Maumere Berandanegeri.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Industri Jasa Keuangan memberikan sumbangan uang tunai senilai Rp 500.000.000 Kepada masyrakat korban bencana badai Saroja di propinsi Nusa Tenggara Timur.
Bantuan ini diserahkan melalu Posko Pemerintah Propinsi NTT. Dan diterima oleh Gubernur NTT Viktor Laiskodat dihalaman Bandara Frans Seda Maumere,Jumad (9/4).
Kepala OJK Propinsi NTT Robert Sianipar mengatakan sumbangan ini sebagai bentuk kepedulian OJK dan jasa keuangan terhadap masyarakat yang terdampak bencana di NTT.
Ket. Foto: Kepala OJK Propinsi NTT, Robert Sianipar
Sumbangan ini untuk membantu meringankan beban pemerintah dan masyarakat NTT yang sedang menghadapi bencana badai Seroja,”tuturnya.
Dikatakannya hingga saat ini OJK masih berusaha mengumpulkan dana dari otoritas industri keuangan dan ikatan pegawai OJK.
Dirinya berharap Propinsi NTT bersinergi dengan semua pihak agar bisa mempercepat pemulihan kondisi baik infrastruktur maupun bantuan terhadap masyarakat terdampak sehingga bisa memulihkan kondisi masyarakat. (ATIC)
Di sela mendampingi Presiden RI Joko Widodo yang mengunjungi lokasi bencana tanah longsor di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Jumat (9/4/2021) pukul 11.45 WITA, Kepala Basrnas Marsekal Madya TNI Henri Alfiandi menyempatkan diri bertemu dengan para rescuer Basarnas yang masih bekerja mencari 27 korban yang belum ditemukan.
Kabasarnas Marsekal Madya TNI Henri Alfiandi berinteraksi dan
memberikan suport kepada para rescuer.
“Tetap semangat ya, kalian adalah garda terdepan dalam
operasi ini, jaga kesehatan dan tetap semangat, rescuer,” tegasnya.
Kabasarnas Marsekal Madya TNI Henri Alfiandi didampingi Deputi Bidang Operasi Pencarian dan Pertolongan, dan Kesiapsiagaan Mayjen TNI Bambang Suryo Aji dan Kepala Kantor SAR Maumere I Putu Sudayana, bertolak ke Lembata, Jumat (9/4/2021) pagi dari Pelabuhan Lewoleba Larantuka menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) Kantor SAR Maumere. (ATIC).
Lembata berandanegeri.com – PRESIDEN Joko Widodo melihat langsung lokasi bencana tanah longsor di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Jumat (9/4/2021) pukul 11.45 WITA.
Presiden bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuldjono, Gubernur NTT Viktor Laiskodat, Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo , dan Kabasarnas Marsekal Madya TNI Henri Alfiandi beserta pejabat lainnya.
“Informasi yang saya terima, korban di tempat ini paling
banyak. Saya sudah perintahkan kepada tim SAR untuk berusaha semaksimal mungkin
untuk mencari dan menemukan seluruh korban,”kata presiden Jokowi.
Orang nomor satu di RI tersebut juga mengucapkan bela
sungkawa kepada keluarga para korban di kaki Gunung Ile Lewotolok.
“Atas nama pemerintah Indonesia, saya mengucapkan bela sungkawa yang mendalam kepada seluruh keluarga korban atas bencana ini,”ucapnya.
Rombongan presiden melaksanakan shalat jumat di masjid Desa Amakaka. Setelah itu, mengunjungi tempat pengungsian di puskesmas Waipukang.
Selanjutnya Rombongan presiden kembali ke Bandara Wunopito Lembata.
Sementara tim SAR di Lembata hingga sore ini masih terus
berupaya mencari 27 korban yang belum ditemukan di tempat tersebut.
Kendala tim SAR jelas, bebatuan yang longsor memiliki ukuran
cukup besar dan peralatan berat maupun ekstrikasi kurang memadai. Tim SAR juga
mendapat dukungan rescue dog dari
beberapa institusi untuk mempercepat proses pencarian.
“Dukungan rescue dog ini sangat membantu tim SAR, dimana sebelumnya berhasil menemukan 6 korban,” kata kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Henri Alfiandi.
Di Lembata sendiri, tim SAR telah berhasil menemukan 41
korban meninggal dunia.
Selain Lembata, tim SAR juga melaksanakan pencarian di
Adonara Kabupaten Flores Timur, dimana tim SAR telah berhasil menemukan 71
korban meninggal dunia dan masih dalam proses pencarian sebanyak 5 orang.
Sedangkan di Kabupaten Alor, tim SAR berhasil mengevakuadi 25 korban meninggal
dunia dan 17 orang dalam proses pencarian. (ATIC)
MAUMERE, BERANDANEGERI.COM. Presiden RI Joko Widodo tiba di Bandara Frans Seda Maumere, Jumat,(9/4) pukul 09.30 Wita dengan pesawat kepresidenan.
Di Bandara Frans Seda, Presiden Jokowi hanya turun untuk berganti pesawat. Jokowi naik helikopter milik TNI AU menuju lokasi bencana di Ile Ape Lembata dan Adonara.
Pantauan media Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menjemput Presiden Jokowi di tangga pesawat bersama Kapolda NTT, Dandrem 161 Wirssakti, dan Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo
Sebanyak tiga helikopter take off dari Bandara Frans Seda Maumere pukul 10.05 Wita menuju Lembata.
Jokowi dijadwalkan akan mengunjungi korban banjir bandang di Pulau Adonara Kabupaten Flores Timur dan di Kecamatan Ile Ape Kabupaten Lembata.
