Author: Redaksi

  • Kunjungi Sanggar “Bliran Sina” Watublapi, Kemenkominfo RI Dorong Produk Masuk Pasar Digitalisasi

    Maumere Berandanegeri.com – Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia melalui staf khusus Menkominfo didampingi Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian KUKM dan Synergy Project Leader Telkom Indonesia  melakukan kunjungan ke Sanggar “Bliran Sina” Watublapi, Desa Kajowair, Kecamatan Hewokloang,  Kabupaten Sikka, Provinsi NTT,  Jumad (30/4/2021). Kunjungan itu bertujuan mendorong produk untuk masuk ke pasar digitalisasi.

    Staf Khusus Menkominfo, Philip Gobang dalam kunjungan mengatakan Sanggar “Bliran Sina” yang diwariskan para leluhur dan mengembangkan diri dengan mempertahankan warisan budaya leluhur yang kemudian menjadikan daerah wisata  boleh dikatakan menjadi satu titik budaya untuk memperkenalkan diri dengan karya budaya yang sangat besar.

    Ini juga menjadi bagian dari kampanye Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia yang dicanangkan presiden RI Joko Widodo beberapa waktu lalu.

    Philip Gobang lebih jauh menegaskan bahwa Khusus di NTT tema kali ini dengan nama “Kilau Digital Permata Flobamora” yang artinya mau mendorong seluruh karya yang dihasilkan mama-mama di kampung untuk beradaptasi dengan situasi yang kita alami saat ini. Dengan adanya pandemi, kita beradaptasi dan bertransformasi masuk ke pasar konektivitas internet.

    Staff Khusus Menkominfo, Philip Gobang

    Dengan kehadiran kami disini, kami mendukung semua karya dari Sanggar “Bliran Sina” Watublapi,  Desa Kajowair, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka,  Provinsi NTT  menjadi salah satu bagian dari apa yang disebut produk lokal UMKM. Karena kami ingin memperkenalkan kreasi budaya secara lebih luas ke masyarakat melalui akses untuk kemudahan konektivitas internet dalam mendorong produk masuk ke pasar digital.

    “Saya dengan pihak Keminfo tentu melihat hal ini sangat penting karena transformasi digital sekaligus memperkenakkan produk budaya kemasyarakat,” terangnya.

    Untuk mengembangkan plafon digital Kemenkominfo juga bekerjasama dengan Telkom Indonesia.

    Synergy Project Leader Telkom Indonesi, Kuncoro Wastuwibowo pada kesempatan itu juga mengatakan pihaknya mendapat amanah dari pemerintah melalui Kemenkominfo, Kementrian UMKM dan BUMN untuk mengembangkan plafon digital yang akan menjembatani bagaimana ekosistem ini digabungkan.

    Kuncoro Wastuwibowo, Synergy Project Leader Telkom

    “Bagaimana program ini bisa menyambungkan komersialisasi dengan UKM dalam  bidang digitalisasi untuk bisa dipasarkan ke dunia,”ungkapnya.

    Sementara itu Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian KUKM, Viktoria Simanungkalit menyebutkan kementerian UKM berupaya mendukung kegiatan usaha kecil menengah di semua daerah dan saat ini sedang didorong bagaiaman kewirausahaan UMKM.

     Menurutnya  saat ini semakin banyak usaha mikro dan hanya sebatas usaha. Tetapi tidak memikirkan bisnisnya. Apakah  bisnis ini menguntungkan dalam skala yang cukup atau tidak. Oleh karena itu Pemerintah dalam hal ini Kementerian Koperasi mendorong para usaha mikro supaya bisa bekerja dengan skala yang cukup, efesiensi dan harga bisa bersaing.

    Victoria Simanungkalit, Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian KUKM

     “Saat ini banyak usaha mikro tetapi hanya sebatas usaha. Tidak memikirkan bisnisnya untung atau tidak Oleh karena itu kita mau dorong para pelaku mikro untuk bisa bekerja skala besar dan bisa bersaing,”ujar Victoria

    Kementerian KUMK perlu melakukan  pendekatan ekosistem karena tidak bisa berdiri sendiri tetapi tetap dilatih dan didukung dengan pembiayaan. Karena itu kata Victoria pemerintah melakukan pendekatan holistik dan ekosistem terhubung.

    Presiden RI Menginginkan Kita Berkolaborasi

    Victoria juga menegaskan bahwa tugas dari Kemenkominfo membuat ekosistem supaya internet jalan, Kementerian Koperasi dari segi bisnis, Kementerian Perindustrian dari segi desain atau pengembangan produknya. Ini perlu kita berkolaborasi sehingga produk yang dihasilkan meningkat.

    Kita berharap Pemerintah Kabupaten Sikka kreatif dan saling bekerjasama dan  berkomunikasi supaya bisa melihat apa yang dibutuhkan di Kabupaten ini, sehingga dari pusat memberikan pelatihan sesuai dengan kebutuhan kabupaten ini.

    Bukan kemauan pusat tetapi memang kami mau masyarakat daerah ini butuh apa karena yang paling tau adalah bapak ibu yang ada di sini. Kami dari pusat akan bekerja sama denga Pemda dalam melayani usaha kecil masyarakat perlu ditingkatkan,,”tegas Victoria.

     Sekilas  Sanggar “Bliran Sina

    Sanggar “Bliran Sina” diketuai Yosef Gervasius beranggotakan 50 orang. “Bliran Sina” yang artinya Sejuk Bagaikan Negeri Cina dan berdiri sejak 7 September 1988 kini menjadi pusat perhatian semua lapisan masyarakat.

    Tujuan berdirinya sanggar “Bliran Sina” adalah  meningkatkan pendapatan masyarakat melalui penjualan produk seni tradisional, meningkatkan kesejahteraan dan kenyamanan hidup bermasyarakat dengan mempertahankan kearifan sosial budaya dan lingkungan hidup, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan menghargai hak asasi manusia dan kesetaraan gender.

    Kegiatan pokok dari Sanggar “Bliran Sina” yaitu  ikat tenun pewarna alam, musik dan tarian tradisional, kerajianan tangan.

    Produksi yang dihasilkan yakni kain tenun asli pewarna alam dengan berbagai motif sesuai ukuran pria dan wanita. Musik tradisional dan tarian tradisional.

