Category: JELAJAH

  • Mendulang Cinta Tuhan – Sebuah Kado Pernikahan Premy dan Esty

    Mendulang Cinta Tuhan – Sebuah Kado Pernikahan Premy dan Esty

     

    Oleh Paskalis Liko Bataona

     

    Jumat, 14 Juli 2023 adalah hari yang sangat indah buat  Pius Terong Bataona (Premy) dan Yustina Lelo Duli (Esty). Pada hari itu bertempat di Kapel Dua Ferong, Premy dan Esty “mengikrarkan janji perkawinan” mereka.  Dengan Perayaan Ekaristi Perkawinan ini, Premy dan Esty berkomitmen untuk tetap bersama membangun bahtera rumah tangga mereka. Premy dan Esty ingin meletakkan Tuhan sebagai fondasi membangun rumah tangga mereka. Tuhan ingin mereka jadikan jurumudi untuk bahtera perjalanan hidup perkawinan mereka. Seluruh rangkaian acara perkawinan Premy  dan Esty dimotori oleh Komunitas 47 Arus Tanjung.

    Filsuf Gabriel Marcel, seprang filsuf yang sangat intens membicarakan cinta,  melihat cinta sebagai pengalaman yang sifatnya intersubyektif. Cinta, menurutnya merupakan pengalaman yang amat personal, sangat pribadi dari mereka yang saling mencintai. Hanya mereka yang pernah terlibat dalam pengalaman mencintai dan dicintai yang bisa memahami dengan sepenuhnya makna cinta; kehangatan, dan kemesraan.

    Di dalam Kitab Suci, Allah juga dilukiskan sebagai Sang Pemberi Cinta terhadap umat-Nya. Allah mengambil peranaan pada familia (keluarga) manusia di dalam pembebasan Israel dari penjajahan di Mesir. Allah tidak hanya menempatkan manusia di dalam relasi dengan diri-Nya melainkan juga relasi dengan sesama sebagai suatu keluarga. Pada Kitab para nabi juga kita melihat gambaran Allah  sebagai pengantin:“Aku akan menjadi suamimu selama-lamanya: Aku menjadi suamimu di dalam kebenaran dan keadilan di dalam cinta dan belas kasih” (Hos 2:21).

    Perkawinan menurut pengertian kristiani adalah kontrak dan janji oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk membentuk suatu kebersamaan seluruh hidup. Komitmen untuk membangun rumah tangga bersama adalah aplikasi dari pernyataan Yesus sendiiri, “Mereka bukan lagi dua melainkan satu”.

    Yang mesti dirawat dalam hidup perkawinan adalah  nasihat dari Rasul Paulus bahwa kasih suami istri adalah sebuah kasih agape di mana cinta itu benar-benar harus ditampilkan secara sempurna: pemberian diri satu sama lain. Mereka yang ada didalam kasih akan memandang sesamanya sebagai subyek yang terus disenangkan, dijaga, didewasakan dan dihargai sebagai manusia.

    Perkawinan menjadi sebuah persahabatan yang sempurna kalau cinta kasih itu diwujudkan secara tulus dan murni. Jami Beding, seorang bapak yang sudah berpengalaman menempuh lautan gelombang kehidupan perkawinan memberikan tanda kasihnya kepada keluarga baru Premy dan Esty dengan sebuah puisi. Jami, yang juga penasihat Komunitas 47 Arus Tanjung, meyakini bahwa puisi adalah kisah cinta yang dirangkai dalam bahasa iman. Kita baca  puisinya:

    Ungkapan Rasa Bersamamu

    Siapakah dia yang muncul dari padang gurun
    Yang bersandar pada kekasihnya
    Dibawah pohon apel kubangunkan engkau
    Disanalah ibumu telah mengandung engkau
    Disanalah ia mengandung dan melahirkan engkau
    Tarulah aku seperti meterai pada hatimu
    Seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut
    Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta
    Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta
    Sungai sungai tak dapat menghangatkannya
    Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta
    Namun…, ia pasti akan dihina
    Saat ini…. ditangan teman temanmu ini…
    ada perabot rumah tangga yang tak berarti bagimu…
    terimalah dengan senyum kebanggaan
    sebagai kenang kenangan yang berarti
    dalam menapaki bahtera berumah tangga…
    karena hari ini, detik ini juga,
    arus di tanjung yang kita pijaki ini lagi tidak bersahabat….

    Lamalera, 14 Juli 2023

     

     

     

     

  • Cerita Gadis 12 Tahun Bertemu Kera di Pulau Waibalun

    Oleh Oa Chella Tukan

    Siswa Kelas VI SD Marsudirini – Jakarta Timur

    Sudah hampir sebulan Oa libur di Larantuka. Sudah kemana-mana tapi baru Selasa, 4 Mei 2021, Oa pergi melihat dari dekat Pulau Waibalun. Pulau Waibalun terletak di kelurahan Waibalun- Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

    Di Jakarta, Oa sempat nonton Yutube yang meceritrakan pulau ini. Entah siapa yang buat. Lupa. Pokoknya KEREN de. Jadi penasaran sekali waktu bisa lihat sendiri pulau ini.

    Sebelum berangkat, sehari sebelumnya, kaka-kaka Oa, sudah buat rencana ke Pulau Waibalun. Kebetulan hari Selasa, 4 Mei 2021, bertepatan dengan acara nikahan famili Bapa di Waibalun. Kata kaka-kaka, setelah dari pulau Waibalun siang, sorenya kita mampir di acara pernikahan, biar sekalian jalan.

    Hari Selasa, pagi-pagi kami sudah bersiap-siap pergi. Dari rumah, kami ada empat orang, yakni Oa, kaka Chelin, Kaka Oa dan Kaka Oni. Kaka Oa itu sepupuku. Di rumah dipanggil Oa juga. Jadi kita panggil Kaka Oa.

    Kami berangkat ke Waibalun. Di Waibalun kami bertemu dengan Kak Titin, teman Kaka Oa. Kami bersama pergi ke pulau Waibalun dengan menumpang perahu motor yang biasa mengantar orang-orang pergi-pulang pulau itu. Berapa ongkosnya? Oa ga ngerti. Kaka Oa yang mengatur semuanya. Tapi sebelum berangkat kita mampir di warung beli makanan kacang buat bekal di jalan.

    Sampai ke Pulau Waibalun, saat mau foto-foto dan mau naik ke atas bukit, kita lihat ada Kera. Pertama satu ekor, tapi lama-lama banyak. Kita takut dan akhirnya memutuskan untuk tidak naik ke bukit, tapi hanya foto foto aja di bawah.

    Selang 15 menit kita foto, ada kera bapa bapa,  tidak besar tapi juga tidak kecil, melintas sekitar kita.  Dia kayak liatin kita terus.  Untung kita udah beli kacang, sehingga makanan itu sebagian kita kasih ke kera itu.

    Kita lanjutin foto lagi sambil main laut nya.  Bagus banget tempatnya. Tapi tiba tiba ada satu kera lagi datang. Dia datang lewat kolong jembatan tempat perahu yang mengantar kita tadi berhenti . Sepertinya kera itu mau sembunyi di bawah kolong sambil liat liat kita.

    Kita lanjut foto lagi. Tapi tanpa kita tahu, kera yang bersembunyi itu sepertinya panggil kera yang lain. Tiba tiba ada sekitar 7 kera yang menghampiri kita.  Ya udah, kita kasih makan dengan kacang yang masih sisa.

    Kera kera itu seperti sedang lapar. Mereka makan kacang kacang itu begitu cepatnya. Setelah kacang-kacang itu habis,  terus mereka pergi.

    Dari kejauhan terlihat kera nya kayak nunjukin gigi taring mereka. Kera-kera yang tadi makan kacang ternyata tidak hanya mereka. Mulai datang makin banyak kera yang bergabung.

