Blog

  • Persepsi dan Relasi Tionghoa Indonesia dengan Kekayaannya

    Persepsi dan Relasi Tionghoa Indonesia dengan Kekayaannya

    Oleh Arthur Chandra,  Dosen Teologi dan Kepemimpinan Universitas Pelita Harapan, Karawaci – Banten

     

    Artikel ini ditulis setelah hingar bingar Imlek baru saja selesai dirayakan oleh keturunan Tionghoa di Indonesia. Penulis yang merupakan keturunan Tionghoa tentunya akrab dan juga terlibat dalam tradisi perayaan ini. Perayaan Imlek tidak dapat dilepaskan dari selebrasi dan harapan akan kemakmuran finansial. Kita bisa menyaksikannya bukan hanya dengan tradisi pemberian angpao tetapi juga dari makna kata “Gong Xi Fat Choi” yang diucapkan dalam Imlek. Kata tersebut bermakna “Semoga anda memperbesar kekayaan anda”. Dengan kata lain, Tionghoa Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai kemakmuran finansial. Bahkan berdedikasi untuk mewujudkan keberhasilan finansial tersebut. Dedikasi tersebut dapat nampak bukan hanya dari etos kerja “all-out” tetapi juga dari kepercayaan agama rakyat Tiongkok yang memiliki dewa uang (Tsai Shen Yeh). Dalam kepercayaan tersebut, ucapan “Gong Xi Fat Choi” adalah sebuah doa yang dialamatkan pada dewa uang supaya orang tersebut beroleh keberhasilan finansial di tahun tersebut.

    Kelompok Etnis Minoritas di Indonesia

    Data dari Overseas Community Affairs Council (OCAC) menyebutkan bahwa jumlah orang dari negara Tiongkok yang merantau ke Indonesia sebanyak 10,84 juta orang yang mencakup 30% dari seluruh perantauan dari negara Tiongkok ke seluruh dunia (https://dataindonesia.id/ragam/detail/sebaran-perantau-china-di-seluruh-dunia-indonesia-terbanyak). Evi Nurvidya Arifin, demograf Indonesia memperkirakan jumlah keturunan Tionghoa di Indonesia berkisar 1,9% dari seluruh kelompok etnis di Indonesia (https://nationalgeographic.grid.id/read/132718811/berapakah-jumlah-sesungguhnya-populasi-tionghoa-di-indonesia?page=all). Melalui data tersebut jelas nampak bahwa keturunan Tionghoa adalah etnis minoritas di Indonesia (https://www.bps.go.id/news/2015/11/18/127/mengulik-data-suku-di-indonesia.html). Merujuk pada data sensus 2010, keturunan Tionghoa Indonesia mayoritas beragama Kristen dan Katolik (42%). Kemudian proporsi umat nasrani di Indonesia kurang lebih 10,5% di Indonesia. Dengan demikian kita bisa melihat bahwa Tionghoa Indonesia identik dengan orang Kristen yang notabene adalah agama minoritas di Indonesia. Karena itu, sebagian besar orang Tionghoa Indonesia masuk dalam kelompok dobel minoritas di negeri ini.

    Kekayaan Keturunan Tionghoa di Indonesia

    Salah satu persepsi umum tentang Tionghoa Indonesia adalah etnis yang dikenal memiliki kekayaan finansial lebih besar daripada etnis lain di Indonesia. Dua dekade lalu, Amy Chua profesor hukum yang mendalami konflik etnis dan globalisasi menyatakan bahwa etnis Tionghoa Indonesia adalah salah satu etnis minoritas yang mendominasi pasar di dunia (World on Fire, 2003). Bagaimana saat ini? Pada akhir tahun 2022, Forbes merilis nama 50 orang terkaya di Indonesia yang menampakkan sebagian besar adalah keturunan Tionghoa (Forbes.com: Indonesia’s 50 richest list). Dengan kata lain keturunan Tionghoa di Indonesia masih memiliki pengaruh yang signifikan dalam perekomian baik di skala nasional maupun dunia.

    Selanjutnya yang perlu disimak adalah hasil penelitian Indonesia National Survey: Economy, Society and Politics yang dilakukan pada tahun 2017 (https://www.researchgate.net/publication/319610359_The_Indonesia_National_Survey_Project_Economy_society_and_politics) yang mengungkap bahwa sebagian besar orang di Indonesia beranggapan Tionghoa Indonesia memiliki talenta natural untuk menjadi kaya (68,1%), memiliki terlalu banyak pengaruh dalam ekonomi Indonesia (62%) dan hidup lebih mudah bagi keturunan Tionghoa Indonesia (48%). Dengan kata lain, sebagian besar publik di Indonesia beranggapan bahwa etnis Tionghoa Indonesia punya kuasa ekonomi yang besar dan hidup lebih sejahtera daripada etnis lain di Indonesia. Tentu saja, anggapan ini tidak mencerminkan realita yang sesungguhnya sebab masih banyak Tionghoa Indonesia yang miskin di berbagai daerah misalnya Tangerang, Singkawang dan di berbagai daerah lainnya (Chang Yau Hoon, Evolving Chineseness, Ethnicity and Business:The Making of Ethnic Chinese as a ‘Market- Dominant Minority’ in Indonesia, 2014).

    Kendati demikian, penelitian tersebut menunjukkan bahwa Tionghoa Indonesia dianggap sebagai kelompok etnis minoritas yang lebih berkuasa secara ekonomi daripada etnis lain yang seringkali disebut sebagai pribumi. Tentunya ini berpotensi menimbulkan konflik horizontal di bangsa ini. Apalagi dalam penelitian tersebut juga nampak sentimen negatif etnis lain terhadap Tionghoa Indonesia yang dinilai ras yang ekslusif, sehingga etnis lain sulit bersahabat dengan orang Tionghoa Indonesia (44,1%) dan orang Tionghoa Indonesia hanya peduli dengan sesama etnisnya (48,4%). Sentimen negatif tersebut tentunya tidak dapat diabaikan begitu saja sebab sebagaimana kita lihat dalam sejarah bangsa Indonesia, kelompok Tionghoa Indonesia acapkali menjadi korban dari politik identitas.

