Author: Redaksi

  • Reuni Akbar SMPK Frater Maumere, “Pulang ke Rumah”

    Reuni Akbar SMPK Frater Maumere, “Pulang ke Rumah”

     

    Alumni SMPK Frater Maumere menggelar Reuni Akbar dengan tema “Dari Alumni untuk Alumni” pada tanggal 9-10 Agustus yang baru lalu. Reuni akbar ini merupakan yang pertama kalinya diselenggarakan sejak berdirinya sekolah ini pada 66 tahun yang silam. Kegiatan ini berhasil mengumpulkan kembali hampir 2000 alumninya yang tersebar di berbagai pelosok tanah air hingga luar negeri.

    Dalam sambutannya, ketua panitia Reuni Akbar SMPK Frater Maumere, Femy Bapa sapaan akrab beliau, menyampaikan rasa terimakasihnya kepada seluruh pihak atas segala suport yang diberikan dalam rangka menyukseskan rauni akbar ini. Reuni akbar ini telah digagas dan didengungkan dalam hampir 10 tahun terakhir oleh para alumni, yang akhirnya dapat terselenggara di tahun ini. Panitia, yang adalah para alumni bekerja hanya dalam waktu dua bulan untuk mempersiapkan rangkaian acara Reuni Akbar yang diseleggarakan selama dua hari, demikian disampaikan pelaksana tugas sekretaris daerah Kabupaten Sikka itu. Femmy juga menyampaikan selamat datang kepada para alumni yang telah menyempatkan diri hadir dari berbagai wilayah di tanah air bahkan dari luar negeri khusus untuk reuni akbar ini, “Selamat Datang, Kembali Pulang ke Rumah”.

    Wilfrid Valiance, Pr salah satu alumni SMPK Frater Maumere yang turut merayakan reuni akbar ini, dalam renungannya pada perayaan Ekaristi Syukur Reuni Akbar yang dipimpin oleh yang mulia Uskup Maumere dan dihadiri 14 imam konselebran membawa para alumni bernostalgia pada masa-masa membersamai di almamater Yayasan Mardiwiyata – SMPK Frater Maumere. Romo Wilfrid, sapaan akrab beliau menyebut SMPK Frater Maumere sebagai rumah transformasi diri, yang telah berhasil membentuk pribadi-pribadi berkarakter seperti yang nampak pada saat ini. Hari ini para alumni hadir dalam versi terbaiknya. Selanjutnya, rumah transformasi ini mengutus putra-putri terbaiknya ke tengah dunia untuk menjadi agen-agen transformasi sosial, mengubah dunia dengan berbagai kebaikan, kefasikan, dan kharisma. Momen reuni kiranya menjadi momen bersatu hati, bergandengan tangan untuk melanjutkan karya-karya baik di tengah dunia, demikian refleksi yang dibawakan Romo Wilfrid dalam perayaan syukur Reuni Akbar SMPK Frater Maumere yang pertama ini.

    Hadir dalam perayaan syukur ini penjabat Bupati Sikka Adrianus Firminus Parera, perwakilan Ketua Yayasan Mardiwiyata, dan kepala SMPK Frater Maumere saat ini Fr. Maria Sebastianus, BHK. Berkesempatan hadir pula dalam reuni akbar ini salah satu mantan kepala SMPK Frater Maumere, Kristoforus Klaman Wahon, beserta para guru yang telah purna tugas. Para alumni hadir memenuhi ruangan Aula Mardiwiyata yang berada di Jalan Kimang Buleng Kelurahan Kota Uneng Kecamatan Alok, dalam kompleks persekolahan Yayasan Mardiwiyata Maumere. Tercatat alumni tertua yang hadir dalam acara reuni akbar ini berasal dari angkatan 1962, angkatan lulusan kedua sekolah ini.

     

    Perayaan Ekaristi Syukur Reuni Akbar SMPK Frater Maumere diselenggarakan pada hari kedua perayaan reuni akbar ini, dimana sehari sebelumnya telah diselenggarakan Devile 1000 langkah alumni yang digelar pada hari pertama reuni akbar, yang menghadirkan ribuan alumni dalam barisan-barisan jalan santai dari setiap angkatan yang berdevile dari lokasi sekolah pertama kalinya didirikan yaitu di depan gereja Katedral Maumere, melewati jalan Eltari hingga ke tugu MOF dan menuju jalan Anggrek untuk finish di lapangan SMPK Frater Maumere. Devile diakhiri dengan acara hiburan dan makan malam bersama oleh para alumni. Setelah Misa Syukur, acara dilanjutkan dengan ramah tamah bersama dan pembentukan ikatan alumni SMPK Frater Maumere. Pada sore hingga malam hari digelar pertunjukkan seni dari setiap angkatan yang dirangkai dengan games seru, dan ditutup dengan dance bersama. 

    Kontributor:  Yersi (alumni Spater98)
  • Prestise Sekolah dan Persepsi Masyarakat,  Antara Realitas dan Stereotip

    Prestise Sekolah dan Persepsi Masyarakat, Antara Realitas dan Stereotip

     

    Oleh Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada dan Kandidat Doktor STF Driyarkara, Jakarta

     

     

    Foto: Ilustrasi sekolah yang mempunyai prestise tinggi, diminati banyak kalangan, sumber: Pexels

     

    Di Indonesia, banyak orang tua murid, cenderung kurang memperhatikan kualitas sekolah yang dipilih bagi anak-anak mereka. Bagi sebagian besar dari mereka, yang terpenting adalah anak-anak dapat bersekolah, dan jika memungkinkan, mendapatkan pendidikan secara gratis.  Sikap ini tentu bisa dimaklumi mengingat kondisi keuangan setiap keluarga berbeda-beda, dan banyak yang lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar lainnya. Dalam situasi di mana ekonomi keluarga menjadi perhatian utama, mencari sekolah yang menawarkan biaya rendah atau bebas biaya menjadi solusi wajar dan realistis. Namun, konsekuensinya, kualitas pendidikan sering kali menjadi aspek yang terabaikan.

    Di sisi lain, ada juga kelompok orang tua yang sangat peduli dengan masa depan anak-anak mereka dan berupaya memastikan bahwa sekolah yang dipilih mampu memberikan pendidikan berkualitas. Bagi mereka, penting memilih sekolah yang tidak hanya menyediakan pendidikan formal, tetapi juga mendukung perkembangan potensi anak secara holistik.

    Mereka memahami bahwa investasi dalam pendidikan yang baik merupakan langkah strategis untuk masa depan anak-anak mereka. Orang tua seperti ini cenderung lebih selektif dan berusaha mencari sekolah yang memiliki reputasi baik, kurikulum yang mumpuni, serta lingkungan belajar yang mendukung perkembangan karakter dan keterampilan anak.

    Prestise sekolah sering kali dipandang bagi orang tua murid tertentu sebagai suatu kualitas yang melekat, seolah-olah merupakan atribut inheren dari institusi pendidikan tersebut. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa prestise ini bukanlah sesuatu yang ada secara alami dalam sekolah, melainkan sebuah atribut yang diberikan oleh masyarakat, khususnya oleh para orang tua. Melalui pandangan orang tua, kita dapat melihat berbagai faktor yang berkontribusi terhadap pembentukan prestise sekolah, dan mengapa hal ini menjadi begitu penting dalam konteks pendidikan.

     

    Foto : Ilustrasi sekolah berkualitas prima mempunyai perpustakaan memadai, sumber: Pexels

     

    Dalam sebuah penelitian Moshe Tatar (2006) yang melibatkan 465 orang tua dari siswa kelas 9 dan 11 di 18 sekolah negeri-sekuler, ditemukan bahwa pencapaian pendidikan adalah faktor utama yang berkorelasi dengan prestise sekolah. Hal ini diikuti oleh kualitas guru, siswa, orang tua, kebijakan sekolah, iklim sekolah, manajemen, dan fasilitas fisik. Hasil ini mengungkapkan bahwa faktor-faktor intrinsik pendidikan—seperti kualitas guru dan kebijakan pendidikan—menjadi sumber utama atribusi prestise sekolah.

    Namun, yang menarik dari penelitian ini adalah adanya perbedaan persepsi di antara subkelompok orang tua. Beberapa kelompok orang tua lebih memprioritaskan fitur ekstrinsik, seperti fasilitas fisik atau manajemen sekolah, dalam menilai prestise. Hal ini menyoroti bahwa prestise tidak hanya dilihat dari kualitas pendidikan yang diberikan, tetapi juga dari persepsi masyarakat yang mungkin dipengaruhi oleh stereotip atau pandangan umum yang sudah ada.