    Produk kerajianan tangan berupa perabot dapur dari tempurung, bambu, anyaman-anyaman, bahkan baju tas, dompet, topi, perhiasan aksesoris, dan alat-alat musik serta alat tenun mini.

    Pemasaran langsung kepada wisatawan yang datang  ke lokasi sanggar. Selain itu penjualan melalui mitra lokal dan regional. Harga bervariasi sesuai jenis produk dan mutu produk. (Atik)

  • Polda NTT Ajak Masyarakat Sikka untuk Bersinergi Berantas Narkoba

    Maumere Berandanegeri.com – Kepolisian Daerah (Polda) NTT mengajak seluruh lapisan masyarakat Maumere Kabupaten Sikka dan Masyakarat NTT pada umumnya untuk bersinergi dalam mencegah  dan memberantas narkoba di dalam wilayah propinsi NTT.

    Kabupaten Sikka sendiri, selama tahun 2021 ini, baru terdapat satu kasus narkoba yang terungkap dan pelakunya ditangkap di Jakarta. Dimana pihaknya bekerja sama dengan Bareskrim, untuk proses penangkapan itu.

    Peredaran Narkoba yang masuk ke wilayah Nusa Tenggara Timur saat ini  pada umumnya masuk melalui jasa pengiriman baik darat, laut maupun udara.

    Hal itu diungkapkan Direktur Reserse Narkoba Polda NTT, Kombes Agustinus Indra Napitupulu kepada wartawan usai menggelar sosialisasi pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba dan psikotropika bagi masyarakat Kabupaten Sikka bertempat di Aula Kemala  Sikka pada Jumat (30/4/2021).

    Dikatakan Kombes Indra hingga April 2021, jumlah kasus narkoba yang berhasil diungkap sebanyak 11 kasus. Sedangkan tahun 2020 lalu, jumlah kasus narkoba yang berhasil diungkap sebanyak 59 kasus.

    Direktur Resnarkoba Polda NTT, Kombes. A. F. Indra Napitupulu, S.I.K., didampingi Kasat Resnarkoba Polres Sikka, Iptu. Mesakh Y. Hetharie, saat diwawancarai para wartawan usai kegiatan sosialisasi

    Dari 11 kasus peredaran narkoba yang berhasil diungkap Dit Narkoba Polda NTT, kebanyakan kasus peredaran narkoba di wilayah NTT masuk melalui jasa pengiriman jalur udara. Meskipun demikian, sejauh ini pihaknya selalu melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap semua aktivitas baik darat, laut maupun udara.

    “Tahun ini saja, hingga April 2021, sudah ada 11 kasus penyalahgunaan narkoba yang sudah kita ungkap dan tentunya masih banyak lagi kedepannya. Sedangkan tahun 2020 lalu, ada 59 kasus narkoba yang kita ungkap di NTT,”jelasnya. Disebutkan, narkoba jenis sabu-sabu merupakan yang paling banyak beredar.

    Dari 11 kasus narkoba yang berhasil diungkap,jelas Indra  kebanyakan jenis shabu-shabu dan juga tembakau gorila, yang pelakunya ditangkap di Ruteng, Kabupaten Manggarai.

    Dengan adanya sosialisasi ini Kombes Indra  berharap agar bisa memberikan pemahaman serta sekaligus bermitra dengan masyarakat Kabupaten Sikka dari berbagai komponen, agar dapat mendukung kegiatan yang dilakukan pihaknya selama ini.

    “Jadi tentunya, kami datang untuk mengajak masyarakat disini, agar bersinergi bersama dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan narkoba,”pungkasnya. (Atik)

  • Menangkap Sinyal 4G demi USBD di Perbukitan Leze di Manggarai Timur (Bagian 2)

    Oleh Markus Makur

    JARUM jam menunjukkan 07.15 Wita. Laju sepeda motor dari Kampung Peot, Kelurahan Peot, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Rabu, (28/4/2021) menuju ke rumah jabatan Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Heremias Dupa di Kompleks Golo Karot, Kelurahan Rana Loba. Saat tiba di rumah jabatan, kami menunggu Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto bersama stafnya.

    Pagi itu mereka sudah mengagendakan pemantauan Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) tingkat sekolah dasar. Kali ini mereka memantau USBD dua sekolah dasar di Kecamatan Kota Komba yang melaksanakan USBD di perbukitan Leze, Desa Mbengan.

    Dalam rombongan itu, ada dua wartawan yang ikut untuk meliput ujian berbasis digital di perbukitan tersebut.

    Laju dua kendaraan dari Kota Borong menuju ke bagian Timur. Setiba di pertigaan Kisol, kendaraan belok kiri menuju ke arah utara.

    Mereka melintasi kawasan perkampungan Mbapo, Rende, Desa Rende menuju ke perkampungan Kakang, Desa Pong Ruan. Meneruskan perjalanan di jalan mendaki Mok hingga tiba di lokasi ujian.

    Kepala Sekolah Dasar SDI Nunur, Arnoldus Latong sudah menunggu di tikungan jalan masuk lokasi ujian. Mereka turun dari kendaraan hingga berjalan kaki menuju ke lokasi USBD.

    Siswa Duduk Bersila Beralaskan Tikar Plastik

    Setiba di lokasi ujian berbasis digital, siswa dan siswi kelas VI duduk bersila dengan pakaian seragam merah putih, memakai masker, jaga jarak serta memegang handphone android dan ipad sambil mengerjakan soal ujian.

    Setiba di lokasi, guru-guru menyapa Ketua DPRD Manggarai Timur, Heremias Dupa dan Kepala Dinas PPO Manggarai Timur, Basilius Teto. Selamat pagi pak. Mereka menjawab sapaan itu dengan selamat pagi.

    Selanjutnya, Teto menanyakan, apakah ada kesulitan selama USBD di tempat ini?, Kepala Sekolah SDI Nunur, Arnoldus Latong dan Kepala SDK Waekekik, Henrikus Sale bersama guru-guru menjawab bahwa ujian hingga hari terakhir masih berjalan lancar. Sinyal 4G masih stabil.

    Latong menjelaskan, kisah awal mendapatkan tempat di perbukitan Leze untuk menangkap sinyal 4G berawal dari informasi bahwa saat USBD tingkat SMP, khususnya SMPN 02 Mok melaksanakan USBD selama 4 hari di lokasi perbukitan ini.