    Kera yang baru datang ini keliahatan berani berani dan ganas. Mereka menghampiri kita dan mau menerkam kita.  Oa takut, Cheline, Kaka Oa, Kak Oni takut tapi kata kak Oa kita kalem aja

    Abis itu kita duduk beristirahat di salah satu pojok jembatan.  Kera kera itu terus minta makan ke kita. Mereka mengepung kita. Kita kewalahan menghadapi mereka. Salah satu cara, kita harus meninggalkan tempat ini.

    Kak Titin mulai angkat telpon dan menelpon orang yang punya kapal yang tadi mengantar kita ke pulau ini. Kaka Titin minta agar bapa itu datang kembali menjemput kita.

    Sambil tunggu kapal datang, Ka Titin itu ngomong pake bahasa Waibalun kepada kera kera itu. Kera itu sepertinya mengerti.  Kera-kera itu langsung mundur pelan pelan. Tidak lama, saat kita lihat ke belakang udah ga ada mereka. Mereka sudah naik ke pohon

    Di atas pohon,  kera kera itu kayak teriak gitu. Mereka tunjuk lagi gigi mereka. Walau jauh, kita juga takut.  Tapi kita tidak boleh bergerak, karena kalau kita bergerak, mereka mendekat lagi.

    Kapal nya datang.  abis itu kita turun mau ke kapal. Kera itu pun melompat dari ranting pohon, membuntuti kita. Kera-kera berdiri di ujung jembatan, saat kita di atas perahu motor. Kera-kera terus liatin kita sambil terus teriak teriak gitu.

    Wah, pokonya seru d. Oa mau ke pulau itu lagi, kalau kaka-kaka tidak sibuk untuk mengantarnya.

    sampai jumpa.

  • “Ayo ke Gua Siput”, Alumni Gabriel Kunjungi Romo Eman Temaluru

    BERANDANEGERI.COM,- Jelang Pekan Suci dalam kalander Liturgi Gereja Katolik, Paguyuban Alumni SMPK St, Gabriel Sarotari Larantuka Angkatan 1-6, berkunjung ke kediaman Romo Eman Temaluru, di Paroki Leworahang-Lewolema, Flores Timur, Minggu, (21/3).  

    Selain sebagai kunjungan silaturahmi sesama alumni, karena Romo Eman juga adalah alumni SMPK Gabriel, kesempatan kunjungan ini digunakan untuk bersiarah ke Gua Maria Bintang Laut atau biasa disebut Gua Siput.

    Gua Siput , merupakan gua yang didesain unik dan menarik lantaran patung Bunda Maria menggendong kanak Yesus diletakan di dalam gua yang berbentuk siput.

    Para alumni SMPK St. Gabriel Sarotari Larantuka, saat berkunjung ke Gua Maria Bintang Laut, atau biasa disebut Gua Siput

    Gua yang didirikan di Stasi Agustinus Kawaliwu ini, memiliki  halaman yang cukup luas untuk para peziarah yang hendak datang berdoa ke tempat ini.

    Letak gua pun berada di antara pepohonan, menjadikan tempat ini sangat sejuk dan nyaman. Selain menjadi ruang terbuka untuk doa, membelakangi tempat ini terlihat hamparan laut teluk Flores nan indah.

    Karena itu, bagi pesiarah yang datang, setelah berdoa, tempat ini dapat menjadi objek untuk berfoto serta beristirahat.

    “Gua ini sepertinya masih baru, tapi kami sungguh merasa senang berada di sini karena tempatnya indah, tenang dan menarik. Kami akan kembali ke sini dan menjadikan tempat ini tempat ziarah keluarga,” ungkap salah satu alumni yang mengikuti kegiataan ini.

    Leworahang berada pada arah barat kota Larantuka dan hanya satu jam dari pusat kota, dengan kendaraan roda dua atau empat dapat menemui tempat nan nyaman dan tenang ini.

    Berbeda dengan Larantuka yang memiliki pantai di bagian selatan, Leworahang dan Kawaliwu memiliki pantai di bagian utara atau berada peris dalam teluk pulau Flores.

    Letak tempat ini berdekatan dengan tempat wisata air panas Kawalilu yang berada di dalam teluk Flores bagian utara. “Ayo ke Gua Siput ! (bn)

    Catatan : Berita ini telah dikoreksi setelah mendapat komentar pembaca. (Red)

  • Amon Djobo, Ones Laa, dan Dugong

    Amon Djobo, Ones Laa, dan Dugong

    ALOR menyimpan sejuta pesona. Entah pesona wisata alam maupun budaya. Di bidang lain jangan tanya lagi. Olahraga atau seni, misalnya, Kabupaten Alor juga punya nama mentereng. Kabupaten yang behadapan muka dengan Pulau Lembata, Indonesia atau berjarak sepelemparan batu dari Atauro, pulau di Republik Demokratik Timor Leste atau Timor Leste, negara adalah wilayah terluar Indonesia yang terbilang unik dan mistis. “Kalau anak panah sudah dilepaskan dari busur untuk melumpuhkan musuh ia akan mencari sendiri sasaran yang dituju. Panah Alor akan melumpuhkan Komodo, Paus atau Kuda Sandel. Tim Nusa Kenari akan menggunakan ilmu hitam paling sakti untuk melumatkan setiap pergerakan lawan di bawah mistar gawang. Tim-tim luar Timor akan pulang membawa duka dan Alor akan “terbang” ke markasnya bermodal selembar daun,” kata Justin, teman loper koran saya saat kami berada di Tribun bagian barat Stadion Oepoi Kupang menyaksikan laga El Tari Memorial Cup tahun 90-an, turnamen bola antartim memperebutkan Tropi dan hadiah turnamen yang digagas mantan Gubernur NTT El Tari.

    Alor memang memiliki daya tarik luar biasa. Tak sebatas kisah-kisah mistik yang membalut kabupaten nan eksotik itu di bibir pantai Lembata bagian timur. Bahkan lebih dari itu. Alor memiliki daya tarik tersendiri. Al Quran dari kulit kayu pun ada di Alor. Anggota DPR Adji Massaid merasa terharu saat menyambangi Alor. Kata Adjie saat saya sambangi di ruang kerjanya, kompleks DPR RI, mengaku kabupaten itu menyimpan pesona luar biasa besar bagi pengunjung. Masyarakatnya sangat ramah; sesuatu yang juga menjadi kerinduan wisatawan saat menghabiskan waktu berhari-hari mengakrabi pesona bawah laut pulau-pulau di wilayah Kabupaten Alor. Mari menikmati pesona nan eksotik pulau-pulau mungil lainnya seperti Pulau Kepa, Pantar, Rusa, dan lain-lain. Sumber daya manusia Alor pun meroket ke tingkat nasional. Syahrir Ika, dosen dan orang penting di Bagian Analisa Fiskal Kementerian Keuangan Republik Indonesia adalah putera Alor. Masih ingat Hasan Azhari Oramahi, penyiar TVRI era 1980-an segenerasi Luther Kalasuad, Dian Budiargo, Max Sopacua, Indirwan, Yan Partawijaya, Yasir Denhas, dll, adalah wartawan senior dari Alor.

    Atau sekadar menyebut Irjen Pol Drs Johni Asadoma, SIK, M.Hum, Ketua Umum Pertina, mantan Wakil Kepala Polda NTT yang sejak 17 Juli 2020 mengemban amanat sebagai Kepala Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri. Pun Dr Imanuel Ekadianus Blegur, mantan Ketua Umum GMKI dan staf Gubernur Viktor Laiskodat adalah putra Alor yang mengabdi di tingkat nasional. Berikut Thobias Tubulau, Asisten Deputi Industri Olahraga, Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia adalah putra Alor yang mengabdi di tingkat nasional. “Kita bekerja dengan hati agar berarti bagi bangsa dan negara. Kita bantu juga daerah kita sepanjang kita bisa,” kata Thobias kepada saya suatu waktu di sela-sela Raker dengan Menteri Pemuda dan Olahraga dan jajarannya dengan Komisi Olahraga DPR RI di Lt 1 Gedung Nusantara Senayan, Jakarta. Lalu balik ke kompleks Universitas Kristen Artha Wacana Kupang ada Dr Johni Lumba, Dekan Fakultas Ilmu Keguruan. Lalu bergeser ke Pulau Dewata ada Yabes Malaifani, pemain betkarakter yang tengah merumput di Bali United. Pun Andmesh Kamaleng, finalis Indonesia Idol 2018 adalah anak-anak Alor yang mengharumkan nama daerah dan tanah Flobamora.