    Di satu sisi, sering dianggap sebagai non-pribumi yang tidak cinta bangsa dan hanya peduli dengan kemakmuran diri serta golongannya. Walau tentu saja, anggapan ini tidak fair karena merupakan karikatur atas potret wajah Tionghoa Indonesia. Sebab dalam sejarah bangsa ini, kita bisa menyaksikan begitu banyak Tionghoa Indonesia yang berkiprah dalam upaya kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Namun di sisi lain, kelompok Tionghoa Indonesia juga perlu mawas diri dan memiliki sikap yang tepat terhadap kekayaannya di tengah anggapan negatif tersebut. Sebab melalui sikap yang bijak terhadap kekayaan, Tionghoa Indonesia dapat menjadi berkat bagi bangsa dan memiliki relasi yang lebih erat dengan saudara-saudara sebangsa dan setanah-air. Namun sebaliknya melalui sikap yang bodoh terhadap kekayaannya dapat mengundang laknat, semakin dikutuki dan terpisah dari saudara-saudara sebangsa yang berbeda ras dan agamanya.

    Cara Pandang Alkitab terhadap Kekayaan

                Sehubungan dengan ini, penulis mengajak para pembaca untuk mempertimbangkan cara pandang tentang kekayaan dalam Alkitab. Sebab sebagaimana diulas sebelumnya, dalam konteks Indonesia mayoritas Tionghoa Indonesia adalah Nasrani. Karena itu, pendekatan Alkitab diharapkan penulis dapat menjadi lensa yang cocok dan lebih nyaman dipakai oleh mata hati Tionghoa Indonesia yang sebelumnya sudah menerima Alkitab sebagai kitab suci yang sakral dalam mengarahkan hidup mereka. Mengingat keterbatasan tempat, penulis akan menyajikannya dengan singkat melalui cara pandang dual lens, pertama dari kepedulian Allah akan kemakmuran dan kedua kepedulian Allah akan keadilan.

                Kepedulian Allah akan kemakmuran. Tatkala umat Kristen mengikuti ibadah minggu, di penghujung ibadah biasanya pendeta mengedangkan tangannya dan mengucapkan berkat: ” Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau…Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera” (Bilangan 6:24-26). Kata ”Damai sejahtera” tersebut dalam bahasa aslinya adalah ”Shalom”. Cornelius Platinga menjelaskan shalom ini lebih dari sekedar ketenangan atau kedamaian dari pertikaian, namun sebuah kemakmuran, keutuhan dan sukacita – keadaan yang kaya di mana kebutuhan-kebutuhan natural terpenuhi dan karunia-karunia didayagunakan dengan baik (Not the Way it’s Supposed to Be, 1996). Dalam penggunaannya di Alkitab, kata shalom ini dipakai dalam sapaan standar (10%), lalu mengacu pada keadaan damai, bebas dari konflik (25%) dan paling banyak digunakan untuk merujuk pada keadaan yang utuh sejahtera sehat secara ekonomi maupun relasi (65%) (Jonathan T. Pennington, Phd, A Biblical Theology of Human Flourishing, 2015.). Dengan demikian, harapan akan kemakmuran dan keamanan finansial yang terkandung dalam sapaan ”Gong Xi Fat Choi” bukanlah harapan unik Tionghoa Indonesia tetapi juga menjadi pengharapan umat Allah yang mendapatkan pewahyuan dan janji-Nya.

                Cendekia Alkitab, Craig Blomberg dengan jeli memberikan ikhtisar Alkitab tentang kekayaan dengan menyatakan bahwa di kitab Pentateukh (Kejadian-Ulangan), kekayaan dipandang Allah memiliki nilai yang baik.  Bahkan Allah berkehendak untuk memberkati umat-Nya dengan kepemilikan materi, secara khusus tanah Kanaan dan isinya sehingga melaluinya umat Allah bisa menjadi berkat bagi semua bangsa di bumi. Kemudian dalam kitab hikmat dan puisi, Blomberg memperhatikan ada dua tema besar tentang kekayaan yakni pertama, kekayaan sebagai berkat dari hasil ketekunan dan kerja keras. Kedua, peringatan akan keserakahan dan kekayaan yang diperoleh dengan cara yang tidak benar (Neither Poverty nor Riches, 2000). Sedangkan dalam Perjanjian Baru, ada sedikit perbedaan dengan Perjanjian Lama mengenai kekayaan yakni tidak ada penekanan mengenai janji Allah akan kemakmuran melalui ketaatan iman umat-Nya. Namun ada banyak indikasi yang jelas bahwa kekayaan ketika dipahami dan dimanfaatkan dengan benar tetap memiliki nilai yang baik (Christian in an Age of Wealth, 2013).

                Kemudian dalam kisah perumpamaan talenta yang diajarkan Yesus di Matius 25:14-30, kita bisa melihat kepedulian Yesus mengenai pengelolaan sumber daya secara produktif dan kreatif sehingga mendatangkan keuntungan. Ini mengingatkan kita akan perintah Allah kepada Adam Hawa di Kejadian 1 yang diminta untuk tidak hanya mengawasi taman Eden tetapi mengerjakan dan mengembangkannya (Anne Bradley, Biblical Stewardship and Economic Progress, 2020). Karena itu, kepedulian Allah tentang kekayaan perlu digaris-bawahi dalam konteks pengelolaan berkat Allah bukan hak kepemilikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam Injil, kita mendapati secara umum sikap Yesus cenderung negatif terhadap kekayaan dengan banyaknya peringatan terhadap orang kaya (Mat.19:16-30; Luk. 12:13-21; 16:14-31). Namun tatkala kita mendalami konteks dari bagian-bagian tersebut, kita bisa melihat bahwa Yesus bukan mengutuk orang yang kaya tetapi orang yang terikat dengan kekayaan hingga mengabaikan orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan. Oleh karena itu, kita bisa melihat dalam cara pandang Alkitab, Allah peduli dengan isu kekayaan dan mau memberkati umat-Nya dengan berkat kekayaan untuk kemudian dikelola mengerjakan shalom di muka bumi ini. Terlepas dari apapun etnisnya – bukan hanya Tionghoa saja, Allah memiliki kepedulian agar manusia memiliki dan menggunakan kelimpahan materi untuk mengupayakan shalom di dunia.