Tiba di Lembata, Jokowi akan melaksanakan sholat Jumat berjemaah, makan siang dan mengunjungi korban bencana.
Setelah dari Lembata presiden akan melanjutkan kunjungan korban bencana di Pulau Adonara kabupaten Flores Timur. (AM)
DOKTOR Marsel Robot diasah. Ditempa Nilok Nai. Nilok Nai adalah goet atau dialek Kolor-Manus di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Bahasa Ibu
ini mengasah Doktor Marsel Robot untuk berjuang, belajar, berjalan kaki untuk
meraih masa depan yang kini diembannya saat ini menjadi Dosen di Universitas
Nusa Cendana (Undana) Kupang.
Bahasa
keseharian yang dituturkan orangtua-orang tua di kampungnya di Taga, Desa Golo
Nderu, Kecamatan Kota Komba Utara (KKU) di masa kecilnya belum dipahami makna
dan kekuatan sebuah goet atau dialek
tersebut.
Seiring dengan perjuangan, belajar tekun, bekerja keras serta
menggali kekuatan bahasa yang dipelajari dibangku sekolah dasar hingga
perguruan tinggi membuahkan hasil yang membanggakan orang tuanya serta kampung
asalnya.
Saat ia
masih kanak-kanak sampai usia dewasa serta menemukan identitas dirinya lewat
pendidikan, bahasa ibu masih seputar dituturkan dalam kehidupan harian.
Hanya
orangtua yang mengerti dan memahami dibalik dialek lokal yang memberi semangat
juang, bekerja, menghidupi keluarga, interaksi sosial dan pergaulan dalam hidup
sosial kemasyarakatan.
Bahasa Menunjukkan bahwa Manusia
adalah Makhluk Berbahasa
Namun bagi
doktor Marsel Robot, setiap goet
dalam bahasa ibu dicatat, direfleksikan, direnungkan dalam pergulatan akademik,
dunia kampus, dunia adu argumentasi, dunia tulis menulis yang menjadi fondasi
hidupnya hingga meraih gelar akademik yang sangat gemilang.
Doktor Marsel Robot selalu gelisah dengan kalimat Nilok Nai yang digagas Frans Sarong (wartawan senior Kompas) dkk dalam sebuah kelompok diskusi Nilok Nai (baca artikel “Mengecup Kening Manggarai pada Peristiwa “Lonto Leok,” Pos Kupang, 7 Agustus 2002 dan dibukukan dalam buku Ringkasan Kegelisahan sosial di Aula Sejarah, cetak pertama, Oktober 2018 oleh perkumpulan Komunitas Sastra Dusun Flobamora).
Buku Karya Dr. Marsel Robot
Saat diskusi
tentang pemekaran Manggarai oleh kelompok diskusi “Nilok Nai” dan
Doktor Marsel Robot membawa pulang kalimat Nilok
Nai dalam ingatan sanubarinya di ruang kerja, saat membaca buku, menyusun
makalah perkuliahan sambil mencari tahu apa sesungguhnya makna Nilok Nai hingga dijadikan nama sebuah
kelompok diskusi oleh kumpulan orang-orang hebat dari Manggarai Timur yang
berdomisi di Kupang, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Sambil
mengajar di fakultasnya untuk menanam benih dan kolam pengetahuan bagi generasi
muda Nusa Tenggara Timur. Ia terus mencari tahu apa arti dan makna Nilok Nai.
Dr Marsel
Robot selalu gejur merangkai kata
yang apik. Diksi yang menggugah nurani bagi pembaca, murid-muridnya,
pengikutnya yang tak terhitung jumlahnya saat ini.
Lembaran
koran di bumi cendana hingga bumi Indonesia digoresnya dengan tulisan-tulisan
dengan gaya sastra sesuai aliran yang dianutnya. Dr Marsel Robot adalah
sastrawan unik Nusa Tenggara Timur yang menganut spiritualitas gelisah,
spiritualitas gejur nai.
Ia selalu gejur memungut kata sederhana dalam
sastra lisan orang Manggarai Raya. Membaca opini, puitis, cerita pendek
(Cerpen) dan prolog atau epilog dalam berbagai buku karya orang Nusa Tenggara
Timur membuat pembaca retang one nai
sekaligus menusuk sanubari. Hanya orang tak bernurani yang tidak memahami
bahasa yang dituangkan Dr Marsel Robot dalam berbagai media massa di tingkat
Nasional hingga lokal serta makalah-makalah yang diajarkan di bangku kuliah.
Dialek
sastra lisan yang tercecer dalam ungkapan harian secara lisan orang Manggarai
Timur dicatat dalam laboratorium mata hatinya. Selanjutnya dituangkan lagi
lewat bahasa yang dirangkainya menjadi narasi humanis yang menggetarkan hati
nurani pembaca, murid-muridnya serta pengikut setianya.
Bahasa
humanis dengan gaya sastra di 42 artikel dalam bukunya menandakan bahwa Dr
Marsel Robot sesungguhnya Nilok Nai
sejati dari bumi Manggarai Timur.
Kurang lebih
selama 3 tahun, saya membaca bukunya berkali-kali. Saya memaknai dan memahami
bahasa dalam rentang waktu itu di sela-sela kesibukan harian. Baru Rabu,
(7/4/2021) saya mencoba menuliskan sesuai apa yang saya pahami. Saya mencoba
mengambil judul seturut apa yang saya pahami.
