Siang itu kediaman Menteri Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Ahmad Yani yang sejak tanggal 1 Oktober 1966 diresmikan menjadi museum, tampak sepi. Tak banyak pengunjung yang hadir saat itu. Pengunjung diperkenankan untuk masuk tanpa alas kaki. Memasuki ruangan, pengunjung disambut oleh berbagai foto dokumentasi yang berkaitan dengan Jend. A. Yani.
Mulai dari dokumentasi kegiatan ibu-ibu Persit K.C.K dan Sukwati Dimabesad (Persatuan Istri Tentara), foto kenangan Jend. A. Yani saat kunjungan ke Manada, Timor Timor, Rusia, Filipina, Vietnam, dan Yugoslavia. Adapula foto dokumentasi rekonstruksi penculikan dan penembakan Jend. A. Yani. Suasana museum sungguh membuat para pengunjung merasakan tragedi masa lampau.
Pada lemari kaca terdapat foto yang membuat pengunjung terperangah yakni, dokumentasi penggalian dan pengangkatan jenazah para Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya. Serta foto dokumentasi upacara pemakaman jenazah para Pahlawan Revolusi di TMP Kalibata pada tanggal 5 Oktober 1965.
Pada sudut ruangan terdapat pintu yang dimana bila kita memasuki ruangan sepetak itu terdapat seragam yang digunakan oleh beberapa pahlawan revolusi yakni seragam Jend. A. Yani yang tergantung rapi dalam lemari. Serta terdapat foto Letnan Jenderal TNI Anumerta R. Suprapto, Kapten CZI Anumerta Pierre Andreas Tendean, dan Letnan Jenderal TNI Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono beserta peralatan serta seragam mereka. Dalam ruangan itu juga terdapat diorama Museum Sasmitaloka Jend. A. Yani dan harimau yang diawetkan. Harimau tersebut merupakan salah satu kenang-kenangan dari kerabat Jend. A. Yani.
Berbagai dokumentasi yang terpampang membuat pengunjung mengetahui secara terperinci peristiwa yang terjadi pada masa lampau terutama yang berkaitan dengan Jend. A. Yani. Museum yang dahulu merupakan kediaman Jend. A. Yani ini sungguh membuat kita ikut merasakan kejadian pada masa itu. Lantai, posisi isi rumah, dapur, kamar, kamar mandi masih tampak seperti dahulu.
Saat menyusuri rumah tersebut, para pengunjung terhenti dan memandangi dengan saksama pintu kaca yang terhubung dengan rumah bagian dalam. Pada pintu tersebut tampak beberapa lubang. Ya, itu merupakan bekas tembakan yang diluncurkan oleh Pasukan Tjakrabirawa kepada Jend. A. Yani. Bekas tembakan itu masih sangat terlihat, nyata, dan jelas. Saat membuka pintu, para pengunjung begitu terperangah melihat suasana bagian dalam rumah itu. Begitu luas dan nyaman sekali.
Di depan pintu terdapat lantai yang dijaga dengan rantai, yang menunjukkan bahwa itu merupakan lokasi penembakan Jend. A. Yani. Pada dinding yang terdapat pada depan pintu, lukisan Jend. A. Yani yang merupakan saksi bisu penembakan masih terpajang rapi. Terdapat dua bekas tembakan pada lukisan tersebut. Tepat di sebelah lukisan, terdapat lemari yang berisi beberapa foto Jend. A. Yani dan istri di mana pada lemari itu juga terdapat beberapa bekas tembakan.
Televisi, cangkir, meja makan, dan peralatan golf yang sering digunakan oleh Jend. A. Yani masih tersimpan rapi dan terpajang dalam ruangan. Berbagai surat keputusan, piagam penghargaan dan belasungkawa, Medali Bintang RI kelas II, vandel dari berbagai pejabat tinggi dan perguruan tinggi, dan kenang-kenangan dari kerabat Jend. A. Yani dari berbagai negara pun juga terpajang dan tersusun rapi pada setiap sudut ruangan.
Adapun peninggalan tersebut berupa kenang-kenangan harimau yang diawetkan, lukisan, patung serta miniatur, dan kendaraan pribadi. Kendaraan pribadi Jend. A. Yani adalah Chevrolet Impala yang pada masa itu seharga 53 ribu. Tak hanya lukisan Jend. A. Yani namun lukisan Pahlawan Revolusi lainnya juga terpajang pada dinding ruangan.
Memasuki kamar Jend. A. Yani, pengunjung dapat melihat benda pribadi beliau. Mulai dari sepatu, seragam, pakaian, minyak wangi, foto keluarga, foto setelah pernikahannya, bahkan seprai saat kejadian pun masih tersimpan rapi dalam kamar beliau. Begitu pula pada kamar putra dan putri Jend. A. Yani, boneka yang dahulu seringkali dimainkan oleh anaknya masih tertata rapi. Lukisan serta foto mereka terpampang di dinding.
Pengunjung Museum Jend. A. Yani tak hanya mengenal lebih dalam terkait sejarah Jend. A. Yani namun juga sejarah pada masa lampau. Perjuangan para Pahlawan Revolusi patut kita lestarikan, hargai, serta tumbuhkembangkan. Semangat juang para Pahlawan Revolusi menjadi panutan kita dalam berbangsa Indonesia.
Jakarta – Pelabuhan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam ekosistem peradaban maritim. Banyak pelabuhan-pelabuhan besar yang ada dan menjadi bagian perkembangan sejarah Indonesia, Pelabuhan Sunda Kelapa misalnya. Selain pelabuhan-pelabuhan besar, ada pula pelabuhan-pelabuhan kecil, salah satunya adalah Pelabuhan Indramayu. Pelabuhan ini memanglah tidak besar, namun memiliki nilai penting dalam sejarah Nusantara. Dini Nurlelasari memaparkan pentingnya Pelabuhan Indramayu dalam diskusi panel pada rangkaian acara Konverensi Sejarah Nasional X.
Pelabuhan Indramayu merupakan pelabuhan yang berada di antara dua pelabuhan besar di Batavia dan di Cirebon. Pelabuhan ini sebenarnya dikenal dengan sebutan Pelabuhan Cimanuk, yang juga merupakan nama sungai besar yang menghubungkan Indramayu dengan Cirebon. Nama pelabuhan ini sudah lama tercatat dalam berbagai catatan kuno Tiongkok, maupun Tome Pires.
Pada masa kerajaan tradisional, pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan milik kerajaan Sunda. Tome Pires menyebutkan dalam Suma Oriental, pelabuhan ini merupakan milik penguasa yang tinggal di Daerah Dayo. Pada masa-masa selanjutnya, Dini menambahkan, terdapat benteng yang terletak di tepi sungai Cimanuk ini. Benteng tersebut berguna sebagai penjara dan penyimpanan komoditas VOC. Pada akhirnya keberadaan benteng tersebut mengukuhkan kekuasaan VOC di dekat Cirebon.
Kejayaan suatu tempat pada akhirnya akan memiliki klimaksnya, perlahan tapi pasti kejayaan pelabuhan ini mulai berkurang, adapun salah satu penyebabnya adalah pendangkalan sehingga perahu dan kapal besar enggan berlabuh di pelabuhan ini.
WELKOM IN MALANG | TOKO “OEN” DIE SINDS 1930 AAN DE GASTEN GEZELLIGHEID GEEFT.
Sebuah tulisan berhuruf kapital merah, tercetak di atas spanduk berwarna putih, akan menyambut kedatangan para tamu dalam sebuah toko zaman lampau ini. “Selamat datang di Malang. Toko Oen sejak 1930 memberikan kenyamanan pada para tamu,” kurang lebih itulah arti dari alih bahasa Belanda tersebut. Malang, Jawa Timur; kota yang terletak di dataran tinggi beriklim sejuk, menyimpan banyak guratan memorial terkait sejarah perjuangan bangsa pada masa kolonial, termasuk seni budaya dan arsitektur bangunan yang masih bertahan hingga saat ini.
Terletak di Jalan Basuki Rahmat No.5, Toko Oen memberikan corak tersendiri pada jalur sirkulasi Alun-Alun Merdeka (Alun-Alun Malang). Kawasan bersejarah sekitar alun-alun, Masjid Jami dan bangunan historis lainnya diperkirakan berasal dari masa yang sama dan turut membangun laju pertumbuhan sosial ekonomi masyarakat. Potensi pelestarianToko Oen yang telah berusia 81 tahun ini memiliki bangunan dengan perubahan yang sangat minim. Keaslian arsitektural yang terjaga, menjadi tonggak batas kota Malang dengan sumbangsih ekonomi.
Gaya bangunan art deco yang mulai populer pada 1920-an terlihat dari interior Toko Oen, elemen kaca patri dan perabotan yang digunakan. Kursi dan meja rotan khas zaman lampau tertata sedemikian rupa, menimbulkan kesan nyaman seperti layaknya di rumah. Beberapa elemen yang memperkuat kesan nostalgia dalam Toko Oen juga dapat dilihat dengan adanya piano dan radio kuno, gambar-gambar pada masa awal kemerdekaan, bahkan ubin (tegel) yang digunakan pun masih orisinil dengan nuansa lampau yang melekat.
Toko yang didirikan sekitar tahun 1910 di Yogyakarta ini merupakan toko kue yang digeluti oleh Nyonya Liem Gien Nio, akrab dengan panggilan Nenek Oen. Seiring dengan perkembangannya, toko kue Oen berubah menjadi kedai es krim yang menyajikan aneka jenis es krim khas Italia dan hidangan lainnya, termasuk penganan ringan dan oleh-oleh.
Toko Oen: ketika nuansa lampau tercicipi lewat rasa dan karsa.
Mulyadi, Lalu., Gaguk Sukowiyono. “Kajian Bangunan Bersejarah di Kota Malang sebagai Pusaka Kota (Urban Heritage) Pendekatan Persepsi Masyarakat”, Prosiding Temu Ilmiah IPLBI, 2014 hlm. 1—6.
Rahajeng, Dinda., Antariksa., Fadly Usman. “Pelestarian Kawasan Alun-Alun Kota Malang”, Arsitektur E-Journal, Volume 2 No. 3, November 2009 hlm. 142—159
Orang Jakarta pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Pasar Baru. Pasar yang terletak di kawasan jalan Pasar Baru, Jakarta Pusat ini didirikan pada tahun 1820 dan menjadi salah satu pusat perbelanjaan tertua di Jakarta. Nama Pasar Baru sudah ada sejak zaman VOC dengan ejaan Pasar Baroe atau De Nieuwe Markt. Keberadaan Pasar Baru tak lepas dari sejarah perpindahan ibu kota kolonial ke Weltervreden (sekitar Gambir, Lapangan Banteng dan Istana Merdeka).
Perpindahan pusat kota ini mencakup perpindahan pusat administrasi, pemerintahan, transaksi bisnis, dan militer. Pada abad ke-19, Pasar Baru identik dengan pusat perbelanjaan bergengsi orang-orang Eropa. Lokasinya yang dekat dengan kawasan elit Rijswijk (sekarang jalan Veteran, Jakarta Pusat) semakin menjadikan Pasar Baru sebagai tempat bergengsi pada jamannya.