    Dalam analisis Tatar (2006) efek ‘halo’ yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penilaian prestise sering kali didasarkan pada persepsi stereotip, di mana satu aspek positif dari sekolah dapat memperbesar pandangan positif terhadap seluruh aspek sekolah tersebut, meskipun tidak semua aspek tersebut berkualitas tinggi. Misalnya, sekolah dengan gedung megah dan fasilitas lengkap mungkin dianggap lebih memiliki prestise meskipun kualitas pengajaran tidak selalu superior.

     

    Foto : Ilustrasi sekolah dengan fasilitas lengkap dengan gedung yang megah, sumber: Pexels

     

    Penelitian Tatar (2006) ini memberikan beberapa implikasi penting bagi pengelola sekolah dan pembuat kebijakan. Pertama, penting untuk menyadari bahwa prestise sekolah bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan sepenuhnya oleh sekolah itu sendiri, karena ini sangat dipengaruhi oleh persepsi publik. Oleh karena itu, sekolah perlu bekerja lebih keras dalam membangun kualitas intrinsik mereka sambil juga menyadari pentingnya citra dan komunikasi dengan masyarakat.

    Kedua, adanya efek ‘halo’ menunjukkan pentingnya transparansi dan edukasi dalam penyampaian informasi kepada masyarakat. Orang tua perlu diberikan data akurat dan komprehensif mengenai kinerja sekolah agar penilaian mereka tidak hanya berdasarkan kesan awal atau citra umum yang mungkin tidak sesuai dengan kenyataan.

    Sebagai catatan akhir, prestise sekolah merupakan hasil dari kompleksitas persepsi publik, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik. Meskipun pencapaian pendidikan dan kualitas pengajaran menjadi faktor utama dalam penilaian prestise, kita tidak bisa mengabaikan peran persepsi masyarakat yang sering kali dipengaruhi oleh stereotip.

    Oleh karena itu, upaya untuk membangun prestise sekolah perlu mencakup peningkatan kualitas pendidikan dan juga pengelolaan citra publik yang transparan dan jujur. Prestise sekolah, pada akhirnya, lebih dari sekadar reputasi; ini adalah refleksi dari bagaimana masyarakat menilai nilai dan kualitas pendidikan yang mereka harapkan bagi anak-anak mereka.

    ———————————

     

     

     

  • Universitas Terbuka, Memajukan Bangsa Lewat Pendidikan

    Universitas Terbuka, Memajukan Bangsa Lewat Pendidikan

     

    Jakarta-Beranda Negeri. Salah satu tokoh penggagas berdirinya Universitas Terbuka (UT) di Lembata, Yosep Beda Hayon, S.AP (YBH) menegaskan bahwa kehadiran Universitas Terbuka (UT) di Lembata telah membawa terobosan baru dalam dunia pendidikan di Kabupaten Lembata.

    Dalam sambutan acara Peresmian Sentra Pelayanan Universitas Terbuka Nagawutung mengatakan, upaya awal pendirian UT di Lembata menuai tantangan.

    “Saat-saat awal kami merintis, tidak sedikit menuai pro-kontra, banyak yang tidak sependapat, tetapi karena tekad, dengan pendekatan pendidikan yang berkualitas, akhirnya berhasil hingga saat ini, tutur Yoseph.

    Yoseph Beda Hayon dikenal sebagai salah satu pendidik teladan di Nagawutung menilai perkuliahan zaman dulu tidak semudah saat ini.

    “Tahun pertama kami kuliah di Kupang, kami tiga orang dari Lembata, kami kuliah dengan modul yang besar-besar, tidak seperti yang ada sekarang yang sudah di buat lebih simpel”. Ungkapnya.

    YBH menambahkan pentingnya melahirkan generasi pendidik yang berkualitas di Lembata mendorongnya bersama rekan-rekannya berjuang dan memelopori pembangunan UT di negeri Sembur Paus tersebut.

    “Ketika lahir undang-undang pendidikan nomor 14 tahun 2005 yang mengharuskan Guru yang bisa mengajar di depan kelas minimal adalah yang sarjana, kami berinisiatif menemui direktur di Kupang agar UT bisa masuk ke Lembata” Cetus Yoseph.

    “Ketika masih sebagai Pengawas Sekolah, saya wajibkan para guru di Nagawutun untuk masuk UT. Saat itu hanya ada D2 PGSD dan pendidikan olahraga tahun 2005. Selanjutnya, di tahun 2007, ada perubahan regulasi jadi mereka yang semeter 5 transfer ke S1. Waktu itu, ada 125 guru yang jadi mahasiswa sehingga hingga saat ini, sudah ada banyak guru dengan gelar S.Pd di Nagawutun”, Cerita Yoseph.

    YBH menegaskan, kebijakan yang diambil saat itu sebagai solusi dalam menyelamatkan dunia pendidikan di Lembata. Karena, kalau paksa diterapkannya UU No.14 tahun 2005 di Lembata saat itu, maka tidak banyak guru yang bisa mengajar di depan kelas secara baik.

    “Kami bersyukur UT hingga hari ini tetap ada di Lembata dan telah menamatkan banyak sarjana di Kabupaten ini”, Imbuh Anggota DPRD Lembata terpilih 2024-2029 tersebut.

    Pada akhir sambutannya, ia menekankan UT sebagai lembaga perkuliahan yang legal dan diakui negara.

    “Jangan takut kuliah di UT. UT adalah kampus negeri dan legalitasnya di akui negara. UT di setujui oleh presiden RI tahun 1984”, tegas YBH.
    (Ricky H).

     

  • Ignas Kleden, “Postcript” Sebuah Kesungguhan Intelektual

    Ignas Kleden, “Postcript” Sebuah Kesungguhan Intelektual

    Oleh Hamid Basyaib

     

     

    Sangat sedikit intelektual Indonesia seperti Ignas Kleden. Ia tak pernah mau berkompromi dalam soal kualitas ide dan kesungguhan dalam menghadapi masalah. Mungkin ini sebabnya ia tak pernah tampil di acara talk show televisi — sebuah medium komunikasi yang tekun memerosotkan mutu percakapan intelektual, selain mengumbar kedangkalan kultural tanpa putus melalui acara-acara hiburan yang keburukannya sulit dipercaya.

    Ia meminati percakapan intelektual sejak masih belia, sejak ia, dari kampungnya di Waibalun, Nusa Tenggara Timur, memandangi orang-orang pintar Jakarta menyajikan ide-ide mereka atau berpolemik di media massa. Ia menikmati semua itu dari perpustakaan yang baik di seminari Larantuka, yang selalu menerima kiriman edisi terbaru majalah apapun. Ia menawarkan diri untuk bekerja di sana, supaya bisa menikmati bahan bacaan yang melimpah.

    Ia menerjemahkan teks-teks berbahasa Inggris (atau Jerman) untuk Nusa Indah, sebuah penerbit yang komited menerbitkan buku-buku bermutu, menerapkan standar intelektual para pastor pembinanya.

    “Saya membicarakan mereka (para intelektual Jakarta) seolah-olah saya mengenal mereka secara pribadi,” katanya, tersenyum geli, mengenang sikap “sok tahu”nya. Dan ia pun berani menyodorkan ide-idenya sendiri di forum media ibu kota, bersanding dengan nama-nama besar seperti Asrul Sani atau Wiratmo Sukito. Waktu itu ia baru awal 20-an, dan menulis kolom-kolom yang bagus di mingguan Tempo atau bulanan Budaya Jaya.

    Ia tampak berupaya menawarkan pendekatan akademis terhadap isu-isu sastra, bahasa dan budaya. Ia, misalnya, mengutip Sigmund Freud untuk kolomnya tentang bahasa.

    Perujukan kepada para sarjana ilmu sosial ini, untuk isu-isu budaya, jarang dikerjakan oleh para penulis yang menekuni bidang itu. Mereka enggan membaca buku, dan lebih mengandalkan “pengolahan batin yang otentik” — agar tak dikotori oleh ide-ide intelektual para sarjana.

    *****

    Tawaran akademis semacan ini terus diupayakannya sampai puluhan tahun kemudian. Dalam kritik sastra, misalnya, ia akhirnya terang-terangan mengungkap motifnya ketika ia mengritik tulisan penyair Afrizal Malna untuk sebuah kumpulan cerita pendek Kompas (karena tanpa keterusterangan itu rupanya ia merasa maksud tawaran yang sudah sering diajukannya tak dimengerti).

    Ia, katanya, ingin menyarankan supaya kritik sastra kita punya referensi teoretis, misalnya pada Paul Ricour, yang sudah banyak mengulas soal ini dengan baik. Mengapa teori orang-orang seperti itu tidak dimanfaatkan?

    Tanpa rujukan teoretis, kritik sastra kita hanya akan berputar-putar dengan mengandalkan “kreatifitas” dadakan sang kritikus, sambil mengumbar aneka peristilahan mentereng atau serampangan yang tak tentu maknanya.

    Itulah yang dia lihat pada pengantar berjudul “Upaya Membuat Telinga” tersebut — tentu ini ia maksudkan sebagai sekadar contoh terdekat. Dengan kekocakan yang cerdas, ia mengibaratkan tulisan itu dengan pemain yang sibuk membawa bola, asyik menggoreng bola dengan berputar-putar di dekat gawang lawan, tapi tak pernah menendang untuk mencetak gol. Pembaca dibiarkan dalam ketidakmengertian atas maksud si kritikus.

    Tulisan itu, katanya, seperti menjanjikan hal-hal yang istimewa, seakan mau mengajak pembacanya menikmati steak yang enak, tapi ternyata hanya menyajikan makanan sehari-hari yang biasa saja.

    ****

    Ketajamannya dalam mengidentifikasi pemikiran orang, dengan bahasa Indonesia yang sangat baik, tak tertara. Ia menulis pengantar panjang yang sangat bagus untuk antologi Soedjatmoko (“Etika Pembebasan”, LP3ES, 1984). Baginya, seluruh kerja intelektual Soedjatmoko bertumpu pada martabat manusia, dan dapat dirangkum dalam dua kata: otonomi dan kebebasan.

    Ia dengan gemilang mempertanggungjawabkan klaim itu, dengan secara konsisten menunjukkan dua pokok ide tersebut dalam begitu banyak tulisan Soedjatmoko yang tersebar di jurnal maupun sumbangan artikel di buku-buku yang kebanyakan disunting sarjana lain dan diterbitkan di luar negeri, selain tulisan-tulisan editorial di mingguan “Siasat” milik Partai Sosialis Indonesia yang dipimpin Soedjatmoko di tahun 1950an.

    Temuannya seperti menjawab kebingungan Arief Budiman dalam menghadapi lanskap luas pemikiran Soedjatmoko, setidaknya yang terhimpun dalam antologi “Dimensi Manusia dalam Pembangunan” (LP3ES, 1981). Dalam resensi atas buku itu di majalah Tempo, Arief mengeluh bahwa ia gamang menghadapi Soedjatmoko. “Ia seperti melukis di kanvas besar, dengan sapuan-sapuan kuas yang juga besar-besar,” tulis Arief.

    Maksud Arief: sebagai pemikir Soedjatmoko tidak menganut suatu mazhab atau pendekatan tertentu seperti lazimnya para sarjana di kancah ilmu-ilmu sosial, sehingga orang kesulitan untuk melacak dan menggeledah pikirannya.

    Ignas Kleden menyanggahnya dan mengajukan dua kata kunci itu (otonomi dan kebebasan), sambil menunjukkan bahwa Soedjatmoko tampaknya banyak terpengaruh oleh Karl Jaspers, seorang psikiater-filosof Swiss-Jerman.

    ***

    Ia juga menulis pengantar panjang yang kuat untuk kumpulan Catatan Pinggir 2  karya Goenawan Mohamad (1989) — sebuah tinjauan brilian yang sangat mungkin tidak disukai penulis bukunya karena ulasannya yang tajam dan sulit dibantah.

    Baginya, meskipun Goenawan menebar begitu banyak tema dalam esai pendek yang terbit setiap minggu di majalah Tempo itu, untuk memahaminya (tapi terutama memahami sikap dan gaya, bukan substansinya), pertama-tama Goenawan harus dilihat sebagai wartawan, dan kedua sebagai penyair.

    Konsekuensi dari kedua predikat itu terlihat jelas pada pendekatan jurnalistisnya — yang serba sekilas dan terpotong-potong — dalam menangani isu apapun, dan pada semangat artistiknya dalam membahas isu apapun. Sikap Goenawan, katanya, tidak pernah jelas dalam hampir semua masalah, kecuali dalam soal kebebasan.

    Sebab kedua profesi itu, wartawan dan penyair, sangat mementingkan kebebasan sebagai prasyarat — tapi tentang ini pun tidak ada elaborasi yang memadai yang ditawarkan Goenawan, berbeda dari semua isu lain yang disentuhnya, yang selalu ditandai dengan tendensi philosophizing; seakan-akan kebebasan tak memerlukan bahasan filosofis lagi karena sudah sangat jelas manfaatnya bagi manusia/warganegara.

    Terhadap obsesi Goenawan pada keindahan bentuk, pada ketekunannya mendekorasi kalimat atau merumuskan proposisi ide dengan elan artistik khas penyair, Ignas berkomentar: Goenawan menebar begitu banyak kembang dalam esai-esainya, tapi susah ditebak apa jenis tanamannya.

    Dengan kata lain: keluhan Ignas terhadap Goenawan Mohamad mirip keluhan Arief Budiman tentang Soedjatmoko, yaitu ketiadaan disiplin metodologis pada keduanya.

    Esai-esai pendek Goenawan itu, setidaknya bagian-bagiannya, menurut Ignas, tidak dimaksudkan oleh penulisnya sebagai pernyataan diskursif yang bisa didiskusikan, melainkan sekadar cetusan keluar dari suatu perenungan batin yang intim.

    Inilah yang disebut Karl Raimund Popper dengan expressionism epistemology — ia memang terpengaruh Popper sejak sebelum kuliah di Jerman. Konsekuensi dari karakter tulisan seperti itu, menurutnya, ialah: kita hanya bisa menerima atau menolaknya — tidak ada peluang untuk diskusi.

    ***

    Kecemerlangan Ignas Kleden semakin terlihat saat ia merangkum percakapan di seminar HIPIIS di Palembang, 1996. Ia menulis postcript itu di jurnal Prisma.

    Ia menjahit dengan sangat rapi begitu banyak gagasan — dari soal strategi besar pembangunan negara hingga perhitungan konsumsi kalori rakyat Indonesia dan rasio gini nasional — dan menjadikannya masuk akal bahwa semua itu memang saling terkait, dan terutama membuat kita mendapat kebulatan pemahaman yang memadai terhadap perhelatan keilmuan yang meriah itu.

    Siapapun tahu bahwa membuat catatan akhir semacam itu — yang berhasil mengaitkan paparan semua pemrasaran, dengan menangkap ide-ide besar mereka sambil melayani detail-detail dan ilustrasinya — merupakan pekerjaan yang saya duga bahkan panitia penyelenggara seminar pun tidak sanggup mengerjakannya.

    Dan yang lebih mengagumkan: ia memotret seluruh ide yang dipertukarkan di sana semata-mata dari meneliti makalah-makalah para peserta. Ia tidak hadir di Palembang.

    Ia pernah mencoba membentuk lembaga riset yang lebih berorientasi aksi, bertumpu pada upaya menumbuhkan spirit demokrasi, terutama untuk Indonesia Timur. Sangat sedikit kiprahnya yang kita dengar.

    Seperti kebanyakan pemikir serius, ia tampak kurang peduli pada harta, dan tidak pandai mencari uang. Ia berangkat diam-diam tadi subuh. Ia tak akan pernah hadir lagi di kota manapun — ia memulai perjalanan dari stasiun Waibalun pada Mei 1948, dan berakhir di Jakarta, Januari 2024.

    Ia tak menitipkan apa-apa kepada kita. Tapi kita tahu: sejak lama generasi-generasi intelektual Indonesia terinspirasi oleh titipan karya-karya cemerlang Ignas Kleden — suatu inspirasi penting yang dulu tak mudah kita dapatkan dari intelektual lain, dan makin sulit kita raih hari-hari ini.

     

  • Heboh Lukisan “Maria Naik ke Surga”

    Heboh Lukisan “Maria Naik ke Surga”

     

    Oleh  Agus Dermawan T

     

     

    Adikarya lukisan Basoeki Abdullah telantar di gudang rumah jompo di Neijmegen, Belanda. Sangat membuat jengkel masyarakat seni Indonesia.

    Untuk mengawali pembicaraan ini, penting apabila kita menyimak artikel yang ditulis oleh Bonnie Triyana di laman Historia, 27 Maret 2019. Artikel yang berkisah ihwal web lukisan “Maria Assumpta” (Maria Naik ke Surga) karya Basoeki Abdullah (1915-1993) tersebut berjudul “Maria Terbang Mendarat di Gudang”. Begini petikannya:

    “Lukisan berukuran sekitar 2 x 1 meter itu tersandar da rak di sebuah gudang bawah rumah susun jompa yag dikelola oleh Serikat Jesuit di Neijmegen, Belanda. Lukisan itu menggambarkan sesosok perempuan berkebaya lengkap dengan kain sinjang batik bermotif parang yang membentangkan tangannya sebatas paha.

    Kepalanya yang berkerudung selendang sutra biru menunduk dengan mata separuh memejam, melihat ke arah bawah. Ia seperti terbang ke langit, melesat meninggalkan sebuah desa yang diapit dua gunung berapi.

    Lukisan itu tampak lebih mencolok dari benda-benda lain yang ada dalam gudang. Guci keramik, cawan lilin, lampu, buku, gambar berbingkai, kardus-kardus terletak tak beraturan di sana-sini. Namun seperti memiliki daya magnetik, lukisan itulah yang paling menyedot perhatian.

    “Ini breaking news dalam dunia seni rupa Indonesia, kata Amir Sidharta, sejarawan seni dan kurator yang datang untuk melihat langsung lukisan karya Basoeki bertitimangsa 1935 tersebut. Ini pertama kali Amir menyaksikan langsung karya yang selama ini menjadi buah bibir di kalangan seni rupa Indonesia. “Sebuah karya yang monumental,’ ujarnya menambahkan.

    Aminudin TH Siregar, dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB yang kini menempuh pendidikan doktoralnya di Universitas Leiden juga terpukau dengan lukisan legendaris itu. “Saya belum menemukan lukisan lain yang layak untuk disejajarkan dengan kecanggihan re-kontekstualisasi ala lukisan Basoeki Abdullah ini, setidaknya pada masanya, 1930-an, katanya.”

    Yang jadi pertanyaan mereka bertiga adalah: mengapa lukisan sehebat itu justru seperti digeletakkan di gudang begitu saja. Seolah seperti lukisan yang kurang berharga! Padahal para kritikus dan pengamat seni Indonesia menganggap karya itu sebagai adikarya yang menandai perjuangan pelukis Indonesia terpenting dalam sebuah era.

    Tulisan di Historia itu pada minggu-minggu kemudian dikembangkan oleh berbagai media massa. Salah satunya dalah majalah Tempo, yang membahas itu dengan referensial, komprehensilf, lengkap, dan mengundang diskusi. Bahkan koran Jakarta Post menyambutnya dengan mengetengahkan berbagai seni rupa yang menggambarkan Maria Assumpta. Maka sejak Maret sampai Juni masyarakat seni rupa Indonesia disuguhi realitas ironis itu. Perlakuan pihak Belanda terhadap lukisan itu oleh sebagian pengamat Indonesia dianggap sebagai wujud dari sikap peduli para kurator dan pengelola seni Belanda. Untuk melunakkan anggapan sikap itu, pihak kurator Belanda yang terkait mengatakan bahwa penggudangan tersebut karena keterpaksaaan dan hanya sementara. Pihak Belanda sesungguhnyanya sejak lama juga mengakui nilai lukisan itu. Buktinya, “Maria Asumpta” Basoeki pernah dipamerkan secara spesial di Museum Valkhof, Neijmegen, pada September 2004 sampai Februari 2005. Setelah puluhan tahun, lukisan tersebut terpajang secara layak di Den Haag dan Neijmegen.

    Peristiwa penggudangan lukisan terbaik karya maestro Indonesia tentulah membuat jengkel dan kecewa. Namun para pengamat yang percaya kepada nilai-nilai seni, penggudangan seperti itu tidak perlu sampai menyebabkan luka di hati. Alasannya, lukisan yang bermutu akan tetap berkilau meski diposisikan di pojok gelap. Ibaratnya, berlian akan tetap mengilat meski terendam di dalam lumpur. Peristiwa lukisan “Perburuan Banteng” karya Raden Saleh (1807-1880), yang di temukan di gudang bawah tanah, lantas terjual 7.200.000 euro dalam lelang pada 2018, adalah contohnya.

    Basoeki Abdullah mengatakan bahwa “Maria Asumpta” dicipta untuk hadiah bagi Yayasan Misionaris Katolik yang sudah memberinya beasiswa, sehingga ia bisa belajar di Koninklijke Academie van Beldende Kunsten, Den Haag sejak 1933. Lukisan cat minyak di kanvas itu menggambarkan Maria dalam busana Jawa sedang melayang terbang menuju surga. Ia menyebut, ide membuat Maria berkebaya anggun dengan bawahan batik motif parangrusak itu diilhami ayat Alkitab, Yesaya 61:10. Kalimat itu berbunyi: “Aku bersuka ria dalam Tuhan dan jiwaku bersoraksorai dalam Allah. Sebab Tuhan mengenakan padaku dandanan keselamatan dan menyelubungi aku dengan pakaian kejujuran, bagaikan mempelai berhiaskan ratna mutu manikam.”

    “Bagi saya yang lahir dan besar di Jawa, pakaian keselamatan dan kejujuran bagai mempelai itu adalah kebaya dan batik,” ujar Basoeki dalam wawancara saya pada 1980-an dalam rangka pembuatan buku R. Basoeki Abdullah, RA: Duta Seni Lukis Indonesia, Buku itu terbit pada 1985 dan kemudian berlanjut dengan dua buku lainnya.

    Selama di studi di Belanda pada 1933-1936, Basoeki mencipta tujuh lukisan tentang Bunda Maria. Sebagian dalam busana dan atmosfer budaya Jawa. Tentu saja ada lukisannya yang tetap mengacu kepada paras, setting, dan busana Eropa, seperti dalam lukisan Maria dan Yesus dikunjungi Raja-raja Majus, yang pernah dijadikan ilustrasi poster pameran di Belanda.

    Ketika ia kembali lagi ke Eropa menjelang 1950, seri lukisan Maria beratmosfer Jawa masih dikerjakan. Salah satunya adalah lukisan “Ibunda dan Putranya” yang mengacu kepada ungkapan Belanda, “Mama heeft altijd jam – Mama selalu punya selai” – yang maknanya: dalam kekurangan apapun sang ibu selalu ada untuk anaknya. Lukisan ini menggambarkan Maria berkebaya dan bersarung sedang memangku bayi Yesus yang tidur dengan nyaman di atas amben reyot di pojokan gubuk. Komposisi dan gesture lukisan diilhami oleh bagian dari karya Pieter Bruegel dari abad ke-16. Dalam sebuah laman di internet, karya Basoeki ini dijajarkan dengan karya Giovanni Bellini, Jan van Eyck, dan Bouguereau, yang semuanya menggambarkan Maria dan bayi Yesus.

    Basoeki Abdullah, kelahiran Solo, adalah putra pelukis pemandangan ternama Abdullah Suriosubroto. Sementara Abdullah adalah anak Dokter Wahidin Sudirohusodo, tokoh  pergerakan nasional Indonesia awal abad ke-20. Sejak duduk di Hollands Inlands School, Basoeki sangat gemar menggambar sehingga para guru di sekolahnya terpesona. Menyadari kemampuan itu, Basoeki menyimpan harapan tinggi: ingin mendalami seni lukis secara akademis. Untuk itu ia acap samadi di Parangtritis guna meminta Nyai Roro Kidul menyentuh hati mereka yang murah hati membawanya ke kehidupan yang cemerlang. Harapan itu terkabul setelah Katholieke Missie yang mengelola Yayasan Misionaris Katolik memberikan beasiswa pada 1933. “Tapi apakah munculnya beasiswa itu benar-benar karena Nyai, atau karena saya yang sudah menjadi pemeluk Katolik, yang tahu hanya saya dan Nyai,” ujar Basoeki.

    Romo Gregorius Budi Subanar SJ, peneliti “lukisan Katolik” Fransiskus Xaverius Basoeki Abdullah saat di Belanda, bertutur di majalah Tempo: “Basoeki diberi beasiswa lantaran yayasan misionaris memiliki agenda khusus. Ia diminta untuk ikut mendorong kerja misionaris lewat kompetensinya.” Di Belanda Basoeki menempuh pendidikan di Koninklijke Academie van Beeldende Kunsten, yang terletak di Prinsessegracht 4, di pusat kota Den Haag. Sementara Basoeki bertempat tinggal di Oostduinlaan 19, di sebuah kompleks perumahan yang tak terlampau jauh dari kampus

    Prestasi akademi Basoeki menyenangkan pihak akademi dan menggembirakan pihak yayasan. Beasiswa yang ia dapat tak pernah terlambat dan kendor. Bahkan Basoeki menyelesaikan studionya dalam waktu hanya dua tahun dua bulan, lebih cepat dibanding mahasiswa lain yang rata-rata memiliki masa studi empat tahun. Karena itu ia diberi sertifikat istimewa: Royal Academie, disingkat RA, yang pada kemudian hari acap disertakan di belakang namanya. Pelayanan amat baik dari yayasan ini dibalas oleh Basoeki lewat berbagai lukisan religius seperti “Maria Assumpta”.

    Maria dalam busana dan setting Jawa memang dipopulerkan Basoeki lewat lukisan “Maria Assumpta”. Namun pada tahun-tahun sebelumnya, sejumlah juru gambar telah merilis gagasan Visual semacam itu. Ilustrasi karya FX Djoemingin berjudul “Dyah Maria Ibu Dalem”, misalnya, menggambarkan Maria dan Yesus dalam pakaian ningrat lengkap dengan mahkota, mirip busana raja-raja Jawa zaman dahulu. Bahkan Pastor M Reksaatmadja dari Jawa Tengah pernah melukis Maria dan Yesus dalam pusaran ornamen kakayon dan gunungan wayang kulit.

    Pada pertengahan abad ke-20, sejumlah pelukis mulai ramai menggubah Bunda Maria dengan kebebasan versinya. Pelukis Bagong Kussudiardja di Yogyakarta, Tedja Suminar di Surabaya, Ketut Lasia di Bali, dan pematung Gregorius Sidharta adalah beberapa di antaranya. Sementara yang paling progresif adalah keramikus F Widayanto, yang beberapa kali memmvisualkan Bunda Maria dalam versi Jawa. Bahkan judul-judulnya pun berbahasa Jawa, seperti “Tumungkul Bekti”, “Paduka Ibuning Gusti”, “Paduka Sang Pinilih”. Pada 2006 ia membuat relief dan mozaik Maria Asumpta versi Jawa untuk dinding Basilica Annunciation (Warta Sukacita) di Nazareth, Israel. Karya memikat ini merupakan prakarsa para peserta tur ziarah Raptim Indonesia yang dikoordinasi oleh pengusaha Joe Kamdani.

    “Tapi Bunda Maria itu bukan milik orang Jawa saja. Ia milik semua suku di Indonesia, bahkan dunia,” kata Uskup Agung Jakarta, Mgr Suharyo Pr. Itu sebabnya ia sangat mendukung ketika pada 2015 ada sebuah lembaga Katolik yang menyelenggarakan kompetisi lukisan, fotografi, dan patung dengan tema “Maria, Bunda Semua Suku”. Apalagi hasilnya ternyata sangat menarik. Salah satu pemenangnya adalah patung karya Robert Gunawan yang menggambarkan Bunda Maria melayang dengan tangan membentang. Bibirnya menyungging senyum. Kesukacitaa ini perwujudan dari seruan apostoli yang diingatkan oleh Paus Fransiskus: “Gaudete et ex sultate!—Bersukacita dan bergembiralah. Maria dipatungkan dalam busana panjang berwrna merah putih dan berornamen batik warna emas. Di kepalanya tampak mahkota berukir peta Indonesia. Di dada Bunda Maria tertera lambang Garuda Pancasila.

    Makna dari patung Maria Assumpta ini adalah: Dengan senang hati Bunda Maria akan selalu menjaga Indonesia sebagai negara kesatuan yang berpegang kepada filosofi Pancasila.

     

    **********************

     

    Sumber Tulisan dari Buku Karnaval Sahibulhikayat, Agus Dermawan T, Penerbit KPG

  • Oposisi  Gaya  “Lembu Peteng”

    Oposisi Gaya “Lembu Peteng”

     

    Oleh Dion Pare

     

    Belakangan, saya buka-buka lagi kumpulan esai Gus Dur, terutama yang terkumpul dalam Melawan Melalui Lelucon. Salah satu esainya berjudul, “Saya juga Keturunan Lembu Peteng”. Lembu Peteng. Ini konsep yang baru saya dengar atau baca. Saya coba mencari tahu istilah itu dalam literatur Jawa yang saya miliki. Saya juga coba melacak melalui Google. Informasinya, istilah itu hanya muncul dalam tulisan Gus Dur.

    Istilah ini jelas berasal dari dunia kraton Jawa. Lembu Peteng disebutkan bagi anak-anak raja yang bukan putra mahkota. Bahkan, mereka tidak termasuk dalam daftar pewaris tahta. Biasanya, mereka berasal dari istri (garwa) selir, di luar pernikahan resmi. Tetapi, karena berada di sekitar kraton, mereka juga berkeinginan menjadi raja yang kekuasaannya mutlak dan bisa menentukan segalanya. Karena itu, sering ada kasak-kusuk di kraton. Putra-putra raja itu bersekongkol untuk mmbunuh putra mahkota atau bahkan raja sendiri agar mereka bisa menduduki tahta kerajaan.

    Kita sering membaca kisah-kisah perebutan kekuasaan dalam sejarah raja-raja di Indonesia (baca: Jawa). Perebut kekuasaan itu biasanya dilakukan oleh mereka yang memiliki ambisi kekuasaan, tetapi tidak terakomodasi oleh mekanisme yang ada. Ambisi itu tidak memenuhi syarat dan ketentuan. Dalam bahasa politik modern, mereka bisa disebut oposisi, yang pada waktu itu memang tidak diakui dalam sistem kenegaraan. Setiap keinginan semacam itu tergolong dalam seruan pemberontakan yang hukumannya adalah diperangi sampai mati.

    Walaupun kisah ini berasal dari masa lalu, perilaku oposisi semacam itu masih terbawa dalam kehidupan politik di era modern ini. Hal itu bisa terjadi pada saat krisis atau diciptakan menjadi krisis sehingga perebutan kekuasaan bisa berlangsung, dan dilakukan oleh mereka, yang hanya dengan cara itu, bisa menjadi penguasa. Kasus naiknya Soeharto ke tampuk kekausaan setelah huru-hara tahun 1965-1966 bisa jadi satu contoh dari oposisi Lembu Peteng. Peristiwa semacam itu terjadi karena sistem yang tersedia tidak  memungkinkan ambisi kekuasaan mendapatkan saluran yang wajar untuk mencapainya. Sistem yang cenderung otoriter dan terus melanggengkan kekuasaan membuat munculnya jalan pintas semacam itu. Peristiwa yang sama berulang pada tahun 1998. Soeharto setelah berkuasa selama 32 tahun tampaknya tidak menyediakan mekanisme suksesi damai dan terus memperpanjang masa kekuasaannya. Lewat tekanan demonstrasi mahasiswa, yang ditambah dengan keinginan elite kekuasaan juga agar terjadi suksesi, Soeharto pun mundur dan menyerahkan kekuasaan kepada Habibie.

    Sejak saat itu, sampai kini, negara ini telah menetapkan dan melihara suatu sistem suksesi yang berlangsung relatif teratur, damai dan lancar. Dengan sistem dan mekanisme yang tersedia, setiap orang mendapat kesempatan yang terbuka, sesuai dengan syarat dan ketentuan. Dengan demikian, kita tidak perlu harus memelihara keadaan darurat yang memberi ruang masuknya para oposan Lembu Peteng.  Oposisi Lembu Peteng selalu berharap adanya kondisi darurat yang memberikan legitimasi kepada mereka untuk berperan atau mencapai ambisinya.

    Apakah oposisi Lembu Peteng sudah hilang? Tidak juga. Mereka tetap saja ada dan mencoba mendorong suasana agar kita merasa selalu keadaan darurat. Segala instrumen dipakai, termasuk menyebarkan disinformasi bahwa kekuasaan yang ada tidak cakap, tidak efektif, menimbulkan masalah, dan berbagai hal lain. Mereka menggalang kekuatan opini untuk memberi pesan agar pemerintah saat ini tidak layak dilanjutkan dan segera diganti. Maka, muncul seruan-seruan agar presiden mundur, atau aksi demo yang mendesak ke arah itu. Padahal, seturut sistem dan mekanisme yang disepakati, pergantian presiden baru akan terjadi pada tahun 2024, melalui pemilihan umum sekitar bulan Februari tahun itu.

    Para oposan Lembu Peteng ini bisa saja berhasil jika mereka berhasil “membunuh” presiden,  atau ketika rakyat percaya kepada mereka, turut mendorong terjadinya. Keadaan lebih parah lagi jika institusi-institusi negara lainnya mendukung mereka.

