Category: PUISI

  • Perahu  Kertas

    Perahu Kertas

     

    Oleh Sapardi Djoko Damono

     

     

    Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.

    “Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua.
    Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar
    warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.

    Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,
    “Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit.”

     

  • “Demokrasi di Demarkasi” – “Hai Saudara!” – Sajak-sajak Sany Tukan

    “Demokrasi di Demarkasi” – “Hai Saudara!” – Sajak-sajak Sany Tukan

     

    Demokrasi di Demarkasi

    Masa di telan massa,
    Problem itu kian menghantui realita,
    Susah sungguh ditangkap rasa,
    Lalu menjadi satu sayembara-
    di atas pangung-panggung kata,
    Bisakah rasa melanggengkan historisasi?
    Ibarat politik tanpa identitas ialah hampa,
    Barangkali suatu saat nanti,
    Cinta manusia tanpa rasa, itu biasa!

    ————–

     

    Hai Saudara!

     

    Hai saudara di seberang samudra
    Yang lelah menenun nasib di bisingnya kota,
    Berhentilah sejenak menghitung peluh,
    Biarkan jiwamu bernapas dari riuh.
    Kita berlari bukan untuk memutus akar,
    Bukan sekadar mengejar dunia yang nanar.
    Ada tanah yang menunggu tanganmu merawat,
    Ada doa leluhur yang mengikat kuat.
    Bangunlah ruang yang menyembuhkan,
    Barulah langkahmu punya alasan untuk patuh.

    —————–

     

    T e n t a n g     P e n y a i r

    Sany Tukan, lahir di Lembata, tepatnya di Waikomo pada 16 Juni 2002, anak bungsu dari empat bersaudara; sedang menempuh pendidikan Semester VIII S1Ilmu Filsafat di IFTK Ledalero. Aktif menulis di Majalah Warta Flobamora dan hingga kini menjabat sebagai Sie Sastrawi BEM IFTK Ledalero. Kecintaannya terhadap dunia sastra menjadikannya menganggap aktivitas menulis puisi sebagai jalan mencintai yang tak tampak.

  • Semangkuk Doa Ibu – Sebelum Suara – Birama Sunyi – Sajak-sajak Helena Beraf

    Semangkuk Doa Ibu – Sebelum Suara – Birama Sunyi – Sajak-sajak Helena Beraf

     

    Semangkuk Doa Ibu

     

    Apa yang sedang dikeluhkan musim Ibu?
    Mungkinkah Tuhan begitu asik mengantarkan duka ke depan pintu
    sehingga bola matamu menjadi mendung

    Engkau bercerita tentang ayah yang telah lama pergi sejauh yang asing.
    Ia melambai, sebagai serentang ranting pohon yang gelisah
    sunyi di kepalamu adalah rimbunan rindu , sepotong harapan tegak merekah di atas tanah-tanah retak, namun tak mampu membawa pulang ayah.
    semenjak itu, aku selalu memilih dungu di hadapan cermin
    sambil mengira-ngira bayang ayah sebagai angan yang selalu aku ingini.

    Setiap hari kulihat Ibu memikul matahari di kepala
    keringatnya jatuh sebagai tetes dan doa
    yang mengalir deras ke tubuh yatim
    Di matanya yang cinta, luka tak pernah membutakan apa-apa
    walau di palung malam, luka itu menggali tubuhnya sendiri seraya menghitung duka yang ditanamnya

    Setelah senja beranjak
    api telah melahap kayu pada tungku
    cahayanya menampar wajah kami yang ditikam lapar
    Ibu mengepulkan doa , mengisi mangkuk-mangkuk yang kosong
    nasi ia tanak dengan asin air mata
    sebab periuk ibu dari tambak kemiskinan

    Adakah yang lebih elegi dari sepiring nasi, Bu?
    Yang peluh tanpa reda sebagai airmata

    Ibu, kemanakah kunci pada pintu di sepasang daun telingamu
    disana engkau tabah mengumpulkan rahasia yang tak terucap oleh kata
    Mungkinkah ada telapak tangan ayah yang tak pernah kemarau bercucur peluh sebagai pengorbanan yang bisa kita cicipi?