Memasuki bangunan, pengunjung disambut oleh sebuah gerbang tinggi kokoh bergaya Tionghoa. Beberapa kawasan seperti Pasar Baru, Istana Baru, Kawasan Pintu Air, Metro Pasar Baru, Metro Atom dan Harco Pasar Baru menjadi pilihan pengunjung untuk berbelanja. Keunikan gaya bangunan toko berarsitektur Tionghoa dan Eropa menambah keindahan suasana pasar.
Di dalam kawasan Pasar Baru juga terdapat berbagai bangunan bersejarah seperti tempat beribadah masyarakat keturunan Tionghoa yang diperkirkan berdiri sejak abad ke-17 dan Kuil Sikh yang biasa disebut Gurdwara oleh orang keturunan India. Pagelaran budaya juga disajikan tiap tahun di Pasar Baru.
Semenjak tahun 2003 pemerintah Provinsi DKI juga menggelar Festival Passer Baroe yang diselenggarakan rutin tiap tahunnya. Festival ini biasanya digelar bertepatan dengan ulang tahun DKI Jakarta. Gelaran pertunjukkan dan sajian kuliner meramaikan festival ini.
Kemajemukan para pedagangnya juga menjadi pesona tersendiri bagi para pengunjungnya, orang Tionghoa, Eropa, maupun Melayu berjualan barang primer dan sekunder seperti makanan, sepatu, alat-alat elektronik dan alat tulis. Tak hanya itu, para pedagang keturunan India pun juga menjajakan tekstil.
Sesuai dengan perkembangannya, kini Pasar Baru menjual berbagai jenis kebutuhan, seperti uang kuno, lukisan dan kuliner. Kecepatan dan ketangkasan penjual dalam melayani pembeli adalah ciri khas dari Pasar Baru. Hal itu seperti yang dicatat oleh Justus van Maurik seorang penulis buku “Indrukken van een Totok” yang menceritakan pengalamannya memesan sepatu di Pasar Baru. (Wanti)
Sumber:
Harianti, Diah, dkk.2012. Menguak Pasar Tradisonal Indonesia. Jakarta:Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya.
Sebagian orang masih berpendapat demikian : Covid 19 atau virus korona masih rumor dan korban pun masih belum banyak; media hanya menebar kepanikan; pemerintah dinilai berlebihan.
Masih dalam pandangan semacam ini, orang pun mengatakan: buktinya kami masih aman-aman saja; korona terjadi hanya di kota besar dan tidak mungkin sampai di kampung yang jauh dari keramaian. Di kampung nun jauh dari kota, orang masih bisa mengenal satu dengan yang lain, mengetahu riwayat mereka dan siapa saja yang datang dan pergi dalam beberapa waktu belakangan ini.
Negara Italia barangkali contoh negara dan masyarakat yang menganggap enteng dengan penyebaran virus ini. Awalnya masyarakat di negara itu menanggapi korona dengan biasa-biasa saja, enteng-enteng saja. Tapi apa yang terjadi, Italia menjadi Negara dengan jumlah kematian tertinggi. Hingga Jumat (20/3) malam sudah 3.405 orang yang meninggal. (Kompas, 21/3/2020).
Berbeda dengan Italia, Presiden Jokowi selalu menunjukkan keseriusan dalam menanggapi penyebaran corona ini. Beberapa waktu lalu, Senin (16/3/2020) Presiden kembali menegaskan untuk mengurangi mobilitas orang dari satu tempat ke tempat lain, menjaga jarak dan mengurangi kerumunan orang yang membawa risiko lebih besar pada penyebaran Covid-19. Kebjiakan Jokowi diikuti seluruh pemerintahan daerah.
Bagaimana dengan perayaan Semana Santa (Pekan Suci jelang Paskah) di Larantuka? Wajar bila orang bertanya demikian lantaran perayaan ini sudah menjadi tradisi berabad silam dan mengundang perhatian orang datang ke Larantuka setiap tahun.
Perayaan Semana Santa pun yang dijalankan masyarakat selalu dibingkai dalam upaya melindungi diri dari segala penyakit dan marah bahaya. Lanjutan pertanyaannya, akankah semana santa dilanjutkan, ditunda atau dibuat sederhana dalam situasi semacam ini?
***
Semana santa berhubungan dengan patung-patung yang dianggap
keramat berhubungan pula dengan prosesi Jumat Agung yang selalu diikuti ribuan
umat.
Bukan berlebihan orang meyakini bahwa semana santa adalah ritus yang dilakukan umat untuk mendekatkan diri pada sang khalik dalam menyampaikan permohonan agar terbebas dari segala marah bahaya dan penderitaan yang selalu mendera.
Saat orang Portugis meninggalkan Malaka dan Makasar, ketika jatuhnya benteng Portugis di Malaka, sekelompok umat katolik panik dan tak tahu mau kemana. Dalam kepanikan itu, hanya satu-satunya yang membuat mereka memiliki harapan adalah kembali ke patung-patung yang dibawa dari negeri asalnya dan melalui sarana itu mereka berdoa.
Ketika mereka harus pergi meninggalkan Malaka dan Makasar, sebagaimana mereka pernah mengarungi lautan dari negeri asalnya Portugis, di lautan lepas serba tidak pasti mereka hanya memiliki kepastian bahwa melalui patung-patung yang dibawanya itu mereka akan tiba ke suatu tempat yang lebih baik.
Saat tiba di Larantuka, pengalaman itu kembali diceritakan termasuk kepada penduduk lokal. Ceritra itu kemudian dipercaya dan mulai diwariskan. Di jaman Belanda, Jepang dengan segala pertikaian dan kepanikan, mereka hanya tahu bahwa mereka memiliki patung-patung dan melalui sarana itu mereka bisa kembali berlindung dan meminta belas kasih dari yang kudus.
Begitu banyak soal, dari bencana alam yang memporakporandakan negeri, kasus-kasus kelaparan hingga konflik dalam keluarga, kesusahan yang dialami anak di perantauan, sakit yang tak sembuh, semuanya selalu membawa mereka datang ke kapel-kapel tempat patung-patung itu diletakan termasuk mengikuti prosesi-prosesi yang sudah menjadi tradisi.
Sekarang ada Korona. Korona itu menakutkan dan membawa kegelisahan dan rasa panik dunia. Namun, di Larantuka, belum terdengar sirene ambulans yang membawa jenazah yang mati akibat korona. Lonceng gereja tanda ada umat yang meninggal memang selalu saja berbunyi, tapi belum ada yang mengatakan “yang meninggal”itu karena korona.
Sulit menyakini bahaya korona kalau sirene ambulans dan lonceng gereja belum berbunyi. Tapi satu yang pasti dan tak bisa bisa dihindarkan adalah ajakan untuk berjaga-jaga. Berjaga-jagalah,karena korona sudah dekat.
Dalam serba tanda tanya dan keraguan ajakan untuk menjaga diri agar tetap sehat bisa dapat diterima, tetapi ajakan untuk tidak berkumpul kembali pada sang kudus merupakan suatu yang masih perlu direnungkan. Jika melarang mereka berjumpa dengan yang kudus, bukankah ketika sirene ambulans pembawa pasien covid 19 berbunyi, yang disalahkan adalah mereka yang melarang untuk berkunjung secara bersama-sama kepada patung-patung yang menjadi sarana menuju kekudusan itu?
***
Corona terus menyebar. Salah satu upaya membatasi virus korona ini adalah menghindari diri dari acara kumpul-kumpul. Kebijakan di sejumlah negara menutup wilayahnya bahkan membatasi dan mengawasi arus perpindahan orang. Tapi ini pun belum menjelaskan secara baik hubungan manusia dengan Tuhan dalam perayaan keagamaan. “Di pintu Mu, aku mengetuk, aku tak mungkin berpaling,” demikian Charil Anwar dalam puisinya.
Tanpa harus menjelaskan aspek teologis, Vatikan dan negara Arab Saudi, pusat –pusat keagamaan dunia menjadi contoh yang baik untuk memudahkan orang menerima penjelasan soal-soal ini. Arab Saudi menutup perbatasan, hingga memenjarakan mereka yang nekat berkumpul sekalipun dengan alasan shalat jemaah di masjid.
Vatikan pun melakukan pembatasan dan dalam hubungan Ibadah
“Pekan Suci” dan Paskah yang dipimpin oleh Paus Fransiskus dilakukan tanpa
kehadiran jemaat demi mencegah penyebaran jenis baru virus corona.
Di Jakarta dan beberapa tempat lain di Indonesia, shalat jemaah di masjid mulai dibatasi, demikian di beberapa gereja sudah membatasi umat untuk datang ke gereja mengadakan misa mingguan.
***
Kembali ke Semana Santa. Perayaan yang tinggal beberapa minggu ini selalu dikuatirkan tetap berjalan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Surat Bupati Flores Timur yang dikeluarkan 17 Maret 2020 tidak menyebutkan secara jelas apakah perayaan semana santa ditunda atau tidak. Bupati tegas menyampaikan prosedur pembatasan penyebaran korona, namun terkait Semana Santa, Bupati hanya menyebutkan : membatasi orang yang datang ke semana santa.
Surat itu kalau dibaca bisa juga berhubungan dengan semana santa, bisa juga tidak. Bupati sepertinya tidak mengurusi detail semana santa karena dari perayaan semana santa sebelumnya, pemerintah memang dibatasi untuk mengurusi Semana Santa. Raja Larantuka, Gereja lokal adalah pihak-pihak yang secara langsung terlibat mengatur semana santa.
Di hari dan tanggal yang sama Selasa, 17 Maret 2020 dengan surat edaran Bupati Flores Timur, Raja Larantuka Don Tinus melalui media EkoraNTT mengatakan semana santa tetap dilakukan. Kutipan pernyataan : “Berkaitan dengan Semana Santa, kami suku pemilik Semana Santa dan pihak Gereja mau supaya Devosi Semana Santa ini tetap dilakukan. Tanpa umat peziarah dari luar daerah pun tetap, kami lakukan sebab dari dulu tradisi ini tetap kami laksanakan,” jelas Don Tinus.
Beberapa hari kemudian, diselenggarakan rapat di paroki katedral. Beberapa info hasil dari rapat itu segera menyebar. Rapat mempertegas Surat Edaran Bupati dan penyelenggaraan semana santa hanya untuk umat paroki katedral Larantuka. Ini artinya perayaan semana santa dibuat sederhana dan melarang semua keluarga menerima tamu siapa saja yang datang dri luar larantuka. Sementara untuk ritus cium Tuan Ma dan Tuan Ana akan dibagi per lingkungan dan akan diatur jarak 1 meter per orang dan tidak masuk kapela tapi hanya menunduk dan menghormati di depan pintu
***
Jelas semana santa tidak ditunda, tapi penyelenggaran disesuaikan dengan kondisi, terutama dalam upaya membatasi penyebaran virus corona. Penundaan itu tidak mungkin. Semana santa tidak bisa digeser ke bulan lain juga ke tahun depan,karena bulan lain dan tahun depan punya agenda perayaannya sendiri. Perayaan semana santa tahun depan adalah agenda tahun depan, bukan agenda tahun ini yang dilaksanakan tahun depan.
