sabinus Nabu.
Sabinus Nabu menyebutkan
di Fakultas Pertanian ada dua program studi Agroteknologi dan
Agrobisnis, kami berharap dengan jejaring yang ada di kementerian pertanian
sehingga bisa membantu dalam memenuhi
fasilitas yang masih kurang seperti traktor dan lain-lain yang bisa menunjang kerja civitas akademika
Fakultas Pertanian Universitas Nusa Nipa Indonesia.
Rektor Unipa Indonesia Dr. Ir. Angelinus Vincentius, M.Si
menyampaikan apresiasi atas kehadiran anggota DPR Yohanis Fransiskus Lema,
S.IP. M.Si dalam sosialisasi empat pilar kebanggsaan secara virtual. Dilain
pihak menarik sekali singkatan yang disematkan dan akan diperjuangkan bagi NTT yaitu soal Nelayan, Tani dan Ternak.
“Diera digital sekarang ini, masyarakat dengan mudah
melihat sepak terjang setiap aktivitas yang diperjuangkan terutama di bidang pertanian, peternakan,
perikanan,” terangnya.
Menurutnya tugas-tugas bapak sejalan dengan visi UNIPA untuk
mengembangkan kawasan kepulauan flores sebagai satu kesatuan, dimana bidang
pertanian dalam arti luas merupakan prime
mover yang akan mendorong kemajuan dibidang lainya.
Lanjutnya saat ini
UNIPA juga merencanakan penelitian mengenai peran, fungsi bendungan Napun Gete
untuk pertanian yang bermanfaat bagi kebutuhan air minum, pengairan, pertanian,
perikanan dan pengembangan ekonomi kawasan.
Anggota MPR/DPR RI Yohanis Fransiskus Lema, S.IP. M.Si memaparkan materi dengan judul “Pancasila
dalam Tindakan Bangkit dari Pandemi Covid-19”,
dilain pihak di tengah bencana banjir di NTT ini, kita tidak boleh menyerah atau putus asah, justru menjadi cambuk kita bersama untuk bergotong
royong, saling mengulurkan tangan,
Yohanis Ansi Lema memaparkan
4 konsensus dasar yaitu Pancasila,
UUD 1945, NKRI, Pancasila dan hBineka Tunggal Ika. Pilar pertama Pancasila sebagai dasar atau ideologi yang
mempersatukan bangsa, Pancasila digali dari nilai-nilai dasar senusantara, Pancasila
juga sumber dari segalah sumber, dalam hirarki ketatanegaraan Pancasila menempati urutan pertama sebagai
jati diri menjadi karakter bangsa oleh kerena itu Pancasila tidak boleh diganti dengan ideologi
manapun.
Republik Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama ras,
tentunya menyatukan perbedaan ini bukan tanpa resiko atau tanpa usaha,
perbedaan harus merekatkan kita bukan meretakkan kita. Untuk merekatkan
Indonesia dengan berbagai perbedaan
tersebut, kita hanya butuh satu nilai
dasar yaitu Pancasila.
Pilar kedua kehidupan berbangsa dan bernegara bagi bangsa
Indonesia adalah Undang-Undang Dasar
1945. Untuk dipahami bersama, diperlukan terlebih dahulu makna UUD untuk
kehidupan berbangsa, bernegara dan prinsip-prinsip yang terkandung dalam
Pembukaan UUD 1945
Pilar ketiga adalah Bhinneka
Tunggal Ika merupakan semboyan yang pertama kali diungkap oleh Mpu Tantular
seorang pujangga agung Kerajaan Majapahit yang hidup pada masa pemerintahan
Raja Hayam Wuruk.
Semboyan atau sesanti dalam kakawin Sutasoma yang berbunyi “Bhinna ika tunggal ika, tan hana dharma
mangrwa, yang artinya “Berbeda-beda itu satu, satu itu tak ada pengabdian
yang mendua.
Sedangkan, pilar ke empat Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) merupakan bentuk negara tempat kita berada yaitu kesatuan.
”Selain menjaga eksistensi 4 pilar kebanggsaan, Yohanis Ansi Lema juga mengatakan selama menjadi anggota DPR RI, ia selalu siap memperjuangkan hak-hak rakyat dari NTT terutama dibidang Pertanian, Peternakan, Perikanan.
“Apa yang
disampaikan oleh segenap keluarga besar UNIPA terkait dengan upaya penegrian UNIPA dan juga dukungan dalam
sektor Pertanian, Perikanan, Kelautan akan saya
perjuangkan melalui mitra kami dikementerian-kementerian,”ujarnya.
Dekan Fakultas Pertanian Julianus Jeksen,S.P.,MP
Mengungkapkan Fakultas Pertanian dalam
implementasi tridharma perguruan tinggi yaitu dharma pengabdian kepada
masyarakat maka senantiasa bekerja sama
dengan kelompok-kelompok tani di pedesaan, demi ikut membangun sektor pertanian
di kabupaten Sikka
“Hal ini
membutuhkan dukungan penuh semua pihak diantaranya bapak anggota DPR
RI Yohanis Fransiskus Lema, S.IP.
M.Si,”tandasnya. (Atic)
Maumere Berandanegeri.com – Bantuan untuk korban bencana
banjir yang melanda wilayah Adonara di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata beberapa waktu lalu terus
berdatangan. Kali ini bantuan datang dari Komunitas Kracker Mof.
Dari swadaya anggota dan open donasi yang dilakukan komunitas ini berhasil terkumpul uang sejumlah Rp. 30-an juta, dan semuanya dibelanjakan dalam bentuk kebutuahan sembako untuk didistribusikan bagi korban bencana di Adonara dan Lembata.
Ketua Komunitas Kracker Mof, Syahbudin Bmboka, kepada media
ini, Jumat (16/04/2021) mengatakan bantuan ini merupakan wujud kepedulian
komunitas Kracker Mof terhadap situasi
dan kondisi masyarakat yang sedang mengalami musibah.
Dikatakannya donasi yang dihimpun tidak hanya berasal dari
anggota Kracker Mof, tetapi juga berasal dari komunitas pecinta sepeda motor
dari wilayah lain.
“Komunitas Kracker Mof
yang beranggotakan 11 orang
yang aktif di komunitas motor, masing-masing berprofesi sebagai anggota polisi, karyawan bank,
PDAM, pengusaha, kontrakor, guru dan komunitas pencinta sepeda motor lain juga
tidak mau ketinggalan membantu meringankan warga yang terdampak bencana banjir
di Adonara dan Lembata”, “ujar ajudan Kapolres Sikka.
Bantuan yang akan
didistribusikan antara lain: 2,5 ton beras dalam kemasan 5 kg, air mineral
kemasan 50 dos, minyak goreng goreng 10 dos, 100 kg gula pasir, mie instan 50
dos, pampers bayi 10 dos, aneka minuman sereal, bumbu masak, minyak gosok,
bedak bayi dan perlengkapan mandi serta pakaian bekas layak pakai.
Dikatakan Syahbudin, bantuan ini akan didistribusikan
langsung oleh Komunitas Kracker Mof kepada korban, Sabtu (17/4/2021).
“Ada tiga pick up yang kita siapkan untuk mendistribusikan
bantuan ini ke Adonara dan Lembata, dan akan di kawal dengan motor trail dari
komunitas. Selain itu kita akan berkoordinasi dengan pihak terkait di dua
wilayah tersebut,” jelasnya.