    Di dalam lumbung gelisah, kata kata bersembunyi
    “Tuhan, biarkan gadis kecil itu tidur di matanya yang telah malam”
    rindu pelukan pada sang ayah
    tinggal mimpi yang dikekalkan detik

    Jejak doa Ibu, terbaca jelas di langit

    ( Helena Beraf, 25 Mei 2022)

    ————————————

     

     

    Sebelum Suara

     

    Puisi memanggilku kembali ke jantung malam
    mendengar degup bunyi sunyi yang selalu jujur membahasakan kelembutanya

    kebanyakan manusia terlalu banyak bersuara, sementara mereka tidaklah sadar
    kesunyian sedang menenun puisi, menjahit kata-kata yang kelak dibaca sebagai pakaiannya.

    Puisi memanggilku kembali
    pulang merengkuh sepi
    dengan telinga dan mata pena
    ku amati gerak rahasia angin yang terkunci pada selembar daun
    kudengar getar degup cinta yang diam-diam membunyikan diriku
    Ku dengar namaMu di bisik keheningan
    dan pada segala bentuk alasan manusia ingin pulang
    seperti suara cinta yang memanggil dari patahan-patahan hati

    Puisi memanggilku kembali
    membahasakan apa-apa yang dirahasiakan dan sulit diucapkan
    seumpama manusia yang berbeda
    -tidak akan pernah menjanjikan cinta yang sama

    Maka percayalah puisiku
    antara kau dan aku
    :cinta tak terlahir dari apapun
    ia ada sebelum tangis pertama kita
    memecah kecemasan manusia

    Puisiku
    aku pulang,
    mendekapmu penuh seluruh

    ———————————-

     

    Birama Sunyi

     

    Ia duduk di hadapan malam
    dan sunyi belajar menjadi lembut
    senar senar membuka rahasia-pelan, agar rindu tak terkejut.
    nada mengalir jatuh ke dadaku menjadi hangat tak bernama namun setia pada getar

    Aku selalu mencintai caranya menunggu bunyi, seperti menunggu bibir yang tak lagi menyebut

    Dan di sepasang mata teduh, tempat musik meletakan kepala. Ada rindu yang berhenti mencari bentuk.

    Aku luruh
    menjadi dengar
    yang tak selesai

    ———————–

     

    Helena Lose Beraf, Penulis dan Bidan. Di kota yang bising, menepi dalam puisi, menyelami sunyi, dan mendengar musik sebagai rahasia.

     

     

  • Panggilan Hidup

    Panggilan Hidup

     

    Oleh Rabindranath Tagore, Nobel Award of Literature 1913

     

     

    Jika gong berdegung sepuluh kali di pagi hari dan aku berjalan menuju sekolah, bertemulah aku setiap hari dengan penjual kelontong yang berteriak, “Manik! Manik batu!”
    Tak ada yang memburu dia, tak ada jalan yang harus ditempuh, tak ada tempat ke mana ia harus pergi.
    Aku ingin jadi penjual kelontong yang menghabiskan hari-harinya di jalanan sambil berteriak, “Manik, Manik batu!”
    Jika sore hari pukul empat aku pulang dari sekolah, kulihat dari gerbang masuk tukang kebun sedang menyabit rumput di halaman.
    Ia bekerja sesuka hatinya, mengotori bajunya dengan debu, berjemur di bawah panas matahari, kehujanan tanpa seorang pun melarangnya.
    Aku ingin jadi tukang kebun yang bekerja sesuka hati, dan tak seorang pun melarangku.
    Jika malam tiba dan ibu menyuruhku tidur, kulihat lewat jendela, peronda malam bolak-balik di gang.
    Jalanan gelap, dan sepi, dan lampu pasar tegak bagai raksasa bermata merah di tengah kepalanya.
    Peronda itu berjalan membawa lampunya bersama banyang-banyangnya, dan ia tak pernah tidur selama hidupnya.
    Aku ingin jadi peronda dan berjalan di jalanan sepanjang malam sambil menghalau bayang-bayang dengan lampuku.

    ———————

    Sumber Puisi dari Buku Antologi Puisi Nobel – 2001 – Bentang Budaya

  • Bumi Rumah Kita – Sajak Odemus Bei Witono

    Bumi Rumah Kita – Sajak Odemus Bei Witono

     

    Bumi ini mahligai, tempat jiwa bersemayam,
    Awalnya utuh, kini terdera, lalu kubangun kembali,
    Jauh di sana, pandangku terpaku pada nirwana,
    Di puncak gunung Arjuna dan Anjasmara,
    Duduk bersila, melamunkan kabut yang membebat kalbu.
    Sebuah tatapan merengkuh sunyi, tanpa batas dan tepi.
    Bukankah jiwa raga ini bagian dari jasad semesta?
    Mengapa kini raga dan citra seakan kaku,
    Di antara hening yang menyimpan rahasia ilahi,
    Tentang titah menjaga warisan, bukan merampasnya.

     

    Telah tiba masanya, sukma haruslah terbang,
    Rentangkan sayap, menembus cakrawala yang muram,
    Sebab rintihan duka limbah menganak sungai jelaga,
    Meracuni setiap urat nadi alam, tanpa kasih dan jeda.
    Oh, betapa perih rasa sabetan waktu yang merobek sukma,
    Membakar nurani dengan bara penyesalan yang tiada padam.
    Dilema mendera jiwa: haruskah diam seribu bahasa,
    Menerima nasib sunyi tanpa daya upaya fana?
    Ataukah bangkit, bergerak melawan arus kealpaan manusia,
    Mencari kembali makna bakti pada Ibu Pertiwi.

     

    Seribu pulau telah kususuri dengan langkah tak pasti,
    Dari barat ke timur, jejak kaki tak kunjung menemukan damai.
    Dalamnya samudera telah kuselami, menembus palung duka.
    Namun udara kian sesak, napas tersekat di ruang yang sempit,
    Bukan karena jarak, namun karena racun keserakahan yang pekat.
    Semua bisikan arif, nasihat terucap bagai gema di padang lengang,
    Tenggelam dalam riuh rendah nafsu duniawi yang tak berkesudahan.
    Di mana gerangan manusia berakal? Moralitas tergerus,
    Dan Nurani seolah hilang ditelan gelapnya ambisi.

     

    Maka kudengar bisikan laut di ujung utara jiwa,
    Suara purba yang menyerukan: saatnya telah tiba,
    Mewujudkan kembali janji pada harmoni semesta.
    Dengan tangan teguh, duri dalam daging kemungkaran tercabut,
    Limbah keserakahan dan racun kealpaan harus sirna tanpa bekas.
    Hingga kelak, lautan luas kembali tenang dan membiru,
    Menjadi cermin agung bagi langit yang merestui,
    Dan Bumi, kembali menjadi Rumah Kita, abadi dalam pusaran waktu.

    ——————————————–

     

    Penulis adalah Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan

  • Sinyal Cinta Kosmis

    Sinyal Cinta Kosmis

     

    Oleh Emil Bidomaking

     

    Alam semesta bukanlah ruang kosong,
    ia adalah percakapan tak henti—
    antara bintang yang berkedip,
    air yang jatuh ke tanah,
    dan jiwa-jiwa yang menunggu dipeluk.

     

    Kita adalah gelombang,
    satu denyut dari lautan energi yang sama.
    Jika satu bergetar dalam kebencian,
    semesta retak dalam senyap.
    Namun bila satu jiwa bergetar cinta,
    ia menjalar, menembus akar, batu, bahkan cahaya.

     

    Gunung-gunung yang tegar,
    hembuskan getar kesabaran dari rahimmu.
    Kerasmu bukan untuk menakutkan,
    tetapi untuk mengajarkan bahwa kekuatan sejati
    adalah keteduhan yang mampu melindungi.

     

    Sungai dan samudra,
    aruskan doa yang jernih hingga ke samudra lain.
    Bawalah pesan damai
    seperti arus yang tiada henti mencari muara.
    Jadikan setiap tetesmu
    jembatan kasih antara kehidupan yang berbeda.

    Kita, manusia,
    yang sering merasa penguasa,
    sesungguhnya hanya satu butir debu kosmik
    yang menumpang hidup pada pangkuan bumi.
    Maka biarlah kesadaran ini tumbuh:
    bahwa damai bukan hadiah dari kekuatan,
    melainkan getaran yang lahir dari keikhlasan.

     

    Maka mari,
    kita kirimkan sinyal cinta—
    bukan dengan kata,
    melainkan dengan keberadaan.
    Seperti bulan yang tetap memantulkan terang,
    meski tak pernah meminta pujian.

    Biarlah burung mengajarkan kita tentang kebebasan,
    pepohonan tentang kesetiaan,
    samudra tentang kerendahan hati.
    Dan kita—manusia—
    belajar bahwa damai bukan hadiah,
    melainkan keputusan bersama kosmos.

     

    Ketika cinta itu terpancar
    dari inti atom hingga takhta galaksi,
    tiada lagi sekat:
    aku dan engkau hanyalah gema,
    yang kembali ke asal satu:
    Keselarasan.

    ***************************

     

    Tentang    Penyair

     

    Wilhelmina Mariana Ema, S.Pd,  atau lebih akrab dikenal dengan nama Emil Bidomaking. Dara kelahiran Malaysia, 01 September 1991 ini adalah pegiat literasi sekaligus guru di SMK Strada Daan Mogot Tangerang. Kecintaannya pada puisi melahirkan karya-karya reflektif yang layak untuk dicecap.

  • “Lentera di Punggung Senja” – “Jejak Luka di Mata Kecil” – Sajak-sajak Emil Bidomaking

    “Lentera di Punggung Senja” – “Jejak Luka di Mata Kecil” – Sajak-sajak Emil Bidomaking

     

    Lentera di Punggung Senja

     

    Ia hanyalah sehelai ranting muda
    yang dipaksa menyangga pohon tua,
    daunnya gugur lebih cepat dari musim,
    batangnya retak namun tetap tegak,
    karena di bawahnya ada akar yang harus tetap bernapas.

    Ia adalah matahari kecil
    yang menunda terbenam,
    agar malam tidak menelan rumahnya terlalu cepat.
    Cahayanya tak pernah cukup untuk dirinya,
    tapi selalu ia sisakan bagi mereka yang menunggu hangat.

    Di telapak tangannya,
    bunga-bunga mimpi layu sebelum sempat mekar.
    Ia menanam benih,
    namun bukan di ladangnya sendiri—
    melainkan di tanah keluarga
    yang haus air matanya setiap hari.

    Ia berjalan di jalan batu
    dengan kaki telanjang,
    menyembunyikan luka di bawah senyum
    seperti rembulan yang tampak penuh
    padahal separuhnya gelap.

    Dia hanyalah seorang anak perempuan
    Yang punggungnya lebih renta dari usianya.
    Bahu kecil itu dijejali sejuta tanggung jawab,
    Seolah ia terlahir bukan untuk bermain,
    Melainkan untuk menjadi penopang rumah yang rapuh.

    Setiap pagi ia berangkat dengan senyum dipaksakan,
    Menyembunyikan letih di balik mata yang masih haus tidur.
    Tangannya bekerja, kakinya berlari,
    Sementara hatinya terjebak antara mimpi dan kewajiban.

    Orang-orang menyebutnya kuat,
    Padahal ia hanya tidak punya pilihan selain bertahan.
    Orang-orang memujinya sebagai anak berbakti,
    Padahal ia sekadar menanggung nasib
    Yang dituliskan terlalu dini di atas namanya.

    Malam hari ia menatap langit,
    Ingin berdoa untuk dirinya sendiri,
    Namun bibirnya selalu mendahulukan nama keluarganya.
    Ia menukar masa mudanya dengan roti di meja,
    Menukar mimpinya dengan senyum orang yang ia sayangi.

    Dan ketika orang lain seusianya
    Sibuk merangkai cinta, merajut masa depan,
    Ia sibuk menghitung sisa uang,
    Sibuk menguatkan dinding rumah
    Agar tak runtuh bersama keluarganya.

