Blog

  • Jarak Orang Tuli dan Kedekatan Yesus

    Jarak Orang Tuli dan Kedekatan Yesus

     

    KOTBAH PAUS FRANSISKUS   DALAM MISA DI STADION SIR JOHN GUISE, PORT MORESBY, PAPUA NUGINI, 8 SEPTEMBER 2024

     

    Bacaan Ekaristi :

    Yes. 35:4-7a; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; Yak. 2:1-5; Mrk. 7:31-37.

     

    Kata-kata pertama yang disampaikan Tuhan kepada kita hari ini adalah, “Kuatkan hatimu, janganlah takut!” (Yes 35:4). Dengan cara ini, Nabi Yesaya berbicara kepada semua orang yang telah kehilangan semangat. Ia juga menyemangati umat-Nya dan, bahkan di tengah kesulitan dan penderitaan, mengundang mereka untuk menengadah ke cakrawala harapan dan masa depan di mana Allah akan datang untuk menyelamatkan kita. Karena Tuhan memang akan datang, dan pada waktu itu, “mata orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang tuli akan dibuka” (Yes 35:5).

    Nubuat ini tergenapi dalam diri Yesus. Dalam kisah Santo Markus, dua hal secara khusus ditekankan: jarak orang tuli dan kedekatan Yesus.

    Jarak yang ditempuh orang tuli. Kita melihat dia di wilayah geografis yang dalam bahasa masa kini kita sebut sebagai “pinggiran”. Wilayah Dekapolis terletak di seberang Sungai Yordan, jauh dari pusat keagamaan Yerusalem. Lebih dari itu, orang tuli ini juga merasakan jarak yang lain: ia jauh dari Allah dan orang lain karena ia tidak dapat berkomunikasi, ia tuli dan karenanya tidak dapat mendengar, dan ia juga bisu sehingga tidak dapat berbicara. Ia terputus dari dunia, terasing, terpenjara oleh kondisi bisu tulinya, sehingga ia tidak dapat menjangkau orang lain atau berkomunikasi dengan mereka.

    Kita juga dapat menafsirkan situasi orang itu dalam pengertian lain, karena kita juga dapat terputus dari persekutuan dan persahabatan dengan Allah dan dengan saudara-saudari kita ketika, alih-alih telinga dan lidah kita, hati kita yang tersumbat. Sungguh, ada semacam ketulian dan kebisuan batiniah hati yang terjadi setiap kali kita menutup diri, atau menutup diri dari Allah dan orang lain melalui keegoisan, ketidakpedulian, takut mengambil risiko atau berterus terang, dendam, kebencian, dan daftarnya bisa terus berlanjut. Semua ini menjauhkan kita dari Allah, dari saudara-saudari kita, dari diri kita sendiri dan dari sukacita kehidupan.

    Saudara-saudari, Allah menanggapi jarak seperti itu dengan cara yang sangat bertolak belakang, dengan kedekatan Yesus. Melalui Putra-Nya, Allah ingin menunjukkan pertama-tama bahwa Ia dekat dan berbela rasa, Ia peduli kepada kita dan mengatasi jarak apa pun. Bahkan, dalam perikop Injil kita melihat Yesus pergi ke daerah-daerah pinggiran, meninggalkan Yudea untuk bertemu dengan orang-orang kafir (bdk. Mrk 7:31).

    Melalui kedekatan-Nya, Yesus menyembuhkan kebisuan dan ketulian manusia. Sungguh, setiap kali kita merasa jauh, atau kita memilih untuk menjaga jarak dari Allah, dari saudara-saudari kita atau dari mereka yang berbeda dengan kita, kita menutup diri, menghalangi diri kita dari luar. Kita akhirnya hanya berputar di sekitar ego kita, tuli terhadap sabda Allah dan jeritan sesama kita, dan karena itu tidak dapat berbicara kepada Allah atau sesama kita.

    Dan kamu, saudara-saudari, yang tinggal di negeri yang sangat jauh ini, mungkin kamu membayangkan bahwa kamu terpisah dari Tuhan dan satu sama lain. Ini tidak benar, tidak: Kamu dipersatukan dalam Roh Kudus dan di dalam Tuhan! Dan Tuhan berkata kepadamu masing-masing, “terbukalah”! Yang terpenting adalah membuka diri kita kepada Allah dan saudara-saudari kita, serta membuka diri kita kepada Injil, menjadikannya pedoman kehidupan kita.

    Hari ini, Tuhan juga berkata kepadamu, “Beranilah, rakyat Papua Nugini, janganlah takut! Bukalah dirimu! Bukalah dirimu terhadap sukacita Injil; bukalah dirimu untuk berjumpa dengan Allah; bukalah dirimu terhadap kasih saudara-saudarimu”. Semoga tidak seorang pun dari kita yang tetap tuli atau gagap terhadap undangan ini. Selain itu, semoga Beato John Mazzuccini menemanimu dalam perjalanan ini, karena di tengah banyak kesulitan dan permusuhan, ia membawa Kristus ke tengah-tengahmu, sehingga tidak seorang pun akan tetap tuli terhadap pesan keselamatan yang penuh sukacita, dan agar semua orang dapat melonggarkan lidah mereka untuk menyanyikan kasih Allah. Semoga hal ini benar-benar terjadi terhadapmu hari ini !.

     

  • Kegiatan Katekese Bulan Kitab Suci Nasional 2024 di SMAN 2 Maumere: Mengenal Nabi Nahum dan Habakuk, Allah Sumber Keadilan

    Kegiatan Katekese Bulan Kitab Suci Nasional 2024 di SMAN 2 Maumere: Mengenal Nabi Nahum dan Habakuk, Allah Sumber Keadilan

     

    Maumere berandanegeri.com – Dalam rangka memperingati Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2024, para guru dan siswa-siswi SMAN 2 Maumere melaksanakan kegiatan katekese bekerja sama dengan para Frater Seminari Tinggi Ledalero Unit Yoseph Sebanyak 32 Frater. Kegiatan ini diadakan setiap Sabtu sepanjang bulan September, pukul 16.00 hingga 17.30 WITA, bertempat di SMAN 2 Maumere.

    Guru Agama Katolik Benyamin Helianto Tueng Hayon, S.Fil, menyampaikan bahwa kegiatan katekese ini mengacu pada tema umum BKSN 2024, yaitu Allah Sumber Keadilan. Sepanjang kegiatan, para guru dan siswa Katolik serta umat beriman mendapatkan kesempatan untuk mengenal sosok Nabi Nahum dan Nabi Habakuk, dua nabi minor (nabi-nabi kecil) yang seringkali kurang dikenal, tetapi menyampaikan nubuat penting tentang Allah sebagai sumber keadilan.

    Katekese ini disusun dalam empat pertemuan, masing-masing dengan sub-tema yang dipilih untuk memperdalam pemahaman akan nubuat-nubuat Nabi Nahum dan Habakuk. Keempat sub-tema tersebut adalah sebagai berikut:

    1. Allah dasar pengharapan dalam kesulitan (Nahum 1:1-8)
    2. Allah memulihkan kemuliaan manusia (Nahum 2:1-2)
    3. Menjadi manusia yang benar supaya tidak mengalami hukuman (Habakuk 2:1-5)
    4. Menjadi manusia yang bersukacita karena Allah yang adil (Habakuk 3:1-19)

    Menurut Benyamin, hari pertama kegiatan berjalan lancar dan penuh semangat, dengan para Frater dan siswa aktif berpartisipasi dalam diskusi dan permenungan bersama mengenai sub-tema yang telah ditentukan. Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk mendekatkan para pelajar Katolik dengan Kitab Suci, sekaligus menumbuhkan kecintaan dan penghayatan lebih dalam terhadap firman Tuhan yang ada di dalamnya.

    Selain kegiatan katekese bagi para siswa Katolik, siswa-siswi yang beragama lain juga mendapatkan pembinaan rohani bersama guru agama dan pendamping masing-masing, sesuai dengan keyakinan mereka. Kegiatan ini dirancang untuk memberikan ruang rohani bagi semua siswa, agar mereka dapat terus bertumbuh dalam iman dan nilai-nilai kehidupan yang mereka anut.

