Author: Redaksi

  • Sajak Taman Kasih Tak Bertepi 

    Sajak Taman Kasih Tak Bertepi 

     

    Oleh Albertus Muda

     

     

    Di hamparan kasih-Mu yang tak bertepi, Tuhan,
    kami taburkan benih-benih sesal,
    dari jiwa yang merunduk.
    Dengan setia Engkau menimang, merawat,
    hingga tunas-tunas tobat kami menetaskan kelopak harapan,
    mekar mewangi di batas fajar.

     

    Panji-panji doa kami tegakkan, menjulang,
    seperti tiang-tiang niat yang takkan tumbang.
    Terukir simpul puasa yang mengikat nafsu,
    dan pantang yang mengikis ego,
    agar pada saatnya, kami membuahkan sedekah sejati,
    mengalir tak terbatas, serupa sungai anugerah-Mu.

     

    Tak henti Engkau mengairi akar-akar iman kami,
    yang menjalar mencari arah,
    menembus relung hati yang rapuh.
    Agar kami tegak berdiri,
    di atas bumi subur, makmur,
    berkat sentuhan jemari-Mu yang Ilahi.

     

    Tuhan, sandaran jiwa kami,
    kami hanyalah serpihan debu,
    yang mungkin mengotori jejak kasih-Mu.
    Namun dalam rimbunnya harap,
    kami berpasrah, menyerahkan seluruh jiwa.
    Semoga ziarah hidup ini,
    menjadi untaian asa yang tak pernah putus,
    mengikat kami pada kekekalan-Mu.

     

    Lembata, 6 Maret 2025

  • Perilaku “Blind Obedience”  dalam Berbagai Dimensi Sosial

    Perilaku “Blind Obedience”  dalam Berbagai Dimensi Sosial

     

    Oleh  Agus Widjajanto

     

     

    Banyak kasus dan fenomena sosial dimasyarakat baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara maupun dalam penegakan hukum di negara berkembang tidak terkecuali di Indonesia, telah terjadi kepatuhan yang absolut terhadap atasan yang berakibat merusak tatanan sosial, dimana salah satunya adalah fenomena dalam penegakan hukum oleh aparat hukum kerap terjadi para penegak hukum dilapangan dapat instruksi atasan untuk melakukan tindakan hukum sesuai dengan  kemauan dari atasan, yang mana bawahan tidak lagi mempunyai keleluasaan untuk memutuskan secara mandiri dan independent sesuai kapasitas tugasnya yang berakibat dan menimbulkan ketidakadilan dan akibat berantai yang menghancurkan tatanan sosial dalam masyarakat sebagai negara hukum.

    Dan fenomena ini sudah berlangsung lama pada intitusi penegak hukum, baik dikepolisian, kejaksaan, bahkan pada peradilan dibawah naungan Mahkamah Agung. Demi rasa keadilan dan kepastian hukum dalam negara hukum, perlu perbaikan yang berani, yang harus dimulai dari level atas dimana para pucuk pimpinan berani memberikan contoh memberikan kekuasaan penuh pada bawahan untuk bertindak sesuai kewenangan dan jabatannya.

    Blind obedience adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku seseorang yang mematuhi perintah atau aturan tanpa mempertanyakan atau memikirkan konsekuensinya. Dalam kata lain, blind obedience adalah ketika seseorang mematuhi perintah hanya karena perintah itu diberikan oleh seseorang yang berwenang, tanpa mempertimbangkan apakah perintah itu benar atau salah.

    Penjelasan lebih lanjut tentang blind obedience dapat ditemukan dalam teori psikologi sosial, khususnya dalam konsep obedience yang dikembangkan oleh psikolog Stanley Milgram.

    Stanley Milgram melakukan eksperimen terkenal pada tahun 1960-an yang menunjukkan bahwa orang-orang cenderung mematuhi perintah dari seseorang yang berwenang, bahkan jika perintah itu bertentangan dengan nilai-nilai moral mereka. Dalam eksperimen tersebut, Milgram menemukan bahwa sekitar 65% orang yang menjadi subjek eksperimen mematuhi perintah untuk memberikan sengatan listrik kepada orang lain, bahkan ketika mereka tahu bahwa sengatan listrik tersebut dapat menyebabkan cedera serius atau bahkan kematian.

    Milgram menjelaskan bahwa blind obedience dapat terjadi karena beberapa faktor, termasuk:

     

    1. Kekuasaan: Orang-orang cenderung mematuhi perintah dari seseorang yang berwenang karena mereka percaya bahwa orang tersebut memiliki kekuasaan untuk memberikan perintah.
    2. Kepatuhan: Orang-orang cenderung mematuhi perintah karena mereka telah diajarkan untuk mematuhi aturan dan perintah sejak kecil.
    3. Kekurangan informasi: Orang-orang cenderung mematuhi perintah karena mereka tidak memiliki informasi yang cukup untuk mempertanyakan atau memikirkan konsekuensinya.

     

    Dalam konteks yang lebih luas, blind obedience dapat memiliki konsekuensi yang serius, seperti:

     

    1. Pelanggaran hak asasi manusia: Blind obedience dapat menyebabkan orang-orang mematuhi perintah yang melanggar hak asasi manusia, seperti perintah untuk melakukan kekerasan atau diskriminasi.
    2. Kehilangan otonomi: Blind obedience dapat menyebabkan orang-orang kehilangan otonomi dan kemampuan untuk membuat keputusan sendiri.
    3. Ketergantungan pada otoritas: Blind obedience dapat menyebabkan orang-orang terlalu bergantung pada otoritas dan kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis dan membuat keputusan sendiri.

     

    Dalam kesimpulan, blind obedience adalah perilaku yang dapat memiliki konsekuensi yang serius, dan penting bagi kita untuk memahami faktor-faktor yang menyebabkan perilaku ini dan berusaha untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan membuat keputusan sendiri.

     

    Dalam Dunia Militer

    Blind obedience dalam militer dunia merujuk pada kepatuhan tanpa syarat terhadap perintah atasan, tanpa mempertanyakan atau mempertimbangkan implikasi moral atau etis dari perintah tersebut. Berikut beberapa aspek tentang blind obedience dalam militer:

    Pentingnya disiplin:

    1. Kepatuhan terhadap perintah: Dalam militer, kepatuhan terhadap perintah atasan sangat penting untuk menjaga disiplin dan memastikan keberhasilan misi.
    2. Struktur hierarki: Struktur hierarki dalam militer memerlukan kepatuhan terhadap perintah atasan untuk menjaga ketertiban dan efisiensi.

     

    Risiko blind obedience:

    1.Kekerasan dan pelanggaran HAM: Blind obedience dapat menyebabkan kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia jika perintah atasan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusiaan.

    2. Kehilangan akuntabilitas: Blind obedience dapat menghilangkan akuntabilitas individu dalam militer, karena mereka tidak mempertanyakan perintah atasan.

     

    Contoh kasus:

     

    1. Kasus My Lai: Selama Perang Vietnam, kasus My Lai menunjukkan bagaimana blind obedience dapat menyebabkan kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia.
    2. Kasus Abu Ghraib: Kasus penyiksaan tahanan di Abu Ghraib juga menunjukkan bagaimana blind obedience dapat menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh Amerika Serikat .

     

    Pencegahan dan penanggulangan:

     

    1. Pendidikan dan pelatihan: Pendidikan dan pelatihan tentang hak asasi manusia dan hukum humaniter dapat membantu mencegah blind obedience yang tidak etis.
    2. Mekanisme pengawasan: Mekanisme pengawasan dan akuntabilitas dapat membantu mencegah dan menanggulangi kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia.

     

    Dalam militer, penting untuk menyeimbangkan antara kepatuhan terhadap perintah atasan dengan pertimbangan moral dan etis. Blind obedience yang tidak etis dapat menyebabkan kerusakan besar pada individu dan masyarakat.

    Dalam Dunia Bisnis

    Blind obedience pada karyawan di perusahaan manajemen keluarga dapat menghambat manajemen secara profesional dalam beberapa cara:

    Kekurangan objektivitas:

    1. Pengambilan keputusan tidak objektif: Karyawan yang memiliki blind obedience terhadap keluarga pemilik perusahaan mungkin tidak berani memberikan pendapat atau saran yang tidak sesuai dengan keinginan keluarga, sehingga pengambilan keputusan tidak objektif.
    2. Kurangnya inovasi: Blind obedience dapat menghambat inovasi dan kreativitas, karena karyawan tidak berani memberikan ide-ide baru yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan keluarga.

     

    Ketergantungan pada keluarga:

     

    1. Ketergantungan pada keputusan keluarga: Karyawan yang memiliki blind obedience terhadap keluarga pemilik perusahaan mungkin terlalu bergantung pada keputusan keluarga, sehingga tidak dapat mengambil keputusan sendiri.
    2. Kurangnya inisiatif: Blind obedience dapat menghambat inisiatif dan kemampuan karyawan untuk mengambil keputusan dan bertindak secara mandiri.

     

    Penghambatan profesionalisme:

     

    1. Kurangnya standar profesional: Blind obedience dapat menghambat penerapan standar profesional dalam perusahaan, karena keputusan dan tindakan lebih banyak dipengaruhi oleh keinginan keluarga daripada standar profesional.
    2. Kurangnya akuntabilitas: Blind obedience dapat menghambat akuntabilitas dalam perusahaan, karena karyawan tidak berani mempertanyakan keputusan keluarga.

     

    Solusi:

     

    1. Membangun budaya profesional: Perusahaan harus membangun budaya profesional yang mendorong objektivitas, inovasi, dan akuntabilitas.
    2. Pengembangan karyawan: Perusahaan harus memberikan pelatihan dan pengembangan kepada karyawan untuk meningkatkan kemampuan dan inisiatif mereka.
    3. Mekanisme pengawasan: Perusahaan harus memiliki mekanisme pengawasan yang efektif untuk memastikan bahwa keputusan dan tindakan sesuai dengan standar profesional.

     

    Dengan demikian, perusahaan dapat meningkatkan profesionalisme dan mengurangi dampak negatif dari blind obedience.

    ___________________

     

    Penulis adalah pemerhati masalah sosial budaya, politik , hukum dan sejarah bangsanya.

  • Tiga Pertanyaan Fundamental, Sketsa Filsafat Kant

    Tiga Pertanyaan Fundamental, Sketsa Filsafat Kant

     

    Oleh Simon P. Lili Tjahjadi, Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara – Jakarta

     

     

    IMMANUEL  KANT adalah filsuf paling berpengaruh dalam filsatat modern. Pemikiran tokoh dari Jerman ini pada hakikatnya hendak menjawab tiga pertanyaan” fundamental manusia: Apa yang bisa kuketahui? Apa yang wajib kulakukan? Apa yang boleh kuharapkan? Pertanyaan pertama mengacu pada diskursus mengenai pengetahuan tentang realitas yang bisa dipahami oleh rasio murni. Pertanyaan kedua menyangkut bidang moral dan filsafat hukum dalam terang rasio praktis. Pertanyaan ketiga mengenai apa yang belum terjadi, membuka dimensi masa depan dan makna atas kehidupan manusia dan dunianya, juga tentang eksistensi Tuhan, sejauh ia dipercaya sebagai arah kepenuhan makna hidup.

     

    Apa yang bisa kuketahui?

    Pertanyaan ini masuk bidang filsafat pengetahuan. Latar belakangnya, ada dua mazhab filosofis yang beradu pada masa Kant, yakni Rasionalisme dan Empirisme. Rasionalisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa sumber pengetahuan adalah akal budi (rasio) saja, pengalaman hanya meneguhkan apa yang telah ada pada rasio. Model penalaran gaya begini adalah matematika. Persamaan matematik E=mc2, misalnya, adalah benar, tanpa sedikit pun memerlukan acuan pada pengalaman indrawi. Adapun Empirisme berpendapat sebaliknya: sumber pengetahuan adalah pengalaman indrawi. Maka hanya yang bisa diindra saja yang pantas dijadikan dasar pengetahuan. Rasio cuma mengutak-atik, menyusun dan menggabunggabungkan pengalaman itu menjadi pengetahuan.

    Kant mendamaikan keduanya dengan menyatakan bahwa baik rasio maupun pengalaman sama-sama diperlukan untuk pembentukan pengetahuan. Keduanya bekerja spontan dan serentak menggarap semua “data” yang masuk secara bertahap, bermula dari pengindraan (sinne), lalu akal budi (verstand), yang pada Kant merupakan kemampuan diskursif manusia dan akhirnya pada intelek (vernunft). Kalau pengetahuan terjadi pada bidang akal budi, intelek tidak membentuk pengetahuan, melainkan menata semua pengetahuan kita dalam tingkat yang menyeluruh dan paripurna. Untuk itu, ia dibantu oleh konsep atau Ide Tuhan. Ide dimaksudkan sebagai semacam indikasi kabur yang tidak bisa ditunjuk dengan jari, tapi keberadaannya harus diterima jika keparipurnaan pengetahuan hendak tercapai. Bandingkanlah dengan kata Timur sebagai petunjuk untuk mata angin, “Timur” ansich tentu tidak bisa diindra. Meski begitu, keberadaan “Timur” harus diterima jika kita tidak mau mengalami kekacauan arah mata angin. Begitulah eksistensi Allah dipandang Kant bukan sebagai obyek pancaindra yang bisa ditangkap oleh akal budi, melainkan bisa diterima oleh tingkat di atasnya sebagai ide regulatif.

     

    Apa yang wajib kulakukan?

