Blog

  • “In Memoriam” Mama Veronika Wilhelmina Njo – Tifaona:  Ibu “Super Woman” di Balik Dua Bintang

    “In Memoriam” Mama Veronika Wilhelmina Njo – Tifaona: Ibu “Super Woman” di Balik Dua Bintang

     

    Minggu, 20/10/2024, diadakan Misa Requiem mengenang 40 hari berpulangnya Ibu Veronika Wilhelmina Njo. Biasa disapa Mama Ony. Adalah istri dari Alm. Bapa Brigjend Pol (Purn) Anton Enga Tifaona. Merupakan orang NTT pertama yang menduduki jabatan Kapolda di jajaran Kepolisian Negara. Mantan Kapolda Maluku, mantan Kapolda Sulutteng dan mantan Wakapolda Jawa Barat. Ibu dari 10 orang anak (satu meninggal bayi). Semua anak-anaknya sudah mentas di bidang profesinya masing-masing. Salah anak dari rahimnya berkarya di Kepolisian Negara sebagai Perwira Tinggi Polri menyandang Bintang Dua (Irjen Pol). Mama Ony berpulang pada Rabu, 11/09/2024 dan dimakamkan pada 13/09/2024 di TPU Kramat Pulo Jakarta.

    Membaca jejak posisi, peran dan pengabdian seorang Mama Ony di balik sukses orang-orang terkasihnya, seperti kita sedang membaca dengan hati Puisi “Ibunda Tercinta,” karya Umbu Landu Paringgi. Syair puisi ini, pada setiap kata dalam larik dan baitnya, mencapai chemistry yang menggetarkan tentang arti dan makna seorang ibu. Mengenai sosok seorang Ibu, penyair asal Sumba, NTT yang dijuluki Presiden Malioboro itu menulis pada puisinya: 

     

    Ibunda Tercinta

     

    Perempuan tua itu senantiasa bernama:

    duka derita dan senyum abadi.

    Tertulis dan terbaca jelas kata-kata

    puisi dari ujung rambut sampai

    telapak kakinya

     

    Perempuan tua itu senantiasa bernama:

    korban, terimakasih, restu dan ampunan.

    Dengan tulus setia telah melahirkan

    berpuluh lakon, nasib dan sejarah manusia

     

    Perempuan itu senantiasa bernama:

    cinta kasih sayang, tiga patah kata purba.

    Di atas pundaknya setiap anak tegak

    berdiri menjangkau bintang-bintang

    dengan hatinya dan janjinya

    (Umbu Landu Paranggi)

     

    Bernama lengkap Veronika Wilhelmina Njo (Mama Ony), lahir di Bajawa, 31/03/143. Ayah Petrus Njo asal Sabu dan ibu Suzana Ndoekona dari Ba’a Rote Ndao, NTT. Merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara. Walau orangtuanya berasal dari luar Flores, keluarga ini sangat dekat dengan Raja Bajawa saat itu Pea Mol dan Siwamole. Dengan itu saat kecil Mama Ony diambil jadi anak angkat Raja Bajawa dan diberi “nama adat” (dilawi) di kampung Bajawa dan diberi nama Mole Tai (nama dari ibunda Pea Mole). Karena itu, pada generasi mereka, Mama Ony oleh kerabat Raja Bajawa dipanggil dengan Ony Mole. Karena itu, malam sebelum pemakaman, diadakan seremoni adat Bajawa untuk almarhuma sebelum dilakukan seremonial tutup peti oleh Keluarga Njo sesuai adat tradisi Sabu, NTT.

    Tahun 1955, Opa Petrus Njo diangkat sebagai Ketua Yayasan Persekolahan Umat Katolik Flores “Vedapura” (Benteng Ilmu) sehinga keluarga Mama Ony kembali menetap di Ende sebagai Pusat Yayasan Vedapura. Dari catatan masa kecil sebagai anak angkat Raja Bajawa,  anak dari Ketua Yayasan Vedapura dan anggota DPRD Flores dari Partai Katolik,  mereka adalah elit terpelajar di Flores masa itu. Usia sekolah lanjut, Mama Ony mengikuti kakaknya di Surabaya tapi tidak dituntaskan. Dia berhenti, memutuskan kembali ke Ende karena mau mengurus mamanya Oma Suzana yang mengidap asmah dan mulai sakit-sakitan.

     

    Jejak Istri Bhayangkara Sejati

    Menikah dengan Bapa Antonius Stephanus Enga Tifaona 18 /11 1964 di Gereja Katolik  Mater Boni Konsili, Bajawa, Flores, dikaruniai 10 orang anak (satu meninggal masih bayi) dengan 13 cucu.  Setelah merayakan 52 tahun pernikahan, Bapa Anton berpulang, 15 Oktober 2017, pada usia 83 tahun. Setelah suami berpulang Mama Ony pun menyusul menghadap sang khalik pada Rabu, 11/09 2924 di RSCM Jakarta.

    Di mata anak-anak, Mama Ony adalah wanita “super woman.” Mengurus sendiri anak-anaknya sejak melahirkan, merawat dari kecil hingga dewasa dan berkeluarga. Setia menemani suami bahkan menjadi tiang doa di dalam keluarga. Selalu melatih dan mendidik anak-anaknya sejak kecil untuk selau berdoa setiap malam. Doa Rosario bersama selalu menjadi andalannya sekaligus kekuatannya. Doa Rosario bagi Mama Ony bahkan sudah sebagai nafas kehidupan setiap harinya. Selalu berdoa Rosario setiap hari untuk suami dan anak-anak serta cucunya, juga untuk kerabat, kenalan yang meminta bantuan doa. Kecintaanya terhadap Rorasio membawanya pada masa tua, bersama Bapa Anton menghabiskan kesibukan setiap hari dengan membuat untaian manik-manik Rorasio dan dibagikan kepada yang membutuhkan agar orang lain yang memilikinya semakin mencintai Bunda Maria.

    Sebagi istri seorang Bhayangkara Negara (Polisi), Mama Ony memulai hidup berkeluarga yang unik. Ketika menikah, suaminya sudah menjabat sebagai Komandan Resort Kepolisian (Danres) — saat ini Kapolres — di Bajawa, Flores. Pada usia yang masih sangat muda, 21 tahun, tapi posisi suaminya sebagai Danres menuntut Mama Ony harus segera meng-“upgrade”dirinya untuk memimpin ibu-ibu Bhayangkari di lingkup Kabupaten. Mulai belajar bicara dan beri sambutan di depan umum serta lainnya.

    Sejak saat itu, dalam tugas dan pengabdiannya di Kepolisian, suaminya Bapa Anton Tifaona hampir pada semua fase karirnya selalu menduduki jabatan pimpinan. Dengan sendirinya menuntut peran dari pendampingnya pada posisi setara di lingkungan kepolisian negara. Selalu berperan sebagai istri pimpinan dalam kurun waktu yang panjang tampaknya telah turut membentuk pola dan karakter pribadi mama Ony juga dalam pola hidup kesehariannya. Dia, Mama Ony dibentuk untuk harus berdiri tegar di samping suaminya. Harus selalu mengayomi, kuat hadapi masalah juga harus bisa tegas untuk hal-hal yang harus diperbaiki. Dia selalu perhatian dan mengasihi. Penuh pengertian tapi bisa tegas untuk hal-hal yang dinilai harus diperbaiki.

    Suaminya, Bapa Anton Tifaona, berdinas sebagai Pol Airud (Polisi Air dan Udara) di Kalimantan usai tamat dari PTIK. Luasnya wilayah kedinasan di Kalimantan, Mama Ony dan anak-anak sering ditinggalkan suaminya berdinas. Bahkan bisa berbulan-bulan. Berdinas di Dili, Timtim masih masa awal proses integrasi, sarat dengan tugas dan beban karja. Mama Ony harus mengurus anak-anaknya seorang diri. “Saya tahu, tugas dan tanggung jawab Bapa sangat berat. Saya urus anak. Setiap hari pada jam-jam tertentu, saya selalu berdoa untuk Bapa. Hanya doa. Saya hanya bersandar pada kuasa Tuhan. Tuhan yang menyempurnakan.” Cerita Mama Ony suatu ketika tentang masa-masa sulit yang pernah dilewati bersama Bapa Anton.

    Karena itu, peran Mama Ony sangat sentral dalam keluarga. Terutama pada posisinya sebagai istri yang harus berdiri tegar di samping suami. Hadapi tantangan dan kesulitan dalam berdinas, suami juga bisa goyah. Tugas istri harus menguatkan. Seperti dialami Mama Ony selama mendampingi suaminya Bapa Anton. Tercatat Bapa Anton banyak melahirkan gagasan yang hingga kini dipakai secara nasional maupun konsep pembinaan dan pendidikan di internal Polri. Seperti pemakaian Helm, Buka Tutup Jalur Puncak, Latihan Bersama Polri dan Polisi Malaysia dan lainnya. Tapi rekam jejaknya menunjukan selama 12 tahun dengan 8 kali mutasi jabatan Bapa Anton masih dengan pangkat yang sama: Kolonel Polisi. Menjalani posisi ini bagi seorang perwira Polri masa itu bukanlah hal mudah. Tentu butuh peran seorang istri yang berkarater kuat di sampingnya.