    Festival Dugong

    Amon Djobo, Bupati Alor mengaku kabupaten yang ia pimpin menyimpan pesona wisata luar biasa besar. Festival Dugong di Pantai Mali adalah salah satu event pariwisata dari Alor bagi tak sekadar memanjakan mata warga Alor dan NTT namun persembahan terindah bagi para pelancong dalam dan luar negeri. Apa keunikan Festival Dugong? Ini pertanyaan menarik. Dugong atau ikan duyun bisa dipanggil masuk ke Pantai Mali dan mata wisatawan leluasa menyaksikan ikan itu pada saat pembukaan Festival Dugong di Mali. “Tahun 2009 saya bersama isteri menanam anakan mangrove dan bibit kelapa di Mali. Isteri saya malah protes. Mau urus anak kuliah atau urus tanam mangrove? Saya bilang kalau kita tidak tanam, merawat yang ada saya sudah cukup membantu menjaga kelestarian ekosistem pantai untuk masa depan alam dan lingkungan kita,” kata Onesimus Laa.

    warga Alor dengan Kain Adat

    Ones menjauh dari isteri, menyelam lebih dalam ke tengah arus Mali yang menantang. “Saat menyelam saya bertemu duyun. Saya mengakrabinya. Mengelus-elus badannya. Duyun itu akhirnya menjadi teman setia. Kapan saja saya bisa panggil ia akan datang seperti teman akrab. Dunia geger saat saya bersama tim WWF selam dan saya bisa akrab dengan duyun layaknya manusia. Sejak 2019, Pak Bupati Alor Amon Djobo menyelenggarakan Festival Dugong dihadiri langsung Pak Gubernur. Tahun 2020, Pak Gubernur datang lagi. Saya hadirkan dugong, duyun itu dan menjadi tontotan ribuan warga. Tahun 2021, Pak Gubernur berencana mengundang para duta besar negara-negara sahabat untuk datang menyaksikan langsung duyun dalam Festival Dugong di Mali,” ujar Ones.

    Festival Dugong

    Warga Alor I Gusti K Malua mengaku, Alor memiliki daya tarik luar biasa. Berbagai langkah yang diambil Bupati Amon Djobo dan jajaran Dinas Pariwisata Alor merupakan langkah cerdas mendukung program Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat yang menjadikan pariwisata sebagai prime mover, penggerak utama pembangunan NTT. Gusti, sarjana Bahasa Inggris lulusan Undana Kupang, mengaku di sela-sela menunaikan tugasnya sebagai guru ia juga diam-diam ikut membantu Dinas Pariwisata Alor mempromosikan potensi pariwisata akan makin dikenal dunia internasional.

    Festival Dugong

    “Langkah ini memang kecil. Namun, membantu Pemerintah Kabupaten Alor dan Dinas Pariwisata setempat mempromosikan berbagai destinasi wisata daerah adalah bagian tanggung jawab sebagai warga Alor. Cinta budaya dan pariwisata bisa kita wujudkan dalam bentuk promosi. Alor dan pulau-pulanya memiliki keunggulan di bawah laut seperti pulau-pulau kecil lainnya di NTT. Pesona sun set Alor tak jauh seperti memandang Pulau Semau dari Pelabuhan Tenau atau Bolok di Kupang,” kata Gusti Malua, Kepala SMP PGRI Alor. “Keunikan Festival Dugong ini adalah bagaimana pengunjung menyaksikan langsung om Ones berenang dan membawa langsung duyung ke bibir pantai kemudian dilihat langsung pengunjung,” kata Yanto Padabain, staf Dinas Pariwisata Alor.

    Festival Dugong

    Menarik wisatawan dunia

    Tahun 2019, untuk pertama kalinya digelar Festival Dugong (Duyun) selama satu minggu yaitu mulai 19-25 Juli di Pantai Wisata Mali, Kecamatan Kabola, kurang lebih 12 kilo meter dari arah utara Kalabahi, kota Kabupaten Alor. Tujuan festival ini salah satunya mendorong semangat masyarakat setempat untuk mengembangkan pariwisata yang berbasis lingkungan dan alam (eco tourism). Juga bermaksud agar duyung atau dugong tetap dilindungi, tidak punah sehingga menjadi daya tarik turis dorang ke Alor. Termasuk turis lokal dari Lembata, pulau tetangga. Awal festival, diawali dengan prosesi kaka Ones berenang pigi panggil duyung, dugong di pesisir pantai Pulau Sika, kurang lebih 20 menit pelayaran dari bibir Mali. Di perairan Sika (bukan Kabupaten Sikka di Flores), ada “pasutri” duyung hidup bersama anak mereka selama bertahun-tahun.

    Onesimus Laa

    Kaka Ones seperti manusia sakti yang “pake pake”? Bisa saja. Laki-laki Alor berkulit legam ini sudah lama bertemu dan bersahabat dengan duyun. Itu tadi, sejak 1999 dan dikisahkan kaka Ones kepada wartawan Media Indonesia, milik Surya Paloh. Suatu sore, ketika Onesimus selesai menanam bakau di pesisir pantai Pulau Sika, ia turun ke laut untuk mengambil perahu. Saat kembali itulah, Onesimus melihat dua ekor dugong berenang di samping perahu. Seekor dugong berenang di depan perahu dan satu lagi berenang di belakang perahu. Dua dugong ini mengantar Ones hingga pantai Mali.Keesokan harinya saat dia kembali dari Sika, dua dugong tersebut kembali mengantar Ones. “Hari ketiga, saya lepas jangkar perahu dan tunggu. Dua ekor dugong itu muncul lalu saya mengulurkan tangan dan keduanya mencium tangan saya. Dari situ naluri dugong masuk dalam pribadi saya,” kata Ones.

    Festival Dugong

    Sejak itu, ia bersahabat dengan Dugong hingga saat ini, seperti terlihat saat dia memanggil dugong untuk bertemu pengunjung selama dua hari sejak Jumat (19/7) dan Sabtu. Begitu perahu tiba di lokasi kemunculan dugong, Ones kemudian memanggil nama mamalia tersebut mengunakan bahasa daerah Kabola beberapa kali. “Bu lamoli go, mao, hao,” ujarnya beberapa kali.Tidak kurang dari satu menit, seekor dugong jantan muncul dari arah depan perahu dan berenang mengelilingi perahu sekitar 10 menit sebelum diperintahkan pulang. Menurut Ones, dugong yang muncul tersebut memiliki panjang hampir tiga meter dan berat sekitar 300 kilogram. Dia menyebutkan, mamalia itu muncul sendirian karena sang betina tengah bersama anaknya. “Anak dugong belum bisa menyesuaikan diri dengan tamu sehingga tidak muncul,” kata Ones saat saya ngobrol dengan beliau (3/8) kemarin.

    Festival Dugong

    Prosesi tersebut bagian dari festival panggil dugong yang dibuka Gubernur NTT, Viktor Laiskodat. Saat membuka kegiatan, Viktor mengatakan festival tersebut akan dikembangkan agar berkualitas internasional, mulai dari fasilitas kapal, atraksi budaya, akomodasi, kuliner dan kerajinan rakyat sehingga menjadi daerah pertumbuhan ekonomi baru di Alor. “Persiapan festival dugong 40% bagus, tinggal dipoles lagi agar mendakati 100%,” ujar Viktor yang didampingi Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT, Marius Jelamu, dan Kepala Dinas Periwisata NTT, Wayan Darmawan, dan sejumlah pejabat lainnya.