Atas nama Komunitas Kracker Mof, Syahbudin menyampaikan terima kasih atas partisipasi dari semua pihak atas kepeduliannya kepada keluarga korban yang disalurkan melalui Komunitas. (Atic)
Maumere Berandanegeri.com – Dalam pendistribusian bantuan kemanusiaan untuk korban banjir bandang di pulau Adonara Kabupaten Flores Timur KRI SEMARANG (SMR) 594 yang sandar didermaga Lewoleba NTT mengerahkan dua Landing Craft Utility (LCU) pada Rabu (14/4).
LCU dikerahkan mengingat keterbatasan dermaga sebagai
fasilitas sandar yang belum memadai untuk seukuran KRI SMR 594. Untuk itu
dikerahkan 2 unit LCU ke Adonara tepatnya di dermaga Deri Kecamatan Ile Boleng
Kabupaten Flores Timur.
Sebelum bantuan didistribusikan ke lokasi banjir bandang Adonara Komandan Lanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga Pariyadi M.Tr. Hania, M.M. CTMP yang didampingi oleh Pelaksana KRI 594 Mayor Laut (P) Salam, menyerahkan paket bantuan secara simbolis kepada bupati Flores Timur Hubertus Gege Hadjon.
Bantuan kemudia diangkut oleh LCU-1 SMR 459 dan LCU-2
dipindahkan ke dalam kendaran truk menuju desa Nelelamadike, Kecamatan Ile Boleng sebagai posko utama
banjir bandang dan selanjutnya didistribusikan ke kecamatan Adonara Timur untuk
korban banjir bandang di Desa Waiburak-Waiwerang dan Kecamatan Adonara Barat,
Desa Oyang Barang.
Prajurit Lanal Maumere bersama prajurit Marinir Yon Marhanlat Vll beserta prajurit KRI SMR 594 turut saling membantu memindahkan bantuan paket sembako dan dua LCU SMR 1 dan 2 ke kendaraan truk didermaga ASDP Deri Kecamatan Ile Boleng Kabupaten Flores Timur. (Atic)
DI
ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, sebuah dusun di Flores Barat
mencoba mengingat.
Di
Desa Wae Rebo itu, orang membangun kembali rumah adat mereka yang berbentuk
kerucut—setelah entah berapa lama hanya empat yang tertinggal dari tujuh yang
pernah berdiri, setelah pohon kayu worok tak mudah lagi didapat untuk bahan
tiang utama, setelah sawah ladang tak cukup bisa membuat surplus. Generasi
silih berganti selama 1.000 tahun; mereka membentuk sejarah, dibentuk sejarah.
Kebutuhan baru datang, dan desa didefinisikan oleh kekurangan yang dulu tak
ada. Pada abad ke-21, ingatan tak lagi berwibawa: hanya sebuah gudang berisikan
hal-hal yang aus.
Waktu
memang bukan teman untuk Wae Rebo—sebagai nama yang dicoba disimpan dalam
ingatan dan dilambangkan oleh rumah adat. Waktu bukan teman bagi banyak dusun
tua lain di Indonesia, di mana rumah pernah memiliki ”kosmisitas”, di mana
(jika saya tafsirkan pengertian Bachelard ini) orang bisa merasakan getar dari
tiang yang menjulang, seakan-akan tiap saat bumi menjangkau yang kosmis.
Kita,
hidup di kota yang makin padat, mungkin bahkan tak lagi sempat mempedulikan
yang kosmis nun di atas. Yang vertikal di tempat tinggal dan tempat kerja kini
dilambangkan oleh bangunan bertingkat yang tiap lantai bisa didatangi dengan
lift. Ia jadi sesuatu yang horizontal. Tubuh kita tak mendaki.
Berbeda
dengan nenek moyang orang Wae Rebo, kita tak berteman dengan ruang. Penghuni
Wae Rebo yang hidup di antara gunung itu menyadari mereka bagian dari tamasya
yang lebih luas ketimbang dusun. Sementara itu, di Jakarta, para pembangun
rumah susun memaksa ruang atau dipaksa ruang; konstruksi mereka lahir dari
impuls geometris.
Impuls
ini—”geometrisme”, kata Bachelard—menggariskan batas yang lurus-kaku, dan
dengan itu memisahkan apa yang di luar dan di dalam. Di hampir semua segi
kehidupan, ruang terbuka dianggap serasa ancaman, karena akan datang yang ajaib
dan tak dapat dikalkulasi. Manusia tak takut klaustrofobia; mereka
menanggungkan agorafobia.
Tapi
barangkali akan berlebihan bila kita terus-menerus mengeluhkan kota-kota zaman
ini dan menyesali modernitas. Modernitas, yang memacu dan dipacu waktu,
mendorong X, Y, Z ke masa lalu, dan kemudian mengubah semua itu jadi nostalgia.
Namun nostalgia justru menunjukkan bahwa kita terpaut pada masa kini: kita
memandang X, Y, Z dari posisi manusia masa sekarang yang sedang takut kepada
lupa.
Maka
nostalgia adalah ingatan yang memperindah ingatan. Sebab itu kita tak perlu
mencemoohnya: ia bagian yang memperkaya hidup kita sekarang, karena mengakui
ada dari masa silam yang begitu penting, begitu bagus, dan kita ingin tahu.
Maka jika sejumlah arsitek muda dari Jakarta pada suatu hari di tahun 2009 berjalan berjam-jam mendaki ke Dusun Wae Rebo, dan di sana mengagumi konstruksi rumah adat itu, jika mereka kemudian membentuk sebuah yayasan buat menghidupkan lagi kepiawaian arsitektural di pelosok-pelosok Indonesia, jika kemudian ada dermawan yang membiayai usaha untuk mensyukuri tanah air dengan cara yang kreatif itu—itu semua menunjukkan bahwa nostalgia itu adalah bagian dari pencarian hal-hal yang baru dan berbeda. Buku yang kemudian mereka terbitkan, Pesan dari Wae Rebo (editor Yori Antar, terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2010) adalah rekaman semua itu.
Rasa
ingin tahu itu sebenarnya mengandung kritik. Di situ ia sebenarnya bagian dari
modernitas, yang tak mau hanya menerima apa yang ada. Dan modernitas bergerak
karena kritik itu juga tak jarang ia tujukan ke dalam dirinya sendiri.
Salah
satu otokritik yang terkenal menunjuk kepada ketakmampuan kita untuk merasakan
tempat kita tinggal sebagai bagian dari Hidup yang tiap kali membuat takjub.
Kini kita kehilangan pesona dunia: harum kembang, suara burung, warna fajar,
telah jadi ”pengetahuan”. Rumah telah jadi kamar persegi panjang.
Heidegger,
yang dengan suara berat melakukan otokritik kepada abad ke-20, mengingatkan
kita akan makna kata bauen. Baginya,
makna kata itu bukan saja mengacu kepada ”membangun”, tapi juga hidup di bawah
langit, hidup di antara semua yang fana, tapi juga bagian dari apa yang
tumbuh—baik karena benih sendiri atau diolah jadi kebudayaan.
Tapi
di mana kini kita bisa bicara seperti itu? Ini abad ke-21. Otokritik itu juga
perlu kritik. Manusia tak lagi, untuk menggunakan kalimat penyair Hölderlin di
Jerman abad ke-18, ”berdiam secara puitis” (dichterisch
wohnet der Mensch). Di kota-kota Indonesia yang padat, manusia berhubungan
dengan ruang hidupnya sebagai prosa dengan angka-angka di akta tanah.