     

    Wanita Berkarakter Unggul

    Pada posisi penting dan jabatan suaminya, Mama Ony mengaku memang banyak godaan. Cukup banyak kejadian, orang datang dengan berbagai iming-iming. Dari hadiah ini dan itu hingga tas yang penuh dengan uang. Mama Ony tidak bergeming. Tidak pernah mau terpengaruh. Tidak hanya dari pejabat dan bawahan. Bahkan ada kejadian ketika mendampingi Ibu Tien Soeharto dalam kunjungan ke Timtim. Saat pamit pulang Jakarta, Ibu Tien serahkan satu tas. Setelah dibuka isinya penuh dengan uang. “Uang itu saya ambil dan bagi habis untuk semua ibu-ibu Bahayangkari di Timtim saat itu. Saya tidak mau beri makan anak-anak saya dari jenis uang begitu,” tutut Mama Ony mengenang.

    Ada kejadian yang sangat krusial. Ketika usai masa tugas sebagai Kapolda Sulutteng, sudah ada penugasan dari Mabes untuk pindah menjadi Kapolda Sumut. Tapi karena ada calon titipan dari Cendana, Bapa Anton lalu dialihkan mutasinya sebagai Wakapolda Jawa Barat. Justeru turun lagi ke Wakapolda walau sudah dua kali menjabat Kapolda. Sebuah sistem mutasi yang aneh. Ketika itu, Bapa Anton sudah putuskan untuk berhenti. Minta pensiun dini. Hanya ketenangan dan ketegaran Mama Ony, walau berat Bapa Anton Tifaona akhirnya bisa menerima ke Jawa Barat, sebagai Wakapolda.

    Pribadi dan karakter Mama Ony, sebagai istri dan sebagai Ibu, telah memberi nilai positif dan membanggakan. Sosok wanita dan ibu dengan karakter unggul. Seorang wanita kuat yang memampukan dua orang lelaki di sampingnya menggapai “Bintang” di pundak mereka. Satu, suaminya sendiri Brigjen Pol (Purn) Drs. Anton Enga Tifaona menyandang Bintang Satu (Brigjen Pol). Dan kedua, anak dari rahimnya kini sudah menyandang “Bintang Dua” (Irjen Pol) Daniel Bolly Hironimus Tifaona, S.IK, M.Si. Sukses menggapai Bintang bagi keduanya, tentu tak lepas dari peran Mama Ony di samping mereka. Boleh jadi benar kata orang: Di balik pria sukses selalu ada wanita hebat di sampingnya. Dan dari rahim unggul akan hadir generasi unggul. Melukiskan sosok Mama Ony rasanya terlampau puitis sebagaimana terbaca pada senandung puisi “Ibunda Tercinta” di atas.

    Belajar dari kehidupan seorang Mama Ony, adalah belajar tentang bagaimana hidup ini bisa terpatri mulia. Tentang kesetiaan, pengabdian dan ketekunan. Tentang pelayanan, amal saleh yang bermanfaat dan menyiapkan generasi berakhlak mulia sebagai kerja untuk keabadian. Pada hidupnya, Mama Ony seakan mengajarkan bahwa dalam hitungan usia hidup, kita harus mampu memberi keindahan dan energi positif pada dunia. Bahwa mesti ada jejak mulia yang ditinggalkan. Diwariskan. Terpancar nilai-nilai keutamaan hidup yang bermanfaat. Menyiapkan generasi unggul dan berakhlak mulia adalah berkarya untuk keabadian.

    Kini, Mama Ony, Ibu “Super Woman” itu telah pergi ke tampat dimana semua kita akan sampai. Requiescat in Pace (RIP). ***

     

    Stanis Soda Herin, Penulis Biografi Brigjen Pol (Purn) Drs. Anton Enga Tifaona

     

  • Puisi Berjudul ‘Menulis Syair untuk Presiden Episode Dua’ Diangkat Menjadi Tembang Puitik oleh Komponis dan Musisi Indonesia Ananda Sukarlan

    Puisi Berjudul ‘Menulis Syair untuk Presiden Episode Dua’ Diangkat Menjadi Tembang Puitik oleh Komponis dan Musisi Indonesia Ananda Sukarlan

     

     

    Jakarta berandanegeri.com. Komponis dan Musisi Indonesia Ananda Sukarlan mengangkat tembang puitik dari puisi berjudul ” Menulis Syair Untuk Presiden Episode Dua” karya Penyair Pulo Lasman Simanjuntak.

    “Baru kelar partitur-nya.Nanti akan diterbitkan format lagunya.Terus penyanyi-penyanyi bakal pilih lagu, terutama yang mereka suka.Biasanya sih begitu.Terbit lagunya mudah-mudahan bulan depan, gitu deh,” katanya ketika dihubungi di Jakarta pada Rabu (16/10/2024).

    Ditanya lebih jauh kapan puisi berjudul “Menulis Syair Untuk Presiden Episode Dua” karya Penyair Pulo Lasman Simanjuntak bisa tayang (dipublish), ia menjawab semoga bisa terwujud bln November 2024 mendatang.

    ” Soalnya aku enggak bisa maksa vokalis-vokalis itu untuk pilih laguku yang mana, kecuali di konser-ku ya,” ujarnya.

    Menurutnya, kalau mau “dipamerkan”, lanjut komponis yang juga pianis ini, bisa saja.

    “Silahkan partitur-nya di-screenshot.Misalnya halaman pertama, itu juga bisa mewakili perhatian vokalis-vokalis sih,aku di-tag aja, vokalis-vokalis itu akan lihat FB aku.Tembang puitik ini akan masuk volume ke-9,” pungkasnya.

     

    Paling Aktif dan Produktif

    Ananda Sukarlan telah diakui banyak negara sebagai komponis Indonesia yang paling aktif dan produktif dalam menciptakan tembang puitik, yaitu karya musik yang tercipta berdasarkan karya puisi yang sudah ditulis oleh penyair atau sastrawan.

    Lebih dari 500 karya untuk vokalis diiringi piano atau instrumen lain telah ia ciptakan dalam bahasa Spanyol, Inggris dan Indonesia.

    Selama hidupnya, Komponis Ananda Sukarlan telah menciptakan musik paling banyak dari puisi-puisi Emily Dickinson, dan Robert Frost.

    Di Indonesia ada puisi-puisi karya Penyair Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Eka Budianta, Emi Suy, Wiji Thukul, Nanang Suryadi, Hasan Aspahani , Pulo Lasman Simanjuntak dan juga penyair muda seperti Adimas Immanuel, Muhammad Subhan, serta puluhan penyair lainnya.

    Kini ia sedang dalam proses mengumpulkan semua karya tembang puitiknya yang sudah ia tulis sejak ia kuliah di Royal Conservatory of Music, Den Haag (Belanda) sejak akhir dekade 1980-an sampai kelulusannya dengan Summa CumLaude.

    Saat ini sudah terkumpul sekitar 300-an dalam 8 jilid buku “Tembang Puitik Ananda Sukarlan”.

    Bulan November 2023 lalu musisi berbintang Gemini ini menjadi warga negara Indonesia pertama yang dianugerahi penghargaan kesatriaan Royal Order of Isabella the Catholic (Real Orden de Isabel la Católica), penghargaan tertinggi dari Kerajaan Spanyol yang diberikan kepada tokoh sipil atau lembaga sebagai pengakuan atas jasa luar biasa terhadap negara atau hubungan internasional / kerjasama dengan negara lain. Selain diganjar Real Orden de Isabel la Católica, Ananda Sukarlan juga pernah dianugerahi gelar kesatriaan Cavaliere Ordine della Stella d’Italia oleh Presiden Italia Sergio Mattarella pada tahun 2020.

    Selain itu, seniman Indonesia pertama yang diundang Portugal tepat setelah hubungan diplomatik Indonesia dan Portugal pada tahun 2000 ini juga telah dianugerahi banyak pengakuan swasta seperti Prix Nadia Boulanger dari Orleans, Prancis.

    Baru-baru ini ia adalah salah satu dari 32 dalam buku Heroes Amongst Us (Pahlawan di Antara Kita) yang ditulis oleh Dr. Amit Nagpal yang diterbitkan di India.

    Ananda juga masuk sebagai salah satu dari 100 Asia’s Most Influential atau “Orang Asia Paling Berpengaruh” di dunia seni tahun 2020 oleh Majalah Tatler Asia.

    Berikut puisi “Menulis Syair untuk Presiden Episode Dua” karya Penyair Pulo Lasman Simanjuntak.

     

     

    MENULIS SYAIR UNTUK PRESIDEN
    -episode dua-

     

    jika aku jadi presiden
    aku akan melanjutkan
    menulis syair ini
    sambil menghitung jumlah utang negara
    di bawah awan garang

    bahkan angan-angannya telah dikorupsikan mencapai delapan puluh triliun rupiah

    setelah itu
    kutelan rakus ribuan kilometer
    jaringan jalan tol, kereta api cepat, bendungan tak bisa dijebol, dan mobil listrik yang sering meledak di pinggir jalan protokol

    sekarang lihatlah,
    aku sudah jadi presiden
    tak punya janji
    hanya kusodorkan
    perawan berpendidikan
    anak-anak mampu berlarian
    mengejar sejumlah harapan
    tanpa harus jadi pesakitan

    karena masa depan
    bukan lagi milik pesyair
    yang rajin menulis syair
    untuk disodorkan
    di pintu gerbang negarawan
    acapkali kebakaran
    uraikan kemacetan di seputar
    bunderan kematian.

