Teratai di Kubangan Mimpi

Written by

in

Oleh Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan

 

 

Desau angin pagi seringkali membawa serta aroma tak sedap yang menyengat dari gundukan sampah besar di sudut pekarangan, sekitar dua km dari sekolah. Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang keras dan penuh keterbatasan itu, hiduplah seorang gadis bernama Dyah Pertiwi Sukma.

Ia ibarat perumpamaan klasik bunga teratai. Walau akarnya terbenam jauh di dalam lumpur keruh, lumpur kehidupan yang seolah tak memilih-milih tempatnya tumbuh, Dyah memiliki tekad membaja untuk menghasilkan kelopak yang paling indah, bersih, dan bermanfaat. Lingkungan yang keras tak sedikitpun melunturkan mimpinya yang tinggi.

Setiap pagi, jauh sebelum sinar matahari benar-benar naik dan menghangatkan bumi, Dyah sudah harus terseok-seok berjalan kaki dari lorong sempit tempat tinggalnya menuju sekolah yang amat sederhana. Jalanan yang ia lalui seringkali berlumpur dan becek, membuat rok seragamnya yang sudah memudar warnanya itu seringkali ternoda sisa tanah atau percikan lumpur.

Ayahnya adalah seorang pemulung, seorang pahlawan sunyi yang setiap hari harus berjuang keras di antara tumpukan sampah untuk sekadar mendapatkan sesuap nasi dan memastikan Dyah bisa bersekolah.

“Dyah, jangan pernah merasa minder atau malu dengan keadaan kita. Kita memang hidup dari lumpur yang kotor, tapi ingatlah selalu pada belut,” ujar Bapak suatu malam, sambil membersihkan tangannya yang kasar dari  debu dan kotoran hari itu. Bapak selalu mencoba menanamkan filosofi kehidupan yang mendalam pada Dyah melalui hal-hal sederhana di sekitar mereka.

Bapak melanjutkan perkataannya, “Belut memang hidup di lumpur, di tempat yang dianggap kotor dan menjijikkan oleh banyak orang. Tetapi, lihatlah hasilnya. Belut menghasilkan daging yang berisi, yang sangat bergizi, bahkan orang-orang di kota besar menyebutnya memiliki kandungan protein tinggi. Belut itu justru lebih berharga dan dicari daripada sebagian ikan-ikan yang berenang bebas di air yang jernih sekalipun.”

Kata-kata bijak dari Bapak itu, yang selalu diulang-ulang, seolah menjadi mantra yang tertanam kuat di benak dan jiwa Dyah. Ia mengidentifikasi dirinya sebagai belut itu. Ia mungkin tumbuh dan besar di lingkungan yang keras, kotor, dan penuh tantangan, tetapi di dalam dirinya, Dyah Pertiwi Sukma memendam ‘protein tinggi’ berupa cita-cita, semangat yang tak pernah padam, dan kecerdasan yang tak ternilai harganya.

Di sekolah, Dyah bukanlah seorang primadona yang dikelilingi banyak teman populer. Ia seringkali harus menjadi sasaran bisikan pelan, bahkan kadang-kadang berupa ejekan halus dari beberapa temannya yang kurang peka. Namun, Dyah memilih untuk tidak pernah menyambutnya dengan kemarahan atau kesedihan yang berlarut-larut. Ia mengalihkan seluruh energi dan fokusnya ke buku-buku tebal yang berbau apak dan lembaran-lembaran tugas.

Setiap aksara yang ia baca, setiap rumus matematika yang berhasil dipecahkan, terasa seperti air jernih yang membasuh lumpur dan debu yang menempel di kaki dan jiwanya.

Jauh di dalam hatinya, cita-cita Dyah Pertiwi Sukma terpatri setinggi langit, bukan sekadar impian biasa. Ia bercita-cita untuk menjadi seorang insinyur pertanian yang ahli, yang memiliki kemampuan untuk mengubah tanah-tanah gersang dan lahan-lahan yang penuh polusi menjadi kebun-kebun yang subur dan hijau. Sebuah cita-cita besar yang terasa nyaris mustahil untuk dicapai oleh seorang anak perempuan dari keluarga pemulung.