    Secara pribadi, saya lebih menyukai berlangsung pelembagaan suksesi yang damai dan aman pada waktunya. Dengan mengikuti mekanisme yang tersedia, kita tidak perlu melewati keadaan darurat yang biasanya besar korban manusianya (human sacrifice). Mekanisme demokrasi yang dijalankan saat ini membantu kita mencegah oposisi lembu peteng.  Selama presiden tidak melakukan tiga hal yang ditentukan dalam konstitusi, kita menjaga pemerintahan ini hingga tahun 2024 dan mencegah berhasilnya para oposan Lembu Peteng.***

     

  • Pasca – Filsafat

    Pasca – Filsafat

     

    GOENAWAN MOHAMAD

     

    LON Musk: ganteng, superkaya, investor dengan teknologi terbaru ke angkasa luar, entrepeneur abad ke-21. Ia seakan-akan mengulang semangat Julius Caesar, sang penakluk enam ribu tahun yang lalu, yang berujar angkuh: veni, vidi, vici-“aku datang, aku lihat, aku menang”.

    Kata Musk: “Jika yang disebut masa depan tak termasuk kemungkinan aku ada di antara bintang-bintang dan jadi makhluk pelbagai planet, aku akan benar-benar murung.”

    Musk adalah optimisme yang gembul, yang akarnya tertanam bersama lahirnya dunia modern, ketika manusia merasa mampu menaklukkan alam dan mengakumulasi ilmu pengetahuan. Tapi sedikit anakronistis. Sejak abad ke-20, optimisme itu tak lagi bisa penuh. Sejauh-jauhnya Musk dan teknologinya menjelajahi bintang, ia akan berhenti di satu pertanyaan yang muskil: apa sebenarnya yang ia raih? Jangan-jangan sebuah ruang yang sebenarnya hasil konstruksi pikiran dan syahwat sendiri.

    Tentu saja Musk – juga seluruh ikhtiar sains dan teknologi – tak mempersoalkan itu. Dan justru karena tak terhambat persoalan itu, sains dan teknologi menghasilkan hal-hal yang menakjubkan.

    Saya ingat Ibu Sus, guru fisika yang mengajarkan sains dan kerendanan hati. Pesannya: “Kata “ilmu alam’ perlu kalian perkatikan. Fokus mata pelajaran ini adalah ilmu, teorinya, rnetodenya, matematikanya. Bukan alam. Terlalu luas.” Suatu hari ia membawa biola ke kelas (ia pemain biola yang impresif) dan berkata, “Kita tak akan menyimpulkan dari mana datangya melodi-dari getaran senar atau dari sesuatu dalam diri kita.” Yang penting adalah menggunakan rumus, misalnya f = n/t untuk mengetahui periode dan frekuensi getaran dalam sebuah nada.

    Ya, Ibu Sus mengajarkan sairis dan kerendahan hati. Fisika kuantum-yang dengan matematika yang sangat akurat “mengolah” anasir sub-atomik-juga membatasi diri dalam bertanya dan berharap.

    Setidaknya jika kita simak kata-kata Niels Bohr, pemimpin kelompok fisikawan kuantum yang bertemu di Kopenhagen Itu: “Dalam deskripsi kami tentang alam, yang jadi tujuan bukanlah mengungkapkan hakikat fenomena yang sebenarnya, melainkan hanya menelusuri, sejauh mungkin, hubungan di antara segi-segi yang berlipat-lipat pengalaman kami.”

    Dengan kata lain, tak ada ambisi mengusut apa “hakikat fenomena”. Benarkah ada dunia realitas yang mandiri dari per sepsi kita tentangnya?

    Heisenberg, salah satu tokoh Kelompok Kopenhagen, menegaskan: “Mustahil”. Mustahil mengasumsikan ada sebuah dunia yang obyektif, yang tak tergantung dari kita. Tapi kaum “realis” seperti Einstein membantah. Mereka menganggap Heisenberg tak mau mengakui bahwa fisika kuantumnya adalah “sebuah gambaran yang tak lengkap tentang hal-hal yang nyata”,

    Lee Smolin dalam Einstein’s Unfinished Revolution mengurai kan pertentangan theori itu-pertentangan tanpa kata putus, tanpa juri, baik dari sains maupun dari filsafat.

    Sains, jika kita ingat Bohr, “hanya menelusuri” hubungan di antara pelbagai segi pengalaman. Sementara filsafat, beribu tahun setelah Plato, ternyata tak kunjung menyimpulkan apa yang secara universal diakui sebagai “benar”.

    Dalam situasi itu pemikir seperti Richard Rorty menyimpulkan, kalaupun ada yang bisa dianggap “benar”, ia tak punya fondasi yang universal. Proses mencapai “kebenaran” bukanlah dengan mengacu ke satu Sabda yang Kekal, melainkan dalam “percakapan” di suatu masa, di suatu tempat. Apa yang benar adalah apa yang disetujui sebagai “benar” oleh mereka yang oleh peserta lain dianggap “rasional”. Bagi Rorty, pengetahuan (episteme) tak punya fondasi kecuali kesepakatan sosial.

    Artinya berita tentasig kehidupan dan kematian flsafat telah dibesar-besarkan. Yang pas, kini filsafat bukan lagi wali penjaga. Filsafat tak lagi jadi zona yang otonom untuk mengusut kebenaran. Tak lagi jadi satu Fach.

    Maka satu “kebudayaan pascaf-filsafat” perlu bangkit. Dalam “kebudayaan pasca-filsafat” yang tumbuh adalah percakapan. Tak ada lagi hierarki antara bidang-bidang pemikiran dan kreativitas. Jika ada filsafat, ia adalah “edifying philosophy”, yang mencerahkan seraya mencari “jalan baru yang lebih baik, lebih menarik, lebih berbuah”.

    Di sana tak ada yang menggantikan filsafat untuk menggariskan apa itu kebenaran. Yang pasti bukan sains. Rorty bukan penganut scientism. Pragmatism -nya, “tak menegakkan sains sebagai sebuah berhala”. Ada kesetaraan antara sains dan, misalnya, kesusasteraan.

    Hidup pun mengalir, bebas, tak di kungkung doktrin dalam  situasi “pasca-filsafat” itu. Tak aneh jika Heidegger yang dibaca  Rorty dengan tekun, menyambut akhir filsafat dengan lega. Bukan berkabung. Baginya, “akhir filsafat”  bukanlah keadaan yang “merosot dan impoten”. Bukan pula masuk kubur. “Akhir filsafat” berarti bahwa rnetafisika (Barat) yang berkembang sejak Plato telah komplet, di atas Vollendung der Metaphysik itu kini terbuka kemungkinan berpikir yang lain.

    Tapi Herdegger berhati-hati. Ketika filsafat sebagai perenungan ditinggalkan, segera datang masa ketika manusia tak sempat merenung, lupa “Ada”, tak bersyukur, serba kalkulatif, dengan gairah menaklukkan, dengan sains dan teknologi yang tak rendah hati. Veni, vidi, vici.

    ——————-

     

    Sumber:  “Catatan Pinggir”, Majalah Tempo, 14 November 2021

     

  • Imam yang Konsisten Menulis  (Catatan Ultah Imamat ke-19 P. Stefanus Tupeng Witin, SVD)

    Imam yang Konsisten Menulis (Catatan Ultah Imamat ke-19 P. Stefanus Tupeng Witin, SVD)

    Oleh  Albertus Muda, S.Ag., Gr., Guru SMA Negeri 2 Nubatukan-Lembata

     

    Ataili  merupakan sebuah kampung kecil di wilayah pegunungan kecamatan Wulandoni. Jauh sebelumnya merupakan bagian dari kecamatan Atadei. Kampung kecil ini cukup disegani karena selain karakter masyarakatnya yang keras sekeras batu cadas tetapi juga menyimpan pesona religiositas yang luar biasa. Di kampung ini bertumbuh subur panggilan khusus seperti Imam, Bruder dan Suster. Data biarawan-biarawati dan Imam terkini yang dapat kami catat ada 7 suster, dua orang telah keluar, 2 bruder, seorang telah meninggal dunia dan 5 imam, dua orang telah meninggalkan imamatnya. Satu di antara tiga imam yang masih teguh setia dengan imamatnya hingga hari ini adalah P. Stefanus Tupeng Witin, SVD atau yang akrab disapa Pater Stef Witin.

     

    Societas Verbi Divini

    Stef Witin lahir dari keluarga petani sederhana yang taat beribadah. Ayahnya Lukas Lakan Witin (alm) dan ibunya Susana Gelole Buran (almh). Sejak kecil, Stef adalah anak yang bertipikal tenang, tekun dan disiplin sehingga sangat prestatif. Ia mengawali pendidikan dasar di SDI Ataili, SMPS APPIS Lamalera dan pendidikan menengah atas di SMU Seminari San Dominggo Hokeng, sedangkan pendidikan tinggi di STFK Ledalero sekarang IFTK Ledalero.