     

    _______________

     

    Kontributor :
    Lasman Simanjuntak
    Kontak : 08561827332 (WA)
    Email : pulo_lasman@yahoo.com
    -di Perum Pamulang Permai I Jln.Bougenville 5 Blok A 42 No.8, Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten

  • Latihan Dasar Kepemimpinan SMAN 2 Maumere: Mempersiapkan Pemimpin Muda Berkarakter Menuju Indonesia Emas

    Latihan Dasar Kepemimpinan SMAN 2 Maumere: Mempersiapkan Pemimpin Muda Berkarakter Menuju Indonesia Emas

     

    Maumere beranda negeri.com., 12 Oktober 2024 – SMAN 2 Maumere kembali menggelar kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) bagi para siswa-siswi dalam rangka pemilihan calon pengurus OSIS yang baru. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai Kamis hingga Sabtu (10-12 Oktober 2024), diadakan di dua lokasi yaitu Aula SMAN 2 Maumere dan Pantai Kita Maumere. Latihan ini bertujuan untuk melatih dan membentuk generasi muda agar siap menjadi pemimpin yang cerdas, kuat, dan berkarakter, sesuai dengan semangat Indonesia Emas di tahun 2045.

     

    Pelatihan ini diikuti oleh para calon pengurus OSIS dan siswa-siswi yang memiliki minat dan potensi dalam kepemimpinan. Tujuan utama dari LDK ini tidak hanya memilih pengurus OSIS yang baru, tetapi juga melatih keterampilan kepemimpinan sejak dini agar para peserta siap memimpin dengan tanggung jawab di berbagai sektor kehidupan di masa depan.

    Materi-materi yang disampaikan selama kegiatan ini mencakup berbagai aspek penting dalam kepemimpinan. Di antara materi tersebut adalah:

    1. Motivasi Organisasi – Membangun semangat berorganisasi dan menanamkan pentingnya kerja sama serta tanggung jawab dalam berorganisasi.
    2. Kepemimpinan Berkarakter Sesuai Profil Pelajar Pancasila – Menekankan pentingnya karakter dalam kepemimpinan, seperti integritas, disiplin, serta nilai-nilai Pancasila yang harus dipegang teguh oleh seorang pemimpin.
    3. Teknik Berpidato – Melatih kemampuan berbicara di depan umum, menyampaikan ide-ide dengan percaya diri, dan berkomunikasi dengan baik.
    4. Kepemimpinan OSIS – Materi khusus tentang tata cara memimpin OSIS, termasuk memahami peran dan tanggung jawab sebagai pemimpin di lingkungan sekolah.
    5. Debat dan Diskusi – Mengasah kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah secara demokratis melalui debat dan diskusi.
    6. Teknik Memimpin Rapat – Menyiapkan peserta untuk bisa memimpin dan mengelola rapat secara efektif, baik dalam skala kecil maupun besar.

    Selain materi yang padat di kelas, peserta LDK juga diajak untuk mengikuti kegiatan outbound yang dilaksanakan di Pantai Kita Maumere pada hari terakhir. Outbound ini diisi dengan berbagai permainan yang bertujuan untuk memperkuat kerja sama, komunikasi, serta kepercayaan diri antar peserta. Acara ditutup dengan sesi refleksi yang memberikan ruang bagi para peserta untuk merenungkan apa yang telah mereka pelajari selama tiga hari pelatihan.

     

    Ketua Panitia Ibu Meldiana Hendrika

     

    Kegiatan berjalan dengan lancar dan penuh semangat, seperti yang disampaikan oleh Ketua Panitia LDK Meldiana Henderina, S.Pd, “Kami berharap melalui LDK ini, para peserta tidak hanya belajar tentang kepemimpinan, tetapi juga tentang pentingnya karakter yang kuat dan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Mereka adalah calon pemimpin masa depan, dan kami ingin membekali mereka dengan keterampilan dan pengetahuan yang tepat.”

    Dengan berakhirnya kegiatan ini, diharapkan para siswa-siswi SMAN 2 Maumere, khususnya calon pengurus OSIS yang baru, siap untuk mengemban tugas dan tanggung jawab mereka dengan penuh dedikasi, serta menjadi pemimpin yang berkarakter kuat, tangguh, dan cerdas, menuju Indonesia Emas yang lebih baik.

    (Yanto Hayon).

     

    Galery Foto

     

  • Ekshibisionisme Sosial Politikus

    Ekshibisionisme Sosial Politikus

     

    Oleh Ignas Kleden

     

     

    Ekshibisionisme adalah suatu dorongan untuk memamerkan hal-hal yang selayaknya disembunyikan. Dalam psikologi dikenal ekshibisionisme seksual, ketika seseorang suka memperlihatkan bagian-bagian tubuh yang sepatutnya tak dilihat orang lain. Ini adalah suatu kelainan mental karena yang bersangkutan tak dapat mengontrol dorongan untuk melakukannya meskipun dia barangkali sadar bahwa perbuatan tersebut melanggar norma-norma kesopanan dan mengganggu ketertiban umum.

    Dalam politik Indonesia saat ini kita mengalami gejala yang dapat dinamakan ekshibisionisme sosial. Pasalnya, seseorang melakukan pelanggaran hukum dalam mengumpulkan kekayaan, tetapi tidak menyembunyikan hasil pelanggaran hukumnya, malah memamerkannya dengan cara amat mencolok. Kalau seorang ketua umum partai politik yang tadinya hidup dengan standar yang wajar, dalam waktu satu dua tahun memamerkan kekayaan yang sulit dijelaskan berdasarkan penghasilannya sebagai ketua umum partai, maka di sana terjadi ekshibisionisme sosial. Seorang koruptor yang cerdas akan berbuat sebaliknya. Dia menimbun sebanyak mungkin uang ilegal, tapi tidak memperlihatkan gaya hidup yang melambung tinggi secara mendadak asal saja keamanan ekonominya terjamin untuk jangka panjang. Di Indonesia rupanya terjadi hal sebaliknya. Tiap orang yang mempunyai jabatan politik, atau, lebih khusus lagi, jabatan publik sebagai penyelenggara negara, merasa perlu menegaskan statusnya yang baru. Meski begitu, penegasan status ini tak dilakukan melalui kinerja dan prestasi, tapi melalui perubahan gaya hidup.

     

     Tidak dihayati

    Jabatan politik dan jabatan publik tidak dihayati sebagai tanggung jawab dan amanah, sebagaimana sering dislogankan para pejabat dan pemimpin politik, tetapi sebagai kesempatan menampilkan gaya hidup baru. Tak ada yang salah dengan gaya hidup, tetapi hubungannya dengan basis materiil harus jelas juga. Seorang bankir investasi yang muda-usia di Wall Street, New York, dengan penghasilan 600.000 dollar AS setahun, dengan sendirinya cenderung bergaya hidup tinggi, kecuali dia seorang yang amat asketis atau penganut setia counter-culture.

    Dalam kasus Indonesia, gaya hidup tinggi berdiri di atas suatu shadow economy yang gelap gulita. Kita tahulah berapa penghasilan resmi seorang anggota DPR atau DPRD, seorang bupati, atau seorang gubernur. Namun, mengapa gerangan mereka dapat memperlihatkan gaya hidup seorang bankir investasi di Wall Street? Bagaimana hal ini mungkin terjadi?

    Salah satu sebabnya barangkali harus dicari dalam perilaku dan penerimaan masyarakat sendiri. Orang jarang mempersoalkan bagaimana mungkin seorang pejabat pemerintah atau seorang politikus dapat mempunyai beberapa rumah yang harga masing-masing bisa mencapai beberapa miliar rupiah dan mengoleksi lebih dari lima atau enam mobil mewah, sementara orang tahu, dengan penghasilan dari golongan gaji mana pun hal itu tak mungkin dilakukannya? Tetangga atau orang serukun tetangga sudah senang kalau pejabat itu membuka sebuah lapangan voli untuk para pemuda, mendirikan sebuah taman kanak-kanak, atau menyumbang bagi pembangunan sebuah rumah ibadat.

    Tidak pernah dipertanyakan dari mana uang itu berasal atau bagaimana cara memperolehnya. Apakah mungkin seseorang dapat memproduksi sesuatu tanpa menguasai alat-alat produksi dan terlibat aktif dalam hubungan produksi? Sikap tak acuh masyarakat ini secara tak sengaja telah memberikan suatu impunitas kepada orang-orang yang mendapat uang dengan cara yang tidak legal secara hukum dan tidak halal secara moral.

    Dewasa ini kecenderungan ekshibisionisme ini agak direm dengan adanya kemungkinan seseorang dikenai pasal tindakan pidana pencucian uang di pengadilan karena dapat diterapkan prinsip pembuktian terbalik sehingga seorang terdakwa harus membuktikan asal-usul kekayaannya. Namun, gebrakan hukum belum cukup terpadu secara solid untuk membuat koruptor jera. Seorang yang melakukan megakorupsi lebih sering dihukum dengan hukuman penjara dengan jangka waktu, yang memungkinkan yang bersangkutan masih mengenyam banyak tahun kebebasan selepas penjara dengan uang yang masih lebih dari cukup.

     

    Psikologi politik

    Ini mungkin dilakukan karena jumlah uang yang harus dikembalikan kepada negara sering kali jauh lebih kecil daripada besarnya dana publik yang telah dirampasnya melalui korupsi. Contoh yang ekstrem tentulah Muhammad Nazaruddin, yang punya obsesi jadi salah satu orang terkaya di Indonesia apabila dia telah bebas dari penjara (Tempo, 17-23 Juni 2013). Ini semua rupanya berhubungan dengan psikologi politik di Indonesia, yaitu kejahatan ekonomi dipandang kurang berbahaya dibandingkan dengan kejahatan yang mengancam stabilitas politik atau keamanan nasional. Pemerintah akan memberikan perhatian dengan kewaspadaan yang tinggi apabila diketahui ada sekelompok orang sedang merencanakan suatu subversi politik. Akan tetapi, pemerintah tidak memperlihatkan kewaspadaan yang sama kalau sudah diketahui ada orang-orang tertentu melakukan subversi ekonomi melalui korupsi atau kolusi dalam angka-angka yang astronomis.