Jalan hidup Dyah penuh dengan liku dan perjuangan yang berat. Kadang, ia harus mengorbankan waktu bermain atau belajarnya untuk ikut membantu Bapak mencari barang rongsokan sepulang sekolah. Seringkali tugas sekolahnya terpaksa dikerjakan di malam hari, di bawah penerangan lampu rembulan atau lampu minyak yang redup, ditemani oleh bau menyengat yang keluar dari gerobak ayahnya.

Bahkan pernah, seragamnya robek lebar karena tersangkut paku berkarat saat ia membantu Bapak. Namun, setiap kesusahan yang datang, ia anggap sebagai pupuk yang justru menguatkan akar dan tekadnya.

Waktu terus berjalan tanpa terasa. Dengan kegigihan dan ketekunan yang luar biasa, Dyah Pertiwi Sukma selalu berhasil menjadi siswa terbaik di sekolahnya, mengungguli teman-temannya yang memiliki fasilitas lebih baik. Ia dengan tegas menolak untuk menyerah pada takdir yang seolah ingin menenggelamkannya dalam kesulitan.

Prestasinya membuka jalan, ia berhasil mendapatkan beasiswa demi beasiswa, yang mengantarkannya ke jenjang pendidikan tinggi.

Tiba saatnya Dyah berdiri tegak di podium kelulusan universitas. Ia mengenakan toga berwarna hitam yang terasa sedikit kebesaran di tubuhnya. Matanya nanar mencari sosok Bapak di antara kerumunan.

Bapaknya berdiri di sudut ruangan, mengenakan kemeja lusuh terbaiknya. Pipi Bapak yang keras dan penuh kerutan kini dibasahi oleh air mata kebanggaan yang tulus, menyaksikan putrinya telah mencapai puncak mimpi pertamanya.

Bertahun-tahun kemudian, Dyah Pertiwi Sukma, yang kini telah resmi bergelar insinyur dengan reputasi baik, memutuskan untuk kembali ke desanya. Ia tidak sedikit pun melupakan lumpur dan kubangan yang telah membesarkannya. Ia membawa kembali ilmu dan pengalamannya untuk tanah kelahirannya.

Dyah segera memulai proyek besarnya. Dengan segala ilmu yang ia miliki, ia mengolah lahan bekas tempat pembuangan sampah yang dulunya kumuh.

Ia mengubah hamparan tanah tak bernilai itu menjadi kebun percobaan yang hijau, subur, dan modern, menerapkan sistem pertanian yang ramah lingkungan.

Lebih dari itu, ia mempekerjakan warga sekitar, termasuk komunitas para pemulung, memberikan mereka kehidupan yang lebih layak.

Dyah, sang teratai, telah mekar sempurna, memberikan manfaat besar. Ia adalah Dyah Pertiwi Sukma, bukti bahwa tempat asal tak pernah menentukan tempat tujuan, sebuah janji bahwa walau hidup berawal dari lumpur, hasilnya bisa menjadi penopang kehidupan yang tinggi dan mulia.

***********************

 

 

Comments

36 responses to “Teratai di Kubangan Mimpi”

  1. Nico Avatar
    Nico

    Tulisan yg indah

  2. Lionel Avatar
    Lionel

    Bagus

  3. Stivent hasugian Avatar
    Stivent hasugian

    > Asal yang sederhana dan lingkungan yang keras tidak menentukan masa depan seseorang — tekad, kerja keras, dan keyakinan diri mampu mengubah “lumpur kehidupan” menjadi tempat tumbuhnya keindahan dan

  4. Stivent hasugian Avatar
    Stivent hasugian

    > Asal yang sederhana dan lingkungan yang keras tidak menentukan masa depan seseorang — tekad, kerja keras, dan keyakinan diri mampu mengubah “lumpur kehidupan” menjadi tempat tumbuhnya keindahan dan

  5. Jonathan Vincent Avatar
    Jonathan Vincent

    cerita yang sangat bagus

  6. Goklas Sihombing Avatar
    Goklas Sihombing

    Cerita Nya bagus Sangat mudah dimengerti dan berisi banyak sekali makna

  7. Angelina Rosario Yulia Pratiwi Avatar
    Angelina Rosario Yulia Pratiwi

    Cerita yang sangat keren dan luar biasa! Cerpen ini sangat menginspirasi.