Saya baca
judul tulisannya, Manggarai Timur dan kesadaran Nilok Nai. Dr Marsel Robot mengupas dan memaknai Nilok Nai sebagai konsep
pembangunan manusia dari kondisi terpuruk menuju sebuah perubahan karena kerja
keras, ramah, humanis. Menurutnya, Nilok
Nai semacam virus mental, yakni suatu bentuk kesadaran yang sangat jarang
dijumpai, tetapi apabila terjadi, diri seseorang cenderung untuk bertingkah
laku sangat giat, (hal 39-44).
Bagi saya
seorang pembaca dari kampung mencoba memahami sedikit saja bahwa Dr Marsel
Robot sudah mengaplikasikan Nilok Nai dalam
keseharian dengan bangkit dan berjuang keras demi meraih suatu prestasi
akademik dan menebarkan jalan Nilok Nai bagi
generasi penerus bangsa lewat mengajar di kelas, makalah-makalah ilmiah serta
tulisan yang tersebar di seluruh media massa nasional dan lokal.
Dr Marsel
Robot sudah menduniakan kesadaran Nilok Nai
dan mengajak semua orang agar nilok nai sebagai ideologi pembangunan manusia,
khususnya di Kabupaten Manggarai Timur.
Saya kutip
bagian akhir tulisan itu…karenanya, yang diperlukan sekarang dan yang akan
datang adalah virus mental Nilok Nai
di kalangan siapa pun pejabat yang akan memimpin daerah itu. Artinya pengalaman
kemiskinan dan marginalisasi harus diterima sebagai rai ati rasan rak (motivasi untuk bekerja keras) membangun
Manggarai Timur yang hanya sebuah gray area (daerah kelabu) tempat oportunis
mencari keuntungan sehingga Manggarai Timur pun kian ke timur dan kesedihan pun
tak bertepi.
Dari Taga untuk Dunia
Dr Marsel
Robot lahir di kampung Taga, Koit, Manggarai Timur, Flores pada tanggal 1 Juni
1961. Ia menamatkan sekolah dasar Katolik di Koit, menamatkan SMP di Borong,
Manggarai Timur dan menamatkan SMA St Thomas Aguinas, Ruteng, Manggarai, 1980.
Pada tahun 1982 masuk Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan mengambil jurusan
Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Nusa Cendana, Kupang. Selama menjadi
mahasiswa, Dr Marsel menerima beasiswa tunjangan ikatan dinas (TID). Beasiswa
itulah yang memintanya untuk kembali mengabdi sebagai dosen di almamaternya.
Sejak mahasiswa hingga kini, ia aktif menulis artikel diberbagai media massa
(baca selengkapnya di riwayat hidup penulis, hal 258-260).
Setelah saya
membaca bukunya, saya jujur mengakui bahwa baru kali ini saya menggoreskan
tulisan tokoh pendidik, sastrawan berhati emas di bumi Cendana.
Saya mencoba
merangkai bahasa sesuai dengan kemampuan saya, sebab saya akui antara Dr Marsel
Robot dengan saya seperti langit dan bumi. Dr Marsel Robot berada di langit
sementara saya masih mencoba merayap, merangkak dan baik tangga agar bisa
menggapainya. Namun Dr Marsel Robot dan saya bisa berjumpa lewat bahasa kata,
kalimat dalam sebuah kebiasaan menulis.
Saya sadar
bahwa tulisan saya ini sangat berbeda jauh, bahkan mungkin sampah apabila
dibacanya. Tapi bagi saya ini sebuah kerinduan untuk berjumpa dengannya lewat
komunikasi bahasa. Bahasa yang bisa menyatukan dua insani yang sedang berziarah
di dunia yang penuh dengan tantangan lewat bahasa.
Dr Marsel
Robot dari kampung terpencil Taga. Kampung ini sangat udik, unik, sepi, sunyi,
tenang, sangat cocok bersemedi. Namun, seorang putra Taga dengan kesadaran
nilok nai diutus ke penjuru dunia untuk mengharumkan nama kampung ini di mata
dunia di Nusa Tenggara Timur. Menyebut Dr Marsel Robot sangat identik dengan
kampung asalnya Taga.
Kalau saya
me-reka-reka kisah Dr Marsel Robot, ia sadar bahwa hanya melalui pendidikan
bisa mengubah seorang manusia. Membawa perubahan dari ” nendep nai”,
dialek Kolang, Manggarai Barat (gelap hati) menuju “nai ge’rak” (hati terang).
Dr Marsel
Robot berjalan kaki ke sekolah dasar. Berjalan kaki dari kampung Taga menuju
Borong demi menggapai cita-cita dan mimpi-mimpi besar dalam dirinya.
Telapak
kakinya yang mungkin waktu itu tidak memakai sandal sekuat tenaga berjalan
mendaki bukit, menyeberang sungai dengan jarak puluhan kilometer hanya demi
meraih impian-impiannya di masa depan. Berkat kesadaran dan kegigihannya lewat
nilok nai melalui pendidikan, kini Dr Marsel Robot sederajat dengan kalangan
akademisi di Indonesia dan dunia.
Saya sebagai
orang Kolang, Manggarai Barat sangat bangga karena saya akui bahwa saya tak
mungkin meraih titel akademik yang sangat membanggakan dunia pendidikan di Nusa
Tenggara Timur, khususnya dan Indonesia, umumnya.
Sekilas
tentang kampung Taga, Koit. Kampung itu berada dilembah. Diapit oleh beberapa
bukit dan sederetan gunung di kawasan Taman Wisata Alam Ruteng. Membentang luas
kawasan konservasi sebagai penyangga kehidupan masyarakat di kampung itu.