    Mungkin masih ada yang ingat bahwa selama Orde Baru, pemerintahan Soeharto amat waspada terhadap paham-paham liberal dalam politik, sementara ekonomi nasional berjalan menurut pola pasar bebas yang serba liberal. Pada masa Reformasi sekarang sering diributkan neoliberalisme, tetapi sasaran utama kritik adalah perusahaan asing di Indonesia. Patut diingat bahwa perusahaan bisnis mana pun di dunia selalu mempunyai satu tujuan yang sama: menciptakan keuntungan dan mengakumulasi modal, dan bukan menciptakan kesejahteraan masyarakat karena ini merupakan tugas negara.

    Kalau suatu perusahaan bisnis asing masuk ke Indonesia, maka dia masuk ke suatu negara yang mempunyai pemerintah yang sah. Perilaku ekonomi perusahaan itu dapat dikendalikan melalui peraturan yang ditetapkan pemerintah. Dengan demikian, kalau suatu perusahaan asing terlalu merugikan kepentingan rakyat Indonesia, tanggung jawab pertama ada pada pemerintah, yang tak dapat mengendalikan perilaku ekonomi perusahaan bisnis asing itu agar kehadiran dan kinerjanya membawa manfaat juga bagi kesejahteraan rakyat di tempat perusahaan itu beroperasi.

     

     Mencontoh China

    China dapat menjadi contoh soal tentang bagaimana kekuatan ekonomi global dapat dikendalikan dan sedikit banyaknya dijinakkan sehingga membawa manfaat juga bagi ekonomi nasional, antara lain dengan menetapkan persentase dari keuntungan per tahun yang tak boleh dibawa keluar sebuah perusahaan asing, tetapi harus diinvestasikan kembali di China. Globalisasi di China kemudian dikenal sebagai managed globalization.

    Semua ini dapat menunjukkan bahwa sikap alert Pemerintah Indonesia terhadap ancaman politik jauh lebih tinggi daripada kewaspadaan terhadap bahaya ekonomi, dan hukuman terhadap kejahatan ekonomi tak sepadan dengan besarnya kejahatan terhadap ekonomi nasional. Rupanya dalam psikologi politik kita apa yang dianggap sebagai ancaman nasional adalah apa yang membahayakan kekuasaan politik, sementara apa yang menghancurkan kesejahteraan sosial tak dianggap sebagai bahaya nasional. Maka, janganlah kita terlalu heran kalau para koruptor kakap datang ke pengadilan dengan wajah tersenyum simpul. Ekshibisionisme sosial di sekitar kita adalah konstruksi sosial dari sikap permisif kita sendiri.
     
    ————————-

    Sumber Tulisan:  Kompas.com, 25/06/2013

     

     

  • Sepotong Hati di Angkringan

    Sepotong Hati di Angkringan

    J o k o    P i n u r b o

     

    Pada suatu malam yang nyamnyam,
    kau menemukan sepotong hati yang lezat
    dalam sebungkus nasi kucing.
    Kau mengira itu hati ibumu atau hati kekasihmu. Namun,
    bisa saja itu hati orang yang pernah kausakiti atau menyakitimu. Angkringan adalah nama sebuah sunyi, tempat kau melerai hati,
    lebih-lebih saat hatimu disakiti sepi.

    ——————

     

    Sumber Puisi dari Buku Sepotong Hati di Angkringan, Diva Press-Yogyakarta, 2021

  • Penenun Sumba Timur Produksi Wastra Otentik dan Ecofriendly bersama Bakti BCA dan WARLAMI

    Penenun Sumba Timur Produksi Wastra Otentik dan Ecofriendly bersama Bakti BCA dan WARLAMI

     

    Waikabubak berandanegeri.com –  Penenun Sumba Timur, NTT, menyelesaikan program Pembinaan Wastra Warna Alam Sumba Timur yang diselenggarakan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) bersama Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI).

    Kegiatan ini, Bukti Bakti BCA memberdayakan masyarakat dalam melestarikan budaya dengan mengintegrasikan komitmen Bakti BCA terhadap lingkungan dan kesejahteraan sosial.

    Pengrajin tenun ini telah mengikuti program pembinaan intensif yang berlangsung selama 6 bulan, yang berasal dari wilayah Kelurahan Kawangu, Kelurahan Watumbaka, Desa Kambatatana, Desa Persiapan Prai Klimbatu, hingga Desa Persiapan Wukukalara.

    Penenun didorong mengenali ragam tumbuhan lokal dan komoditas turunan bahan pewarna alam, seperti pasta atau serbuk dan benang celup, serta cara menerapkan langsung dalam pengolahan karya wastra penenun.

    EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, pembinaan penenun dengan memanfaatkan pewarna alami dari tanaman, tidak hanya berkontribusi pada pelestarian lingkungan, juga meningkatkan kualitas dan nilai kain tenun.

    Oleh karena itu, Bakti BCA melengkapi program pembinaan ini dengan perluasan akses pasar, melalui partisipasi produk kain tenun mereka pada event-event strategis BCA.

    Harapannya, program Bakti BCA dapat memberikan dampak positif yang komprehensif, dari mulai pelestarian budaya dan lingkungan hingga peningkatan pendapatan masyarakat di Sumba Timur.

    Menurut dia, antara sumber pewarnaan alam yang digunakan adalah akar pohon mengkudu (Morinda Citrifolia L) untuk menghasilkan warna merah dan tarum atau nila (Indigofera Tinctoria) untuk menghasilkan warna biru.

    Pembinaan yang didapatkan para pengrajin tersebut terdiri dari serangkaian pelatihan yang komprehensif.

    Di tahap awal, peserta melakukan pemetaan tumbuhan yang berpotensi sebagai sumber pewarna alami. Selanjutnya, belajar cara mengekstrak dan mengolah pewarna dari tanaman tersebut.

    Setiap tahap disertai dengan penugasan untuk menilai pemahaman dan keterampilan yang telah diperoleh. Terakhir, peserta mengaplikasikan pewarna alam pada kain wastra.

    Tak hanya itu, peserta pelatihan juga diajarkan tips dan trik dengan metode tertentu untuk mempercepat proses pewarnaan.

    Diana Kalara Lena, peserta program Pembinaan Wastra Warna Alam Sumba Timur, membagikan pengalamannya setelah mengikuti pelatihan dari Bakti BCA dan WARLAMI.

    “Program ini sangat bermanfaat bagi saya, memberi wawasan luas terkait pemanfaatan tumbuhan sebagai sumber pewarna alami,” ujarnya.

    “Cara penyampaiannya juga mudah dimengerti dan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari cara menemukan tumbuhannya hingga pengaplikasiannya,” tambahnya.

    Selain melestarikan tradisi tenun, inisiatif ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi kami melalui produk wastra yang ramah lingkungan.

    Ia berharap hasil karya kami dapat memenuhi kebutuhan pasar fesyen berkelanjutan yang terus berkembang. Terima kasih kepada BCA dan WARLAMI atas dukungan yang luar biasa.

    Kemitraan Bakti BCA dan WARLAMI dalam memberikan dampak positif pada pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan telah berlangsung sejak 2022.

    Bakti BCA bersama WARLAMI menggelar pembinaan serupa kepada 28 penenun dari Desa Nekemunifeto, Bisene, Biloto, Kuanfatu, Nikiniki, Tuataum, dan Kuale’u dari Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT.

    Selain itu, Bakti BCA juga telah merampungkan pembinaan kepada 15 pegiat warna alam dari Baduy, Desa Kanekes, Lebak, Banten pada Februari lalu.

    Hingga 2024 total kain tenun warna alam yang dihasilkan dari tiga wilayah binaan (Timor Tengah Selatan, Baduy, dan Sumba Timur) sebanyak 216 kain.

    BCA meyakini bahwa pemberdayaan komunitas secara efektif akan memberikan manfaat bagi pelestarian ekosistem, sehingga terbentuk siklus yang saling berpengaruh untuk menciptakan kehidupan lebih baik lagi.

    “Kami ingin mengungkapkan apresiasi mendalam atas antusiasme para penenun Sumba Timur dalam mengikuti program ini,” ungkap Ketua WARLAMI, Myra Widiono.

    Menurutnya, potensi besar alam Sumba Timur dalam industri ecofashion memerlukan dukungan yang tepat agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    ( Athy Meaq)
  • Filsafat Modern dan Sindrom Hiper Intelektualisme

    Filsafat Modern dan Sindrom Hiper Intelektualisme

    Oleh  Agus Widjajanto

     

     

    Berbicara mengenai filsafat dimana fenomena paling aktual saat ini tidak bisa dipisahkan dengan filsafat modern berkaitan dengan perkembangan pemikiran yang muncul setelah periode Renaisans hingga abad ke-20. Filsafat ini sering kali berfokus pada subjek-subjek seperti epistemologi (pengetahuan), ontologi (hakikat eksistensi), dan etika, dengan banyak pemikir terkenal seperti Descartes, Kant, Hegel, Nietzsche, dan Sartre yang memberikan kontribusi penting. Beberapa tema kunci dalam filsafat modern meliputi rasionalitas, kebebasan individu, dan kritik terhadap otoritas tradisional serta agama.