    Etika adalah ftisafat tentang moral dan penilaian baikburuk atasnya secara diskursif. Etika tidak berbicara tentang apa yang nyatanya (sein), melainkan apa yang seharusnya (sollen). Jika, misalnya, statistik menunjukkan bahwa 90 persen pegawai negeri nyatanya melakukan korupsi, ini tidak berarti korupsi boleh dilakukan, melainkan mereka seharusnya jangan melakukan itu.

    Etika Kant membedakan legalitas dengan moralitas. Legalitas adalah semata-mata kesesuaian sebuah tindakan dengan norma lahiriah. Adapun moralitas adalah kesesuajan tindakan dengan hukum batin, yakni kesadaran saya akan kewajiban saya yang harus dipenuhi. Jelas, moralitas berkaitan dengan motif. Seorang pejabat bisa saja dengan biaya negara memberikan bantuan sosial kepada orang miskin sesuai dengan ketentuan (maka legal). Tapi, jika itu dilakukan bukan karena motif membantu masyarakat miskin, melainkan mendongkrak pamornya supaya dinilai “orang baik” atau agar pamrih rahasianya bisa didukung masyarakat lewat aksi tersebut, tindakannya tidak bernilai moral. Artinya, pemberian bantuan itu tidak menunjukkan apa pun tentang kualitas moralnya. Kesungguhan sikap moral terlihat dari kesadararan melakukan suatu tindakan demi kewajiban, bukan tergantung perasaan senang-tidak senang, menguntungkan atau merugikan, diterima atau ditolak oleh masyarakat. Dalan bahasa Kant, kewajiban moral sedemikian ini disebut imperatif kategoris.

    Ada tiga syarat yang perlu dipenuhi agar tindakan memiliki nilai moral dan boleh dilakukan. Pertama, prinsip tindakan saya-sebutan Kant: Maksim—harus bisa diuniversalisasikan, dijadikan hukum umum. Dalam bahasa sederhana, tindakanmu harus bisa diarahkan untuk kebaikan semua orang tanpa pengecualian atau tebang pilih. Kedua, kewajiban memberi respek pada nilai kemanusiaan baik menyangkut diri kita maupun orang lain (Kant memakai istilah Person), artinya: setiap pribadi manusia harus diperlakukan sebagai tujuan tindakan, tidak boleh sebagai sarana atau alat semata untuk mencapai tujuan itu. Ketiga, dorongan untuk melakukan tindakan itu berasal dari pertimbangan rasional kesadaran sendiri, bukan karena diperintahkan oleh orang lain atau motif lain di luar itu. Kant menyebu ini otonomi kehendak.

     

    Apa yang boleh kuharapkan?

    Pertanyaan ketiga bersentuhan dengan masa depan umat manusia dalam komunitas politik yang adil dan menjamin perdamaian abadi. Di sini Kant mengusulkan pembagian kekuasaan dan adanya Parlemen, juga perlunya konstitusi, bahkan adanya Liga Bangsa-Bangsa agar terwujud perdamaian terjamin secara bersama dan pada gilirannya setiap orang di seluruh dunia dapat hidup dalam keadilan bersama (kosmopolitanisme). Pemikiran Kant ini revolusioner dan mendahului zamannya.

    Dalam bingkai pertanyaan ini juga Kant membahas moral dalam hubungannya dengan Allah. Ada setidaknya dua penjelasan.

    Pertama, Allah dan suara hati. Kesadaran moral dimulai dengan kewajiban yang mutlak sifatnya (imperatif kategoris). Kewajiban yang mengikat seperti ini hanya mungkin dibebankan kepada manusia oleh seorang pribadi lain yang juga bersifat mutlak, Pribadi itu tentunya bukan manusia seperti kita, lantaran kita adalah makhluk terbatas. Maka kesadaran moral dalam suara hati mengandaikan ada-nya seorang pribadi yang perintahnya wajib kita taati. Nah, pribadi itu adalah Allah.

    Kedua, Allah dan muara moralitas. Bagi Kant, kesadaran moral mewajibkan kita untuk mengikhtiarkan kebaikan tertinggi yang juga memberikan—tanpa kita sengaja mengejarnya-kebahagiaan sempurna (bukan kebahagiaan dalam arti empiris, yakni kesenangan, kesehatan, kekayaan, atau kuasa-semua ini ditolak Kant sebagai dasar imperatif kategoris). Namun kebaikan tertinggi dan kebahagiaan akhir itu, menurut Kant, tidak pernah terealisasi sepenuhnya di dunia ini karena adanya kejahatan.

    Kalau memang demikian, sekarang ada masalah: apakah perbuatan moral manusia di dunia ini akan sia-sia saja, karena toh cita-cita atau tujan moralitas tersebut tak mungkin tercapai, padahal justru itu yang wajib kita kejar? Jawaban Kant: agar kebaikan moral manusia dengan kebahagiaan sempurna itu berhubungan dengan menerima adanya Tuhan yang akan memberi kita kebahagiaan tersebut nantinya di kehidupan mendatang. Kalau jTuhan disangkal eksistensinya, moralitas akan absurd, sebab “nasib” orang yang hidupnya baik secara moral akan sama saja dengan “nasib” orang jahat. Artinya, jika tidak ada Tuhan yang akan memberikan ganjaran dan hukuman sesuai dengan perbuatan kita, Adolf Hitler dan Bunda Teesa bernasib sama. Keduanya berakhir dalam ketiadaan. Lantas buat apa orang masih mau susah-susah hidup baik? Demikianlah dari sudut pandang Kant, Tuhan merupakan Penjamin tidak absurdnya moralitas, dan sebagai itu Ia merupakan pemberi makna terakhir bagi hidup kita.

    ———————————–

     

    Sumber Tulisan Majalah Tempo, 5 Mei 2024

  • Bercermin pada Tradisi Lisan (Tentang ”Nyanyian Panjang Bujang Tan Domang”)

    Bercermin pada Tradisi Lisan (Tentang ”Nyanyian Panjang Bujang Tan Domang”)

     

    Oleh Ignas Kleden

     

     

    Nyanyian Panjang Bujang Tan Domang adalah sebuah prosa liris yang sangat panjang, yang secara tradisional dituturkan secara lisan di antara orang Petalangan, suku asli Riau yang hidup di empat kecamatan di Kabupaten Kampar. Empat kecamatan tersebut adalah Pengkalankuras, Bunut, Langgam, dan Kualakampar.

    Panjangnya prosa liris ini dapat dibayangkan setelah direkam oleh Tenas Effendy, dan diterbitkan dalam bentuk buku, hasil kerja sama Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO), The Toyota Foundation dan Yayasan Bentang Budaya, tahun 1997. Rekaman diterbitkan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Petalangan dan terjemahan dalam bahasa Indonesia setebal 715 halaman (format 15,5 cm x 24 cm). Jadi naskah aslinya sendiri panjangnya kira-kira 357 halaman, yang secara tradisional dituturkan secara lengkap oleh penutur yang dikenal sebagai pebilang tombo, yang menghafal teks sepanjang itu di luar kepala.

    Tombo adalah cerita yang berisikan tradisi suatu suku. Mereka yang tidak mempunyai tombo dianggap tidak jelas asal-usulnya. Di bekas Kerajaan Pelalawan dahulu terdapat 14 suku orang Petalangan yang memiliki tombo, yang dapat berbentuk nyanyian panjang yaitu prosa berirama, atau tombo biasa. Sebaliknya, nyanyian panjang atau prosa liris ini ada yang berisikan tombo dan ada pula yang lebih bervariasi isinya. Naskah yang dikumpulkan oleh Tenas Effendy ini merupakan rekaman nyanyian panjang yang berisi tombo, yang diteliti di dua desa utama, yaitu Desa Betung dan Desa Talau. Nyanyian Panjang Bujang Tan Domang adalah prosa liris yang berisikan tombo dari suku Monti Raja (atau Sialang Kawan) di Desa Betung, Kecamatan Pengkalankuras, Kabupaten Kampar. Ada beberapa sebab mengapa tombo ini yang dipilih. Pertama, karena Monti Raja dituakan oleh batin-batin (kepala suku) lainnya. Kedua, tombo Monti Raja, menurut pengakuan para tetua adat, dianggap paling lengkap dibandingkan dengan tombo lainnya. Penghormatan kepada tombo ini nyata, antara lain dari digunakannya nama tokoh utama tombo ini yaitu, Bujang Tan Domang Serail, atau dikenal juga sebagai Datuk Demang Serail, sebagai nama Balai Pertemuan di ibu kota Kecamatan Pengkalankuras.

    Rekaman seperti ini, dilihat dalam konteks sekarang, mempunyai kepentingan yang jauh lebih luas dari sekadar penelitian filologi. Orang-orang muda yang dapat menghafal tradisi lisan semakin jarang, dan tradisi ini terancam punah kalau tidak segera dilakukan usaha perekaman. Namun, usaha seperti ini jelas bukanlah sekadar ikhtiar melestarikan suatu warisan yang segera hilang, tetapi memberikan berbagai dimensi baru dalam pengertian dan apresiasi tentang apa yang dikenal sebagai kebudayaan tradisional.

    Masuknya modernisasi, dan dikotomi yang biasanya dibuat antara modern dan tradisional, menyebabkan penghargaan kepada tradisi jauh dari yang sepantasnya. Bahkan pemikir kebudayaan di Indonesia sekaliber Sutan Takdir Alisjahbana, pernah menyebut kebudayaan tradisional (dengan Borobudur sebagai contoh yang sering diajukannya) sebagai kebudayaan dari zaman jahiliah. Pernilaian itu, dilihat dalam retrospeksi, lebih menunjukkan kekaguman kepada apa yang dibayangkan sebagai modernitas, dan bukannya suatu pengertian yang memadai tentang kompleksitas dan kekayaan kebudayaan tradisional, yang banyak unsurnya tetap relevan bahkan pada masa yang paling modern pun. Lebih dari itu, semakin disadari bahwa berbagai kontradiksi dalam kebudayaan modern, khususnya dalam kebudayaan industri, telah dipecahkan dengan cara yang relatif memuaskan, justru dengan cara-cara tradisional.

    Nyanyian Panjang Bujang Tan Domang dapat diambil sebagai sebuah kasus yang menarik dan penting untuk soal ini. Prosa liris ini praktis mempunyai tiga fungsi utama untuk masyarakat Petalangan.

    Pertama, dia berfungsi sebagai sebuah sumber sejarah buat suatu suku. Tentu saja sejarah di sini tidak patut dipahami sebagai historiografi kritis dan akademis, tetapi sebagai sebuah rujukan yang mencukupi bagi keperluan suatu suku, tentang siapa yang menjadi orang pertama yang datang ke daerah itu dan kemudian menjadi nenek-moyang suatu suku, dari mana asal-usulnya, dan siapa saja yang menjadi keturunannya.

    Demikianlah, pemilik tombo ini menganggap diri mereka berasal dari seorang raja di Kerajaan Johor bernama Raja Alam. Sang raja menikah dengan Putri Mayang dan melahirkan dua putri dan seorang putra. Kedua putri bernama Putri Embun Putih dan Putri Lindung Bulan, sedangkan sang putra bernama Bujang Tan Domang. Raja Alam dan permaisurinya dilarikan oleh Raja Garuda ke Kerajaan Langit. Ketiga anak baginda pergi mencari orangtua mereka. Putri Embun Putih kemudian dinikahi oleh Raja Patih. Putri Lindung Bulan diculik oleh Raja Cina. Sementara itu Bujang Tan Domang dalam pengembaraannya berguru dan mencari ilmu kepada segala orang pandai. Dengan kesaktiannya dia berhasil merebut kembali saudarinya, Putri Lindung Bulan dari Cina dan sanggup merebut orangtuanya dari Kerajaan Langit setelah mengalahkan raja Garuda. Setelah itu Bujang Tan Domang melayari Sungai Kampar, mengalahkan beberapa raja yang zalim, mengunjungi makhluk halus yang disebut bunyian, memberi nama kepada beberapa tempat yang akan diserahkan kepada keturunannya, memperistri Putri Sri Gading dan akhirnya menetap di Sialang Kawan dan mendirikan kerajaan baru di tempat itu.

    Kedua, tombo ini berfungsi sebagai dokumen hukum. Di dalamnya disebutkan batas-batas tanah, jenis-jenis tanah dan hutan, hak dan kewajiban yang harus dijalankan oleh anggota suku, dan sanksi terhadap berbagai pelanggaran. Adapun hutan-hutan yang ada dibagi ke dalam empat kelompok. Masing-masingnya adalah tanah kampung yang menjadi tempat permukiman, tanah dusun yang menjadi tempat berkebun, khususnya untuk tanaman keras dan tanah cadangan untuk tempat tinggal, tanah peladang yaitu tempat dilakukan perladangan berpindah-pindah, dan rimba larangan yang dalam istilah sekarang dapat disebut hutan lindung, yang tidak boleh digarap. Rimba larangan ini terdiri dari dua jenis, yaitu rimba kepungan sialang yaitu tempat tumbuh pohon sialang tempat lebah bersarang, dan rimba simpanan tempat hidup berbagai jenis hewan dan tumbuhan, yang menjadi sumber utama untuk obat-obatan tradisional. Dalam istilah sekarang tempat ini dijaga dan dirawat sebagai sumber keanekaragaman hayati (biodiversity).

    Pedoman-pedoman tentang penggunaan hutan ditetapkan dengan teliti. Tentang menebang pohon diuraikan apa yang boleh ditebang, seberapa banyak, dan apa yang pantang ditebang.