    Menurut Viktor, pada festival panggil dugong ke-2 pada 2020, akan dihadiri Presiden RI, Joko Widodo. “Saya sudah lapor presiden dan akan hadir pada festival tahun depan,” kata Laiskodat kala itu. Viktor, mantan Ketua Fraksi NasDem DPR RI mengatakan, setelah seluruh persiapan rampung, kegiatan menonton dugong hanya dibuka dua kali dalam setahun. Hal itu bertujuan menjaga dan melindungi dugong bersama makanan dugong, yakni padang lamun di perairan tersebut. Nah, akhir pekan lalu selepas menjauh dari bibir pantai selatan Lembata, Viktor dan rombongan menyapa Mali. Dari Mali ada secercah asa, menjadikan Festival Dugong magnet baru menjadikan pariwisata NTT prime mover pembangunan. Dimulai dari bibir Mali nan eksotik, kabupaten yang dikawal Bupati Amon Djobo dan.kaka Ones, “manusia sakti” yang bisa panggil duyung untuk memanjakan mata turis (baca juga dalam https://radarntt.co/daerah/2020/amon-ones-dan-dugong/).

    Jakarta, 4 Agustus 2020
    Ansel Deri
    Orang udik dari kampung;
    staf Viktor Laiskodat di DPR


    Sumber foto: google, Yanto & Fb. Marius Jelamu

  • Memanjakan Mata di Bukit Nilo Maumere

    Memanjakan Mata di Bukit Nilo Maumere

    BNC,- Pulau Flores menyimpan sejuta pesona wisata. Bila Anda berada di Larantuka, kota Reina Rosari, Flores Timur di ujung timur. Pun berada di Labuanbajo, kota ujung barat nusa bunga. Maka melangkahlah lebih dalam, ke Maumere. Di sini tak sekadar Ledalero, kampus filsafat pencetak sarjana filsafat dan imam Katolik kelas dunia bakal membuat kagum. Merapatlah ke Nilo. Manjakan mata dengan pesona Maumere dan laut Flores dari ketinggian.

    DARI Hotel Capa, Jalan Mairoa Waipare, Maumere, kota Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur tukang ojek itu melaju kencang bersama Kewaama, tamu hotel milik Melchias Markus Mekeng, pengusaha sekaligus anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Tak lama si tukang ojek berkulit legam itu menghentikan laju kendaraan. Di Jalan Brai, Kota Uneng, Alok, si tamu hotel itu minta diturunkan di jalan depan sebuah kapel kecil, persis di samping rumah tinggal para biarawati Katolik. Akhir Januari 2018, Kewaama, menyambangi Maumere, Flores.

    “Saya minta tukang ojek berhenti di Jalan Brai. Saya tertegun melihat patung Bunda Maria Segala Bangsa berdiri megah. Saya sengaja melihat sejenak dari pinggir jalan keindahan Nilo. Selama ini saya hanya mendengar tempat wisata rohani itu dari kerabat yang pernah ke Maumere. Kali ini saya bisa menyaksikan sebuah maha karya rohani dari Kongregasi Carmel, sebuah tarekat religius klerikal diosesan. Saya memanjakan mata sejenak sebelum bertemu kerabat yang tinggal tak jauh dari kapel itu,” ujar Kewaama saat berbincang-bincang dengan berandanegeri.com saat dihubungi dari Kupang, kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, Minggu, 11 Juni 2020.

    Bukit Nilo Maumere (Foto : Dok FBC)

    Celestinus Ola Koban, warga asal Atadei, Pulau Lembata yang lahir dan besar di Maumere juga mengakui, patung Bunda Maria Segala Bangsa unik itu terletak di  Bukit Keling-Nilo, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita. Bukit eksotik itu menjadi salah satu destinasi wisata di Maumere, Flores yang digandrungi para wisatawan dalam negeri maupun manca negara. Para wisatawan dalam negeri, menurut Tino Koban, menjadian Nilo sebagai salah satu destinasi favorit Maumere tatkala menyusuri keindahan Flores mulai dari Labuanbajo di bagian barat hingga Larantuka di ujung timur Flores.

    Maumere adalah kota di Flores yang sudah mendunia. Setiap tahun, para wisatawan berbondong-bondong menyambangi kota yang dihempas gempa bumi dan gelombang tsunami tahun 1992 dan nyaris melumpuhkan seluruh aktivitas warga Sikka dan beberapa kabupaten lain seperti Ende dan Flores Timur. Selain itu, Maumere juga menyajikan pesona Nilo karena dari atas ketinggian wajah kota terlihat indah di dipandang mata. Pengalaman ini terasa lengkap setelah merasakan suasana damai bukit Ledalero, sekolah tinggi berusia puluhan tahun milik Kongregasi Serikat Sabda Allah atau Societas Verbi Divini (SVD) yang sudah mencetak ribuan sarjana filsafat, imam Katolik maupun awam kelas dunia yang tak hanya menyebar dalam negeri namun hampir mengabdi di setiap ujung bumi di lima benua.

    “Setiap tahun, wisatawan selalu ke Maumere kemudian memanjakan mata dari ketinggian Nilo. Dari atas wisatawan leluasa memandang Maumere. Selain ke Larantuka untuk mengikuti proses Semana Santa atau usai mengunjungi Lamalera yang dikenal di seluruh dunia atau menikmati keindahan alam danau Tiga Warna Kelimutu, perkampungan eksotik Moni di Kabupaten Ende, wisatawan akan melihat juga Nilo. Selain merasakan suasana khas sebagai obyek wisata bernuansa religi, wisatawan juga melihat wajah Maumere dari atas bukit. Suasana kota yang indah, warga kota yang ramah atau akses kuliner yang mudah adalah daya tarik lain yang memikat hati wisatawan betah,” ujar Tino Koban, praktisi hukum yang tinggal di Bogor, Jawa Barat.

    Menggapai Nilo

    Nilo dan Maumere adalah dua entitas yang sulit dipisahkan satu sama lain. Keduanya ibarat gadis kembar yang molek. Menyebut Nilo mengingatkan para pengunjung tentang sebuah destinasi wisata bernuansa religi, tempat para pengunjung menemukan kedamaian batin. Tak berlebihan, ke Maumere tanpa menyambangi patung Bunda Maria Segala Bangsa Nilo, rasanya nggak rame. Pun menyambangi Maumere tak akan pernah bebas dari kisah Paus Yohanes Paulus II (Sri Paus), Pemimpin Umat Katolik Sedunia, yang memilih bermalam di bukit sandar matahari, Ledalero tahun 1989 dalam kunjungan kenegaraan di Indonesia, termasuk Dili, kota Provinsi Timor Timur, yang kini bernama Republik Demokratik Timor Leste. Tahun 1992 Maumere juga menjadi pusat perhatian dunia akibat gempa bumi dan gelombang pasang (tsunami)  yang melumatkan banyak bangunan dan menewaskan ribuan orang.

    Di atas bukit itu ditakhtakan patung perunggu setinggi 28 meter dengan berat 6 ton. Proses pembangunan dimulai pada 2004 dan dibuka secara resmi oleh Uskup Keuskupan Agung Ende Mgr. Abdon Longinus da Cunha Pr melalui Misa Agung kemudian ditetapkan sebagai tempat ziarah pada 31 Mei 2005. Patung itu berada di atas ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut (dpl). Posisi patung itu menghadap langsung Maumere di bawahnya. Mata wisatawan akan leluasa dimanjakan Laut Flores yang menawan hati. Tak berlebihan Nilo menjadi destinasi wisata aduhai bagi para penggila tours and travel karena dapat menikmati view Maumere dan Laut Flores dari ketinggian bukit.

    “Jarak tempuh dari Maumere ke Nilo sekitar satu jam lebih. Kalau dalam rombongan pengunjung bisa menyewa kendaraan. Untuk perorangan cukup menyewa tukang ojek yang mangkal di sekitar hotel atau tempat penginapan. Sebelum sampai ke Nilo, pengunjung biasanya singgah terlebih dahulu di Ledalero atau Seminari Tinggi Santo Paulus Ritapiret. Di gerbang masuk kawasan wisata Nilo, semua kendaraan berhenti di area khusus yang disiapkan kemudian berjala kaki sejauh kurang lebih 500 meter menuju lokasi wisata. Dari bukit itu pengunjung leluasa menikmati panorama alam yang indah dan memandang Maumere dari atas ketinggian bukit,” ujar Anjebertus Magnus, warga Maumere.