    Sindrom hiperintelektual merujuk pada fenomena ketika seseorang terlalu fokus pada pemikiran rasional, analisis intelektual yang berlebihan, dan sering kali mengabaikan aspek emosional, praktis, atau spiritual dalam hidup. Orang dengan sindrom ini mungkin terjebak dalam argumen teoretis yang rumit, sulit untuk berhubungan dengan pengalaman manusia sehari-hari, atau gagal dalam membuat keputusan karena terlalu banyak mempertimbangkan berbagai perspektif.

    Dalam konteks filsafat modern, sindrom ini mungkin terlihat sebagai dampak dari penekanan yang kuat pada rasionalitas dan pengetahuan objektif, yang sering kali mengabaikan dimensi pengalaman manusia yang lebih emosional atau intuitif. Pemikir seperti Nietzsche dan Kierkegaard mengkritik pendekatan ini, dengan menekankan pentingnya emosi, kehendak, dan subjektivitas dalam kehidupan manusia.

    Kebenaran yang berbasis Kebijaksanaan , yang merupakan tujuan dari ilmu filsafat yang telah berlangsung ribuan tahun,  lambat Laun dalam dunia modern telah bergeser dimana tengah mengarah kepada kebenaran yang hanya berbasis Ilmu pengetahuan yang didasari atas olah pikir dan daya nalar berdasarkan basis intelektualitas.

    Fenomena saat ini yang oleh para ahli disebut Hiper Intelektualitas, adalah suatu penyakit pikiran yang sangat abstrak  dan terpisah dari perasaan dan budi kita sebagai manusia yang diciptakan Tuhan yang sesuai takdirnya sebagai Khalifah di muka bumi. Proses mental yang sadar dan logis mengabaikan proses emosi yang instingtual  dan spontan, padahal keseimbangan antara pikiran dan perasaan, antara akal dan budi sangat baik bagi kesehatan baik secara mental maupun spiritual. Mirisnya filsafat modern kerap justru mengabaikan perasaan dan lebih fokus kepada Intelektualitas.

    Filsafat sendiri , menurut pendapat para ahli dan filsuf berbeda beda, tergantung dari perspektif masing-masing tokoh. Immanuel Kant berpendapat filsafat adalah dasar dari seluruh ilmu pengetahuan yang meliputi epistemologi dan menjawab hal hal yang tidak diketahui. Sedang Aristoteles seorang pemikir dan filsuf Yunani kuno berpendapat: filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, logika, fisika, metafisika , dan pengetahuan praktis . Artinya filsafat bukanlah ilmu yang bersifat abstrak semata, akan tetapi meliputi berbagai dimensi keilmuan dimana filsafat adalah ibu dari seluruh ilmu pengetahuan. Termasuk yang bersifat metafisika, yang tidak bisa dijangkau dengan akal.  Sedangkan menurut pemikir dari timur seorang intelektual dunia Islam paling ternama  yakni Al Farabi: filsafat adalah ilmu tentang hakekat dari suatu kebenaran dan merupakan ilmu umum yang menggambarkan semesta  alam, secara menyeluruh. Demikian juga pendapat dari Plato: bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan. Tentang hakekat yang berusaha untuk mengenali kebenaran yang hakiki . Tokoh dunia Islam lainya adalah Ibnu Sina yang berpendapat bahwa: filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakekat yang sebenarnya. Sedangkan tokoh filsafat dari Indonesia yakni W.J.S. Purwadarminta berpendapat: filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab, asasi asasi hukum, dan sebagainya.

    Sedangkan hubungan antara filsafat dan agama,  menurut  pemikiran Ibnu Rusyd, beliau meyakinkan bahwa antara filsafat dan agama merupakan hal yang saling berkaitan, filsafat sendiri berusaha untuk mengungkap suatu  kebenaran, demikian pula agama yaitu berusaha untuk mengungkapkan suatu kebenaran sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan atau saling berkaitan. Sedangkan Al Faraby menganggap bahwa baik bagian teoritis maupun praktis dari agama adalah bagian dari khazanah filsafat, seperti halnya bagian teoritis dari agama dapat di demontrasikan pada bagian teoritis dari filsafat, demikian pula bagian praktis dari agama dapat didemontrasikan pada bagian praktis dari filsafat.

    Secara umum perbedaan antara filsafat dan agama adalah, filsafat dianggap sesuatu pemikiran yang sangat bebas karena brrpikir tanpa batasan , sedangkan agama lebih mengedepankan pada Wahyu Tuhan dari dzat yang dianggap Penguasa alam semesta, yang mana perspektif agama adalah sebuah kebenaran yang tidak dapat ditolak.

    Filsafat modern yang berbasis kepada akal  yang disebut fenomena terkini dengan  filsafat hiper Intelektual, yang tidak lagi  berbasis kepada perasaan dan akal budi filosofnya, yang hanya terfokus kepada akal dan penalaran, maka  akan menemukan sebuah penemuan filsafat yakni sebuah  kebenaran yang semu dan kering yang tidak lagi dilandasi akan kebenaran hakekat, yang hanya bermuara kebenaran tanpa ruh, yang bersifat abstrak, hal itu adalah akibat ketika manusia menemukan dirinya semakin terbenam dengan intelektualitas,  maka akan menemukan dirinya semakin terputus dari pada emosi dan perasaannya. Padahal seorang filsuf sejati disamping dituntut untuk olah akal, juga harus mampu melakukan olah rasa dan olah karsa, untuk menemukan kebenaran yang hakiki sebagai bagian dari hamba dan alam semesta ini sebagai suatu  Sunatullah. Semakin terputusnya akal dengan hati budi dan perasaan, maka akan semakin jauh diri kita dari pada sifat kebenaran  yang merupakan fundamental dari seorang filsuf dan dasar dari pada filsafat itu sendiri dalam menemukan sebuah kebenaran yang sejati.

    Dalam Alquranul Kharim sendiri dalam surat Al A’Raf ayat 179, dijelaskan hubungan antara akal dan hati dapat dilihat berdasarkan makna kata yafqahun dan kata qulub, makna kata yafqahun semakna dengan kata akal (ya’ qilun) yang mengandung makna memahami. Sedangkan melalui hati (Qulub) manusia dapat mengetahui hal hal yang tidak dapat dicerna oleh akal seperti hal nya sesuatu yang bersifat metafisis. Dimana pada ayat ini menunjukan bahwa adanya perpaduan antara hati (qalb) dengan akal (‘aql) dalam proses kerjanya dalam tubuh manusia .

    Penulis sendiri berpendapat bahwa filsafat adalah sebuah  upaya  pencarian suatu  kebenaran melalui akal, budi, hati dan seluruh pancaindra yang telah dimiliki untuk mendapatkan hakekat sebuah kebenaran.

     

    ———————-

    Penulis adalah Praktisi Hukum, dan Pemerhati Masalah-masalh Politik, Sosial Budaya dan Sejarah

     

  • Rekonsiliasi Permasalahan Politik Masa Lalu, dalam Pelanggaran HAM untuk Menatap Bangsa Ke Depan 

    Rekonsiliasi Permasalahan Politik Masa Lalu, dalam Pelanggaran HAM untuk Menatap Bangsa Ke Depan 

    Oleh Agus Widjajanto

     

    Seorang Antropolog  menunjukkan permainan kepada anak-anak suku di Afrika.  Dia meletakkan satu keranjang penuh buah di dekat pohon. Dan dia memberi petunjuk kepada anak-anak, bahwa anak yang lari pertama kali mencapai pohon, dia berhak mendapatkan sekeranjang buah. 

    Tapi begitu sang Antropolog memberi aba-aba :  ‘Mulai … !!!’  Dia terkejut, karena anak-anak berjalan bergandengan tangan tanpa berebut saling mendahului.  Ketika Antropolog bertanya : ‘Kenapa kalian melakukan itu? Padahal kalian punya kesempatan untuk mendapatkan sekeranjang buah seorang diri. Dan mereka menjawab : ‘Ubuntu !!! … bagaimana salah satu dari kita bisa bahagia, sedangkan teman yang lain bersedih.’   

    Ubuntu dalam peradaban mereka artinya : ‘Aku adalah kita.’   Suku itu memahami rahasia kebahagiaan sesungguhnya yang justru hilang atau ‘dihilangkan’ dalam kehidupan masyarakat modern yang sangat individualistis dan sangat egosentris.  Padahal mereka mengganggap dirinya sebagai masyarakat yang paling beradab !!!. Itulah budaya Afrika Selatan yang dikumandangkan Oleh Uskup Agung Desmon Tutu, yang sangat legendaris menginspirasi pegiat Hak Asasi Manusia diseluruh Dunia, yang telah melakukan rekonsiliasi atas kejahatan dalam Politik Aphartheid di Afrika Selatan.

    Dalam kontek kondisi di Indonesia khususnya sistem  Peradilan di Indonesia yang katanya merupakan negara Demokrasi ketiga terbesar di Dunia, yang sangat memprihatinkan, dimana hukum dijadikan alat politik  transaksional, putusan hakim bukan lagi jadi mahkota hukum tapi sebagai sarana untuk mendulang kepentingan, dimana hukum sudah menjadi ladang bisnis, siapa kuat maka akan jadi pemenang seperti dalam hukum rimba.