    Tebang tidak merusakkan
    Tebang tidak membinasakan
    Tebang tidak menghabiskan
    Tebang menutup aib malu
    Tebang membuat rumah tangga
    Membuat balai dengan istana
    Membuat madrasah dengan alatnya.
    Tentang pantangan dalam menebang dikatakan:
    Pantang menebang kayu tunggal
    Pantang menebang kayu berbunga
    Pantang menebang kayu berbuah
    Pantang menebang kayu seminai
    ………………………
    Pantang menebang induk gaharu
    Pantang menebang induk kemenyan
    Pantang menebang induk damar
    ……………………….
    Kalau menebang berhingga-hingga

    Kalau saja pemegang HPH sedikit meluangkan waktu membaca tambo ini sebelum memulai usahanya, mereka mungkin tidak akan diyakinkan untuk cukup “menebang berhingga-hingga”, tetapi mereka pasti dapat diyakinkan bahwa penduduk setempat yang sering dianggap bodoh tidaklah sedungu sebagaimana sering diperkirakan, melainkan menyimpan berbagai kebijaksanaan lingkungan yang kemudian dibela oleh para pejuang lingkungan hidup. Prinsip-prinsip yang dirumuskan di Rio atau di mana pun telah beratus tahun dijalankan dengan setia oleh penduduk Petalangan dan mungkin penduduk dalam berbagai komunitas tradisional di tempat lain.

    Ketiga, selain sebagai “buku hukum”, tombo juga berfungsi sebagai kumpulan ajaran-ajaran moral yang wajib diikuti oleh anggota suku. Istilah asli untuk code of conduct ini di kalangan orang Petalangan adalah tunjuk ajar. Yang unik di sini ialah bahwa berbagai kelakuan manusia dilukiskan dan diuraikan dalam perbandingan dengan apa yang terdapat dalam alam, yang terlihat pada pohon dan tanaman, atau yang diamati di antara tingkah laku binatang-binatang. Mungkin para pemikir modern akan memandang sebelah mata kepada kode etik seperti ini dan menyebutnya dengan sedikit menghina sebagai suatu naturalisme primitif. Sekalipun demikian, dipandang dari segi lainnya, pandangan ini memberikan suatu alternatif kepada antropologi konvensional yang memberikan tempat yang terlalu utama kepada manusia sebagai makhluk tertinggi dalam alam. Patutlah diingat dalam kaitan ini bahwa evolusi biologis suka membuktikan bahwa dari hewan yang lebih rendah tahap perkembangannya kemudian muncul perkembangan hewan pada tahap yang lebih tinggi, misalnya pada mamalia, dan selanjutnya muncul makhluk yang sekarang dikenal sebagai manusia. Sekalipun demikian, evolusi moral menunjukkan dengan berbagai bukti nyata (perang dunia, genocide, atau pembunuhan dan kekerasan politik seperti halnya di Indonesia sekarang), bahwa manusia lebih sering merosot menjadi lebih rendah daripada hewan dalam tingkah lakunya. Pada titik itulah, lebih bermanfaat melihat manusia dalam solidaritas dengan makhluk-makhluk lainnya di alam ini daripada mengklaim secara angkuh bahwa dialah penguasa yang berhak mengolah dan mengerjakan segala apa yang ada dalam alam ini menurut akal budinya, yang sering ternyata tidak waras. Tombo orang Petalangan dengan baiknya menunjukkan bahwa tanaman dan pepohonan, hewan melata atau hewan berkaki empat, bisa menjadi “guru” yang memberikan tunjuk ajar tentang bagaimana manusia berlaku terhadap sesamanya.

    Tengoklah kayu di rimba
    Ada yang besar ada yang kecil
    Ada yang lurus ada yang bengkok
    Ada yang berpilin memanjat kawan
    Ada yang dihimpit oleh kayu lain
    Ada yang licin ada yang berbongkol
    Ada yang tegak ada yang condong
    Ada yang hidup ada yang mati
    Ada yang berduri ada yang tidak
    Ada yang bergetah ada yang tidak
    Ada yang berbuah ada yang tidak
    ………………………….
    Beragam-ragam kayu di rimba
    Beragam pula hidup manusia

    Keserakahan dan keugaharian dalam hidup dapat dipelajari dengan sempurna dari kelakuan burung enggang dan burung pipit.

    Makan jangan menghabiskan
    Minum jangan mengeringkan
    Makanan enggang tak tertelan oleh pipit
    Makan pipit jangan dihabiskan enggang
    Itulah hidup bertenggangan
    Hidup senasib sepenanggungan

    Demikian pula watak manusia yang ingat diri atau yang menenggang orang lain dilukiskan dengan plastis dan indah berdasarkan pengamatan terhadap dunia binatang.

    Beribu banyak manusia
    Beribu pula banyak ragamnya
    Begitu pula dengan binatang rimba
    Baik juga buat dicontoh
    Ada yang garang ada yang penakut
    Ada yang memakan emak dan bapak
    Ada yang memakan bangkai kawan
    Ada yang menggigit ada yang mencatuk
    Ada yang mengerkah ada yang membela
    Ada yang berkawan ada yang tunggal
    …………………………..
    Ada yang hidup suka berkubang
    Ada pula yang di atas kayu
    Ada yang terbang ada yang merangkak
    Bermacam pula perangainya
    Begitu pula sifat manusia

    Ini tidak berarti bahwa dalam tombo tidak ada petunjuk tegas yang langsung ditujukan kepada manusia tanpa rujukan kepada alam. Bila dirasa perlu tombo menampilkan ketegasan moral dengan artikulasi yang jelas, yang tidak memungkinkan ambivalensi atau salah pengertian. Kritik dan peringatan kepada orang berhati culas dan yang hanya ingat dirinya, dikemukan tanpa tedeng aling-aling:

    Orang pendengki mati berdiri
    Orang khianat mati terlaknat
    Orang pembohong mati tercampak
    Orang sombong mati gembung
    Orang tamak mati bengkak

    Sebaliknya, batas antara keberanian dan kecerobohan, ataupun garis antara sikap hati-hati dan sikap penakut, atau perbedaan antara kerendahan hati yang sebenarnya dan kepura-puraan ditetapkan dengan relatif jelas:

    Kalau duduk ditepi-tepi
    Tapi jangan ke tepi sangat
    Nanti tercampak ke pelimbahan
    Kalau bercakap di bawah-bawah
    Tapi jangan ke bawah sangat
    Nanti mati dipijak gajah
    Kalau mandi di hilir-hilir
    Tetapi jangan ke hilir sangat
    Nanti hanyut ditelan gelombang

    Seluruh moralitas dan kode etik orang Petalangan ini oleh Tenas Effendy telah diringkas menjadi sepuluh perangkat nilai yang utama.

    1. Kerukunan adalah suatu asas dasar. Prinsip ini dirumuskan sebagai pedoman yang, untuk situasi politik Indonesia sekarang, dapat dipegang oleh berbagai golongan di Tanah Air pada saat ini:

    Sama saudara pelihara-memelihara
    Sama sahabat ingat-mengingat
    Sama sesuku bantu-membantu
    Sama sebangsa rasa-merasa

    2. Mufakat merupakan cara mencapai konsensus secara demokratis.

    Kalau tumbuh silang sengketa
    Sebelum hukum dijatuhkan
    Diusut dahulu baik-baik
    Carilah sebab mula asalnya
    Tilik duduk dengan tegaknya
    Salah besar diperkecil
    Salah kecil dihabisi

    3. Keadilan dirumuskan sebagai kesanggupan untuk tidak memicingkan mata terhadap kesalahan yang sudah jelas di depan mata.

    Menimbang sama beratnya
    Menyukat sama takarnya
    Mengukur sama panjangnya

    4. Memegang adat berarti:

    Adat dijunjung lembaga disanjung
    Pusaka sama dijaga
    ………………..
    Kalau hidup tidak beradat
    Di situlah tanda akan kiamat

    (Sampai di sini saya tak dapat menahan diri untuk mengutip adagium dari seorang sejarawan dan sastrawan Inggris abad ke-19, Thomas Carlyle yang berkata: “Swerving from our fathers’ rules is calling our fathers fools“).

    5. Gotong royong, yang dilukiskan sebagai suatu partisipasi aktif baik dalam kelebihan maupun kekurangan.

    Kalau berlebih beri-memberi
    Kalau kurang isi-mengisi
    Kalau sempit sama berhimpit
    Kalau lapang sama melenggang

    6. Kesetiaan, yang menyebabkan seseorang dapat dipegang ucapannya oleh orang lain.

    Bercakap jangan mengulum lidah
    Berkata jangan bercabang lidah
    Pepat di luar pepat di dalam
    Runcing di luar runcing di dalam

    7. Tahu diri, yaitu kesanggupan untuk menempatkan diri dengan benar dalam hubungan dengan orang lain.

    Tahu baik dengan buruk
    Tahu hak dengan kewajiban
    Tahu beban yang kalian pikul
    Tahu beban yang kalian bayar
    ………………………
    Tahu hormat pada yang tua
    Tahu sayang pada yang muda
    Tahu kasih sama sebaya

    8. Sikap tidak mencari musuh, yaitu kesanggupan untuk tidak menjelek-jelekkan orang lain.

    Buruk orang jangan dicari
    Malu orang jangan disingkap
    Aib orang jangan dibuka
    Kurang orang jangan dijajakan

    9. Kerendahan hati, yaitu kesanggupan untuk melihat kelemahan dan keterbatasan diri, dan berusaha mengatasinya.

    Bodoh jangan malu berguru
    Sesat jangan malu bertanya
    Salah cepat meminta maaf
    Berdosa cepat meminta ampun

    10. Kesabaran dan percaya diri akan membuat seseorang seimbang dalam segala perilakunya.

    Teguh kepada keyakinan awak
    Berfikir dengan jernih
    Tegak dengan pemandangan jauh
    Duduk dengan hati lapang

    Beberapa contoh yang diberikan di sini dapat menunjukkan bagaimana suatu suku yang selama Orde Baru, dinyatakan sebagai suku yang amat miskin, mempunyai pedoman kehidupan masyarakat yang demikian rapi, yang secara tradisional, dapat dipastikan, sanggup memberikan kesejahteraan hidup yang relatif merata untuk semua anggota sukunya. Memang, pada tahun 1978 telah dilakukan penelitian tentang Penentuan Lokasi Daerah Miskin di Propinsi Riau oleh Direktorat Tata Guna Tanah, Direktorat Jenderal Agraria, Departemen Dalam Negeri. Ditemukan antara lain bahwa kehidupan penduduk harus dikategorikan sebagai miskin sekali, dengan pendapatan per kepala Rp 29.683. Dari tanah suku itu seluas 172.475 ha hanya 4.12 ha yang dianggap sebagai tanah dengan kepemilikan sah. Selebihnya dianggap sebagai tanah negara.

    Persoalan yang tidak pernah diajukan dengan terus terang ialah mengapa penduduk di sana menjadi demikian miskin? Jawabannya yang bertahun-tahun didiamkan ialah karena mereka dicopot dari sumber kehidupan ekonomi dan sumber kekayaan budayanya yaitu hutan, sungai, bukit dan tanah-tanah mereka yang harus diserahkan kepada pengusaha perkebunan besar dan pemegang HPH. Usaha kelapa sawit yang dikembangkan di daerah itu jelas sukar mengintegrasikan penduduk setempat sebagai tenaga kerja karena secara tradisional mereka tidak mengenal tanaman tersebut. Pemerintah daerah telah mencoba menyelamatkan hutan dan memberi perlindungan kepada alam di sana dengan SI Gubernur Riau No Kpts. 118/IX/1972, pada 18 September 1972, akan tetapi ketetapan itu sama sekali tidak diperhatikan oleh para pengusaha perkebunan.

    Akibatnya, penduduk kehilangan hutan mereka, kehilangan kampung mereka, kehilangan tanah dan batas-batas tanah yang untuk mereka sendiri amat jelas selama ratusan tahun. Bukan itu saja, mereka juga kehilangan referensi utama dari kehidupan budaya dan kehidupan moral mereka. Tidak ada lagi pohon-pohon yang selama itu menjadi petunjuk tentang tingkah laku mereka. Tidak ada lagi burung enggang dan pipit yang selalu memperingatkan mereka tentang bahayanya keserakahan dan pentingnya keugaharian dalam hidup bermasyarakat mereka. Terjadi pemelaratan secara ekonomi dan sekaligus pemiskinan secara budaya.

    Proses itu menyebabkan pula bahwa perhatian kepada tombo menjadi berkurang. Karena batas-batas tanah dan hutan yang disebut dalam tombo dan nyanyian panjang telah diratakan oleh traktor dan alat-alat berat lainnya. Orang tidak dapat lagi mendengarkan tombo untuk mendapatkan tunjuk ajar karena pohon dan binatang yang menjadi rujukannya sudah kehilangan habitat, mati, atau berpindah ke tempat lainnya.

    Di sini kelihatan betapa eratnya kehidupan ekonomi dan budaya, dan kaitan yang organik antara ekologi fisik dan ekologi sosial-budaya. Pohon-pohon yang ditebang menyebabkan merananya puisi dan prosa liris yang bercerita tentangnya, demikian pun hilangnya hutan-hutan menyebabkan kaburnya kode etik yang merujuk kepada hutan itu. Sementara itu, lingkungan hidup yang terpelihara dengan baik selama ratusan tahun, ditebang dengan cara yang “tidak berhingga-hingga”, sehingga sumber-sumber budaya yang selalu merujuk ke hutan itu merana dan kemudian hilang lenyap.

    Orang-orang Petalangan memang akhirnya miskin dan melarat karena mereka berada di bawah proses pemiskinan yang keras, justru oleh sesama bangsanya yang menurut ajaran tradisional mereka harusnya “rasa-merasa”. Mereka tentu bingung melihat pohon yang sedang berbunga dan sedang berbuah ditebas tanpa merasa pantangan apa pun. Kadang-kadang kita sebaiknya bertanya lagi kepada orang-orang ini apa pandangan mereka tentang apa yang sering dibayangkan sebagai modernitas. Sekarang ini pertanyaan ini tidak perlu diajukan lagi. Karena jawabannya sudah sangat nyata: KKN yang tetap menggelembung, kekerasan yang berkembang seperti penyakit menular, hilangnya tanggung jawab politisi yang hanya sibuk dengan diri sendiri, dengan ekonomi yang gonjang-ganjing setelah tiga puluh tahun lebih menguras apa yang dipelihara dengan tertib dan sopan dalam lingkungan tradisional.