Tanahnya subur. Tanaman kopi berlimpah. Deretan sawah terasering hasil karya
intelektual petani di kampung itu menambahkan kekaguman akan kampung tersebut.
Orang Taga, Koit sangat ramah dengan sentilan-sentilan goet Manus. Segudang
orang-orang cerdas dari kampung itu yang sudah menebarkan jala kemanusiaan
lewat ilmu pengetahuan di seluruh Indonesia dan dunia.
Saya sudah
beberapa kali mengunjungi kampung itu. Rasanya tak ingin pulang kalau sudah
berada di kampung tersebut. Udaranya segar. Alamnya sejuk. Seluruh kepenatan
hidup bisa dilegakan di kampung itu. Hanya sayangnya, infrastruktur dasar
seperti jalan raya masih jauh dari sebutan layak.
Topografi
dan letak geografis menantang generasi penerus dari kampung untuk terus
sekolah. Sebab perubahan dan kemajuan hanya bisa diraih lewat pendidikan. Dari
“nendep ke ge’rak hanya melalui pendidikan. Tidak ada cara lain.
Berjumpa Dr Marsel Robot lewat Kata dan Bahasa
Saya baru
dua berjumpa Dr Marsel Robot secara langsung. Pertama 2018 lalu di sebuah rumah
di Kota Borong. Kedua, di rumahnya di Kota Kupang. Selebihnya berjumpa lewat
kata dan bahasa dengan membaca seluruh opininya di media massa di Nusa Tenggara
Timur.
Bahasa
komunikasinya seperti aliran sungai Waemokel di Manggarai Timur. Persis kampung
Taga hulunya adalah Aliran Sungai Waemokel.
Bahasa
verbal yang dituangkan dalam sebuah narasi sastra sangat jenaka, menggoda dan
menggeli-gelikan pembacanya.
Dr Marsel Robot adalah cahaya dari Timur yang selalu menyinari alam pikiran pembacanya. Persis dalam epilog yang dinarasikan Dion D. B. Putra. Dr Marsel Robot adalah guru, dosen, penulis langka di bumi cendana Nusa Tenggara Timur.
Terima kasih Dr Marsel Robot yang membangkitkan alam bawah sadarku dengan Nilok Nai. Maafkan saya apabila goresan ini kurang berkenan dihati. Namun, bagi saya ini sebuah kerinduan yang sudah lama saya nanti-nantikan. Saya ingat tanggal lahir Kraeng tua bersamaan dengan hari lahirnya Pancasila, 1 Juni.
***********
Penulis
adalah wartawan KOMPAS.com tinggal di
Kompleks Mabako, Waelengga, Manggarai Timur, NTT
“Saya hanya merasa benar-benar sekolah di dua tempat: Mataloko dan Cornell” (Daniel Dhakidae).
TANPA perlu mengatakan bahwa dua lembaga pendidikan lain yang pernah ditempuh Daniel Dhakidae (DD), Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero dan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, tidak mempunyai kesan yang mendalam dan kontribusi signifikan bagi rasa dan perkembangan pemikiran DD, Seminari Menengah Santo Johannes Berchmans Todabelu-Mataloko dan Universitas Cornell seringkali menjadi bahasan yang menarik oleh DD, baik lisan maupun dalam bentuk tertulis.
DD pernah cerita tentang pengalamannya di UGM. Ketika harus meninggalkan Ende/Flores, tujuannya memang ke Jawa, khususnya Jogja. DD mau belajar sastra Inggris di UGM, tetapi kemudian niatnya itu diurungkan, karena DD tidak mau menjadi murid/mahasiswa Stef Djawanai (kemudian menjadi Guru Besar Linguistik UGM dan lalu pindah ke Universitas Flores di Ende). Kenapa? “Enak saja dia mau jadi guru saya, kan kita temanan di Mataloko. Kita saling tahulah kemampuan masing-masing,” kisah DD sambil tertawa.
Ada cerita pengalaman menarik lain DD soal kuliah di UGM. “Hari pertama saya masuk kuliah Ilmu Negara, dosen bilang ‘republik’ berasal dari bahasa Latin ‘republica’. Sebagai orang yang belajar bahasa Latin, saya langsung pikir, kuliah ini bakal tidak menarik. Kesan awal yang buruk, haha,” sekali lagi DD tertawa. Mulai saat itu, cerita DD, dirinya lebih suka menghabiskan banyak waktu untuk diskusi di luar kampus ataupun kegiatan publikasi dan aktivisme lainnya.
Begitu juga dengan ceritanya tentang suatu masa yang relatif singkat di Ritapiret dan Ledalero. DD bilang, kuliah membosankan karena filsafat dan teologi yang diajarkan sangat skolastik. Oleh karena itu, dia lebih banyak menghabiskan waktu membaca di perpustakaan. “Saya suka teologi Karl Rahner dan Edward Schillebeeckx. Di masa kami di Ritapiret, ada kiriman majalah teologi dari Eropa, saat itu tulisan-tulisan Schillebeeckx menyihir saya,” kata DD.
Kendati demikian, DD tetap menaruh respek pada beberapa dosen yang mempunyai pikiran yang terbuka, salah satunya Pater Clemens Parera, SVD, pengajarLogica Minor et Maior danTheodicea. Dalam sumbangan tulisannya untuk buku kenangan 40 tahunSTFK Ledalero, DD menulis, Pater Clemens mengajarkan bahwa doctrina et veritas adalah dua hal yang tidak senantiasa seiring dan sejalan. Selalu ada tegangan keduanya.