    Konsep dasar dibentuknya hukum adalah untuk mengatur tatanan dalam masyarakat agar masyarakat terlindungi baik hak maupun keselamatan dan kewajibannya dalam sebuah negara, untuk mencapai kesejahteraan bersama, sekaligus membatasi kekuasaan absolut dari penyelenggara negara.

    Dalam dunia modern saat ini di mana dalam dunia  teknologi, ditemukan hukum gratifikasi yang menjadi dasar dari penemuan teknologi ruang angkasa dan pesawat terbang, demikian juga ditemukan Hukum Archimedes dan Pitagoras, semuanya untuk kepentingan masyarakat agar bisa berguna sebagai alat mencapai kesejahteraan bersama.

    Demikian juga sistem hukum dalam suatu peradilan sebuah bangsa , diciptakan untuk kepentingan bersama sebagai alat perlindungan masyarakat, dalam penegakan hukum, yang tujuan akhirnya juga kesejahteraan bersama.

    Dalam kontek peradilan di negeri ini saat ini yang sangat memprihatinkan, yang pada tahun 1980 an, Prof Satjipto Rahardjo mengetengahkan ide terobosan hukum yang tidak hanya terpaku pada dogma aturan baku soal pasal-pasal baik dalam KUHP maupun KUH Perdata, beserta hukum acaranya, tapi memberikan kewenangan mutlak kepada hakim untuk bisa menciptakan hukum menggali hukum baik tertulis maupun yang hidup dalam masyarakat, agar bisa memutus perkara seadil adilnya , dalam kapasitas Jabatan yang obyektif, sebagai wakil Tuhan dan Negara. Yang dikenal dengan konsep aliran  hukum Progresif, Bahwa hukum dibentuk dan diciptakan untuk manusia, bukan manusia untuk hukum  untuk menciptakan hukum sebagai panglima dan memperlakukan derajat yang sama dihadapan hukum ( Equality before the Law).

    Bahwa peraturan hukum hanya sarana  perangkat kitab , hidup dan matinya hukum tergantung  dari pada hakim dan penegak hukum yang lain baik polisi ditingkat penyelidikan dan penyidikan, serta jaksa pada proses penuntutan, bahkan juga kepada pengacara yang secara aturan sistem peradilan sebagai salah satu penegak hukum, yang membela terdakwa/ tersangka, disitulah sebenarnya ruh nya hukum tersebut bisa hidup dan tegak, atau mati seperti halnya pohon yang tidak berdaun dan berbuah.

    Kondisi saat ini hukum telah kehilangan ruh nya, semua ditransaksikan sebagai alat bisnis , dalam fenomena tersebut maka, sebenarnya dunia pendidikan kita dalam dunia  akademis telah gagal untuk melakukan pencerahan dalam sistem pendidikan saat proses dikawah Candradimuka sebelum diangkat sebagai pejabat penegak hukum, baik hakim, jaksa, polisi, maupun pengacara. Perangkat aturan hanya kumpulan dogma, yang tidak lagi punya ruh keadilan karena jiwa kita, rohani kita miskin bahkan sudah mati untuk memanifestasikan alat hukum tersebut untuk sebuah keadilan. Dunia pendidikan hukum kita telah gagal dalam mencetak manusia-manusia berpendidikan yang mempunyai hati nurani dan kepekaan dalam menjunjung keadilan yang ada hanya terpaku pada hukum positif dalam aliran positivisme.

    Dalam dunia politik, telah kita saksikan bersama dari sejak berdirinya negara ini, yang diproklamasikan oleh Soekarno Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 sebagai momentum kemerdekaan sebuah bangsa, selalu terjadi konflik politik dengan kekerasan yang mengarah kepada pelanggaran Hak Asasi Manusia, dari pemberontakan-pemberontakan karena merasa tidak diperhatikan secara adil dari pemerintah pusat saat itu melahirkan pemberontakan DITII di Jawa Barat, Permesta di Sumatera dan Sulawesi, Pemberontakan PKI 1948, Pemberontakan Gerakan 1 Oktober 1965 yang dikenal dengan Gestapo PKI, saat pemerintahan Orde Lama, hingga dilanjut kepada pemerintahan Orde Baru dalam peristiwa Talang Sari di Lampung, peristiwa Tanjung Priuk, hingga peristiwa Semanggi dalam tahun 1998 saat menjelang jatuhnya Orde Baru, yang dituduh adanya berbagai penculikan aktivis, hingga menimbulkan dendam berkepanjangan antara keturunan Bung Karno dengan keturunan Pak Harto, yang sangat dirasakan sekaliber ketokohan Pak Harto yang berkuasa 32 Tahun yang telah berbuat banyak dan sangat berjasa kepada bangsa dan negaranya saja, untuk status Gelar  Pahlawan Nasional saja, hingga kini belum ada kejelasan.

    Pada medio tahun 2010 telah dibentuk sebuah usaha rekonsiliasi yang dibidani oleh beberapa tokoh Pendiri Pemuda Panca Marga, saat itu dimana telah dibentuk sebuah forum gerakan  yang namanya Forum Silaturohmi  Anak Bangsa ( FSAB ) yang saat itu diketuai oleh Letjend (Pur ) Agus Widjojo, mantan Gubernur Lemhanas, untuk menemukan para keturunan anak dan cucu dari peristiwa tragis sejarah bangsa ini, baik anak dari Kartosuwiryo, anak Aidit , anak dari Jendral Ahmad Yani, dan seluruh pahlawan revolusi 1965, anak tokoh Permesta, untuk bertemu dan melakukan rekonsiliasi agar bisa menata kedepan dari generasi muda saat ini menuju Indonesia yang lebih baik, melupakan dendam, yang dalam bahasa jawa disebut Seng Wes Yo Wes namun kenyataannya hanya bisa terbatas dipertemukan dalam sebuah acara silaturohmi saja, tidak bisa dilakukan rekonsiliasi dimana masing masing pihak tetap dengan ego dan sudut pandang masing-masing bahwa posisi orang orang tua mereka tidak salah.

    Menghadapi momentum pergantian kepemimpinan nasional pada bulan Oktober bulan depan dimana Presiden Joko Widodo digantikan Oleh Presiden Terpilih Jendral (Pur) Prabowo Subiyanto, marilah kita merajut kebersamaan seperti halnya budaya Ubuntu di Afrika Selatan, kita saling memaafkan pada diri sendiri maupun kepada keturunan pihak lain, untuk sebuah Rekonsiliasi Nasional, bagi presiden yang telah purna tidak lagi menjabat, diberikan harkat dan martabatnya sebagai seorang pemimpin negara ini, apapun kesalahan pada saat menjabat agar ada kebijaksanaan diputihkan, dari segala tuntutan hukum dan hujatan serta dendam secara politis, untuk menyongsong mentari dari ufuk Timur, seperti dalam lagu Di Timur Matahari. Hanya dengan keberanian, kebijaksanaan dan menjunjung tinggi harkat martabat (Mendem Jero, Mikul Duwur) maka bangsa ini bisa melakukan tinggal landas menuju Indonesia Emas.

    Semoga Indonesia juga meniru dan terilhami perjuangan dari Uskup Agung (Emeritus) Desmond Mpilo Tutu, dimana hanya dengan pendekatan rekonsiliasi dan non kekerasan yang bisa menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan, termasuk memutus tali dendam yang berkepanjangan dari sesama anak bangsa atas politik pada pemimpin masa lalu. Statemen Desmond Tutu yang termasyur dimana beliau menyatakan: “No Future without Forgiveness” – Tidak ada masa depan tanpa saling memaafkan (di antara sesama anak bangsa).

    Ubuntu aku adalah kita, jangan lagi kalian pecah belah kami dengan slogan dan cara-cara politik kotor  dan  dengan materi transaksional kepada kami karena aku adalah kita, kebersamaan dalam komunitas masyarakat berbangsa dan bernegara sebagai sesama anak bangsa.

    Hanya dengan cara rekonsiliasi yang dimulai dari  memaafkan pada diri sendiri , lalu memaafkan kepada pihak yang dianggap rival dalam politik, maka bangsa ini bisa jadi bangsa yang matang dan besar. Jangan ada lagi dendam dan intrik politik dengan menggunakan kekuasaan secara hukum, mari kita rajut kembali Keindonesiaan ini, menuju damai Sejahtera,  saling asah-asih-asuh, menuju Indonesia Emas tahun 2050. Tidak mudah memimpin sebuah negara yang pluralisme dengan adat istiadat berbagai suku yang berbeda, dengan budaya daerah dan bahasa yang berbeda, dengan segala kekurangan dan kelebihan sebagai seorang pemimpin dari kodratnya sebagai hamba Tuhan tentu wajar jikalau ada kekurangan, tapi mari kita memandang darma baktinya yang baik kepada bangsa ini.

    ————————-

    *Penulis adalah Praktisi Hukum dan Pengamat, Pemerhati Masalah-masalah Sosial,  dan Budaya

     

     

  • 𝐇𝐨𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐚𝐮𝐬 𝐅𝐫𝐚𝐧𝐬𝐢𝐬𝐤𝐮𝐬 𝐌𝐢𝐬𝐚 𝐀𝐤𝐛𝐚𝐫 𝐝𝐢 𝐓𝐚𝐬𝐢 𝐓𝐨𝐥𝐮, 𝐃𝐢𝐥𝐢-𝐓𝐢𝐦𝐨𝐫 𝐋𝐞𝐬𝐭𝐞, 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐬𝐚, 𝟏𝟎 𝐒𝐞𝐩𝐭𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫 𝟐𝟎𝟐𝟒

    𝐇𝐨𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐚𝐮𝐬 𝐅𝐫𝐚𝐧𝐬𝐢𝐬𝐤𝐮𝐬 𝐌𝐢𝐬𝐚 𝐀𝐤𝐛𝐚𝐫 𝐝𝐢 𝐓𝐚𝐬𝐢 𝐓𝐨𝐥𝐮, 𝐃𝐢𝐥𝐢-𝐓𝐢𝐦𝐨𝐫 𝐋𝐞𝐬𝐭𝐞, 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐬𝐚, 𝟏𝟎 𝐒𝐞𝐩𝐭𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫 𝟐𝟎𝟐𝟒

     

    “𝑆𝑒𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑎ℎ𝑖𝑟 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑘𝑖𝑡𝑎, 𝑠𝑒𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑡𝑒𝑟𝑎 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑘𝑖𝑡𝑎” (𝑌𝑒𝑠 9:5).

     

    Ini adalah kata-kata dalam bacaan pertama, yang digunakan oleh Nabi Yesaya untuk menyapa penduduk Yerusalem, pada masa kemakmuran kota tersebut, yang sayangnya juga ditandai dengan kemerosotan moral yang luar biasa.

    Ada banyak kekayaan, tetapi kekayaan membutakan orang-orang yang berkuasa, menipu mereka untuk berpikir bahwa mereka sendiri bisa melakukan semuanya, bahwa mereka tidak lagi membutuhkan Tuhan, dan keangkuhan mereka membuat mereka menjadi egois dan berlaku tidak adil. Inilah sebabnya, meskipun ada begitu banyak kekayaan, orang miskin ditinggalkan dan kelaparan ada dimana-mana, perselingkuhan merajalela, dan praktik keagamaan semakin direduksi menjadi formalitas belaka. Tampilan wajah yang menipu dunia, yang sekilas tampak sempurna tapi sebenanrya menyembunyikan realitas yang jauh lebih gelap, lebih keras, dan lebih kejam, di mana ada banyak kebutuhan akan pertobatan, belas kasihan, dan penyembuhan.

    Inilah sebabnya mengapa Sang Nabi menyerukan kepada bangsanya sebuah cakrawala baru, yang akan dibukakan oleh Allah bagi mereka: sebuah masa depan yang penuh pengharapan, masa depan yang penuh sukacita, di mana penindasan dan peperangan akan dihapuskan untuk selama-lamanya (bdk. Yes. 9:1-4). Ia akan membangkitkan bagi mereka terang yang besar (lih. ay. 1) yang akan membebaskan mereka dari kegelapan dosa yang menindas mereka, dan Ia akan melakukannya bukan dengan kekuatan tentara, senjata, atau kekayaan, tetapi melalui anugerah seorang anak laki-laki (lih. ay. 5-6).

    Mari kita hening sejenak untuk merenungkan gambaran ini: Allah menyinarkan terang keselamatan-Nya melalui karunia seorang anak laki-laki. Di setiap tempat, kelahiran seorang anak adalah momentum terang, waktu sukacita dan pesta, dan kadang-kadang juga membangkitkan keinginan yang baik dalam diri kita, untuk memperbarui diri kita dalam kebaikan, untuk kembali ke kemurnian dan kesederhanaan. Dihadapan seorang anak yang baru lahir, bahkan hati yang paling keras pun menjadi hangat dan dipenuhi dengan kelembutan. Kerapuhan seorang anak selalu membawa pesan yang begitu kuat sehingga menyentuh jiwa yang paling keras sekalipun, membawa serta tindakan-tindakan dan niat-niat yang harmonis dan tenang. Sungguh menakjubkan, saudara dan saudari, apa yang terjadi pada saat kelahiran seorang anak!

    Kedekatan Allah adalah melalui seorang anak. Allah menjadi seorang anak. Dan tidak hanya untuk mengherankan dan menggerakkan kita, tetapi juga untuk membuka kita kepada kasih Bapa dan membiarkan diri kita dibentuk oleh kasih itu, sehingga kasih itu dapat menyembuhkan luka-luka kita, mengatur kembali perbedaan-perbedaan kita, menata kembali keberadaan kita.

    Di Timor Lorosa’e ini sangat indah, karena ada begitu banyak anak-anak: Negara ini adalah sebuah negara muda di mana di setiap sudutnya kalian dapat merasakan denyutan dan detakan kehidupan. Dan ini adalah anugerah, anugerah yang luar biasa: kehadiran begitu banyak kaum muda dan begitu banyak anak-anak yang terus-menerus memperbaharui energi dan kehidupan kita. Namun lebih dari itu, ini adalah sebuah tanda, karena memberikan ruang bagi kanak-kanak, bagi anak-anak kecil, menyambut mereka, merawat mereka, dan menjadikan diri kita kecil di hadapan Allah dan di hadapan sesama, justru merupakan sikap yang membuka diri kita terhadap karya Tuhan. Dengan menjadikan diri kita sebagai anak-anak, kita mengijinkan karya Tuhan dalam diri kita.

    Hari ini kita menghormati Bunda Maria sebagai Ratu, yaitu ibu dari seorang Raja, Yesus, yang dilahirkan dalam keadaan kecil, untuk menjadikan dirinya sebagai saudara kita, dan yang meminta jawaban “ya” dari seorang gadis muda yang rendah hati dan rapuh (bdk. Luk 1:38).

    Maria memahami hal ini, sampai-sampai ia memilih untuk tetap menjadi kecil sepanjang hidupnya, untuk membuat dirinya semakin kecil, melayani, berdoa, menghilang untuk memberikan ruang bagi Yesus, bahkan ketika semua itu harus dibayar mahal.

    Oleh karena itu, saudara-saudari terkasih, marilah kita tidak takut untuk menjadikan diri kita kecil di hadapan Allah, dan di hadapan sesama, marilah kita tidak takut kehilangan hidup kita, untuk menyumbangkan waktu kita, untuk merevisi rencana-rencana kita dan mengubah ukuran proyek-proyek kita jika perlu, bukan untuk mengurangi, tetapi untuk menjadikannya lebih indah melalui karunia diri kita sendiri dan sesama kita.

    Semua ini dilambangkan dengan sangat baik oleh dua perhiasan tradisional yang indah di negeri ini: 𝐊𝐚𝐢𝐛𝐚𝐮𝐤 dan 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐤. Keduanya terbuat dari logam mulia. Itu berarti bahwa keduanya sangat berharga!

    𝐊𝐚𝐢𝐛𝐚𝐮𝐤 melambangkan tanduk kerbau dan cahaya matahari, dan ditempatkan di atas, menghiasi dahi, dan juga di bagian atas rumah. Kaibauk melambangkan kekuatan, energi dan kehangatan, dan dapat mewakili kekuatan dari Tuhan, pemberi kehidupan. Namun tidak hanya itu: ditempatkan setinggi kepala dan di atas rumah-rumah, sebenarnya ingin mengingatkan kita bahwa, dengan terang Firman Tuhan dan kuasa kasih karunia-Nya, kita juga dapat bekerja sama dengan pilihan dan tindakan kita dalam rencana penebusanNya yang agung.

    Yang kedua, 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐤, yang diletakkan di atas dada, adalah pelengkap dari yang pertama. Ini mengingatkan kita pada cahaya lembut bulan, yang dengan rendah hati memantulkan cahaya matahari di malam hari, menyelimuti segala sesuatu dengan pancaran cahayanya. Belak melambangkan tentang kedamaian, kesuburan, kemanisan, dan kelembutan seorang ibu, yang dengan pantulan cintanya yang lembut membuat apa yang disentuhnya bersinar dengan cahaya yang sama dengan cahaya yang diterimanya dari Tuhan.

    Kaibauk dan Belak, kekuatan dan kelembutan dari seorang ayah dan Ibu: dan inilah cara Tuhan memanifestasikan kerajaan-Nya, yang terbuat dari cinta kasih dan belas kasihan.

    Maka marilah kita bersama-sama, dalam Ekaristi ini, kita masing-masing, sebagai perempuan dan laki-laki, sebagai Gereja, sebagai masyarakat, mengetahui bagaimana untuk memantulkan kepada dunia cahaya yang kuat, cahaya yang lembut dari Allah yang penuh kasih, Allah yang, seperti yang kita doakan dalam Mazmur Tanggapan, “Ia menegakkan orang yang hina dari debu, mengangkat orang yang lemah dari dalam debu, mengangkat orang yang miskin dari lumpur, dan mendudukkannya di antara para bangsawan…” (Mzm. 113:7-8).

    Saudara dan saudari yang kekasih,

    Saya telah lama berpikir: apa hal terbaik yang dimiliki Timor? Cendana? Buah persik? Bukan semua itu yang terbaik. 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐫𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠-𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝐧𝐲𝐚. Saya tidak bisa melupakan orang-orang di pinggir jalan, dengan anak-anak. Berapa banyak anak yang kalian miliki! Orang-orang, dan hal terbaik yang kalian miliki adalah senyuman dari anak-anak kalian. Dan orang-orang yang mengajarkan anak-anaknya untuk tersenyum adalah orang-orang yang memiliki masa depan.