Tapi
tak hanya itu. ”Berdiam secara puitis” agaknya hanya bisa diutarakan oleh mereka
yang punya rumah yang sejuk dan tenang, mungkin bahkan dengan hutan dan sungai
di dekatnya. Tak semua orang punya privilese itu. Kuli bangunan yang menginap
dari tempat ke tempat, para pemulung yang membuat kereta-kotak jadi kamar
tinggal mereka yang bisa diparkir di mana saja, punya pengertian lain tentang
”rumah”.
Pada
akhirnya, rumah adalah respons kepada kebutuhan tubuh, yang berkembang jadi
rencana dan imajinasi. Ingatan tentang rumah masa lalu hanya penting jika ia
bagian dari respons itu. Di situlah rumah adat dan rumah darurat punya titik
temunya. Bukan dalam bentuk, tapi dalam kreativitas: kemampuan menemukan cara
yang pas, di suatu masa, di suatu tempat, di sebuah kondisi berkelebihan dan
berkekurangan.
Maka
kita akan dapat sesuatu yang berharga jika dari Desa Wae Rebo kita temukan
sesuatu yang baru di dalam bentuk fisik yang tampak lama. Kita mengingat, tapi
kita tak mengulangi. Sejarah tak bisa diulangi. Sejarah berubah. Antara lain
melalui kreasi.
—– Sumber Majalah Tempo Edisi Senin, 28 Juni 2010 —–
BUKIT Wokonggoro di Kampung Gurung, Desa Gunung, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur menjadi cerita kehidupan bagi 47 siswa dan siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri 04 Kota Komba di masa depan.
Mengapa bukit itu menjadi cerita perjuangan bagi generasi penerus Bangsa Indonesia, bagi Manggarai Timur, bagi Nusa Tenggara Timur dan bagi Desa Gunung dan beberapa desa tetangga?
Mari ikuti ceritanya. Saya coba menarasikan sesuai apa yang saya amati di bukit itu saat 47 siswa dan siswi, Senin, (12/4/2021).
Minggu malam, (11/4/2021), saya kontak Kepala Sekolah SMPN 04 Kota Komba, Fidelis Ambon. Saya ingin memperoleh informasi, apakah bukit Wokonggoro tetap dijadikan tempat untuk pelaksanaan Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) 2021. Saya memperoleh jawaban iya, lalu saya memutuskan bahwa esok pagi, Senin, (12/4/2021) saya mau meliput USBD di bukit tersebut. Jawaban dari Kepala Sekolah, “terima kasih. Kami tunggu di bukit itu.
Saya bangun pagi Senin, (12/4/2021) jam 06.30 Wita. Sarapan pagi sudah disiapkan oleh istri saya. Ada minuman kopi pahit, kopi pait. Minuman kopi tanpa gula. Ini budaya minum kopi orang Manggarai Timur.
Selesai sarapan, saya mandi. Memakai baju serta mempersiapkan alat kerja. Saya pinjam motor tetangga. Tak lama sesudah itu saya bergegas menuju ke tempat ujian tersebut. Kurang lebih 45 menit menempuh perjalanan dari Kompleks Mabakou, Waelengga ke bukit tersebut. Saya berangkat sekitar jam 07.20 Wita.
Dari Waelengga, saya bergegas ke arah timur, melewati kampung Padarambu, Kampung Baru, Kali Waekoe, Kampung Marokima, Padang Savana Teleng.
Saya menikmati pemandangan yang indah sepanjang padang Savana Teleng. Saya menikmati suara merdu burung yang saling menyapa diantara mereka (baca burung) di kiri kanan jalan. Burung saja bisa saling menyala, saya membatin dalam perjalanan tersebut.
Setiba di Kampung Gurung, saya belok kanan di jalan rabat beton sampai di pintu gerbang sekolah. Saya berhenti di depan pintu gerbang.
Saya tidak tahu lokasi bukit tersebut. Lagi-lagi saya kontak Kepala Sekolah, bersyukur ada nada dering dan dia menyahutnya lewat sambungan kabel lunak di mobile phone. Saya tanya dimana lokasinya sebab saya sudah berada di depan pintu gerbang sekolah.
Lalu Kepala Sekolah memberikan petunjuk bahwa dari gerbang sekolah belok kiri di jalan tanah menuju ke puncak bukit. Bisa dengan motor. Sebelumnya saya dapat informasi bahwa lokasi ujiannya di bawah tenda darurat. Nah, saat di gerbang sekolah lihat ada tenda di bagian timur dari sekolah tersebut. Dalam hati saya mengungkapkan bahwa lokasi ujian ada di bawah tenda tersebut.
Perlahan-lahan, laju kendaraan roda dua melintasi jalan tanah tersebut. Saya laju terus tetapi belum dapat lokasi ujian tersebut. Lalu saya kembali ke bawah dan belok kiri di jalan tikus menuju ke tenda warna hijau. Saya parkir motor. Lalu jalan kaki menurun. Saya lihat di tenda itu tidak ada tanda-tanda bahwa anak sekolah yang sedang ujian.
Kemudian mata saya tertuju ke atas bukit dengan melihat tenda darurat warna biru. Lalu saya lihat anak sekolah dengan pakaian seragam putih hitam. Akhirnya saya balik lagi ke jalan raya. Mengendarai lagi sepeda motor ke arah bukit tersebut.
Perjuangan saya untuk menemukan bukit itu terwujud. Dari bawah jalan, saya melihat tenda darurat warna biru campur orange di bukit tersebut.
Saya parkir motor di tempat yang baik. Kemudian saya jalan kaki. Dari jauh saya melihat senyum kepala sekolah. Saya naik tangga darurat. Saya dipersilahkan duduk di kursi yang sudah disediakan. Ada satu meja dan 4 kursi. Saya tetap taat protokol kesehatan dengan memakai masker. Kami tidak salaman seperti biasanya. Kepalan tangan saling bersentuhan saja.
Dua kursi sudah ditempati Kepala Sekolah dan Ketua Komite SMPN 04 Kota Komba, Hilarius Asa. Kepala Sekolah dengan ramah menyapa saya dengan ucapan selamat pagi. Saya juga menjawabnya dengan selamat pagi.
Tak lama kemudian, saya minta ijin di kepala sekolah untuk mengabadi saat 47 anak sedang mengerjakan soal di handphone. Saya lihat anak-anak serius mengerjakan soal di handphone. Dua tangan anak-anak memegang handphone sambil mengerjakan soal ujian. Saya foto dan videokan peristiwa unik, langka tersebut.
Kemudian saya kembali duduk kursi. Selang beberapa menit, Ketua Panitia USBD SMPN 04, Yohanes Baeng duduk dan menyapa saya dengan ucapan yang sama, “selamat pagi”
USBD sebagai Tantangan dan Cerita Kehidupan di tengah Covid19
Kepala Sekolah SMPN 04, Fidelis Ambon mengisahkan bahwa Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) adalah sebuah tantangan di era digital sekaligus cerita kehidupan bagi lembaga pendidikan dan anak didiknya di masa akan datang.
USBD kali ini angkatan ke 11. Sekolah ini didirikan 2008 lalu. Sebelumnya dilaksanakan ujian secara manual. Tahun ini ditengah pandemi covid19, ujian menggunakan sarana digital.
Fidelis mengatakan, sekolah menyesuaikan diri dengan ujian berbasis digital. Berpikir. Berupaya dengan mencari lokasi sinyal yang daya tangkap jaringan 4G sangat kuat.