    Pilihannya menjadi imam SVD tentu tidak berlangsung dalam ruang hampa. Para misionaris awal yang  menjejakkan kaki di tanah misi Lembata khususnya di paroki St. Petrus dan Paulus Lamalera adalah imam-imam SVD seperti P. Bernardus Bode, SVD misionaris sulung dan P. Arnoldus Dupont, SVD. Lahirnya banyak imam SVD dari Lamalera juga menjadi motivasi tambahan bagi dirinya menjadi Imam SVD. Namun satu hal terpenting di sini adalah bahwa sejak awal Stef kecil sudah memproklamirkan dirinya untuk bekerja di ladang Tuhan menjadi imam.

    Sebagai manusia, Stef kecil pasti mengalami berbagai tantangan, jatuh bangun menapaki panggilannya. Ia selalu menatap ke depan menjadi hamba dan pelayan umat Tuhan. Seingat saya, tantangan terberatnya adalah ketika ia harus memilih antara menemani ibunda menghadapi sakratul maut atau hadir untuk menerima jubah sebagai novis (novum: anggota baru) Serikat Sabda Allah di Novisiat SVD Nenuk-Atambua.

    Kekuatan Pesan Ibunda

    Pesan-pesan terakhir Susana ibunya sungguh mengokohkan niatnya. “Ama, engkau harus pergi karena tinggal beberapa hari ama masuk novis dan menerima jubah sekaligus kaul pertama. Mama tetap mendoakan panggilan ama meski mama tidak lagi berada secara fisik di dunia,” demikian pesan ibu Susana sebelum ia meninggalkan kampung halaman menuju ke Kupang dan melanjutkan perjalanan ke Nenuk-Atambua.

    Dilema melanda hati dan pikirannya. Namun, ia memilih menjawabi panggilannya dengan masuk novisiat di Nenuk-Atambua. Ia kuat karena doa dan restu sang ibu. Ia akhirnya menerima kenyataan manakala Allah dengan kuat kuasa-Nya datang menjemput sang ibu kembali ke pangkuan-Nya. Tantangan lain yang juga sangat berat adalah ketika ia harus menerima bahwa sang ayah yang selama beberapa tahun bekerja sebagai TKI di negeri jiran Malaysia dijemput pulang dalam kondisi psikis yang kurang sehat.

    Kini sang ayah terkasih juga telah berpulang. Semasa hidupnya, semangat hidup rohaninya tak pernah redup. Ia tak pernah absen berdoa, ibadat dan menghadiri ekaristi. Bahkan ada sebuah doa khusus untuk panggilan imam yang dengan setia didaraskannya secara khusyuk saat sebelum tidur maupun saat ia terjaga di pagi hari dalam balutan lipa dan sarung.

    Ada kesaksian dari salah seorang anggota keluarga dekat yang memutuskan untuk menguping apa yang sebenarnya dibisikan (alm) bapak Lukas Lakan Witin dari dalam balutan lipa dan sarungnya. Tanpa diduga ternyata ia sedang berdoa mohon panggilan imam bagi anaknya agar ia benar-benar dipilih dan dituntun Allah untuk menjawabi panggilannya menjadi seorang imam.

     

    Konsistensi Menulis

    Semenjak menjadi seminaris, ia akrab dan mengakrabkan diri dengan dunia menulis. Ia bahkan sangat menyatu dengan aktivitas membaca dan menulis. Namanya tak pernah absen di majalah Kuncup, majalah sekolah Seminari Menengah San Dominggo Hokeng dan majalah Vox Ledalero. Ia juga aktif menulis feature dan opini di media massa, baik lokal maupun nasional. Ia kritis dan berani menyerukan suara kenabian secara konsisten.

    Dua puluh tahun, ia mengabdikan diri sebagai kuli tinta dan pewarta pada Harian Umum Flores Pos. Ia berhasil mengemban jabatan di dalam media cetak milik kongregasi SVD ini. Mulai dari wartawan, redaktur, pemimpin redaksi hingga pemimpin umum. Ia pun meminta agar dirinya bisa tinggalkan Flores Pos demi mengabdi di tanah kelahirannya Lembata. Ia masih terus menulis. Roh kepenulisannya tetap konsisten sebagai warta kenabian.

    Selain menulis, ia pun pernah merintis Taman Bacaan Masyarakat (TBM) bagi warga masyarakat Lembata di rumah Soverdi. TBM tersebut berada dalam kawasan RS. Bukit Lewoleba-Lembata. Taman Bacaan itu diberi nama “Oring Literasi”. Semenjak berdirinya, oring literasi sangat diminati anak-anak. Mereka datang membaca di oring literasi dan bahkan pulang diberi hadiah buku. Tentu ia mau mencerdaskan masyarakat Lembata agar tidak terus menjadi kabupaten tertinggal di Indonesia.

    Hari ini, ia merayakan ulang tahun imamatnya yang ke-19. Kita mendoakannya agar meski diterpa banyak tantangan, ia tetap setia dan kritis dalam mewartakan Kerajaan Allah di mana ia berkarya. Kita berharap agar ia tetap konsisten membangun negeri dan gereja dalam narasi dan suara kenabiannya. Doa dan setiap perjumpaan hendaknya menjadi sarana untuk menguatkan perjalanan panggilannya. Selamat ulang tahun imamat Pater Stef Witin. Kami tetap mendukung dan mendoakanmu. Tuhan yang memanggil pasti akan setia memanggul bersama semua salib hidupmu. (*).

     

     

  • Tiga Hari,  Berhasil Submit 23 Artikel ke Jurnal Bereputasi

    Tiga Hari,  Berhasil Submit 23 Artikel ke Jurnal Bereputasi

     

    Banyak aral melintang saat menulis untuk jurnal. Revisi seabrek, bongkar tulisan, dan waktu penerbitan yang lama. Belum lagi komentar editor yang bikin patah semangat dan penolakan menjadi momok bagi dosen dalam mempublikasikan hasil riset. Menulis untuk jurnal bereputasi? Siapa takut!

    Menjawabi tantangan ini, Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan Kristen (FISKK), Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, menggelar kegiatan “Coaching Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)” bagi para dosennya bertempat di Neo Aston Kupang, 24-26 Juli 2024.  50 dosen FISKK amat antusias mengikuti bimbingan dari para narasumber yang berpengalaman.

    Hasilnya sekitar 23 artikel ilmiah hasil penelitian dan PKM berhasil disubmit ke jurnal nasional bereputasi.

    Aktualisasi Diri

    Rektor IAKN Kupang, Harun Y. Natonis, secara resmi membuka kegiatan ini, didampingi Kepala Biro AUAK, Yorhans S. Lopis, beserta para pejabat di lingkup IAKN Kupang. Dalam sambutannya, Rektor IAKN Kupang menekankan pentingnya publikasi ilmiah bagi seorang dosen.

    “Disamping sebagai bagian dari tuntutan Tridharma Perguruan Tinggi, menulis merupakan aktualisasi diri seoang dosen,” ujarnya.

    Menurutnya gairah menulis atau publikasi ilmiah harus dibangun bagi pematangan intelektual sivitas akademika perguruan tinggi. Karena itu diskusi mengenai hasil-hasil penelitian dan PKM para dosen IAKN Kupang menjadi sangat penting.

    Rektor Harun Y Natonis memberikan apresiasi dan mendukung sepenuhnya kegiatan coaching FISKK yang dinahkodai Dekan Marthin Ch Liufeto.

     

    Langsung Submit

    Ketua Panitia Pelaksa, Hermin, menjelaskan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu dan jumlah dosen untuk menulis di jurnal ilmiah bereputasi. Karena itu semua dosen FISKK yang mengikuti kegiatan coaching wajib mensubmit artikelnya di salah satu jurnal bereputasi di akhir kegiatan.

    Dikatakan penelitian dan PKM sudah banyak dilakukan, namun publikasi hasilnya di jurnal-jurnal bereputasi nasional, apalagi internasional masih sangat kurang. Masih banyak dosen yang mengalami kendala dalam menulis dan mempublikasikan riset mereka.

    “Hal ini bisa disebabkan banyak faktor, diantaranya kurangnya pemahaman metodologi penelitian, teknik penulisan jurnal, serta proses submit dan review jurnal. Karena itu disesi akhir kegiatan para dosen diwajibkan mensubmit artikelnya di salah satu jurnal bereputasi,” papar Hermin.