DD pernah menulis agak panjang tentang pengalamannya di Mataloko. Tulisan berjudul “Vita Mea in Semitis Tuis. Mengenang Seminari Santo Johanes Berchmans Todabelu, Mataloko” ini adalah persembahannya untuk semua gurunya di Todabelu: Jan Ebben SVD (rektor dan guru Latin), Coen Claessens SVD (prefek dan guru Latin), Anton Donkers SVD (guru Latin dan Ilmu Bumi), Jan Keerstjens SVD (guru menggambar), Gaspar Sa SVD (prefek), William Pop (guru Inggris dan Direktur Studi), dan lain-lain. “Semua mereka adalah guru dalam arti sesungguhnya. Setelah itu saya banyak menemukan pengajar dan sedikit sekali guru,” tulis DD.
Ket. Foto: Seminari Mataloko
Bagi DD, Seminari Mataloko adalah lembaga untuk pengembangan iman dan peradaban. Anak-anak didik (formandi) dari kampung bertemu dengan peradaban baru yang dibawa oleh misionaris Eropa. Tentu, hal ini tidak berarti bahwa apa yang ada di kampung dan segala tradisinya lebih rendah daripada yang dibawa oleh orang bule. Akan tetapi, sistem pendidikan sebagai alat pembebasan disosialisasikan dengan cara yang humanis kepada anak didik. Para misionaris SVD memberikan yang terbaik dari apa yang mereka punya dan alami di Eropa kepada anak-anak pribumi di pedalaman Pulau Flores.
DD sangat terkesan dengan dan menaruh minat yang besar terhadap pendidikan bahasa asing, terutama bahasa Latin dan bahasa Inggris. Faktor guru rupanya menjadi kunci. Pater Gerbrand Kramer yang menemukan mnemonic tools untuk membantu pengajaran bahasa Latin. Pater Garger dan Pater William Pop yang masing-masing sangat canggih memperkenalkan tata bahasa dan sastra Inggris. Mungkin karena itu, DD selalu bangga bahwa bahasa Inggrisnya bagus dan tidak mempunyai kendala berarti ketika studi di Amerika Serikat (AS).
Semangat akademik dan penjelajahan ilmiah dipompakan di lembah Sasa ini setelah angkatan mereka mendapat julukan “Studenten von Leipzig Universitaet” dari Patter Jan Ebben. Setelah itu, Pater Alex Beding “meletakkan batu-batu pertama kehidupan intelektual” dengan beberapa gebrakan. Pertama, “merevolusi pengajaran kesusasteraan dari memorizing the literature ke experiencing literature” yang disertai dengan membangun perpustakaan dengan koleksi buku-buku sastra terbaik dari masa ke masa. Kedua, “menghidupkan kegiatan tulis-menulis dengan menerbitkan majalahFlorete yang terkenal itu. Beberapa wartawan dan tokoh nasional asal Flores adalah mantan jurnalis Florete: mantan direktur eksekutif VOA Frans Padhak Demon, jurnalis senior Alex Dungkal, mantan dubes Alo Lele Madja, mantan jurnalis Kompas Ansel da Lopez, mantan jurnalis MetroTV Walfred Andre, jurnalis senior Abraham Rungamali, jurnalis senior John Don Bosco, dan lain-lain.
Ketiga, mendirikan Akademia St Agustinus yang dirancang sebagai suatu debating club. Untuk keperluan salah satu debat awal, DD menyiapkan sebuah ceramah bertajuk “Fungsi Sosial dan Budaya Seni Tari”, yang diakui DD, “inilah paper saya yang pertama di muka bumi”
Dari ketiga gebrakan akademik di atas, ketahuilah bahwa penekanan ada pada pengembangan intelektual, khususnya humaniora. DD menulis, “Pendidikan seminari memang didasari oleh artes liberals, di mana bahasa, sastra, filsafat menjadi dasar-dasar pendidikan demi membela humanitas yang tidak lain daripada kebudayaan. Semua ini selalu membekas dalam pendidikan setiap orang di seminari”
Kendati tidak disebutkan DD dalam tulisannya, orang yang memahami sistem pendidikan seminari akan langsung tahu tentang 5S sebagai dasar, prinsip, arah dan tujuan pendidikan: Scientia (ilmu pengetahuan), sapientia (kebijaksanaan), sanctitas (kesucian), sanitas (kesehatan) dan socialitas (persaudaraan, kemasyarakatan). Inilah yang memungkinkan para lulusan seminari (lebih) unggul dalam beberapa hal, terutama pada zaman ketika DD masih remaja di Flores.
Saya tidak akan banyak masuk pada kesaksian DD tentang studinya di Cornell. Pasti ada banyak orang yang sudah tahu tentang hal itu. DD sendiri pernah bercerita bahwa atmosfer kuliah di Cornell telah memungkinkannya berkembang dan matang sebagai peneliti dan intelektual, terutama dalam pertemuannya dengan beberapa cendekiawan yang menaruh perhatian besar pada Indonesia dan Asia untuk beberapa bidang seperti politik dan media massa. “Saya memilih minor filsafat dan sangat suka pada sesi diskusi di Cornell yang memungkinkan kita menulis hal lain sama sekali daripada bahan kuliah, terutama tentang tokoh-tokoh kontroversial,” ujar DD. Beberapa papernya yang pernah dibawakan di Cornell tentang tokoh-tokoh kemudian disertakan pada bukunya “Menerjang Badai Kekuasaan”.