    Memang, lanjut Latong, saat uji coba, try out USBD 15 April 2021 lalu, mereka melaksanakan di pinggir tebing Keto di sebelah selatan dari Kampung Nunur. Namun, sinyal 4G tidak stabil.

    “Saya bersama guru-guru memutuskan melaksanakan USBD di perbukitan Leze. Akhirnya sejak Senin, 26 April 2021 melaksanakannya di perbukitan ini. Sekolah menyewa mobil pick up untuk mengangkut siswa dan siswi kelas VI ke tempat ini dan saat pulang,” jelasnya kepada wartawan, Rabu, (28/4/2021).

    Latong menjelaskan, apapun kesulitan sinyal yang dihadapi, sekolahnya berjuang agar melaksanakan USBD dengan lancar.

    “Kami bersyukur bahwa cuaca mendukung dengan tidak turun hujan serta lokasi ini sangat tenang walaupun berada di ruang terbuka. Kami berterima kasih atas kunjungan Ketua DPRD Manggarai Timur dan Kepala Dinas PPO Manggarai Timur,” jelasnya.

    Terpisah Kepala Sekolah SDK Waekekik, Henrikus Sale, Rabu, (28/4/2021) mengisahkan saat try out, uji coba, sekolahnya berpindah-pindah tempat. Pertama di bawah rimbunan bambu Betong Torok, kedua, mencoba di dalam ruang kelas, ketiga melaksanakan di perbukitan Leze. Dari ketiga lokasi ini, perbukitan Leze, sinyal stabil hingga mereka memutuskan melaksanakan UBDD di perbukitan Leze.

    “Saya dan guru-guru mengadakan rapat dengan memutuskan bahwa USBD dilaksanakan di perbukitan Leze,” jelasnya.

    Henrikus menjelaskan, perbukitan Leze merupakan tempat sekolah rakyat (SR) Mok di zaman dulu. Kemudian pindah ke perbukitan di perkampungan Mok. Perbukitan ini merupakan perkampungan tua dari masyarakat Mok zaman dulu.

    Lokasi Terbuka tanpa Tenda Terpal

    Perbukitan Leze sangat sejuk karena banyak pohon yang tumbuh di sekelilingnya. Ada tempat rata di perbukitan ini. Bahkan masih ada 4 rumah warga di perbukitan tersebut. Lokasi ujian di tempat terbuka tanpa ada terpal penutupnya. Memang ada tiang-tiang tenda darurat, namun tidak ditutupi terpal.

    Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Heremias Dupa kepada wartawan, Rabu, (28/4/2021) menjelaskan, Lembaga DPRD minta Dinas Kominfo memprioritas pemasangan BTS di pelosok-pelosok Manggarai Timur seperti di Kecamatan Elar dan Elar Selatan, Lambaleda Utara, Kota Komba Utara.

    “Saya sudah dengar ada 66 BTS yang siap dibangun di Manggarai Timur dari Kominfo RI. Untuk ke 66 BTS harus diprioritaskan kepada daerah-daerah di pedalaman Manggarai Timur yang blank spot. Saya sudah telepon Kadis Kominfo Manggarai Timur agar memprioritas pembangunan BTS di daerah susah sinyal,” jelasnya.

    Dupa menjelaskan, kebutuhan sinyal saat ini sangat mendesak di era digital sesuai perkembangan zaman. Sinyal saat ini seperti buku. Karena dengan bagus maka bisa membaca materi pelajaran di handphone.

    Dupa menjelaskan, teknologi informasi bisa ditempatkan di urutan pertama dalam program pembangunan sesuai perkembangan era digital.

    Terpisah Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga saat ditemui wartawan di lokasi ujian, Rabu, (28/4/2021) menjelaskan, jumlah 330 Sekolah Dasar. Ujian akhir berjenjang, 315 Sekolah, jumlah siswa peserta ujian 6488 siswa, Model ujiannya daring 179 sekolah, jumlah siswanya 3819 siswa, ujian luring 139 sekolah, jumlah 2669 siswa.  Ujian di luar kelas ada 44 sekolah. Lainnya di kelas.

    “Kesulitan jaringan internet 4G sehingga sulit melaksanakan di ujian di dalam kelas. Ada bantuan Teknologi Informatika dan Komunikasi (TIK) dari kemendikbud ke sekolah. Saya pastikan 2022 semua sekolah ada TIK,” jelasnya.

    Basilius menjelaskan, paling banyak ujian di luar kelas dengan tenda darurat di Kecamatan Elar, Elar Selatan dan Kota Komba bagian utara.

    “Sampai hari terakhir ini tak ada kendala ujian sekolah Berbasis digital (USBD). Semangat guru patut diapresiasi oleh pemerintah. Alasannya, keterbatasan jaringan internet tidak mematahkan semangat melainkan mencari sinyal agar pelaksanaan USBD berjalan lancar,”  jelasnya.

    Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Manggarai Timur, kepada wartawan, Selasa, (27/4/2021) melalui sambungan telepon menjelaskan, tim dari Jakarta sudah melakukan survey di 49 titik di seluruh Kabupaten Manggarai Timur untuk membangun BTS.

    “Dari 66 rencana bangun BTS di Kabupaten Manggarai Timur, 49 sudah dilakukan survey. Tinggal 17 titik yang sedang dilakukan survey. Saya sudah tandatangan dokumen administrasi dari tim yang melakukan survey di seluruh Manggarai Timur,” jelasnya.

    —————————————————————————-

    Penulis adalah wartawan di Manggarai Timur, NTT

  • Kesulitan Sinyal internet, Siswa Kelas VI USBD di Lereng Bukit Leze di Pedalaman Manggarai Timur (Bagian 1)

    Oleh Markus Makur

    SEBANYAK 23 siswa dan siswi Kelas VI Sekolah Dasar Inpres Nunur, Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur melaksanakan Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) di lereng bukit Leje di ujung kampung Mok, Desa Mbengan, sebelumnya saat uji coba, try out dilaksanakan di Tebing Keto, bahasa lokalnya Ngapan Keto. Karena sinyal di tebing itu kurang stabil akhirnya pindah ke lereng bukit Leze.