    Kepedulian Allah akan keadilan. Kemiskinan ada di sekitar kita sejak dahulu kala dan semakin hari jurang perbedaan antara yang kaya dan miskin semakin lebar. Ironisnya, kekayaan di dunia ini begitu berlimpah dan jelas lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar semua manusia di dunia ini. Ketika kita melihat dalam Alkitab jelas sekali nampak kepedulian Allah akan keadilan distribusi kekayaan di antara sesama manusia, apalagi pada mereka yang miskin dan tertindas. Max Stackhouse dalam karyanya ”On Moral Business” menjelaskan bahwa keadilan ekonomi jelas dinyatakan dalam hukum Taurat untuk mengatur supaya sumber daya ekonomi dipergunakan sedemikian rupa dalam kerangka pemahaman manusia sebagai pengelola milik Allah, sehingga bisa memenuhi kebutuhan setiap individu atau keluarga (Kel. 23:10-11; Im. 19:9-10; Ul. 14:28-29). Allah bukan hanya memerintahkan supaya kita memberikan akses sumber daya ekonomi kepada semua orang, tetapi juga menghendaki supaya kita mengatur distribusi dan memberikan kontrol atas sumber daya ekonomi produktif pada semua orang (Im. 25:8-17, 23-24; Ul. 15:12-14). Karena itu monopoli ekonomi untuk kepentingan diri atau sekelompok orang saja tanpa memperhatikan kebutuhan sesama jelas dikutuk oleh Allah.

    Dalam Perjanjian Baru khususnya Injil Lukas, tema tentang kepedulian Allah akan keadilan dalam distribusi kekayaan nampak kental sekali. Misalnya dalam Lukas 1;51-53, 4:16-21; 6:20-26; 16:19-31; 19:1-20. Dalam sejarah gereja mula-mula yang terekam di Kisah Para Rasul kita dapat mengintip profil identitas komunitas Kristen yang ditandai dengan tidak adanya orang miskin karena mereka hidup saling peduli dan berbagi (Kis. 2:43-47; 4:32-47). Identitas Kristen nampak bukan hanya dari kasih yang terucap tetapi juga dari kasih yang bertindak untuk membantu sesama (1 Yoh. 3:17).  Russell Pregeant dengan akurat menyampaikan isu keadilan ekonomi ini dengan mengatakan bahwa isu kekayaan dan kemiskinan tersebar di seluruh bagian Alkitab dengan penekanan bahwa Allah berpihak pada orang-orang miskin yang ditindas oleh orang-orang kaya. Isu ketidak adilan ekonomi adalah isu moral yang paling sering diungkap dalam Alkitab. Di dalamnya nampak bahwa problem kemiskinan bukan terjadi terutama karena keadaan atau situasi alami yang tidak menguntungkan tetapi karena tindakan-tindakan yang tidak adil dari orang-orang yang memiliki kuasa (For the Healing of the Nation, 2016).

    Tionghoa Indonesia berkat bagi bangsa

    Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa Allah melihat kekayaan sebagai hal yang positif dan bernilai. Tentunya dengan terms and condition, sepanjang tidak dieksploitasi untuk keserakahan diri tetapi dikelola untuk kebaikan bersama. Ketika kekayaan dihisap untuk mengenyangkan diri terus menerus dan abai terhadap sesama, kita justru akan berhadapan dengan Allah sendiri yang jelas berpihak pada yang miskin dan menderita. Alih-alih menikmati berkat justru menuai laknat, hidup semakin terpisah dari tuntunan Allah dan semakin jauh dari sesama. Kesombongan, keserakahan dan kecintaan akan uang yang dibiarkan bertumbuh liar dapat merusak berkat kekayaan yang baik dan bisa menimbulkan rasa curiga, iri hati dan api amarah pada yang berkekurangan terhadap yang berkelebihan secara materi.

    Semoga melalui ulasan yang tersaji dan runutan Alkitab yang singkat ini, kita dapat melihat dan mengelola kekayaan kita untuk menjadi berkat bagi Indonesia. Terkait ini perlu dicamkan bahwa yang pertama, harapan penulis tidak dibatasi pada Tionghoa Indonesia yang kaya. Penulis sendiri sebagai Tionghoa Indonesia tidak termasuk orang yang kaya raya tetapi juga tidak melihat dirinya sebagai orang yang miskin sampai tidak bisa berbagi dan menjadi berkat bagi sesama. Yang kedua, harapan penulis tentu tidak dibatasi pada Tionghoa Indonesia saja tetapi pada segenap anak bangsa Indonesia. Tanggung jawab untuk mengelola kekayaan sehingga dapat dinikmati sesama jelas bukan hanya porsi etnis atau agama tertentu tetapi seluruh umat manusia sebagai insan ciptaan Allah. Namun yang terakhir, bagi Tionghoa Indonesia yang memang memiliki kekayaan besar, ini berarti mereka memiliki kesempatan dan panggilan yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi bangsa Indonesia.

    Kiranya pengharapan yang terkandung dalam ucapan Gong Xi Fat Choi – semoga anda lebih kaya –bukan hanya menjadi milik etnis Tionghoa semata. Kiranya pengharapan itu menjadi pengharapan semua manusia yang tercermin tidak hanya dalam salam dan doa pada sang Pencipta untuk menurunkan berkat pada sesama. Namun juga dalam tindakan untuk membagikan berkat yang dimiliki. ”Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yeremia 29:7).

    *********************************************************************

  • Homo  Viator – Mengenang Brigjen. Pol. ( Purn ) Drs. Antonius Stephanus Enga Tifaona

    Homo Viator – Mengenang Brigjen. Pol. ( Purn ) Drs. Antonius Stephanus Enga Tifaona

     

    Oleh RD Poya Lucius Hobamatan, Imam Keuskupan Pangkalpinang

     

     Homo Viator: Manusia itu, makhluk peziarah. Begitulah St. Gregorius Agung berkata tentang manusia. Beradanya manusia sebagai peziarah, karena di satu sisi manusia dicipta untuk keabadian, selaras dengan Pencipta yang menciptakannya; di sisi lain, manusia harus menenun hidup di sebuah dunia yang bersifat sementara dan fana, sehingga perjuangan, penderitaan dan kematian juga harus menjadi pengalaman nyata yang harus dicicipi.

    Pergulatan untuk membangun identitas yang paradoks, antara keabadian dan kesementaraan itu, dirangkum dengan indah dalam kata homo viator, insan peziarah.

