Jurang-jurang yang dalam semakin memenuhi jiwa nurani
Tubir-tubir gelap terus mengepung rasa dan nalar insani
Antara raga yang terkapar, mati dan kita yang masih diberi nafas dan waktu
Pawai arwah merana melangkah sempoyongan dibungkus plastik, mencari jalan menggapai cahaya
Jiwa-jiwa yang berpulang dalam kegetiran karena dihantar dengan ketakutan oleh manusia yang bernafas tetapi mati rasa dan nurani dikuasai akal yang ingat diri tak peduli pada hakekat asali
Seperti terhempas dalam jurang kegelapan dan tubir gulita tak bermakna
Dari jurang dalam sirene kegelisahan meraung-raung
Dari tubir kegelapan ratapan ketakberdayaan terus menggema
Entah sampai kapan usai dan sirna
Rindu damba keluar dari jurang gulita dalam dan tubir kegelapan tak mampu dijawabi kehebatan hoaks ujaran, kebencian, radikalisme dan terorisme
Ganasnya ajal dan sengat kematian tidak dapat dikalahkan kuasa uang dan harta
Dengan sujud tobat mohon ampun pasrah diri pada kerahiman Ilahi Maha Kasih semoga kita diberi sayap-sayap iman untuk terbang melintasi tubir kegelapan dan keluar dari jurang ketakberdayaan
Terbang menggapai cahaya Kasih ALLAH Maha Sempurna
Telah beribu kali
kutarik garis nasib pada telapak tangan
sembari menyusun sajak bernama kehidupan
Sajakku kemudian beranak pinak
di malam-malam ia terbangun dan berjaga sampai subuh
membunuh embun
berharap melihat tangan siapa yang menyediakannya
Ketika senja sebelum lelap
sambil memikirkan bulan dan mentari beralih tugas
seperti anak kecil
ia merapal doa syukur
sambil terus mengira-ngira
kalau-kalau Engkau datang di saat-saat lelap
Tuhan
Masih berapa lama lagi
aku terkantuk-kantuk
mempelajari Engkau dalam buku-buku sejarah
juga dalam kitab suci
dalam dongeng juga dalam kemelut
Aku hanya ingin meminta
anak-anak puisiku tumpah di pagi subuh
berhamburan bagai burung gereja
Bawalah sajak-sajakku di mana orang menangis
menadai ribuan hujan air mata
menyematkan harapan walau kegetiran
memalingkan mereka dari-Mu
Aku ingin Engkau saja yang meredakan angin
jika kepak sayapku terasa letih
Tuhan Engkau teramat kuat
dari apapun yang sanggup ciptakan cinta
tak jua anggur yang candu
seperti pencuri yang datang tengah malam
lalu mencabut doa dari harapan
memisahkan Engkau dari kami
Sampai segala waktu yang ada
terkikis detik
di pelataran senja kupuja Engkau dalam hening
Kutangkap wajah-Mu
dalam kertas puisi yang kuyup
(Jakarta, 2020)
————————————————–
P e r t e m u a n
Setelah hujan sore ini
detak waktu semakin terkikis
ada harapan yang terus menguncup
sedangkan cinta sedang mekar-mekarnya
semerbak ketawa ke sana ke mari
semesta maha indah
seindah perjumpaan senja ini
(Tanjung Priok, 15 Mei 2019)
*Sumber Buku Puisi Tuhan dalam Sajak Cinta, Penerbit Tankali 2021
*Helena Lose Beraf, lahir di Lewoleba-Lembata, 26 Juli 1994.
Helen adalah seorang Bidan yang menyukai
dunia Sastra dan Jurnalistik. Karya Tulisnya Pernah Mendapat Juara 1 Kategori Pelajar SMA yang Diadakan oleh Pos Kupang. Tuhan dalam Sajak Cinta adalah Buku Puisi Pettamanya.
Mowanemani – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dogiyai, Provinsi Papua, Rabu (7/7) sukses menyelenggarakan pemungutan suara Pemilihan Kepala Kampung (Pilkakam) atau Desa serentak tahun 2021 di 76 kampung atau desa di daerah itu.
Pemkab Dogiyai mengapresiasi kerja keras jajaran Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (PMK) bersama panitia, aparat TNI-Polri, Pol PP dengan dukungan penuh warga, tokoh masyarakat dan agama serta masyarakat sehingga proses sosialisasi hingga hari pemungutan suara berlangsung aman dan lancar.
“Rabu (7/7) saya bersama pimpinan OPD dan jajaran dinas serta instansi seharian memantau pelaksanaan Pilkakam langsung di beberapa kampung. Proses pemungutan suara berjalan lancar. Tentu sebagai umat beriman saya mengajak warga berterima kasih dan bersykur kepada Tuhan,” ujar Bupati Kabupaten Dogiyai Yakobus Dumupa dalam keterangan tertulis yang diterima dari Mowanemani, kota Kabupaten Dogiyai, Kamis (8/7).
Menurut Bupati Dumupa, pihaknya juga menyampaikan penghargaan kepada warga di kampung-kampung atas kerja samanya sehingga pemilihan serentak kepala kampung berjalan lancar dan aman. Mereka meraih kemenangan bersama karena kepala kampung sudah terpilih secara demokratis, tanpa tekanan.
“Warga datang ke balai kampung dengan gembira. Sejak 21 Juni lalu, mereka disibukkan dengan panitia dan para pegawai yang melakukan sosialisasi hingga pemungutan suara. Kemarin mereka sudah kasih suara kepada calon usungannya. Sore hari mereka sudah tahu siapa kepala kampung yang akan memimpin mereka lima tahun ke depan,” katanya.
Bupati Dumupa menambahkan, pihaknya juga mendorong para Bupati seluruh Papua agar melaksanakan Pilkakam serentak agar warga memiliki akses untuk memilih pemimpin yang memahami kebutuhan mereka. Pilkakam serentak ini sekaligus menjadi ruang masyarakat belajar berdemokrasi ala kampung sekaligus menjadikan setiap momen rekrutmen pemimpin di tingkat lokal murah meriah dan jauh dari praktik money politics.
“Sejak memimpin Dogiyai bersama Wakil Bupati Pak Oskar Makai, saya sudah berniat agar warga melakukan Pilkakam serentak. Pilkakam kami jadikan role model rekrutmen pemimpin karena murah meriah dan jauh dari intervensi pihak lain. Saya melihat, masyarakat Papua di kampung-kampung memiliki kearifan lokal mencari dan memilih pemimpinnya,” kata Bupati Dumupa, penulis belasan buku aneka tema kelahiran Apogomakida, Dogiyai, 12 Mei 1982.
Kepala Suku Kamuu Utara Paulus Goo mengapresiasi langkah Pemkab Dogiyai karena sukses menggelar Pilkakam langsung di seluruh kampung di Dogiyai. Paulus Goo juga menyampaikan pengharaan kepada Bupati Dumupa, Dinas PMK, aparat TNI-Polri, Pol PP, dan warga masyarakat karena ambil bagian menyuksekan penyelenggaraan Pilkakam serentak Kabupaten Dogiyai tahun 2021.
“Ini sejarah baru bagi Dogiyai. Rakyat langsung bisa pilih kepala kampung sendiri. Di kabupaten lain Bupati langsung tunjuk kepala kampung. Berbeda dengan Dogiyai. Bupati perintahkan tong (kami) pilih langsung kepala kampung masing-masing. Tong rakyat Dogiyai akui Bupati Dogiyai hebat,” ujar Paulus Goo memuji Dumupa, penulis buku Mengenal dan Belajar dari Pemimpin Besar.
“Bupati kasih kesempatan kepada kami untuk pilih kepala kampung sendiri. Itu bagus supaya kami bisa pilih sesuai dengan kami punya mau sendiri. Tuhan akan selalu bersama Bupati,” kata Paulinus Pigai, warga masyarakat Kampung Kuyakago, Distrik Kamuu Utara, Dogiyai, menambahkan,
Sebagai penggagas Pilkakam serentak sejak memulai pengabdian sebagai Buoati di Dogiyai bersama wakilnya, Oskar Makai, Bupati lulusan Magister Ilmu Pemerintahan lulusan Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta ini berharap agar Pilkakam setentak dijadikan role model pelaksanaan Pilkakam serentak di seluruh kota atau kabupaten lain di wilayah Papua.
Pihaknya menyampaikan penghargaan kepada Asisten 1 Sekretariat Daerah sekaligus Ketua Panitia Pelaksana Pilkakam serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung Dogiyai, yang sudah menyiapkan dan melaksanakan seluruh tahapan Pilkakam dengan aman dan lancar. Kerja keras mereka dan ketabahan mereka dalam menghadapi segala tantangan patut diapresiasi.
“Pak Asisten 1 Setda, Kepala Dinas, Sekretaris, para Kepala Bidang dan Seksi serta semua staf di Dinas PMK merupakan orang-orang hebat dan pekerja keras. Kehebatan mereka telah mereka buktikan dengan suksesnya pelaksanaan Pilkakam. Tuhan akan terus memberkati mereka dalam hidup dan karya mereka selanjutnya,” ujar Bupati Dumupa.
Bupati juga berterimakasih dan memberikan apreasiasi kepada pimpinan dan anggota DPRD Dogiyai yang sejak awal persiapan hingga pelaksanaan Pilkakam telah bekerja sama dengan baik. Terutama dalam tahap pelaksanaan, para wakil rakyat Dogiyai telah melakukan pengawasan dengan baik terhadap proses pemilihan hingga masyarakat mendapatkan pemimpin pilihannya.
“Saya juga menyampaikan terimakasih kepada aparat TNI dan Polri yang telah ikut mendampingi Satpol PP dalam mengamankan pelaksanaan Pilkakam. Atas kerja keras mereka, telah tercipta kondisi yang aman dan damai selama pelaksanaan Pilkakam,” katanya.
Menyingkap yang tersembunyi – Menjaga yang terlupakan
SELAIN Taman Pancasila dimana ada pohon sukun tempat Bung Karno biasa duduk merenung, dekat rumah pengasingannya di kota Ende – Flores tahun 1934-1938, saat ini ada satu tempat istimewa yang baru dibuat yakni Serambi Soekarno
Serambi Soekarno itu ada di kompleks biara Santo Yoseph milik Serikat Sabda Allah – SVD. Lokasinya berdampingan dengan Gereja Kathedral, Christo Regi, bengkel SVD percetakan Arnoldus dan Gedung Imakulata di kota Ende – flores.
Serambi Soekarno dan Jasmerah
Menurut penjelasan Pater Henri Daros, SVD. saat kami jumpai pada soreh hari tanggal 1 Juli 2021, Serambi Soekarno baru dibangun sekitar 3 tahun yang lalu. Nama yang dipilih, Serambi Soekarno, untuk menggarisbawahi fakta sejarah kehadiran Ir. Soekarno di kompleks ini, selama masa pengasingan beliau di kota Ende – Flores.
Bangunan yang dijadikan Serambi Soekarno adalah bagian dari biara St. Yoseph, masih terjaga keasliannya sejak zaman Bung Karno hidup di tempat ini. Ada ruangan untuk sejumlah buku-buku yang berhubungan dengan aktivitas membaca Bung Karno, ada kamar Pastor J Bouma, SVD yang sering menjadi tempat baca dan menginap Bung Karno, serta tempat diskusi bersama Pater J. Bouma, SVD. Ruang perpustakaan biara tempo dulu, tempat Bung Karno menghabiskan banyak waktu membaca, sudah tiada. Di bagian teras, masih asli dengan sejumlah kursi dan meja untuk tamu dan tempat istirahat para biarawan SVD, ada tambahan ornamen berupa patung Bung Karno duduk merenung dan latar belakang lukisan besar tiga tokoh yakni Bung Karno, P. J Bouma SVD dan P. G. Huitinjk SVD. Kedekatan persahabatan ketiga tokoh ini sudah ditulis dalam buku yang dipublikasikan Penerbit Nusa Indah, dengan judul Bung Karno, Ilham dari Ende untuk Nusantara
Ada juga satu kursi dan meja yang diabadikan khusus, karena sering menjadi tempat baca dan merenung oleh Sang Putra Fajar, selama berada di kompleks ini.
Sebagaimana sharing dari Pater Henri Daros, SVD, misionaris yang pernah berkarya di Jepang, bahwa Serambi Soekarno dimaksudkan seperti ungkapan JASMERAH dari Bung Karno. ” Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Kehadiran Bung Karno di kota Ende, aktivitas beliau membaca dan berdiskusi, merenung tentang nasib dan perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka dari penjajah, Ideologi negara, juga spiritualitas pribadi adalah hal-hal yang diabadikan di Serambi Soekarno.
Serambi Soekarno mengingatkan generasi bangsa dan pewaris NKRI bahwa relasi penuh persahabatan Bung Karno dengan masyarakat dan budaya Lio, warga kota Ende saat itu, para tokoh adat dan agama di Ende Flores, juga secara khusus komunitas biarawan SVD di Ende Flores adalah bagian yang istimewa dalam sejarah perjuangan Ir. Soekarno – Proklamator NKRI. Itu berarti segenap pihak di kota Ende Flores, khusunya pihak masyarakat adat budaya dan tokoh Agama sungguh menjadi bagian integral dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, nilai dan data sejarahnya diabadikan dengan menghadirkan Serambi Soekarno.
Serambi Soekarno dan Ilham Pancasila
Selain di bawah pohon sukun dekat lapangan Perse Ende, ternyata perpustakaan SVD di biara Santo Yoseph, dan beberapa sahabat misonaris di komunitas ini adalah sumber informasi dan interaksi diskusi serta permenungan Bung Karno. Sejarah perjuangan berbagai bangsa lain untuk merdeka, teori politik sosial ekonomi dan budaya, ideologi, spiritualitas berbagai agama dan keyakinan, bentuk negara serta strategi mendirikan NKRI menjadi tema permenungan Bung Karno selama di kota Ende, khususnya di kompleks Serambi Soekarno.
Karena itu, Ilham tentang Pancasila yang digali dan kemudian dirumuskan Bung Karno adalah fakta sejarah yang hendak diabadikan di tempat ini. Serambi Soekarno adalah salah satu lokasi dan sumber yang berperan penting dalam proses penggalian dan permenungan Bung Karno, yang akhirnya pada tanggal 1 Juni 1945, di depan BPUPKI dinyatakan secara tegas dengan nama Pancasila dan penjelasan isinya kelima sila itu.
Dari sisi ini, patut dicatat sisi positif dari pengasingan Ir. Soekarno oleh penjajah Belanda ke kota terpecil Ende Flores, tahun 1934-1938. Bung Karno ternyata mendapat kesempatan untuk merenung, menggali dan menemukan, serta menimba kekuatan konsep dan spirit untuk perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Di Serambi Soekarno juga disimpan data tentang karya seni Sang Putra Fajar, yakni toneel – sandiwara, yang dipentaskan bersama grup sandiwara selama beliau di kota Ende. Isi karya sandiwara yang dibuat Bung Karno adalah semangat mengobarkan patriotisme melawan penjajah dan memerdekakan bangsa Indonesia.
Kiranya Serambi Soekarno dapat dijadikan sebuah sumber data sejarah perjuangan bangsa melawan penjajahan dan melahirkan NKRI, yang sekarang kita warisi; khususnya dalam hubungannya denga Sang Proklamator Bung Karno – Babo Soekarno. Terimakasih untuk keluarga besar misionaris SVD, yang telah menghadirkan Serambi Soekarno, juga semua jasa dalam perjuangan untuk bangsa dan NKRI tercinta.
Maumere Berandanegeri.com-Balai Kesehatan Pangkalan TNI Angkatan Laut Maumere terus melaksanakan gencar serbuan Vaksinasi Covid-19 tahap tiga untuk instansi maritim dan masyarakat bertempat di kantor KSOP Maumere dan berlanjut ke Desa Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Sabtu 3 Juli 2021.
Vaksinasi Covid-19 ini sebagai lanjutan dari serbuan vaksinasi Covid-19 tahap pertama yang dilaksanakan di Mako Lanal Maumere dan tahap kedua di Desa Kojadoi Kecamatan Alok Timur.
Kepala Balai Kesehatan Letda Laut (K) dr. Ulvy Kasbullah selaku Vaksinator mewakili Komandan Lanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga Pariyadi, M. Tr. Hanla., M.M., CTMP. menyampaikan bahwa kegiatan yang diselenggarakan Balai Kesehatan Lanal Maumere adalah mendukung Program Pemerintah melalui TNI Angkatan Laut.
Dikatakannya tujuan vaksinasi ini agar terhindar dari wabah Covid-19, kekebalan imunitas meningkat, dan sebagai langkah memutus mata rantai dalam percepatan penanganan wabah Covid-19 di wilayah Kabupaten Sikka.
Pencapaian kegiatan vaksinasi Covid-19 sasaran 60 orang, dan terdaftar 60 orang. Semuanya mendapatkan vaksinasi Covid-19, “jelas dr. Ulvy.
Mewakali Komandan Lanal Maumere, dr. Ulvy Kasbulah mengucapkan terimakasih kepada masyarakat atas partisipasinya mengikuti dan mendukung program pemerintah sehingga kegiatan Vaksinasi berjalan dengan baik dan lancar.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan menggunakan vaksin Sinovac dukungan dari Dinas Kesehatan Lantamal VII dan Vaksinator dari Satuan Balai Kesehatan Lanal Maumere 5 (lima) orang, Petugas Medis Puskesmas Wolomarang 8 (delapan) orang.
Pelaksanaan serbuan vaksinas tetap menerapkan protokol kesehatan. (Athic)
Menjelang akhir bulan Juni hingga awal Juli 2021, saya berkesempatan ada di kota Ende, Flores, NTT dengan beberapa sahabat untuk satu kegiatan pertemuan budaya. Tepat tanggal 30 Juni soreh hari, kami berkunjung ke Taman Bung Karno, dekat pantai Lapangan Perse Ende.
Ada beberapa cerita yang menarik sehingga mendorong saya menuliskannya. Cerita tentang kota Ende dan pohon Sukun dalam hubungannya dengan Sang Proklamator, Ir. Soekarno, juga Danau Kelimutu dan ‘Nusa Nipa’ – nama asli Pulau Flores.
Kota Ende dan Pohon Sukun
Sejarah bangsa mencatat bahwa pada tahun 1934-1938, Ir. Soekarno, Sang Putra Fajar diasingkan oleh Penjajah Belanda ke kota Ende – pulau Flores. Aktivitas politik Ir. Soekarno dan kawan-kawan untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda menjadi sebab pengasingan tersebut. Kota Ende di pulau Flores saat itu, masih sederhana dan jauh dari keramaian. Keadaan transportasi darat dan laut saat itu masih sangat terbatas. Karena itu, pilihan kota Ende diyakini bisa menjauhkan Ir. Soekarno dari kawan-kawan perjuangan dan pasti sulit untuk berkomunikasi dengan kawan-kawan di Jawa serta memperoleh informasi.
Ternyata berbeda apa yang dibayangkan penjajah Belanda. Justru ada banyak pengalaman bermanfaat bagi Ir. Soekarno untuk perjuangan. Dia membangun komunikasi dengan masyarakat setempat, sampai bisa membentuk kelompok sandiwara – toneel, lalu melatihnya dan mementaskan belasan karya sandiwaranya. Sandiwara yang berisi pesan semangat perjuangan dan cita-cita kemerdekaan. Hal ini lebih jauh akan saya tuliskan terpisah dengan judul ‘Serambi Bung Karno’ di kota Ende.
Lalu soal Pohon Sukun. Dari rumah pengasingan Ir. Soekarno, berjarak sekitar 300 meter, ada lapangan sepak bola dekat pantai, ada satu tempat yang menjadi kecintaan Sang Proklamator untuk duduk. Duduk di bawah rindang dan sejuknya pohon sukun. Dari sini, beliau bisa memandang laut Sawu yang biru membentang, debur ombaknya di pasir pantai berbuih putih siang dan malam, dan pesona kota kecil Ende yang dibentengi gunung Ia – Meja dan Wongge.
Pengakuan Bung Karno dalam sejumlah tulisannya, yakni di bawah pohon sukun ini adalah salah satu tempat renungan tentang bangsa dan negara, dan khusus tentang Pancasila.
Pohon sukun zaman Bung Karno merenung itu telah layu, kering dan tumbang tahun 1970, lalu Sang Penggali Pancasila, Putra Sang Fajar itu wafat 21 Juni tahun 1971.
Pada tahun 1972, ada seorang ibu, Mama Maria Parera Gadi Djou, berinisiatif menanam kembali pohon sukun, untuk mengingat sejarah penting Bung Karno di kota Ende dan Ilham Pancasila bagi bangsa Indonesia dan dunia. Pohon sukun itu tumbuh sejuk segar sampai sekarang, dalam taman Pancasila Bung Karno, yang tertata rapih hingga saat ini, di samping lapangan Perse Ende.
Kelimutu, Lio dan Nusa Nipa
Topik yang kedua yang tidak kalah menarik dari diskusi dengan teman-teman selama di kota Ende adalah tentang Danau Kelimutu, Lio dan Nusa Nipa. Ketiga hal istimewa yang menarik bagiku.
Danau Kelimutu yang terkenal itu kembali ditegaskan bahwa inilah lokasi sangat istimewa sebagai satu-satunya keajaiban alam di dunia. Ada tiga danau yang unik dan berubah-ubah warnanya, dengan nama lokal masyarakat Lio yakni Tiwu Ata Bupu (danau orangtua), Tiwu Ata Nuwa Muri ( danau orang muda), Tiwu Ata Polo (danau Suanggi – orang jahat). Danau Kelimutu sungguh warisan ajaib alam bagi manusia di dunia. Karena itu, sepantasnya diperlakulan istimewa pula oleh semua pihak sebaga satu-satunya keajaiban dunia. Harus dijaga, dilestarikan dan didayagunakan dengan istimewa pula.