Ditengah kesulitan susah sinyal ditambahkan situasi wabah Covid19, sekolah terus mengikuti semua petunjuk dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga agar tetap melaksanakan USBD dan juga taat dengan protokol kesehatan.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, Olahraga (PPO) Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto didampingi Camat Kota Komba, Ibu Regina Malon meninjau lokasi USBD SMPN 04 Kota Komba di bukit Wokonggoro, Desa Gunung, Selasa, (13/4/2021). (BERANDANEGERI.com/Markus Makur).
Lokasi Bukit Wokonggoro, lanjut Fidelis, menjadi cerita sepanjang masa, baik oleh siswa dan siswi yang tamat tahun ini maupun oleh lembaga pendidikan SMPN 04 Kota Komba. Sebelumnya tak terbayangkan melaksanakan ujian di ruang terbuka di bukit.
“Kerja keras. Upaya tak kenal lelah dengan mencoba, mencari dan menangkap jaringan internet di bukit itu membuahkan hasil. Jaringan sinyal di bukit itu bersumber dari BTS di Kabupaten Ngada. Try out berhasil. Dan dua hari USBD juga berjalan lancar. Diharapkan USBD sampai Kamis, (15/4/2021) berjalan dengan lancar,” jelasnya.
Ketua Panitia USBD SMPN 04 Kota Komba, Yohanes Baeng menjelaskan, tuntutan di era digital dan regulasi memerintahkan ujian berbasis jaringan internet di tengah pandemi Covid19 membuat sekolah berpikir, berdiskusi untuk mencari dan menemukan solusinya. Antara regulasi dan kendala sekolah yang belum tersambung jaringan internet, listrik membuat Kepala Sekolah, guru, dan orang tua murid berjuang keras dengan berbagai upaya agar siswa dan siswi kelas III dapat melaksanakan USBD April 2021 ini.
Baeng menjelaskan, lembaga pendidikan memberikan tanggung jawab kepadanya sebagai Ketua Panitia USBD 2021. Tanggung jawab dan kepercayaan ini dilaksanakannya sepenuh hati dengan melibatkan semua guru. Saat uji coba (Try out) Maret 2021, mereka mencari sinyal di bukit Wokonggoro dengan membawa laptop. Alhasilnya, jaringan internet 4G sangat kuat di bukit. Sekolah memutuskan bahwa bukit ini menjadi tempat uji coba USBD dan pelaksanaan USBD April 2021 ini. Mereka melibatkan orang tua murid, guru dan anak sekolah untuk membangun tenda dengan ukuran 7×11 meter. Tenda ini dibagi dalam tiga ruangan. Terbuka. Tidak dipisahkan dengan dinding. Bagian luar di kiri kanan, depan belakang terbuka. Kursi dan meja secara gotong royong diangkut oleh orang tua murid, anak sekolah dan guru-guru. Sekolah juga menyiapkan mesin generator untuk cas laptop dan handphone.
Ketua Komite SMPN 04 Kota Komba, Hilarius Asa mengatakan, demi masa depan generasi penerus bangsa di Manggarai Timur umumnya, Desa Gunung dan desa tetangga khususnya, orang tua murid terlibat aktif untuk mensukseskan pelaksanaan USBD 2021 walaupun banyak kendala dihadapi seperti sarana internet belum memadai, komputer dan laptop di sekolah belum memadai, jaringan listrik juga belum tersambung.
Hilarius berharap bahwa Pemerintah bisa memberikan perhatian serius untuk tahun-tahun mendatang dengan melengkapi sarana penunjang bagi SMPN 04 di era digital ini. Pemerintah membuat regulasi tetapi tidak ditunjang dengan sarana yang memadai. Kiranya kali ini saja, USBD April 2021 yang melaksanakan di sebuah bukit di ruang terbuka di luar sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto berjanji memprioritaskan bantuan jaringan internet, komputer dan laptop di SMPN 04 Kota Komba di tahun 2022.
Teto sampaikan itu saat meninjau lokasi USBD dari SMPN 04 Kota Komba, Desa Gunung di Bukit Wokonggoro, Selasa, (13/4/2021).
Camat Kota Komba, Ibu Regina Malon saat meninjau lokasi USBD SMPN 04 Kota Komba di Bukit Wokonggoro, Selasa, (13/4/2021) memberikan motivasi kepada 47 siswa dan siswi di SMPN 04 bahwa ini sejarah langka dan unik bagi kisah perjalanan anak-anak sekolah di masa depan. Dimana, mereka melaksanakan ujian di bukit, di bawah tenda serta pinjam handphone orang tua, pulsa juga dibeli orang tua, pulsa hotspot dari guru serta bantuan pulsa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Camat Regina berpesan, jadikan peristiwa unik ini sebagai motivasi bagi 47 anak sekolah untuk meraih masa depan. Anak-anak ini calon pemimpin bagi Bangsa Indonesia, NTT dan Manggarai Timur.
Penulis adalah wartawan tinggal di Kompleks Mabako, Waelengga, Manggarai Timur, NTT.
“Tidak ada jabatan di dunia ini
yang perlu dipertahankan mati-matian.” ~ Abdurrahman Wahid
Kalimat yang diucapkan di atas bisa
menjadi bahan refleksi serius untuk para elit/politisi lokal kita bisa tiba
pada kesadaran diri ketika berproses dalam lingkaran kekuasaan. Dalam konteks
demokrasi, pergantian kekuasaan atau terjadinya sirkulasi elit sangat
dikehendaki dan baiknya itu terjadi dengan maksud ada sesuatu yang baru dari
hasil setiap momentum demokrasi berupa pemilihan kepala daerah. Sehingga tidak
ada kebosanan dari publik di dalamnya.
Setiap momentum pemilihan kepala
daerah atau pilkada selalu memunculkan ragam fakta maupun fenomena yang secara
fasih belum mampu dibongkar publik akibat kekurangan sumber (literatur) yang
akhirnya membentuk cara pandang/analisis publik itu sendiri. Akhirnya publik
masih normatif dalam memaknai momentum pilkada setiap digelarkan.
Pilkada masih sekedar dimaknai
sebagai pesta demokrasi rakyat sekali dalam lima tahun atau sekedar eforia
belaka. Padahal pilkada itu adalah proses yang terus berjalan karena agenda
pilkada merupakan agenda bernegara dari tahap awal (pemimpin terpilih) sampai
tahap akhir (mengakhiri masa jabatan). Intinya ialah pergeseran pemahaman
tentang pilkada harus terjadi bahwa ada proses evaluasi bagaimana cara kita
bernegara dan proyeksi untuk menentukan masa depan. Ada beberapa hal penting
yang menjadi titik tekan dalam pembahasan tulisan ini yakni: 1) menjelaskan fungsi
pilkada, 2) menjelaskan politik dinasti dan dampaknya, dan 3) pilkada serta
munculnya politik dinasti sebagai ujian demokrasi lokal.
Fungsi Pilkada
Mengacu pada teori social contract yang diuraikan oleh ilmuwan politik klasik yakni Locke, Hobbes, dan Rouseau bahwa hadirnya negara pada dasarnya sebagai hasil kontrak yang dilakukan oleh masyarakat guna melindungi, menjamin hak asasi, menyejahterakan, dan memberikan rasa keamanan.
Social contract tersebut kemudian diturunkan
menjadi sebuah sistem mekanisme kompetitif yakni pemilihan umum yang digunakan
untuk memilih wakil-wakil mereka dan duduk di dalam negara atas nama rakyat.
Memahami konsep tersebut berarti wakil-wakil rakyat yang terpilih idealnya
bekerja sebagai mandataris rakyat, atas nama rakyat terlepas dari kepentingan
apapun.