Ket. Foto: Universitas Cornell, Sumber Foto Google
Sampai di sini, ketika kemudian orang mengenal DD sebagai ilmuwan sosial, analis politik dan intelektual, kebanyakan orang kemudian hanya mengenal DD sebagai alumnus UGM dan Cornell. Padahal, menurut kesaksian DD sendiri, bakat dan kemampuan untuk menjadi akademisi telah ditempa di sebuah sekolah menengah di pedalaman pulau bunga di kepulauan Nusa Tenggara.
DD sendiri sampai di akhir hidupnya mengaku sangat bangga dan mencintai almamaternya Seminari Mataloko. Begitu juga, Daniel Dhakidae adalah salah satu kebanggaan sekolah milik gereja itu. Dalam sebuah makan siang bersama, kami pernah mengeluh soal mahalnya biaya kirim (ongkos) buku ke Mataloko. DD menaruh perhatian besar pada sekolah yang terletak di kecamatan Golewa Kabupaten Ngada itu. Bahkan, seri-seri Majalah Prisma hampir selalu dikirimkan ke sana sejak lama. Yang terakhir, DD meminta saya tanya alamat email kepala perpustakaan Seminari Mataloko, Romo Nani Songkares, agar bisa dikirimkan e-paper seri Prisma terbaru.
Akh, saya kemudian berkhayal, seandainya pemerintah tahu, Menko PMK sadar dan Menteri Pendidikan mau sedikit melihat bahwa sistem pendidikan seminari bisa menjadi model bagi pendidikan menengah pada umumnya, tentu tidak untuk mengatakan sebagai yang sempurna, kita mungkin akan mempunyai banyak generasi emas yang cerdas dalam banyak aspek. Belum terlambat, juga perhatian pemerintah bagi sekolah-sekolah swasta seperti seminari yang saat ini harus diakui menghadapi banyak tantangan (finansial).
RIP Daniel Dhakidae. Terima kasih untuk inspirasi, terutama keteladanan akademik dan daya tahan di hadapan kekuasaan. Surga bagimu!
————————
Agustunus Tetiro, Ketua Kelompok Studi “Ende Bergerak”, Administrator Forum Wartawaan NTT Sedunia
SUATU saat dalam hidup kita, bukan tidak mungkin kita mengalami peristiwa-peristiwa yang tidak kita inginkan. Bisa saja kita mengalami kehilangan pekerjaan yang kita tekuni selama puluhan tahun, atau bisa saja kita kehilangan jabatan yang kita tekuni dari tangga yang paling bawah, atau bisa saja kita kehilangan keluarga dekat karena bencana alam.
Bencana alam: tsunami, gempa bumi, banjir bandang adalah
bencana yang amat berat, menekan dan di luar rencana dan perhitungan kita.
Bencana alam ini biasanya datang secara tiba-tiba sehingga kita tak sempat
mengambil jarak, tak sempat mengambil napas. Para bijak menuturkan bahwa dalam
setiap kepahitan (bencana alam, wabah penyakit) yang kita alami kita dapat
mengambil hikmanya. Penderitaan, bencana alam sebenarnya sekolah kearifan yang
paling berguna. Dengan adanya bencana alam yang menimpa saudara-saudari kita di
NTT khusunya di Lembata (Ile Ape dan Kedang), memampukan kita belajar untuk
“mengulurkan tangan berbagi kasih”. Cinta berkaitan dengan apa yang kita berikan.
Kita memang perlu memberi. Apa pun yang kita berikan akan
berdaya guna bagi hidup sesama. Kita tidak terlalu tahu, hidup siapa yang kita
sentuh dan menjadi lebih baik karena perhatian kita, karena perbuatan memberi
kadang-kadang mempunyai hasil akhir yang tidak terlihat. Namun hal yang
terpenting adalah bahwa kita peduli dan bertindak.
Untuk itu kami dari komunitas INA LEFA Jakarta dan Komunitas TAMAN DAUN Lewoleba datang mengetuk hati Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk dengan ikhlas mengulurkan tangan membantu para korban bencana alam. Kami menerima bantuan baik berupa uang mau pun berupa pakain bekas layak pakai, selimut, tikar, sembako.
Bantuan berupa pakaian,
selimut, Sembako, akan kami tampung di sekretariat INA LEFA: Jln Utama Dua no 97 B Rt 09/ Rw 016 Srengseng
Sawah Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Bantuan berupa uang
dapat di transfer ke rek INA LEFA
Bank Mandiri No. Rek.
0700005324210 A. N . TITUS BAIRASA KEY.
Mari kita bersama-sama bergandengan tangan meringankan duka sauadara-saudari kita. Dengan bantuan sekecil apapun sambil dengan rendah hati membatinkan kebenaran kata-kata ini: “Kita tidak Melakukan Hal-hal Besar. Kita melakukan Hal-hal kecil dengan CINTA yang besar” ( Bunda Teresa dari Kalkuta). -Paskalis Bataona-
Bisa Hub kami;
Willy Keraf : 0812 91 444 366
Titus Key : 0821 128 57 621
Yos Boli Batafor : 0812 818 06639
Lois Bataona : 0852 927 85399
Paskalis Bataona : 0812 806 42742
Ket. Foto. Bencana Banjir Bandang yang menerjang Ile Ape – Lembata
MAUMERE – Presiden RI Joko Widodo bantu 5000 paket sembako untuk korban bencana banjir bandang dan tanah longsor di Adonara Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata.
Bantuan
sembako dari Presiden RI Joko Widodo ini tiba di Bandara Udara Frans Seda
Maumere kabupaten Sikka Selasa,06 April 2021 dengan menggunakan dua armada
Hercules milik TNI AD.