  8. Felicia Davine Avatar
    Felicia Davine

    dari cerita ini bahwa kita bisa belajar dari dyah karena dia selalu bersyukur dalam situasinya dan selalu belajar untuk menempuh pendidikan tinggi dan bisa membanggakan orang tuanya dengan proyek buatannya

  9. Alevi Latisya Avatar
    Alevi Latisya

    ttp bersyukur dan jangan pantang menyerah walaupun kekurangan ekonomi, walau hidup berawal dari lumpur, hasilnya bisa menjadi penopang kehidupan yng tinggi dan mulia

  10. Titus Pasaribu Avatar
    Titus Pasaribu

    Mantappp,kerenn

  11. Lady Kirana Agnesya Avatar
    Lady Kirana Agnesya

    kita harus tetap bersyukur apa yang kita punya…ya mantap

  12. Titus Pasaribu Avatar
    Titus Pasaribu

    Mantappp kerenn

  13. Noel Jeremi Avatar
    Noel Jeremi

    Bahwa kita memiliki mimpi dan apa yg diimpikan harus dicapai dengan semangat

  14. Chritian R.Natanael simanjuntak Avatar

    Mantap pak bagus ceritanya 👍

  15. Vanessa Avatar
    Vanessa

    luar biasa..!

  16. octavianus jose Avatar
    octavianus jose

    cerita yang inspiratif tentang kekuatan tekad dan semangat untuk mencapai mimpi

  17. Clara Marsyla Paulina Alo Avatar
    Clara Marsyla Paulina Alo

    Keren banget ceritanya, aku jadi lebih bersemangat dalam menjalani hari-hari yang terasa berat, terima kasih

  18. Samuel Avatar
    Samuel

    Keren

  19. Gregorius Kerubim Eframbudi Avatar
    Gregorius Kerubim Eframbudi

    Kisah Dyah Pertiwi Sukma adalah sebuah narasi yang sangat inspiratif dan menyentuh hati

  20. guido Avatar
    guido

    semangatt jangan pantang menyerah

  21. ONNA HANA MITHA Avatar
    ONNA HANA MITHA

    bagus sekali, dan menginspirasi

  22. bella Avatar
    bella

    WIW, SANGAT MENGINSPIRASI BGTTT CERITANYAAA, OMG

  23. Cheryl darlene Avatar

    Wow, keren sekali ceritanya dan menarik untuk dibaca

  24. bella Avatar
    bella

    Wowww, kerennn bgttt ceritanyaa, sangat menginspirasi. Semangattt trus bapak🙏🏻

  25. princess* Avatar
    princess*

    cerita ini mengajarkan bahwa kesulitan bukanlah penghalang, melainkan pijakan untuk tumbuh. dengan tekad, kerja keras, dan hati yang tulus, seseorang bisa mengubah penderitaan menjadi kekuatan dan membawa cahaya bagi sekelilingnya *

  26. bella Avatar
    bella

    wowww, cerita yg sangatt inspiratif

  27. Anthony Davin Avatar
    Anthony Davin

    cerita ini sangat menginspirasi dan menyentuh hati

  28. Hosea Avatar

    saya sudah membacanya, ini sangat menginspirasi says until terus maju

  29. Rotama Sinurat Avatar
    Rotama Sinurat

    Wow bagus ceritanya, ini menunjukkan bahwa kita yang menghasilkan masa depan kita bukan dari tempat kita lahir dan tumbuh, hanya karena hidup susah bukan berarti masa depannya murung, mantap 🫡🫡

  30. Dave.C Avatar
    Dave.C

    Ceritanya sangat menginspirasi

  31. Dave.C Avatar
    Dave.C

    Ceritanya sangat menginspirasi saya!

  32. Bian Avatar

    Cerita ini sangat memotivasi saya untuk tidak pernah merasa kurang percaya diri👍

  33. Ignasius Situngkir Avatar
    Ignasius Situngkir

    Cerita Sangat berpengaruh bagi saya

  34. Christoper Gavin Avatar
    Christoper Gavin

    Ceritanya sangat menyentuh dan memberi semangat untuk tidak menyerah dalam menghadapi kesulitan

  35. Vinsensius Avatar

    Terus berkembang,jangan dengar kata negatif dari orang lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *