Category: JELAJAH

  • Larantuka, Kota Pelabuhan Tempo Dulu

    Larantuka, Kota Pelabuhan Tempo Dulu

    Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020  hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel kelima. Semoga berguna.

    Penulis: Benjamin Tukan

    Pelabuhan tempat kapal berlabuh, sesungguhnya bukan sekadar dapat berlabuh, tapi bagaimana tempat itu memberikan rasa aman, terlindung dari ombak besar, angin dan arus yang kuat.

    Sejarahwan Maritim, AP. Lapian menuliskan “Pelabuhan harus mempunyai daya tarik yang besar bagi kapal-kapal dari luar, misalnya pasar yang ramai tempat hasil hutan dari pedalaman diperdagangkan serta bahan makanan dan air minum disediakan untuk konsumsi di kapal”.

    ***

    Apa yang dituliskan AP Lapian, baik juga untuk memotret kembali keadaan Larantuka tempo dulu, ketika tempat ini disebut memiliki pelabuhan yang cukup ramai, sekaligus penghubung perdagangan di antara kerajaaan besar di nusantara abad 16 terutama dalam lintasan perdagangan yang menghubungkan zona perdagangan di sekitarnya seperti Bima-Sumbawa, Lombok, Ende, Waingapu dan Kupang.

    Sebelumnya, pada jaman Majapahit dengan ekspansi armada ke nusantara, sebenarnya wilayah ini sudah cukup dikenal. Dalam buku M. Yamin tentang Gadjah Mada dituliskan bahwa daerah Mananga adalah daerah yang cocok untuk melabuhkan kapal.

    Mananga sendiri letaknya di Pulau Solor, tidak jauh dari Larantuka dan sama-sama berada dalam teluk. Hingga memasuki jaman pelayaran Portugis di nusantara, Solor dan Larantuka menjadi tempat persingahan yang cukup aman.

    Menjadi menarik di sini Larantuka dan sekitarnya (kepulauan Solor) yang dulu menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal yang melintasi perairan Flores dan sekitarnya tidak sekadar memiliki teluk yang tenang dan aman tapi juga memiliki potensi lain yang menunjang aktivitas kepelabuhanan.

    Jika Larantuka dilihat dari satu bentangan peta Nusantara yang berhubungan dengan pelayaran kapal-kapal dagang yang melintasi perairan dari timur ke Barat demikian sebaliknya, maka satu tempat yang tidak bisa dilupakan adalah Tanjung Bunga. Sebuah tanjung paling ujung timur pulau Flores. Di tempat inilah atau di perairan ini, klasi kapal memutuskan untuk memutar haluan menuju tempat yang dituju.

    Jika pelayaran itu datang dari arah barat, maka lautan di Tanjung Bunga adalah tempat yang tepat untuk memutar haluan ke arah Banda dan Ternate, atau juga bisa ke arah selatan menuju Kupang dan Dili. Sebaliknya kapal yang datang dari arah timur, di tempat inilah haluan kapal diarahkan entah ke Makasar, Jawa, ataupun meneruskan perjalanan ke Malaka sebagai bandar yang ramai ketika itu.

    Tanjung Bunga memberi daya tarik terendiri. Pemandangan pantai nan indah yang banyak ditumbuhi pohon-pohon flamboyan dan berbagai tanaman berbunga merah seperti pohon dadap dan kapuk hutan, selalu menggoda para pelaut untuk menghampiri. Tak berlebihan keindahan yang disuguhkan oleh alam inilah yang oleh pelaut Portugis menyebut pulau ini Cabo da Flora, pulau bunga, yang menjadikan nama pulau Flores hingga saat ini.

    Letak yang strategis dari wilayah Tanjung Bunga untuk memasuki daerah kepulauan Solor, dapat juga dilihat dari perjalanan kapal Victoria pada bulan Desember 1521. Kapal sisa armada Magelhaes ini berlayar dengan misi menemukan tempat-tempat penghasil rempah. Dari Amerika selatan, kapal ini tiba di Filiphina terus ke Ambon pada 8 Januari 1522 dan kemudian memasuki perairan kepulauan Solor menuju Timor. Kapal melewati perairan antara pulau Lembata dan pantar menuju Pulau Timor dan dari ujung pulau Timor, mengarahkan haluannya ke Tanjung Pengharapan dan terus ke Spanyol.

    Tapi soalnya bagaimana dengan Larantuka? Jika posisi kapal sungguh berada persis di ujung Tanjung Bunga dengan haluan kapal arah timur, maka Larantuka sebenarnya tidak jauh dari situ. Memutar haluan ke arah barat, kapal-kapal akan memasuki sebuah teluk dengan apitan pulau-pulau dengan penghuni yang terbilang cukup banyak. Inilah yang dilakukan armada Portugis yang dipimpin Antonio de Aberu pada pada tahun 1511. Armada yang dikirim Alfonso de Albuquerque ini menyinggahi wilayah ini untuk beberapa lama.

    Selat Larantuka memang dikenal dengan arusnya yang deras. Jika waktu yang tepat, para pelaut tak butuh banyak kerja, cukup mendayung ataupun memasang layar pelayaran akan juga tiba. Arus selat yang deras, cukup dapat membantu mengantarkan perahu hingga ke dalam teluk Larantuka.

    Dengan memilih berlabuh di Larantuka atau teluk-teluk di perairan kepulauan Solor merupakan pilihan yang tepat untuk menghindar dari amukan badai di utara atau selatan Flores. Di sinilah, kapal-kapal yang melintasi perdagangan tempo itu berlabuh menunggu mengisi perbekalan dan menunggu redahnya badai musim barat. Letak yang strategis ini juga sebagai tempat para pelaut, berteduh untuk menambah perbekalan di perjalanan kemudian. Hasil-hasil bumi juga merupakan daerah barteran yang cukup terkenal.

    Karena itu, bukan satu yang berlebihan, bila laporan pendeta Jesuit Balthasar Dias yang mengunjungi Solor pada tahun 1559 melaporkan adanya 200 pedagang dan pelaut Portugis yang beristirahat selama bulan Desember dan Januari untuk menghindari badai yang ganas.

    Perhatian lebih terarah lagi, saat Benteng Portugis di Malaka di ambil oleh VOC pada 1541. Solor kemudian menjadi alternatif Portugis untuk mengantikan Malaka. Hal ini pun dikaitkan dengan Peta Dunia yang dipublikasikan Mercator dalam tahun 1569 yang menempatkan Flores sebagai tempat yang penting di sebelah timur Malaka.

    Kehadiran Portugis di wilayah ini pada abad XVI membuka hubungan perdagangan antara Malaka dan Solor, juga terjadi kontak antara Solor dengan pos-pos perdagangan Portugis di Cina Makao. Apa yang terjadi dengan ini semua tidak lain, kepulauan Solor dan Larantuka khususnya dijadikan tujuan para pengungsi Portugis di Malaka ini. Dalam berbagai tahapan, para pengungsi mulai berdatangan ke Larantuka.

    Sejak abad 16 daerah ini telah menjadi perhatian para pedagang yang meramaikan perdagangan di kepulauan Nusa Tenggara. Ketika itu, rempah-rempah dan kayu Cendana termasuk barang mahal dan dibutuhkan di daratan Eropa. Dan permintaan ini dapat terjawab dari wilayah-wilayah di Flores, Maluku, Ternate yang banyak menghasilkan rempah-rempah.

    Menurut I Gde Parimartha, pada tahun 1756 ditemukan banyak pedagang pribumi yang berlayar dari Makasar menuju Flores. Mereka membawa barang-barang seperti: ikan mas, ikan salem, ikan haring, gading gajah, porselin, dan barang-barang dari tembaga, kain lena, porselin, parang. Sebaliknya dari timur mereka kembali ke Makassar dengan membawa sarang burung, karet, barang anyaman dan budak.

    Selain barang-barang itu, di kepulauan ini ikut juga diperdagangkan teripang. dari Flores juga dibawakan kain tenun dan anyaman, mede, cendana, buah asam, kapas, jagung, minyak ikan paus, sirip ikan, dan balerang, atau jalur seltn lewat timor. Catatan sejarah juga menyebutkan daerah ini memiliki pasar-pasar pada hari tertentu.

    Dituliskan bahwa, pada abad XVII, kain tenun dari Nusa Tenggara ada yang dikirim sampai Maluku. Semua ini memberi gambaran bagaimana gugusan kepulauan Nusa Tenggara telah berada di tengah-tengah jaringan perdagangan yang luas. Flores termasuk dalam zona perdagangan Laut Jawa,juga terletak di antara zona perdagangan yang ramai seperti antara Makassar dan Maluku. Bima dan Solor merupakan jalur utara perdagangan di Nusa Tenggara.

    Perahu-motor yang membawa barang antar pulau bersandar di Pelabuhan Larantuka ( Foto : Dok FBC)

    Ada pengaruh lain dari pelintasan perdagangan semacam ini,adalah proses asimilasi dan kawin-mawin, juga pertukaran budaya serta  masuknya pengaruh agama-agama besar seperti Islam dan Katolik ke wilayah ini. Seperti pengaruh Portugis terhadap masuknya agama Katolik di daerah ini, datangnya para mubalik melalui jalur perdagangan, bahkan jauh sebelum itu  sekitar abad 14-15 M, memberikan pengaruh bagi perkembangan agama Islam di wilayah ini.

    Kembali ke Larantuka, pertikaian dan persaingan yang terjadi dalam merebut benteng Solor yang berlangsung hampir seabad, menjadikan Larantuka pilihan yang terbaik untuk melabuhkan kapal dan menjadi tempat yang ramai untuk perdagangan di wilayah tenggara nusantara.

    Runtuhnya benteng dan pemberotakan penduduk Solor 1598, menyebabkan seluruh kegiatan kepelabunanan dipindahkan ke Larantuka. Sementara dalam masa-masa ini sudah mulai terbentuk wilayah-wilayah di Adonara Barat dan Timur, termasuk semakin berpengaruhnya kerajaan lima pantai yakni Adonara, Terong, Lamahala, Lawayong, dan Lamakera.

    Larantuka di abad XVII seperti diteliti Didik Pradjoko, merupakan pelabuhan alam yang bagus karena terlindungi dari amukan badai. Daerah sekitar pantainya cukup subur, sehingga tanaman jagung yang ditanam oleh orang-orang Portugis tumbuh dengan baik di sana. Di lihat dari sisi pertahanan Larantuka juga sangat baik, karena meskipun ada blokade laut, penduduk dapat melintasi pedalaman dan menuju daerah pantai yang lain.

    Dengan teluknya yang tenang karena dilindungi oleh dua buah pulau kecil, Adonara dan Solor, Larantuka yang sebelumnya hanya sebagai tempat persingahan, lama kelamaan daerah ini berkembang semakin pesat lebih-lebih dengan masuknya kapal-kapal dari Jawa dan Cina secara rutin.

    Di luar perkembangan agama, secara ekonomi kehadiran pedagang-pedagang yang meramaikan wilayah ini cukup membantu perkembangan ekonomi.  Dalam perkembangan selanjutnya, hubungan-hubungan perdagangan mulai berpindah ke Timur seiring dengan jatuhnya benteng Portugis di Kupang ke tangan Belanda pada 1653.

    Dengan perpindahan wilayah kekuasaan Portugis, berakibat Larantuka perlahan mulai tidak dilirik para pedagang. Penduduk wilayah ini yang semula dikenal  sebagai pelaut, mulai memilih hidup bertani. Larantuka hingga 1915 berangsur-angsur sepi, menyusul pola pelayaran dan perdagangan telah berubah. Hubungan perdagangan baru yang diperkenalkan oleh Belanda lebih menyerupai suatu hubugan yang terintegrasi di bawah satu sistem kekuasaan.(*)

  • Orang Nagi Larantuka, “Dari Masyarakat Benteng ke Masyarakat Terbuka”

    Orang Nagi Larantuka, “Dari Masyarakat Benteng ke Masyarakat Terbuka”

    Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020  hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel keempat Semoga berguna.

    Oleh : Benjamin Tukan

    Larantuka pada awal perkembangannya, cenderung memusat hanya pada daerah Postoh di bagian timur hingga Sandominggo, kelurahan Larantuka di sebelah barat, yang merupakan pergerakan wilayah misi Katolik, kerajaan dan pemerintahan.

    Di Postoh ada gereja Katedral, rumah para pastor, sekolah dan pertukangan misi, kompleks tentara, penjara, pasar dan pelabuhan. Di Sandominggo ada rumah Uskup Larantuka yang sebelumnya pada masa portugis terdapat sebuah gereja, juga ada sekolah. Di antara timur dan barat, ada rumah jabatan bupati, kantor pemerintahan, rumah raja, dan beberapa kapela.

    Dari timur hingga barat, Larantuka menyerupai sebuah benteng. Segala keperluan penduduk dipenuhi di dalam “benteng” itu. Postoh mungkin lebih dikenal sebagai benteng sesungguhnya karena fasilitasnya yang lebih lengkap yang berhubungan dengan pusat militer (tansi tentara) dan penjara.

    Wilayah dari Postoh hingga Sandominggo, itulah poros perkembangan penduduk Larantuka. Oleh karena kehidupan begitu terkonsentrasi di dalam “benteng” itu, maka melekat pula perasaan sebagai “orang dalam” untuk membedakan dari “orang luar”. Perasaan-perasaan semacam ini masih terbawa hingga saat ini.

    Penduduk yang mendiami wilayah Larantuka ini sering menamakan diri mereka orang Nagi. Kata “Nagi” sering diidentikkan dengan “Nagarai” pengaruh kosa kata Melayu, yang sama artinya dengan kampung  atau sama dengan “Lewo” dalam bahasa Lamaholot. Orang Nagi menggunakan bahasa Nagi atau bahasa Melayu dialek Larantuka.

    Aktivitas warga Larantuka

    Dalam kehidupan keseharian, orang nagi  terbiasa  menjalankan tradisi keagamaan  yang ditinggalkan Portugis. Setiap kampung memiliki kapela, dengan kewajiban bagi setiap warga atau umatnya untuk selalu membersihkan dan memelihara tempat dan ornamento termasuk menyelenggarakan kegiatan keagamaan. Tradisi prosesi Jumat Agung dan tradisi semana santa merupakan tradisi bersama di antara orang nagi.

    Selain aktif di gereja, orang Nagi pun dekat dengan kerajaan dan juga dengan pemerintahan modern. Ini juga membawa konsekuensi lain, bahwa penduduk yang tinggal di dalam wilayah ini lebih dahulu berkembang atau minimal dapat lebih dahulu tahu akan kebijakan yang datang dari pusat kekuasaan. Dalam hubungan dengan akses terhadap pendidikan juga lowongan untuk menjadi pegawai, tentu orang nagi lebih banyak memiliki peluang. Di antara tamatan-tamatan dalam pendidikan awal, banyak orang nagi yang menjadi guru dan duduk di lembaga pemerintahan.

    Sebagai sebuah komunitas kota yang tumbuh dan berkembang dekat dengan pusat kekuasaan, konsekuensi lain yang tidak bisa dihindarkan adalah perasaan untuk mengidentifikasikan diri sebagai yang paling tahu, terpelajar dan punya kebudayaan tinggi. Tidak jarang pula dalam kehidupan sosial muncul anggapan tentang keterbelakangan yang dialami oleh masyarakat di sekitarnya, sebagai sesuatu yang terberi.

    Jika sejarah mau dilihat lagi, perasaan-perasaan yang merasa paling tahu ini kadang menciptakan gap antara masyarakat yang ada di dalam dan di luar “benteng”. Kota tetap dimaknai  hanya milik mereka yang kebetulan punya akses dengan sumber-sumber kekuasaan ataupun pengetahuan.  

    Perkembangan masyarakat memang tak terhindarkan. Cepatnya perubahan pasca kemerdekaan, membuat kehidupan orang nagi mulai bercampur baur dengan penduduk lain yang datang ke ibukota Kabupaten dan yang datang ke pusat misi. Pendidikan yang diperoleh beberapa anak di luar orang nagi, akibat peluang yang dibuka gereja dan pemerintahan, memungkinkan tamatannya bekerja di Larantuka. Kendati ada perasaan untuk memiliki tradisi yang diwariskan, otoritas gereja setempat dan pemerintah tidak mungkinkan untuk membeda-bedakan satu dengan yang lain, jika tidak pada pertimbangan khusus atau berdasarkan kompetensi.

    Orang nagi yang tamatan sekolah guru dan pertukangan dikirim untuk bekerja di di desa-desa sekitarnya ataupun dikirim ke perkampungan-perkampungan di Flores, Sumba dan Timor. Hal ini telah juga jauh sebelum kemerdekaan. Tapi mau dikatakan di sini bahwa orang nagi tidak saja mengenal budaya lain dari kedatangan penduduk ke Larantuka, tapi juga mengenal budaya lain karena ditugaskan untuk bekerja di wilayah lain. Terjadi proses kawin mawin, juga bentuk-bentuk pembauran yang terjadi membuahkan makna-makna baru pada kehidupan orang nagi.

    Bencana banjir 1979, yang memporak-porandakan kota Larantuka membuka lembaran baru untuk mereka yang tinggal di dalam “benteng” untuk menerobos keluar dan berbaur dengan masyarakat sekitarnya.  Mereka yang menjadi korban dibangun pemukiman baru di luar kota/benteng yang berakibat berubah pula pola interaksi masyarakat.

    Sebagaimana contoh, di perkampungan baru Weri (pemukiman untuk korban banjir yang dibangun pemerintah pasca banjir 1979) orang nagi mulai lebih intens berbaur dengan masyarakat umumnya. Apalagi pemukiman korban banjir ini, dalam perkembangan kemudian, lebih menyerupai perumahan perumahan baru bagi siapa saja yang hendak tinggal di Larantuka.

    Pelabuhan Larantuka (Foto : FBC)

    Dari Weri di ujung timur, jika hendak kembali ke Larantuka (wilayah Postoh -Sandominggo) maka orang akan melewati berbagai kampung kecil seperti kota Sau, Kota Rowidho, Kampung tengah, Lebao , dan seterusnya hingga Amagarapati dan Ekasapta. Tak berlebihan kampung-kampung kecil ini dengan sendirinya terdongkrak untuk diperhatikan. Perkembangan kota terjadi juga di Barat pada desa-desa selepas Sandominggo yakni Pante Besar, Lewolere dan Waibalun. Mulai terjadi pergerakan untuk keluar dari benteng, sekaligus menorobos masuk ke dalam benteng.

    Pasca banjir 1979, banyak kantor dibangun kembali di luar benteng. Kantor Bupati dan kantor-kantor lainnya yang dibangun di tempat baru menyerupai kompleks perkantoran itu, semakin meninggalkan Larantuka sebagai sebuah benteng. Larantuka perlahan mulai menjemput perkembangan kota modern yang didalamnya harus pula merayakan pluralitas.

    Sedikit berkembang dari kota yang hanya dalam benteng, kini sedikit mulai meluas, sekalipun masih terkesan sangat sempit untuk menampung segala fasilitas perkotaan. Namun, ada optimisme bahwa masyarakat kota yang lebih plural dapat saja segera terwujud. Sementara beberapa perkampungan tradisional yang berada di sekitar pegunungan Ile mandiri mulai ditata sekaligus menjanjikan suasana pembangunan kota yang lebih baik dan bernilai untuk jangka panjang.

    Berhadapan dengan perkembangan masyarakat tanpa harus meninggalkan kekhasan tradisi yang dimiliki masyarakat, maka pekerjaan rumah yang besar adalah mencari formula yang pas agar kehidupan itu bisa mendatangkan kebahagian bagi semua orang tanpa ada yang merasa tersisih dari perkembangan yang ada. Perayaan Semana Santa, misalnya, di satu sisi adalah perayaan orang nagi Larantuka dengan segala aturan yang ditetapkan, tapi sebagai perayaan keagamaan harus terus membuka diri untuk keterlibatan pihak lain.

    Diskusi masih terbuka. Gereja, Pemerintah, dan Kerajaan, tokoh masyarakat, akademisi mestinya selalu duduk bicara menghadapi perubahan yang terus datang. (*)

  • Mengawali Perkembangan Kota Larantuka: Gereja, Kerajaan dan Pemerintahan

    Mengawali Perkembangan Kota Larantuka: Gereja, Kerajaan dan Pemerintahan

    Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020  hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel ketiga Semoga berguna.

    Penulis :  Benjamin Tukan

    Dari sejarah yang ditutur-lisankan secara turun temurun  dari penduduk Flores bagian timur khususnya Larantuka dan sekitarnya, asal usul penghuni wilayah ini datang dari penduduk asli yakni suku ile jadi,  dan para pendatang yang berasal dari wilayah nusantara bagian Barat dan Timur. Suku pendatang berasal dari Barat disebut dengan istilah “Sina Jawa Malaka” dan yang datang dari Timur disebut “Keroko Puken” dan “Tena Mao”.

    Sebutan “Sina Jawa Malaka” sering diasosiasikan orang  sebagai berikut : Sina dimaksudkan suku dari Cina bagian selatan, Jawa ialah suku Hindu Jawa dan Malaka yaitu berasal dari suku Melayu termasuk Portugis indo dan Portugis hitam yang sebelumnya pernah tinggal di Malaka.

    Sedangkan “Keroko Puken”   berasal dari sebuah pulau di timur Lembata yang tenggelam. Suku dari timur pun termasuk suku Seram Goran yang datang dari Maluku, Arafuru dan Banda. Kedatangan penduduk dari luar wilayah ini dalam hal pembauran dengan penduduk asli telah menghasilkan kekhasan tersendiri dalam corak budayanya.

    Jika dilihat lebih jauh lagi ke dalam masyarakat Lamaholot, penduduk yang mendiami wilayah timur Flores ini dapat dikatakan bahwa penduduk Lamaholot merupakan suatu masyarakat yang dibentuk dari proses perjumpaaan, kawin mawin dan asimilasi kebudayaan antara masyarakat asli atau yang datang lebih dahulu dengan masyarakat yang datang kemudian ke wilayah ini.

    Perpindahan suku-suku ke wilayah ini telah dimulai sekitar abad ke 3 hingga abad 5 dari migrasi Melayu yang diperkirakan telah mencapai wilayah Timur dan termasuk daerah  timur Flores. Namun, jika berpatokan pada imigrasi manusia dari Afrika ke bumi nusantara, tentu hitungan tahun dapat mundur jauh ke belakang.  

    Salah satu teluk berpasir putih di Kota Larantuka (Foto : BN)

    Gelombang berikutnya,  pada era kejayaan kerajaan Sriwijaya, juga terjadi migrasi yang mencapai daerah Flores bagian timur termasuk  daerah Timor dan Maluku. Selanjutnya, terjadi pada era perdagangan nusantara termasuk pada era kerajaan Majapahit  yang membawa misi mempersatukan nusantara.  

    Dalam perkembangan masyarakat wilayah ini, dapat dikatakan tempat ini mendapat pengaruh  dari  kerajaan-kerajaan nusantara baik Sriwijaya, Majapahit dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya di nusantara, juga pengaruh dari Portugis, Belanda dan Jepang yang datang kemudian.

    Pengaruh yang dibawa dari luar tentu saja mempengaruhi kehidupan masyarakat di wilayah ini. Selain bentuk dan struktur suku, kampung dan kerajaan, tradisi yang dijalani hingga sekarang pun merupakan hasil dari pencampuran dengan unsur budaya luar atau budaya yang datang kemudian.

    Bukan berlebihan bila dikatakan kebiasaan hidup masyarakat Larantuka merupakan pencampuran yang cukup sempurna antara kebudayaan asli, dan pendatang Malayu dan Eropa. Dalam masyarakat Lamoholot pun terjadi hal yang sama. Dapat kita lihat berbagai kemiripan yang bisa dijumpai dengan penduduk di tenggara Maluku bahkan sampai Papua bagian barat.

    Kembali ke Larantuka. Sebagai kota yang pernah dijadikan pusat misi Katolik,  Paderi Portugis dan umat Katolik awal, terus menghidupkan  tradisi katolik yang tersisa, entah tersisa dari tanah asalnya di Eropa, maupun tersisa dari pelarian setelah runtuhnya benteng Malaka, benteng Makasar maupun benteng Solor.

    Ketika memulai kehidupan awal di Larantuka dari suatu perjalanan panjang sebelumnya, orang nasarani Larantuka memulai dengan menata patung dan segala ornamento perayaan keagamaan Katolik untuk disimpan pada tempat yang lebih baik. Tradisi yang merupakan warisan dari masyarakat Eropa abad pertengahan ini berhubungan pula dengan devosi kepada yang Kudus yang terus dirayakan, dipertahankan bahkan terus diwariskan kepada keturuanannya hingga saat ini.

    Patung, ornamento dan tradisi berdevosi, bukanlah sekadar hadir menyemarakan perayaan keagamaan dalam tradisi Katolik. Ada suatu yang lebih dari itu yakni untuk menghadapi ancaman yang terus datang  baik dari Belanda maupun penduduk lokal juga termasuk persaingan dagang tempo itu. Ornamento dan tradisi dijadikan sarana perlindungan sekaligus jalan pengharapan akan datangnya mukjizat dan keselamatan. Semakin banyak dijumpai kesulitan, semakin umat merasa dekat dengan yang kudus.

    Larantuka ketika itu, memang jauh dari pembicaraan politik para pengambil keputusan. Pergolakan politik yang terjadi di luar sana, sepertinya tidak pernah memikirkan tentang keberadaan masyarakat Larantuka. Larantuka bahkan semakin jauh dari perhatian, juga ketika kedatangan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) di Nusantara dalam tahun 1602 atau setelah hancurnya Benteng Portugis di Ambon 1605.

    Walau Portugis pernah menjadikan Solor sebagai pusat misi, yang kurang lebih berhubungan dengan perdagangan cendana, itupun tidak menjadi pertimbangan VOC untuk melihat lebih jauh akan potensi ekonomi wilayah ini. Politik VOC yang tidak memperhatikan daerah-daerah di luar Jawa, semakin menjauhkan Larantuka dari percaturan perdagangan masa VOC Belanda yang dampaknya hingga saat ini.

    Menarik disimak perkembangan masyarakat di wilayah ini terutama dalam hal kegalauan menghadapi kebijakan politik dan ekonomi kala itu. Persaingan Portugis dan Belanda, sungguh mempengaruhi keberadaan misonaris yang melayani umat saat itu.Misonaris Portugis terpaksa pergi meninggalkan Larantuka  seiring dengan kemauan politik yang menghendaki Portugis harus pergi, menyebabkan umat  harus berjuang sendiri lepas dari para misionaris. Di sinilah mulai muncul peran raja Larantuka yang semakin luas untuk mengambil alih kepemimpinan agama saat itu. 

    Bersama raja, penduduk Larantuka melewati hari-hari dalam kesepian, menjadi sendiri bagai “yatim piatu” jauh dari persinggungan arus perkembangan perdagangan nusantara dan atau terpengaruh menjadi koloni dari para penguasa jalur rempah. Barangkali hubungan-hubungan kerajaan-kerajaan kecil Islam di wilayah ini dengan Ternate dan Tidore, Gowa dan Bima sedikit banyak menghidupkan perdagangan di wilayah ini tempo itu.

    Larantuka baru kembali menjadi perbincangan ketika datangnya misonaris Belanda dan mulai membuka lembaga-lembaga pendidikan.  Sekalipun di wilayah pemerintahan, sentralisme Belanda tetap menjauhkan Larantuka, justru dalam soal agama, Larantuka tetap menjadi awal sejarah pendidikan dan misi di Flores.

    Pendidikan yang diselenggarakan dalam banyak hal lebih ditujukan untuk melayani pengembangan misi dimanapun dibutuhkan. Bisa dikatakan, Larantuka hidup dan berkembang tidak secara khusus untuk masyarakatnya sendiri melainkan selalu berhubungan dengan sesuatu di luarnya.

    Perkembangan lain yang cukup menarik disimak adalah dalam hubungan dengan kekafiran (istilah untuk orang yang belum beragama formal) ataupun dalam kerangka agama lokal menghadapi datangnya agama-agama baru yang dibawa orang Eropa.  Ada yang cukup menarik lantaran tempat inipun menjadi awal perjumpaan antara agama baru dan agama lokal.

    Selat Larantuka bagai sebuah danau, tempat warga menghabiskan waktu untuk memancing ikan (Foto : FBC)

    Dapatkah mereka bersanding? Itu pertanyaan yang mungkin ada. Tapi bagaimana pun kemauan awal dari perjalanan yang sungguh jauh di belahan Eropa sana tidak mudah menerima semuanya bisa bersama berjalan secara mulus. Keinginan  untuk melawan kekafiran di sekitarnya merupakan sebagian sedikit sejarah yang menandakan keberadaan kota ini. 

    Perlawanan untuk mempertahankan kebenaran yang diyakini, segera mencari jalan baru untuk membawa daerah ini pada suatu perlindungan dalam tradisi yang dihayati. Oleh para misonaris, kota Larantuka berada dalam perlindungan santo Philipus dan Yakobus, kendati hingga kini orang lebih mengenal sebagai kota Maria atau dijuluki ‘Kota Reinha’.

    Patahan demi patahan sejarah terus dialami penduduk wilayah ini. Kehidupan yang mulai tertata harus diiklaskan untuk tidak dilanjutkan, lantaran politik yang ditentukan di luar sana menghendaki suatu yang lain sama sekali. Apa yang dialami umat ketika peralihan Portugis ke Belanda, kembali terulang dalam peralihan Belanda ke Jepang. Segalanya harus mulai secara baru lagi. Lagi-lagi untuk bisa bertahan, kembali ke tradisi adalah jawabannya.

    Perkembangan terus berjalan. Sebagai akibat dari pertumbuhan umat yang semakin pesat, sejak 1951 Larantuka dan sekitarnya menjadi  satu wilayah keuskupan yakni Keuskupan Larantuka. 

    Larantuka dijadikan tempat kediaman Uskup Larantuka yang berarti juga menjadi pusat keuskupan. Ini juga membawa pengaruh yang cukup besar dan berarti bagi perkembangan kota ini. Hilir mudik para imam dan biarawan yang mengunjungi rumah keuskupan di Sandominggo menjadikan kota ini mulai terasa kian ramai dan mulai ada kesibukan baru.  

    Sementara di wilayah pemerintahan yang ketika itu sudah menjadi bagian dari NKRI, Larantuka dijadikan  ibukota kabupaten  Flores Timur, sebagaimana masa Belanda yang menempatkan satu komandan di sini.

    Sebagai ibukota Kabupaten Flores Timur, mulai ada permintaan tenaga kerja untuk mengisi pos-pos dalam pemerintahan. Perpindahan penduduk ke pusat kekuasaan adalah suatu hal yang tak bisa dihindarkan. Larantuka mulai bertumbuh sebagai sebuah ibu kota kabupaten dengan segala konsekuensinya.

    Larantuka, wilayah yang kecil itu, adalah tempat tinggal uskup Larantuka, tempat tinggal raja Larantuka dan tempat tinggal dan bekerja dari seorang bupati. Semuanya ada di sini dan semuanya memiliki “suara” yang sama nyaringnya. Karenanya tidak heran, saat sebuah isu diperbincangkan di wilayah publik, orang pun bertanya, “ini suara siapa?”.

    Larantuka masih terus berkembang. (*)

  • Larantuka, Dari Dulu Sudah Jadi  Perhatian

    Larantuka, Dari Dulu Sudah Jadi Perhatian

    Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com akan menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020 ini hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Artikel Rabu 26 Februari 2020 berjudul : “Rabu Abu-Awal Prapaskah, Saatnya Bersiap-siap Pergi ke Larantuka”. Semoga berguna.

    Penulis: Benjamin Tukan

    Di hadapan saya terlihat laut biru. Serta berbagai pulau, yaitu Pulau Adonara dan Solor, tempat orang Portugis meninggalkan berbagai benteng, gereja, dan senjata berat. Di belakang saya terdapat permadani hijau yang terdampar hingga ke pucuk gunung Ile Mandiri, ke arah selatan , suatu kawasan yang setengah hancur, tempat beberapa remaja serta botol plastik beristirahat, menempati pantai yang menurut lagenda pernah ditemukan patung Bunda Maria Rosari dan terukir kata “Mater Dolorosa” di atas pasir“.

    Sepenggal kalimat diatas adalah tulisan Jurnalis Lepas asal Portugis Joaquim Magalhaes de Castro dalam bukunya Lautan Rempah Peninggalan Portugis di Nusantara”, tentang pengalamannya saat pertama kali menginjakan kakinya di Larantuka.

    ***

    Terletak di ujung Timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT),  kota Larantuka terbilang relatif kecil  hanya memanjang dari timur ke barat kira-kira 10 km. Sisi utara kota ini langsung merebah di lereng gunung Ile Mandiri dan sisi selatannya langsung bertemu dengan pinggir pantai Selat  Larantuka.  

    Di depan kota ini, dalam jaraknya yang sangat dekat berjejer dua pulau yakni Pulau Solor dan Pulau Adonara yang menjadikan laut di depannya bagai sebuah danau yang indah. Tersembunyi di balik kedua pulau ini, dalam jarak tempuh pelayaran  dengan kapal motor selama 30 menit segera dapat terlihat sebuah pulau yang cukup besar dan kaya yakni pulau Lembata. Gugusan  pulau ini termasuk Alor dan Pantar di timur Lembata, sering dinamakan kepulauan Solor. 

    Sebagai daerah yang terletak di pulau Flores bagian timur, Larantuka berada dalam rumpun budaya  Lamaholot, umumnya dianut masyarakat penghuni kepulauan Solor. Kendati  batasan selalu tidak tegas membedakan,  penduduk  Lamaholot sering diasosiasikan  dengan penduduk  yang  mendiami  Flores Timur daratan, Pulau Solor, Adonara, Lembata dan sebagian Alor-Pantar.

    Kota Larantuka di Waktu sore. (Foto tahun 2011)

    Sebutan Lamaholot untuk wilayah ini memang cukup beralasan. Dalam bahasa setempat Lamaholot berasal dari kata Lama yang berarti bagian atau kampung, atau piring (lamak) dan holo berarti sambung, diartikan sebagai gugusan pulau atau kampung yang bersambung. Suatu masyarakat dimana antar kampung juga pulau yang berbeda mempunyai jalinan kekarabatan.

    Sebagaimana kehidupan setiap kampung yang otonom dalam kebudayaan ini, dapat saja terjadi perbedaan aturan dan budaya, namun tetap saja memiliki satu kesamaan dalam  pandangan tentang alam kodrati dan sesama masyarakat.  Dalam hal ini, masyarakat Lamaholot juga telah lama mengenal kehidupan masyarakat dalam bentuk organisasi  yang khas.  Hal ini dapat dilihat di hampir setiap kampung memiliki struktur kesukuan yakni yakni Koten, Kelen, Hurit dan Maran yang memiliki peran masing-masing dalam menjaga keharmonisan kehidupan kampung. 

    Sebenarnya wilayah yang disebut kepulauan Solor atau juga tanah Lamaholot, dari sisi bahasa bukanlah satu bahasa. Dari segi bahasa, umumnya penduduk di wilayah ini menggunakan   bahasa Lamaholot, tapi juga dibeberapa tempat seperti Larantuka, menggunakan bahasa Melayu,  bahasa Kedang untuk wilayah Kedang, bahasa krowin  untuk wilayah yang berbatasan dengan kabupaten Sikka dan bahasa Bajo untuk beberapa wilayah di pesisir Pantai.    

    Larantuka terletak pada 8,4 derajat lintang selatan dan 123 derajat bujur timur beriklim sub tropis dengan musim kemarau yang panjang rata-rata 8-9 bulan, Musim hujan hanya terdapat pada bulan Desember-hingga Maret.   Namun perubahan iklim saat  ini yang tidak menentu, seringkali membuat kota ini mengalami curah hujan yang ekstrim baru pada bulan januari dan  Februari bahkan Maret.

    Pada musim kemarau, suhu udara di Larantuka terbilang cukup panas. Suhu udara yang panas ini  menyebabkan siang hari berada di kota ini selalu disinari matahari yang menyengat.  Pemandangan lahan tandus  pada punggung gunung ile Mandiri juga perbukitan-perbukitan kecil yang ada di pulau Solor dan Adonara, menjadikan suasana terasa begitu gersang.

    Kota Larantuka memang berada di dalam teluk dan siapa pun yang pernah ke sana akan terkesima menyaksikan indahnya panorama teluk.  Sebagai daerah berteluk, tempat ini pun sejak abad 16 sudah menjadi perhatian dari berbagai orang yang melintasi pelayaran nusantara dari barat ke timur dan dari timur ke barat. Amukan gelombang laut di perairan Flores bagian utara dan Laut Sawu bagian selatan Flores, mau tidak mau  menjadikan Larantuka tempat alternatif untuk berteduh sekaligus mengisi perbekalan untuk perjalanan selanjutnya. 

    Kapal Motor Penyeberangan antar pulau dari pelabuhan Larantuka

    Bagai bersambut gayung, wilayah teluk yang banyak terdapat di  kepulauan  Solor menjadi tempat yang aman  untuk bersembunyi dari perompak-perompak laut yang selalu hadir di tengah ramainya perdagangan nusantara tempo itu. Kerasnya persaingan dalam perdagangan, menjadikan Larantuka bagai kota yang siap untuk memberi ketenangan, menyusun strategi untuk melanjutkan atau bertahan dari gejolak persaingan yang ada.

    Sebagai daerah berteluk, selain Larantuka sebagai pelabuhan yang cukup ramai, di kepulauan Solor terdapat juga  pelabuhan-pelabuhan kecil diantaranya, Balauring, Hadakewa, Lewoleba, Waiteba, Labala, Wulandoni, Lamalera, Mingar, Loang (Semuanya di Lembata), Mananga, dan Lamakera (pulau Solor),   Waiwerang,  Lamahala, Terong, Sagu, Waiwuring (di pulau Adonara) ; Konga, Paihaka, Pantai Oa, Pantai Konga, Pantai Wotan, Pantai Kelambu  dan Rako di Wilayah Flores Timur daratan.

    Seiring perkembangan yang terjadi,  persingahan demi persinggahan dan juga lintasan perahu layar yang keluar masuk teluk,  menyebabkan Larantuka menjadi pelabuhan yang ramai di bandingkan pelabuhan di sekitarnya. Dari perkembangan demi perkembangan Larantuka yang sebelumnya bernama Lewonama  (tempat orang berkumpul) berubah nama menjadi Larantuka (Laran = jalan, tukan = tengah) yang dapat diartikan sebagai tempat persinggahan atau jalan tengah. (*)

  • Rabu Abu-Awal Prapaskah, Saatnya Bersiap-siap Pergi ke Larantuka

    Rabu Abu-Awal Prapaskah, Saatnya Bersiap-siap Pergi ke Larantuka

    Pengantar : Untuk semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan kebudayaan wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com akan menurunkan beberapa tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020 ini hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Semoga berguna.

    Penulis :Benjamin Tukan

    Hari ini Rabu, 26 Februari 2020, umat Katolik se-dunia memasuki masa khusus dalam tahun liturginya yang disebut  “Masa Prapaskah”. Rabu awal masa pra paskah ini sering pula disebut “Rabu Abu” yang berhubungan dengan perayaan pengolesan abu di dahi umat sebagai awal masa pertobatan.

    Masa Prapaskah berlangsung sejak hari Rabu Abu sampai hari Jumat Agung menjelang Hari Raya Paskah. Dalam tradisi umat Katolik, masa Pra Paskah, sering disebut masa puasa atau masa pertobatan. Pada masa ini, umat Katolik diajak untuk lebih cermat dan tekun menjalankan pertobatan dan membarui diri agar siap merayakan Paskah.

    ***

    Saat memasuki masa Prapaskah, orang-orang mulai berbicara tentang Larantuka, kota kecil, ibukota Kabupaten Flores Timur, ujung Timur Pulau Flores. Soalnya, di kota ini saban tahun jelang Paskah selalu menjadi tempat kunjungan para peziarah lantaran telah hidup berabad lamanya tradisi perayaan paskah yang dikenal sebagai Semana Santa atau pekan suci.

    Tak hanya umat Katolik Larantuka, umat dari daerah lain bahkan para peziarah dan turis manca negara pun setiap tahun mengagendakan waktu untuk merayakan paskah atau pun sekedar berlibur di Larantuka saat perayaan Paskah.

    Semana Santa yang merupakan perayaan sepekan sebelum hari raya Paskah ini dimulai saat perayaan minggu Palem dan berakhir pada minggu Paskah. Semana Santa dalam bahasa Portugis berarti pekan suci. Semana sancta (semana = seminggu/sepekan, sancta = kudus).

    Perayaan yang diwariskan para paderi (pastor) Portugis dari Abad XVI ini,oleh umat setempat dimaknai sebagai “hari bae”, hari penuh rahmat. Dalam pekan ini umat berdatangan ke kapela-kapela untuk melantunkan doa yang dalam bahasa setempat disebut “mengaji semana Santa”.

    Hari bae diyakini merupakan hari penuh rahmat, sehingga umat yang hadir percaya akan memperoleh berkat dan rahmat berlimpah. Oleh karena keyakinan ini, umat yang mengikuti sungguh terlibat dalam doa dengan ujud dan niat khusus. Dalam sepekan ini, tidak ada hari tanpa perayaan dan semuanya tidak terpisah satu dengan yang lain.

    Larantuka melalui tradisinya, seolah menyuguhkan sebuah suasana dan pengalaman yang khas untuk membantu umat untuk merayakan paskah. Satu hal yang sering dibicarakan orang tentang kehidupan iman umat di Larantuka adalah ketekunan melakukan devosi serta melakasanakan perayaan-perayaan keagamaan secara massal dan meriah.

    Tarian Penyambutan Tamu (Foto : Dok BN)

    Dalam pekan Semana Santa, disamping umat Larantuka khidmat dalam sujud dan doa, kapela-kapela tempat penyimpanan patung-patung yang juga telah ada berabad silam ini, dibuka dan dikunjungi para peziarah untuk penghormatan dan menyampaikan doa. Di gereja Katedral umat datang untuk mengikuti upacara Liturgi, sebagai bagian dari perayaan wafat dan kebangkitan Yesus.

    Di luar perayaan Liturgi gereja, berbagai pertemuan antar umat digelar untuk membicarakan persiapan melangsungkan perayaan Tri Hari Suci. Umat dari luar kota pun, mulai berdatangan menambah kemerihan suasana persiapan dan minggu palem.

    Pada hari Jumat atau sering dikenal sebagai Jumat Agung, Larantuka bagaikan kota yang melewati sepenuh harinya dalam susana perkambungan. Umat mengarak patung Tuan Ma (Bunda Maria) dari Kapela Pante Kebis dan Tuan Ana (Patung Yesus) dari Kapela Tuan Ana menuju Gereja. Pada hari Jumat ini juga diadakan prosesi bahari yang mengantarkan patung kanak-kanak Yesus melewati selat Larantuka yang diiringi sampan dan motor laut. Sore jelang malam setelah doa selesai di Gereja, sambil membawa dan menyalakan lilin umat menjalani prosesi yang melewati delapan armida.

    Pantai Air Panas Kawalilu,keindahan alam daerah sekitar Larantuka (Foto : Dok BN)

    Melalui tradisi yang dirayakan masyarakat ini, otomatis kota ini pun dapat dihubungkan dengan sejarah masa lalu. Tak heran jika ceritra masa silam dapat dipadatkan saat berkunjung ke Larantuka. Di sini terungkap pula kedatangan orang-orang luar, seperti Portugis, Belanda, Jepang juga pengaruh yang datang sebelumnya  dari kerajaan-kerajaan nusantara.

    Larantuka memang unik. Kendati kota sering disebut, namanya tidak setenar  Dili dan Macau di Cina sana. Walau Larantuka, Dili dan Macau punya hubungan sejarah  di  awal pembentukan, tetap saja Larantuka tidak segemilang kedua kota itu. Belum lagi, sejak politik VOC yang tidak memperhatikan daerah-daerah di luar Jawa, semakin menjauhkan Larantuka dari percaturan perdagangan masa VOC Belanda dan nyaris dilupakan.

    Maka benar kalau Sejahrawan Denys Lombard, dalam “Nusa Jawa Silang Budaya: Batas-batas Pembaratan”, memberikan pernyataan yang cukup menarik bahwa ketika VOC sibuk memperkokoh pengaruhnya di bandar-bandar besar Nusantara, kekatolikan berjalan secara baik dan terkadang mandiri di daerah-daerah Flores; daerah yang relatif jauh dari sentuhan dengan VOC pada awal-awalnya.

    Tapi itulah Larantuka.Sebagaimana Dili dan Macau, diam-diam orang menaruh simpati untuk datang mengunjunginya.Tinggal di Larantuka selama sepekan bukanlah waktu yang membosankan. Keindahan alam dan budaya Lamaholot memberikan arti tersendiri untuk mempekaya khazanah iman dan budaya bagi para pengunjung. Dari Larantuka, siapa pun dapat melakukan perjalanan ke wilayah-wilayah sekitarnya yang juga menyimpan keindahan budaya yang khas.

    Mengalami sepekan di Larantuka,merayakan paskah bersama umat Larantuka tetap menjadi dambaan siapa saja. Karena itu sejak sekarang, orang mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk dapat tiba di Larantuka untuk berlibur dan merayakan paskah umat kristiani (*)

  • Julie Laiskodat dan Aroma Tenun Ikat Daerah

    Julie Laiskodat dan Aroma Tenun Ikat Daerah

    NUSA Tenggara Timur, Rabu, 28 Agustus 2019, kembali mendapat kehormatan dikunjungi tamu kehormatan pula: Ibu Hj. Mufidah Jusuf Kalla, isteri Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla.

    Sekadar mengingat kembali, Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana, pada 21 Agustus 2019, juga menyambangi Nusa Tenggara Timur di Desa Nunkurus, Kabupaten Kupang dan meninjau Pelabuhan Tenau.

    Kunjungan resmi dalam kapasitas sebagai Ketua Dewan Kerajinan Nasional, Ibu Mufidah disambut Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Josef A Nae Soi; Ketua Dewan Kerajinan Daerah Nasional (Dekranasda) NTT Ibu Julie Sutrisno Laiskodat, isteri Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat; dan Wakil Ketua Dekranasda NTT Ibu Maria Fransisca Djogo Nae Soi, beserta sejumlah pejabat di lingkup Pemerintah Provinsi NTT.

    NTT dengan aneka kerajinan tenun ikat bernilai rasa estetika tinggi, hampir ditemui di hampir seluruh wilayah kabupaten dan kota tanah Flobamora. Kerja keras para perempuan menggeluti kerajinan tenun ikat warisan leluhur dengan aneka corak motif, bentuk, dan nilai rasa yang tinggi adalah bukti tenun ikat NTT senantiasa masih hidup di tengah masyarakat, terutama perempuan tanah Flobamora. Tenun ikat mampu melenggang ke tingkat bahkan dunia melalui pameran-pameran yang dilakukan para perancang busana.

    Siapa sosok perempuan di balik gemerlap hasil karya tenun ikat hingga hasil karya perempuan NTT itu dipajang di gerai-gerai kelas dunia seperti di New York di Amerika Serikat, London di Inggris atau Paris di Prancis, siapapun atau kita anak NTT akan dengan mudah menyebut nama ini: Julie Laiskodat.

    Apa yang melatari Julie tergila-gila mendorong, merogo kantong pribadinya, membina pengrajin tenun, dan membawa tenun ikat NTT dalam berbagai ajang pameran hasil kerajinan tenun tak hanya di Jakarta bahkan di manca negara jauh sebelum ia menjadi Ketua Dekranasda NTT?

    Ketua Dekranasda NTT Ibu Julie Sutrisno sungguh berniat memuliakan tenun kampung halaman kita, NTT. Perempuan pemilik butik LeVico itu terus bertekad memuliakan martabat perempuan pengrajin tenun ikat NTT.

    “Saya sudah keluar masuk kampung dan desa di NTT. Kampungmu di selatan Lembata juga sudah saya jelajahi. Saatnya kita tunjukkan ke dunia luar bahwa hasil kerajinan tenun ikat kita punya nilai seni luar biasa. Dalam waktu dekat saya akan ke Paris mengikuti Paris Fashion Week 2018,” ujar bunda Julie Laiskodat kepada saya usai menghadiri acara debat calon Gubernur-Wakil Gubernur di Jakarta. Debat yang juga diikuti Cagub-Cawagub Viktor Bungtilu Laiskodat-Josef A Nae Soi, yang saat ini menjadi orang nomor satu dan dua NTT.

    Kehadiran Ketua Umum Dekranas Ibu Hj. Mufidah Kalla yang dalam suasana kekeluargaan ini, tentu menjadi momentum penting bagaimana upaya Dekranasda NTT bersama isteri bupati/walikota seluruh NTT ikut bekerja keras dan bekerja cerdas dengan perempuan pengrajin memuliakan tenun NTT.

    Namun, ada hal yang juga tak kalah penting yaitu momen kehadiran Ibu Hj. Mufidah Kalla diharapkan ikut membantu memfasilitasi para pengrajin tenun mendapatkan aspek legalitas atas aneka kekayaan yang dihasilkan.

    Sekurang-kurangnya, tenun hasil kerajinan tersebut memperoleh perlindungan hukum terutama pengakuan hak atas kekayaan intelektual atau hak cipta, merk, paten, desain, dan lain sebagainya. Hal ini juga sekaligus mencegah pihak-pihak tertentu mengklaim hasil tenun NTT sebagai hak miliknya. Apalagi mendaftarkan hak patennya di Kementerian Hukum RepubIik Indonesia.

    Ansel Deri

  • Para Pencinta Buku, Inilah Tempat Nongrong yang Pas

    Para Pencinta Buku, Inilah Tempat Nongrong yang Pas

    Untuk para pencinta buku dan yang punya hobi membaca, ada satu tempat yang menjual buku-buku murah dan lengkap yaitu Wisata Buku di Jalan Salemba Jakarta Pusat.

    Wisata Buku Kenari di Jalan Salemba Raya nomor 2 Jakarta Pusat, depan Plasa Kenari Jakarta Pusat, kini jadi tempat nongrong yang menyenangkan bagi para pencinta buku.

    Lokasinya pun sangat strategis, dekat daerah Senen, Kramat, Salemba dan Matraman. Sementara Pasar buku atau tempat wisata buku berada di lantai tiga Pasar Kenari atau Pasar Kenari Lama. Di Lantai bawah masih menjadi tempat jualan peralatan instalasi listrik

    Para pedagang buku yang dulu berjualan di pasar Senen dan kwitang, kini menjajakan buku dalam ruang ber-AC. Ada kedai kopi, resto, minimarket, dan tempat untuk mengadakan acara diskusi buku.

    Di tempat ini, disediakan juga area baca nyaman untuk pengunjung, dan Co-working space yang dilengkapi dengan meja dan bangku.

    Berbeda dengan persediaan buku di toko toko buku besar seperti Toko Buku Gramedia misalnya, di tempat ini buku-bukunya lebih beragam yang tersedia di 65 kios.

    Buku-buku jaman dulu yang dicari masih banyak yang tersedia. Buku-buku dari daerah yang tak pernah singgah di toko buku besar juga bisa ditemukan di sini. Demikian pula buku sekolah dan kuliah. Harganya pun bisa dikompromi bahkan bisa didiskon hingga 50 persen. (Ben)

  • Sugapa, “Surganya Papua”

    Sugapa, “Surganya Papua”

    Sugapa, nama sebuah tempat di wilayah pegunungan tengah Papua ini barangkali belum banyak akrab di telinga banyak orang. Padahal ini adalah ibukota Kabupaten Intan Jaya yang mekar dari kabupaten Paniai tahun 2008.

    Sugapa dari kata  “Sugu” dalam bahasa bahasa Moni yang artinya tongkat itu, sering diplesetkan menjadi “Surganya Papua” lantaran keindahan alamnya dan sebagai pintu masuk ke puncak gunung Cartens. Mengenal Papua harus sampai ke Sugapa.

    Ada dua jalur untuk menuju Cartensz dari Sugapa, yaitu melalui Ugimba atau Soanggama. Keduanya memiliki karakteristik yang hampir sama, yaitu naik turun bukit melintasi hutan tropis. 

    “Surganya Papua?” Coba saja datang ke Sugapa dan menikmati panorama alam dan kehiduapn masyarakat di sana.  Malam dan pagi hari, kabut turun menutupi kota, rumah-rumah penduduk yang diterangi lampu solar cell kelihatan begitu redup dari kejauhan lantaran terhalang kabut. Entah pagi ataupun malam, hawanya segar seakan berada di sebuah kota di tengah hutan belantara tropis pedalaman Papua.

    Geofrafis dan topografis alam pegunungan, membentuk tekstur kota yang sungguh berbeda dari ibukota kabupaten yang lain. Dalam kota saja bukit dan lembah menjadi sandaran untuk rumah-rumah penduduk. Berjalan dari satu rumah ke rumah yang lain harus menikmati naik turun jalan yang menyesuaikan dengan perbukitan dan lembah yang ada. Keadaan ini pun sama, seperti hendak mengunjungi distrik/kecamatan yang ada di Intan Jaya.

    Sugapa adalah kampung yang mulai beranjak menjadi kota. Beban sebagai kota dan ibukota kabupaten pun sudah mulai terasa.  Sudah ada penerangan listrik, begitu pan sinyal telepon. Jalanan mulai dibangun, begitupun kantor dan rumah-rumah pegawai. 

     Untuk rumah-rumah penduduk di Sugapa, kebanyakan sudah memakai tembok dan seng sebagai atap. Lebih banyak berdinding kayu dari kayu-kayu yang diambil dari hutan sekiatarnya. Banyak juga penduduk yang masih mempertahankan  rumah honai.

    Kabupaten Intan Jaya baru sekali melangsung Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), dan  Januari 2017 nanti masyarakat melangsungkan Pilkada ke 2. Wilayah kabupaten Intan Jaya berada persis di tengah-tengah wilayah provinsi Papua dengan batas wilayah utara dengan Kabupaten Waropen, timur dengan kabupaten Puncak Jaya, selatan Kabupaten Paniai, dan barat dengan Nabire.

    Untuk sampai  di Sugapa, satu satunya transportasi adalah melalui jalan udara. Dua tempat yang menyediakan pesawat ke Sugapa adalah Nabire dan Timika dengan menggunakan pesawat jenis Cessna Caravan atau PESAWAT tipe Twin Otter.

    Harga tiket pesawat pun dihitung berdasarkan berat badan penumpang dan berat barang yang dibawa, kisarannya mulai dari Rp900.000-Rp2,5 juta, Biaya perjalanan yang terbilang mahal ini menyebabkan harga barang-barang di Sugapa sangat mahal, naik 4-5 kali lipat dengan harga di Nabire  dan Timika.

    Penerbangan dari kedua tempat ini membutuhkan waktu 40 menit. Selama di perjalanan, dapat menikmati pemandangan yang luar biasa indah, berupa hamparan hijau hutan, serta gunung-gunung di wilayah pegunungan tengah Papua.  

    Dalam jarak pandang dari ketinggian sekitar 12 ribu kaki (3,6 km) dapat terlihat bebatuan karst dengan gagah berdiri membelah hutan belantara. Dari kejauahan dapat dilihat puncak Cartens yang menjadi impian para pendaki gunung.  Hanya satu kandal yakni cuaca. Cuaca menuju Sugapa memang tidak menentu, yang menyebabkan pilot bisa secara tiba-tiba menunda keberangkatan pesawat.

    Di Bandara Sokopaki –Sugapa tidak punya  ruang kedatangan penumpang, pengambilan bagasi, dan fasilitas lain. Di sana, begitu keluar dari pintu pesawat disambut  kerumunan para tukang ojek atau  warga yang ingin membantu membawakan barang atau juga penjemput.

    Kehidupan warga Sugapa, umumnya bercocok tanam dan berburu. Kabupaten Intan Jaya memiliki 2 lembah yaitu Lembah Kemadoga dan Lembah Dugindoga yang subur dan ditanami sayur mayur, buah-buahan, ubi-ubian dan kopi arabica Moni. Hasil kebun  dijual di pasar tradisional di Kota Sugapa.  Sebagaimana pemandangan yang dijumpai di hampir semua pasar di Papua, sambil menunggu pembeli, mama-mama  biasanya sambil merajut noken.

    Sugapa memiliki sungai yang mengandung garam dan menjadi sumber garam bagi warga di pegunungan ini. Ada juga sungai air panas, serta Sungai Wabu dan Dogabu yang punya potensi arung jeram.

    Ppegunungan Cartens yang oleh masyarakat setempat disebut Pujapigu atau Mbainggelapa.  Nama Kemandoga atau Kemabundoga dari nama sungai Kemabu yang melintasi wilayah Kemandoga hingga menembus ke laut Pasifik Ousenia bagian utara Papua. Sungai Kemabu berasal dari padang salju pegunungan Cartens. Beberapa sungai lain di wilayah ini diantaranya sungai Wabu, Sungai Dogabu, dan Sungai Hiyabu.

    Wilayah Kabupaten Intan Jaya, terdiri dari banyak kampung diantaranya, Agisiga, Tousiga, Unabundoga, Mbamogo, Soali, Tembage, Bigasiga, Janasiga, Dapiaga, Kombongosiga, Danggoa, Tomosiga, Mbiandoga, Bugalaga, Dangatadi, Kalawa, Yagaito, Yanei, Ipouwa atau Edagitadi, Pagamba, Kigitadi, Maodagi, Mbiatapa, Aneya, Ular Merah, Maniwo,  Ndabatadi,  Wabui, Balamai, Sanaba, Kulapa, Pugisiga, Hitadipa, Zoanggama, Danggomba, Pogapa, Bila Satu, Bilai Dua, Sanepa, Mapa, Maiya, Degesiga, Zombandoga, Kobae, Salemama, Kendetapa, Hiyabu, Ogeapa, Bonogo, Agapa, Engganengga, Waiagepa, Hugitapa, Bubisiga, Bilogai, Emondi, Jalai, Mamba, Mindau, Puyagiya, Ugimba, Yogatapa, Yoparu, Titigi, Eknemba, Wandoga, Degeyabu, Mbilusiga, Ndugisiga, Kumbalagupa, Sabisa, Dubasiga, Debasiga, Mogalo, Janei, Mbugulo, dan Hulagupa.

     Di dalam kampung-kampung itu tinggalah beberapa suku yang dengan kehidupan yang sangat solider dan membantu satu sama lain. Suku Moni merupakan suku terbesar di wilayah ini. Suku yang lain adalah suku suku Wolani, suku Dani, Suku Nduga atau Ndauwa, Suku Dem/Delem/Wano, Suku Mee dan Suku Ekari.

    Suku-suku yang ada di wilayah ini menggunakan bahasanya masing-masing. Ada Bahasa Moni, Bahasa Wolani, Bahasa Nduga, bahasa Dani, Bahasa Damal, dan bahasa Dem. Budaya keakarban dan kekerabatan sangat, menonjol,  hidup berkelompok, berkerja berkelompok, gotong royong sudah merupakan bagian dari hidup masyarakat. Masyarakat merasa diri sebagai penakluk, penguasa dan pewaris alam dan lingkungan Kemandoga dan Dugindoga.(Benjamin Tukan)

  • Manusia Noken dan Karya Budaya

    Manusia Noken dan Karya Budaya

    Oleh Titus Pekei

    “Noken menjamin kehidupan. Noken Warisan budaya leluhur Papuani. Noken menyatukan sebagai warisan budaya takbenda. Namun noken memerlukan perlindungan yang mendesak, sebab noken sedang menuju musnah tanpa regenerasi.”

    Pencetus gagasan noken bukan tanpa konsep tetapi  punya jejak hidup dari sejak lahir dan besar bersama noken karena digendong dalam noken dan hingga dewasa membawa noken kemana pun pergi. Dengan Noken, segala permasalahan hidup bisa teratasi lantaran menjiwai nilai dasar yang terkandung dalam Noken.

    Menjiwai nilai dasar yang terkandung pada Noken, dapat digambarkan sebagai berikut, ”Noken ada dalam tubuh, ada hidup, ada nyawa, dan batin manusia, ada perasaan, ada pikiran dan angan-angan. Ada keutamaan dan ada sumber tenaga, ada semangat, ada maksud, ada daya hidup orang atau makhluk hidup lainnya. Selalu ada kegelisahan, ada senang dan ada suka, ada nasib yang tidak tentu, namun ada raga jiwa dan badan yang memerlukan perlindungan mendesak”.

    Dalam proses pembangunan peradaban bangsa suatu strategi yang konsepsional tidak selamanya menjangkau apa yang dimaksudkannya. Pembangunan sebagai proses, cara dan tindakan tidak selamanya berjalan liner, karena di sana juga ada tuntutan lain yakni nilai yang memungkinkan  suatu kemajuan lahir batin dengan berbagai norma seperti sopan santun, budi bahasa, dan budi pekerti. Selalu saja terlintas keinginan yang begitu kuat agar pembangunan dapat membangkitkan setiap insan manusia di muka bumi  untuk memiliki harkat dan martabat yang sama.

    Manusia Papua atau manusia Noken pun seperti manusia lain di atas planet bumi yang punya tabiat, akhlak dan watak sebagai kendali sifat batin dirinya. Pendekatan kebudayaan atau pendekatan budaya dianggap akan menjamin adanya kebangkitan naluri dalam bentuk jamak dari kata “budi” dan “daya” yang berarti cipta, rasa dan karsa. Sebab, budaya menyangkut keseluruhan aspek kehidupan manusia baik material maupun imaterial yang mesti saling memahami antara manusia yang satu kepada manusia yang lain secara bijaksana.

    Dalam membangun peradaban bangsa sangat membutuhkan proses pendekatan kebudayaan yang melingkupi substansi isi utama budaya, sifat-sifat budaya, sistem budaya, dan manusia sebagai pencipta dan pengguna kebudayaan. Pendekatan kebudayaan juga memperhatikan pengaruh budaya terhadap lingkungan dalam proses dan perkembangan kebudayaan disertai permasalahan kebudayaan dan perubahan kebudayaan. Wujud kebudayaan itu didalami sebagai suatu rangkaian tindakan dan aktivitas manusia yang mempunyai atau memakai pola yang unik dengan kekhasan yang tak tergantikan.

    Misalnya, Manusia Noken tidak bisa dipisahkan dari pulau, alam, tanah sebagai tempat hunian. Ketereikatan dengan tanah, dan alam, memungkinkan manusia Papua menghayati kehidupan sehari-hari secara bijaksana yang bermuara pada ilmu pengetahuan hidup. Kehidupan dari pengetahuan alam ini telah dibuktikan dengan ilmu noken yang menyebar pada  kurang lebih 250 suku/etnik. Dengan kata lain, nurani Noken karya budaya telah  menyertai bersama manusia Papua

    Tanpa terlalu merumitkan persoalan dengan kepakaran ilmu pendidikan formal, mengenal manusia Papua dapat dimulai dari mengenal kebijaksaan  dan ilmu pengetahuan alami  yang dimilikinya. jika pun harus didekati dengan ilmu pengetahunan formal, maka ilmu itu mampu menemukan  metodologis yang sistematis secara Papuani.

    Manusia Papua, Manusia Noken

    Mengapa Manusia Papua disebut manusia Noken? Sebab sifat hakiki dari kebudayaan atau budaya itu sendiri tercermin dari apa yang dihasilkannya. Mengenal karya budaya luhur mesti masuk lewat Manusia Papua yang selanjutnya disingkat MaP dan kemudian disebut Manusia Noken yang selanjutnya disingkat MaN. Hakikatnya, MaP menghasilkan karya budaya luhur sebagai manusia Noken atau sebaliknya MaN merajut atau menganyam kehidupan sebagai manusia Papua.

    Hakikat mengenal MaP atau MaN, hal pertama yang terlintas dalam benak, tentu terukir suatu kesan seperti ketertinggalan, kebodohan, kemiskinan dan kekerasan dan lainnya sebagainya, sesuai cara pandang yang tercermin dari hati dan pikiran. Kenyataannya, MaP atau MaN mampu menghadirkan noken kehidupan bukan sebatas pendekatan seperti dalam bayangan, tetapi dalam wujud alam nyata dan alam pikir manusia secara Papuani.

    MaP atau MaN menjalani hidup bukan dalam dunia mimpi akan tetapi dunia nyata. Dengan pendekatan ilmu Noken pun MaP dapat bertahan hidup. Pada hakekatnya, MaP terus mengalami dinamika kehidupan. Ketika mengalami kesuksesan dan kesulitan hidup, yang dicari adalah memahami dan  mengandalkan pada alam pikir dirinya alam yang menyertai.

    Sistem pengetahuan yang dimiliki oleh manusia noken dari masa lalu entah sebagai manusia sosial, budaya dan komunitas adat, dalam pergumulan hidupnya selalu bertolak dari alam sekitarnya. Tumbuhan, hewan dan segala bahan mentah dan benda yang disediakan lingkungan sekitarnya mempengaruhi sifat dan tingka laku berhadapan dengan sesama manusia dalam ruang dan waktu. Lambat laun, berdasarkan pengalaman, pendidikan formal yang diperoleh, juga petunjuk simbolis yang diterima terjadilah penggabungan berbagai pengetahuan, tersusun secara logis dan bersistem dengan memperhitungkan sebab dan akibat yang akan dirasakan dan dialaminya.

    Upaya menggali karya budaya akan mengalami kesulitan tanpa mengenal sebagai MaP atau MaN. Manusia yang memakai cermin jarak jauh atau pun dekat  harus mulai menentukan posisi yang pasti agar tepat untuk mengenal.

    Sebenarnya, mengenal MaP atau MaN tidak sulit seperti bayangan cermin yang bertolak dari pikiran jarak jauh atau dekat. Bila hendak mulai, maka mesti berpijak pada manusia noken itu sendiri secara teliti, cermat atau saksama maka akan dengan mudah mengenalnya. Hal yang segera diperoleh adalah siapa pun tidak boleh menyepeleghkan namun menghargai noken sebagai karya budaya manusia yang sama harkatnya. Kemampuan merajut atau menganyam noken kehidupan menjadi salah satu penghayatan agar menghayati manusia Noken tanpa menganggap hal yang biasa atau remeh ketika melihat manusia noken.

    Begitu pun, sebelum memahami pulau alam tanah Papua pun bukan melalui jalan lain tetapi kedepankan dengan pendekatan kemuanusiaan sebagai hakikat adanya manusia yang sama harkat dan martabat sebagai ciptaanNya tanpa merobek/merusak noken kehidupan. Pulau Papua adalah satu kawasan kepulauan terbesar kedua dunia dan dikelilingi pulau-pulau kecil disekitarnya dengan pose yang unik dengan segala kekhasannya.

    Noken hasil kemahiran perajin memampukan sebagai pengetahuan yang dapat memampukan dan membangkitkan semangat atas tumpuan ilmu, pengetahuan dengan alam pikir manusia Papua atau manusia Noken. MaN dan Map telah menghasilkan noken sebagai tumpuan  ilmu pengetahuan yang menghidupkan komunitas noken di 7 (tujuh) wilayah masyarakat adat Papua.

    Memahami  alam Papua merupakan pemahaman akan segala sesuatu yang ada dan tidak sama dengan alam lain dalam satu planet bumi baik geografis, iklim, cuaca dan bentuk keanekaragaman hayati serta potensi alam yang terbarukan dan takterbarukan di dalam alam maupun diatas alam itu sendiri.

    Memahmi tanah Papua adalah memahami satu kawasan pijakan hidup manusia dan segala komponen hidup (biotik) dan komponen takhidup (abiotik) yang saling mendukung dalam kehidupannya dan oleh manusia Papua katakana tanah adalah mama (noukai)/ibunda (akukai) yang tidak bisa di perjual-belikan karena mama/bundanya.

    Tradisi Noken berwujud nyata zaman leluhur ada dan berabad-abad lamanya dikenal dalam kehidupan sehari-hari namun tidak pernah tersirat dan tercatat tahun berapa noken ada diatas tanah Papua. Artinya, leluhur manusia mulai ada di situ, noken pun mereka hasilkan dan gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

    Beberapa Pengertian

    a.  Noken

    Noken merupakan salah satu wadah hasil rajutan atau anyaman kerajinan tangan masyarakat adat Papua. Noken adalah hasil rajutan atau anyaman kerajinan tangan masyarakat adat di tujuh wilayah adat Papua. Noken sudah menjadi tradisi dalam kehidupan sehari-hari dan sudah turun-temurun sejak nenek moyang leluhur suku bangsanya. Hingga kini noken masih dijalankan dan dipertahankan dalam penghayatan hidup sehari-hari sebagai masyarakat atau manusia noken.

    Noken adalah salah satu karya budaya yang sudah berkearifan lokal yang mewadahi diri, pribadi, keluarga, komunitas suku bangsa, masyarakat adat. Dalam berbangsa dan bernegara pun membutuhkan wadah agar hidup menyatu tanpa menjadikan sesuatu yang lain dalam kehidupan sehari-hari. Noken adalah salah satu wadah multifungsi yang dimanfaatkan oleh masyarakat adat Papua baik dalam keadaan suka dan duka, senang dan sulit dapat menyemangati sebagai identitas jati-dirinya.

    Keberpihakan melalui karya budaya luhur menjadi sangat penting dalam merajut atau menganyam noken kebersamaan tanpa merobek atau merusak Noken kehidupan. Salah satu cara mengenal kerajinan tangan masyarakat Papua dan mereka membuat dari bahan baku apa dan ambil di mana menjadi penting untuk mengetahui Noken secara benar tanpa menyesatkan noken kehidupan itu pada kelaknya. 

    b. Manusia Noken

    Salah satu cara memahami manusia Noken (MaN) lewat hasil karya kerajinan tangan masyarakat atau manusia Papua (MaP) menurut budi dan daya dapat terwujud sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa masyarakat di 7 (tujuh) wilayah adat. MaN mempertahankan harkat diri dan memperkaya dengan makna-makna, nilai-nilai, norma-norma dan gagasan-gagasan filsafat noken kehidupan dalam mengisi proses pembangunan yang selaras dan seimbang sesuai kearifan lokal secara Papuani.

    c. Penggagas Noken

    Penggagas adalah pemikir atau pencetus gagasan yang memikirkan pentingnya penyelamatan karya budaya manusia atas dasar tumpuan hidup yang berkelanjutan tanpa batas. Sementara gagasan adalah hasil pemikiran, ide tentang sesuatu sebagai pokok atau tumpuan dasar pemikiran selanjutnya untuk  dikenal dan dipraktikan.

    Penggagas  Noken adalah pribadi yang menyatukan hati, pikiran untuk melahirkan kembali atas karya budaya leluhur agar bangkit beralaskan identitas jati-dirinya sebagai manusia noken di tanah Papua. Penggagas Noken adalah orang memikirkan, meneliti dan mendalami secara konsisten tentang Noken dengan mengikuti pemikiran, ide, gagasan komunitas perajin noken sebagai pokok sumber alam pikir atau tumpuan untuk pemikiran selanjutnya.

    Penggagas adalah pemikir atau pencetus gagasan bukan pembuat atau perajin kerajinan tangan tetapi penggali nilai dan makna noken kehidupan yang menjadi tradisi hidup masyarakat adat tujuh wilayah Papua.

    Penggagas noken mestinya putra asal Papua yang lahir dan besar dalam komunitas noken suku bangsanya. Ia dilahirkan dan dibungkus dalam noken dan dibesarkan pun dengan noken yang layaknya disebut anak Noken. Setiap manusia Papua tidak mungkin mengalami hal serupa tetapi, siapapun manusia Papua adalah anak Noken karena mereka dilahirkan dalam komunitas noken suku bangsanya sebagai harkat hidup manusia Noken atau manusia Papua.

    d. Penggali Noken

    Penggali adalah pribadi yang punya tekad untuk menghidupkan kembali dengan semangat merajut atau menganyam noken kehidupan manusia Papua sebagai manusia Noken. Jika tidak dilakukan lambat laun akan menuju krisis identitas dan jati-diri budaya hal mana seakan manusia Papua tidak memiliki karya budaya luhur dirinya. Pemaknaan penggali bukan pendekatan kepakaran pendidikan formal tertentu tetapi mereka yang menjiwai dan menjadi pribadi noken dengan menelusuri melalui  jalan mengenal, menyapa dan mengangkat serta menyelamatkan tradisi dengan memosisikan mata budaya Papuani. 

    Sang Penggali adalah orang yang menggali supaya tidak musnah tetapi terus ada kedepan dan akhirnya menjadi bukti konsistensi putra asli Papua tanpa sekedar pemikiran wacana tetapi sampai menyelamatkan warisan budaya luhur yang dimiliki masyarakat atau manusia Papua.

    Sang adalah satuan kata yang dipakai di depan nama bagi pribadi yang memunculkan, meneruskan dengan perjuangan tak kenal lelah sampai menghadiri sidang penetapan mata budaya Papua terdaftar sebagai situs warisan budaya takbenda atau warisan dunia di Markas Unesco Paris. Penggali merupakan sebutan depan dari sasaran yang sudah diperkenalkan ke publik baik lokal, nasional dan internasional.

    Penggali adalah pribadi yang memunculkan pikiran awal dengan membangun pemahaman karya budaya manusia Papua secara komunal sejak 2008. Setelah beberapa tahun kemudian di tahun 2010 diingatkan kembali tentang karya budaya manusia Papua. Pada saat itu, bersama saudara Yulianus Kuayo, pernah berdiskusi pentingnya warisan budaya universal (semua suku punya noken) di tanah papua akhirnya, pemerintah pusat dan pemerintah daerah membicarakan tentang pentingnya noken sebagai karya budaya manusia Papua.

    Sang penggali noken bukan perajian kerajinan tangan yang bisa membuat tetapi pribadi yang di besarkan dalam komunitas Noken. Noken sebagai hasil karya tangan masyarakat atau manusia Papua secara komunal menurut suku bangsa namun dihadirkan lewat pribadi/individu perajin noken yaitu mama-mama noken dari hampir semua komunitas suku-suku bangsa di Papua. Ada pun perajin bapak-bapak yang secara trampil membuat noken anggrek dari daerah suku bangsa Mee di Meuwo tanah Papua.

    e. Lembaga Noken Papua

    Lembaga Noken Papua  adalah wadah yang didirikan demi kesatuan ekologi pulau alam tanah Papua dan mengkaji tentang alam lingkungan, penghuni tunggal di atas kawasan wilayah yang penuh misteri atas peradaban dirinya. Lembaga Ekologi Papua (Ecology Papua Institute -EPI) berdiri 9 September 2001. Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan keadaan (kondisi) alam sekitarnya dalam kesatuan lingkungan alam nyata dan sebaliknya dapat terwujud untuk saling menopang, mendukung dan menjamin dalam ketahanan lingkungan alam sekitarnya secara berkelanjutan;

    f. Papuani

    Papuani adalah orang yang menjiwai sikap rasa memiliki secara sungguh-sungguh terhadap penghuni alam tanah Papua termasuk manusia dan alam sekitar dengan penuh keberpihakannya.

    Noken Setelah Ditetapkan UNESCO

    Secara resmi Noken dibahas dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda atau Warisan Dunia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) di Markas UNESCO di Paris, Prancis, 4 Desember 2012. Keputusan ini diketuk palu oleh Arley Gill dari Grenada yang saat itu menjadi ketua Sidang Komite. Lembaga PBB untuk Bidang Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan, ini secara resmi menilai tas rajutan atau anyaman multifungsi tersebut memerlukan perlindungan mendesak.

    Dengan penetapan oleh UNESCO ini, Noken mulai dikenal dan mendunia.  Dalam sidang UNESCO pun telah membahas dan menetapkan betapa pentingnya kehadiran Noken sebagai warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage), suatu karya budaya yang hidup dalam komunitas suku bangsa di tanah Papua. Sidang berlangsung tanpa hambatan dan menjadi momentum penting perjalanan warisan takbenda dalam hal ini Noken. Noken telah memiliki arti penting atas keabadian budaya dalam menata peradaban dunia baru atas karya budaya manusia Papua yang luhur dan diwariskan secara turun-temurun hingga kini.

    Peristiwa penetapan ini menjadi kejutan bagi Manusia Papua (MaP) dan manusia Indonesia (MI). Lalu apa tanggapannya, pasti bangga dan memberi pujian terhadap Noken dan Manusia Papua dan Pemerintah Indonesia atas pengakuan noken itu. Tanggapan lain pun menyertiainya bahwa membahas apa isinya dan akan mendapat apa setelah Noken ditetapkan oleh lembaga PBB UNESCO yang bermarkas di Paris itu.

    Memang, kenyataannya orang-orang Papua sendiri mulai melupakan ketika tidak membuat noken dan memakai noken. Kian  hari kecintaan terhadap noken semakin menurun sebagai gejala menuju pemusnaan. Terutama di pusat-pusat kota di seluruh tanah Papua, noken mulai jarang dipakai dan mulai digantikan dengan banyaknya jenis barang berupa tas yang masuk dari luar. Pada kenyataannya, pemilik warisan budaya luhur noken itu sendiri tidak mengenakan noken kehidupan pada dirinya kecuali tas kantong plastik, tas kain, tas karung, tas nylon,  tas woll dan lainya. Keadaan ini sungguh sangat memprihatinkan dan jika tidak diperhatikan, lambat laun noken yang di dalamnya terkandung nilai, kepercayaan, tradisi serta sejarah dari masyarakat Papua dapat menuju kepunahan.

    Ketika noken sedang menuju krisis nilai-nilai budaya yang terkandung dalamnya, masyarakat Papua sebagai pemilik jarang memikirkan untuk melestarikan dan menyelamatkan noken agar tidak musna/punah. Karena itu, dasar pemikiran adanya perlindungan noken, telah memberi arti dan makna pentingnya noken dalam kehidupan manusia Papua yang sedang menuju krisis identitas budaya. Kekuatiran bahwa orang Papua akan terancam punah pada beberapa tahun ke depan dapat diatasi dengan mulai  memberi motivasi awal bahwa “Cermin Noken Ekologi Papua”, dapat menjadi pintu masuk  menyelamatkan dan melestarikan warisan budaya papuani.

    Setelah noken ditetapkan, hal yang tak bisa diabaikan adalah bagaimana memberi perlindungan hukum atas hak kekayaan intelektual (HKI)  sebagaimana telah dikenal di negara-negara maju.  Perlindungan ini dimaksud agar terlindungi dari pemanfaatan tanpa hal dan melanggar kepatutan. Perlindungan ini pun memiliki arti penting untuk memberikan kekuatan pendorong bagi masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan, serta meningkatkan eksistensi dan jatidiri masyarakat.

    Namun, kebutuhan untuk melakukan perlindungan hukum terutama yang menyangkut HKI, menghadapi persoalan karena belum sempurnanya mekanisme hak cipta yang mengakomodasi perlindungan dan pemanfaatan  yang layak bagi karya yang bersifat kolektif dan komunitas. HKI untuk karya cipta yang diketahui adalah hak individu atas penciptanya.

    Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional (PT dan EBT), merupakan hal yang baru bagi bangsa Indonesia terutama di Papua. Permasalahan muncul disebabkan berkembangnya aspek hukum Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dalam karya-karya budaya yang kepemilikannya yang bersifat kolektif dan telah diwariskan secara turun-menurun serta tidak diketahui siapa penciptanya.

    Kondisi sebagaimana dimaksud di atas, sudah selayak dan sepatutnya untuk mencari jalan lain agar dari segi hukum, noken tetap dilindungi. Salah satunya melalui sebuah produk peraturan perundang-undangan tersendiri. Dalam hal ini pemerintah daerah baik di tingkat provinsi maupun kabupaten perlu merumuskan kebiajakan daerah terkait dengan upaya perlindungan noken. Untuk mewujudkan hal ini maka komitemen dan kerja sama pemerintah pusat dan daerah tentu sangat diperlukan.

    Pada hakikatnya, noken warisan budaya takbenda dihayati sebagai wadah diri, wadah keluarga, wadah komunitas, wadah masyatakat dan bahkan kehadiran bangsa-negara pun membutuhan wadah dalam penguatan karakter bangsa manusia tanpa sinisme karena membutuhkan pelindungan dan pengembangan atas warisan budaya luhur ini. Kenyataannya pun tampak bahwa sinisme di benak pemilik warisan budaya leluhur tanpa menilai bahwa noken warisan budaya yang luhur ini tersimpan berbagai nilai-nilai yang hidup demi menghidupkan dalam kehidupan sehari-hari dari generasi dahulu, sekarang dan akan datang.

    Noken sebagai warisan budaya yang terancam punah, sudah selayaknya dilindungi oleh negara. Adapun upaya untuk melestarikan noken yaitu dengan melakukan proses identifikasi, inventarisasi (pencatatan noken sebagai warisan budaya Takbenda), penelitian, preservasi (menjaga dan memelihara), memajukan (asalkan tidak tercerabut dari akar budayanya), dan mentransmisikan budaya noken melalui berbagai kegiatan.@