    Ia adalah tulang punggung
    Yang nyaris patah namun tak boleh retak,
    Karena bila ia jatuh,
    Seluruh hidup di belakangnya akan ikut roboh.

     

    ——————-

     

    Jejak Luka di Mata Kecil

     

    Ia lahir dari sunyi yang tak dipilih,
    dari rumah yang seharusnya menjadi teduh,
    namun berubah menjadi panggung retak,
    tempat kata-kata menusuk lebih tajam
    dari pisau yang tak pernah ia sentuh.

    Sejak dini, ia belajar membaca nada suara,
    membedakan mana langkah yang mendekat dengan cinta,
    mana langkah yang tiba dengan gemuruh amarah.
    Kedua matanya merekam,
    menyimpan setiap pecahan ingatan
    yang tak sempat dihapuskan waktu.

    Ketika teman-temannya berlari bebas di halaman,
    ia duduk menunduk di sudut kamar,
    menghitung retakan di dinding,
    seakan tiap garis adalah jalan keluar
    yang tak pernah benar-benar terbuka.

    Pelukan baginya bukan rumah,
    melainkan jerat yang menyesakkan.
    Setiap belaian terasa asing,
    karena kulitnya sudah hafal jejak luka,
    yang lebih sering hadir
    daripada hangat kasih sayang.

    Malam baginya bukan waktu istirahat,
    melainkan panggung kegelapan
    yang memunculkan wajah-wajah menakutkan
    dari masa silam.
    Mimpi buruk adalah tamu tetap
    yang tak pernah bosan singgah,
    mengguncang tidurnya,
    menariknya kembali ke ruang penuh jeritan.

    Namun di tengah reruntuhan batin,
    ada secuil cahaya yang tak padam.
    Ia berusaha merajut pecahan dirinya,
    mencari arti dari kata “pulih”
    yang sering terdengar,
    namun jarang benar-benar dirasakan.

    Ia menulis dalam diam,
    mencoretkan rasa di kertas-kertas lusuh,
    agar luka punya bahasa,
    dan hatinya punya ruang bernapas.

    Mata kecil itu, meski redup,
    masih menyimpan api yang tak mati.
    Api yang berharap,
    suatu hari akan ada tangan lembut
    yang tak datang membawa derita,
    melainkan menuntunnya keluar
    dari lorong panjang bernama trauma.

    Di balik semua luka yang bersemayam,
    ia tetaplah seorang anak
    yang berhak belajar tertawa tanpa takut,
    berlari tanpa cemas,
    dan mencintai dunia
    tanpa harus menyembunyikan
    jejak luka di matanya.

    Dan bila suatu hari,
    mata kecil itu menatap dunia dengan berani,
    biarlah orang-orang melihat bukan hanya luka,
    tetapi kekuatan yang lahir darinya.

    Sebab setiap trauma,
    meski menggores dalam,
    dapat berubah menjadi jalan sunyi
    yang menuntun jiwa
    menuju cahaya pemulihan.

    Ia bukan sekadar anak yang terluka,
    ia adalah tunas yang bertahan
    meski badai berulang kali datang.
    Dan kelak, ketika waktunya tiba,
    ia akan mekar—
    membuktikan bahwa cinta
    lebih kuat daripada luka.

    ——————

     

    Tentang Penyair

     

    Wilhelmina Mariana Ema atau lebih akrab dikenal dengan nama Emil Bidomaking. Dara kelahiran Malaysia, 01 September 1991 ini adalah pegiat literasi sekaligus guru di SMK Strada Daan Mogot Tangerang. Kecintaannya pada puisi melahirkan karya-karya reflektif yang layak untuk dicecap.

  • Wiji, Suara yang Tak Bisa Dibunuh

    Wiji, Suara yang Tak Bisa Dibunuh

    Oleh Helena Lose Beraf

     

    Di negeri ini,
    ada orang yang hilang
    bukan karena lupa jalan pulang,
    tetapi karena kebenaran
    tak pernah dibiarkan tumbuh.

     

    Namamu, Wiji,
    dicatat sebagai tanda tanya,
    bukan karena engkau rapuh,
    melainkan karena kuasa takut
    pada kata-katamu.

     

    “Apabila rakyat tidak berani marah,
    penguasa akan semakin berkuasa.”
    Kau sudah menuliskannya,
    dan sejarah membuktikannya—
    mereka yang berkuasa
    selalu gemetar pada kata yang jujur.

     

    Kursi kosong di ruang tamumu
    adalah bukti paling telanjang:
    ada ayah yang direnggut
    oleh tangan gelap yang merasa berhak
    menentukan siapa boleh bicara,
    siapa harus hilang.

     

    Tapi mereka lupa,
    kau bukan sekadar tubuh.
    Kata-katamu telah menjelma rakyat,
    dan rakyat tidak bisa dikuburkan.
    “Ia tak mati-mati meski bola mataku diganti”.

     

    Engkau Wiji—
    benih yang dilempar ke tanah luka.
    Semakin ditekan, semakin tumbuh.
    Semakin dibungkam, semakin nyaring.
    Dari tanah itu mekar bunga,
    bunga keberanian
    yang tetap wangi meski diinjak sepatu kuasa.

     

    Mereka membangun tembok setinggi langit,
    mengira bisa menutup suara,
    tapi tembok itu retak—
    sebab suara selalu mencari celah,
    sebab bunga selalu tahu jalan keluar.

     

    Wiji,
    kau mungkin diseret senyap,
    tapi di setiap palu yang menghantam tanah,
    di setiap teriakan buruh yang menagih haknya,
    di setiap poster yang diangkat mahasiswa,
    kau berdiri,
    kau bicara,
    kau melawan.

     

    Dan selama rakyat masih berani bermimpi,
    suaramu tak bisa dipadamkan.

     

    Di negeri yang menelan tubuhmu,
    kau tetap tumbuh.
    “Dia tak mati-mati meski bola mataku diganti,”
    “Ia tak mati-mati meski bercerai dengan rumah
    dan ditusuk-tusuk sepi.”

     

    Selamat ulang tahun, Wiji Thukul🌹

  • Jejak Abadi – Sajak Metta Caroline Liu

    Jejak Abadi – Sajak Metta Caroline Liu

     

    Di sudut kelas yang tenang
    Seorang guru duduk dengan terang
    la bukan hanya pengajar huruf ataupun angka
    Tapi penjaga bara di dada anak bangsa

     

    Setiap kata yang keluar dari lisannya, adalah warisan
    Matanya yang masih tajam menembus awan
    Menatap generasi yang datang dan pergi
    Dengan senyum lembut dan hati yang berseri

     

    Ia tahu, masa muda telah menjauh
    Tapi cintanya pada ilmu tak pernah surut mengeluh
    Ia melangkah maju tanpa mundur
    Sebab di dadanya, tugas mulia masih bergetar

     

    Wahai guruku
    Engkau mentari di ufuk yang tak pernah mati
    Kau ajarkan kami lebih dari sekadar tahu
    Tapi juga menjadi manusia yang utuh dan penuh

     

    Sumber Puisi dari Buku Puisi Hidup Itu Anugerah, Julia Utami dkk, Kosa Kata Kita, 20025

    ———————

     

    METTA CAROLINE LIU adalah seorang siswi kelas 8 SMP Santa Ursula Jakarta. Ia lahir pada tanggal 6 Juni 2011. Salah satu kegiatan yang paling disenanginya adalah berkumpul bersama keluarga. Bagi Metta, momen-momen bersama orang-orang terdekat merupakan waktu yang paling berharga dan selalu membuatnya merasa bahagia dan hangat

  • C i n t a – Sajak M Aan Mansyur

    C i n t a – Sajak M Aan Mansyur

     

     

    Hari-hari membakar habis diriku
    Setiap kali aku ingin mengumpulkan
    tumpukan abuku sendiri, jari-jariku
    berubah jadi badai angin.

    Dan aku mengerti mengapa cinta diciptakan–

    —————

     

    Sumber dari Buku Puisi Tidak Ada New York Hari Ini, M Aan Mansyur, Gramedia 216