    Orang Petalangan dan suku-suku tradisional barangkali tidak banyak mengenal teori perikemanusiaan dan hak-hak asasi. Tetapi satu hal pasti mereka ketahui dengan yakin: manusia menyimpan potensi besar untuk menjadi tidak manusiawi, seperti halnya hewan yang memakan bangkai binatang lain. Ratusan tahun sastra lisan telah menjaga hidup mereka, dan ratusan tahun sastra telah bertumbuh bersama pohon-pohon di rimba larangan. Herankan kita bahwa pada saat pohon-pohon tidak lagi berbunga dan berbuah, kebudayaan apa pun tidak akan lagi dapat diciptakan oleh orang Petalangan? Tambo mereka dilindas oleh hasrat memburu pertumbuhan eknomi dan keuntungan usaha (halal maupun tidak) dan nyanyian panjang semakin tenggelam ditelan deru mesin pabrik.

    ————————————–

     

    *) Ignas Kleden, Sosiolog

    *) Sumber Tulisan dari Sastra Indonesia.com

  • Kejadian Alam Semesta dalam Konsep Wahdatul Wujud Pujangga Ronggo Warsito

    Kejadian Alam Semesta dalam Konsep Wahdatul Wujud Pujangga Ronggo Warsito

     

    Oleh Agus Widjajanto

     

    Rahasia alam semesta beserta kejadian terjadinya awal terbentuknya alam semesta ini, terus menjadi perdebatan para ahli, apakah awal mula dari tiada lalu menjadi ada karena diciptakan dengan seketika, dengan lafal Kun Fayakun maka jadi terjadilah, atau kah melalui proses alami jutaan tahun, yang awal mula diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan menciptakan sebuah sistem alam yang akan bekerja dengan sendirinya, dengan tujuan tertentu agar yang diciptakan nanti bisa mengetahui dan mengenal dirinya bahwa Tuhan itu ada.

    Rahasia terjadinya Alam Semesta tidak bisa dipisahkan dengan Pencarian jati diri pada diri manusia sudah berlangsung ribuan tahun, baik sebelum tarik tahun Masehi hingga Abad Pertengahan hingga pada jaman modern saat ini, untuk mencari eksistensi diri, dalam upaya mengenal Tuhan-nya, sebagai Zat yang disembah, untuk menemukan kebenaran hakiki sebagai mahluk Tuhan yang Maha Esa.

    Ungkapan kata Sejatine seng ono kuwi dudu dalam filsafat Jawa sangat dalam makna yang dikandung dimana segala sesuatu yang nampak di dunia ini adalah menipu, tidak sesuai yang dilihat, bisa boleh dikatakan abstrak, dengan demikian hidup dan kehidupan itu sendiri penuh dengan misteri dalam kehidupan itu sendiri.

    Berbicara tentang Raden Ngabehi Ronggo Warsito tidak bisa dilepaskan dari pada konsep Wahdatul Wujud dari Manunggal Kawuloning Gusti, yang dikembangkan dari ajaran Syekh Siti Jenar pada abad awal ke-15 Masehi.

    Syekh Siti Jenar adalah tokoh sufi Jawa yang hidup pada abad ke-15 dan dikenal karena ajaran tasawufnya yang kontroversial. Menurut keyakinan Syekh Siti Jenar, penciptaan alam semesta dapat dipahami melalui konsep manunggaling kawula gusti atau penyatuan antara hamba dan Tuhan.

     

    Konsep Penciptaan Alam Semesta:

     

    Manunggaling Kawula Gusti: Syekh Siti Jenar menekankan pentingnya menyadari kesatuan antara manusia dan Tuhan. Menurutnya, alam semesta diciptakan sebagai manifestasi dari keberadaan Tuhan, dan manusia harus menyadari kesatuan ini melalui pengalaman spiritual.

    Wahdatul Wujud: Konsep ini juga terkait dengan ajaran Wahdatul Wujud, yang menekankan bahwa hanya Tuhan yang benar-benar ada, dan segala sesuatu di alam semesta adalah manifestasi dari-Nya.

     

    Pandangan tentang Penciptaan:

     

    Penciptaan sebagai Manifestasi Tuhan: Syekh Siti Jenar percaya bahwa alam semesta diciptakan sebagai manifestasi dari keberadaan Tuhan, dan manusia harus menyadari kesatuan ini melalui pengalaman spiritual.

    Kesadaran Spiritual: Menurut Syekh Siti Jenar, kesadaran spiritual adalah kunci untuk memahami penciptaan alam semesta dan peran manusia di dalamnya.

     

    Ajaran Syekh Siti Jenar tentang penciptaan alam semesta menekankan pentingnya kesadaran spiritual dan penyatuan dengan Tuhan. Konsep Manunggaling Kawula Gusti dan Wahdatul Wujud menjadi dasar bagi pemahaman tentang penciptaan alam semesta dalam tasawuf Jawa.

    Ajaran Wahdatul Wujud memang memiliki konsep yang mendalam tentang alam semesta dan penciptaannya. Dalam konteks ini, alam semesta dianggap sebagai manifestasi dari keberadaan Tuhan, dan segala sesuatu di dalamnya adalah bagian dari kesatuan yang lebih besar.

     

    Konsep Suwung Gung Liwang Liwung:

     

    Suwung: Suwung dapat diartikan sebagai kekosongan atau kehampaan. Dalam konteks Wahdatul Wujud, suwung merujuk pada keadaan sebelum alam semesta diciptakan, ketika hanya Tuhan yang ada.

    Gung Liwang Liwung: Gung Liwang Liwung dapat diartikan sebagai keadaan yang tidak terdefinisi atau tidak terbatas. Dalam konteks ini, Gung Liwang Liwung merujuk pada keadaan Tuhan sebelum menciptakan alam semesta, ketika tidak ada batasan atau definisi.

     

    Penciptaan Alam Semesta:

     

    Manifestasi Tuhan: Dalam ajaran Wahdatul Wujud, alam semesta diciptakan sebagai manifestasi dari keberadaan Tuhan. Segala sesuatu di alam semesta adalah bagian dari kesatuan yang lebih besar, dan manusia harus menyadari kesatuan ini melalui pengalaman spiritual.

    Kesadaran Spiritual: Kesadaran spiritual adalah kunci untuk memahami penciptaan alam semesta dan peran manusia di dalamnya. Dengan menyadari kesatuan dengan Tuhan, manusia dapat memahami tujuan dan makna hidupnya.

    Ajaran Wahdatul Wujud tentang alam semesta yang awalnya Suwung Gung Liwang Liwung menekankan pentingnya memahami kesatuan antara manusia dan Tuhan. Dengan menyadari kesatuan ini, manusia dapat memahami tujuan dan makna hidupnya, serta peranannya dalam alam semesta yang lebih besar.

    Apabila dihubungkan dengan ilmu pengetahuan modern dalam hal ini ilmu fisika tentang hukum Gravitasi dimana Hukum gravitasi memainkan peran penting dalam pembentukan dan evolusi alam semesta.

     

    Peran Gravitasi dalam Pembentukan Alam Semesta:

     

    Kondensasi Materi: Gravitasi membantu kondensasi materi dan gas di alam semesta awal, membentuk struktur besar seperti galaksi dan gugus galaksi.

    Pembentukan Bintang dan Planet: Gravitasi juga berperan dalam pembentukan bintang dan planet, dengan mempengaruhi distribusi materi dan energi di dalam sistem bintang.

     

    Teori Big Bang dan Gravitasi:

     

    Ekspansi Alam Semesta: Teori Big Bang menjelaskan bahwa alam semesta mengembang sejak ledakan besar sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu. Gravitasi memainkan peran penting dalam memperlambat ekspansi alam semesta dan membentuk struktur besar.

     

    Gravitasi dalam Evolusi Alam Semesta:

     

    Struktur Kosmik: Gravitasi membantu membentuk struktur kosmik seperti galaksi, gugus galaksi, dan superkluster galaksi.

    Dinamika Alam Semesta: Gravitasi juga mempengaruhi dinamika alam semesta, termasuk pergerakan bintang, planet, dan galaksi.

     

    Dalam konteks ini, hukum gravitasi Newton dan teori relativitas umum Einstein memainkan peran penting dalam memahami evolusi alam semesta. Bahwa awalnya adalah kekosongan ( Suwung ) dari tiada menjadi ada karena diciptakan melalui sabda Kun fayakun dalam bentuk sistem cahaya , yang akan berevolusi melalui proses alam itu sendiri.

    Stephen Hawking dalam bukunya The Grand Design (2010) mempresentasikan teori bahwa alam semesta dapat menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan melalui proses yang disebut “penciptaan spontan”. Menurut Hawking, hukum fisika, terutama teori relativitas umum dan mekanika kuantum, memungkinkan alam semesta untuk muncul secara spontan tanpa perlu campur tangan Tuhan atau penyebab lain.

     

    Penciptaan Spontan:

     

    Teori M-Theory: Hawking menggunakan teori M-Theory, yang merupakan perluasan dari teori string, untuk menjelaskan bagaimana alam semesta dapat muncul secara spontan. Menurut teori ini, alam semesta kita adalah salah satu dari banyak alam semesta yang ada dalam multiverse.

    Fluktuasi Kuantum: Hawking juga menjelaskan bahwa fluktuasi kuantum dapat menyebabkan penciptaan spontan alam semesta dari ketiadaan. Fluktuasi kuantum adalah perubahan sementara dalam energi yang dapat terjadi secara acak di ruang vakum.

     

    Implikasi Filosofis:

     

    Tidak Perlu Pencipta: Teori penciptaan spontan Hawking menyiratkan bahwa alam semesta tidak memerlukan pencipta atau penyebab lain untuk ada. Hukum fisika saja sudah cukup untuk menjelaskan keberadaan alam semesta.

    Multiverse: Teori multiverse juga menyiratkan bahwa alam semesta kita hanyalah salah satu dari banyak alam semesta yang ada, dan bahwa setiap alam semesta dapat memiliki hukum fisika yang berbeda-beda.

    Teori penciptaan spontan Hawking telah memicu perdebatan dan diskusi tentang sifat alam semesta dan peran Tuhan dalam penciptaan. Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut tentang topik ini, silakan bertanya.

    Bahwa filosofi sejatine seng ono kuwi dudu, dapat ditafsirkan bahwa hukum alam (Subatullah) adalah hukum Tuhan itu sendiri, dimana alam bekerja sesuai sistem, siapa yang melawan hukum alam maka akan tergilas oleh system, sistem yang telah diciptakan oleh Tuhan milyartan tahun lalu, untuk tujuan agar mahluk mengenal dirinya lewat tajjalinya sebagai hamba didalam raya ini.

    Dalam tasawuf kebatinan Jawa dikenal dengan konsep spiritual Manunggal Kawuloning Gusti yakni menyatunya sang mahluk dengan sang khalik, dimana proses pencapaian nya memerlukan perjalanan panjang dalam pencarian jati diri itu sendiri, dengan berbagai liku dan penderitaan hidup agar bisa mengenal diri sejenak kenal nya .

    Ronggo Warsito menulis dalam Serat Paramayoga adalah karya sastra berbentuk prosa yang, dimana Ronggo Warsito menyusun cerita sejarah yang didalam istilah Jawa disebut babad , yang didalamnya Ronggo Warsito menyusun sinkretis yang mempertemukan cerita mitologi dan silsilah dewa dewa Hindu dengan riwayat nabi nabi dalam agama Islam.

    Dalam zaman Kerajaan Mataram  Islam di Jawa timbul upaya untuk memperkuat wibawa raja-raja Jawa dengan menyusun Serat Babad untuk menggambarkan bahwa raja adalah keturunan campuran dari nano Adam dan dewa-dewa Hindu dimana sebagai upaya untuk mempertemukan mitologi dewa-dewa Hindu dengan riwayat nabi Adam dalam Islam telah dimulai sejak jaman kerajaan Mataram Islam di Kartosuro dengan munculnya Serat Kandha.

    Dalam Serat Paramayoga tersebut Sang Ngabehi Ronggo Warsito menyisipkan pokok-pokok ajaran yang terdapat dalam wirid hidayat jati yang mengulas tentang konsep Ketuhanan, alam ghaib, dan konsep Manunggal Kawuloning Gusti. Misal nya saja alam Makdum, dan alam ghaib dinamakan  alam Ruhiyah.

    Dalam Paramayoga ditulis adanya tiga alam, yang diterangkan bahwa Bathara Guru menjadi Raja Triloka atau tiga alam, yakni alam tengah (dunia nyata), lalu alam bawah dan alam atas. Alam bawah dan alam atas disebut dan dinamakan alam “Adam Makdum” yakni alam kajiman atau dinia jin tempat mahluk rohani.

    Dalam konsep kesatuan manusia dengan Tuhan-nya diuraikan lebih lanjut sewaktu Hyang Wisesaning Tunggal menyatukan diri dengan puteranya Bhatara Manikmaya (Bhatara Guru) dimana Hyang Wisesasing Tunggal mengatakan sebagai berikut :

    “Kini kamu menjadi tajaliku (Kenyataanku) kamu harus menyadari bahwa aku tidak sama dengan kamu, akan tetapi aku meliputi kamu. Seumpama bunga mawar kamu rupanya, maka aku bau harumnya, seumpama madu maka kamu rupanya madu, aku adalah rasa manisnya madu. Jadi aku dan kamu bisa disebut Roro Ning Tunggal (dua tapi satu manunggal) sembahmu kepadaku dan rasa takutmu padaku kau telah kuinjinkan memilih dan mempergunakan semua namaku, terkecuali satu yang tidak kuijinkan bagimu, yaitu memakai nama syang Hyang Wenang, demikian agar ada perbedaan antara aku dan kamu, agar menjadi tempat puji serta sembahmu kepadaku”

    “kamu telah menjadi tajaliku , aku telah percaya padamu, apa yang kucipta pasti jadi, segala yang dikehendaki pasti ada, apa yang ku inginkan pasti ada, kamu kuberi kuasa untuk menjadi raja tiga alam. Ketahuilah bahwa apa yang tersebut tadi sudah tercakup padamu. Lantaran telah kuberi kuasa untuk merajai semua alam, sebagai tajaliku (wakilku).

    Hendaklah kamu sadari bahwa Tuhan itu disebut Gusti, tiada zaman tiasa tempat, timur dan barat aku berada, dia itu menjadikan langit dan bumi beserta isinya, yang memberi hidup, kesenangan, kepandaian, kesaktian, kepada semua mahluk, bahwa Tuhan itu tidak serupa seperti manusia, tidak berwujud akan  tetapi meliputi seluruh alam semesta yang bisa dirasakan kehadiran nya”.

    Uraian diatas merupakan penjelasan konsep Tajali, simbol manunggalnya manusia dengan Tuhan, dan menjadi inti dari ajaran Wirid Hidayat Jati-nya Ronggo Warsito, konsep Tajali artinya penampakan keluar atau manifestasi dalam istilah Jawa diganti kanyataan, dimana konsep ini memang searti dan sejajar dengan ungkapan Jawa jawata ngejo wantah dan manusia titisan dewa. Paham ini mengarah pada pensifatan Tuhan yang antropomorfistis, digambarkan punya sifat mahakuasa, atau manusia menyerupai Yang Kuasa.

    Memang dalam Kitab Paramayoga disebutkan tetap dibedakan antara manusia sebagai mahluk yang menyembah dan Tuhan yang disembah, dimana konsepsi ketuhanan bersifat teisme, dimana Tuhan sebagai yang maha kuasa dan maha kehendak, segala kejadian di alam raya ini adalah atas kodrat dan irodat Tuhan. Kepercayaan atas takdir Tuhan merupakan satu sendi dalam ajaran Tasawuf Jawa, bahwa segala sesuatu di dunia telah ditentukan, lakonnya telah ditentukan oleh sang dalang dalam kisah pewayangan. Bahwa kepercayaan akan takdir Tuhan merupakan ciri dari paham teisme (Mistik Islam Kejawen , Raden Ngabehi Ronggo Warsito, Dr Simuh , UI Pers 1988. Halaman 72-77.)

    ——————————-

     

    Penulis adalah praktisi hukum, pemerhati sosial budaya, dan sejarah bangsa-nya.

     

  • Komusikasi: Konser Jiwa yang Bergema di Langit Kota

    Komusikasi: Konser Jiwa yang Bergema di Langit Kota

     

    Oleh  JB Kleden

     

    Dimana kata-kata gagal, musik berbicara (Hans Chritian Andersen).

     

    Siapa sangka di tengah gemerlap pusat perbelanjaan dan notifikasi yang tak henti berdenting, warga kota diam-diam menyimpan rindu. Rindu panggung, juga rindu akan euforia bersama, di mana tepuk tangan lebih riuh dari story di platform media sosial.

     

    KAMIS, 19 Juni 2025,  atrium Lippo Plasa Kupang sepenggal adzan magrib. Atmosfir lantai dasar ditata laiknya sebuah konser. Minimalis namun berseni. Panggung menyala dengan jilatan lampu-lampu sorot. Di panggung itulah Fakultas Seni Keagamaan Kristen (FSKK), Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, menorehkan jejak kecil dalam langkah senyap yang nyaring. Menghadirkan para mahasiswa tugas akhir dalam sebuah konser bertajuk “Komusikasi: Music Soul’s Language.”

    Saat senja menepi dan lampu-lampu bernuansa estetik menyala “nyeni” bagai bintang jatuh, talenta muda menghentak panggung. Suasana mendadak meriah, hebring! Layar LCD berukuran besar berpendar membingkai, seolah merekalah juru bicara dimensi lain. Denting piano, petikan gitar, lengking vokal, band, fibrasi Sasando, irama gong tradisional dan hentakan kaki, semuanya terasa bagaikan untaian kalimat dari bahasa yang tak tertulis namun menggetarkan jiwa.

    Keberanian para mahasiswa menghadirkan gebrakan baru yang memadukan hiburan, interaksi, dan inovasi dalam satu panggung spektakuler membuat konser ujian akhir semester ala mahasiswa seni ini menjelma menjadi suguhan magis, merangkul jiwa yang lama merindu hiburan yang menyentuh sukma. Nada, ritme, lirik dan interaksi selalu terasa lebih hidup saat dinikmati secara langsung.

    Without music, life would be a mistake,” kata filosof Jerman, Friedrich Nietzsche.  Maka watching a concert is not a mistake. Saat panggung menyihir dan menyatukan penonton dalam euforia bersama, musik bukan lagi performa, ia menjadi media penghubung. Inisiasi gen z yang lahir dalam pelukan internet dan algoritma, menjadikan musik sebagai ekspresi diri yang cair, lintas genre dan sangat personal mengubah malam menjadi panggung pengisi ruang rindu.

    Kota ini sedang menyaksikan bukan sekadar konser, melainkan sebuah percakapan jiwa. Dan “Komusikasi: Music Soul’s Language” bukan sekadar tema, melainkan undangan kepada setiap insan untuk mendegar, bukan hanya telinga tetapi hati.  Kehidupan rupanya terlalu besar hanya untuk dijadikan obyek penelitian dan terlalu agung untuk tidak dirayakan. Dan musik merayakan keragaman itu.  I want this way.

     

    Saya melirik wakil Walikota Kupang, Serena Cosgrova Franscies, wanita cantik menawan yang duduk di sisi kanan satu deret depan saya. Ada bening yang mengkristal di pelupuk matanya yang indah saat anak-anak melantukan “Let It Be” dalam nada yang jernih, polos tanpa beban tapi penuh daya, menjelmakan lagu itu seperti untaian doa yang lembut dan penuh harap.

    “When I find myself in times of trouble, Mother Mary comes to me, speaking word of wisdom, le it be, let it be, let it be…”

    Tidak ada yang menerjemahkan, tak perlu. Semua mengerti. Di tengah dunia yang penuh luka, lagu Paul Mc Cartney yang diaransir Listiani Kapitan, dalam format Paduan Suara Anak, terasa menohok. Ia menjadi mantra kolektif penuh kehangatan.  Benar kata Pablo Casals, “music is the divine way to tell beautiful, poetic thing to the heart.” Musik adalah cara ilahi untuk menyampaikan hal-hal yang indah dan puitis ke dalam hati.

    Pada genre yang disukai, ia meningkatkan suasana hati dan melepaskan hormon dopamin yang membuat senang. Sementara pada generasi lawas, musik membawa kita pada memori tertentu di masa lalu dan menimbulkan koneksi emosi.

    Adakah Serena tertaut emosi? Entahlah. Tapi itulah kemewahan malam itu. Suara anak mampu menciptakan keadaan emosional dengan cara yang halus.  Seperti sederetan mantra, lantunan mereka menyihir jiwa mengaduk emosi.

    Maka bukan mengherankan, ketika chorus di akhir lagu,  “… let it be, let it be, let it be, let it be…whisper word of wisdom, let it be…” menghilang secara perlahan lalu senyap, bukan tepuk tangan yang paling keras terdengar, melainkan kesenyapan yang menggugah. Hening karena hati para penonton yang terhenti saat mendengarkan lantunan lagu itu, tengah sibuk berkata-kata dalam diam.

    Listiani Kapitan mampu membawa anak-anak menciptakan ruang tenang di tengah kegaduhan Lippo Plasa. Tepuk tangan baru terdengar ketika mereka meninggalkan panggung. Anak-anak itu memang tidak sekadar bernyanyi, mereka mewartakan cinta dalam koor kebersamaan dan karena itu sukses menyulam rasa.

     

     ***

     

    KOMUSIKASI dibuka dengan Ensembles Brass. Seperti gong pembuka langit, lagu PKJ nomor 46 ‘Dari Kungkungan Duka Kelam’ yang diaransemen Novi Marliyani Nafi  sebagai tugas akhir Program Muger ini, terdengar seperti detak jantung pertama yang menghidupkan semesta. Penonton terdiam sesaat, bukan karena tidak tahu harus berbuat apa, melainkan karena jiwa mereka telah dijemput.

    Opening song ini tidak datang sebagai hiburan malam. Ia datang sebagai badai dari dalam diri. Tiap iramanya adalah dentuman takdir, seperti menyuarakan jeritan masa lalu yang tak pernah terucap. Bagaikan nabi di altar bunyi, menyampaikan sabda emosi yang tak bisa ditolak. Tidak ada keadaan yang terlalu gelap sehingga Tuhan tidak sanggup membawa terang-Nya.

    Seorang rekan tersenyum, bukan karena bahagia, tetapi karena musik akhirnya memberinya kata-kata yang selama ini tak mampu ia ucapkan.  Ini bukan konser. Ini adalah ruang pertarungan antara bisu dan bunyi. Antara logika dan rasa. Komusikasi adalah hasrat untuk bersuara melalui musik. Karena “suara  manusia,” seperti dikatakan Sir George Grove, “adalah instrumen yang pertama dan paling alami” yang diterima telinga manusia saat keluar dari rahim ibu.

     

    ***

     

     SECARA keseluruhan, konser Komusikasi terbagi menjadi tiga sesi. Setiap nomor memiliki jiwa. Ada yang lembut seperti sinar putih kuning senja di tasik yang tenang, ada yang bergemuruh seperti semangat muda yang tak sabar mengubah dunia. Genre bertemu tanpa sekat, etnik berdansa dengan elektronik,  nada lama dililitkan dalam arasansemen baru tanpa kehilangan akar. Penonton terdiam, lalu bersorak seolah-olah mereka mendengar ulang jati dirinya sendiri. Setiap jeda sesi guest stars Aris Bulio Quartet memahat malam dengan improisasi instrument gitar yang hangat dan kontemplatif.

    Para mahasiswa yang berkonser adalah mahasiswa dari Fakultas Seni Keagamaan Kristen. Maka wajar kalau sebagian besar nomor yang disuguhkan adalah hasil olahan dari lagu dan musik gerejawi yang diambil dari kidung-kidung jemaat. Kidung-kidung umat merupakan kekayaan yang tak terperikan nilainya, lebih gemilang dari uangkapan-ungkapan seni lainnya. ”A song is a prayer.” Pujian rohani selalu menjadi doa yang menenangkan jiwa.

    Siapa yang bisa menampik bahwa lebih dari ribuan kotbah dan ajakan yang berpanjang-panjang, lagu “Anak-Anak Mari Nyanyi” (Kidung Jemaat No. 11) yang diaransir Maria Magdalena Nakmofa dalam format PS Anak,  mengingatkan betapa berharganya memuji Tuhan dengan sukacita dan hati yang tulus.

    Nada dan liriknya mencerminkan semangat pujian yang polos dan murni. Namun dibalik kesederhanya, ia menyampaikan pesan teologis yang mendalam bahwa kasih Tuhan yang melimpah layak disyukuri dengan rendah hati. Sekaligus ia menciptakan gambaran liturgis yang indah, bahwa pujian anak-anak bukanlah sekadar hiburan, melainkan bagian dari simfoni surgawi yang agung.

    Sebagai diseminasi tugas akhir mahasiswa seni keagamaan, memperkenalkan hasil kreasi musik gereja kepada publik sebagai kontribusi nyata terhadap pelayanan dan pengembangan musik gereja di masa depan adalah kewajiban. Namun agama bukanlah sebuah hipostase yang ada di langit plato yang suci murni dan dari sana mengantarai manusia. Agama selalu menjadi agama manusi yang berdaging dan berdarah.

    Komusikasi adalah sebuah pendekatan artistik yang menggabungkan seni bermusik dengan komunikasi lintas batas. Maka ia juga menjadi ruang temu yang sakral dan yang profan. Seperti yang sakral, yang profan pun jadi kebutuhan dasar setiap manusia. Kisah cinta romantis dan tarian tradisional yang riuhpun naik ke atas panggung.

    Solo piano Vira Banunaek menghadirkan “Secret Time Trevel Theme” dalam melodi yang lembut tapi penuh emosi seakan membawa penonton menembus ruang dan waktu ke suasana film The Secret tanpa harus beranjak dari tempatnya.  Dan tarian Bharatanatyam dari India yang dibawakan Grace Nope, membawa imagi penonton kepada “Dream Girl” Bollywood Hema Malini atau Aishwarya Rai Bachchan.

    Tarian tradisional Ma’ekat Suku Dawan yang dipentaskan Kelas Musik Etni PMG membumi dalam langkah-langkah cepat penuh ketangkasan.  Ibarat para Ksatria Timor yang menang dalam peperangan mereka menghentak menghalau malam yang dingin. Tapi tarian ini bukan sekadar kisah peperangan, ia mencerminkan religiusitas masyarakat adat bahwa irama bukan hanya dari nada tetapi juga dari tanah dan akar yang tak pernah putus.