Pilihannya hanya ditiadakan atau dilakukan sesederhana mungkin. Sampai di sini, tidak ada yang mesti diperdebatkan apalagi bersikukuh untuk tetap menyelenggarakan semana santa seperti dalam kondisi normal, atau meminta untuk tidak mengubah dengan alasan sudah mentradisi.
Perubahan penyelenggaraan semana santa merupakan hal yang biasa-biasa saja. Bahkan meniadakan semana santa untuk tahun ini juga hal yang biasa saja asal dengan pertimbangan yang bisa diterima dan diputuskan oleh otoritas seperti Gereja dan kerajaan. Jangankan dalam babakan sejarah semana santa telah mengalami perubahan yang radikal, setiap tahun saja selalu terjadi perubahan. Siapa pun tahu tentang semana santa tahu bahwa ritus ini terus berkembang menyesuaikan dengan perubahan zaman. Umat tahu mana yang utama dan mana yang sekedar tambahan.
Hal yang tidak berubah adalah umat tetap kembali kepada yang kudus melalui patung-patung dan perayaaan keagamaan dalam keadaan apapun apalagi dalam saat mengalami kekalutan hidup. “Tiap hari tetap berdoa, dalam tori dalam kapela,” demikian hidup yang dilalui umat katolik setempat.
Masyarakat Larantuka, umat keuskupan Larantuka yang meliputi Flores Timur daratan, Adonara, Solor dan Lembata bukanlah masyarakat tertutup, yang menutup telinga dari perkembangan di sekitarnya. Apalagi dunia kini sudah menuju pada masyarakat baru yang mengubah secara radikal watak individu ekonomi (ingat diri) manusia menjadi mahkluk sosial yang berbagi (ingat orang lain).
Dari masyarakat berbagi semacam ini, orang mulai sadar penderitaan yang terjadi di belahan wilayah lain adalah juga menjadi penderitaan orang-orang di wilayah sini. Begitupun manusia semakin dihargai,karena itu tidak penting berapa banyak jumlah kematian, tapi kematian itu sendiri adalah suatu permasalahan bersama. Inilah sebabnya mengapa orang perlu menjaga dirinya untuk tidak mengorbankan orang lain.
Di tengah korona yang membatasi pertemuan dan keramaian, semana santa dan kehidupan iman umat diajak untuk kembali ke asali. Seperti yang terjadi dengan berbagai persoalan yang sering melilit masyarakat, orang kembali pada yang kudus , meletakan kembali patung-patung itu di rumah masing-masing, datang sendiri ke kapel dan tetap berdoa termasuk dalam masa semana santa.
Inilah solidaritas yang dibutuhkan dari umat lokal untuk tetap berdoa tapi mematuhi arahan yang telah diberikan untuk tetap membatasi penyebaran corona dan menyadari akan ancaman korona. Tak perlu beramai-ramai kalau sekedar pertunjukan . Hanya kembali pada patung di rumah, kontas di tangan, orang Larantuka dapat tetap meyakini “torang mati di kaki Tuhan” atau “sampai mati tetap bersama Tuhan”.
Pengantar : Untuk semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan kebudayaan wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020 hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya.Ini merupakan artikel Kesepuluh. Semoga
Penulis : Benjamin Tukan
Pada tanggal 15 Mei 1942, kira-kira pukul 06.00 pagi hari ketika itu nagi Larantuka masih sunyi senyap, tiba-tiba ada dua pesawat udara Jepang melintas-lintas di atas langit. Di ujung Lewotobi, muncul sebuah kapal perang besar dan dua buah kapal kecil yang membawa meriam.
Tapi anehnya, orang nagi merasa biasa-biasa saja. Di jembatan Postoh, orang menaikkan bendera putih, sebagai tanda tidak mau berperang. Tetapi pesawat Jepang tetap berputar-putar kesana kemari. Lantas kapal yang berlayar di Lewotobi kelihatannya tidak beringsut maju.
Tiba-tiba nagi dliputi kabut gelap, ada asap terbungkus menutupi selat Lewotobi. Laut dan darat penuh kabut gelap, dan begitu terperanjat, kapal besar tersebut sudah merapat ke dermaga.
Prajurit Jepang terjun ke darat, mereka membawa bedil sambil berlari mengejar musuh yang menurut mereka berbaju biru. Parjurit Jepang mencari ke sana ke mari, tetapi mereka tidak menemukannya. Karena lelah, Komandannya Yamamato san duduk menghentikan penatnya.
Prajurit bercerita, mereka mengejar musuh berbaju biru tersebut sejak dari Lewotobi. Mereka tidak dapat melihat musuh tersebut, sebab Nagi diliputi kabut kelam. Terus menerus memberondong peluru, tetapi tidak bisa menembus musuh. Mereka berhenti menembak, dan begitu terperanjat, mereka sudah berada di daratan. (Kutipan Buku : “Prosesi Bersama Tuan Ma dan Tuan Ana: Mempertimbangkan Tradisi Katolik di Larantuka- Konga-Wureh, YPPM, Jakarta 2001”).
***
Jepang datang ke Larantuka masih dalam suasana perang dunia ke II. Musuh-musuh peperangan belum semuanya pergi, sementara muncul keinginan untuk segera menata Larantuka dan sekitarnya termasuk juga daerah Flores dan nusantara lainnya untuk menjadi daerah di bawah pengaruh Jepang.
Perang memang tidak mengenal siapa-siapa hanya demi Negara semuanya bisa terjadi. Hal yang menyita waktu dan perhatian ketika itu adalah bagaimana agar orang-orang Belanda dimasukkan ke dalam camp agar tidak terjadi saling pengaruh di masyarakat. Jika demikian, mau tak mau misonaris katolik asal Belanda juga menjadi target untuk dimasukkan ke dalam penjara.
Misionaris di penjara, berarti umat kehilangan pastornya. Tapi tak sekedar itu saja, misionaris telah masuk dalam kehidupan masyarakat yang membuat perpisahan begitu menyedihkan, apalagi dengan sangat terpaksa. Jepang tahu tentang ini karena mengambil orang yang telah berakar dalam hidup masyarakat bisa menimbulkan gejolak di kalangan penduduk.
Uskup Yamaguchi dan beberapa imam Jepang didatangkan dari Jepang, untuk terus menjadi pelayan di tengah masyarakat, disamping menjadi penghubung yang baik antara misi katolik dan pemerintah pendudukan Jepang.
Uskup yang berkedudukan di Ende ketika itu, sekali-sekali waktu datang mengunjungi umat di pelosok-pelosok Flores untuk memberikan karisma. Uskup Yamaguchi juga banyak memberikan laporan dan pengertian kepada pemerintah Jepang ketika itu tentang apa artinya keberadaaan misionaris termasuk menepis kecurigaan orang atas keberadaan misonaris yang nota bene berasal dari Belanda.
Jepang tidak lama di Nusantara, hanya 3 tahun. Sejak 8 Maret 1942 komando angkatan perang Belanda di Indonesia menyerah tanpa syarat kepada Jepang, dimulailah apa yang dinamakan pendudukan Jepang di Nusantara hingga 1945.
Di Flores, angkatan perang Jepang tiba pertama kali 13 mei 1942 di Reo Manggarai kemudian menyusul pasukan angkatan laut dan 3 buah kapal angkutan laut mendarat di Ende. Dengan menjadikan Makasar sebagai pusat angakatan Laut Jepang untuk kawasan Timur, pasukan Jepang mulai mendaratkan kapalnya di bagian tenggara yakni Flores dan Timor.
Suasana perang kala itu, nampaknya tidak memberikan ruang untuk memikirkan tentang penataan pemerintahan yang berbeda dari sebelumnya. Bahkan sebaliknya untuk pemerintahan hanya diganti saja istilahnya. Itulah sebabnya, bekas wilayah afdeeling dirubah menjadi Ken dan tetap ada 3 ken yakni Timor Ken, Flores Ken dan Sumba Ken.
Untuk wilayah Indonesia bagian Timur dikepalai oleh Minseifu yang berkedudukan di Makasar. Di bawah Minseifu adalah Minseibu yang untuk daerah Nusa Tenggara Timur termasuk ke dalam Sjoo Sunda Shu (Sunda Kecil) yang berada di bawah pimpinan Minseifu Cokan Yang berkedudukan di Singaraja. Disamping Minseibu Cokan terdapat dewan perwakilan rakyat yang disebut Syoo Sunda Sukai Yin. Dewan ini juga berpusat di Singaraja.
Ken ini masing-masing dikepalai oleh Ken Kanrikan. Sedangkan tiap Ken terdiri dari beberapa Bunken (sama dengan wilayah onder afdeeling) yang dikepalai dengan Bunken Karikan. Di bawah wilayah Bunken adalah swapraja-swapraja yang dikepalai oleh raja-raja dan pemerintahan swapraja ke bawah sampai ke rakyat tidak mengalami perubahan.
Kendati demikian, beberapa orang yang berumur 50 an tahun pada 1980-an, sangat fasih berceritra tentang kedatangan orang Jepang di Larantuka. Selain pesawat-pesawat tempur hilir mudik ketika itu, orang-orang Larantuka sering berceritra tentang perjumpaan dengan orang-orang Jepang ketika itu.
Mereka terkenang pada sapaan orang Jepang ketika itu, bahkan ucapan terima kasih yang selalu diucapkan orang Jepang setiap kali mengakiri suatu pembicaraan dengan mereka. Ada beberapa tempat peninggalan Jepang yang sering disebut saat hingga saat ini yakni gua persembunyian tentara Jepang. Yang lain adalah cerita tentang prilaku orang Jepang. Tapi untuk ceritra itu kini hampir tidak ada lantaran generasi yang mengalami banyak yang sudah meninggal.
***
Kalau saja bukan karena perang, kehadiran orang-orang Jepang bukanlah bermasud meniadakan budaya yang sudah dibangun, apalagi membawa budaya baru untuk penduduk setempat. Jepang sendiri adalah Negara yang sangat menjunjung tinggi tradisi bahkan dari tradisilah mereka menciptakan kemajuan yang besar untuk negaranya.
Melalui nilai-nilai yang berkembang dalam tradisi, Jepang segera menemukan kesukesesan baik dalam mengelola Negara, maupun berusaha tumbuh setara dengan Negara modern. Sekalipun demikian, tradisi bagi masyarakat Jepang tidak dianggap sebagai suatu yang statis, bukan pula hal yang lahiriah. Tradisi yang dimaksud adalah semangat budaya yang terus diwariskan.
Pante Uste Balela-Larantuka
Ada dua babakan sejarah yang cukup mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Jepang yaitu masa Jengoku Jidai atau zaman Tokugawa (masa perang) berkisar antara abad XV – XVII dan masa Restorasi Meiji (masa damai) berkisar dari abad XVII – XIX. Ketika masa Jengoku Jidai, para Samurai menjadi pasukan bela negara yang kuat dan merupakan kelas masyarakat tertinggi di sana.
Sementara ketika terjadi Restorasi Meiji (masa damai) selama 200 tahun, para samurai tidak lagi menjadi gangster (tukang berkelahi) tetapi mengabdi menjadi guru dan mengajari anak-anak orang-orang kaya (kelas pedagang). Sudah dapat dibayangkan bahwa buah dari usaha selama masa damai ini, melahirkan generasi-generasi baru yang berpendidikan yang menjadi modal Jepang melangkah lebih maju
lagi.