    Demikian dijelaskan Kepala Sekolah SDI Nunur, Arnoldus Latong saat dihubungi wartawan, Selasa, (27/4/2021). Ini hari kedua USBD tingkat sekolah dasar di luar ruangan kelas.

    Latong menjelaskan, kesulitan sinyal 4G di wilayah Desa Mbengan membuat sekolah mengambil keputusan UBSD di ruang terbuka, tepatnya di Lereng Bukit Leze.

    “Selama uji coba atau try out dari Kamis-hingga Sabtu, guru dan tenaga pendidik sebanyak 17 orang mendampingi siswa dan siswi Kelas untuk USBD dengan handphone miliki sekolah, yakni IPad di Tebing Keto, kini saat USBD pindah ke Lereng Bukit Leze,” jelasnya.

    Dalam keterbatasan sinyal, lanjut, Kepala Sekolah, Latong, guru-guru mencari lokasi sinyal yang bisa menangkap jaringan 4G. Tempat yang agak bagus untuk menangkap sinyal 4G di Lereng Bukit Leze.

    “Saya berharap saat pelaksanaan USBD mulai Senin, 26 April dapat dilaksanakan di ruang kelas sehingga anak-anak sekolah tidak jalan kaki ke ruang terbuka, ternyata harapan itu tidak terwujud, dan kini melaksanakan USBD di lereng Bukit Leje,” harapnya.

    Menempuh Jarak 5 Kilometer untuk Uji Coba USBD

    Guru SDK Waekekik, Silvester Lete saat dihubungi wartawan, Selasa, (27/4/2021) saat sedang berlangsung USBD  menjelaskan, selama 3 hari, Ujian Sekolah Berstandar Digital (USBD) di Lereng Bukit Leje. Hari pertama, Senin, 26 April dilaksanakan di Lereng Bukit Leze.

    Silvester menjelaskan, saat uji coba Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) , 15 April 2021 lalu di pinggir jalan di Betong Torok, tempat rumpun bambu. Uji coba di pinggir jalan itu untuk menangkap jaringan internet 4G dari Aimere dan Waelengga. Hari kedua, sekolah mencobanya di dalam ruangan kelas, namun sinyal tidak stabil. Hari ketiga dilaksanakan di lokasi Lereng bukit Leze-Mok. Lokasi terletak diatas pertigaan kampung Mok. Sinyal 4G lumayan bagus.

    “Jumlah siswa dan siswi kelas VI ada 17 orang. Berpindah-pindah lokasi uji coba atau try out karena masalah jaringan internet 4G. Upaya yang sekolah lakukan dengan sewa mobil untuk angkut siswa dan sebagiannya bonceng di sepeda motor. Guru berjuang keras dengan berbagai upaya agar uji coba atau try out USBD berjalan lancar. Kini USBD tidak berpindah-pindah dan menetap pelaksanaannya di Lereng Bukit Leje,” jelasnya.

    Henrikus Sale, Kepala Sekolah SDK Waekekik saat dihubungi wartawan, Selasa, (27/4/2021) menjelaskan, saat survei awal untuk Ujian Sekolah Berbasis Digital, SDK Waekekik meresponsnya baik karena ada jaringan sinyal 4G dari sebuah tower di sekitar wilayah tersebut. Tower itu berukuran kecil. Lalu, dibangun lagi BTS agak besar, namun masih dalam penyesuaian pemasangan jaringannya.

    Henrikus menjelaskan, saat pelaksanaan uji coba atau try out USBD jaringan sinyal 4G dari tower itu belum bagus sehingga sekolah mengambil keputusan untuk melaksanakan uji coba USBD di ruang terbuka yang memiliki jaringan 4G bagus.

    “Tempat yang direkomendasikan adalah lokasi Betong Torok, Leze-Mok. Kami sempat coba di sekolah pada hari kedua namun jaringan 4G belum stabil. Kami berharap agar saat Ujian akhir berbasis digital Senin, 26 April 2021, jaringan 4G dari BTS Nunur, Mbengan berfungsi dengan baik sehingga kami melaksanakan USBD di dalam kelas,” jelasnya.

    Ternyata sinyal belum bagus sehingga sekolah memutuskan melaksanakan USBD di Lereng Bukit Leze. Ada dua sekolah dasar yakni SDI Nunur dan SDK Waekekik melaksanakan USBD dalam satu tempat di lereng bukit Leje.

    “Siswa kelas VI dari dua sekolah ini duduk dengan alas tikar berbahan plastik untuk mengerjakan soal ujian dengan Ipad,” jelasnya.

    Kepala Desa Mbengan, Yohanes Tobi kepada wartawan, Selasa, (27/4/2021) menjelaskan ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) SDI Nunur berlokasi di Lereng Bukit Leje. Mereka melaksanakan USBD di ruang terbuka itu demi  jaringan internet 4G, padahal itu di lereng bukit.

    Yohanes mengatakan Ada tower di Nunur, Desa Mbengan tapi jaringan parah. Mestinya pemerintah harus serius mengatasi persoalan susah sinyal 4G.

    “Sebelum-sebelumnya sinyal 4G bagus, tetapi menjelang hari uji coba USBD beberapa waktu lalu dan kini USBD sekolah dasar sinyal sangat buruk. Untuk itu saya sebagai Kepala Desa berharap jaringan internet di BTS Nunur dibenahi serta  ambil langkah yang pasti sehingga anak-anak tidak harus mengikuti ujian di lereng bukit yang resikonya sangat berat,” harapnya.

    Yohanes menjelaskan, jarak dari Kampung Nunur ke Lereng Bukit Leje sekitar 5 kilometer. Guru menyewa mobil untuk mengangkut anak-anak sekolah untuk ikut ujian.

    Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Heremias Dupa kepada wartawan, Selasa, (27/4/2021) menjelaskan, Lembaga DPRD minta Dinas Kominfo memprioritas pemasangan BTS di pelosok-pelosok Manggarai Timur seperti di Kecamatan Elar dan Elar Selatan, Lambaleda Utara, Kota Komba Utara.

    “Saya sudah dengar ada 66 BTS yang siap dibangun di Manggarai Timur dari Kominfo RI. Untuk ke 66 BTS harus diprioritaskan kepada daerah-daerah di pedalaman Manggarai Timur yang blank spot. Saya sudah telepon Kadis Kominfo Manggarai Timur agar memprioritas pembangunan BTS di daerah susah sinyal,” jelasnya.