Hal ini sejalan dengan konsep
demokrasi yang dilakukan oleh Abraham Lincoln yang menyatakan bahwa “demokrasi
adalah pemerintahan oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk rakyat”. Dalam konteks
pilkada, persoalan-persoalan kepentingan atas nama rakyat mesti selalu menjadi
prioritas. Fungsi pilkada adalah menghadirkan partisipasi warga negara dalam
ruang demokrasi.
Namun, yang menjadi paradoks
demokrasi hari-hari ini bahwa suara (voters)
rakyat hanya menjadi legitimasi kekuasaan (politik) semata-dan belum menyentuh
legitimasi kesejahteraan (ekonomi) sosial masyarakat. Sebab, yang terjadi dalam
realitas politik elektoral kita adalah rakyat hanya dijadikan objek demokrasi
politik, bukan subjek yang bisa menentukan nasibnya sendiri lewat keterlibatan
pembuatan kebijakan dalam masalah pembangunan, dan lain sebagainya. Sehingga
dampaknya dalam hal ini rakyat kehilangan representasi politiknya ketika
kekuasaan telah berpindah kepada para pemburu kursi kekuasaan.
Padahal, logika demokrasi selalu
menempatan rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi sehingga muncul konsep
“Vox Populli Vox Dei” (Suara Rakyat Suara Tuhan). Oleh karena itu begitu
esensialnya kedudukan warga negara dalam negara demokrasi yang sebenarnya
menunjukkan jika sehat kuatnya demokrasi dipengaruhi oleh kepercayaan publik.
Bahwa tidak ada satupun negara
demokrasi di dunia yang kokoh tanpa ada partisipasi aktif dari warga negara.
Konsekuensinya adalah keaktifan warga negara baik dalam partisipasi melalui pemilu/pilkada,
berdiskusi, berpendapat, mengkritik, ataupun kebebasan lainya menjadi ukuran
konkret jika demokrasi dalam sebuah negara sedang berfungsi sebagaimana
mestinya. Termasuk untuk berpartisipasi menyatakan pendapat, mengkritik dan mendiskusikan
dengan pendekatan rasional-ilmiah mengenai fenomena politik dinasti dalam
pilkada baik dari pra-pasca pilkada.
Politik Dinasti dan Dampaknya
Salah satu fenomena yang sering
terjadi dalam setiap momentum politik di Indonesia, baik itu pemilu maupun
pilkada ialah maraknya politik dinasti yang dimainkan sebagai praktek
perpolitikan pada skala nasional dan lokal. Ditambah lagi dalam pilkada, yang
menjadi bagian dari dinasti itu tidak punya rekam jejak dan pengalaman untuk
bisa meyakinkan rakyat.
Politik dinasti meningkat pada
pemilihan umum 2019. Setidaknya premis ini terkonfirmasi oleh riset lembaga
studi Nagara Institute yang menyebut sekitar 17,22 persen anggota DPR RI
2019-2024 merupakan bagian dari dinasti, sebab memiliki hubungan dengan pejabat
publik, baik hubungan darah, pernikahan, maupun kombinasi keduanya. (tirto.id, 2020)
Dalam Pilkada 2020 politik dinasti
atau kandidat yang memiliki pertalian darah atau perkawinan dengan politisi
yang sudah mapan jumlahnya meningkat. Tercatat ada 158 kandidat yang
teridentifikasi jadi bagian politik dinasti dan 67 di antaranya berpotensi
menang berdasarkan hasil sistem informasi rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum
(Sirekap KPU).
Data banyaknya jumlah politik
dinasti di Pilkada 2020 itu berdasarkan riset yang dilakukan oleh Yoes C.
Kenawas, kandidat doktor ilmu politik dari Universitas Northwestern, Amerika
Serikat. Jika dibandingkan Pilkada 2015 dengan total 269 daerah penyelenggara
pilkada, hanya ada 52 kandidat politik dinasti. Sementara Pilkada 2020 yang
diselenggarakan di 270 daerah memiliki jumlah kandidat politik dinasti yang
jumlahnya tiga kali lipat dari 2015.
Sedangkan dalam catatan Nagara
Institute yang lain soal pilkada, setidaknya ada 124 cakada yang memiliki
hubungan kekerabatan dengan dinasti politik. Rinciannya, 57 kandidat merupakan
calon bupati, 30 orang calon wakil bupati, 20 calon wali kota, 8 calon wakil
wali kota, 5 calon gubernur, dan 4 calon wakil gubernur.
Sejumlah nama menjadi topik
pemberitaan media karena memiliki kekerabatan dengan tokoh nasional. Seperti
putra dan menantu Presiden Joko Widodo, putra Sekretaris Kabinet Pramono Anung,
putri Wakil Presiden Ma’ruf Amin, keponakan Menteri Pertahanan Prabowo
Subianto, keponakan mantan wapres Jusuf Kalla, hingga adik Menteri Pertanian
Sahrul Yasin Limpo.
Masih dalam riset Nagara Institute,
terjadi peningkatan jumlah kandidat peserta pilkada yang terpapar dinasti
politik dari pilkada sebelumnya. Terhitung, pada pilkada 2005-2014 lalu, hanya
tercatat memunculkan 59 cakada yang terpapar dinasti politik. Namun, di pilkada
2015, 2017, dan 2018, jumlahnya menjadi 86 orang. Kini, jumlah cakada terpapar
dinasti politik sudah tembus seratusan calon.
Artinya, pilkada dijadikan sebagai
ajang mempertahankan kerabat dan atau keluarga (anak, suami/istri) dalam
lingkaran kekuasaan adalah jalan mempertahankan status quo, ini yang kemudian
kita kenal dengan politik dinasti. Sebagaimana pemaknaannya tentang politik
dinasti (Wikipedia) adalah kekuasaan
yang secara turun temurun dilakukan dalam kelompok keluarga yang masih terikat
dengan hubungan darah tujuannya untuk mendapatkan atau mempertahankan
kekuasaan.
Dalam perspektif Ibn Khaldun (1332–1406), politik dinasti dinamakan ashabiyah (group feeling). Ibn Khaldun dalam The Muqaddimah an Introduction to History (1998) menyebut politik ashabiyah sebagai gejala yang bersifat alamiah. Sebab, umumnya penguasa selalu ingin merekrut orang yang memiliki hubungan kekerabatan sebagai bawahannya.
Namun, Ibn Khaldun mengingatkan
bahaya politik ashabiyah. Dengan tegas
Ibn Khaldun menyatakan bahwa politik ashabiyah
pada saatnya bisa mengakibatkan kehancuran negara. Dalam konteks budaya modern,
praktik politik ashabiyah juga
menjadi persoalan serius. Apalagi jika politik ashabiyah dijalankan dalam
suasana demokrasi yang sedang tumbuh dan berkembang. Karena praktik politik
dinasti sangat berbahaya, pemerintah dan legislatif harus merumuskan regulasi
yang tegas (Biyanto, 2017).
Dinasti politik juga berhubungan
dengan bagaimana kegagalan partai politik dalam menggaet masyarakat untuk
berpolitik. Akar utamanya adalah gagalnya kaderisasi yang inklusif dalam
internal partai sebagai wadah pengkaderan serta rekrutmen politik yang efektif
untuk menghasilkan kader-kader calon pemimpin yang memiliki kemampuan di bidang
politik sebagaimana UU No. 2/2008 tentang Partai Politik. Pada akhirnya, partai
politik ikut serta mencalonkan tokoh berdasar politik kekerabatan (dinasti)
itu.