    Kepala Biro Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Nusa Tenggara Timur Dr Jelamu Ardu Marius M.Si mengatakan, obyek wisata favorit Bukit Bunda Maria Nilo selalu ramai dikunjung wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Obyek wisata ini juga menjadi pilihan bagi para peziarah rohani Katolik tak hanya dari daerah-daerah di NTT tetapi juga luar negeri seperti Timor Leste, Filipina, Portugal, Brazil, Amerika, Australia maupun negara-negara di benua Eropa. Berada di atas bukit dan memandang kota Maumere yang berada di bawah dan laut Flores yang tenang seolah membawa rasa damai bagi para pengunjung. Selain menghabiskan waktu sekadar berekreasi, para pengunjung beragama Kristiani mengisi waktu untuk berdoa dengan khusuk. Pepohonan yang hijau dan masih alami serta angin yang bertiup manja akan mengantar para pengunjung menyadari betapa Tuhan begitu murah menghadirkan Nilo bagi pengunjung.

    “Obyek wisata Bunda Maria Segala Bangsa Nilo Maumere merupakan salah satu destinasi unggulan Flores. Dalam berbagai kegiatan kunjungan Bapak Gubernur Viktor Laiskodat ke luar negeri, beliau selalu mempromosikan obyek wisata Nilo dan beberapa obyek wisata favorit lainnya di Flores. Selain itu, di Flores kita punya Taman Nasional Komodo, Riung, Kelimutu, Larantuka, dan Lembata. Harapannya semakin banyak wisatawan yang berkunjung di NTT. Promosi ini membuka peluang pemasukan bagi masyarakat dan daerah. Kita tahu pariwisata menjadi perhatian Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur sejak awal memimpin NTT. Secara khusus beliau berdua menjadikan pariwisata sebagai prime mover, penggerak utama pembangunan daerah,” ujar Marius, lulusan Sekolah Tinggil Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere.

    Patung Yesus di Bukit Nilo Maumere (Foto : Dok FBC)

    Berkunjung ke Maumere dan menyambangi Nilo dapat menggunakan pesawat atau kapal laut. Saat ini ada sejumlah maskapai penerbangan beroperasi di Bandara Udara Frans Seda Maumere seperti Sriwijaya Air, Lion Air, Wings Air, dan lain-lain. Penerbangan ke Maumere menempuh rute Jakarta via Denpasar dan Lombok atau Jakarta via Sumba-Kupang. Pengunjung bisa menempuh rute dengan kapal Pelni dari Jawa, Bali, Lombok atau Bima menuju beberapa kota kabupaten di Flores. Masyarakat Maumere dan Kabupaten Sikka umumnya terkenal menjaga dan melestarikan kerajinan tangan, budaya, adat-istiadat, dan kesenian. Lagu Gemu Fa Mi Re adalah salah satu lagu daerah yang digandrungi sebagian lapisan masyakarat Indonesia.

    Maumere juga terkenal dengan kekhasan tenun ikatnya. Kota Maumere Maumere dikelilingi desa-desa kecil penghasil kerajinan tenun. Beberapa desa yang sudah familiar di kalangan pengunjung terdapat di daerah Sikka dan Lela. Hasil karya tangan khas ibu-ibu dan perempuan selalu jadi cinderamata para pengunjung. Selain menarik, corak dan motif kain tenun khas Maumere sangat unik dan mudah dibawa. Mengelliling Maumere juga membawa sensasi tersendiri bagi pengunjung. Sebelah utara berbatasan dengan Laut Flores dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Flores Timur. Sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Ende dan sebelah selatan berhadapan muka dengan Laut Sawu.

    Bagi para pencinta sejarah boleh jadi akan tertarik untuk menelusuri arti kata Maumere dan cikal bakal kota itu mendandani dirinya hingga terkenal di seluruh pelosok dunia. Maumere berasal dari kata bahasa Ende, yaitu Ma’u berarti pelabuhan dan Mere berarti besar. Sejumlah catatan melukiskan, Kata Maumere muncul jaman dulu saat Moang Juang Korung da Cunha ditugaskan Raja Sikka, Don Cosmo Semao da Silva untuk mengurus pelabuhan Alok Wolokoli yang ramai dikunjungi pedagang. Korung da Cunha lalu membangun sebuah perkampungan dan benteng di pantai sebuah teluk berbentuk cekung, dengan gugusan pulau di depannya. Tak lama Korung da Cunha melabeli tempat itu dengan Maumere yang berarti pelabuhan besar.

    Dr Jelamu Ardu Marius, M.Si, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT (Foto: Dok Marius Jelamu)

    Warga Maumere Silverius Angi mengatakan, para pengunjung atau wisatawan yang bepergian ke Flore terutama Maumere tak terlalu sulit mendapatkan hotel atau home stay dengan harga sesuai kemampuan isi dompet. Di Maumere ada sejumlah hotel bintang 4 dan beberapa hotel melati jadi pilihan pengunjung sesuai dengan selera pengunjung. Misalnya, Hotel Sylvia; Capa Maumere Resort Hotel di Jalan Nairoa Waipare; Sea World Club Beach Resort di Waiara; Amrita Maumere Resort; Sunset Cottages Maumere; Hotel Binongko Jaya; Nusra Hotel atau Hotel El Tari Indah. “Banyak altenatif pengunjung tinggal dan menetap di Maumere selama melakukan perjalanan wisata. Mereka bisa tinggal dalam beberapa hari di kota Maumere setelah puas memanjakan mata di Nilo dan puas memandang Maumere dan Laut Flores dari atas bukit rohani itu,” kata Siflan, sapaan akrab Silverius Angi, mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sikka. (Germanus Wisung/adv)

  • Air Terjun Lodovavo, Pesona Wisata Unggulan yang Masih Terpenjara

    Air Terjun Lodovavo, Pesona Wisata Unggulan yang Masih Terpenjara

    BNC– Wilayah pantai selatan Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, memiliki sejumlah obyek wisata unggulan. Misalnya, air terjun Lodovavo di Desa Atawai, Nagawutun. Naasnya, sejak Lembata otonom tahun 1999 ruas jalan dari Lewoleba ke Atawai atau Lamalera masih sangat buruk.

    DIONISIUS DUA kerap tak habis pikir. Sejak terpisah dari Flores Timur tahun 1999, akses jalan menuju obyek wisata Lodovavo sangat buruk. Begitu pula ruas jalan ke Lamalera, Lewopenutung dan Warawatu.

    “Jujur saja, kondisi jalan menuju obyek-obyek wilayah seperti Lodovavo atau Lamalera sangat buruk, minim perhatian. Hingga kini Lodovavo masih jadi wisata favorit warga lokal. Mereka harus jalan kaki dari kampung Boto, Desa Labalimut ke Atawai. Dari kampung kemudian jalan kaki ke Lodovavo,” ujar Dion Oldani, sapaan akrab tour guide saat dihubungi di Denpasar awal April 2020.

    Lodovavo tak hanya akrab bagi masyarakat di kampung-kampung di lereng Labalekan, gunung tertinggi di Lembata. Namun, juga warga masyarakat di kecamatan lainnya. Warga masyarakat seperti Mingar, Lewoblolong, Tadalakar, Penikenek, Lamanepa hingga Lusiduawutun di pesisir selatan Lembata mengenal baik obyek wisata Lodovavo. Selain masih asri, sumber air baku untuk beberapa kampung di wilayah pesisir itu juga bersumber dari Lodovavo dan sekitarnya.

    Sedangkan masyarakat di sekitar lereng Labalekan sudah familiar dengan Lodovavo. Kegiatan edukatif dan hiburan berbagai komunitas masyarakat selalu menempatkan Lodovavo sebagai obyek kunjungan. Para pengunjung utamanya dari desa-desa sekitar lereng Labalekan. Misalnya, Labalimut, Belabaja, Liwulagang, Ileboli, Bolibean, Puor, Imulolong bahkan Posiwatu. Selain Fai Kating, obyek wisata berupa sumber air panas di bagian barat kali Fai Snara, sebelah selatan Desa Labalimut dan Belabaja.

    Obyek wisata potensial

    Obyek wisata air Lodovavo memiliki banyak keunikan. Debit air sangat besar. Apalagi, pada musim hujan. Tingginya sekitar 50 meter lebih. Diapit pohon-pohon kenari dan berbagai jenis pohon seukuran dua pelukan orang dewasa. Sekitarnya bertaburan aneka stalaktit runcing dengan lobang yang lancip menambah pesona Lodovavo.

    Air terjun itu menjadi muara sejumlah anak sungai seperti Wai Lator, Wai Fetem, Wai Kro, Wai Mudajen, Kideng Mirek, Wai Meran, dan Wai Mitemen. Sedangkan di bagian hulu, mengalir Wairajan dan Waimera yang merupakan pertemuan beberapa anak sungai dari lereng Labalekan melewati kawasan hutan Menator.

    “Saya dua kali mengunjungi Lodovavo. Obyek wisata itu memiliki kekayaan flora dan fauna sangat besar. Masyarakat sekitar terutama Atawai dan desa-desa di lereng Labalekan perlu setia menjaga dan melestarikan hutan di hulu. Dengan demikian, pada musim kemarau debit air Lodovavo tetap stabil dan menjadi alternatif tujuan wisata yang eksotik. Selain itu, pemerintah daerah perlu melakukan intervensi melalui anggaran untuk membatu pemerintah dan masyarakat desa sekitar menata Lodovavo menjadi destinasi menarik. Ruas jalan ke obyek wisata itu perlu dibangun,” ujar Dion Ola Wutun, seorang pengunjung yang bermukim di Lewoleba.

    Dion Wutun, freelance guide tingkat madya dan ASN di Lembata, menambahkan, Belabaja yang letaknya tak jauh dari Atawai, sudah ditetapkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia sebagai salah satu wilayah sasar Program Desa Wisata tahun 2009. Karena itu Atawai ini punya posisi penting sebagai subtitute object di mana orang tinggal di Belabaja sebelum melakukan wisata ke Lamalera dan Lodovavo.

    Dr Jelamu Ardu Marius, M.Si, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT (Sumber foto: Ist)

    “Wisatawan yang tinggal di Boto bisa melakukan half day tour untuk menikmati ekowisata Lodovavo sambil mandi di air terjun. Oleh karena itu, Lodovavo perlu dijaga dan dilestarikan alam pegunungan serta flora dan faunanya. Wisatawan akan sangat tertarik mengunjungi Lodovavo. Apalagi, obyek wisata itu memiliki legenda menarik bagi pengunjung yang suka kisah-kisah unik yang melingkupi obyek wisata itu. Karena itu akses jalan ke Atawai melalui Idalolong di wilayah pantai atau Boto di wilayah lereng gunung perlu dibangun sehingga Lodovavo tidak terpenjara dalam ketertinggalan,” ujar Dion Wutun.

    Lodovavo memiliki arti. Dalam bahasa tutur dialek Imulolo, lodo berarti turun. Sedangkan vavo artinya ke bawah. Karena itu, Lodovavo artinya turun ke bawah. Selepas dari Atawai, para pengunjung akan melewati area yang akan terjal sebelum menggapai obyek wisata air terjun Lodovavo. Selain sekadar menikmati obyek wisata itu, para pengunjung terutama dari desa-desa sekitar bisa mengisi waktu mencari ikan aneka jenis, udang, belut seukuran paha orang dewasa, katak, dan lain-lain.

    “Pernah ada warga yang meninggal akibat keseterum listrik genset saat menangkap ikan dan udang. Korban dievakuasi ke darat sebelum dibawa ke kampungnya. Korban meninggal di tempat dan dipercaya sebagai ungkapan amarah penjaga Lodovavo. Meski demikian, Lodovavo tetap dikunjungi warga karena obyek wisata itu termasuk yang digandrungi di selatan Lembata. Selain itu, jaraknya ke obyek wisata sekitar 500 meter dari Atawai, melewati hutan yang masih asri,” kata Gerard, warga Atawai.

    Gebrakan Gubernur Laiskodat

    Pesona Lodovavo dan destinasi wisata lainnya di Lembata jika dilihat belum serius diperhatikan baik oleh Pemerintah Kabupaten Lembata maupun Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur selama 20 tahun Lembata menjadi kabupaten otonomi. Meski demikian, baik kabupaten maupun provinsi menempatkan pariwisata sebagai sektor unggulan dalam menambah pemasukan daerah. Selain itu, akses jalan menuju destinasi wisata mulai diperhatikan.

    Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskdat sudah menunjukkan keseriusan membantu Pemkab dan masyarakat Lembata membuka akses jalan Waijarang menuju Tewaowutung di pesisir selatan Lembata. Langkah ini tentu menjawab kerinduan warga yang sudah 20 tahun lebih menikmati akses jalan ke desa-desa, termasuk obyek wisata unggulan seperti Lodovavo dan obyek-obyek wisata lainnya seperti Lewopenutung di beranda Laut Sawu.

    Kepala Biro Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Nusa Tenggara Timur Dr Jelamu Ardu Marius, M.Si mengakui, potensi wisata Lembata luar biasa besar. Semua memikili daya tarik tersendiri. Sebut saja Lamalera, Pantai Bean, Tanjung Atadei, Pantai Labala, Wuloandoni, Jontona, Mingar, Lolong, dan lain-lain.

    “Pak Gubernur Viktor Laiskodat dan Pak Wakil Gubernur Jos Nae Soi menjadikan pariwisata sebagai penggerak utama, prime mover ekonomi daerah. Sejak 2019 beliau berdua giat mempromosikan berbagai potensi wisata NTT di luar negeri. Kegiatan promosi itu baik melalui festival di sejumlah negara di Eropa, Amerika, Selandia Baru maupun negara-negara lain. Tujuannya agar para wisatawan manca negara kenal dan tertarik mengunjungi destinasi kita di daerah-daerah seperti Lembata,” ujar Marius, mantan Kepala Dinas Pariwisata NTT, yang sangat fasih berbahasa Inggris.

    Wisatawan yang berkunjung di Lembata tentu juga dimudahkan akses jalan yang baik, termasuk kesiapan masyarakat dalam memberikan pelayanan prima. Masyarakat juga perlu menyiapkan makanan khas desa, fasilitas mandi, cuci, dan toilet yang  bersih agar wisatawan betah menikmati liburannya.

    “Tahun 2020, Pak Gubenur NTT sudah mengalokasikan anggaran bersumber dari APBD NTT untuk membantu membangun ruas jalan di pesisir selatan Lembata. Kita harapkan agar setiap tahun meningkat dan masyarakat merasakan manfaatnya. Tentu disesuaikan kemampuan karena kabupaten dan kota lain juga perlu diperhatikan,” lanjut Marius.

    Sekadar tambahan. Lodovavo adalah salah satu obyek wisata yang selama 20 tahun otonomi masih terkungkung di tengah nama sejumlah obyek yang mengharumkan nama Lembata. Misalnya, desa nelayan Lamalera yang terkenal dengan tradisi lefa, perbutuan  paus secara tradisional berpijak pada kearifan lokal. Lamalera tak hanya fa,iliar di tingkat nasional, namun manca negara.

    “Lodovavo juga tentu menjadi perhatian semua pemangku kepentingan. Kita akan bekerjasama dengan semua pihak, termasuk media agar ikut mempromosikan wisata Lembata agar makin dikenal,” kata Marius.

    Lodovavo bisa dikunjungi melalui jalan darat kurang lebih 26 kilo meter dari Lewoleba, kota Kabupaten Lembata menuju Atawai. Bila menggunakan kendaraan umum, setiap pengunjung dipungut biaya Rp. 30 ribu per orang. Namun, jika menggunakan jasa motor sewaan, setiap orang mengeluarkan ongkos sewa sebesar Rp. 100 ribu. Bila perjalanan hanya sampai di Boto, maka perjalanan ke Atawai akan dilanjutkan dengan jalan kaki atau menyewa bus kayu dengan ongkos Rp. 10 ribu per orang.

    “Dari Atawai, para pengunjung bisa leluasa menikmati makanan khas seperti jagung titi, emping jagung, ubi-ubian, dan air kelapa segar sebelum menuju Lodovavo. Selain itu pengunjung bisa leluasa membeli souvenir berupa sarung atau selendang hasil kerajinan warga dengan harga yang tak membuat kantong terkuras,” ujar Gerard menambahkan. (Germanus Wisung/adv)

  • Cagar Budaya Bercerita Pada Kita

    Cagar Budaya Bercerita Pada Kita

    Bandung-Pelestarian budaya mustahil dilakukan tanpa peran serta masyarakat. Oleh karena itu diperlukan kesadaran masyarakat agar peduli nasib cagar budaya disekitarnya. Tapi menggerakan kesadaran masyarakat bukanlah hal mudah, apalagi jika dilakukan tanpa peran serta masyarakat itu sendiri. Menyadari hal ini pemerintah mengajak komunitas di kota Bandung untuk turut mengkampanyekan pelestarian cagar budaya.

    Berlokasi disalah satu bangunan cagar budaya nasional, Museum Geologi, Kemendikbud mengajak warga kota Bandung untuk ikut melestarikan cagar budaya di kotanya (24-26/9). Kegiatan ini dilakukan bekerjasama dengan komunitas Bandung Heritage sebagai salah satu pemateri utama. Selama ini komunitas tersebut telah membantu pemerintah kota Bandung dalam mengkampanyekan pelestarian cagar budaya.

    Selain itu untuk menyebarluaskan semangat melestarikan cagar budaya, turut dilibatkan komunitas penulis di kota Bandung.  Sebanyak 30 penulis bekerjasama dengan Kemdikbud menyusun buku yang diberi judul “Aku dan Cagar Budayaku”.

    Kepala Seksi Dokumentasi Direktorat Pelestarian Cagar Budaya, Dewi Kurnianingsih, mengharapkan meraka menjadi corong yang membantu mengkampanyekan kesadaran. “Saat ini kami sedang berupaya mendekatkan diri pada masyarakat, mendekatkan diri pada komunitas” tegas Dewi.

    Oleh karena itu, para penulis tersebut juga diberi pembekalan dan pemahaman pengenai cagar budaya dan pelestariannya.  Hal ini menjadi berkah tersendiri bagi para penulis tersebut. Salah satunya Hera. Ia mengaku kesulitan di awal karena ini bukanlah objek yang dia kuasai. Ia biasanya menulis cerpen, kisah inspiratif dan puisi. Tapi setelah pembekalan dan harus melakukan riset sebelum menulis, dia jadi tahu apa itu cagar budaya.

    “Saya awalnya tahunya cagar budaya itu sama dengan objek wisata, tapi rupanya lebih dari itu.” ujar Hera. Sebuah cagar budaya bukan hanya benda. Tapi ada sesuatu didalamnya yang membuatnya bernilai. “Ia bercerita pada kita”

    Pelibatan komunitas dalam kampanye cagar budaya tidak selesai disini. Penguatan ekosistem di sektor pelestarian cagar budaya akan merangkul banyak komunitas baik komunitas budaya maupun lainnya.

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Menyusuri Jejak Kolonialisme Di Pulau Rempah

    Menyusuri Jejak Kolonialisme Di Pulau Rempah

    Selain kaya akan keragaman seni dan budaya, Indonesia juga dianugerahi kekayaan hasil alam yang sangat beragam, salah satunya adalah rempah-rempah. Sebagai negeri penghasil rempah-rempah terbesar di dunia, nama Indonesia tidak asing lagi dimata para pemburu komoditi yang termahsyur antara abad ke-16 hingga abad ke-17. Rempah menjadi komoditas penting dalam jalur perdagangan dunia dan memainkan peranan penting dalam sejarah peradaban bangsa Indonesia.

    Rempah memiliki daya jual yang tinggi menjadikan alasan utama bangsa asing untuk datang mencari jalan sendiri ke daerah produksi rempah-rempah demi mendapatkan harga yang murah. Selain digunakan untuk bahan pengawet makanan, pengharum ruangan, dan bahan untuk obat-obatan, rempah juga digunakan untuk ramuan penghangat tubuh bagi masyarakat Eropa.

    Dari berbagai catatan para penjelajah dunia, Maluku merupakan sentra penghasil pala, lada, cengkeh, dan kayu manis yang pada masa itu merupakan jenis rempah-rempah yang paling dicari di dunia. Dalam perkembangannya kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia tidak hanya untuk kegiatan perdagangan, tetapi juga melakukan kolonisasi. Tujuan awalnya yang semula hanya mencari rempah-rempah melalui daerah asal agar dapat mendapatkan komoditi tersebut dengan harga yang murah, berubah menjadi keinginan untuk megeksploitasi kekayaan alam Indonesia demi kepentingan negarannya sendiri.

    Sejarah mencatat beberapa bangunan peninggalan kolonialisme di Maluku beberapa diantaranya ialah Benteng Nieuw Victoria yang dibangun di pusat kota Ambon pada tahun 1575 M. Pada awalnya benteng ini diberi nama Nossa Sendora Da Anuciada oleh Portugis, namun setelah jatuh ke tangan Belanda melalui kongsi dagangnya VOC benteng ini berubah nama menjadi Nieuw Victoria. Didalam benteng, VOC membangun beberapa bangunan yang dimanfaatkan untuk kepentingan militer, diantaranya adalah barak, gudang senjata, gudang peluru, dan lainnya. Diantara bangunan-bangunan tersebut ada yang masih berdiri meski banyak diantaranya telah roboh. Bangunan yang masih ada hingga kini misalnya adalah pos prajurit penjaga dan gudang senjata. Pada bagian atas dinding gerbang terdapat gambar  kapal bertuliskan Ita Relinquenda Ut Accepta yang merupakan tulisan pada koin Belanda yang beredar sekitar tahun 1792 M. Selain itu terdapat  gambar singa dan lambang VOC yang diapit oleh tulisan anno.c yang berarti “sejak” dan MDCCLXXV yang merupakan angka tahun 1775 yang ditulis dalam huruf Romawi yang merupakan tahun  benteng diperbaiki dan diperbesar dan juga sekaligus pergantian nama menjadi Benteng Nieuw Victoria.[1]

    Selain itu juga terdapat Benteng Amsterdam yang dibangun oleh VOC sejak abad ke-17 di pesisir utara Pulau Ambon. Benteng ini dibuat berhubungan dengan kebijakan monopoli cengkeh di Nusantara. Benteng lainnya yang terdapat di Provinsi Maluku ialah Benteng Belgica dan Benteng Nassau yang berfungsi untuk melindungi kepulauan penghasil pala dari kekuatan asing yang berpotensi mengganggu monopoli.[2] Selain itu juga terdapat Benteng Duurstede yang menjadi saksi akan perlawanan Kapitan Pattimura dan rakyat Saparua terhadap VOC.

    Pembangunan benteng merupakan usaha awal bangsa Eropa untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Pada awalnya, benteng-benteng yang dibangun difungsikan sebagai pos perdagangan untuk menyimpan berbagai komoditi, pusat pertahanan, sekaligus pula dimanfaatkan sebagai kawasan permukiman dan pemerintahan.[3] Keberdaan benteng-benteng peninggalan penjajahan bangsa Eropa menjadikan sepenggal cerita bahwa Maluku pernah menjadi pusat kejayaan rempah-rempah di Nusantara. (Wanti Hidayah)

    kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Kecap, Sebuah Kuliner Akulturasi Budaya

    Kecap, Sebuah Kuliner Akulturasi Budaya

    Si Hitam Manis, begitu kuliner ini biasa disapa. Bentuknya yang kental dan berwarna hitam pekat ini sering kali digunakan sebagai penambah rasa dalam makanan. Tapi ternyata, makanan ini sangat erat hubungannya dengan budaya peranakan Tionghoa.

    Kecap merupakan kuliner yang sudah sangat mendarah daging bagi masyarakat Indonesia. Rasanya yang manis dan gurih membuat masyarakat Indonesia jatuh cinta dengan kuliner olahan kedelai hitam satu ini. Namun faktanya, kecap bukanlah budaya asli orang Indonesia. Lalu darimanakah kecap berasal?

    Kecap merupakan sebuah bentuk akulturasi budaya antara masyarakat Jawa dengan masyarakat Tionghoa. Pada mulanya, para pelancong Negeri Tirai Bambu tersebut datang ke Indonesia membawa berbagai barang yang akan ditukar dengan berbagai hasil bumi dan olahan khas Indonesia.  Salah satu barang yang dibawa dalam ekspedisi tersebut adalah kecap asin (soy sauce). Namun ternyata, kultur budaya masyarakat Jawa, sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal ekspedisi Tionghoa tersebut tidak terlalu menyukai kecap asin. Singkat cerita, masyarakat Tionghoa akhirnya menambahkan gula yang berasal dari kelapa ke dalam kecap sehingga kecap asin berubah menjadi kecap manis. Dari sinilah lahir kecap manis yang disesuaikan dengan penganan khas masyarakat Jawa yang memiliki ciri khas cita rasa manis.

    Sentra kecap manis di Indonesia berada di kawasan Tangerang, Banten. Di daerah sekitar Pasar Lama Tangerang, atau juga dikenal sebagai kawasan Benteng inilah kecap manis lahir. Dulunya banyak kecap produksi rumahan yang dibuat di kawasan ini, namun seiring perkembangan zaman, yang bertahan dan masih disukai oleh masyarakat Indonesia Kecap Teng Giok Seng yang dijual terbatas di kawasan Tangerang serta Kecap SH yang dijual luas di area Jabodetabek.

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Berburu Kuliner Khas Peranakan Tionghoa Di Bogor

    Berburu Kuliner Khas Peranakan Tionghoa Di Bogor

    Gerbang berwarna merah di seberang Pintu Utama Kebun Raya Bogor menjulang tinggi dengan atap khas negeri bambu berwarna kuning. Dua singa berwarna putih terlihat ‘duduk’ di kiri kanan gapura seolah menjaga kawasan tersebut agar selalu aman

    Jalan Suryakencana, atau juga biasa disebut sebagai kawasan Pecinan Bogor ini terletak persis di depan Pintu Utama Kebun Raya Bogor, Jawa Barat. Kawasan yang identik dengan gerbang berbentuk gerbang istana berwarna merah tersebut merupakan tempat dimana banyak aktifitas dan pemukiman orang peranakan disana. Selain terdapat Vihara Dhanagun yang tak jauh dari gerbang masuk, di kawasan ini juga terdapat gang yang sudah dikenal oleh masyarakat luas bernama Gang Aut. Di gang yang berada di ujung Jalan Suryakencana ini, masyarakat dapat mencicipi berbagai kuliner khas peranakan. Berikut 3 kuliner khas peranakan yang wajib dikunjungi ketika berkunjung ke Pecinan, Bogor.

    Ngo Hiang

    Ngo Hiang merupakan nama kedai sekaligus nama makanan utama yang dijajakan di kedai yang buka sejak pukul 10.00 – malam tersebut. Pemiliknya merupakan keturunan kedua dari Pak Wijaya Candra, yaitu Koh Andri. Kedai ini buka sejak tahun 1992 dan masih ramai dikunjungi pembeli sampai sekarang.

    Apa itu Ngo Hiang? Ngo Hiang merupakan penganan serupa batagor namun daging yang digunakan adalah daging babi atau ayam. Ngo Hiang disajikan bersama potongan kentang rebus dan tahu kuning serta acar lobak yang disiram dengan kuah kacang yang kental. Rasanya yang khas membuat kedai ini masih diburu oleh pecinta kuliner khas peranakan. Dengan harga Rp32000,- untuk seporsi Ngo Hiang, pembeli sudah dapat mencicipi kelezatan Ngo Hiang turun temurun ini.

    Ngo Hiang sendiri berasal dari bahasa Hokkian yang berarti 5 wangi. Orang Hokkian mempercayai bahwa dalam makanan terdapat 5 rempah utama yang dapat menghasilkan wangi sedap pada makanan yang dimasak. 5 rempah wewangian tersebut adalah pekak, merica Shicuan (Shicuan pepper), kayu manis, jinten, dan cengkeh.

    Selain Ngo Hiang, makanan lainnya yang diserbu pembeli di kedai ini adalah Pangsit Penganten. Pangsit Penganten merupakan makanan berupa sup yang berisi soun, kol, ayam suir, bakso goreng, dan pangsit. Sesuai dengan namanya, Pangsit Penganten ini biasa disajikan dalam acara pernikahan orang Tionghoa.

    Lumpia Basah

    Lumpia basah satu ini sangat legendaris. Terletak persis di sebelah kiri Kedai Ngo Hian, lumpia basah ini sudah dijual sejak tahun 1972 oleh seorang penjual bernama Pak Alen. Namun saat ini digantikan oleh anaknya karena Pak Alen sedang sakit. Meskipun begitu, kedai sederhana lumpia basah ini masih sangat ramai diserbu oleh para pembeli. Tempat berjualan lumpia basah ini sangat sederhana, hanya menggunakan gerobak kecil berwarna hijau sebesar kedai minuman di pinggir jalan. Alat masak yang digunakan juga sederhana, hanya menggunakan anglo dan wajan berukuran sedang untuk menumis isian lumpia.

    Tidak seperti lumpia Semarang yang menggunakan rebung, Lumpia Basah Pak Alen ini menggunakan bengkoang sebagai bahan isian lumpia. Bengkoang yang dipotong dadu kecil-kecil tersebut kemudian ditumis bersama toge, telur, ebi, cincangan tahu kuning dan diberi kecap sebagai penambah rasa. Setelah matang, isian tersebut kemudian ditaruh di atas kulit lumpia buatan sendiri. Kulit lumpia yang lebih tebal dari kulit lumpia pada umumnya tersebut diisi dengan isian tadi kemudian dilipat dan dibungkus dengan daun pisang. Tidak lupa saus kacang juga diberikan sebagai tambahan untuk menyantap penganan khas peranakan tersebut.

    Rasa dari lumpia basah Pak Alen ini sangat unik akibat campuran bengkoang dengan bahan isian lainnya. Rasa manis dan gurih serta rasa kacang dan tekstur yang tebal dari kulit lumpia membuat penganan ini cocok dijadikan cemilan yang mengenyangkan. Harganya sebesar Rp13.000,- untuk 1 porsi lumpia basah. Kekurangan lumpia basah ini hanya satu, yaitu tidak tersedianya tempat duduk untuk pembeli yang ingin menyantap langsung lumpia ini.

    Martabak Ncek

    Martabak ini sudah ada sejak lebih dari 40 tahun yang lalu. Tempat yang digunakan untuk berdagang sangat sederhana, berupa gerobak kecil dengan cat warna hijau pupus. Pedagangnya pun seorang kakek tua berusia kira-kira 70 tahun ke atas. Para pembeli dan orang sekitar biasa menyebut martabak ini dengan nama martabak Ncek. Martabak ini merupakan martabak Bangka dengan aneka varian rasa manis. Rasanya yang enak dan khas menjadikan para pembeli rela mengantri lama dan menunggu dengan sabar untuk dilayani oleh sang kakek yang berdagang sendiri ini. Martabak Ncek buka sejak sore hari, dari pukul 5 sore sampai habis.

    Itulah 3 kuliner khas masyarakat peranakan yang berada di Gang Aut, Jalan Suryakencana, Bogor. Selain menawarkan wisata kuliner peranakan, di sekitar Pecinan ini juga menawarkan lokasi-lokasi foto yang sayang untuk dilewatkan.

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id