Bagi masyarakat adat budaya Lio, yang mendiami area terbesar di Kabupaten Ende, Danau Kelimutu menjadi sangat istimewa secara adat budaya, karena dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakir arwah semua orang yang sudah mati. Ada ritual untuk para penjaga alam di danau Kelimutu dan ritual bagi arwah orang mati disana. Lebih dari itu, diyakini bahwa disinilah rumah bersemayam Sang Pencipta – Dua Nggae – Ibu bumi, Bapa Langit.
Jika demikian, patut dan harus disebut bahwa Danau Kelimutu adalah warisan super istimewa dan ajaib secara alam dan budaya spiritual, baik bagi masyarakat adat Lio maupun masyarakat dunia – Lio memiliki identitas kultural dan khasanah kearifan lokal yang masih dijaga serta dihidupi hingga saat ini.
Dari cerita dan testimoni beberapa teman yang berasal dari Lio, ada beberapa hal menarik. Masyarakat adat Lio percaya bahwa segala bangsa di dunia berasal dari Lio. Ritual dan tradisi adat menjelaskan tentang keyakinan tersebut. Kampung adat, tempat ritual dan religiositas masyarakat Adat Lio bisa dijumpai hingga sekarang. Sejumlah ilmuwan sudah meneliti dan mempublikasi bukunya. Beberapa generasi pewaris sedang berusaha menjaga, memperkuat dan melestarikan seluruh warisan tersebut untuk generasi penerus.
Nusa Nipa adalah nama dari masyarakat adat Lio untuk pulau Flores. Arti Nusa Nipa adalah Pulau Naga. Dinyatakan dalam bahasa adat Lio bahwa Nusa Nipa – Pulau Naga itu Kepalanya menjunjung matahari terbit bersinar di Timur, ekor naga itu ada di barat pulau Flores – mata hari terbenam.
Dari hasil penelitian budaya pastor Piet Petu, SVD, ditemukan ada aneka nama di setiap komunitas adat yang ada di pulau Flores, dengan arti yang sama yakni Pulau – bumi – tanah Naga – Sawaria.
Nama yang berarti Pulau Naga ada dalam bahasa adat masyarakat Lamaholot – di wilayah kabupaten Alor, Lembata dan Flores Timur yakni Nuha Ula. Masyarakat Adat Krowe dan Tana Ai di Kabupaten Sikka menyebut Nuhan Naga Sawaria. Masyarakat Manggarai menyebut nama Nutja Lale.
Berbagai ritual dan bentuk fisik Naga serta Sawaria- Phyton dijumpai dan dipercaya Masyarakat Adat yang mendiami pulau Flores.
Nama pulau Flores yang dikenal dalam peta umum adalah nama yang dipopulerkan dari zaman penjajah Portugis, Flora da Cabo, lalu diterjemahkan sebagai Pulau Bunga – Pulau Flores.
Banyak hal yang menjadi kekayaan pengetahuan bagi saya, serta topik istimewa untuk ditelusi serta dipelajari lebih lanjut.
Saya merasa bangga terlahir di pulau Flores – Nusa Nipa, yang kaya akan Keajaiaban alam serta keanekaragaman komunitas masyarakat adat. Ada harapan dan keyakinan akan adanya semangat dan kecintaan generasi muda pewaris di setiap komunitas adat budaya Nusa Nipa untuk menjaga dan menghidupi warisan luhur budaya serta mensyukuri berkah Sang Pencipta di tanah Naga ini.
Semoga modernitas dan gencarnya pariwisata dengan digitalisasi, tidak melunturkan dan meniadakan warisan alam dan budaya yang ada; karena tokoh adat budaya dan generasi muda pewarisnya masih terus menjaga dan menghidupi identitas diri dan keunikan adat budaya yang ada.
Nusa Nipa – Pulau Naga, tidak saja menjadi keajaiban alam lingkungan dunia, tetapi sekaligus warisan keunikan keragaman adat budaya bagi peradaban dunia.
——————–
*Simply da Flores, Staff SANNIMAS-Direktur Yayasan Harmoni
Jakarta Berandanegeri.com – WARGA Lembata Diaspora Sedunia yang tergabung dalam Group WhatsApp Ata Lembata mengapresiasi Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat terkait rencana penyelenggaraan Turnamen Liga 3 El Tari Memorial Cup (ETMC) tahun 2021. Turnamen bola yang menurut rencana menghadirkan kontingen dari seluruh kabupaten/kota sedianya berlangsung di Lewoleba, kota Kabupaten Lembata, NTT Agustus mendatang.
“Keputusan Pak Gubernur Nusa Tenggara Timur menunda turnamen El Tari Memorial Cup yang semua direncanakan berlangsung pada Agustus 2021 itu langkah bijak. Langkah Pak Gubernur tentu kita apresiasi,” ujar Pastor Dr Bernardus Boli Ujan SVD, warga grup Ata Lembata dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (29/6).
Menurut Pastor Boli Ujan, imam yang juga dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, keputusan Gubernur Laiskodat tentu juga mempertimbangkan aspek keselamatan warga masyarakat Lembata dan NTT umumnya tatkala turnamen itu digelar. Apalagi, kata mantan Sekretaris Komisi Liturgi KWI ini, penyebaran wabah korona di seluruh wilayah NTT, termasuk Lembata sangat membahayakan keselamatan warga.