Apa dampak dari semakin langgengnya
politik dinasti? Tentu lebih banyak dampak negatif, karena politik dinasti akan
mengaburkan atau bahkan meniadakan fungsi checks and balances dalam
pemerintahan. Kita tentu sulit mengharapkan seorang anggota DPRD dari dinasti A
mengkritisi ekskutif yang juga berasal dari dinasti A di mana mereka memiliki
hubungan kekerabatan. Dan checks and balances yang buruk akan
mengarah ke pratik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang tumbuh subur.
Ujian Demokrasi Lokal
Akan menjadi catatan tersendiri
dalam perjalanan dan perkembangan demokratisasi di Indonesia apabila setiap
gelaran pilkada selalu diwarnai dengan kehadiran politik dinasti dengan
hegemoninya pada kontestasi politik lima tahunan itu. Politik dinasti
dipastikan adalah bagian dari ujian untuk tatanan demokrasi tingkat lokal di
negara ini. Bahwa selain kehilangan check and balances, politik berdasarkan
dinasti juga berbahaya pada masa depan demokrasi negara-bangsa.
Pilkada sebagai ajang pergantian
kepemimpinan atas partisipasi warga negara
Meski berpartisipasi dalam politik menjadi hak konstitusi setiap warga, politik
dinasti terbukti rentan bermasalah persoalan memengaruhi tata kelola
pemerintahan, termasuk di tingkat daerah. Pusat riset kebijakan publik, The
Indonesian Institute (TII) menilai praktik politik yang mengandalkan kedekatan
ikatan kekeluargaan ini dinilai membuat mampetnya sirkulasi kepemimpinan di
daerah.
Politik dinasti akan membahayakan
bagi proses konsolidasi dan pembangunan demokrasi di tingkat lokal. Dikhawatir
hal ini akan melemahkan partisipasi politik masyarakat dalam mengawasi dan mengkritisi
proses pembangunan di daerah tersebut. Belum lagi beragam praktek KKN yang
rentan terjadi di bawah payung dinasti politik yang terus tumbuh subur.
Kita lihat saja soal indeks
demokrasi Indonesia masih berada di nomor 64 dari segi kualitas akibat berbagai
macam persoalan yang tidak mampu diselesaikan lewat mekanisme pengambilan
keputusan untuk kepentingan umum. Dalam hemat saya, salah satu faktor tidak
meningkatnya indeks demokrasi Indonesia adalah proses demokratisasi dalam
pengambilan kebijakan masih dikuasai-dan hanya untuk kepentingan kelompok
tertentu.
Politik dinasti akan terus eksis
jika politik gagasan tidak ditransformasikan sebagai pemilik bersama. Selain
itu, politik berbasis massa harus ditransformasikan ke dalam kekuatan politik
internal untuk mengimbangi kekuatan politik berbasis genealogi. Jika tidak,
hajatan demokrasi baik lokal dan nasional hanya akan dimiliki kelompok yang
punya jejaring politik kekerabatan.
Apalagi di tengah kondisi pasca munculnya pandemi Covid-19 di mana kita sedang menuju tatanan dunia baru yang berdampak langsung terhadap kehidupan demokratisasi pada negara-negara berkembang. Agar kita bisa menjadikan pilkada bukan hanya sebagai sesuatu yang normatif saja, tapi punya makna dan memiliki nilai etis dalam demokrasi.
——————————————————————————————————
*Husen
Baffadal, Diirektur KPPH dan Lawyer di Jakarta
Di tengah gegap gempita berita tentang elite politik kita yang egoistis, di tengah kemuakan kita terhadap keserakahan partai-partai politik dan badai korupsi yang tak kunjung henti, tiba-tiba kita terentak sejenak oleh berita Tasripin dari Banyumas.
Tasripin, bocah miskin berumur 12 tahun, harus menjadi
”orangtua” bagi ketiga adiknya: Dandi (7), Riyanti (6), dan Daryo (4). Satinah
(37), ibu mereka, meninggal dua tahun lalu, terhantam longsoran batu saat
menambang pasir. Ayah mereka, Kuwito (47), merantau ke Kalimatan, bekerja di
pabrik kayu bersama anak sulungnya, Natim (21). Untuk mencukupi kebutuhan
sehari-hari, Tasripin bekerja sebagai buruh tani. Kadang-kadang ia dibayar
beras, kadang-kadang ia diberi Rp 10.000. Cukup buat makan dua kali sehari,
sisanya dibuat jajan adik-adiknya.
Bupati Banyumas Achmad Husein mengaku khawatir kisah Tasripin
hanya fenomena gunung es di Banyumas (Kompas,
15/1/2013). Benar! Tak lama setelah berita Tasripin, kembali kita terentak oleh
berita Indah Sari (17) dan kedua adiknya, Supriyani Astuti (15) dan Juliah
(13). Sejak lima tahun lalu, sambil sekolah, ketiga bocah miskin dari Desa
Penusupan, Purbalingga, itu harus bekerja bikin idep (bulu mata) untuk hidup sehari-hari.
Karena tekanan ekonomi, ibu mereka, Tarmini (40), menderita
gangguan mental sejak kelahiran anak terakhirnya, Sayang (5). Indah dan kedua
adiknya bisa mendapatkan Rp 150.000 per bulan dari hasil membuat bulu mata
palsu. Tentu uang itu habis untuk makan. Namun, Indah berusaha sedapat mungkin
menyisihkan hasil kerjanya untuk biaya sekolah (Kompas, 2/5/2013).
Begitu berita Tasripin muncul di media, khalayak ramai segera
menyalurkan dana, termasuk Presiden SBY. Kiranya Indah Sari pasti juga mendapat
simpati dan bantuan serupa. Bantuan karitatif itu menunjukkan kita masih punya
empati terhadap nasib anak-anak miskin seperti Tasripin dan Indah. Namun,
sadarkah kita bahwa peristiwa Tasripin dan Indah sesungguhnya bukan sekadar
peristiwa yang cukup ditanggapi secara karitatif, melainkan fenomena serius
yang sedang menggugat hidup kita sampai ke sendi dan dasarnya.
Gugatan Penderitaan
Bolehkah anak kecil yang tak bersalah seperti Tasripin dan Indah itu menderita? Kita semua pasti akan menjawab, ”Tidak!” Namun, patut diingat, dengan menjawab ”tidak”, kita sesungguhnya telah masuk ke dalam persoalan yang gawat: soal yang diajukan Ivan Karamazov, salah satu tokoh penting dalam novel terkenal The Brothers Karamazov, karya pengarang besar Dostojevsky. Di Barat, gugatan Dostojevsky lewat tokoh Ivan Karamazov itu memberi jalan bagi munculnya ateisme dan membongkar kaidah klasik theodicy yang bertugas membela dan memberi argumentasi tentang keberadaan Tuhan.
Kepada saudaranya tercinta, Alyosha, Ivan berkisah soal
penderitaan anak-anak yang tak bersalah. Tentang seorang anak gadis yang
disiksa orangtuanya. Lalu tentang seorang anak lelaki yang bekerja sebagai
budak seorang tuan tanah. Tanpa sengaja anak itu melukai anjing kecintaan
tuannya. Dengan para begundalnya, tuan tanah memburu dia, seperti memburu
binatang, lalu anak itu ditembak, kemudian badannya dikoyak habis oleh para
anjing pemburunya, dan itu semua terjadi di hadapan ibunya.
Ivan bertanya, bagaimana mungkin jika Tuhan ada, Tuhan tega
membiarkan anak-anak yang tak bersalah menderita? Tak mungkin penderitaan itu
kita kembalikan kepada kesalahan anak-anak itu. Tak mungkin pula kita menjawab,
Tuhan punya maksud tertentu dengan membiarkan anak-anak itu menderita, misalnya
toh kelak ia bakal bahagia di surga justru karena penderitaannya. Bahkan, jika
kita sepakat bahwa Tuhan punya maksud tertentu dengan penderitaan di dunia,
tetaplah tak terjawab, mengapa anak-anak itu harus disertakan dalam penderitaan
demi maksud tertentu itu? Kita, orang dewasa, sanggup membeli ”harmoni abadi”
dengan penderitaan, tetapi apa hubungan semuanya itu dengan anak-anak itu?
Mengapa mereka harus menderita dan membayar harmoni itu dengan penderitaannya?
Kita bercita-cita membangun suatu masa depan, ketika semuanya
akan damai, sejahtera, dan bahagia. Namun, kata Ivan lagi, mestikah masa depan
itu dibangun di atas air mata anak-anak yang tak bersalah? Ivan tak setuju
dengan itu. Karena itu, ia juga tidak bisa menerima jika keberadaan Tuhan
dibenarkan dengan pembenaran atas penderitaan yang tidak adil itu. Secara
moral, ia menolak Tuhan demikian dan ia menjadi ateis. Jadi, atas nama
keadilan, ia memberontak melawan Tuhan, yang hanya dapat dibenarkan dengan
keadilan yang sebenarnya tidak adil.
Menurut teolog Richard Bauckham dari University of
Manchester (1987), gugatan Ivan Karamazov itu mau tak mau mengguncang
bangunan theodicy sampai di zaman
modern ini. Selama ini demikianlah argumentasi theodicy: penderitaan itu sudah dikalkulasikan sebagai risiko
ketika Tuhan menciptakan dunia dan ciptaan-ciptaan-Nya yang bebas; penderitaan
mau tak mau juga merupakan bagian yang tak terhindarkan dari dunia yang secara
natural terus berevolusi; dan penderitaan punya peran mendidik dan membentuk
jiwa manusia agar sesuai dengan maksud ia diciptakan di dunia.
Dengan serangan Dostojevsky lewat Ivan Karamazov, ”mengapa
bangunan semacam itu harus dipertahankan dengan cara menyertakan anak-anak tak
bersalah untuk ikut menderita”, seluruh argumentasi theodicy itu
ambruk. Bahkan, teologi secara umum tak bisa lagi bertahan dengan argumennya
yang klasik bahwa penderitaan adalah nilai yang harus dibayar demi tercapainya
tujuan eskatologis Tuhan, yakni bahwa akhirnya di masa depan manusia akan
mencapai kebahagiaannya yang sempurna justru karena telah melewati penderitaan
itu. Teologi tidak bisa berargumen ”murahan” lagi dalam membela keberadaan
Tuhan berhadapan dengan penderitaan. Apalagi ”pemberontakan melawan Tuhan” itu
akhirnya bisa menuntun orang berpandangan nihilistis, seperti kemudian
dituturkan Albert Camus.
Camus dalam karyanya, The Rebel, mengorek akibat lebih lanjut dari kritik Ivan. Karena menolak Tuhan sebagai pembenaran terhadap penderitaan dan ketakadilan yang terjadi di dunia, Ivan menemukan sebuah nilai positif: rasa akan martabat dan solidaritas kemanusiaan. Di atas martabat dan solidaritas inilah keadilan dapat dibangun di dunia yang penuh ketidakadilan ini. Namun, Ivan sekaligus menyediakan penggerogotan yang ganas terhadap nilai positif itu. Dan, itulah yang dilihat dengan jeli oleh Camus.
Menurut Camus, manusia-manusia pemberontak di zaman modern
ini telah meletakkan humanitas di atas Tuhan. Lebih ekstrem lagi, mereka
ingin agar humanitas menggantikan Tuhan. Maka, sekarang hanya humanitas yang
boleh mengontrol tujuan akhir manusia. Jadi, saatnyalah bahwa theodicy harus
diganti dengan anthropodicy. Dan, tersimpan dalam proses ini keyakinan
bahwa dunia lama diganti dengan dunia baru, ketakadilan diganti dengan
keadilan, dan nilai-nilai Tuhan yang terbukti tidak adil itu diganti dengan
nilai-nilai manusia yang adil.
Itulah yang justru memberi peluang bagi sementara elite
membenarkan bahwa mereka boleh memakai segala cara meraih tujuan itu. Maka,
penderitaan, bahkan pembunuhan pun, dibenarkan demi keadilan di masa depan.
Rezim-rezim kekuasaan revolusioner bermunculan, menggantikan tirani kekuasaan
Tuhan.
Dan, terulang lagi sejarah lama: rezim-rezim revolusioner
membenarkan penderitaan manusia demi keadilan di dunia. Itulah akar dari
otoritarianisme dan totalitarisme, seperti Nazisme atau Stalinisme di zaman
modern, yang sangat kejam, brutal, dan nihilistis terhadap kemanusiaan. Kamar
gas di Auschwitz dan penyiksaan di Siberia adalah ujung perjalanan
pemberontakan manusia melawan tirani Tuhan yang dianggap sewenang-wenang
terhadap penderitaan manusia. Maka, problem yang dimunculkan pemberontakan Ivan
bukan lagi theodicy, melainkan anthropodicy.
Tuhan yang Memihak
Mungkinkah kita membela theodicy, yang berada di bawah ancaman anthropodicy itu? Hal-hal di atas kiranya menantang orang beriman mempertanggungjawabkan imannya terhadap Tuhan. Jelasnya, mungkinkah kita membela keberadaan Tuhan berhadapan dengan dunia yang penuh ketakadilan dan penderitaan ini?
Konsep theodicy yang melepaskan Tuhan dari penderitaan
jelas tak akan bisa menjawab tantangan itu. Dan, agama yang mempertahankan
penderitaan itu perlu demi kebahagiaan abadi yang disediakan Tuhan kelak jelas
mendegradasikan humanitas dan akan menjadi sasaran kritik anthropodicy,
yang melengserkan Tuhan demikian itu demi humanitas yang mereka cita-citakan.
Siapakah Tuhan yang demikian itu? Inilah yang harus dicari-cari oleh
agama-agama di zaman modern ini.
Di kalangan kristiani, seorang teolog besar, Jürgen
Molltmann, menjawab pertanyaan dengan sebuah teologi yang disebut teologi
salib. Dalam teologinya itu, Tuhan direnungkan bukan sekadar pencipta dan
penguasa semesta, yang mahaberkuasa atas dunia, termasuk penderitaannya. Tuhan
justru terlibat dalam dunia, ikut menderita, dan memeluk penderitaan itu.
Itulah yang terjadi dalam diri Yesus saat Ia menanggung dan mengalami
penderitaan hingga mati di kayu salib.
Dalam teologi salib, Tuhan bukan pembenar bagi penderitaan seperti dituduhkan Ivan, melainkan pemrotes yang mengajak manusia memberontak terhadap ketidakadilan dan kekuasaan yang menyebabkan penderitaan mereka yang tak bersalah dan diperlakukan tidak adil. Tuhan yang menderita dan tersalib itu adalah inspirator dan agitator bagi perlawanan yang konkret terhadap ketidakadilan dan penderitaan yang diakibatkannya. Di sinilah tampak teologi salib sesungguhnya adalah awal dari teologi pembebasan. Mau tak mau teologi akhirnya harus berbuah politik, yakni politik yang memihak kepada mereka yang lemah, tak berdaya, dan menderita karena ketidakadilan.