    Dupa menjelaskan, kebutuhan sinyal saat ini sangat mendesak di era digital sesuai perkembangan zaman. Sinyal saat seperti buku. Karena dengan bagus maka bisa membaca materi pelajaran di handphone.

    Terpisah Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Selasa, (27/4/2021) menjelaskan, jumlah 330 Sekolah Dasar. Ujian akhir berjenjang, 315 Sekolah, jumlah siswa peserta ujian 6488 siswa, Model ujiannya daring 179 sekolah, jumlah siswanya 3819 siswa, ujian luring 139 sekolah, jumlah 2669 siswa.  Ujian di luar kelas ada 44 sekolah. Lainnya di kelas.

    “Kesulitan jaringan internet 4G sehingga sulit melaksanakan di ujian di dalam kelas. Ada bantuan Teknologi Informatika dan Komunikasi (TIK) dari kemendikbud ke sekolah. Saya pastikan 2022 semua sekolah ada TIK,” jelasnya.

    Basilius menjelaskan, paling banyak ujian di luar kelas dengan tenda darurat di Kecamatan Elar, Elar Selatan dan Kota Komba bagian utara.

    “Sampai hari kedua ini tak ada kendala Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD),”  jelasnya.

    —————————————————————————-

    Penulis adalah wartawan di Kabupaten Manggarai Timur, NTT

  • Kemenkominfo Dorong Inovasi UMKM di NTT

    Maumere Berandanegeri.com – Kementerian Kominfo RI melalui Direktorat Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan  Maritim akan mendorong inovasi Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM) di NTT.

    Kegiatan Webinar ini akan berpusat di Maumere, pada hari Sabtu,  01 Mei 2021, Pukul 09.00 WITA bertempat di Golden Hotel Maumere.

    Kegiatan secara offline dan melibatkan 40 Pelaku UMKM yang tentunya akan patuh pada protokol kesehatan Covid-19, ” jelas  Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Sikka Kensius Didimus, Kamis(29/4/2021).

    Kensius menjelaskan Webinar mengangkat tema “Mendorong Kreasi dan Inovasi UMKM Flobamora” ini dalam rangka mendukung Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) 2021.

    Mantan Kepala Dinas Desperindag Kabupaten SIKKA ini mengajak pelaku UMKM yang ada di Maumere untuk mengikuti kegiatan Webinar ini secara online.

    Adapun Zoom Link Webinar ini meeting ID 928 7698 0620 Passcode: BBI dengan Link pendaftaran https://s.id/flobamora0105.

    Kita berharap agar setelah kegiatan Webinar ini bisa mendorong kemajuan dalam rangka peningkatan sumber daya manusia untuk belajar berproduksi, menghasilkan produk berkualitas, mampu mengelola badan usaha rumah tangga dan desa – UMKM.

    Selain itu hasil yang diharapakan dari webiner ini adalah mampu membuat kemasan dan label produk, belajar sistem pemasaran dan pembayaran digital, sehingga pada gilirannya bisa memberikan manfaat maksimal dan berkelanjutan untuk kesejahteraan ekonomi dan sosial dan tumbuh kembang UMKM yang ada di NTT, “harap Kensius Didimus.

    Dikatakan Kensius Didimus Pemerintah Kabupaten Sikka memberikan apresiasi dan terima kasih karena mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah penyelenggaraan kegiatan ini.

    Atas perhatian dan dukungan dari Kementerian Kominfo Republik Indonesia, kiranya kegiatan ini kelak dapat membangun kemandirian dan kemajuan UMKM di Kabupaten Sikka,” ujarnya.

    Selain UMKM yang akan hadir dalam kegiatan ini Dekanasda Kabupaten Sikka. (Atik)

  • 77 Pelajar SMAK Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere Terpapar Covid-19 – KBM dihentikan Sementara

    Maumere Berandanegeri.com – Setelah diketahui 77 Pelajar SMAK  Seminari Maria  Bunda Segala Bangsa (BSB) Maumere terpapar covid-19 maka kegiatan belajar mengajar secara tatap muka pun dihentikan sementara selama 14 hari. Dan digantikan dengan kegiatan Belajar Dari Rumah (BDR).

    Selain 77 Pelajar,  ada 5 pembina asrama  dan karyawan pun ikut terpapar Covid-19. Dan saat ini sana-sama menjalankan isolasi terpusat pada Sekolah SMAK Maria BSB.

    Semua Siswa Seminari yang Terpapar Covid-19 Menjalani Isolasi Terpusat di Seminari BSB

    Kepala SMAK Seminari Maria BSB Maumere RD Raymundus Minggu kepada wartawan, Rabu (28/4/2021) mengatakan semua pelajar yang terpapar positif Covid-19 ini adalah anak asrama maka BDR langsung dari asrama. Karena semua pelajar sekolah ini adalah anak asrama maka belajar dilakukan BDR dari asrama.

    “Tadi kami sudah rapat, dan putuskan KBM dengan model belajar dari rumah,” jelas Kepala SMAK Seminari Maria BSB Maumere RD Raymundus Minggu.

    Kepala Sekoah SMAK SEminari Maria BUnda Segala Bangsa Maumere, RD Raymundus Minggu

    Dijelaskannya BDR hanya berlaku bagi pelajar yang negatip saja. Sedangkan pelajar yang positip, disarankan untuk konsentrasi kesehatan mereka.

    Kebijakan BDR, mengacu pada  Surat Edaran yang dikeluarkan Satgas Covid Sikka yang mengimbau pelaksaanaan BDR selama dua minggu ke depan,”terangnya.

    Sementara Praeses Seminari BSB RD Raymond Minggu, S.,Fil, M, Pd kepada wartawan di Seminari BSB, Rabu siang menjelaskan tenaga kesehatan hingga pemeriksaan gelombang II telah melakukan rapid tes terhadap ratusan siswa kelas XII dan kelas X dan terhadap pegawai/guru.

    Jurubicara Satgas Covid Sikka Bidang Kesehatan dokter Clara Francis menyinggung soal SE Bupati Sikka Nomor 74/C-19/IV/2021.