     

    Dan segalanya seperti mencampai puncak, ketika Joanda Sarlice Sesfao membawakan Ansambel Sasando Biola melantunkan “Janji Yang Manis” dari Kidung Baru Nomor 143. Dalam petikan dawai Sasando teologi pengharapan yang hidup dalam syair lagu ini terdengar seperti doa yang dinyanyikan angin. Dentingan Sasando mengalun dalam harmoni yang dirajut oleh seluruh ensambel, mengubah Komusikasi menjadi rumah bersama: bagi kenangan, bagi harapan, bagi jiwa-jiwa yang rindu pulang. Karena Sasando bukan hanya alat musik, ia adalah suara anak tanah berseru pada dunia: Lihatlah kami, dengan warisan, dengan impian kami.

    Semua itu karena kasih setia Tuhan. I will not forget Thee. Setia kasihMu, kekal Tuhanku.

     

    ***

     

     Wolfgang Amadeus Mozart, komponis paling jenius dan produktif dalam sejarah musik klasik Barat mengatakan “The music is not in the notes, but in the silence between.” Musik bukan hanya soal nada yang terdengar, tetapi juga tentang ruang, jeda, dan ekspresi yang muncul di antaranya.

    Di antara nada, ruang jeda dan ekspresi saya menyaksikan pangggung yang bercahaya itu dengan jiwa yang mengembara. Konser ini bukan sekadar suguhan ujian akhir. Ia menjadi ruang temu antara ekspresi dan penonton yang rindu, antara generasi yang tumbuh dalam nada dan generasi yang baru menjadikannya bahasa jiwa.

     

    Dari atas panggung, para mahasiswa memberi lebih dari sekadar pertunjukan. Mereka menghadirkan sebuah peristiwa: tentang keberanian bermusik, keberanian menjadi diri sendiri, dan menyentuh hati orang lain tanpa kata. Mereka mewartakan kidung pujian mengisi ruang hati dengan harmoni yang menghentikan waktu, seolah tiap nada adalah doa yang tak terucap. Dan tarian? Bukan sekadar gerakan, ia adalah aksara tubuh yang menari di atas cumbuan sabana puisi bumi Flobamorata.

    Malam itu, nada menjadi cahaya dan gemuruh menjadi bahasa. Nyanyian menjadi puisi dan panggung konser menjadi altar emosi. Saat melodi sendu,  semua ikut sendu tanpa menjadi mellow.  Saat lagu mewartakan dengan irama sukacita, semua berdiri, menjadi fajar.

    Komusikasi seakan berubah menjadi sebuah perjalanan. Setiap lagu adalah pintu, setiap jeda adalah ruang meditasi. Kita tidak datang untuk mendegar, tapi untuk dikenali oleh melodi yang seolah tahu luka kita, tahu tawa kita, tahu kegembiraan dan harapan kita, merasakan duka dan kecemasan kita, tanpa kita harus berkata. Dan diakhir kisah malam itu, melodi-melodi itu telah menemukan jalannya pulang  ke hati-hati yang merindu.

    “Konser ini menyentuh dengan cara yang tak bisa dijelaskan oleh lensa kamera atau mikrofon panggung. Melihat karya mahasiswa malam ini membuktikan bahwa kampus IAKN tidak hanya berbicara tentang agama, tapi juga keindahan,” ujar mama Barbara yang mengaku datang untuk shoping, namun Komusikasi membuatnya tak bisa beranjak dari panggung konser hingga pementasan selesai.

     

    “Komusikasi: Music Soul’s Language”  telah menjadi penanda penting bahwa seni masih punya ruang dan daya. Ia bukan hanya hiburan,  ia adalah peristiwa, tempat nilai dan bakat bertemu.  Fakultas Seni Keagamaan IAKN Kupang telah membuktikan bahwa pendidikan musik tidak hanya mencetak penghafal notasi, tapi pencipta resonansi: resonansi kultural, emosional, bahkan spiritual.

    “Bagi kami, konser ini bukan cuma ujian. Ini adalah cara kami menyampaikan siapa kami, dari mana kami berasal, dan ke mana kami ingin membawa seni musik di Nusa Tenggara Timur,” ungkap Dekan Fakultas Seni Keagamaan IAKN Kupang, Reli Yosi Huka, M.Sn.

    Di tengah dunia yang bergerak cepat, konser ini mengajak kita untuk hadir secara utuh, mendengar dengan hati, melihat dengan jiwa, dan merasa bersama. Ketika semua bunyi akhirnya meredup dan lampu panggung kembali tenang, satu pesan tersisah, namun bergema kuat: Kupang tidak pernah kehabisan suara. Dan Fakultas Seni Keagamaan IAKN Kupang adalah salah satu sumber gema yang membuat kota ini terus bernyanyi. Karena ia menyimpan kidung pada puncak menaranya.

     

    (JB Kleden – Dosen Prodi Kepemimpinan IAKN – Kupang)
  • “Perjanjian Sykes – Picot 1916” Mungkin akan Terulang dalam Sejarah Timur Tengah  dan Kebangkitan Indonesia

    “Perjanjian Sykes – Picot 1916” Mungkin akan Terulang dalam Sejarah Timur Tengah  dan Kebangkitan Indonesia

    Oleh Agus Dwijajanto

     

    Kunjungan Presiden Prabowo Subiyanto di Rusia atas undangan khusus dari presiden Vladimir Putin, mengisaratkan kebangkitan Indonesia dalam kancah global dalam upaya melakukan keseimbangan politik menyangkut geo politik dan geo strategis, di tengah berkecamuknya perang antara Israel melawan Iran, yang ditengarai akan menyeret negara-negara besar dimana Amerika Serikat dengan gegabah ikut turun langsung menyerang Iran kemarin melakukan pengeboman terhadap situs nuklir Iran, dan menghancurkan laboratorium nuklir Iran dibawah tanah menggunakan bom penghancur bunker, untuk memenuhi ajakan Israel sebagai negara sekutu terdekat di Timur Tengah, dan hal ini bisa memicu kejatuhan pemerintahan Trum dimata masyarakat Amerika Serikat sendiri yang mayoritas tidak menginginkan Amerika Serikat ikut campur dalam sebuah koalisi menyerang Iran untuk membantu Israel.

    Dan hal ini diprediksi para ahli bahwa awal dari kehancuran dominasi Amerika Serikat sebagai negara adidaya, apabila benar, pengiriman kapal induk Nimitz dengan 60 pesawat tempur tercanggih menuju Timur Tengah yang ternyata untuk membantu turut serta menyerang Teheran.

    Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates, telah lama memperingatkan bahwa akan ada perubahan besar dalam tatanan dunia melalui bukunya The Changing World Order yang mana apa yang ditulis Ray Dalio menunjukan tanda-tanda jadi kenyataan, dimana dominasi Amerika Serikat semakin memudar dan melemah dimana saat ini telah muncul kekuatan baru seperti Tiongkok, dan Kawasan Indo Pasifik.

    Lebih lanjut Dalio menjelaskan dalam bukunya, bahwa kekuatan besar dunia selalu mengalami siklus kekuasaan. Sejak jaman Romawi sebuah imperium terbesar di muka bumi, dimana kebangkitan dunia baru selalu dimulai dari sebuah inovasi dan kekuatan ekonomi, lalu mencapai puncak dengan dominasi militer dan ekonominya, hingga akhirnya melemah karena akibat dari konflik internal, hutang berlebih, korupsi dan terjadi ketimpangan sosial di masyarakat dari negara Adi Daya tersebut. Menurut Dalio, Amerika Serikat sekarang berada dalam fase akhir dari siklus tersebut. Ketegangan politik dan ketimpangan ekonomi AS terus memburuk, negara-negara didunia mulai meninggalkan dolar dalam mata uang pembayarannya, dan peperangan yang akan menimbulkan ketegangan global, dimana masyarakat dunia  harus belajar dan bisa memahami sejarah dari siklus dominasi kekuasaan tersebut, lanjut Dalio.

    Demikian pula menyangkut sejarah kebangkitan Indonesia, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin melakukan penandatanganan deklarasi kemitraan strategis antara Indonesia dan Rusia di St. Petersburg, Rusia. Kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia merupakan bagian dari misi diplomatik untuk mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Federasi Rusia.

    Dalam kunjungannya, Presiden Prabowo disambut hangat oleh diaspora Indonesia di St. Petersburg. Mereka sangat antusias bertemu dengan Presiden Prabowo dan berharap kunjungan ini dapat memperkuat hubungan antara Indonesia dan Rusia.

    Presiden Prabowo dan Presiden Putin juga menegaskan kesamaan pandangan kedua negara dalam menyikapi berbagai isu global, dengan tujuan meningkatkan kolaborasi untuk perdamaian dunia. Kemitraan strategis ini diharapkan dapat membawa manfaat bagi kedua negara dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    Indonesia secara resmi telah menjadi anggota kelompok negara-negara yang tergabung dalam BRICS yang mulai meninggalkan dolar amerika dalam pembayaran antar perdagangan international dalam kelompok tersebut.

    BRICS adalah singkatan dari Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan. BRICS merupakan kelompok negara-negara berkembang yang memiliki ekonomi besar dan pengaruh signifikan dalam perekonomian global. BRICS didirikan pada tahun 2006 dengan nama BRIC (tanpa Afrika Selatan), dan Afrika Selatan bergabung pada tahun 2011. Negara-negara BRICS memiliki beberapa kesamaan, seperti:

    Ekonomi berkembang: Negara-negara BRICS memiliki ekonomi yang berkembang pesat dan memiliki potensi besar untuk pertumbuhan ekonomi.

    Pengaruh global: Negara-negara BRICS memiliki pengaruh signifikan dalam perekonomian global dan berperan penting dalam menentukan arah kebijakan ekonomi internasional.

    Kerja sama: Negara-negara BRICS bekerja sama dalam berbagai bidang, seperti ekonomi, politik, dan sosial, untuk meningkatkan kesejahteraan dan stabilitas global.

    BRICS memiliki beberapa tujuan, seperti:

    Meningkatkan kerja sama ekonomi: BRICS bertujuan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi antara negara-negara anggota, termasuk perdagangan, investasi, dan pengembangan infrastruktur.

    Meningkatkan pengaruh global: BRICS bertujuan untuk meningkatkan pengaruh global negara-negara anggota dalam perekonomian internasional dan politik global.

    Meningkatkan kesejahteraan: BRICS bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di negara-negara anggota melalui pembangunan ekonomi dan sosial.

    BRICS telah menjadi kekuatan ekonomi yang signifikan dalam perekonomian global, dan terus berkembang sebagai platform untuk kerja sama dan pembangunan ekonomi.

    Presiden Prabowo Subianto berbicara di Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPIEF) Rusia, pada Kamis, 19 Juni 2025. Dalam pidatonya, Presiden Prabowo membahas tentang pentingnya kerja sama internasional dan memperkuat hubungan antara Indonesia dan Rusia.

    Poin Utama Pembicaraan:

    Kerja Sama Ekonomi: Presiden Prabowo dan Presiden Vladimir Putin membahas tentang peningkatan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Rusia, termasuk perdagangan, investasi, dan pengembangan infrastruktur.

    Dukungan Rusia untuk Keanggotaan Indonesia di BRICS: Presiden Putin menyampaikan dukungannya untuk keanggotaan penuh Indonesia dalam BRICS, yang diharapkan dapat meningkatkan potensi dan pengaruh Indonesia dalam perekonomian global.

    Pengembangan Infrastruktur: Kedua negara membahas tentang kemungkinan kerja sama dalam pengembangan infrastruktur di Indonesia, termasuk pembangunan kilang minyak dan kompleks petrokimia.

    Kerja Sama Teknologi: Presiden Putin juga menyampaikan keinginan Rusia untuk bekerja sama dengan Indonesia dalam bidang teknologi canggih, termasuk penggunaan luar angkasa dengan tujuan damai dan kecerdasan buatan.

    Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo juga menyampaikan terima kasih atas undangan sebagai tamu kehormatan di SPIEF 2025 dan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan pemerintah Rusia, dimana pidato Presiden Prabowo menginspirasi dunia, dengan rekonsiliasi damai bagi dunia yang makin sempit, tanpa meninggalkan kepentingan nasional nya. Dan itu sudah dilakukan Prabowo sebagai mantan militer, sebagai presiden telah menggandeng lawan-lawan politiknya dalam kekuasaan .

    Disinilah peran Indonesia sebagai negara dengan populasi penduduk terbesar ke-4 di dunia, dan negara dengan mayoritas moeslim terbesar di dunia, diharapkan berperan aktif dalam kestabilan perdamaian dimana sejak berdirinya, Indonesia selalu posisikan sebagai negara Non-Blok. Seperti diketahui dalam sejarah Perang Dunia I, inggris dan Prancis dengan persetujuan Rusia saat itu telah membagi bekas wilayah kekaisaran Ottoman Turki Usmani, menjadi tiga wilayah, dengan apa yang disebut perjanjian Sykes – Picot pada Tahun 1916. Dalam konflik Iran -Israel , menjurus pada penguasaan dunia Arab akan terulang lagi atas perjanjian Sykes – Picot tersebut yang di motori Amerika Serikat dan dilaksanakan oleh Irael selaku sekutunya, dimana pemerintahan syah Iran ditumbangkan dan diganti rezim boneka seperti halnya Suriah, Irak, lalu dibagi menjadi negara-negara kecil yang seluruh kawasan dalam kendali sekutu Israel dimana dengan suka-suka memperluas wilayah pendudukan dan melakukan genosida terhadap bangsa lain di kawasan tersebut. Ini yang perlu di waspadai Indonesia .

    Perjanjian Sykes-Picot 1916 adalah kesepakatan rahasia antara Inggris dan Prancis untuk membagi wilayah Kekaisaran Utsmaniyah di Timur Tengah setelah Perang Dunia I. Perjanjian ini dirumuskan oleh Mark Sykes dari Inggris dan François Georges-Picot dari Prancis.