    Katekese ini diharapkan menjadi momentum berharga bagi para siswa Katolik SMAN 2 Maumere untuk memahami keadilan Allah melalui kisah Nabi Nahum dan Habakuk, serta memperdalam relasi mereka dengan Tuhan melalui Kitab Suci. Dengan penyelenggaraan kegiatan yang penuh antusias, diharapkan para siswa semakin terdorong untuk hidup menurut nilai-nilai keadilan, pengharapan, dan sukacita yang berasal dari Allah

    (Yanto Hayon))

     

  • Workshop Peningkatan Kompetensi Guru SMAN 2 Maumere: Fokus pada Literasi dan Numerasi untuk Pembimbingan Karya Tulis Ilmiah

    Workshop Peningkatan Kompetensi Guru SMAN 2 Maumere: Fokus pada Literasi dan Numerasi untuk Pembimbingan Karya Tulis Ilmiah

     

    Maumere beranda negeri.com – SMAN 2 Maumere menyelenggarakan workshop peningkatan kompetensi guru dalam bidang literasi dan numerasi pada hari Sabtu 7 September 2024. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 09.00 hingga 13.00 WITA dan bertempat di aula SMAN 2 Maumere. Workshop tersebut menghadirkan narasumber dari Universitas Nusa Nipa (UNIPA) Maumere, yaitu Ibu Agustina Elisabeth,.M.Pd, yang juga merupakan seorang dosen di universitas tersebut.

    Workshop dibuka oleh PLT Kepala Sekolah SMAN 2 Maumere, Bapak Hendrikus Hadir, S.Pd, yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah untuk memberikan penyegaran kepada para guru dalam rangka mempersiapkan diri menjadi pembimbing karya tulis ilmiah (KTI) bagi peserta didik kelas XII. “Kegiatan ini sangat penting agar para guru dapat lebih siap dan kompeten dalam mendampingi siswa-siswi kelas XII untuk menyusun KTI yang berkualitas,” ujarnya.

     

    Ibu Elisabeth, selaku pemateri, menjelaskan dengan rinci tentang prosedur penulisan karya tulis ilmiah (KTI) mulai dari awal hingga akhir. Beliau juga membahas metode penelitian yang relevan serta memberikan contoh-contoh penerapannya dalam proses pembimbingan. Para guru mengikuti pemaparan dengan penuh perhatian dan antusiasme, menunjukkan komitmen mereka dalam mendukung siswa mencapai hasil yang terbaik.

    Selain memberikan penyegaran materi, workshop ini juga diharapkan dapat memperkuat kompetensi para guru dalam menerapkan literasi dan numerasi dalam proses pembimbingan KTI, yang diakui sebagai komponen penting dalam pendidikan abad ke-21.

    Kegiatan ini berlangsung lancar, dengan semua peserta memberikan perhatian penuh sepanjang sesi. Para guru yang hadir juga diberikan kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, dan berbagi pengalaman mengenai kesulitan yang mungkin mereka hadapi dalam proses pembimbingan KTI di sekolah.

    Dengan terlaksananya workshop ini, SMAN 2 Maumere berharap agar para guru dapat lebih siap dan terampil dalam membimbing para siswa kelas XII, sehingga karya tulis ilmiah yang dihasilkan lebih berkualitas dan bermanfaat.

    (Yanto Hayon)

     

  • NTT dan Kunjungan Sri Paus

    NTT dan Kunjungan Sri Paus

     

    Oleh Herman Seran

     

     

    Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia, tanggal 3 – 6 September 2024, merupakan momen yang luas diperbincangkan. Para pemerhati menekankan dua fungsi kunjungan sri paus sebagai kunjugan diplomatik sekaligus kunjungan kegembalaan. Dalam konteks kunjungan kegembalaan Paus Fransiskus mengunjungi sekitar 8,5 juta umat katolik di Indonesia. Angka ini memang sangat minoritas dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang hampir 276 juta. Banyak yang kecewa karena sri paus tidak menyinggahi Nusa Tenggara Timur yang dihuni sekitar 34% warga Katolik Indonesia.

    Terlepas dari berbagai alasan tak ada kunjungan ke NTT, mayoritas umat katolik NTT tidak bisa menyambut Sri Paus karena kondisi perekonomian NTT yang merupakan termiskin di Indonesia. Tahun 2022, pendapatan per kapita rata-rata per bulan sekitar Rp1.8 juta yang lebih dari 74% untuk belanja makanan. Dengan struktur pengeluaran macam ini sangat sulit memiliki uang lebih untuk urusan sekunder seperti menyambut Bapa Suci, pemimpin rohani mereka yang sangat dikagumi.

    Dalam momen kunjungan sri paus pemimpin umat katolik sejagat ke Indonesia, orang NTT patut berefleksi diri. Mengapa provinsi mayoritas katolik di Indonesia ini menjadi yang paling miskin di Nusantara tercinta? Apakah hidup rohani tak ada hubungan dengan hidup jasmani? Bukankah Yesus datang agar manusia memiliki hidup dalam kepenuhan? Indeks pengembangan SDM NTT juga termasuk nomor butut di seantero Nusantara. Tatakelola pemerintah yang buruk, yang dibuktikan dengan tingkat korupsi yang tinggi, juga menjadi kisah lain yang mengafirmasi fakta bahwa iman tak berbanding lurus dengan perilaku penganutnya.

    NTT memang provinsi ribuan pulau yang bukan provinsi kepulauan. Akses transportasi yang ada sering menjadi momok mobilisasi orang dan barang. Jika untuk menyeberang dari Kupang ke Pulau semau membutuhkan sekitar 3,5 jam antri untuk penyeberang ferry 15 menitan maka bisa dibayangkan daerah lain yang jauh dari Kupang.

    Ketika menelisik kualitas pendidik di NTT kita pun akan menjadi bertanya-tanya. Misi Katolik dan protestan telah hadir di bumi Flobamora sebelum Indonesia merdeka tetapi mengapa pula kemajuan pendidikan tak signifikan. Ada paradoks di NTT ketika semakin tinggi pendidikan justeru semakin mempersempit akses pada lapangan kerja. Statistik menunjukkan tingkat pengangguran sarjana justeru lebih tinggi daripada pengangguran SMA ke bawah. Kenyataan ini menunjukkan bahwa para sarjana di NTT kebanyakan hanya membuang waktu dan biaya hanya untuk menutupi peluangnya mendapatkan pekerjaan.

    Tidaklah mengherankan, NTT merupakan salah satu kantong penjualan orang (human trafficking). Banyak warga usia produktif yang bermigrasi keluar NTT untuk mencari pekerjaan. Konyolnya, mereka meninggalkan anak-anak mereka kepada kakek nenek mereka yang mengurus diripun sudah tak sanggup. Generasi emas yang menjadi tulang punggung gereja dan bangsa di NTT ditelantarkan tanpa asupan gizi jasmani dan rohani yang memadai. Bahkan banyak yang mengalami pelecehan seksual yang memperburuk perkembangan kepribadian mereka.

    Kunjungan sri paus harus menjadi momentum untuk membuktikan bahwa iman itu berurusan dengan kebahagiaan hari ini dan eskatologis. Kesejahteraan umat adalah ekspresi kualitas iman umat juga. Tentu kita hidup tidak hanya dari roti saja, tetapi kita butuh roti untuk melanjutkan perjalanan kita menuju tanah terjanji. Jika Tuhan bisa menurunkan manna dan menyiapkan burung puyuh kepada umat Israel, bukankah orang Katolik NTT patut mendapatkan asupan gizi yang memadai? Para pemimpin dunia maupun gerejani NTT perlu memberi mereka makan.

    Kita patut mengingat mukjizat penggandaan lima roti dua ikan di padang gurun. Ketika para murid meminta Yesus menyuruh orang-orang pergi mencari makan karena mereka tak mampu menafkai mereka. Yesus justeru memerintahkan: kamu harus memberi mereka makan. Para pemimpin katolik, baik awam maupun klerus, bertanggung jawab memberi makan umat yang telah memilih mengikuti Kristus. Sinergi yang diawali oleh seorang anak yang menyumbangkan lima roti dan dua ekor ikan mampu mengenyangkan lebih dari lima ribu orang mengajarkan bahwa bersama Tuhan kita bisa.

    NTT mungkin gersang dalam banyak hal tetapi kiranya tidak gersang dari semangat belarasa. Kiranya orang-orang NTT berhenti mengurusi diri sendiri tetapi lebih perduli pada sesamanya. Solidaritas dan semangat persaudaraan yang dibawa Paus Fransiskus ke Indonesia semakin memampukan kita untuk memperbaiki kesejahteraan orang-orang NTT. Kita berharap, kunjungan paus berikutnya dapat disambut oleh orang-orang NTT entah di Jakarta, ataupun Banda Aceh maupun Merauke sekalipun, karena keuangan tak lagi menjadi hambatan untuk bepergian, apalagi untukKunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia, tanggal 3-6 September 2024, merupakan momen yang luas diperbincangkan. Para pemerhati menekankan dua fungsi kunjungan sri paus sebagai kunjugan diplomatik sekaligus kunjungan kegembalaan. Dalam konteks kunjungan kegembalaan Paus Fransiskus mengunjungi sekitar 8,5 juta umat katolik di Indonesia. Angka ini memang sangat minoritas dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang hampir 278 juta. Banyak yang kecewa karena sri paus tidak menyinggahi Nusa Tenggara Timur yang dihuni sekitar 2,97juta orang atau sekitar 34% warga katolik Indonesia. 

    Hari ini NTT menjadi kontributor utama panggilan hidup selibat katolik di dunia. Tidaklah mengherankan Sri Paus menyebut secara khusus Indonesia sebagai ladang subur benih panggilan hidup rohani, masa depan gereje sejagat.  Lebih dari 2500-an anggota IRRIKA (Ikatan Rohaniwan/ti Indonesia di Kota Abadi) saat ini, lebih dari 80% datang dari NTT. Kehadiran Pater Markus Solo Kewuta, SVD di samping Paus Fransiskus selama kunjungan sebagai interpreter adalah bentuk hiburan dan sekaligus afirmasi bahwa orang NTT pantas bermain di panggung global. Muncul gurauan hari ini bahwa Roma adalah tempat main anak-anak NTT, walau mereka tak mampu main di Jakarta.  P Markus bersama ribuan rohaniwan/ti lain di kota abadi setidaknya menjadi telinga, mata dan mulut bagi para saudara mereka yang tak mungkin berjumpa dengan sri paus. 

    Tanpa menafikan berbagai alasan tak ada kunjungan ke NTT, mayoritas umat katolik NTT tidak bisa menyambut Sri Paus karena kondisi perekonomian NTT yang adalah termiskin di Indonesia. Tahun 2022, pendapatan per kapita rata-rata per bulan sekitar Rp1.8 juta dan lebih dari 74% dialokasikan untuk belanja makanan. Dengan struktur pengeluaran macam ini, mereka sangat sulit memiliki uang lebih untuk urusan sekunder seperti menyambut Bapa Suci, pemimpin rohani mereka yang sangat dikagumi. Maka tidaklah mengherankan kalau warga Keuskupan Atambua yang terdaftar secara resmi untuk menghadiri kunjungan paus ke Timor Leste hanya berjumlah 654 orang, walaupum merupakan keuskupan terdekat dengan TL dan memiliki ikatan genealogis dan budaya yang kental.

    Dalam momen kunjungan sri paus, pemimpin umat katolik sejagat ke Indonesia ini, orang NTT patut berefleksi diri. Mengapa provinsi mayoritas Katolik di Indonesia ini menjadi yang paling miskin di Nusantara tercinta? Apakah hidup rohani tak ada hubungan dengan hidup jasmani? Bukankah Yesus datang agar manusia memiliki hidup, hidup dalam kepenuhan? Indeks pengembangan SDM NTT juga termasuk nomor butut di seantero Nusantara. Tatakelola pemerintah yang buruk, yang dibuktikan dengan tingkat korupsi yang tinggi, juga menjadi kisah lain yang mengafirmasi fakta bahwa iman tak berbanding lurus dengan perilaku penganutnya.

    NTT memang provinsi ribuan pulau yang bukan provinsi kepulauan. Akses transportasi yang ada sering menjadi momok mobilisasi orang dan barang. Jika untuk menyeberang dari Kupang ke Pulau Semau membutuhkan sekitar 3,5 jam antri untuk penyeberang ferry 15 menitan, maka bisa dibayangkan daerah lain yang jauh dari Kupang.

    Ketika menelisik kualitas pendidik di NTT kita pun akan menjadi bertanya-tanya. Misi Katolik dan Protestan telah hadir di bumi Flobamora sebelum Indonesia merdeka, tetapi mengapa pula kemajuan pendidikan NTT tak signifikan. Adalah paradoksal di NTT, ketika semakin tinggi pendidikan justeru semakin sempit akses pada lapangan kerja. Statistik menunjukkan tingkat pengangguran sarjana justeru lebih tinggi daripada pengangguran sekolah menengah ke bawah. Kenyataan ini menunjukkan bahwa lulusan perguruan tinggi di NTT umumnya hanya membuang waktu dan biaya hanya untuk menutupi peluangnya mengakses lapangan kerja.

    Tidaklah mengherankan, NTT merupakan salah satu kantong penjualan orang (human trafficking). Banyak warga usia produktif yang bermigrasi keluar NTT untuk mencari pekerjaan. Konyolnya, mereka meninggalkan anak-anak mereka kepada kakek nenek mereka yang mengurus diripun sudah tak sanggup. Generasi emas yang menjadi tulang punggung gereja dan bangsa di NTT ditelantarkan tanpa asupan gizi jasmaniah dan rohaniah yang memadai. Bahkan banyak yang mengalami pelecehan seksual yang memperburuk perkembangan kepribadian mereka.

    Kunjungan Sri Paus harus menjadi momentum untuk membuktikan bahwa iman itu berurusan dengan kebahagiaan hari ini dan eskatologis. Kesejahteraan umat adalah ekspresi kualitas iman umat juga. Tentu kita hidup tidak hanya dari roti saja, tetapi kita butuh roti untuk melanjutkan perjalanan kita menuju tanah terjanji. Jika Tuhan bisa menurunkan manna dan menyiapkan burung puyuh kepada umat Israel, bukankah orang katolik NTT patut mendapatkan asupan gizi yang memadai? Para pemimpin duniawi maupun gerejani NTT perlu memberi mereka makan.

    Kita patut mengingat mukjizat penggandaan lima roti dua ikan di padang gurun. Ketika para murid meminta Yesus menyuruh orang-orang pergi mencari makan karena mereka tak mampu menafkai mereka. Yesus justeru memerintahkan: kamu harus memberi mereka makan. Para pemimpin katolik, baik awam maupun klerus, bertanggung jawab memberi makan umat yang telah memilih mengikuti Kristus. Sinergi yang diawali oleh seorang anak kecil yang menyumbangkan lima roti dan dua ekor ikan mampu mengenyangkan lebih dari lima ribu orang mengajarkan bahwa bersama Tuhan kita bisa.

    NTT mungkin gersang dalam banyak hal tetapi kiranya tidak gersang dari semangat belarasa. Kiranya orang-orang NTT berhenti mengurusi diri sendiri tetapi lebih perduli pada sesamanya. Solidaritas dan semangat persaudaraan yang dibawa Paus Fransiskus ke Indonesia semakin memampukan kita untuk memperbaiki kesejahteraan orang-orang NTT. 

    Kita berharap, kunjungan paus berikutnya dapat disambut oleh orang-orang NTT entah di Jakarta, ataupun Banda Aceh maupun Merauke sekalipun, karena keuangan tak lagi menjadi hambatan untuk bepergian, apalagi untuk menyambut pemimpin mereka yang sangat dicintai.

     

    ———————————-

    Foto      IWAN JAYADI
    INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE/ AGUS SUPARTO
    05-09-2024
  • Homili Paus Fransiskus pada Misa Kudus Jakarta, Stadion Gelora Bung Karno, 5 September 2024

    Homili Paus Fransiskus pada Misa Kudus Jakarta, Stadion Gelora Bung Karno, 5 September 2024

     

    PERJUMPAAN  dengan Yesus mengundang kita untuk menghidupi dua sikap mendasar yang memampukan kita menjadi murid-murid-Nya: yaitu mendengarkan sabda dan menghidupi sabda.

    Pertama, mendengar sabda, karena semua hal berasal dari mendengarkan, dari membuka diri kita kepada-Nya, dari menyambut anugerah berharga dari persahabatan dengan-Nya. Lalu, penting untuk menghidupi sabda yang telah kita terima, bukan sekadar menjadi pendengar yang sia-sia dan menipu diri kita sendiri (Yak 1:22); untuk tidak mengambil resiko sekadar mendengar dengan telinga tanpa membuat sabda itu masuk ke dalam hati dan mengubah cara pikir kita, cara merasa, dan bertindak. Sabda yang dianugerahkan, dan yang kita dengar, butuh untuk menjadi kehidupan untuk mengubah kehidupan, untuk berinkarnasi di dalam hidup kita.

    Kedua sikap dasar inilah: mendengar sabda dan menghidupi sabda yang dapat kita renungkan dalam Injil-Injil yang baru saja diwartakan.

    Pertama, mendengarkan sabda. Penginjil bercerita bahwa banyak orang mengerumuni Yesus dan “hendak mendengarkan sabda Allah” (Luk 5:1). Mereka mencari Dia, mereka lapar dan haus akan sabda Tuhan dan mereka mendengarnya bergema dalam sabda Yesus. Nah, adegan ini, yang diulang berkali-kali dalam Injil, memberitahu kita bahwa hati manusia selalu mencari kebenaran yang dapat memenuhi dan memuaskan hasratnya akan kebahagiaan; yang tidak dapat memuaskan kita hanya oleh sabda manusia, oleh kriteria-kriteria dunia ini dan oleh penilaian-penilaian duniawi. Kita selalu membutuhkan sebuah terang yang datang dari atas untuk menyinari langkah-langkah kita; akan air kehidupan yang memuaskan dahaga padang gurun jiwa, akan sebuah penghiburan yang tidak mengecewakan karena ia berasal dari surga dan bukan dari hal-hal fana dunia ini. Di tengah kekacauan dan kefanaan kata-kata manusia, ada kebutuhan akan sabda Allah, satu-satunya kompas bagi perjalanan kita, yang di tengah begitu banyaknya luka dan kehilangan, mampu menuntun kita menuju arti kehidupan sejati.

    Saudara dan saudari, janganlah kita lupa hal ini: tugas pertama seorang murid bukanlah mengenakan jubah kerohanian yang sempurna secara luar, atau melakukan hal-hal luar biasa atau mengerjakan usaha-usaha besar. Sebaliknya, langkah pertama terdiri dari tahu menempatkan diri di dalam mendengar satu-satunya sabda yang menyelamatkan, yaitu sabda Yesus. Seperti yang kita lihat dalam episode Injil, ketika Sang Guru menaiki perahu Petrus untuk sedikit menjauhkan diri dari danau dan dengan demikian bisa berkhotbah dengan lebih bagus kepada orang banyak (bdk. Luk 5:3). Hidup iman kita berawal ketika kita menerima Yesus dengan rendah hati di atas perahu kehidupan kita, menyediakan ruang untuk-Nya, dan menempatkan diri dalam mendengarkan sabda-Nya dan dari situ kita berefleksi, diguncangkan, dan berubah. Pada saat yang sama, sabda Tuhan menuntut untuk berinkarnasi secara nyata dalam diri kita: oleh karena itu, kita dipanggil untuk menghidupi sabda. Sejatinya, setelah selesai berkhotbah kepada orang banyak dari atas perahu, Yesus berpaling kepada Petrus dan menantangnya untuk mengambil risiko dengan bertaruh pada sabda ini: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” (ay. 4). Sabda Tuhan tidak hanya tetap tinggal sebagai gagasan abstrak yang indah atau hanya membangkitkan emosi sesaat. Sabda Tuhan menuntut perubahan cara pandang kita, membiarkan kita mengubah hati menjadi hati Kristus; Ia memanggil kita untuk berani menebarkan jala Injil ke lautan dunia, “berlari dengan risiko menghidupi kasih yang telah Ia ajarkan kepada kita dan yang telah Ia hidupi terdahulu. Juga kepada kita, Tuhan, dengan kekuatan yang membakar dari sabdaNya, mengundang kita untuk membuka jalan kehidupan, untuk melepaskan diri dari pantai-pantai mandek kebiasaan-kebiasaan buruk, dari rasa takut dan suam-suam kuku, serta berani untuk menjalani kehidupan baru.

    Tentu saja, selalu akan ada kesulitan-kesulitan dan alasan-alasan untuk mengatakan tidak. Tetapi, marilah kita melihat sekali lagi sikap Petrus: datang dari satu malam yang sulit ketika Ia tidak menangkap apa-apa, lelah dan kecewa, tetapi, daripada tinggal seolah-olah dilumpuhkan di dalam rasa hampa atau terhalang oleh kegagalannya sendiri, ia berkata: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa. Tetapi atas perintah-Mu aku akan menebarkan jala juga” (ay. 5). Atas perintah-Mu aku akan menebarkan jala juga. Kemudian, sesuatu yang mengejutkan terjadi, yakni mukjizat penuhnya perahu dengan ikan sampai hampir tenggelam (bdk. Ay. 7).

    Saudara dan saudari, dalam menghadapi berbagai tugas hidup sehari-hari, menghadapi panggilan yang kita semua rasakan untuk membangun masyarakat yang lebih adil, untuk melangkah maju di jalan perdamaian dan dialog, yang telah lama dipetakan di Indonesia, kita kadang-kadang merasa tidak mampu, merasakan beratnya komitmen yang begitu besar yang tidak selalu membuahkan hasil yang diharapkan, atau kesalahan-kesalahan kita yang tampaknya menghambat perjalanan hidup kita. Namun, dengan kerendahan hati dan iman yang sama seperti Petrus, kita juga diminta untuk tidak tetap menjadi tawanan kegagalan kita, dan alih-alih tetap menatap jala kita yang kosong, untuk memandang Yesus dan percaya kepada-Nya. Kita selalu dapat mengambil risiko untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala lagi, bahkan ketika kita telah melewati malam kegagalan, masa kekecewaan di mana kita tidak menangkap apa pun.

    Santa Teresa dari Kalkuta, yang peringatannya kita rayakan hari ini, yang tanpa lelah peduli pada orang-orang termiskin dan memajukan perdamaian dan dialog, pernah berkata: “Ketika kita tidak memiliki apa pun untuk diberikan, hendaklah kita memberikan ketiadaan itu. Dan ingatlah, bahkan ketika kamu tidak menuai apa-apa, jangan pernah lelah menabur”. Saudara dan saudari, saya juga hendak berkata kepada Anda, kepada bangsa ini, kepada Nusantara yang mengagumkan dan beranekaragam ini: janganlah Lelah berlayar dan menebarkan jalamu, janganlah lelah bermimpi dan membangun lagi sebuah peradaban perdamaian! Beranilah selalu untuk mengimpikan persaudaraan! Dengan dibimbing oleh sabda Tuhan, saya mendorong Anda semua untuk menaburkan kasih, dengan penuh keyakinan menempuh jalan dialog, terus memperlihatkan kebaikan budi dan hati dengan senyum khas yang membedakan Anda untuk menjadi pembangun persatuan dan perdamaian. Dengan demikian, Anda akan menyebarkan aroma harapan di sekeliling Anda.

    Ini adalah keinginan yang diungkapkan baru-baru ini oleh Uskup-Uskup Indonesia dan saya juga ingin untuk melibatkan seluruh umat Indonesia: berjalanlah bersama untuk kebaikan Gereja dan masyarakat! Jadilah pembangun harapan, pengharapan Injil, yang tidak mengecewakan (bdk. Rm 5:5) melainkan membuka kita menuju sukacita tanpa akhir.

    ————————

     

    Paus Fransiskus saat memimpin misa akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (5/9/2024). Sumber Foto: 
    INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE/ AGUS SUPARTO
    05-09-2024
    Paus Fransiskus didampingi Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo (kiri) saat memimpin misa akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (5/9/2024). Misa akbar yang diikuti lebih dari 86.000 umat Katolik dari berbagai kota dan wilayah di Indonesia tersebut merupakan rangkaian perjalanan apostolik Paus Fransiskus di Indonesia.
    INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE/ AGUS SUPARTO
    05-09-2024
  • Jauhkan Rasa Ingin Menghakimi

    Jauhkan Rasa Ingin Menghakimi

     

    Oleh Elis Handoko

     

     

    ” Siapakah saya ini Sehingga Saya harus menghakiminya ? “  ( Paus  Fransiskus )

     

    Jika seseorang itu adalah homoseksual, sedang mencari Tuhan, dan mempunyai kehendak baik, siapakah saya ini sehingga saya harus menghakiminya?” kata Bergoglio (Paus Fransisikus) dalam suatu penerbangan dari Rio de Janiero, Brasil, ke Italia.