    Terkait dengan pendidikan, kata dia, tertuang dalam poin 6, di mana disebutkan apabila terdapat guru, siswa/mahasiswa atau tenaga pendidikan lainnya pada satuan pendidikan yang dinyatakan positip Covid, maka seluruh aktifitas KBM wajib dihentikan selama 14 hari.

    Juru Bicara Satgas Covid-!9 SIKKA Bidang Kesehatan, dr. Clara Y. Francis

    Total siswa yang terpapar usai mengikuti rapid test pada Rabu pagi sebanyak 75 orang plus dua siswa yang sudah menjalani karantina di SCC. Sementara pegawai/guru yang positif usai rapid pada Rabu sebanyak 5 orang plus 2 guru yang dinyatakan positif sebelumnya. (Atik)

  • Tidak Memiliki Jamban, Warga Wiro Wetir BAB di Kebun

    Maumere Berandanegeri.com – SEBANYAK  117 jiwa dari 20 Kepala Keluarga (KK) yang mendiami Kampung Wiro Wetir, RT 14 RW 006, Dusun Wegok Natar, Desa Seu Sina, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka Propinsi NTT  masih terisolir dan tidak memiliki Jamban sehingga warga membuang air besar (BAB) dikebun.

    Ketua RT 14, Kampung Wiro Wetir, Ambros Nong Gaga (46) ditemui dikediamannya, Selasa, 27 April 2021 menuturkan bahwa sebanyak 117 jiwa dari  20 KK, masih sangat terisolir dari berbagai aspek pembangunan.

    Ambros menuturkan sebanyak 20 KK warga Wiro Wetir, belum memiliki MCK, jaringan air bersih dan listrik. Kondisi itu membuat warganya terpaksa BAB di kebun karena di wilayah itu tidak ada hutan.

    Ambros menambahkan, masalah ketersediaan air bersih di kampungnya menjadi kendala tersendiri untuk penggunaan Jamban sebagai kebutuhan BAB warga.

    “Semua warga termasuk saya sendiri, terpaksa buang air besar di kebun-kebun karena di sini tidak ada  hutan. Sepertinya sudah tradisi. Tidak ada yang punya Jamban . Bagaimana mau bangun Jamban, kami susah air,” kata Ambros.

    Sedangkan kebutuhan air bersih, untuk mandi, masak dan minum harus menempuh jarak 2 km untuk mengambil air di sumur milik warga di Kewapante. Atau membeli seharga Rp 100 ribu pet satu tengki berkapasitas 5 ribu liter.

    Sementara untuk penerangan rata rata warga masih mengandalkan lampu pelita di malam hari.. Kondisi itu menyulitkan warga untuk beraktifitas di malam hari. Anak sekolah terpaksa belajar dengan penerangan lampu pelita.

    Di wilayah itu terdapat 11 orang siswa-siswi Sekolah Dasar. Sedangkan siswa SMP tidak ada sama sekali. Sedangkan siswa SMA hanya 1 orang, yakni anak dari Ketua RT 014.

    “Banyak yang putus sekolah, setelah sambut baru. Anak SD 11 orang, SMP tidak ada sama sekali dan SMA itu satu orang, anak saya sendiri,” kata Ambrosius.

    Terhadap 11 siswa SD di Wiro Wetir lanjut Ambros, terpaksa harus menempuh jarak 2 sampai 3 KM untuk ke sekolah. Ada yang sekolah di SD Inpres Watu Wekak, dan SD Inpres Wolonmbue Desa Waiara.

    Henika Emi (35) seorang ibu rumah tangga, yang ditemui di rumahnya mengatakan hanya mengandalkan air hujan yang ditampung untuk kebutuhan masak, minum, mandi dan cuci pakaian.

    “Kami hanya harap air hujan yang ditampung di profile tank saat hujan. Itu yang kami gunakan untuk masak, cuci dan minum,” kata Henika Emi.

    Menurut Emi, kondisi topo grafi kampung Wiro Wetir yang terletak di lembah, membuat harga air tengki menjadi mahal. Dimana harus membayar extra Rp 50 ribu di luar harga air, sewa selang yang akan digunakan dari mobil tengki ke rumah warga.

    Warga Wiro Wetir, berharap perhatian pemerintah agar bisa keluar dari kemelut yang menyelimuti warga yang masih sangat terisolir di pinggiran Kota Maumere. (Athick)

  • Kemendes PDTT: ”Drip Irrigation System” adalah Solusi Terbaik untuk Pertanian di NTT

    Maumere Berandanegeri.com – Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Samsul Widodo menyebutkan Sistem Irigasi Tetes (Drip Irrigation System) yang dikembangkan oleh salah satu petani milenial di Kabupaten Sikka, Yance Maring, merupakan hal yang sangat baik dan bisa menjadi sebuah solusi untuk Pertanian di Provinsi NTT.

    “Yang paling penting buat saya, bukan tentang teknologinya tetapi bisa digerakan oleh anak muda. Sehingga harapan kami, ini adalah sebuah kebangkitan anak-anak muda di NTT khususnya di bidang pertanian. Apalagi ada teknologinya juga, jadi biasanya mereka akan lebih menikmati jikalau ada teknologi, ketimbang harus mencangkul dan juga menyiramnya dengan tangan,” tutur Samsul Widodo usai melakukan diskusi bersama Yance Maring di aula Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Senin (26/4/2021).

    Dikatakan Samsul Widodo pada awalnya dirinya menginjakan kakinya di NTT dengan tujuan untuk mengeksplor vanili. Karena menurutnya, ada dua kabupaten yang memiliki produksi vanili cukup besar yakni, Sikka dan Ngada. Tetapi dirinya juga akhirnya mendapatkan informasi bahwa adanya Drip Irrigation System di Kabupaten Sikka.

    “Saya memang sejak dulu selalu tertarik dengan NTT, jadi banyak hal yang perlu kita eksplor di sini dan bagaimana mengembangkan bisnis di wilayah ini seperti Drip Irrigation System. Sehingga teknologi ini wajib dan harus kita dukung bersama,” katanya.

    Widodo menambahkan, hari ini pihaknya juga kembali lagi mengunjungi kebun irigasi tetes milik Yance Maring dan berdiskusi dengannya. Sementara, (Selasa, 27 April 2021), pihak dari Kemenko Perekonomian bersama tenaga ahli juga akan mengunjungi dan agar bisa mengeksplor lebih jauh lagi tentang lahan irigasi tetes tersebut.

    Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga, Kemendes PDTT, Samsul Widodo

    Menurut Widodo, kegiatan ini akan dilakukan pihaknya secara bertahap sehingga dapat menemukan sebuah model bisnis yang pas untuk Yance Maring. Dengan harapan bahwa, Yance bisa menjadi sebesar apa dan bagaimana caranya.

    “Jadi, besok Tim Kemenko Perekonomian dengan tenaga ahli juga akan datang dan berbicara lebih kepada bagaimana mengembangkan pasar. Kita juga akan undang beberapa pihak yang mempunyai bisnis sejenis, sehingga mereka bisa berbagi pengamalan bersama Yance,” terangnya.

    Terkait minimnya perhatian dari pemerintah terhadap Drip Irrigation System yang dikembangkan oleh Yance saat ini, dirinya mengatakan, “jikalau kita ingin terjun ke dunia bisnis, kita tidak boleh bergantung kepada pemerintah. Namun bisnis itu harus tetap kita jalani, ada atau tanpa dukungan dari pemerintah.

    “Tetapi kami juga akan mendukungnya dengan tenaga ahli untuk bisa mengembangkan bisnis mereka, mengembangkan jaringan mereka dan menghubungkan mereka dengan pasar. Jadi, realnya itu yang akan kami lakukan,” jelasnya.

    Widodo juga mengomentari mengenai adanya sebuah solusi terhadap Yance Maring untuk pengembangan usaha kedepannya nanti. Disampaikannya, saat ini pihaknya belum mempunyai formula yang pas untuk melakukan pengembangan usaha Yance Maring karena harus dilakukan secara bertahap.

    “Menurut tim dari FishOn tadi, proses itu biasanya dua tahun. Sehingga dicek, dipraktekin, dicek lagi, dibenarin dan sebagainya. Jadi bukan Yance langsung jadi besar, tidak demikian. Ini kan masih dalam taraf mengeksplor, sebenarnya maunya apa dan kedepannya sebaiknya seperti apa,” ungkapnya.

    Sementara itu, Ines Handayani, Tim Program Transformasi Digital Kemendes PDTT mengungkapkan bahwa, Yance Maring juga sangat luar biasa karena sudah memulai merintis Smart Farming. Karena pada umumnya, isu di NTT dan juga sebagian besar wilayah Indonesia Timur adalah air sehingga Smart Farming bisa menjadi sebuah solusi yang baik.

     Lanjut Ines, isu ketahanan pangan, gizi, stunting dan yang lainnya juga demikian. Yang mana, harus diperkuat dari sisi produksi pertanian, tetapi kembali kepada bagaimana kita bisa mengatasi keterbatasan air dan lain-lain.

    Ines Handayani. Tim Program Transformasi Digital Kemendes PDTT

    “Jadi, Yance sebagai founder harus yakin dengan cita-citanya, dia   juga harus banyak belajar, banyak networking. Dan ada baiknya pemerintah daerah juga, memberikan perhatian terhadap apa yang dia lakukan selama ini,” terangnya.

    Dirinya pun berharap agar ide-ide anak muda di NTT perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, dan jangan membiarkan mereka berjalan sendiri.

    “Analoginya seperti kita sedang menyemai bibit maka harus memberikan perhatian yang cukup, perlu nutrisi dan juga air. Tidak bisa dia dibiarkan tumbuh harus bersaing dengan rumput liar. Jadi jangan biarkan Yance berjalan sendiri,”tuturnya. (Atiks)

  • Peduli Korban Bencana Alam di Adonara, SD Inpres Wairkalau Maumere Serahkan Bantuan

    Maumere Berandanegeri.com – Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama atas musibah bencana alam yang terjadi di Pulau Adonara Kabupaten Flores Timur beberapa waktu lalu, keluarga besar Sekolah Dasar Inpres Maumere Kabupaten Sikka, Propinsi NTT turut mengambil bagian  mengantar dan menyerahkan bantuan langsung  kepada korban bencana alam

    Penyerahan bantuan korban banjir bandang berlangsung di poskoh bantua bencana alam di desa  Waiburak Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT Kamis 22 April 2021.

     Bantuan diserahkan secara simbolis oleh ibu Novita Agustina Lisyiningsi dan kristoforus. Yang dihadiri oleh 8 orang dari  perwakilan para guru  SDI Wairklau Maumere.

    Kepala Sekolah SDI Wairklau Maumere, Luh Anggreni S.Pd.SD saat dikonfirmasi wartawan, Senin(26/4) mengungkapkan bantuan untuk korban bencana banjir bandang di Adonara sebagia bentuk kepedulian lembaga pendidikan, orang tua siswa dan para siswa-siswi SD Inpres Wairklau.

    “Penyerahah bantuan kemanusiaan  ini adalah bentuk kepedulian kepada saudara-saudara kita  yang terkena musibah   dan untuk  meringankan beban bagi saudara-saudara   kita di Adonara, Kabupaten Flotim yang terdampak banjir bandang beberapa waktu lalu dan semoga bantuan ini bisa bermanfaat untuk meringankan beban saudara-saudara kita” harap Anggreni.

    Bantuan yang diserahkan antara lain berupa beras 4 karung, gula pasir 50 kg, pakaian bekas layak pakai untuk anak-anak 2 karung, pakaian bekas layak pakai untuk dewasa 2 karung, sabun mandi, sabun cuci dan perlengkapan mandi lainnya 2 dos,  minyak goreng 1 dos dan biskuit 1 dos. (Atiks)

  • Kondisi Jalan Buruk, Mobil Terbalik dan Makan Korban Puluhan Orang

    Boto Berandanegeri.com – SAN PEDROO, mobil angkutan pedesaan rute Lewoleba, kota Kabupaten Lembata menuju Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Minggu (24/4) sekitar jam 19.00 WITA terbalik karena mengalami patah as payung di Dusun Kluang, Desa Belabaja (Boto), Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata.