     Karena manusia itu pezirah, maka ia kembara di dunia namun terus mengarahkan diri menuju keabadian. Karena manusia  itu peziarah, maka ia tunduk mengais nasib di dunia tempat awal hidup ditempuh, namun terus menengadah kepada Sang Kahlik, karena di sanalah tujuan akhir seluruh kelana. Karena manusia itu peziarah, maka walau ia terus berjuang menganyam hidup, dari satu tempat ke tempat yang lain, mendirikan  kemah dan membongkar kemah, mengais nasib dengan peluh keringat untuk bertahan dalam hidup yang sementara; namun ia tetap sadar bahwa tempat pasti baginya yang tetap dan abadi adalah rumah Bapa.

    Rasanya identitas sebagai homo viator, sebagai makhluk peziarah ini, melekat begitu erat dalam hidup  Bapa Antonius Enga Tifaona; dan bagaimana identitas ini dimaknai dalam tahun-tahun ziarah sampai dipenghujung hidupnya, tanggal 15 Oktober 2017 yang silam.

    Dari curiculum vitae yang terpotret dalam bentang sejarah, tampak jelas bagaimana ia memaknai idenitiasnya itu dengan setia.

    Walau titik awal terajut di bukit Imulolong, namun bukan di sana hidup itu ditancap, ia segera hijrah ke bukit mandiri, terus meretas jalan menuju bukit Mataloko, untuk menemukan kesejatian jalan hidupnya, namun di sana pun tak dijumpainya; sehingga ia terus meniti jalan menuju bukit Syuradikara, untuk seterusnya berziarah dari satu tempat ke tempat lain; pasang kemah dan bongkar kemah.

    Kendati demikian, sosok Bapa Anton tampil memukau sebagai peziarah, karena kualitas iman dan kesejatian ilmu, yang membentuk integritas dirinya sejak dari tanah leluhur, tak pernah tergerus oleh waktu, tak pernah tercemar oleh tempat walau cuaca terus berbeda dan berubah, dari masa ke masa.

    Integritas itulah yang membesut dirinya bagai batu karang di tengah gelombang; menempatkannya di bukit-bukit jabatan strategis dan mengantarnya menjadi salah seorang insan Nusa Bunga untuk ikut memikirkan dan merumuskan ke mana seharusnya Gereja tempat ia terlahir dan negeri khatulistiwa, tempat tumpah darahnya ini dibawa.

    Begitulah Bapa Anton memaknai identitasnya sebagai homo vator. Ia bagai sosok-sosok peziarah yang ditampilkan Kitab Suci  dalam pekan ini.  Ia memang terlahir di pinggiran, namun ia tidak mau menjadi orang buta. Tuhan membuka matanya untuk melihat dan mengikuti Dia, kendati terus berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain.

    Tuhanlah yang meneguhkannya untuk  membangun kejujuran dan kesahajaan di tengah potret kehidupan yang diwarnai mentalitas pemungut cukai seperti Zakeus yang lama, kendati dengan itu ia bersama keluarga  harus tampil sederhana. Tuhanlah yang mengasahnya untuk berjuang memelihara diri sebagai Bait Allah, dan terus membesutnya menjadi hamba Allah yang setia menggandakan talenta dan  mina, sehingga ia dipercaya untuk mendapuk jabatan-jabatan strtegis baik untuk institusinya maupun untuk negeri ini, karena ia tidak mau negeri ini bersimbah darah, tinggal puing-puing seperti nasib Yerusalem, yang ditangisi Yesus di hari Kamis kemarin.

    Pertanyaan kita adalah mengapa Bapa Anton sanggup menampilkan sosok diri sebagai homo viator di sebuah kanvas kehidupan yang penuh warna?

    Rasanya kuasa Sabda Allah yang dikumandangkan pada 40 hari kematiannya hari ini memberi jawaban.

    Bagi Bapa Anton, hidup bukanlah sekedar sebuah moment untuk dinikmati, melainkan sebuah tugas dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan. Dan oleh karena itu, ia tidak melintasinya dengan kekuatan sendiri, melainkan selalu bersama Allah, dalam spiritualitas seorang hamba.

    Rasanya spiritualitas dan integritas itu yang ditampilkan secara simbolik dalam hidupnya yang sederhana namun berbobot, walau dengan itu, ia harus menghalau setiap moment yang sebetulnya memberinya peluang untuk mendulang pundi-pundi; walau untuk itu ia harus tegar di tengah simpang siur godaan di setiap posisi yang ia dapuk; tanpa ada rasa gelisah di raut wajahnya; karena ia memiliki iman yang kokoh akan Kristus yang wafat namun hidup kembali.

    Kristus itulah yang menjadi ragi yang mengembangkan adonan ziarah hidupnya; sehingga ia selalu sadar diri bahwa hidup ini bersifat sementara dan keabadian ada di rumah Bapa. Dan oleh karena itu, kendati hidup ini sementara, ia tetap memelihara diri sebagai milik Tuhan dan menenun hidup itu untuk Tuhan, agar ia mati pun, mati untuk Tuhan.

    Oleh karena itu, rasanya ada sebuah pesan dalam kebisuan Bapa Anton untuk anda dan saya yang memperingati 40 hari kepergiannya, di penghujung ziarah  Gereja hari ini, bahwa apapun situasi yang dihadapi, bentuklah diri sebagai Homo Viator, tumbuhkanlah spiritualitas sebagai hamba Allah yang berkualitas dan berintegritas, agar kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, supaya bila kita mati, kita mati dalam Tuhan.

    Hanya dengan spiritualitas ini, kita ditolong untuk menenun hidup sebagai tugas dari Allah yang harus dipertanggung-jawabkan, saat Ia datang sebagai Raja Semesta Alam, yang akan kita rayakan dalam misteri, pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam besok.

    Bapa Anton, selamat menikmati Rumah Bapa. Berbahagialah di Nagi abadi. Doakanlah kami yang masih berkelana sebagai Homo Viator.

    ————————————————————

    *Tulisan ini adalah Kotbah RD Poya Lucius Hobamatan, pada Misa 40 Hari Mengenang Brigjen Pol. ( Purn ) Drs. Antonius Stephanus Enga Tifaona, Jakarta 25 November 2017

     

  • Mandela dan Religiositas

    Mandela dan Religiositas

     

    I g n a s   K l e d e n,  Sosiolog

     

    RICHARD Stengel yang membantu Nelson Mandela menulis otobiografinya, Long Walk to Freedom, mengenang kembali persahabatannya dengan almarhum dalam laporan utama Time Nomor 26, 2013.

    Di antara berbagai catatannya, ada pernyataan yang kiranya menarik perhatian pembaca. Dia menulis: ”Tidak sekali pun saya mendengar dia (Mandela, IK) menyebut Tuhan, surga, atau sesuatu yang berhubungan dengan akhirat. Nelson Mandela percaya akan keadilan dalam masa hidupnya di dunia ini.”

    Catatan itu dapat menimbulkan rasa heran karena beberapa kebajikan dalam watak Mandela segera membawa asosiasi kita kepada kehidupan asketis yang diajarkan dalam agama-agama. Keteguhan hatinya dalam penjara, khususnya 18 tahun dalam sel 2 meter x 2 meter di Robben Island, bekas tempat pembuangan penderita kusta, sikap tanpa putus harapan dalam perjuangan amat panjang menentang diskriminasi, ketegarannya menolak kompromi dan gratifikasi, kebesaran hatinya mengatasi dendam dan memaafkan orang yang telah menghukumnya dengan sewenang-wenang—semua itu merupakan kombinasi keyakinan dan kekuatan moral yang membuat seluruh dunia tercengang.

    Sebuah rahasia yang menjelaskan daya tahannya menghadapi penderitaan dan tekanan ialah karena dia tak pernah menyerahkan kemerdekaannya kepada mereka yang menahannya dalam penjara selama 27 tahun. Ini dilakukannya dengan dua cara. Pertama, dia yakin bahwa pihak yang menjebloskannya ke dalam tahanan dapat merampas segala sesuatu yang ada pada dirinya, kecuali pikiran dan hatinya.

    Musuh-musuhnya tak dapat merampas pikiran dan hatinya serta Mandela tak pernah menyerahkan pikiran dan hatinya kepada mereka penghukumnya.

    Kedua, dia berjuang keras mengatasi rasa benci kepada mereka yang menganiayanya. Dia berpendapat, kalau tetap membenci lawan-lawan politiknya, dia akan tetap tertawan sebagai tahanan dalam dendam kesumatnya, sekalipun dia sudah bebas dari penjara. Tentang rasa dendam ini, akhirnya dia berkata, ”I let it go.”

    Mandela dilahirkan pada 1918 menjelang akhir Perang Dunia I di Desa Mvezo, Distrik Umtata, ibu kota Transkei yang terletak 550 mil di selatan Johannesburg. Ayahnya seorang ketua adat yang diangkat Raja Thembu dengan restu Pemerintah Inggris dan punya empat istri. Ibu Mandela adalah istri ketiga yang kemudian pindah ke Desa Qunu setelah suaminya kehilangan jabatan karena membangkang kepada Pemerintah Inggris.

    Pendidikan formal Mandela dari sekolah dasar hingga ke pendidikan tinggi ia tempuh di lembaga pendidikan yang didirikan dan dikelola misionaris Gereja Kristen Metodis dari Inggris. Di Qunu dia masuk sekolah dasar dan berkenalan dengan pendidikan dan pengajaran bergaya Inggris. Para murid mendapat nama Inggris dari guru kelas dan Mandela diberi nama Nelson, yang diambil dari nama seorang kapten laut Inggris, Lord Nelson. Nama ini kemudian lebih dikenal dari nama yang diperolehnya di desa kelahirannya, yaitu Rolihlahla, sebuah idiom bahasa Xhosa yang berarti ’troublemaker’.

    Dari Qunu dia dipindahkan ibunya ke Mghekezweni, sebuah pusat misi Gereja Metodis, dengan penduduk yang dididik dengan gaya hidup Inggris dalam berpakaian, tutur kata, dan kehidupan agama. Mandela tinggal di rumah seorang regen, kenalan almarhum ayahnya, yang mengatur tempat tinggalnya sebagai pejabat kelas menengah Afrika dengan disiplin tinggi dalam Great Palace. Mandela meneruskan pendidikan dasarnya bersama anak-anak regen dan di sinilah, khususnya di sekolah Clarkebury, matanya terbuka kepada dunia Barat yang amat berbeda dengan Desa Qunu yang menyimpan masa kecilnya dalam lingkungan serba idylis.

    Pada usia 19 tahun, dia masuk Sekolah Guru Healdtown di Fort Beaufort, sebuah pos Inggris paling luar di abad ke-19, tempat orang putih berusaha merebut tanah penduduk dan harus berhadapan dengan pejuang suku Xhosa yang gagah perkasa. Setelah melewati konflik dan pertempuran selama lebih dari 100 tahun, orang-orang putih dapat merebut seluruh tanah di Fort Beaufort, sementara pejuang Xhosa yang gugur memperoleh kemasyhuran turun-temurun dengan riwayat yang didengar Mandela dari penuturan orang-orang tua.

    Selanjutnya pendidikan tinggi setingkat universitas ia peroleh di Kolese Fort Hare, 20 mil sebelah timur Healdtown, satu-satunya pendidikan tinggi untuk penduduk hitam di Afrika Selatan. Dari sinilah, dari antara hanya 150 mahasiswa yang belajar di sana lahir sarjana-sarjana Afrika Selatan dan Afrika Timur, yang menganggap Kolese mereka Oxford dan Cambridge atau Harvard dan Yale di Afrika. Setelah lulus mereka memperoleh gelar BA, yang memungkinkan mereka masuk ke dalam lingkungan elite Afrika dengan kemungkinan kerja dan penghasilan sangat baik. Di lembaga pendidikan ini yang didirikan misionaris Skotlandia pada 1916, para pendidik kulit putih yakin, mereka dapat menghasilkan tamatan yang menjadi the black Englishmen, orang Inggris berkulit hitam.

    Menolak diskriminasi

    Barangkali itulah harapan umum para penjajah di berbagai belahan dunia tatkala mereka memperkenalkan pendidikan Barat modern di koloni mereka. Namun, kita tahu dari sejarah pendidikan kolonial di Indonesia, harapan itu tak selalu terpenuhi karena pengajaran yang mengarahkan cara berpikir yang benar, dan pendidikan yang membentuk kepribadian yang etis, kemudian menghasilkan lulusan yang melihat kepincangan dan ketakadilan dalam tiap proyek penjajah. Seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka di Indonesia, Nelson Mandela kemudian menetapkan sikap politiknya: menolak diskriminasi dan apartheid di Afrika Selatan dan menegakkan persamaan dan keadilan untuk semua penduduk.