Pesawat
pertama Hercules TNI AU C-30 Nomor A-1337 tiba diBandara Udara Frans Seda Pukul
22.23 WITA .Membawa Bantuan dari Presiden RI sebanyak 1.800 paket sembako dan
Masker sebanyak 2 Kardus.
Kemudian
pukul 13.54 wita Pesawat TNI AU C-130 Nomor A-1335 yang membawa Bantuan dari
Presiden RI Sebanyak 1.772 paket sembako dan Bansos dari Pangkoopsau I sebanyak
98 kardus sembako dan indomie sebanyak 100 Kardus.
Turut hadir
dalam kegiatan tersebut Danlanud Eltari Kupang, Marsma Asril Samani,Sekda Sikka
Adrianus Firminus Parera,Kapolres Sikka AKBP Sajimin S.I.K M.H,Dandenpom Lanal
Maumere Mayor Laut (PM) Edy Wibowo,Pasiter Kodim 1603 Sikka Kpt Inf.Edi,
Pasiops Kodim 1603 Kpt Czi Sunaryo,Kepala KP3 Udara .Ipda Budi,Kasatpol PP
Sikka Buang Dacunha.
Pantauan
media Bantuan presiden sudah dimuat ke atas 5 truk dan 1 mobil Dalmas Lanal
Maumere.Yang sebelumnya sejumlah personil kodim sudah memindahkan paketan
tersebut kedalam mobil pengangkut.
Untuk sementara kendaraan pengangkut bantuan presiden RI diamankan di Kantor Koramil Alok. Danramil Alok Kapten CZI Sunaryo bersama aparat keamanan dari Lanal Maumere, Polres Sikka, dan SatPol PP mengawasi dengan ketat.
Menurut rencana, bantuan dari Presiden RI Joko Widodod akan diberangkatkan Rabu (7/4/2021) melalui Pelabuhan Lorens Say Maumere menggunakan KRI Oswald Siahaan.
Presiden
Jokowi sendiri dikabarkan melakukan kunjungan kerja ke lokasi bencana di
Kabupaten Flotim dan Kabupaten Lembata pada Jumat (9/4) mendatang.
Untuk
diketahui banjir bandang dan longsor yang terjadi Minggu (4/4) telah
memporakporandakan 3 kecamatan di Kabupaten Flores Timur yakni Ile Boleng,
Adonara Timur, dan Wotan Ulumado. Selain itu Banjir bandang juga menerjang
Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur, dan Kedang di Kabupaten Lembata. (AM).
SEJAK jadi penjual koran eceran di Kupang tahun 1992, nama Dr Daniel Dhakidae sudah saya baca di Kompas. Di koran harian paling besar di Indonesia itu, saya baca nama (Daniel) itu dalam box redaksi. Selain nama Marcel Beding, Pius Karo, Ansel da Lopez, Valens Doy, Rikar Bagun atau Damyan Godho. Bele Marcel adalah wartawan senior dari kampung nelayan Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Lembata. Sedang moat Pius dan om Ansel dari Maumere, Kabupaten Sikka, Flores. Ka’e (kaka) Daniel dan om Damy dari Ngada. Di luar itu ada banyak nama wartawan senior asal NTT kala itu yang akrab di telinga setelah saya kaget lihat langsung koran-koran besar terbitan Jakarta yang beredar di Kupang. Kaget karena baru tahun 1991 mata saya melihat dan memegang koran-koran itu di Kupang. Maklum. Sejak SD hingga tamat SMA saya mulai agak akrab dengan DIAN dan HIDUP. Itu pun memegang dan membaca musiman. Di Boto, kampungku, kami meloi dari jauh dan hanya diceritakan kembali pastor ini berita dan artikel saja.
Bele Marcel, demikian juga Goris Prawin
hanya saya dengar saat mereka konon mengikuti perayaan 100 tahun Gereja Katolik
masuk Lamalera. Marcel belakangan saya tahu yang dimaksud adalah Marcel Beding,
wartawan Kompas. Begitu pula Goris
Perawin belakangan saya tahu yang dimaksud adalah Gorys Keraf, Guru Besar
Fakultas Sastra dan Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Moat Pius Karo dikenalkan
moat Ardi, kerabatnya dari Maumere.
Moat Ardi, memperkenalkan pria yang sama-sama duduk di bangku adalah kerabatnya
yang pernah wartawan Kompas.
“Maaf, apa Pius yang dimaksud itu moat
Pius Karo,” kata saya setengah berbisik kepada moat Ardi. “Benar. Dulu sama-sama tinggal di kos selama saya
jadi supir bus ke Jawa,” kata moat
Ardi.
Ka’e Daniel Dhakidae awalnya sua bikin gerogi. Maklum. Namanya tertera di box redaksi Kompas dan tentu ia orang hebat, pintar, dan susah ngobrol. Apalagi ia seorang intelektual dengan kualifikasi pendidikan doktor. Lulusan Amerika, apalagi. Itu yang ada dalam pikiran saya. Bertemu pertama kali pun bahasa saya masih kuat dengan logat Kupang càmpur baur Lembata. Itu hal lain yang bikin lidah berat memulai omong dari mana agar bisa nyambung ka’e Daniel. Saya sengaja pepet Daniel saat beliau ambil nasi dari tempat nasi besi. “Saya kira kita ambil dari seringan. Ini tuan pesta taro di baskom besar,” kata saya.
Berharap ada respon ka’e
Daniel. Dan benar adanya. “Aji
isi dalam rapi sekali ko. Dari San
Dominggo ko?,” tanya Daniel.