    “Saat mobil mendaki di jalan menuju gedung bekas SD Inpres Labalimut di Bunga Bleang, as payung patah lalu mobil terbalik, Sabtu (24/4/2021) malam. Kejadiannya tak jauh dari gedung Pustu dan kantor Desa Belabaja. Korban dan para penumpang seluruhnya dibawa ke kantor desa lalu kami tangani,” ujar Astrid Labaona, bidan desa Labalimut dalam keterangan usai menangani korban di kantor Desa Belabaja, Sabtu (24/4/2021).

    “Nene Udis, salah seorang korban mengalami luka serius. Kalau bergerak darah keluar terus. Mungkin saat mobil jatuh, terjadi benturan keras sehingga kita putuskan dirujuk ke Lewoleba. Korban selama ini tinggal di Loang, kota Kecamatan Nagawutun. Ada 17 orang luka lecet. Tiga orang lainnya menderita luka sehingga kita jahit saja.”ujar Astrid usai menangani korban kecelakaan.

    Mantan Kepala Desa Belabaja Ferdinandus Perawin Mudaj, mengakui sebagian ruas jalan dari Desa Belabaja dan Labalimut (Boto) menuju ke desa-desa seperti Puor, Imulolong, Posiwatu, Lamalera di Wulandoni kondsinya sangat memprihatinkan. Tak hanya itu, sebagian ruas jalan dari Lewoleba menuju Boto, nyaris tak pernah diperhatikan Pemerintah Kabupaten Lembata melalui dinas terkait.

    “Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Pak Josef A Nae sudah menjanjikan akan bersama Pak Gubernur Vikor Bungtilu Laiskodat memperhatikan ruas jalan Lewoleba menuju desa nelayan Lamalera. Di hadapan saya selaku Kepala Desa dan warga masyarakat Boto di depan rumah adat suku Mudaj di dusun Kluang, desa Belabaja, beliau menyampaikan beliau dan Pak Viktor sudah berkomitmen membangun jalan dari Lewoleba menuju Lamalera yang merupakan destinasi wisata internasional,” kata Fredy Mudaj.  

    Tokoh masyarakat Belabaja, Titus Wolo de Ona menambahkan, ruas jalan dari Lamalera menuju Boto baru saja dilewati Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat dan rombongan saat berkunjung di Lembata beberapa bulan lalu. Sekembali dari Lamalera, malam hari Gubernur Laiskodat dan rombongan melewati desa Posiwatu, Imulolong, Puor, Belabaja, Labalimut dan Atawai menuju wilayah pantai di Desa Idalololong dan Penikenek lalu keLewoleba.

    “Saat kampanye Pak Wakil Gubernur Josef Nae Soi, beliau juga menyatakan beliau dan Pak Viktor Laiskodat berkomitmen membangun ruas jalan Lewoleba menuju Lamalera dengan dana APBD I. Komitmen itu disampaikan setelah saya menyampaikan langsung saat sesi tanya-jawab bersama warga di depan rumah adat suku Mudaj. Saya percaya beliau dan Gubernur adalah tipikal pemimpin yang tak akan pernah lupa dengan janjinya kepada warga masyarakat dan kami sesepuh desa,” kata Titus Wolo de Ona, penjaga rumah adat suku de Ona.

    Warga asal Belabaja, Ansel Deri, mengakui selama 21 tahun Lembata menjadi daerah otonomi kondisi ruas jalan Lewoleba menuju Lamalera sangat memprihatinkan. Selama kepemimpinan Bupati Eliaser Yentji Sunur dan wakilnya, Thomas Ola Langoday, nyaris tak ambil pusing membangun jalan itu.

    Para penumpang korban kecelakaan angkutan pedesaan San Pedro rute Lewoleba menuju Lamalera saat berada di kantor Desa Belabaja, Nagawutun, Lembata, Minggu (24/4) malam.

    “Tahun lalu Gubernur Viktor Laiskodat sudah membantu Lembata melalui APBD NTT untuk membenahi ruas jalan Lewoleba menuju Lamalera. Bantuan anggaran bangun jalan bersumber APBD NTT diarahkan dari Desa Pasir Putih menuju Lewopenutung. Bisa saja itu diarahkan Bupati karena ada aset milik daerah berupa lahan di Pantai Pata Pu’u yang dibeli daerah antara Lolong dan Tewaowutung,” kata Ansel Deri, mantan Tenaga Ahli Viktor Laiskodat dan Irjen Pol (Purn: Drs Y. Jacki Uly, MH di DPR RI.

    Namun, menurut editor buku “Membangun tanpa Sekat” memperingati HUT ke-21 Otonomi Lembata tahun 2021, ruas jalan Pasir Putih menuju wilayah selatan Lembata seperti Idalololong, Lusiduawtun hingga Lamalera, memang sangat buruk sehingga Pak Gubernur prioritaskan anggaran itu ke sana. Pihaknya berharap ruas Lewoleba menuju Lamalera juga mendapat perhatian provinsi.

    “Seluruh Lembata tahu. Wilayah selatan itu pusat hasil niaga dan pertanian Lembata. Bencana erupsi gunung Ile Lewotolok akhir November 2020 dan musibah banjir lahar dingin awal April 2021 sangat menyulitkan lalu lintas angkutan pedesaan mengirim bantuan untuk para korban bencana. Kalau terjadi kecelakaan angkutan pedesaan, tentu selalu jadi keprihatinan sekaligus kenikmatan bagi warga. Sialnya, Pemerintah Kabupaten Lembata seolah tutup mata,” kata Ansel kesal.

    “Lokasi kejadian San Pedro di ujung kampung Kluang itu juga dilewati Pak Gubenur NTT dan rombongan saat kembali dari Lamalera. Pak Gubernur bisa marah kalau saat itu beliau Boto lalu melewati desa-desa seperti Lamalewar, Belame, Watokobu (Belang) hingga Lewoleba. Kondisi sangat buruk tapi itulah yang kami nikmati selama 21 tahun Lembata menjadi kabupaten penuh lepas dari Flores Timur,” kata Antonius Urikame de Ona, warga desa Belabaja lainnya menambahkan.

    Menurut Astrid, puluhan penumpang bus naas itu ditampung sementara di kantor desa. Pihak pemerintah dan masyarakat desa bahu-membahu mengumpulkan makanan dan minuman untuk makan malam. “Malam ini para penumpang makan malam dan nginap dulu di Belabaja. Besok baru mereka kembali ke rumahnya. Sedang pasien lain akan dirujuk ke Lewoleba,” katanya.