    Sejak pendidikan dasarnya di Qunu, dia diajar bahasa Inggris, kebudayaan, dan pemikiran-pemikiran Inggris, diperkenalkan dengan lembaga-lembaga Inggris, seakan-akan Afrika tak punya sesuatu pun untuk dipelajari. Namun, dari ayahnya dia belajar sejak dini sekali bahwa otoritas kolonial bisa melakukan kesalahan dan dapat dilawan meski dengan berbagai risiko yang harus ditanggung. Di Fort Hare tempat dia belajar antropologi, ilmu politik, administrasi pemerintahan lokal, dan sistem hukum Romawi-Belanda, dia berkenalan dengan beberapa seniornya yang dengan terus terang mengkritik kebijakan kolonial. Dikatakan bahwa pendidikan Barat seakan-akan memberi penghidupan yang lebih baik kepada para lulusannya, sementara itu semua yang berharga dari Afrika telah habis dirampas: hak-hak dan tanah penduduk, kebudayaan dan nilai-nilai lokal, terutama sekali kemerdekaan mereka. Ada kenyataan pahit dan keras yang harus dihadapi dan tak selayaknya kaum intelek- tual menutup mata terhadap realitas itu.

    Setelah ia bergabung dengan African National Congress (ANC), perjuangan menentang diskiriminasi ini menjelma jadi tujuan hidupnya. Ia mempersembahkan hidup matinya untuk cita-cita itu. Setelah pembantaian besar di Sharpeville pada Maret 1960 tatkala polisi menembak mati 69 penduduk kulit hitam, Mandela, yang banyak diilhami Gandhi dengan prinsip satyagrahanya, berubah pikiran. Dia melihat satyagraha atau sikap tanpa kekerasan bukanlah prinsip, melainkan suatu taktik. Dia teringat kearifan lokal sukunya, Sebatana ha se bokwe ka diatla: serangan binatang buas tak dapat dihadapi dengan tangan kosong. Dia akhirnya membentuk dan memimpin Spear of the Nation, sayap bersenjata dalam ANC.

    Dengan tuduhan melakukan komplotan bersenjata, ia harus menghadapi pengadilan. Setelah membacakan pleidoinya selama empat jam, Mandela menutup naskah pembelaannya dan berkata kepada hakim: ”Saya telah mempersembahkan seluruh hidup saya kepada perjuangan bangsa Afrika. Saya telah menjunjung tinggi ideal suatu masyarakat demokratis yang bebas, tempat semua orang hidup damai dan mempunyai kesempatan yang sama. Maka, bila perlu, Yang Mulia, saya pun siap mati untuk ideal tersebut.”

    Seperti pernyataan iman

    Pidato itu terdengar seperti pernyataan iman yang menandai perubahan besar dalam penjara. Yang ia ucapkan bukanlah isapan jempol untuk gagah-gagahan seperti yang kerap kita dengar dari politisi Indo- nesia sekarang, tapi suatu sumpah yang diwujudkan dengan berbagai korban tak terperikan: 9 tahun dalam penjara Pretoria, 18 tahun dalam penjara Robben Island, kehilangan istri dan anak, kehilangan tahun-tahun paling produktif dalam hidupnya, sambil mengelola rasa benci dan dendam sampai dapat mengatasinya. Pendirian politik Mandela berangsur-angsur berubah menjadi suatu keyakinan religius dalam pertapaannya di sel penjara.

    Para penulis biografinya tak habis pikir: dari mana Mandela menimba kekuatan tak menyerah, tak membiarkan diri hancur oleh benci dan dendam, dan sanggup mengatasi kegetiran nasibnya dengan memaafkan mereka yang menghukumnya demikian lama? Hal ini biasanya terjadi pada orang-orang yang hidup dengan keyakinan agama yang teguh dan tak tergoyahkan.

    Namun, Mandela tak dikenal sebagai anggota suatu denominasi meski seluruh pendidikannya berada di bawah bimbingan dan pengaruh Gereja Kristen Metodis. Sebagai anggota suku Xhosa, ia hidup sedari kecil dibimbing tiga hal: adat-istiadat, ritual, dan tabu. Bayangan dan keinginannya setelah mati bukan surga dalam pengertian agama, melainkan perjumpaan kembali dengan para leluhurnya.

    Sangat mungkin prinsip hidup suku Xhosa itulah yang ia terjemahkan menjadi prinsip negara modern: persamaan dan keadilan adalah adat-istiadat manusia; demokrasi adalah ritual yang suci; sementara pelanggaran HAM tabu yang tak boleh diabaikan apabila orang tak mau mengundang datang kutukan. Atas cara ini Mandela sengaja atau tidak telah mengubah pendirian politiknya menjadi keyakinan religius. Kemerdekaan politik Afrika Selatan meluas menjadi cita-cita keselamatan bagi semua manusia.

    Bagi seluruh dunia, ini jadi pelajaran: orang tak sepantasnya memakai agama untuk tujuan politik praktis atau doyan mengutip ayat suci untuk menyembunyikan kebobrokan moral politiknya. Religiositas ala Mandela telah menyebabkan dia sanggup memerintah bukan dengan kekuasaan yang berasal dari jabatan formal, tetapi dengan suatu otoritas moral yang lahir dari religiositas mendalam. Kepada Bartholomaeus Grill, wartawan majalah Jerman Der Spiegel, ia berkata, ”Saya makin mendekati akhir hidupku. Saya ingin tidur selama-lamanya dengan sebuah senyum di wajahku.”

    Sekarang ini setelah wafat pada 5 Desember 2013, Mandela tidur selama-lamanya di desa kelahirannya, Mvezo yang amat terpencil, dan dari tempat leluhurnya ia mungkin memberi senyum abadi pada semua orang di bumi yang ia cintai, kawan ataupun lawan. ●

    ———————————————————
    Sumber Kompas, 13 Januari 2014

  • Meriahkan Imlek 2023, JNE Tawarkan berbagai Program Promo

    Meriahkan Imlek 2023, JNE Tawarkan berbagai Program Promo

     

    Jakarta berandanegeri.com. Tahun Baru Imlek 2574 sebagai Tahun Kelinci Air menjadi momen berharga bertemunya seluruh keluarga untuk bersilahturahmi serta berbagi sebagai bentuk rasa syukur. Di momen spesial ini, JNE pun berbagi kebahagiaan dengan semua pelanggan setianya agar aktifitas pengiriman paket menjadi semakin semarak dengan  program dan kegiatan menarik untuk pelanggan. 

    Pada 14 Januari – 5 Februari 2023, JNE menggelar program khusus di 18 kota, yaitu Jambi, Pekanbaru, Surabaya, Semarang, Palembang, Pangkalpinang, Medan, Pontianak, Bogor, Manado, Tanjungpinang, Singkawang, Tangerang, Batam, Tasikmalaya, Silangit, Malang, dan Jakarta.

    Program berbagi kebahagiaan ini, akan  memberikan hadiah berupa merchandise Payung Geulis yang merupakan ikon Kota Tasikmalaya bagi pelanggan yang datang ke counter JNE (S&K berlaku). 

    JNE Berdayakan UKM Pengrajin Payung Geulis dalam meriahkan Tahun Baru Imlek 2574 yang jatuh pada tanggal 22 Januari 2023. Kepedulian JNE terhadap UKM pengrajin Payung Geulis Tasikmalaya bertujuan untuk meningkatkan kembali omzet penjualannya karena imbas pandemi COVID-19 selama dua tahun yang lalu.

    Pasar atau konsumen utama Payung Geulis adalah acara atau event yang memanfaatkan Payung Geulis sebagai dekorasi atau merchandise. Selain itu fungsi Payung Geulis yang dulu sebagai pelindung diri dari panas, kini beralih menjadi hanya untuk hiasan. Pasar Payung Geulis  ini selain di dalam negeri, seperti Bali, Jakarta, dan Bandung dapat di ekspor juga ke luar negeri karena memiliki bentuk dan design yang menarik. 

    Selain kepedulian JNE kepada UKM adalah program menarik untuk pelanggan antara lain, aktivasi di sosial media berupa foto challenge gate imlek JNE berhadiah angpao jutaan rupiah periode 16-23 Januari 2023,

    Game Si Joni Special Imlek 2574 berhadiah eksklusif, caranya dengan follow Instagram dan tiktok @jne_id. Komen jawaban yang tepat menebak mana gambar angpao dengan arti ‘Keberuntungan” serta  komen dengan menggunakan emoji dan ceritakan mengenai apa shio kamu, mention @jne_id dan ajak 3 orang temanmu untuk ikutan sertakan hashtag #GameSiJoni #JNEImlek2574 #JNE GateImlek #JNETebakShio.  

    Untuk member JLC (JNE Loyalty Card) program Promo Angpao Imlek dimana member yang mengirim paket melalui counter JNE cukup melakukan transaksi  dengan nilai minimal Rp 30.000.000 dan akan mendapatkan voucher belanja Rp. 500.000 pada periode 22-25 Januari 2023. 

    JNE juga memberikan angpao lainnya untuk seluruh pelanggan setia yaitu diskon ongkir untuk pengiriman dengan tujuan ke luar negeri atau JNE International Service. Periode 20 – 28 Januari 2023, diskon ongkir 20% siap dinikmati oleh pelanggan yang mengirimkan paket tujuan ke Singapura, China, Hong Kong, dan Taiwan sesuai dengan persyaratan yang berlaku. Selain itu promo dari PESONA (Pesanan Oleh-oleh Nusantara) dari 11-31 Januari 2023, yaitu promo spesial  imlek diskon 75%, produk Kue Keranjang Ekslusif, free ongkos kirim dan paket akan dikirimkan oleh @roket_indonesia untuk area Jakarta, (S&K berlaku) informasi lengkap dapat diakses di https://pesonanusantara.co.id 

    Keterangan Foto: Karyawan dan Karyawati JNE turut memberikan angpao untuk para penari barongsai

    “Mewakili seluruh manajemen dan karyawan JNE, kami mengucapkan selamat tahun baru Imlek 2574 bagi yang merayakan, Gong Xi Fa Cai. Semoga di tahun ini mau pun tahun-tahun berikutnya, kita dapat terus meraih berbagai kesuksesan, sehingga dapat terus berbagi kebahagiaan terhadap sesama dan memberikan manfaat yang lebih besar lagi bagi bangsa serta negara ,” ungkap Eri Palgunadi VP of Marketing JNE,” Senin( 23/1).

    Eri Palgunadi, menjelaskan  selama lebih dari 32 tahun, JNE telah menjadi bagian hidup masyarakat Indonesia, karena selalu berupaya maksimal untuk memenuhi kebutuhan pengiriman paket dengan menghadirkan beragam produk layanan atau fasilitas. Oleh karena itu dalam berbagai momen istimewa seperti hari-hari besar, JNE pun turut berpartisipasi dan merayakannya. Sesuai dengan tagline “Connecting Happiness” yaitu mengantarkan kebahagian di setiap langkah dan program sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat. ( Athick)

  • Bahasa  dan  Buku

    Bahasa dan Buku

     

    Oleh Stephie Kleden-Beetz

     

    Lambang adalah sebuah bahasa, bahasa tertua manusia. Sampai sekarang di abad komputer ini pun kita hidup dalam ‘lautan’ lambang. Sebuah lukisan, entah itu bintang, garuda, beringin, perahu atau apapun saja, baru menjadi lambang bila di dalmnya terkandung sesuatu yang lebih dari pada yang terlihat oleh mata. C. G. Jung, psikiater(1875-1961) berkata: “Lambang memiliki aspek yang tak sadar yang mustahil dapat diterangkan atau diberi definisi setepatnya”. Pun:”Musik adalah juga bahasa yang dipahami siapa saja”.

    George Bernad Shaw (1856-1950) dramawan Irlandia dan pemenang hadiah Nobel Kesusasteraan, tahun 1926, pernah berkunjung ke rumah seorang yang sangat kaya. Si tuan rumah bertanya, apa kesan tamunya tentang barang-barang antic yang mahal. Shaw menjawab:”Saya merasa seperti berada di museum, yang paling penting tidak terdapat di sini.”Orang kaya itu terkejut, lalu spontan bertanya: Apa? “Buku”, jawab Shaw.

    Dulu di kota-kota besar Eropa ada gerobak penuh buku berkeliling dan orang boleh leluasa mencari. Seorang mahasiswa membeli buku karangan Beranger, penyair Prancis (1780-1852). Di rumah ia terkejut ketika menemukan setumpuk uang di balik sampul tebal buku itu dengan sebuah nota bertuliskan “Duit ini hadiah bagi pencinta buku”. Bahw buku itu mencerdaskan manusia, kita semua tahu. “Katakan apa yang Anda baca, dan akan kukatakan siapa Anda”. Tentu ada pula buku yang tidak bermutu.