“Saya pikir langkah penundaan Pak Gubernur NTT ini sangat bijak sebagai pemimpin yang mencintai keselamatan warganya. Pak Gubernur tentu tak mau mengambil resiko besar jika terjadi kerumunan warga saat berlangsung turnamen itu. Apalagi, belakangan banyak warga di sejumlah desa di Lembata juga terpapar virus berbahaya itu,” lanjut Pastor Boli, ahli Liturgi lulusan Pontificio Instituto Liturgico Sant Anselmo, Roma.
Surat Gubernur
Surat Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat Nomor BU.426.3/07/DISPORA/2021 tentang Penundaan Pelaksanaan Turnamen El Tari Memorial Cup dan Soeratin Cup tahun 2021 tanggal 29 Juni dengan alasan mencegah penularan varian virus baru Covid-19.
Atas dasar surat Gubernur NTT tersebut, Asosiasi Provinsi (Asprov) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Nusa Tenggara Timur melalui Surat Nomor: 066/PSSI-NTT/VI/2021 perihal Pemberitahuan Penundaan Kompetisi Sepakbola Asprov PSSI NTT Tahun 2021 menyepakati menunda semua kompetisi Sepakbola Asprov PSSI tahun 2021 yakni Liga III El Tari Memorial Cup XXXI tahun 2021 di Lembata, juga Soeratin Cup U-17 dan U-15 di Belu dan akan dilaksanakan tahun 2022.
“Mengenai tuan rumah peyelenggara kompetisi di tahun 2022 akan diinformasikan kemudian. Demikian pemberitahuan kami, atas nama perhatian dan kerja sama yang baik disampaikan terima kasih,” demikian bunyi surat yang diteken Sekretaris Aprov PSSI NTT Drs Lambertus Ara Tukan, MM yang salinannya diterima, Selasa (29/6).
Surat penundaan Aprov PSSI NTT tersebut juga dikirimkan kepada Ketua Umum PSSI di Jakarta, Ketua Komite Olahraga Nasional (KONI) NTT di Kupang, Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga NTT, Bupati dan Ketua DPRD Lembata, Bupati Alor, Bupati dan Ketua DPRD Belu, Ketua Umum KONI Kabupaten/Kota se-NTT, Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten/Kota se-NTT, dan Ketua Asprov PSSI NTT sebagai laporan.
Pastor Yohanes Laba Tolok SDB, warga diaspora lainnya juga mengapresiasi Gubernur Viktos Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi karena mengambil langkah bijak setelah mendengar suara masyarakat kecil tentang bahaya Covid-19 sehingga menunda turnamen ETMC di Lembata, Soeratin Cup U-17 dan U-15 tahun 2021 di Belu.
“Ini bukti keberpihakan kepada masyarakat NTT. Pemimpin seperti ini yang kita butuhkan. Bisa mendengar dan peka terhadap kehidupan masyarakat. Terima kasih, Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur atas kebijaksanaannya,” kata Pastor John Laba Tolok, Pembina Novisiat Salesian Don Bosco Tigaraksa, Tangerang, Banten.
Imam asal Atadei, dengan penundaan tersebut pihaknya berharap Pemerintah Kabupaten Lembata lebih fokus dalam menangani masalah Covid-19 dan warga masyarakat korban badai Seroja serta pembangunan fisik lainnya di Lembata.
“Penundaan ini tentu mengecewakan Pemkab Lembata dan masyarakat tetapi tentu harus realistis terhadap kenyataan saat ini. Masih ada kesempatan lain. Urusan hidup mati manusia tetap prioritas. Itu yang juga menjadi pertimbangan Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur NTT,” kata Pastor John, imam yang lama bertugas di Dili, Timor Leste.
Dr Justin L Wejak, admin Grup Ata Lembata, mengatakan, Gubernur dan Wakil Gubernur NTT terbukti sungguh sangat bijak dengan keputusan menunda turnamen ETMC 2021. Keputsaun bijak ini patut diberikan apresiasi. Kedua pemimpin itu telah memperlihatkan kepekaan dan akal sehat yang terkesan pupus dalam diri Pemkab Lembata.
Menurut Justin, warga asal Lefkuku, Baolangu, silaturahmi Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur bersama rombongan ke Sumba dalam rangka merayu tiga Bupati di pulau itu secara kasat mata menunjukkan sikap kepala batu dan masa bodoh mereka terhadap arahan dan nasehat Presiden Joko Widodo dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Kepala Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Letnan Jenderal TNI Ganip Warsito terkait perjalanan-perjalanan dinas yang tak begitu perlu di musim pademi Covid-19.
“Itu baru bicara soal kesehatan. Belum lagi kita berapa biaya yang dihambur-hamburkan Bupati dan rombongan di tengah penderitaan sebagian masyarakat korban banjir dan longsor di Ile Ape dan Kedang awal April lalu. Perilaku pejabat ini kian menyengsarakan warga korban bencana dan pembangunan infrastruktur yang selama ini sengaja ditelantarkan,” kata Justin, dosen Kajian Asia di The University of Melbourne, Victoria, Australia. (Riky Hayon)
Maumere Berandanegeri.com – TNI Angkatan Laut Lanal Maumere melaksanakan kegiatan “Pekan Serbuan Vaksin Covid-19” bersama masyarakat Maritim dan masyarakat Kabupaten Sikka yang belum melaksanakan vaksin pertama, bertempat di Balai Prajurit Mako Lanal Maumere Jl. Magepanda Km. 10 Kel. Wuring, Kec. Alok Barat, Kab. Sikka NTT pada Selasa, 29 Juni 2021.
Kegiatan serbuan Vaksinasi yang dilakukan TNI AL disambut dengan antusias masyarakat maritim dan masyarakat Kabupaten Sikka yang belum divaksinasi.
Hal ini dapat dilihat dari jumlah animo masyarakat yang hadir di Balai Prajurit Lanal Maumere, namun tetap dengan mengedepankan protokol kesehatan saat proses pendaftaran hingga penyuntikan vaksin Covid-19.
Sebelum pelaksanaan Vaksin Covid-19 di Balai Prajurit Mako Lanal Maumere dilaksanakan Vicon yang dipimpin oleh Danlantamal VII Kupang Laksamana Pertama (Laksma) TNI IG. Kompiang Aribawa kepada Lanal- Lanal dibawah Jajaran Lantamal VII Kupang termasuk Lanal Maumere yang dilaksanakan oleh Komandan Lanal Maumere Danlanal Maumere, Kolonel Laut (P) Dwi Yoga Pariyadi, M.Tr.Hanla., M.M.,CTMP., sekaligus untuk melaporkan kesiapan baik sarana serta prasarana pelaksanaan Vasin Covid-19.
Danlanal Maumere, Kapten Laut (P) Dwi Yoga Melakukan Pemeriksaan Kesehatan sebelum Dilakukan Vaksinasi
Pada Vicon tersebut Danlantamal VII Menyampaikan “Laksanakan Vaksin Covid-19 (Sinovac) dengan tertib dan teratur serta wajib mengutamakan protokol kesehatan, karena saat proses pemberian vaksin secara prosedur tidak menutup kemungkinan adanya kerumunan atau antrian mulai dari pendaftaran hingga pemberian vaksin Sinovac.”
Lebih lanjut Komandan Lanal Maumere menyampaikan kepada Komandan Lantamal VII melalui Vicon “Sesuai perintah dari Pemerintah dan Pimpinan TNI AL, Lanal Maumere siap melaksanakan Vaksin Covid-19 (Sinovac) bersama warga Kabupaten Sikka yang belum melaksanakan sama sekali vaksin Covid-19,
Karena kegiatan ini sangatlah penting sebagai bagian dari Satgas Covid-19 untuk menekan laju pertumbuhan wabah virus corona. “ucap danlanal Maumere saat melakukan Vicon bersama Danlantamal VII Kupang beserta Jajarannya.
Sebanyak 280 orang menjalani Vaksinasi diantaranya staf Lanal Maumere, Ibu- ibu Jalasenastri dan keluarga besar anggota Lanal Maumere serta masyarakat maritim di wilayah kerja Lanal Maumere, serta masyarakat Kabupaten Sikka yang belum pernah mendapatkan Vaksin Covid-19. (Athick)
Laut milikku dan ombak milikmu menjauh dari pantai angin kehilangan debar dan perahu kehilangan sauh pagi membela sepi, air membiarkan kapal berjalan tak ada tuju terasa Ende seperti mimpi menjulurkan tangannya yang hangat aku laut tak ada tempat berlabuh, ombak menghitung camar dan ikan-ikan berlomba merapat laut milikku, langit menyatu menyegerakan rindu, ombak milikmu, kau kemas dalam irama makin jauh
Rinca, NTT 2015
————————————————————————————
Doa Pagi
aku rindu pada laut walau tiap hari kutuju pantai aku mengangeni abu di puncak gunung walau tiap hari kuhirup semerbak hawa pagi aku ingin mendengar nyanyian indahmu walau sebuah sajak pun tak pernah bisa kurangkum aku mau aku ingin aku menadahkan cinta dari cawanmu yang luas mengharap belaian dari sepasang tanganmu yang basah peluh dan cinta serta amarah karena aku ragu-ragu jangan kau abaikan doaku walau aku tak miliki bibir yang fasih dan ciuman membara seperti mereka aku hanya seorang pejalan malam, tanpa lampu, tanpa jubah, hanya kumiliki sebuah nokhta darimu, samar, jauh dan timbul tenggelam, tapi jangan ragukan aku, beri aku lampu itu
Jakarta, 170114
*Nana Ernawati, Penyair, Pendiri dan Ketua Lembaga Seni Sastra “Reboeng”. Puisi-puisinya dimuat dalam buku antologi Penyair Yogya 3 Generasi (1981), Tugu (1986), Tonggak 4 (1987), Parangtritis, 55 Penyair Membaca Bantul (2014), Puan-Puan (2014), Perempuan Langit I (2014), Perempuan Langit II (2015).
*Sumber: buku puisi Perempuan yang Melukis di Atas Air, Nana Ernawati, Elmatera, 2015
Jakarta Berandanegeri.com–Sejumlah warga Lembata Diaspora Sedunia yang tergabung dalam Grup WhatsApp Ata Lembata, meminta Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat dan Panitia Liga 3 El Tari Memorial Cup (ETMC) membatalkan rencana turnamen ETMC yang melibatkan seluruh kabupaten/kota di NTT dan rencananya diselenggarakan di Lewoleba, kota Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur pada Agustus 2021.
“Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki niat baik memajukan olahraga sekaligus ajang mencari potensi pamain lokal. Namun, melihat penyebaran virus korona di Lembata yang makin meningkat, kami meminta Gubernur Laiskodat untuk membatalkan. Turnamen itu sangat bagus namun melihat terpaan virus korona makin meningkat, sebaiknya dibatalkan kemudian diagendakan kembali di waktu mendatang,” ujar Justin L Wejak, admin grup Ata Lembata dalam keterangan tertulis yang diterima berandanegeri.com Minggu (20/6/2021).