    Pembagian Wilayah:

    – Prancis: Suriah, Lebanon, dan Turki Tenggara

    – Inggris: Irak, Yordania, dan daerah-daerah di Palestina sekitar pelabuhan Haifa

    – Kota Suci: Yerusalem dan Betlehem akan berada di bawah kendali internasional

    Perjanjian ini juga berencana untuk memberikan wilayah kepada Rusia, termasuk Armenia dan sebagian wilayah Kurdistan. Namun, rencana ini dibatalkan setelah Rusia keluar dari perang.

    Dampak Perjanjian:

    Ketidakstabilan Politik: Perjanjian ini menyebabkan konflik politik yang berkelanjutan di Timur Tengah karena pembagian wilayah tidak mempertimbangkan identitas budaya, agama, atau sejarah masyarakat lokal.

    Pembagian Wilayah Secara Sepihak: Inggris dan Prancis membagi wilayah Timur Tengah tanpa mempertimbangkan aspirasi atau identitas masyarakat lokal, menyebabkan konflik antar-kelompok dan ketegangan politik.

    Penentangan Nasionalis: Perjanjian ini memicu penentangan dan semangat nasionalis di kalangan masyarakat Arab, yang merasa dikhianati oleh Inggris dan Prancis.

    Perjanjian Sykes-Picot masih memiliki dampak signifikan di Timur Tengah hingga saat ini, termasuk konflik Israel-Palestina dan ketidakstabilan politik di beberapa negara Arab.

    Sejarah akan selalu berulang , dimana ditengah merosotnya ekonomi Amerika Serikat dan merosotnya pengaruh politik dan militer Amerika dikancah global dimana dominasinya telah tersaingi oleh Tiongkok dan Rusia, tentu dengan kerjasama strategis diberbagai bidang baik ekonomi, politik, tekhnologi, dan militer, Indonesia akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar dan militer terkuat di belahan bumi selatan, bukan merupakan keniscayaan, akan tetapi sesuatu hal yang wajar dan sudah diprediksi. Indo  Pasifik diharapkan merupakan kawasan yang tingkat ekonominya melesat dibanding kawasan lain di dunia.

     

  • H A V E L

    H A V E L

    Oleh  Goenawan  Mohamad

     

     

    Di Praha, sastrawan Vaclav Havel dipenjarakan antara tahun 1979 dan 1983. Sebelumnya, di tahun 1977 ia juga ditahan. Dosanya: ia menulis sepucuk surat kepada Husak, presiden Cekoslovakia waktu itu. Dalam surat itu Havel mengingatkan bahwa pada akhirnya rakyat yang tertekan akan menuntut harga bagi “tindakan yang secara permanen merendahkan martabat manusia.”

    Ia dianggap ”subversif”. Tapi 12 tahun kemudian, yang dikatakannya terbukti. Rakyat Cekoslovakia merontokkan pemerintah yang membredel mulut + hati + pikiran manusia itu. Presiden Husak jatuh. Orang ramai pun berseru meminta agar yang menggantikannya adalah orang yang pernah jadi korban: Vaclav Havel.

    Ajaib, lebih ajaib dari dongeng. Dalam dongeng, perlu waktu lama buat sang korban untuk jadi pemenang. Di Cekoslovakia, proses itu begitu cepat: 41 tahun lamanya Partai Komunis berkuasa, dalam ‘sebulan fondasinya ambruk. Dan apa kesaktian Vaclav Havel, hingga ia-bisa mengalami transformasi dari-si-tertindas-jadi-si-kuasa? Hanya pada kata.

    Bukan karena ia penulis drama yang pandai menyusun kata-kata. Tapi karena ia hidup di Cekoslovakia. Di Cekoslovakia yang dibungkam, seorang sastrawan bisa punya pengaruh besar, karena kata – apalagi yang dituliskan dengan jujur—bisa seperti sebuah ledakan. Pemerintah gentar dan rakyat mendengar.

    ”Saya hidup di sebuah negeri di mana kata-kata masih bisa menyebabkan orang mendarat di penjara,” tulis Havel, Oktober 1989, dalam pidatonya waktu menerima Hadiah Friedenpreis des Deutschen Buchandels (“Hadiah Perdamaian dari Asosiasi Pedagang Buku”) di Jerman Barat.

    Di negeri seperti itu, kata bisa jadi suatu kekuatan tersendiri. Berlebih-lebihankah? Ya, kata Havel, berlebih-lebihan bagi orang di negeri seperti Jerman Barat, tempat orang bebas mengkritik dan berpendapat, ”dan tak seorang pun wajib untuk memperhatikan, apalagi jadi cemas.”

    Memang, itulah ironinya: di negeri bebas omong, kata dan pendapat yang berani bukanlah sebuah mutiara, melainkan hanya barang lumrah seperti rambu lalu lintas di tepi jalan.

    Maka, manakah yang lebih baik? Dilihat selintas, Havel  sebenarnya orang yang tak perlu meradang, nasibnya enak, lebih enak ketimbang rata-rata Orang Ceko. Ia terkenal, jadi amat penting, dan biarpun beberapa kali nasuk penjara, hidupnya tak melata.

    la lahir di tahun 1936, ketika Cekoslovakia belum jadi komunis, anak seorang kontraktor yang makmur. Ia tinggal di apartemen yang nyaman, di lantai teratas gedung bertingkat enam yang dulu dibangun ayahnya, sebuah bangunan yang menghadap ke Sungai Vitava. Dari kamarnya yang berhiaskan lukisan abstrak, kita bisa memandang kastil Hradcany, tempat dulu wangsa Hapsburg tinggal. Tak banyak tempat yang lebih menyenangkan dari sini. Hidup Havel juga serba cukup. Ia punya mobil Mercedes-Benz. Uang ia dapat dari royalti karya-karyanya yang diterjemahkan dan dipanggungkan di Barat – dan meskipun pemerintah melarang drama Havel yang absurd dan lucu itu dimainkan di Cekoslovakia, penguasa tak menyetop uang penghasilannya dari luar negeri.

    Lalu mengapa ia mau bersusah-payah masuk penjara? Mengapa ta menolak pindah ke Barat? Mengapa ia mau dipaksa bekerja kasar di pabrik minuman?

    Motif seorang manusia tak pernah jelas. Tapi bila Havel, atau seorang penulis, cenderung melawan sensor, itu karena tiap hari seluruh pikiran dan hatinya bergumul dengan kata, dan ia tahu kata-kata ”bisa jadi sinar terang dalam satu wilayah gelap.” tapi kata juga bisa panah untuk membunuh. Coba lihat kata-kata Marx, ujar Havel. “Adakah kata-katanya berperan menerangi seantero lapisan yang tersembunyi dari mekanisme masyarakat? Ataukah kata-katanya benih yang tak kentara dari semua kamp tahanan gulag, yang keji yang kemudian terjadi?” Jawab Havel, ”Saya tak tahu: mungkin sekali kata-kata Marx adalah dua hal itu sekaligus.”

    Havel, tentu saja, tak mengemukakan hal baru. Kita, di Indonesia, pernah mengalaminya. Kita, sekitar 25 tahun lalu, juga pernah hidup dengan Marx dan kata yang menggetarkan hati tapi melumpuhkan pikiran: “Revolusi” ”kontrarevolusi”, ”Manipol”, “Usdek”. Kita kemudian juga punya seorang pendahulu Havel: Rendra. Ia mencoba membebaskan kita dari kata-kata yang gaduh – kata yang diindoktrinasikan, dipidatokan, dan harus dipasang di mana-mana. Rendra pun melahirkan teater yang sunyi, teater yang hanya secara minimal menggunakan kata (karena kata telah kehilangan arti), teaer yang kemudian disebut “mini-kata”.

    Itu seperempat abad yang lalu. Tapi tidakkah kita kini juga masih perlu mendengarkan pesan Havel dan Rendra? Pernahkah kita sadar apa yang terjadi dengan pikiran kita, yang gampang cemas dan karenanya membeku di hadapan kata tertentu? Apa yang terjadi dengan kata ”Pancasila” dan “pembangunan”, setelah kian diucapkan dengan sikap sebuah mesin otomat? Rasanya kita masih harus menjalankan pembebasan: membebaskan diri dari tendensi jadi robot, membebaskan diri dari ketakutan kepada kata yang berarti, dan membebaskan diri dari proses kehilangan arti.

     

    Sumber Tulisan dari Buku Kata, Waktu, Goenawan Mohamad, Pusat Data dan Analisa Tempo, 2001

  • Jalan Memperpanjang Ingatan

    Jalan Memperpanjang Ingatan

     

    Oleh Herlambang Jaluardi dan Mohammad Hilmi Faiq

     

    Ungkapan “selembar foto melebihi 1.000 kata” dihayati fotografer Oscar Motuloh (64) melebihi apa pun. Dalam setiap lembar foto terkandung citra, kata, bahkan irama yang memperkaya cerita dalam foto tersebut. Pemahaman dan laku ini memberinya gelar Empu Ageng – setara doktor honoris causa bidang Fotografi Jurnalistik dari kampus ISI Yogyakarta.

     

    Dua pekan berlalu sejak Indonesia memilih presiden kedelapan. Obrolan tentang iklim demokrasi pascapemilu masih hangat. Belum lama pula seorang fotografer senior berkomentar miring tentang Aksi Kamisan yang rutin digelar di depan Istana Presiden sejak 2007 menuntut penuntasan kasus kejahatan berat HAM.

    Oscar tak mengikuti ributribut di jagat maya itu. Dia memang menjaga jarak dengan perangkat ponsel dan segala rupa media sosial. Melalui kawan-kawan di sekitarnya, keriuhan itu sampai juga di telinganya, yang terselip di antara helai-helai rambut panjangnya. Keriuhan itu, kata Oscar, buntut dari ingatan pendek yang menjangkiti orang-orang sekarang ini.

    “Semua (informasi) yang dibutuhkan hadir secara instan di sini (mengangkat ponselnya). Karena mudah didapat, informasi itu tidak (benar-benar) menempel di memori. Dampaknya, kejadian besar cepat dilupakan. Reformasi itu, kan, baru terjadi sekitar 25 tahun lalu,” kata Oscar, Rabu (28/2/2024), di ruang perpustakaan Yayasan Matawaktu, Jakarta Selatan.

    Ruangan itu dipenuhi sekitar 4.000 judul buku aneka topik, mulai dari biografi, sejarah, musik, hingga komik. Terpampang tulisan besar-besar kutipan dari Proklamator Mohammad Hatta, “Dengan buku aku bebas”.

    Obrolan iklim politik Indonesia tahu-tahu berbelok ke cerita masa silam di Chile tahun 1973. Saat itu, terjadi kudeta berdarah yang dilakukan rezim militer Augusto Pinochet pada Pemerintahan Salvador Allende. Oscar menuturkan, kudeta itu bernama operasi “The Jakarta Method”. Penamaan itu, katanya, merujuk pada metode perebutan kekuasaan yang berlumur darah di Indonesia pada periode 1965-1966.

    Oscar mempelajari kisah itu dari buku berjudul The Jakarta Method Wushington’s Anticommunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World (2020). Buku tebal rmuansa merah yang disusun mantan koresponden The Washington Post di Indonesia, Vincent Bevins, itu tergeletak di hadapannya ketika dia bercerita. Kopi hitam menghangatkan obrolan.

    Oscar juga memutar lagu “They Dance Alone” dari Sting yang bercerita tentang para ibu di Chile yang kehilangan suami dan anak dalam masa pergolakan itu. Kisah lagu itu dekat dengan Aksi Kamisan yang  digerakkan Sumarsih, ibu dari Bernardinus Realino Norma Irawan, mahasiswa yang tewas tertembak dalam Tragedi Semanggi 1998.

    ”Wartawan foto ada di garis depan saat peristiwa-peristiwa besar itu terjadi. Mereka ibarat tiang dekat gawang. Kepekaan para jurnalis foto memengaruhi cerita yang mereka laporkan dari garis depan. Cerita pada foto jadi pemantik yang mengingatkan pada peristiwa tertentu,” kata Oscar.

    Kembali ke buku

    Buku adalah salah satu sumber untuk mempertajam kepekaan jurnalis foto, dan tentu saja, jurnalis pada umumnya. Ketika dia masih menjadi penanggung jawab dan kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara, Oscar menyediakan buku referensi. Pembukaan pameran pun diiringi pertunjukan musik, yang menurut Oscar perlu untuk memperkaya horizon pewarta foto. |

    Dalam dua tahun terakhir, ketika purnatugas, Oscar melanjutkan pola itu pada Yayasan Matawaktu, yang dia dirikan dan jalankan bersama sejumlah temannya. Yayasan ini adalah organisasi nirlaba yang mengemban misi pengarsipan, penelitian dan publikasi terkait seni visual khusunya fotografi.

    Ketika didatangi di ujung Februari itu, Matawaktu sedang menggelar pameran buku-buku foto bertajuk Pentas Buku Foto. Kuratornya empat perempuan fotografer. Sebagian buku yang dipajang dicetak mandiri.

    Gue mengampanyekan kembali ke buku. Seniman visual, khususnya fotografi, itu merekam waktu, peristiwa dari detik ke detik. Peristiwa ini jadi pengetahuan, yang nanti akan menjadi sejarah. Rangkuman cerita melalui foto akan menjadi catatan sejarah,”kata Oscar yang sore itu berkaus The Godfather, film yang diangkat dari novel karya Mario Puzo.