Para Samurai yang menjadi guru adalah pekerja keras. Mereka selalu menanamkan sikap bekerja keras, disiplin, dan tanggungjawab kalau itu untuk kemajuan. Maka tidak heran kalau orang Jepang dikenal pekerja yang menghabiskan waktu lebih panjang untuk bekerja.
Oleh karena mencintai pekerjaan, mereka pun mencintai siapa dan apa saja yang berhubungan dengan kerja termasuk hasil dan produk kerja. Mereka merawat pekerjaan hingga mengetahui pada bagian perhatian pada kerja harus diprioritaskan.
Orang Jepang juga dikenal sebagai orang yang sangat menjaga hubungan baik. Untuk menjaga hubungan baik itu, mereka selalu berusaha menempati janji. Dalam hubungan dengan rasa saling menghargai, justru membuat orang Jepang sangat tertib dan tidak berusaha menerobos “barisan” kalau bukan haknya. Sikap terbuka dalam kerja adalah contoh lain betapa orang-orang Jepang menghargai setiap orang yang bekerja.
Sejak restorasi Meiji, Jepang mengambil budaya yang bagus dari Barat seraya mengembangkan budaya asli Jepang, antara lain: monozukuri, hitozukuri, sunao, dan kokoro. Di kalangan elite Jepang, ada Nilai Bushido.
Monozukuri mengacu pada pentingnya proses untuk menghasilkan sesuatu (mono=produk, zukuri=proses). Hitozukuri adalah pentingnya sumber daya manusia dalam proses produksi (hito=manusia). Semua kemajuan ditentukan oleh kualitas SDM.
Sunao artinya ketulusan atau keikhlasan. Kokoro artinya hati nurani. Sementara nilai Bushido menjunjung tinggi integritas (Gi), Keberanian (Yu), Kemurahan hati (Jin), Hormat dan santun kepada orang lain (Rei), Kejujuran (Makoto), Martabat (Meiyo), Kesetiaan (Chungi), Kepedulian (Tei), dan Harakiri, tak mau hidup menanggung malu.
***
Tak banyak dokumentasi selama Jepang berada di Larantuka, tapi ada sebuah buku yang menarik berjudul “I Remember Flores” ditulis P Mark Tennien dan Maryknoll berdasarkan cerita Kapten Tasuku Sato. Buku ini diterbitkan Penerbit: Nusa Indah, dengan Cetakan II: 2005.
Buku ini awalnya dalam bahasa Inggris dengan Penerbit: Farrar, Strauss and Cudahy, New York, 1957. Alih bahasa ke bahasa Indonesia oleh Thom Wignyanta dan pernah menjadi serial di Majalah DIAN no 3 Tahun I 1973 hingga No 18 Tahun II, 1975.
Siapakah Kapten Tasuku Sato? Tasuku Sato adalah kapten Angkatan Laut Jepang. Lahir di Taipei, Oktober 1899. Masuk Pendidikan Angkatan Laut Jepang dengan spesialisasi navigasi di Etajima pada usia 17 tahun dan tamat usia 22. Mengajar di Sekolah Pendidikan Angkatan Laut di Etajima selama 15 tahun. Tahun 1940 bekerja di Departemen Angkatan Laut.
Setelah dipercayakan tugas di sejumlah bidang, pada 1943, Tasuku Sato ditunjuk sebagai Komandan Pasukan Pengawal Angkatan Laut Kerajaan Jepang di Flores. Jepang menduduki Wilayah Hindia Belanda tahun 1942. Tasuku Sato Bertugas di Flores 1943-1945. Berada di NTT hingga 1947. Dua tahun dipenjara Sekutu di Sumba dan di Timor.
Buku ini hanya sedikit menjelaskan tentang perang. Sebagian besar buku ini justru bercerita tentang pengalaman Tasuku Sato, mengunjungi berbagai wilayah di Flores hingga Adonara dan interaksinya dengan penduduk Flores yang beragama Katolik dan para pengurus Gereja Katolik, yakni uskup dan para imam.
Buku ini juga menceritakan aktivitas dua uskup (Uskup Ogihara dari Hiroshima dan Uskup Agung Yamaguchi dari Uskup Nagasaki) dan sejumlah imam asal Jepang yang dikirim Departemen Angkatan Laut Jepang. Pengalaman di penjara. Penilaian dan kesan Tasuku Sato tentang Flores dan agama Katolik.
Dermaga Larantuka
Di Flores Tasuku Sato memiliki kesan bahwa agama begitu berakar, sehingga bisa merupakan satu perintang bagi pemerintahan Jepang. Bahkan dia menyebutkan “Tidak ada yang lebih merugikan dan malahan merupakan penghalang terbesar terhadap tugas kita memerintah pulau ini selain agama Katolik. Membiarkan Gereja tetap berpengaruh berarti menghalangi pemerintah sipil kita dalam menjalankan tugas secara efektif. Demikian kesimpulan laporan pimpinan sebelum Tasaku Sato. hal 49
Dalam kunjungan ke Larantuka ketika itu seperti ditulis dalam buku ini, pertama kali ia datang ke Larantuka, ia disambut dengan sangat meriah dalam upacara penyambutan yang terkesan seperti upacara-upacara kemiliteran dan pesta-pesta rakyat yang penuh dengan mabuk-mabukan. Penyambutan di Larantuka, merupakan penyambutan kesekian kalinya ia di Flores dan menunjukan bahwa setiap kali upacara selalu dibuat lebih meriah dari penyambutan sebelumnya.
Di Larantuka, kedatangannya diterima oleh dua orang raja sekaligus, yakni Raja Larantuka dan Raja muslim Adonara. Ia pun merasakan betapa ia disambut dengan tarian dan upacara semi militer bagaikan Eropa abad pertengahan.
Dia menuliskan kesaksiannya bahwa “betapa masyarakat Larantuka yang menganut agama katolik, raja Larantuka yang disegani masyarakatnya, juga hubungan persaudaraan yang baik antara raja Larantuka yang katolik dengan raja Adonara yang muslim.
Terhadap kota Larantuka, dia menyebutkan, “sekalipun kota Larantuka adalah kota terpenting ketika itu ujung timur Flores, kota inipun bisa dibilang sangat sepi.
Dia menggambarkan Larantuka sebagai berikut : “Larantuka cumalah sebuah perkampungan kecil, meskipun merupakan kota terbesar di Flores Timur. Di muka rumah penginapan saya, kantor pemerintahan sipil, ada sebuah sekolah, dermaga yang cuma dapat dilabui oleh motor-motor kecil. Dari sana, jalan raya kota terbagi ke utara dan barat. Sepanjang jalan terdapat toko-toko, boleh dikatakan kosong akibat perang dan kekurangan barang-barang. Memang gereja katedral dengan megahnya mengawasi seluruh kota , berbangga dengan sejarahnya. Masih dalam kompleks gereja katedral, masih ada lagi sekolah, asrama, rumah sakit dan biara . Lonceng gereja bergaung menyambutku datang seakan-akan mengingatkan sejarah gereje yang sudah cukup lama.”
Lebih lanjut dia menulis: “Ketika mendengar gaung lonceng bertalu-talu itu, saya seolah-olah mendengar orang berkata bahwa peperangan datang dan pergi, tetapi Gereja bertahan sepanjang masa. Tampaknya, ada garis-garis yang tak dapat mati dan abadi dalam babakan sejarah Gereja bahkan dirasakan oleh orang luar seperti saya”.(116).
***
“Meskipun kami tidak memenangkan perang, tetapi Insya Allah, barangkali kami meninggalkan bekas-bekas kejujuran dan harga diri yang pada waktunya akan diungkapkan juga oleh sejarah,” demikian tulis Tasuku Sato (hal 167).
Memang kehadiran Jepang di Flores atau di Larantuka begitu singkat. Tapi ibarat pertemuan singkat yang sering terjadi antar manusia, setelah pertemuan singkat itu berlalu, maka orang akan bertanya “siapa dia”?
Belajar dari Tasuku Sato yang mengenal Larantuka dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, begitu pun bila kita mau mengenal masyarakat Jepang. Orang hanya dapat maju dan berkembang, bila mempraktikan nilai-nilai baik yang ada dalam masyarakat. Bukankah kemiskinan, kemelaratan, dan keterbelakangan yang masih ada di masyarakat kita karena kita kurang memperhatikan mereka yang miskin dan melarat?
Dalam masyarakat patrilineal seperti di Indonesia, perubahan harus mulai dari atas yang memberikan suri teladan dalam kesalehan sosial. Barangkali ini yang bisa diambil dari kunjungan saudara tua itu.
Pengantar : Untuk semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan kebudayaan wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020 hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Tulisan ini merupakan artikel kesembilan. Semoga berguna.
Penulis : Benjamin Tukan
Kedatangan Belanda mengubah segalanya. Mengubah sesuatu yang dibangun selama masa Portugis, mengubah pola perdagangan, tradisi dan mempraktikan cara-cara baru membangun masyarakat.
Kata kunci untuk mendapatkan gambaran dari sepak terjang Belanda di Larantuka dan sekitarnya adalah politik sentralisme khas Belanda. Suatu politik baru yang mulai diperkenalkan kepada kerajaan-kerajaan lokal yang sebelumnya sangat otonom.
Kenyataan dihadapi tidaklah mudah. Sentralisme yang di dalamnya mengandung ambisi untuk mempersatukan bukan hanya soal kompromi di tingkat penguasa dan pemimpin lokal, tapi juga masalah integrasi sosial di antara penduduk yang sebelumnya sama sekali tidak memiliki perasaan untuk bersatu.
Tidak mudah bagi Belanda menerapkan politik sentralisme yang memperkuat penguasaan teritorial. Politik devide et impera yang merupakan “senjata” ampuh melemahkan kekuatan-kekuatan lokal seperti yang dipraktikan di seantero nusantara mau tidak mau dipraktikan disini. Belanda harus bersekutu dengan kekuatan lokal untuk menghadapi kekuatan lokal yang lain, termasuk bersekutu dengan kekuatan lokal untuk menghadapi sisa-sisa kekuatan Portugis di wilayah ini.
Di masa awal Belanda menancapkan pengaruhnya di wilayah ini, untuk politik dan pertahanan, ketegangan dan pertikaian memang sering terjadi di antara penduduk lokal juga antara penduduk lokal dengan Belanda. Sepertinya semua sedang mencari jalan terbaik untuk berhadapan dengan sistem baru.
Di tengah pergolakan menuju penyatuan itu, politik etis tengah berkembang di pusat pemerintahan Belanda di Batavia juga di Parlemen Belanda. Mau tidak mau berpengaruh juga di wilayah ini. Belanda harus menerapkan politik untuk membangun masyarakat pribumi.
Dalam kerangka ini dua hal yang mau dikemukakan dari tulisan ini adalah politik penyatuan dalam kerangka sentralime dan politik etis dalam mendorong perubahan di tengah masyarakat dimana pihak gereja dilibatkan.
***
Belanda menggantikan Portugis. Pertikaian demi pertikaian yang masih terjadi di wilayah ini menghendaki Belanda harus mencari jalan keluar yang lebih baik. Pada 28 Juni 1861, Belanda mengikat kontrak dengan Kerajaan Larantuka dan para pembesar di wilayah Solor. Sebelumnya, Belanda dan Portugis pada 20 April 1859 sudah melakukan perjanjian untuk menyerahkan wilayah ini ke tangan Belanda dari Portugis. Kontrak 28 Juni 1861 menjadikan Kerajaan Larantuka menjadi bagian dari pemerintahan Belanda, sekalipun tidak memiliki kekuasaan langsung. Raja masih memiliki kekuasaan.
Tapi bagaimana model kekuasaan itu diterapkan? Sudah bisa dibayangkan bahwa tidak mudah Raja Larantuka memiliki kekuasaan yang otonom di tengah bayang-bayang kekuasaan Belanda. Belanda boleh memiliki taktik dan strategi, tapi Raja Larantuka pun harus punya taktik dan strateginya sendiri.
Apa yang terjadi? Raja Larantuka juga ketika itu menerapkan strategi politik “sekutu dan seteru”(Lihat : Disertasi Didik Pradjoko). Konsekuensinya, suatu waktu Raja bisa bersekutu dengan pihak gereja untuk melawan pemerintah Belanda, di waktu yang lain Raja bisa bersekutu dengan pemerintahan atau masyarakat lokal untuk menghadapi pihak gereja. Berputar-putar terus di titik yang sama hanya untuk mempertahankan kekuasaan.
Di tengah pergualatan demi pergulatan untuk menemukan pola kekuasaan yang pas untuk Kerajaan Larantuka, politik kolonial terus menancapkan pengaruhnya di wilayah ini. Di pusat kerajaan Larantuka mulai mucul pertikaian yang semakin melemahkan pengaruh raja. Demikian juga Raja mulai berhadapan dengan aturan baru pemerintahan yang berarti raja pun dapat ditindak.
Perlahan-lahan, struktur kerajaan yang menempatkan pemimpin-pemimpin lokal di bawah kerajaan Larantuka seperti kekakangan mulai dikoptasi dalam kepentingan Belanda. Kekakangan mulai berubah menjadi hamente yang mempengaruhi seluruh dinamika kekuasaan Belanda di sini pada waktu itu.
Politik penyatuan terus terjadi. Mulai bergabungnya beberapa kerajaan kecil dalam suatu lanskap kerajaan Larantuka, yang nota bene di bawah pemerintahan Belanda yang berada di Larantuka. Hubungan-hubungan baru dengan Kerajaan Adonara pun mulai menunjukkan arah yang jelas untuk sebuah proses penyatuan pemerintahan Belanda di kemudian hari. Belanda membuat sebuah lanskap yang meliputi Flores daratan bagian Timur, Adonara, Solor, Lembata.
Dalam pemerintahan, Belanda mulai memperkenalkan cara-cara baru mengadministrasikan kekuasaan kerajaan dan adat yang sebelumnya otonom. Maka di sini mulai ada praktik-praktik pemungutan pajak, hingga persoalan gaji untuk pejabat-pejabat di lingkungan Hamente. Kunjungan wakil pemeritah Belanda ke pelosok-pelosok desa mulai memberikan laporan pada kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat. Demikian pertikaian-pertikaian di antara penduduk lokal mulai diambil alih oleh Belanda kerangka menjaga keamanan wilayah.
Oleh pemerintahan Belanda, perhatian mulai diberikan kepada penataan pemukiman penduduk. Di sini mulai ada cerita tentang “kampung lama” dan “kampung baru” yang terjadi hampir merata di Flores daratan, Adonara, Solor dan Lembata. Masyarakat pun mulai belajar hidup dalam kampung. Soalnya sederhana, bahwa kampung atau Lewo dalam bahasa lokal, tidak seperti yang dimaksudkan Belanda atau seperti yang dialami saat ini. Lewo dalam masyarakat setempat ketika itu lebih menyerupai rumah besar (lango belen) yang berada dekat dengan kebun dan tempat penyembahan (Korke dan Nubanara). Pemukiman jenis ini umumnya juga mempertimbangkan sisi pertahanan, sehingga umumnya berada di atas ketinggian.
Berhubungan dengan penataan kampung, mulai diterapkan kebijakan untuk memindahkan penduduk dari gunung ke daerah pesisir pantai. Beberapa wilayah kampung di pantai kemudian dipindahkan kembali ke gunung karena pertimbangan wabah malaria yang menyerang daerah pantai. Perpindahan yang terjadi juga dikarenakan kebijakan untuk mengurangi perang antar penduduk.
Pembangunan pemukiman baru, membawa konsekuensi lain tentang pembangunan bentuk-bentuk rumah. Mulai ada pembangunan rumah dengan fondasi, atau juga berlantai batu. Baik pemukiman dan bentuk rumah yang mulai ditata, tidak lain menunjukkan arti penting kekuasaan itu yang mulai masuk dalam kehidupan masyarakat sampai dalam kehidupan rumah tangga.
***
Lain pemerintahan, lain juga Gereja yang diwakili para misionaris. Kedatangan Belanda juga disertai dengan masuknya misi katolik. Namun dalam hal politik etis misionaris juga menerima mandat dari pemerintah Belanda untuk mengelola pendidikan sekolah dasar.
Salah satu Kapela di Larantukan (Foto : Dok FBC)
Di wilayah pelayanan gereja, kehadiran misionaris Belanda, awalnya begitu menegangkan, tapi lama kelamaan mereka dapat diterima. Menegangkan karena dalam masa yang begitu lama umat tidak dilayani oleh misionaris, tapi kini harus kembali dengan misionaris yang nota bene segala bentuk peribadatan, harus kembali mendengar apa kata misionaris.
Hal yang menegangkan itu termasuk hubungan gereja dan Raja Larantuka kemudian bisa diatasi. Misionaris yang baru datang ini umumnya lebih bersahaja dan mau menyelami kehidupan masyarakat yang dilayani. Perselisihan awal pun bisa diatasi, dan tidak berlebihan di kemudian hari misionaris-misionaris ini menjadi panutan masyarakat.
Misionaris mulai menata perayaan-perayaaan keagamaaan termasuk semana santa dan prosesi Jumat Agung ke arah peribadatan yang memusatkan pada ibadah gereja. Rumah-rumah adat berubah menjadi kapela-kapela seiring dengan perkembangan umat. Mulai ada kunjungan tetap ke wilayah-wilayah di luar kota Larantuka, dan mulai ada pembangunan paroki dan stasi. Begitu pun peran raja dalam bidang keagamaan, termasuk konfreria juga mendapat perhatian yang baik.
Perkembangan gereja yang dimotori para misionaris ini perlahan mulai memberi perhatian pada bidang pendidikan, dan kesehatan. Pada 3 Desember 1862 misionaris mendirikan sekolah pertama di Larantuka. Kedatangan Pastor Gregorius Mets, Sj ke Larantuka 17 Maret 1863 secara khusus memberi perhatian untuk meletakan dasar-dasar pengelolaan sekolah.
Pendidikan mulai diperkenalkan, belajar pun mulai teratur. Tidak hanya di sekolah, di rumah pun mulai terbiasa dengan kebiasaan belajar. Anak-anak pribumi mulai dikumpulkan belajar dan dikirim untuk belajar di sekolah formal. Sementara bahasa Melayu dipaksa untuk dipergunakan dalam pendidikan dan ibadah.
Tidak saja lembaga pendidikan yang dibangun dekat dengan masyarakat, anak-anak ini pun mulai diperkenalkan dengan sekolah-sekolah favorit yang ada di luar bahkan hingga Eropa. Tidak berlebihan jika orientasi pendidikan adalah keluar dan titel pendidikan memberi label khusus akan hadirnya kelas baru dalam masyarakat.
Berhadapan dengan kebutuhan masyarakat, pendidikan yang diterapkan di Larantuka,mulai menyentuh bidang pertanian, pertukangan juga sekolah putri untuk keterampilan rumah tangga dan perkantoran. Perkebunan misi, misalnya perkebunan kopi mulai dibangun untuk memperkenalkan cara-cara baru pertanian dan perkebunan ke tengan masyarakat. Demikian pertukangan dengan dibukanya bengkel-bengkel misi dan pembangunan sekolah dan gereja yang dilakukan misi.
Berbagai kerajinan tangan mulai diperkenalkan. Salah satunya yang dilakukan Bruder Henricus Adan di halaman bengkel. Di tempat ini dilatih pembuatan kerajinan pahat khusus dari kayu, seperti patung-patung para orang kudus, serta altar yang dikirim ke berbagai tempat misi di Indonesia. Selain memimpin bengkel kayu, Bruder Adan juga adalah seorang musisi berbakat yang memimpin sebuah kelompok musik tiup yang dimainkan para siswa di sekolah Larantuka. Dalam tahun 1874 di Larantuka sudah ada tiga guru, Bruder Biggelaar, Guru musik tamatan kursus musik di surabaya Torco Fernandez dan Petrus Suplanit asal Ambon.
Di kemudian hari, dua bruder misionaris SVD berkebangsaan Belanda dan Jerman, Br. Conradus, SVD dan Br. Stanislaus, SVD mulai merintis sebuah sekolah pertukangan bagian kayu dan besi di Keuskupan Larantuka dengan nama Ambachschool yang selanjutnya dikenal dengan nama Pertukangan St. Yusuf Larantuka.
Sejalan dengan tugas pokok yakni mentrampilkan para karyawan dalam bidang bangunan besi dan kayu, kedua bruder tersebut membina juga bakat mereka dibidang musik khususnya Musik Trompet yang disebut Musik Fanfare melanjutkan tradisi para pendahulunya.
Pada 29 April 1879 datang suster Fransiskanes ke Larantuka
dan dibulan Mei 1879 mereka mendirikan sekolah Putri di Balela. Kepada remaja-remaja putri, Suster Ambrosia, Sr Ernestine, Sr Pelagia, Sr Fransisca, Sr Cunegonde, dan Sr Marceline yang merupakan suster-suster pertama yang datang ke Larantuka, mengajarkan membaca, berhitung, katakismus.
Sementara sore hari diajarkan keterampilan berkebun, memintal benang, mewarnai benang, menenun kain dan menjahit pakaian. Mereka juga diajarkan kesehatan tubuh, kebersihan rumah dan halaman, dan berbagai keterampilan rumah tangga, praktek agama dan tata krama.
Dalam bidang kesehatan, juga mulai diperkenalkan pengobatan-pengobatan gratis yang tidak membedakan suku agama. Pada tahun 1869 mereka mengirim Michael Lobato ke Batavia untuk belajar di sekolah Dokter Jawa selama 2 tahun dan kembali ke Larantuka.
Memang misonaris SVD yang menggantikan Serikat Yesus tidak memiliki relasi yang erat dengan raja Larantuka, mereka jauh lebih banyak bergerak di bidang pendidikan. Piet Noyen bisa dipandang sebagai seorang arsitek besar, yang merancang strategi untuk misi ketika itu. Ia menjadikan Ende sebagai pusat misi baru dan menghendaki sebuah misi yang terpusat bagi kaum muda yang didik dalam sekolah misi.
Kehadiran para misonaris turut pula berperan dalam membangun dan menata kota. Meski di bawah kaki gunung, mereka mampu menata kota untuk menjadi lebih apik. Di tempat tersebut, ada lapangan sepak bola , toko, dll.
Sebuah sumur air lengkap dengan instalasi pipa yang memompa air minum ke rumah para pejabat pemerintahan Belanda di kaki gunung ile mandiri. Satu pembangkit listrik tenaga diesel juga dibangun dan listrik pun mengaliri pelabuhan, kawasan pergudangan, dan semua permukiman di Kota Larantuka.
Infrastruktur penunjang pulau itu juga dibangun. Beberapa kapal ditangkan untuk melayani rute antar pulau. Pelabuhan-pelabuhan kecil dibangun lebih permanen. Selain untuk memudahkan pelayanan gereja, pelabuhan-pelabuhan kecil ini juga sebagai sarana menjemput anak-anak yang hendak bersekolah ke luar.
Penghargaan akan pentingnya pendidikan, dan kebutuhan untuk mengisi tenaga administrasi pemerintahan dan gereja, menyebabkan penduduk daerah ini mulai memahami arti penting sekolah. Dengan pembukaan beberapa model pendidikan baru termasuk seminari, orang-orang semakin mengenal akan pendidikan diluar.
Suatu cara baru kehidupan mulai diperkenalkan. Pentingnya pendidikan formal dengan melatih kemampuan dasar tentu saja, tapi lebih dari itu adalah kerja keras, ketekunan dan kesetiaan adalah cara ampuh yang diperkenalkan agar masyarakat sanggup menghadapi perubahan.
Etos kerja baru kemudian menjadi semacam rujukan tentang manusia yang ideal. Orang berbangga kalau anaknya bisa bersekolah ke pendidikan yang lebih tinggi, bahkan menempuh pendidikan di Eropa. Perlahan masyarakat wilayah ini dikenal sebagai masyarakat yang menghargai arti penting pendidikan, berpikir rasional dan sistematis, berbahasa Indonesia yang baik, pekerja keras, memiliki hati yang kuat dan sanggup hidup dalam masyarakat yang beragam.
Dasar-dasar pendidikan sudah diperkenalkan , demikian dasar-dasar adminsitrasi pemerintahan. Memang banyak postif yang belum tersentuh lagi dari perkembangan yang dibawa Belanda ini. Itu pula sebabnya, menghadapi kebutuhan saat ini yang membutuhkan sikap dan nilai dasar yang mumpuni, orang bisa berujar : Belanda di Larantuka: perubahan terlampau cepat”. Barangkali juga terlalu singkat (*)
Pengantar : Untuk semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan kebudayaan wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020 hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel Kedelapan. Semoga berguna.
Penulis : Benjamin Tukan
Lain Portugis, lain Belanda. Berita jatuhnya Benteng Malaka ke tangan Belanda tahun 1641 seakan membawa kecemasan bahwa sebentar lagi kepulauan Solor pun bakal dikuasai oleh Belanda. Apa yang akan diperbuat Belanda di kepulauan Solor? Tak ada yang dapat memastikan. Semua serba spekulasi.
Namun, kedatangan para pengungsi dari Malaka kemudian dari Makasar akibat kekalahan perang Portugis sepertinya mulai memberi kekuatiran di tengah masyarakat.
Mendahului kedatangan pengaruh politik Belanda di kepulauan Solor, dari segi ekonomi, pelayaran-pelayaran perdagangan nusantara kala itu perlahan mulai dikuasai Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). VOC yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 adalah perusahaan Belanda yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia.
Di Indonesia VOC memiliki sebutan populer Kompeni atau Kumpeni. Istilah ini diambil dari kata compagnie dalam nama lengkap perusahaan tersebut dalam bahasa Belanda. VOC yang menjadi kampiun perdagangan saat itu, sangat berambisi menguasai sentra-sentra perdagangan.
Hingga kedatangan pengaruh politik Belanda, tidak ada pengetahuan sedikit pun tentang kompeni ini. Namun kenyataan yang terjadi, kekuasaan Portugis mulai terdesak. Blokade di jalur perdagagan yang dilakukan VOC, mulai menuai protes dan perang pun tak terhindarkan terjadi di hampir seluruh nusantara.
Pelabuhan Larantuka
Sebagaimana yang terjadi di kepulauan Solor, pada 27 Januari 1613 sebuah armada Belanda datang ke Solor dan tiga bulan kemudian tepatnya 18 April 1613 benteng Solor pun jatuh ke tangan Belanda.
Rupanya prospek perekonomian di kepuluaan Solor terlalu diabaikan oleh Belanda. Belanda pun anggan menghabiskan waktu menghadapi pertikaian yang sering terjadi di masyarakat lokal.
Hanya tiga tahun Belanda menduduki benteng, tahun 1616 Belanda meninggalkan benteng. Politik ekonomi VOC lebih mefokuskan daerah Jawa, dengan pola pertanian skala besar. Apa yang terjadi ? Daerah-daerah yang jauh dari Jawa-Sumatera mulai tidak diperhatikan oleh Belanda.
Tapi lagi-lagi, kedatangan Belanda tidak hanya semata-mata mengumpulkan hasil-hasil bumi untuk didagangkan, tapi jauh lebih mendesak yakni mengamankan jalur perdagangan. Konsekuensinya begitu serius karena penaklukan wilayah yang otonom harus dilakukan, sekalipun korban peperangan adalah kelanjutannya.
Lagi-lagi Belanda tetap menginginkan konsolidasi teritori di seluruh nusantara. Di kepulauan Solor, Belanda bolak balik hanya membuat Portugis tidak leluasa menguasai wilayah ini. Upaya penguasaan wilayah terutama di kepulauan Solor oleh Belanda baru mulai serius pada tahun 1851.
Kali ini Belanda memang serius. Di bulan Desember 1851, kapal Belanda Merapie melabuhkan jangkarnya di pelabuhan Larantuka. Saat itu Belanda mengumumkan pada upacara penyambutan di Larantuka bahwa agama tetap dipertahankan. Dari 1851 hingga 1859 Belanda melakukan serangkaian perundingan dengan Portugis dan 20 April 1859, seluruh kepulauan Solor menjadi milik Belanda.
***
Kendati sebelumnya politik Belanda, menempatkan kepulauan di luar Jawa sebagai Buitengewesten (wilayah di luar, wilayah luaran), atau juga buitenbezittingen (milik-milik di luar sana). Namun perubahan baru tengah dihadapi masyarakat baik dari segi politik maupun dalam wilayah keagamaan.
Dari segi politik, Belanda mulai memperkenalkan struktur pemerintahan baru yang semuanya berpusat pada Gubernur Jendral yang ada di Batavia. Pada 1915 Belanda membagi wilayah pemerintahan yang terdiri dari Residen, afdeling, onderafdeling, dan beberapa district (distrik) atau gemeente di bawahnya. Pembagian wilayah yang demikian juga berdampak pada semakin melemahnya kekuatan masyarakat lokal.
Daerah Flores menjadi satu afdeling dan berpusat di Ende. Sementara Afdeling Flores tergabung dalam satu residen Timor yang berpusat di Kupang. Residentie Timor tergabung ke dalam propinsi Grote Oost, Timur Besar dengan ibukotanya Makasar.
Keresidenan Timor dan daerah takluknya dipimpin oleh seorang residen, sedangkan afdeeling di pimpin oleh seorang asisten residen. Asisten residen ini membawahi Kontrolir atau Controleur dan Geraghebber sebagai pemimpin Onder afdeeling. Asisten residen, kontrolir dan gezaghebber adalah pamong praja Kolonial Belanda.
Para kepala onder afdeeling yakni kontrolir dibantu oleh pamong praja bumi putra ber pangkat Bestuurs assistant.Kepala distrik atau kepala hamente mendapat nama yang berbeda di tiap wilayah.
Pembagian dari segi kelompok etnik dengan bahasa dan budaya sendiri yang dilakukan Belanda kurang lebih menyesuaikan dengan wilayah kerajaan yang ada saat itu. Dengan menempatkan penguasan sipil (zelfbestuurder) di setiap onder afdeeling tentu semakin mengurangi kekuasaan raja yang sebelumnnya sangat otonom.
Belum lagi dalam perkembangan kemudian raja harus menandatangi hak dan kewajibannya untuk tunduk pada pemerintahan Belanda. Namun, pola kekuasan pemerintah Belanda ketika itu masih menerapkan pola sentralisme dan semua harus tunduk pada Batavia.
Aksi-aksi militer Belanda dan penertiban atas pemerintah lokal yang sebelumnnya otonom telah pula membawa goncangan di masyarakat. Ada perkembangan yang cukup baik dengan kebijakan politik etis dengan mulai dibangunnya sarana jalan yang menghubungkan satu kota dengan kota yang lain dalam wilayah ini yang mulai dibangun 1909 . Begitupun jalan lintas Flores dari Reo ke Larantuka mulai dibangun pada 31 Agustus 1915 dan selesai 31 Agustus 1925, dimana berdampak bagi penduduk untuk membangun pemukiman di sekitar wilayah yang berdekatan dengan jalan.
***
“Anda Boleh Berganti Bendera, Namun Anda Tidak Boleh Pernah Berganti Agama”.
Pernyataan diatas, adalah pernyataan Imam Portugis, Gregorio Maria Barreta kepada umatnya di Larantuka ketika masa peralihan itu berlangsung.
Ini tentu berhubungan sekali dengan perjanjian Portugis dan Belanda yang mengharuskan agar pemerintah Belanda harus mengakui keberadaan agama katolik di wilayah ini.
Di wilayah keagamaan khususnya perkembangan misonaris yang datang, justru terlihat ada perhatian serius di masa ini akan perkembangan gereja lokal. Para misonaris diberi kebebasan untuk menangani pendidikan dan jumlah pelayanan umat pun semakin baik karena misonaris yang datang lebih banyak dari sebelummnya.
Sebagai pusat misi tempat subur tumbuh kembangnya benih iman Katolik kala itu, kedatangan Belanda mau tidak mau juga menjadi perhatian misonaris dan gereja saat itu. Dengan dukungan pemerintahan gubernur Belanda, tahapan misi kedua di Larantuka mulai ditata lagi. Namun kali ini, misi yang dibawah lebih bernuasa sistemastis dengan pandangan yang lebih visoner ke depan.
Postoh-Lanrantuka (Foto 10 tahun lalu)
Kendati melewati serangkaian perdebatan di Parlemen Belanda yang akhirnya pada 23 Agustus 1860 disepakati rumusan “kebebasan agama diberikan secara timbal balik kepada para penduduk di wilayah-wilayah yang diserahkan perjanjian ini”, namun Belanda tetap harus memenuhi kewajibannya.
Pada 12 September 1859 sepucuk surat dari Larantuka kepada Mgr Petrus Maria Vrancken Pr, Vikaris Apostolik Batavia untuk mengirim imam ke Larantuka. Uskup Vrancken kemudian mengirimkan Pater Johanes Petrus Nicolaus Sanders, imam diosesan, asal Leiden Belanda dan telah menjadi misonaris di Hindia Belanda sejak 1847 ke Larantuka pada 1860.
Pater Johanes Petrus Nicolaus Sanders merupakan tokoh penting ketika itu karena mulai dengan suatu tradisi yang baru namun tak selamanya bisa cepat diterima oleh umat. Perbedaan sikap yang seringkali ditunjukan raja dan umat terhadap pastor memang akhirnya dapat dimengerti mengingat begitu lamanya umat ditinggalkan pastor.
Bagaimanapun, selama ketidak hadiran pastor di wilayah ini, umat sudah merasa nyaman dengan apa yang dilakukan, terutama yang berhubungan dengan perayaan-perayaan kegerejaan.
***
Suatu perubahan besar baik politik, sosial kemasyarakatan, pendidikan dan agama sedang terjadi di Larantuka saat itu. Suatu era baru mulai diperkenalkan yang pengaruhnya hingga saat ini. Barangkali pembicaraan tentang Larantuka kemudian berhubungan dengan suatu integrasi baru yang menamakan diri Flores Timur termasuk Lembata, perlu dilihat dalam konteks ini.
Di luar itu masih terdapat begitu banyak sejarah lokal yang juga berlangsung di masa-masa ini, yang belum banyak terungkap. Sejarah kerajaan Islam di daerah ini pun belum banyak terungkap.
Kita perlu belajar dari sejarah yang menjadikan kita seperti hari ini. (*)
Pengantar : Untuk semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan kebudayaan wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020 hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel ketujuh. Semoga berguna.
Penulis : Benjamin Tukan
Portugis pindah dari Solor ke Larantuka dan membangun benteng di Sandominggo 18 April 1613. Tapi jangan dikira dengan membangun dua benteng sekaligus di Larantuka, benteng Sandominggo dan kemudian Benteng Postoh tahun 1620, Portugis sudah melupakan Solor. Justru di Larantuka, Portugis lebih serius untuk kembali ke Solor menata puing-puing peninggalan yang telah porak poranda itu.
Portugis tahu, sekalipun Belanda telah mengambil benteng Solor, Belanda sepertinya tidak serius mengurus benteng itu apalagi terlibat dalam perdagangan antar pulau di kepulauan Solor. Belanda sempat meninggalkan Lohayong –Solor 1616 dan baru kembali lagi ke tempat ini dua tahun kemudian yakni 1618. Dalam tahun 1629-1630 Belanda juga meninggalkan benteng itu.
Tapi kembali Solor itu tidak mudah. Dari Sandominggo di Larantuka, Solor hanya sejauh mata memandang. Namun, bagi Portugis untuk ke sana harus berpikir dua tiga kali karena ancaman selalu saja datang baik dari Belanda maupun dari penduduk lokal.
Tahun 1598 penduduk lokal pernah menunjukan kemarahan dan memporakporandakan benteng, lantaran Panglima Benteng Antonio Viegas memenjarakan seorang Bangsawan Lamakera D. Diogo. Belum lagi sewaktu-waktu Belanda bisa datang dan mengerahkan kekuatannya.
Kalau saja dendam terlalu kuat untuk memelihara ingatan, barangkali orang yang tak pernah dilupakan Portugis adalah seorang Belanda bernama Apolonius Scotte. Dia lah yang tahun 1613 memimpin pasukan Belanda untuk merebut Benteng Lohayong di Solor. Dengan jatuhnya Benteng inilah disusul penyerahan kekuasan Portugis ke Belanda atas Solor.
Usaha untuk kembali ke Solor memang selalu ada, namun usaha itu selalu gagal, karena Portugis sudah tidak lagi diterima di sana. Portugis sudah tidak mendapat dukungan masyarakat baik dari agama maupun perdagangan. Kenyataan ini harus diterima, hingga tahun 1636 Portugis benar-benar meninggalkan Lohayong-Solor dan selanjutnya menetap di Larantuka.
Ada semacam penyesalan sebagaimana ditulis Miguel Rangel, seorang arsitek pembangunan Benteng Solor, yang ditulisnya di Malaka tahun 1633. Ia menulis : “jika orang Beladnda tidak menghalangnya, benteng Solor telah menjadi sebuah kota yang dikunjungi semua orang dari daerah sekitarnya dan dari Malaka dan Tiongkok, dari mana pada musim hujan 1633 terakhir ini baru datang empat kapal ke Solor untuk memuat kayu cendana.”
(Catatan : Perlu diingat Miguel Rangel ini nama yang saat ini diabadikan untuk jalan di sekitaran Sandominggo kelurahan Larantuka. Miguel Rangel adalah seorang bruder Dominikan yang pada 1630 memutuskan untuk memperbaiki benteng di Pulau Solor yang telah ditinggalkan oleh orang Belanda.)
Tapi lagi-lagi Belanda terus membuntuti Portugis. Tidak saja mendesak Portugis keluar dari Solor, tapi juga dari Larantuka juga dari Flores. Pertikaian demi pertikaian terus terjadi. Tahun 1846 Belanda menyerang Flores. Pada tahun 1648 terjadi gempa bumi yang meruntuhkan benteng Solor semakin membuat Portugis tidak lagi menghiraukan Solor dan hanya berkonsentrasi di Larantuka.
Belanda tetap menginginkan konsolidasi teritorinya di seluruh wilayah Nusantara. Tahun 1850 Belanda membeli sisa-sisa benteng Portugis di Flores dan mulai berkuasa di Larantuka sejak 1851 melalui penandatanganan traactaat Dili. Bersamaan dengan itu pada 1851 datang tawaran dari Portugis Dili kepada Belanda mengambil alih benteng Larantuka dan Wureh sebagai jaminan atas pinjaman sebesar f. 80.000 kepada gubernur Portugal di Koloni Timor-Timur.
Seluruh kepulauan Solor menjadi milik Belanda sejak 20 April 1859, dengan Belanda membayar tambahan f. 120.000. Pada 1856 Portugis meninggalkan kepulauan ini termasuk Larantuka, sekalipun ratifikasi atas perjanjian itu baru terjadi pada 20 April 1859 di Lisabon. Suatu perjanjian untuk melepaskan pos-pos Portugis yang jauh dan klaim-klaimnya atas Flores dan Solor kepada Belanda, dan mempertahankan haknya atas Timor Portugis.
Sejak itu Portugis pun meninggalkan Larantuka dan tak kembali lagi.
***
Urusan masyarakat punya cerita sendiri, kemauan politik punya ceritanya juga. Di tengah pergulatan politik-ekonomi yang dialami Portugis kala itu, sejak jatuhnya Malaka ke tangan Belanda 1641, penduduk Melayu Kristen/katolik dipaksa harus keluar dari Malaka. Dalam tahun 1641 terjadi migrasi besar-besaran penduduk Melayu ini ke Larantuka.
Seiring dengan berpindahnya penduduk ke Larantuka dan Larantuka dipandang sebagai tempat yang cocok untuk pengembangan misi, maka banyak barang Portugis yang berada di Malaka dialihkan ke Larantuka termasuk benda-benda gereja.
Pada tahun 1665 mengungsi pula orang-orang Portugis dari Makasar menuju Larantuka. Para pengungsi Makasar ini menyebar lagi di Larantuka, dan beberapa tiba di Konga 20 kilometer arah barat Larantuka, dan Wureh di Pulau Adonara. Dalam pengungsian ini Frei Lucas da Cruz berhasil menyelamatkan benda-benda ibadah yang sangat berharga dari Gereja S. Domingos de Surian di Makasar dan dialihkan ke Larantuka. Kemungkinan pengungsi dari Makasar inilah yang telah mendirikan Gereja Santo Domingo dan mengawali ibadah “Senyora Rosari” serta perayaan Paskah di Larantuka.
Orang Portugis yang mengungsi ini, kemudian mulai membangun perkampungan. Mereka membangun perkampungan baik di Larantuka, Konga dan Wureh. Orang-orang yang tinggal di Larantuka, Konga dan Wureh menyebut diri mereka dengan sebutan Larantuqueiros atau orang dari Larantuka.
Repro
Ketika itu, kehidupan iman umat katolik memang sungguh menantang, lebih-lebih karena kurangnya imam. Kurangnya pelayan para imam ini selain karena banyak misionaris Portugis terhalang masuk karena pertikaian politik, persoalan yang dihadapi imam-imam ordo Dominikan di Portugis, juga karena dihapusnya keuskupan Malaka dan dikembalikan ke Keuskupan Goa. Selama abad ke 17 dan 18, hanya ada dua kapal angkut Portugis yang berlayar dari Goa (India) ke Larantuka. Dalam serba keterbatasan inilah sesekali umat Larantuka mendapat kunjungan imam diosesan dari Dili. Tidak ada seorang pun wakil resmi kerajaan Portugal yang berkunjung ke Larantuka selama periode tersebut.
Kendati hidup dalam pertikaian dan keadaan serba terbatas, orang-orang Portugis yang ada di Larantuka, Konga dan Wureh ini mulai banyak memberikan pengaruh yang besar untuk daerah ini. Di antara mereka banyak yang kawin dengan penduduk setempat. Nama-nama ahli waris kerajaan Larantuka diberi gelar Don dan diikuti dengan serangkaian nama aristrokrasi Portugis.
Tidak hanya nama kerajaan, beberapa suku kecil di wilayah ini juga menggunakan nama-nama Portugis. Sebanyak 13 suku di Larantuka yang tadinya menggunakan nama suku Lamaholot berubah menjadi suku Fernandez, suku Da Silva, suku De Rosari, suku Da Costa. Juga Da Santo, Gonzales, Ribeiru, Skera, atau De Ornay. Namun demikian ada beberapa suku memang keturunan langsung Portugis.
Dalam hal penyebutan nama, di wilayah ini mulai dikenal dengan penyebutan nama keluarga bagi mereka yang dibaptis. Nama bapak menjadi nama belakang dan yang kemudian dipakai secara turun temurun. Beberapa bahasa dan istilah yang dipakaipun masih juga menggunakan nama-nama Portugis.
Bekas diplomat Portugal di Indonesia, Antonio Pinto da Franca, menginventarisasi paling tidak ada 75 kata Indonesia berasal dari Portugis. Beberapa kata mungkin terasa asli Indonesia. Sebut misalnya,- sisa dari sisa, terigu dari terigo, tempo dari tempo.Kata lain, misalnya, bangku dari banco, berandadari varanda, boneka dari boneca, kaldu dari caldo,meja dari mesa, pesta dari festa. Ada juga sekolah dari escola, pigura dari figura, dan sepatu dari sapato. Kata-kata ini pun mudah dijumpai di Larantuka.
Penyebutan untuk Nama-nama portugis dalam upacara keagamaan masih dipertahankan hingga kini, demikian juga pakaian-pakaian dan asesoris peribadatan, masih juga menggunakan warisan Portugis. Di kota ini, beberapa nama tempat memberi kesan akan tradisi Portugis termasuk menjadikan POSTO untuk sebutan pusat kota.
Dalam kehidupan rumah tangga, keluarga-keluarga yang dipengaruhi Portugis mulai menyamakan kehidupannya dengan keluarga di tempat asalnya di Portugis. Rumah mulai ditata dengan halaman rumah yang di tumbuhi bunga-bunga. Sementara dalam rumah, ibu menjadi penentu membesarkan anak-anak dan mendidik anak-anak mencintai pekerjaan rumah tangga. Patung ditempatkan di tempat khusus untuk berdoa.
Larantuka seakan menjadi tempat pertukaran kebudayaan termasuk kebudayaan Eropa abad pertengahan dengan kebudayaan Malayu dan kebudayaan Lamaholot dari masyarakat setempat. Kewajiban menjaga agama kalau pastor tidak ada diserahkan kepada “persekutuan Reinja Rosario’ dengan tugas mengajarkan katekhismus, melakukan Pembatisan , mejaga pemeliharaan kapel-kapel serta menyelenggarakan prosesi-prosesi.
***
Sekali pun melalui tradisi dan perjumpaan masyarakat tempo itu, sedikit banyak menunjukkan pengaruh Portugis atas wilayah ini, namun menurut studi yang dilakukan Didik Pradjoko, tidak pernah ada perasaan bahwa mereka dikuasai oleh pemerintah Portugal. Sesungguhnya mereka adalah kekuatan yang merdeka dan berdiri sendiri.
Ini pun dibuktikan pada tahun 1679, Larantuka menolak menjadi jajahan Portugis, (*)
Pengantar : Untuk semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan kebudayaan wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020 hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel keenam. Semoga berguna.
Penulis : Benjamin Tukan
Untuk Larantuka, Portugis bukanlah ceritra masa lampau saja, tapi hingga kini jejak-jejak Portugis banyak berbicara mengenai perkembangan kota ini. Kendati demikian, Larantuka bukanlah Makau yang dibangun Portugis yang saat ini cukup dikenal itu. Kecuali tradisi keagamaan, hingga kini peninggalan-peninggalan Portugis di Larantuka masih terus dikumpulkan dan coba untuk diberi makna.
Menelusuri kembali perjalanan Portugis yang singgah di Larantuka, tidak lepas dari budaya bangsa pelaut ini dalam menjelajahi dunia termasuk datang ke daerah Nusantara yang banyak menghasilkan rempah-rempah.
Sungguh petualangan model ini adalah hal yang paling menakjubkan untuk negara sekecil Portugal. Jika bukan karena pembawaan dari bangsa Iberia yakni kecendrungan aneh untuk bermimpi, kesenangan untuk mengambil resiko berbahaya, juga idealisme religus, tidak mungkin mereka tiba di Larantuka.
Petualangan yang begitu sederhana dalam perkembangan kemudian kedatangan Portugis ini didorong oleh tujuan yang lebih besar yakni feitoria, fortaleza, dan igreja atau emas, kejayaan, dan gereja atau perdagangan, dominasi militer, dan penyebaran agama Katolik.
Sebagai negara kecil yang dulunya masih menjadi satu dengan Spanyol adalah negara di bagian paling barat Eropa dengan komunitas agama Katolik. Portugis dikenal sebagai masyarakat penjelajah dunia dengan kebudayaan maritim yang cukup baik.
Perjalanan mengilingi dunia dimulai pada 1488 melalui ekspedisi Bartolomeus Dias. Dia yang menjangkau hingga Tanjung Harapan, Afrika. Vasco da Gama melanjutkan ekspedisi Bartolomeus. Sayang ia juga hanya sampai India 1498. Kemudian pada 1503, Armada yang dipimpin Alfonso de Albuqueque berangkat dari Sungai Tagus yang bermuara ke Samudra Atlantik, mengarungi samudra Atlantik dan masuk melewati Tanjung Harapan Afrika lalu haluan kapal diarahkan menuju Goa India. Baru April 1511 ia ke Malaka dan tiba di Malaka dalam bulan yang sama.
Saat itu Malaka telah menjadi satu tempat di Nusatara yang cukup ramai. Dari Malaka, sebuah akspedsi dikirim oleh Alfonso de Albuqueque. Dibawa pimpinan Antonio de Abreu dan Francisco Serrao mereka berlayar ke arah timur. Pelayaran melewati pesisir pantai Sumatera, Jawa,Bali, Lombok, Sumbawa dan Flores kemudian memutar haluan ke utara dan mencapai Banda pada 1512. Portugis juga mengirimkan armada ke arah China. Pada 1513 armada tiba China dan mencapai Jepang tahun 1543.
Setiap kali mereka tiba di suatu tempat, orang-orang Portugis selalu memegaruhui kehidupan komunitas masyarakat yang disinggahi. Dari tempat yang disinggahi mereka selalu memperkenalkan bahasa, makan, cara berpakaian,dan jenis musik. Orang-orang Portugis sangat menghargai seni baik musik maupun tari-tarian.
Di tempat asalnya, masyarakat Portugis dikenal sebagai bangsa yang sangat menghargai leluhur serta selalu menjaga kebiasaan secara turun temurun. Kehidupan masyarakatnyapun sangat ramah dan saling menghargai antar sesama.
Dalam keluarga tradisional Portugis hubungan antara orangtua dan anak sangat kuat. Tradisi kumpul bersama menjadi kebiasaan yang selalu dipertahankan. Orang-orang Portugis mengajarkan dan mendidik anak mereka untuk menyukai pekerjaaan yang berkaitan dengan rumah termasuk mengurusi halaman rumah dengan tanaman.
Dalam keluarga-keluarga Portugis, ibu memegang peran yang penting menentukan berlangsung hidup keluarga. Di rumah selain tarian dan musik, khususnya anak perempuan dilatih menyulam baju, selimut, taplak meja, saputangan dan lainnya .
Portugis selalu meninggalkan jejak di setiap tempat yang kunjungi lebih-lebih pada kehidupan yang dekat dengan keseharian manusia, membuat bangsa ini selalu diingat. Ini juga yang dilupakan oleh Belanda dalam konflik Belanda dengan Portugis di Nusantara. Belanda mengira Portugis akan pergi dan tak pernah kembali atau meninggalkan jejak di Nusatarara, tetapi kenyataan di beberapa tempat termasuk Flores Portugis meninggalkan jejak itu.
Di luar persaingan perdagangan tempo itu, di Nusantara umumnya dan Larantuka khususnya, Portugis selain dikenang melalui tradisi agama katolik, juga melalui musik, bahasa, pola hidup dalam rumah maupun jenis-jenis sayuran dan buah-buahan.
***
Pelayaran Portugis mengarungi nusantara yang melewati perairan Nusa Tenggara, membawa mereka pada suatu waktu di masa lalu untuk tiba di Larantuka dan kepulauan Solor. Sebelum tiba di kepulauan Solor, dalam perjalanan itu, mereka menemukan sebuah pulau yang kemudian dinamakan “Cabo da Flores” yang berarti Tanjung Bunga yang mana nama tersebut dipakai hingga saat ini menjadi Pulau Flores.
Letak kepulauan Solor yang terbilang strategis untuk menghindari dari amukan gelombang laut, membuat perahu-perahu Portugis memilih untuk berlabuh di daerah ini. Begitu pun hasil-hasil alam dari kepulauan ini cukup untuk memasok perbekalan perjalanan mereka selanjutnya.
Pada 1515 pelayaran Portugis membuka perdagangan di kepulauan nusantara tiba di kepulauan Solor dan Timor. Lima tahun kemudian, pada 1520 pedagang Portugis mulai menetap dan tinggal di Solor, pulau kecil di depan Larantuka. Mulai saat itu, Solor dijadikan tempat pertama untuk aktivitas perdagangan wilayah kepulauan.
Di Solor, mereka membangun rumah-rumah sederhana dan karena mereka beragama Katolik, maka mereka mulai berdoa dengan cara dan tradisi Katolik. Pada 1522 seorang imam yang menyertai rombongan pedagang itu tinggal dan menetap di Solor. Ia bekerja dengan tekun, melayani umat baik di kepulauan Solor maupun Timor.
Laporan seorang imam Dominikan P. Antonio de Taveria, OP pastor kapal Portugis, ketika menyinggahi Lohayong di Pulau Solor dan Larantuka di Pulau Flores, beliau mendapati banyak orang katolik disana. Dia juga berkesempatan mempermandikan banyak orang.
Perkembangan umat katolik yang dibawa pedagang Portugis di wilayah kunjungan mereka, mendapat respon dari Paus sebagai pemimpin Gereja katolik. Pada 1529 Paus menyerahkan tugas menyebarkan agama katolik kepada misionaris Portugis.
Perkembangan dan pertumbuhan umat yang pesat diketahui juga oleh Uskup Malaka Mgr. Jorge da Santa Lucia, OP. Pada 1561. Uskup menugaskan tiga imam Ordo Dominikan dari Melaka ke Solor. Ketiga missionaris tersebut adalah Pater Antonio da Cruss OP, Pater Simao das Chagas, dan Bruder Alexsius. Ketiga imam Dominikan ini pergi dan menetap di Solor. Oleh karenanya, tahun ini ditetapkan sebagai tahun resmi awal karya Misi Katolik di kawasan ini.
Pada 1566, Pater Antonio da Cruz mulai membangun sebuah benteng di Solor dengan pendanaan dari Maukau. Benteng yang dibangun, kemudian menjadi pusat aktivitas misi Katolik. Di dalam banteng itu dibangun asrama, gereja dan seminari. Pada tahun 1600 tercatat sedikitnya ada 50 siswa seminaris. Benteng ini kemudian oleh Belanda diberi nama benteng Fortaleza (benteng pertahanan), “Henricus”.
***
Kepulauan Solor dulunya ditumbuhi hutan-hutan cendana yang sangat bernilai harganya pada perdagangan kala itu. Dari Lohayong -Solor hubungan baru mulai tercipta. Perkembangan dari sisi ekonomi perdagangan dan agama katolik di wilayah ini, membuat Solor berhubungan langsung dengan pusat-pusat perdagagan dan pusat-pusat misi seperti Maluku dan Ternate, Malaka dan Maukao bahkan hingga ke Goa India.
Sementara itu terjadi persaingan di tingkat perdagangan yang melibatkan pedagang yang melintasi Larantuka, juga perlawanan dari penduduk lokal sendiri dengan kehadiran agama baru tersebut. Sebagai akibatnya, pada masa itu terjadi pembunuhan dan lahirlah para Martir Katolik pertama. Meraka adalah Pater Antonio Pestana, Pater Simao de Montanhas, Pater Simao da Chagas, dan Pater F.
Calassa.
Harapan untuk menancapkan pengaruh yang semakin kuat,pada kenyataannya harus menghadapi ancamanan dari kedatangan Belanda. Pada 27 Januari 1613 sebuah armada Belanda datang ke Solor dan tiga bulan kemudian pada 18 April 1613 benteng Lohayong pun jatuh ke tangan Belanda.
Jatuhnya Benteng ke tangan Belanda mengakibatkan banyak orang Portugis meninggalkan Solor menuju Larantuka, bahkan ada yang memilih untuk kembali ke Malaka. Pater Agustino de Magdalena dan Kapitan Fransiskus Fernandes memimpin beberapa pengikut yang setia berserta orang-orang Portugis hitam (Indo) menuju Larantuka.
Pater Agustino de Magdalena memilih sebuah tempat yang bagus dan strategis untuk pertahanan Keamanan,yakni di Sandominggo (sekarang istana Uskup Dioses Larantuka). Jadi jika orang bertanya kapan ulang tahun kota Larantuka, maka bisa saja diambil dari tanggal 18 April (18 April 1613), kecuali ada pertimbangan lain. (*)