    Orang-orang itu lemah dan rapuh. Saat mereka datang kepada kita, berarti dalam diri mereka ada suatu kerinduan untuk bisa menemukan jalan yang benar. Di sinilah kita dipanggil untuk menjadi teman yang baik bagi mereka, teman yang mau mendengarkan, dan menghargai mereka. bergaul dekat dengan orang-orang yang secara sosial dikucilkan sudah menjadi kebiasaan Bergoglio sejak lama. Ketika menjadi Uskup Agung Buenos Aires, Argentina, ia sering menerima surat dari orang-orang homoseksual yang terbebani secara sosial. Sering kali sikap mayoritas masyarakat membuat kaum homoseksual yang sudah terluka secara sosial semakin berbeban berat. Kita mengucilkan mereka dari konteks kebersamaan hidup, dari masyarakat kita.

    Orang-orang lebih tergoda berbicara mengenai moral seksual dan segala yang terkait dengan hukum tentang seks. Kita kerap lebih siap  mengutuk daripada menerima. Kita kerap cepat menilai, tetapi tidak membungkuk untuk memahami derita umat manusia.

    Menurut Bergoglio, orang terbiasa menghakimi orang karena ia merasa sudah paling benar, tidak merasa membutuhkan rangkulan dan pengampunan dari sesama.

     

    ——————————————-

    Sumber Tulisan  dari Buku 99 Cara Belajar Hidup Ala Pope Francis, Grasindo 2016

     

     

    Paus Fransiskus Pada Misa Agung di Gelora Bung Karno 05-09 -2024
    INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE/ AGUS SUPARTO
    05-09-2024
    Paus Fransiskus didampingi Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo (kiri) saat memimpin misa akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (5/9/2024). Misa akbar yang diikuti lebih dari 86.000 umat Katolik dari berbagai kota dan wilayah di Indonesia tersebut merupakan rangkaian perjalanan apostolik Paus Fransiskus di Indonesia.
    INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE/ AGUS SUPARTO
    05-09-2024
    IWAN JAYADI
    INDONESIA PAPAL VISIT COMMITTEE/ AGUS SUPARTO
    05-09-2024

     

     

  • Habis Kelam Terbitlah Kebaikan  

    Habis Kelam Terbitlah Kebaikan  

    0leh Elis Handoko

     

    “Betapapun gelapnya segala sesuatu, k e b a i k a n selalu muncul Kembali dan menyebar.”  (Paus Fransiskus)

     

    Kemiskinan, penderitaan, pelecehan, kegagalan, dan kecewa berkepanjangan bisa mengakibatkan efek negatif pada diri kita. Kita menjadi pesimis dan kehilangan rasa percaya, lalu menyerah dan putus asa. Kita sering berpikir, tidak akan ada perubahan lagi pada sesuatu yang sedang kita hadapi sehingga tidak ada gunanya lagi berupaya. Kita juga mungkin sering berpikir, mengapa harus repot-repot berusaha jika akhirnya  harus melihat hasil yang tidak sesuai dengan harapan yang kita perjuangkan atau semua pasti berakhir sia-sia!

    Inilah kelemahan kita ketika ditimpa kemalangan secara bertubi-tubih. Hal ini manusiawi sekali. Kendati demikian, kita harus tetap move on dari kelesuan! Caranya?

    Mungkin ada baiknya kita melihat perspektif berbeda yang ditawarkan Begoglio (Paus Fransiskus) melalui surat apostoliknya pada 24 November 2013. Dalam surat itu dia menulis, “Benar bahwa sering kali seakan-akan Tuhan meninggalkan kita. Sementara itu, di sekitar kita terus-menerus terjadi ketidakadilan, kejahatan, ketidakpedulian, dan kekejaman. Namun, benar juga bahwa di tengah-tengah kegelapan, sesuatu yang muncul dalam hidup, dan cepat atau lambat ia akan menghasilkan buah. Di atas tanah yang ia ratakan kembali,  kehidupan muncul, gigih dan tak terkalahkan.”

    Sekarang mari kita telaah kembali kehidupan kita. Setiap hari keindahan lahir dengan cara baru di dunia kita. Keindahan diperbarui justru melalui badai. Dalam situasi demikian, nilai-nilai cenderung muncul dalam bentuk-bentuk yang baru. Manusia pun pada akhirnya akan selalu bangkit dari waktu ke waktu, dari situasi yang sebelumnya tampaknya kelam.

    Prinsipnya kita harus percaya bahwa kesukaran hidup terjadi untuk memberi pelajaran pada kita. Sama seperti ujian di sekolah. Kalau berhasil melalui ujian tersebut dengan nilai yang baik, kita akan naik kelas. Kalau gagal, kita terpaksa mengulang kembali hal yang sama.

    Hal itu hanya terjadi sementara. Begitu berhasil melaluinya, maka akan ada lebih banyak hal baru yang akan kita alami dan membawa pelajaran yang baru pula.

     

    ——————

    Sumber Tulisan dari Buku 99 Cara Belajar Hidup Ala Pope Francis, Grasindo, 2016

  • Perayaan Kemerdekaan RI Ke-79 di Tengah Bayang-bayang “Ferienjob” sebagai Perbudakan Modern: Sebuah Refleksi atas Sistem Pendidikan Kita

    Perayaan Kemerdekaan RI Ke-79 di Tengah Bayang-bayang “Ferienjob” sebagai Perbudakan Modern: Sebuah Refleksi atas Sistem Pendidikan Kita

    Oleh Ferdinandus Butarbutar, Dosen Etika di UPH Karawaci

     

    Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-79 adalah sebuah seremoni kebangsaan yang sangat penting.
    Perayaan ini memiliki keunikan tersendiri, setidaknya karena beberapa faktor: Kemerdekaan
    kita dari penjajahan kolonial, secara politik kita juga sudah melampaui orde baru hingga
    reformasi 1998, persiapan transisi kepemimpinan dari Jokowi ke Prabowo, perpindahan Ibu
    Kota dari Jakarta ke IKN, serta visi 100 tahun kemerdekaan di tahun 2045 yang dikenal sebagai
    Indonesia Emas.

    Hal mendasar yang ingin ditegaskan dalam artikel ini adalah bahwa tahun 2024, pada bidang
    pendidikan kita diperhadapkan dengan “Program Ferienjob”, yang konon merupakan bagian
    dari kurikulum pendidikan tinggi. Hal ini perlu dipikirkan secara reflektif, karena ferienjob
    seharusnya menjadi peluang dan harapan pengembangan karier bagi mahasiswa yang belajar
    dan yang merdeka, telah berubah menjadi bentuk perbudakan modern yang tersamar, di mana
    sistem pendidikan tinggi Indonesia secara tidak langsung menjadi pintu masuk bagi eksploitasi
    manusia melalui kebijakan kurikulum. Sebagai validasi, bahwa Dittipidum-Direktor Tindak Pidana Umum, Bareskim Mabes Polri, pada Rabu 20 Maret 2024, mengungkap ke publik tentang TPPO-Tindak Pidana Perdagangan Orang (human trafficking), yang turut menyeret 33 Universitas di Indonesia dan1.047 mahasiswa dalam program magang (yang disebut sebagai ferienjob) di Jerman.

     

    Problematika Ferienjob

    “Ferienjob” sendiri sebenarnya bukan magang, melainkan sebuah program bagi mahasiswa
    asing (EU atau Non-EU) yang ingin secara langsung mengalami suasana kerja di Jerman, yang
    umumnya ditempuh selama 90 hari, tepatnya pada momen official semester break. Sekali lagi
    bukan magang, tetapi pekerja liburan. Hal ini diatur pada Ordonansi Ketenagakerjaan Jerman
    (Beschäftigungsverordnung/BeschV), pasal 14:2. Mahasiswa asingpun dari berbagai negara
    mengajukan dan mendaftar langsung ke perusahaan/korporasi dan ini murni sebagai kerja
    industri dan mekanisme pasar kerja (job market) di Jerman. Biasanya tanpa ada pungutan biaya
    sebagai kewajiban, termasuk untuk tiket, transportasi, akomodasi dll., semua hal fundamental
    tersebut disediakan oleh pihak perusahaan disana.

    Di sisi lain, jika hal tersebut dilakukan oleh orang-orang dari luar Jerman (tidak sedang di
    Jerman), tentu mereka akan menempuh berbagai mekanisme. Untuk mahasiswa Indonesia yang
    berminat, maka hal mendasar tentunya adalah visa, karena hal ini akan berkorelasi langsung
    dengan pihak imigrasi dan perwakilan Indonesia disana (KBRI/KJRI). Dan jika proses ini jelas
    dan terarah (aspek legal), maka mungkin sulit ditetapkan sebagai human trafficking, namun
    jika ada mekanisme yang di by pass terutama oleh agensi di Jerman, juga jika ditemukan
    perhitungan jam kerja yang lebih dari 8 jam, penyalahgunaan visa wisata sebagai visa kerja,
    adanya tindakan manipulasi hutang/pinjaman, termasuk pemangkasan upah kerja, maka bisa
    saja dikategorikan sebagai human trafficking. (Lih.https://humas.polri.go.id/2024/03/27/polisi-beberkan-peran-5-tersangka-magang-mahasiswaferienjob-jerman/,). Pola-pola yang tidak disiplin dan illegal seperti ini, tampaknya sulit ditemukan di Jerman, sebagai negara yang terkenal disiplin dan amat tertib.

    Validasi lain yang perlu kita intip adalah dari Kemenristekdikti bahwa program ferienjob di
    Jerman terindikasi melanggar prosedur, sehingga diperintahkan kepada universitas-universitas
    untuk menghentikan program magang internasional tersebut. Demikian juga Menteri
    Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR
    mengafirmasi bahwa program magang internasional tidak masuk dalam ranah kementeriannya.

    Lebih jauh, Dirtipidum Mabes Polri telah menetapkan 5 orang tersangka yakni ER alias EW
    (39 thn) juga bos dari PT SHB; A alias AE (37 thn), petinggi CV GEN. Kedua orang tersebut
    berada di Jerman. Tersangka lainnya yakni SS (65 thn), AJ (52 thn) dan MZ (60 thn), ketiganya
    bekerja di perguruan tinggi, dengan peran dan tugas masing-masing seperti mensosialisasikan,
    narahubung konsolidasi peminjaman dan ketua panitia rekrutmen calon dari mahasiswa.
    Kelima tersangka adalah dari Indonesia, hal ini sekaligus menegaskan bahwa problematika etis
    bahkan dugaan tindak pidana ada pada pihak kita sendiri, bukan pada pihak Jerman.

     

    Ferienjob, Kurikulum MBKM dan Program MSIB Sebagai Problem

    Sebagaimana temuan penyidik Dirtipidum Mabes Polri, bahwa ferienjob sebagai bagian dari
    kurikulum MBKM yang dapat dikonversi hingga 20 SKS. Lebih jauh melalui LP3N (Lembaga
    Pengembangan dan Pembinaan Pendidikan Nasional) sebagai lembaga yang bertanggung
    jawab atas program magang dan pendidikan di tingkat nasional. Untuk konteks “Ferienjob,”
    LP3N disebut sebagai pihak yang mempromosikan program tersebut kepada mahasiswa. Pada
    LP3N ada MZ sedangkan sosialisasi dilakonkan oleh tersangka SS, yang mengatakan bahwa
    ferienjob adalah magang bertaraf internasional, dan dipandang relevan bagi pengembangan
    pendidikan tinggi terutama demi mempersiapkan mahasiswa untuk memasuki dunia profesi.
    (Lih. https://www.humas.polri.go.id/2024/03/27/polisi-beberkan-peran-5-tersangka-magangmahasiswa-ferienjob-jerman/). Gagasan ini ada baiknya dan memang hal tersebut dibutuhkan
    oleh para mahasiswa, demi pengenalan diri, minat dan arah keahliannya ke depan. Prinsip link
    and matc yang etis dan mutual perlu dijahit dengan baik. Lebih jauh dalam konteks ferienjob
    yang perlu dimunculkan sebagai pertanyaan adalah, apakah mengonversi ferienjob ini dapat
    dipertanggungjawabkan secara etis dengan core jurusan keilmuan yang diambil oleh
    mahasiswa di prodi masing-masing? Karena faktanya mereka bekerja sebagai buruh kasar di
    bandara, kurir pengiriman, buruh rest area, buruh pabrik dll.

    Selain itu, keprihatinan kita juga tertuju kepada realisasi kurikulum MBKM khususnya
    program MSIB (Magang dan Studi Independen Bersertifikat), yang rentan multitafsir. Satu sisi,
    program Kemenristekdikti tersebut sebenarnya juga mengandung nilai-nilai yang positif,
    terutama karena berpotensi mempersiapkan mahasiswa dalam memasuki dunia profesi atau
    karier. Sehingga latihan-latihan dan penajaman keterampilan (hard/soft skill), pengenalan
    kultur dan sistem dunia kerja yang paralel dengan prodi keilmuannya, tentu sangat baik bagi
    mahasiswa. Di sisi lain, jika program ini ditekuk sedemikian rupa ke ranah pragmatisme, maka
    kurikulum MBKM tersebut rentan terjebak kepada tuntutan-tuntutan job market yang kapitalis,
    yakni sejenis perbudakan modern yang kini rute rekrutmennya tersamar melalui kebijakan
    pendidikan tinggi.

    Pada pihak Jerman sendiri, sebenarnya tidak pernah memaksudkan program ferienjob sebagai
    bagian dari kurikulum pendidikan tinggi di sana, termasuk kepada mahasiswa asing (EU atau
    Non-EU). Ini adalah murni kerja pada periode libur akhir semester, dan perlakuan terhadap
    peserta ferienjob adalah perlakuan yang profesional sesuai dengan jenis pekerjaan yang
    tersedia, dan konon perlakuan yang sama juga diberikan perusahaan terhadap karyawan
    permanen. Ferienjob bukan program kerjasama bilateral dan itu sebabnya, tidak masuk akal
    jika mengategorikannya sebagai bagian dari kurikulum MBKM. Rute yang etis dan normatif
    meski dikedepankan.

    Lebih jauh kita udar unsur-unsur perbudakan modern dalam kasus ferienjob antara lain:
    Pertama, adanya manipulasi kontrak kerja. Kontrak kerja yang diberikan kepada para
    mahasiswa dibuat dalam bahasa Jerman, yang pasti membawa jurang pengertian bagi
    mahasiswa. Hal ini dapat dikategorikan sebagai bentuk manipulasi, karena informasi penting
    tentang hak dan kewajiban rentan dikaburkan dan disalahartikan. Kontrak kerja seyogianya
    mengafirmasi kesadaran, kebebasan, penegrtian dan kesetaraan relasi. Itu sebabnya diperlukan
    prasyarat penerjemahan, demi memahami dokumen kontrak kerja dengan jelas. Ironisnya para
    mahasiswa diminta untuk menandatangani kontrak pada saat kedatangan, tanpa adanya waktu
    yang cukup untuk memahami isi kontrak apalagi mencari konsultan hukum. Mereka dipaksa
    untuk menandatangani perjanjian dibawah tekanan, terutama dalam situasi dimana mereka
    tidak memiliki pilihan lain, kesepakatan itu dapat dianggap sebagai tindakan yang tidak etis.
    Kedua, pemaksaan kerja di luar ketentuan yang jelas. Para mahasiswa dipaksa bekerja selama
    12-14 jam sehari, yang jauh di luar standar kerja yang layak. Dikesani sebagai pemaksaan kerja
    karena tidak diterimanya informasi yang jelas dan gamblang. Padahal jika asumsi awalnya
    adalah magang, maka pengalaman kerja harus berkorelasi dengan pengalaman belajar di kelas
    sebagai ruang teori, sialnya mereka dipekerjakan sebagai buruh kasar. Belum lagi problem
    penggajian, dimana mereka hanya menerima €700, padahal seyogianya dengan bekerja antara
    12-14 jam sehari, atau 60-70 jam per minggu, dengan standard upah minimum €12.41 per jam,
    mereka dipastikan menerima antara €744.60-€868.70 per minggu, atau antara €2,978.40-
    €3,474.80 per bulan, tentu hal ini diluar pajak. (Lihat https://www.asianews.it/news-en/Fakeinternships:-Indonesian-university-students-exploited-in-Germany-60420.html;
    https://www.destatis.de/DE/Home/_inhalt.html). Ketiga, penyalahgunaan visa. Dimana visa
    mereka bukan visa student, tetapi sebagai visa wisata. Hal ini mengafirmasi unsur-unsur
    manipulatifnya. (Lih. https://www.humas.polri.go.id/2024/03/27/polisi-beberkan-peran-5-
    tersangka-magang-mahasiswa-ferienjob-jerman/).

     

    Nilai-Nilai Reflektif

    Nilai-nilai reflektif atas fenomena “ferienjob” menjadi perlu diudar sebagai penutup pada
    artikel pendek ini, mengingat momen perayaan kemerdekaan ke-79, kurikulum Merdeka
    Belajar Kampus Merdeka (MBKM dan MSIB) yang memberi bobot konversi hingga 20 SKS.
    Pertama, Kita perlu kian jernih dan terbuka membuka horison hermeneutik yang politis dan
    yang sosial. Bahwa munculnya penjajahan bukan semata dalam “perang kasat mata (fisik)”,
    tetapi juga bermanuver dalam berbagai bentuk, seperti pada kasus ferienjob. Tindakan ini
    sejenis eksploitasi manusia, demi kepentingan sesaat, yang pada akhirnya merusak pendidikan
    dan masa depannya di jangka panjang.

    Kedua, Konstruksi dan aplikasi kurikulum MBKM, jangan semata difokuskan kepada
    kebutuhan bidang industri dan teknologi. Fokus demikian akan rentan jatuh kepada mental
    “intelektual kolinialisme”, yang semata menggunakan pengetahuan dan penguasaan
    keterampilan untuk menguasai yang lain bahkan yang lemah. Itulah sebabnya reformasi bidang
    pendidikan rentan menemui kendala.

    Ketiga, Secara moral kebijakan dan pelaksanaan kurikulum pendidikan tinggi tersebut perlu
    menjunjung tinggi martabat manusia Indonesia, dengan memberikan kesetaraan, kemerdekaan
    dan solidaritas yang memiliki concern pada cita-cita kehidupan bersama. Kesetaraan akses bagi
    semua manusia Indonesia, tanpa memandang strata dan kategori status lainnya. Kemerdekaan
    yang otonom pada pendidikan tersebut, sehingga dapat berpikir bebas demi pengembangan
    ilmu pengetahuan itu sendiri.

    Lebih jauh yang keempat, pendidikan tersebut berdimensi holistis (utuh). Pertimbangan dasar
    disini adalah memikirkan dasar, proses dan arah pendidikan tersebut, mampu
    mempertimbangkan struktur ontologis pada manusia sebagai nara didik yang bertubuh, berjiwa
    dan berroh. Keutuhan kodrat konstitusional manusia tersebut perlu didekati dan dikonstruksi
    melalui pendidikan.Dan kecenderungan-kecenderungan yang ada pada pengetahuan industri,
    bisnis dan teknologi, sering sekali hanya fokus pada salah satu aspek yang materil, sehingga
    abai pada hal-halyang imateril, yang sebanarnya amat penting, terutama dalam merajut
    pendidikan yang berbasis nilai.

  • Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

    Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

     

    Oleh Taufiq  Ismail

     

    I

     

    Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
    Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
    Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
    Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia

    Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
    Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
    Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
    Whitefish Bay kampung asalnya
    Kagum dia pada revolusi Indonesia

    Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
    Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya

    Dadaku busung jadi anak Indonesia
    Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
    Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
    Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S.Army
    Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
    Mengapa sering benar aku merunduk kini

     

    Il

     

    Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
    Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
    Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak
    Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
    Berjalan aku di Dam, Champs Elystes dan Mesopotamia
    Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacama
    Dan kubenamkan topi baret di kepala
    Malu aku jadi orang Indonesia.

     

    III

     

    Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,

    Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang curang susah dicari tandingan,

    Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,

    Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan, senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk kantung jas safari,

    Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal, anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden, menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati, agar, orangtua mereka bersenang hati,

    Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangatsangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besarbesaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,

    Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan sandiwara yang opininya bersilang tak habis dan tak putus dilarang-larang,

    Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat
    belanja modal raksasa,

    Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah, ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, sekarang saja sementara mereka kalah, kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat lumat,

    Di ncgeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual beli, kabarnya dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,

    Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,

    Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja, fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,

    Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor pertandingan yang disetujui bersama,

    Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa, lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,

    Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh, Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng, Nipah, Santa Cruz, Irian dan Banyuwangi, ada pula pembantahan terang-terangan yang merupakan dusta terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan, dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai saksi terang-terangan,

    Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

     

    IV

     

    Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
    Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
    Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
    Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
    Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia
    Di sela khalyak aku berlindung di belakang hitam kacamata
    Dan kubenamkan topi baret di kepala
    Malu aku jadi orang Indonesia.

     

    ———————

     

    Sumber Puisi dari Buku Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Yayasan Ananda 2005

  • Hatta, Moral dan Kepemimpinan

    Hatta, Moral dan Kepemimpinan

     

    Oleh  Deliar Noer

     

     

    PADA abad ke-21 ini, adakah pemimpim Indonesia yang bermoral? Jika memang ada yang perlu diingat dan ditiru oleh mereka yang aktif berpolitik masa kini, mereka perlu mengingat sikap, perbuatan, kebijakan, dan reputasi Mohammad Hatta yang berkaitan dengan moralnya. Seorang pemimpin bisa saja cekatan dalam menentukan langkah, atau memiliki banyak pengikut atau bahkan didukung secara membabi buta oleh masyarakat, tapi itu semua belum menjamin moralnya. Namun, jika seorang pemimpin berangkat dari ke-pemilikan moral yang tinggi, niscaya musuh politiknya tak akan dapat berkutik kecuali dengan fitnah.

    Hatta, salah seorang proklamator kemerdekaan Indonesia kita, adalah seorang pemimpin yang langka, yang senantiasa memperlihatkan moral tinggi dalam bergerak, baik secara prihadi maupun dalam bermasyarakat dan dalam berpolitik. Ia dikenal sebagai pemimpin yang bersih dan tak pernah berupaya memperkaya diri dan keluarga. Ia juga bersih dalam menilai kekuasaan yang sebenarnya dapat ia permainkan untuk menjaga kedudukannya. Dalam hubungannya dengan perempuan, ia selalu menghargai perempuan tersebut sembari tetap menjaga jarak berdasarkan akhlak yang dituntut dari seorang muslim yang saleh. Akibatnya, ia kerap dianggap kaku dalam berhubungan. Dalam dunia politik, dulu dan kini, ia adalah suri teladan. Sejak tahun 1930, ia telah mulai berbeda pandangan dengan Sukarno. Ketika itu Sukarno menyetujui pembubaran Partai Nasional Indonesia (PNI), kemudian bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo). Hatta dengan tegas mengemukakan perlunya PNI dipertahan| kan sesuai dengan prinsip PNI itu sendiri. Tetapi ia mengemukakan kritiknya secara wajar tanpa melecehkan. Ia sadar bahwa dalam politik bangsa dan masyarakat kita masih perlu dibina, maka ia pun memberi contoh dengan mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia. Partainya menjadi partai kader.

    Dalam masa Demokrasi Terpimpin, Hatta berusaha mendidik masyarakat melalui brosur kecil – antara lain Demokrasi Kita – agar mampu mempelajari langkah-langkah Sukamo yang menyimpang dan cita-cita demokrasi kita, tetapi toh ia mengemukakannya dengan lurus. Meski Sukarno memberangus brosur itu, toh Hatta tak kunjung  henti menginm surat kepada Sukarno yang berisi anjuran dan nasihat  agar mengubah pendiriannya, dan agar ia kembali kepada cita-cita kemerdekaan semula. Dalam nasihatnya itu, Hatta tak pernah melecehkan atau mengecilkan arti diri pribadi Sukarno.