Sementara itu Pastor Yohanes Laba Tolok SDB mengingatkan agar Pemerintah Provinsi NTT serius mempertimbangkan keselamatan para kontingen dan warga masyarakat Lembata di tengah meningkatnya wabah korona. Apalagi, belakangan semakin banyak warga Lembata terpapar virus berbahaya itu dan meninggal sia-sia akibat keterbatasan tenaga medis dan fasilitas kesehatan di rumah sakit di Lembata.
“Turnamen itu akan menimbulkan kerumunan besar. Warga masyarakat Lembata terutama di Lewoleba dan desa-desa akan berbondong-bondong ke Lewoleba untuk menyaksikan dari dekat rangkaian kegiatan berbagai cabang olahraga. Kehadiran warga dalam jumlah besar malah akan memudahkan penyebaran virus korona. Ini tentu membahayakan keselamatan mereka dan para kontingen. Paling pas Pemerintah Provinsi NTT membantu Lembata menangani covid-19 atau membangun sejumlah ruas jalan penting yang masih belum diurus, termasuk para pengungsi di wilayah Ile Ape dan Kedang,” ujar Pastor John Laba Tolok SDB, Pembina Novisiat SDB Tigaraksa, Tangerang, Provinsi Banten.
Sementara itu, anggota grup lainnya, Petrus Bala Pattyona menambahkan, pembatalan turnamen itu perlu dilakukan agar Pemerintah Kabupaten Lembata serius menangani berbagai persoalan pembangunan di daerah itu yang masih menumpuk. Lembata, kata praktisi hukum asal Desa Belabaja, Nagawutu itu, baru saja dilanda dua kali bencana baik hebat yang menyebabkan daerah kelimpungan dari aspek pendanaan. Bencana banjir yang terjadi awal April lalu, akhirnya membuat Presiden Jokowi mengunjugi Lembata melihat langsung warga dan korban pada 9 April.
Menurut Bala Pattyona, dua kecamatan di wilayah utara, yaitu Ile Ape dan Ile Ape Timur akhir November 2020 dilanda erupsi gunung Ile Lewotolok. Ribuan warga sampai mengungsi di kebun-kebun. Lalu pada Minggu, 4 April 2021, longsor dan banjir kembali melanda Ile Ape dan Ile Timur, termasuk wilayah Kedang di bagian timur. Turnamen itu juga akan menimbulkan kerumunan yang berpotensi memudahkan penyebaran virus korona sehingga turnamen belum mendesak diselenggarakan tahun ini.
“Bencana terakhir awal April lalu sampai membuat Presiden Jokowi mengunjungi Lembata dan melihat langsung kondisi warga yang sangat menderita kehilangan sanak saudara dan kampung halaman. Pemkab Lembata sangat lemah dalam penanganan warga dan relokasi yang masih bermasalah hingga saat ini. Karena itu, turnamen sebesar EMTC akan sangat menyedot anggaran daerah. Jadi baiknya ETMC dibatakan Pak Gubernur dan diagendakan kembali di waktu mendatang karena akan berpotensi memudahkan penyebaran virus korona,” kata Pattyona.
Marianus Wilhelmus Lawe Wahang, warga grup lainnya, mengatakan sebaiknya anggaran daerah Lembata yang sangat minim saat ini diarahkan untuk membantu para korban bencana, baik di Ile Ape dan Ile Ape Timur serta wilayah Kedang yang sangat parah dilanda bencana awal April lalu.
“Bupati Lembata kesannya sangat bermain-main dalam membangun daerah itu. Banyak anggaran tak digunakan tepat sasaran. Bupati malah menaikkan gaji dan tunjangan per bulan sebesar Rp. 408 juta lebih mulai awal 2021. Turnamen ETMC belum begitu urgen. Saya pikir tak ada alasan untuk melanjutkan. Dibatalkan sampai suasana kembali daerah pulih di tengah gempuran wadah korona,” kata Lawe, kepala kamar mesin, chief engineer, sebuah kapal berbendera asing di perairan Uni Emirat Arab.
Ansel Deri, admin grup Ata Lembata mengemukakan, Lembata sesungguhnya belum siap menggelar turnamen ETMC dari aspek persiapan venue yang masih minim. Sebuah lapangan yang baru dikebut Pemerintah Kabupaten Lembata juga tak memadai menampung ribuan anggota kontingen dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur.
Wartawan asal kampung Kluang, Desa Belabaja ini juga mengusulkan kepada Gubernur NTT agar turnamen ETMC yang sedianya diselenggarakan Agustus 2021 ini dibatalkan. Kemudian Pemerintah Provinsi memberikan kesempatan kepada Bupati Lembata menangani warga masyarakat dan desa-desa yang baru saja dihantam banjir dan longsor awal April lalu. Pemkab Lembata juga diberi kesempatan membenahi daerah yang sangat ambradul 21 tahun terakhir.
“Jangan sampai tamu ETMC dan tuan rumah sama-sama malu melihat wajah kota amburadul tak terurus selama 10 tahun terakhir. Bupati Lembata lebih suka jalan-jalan tidak jelas sembari menikmati gajinya ratusan juga per bulan dari kabupaten miskin itu. Lalu kalau ribuan orang datang di Lembata, bagaimana jaminan kesehatan warga masyarakat saat korona makin ganas? Rumah sakit umum daerah di Lembata sangat minim fasilitas. Kalau ada atlit cedera bisa saja Pemprov NTT atau Panitia ETMC harus menyewa helikopter mengevakuasi peserta. Baiknya dana provinsi itu untuk bekin jalan yang selama ini ditelantarkan Bupati Sunur,” kata Ansel Deri, editor buku Membangun Tanpa Sekat dalam rangka HUT ke-21 Otonomi Lembata tahun 2021.