Pandangan teologis demikian mau tak mau juga akan mengubah
praktik-praktik ritual dan kesalehan. Doa, misalnya, tak dapat lagi dimengerti
atau melulu dialami sebagai kewajiban ritual, kesalehan, atau kekhusyukan
pribadi yang tak ada kaitannya dengan masalah sosial, lebih-lebih penderitaan
dan ketidakadilan. Doa harus menjadi doa yang terlibat dan membuahkan tanggung
jawab. Maka, tepat apa yang dikatakan teolog Johann Baptist Metz, ”Siapa
berdoa, dia akan berdiri di pihak korban, bukan di pihak pemenang.”
Teguran Indah dan Tasripin
Semua uraian di atas bermula dari kepedihan kita melihat
nasib Tasripin dan Indah Sari, yang kiranya juga nasib banyak anak-anak lain di
Tanah Air ini. Dalam kepedihan Indah dan Tasripin tersimpan gugatan Ivan
Karamazov, yang menuntut kita merefleksikan lagi konsep kita tentang Tuhan
berhadapan dengan penderitaan. Refleksi itu juga menunjukkan betapa kehidupan
beragama bisa mandul dalam menggugat penderitaan karena kita tak punya teologi
atau theodicy yang kritis terhadap penderitaan dan ketidakadilan.
Politik dan praksis politik pun akan sangat ditentukan
pandangan teologis kita tentang Tuhan. Dan, itu kiranya berlaku lebih-lebih di
negara kita, Indonesia ini, yang mengaku dirinya sebagai negara religius, yang
percaya kepada Tuhan, bahkan mendasarkan salah satu pilarnya pada kepercayaan
akan Tuhan yang Maha Esa itu. Maka, sadarkah kita bahwa kepedihan anak-anak
seperti Indah dan Tasripin itu sesungguhnya sedang menggugat kita
mempertanyakan kepercayaan kita itu?
Spontan kita perlu mengakui bahwa penghayatan hidup beragama
kebanyakan kita masih sebatas ritualisme belaka. Tempat ibadat penuh dengan
orang-orang yang berdoa dengan khusyuk. Namun, ibadat itu tak memberi efek pada
perjuangan dan pembebasan sosial lebih-lebih bagi mereka yang lemah dan
menderita. Mungkin ini disebabkan karena kita tak punya atau belum
mengembangkan teologi yang peka terhadap penderitaan dan ketidakadilan.
Memang rasanya kita belum memiliki teologi yang bisa melihat
Tuhan yang ada dan menjerit dalam penderitaan dan protes terhadap
ketidakadilan. Teologi kita hanya mengekor pada praktik-praktik mapan hidup
keberagamaan. Akibatnya, teologi dan hidup keberagamaan kita hanya mengurung
Tuhan dalam sangkar ritual dan memandulkan-Nya terhadap perjuangan sosial. Ini
betul-betul fatal sebab, betapa pun kita mengaku ber-Tuhan, dalam praktik kita
telah menjauhkan Tuhan dari masalah yang dihadapi bangsa, terlebih masalah
ketidakadilan yang mengakibatkan penderitaan mereka yang tak bersalah. ●
Maumere Berandanegeri.com – KSP Koperasi Kredit (Kopdit) Pintu Air Rotat Desa Ladogahar Kecamatan Nita adalah satu-satunya koperasi yang tidak hanya bergerak pada sektor usaha simpan pinjam saja tetapi memiliki berbagai terobosan guna mensejahterakan anggotanya.
Dibawah kepemimpinan Yakobus Jano Kopdit Pintu Air berani melakukan beberapa terobosan program spin of sebagai pengembangan sektor ril untuk meningkatkan ekonomi lokal anggota koperasinya.
Satu lagi sektor ril yang digarap oleh Kopdit Pintu Air adalah memproduksi garam yodium Cap Pintu Air. Ini adalah upaya Pintu Air sebagai terobosan untuk membangkitkan para petani garam lokal menuju sejahtera.Yang sebelumnya bulan Oktober 2020 lalu KSP Pintu Air telah berhasil dengan terobosan Produk Minyak Goreng KSP Pintu Air.
Peluncuran produksi Garam Yodium Cap PintuAir ini ditandai dengan pemukulan Gong Waning oleh Wakil Bupati Sikka, Romanus Woga dan sekaligus dilakukan pembukaan perdana etalase penjualan Garam Yodium berlangsung di Lantai 3 Kantor Pusat KSP Kopdit Pintu Air di Rotat Desa Nitakloang Kecamatan Nita Kabupaten Sikka, Jumad (9/4/2021).
Peluncuran Produk Garam Yodium “Cap Pintu Air” Ditandai dengan Pemukulan Gong oleh Wakul Bupati Sikka
Wakil Bupati Sikka, Romanus Woga, pada acara peluncuran garam konsumsi beryodiumCap Pintu Air mengatakan,saat ini banyak koperasi bertumbuh dan berkembang diseluruh dunia.
“Selama ini orang mendengar bahwa koperasi itu hanya sebagai entitas bisnis kecil-kecilan seperti simpan pinjam skala kecil, skala mikro dan skala besar, ” ujarnya.
Menurut
Romanus, persepsinya bahwa koperasi itu hanya bisnis kecil kecilan. Dan adakala
juga orang menganggap bisnis koperasi itu kurang menarik dan bahkan terkesan
kuno.
Konsep bahwa koperasi sebagai market bisnis tidak terlihat dalam praktek dan banyak orang pada akhirnya menyaksikan bahwa koperasi itu dapat menjadi perusahaan konglomerasi dan menjadi pemimpin pasar.
Wakil Bupati Sikka didampingi Ketua KSP Kopdit Pintu Air dan Manajer PT. Garam Yodium Membuka Tirai Estalase Penjualan Garam
“Kita
lihat koperasi sudah menjadi perusahan konglemerasi sehingga bisa merubah
pikiran orang bahwa koperasi yang bisnis keci-kecil sekarang sudah naik,
” ungkap Romanus.
Manajer PT. Garam Pintar Asia, Ifan Parera
mengatakan, kabupaten Sikka memiliki potensi daerah pesisir yang bisa dikelola
untuk pembuatan garam. “Bahan baku garam sangat banyak karena laut kita sangat
bersih dan jauh dari pencemaran,” kata Ifan. Garam yodium Pintu Air dengan
kandungan yodium 30-80 ppm dan telah memenuhi standar nasional.
Ifan menambahkan, pihaknya juga meminta dukungan dari pemerintah kepada kelompok bukan kepada pintu air karena secara modal pintu air bisa menyediakan alat produksi teknologi untuk membuat produksi barang jadi.
Wakil Bupati Sikka Foto bersama Pengurus PT. Garam Yodium “Cap Pintar”
“Kita juga
minta kepada pemerintah adalah fasilitasi kebutuhan untuk pengelolaan lahan
ditingkat kelompok desa pesisir sehingga mereka mampu menghasilkan garam bahan
baku yang akan dibeli oleh pintu air,”ujarnya.
Dikatakan Ifan untuk produksi awal sebanyak 4 ton dalam kemasan 300 dos. Untuk harga yang dijual dalam kemasan 200 gram dengan harga Rp 875. Sementara untuk target pemasarannya masih sekitar wilayah kabupaten Sikka. (Atic)