    𝗧𝗮𝗽𝗶 𝗵𝗮𝘁𝗶-𝗵𝗮𝘁𝗶! 𝗞𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝘀𝗮𝘆𝗮 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮 𝗮𝗱𝗮 𝗯𝘂𝗮𝘆𝗮 𝗱𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗲 𝗯𝗲𝗯𝗲𝗿𝗮𝗽𝗮 𝗽𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶; 𝗯𝘂𝗮𝘆𝗮 𝗱𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝘂𝗮𝘆𝗮 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗶 𝗴𝗶𝗴𝗶𝘁𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗸𝘂𝗮𝘁 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗽𝗮𝗱𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗵𝗶𝗻𝗱𝗮𝗿𝗶. 𝗛𝗮𝘁𝗶-𝗵𝗮𝘁𝗶! 𝗛𝗮𝘁𝗶-𝗵𝗮𝘁𝗶 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗯𝘂𝗮𝘆𝗮-𝗯𝘂𝗮𝘆𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗶𝗻𝗴𝗶𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝘂𝗯𝗮𝗵 𝗯𝘂𝗱𝗮𝘆𝗮 𝗸𝗮𝗹𝗶𝗮𝗻, 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗶𝗻𝗴𝗶𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝘂𝗯𝗮𝗵 𝘀𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗹𝗶𝗮𝗻. 𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮. 𝗗𝗮𝗻 𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗸𝗮𝘁𝗶 𝗯𝘂𝗮𝘆𝗮-𝗯𝘂𝗮𝘆𝗮 𝗶𝘁𝘂 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗴𝗶𝗴𝗶𝘁, 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗴𝗶𝗴𝗶𝘁 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗿𝗮𝘀.

    Saya mendoakan kalian kedamaian. Saya berharap kalian terus memiliki banyak anak: sebab senyum bangsa ini adalah senyum anak-anaknya! Jagalah anak-anakmu, tetapi jagalah juga orang-orang tua, yang merupakan kenangan bagi negeri ini.

    Terima kasih, terima kasih banyak atas cinta kalian, atas iman kalian. Teruslah maju dengan harapan!

    Dan sekarang kita mohon kepada Tuhan untuk memberkati kita semua, dan kemudian kita akan menyanyikan sebuah lagu pujian kepada Perawan Maria.

     

    Galery Foto Kunjungan Paus Fransiskus di Timor Leste

     

  • Mama Oni dan Kasih yang Tak Berhingga

    Mama Oni dan Kasih yang Tak Berhingga

     

    Waktu kecil kita berharap bahwa orang tua kita akan selalu bersama dengan kita. Harapan yang sangat mulia. Tetapi kenyataan hidup berbicara lain. Cepat atau lambat, orang tua kita akan pergi untuk selamanya, setelah meninggalkan jejak-jejak yang kuat dalam diri kita masing-masing. Dengan kematian kedua orang tua kita, kita menjadi sadar bahwa kita bukan lagi anak-anak yang tergantung pada orang tua. Artinya, kematian mereka mendorong kita untuk berdiri sendiri sebagai pribadi-pribadi utuh yang tetap diperkaya oleh unsur-unsur dari orang tua, dan selanjutnya kita siap berjuang dan berkontribusi bagi dunia yang lebih luas.

    Kematian Mama  Veronika Wilhelmina Njo Tifaona (Mama Oni) membawa kesedihan sekaligus sukacita. Mama Oni dalam sejarah panjang kehidupannya mengajarkan dan menabur benih-benih kebaikan, sikap belarasa, sikap mencintai doa, hidup sederhana dan di atas segalanya Mama Oni mengajarkan Kasih. Demikian yang dikatakan Bpk Petrus Bala Pattyona (wakil keluarga) dalam sambutannya dalam acara Tutup Peti Jenasah Mama Oni. Mama Oni seakan yakin benar dengan apa yang pernah dituliskan oleh Henry Durmond dalam bukunya yang cemerlang Greateast Thing in the World.

     

    “Sejak zaman dulu kala manusia selalu menayakan pertanyaan yang hakiki itu: Apa sebenarnya kebaikan yang paling utama? Kita telah diberi anugerah kehidupan. Kita hanya bisa menjalaninya satu kali. Apakah obyek hasrat yang paling mulia, berkah paling utama yang patut didam-idamkan?

    Selama ini kita sudah terbiasa diberitahu bahwa yang paling vital dalam kehidupan beragama adalah iman. Kata yang paling penting telah menjadi kata kunci selama berabad-abad dalam agama, dan kita dengan mudahnya menganggap iman tersebut sebagai yang paling mulia di dunia. Tetapi ada yang lebih penting lagi dari iman. Mari kita simak Kitab 1 Korintus 13, Paulus mengajak kita untuk melihat Kristianitas langsung ke sumbernya, dan di sana kita melihat bahwa, ‘Yang paling besar di antarnya adalah Kasih.

    Dan Paulus berkata: “Dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Demikian tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih”, dan tanpa keraguan sedikit pun, dia mengakhirinya dengan “Yang terbesar dari semuanya adalah KASIH.”

     

    Karena Kasih itu pula Keluarga Besar Njo ( diwakili Bpk Peter Njo) memberikan ungkapan kesedihan sekaligus sukacita dan kebanggaan mereka terhadap pribadi Mama Oni.

    Tommy, Ina, Lexy, Denny, Bernard, Sandra, Sofia, Theresia, Joyce serta mantu dan cucu dari Mama Oni yang kami sayangi dan segenap keluarga yang berduka:  
    Mama Oni hadir ke dunia ini melalui rahim keluarga Njo. Saat mama Oni lahir Opa Petrus Njo dan Oma Suzana Ndokana menyelimuti mama Oni dengan selimut kehangatan yang berasal dari cinta kasih Opa dan Oma. Sampai suatu saat mama Oni dipinang oleh Om Anton Tifaona, Keluarga Njo memberikan salah satu putri terbaik mereka, yang kemudian memberikan keturunan 10 orang anak dan cucu-cucu.
    Kini saat Mama Oni akan kita hantar ke tempat peristirahatannya yang terakhir, saat kita akan mempersembahkan tubuh Mama Oni kepada Ibu Pertiwi, maka kami Keluarga Njo akan membungkusnya dengan Selimut Sabu. Selimut ini akan menutup kembali tubuhnya. Tanda kehangatan dan cinta kami keluarga besar Njo.
    (Mama, Tanta) Veronika Wilhelmina Njo. Dulu Opa Oma dan orangtua kami dari keluarga Njo merestui dan menghantar mu ke Altar Tuhan, menikah dengan keluarga Tifaona. Dari pernikahan itu sudah bermakna bagi keluarga besar dengan menghadirkan 10 anak dan  cucu. Melahirkan, membesarkan, mendampingi semua mrk dalam terang iman dan keteladanan  hidup.  
    Hari ini (Jumad, 13 September 20240) pada kesempatan ini, atas nama keluarga Njo, kami harus kembali mengenakanmu kain sarung Sabu asal leluhur kita semua. Inilah kehormatan dan kebesaran  sebagaimana adat, tradisi budaya yg diwariskan para leluhur kita.
    Kami semua berharap, bawalah semua salah, khilaf, duka dan derita. Segenap sakit dan penyakit semasa hidup untuk  dimuliakan di hadapan Tuhan. Tinggalkan semua yg baik, yang luhur, kesehatan yang baik dan nilai-nilai hidup yang berguna bagi anak, cucu serta generasi sesudah mereka.
    Atas nama keluarga Njo, kami juga memohon maaf untuk segala salah yang terjadi semasa hidup di dunia ini.
    Dengan keluhuran martabat adat dan budaya ini, kami menghantar mu untuk bertemu dengan Yang Empunya Segala Kehidupan,  yang selama hidup selalu kita sembah dalam doa harian dan bhakti hidup.
    Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Berkuasa atas Kehidupan dan Kematian menerima mu, masuk dalam kemuliaan surgawi.
    Selamat jalan Mama Oni, selamat bertemu dengan Om Anton dan para leluhur di surga. Doakan kami semua.

     

    Penyair Kahlil Gibran, dalam bukunya The Prophet (Sang Nabi) menulis esai puitis tentang kehidupan. Salah satunya membahas tentang peranan orang tua dalam menyiapkan masa depan anak-anak mereka.

     

    Anakmu Bukan Milikmu

    Anakmu bukanlah milikmu, Mereka putra putri kehidupan. Mereka terlahir melaluimu, tetapi bukan berasal darimu. Karena itu mereka ada bersamamu, tetapi bukan milikmu.

    ….

    Engkau boleh memberi mereka cintamu, tetapi bukan pikiranmu. Sebab, mereka memiliki pikiran sendiri.

    Engkau boleh memberikan rumah untuk tubuh mereka, tetapi tidah untuk jiwanya.

    Sebab, jiwa mereka tinggal di rumah masa depan, yang takkan bisa engkau datangi, bahkan dalam mimpimu sekalipun.

    Engkau boleh berusaha menjadi seperti mereka, tetapi jangan menjadikan mereka seperti kamu.

    Sebab, kehidupan tidak bergerak mundur dan tidak tinggal bersama hari kemarin.

    Engkau adalah busur panah,  yang darinya anak-anakmu akan meluncur ke depan.

    Sang pemanah menarikmu dengan keagungan-Nya agar anak panah bisa melesat jauh menuju keabadiaan.

    Rangkaian kata-kata Kahlil Gibran tetntang anak ini sudah dihidupi oleh Mama Oni dalam membesarkan anak-anaknya. Bagi Mama Oni, orangtua ibarat busur yang hanya bisa mengarahkan dan mengharap. Tugas anak panahlah untuk melesat dan menemukan kehidupannya sendiri. Anak panah sendiri, tanpa busur, barangkali tak berarti apa-apa dan tak akan pernah melesat kemana-mana.

    (Paskalis Liko Bataona)