    Untuk maksud tersebut panitia menghadirkan sejumlah narasumber dan pelatih berkompeten, seperti Andrian Liem, Ph.D., Psikolog dari Universitas Sebelas Maret Surakarta yang membawakan materi tentang “Metode Penelitian Kuantitatif dalam Publikasi Ilmiah”, Dr. Yonatan Alex Arifianto, M.Th, M.Pd dari STT Sangkakala Salatiga dengan materi “Scientific Writing dan Memaksimalkan Mendeley dalam Meningkatkan Publikasi”. Selain itu, hadir juga Dr. Petrus Ana Andung, S.Sos., M.Si dari Universitas Nusa Cendana, Ira Desiawanti Mangililo, Ph.D dari Universitas Kristen Artha Wacana, Indra Yohanes Kiling, P.Psi., M.A., Ph.D dari Universitas Nusa Cendana, serta Dr. Ezra Tari dari IAKN Kupang.

     

     Pematangan Intelektual

    Menurut Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) IAKN Kupang, Fedinant Alexander, meskipun publikasi karya ilmiah hasil penelitian merupakan kewajiban dosen, kualitas tidak boleh diabaikan, terutama keterikatan yang erat dengan realitas sosial. Maka dalam kegiatan ini, para reviwer juga diharapkan membantu melihat aspek kualitatif dan kebaruan dari hasil penelitian PKM yang akan disubmit.

    “Karya ilmiah para dosen seharusnya relevan dan memberikan dampak yang langsung dirasakan oleh masyarakat. Ini menjadi penting kalau kita mau mewujudkan visi misi IAKN Kupang dan Tridharma Perguruan Tinggi di wilayah ini,”ujarnya.

    Penelitian menjadi salah satu penopang pengembangan ilmu dan daya saing, mendorong pengetahuan ke tingkat yang lebih tinggi, dan menciptakan penemuan baru yang dapat membantu memberikan solusi masalah masyarakat, serta menciptakan peluang-peluang baru di berbagai bidang.

    Oleh karena itu menurut dosen Prodi Sosiologi Agama ini, ekosistem penelitian di IAKN Kupang masih harus terus dipacu. Ia berkeyakinan kegiatan coaching yang mengakselerasi kolaborasi strategis ini mampu melahirkan artikel yang menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat NTT berbasis riset.

     

    Cara Memasukanpun diajarin

    Publikasi ilmiah bagi dosen memang mulai menjadi opsional melalui peraturan terbaru, Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.

    Karena itu bukan berlebihan Dekan FISKK, Marthin Ch Liufeto, ketika menuntup kegiatan sangat berharap agar kegiatan yang yang telah dirancang demikian simple tidak hanya memberikan manfaat keilmuan, tetapi juga memberikan hasil nyata dalam bentuk artikel yang tersubmit.

    “Coba lihat, sonde bae apanya. Ini sampai cara kasih masuk (Submit) pun diajarin. Masa son bisa. Yang belum bisa submit, son boleh makan,” ujarnya disambut tawa seluruh peserta coaching.

    ”Akhirnya be bisa makan juga,” ujar Gusti Y Sette, dosen Prodi Psikologi FISKK, setelah berhasil mensubmit artikel hasil penelitiannya. Setelah persiapan lama, jerih payah terbayar. ”Kayak begini rasanya kalau bisa masuk, menulis untuk jurnal bereputasi, siapa takut?” ujarnya dengan wajah sumrigah sambil tertawa.

    Kegembiraan Gusti Y Sette seperti mewakili kegembiraan 50 peserta kegiatan kembali ke pangkuan bapak dan ibu pertiwi di rumah setelah 3 hari penuh berkutat dengan pembahasan artikel jurnal yang dimoderatori Devi Novita Sheldena, Ezra Tari, dan Tince Dormalin Koroh ini.

    Laporan JB Kleden
  • Hak Janda: Tindakan Nyata di Balik Pengakuan

    Hak Janda: Tindakan Nyata di Balik Pengakuan

    Oleh Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada, dan Kandidat Doktor Filsafat STF Driyarkara Jakarta

     

     

    Sejak Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi A/RES/65/189 pada tahun 2011, yang menetapkan tanggal 23 Juni sebagai Hari Janda Internasional, penderitaan janda-janda telah mendapatkan perhatian global yang sangat diperlukan. Tanggal ini tidak hanya berfungsi sebagai pengingat akan perjuangan mereka, tetapi juga sebagai seruan bertindak dalam mendukung pengakuan penuh hak-hak dan pemberdayaan janda di seluruh dunia. Berdasarkan data yang dirilis oleh PBB pada 10 Mei, terdapat 258 juta janda di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, pada tahun 2015 terdapat 9,5 juta janda.

    Salah satu aspek mendasar dalam pemberdayaan para janda adalah memastikan mereka memiliki akses terhadap warisan, tanah, dan sumber daya produktif yang adil. Para janda seringkali kehilangan hak-hak tersebut karena adat istiadat patriarki dan kurangnya kesadaran hukum. Di banyak belahan dunia, undang-undang warisan tidak memihak perempuan, khususnya para janda, sehingga membuat mereka rentan dan tidak aman secara finansial. Memberikan informasi dan dukungan hukum kepada para janda sangat penting untuk memperbaiki ketidakadilan ini.

    Pensiun dan perlindungan sosial tidak boleh hanya bergantung pada status perkawinan. Para janda sering kali menghadapi kesulitan ekonomi ketika tunjangan sosial mereka terikat pada mendiang pasangan. Pemerintah perlu memastikan bahwa sistem perlindungan sosial mengakui dan mendukung para janda secara mandiri, serta menjaga keamanan ekonomi mereka. Hal ini juga mencakup memastikan akses terhadap pekerjaan layak dan upah yang setara. Pemberdayaan ekonomi para janda bukan hanya tentang kelangsungan hidup; melainkan juga tentang memberi martabat dan rasa hormat yang pantas mereka terima.

     

    Foto: Ilustrasi, seorang janda, yang karena kondisi buruknya tidur di pinggir jalan, sumber: Pexels

     

    Pendidikan dan pelatihan sangat penting bagi para janda guna membangun kembali kehidupan mereka dan menghidupi keluarga mereka. Menawarkan pelatihan pendidikan dan kejuruan dapat membuka jalan baru untuk mendapatkan pekerjaan dan kemandirian. Pemberdayaan ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menumbuhkan rasa kemandirian dan kepercayaan diri para janda, sehingga memungkinkan mereka melepaskan diri dari lingkaran kemiskinan dan ketergantungan.

    Mengatasi stigma sosial dan praktik diskriminatif sangat penting dalam perjuangan hak-hak para janda. Para janda sering kali dikucilkan dan ditambah lagi dengan praktik budaya yang merugikan. Hambatan sosial ini perlu dihilangkan melalui kampanye kesadaran, keterlibatan masyarakat, dan penegakan hukum anti-diskriminasi yang ketat. Sikap masyarakat terhadap para janda perlu diupayakan berkembang menjadi pengakuan terhadap martabat dan hak-hak mereka sebagai individu, bukan hanya sebagai perpanjangan tangan suami.

     

    Foto: Ilustrasi upaya kerja mandiri para janda yang perlu didukung banyak pihak, sumber: Pexels

     

    Pemerintah mempunyai peran penting dalam menegakkan hak-hak para janda, sebagaimana diamanatkan oleh hukum internasional, termasuk Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan dan Konvensi Hak Anak. Akan tetapi keberadaan undang-undang yang melindungi saja tidak cukup. Kelemahan dalam sistem peradilan seringkali menyebabkan buruknya implementasi dan penegakan undang-undang tersebut. Pemerintah perlu mengatasi kekurangan-kekurangan ini, memastikan bahwa pejabat peradilan memiliki informasi yang baik dan peka terhadap hak-hak para janda.

    Kurangnya kesadaran dan sikap diskriminatif di kalangan pejabat pengadilan di banyak negara dapat menghalangi para janda untuk mencari keadilan. Program pelatihan komprehensif bagi para profesional hukum dan kampanye sensitisasi diperlukan untuk memastikan bahwa peradilan menjunjung tinggi hak-hak para janda secara efektif. Para janda harus merasa yakin bahwa sistem peradilan akan melindungi hak-hak mereka dan memberikan perlakukan yang adil.

    Hari Janda Internasional lebih dari sekedar isyarat simbolis; hal ini merupakan seruan nyata untuk mengambil tindakan nyata untuk mendukung dan memberdayakan para janda secara global. Dengan memberikan akses terhadap sumber daya, memastikan perlindungan sosial dan ekonomi, mendorong pendidikan dan pelatihan, menantang norma-norma sosial, dan memperkuat sistem hukum, kita dapat bergerak menuju dunia di mana para janda dihormati, didukung, dan diberi kesempatan yang layak mereka dapatkan. Pemerintah, masyarakat sipil, dan organisasi internasional harus bekerja sama untuk memenuhi komitmen ini dan menjunjung hak-hak para janda sebagaimana tercantum dalam hukum internasional.

     

    ————————–