    Kantor yayasan itu juga menjadi ruang diskusi topik-topik terkini yang berhubungan dengan fotografi. Di akhir pekan sebelumnya, Matawaktu membedah perspektif fotografi dari pelaku yang berada di setiap pasangan kandidat presiden. Cerita-cerita dibalik “punggung” kandidat bergulir tanpa penghakiman instan—berkebalikan dengan kolom komentar di media sosial.

    Kantor Matawaktu yang mengontrak unit ruko di ITC Fatmawati itu, kata Oscar, tak hanya mewadahi disiplin fotografi saja. Beberapa waktu silam, mereka pernah memamerkan karya ilustrasi. April mendatang, bulan yang dikaitkan dengan perayaan Record Store Day di seluruh dunia, mereka juga berencana memajang karya-karya penting ranah musik Indonesia.

     
    Landasan musik

    Selain fotografi, musik adalah unsur penting dalam hidup Oscar. Dia mewarisi banyak koleksi piringan hitam dari ayahnya, yang mantan karyawan PT Pos Indonesia. Bukan sekadar mengumpulkan, Oscar juga menyusunnya dalam kategori spesifik. Penyimpanannya tak cuma dipisahkan berdasarkan genre, tetapi juga tahun perilisan dan asal musisinya. Dengan begitu, Oscar jadi tahu konteks peristiwa dan tempat apa dari sebuah album.

    Album-album musik itu tersumpan dj lantai tiga bangunan itu. ruangan yang tak dibuka untuk umum. Jumlahnya tak terkira. Ada yang disimpan di rak, ada yang ditumpuk dilantai. Ada pula rak kaca yang menyimpan patung-patung kecil musisi kawakan, seperti Slash dan Michael Jackson. Logo Rolling Stones dan Pink Floyd ada di beberapa tempat, termasuk di klosetnya.

    ”Zaman gue SD, bokap mengajak kami (Oscar dan saudara-saudaranya) mendengar lagu dari piringan hitam. Kami selalu punya ruang mendengar musik. Gue juga sempat lihat, tuh, bokap ngajak yokap dansa diiringi irama waltz,” kata Oscar yang semasa hidup berpindah-pindah karena mengikuti penempatan dinas sang ayah.

    Jalan hidupnya tak pernah lepas dari music. Catatan pengantar album (liner notes) di sampul piringan  hitam biasa jadi referensi baginya ketika menulis artikel. Ketika menjadi wartawan, pemutar musik dan album tak pernah ketinggalan setiap bepergian. Ingatan pada lagu memberinya imajinasi ketika memotret.

    “Kalau memotret pasar yang riuh, misalnya, gue ingat lagu-lagu karya Pat Metheny Trio,” kata Oscar yang juga bisa main gitar ini. Beberapa perjalanan panjang yang pernah ia lakoni lekat memorinya dengan referensi musik. Pat Metheny Trio itu, khususnya album Bright Size Life, misalnya, adalah salah satu yang mengiringinya ke Oslo, Norwegia, pada 2002.

    Saat meliput tragedi di Dili, Timor Timur (sekarang Timor Leste), pada 1991, Oscar diiringi Sting album The Dream of the Blue Turtles dan Nothing Like the Sun, Rolling Stones (Sticky Fingers), serta Santana (Abraxas dan Caravanserai).

    Sementara perjalanan ke tanah spiritual Golan, Jerusalem, pada 2000 ditemani album Brain Salad Surgery dari Emerson, Lake & Palmer: Ravi Shankar dan Philip Glass (Passages), The Beatles (Revolver dan Abbey Road): serta Metallica dan Michael Kamen (S & M).

    Foto-foto dari perjalanan itu seperti punya dimensi lain: tak sekadar gambar dua dimensi. Setiap foto seperti punya nada, ada kesan puitis yang menjadikannya lebih dari laporan jurnalistik. Kebiasaan itu masih dilakukan sampai sekarang. Oscar membawa pemutar CD jinjing, atau pelantang Bluetooth. Album yang nyaris selalu diangkut, misalnya, Kind of Blue dari Miles Davis, Dark Side of the Moon dari Pink Floyd, dan Nothing Like the Sun dari Sting. Di atas semua itu, Bob Marley wajib ada.  Ketika mengasuh Galeri Foto Jurnalistik Antara, Oscar sering mengundang band untuk tampil di pameran. “Selain berjejaring, gue mau jurnalis foto menjadikan musik sebagai referensi untuk merangsang imajinasi,”ujarnya.

     

    Gaya jurnalistik

    Karier Oscar di Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara bermula dari 1988. Setelah mengikuti pendidikan jurnalistik selama setahun, Oscar diterima jadi pekerja magang sebagai wartawan tulis. Pada 1990, atasannya meminta dia menjadi fotografer meski dia mengaku tak punya dasar foto- grafi. ”Asal tunjuk aja itu,” katanya terkekeh.

    Teknik fotografi ia pelajari sembari menjalani tugas barunya. Namun, kepekaan pada karya visual telah dipupuk sejak kecil dari banyak menonton film. Saat menonton di bioskop, Oscar mencatat adegan menarik, juga istilah-istilah perfilman. Dia mempelajari ciri khas gambar dan cara bertutur sutradara ternama, seperti Francis Ford Coppola, Martin Scorsese, atau Steven Spielberg.

    Selain dari bioskop, referensi tontonan dia dapat dari koleksi perpustakaan Kedutaan Besar Amerika Serikat karena dia menjadi anggota di situ semasa kuliah di Akademi Hubungan Internasional, Jakarta, Buku dan komik juga dia lahap. Khazanah teks dan visualnya jadi lengkap. Musik memperkuatnya.

    Maka, ketika bertugas sebagai fotografer Antara, Oscar memberi warna baru. Foto-foto yang dihasilkan tak melulu dokumentasi seremonial. Dia membubuhkan cita rasa seni. Foto jurnalistik jadi bersemiotika. Gaya ini dia kembangkan dan ia jadikan sebagai kurikulum di program pendidikan foto jurnalistik Antara mulai 1993.

    “Sejak itu, calon fotografer Antara harus ikut dua brevet pendidikan sebelum diangkat. Mereka wajib ikut pelatihan jadi wartawan tulis, baru belajar jadi wartawan foto,” katanya. Sejak jadi divisi sendiri bernama Antara Foto pada 2005, karya foto esai banyak dihasilkan pewarta foto Antara.

    Kiprah puluhan tahun Oscar di foto jurnalistik mendapat pengakuan akademis dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada September 2019, menjelang masa purnatugasnya di Antara.

    Pengetahuan, pengalaman, dan keakraban yang tercurah selama bekerja di Antara diteruskan di Yayasan Matawaktu. Penikmat fotografi, tak terbatas pada jurnalis saja, berinteraksi di sana. Jangan mencari Oscar di Instagram apalagi Tiktok. “Gue realitas person. Gue bukan insan dunia maya,” katanya.

    Mampir saja ke Matawaktu. BO, alias Bang Oscar—panggilan dari para yuniornya—akan menyambut dengan senyum dan jabat erat sebelum ”air kata-kata” mengalir sambil memutarkan lagu yang asyik-asyik.

     

    OSCAR   MOTULOH

     

    Lahir:  Surabaya, 17 Agustus 1959

    Beberapa pameran tunggal:

    -Voice of Angkor (1995)

    – Art of Dying (1997)

    – Soulscape Road (2007)

    Beberapa penghargaan:

    – Empu Ageng Foto Jumalistik dari ISI Yogyakarta (2019)

    – Lifetime Achievement Anugerah Pewarta Foto Indonesia (2018J

    – Pelopor Fotografi Jumalistik dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2015)

    – 30 Most Influential Photographers in Asia dari Asia Invisible Photographer Asia (2014)

    ————————————–

    Sumber Tulisan: Kompas, Minggu, 24 Maret 2024 

  • Surat untuk Tuhan – Sajak P. Leo Kleden, SVD

    Surat untuk Tuhan – Sajak P. Leo Kleden, SVD

     

    Pada suatu pagi yang biasa
    Dari musim yang sudah kulupa
    Kutemukan namamu bersama cahaya
    Dan sejak itulah aku ‘ngembara
    Mencari engkau tanpa alamat

     

    Mula-mula aku bertanya
    Pada seorang tua yang bijaksana
    Apakah ia mengenal engkau?
    Ia cuma menggeleng kepala dan berkata:
    Ah dia,
    Lebih tua dari gurun lebih muda dari embun
    Mungkin langit masih mengenalnya.

     

    Aku melihat kanak-kanak
    Begitu muda seperti fajar
    Main kejaran di pantai pasir dan bertanya:
    Adakah mereka melihat engkau?
    Semua heran dan berkata:
    Ia belum tiba di sini
    Engkau datang terlalu dini.

     

    Aku pergi ke taman kota
    Melihat sepasang anak muda
    Asyik-masyuk dimabuk asmara
    Mungkinkah mereka mengenal engkau?
    Yang laki-laki itu berkata:
    Ia hidup dalam dongeng dari beribu tahun lalu
    Sisa namanya masih tercatat dalam sebuah perkamen tua.
    Yang perempuan lalu menambah:
    Sungguhpun hidup begitu indah
    Riwayat kita teramat singkat.

     

    Pengembara,
    Mengapa mencari yang sia-sia?
    Aku mencatat sementara:
    Lebih tua dari gurun lebih muda dari embun
    Engkau hidup dalam dongeng dari beribu tahun lalu
    Apakah namamu sia-sia
    dan aku datang terlalu dini?

     

    Bertahun-tahun kemudian aku mencari seorang filsuf yang berjalan siang hari dengan lampu menyala di tangan, Karena bertarung mencari yang benar.
    Mungkinkah dia mengenal engkau?
    Sewaktu kami di jalan bertemu, ia besarkan nyala lampu lalu mendugai lubuk mataku, berseru:
    Pengembara, kita sama pejalan jauh menuju langit yang tak terjangkau.
    Tentang dia, aku hanya bisa bertanya, filsuf tak pernah punya jawaban. Mungkin sang nabi lebih tahu?

     

    Aku pergi kepada sang nabi dan berkata dengan takzim:
    Salam padamu pewarta firman. Aku yakin, wahai nabi, engkau tahu yang kucari, ceritakan padaku tentang dia.
    Ia menjawab:
    Aku bukan seorang nabi. Pewarta sabda hanyalah suara yang berseru di padang gurun: Siapkanlah jalan Tuhan luruskanlah lorong-lorongnya.
    Aku belum melihat wajahnya dan para nabi sepanjang zaman tidak pernah melihat dia.
    Dialah cahaya mahacahaya yang memijari matahari dan menyinari lubuk hati.
    Ia menuntun orang buta, membimbing langkah pengembara.
    Sedang mata kita yang fana tak bisa menangkap mahacahaya.

     

    Kudengar dentang lonceng gereja, memanggil umat beribadah.
    Aku pergi membawa namamu lalu bertanya kepada pendeta.
    Ia menjawab:
    Gereja mewarisi nama ini, memanggil dia dalam ibadah, tapi maknanya tetap rahasia.
    Coba tanya si ahli kitab, mungkin dia yang lebih tahu.

     

    Aku pergi ke ahli kitab, mengucapkan salam dan bertanya, tapi dia tak sempat mendengar.
    Rupanya sudah berabad-abad ia menggali ayat suci, dan sekarang terperangkap dalam guanya sendiri.
    Ketika akhirnya kami bertemu kata-katanya begitu pelik sampai aku tak dapat mengerti:
    Mengapa mesti sekian sulit, membuat namamu rumpil rumit.
    Adakah relung luka di gua menyesatkan dia dari firmanmu?

     

    Aku berpikir, sebaiknya pergi kepada penyair.
    Dia menyambutku dalam diam, menggumam sajak yang tak selesai:
    Pada mulanya adalah Sunyi dan Sunyi itu melahirkan Kata dan Kata menciptakan alam semesta dan alam semesta menyanyikan madah.
    Dan semua madah kembali ke Sunyi di baris terakhir semua puisi.
    Tapi tak pernah seorang penyair berhasil menulis bait itu.
    Mungkin pertapa lebih mengenal rahasia Sunyi?

     

    Aku pergi ke padang gurun lalu menemui sang pertapa.
    Ia dulunya seorang kaya, menjual tuntas semua harta dan hidup menyepi mencari Sunyi.
    Sebelum kutanyakan sepatah kata, ia mendengar debur jantungku, dan berkata:
    Lebih kaya dari cinta, lebih miskin dari rindu. Itulah dia.
    Makanya harta yang habis terjual tidak cukup membayar jalan untuk sampai ke hadiratnya. Mungkin sekali fakir miskin lebih mengenal wajah itu.

     

    Sesampai ke pondok fakir miskin, aku langsung melupakan namamu. Yang kulihat, yang kuingat, hanyalah wajah kanak-kanak, dengan igauan dalam demam, menjerit pedih minta nasi sedang ibunya menjual diri untuk membeli sepotong roti.
    Pernah sang ayah mengedar ganja untuk memanen uang murah, tapi semua tinggal mimpi, ia pergi tak pernah kembali.
    Maka di sini di laut derita, bisakah seorang mengelak teriak dari kapal yang sedang karam?
    Apa makna semua doa, madah puji dan nyanyi ibadah bagi mereka yang kini tenggelam?
    Sungguh, di laut duka aku telah melupakan engkau. Namamu – tak lagi penting untuk diriku, dan mungkin namaku tak pernah berarti untukmu jua.

     

    Tapi mengapa di siang ini, ketika hibuk dalam letih, sesudah hilang semua pamrih, tiada terduga engkau tiba:
    O Cahaya mahacahaya, Sunyi suci yang melahirkan Kata,
    lebih kaya dari cinta lebih miskin dari rindu,
    di tengah wajah kanak-kanak lapar,
    aku sujud menyembah engkau.

    ——————————