    Pada zaman Orde Baru, saat Soeharto mulai berkuasa (tahun 1966), bersama beberapa orang kalangan muda Islam, Hatta berusaha mendirikan suatu partai baru, Partai Demokrasi Islam Indonesia, yang tidak dibenarkan oleh Presiden Soeharto. Dengan rela ia tunduk pada Soeharto dan menganjurkan kepada generasi yang lebih muda agar tetap pada maksud semula, karena masa akan berubah.

    Pada tahun 1971, Orde Baru untuk pertama kali menyelenggarakan pemilihan umum dengan menyediakan kursi bagi sejumlah golongan dan daerah, yang mengakibatkan pemulihan umum ini hanya berlaku bagi sebagian kalangan DPR dan MPR. Hatta terpaksa mengingatkan Soeharto bahwa pemilihan umum seharusnya diberlakukan bagi segenap anggota lembaga petwakilan tersebut. Bila tidak, menurut Hatta, sebaiknya pemilihan umum tak usah diselenggarakan. Sejak itu secara berangsur ia banyak mengkritik pemerintah Orde Baru, antara lain dalam bidang ekonomi. Tetapi Hatta sekadar mengingatkan, ia tidak menggalang massa. Sikap Hatta dalam berpolitik itu jelas berdasarkan akhlak dan moral. |

    Di masa kanak-kanak, Hatta sudah menikmati ajaran Islam. Ia berasal dari rumah yang turut mengurus lembaga surau: tempat pendidikan Islam secara tradisional di  kampungnya di Batuhampar, antara Bukittinggi dan Payakumbuh. Sembari bersekolah di HIS Bukittinggi, ia juga mengaji secara teratur di bawah ajaran Syekh Muhamad Djamil Djambek, salah seorang pembaru Islam di Minangkaban.  Ketika memennpuh pendidikan di MULO, Padang, ia jaga memperoteh bimbingan agama dari Haji Abdullah Ahmad, juga  seorang pelopor pembaru Islam di daerah tersebut. Maka, Ketika ia  menjadi bendahara Jong Sumatranen Bond (Persatuan Pemuda Sumatra) di Padang. dan kemudian sebagai bendahara pengurua pusat ISB di Jakarta (di ibu kota ini, Hatta mencmpuh pendidikan sekolah dagang menengah, Prins Hendrik School), ia melaksanakan tugasnya dengan baik, bersih, dengan pembukuan yang sangat rapi.

    Tak mengherankan jika saat Hatta menjadi wakil presiden, baik sebelum maupun sesudah ia berumah tangga, tidak pernah terbetik berita yang mengarah pada kemiringan. Mungkin ada juga yang menganggap ia cukup kaku dalam pergaulan, tetapi bisa juga dikatakan bahwa ia menjaga jarak. Ketika Hatta berkunjung ke kawasan Maluku, para penyambutnya, baik pejabat maupun tokoh setempat – yang lazim menyelenggarakan tari lenso pada kesempatan kunjungan pejabat – malah sengaja menunda acara tarian tersebut hingga Hatta meninggalkan pertemuan. Sesudah Hatta tidak lagi ada di tempat, tari lenso pun ramai digelar oleh para hadirin. Menurut sejumlah tokoh Maluku saat itu, mereka ingin menghormati pendirian Hatta.

    Bagaimana Hatta mempertahankan pendirian politiknya? Jika ia menganggap sebuah pendapat potuik yang tidak wajar, ia akaa menentangnya dengan keras. Contoh sikapnya yang keras terpancar pada saat sidang pleno Komite Nasronal Indonesia Pusat (sebagai pengganti parlemen di masa revolusi) yang diselenggarakan di Malang pada 25 Februari hingga 3 Maret 1947.

    Sidang itu dihadiri oleh semua anggota KNIP (termasuk yang beberapa saat sebelumnya diangkat oleh Presiden dengan alasan bahwa jumlah anggota yang ada terlalu sedikit). Saat itu, KNIP belum memperlihatkan keterwakilan daerah dan golongan yang tumbuh sejak kemerdekaan, terutama sesudah Oktober 1945, ketika KNIP bagai dijadikan perwakilan rakyat yang sesungguhnya. Perubahan kepartaian yang ada juga menuntut perubahan pada komposisi keanggotaan KNIP. Sebelum sidang KNIP di Malang, sudah terdengar suara pro dan kontra. Ada yang menolak penambahan anggota KNIP, sementara Presiden Sukarno dalam pembukaan sidang pleno KNIP di Malang itu mengemukakan bahwa sebelum dapat diselenggarakan pemilihan umum, adalah kewajiban Presiden untuk mengangkat para anggota lembaga perwakilan karena Presiden “dianggap sebagai wakil dari seluruh rakyat”, Ucapan ini jelas menggugah reaksi para anggota. Maka, banyak anggota yang menentang keputusan pemerintah dalam “menyempurnakan” keanggotaan KNIP itu. Akibatnya, untuk beberapa saat, terkesan bahwa ada kesenjangan pendapat antara pemerintah dan KNIP.

    Terjadilah perdebatan sengit selama dua hari. Dengan suara yang keras dan tegas, Hatta menghentikan perdebatan itu dengan mengemukakan bahwa bila KNIP memang tidak mempercayai Presiden dan Wakil Presiden, lembaga itu dapat memilih presiden dan wakil presiden lain. Maka, suasana sidang pleno langsung hening, mereka tak menyangka akan mendengar ucapan ini dari Hatta. Seketika saja, mereka tak melanjutkan kritiknya terhadap keputusan pemerintah tersebut. Para anggota terdiarn dan akhirnya menerima tuntutan Hatta. Keputusan Presiden menambah anggota KNIP diterima.

    Peristiwa ini mencermiakan sifat Hatta yang tegas, jelas, dan tidak menginginkan kekuasaan. Dalam keadaan seperti ini, tampaknya tidak ada seorang pun dalam KNTP yang ingin menangguk di air keruh. Saat itu, jelas bagi anggota KNIP, wibawa Hatta menjaga kedudukan Presiden Sukamo.

    Agaknya akan sukar untuk percaya bahwa Hatta pun bisa kekurangan uang. Tetapi gajinya pada awal tahun 1950 hanya Rp 3.000. Beberapa tahun kemudian, gajinya Rp 5.000. Kenaikan ini semulanya ditolaknya, tetapi akhirnya ia menerimanya juga. Sebab, jika ia tetap menolaknya, akibatnya gaji pejabat lain, termasuk gaji perdana menteri, akan ikut mandek.

    Setelah berhenti dari jabatannya sebagai wakil presiden pada Desember 1956, Hatta mulai menghadapi kenyataan pahit dalam hidupnya. Pada saat itu, Hatta memerintahkan I. Wangsawijaya, sekretaris pribadinya, untuk mengembalikan dana taktis sebagai wakil presiden sejumlah Rp 25.000. Padahal, dana taktis tersebut tidak perlu dipertanggungjawabkan.

    Sesungguhnya, dana pensiun yang diterima Hatta tidak memadai sama sekali untuk hidup. Ia juga menolak tawaran beberapa perusahaan, termasuk perusahaan asing, untuk menjadi komisaris Perusahaan. Mengapa? Alasannya, “Apa kata rakyat nanti?” Ia khawatir bahwa perjuangannya membela rakyat tidak akan murni lagi, dan ja mudah dituduh meninggalkan rakyat bila ia menjabat komisaris sebuah perusahaan. Dalam otobiografinya, Hatta menulis bahwa memang ia memperoleh honorarium dari beberapa buku yang ditulisnya. Ia juga mengakui bahwa beberapa kawannya membantu dia dalam menjalani hidup sekeluarga dan ia menerimanya karena kawan-kawannya memberikan bantuan itu dengan ikhlas. Belakangan barulah pemerintah memberikan perhatian kepadanya dengan menaikkan jumlah pensiun yang diterimanya.

    Pada saat keterpurukan negeri kita saat ini, sosok Hatta menjadi satu dari sedikit tokoh yang bercahaya. Indonesia, tentu saja, apalagi Minangkabau khususnya, memerlukan banyak Hatta, bukan hanya pemikiran dan sikap politiknya, tetapi juga moral dan akhlaknya akan menjadi monumen teladan di hati rakyat Indonesia.

    ———————-

    Sumber Tulisan: Majalah Tempo, 19 Agustus 2001