Celana kain dan baju kotak-kota memang saya sisip rapi, isi dalam. “Saya
cuma dengar cerita emperan San Dominggo, ka’e,”
jawab saya ke Daniel. “Dari Larantuka, Solor, Adonara atau Lembata,”
tanya Daniel. “Saya dari Lembata,
ka’e. Kampung tetangga, bapa Marcel Beding,” kata saya. Saya sengaja
menyebut “kampung tetangga” bele
Marcel agar obrolan dengan Daniel bisa berlanjut di sela-sela jedah diskusi dan
bedah yang ia juga tampil sebagai pembicara.
Taktik mendekati lalu akrab dengan narasumber lalu bertanya banyak sudah diajarkan para senior saat pelatihan jurnalistik bagi anggota baru PMKRI Santo Fransiskus Xaverius Cabang Kupang. Kalau narasumber pasang muka sanger, cari akal agar bisa tembus lalu wawancara. Kalau seorang narasumber agak kaku, nyeletuk saja. “Pak, maaf. Tali sepatu terlepas,” pesan senior saya, yang pernah ngepos di sebuah koran terbitan Jakarta. “Tapi, cepat-cepat tanya materi yang kamu bawa dari kantor,” lanjutnya mengingatkan. Nah, “ilmu” itu yang saya terapkan saat bertemu Daniel dalam jarak sejengkal. Tatkala menyebut “seringan”, Daniel tersenyum diikuti omongan, “Aji isi dalam rapi, ko“.
Begitu saat hendak mewancarai Menteri Kawasan Timur
Indonesia, Manuel Kaisiepo, saya nyaris ditolak karena sang menteri segera ke
bandara untuk kunjungan kerja. “Kàka, nanti Pemred saya marah besar kalau
tak jadi wawancara. Kami terdesak deadline.
Atau saya wawancara dalam oto kaka
saja. Selesai di mana baru kaka kasi turun saya,” kata saya kepada Manuel.
Manuel tertawa lalu. “Dua puluh hingga tiga puluh menit cukup ya?”
katanya. Saya oke. Jadilah wawancara khusus terkait Papua itu saya turunkan
dalam judul, ‘Manuel Kaisiepo: Adà Disparitas Regional’. Ingatan saya kembali
ke Daniel, intelektual Indonesia asal Nusa Tenggara Timur. Hari ini, ka’e Daniel Dhakidae berpulang.
Damailah di sisi-Nya. Ja’o (saya)
senang pernah bertemu ka’e, sosok
intelektual rendah hati yang dimiliki Indonesia. Dewa beka.
Jakarta, 6 April 2021 Ansel Deri Orang udik dari kampung; Menghormati ka’e Daniel.
KABUPATEN MALAKA – Nusa Tenggara Timur saat ini sedang diterjang banjir sejak tanggal 2 April 2021 hingga hari ini (4 April 2021). Beberapa desa di Kabupaten Malaka terendam banjir, di antaranya desa-desa yang ada di Kecamatan Malaka Tengah, Kecamatan Malaka Barat dan Kecamatan Wewiku.
Imbas dari banjir yang belum kunjung surut sampai hari ini adalah lumpuhnya aktivitas masyarakat. Sumber-sumber pencarian nafkah hilang, ketersediaan air bersih tidak ada, kekurangan kebutuhan pokok seperti makanan dan minuman hingga pakaian, juga masyarakat harus mengungsi dari kediamannya yang terendam banjir. Selain itu, masyarakat terus dihantui perasaan khawatir akan kondisi banjir yang akan terus bertambah parah.
Emanuel Bria, dari Forum Kajian Sejarah dan Budaya Wesei Wehali menegaskan bahwa diperlukan tindakan emergensi dari pemerintah daerah dan solidaritas masyarakat pada umumnya untuk membantu para korban. Bencana alam ini juga mengingatkan kita untuk hidup selaras dengan hukum-hukum adat dan alam. Situs-situs adat yang selama ini menjadi tempat yang sakral tidak boleh dirusak karena sudah dijaga leluhur secara turun-temurun.
Menindaklanjuti situasi ini, kami dari
Komunitas Anak Timor Hitz Kreatif yang juga terdaftar sebagai Lembaga Sosial
Masyarakat, berinisiatif untuk menjadi perpanjangan tangan dari saudara
sekalian yang ingin membantu para saudara di Malaka – NTT. Kiranya, dalam
kesulitan di masa pandemic ini, hati kita tetap tergerak untuk saling membantu.
Oleh karena
itu, kami memfasilitasi donasi kepada saudara-saudara yang terdampak banjir di
Malaka – NTT berupa, 1. Donasi dana,
dapat dikirimkan melalui rekening Lembaga Sosial Masyarakat Anak Timor Hitz
Kreatif (Bank NTT – 2502415584 /a.n. Anak Timor Hitz Kreatif) 2. Donasi barang
(sembako, pakaian, obat-obatan, dll) dapat dikirimkan ke Posko Anak Timor Hitz
Untuk Korban Banjir Malaka-NTT dengan alamat: – Perumahan Griya Lontar 2, Blok F, No.11, Jl Taebenuk, RT 01/RW 02,
Kelurahan Liliba, Kec Kelapa Lima, Kupang – NTT – Belu Store Anak Timor Hitz,
Plaza Perizinan Belu, Jl Basuki Rachmat No 2, Atambua, Belu – NTT Kiranya
uluran tangan kasih dari saudara sekalian dapat meringankan beban para saudara
kita di Malaka- NTT dan dibalas oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Contact Person: Aryanto Seran ( WA/ Tlp o8111177654) Email: anaktimorhitz@gmail.com, Instagram dan You Tube: @anaktimor_hitz, Facebook: Anak Timor Hitz