    Kita tidak bisa berkomunikasi tanpa bahasa. Buah pikiran yang lahir dalam kepala kita, hanya mendapat wujud dalam bahasa. Semakin tertata-rapi bahasa kita, semakin mudah kita membuat orang lain memahami maksud kita. Semakin ‘ngawur’ dan panjang lebar dan tidak keruan bahasa kita, semakin bingung pihak yang mendengarnya. Kemarin seorang sahabatku berkeluh-kesah tentang aneka naskah yang masuk ke majalahnya, dan dia harus mengedit naskah-naskah tersebut. “Astaga, saya jadi “pusing, tujuh keliling”, benar-benar minta ampun”.

    Diterimanya kita dalam pergaulan dengan sesama amat tergantung bukan hanya pada perilaku kita melainkan terutama pada bagaimana kita bertutur kata, ya berbahasa. Sepotong kalimat biasa bisa membuat hidup seseorang berubah, merasa berguna. Misalnya: “Jangan menyerah, coba sekali lagi pasti bisa!” Kalimat yang menguatkan dan memberi semangat ini dapat diucapkan oleh ayah-ibu kepada anak-anaknya, atau bapak dan ibu guru kepada murid-muridnya, atau atasan kepada bawahannya.

    Kenapa tidak suka Matematika? Seorang mahasiswi ditanya. Karena guru pernah menghardik dengan galak “Goblok amat sih!”, jawab si cantik itu. Maka dia pun langsung patah-arang dengan mata pelajaran eksakta dan kini menekuni bidang bahasa. Bahasa kita mengenal ungkapan: “Kata-kata lebih tajam dari pedang”. Tetapi kata pun memiliki daya sihir yang menghanyutkan pendengar atau pembacanya. Coba dengar sanjungan berikut: Wow, ranbutnya bagaikan mayang berurai, alias persis semut beriring, lengan mulus seperti gading yang tidak retak, lehernya jenjang mempesona dan masih banyak lagi.

    Betapa senang saya menjelajahi “Ruang Siswa” Warta Flobamora, membaca puisi dan cerita pendek dari para murid sekolah. “Rajin-rajinlah adik-adik. Sebab tak ada juara yang jatuh dari langit, semua dimulai langkah demi langkah”. Selamat berjuang untuk masa depan yang gemilang.

    Ada ungkapan oleh Grace Hopper: “A ship in port in safe, but is not what ships are built for” (Kapal di pelabuhan memang aman, tetapi bukan itu maksud kapal dibuat. Justru di lautan ya di samudera raya kapal baru berfungsi, ketika bertarung dengan ombak dan gelombang atau angin putting beliung.

    Bersama Petronius, penyair Romawi kita pun berkata: “Perjuangan untuk mencapai sesuatu justru perlu, sebab apalah artinya kemenangan mudah yang terasa hambar dan tak memberi kepuasan di hati dan kebanggan di jiwa”

    ————————————————–

    Sumber Tulisan Majalah  Flobamora – Edisi 30 Maret 2016

     

     

  • DITAJENAD Lanjutkan Kerjasama dengan JNE

    DITAJENAD Lanjutkan Kerjasama dengan JNE

    Jakarta berandanegeri.com– JNE melakukan penandatanganan kerja sama dengan Direktorat Ajudan Jenderal Angkatan Darat (DITAJENAD) secara resmi, sebagai perusahan logistik terpilih untuk membantu pendistribusian surat dinas TNI Angkatan Darat.

    Penandatanganan MOU ini merupakan kerja sama lanjutan dengan JNE, setelah sebelumnya dilakukan pada periode 2020 – 2021 dan 2021 – 2022.

    JNE merupakan perusahaan asli Indonesia yang telah hadir lebih dari 32 tahun, terus berkomitmen memberikan pengalaman  terbaik bagi seluruh pelanggan. Dengan lebih dari 8.000 titik jaringan di Indonesia yang tersebar hingga pelosok tanah air, JNE dipercaya kembali memberikan pelayanan Satuan Jajaran TNI AD pada periode Januari – Desember 2023, dimana ini adalah tahun ke – 3 JNE menjadi perusahan jasa kiriman yang dipercaya serta telah menangani ratusan ribu dokumen atau surat dinas TNI Angkatan Darat dari Sabang hingga Merauke di tahun 2020 hingga 2022.

    Hadir secara langsung Dirajenad, Brigjen TNI Faisal Ahmadi, S.I.P., CHRMP. beserta jajaran pejabat DITAJENAD, Presiden Direktur JNE, M. Feriadi Soeprapto serta jajaran direksi JNE Chandra Fireta dan Edi Santoso.

    Kegiatan  dilaksanakan di Aula Raraswara Gedung R. Soedarsono Gondodipuro, Jl. Bangka No. 6 Bandung (10/01/23).

    Dalam kerja sama ini, selain memfasilitasi kiriman antar daerah dan pulau, JNE juga akan menyediakan loker penyimpanan yang digunakan oleh satuan jajaran TNI AD untuk bertukar dokumen khusus dalam satu kota di 62 kantor cabang utama JNE di seluruh Indonesia.

    Presiden Direktur M. Feriadi Soeprapto, dalam sambutannya menyatakan kebanggaannya atas kepercayaan TNI AD untuk mempercayakan kembali kebutuhan kiriman kepada JNE.

    “Senang rasanya dapat memberikan kontribusi dalam membantu pelaksanaan tugas pendistribusian TNI AD sebagai bentuk nyata bakti kami kepada Bangsa dan Negara”, ujarnya.

    Lebih lanjut M. Feriadi menyatakan dengan kapabilitas JNE kami harap seluruh proses pendistribusian dapat berjalan dengan baik sesuai dengan tagline JNE yaitu Connecting Happiness, dimana JNE tidak hanya mengantarkan kiriman, namun lebih jauh dari itu JNE dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.

    Dirajenad Brigjen Brigjen TNI Faisal Ahmadi, S.I.P., CHRMP. dalam sambutannya mengucapkan selamat atas terpilihnya JNE sebagai pemenang tender pengadaan jasa transfer barang di LPSE TNI AD TA 2023,

    “Saya memberikan apresiasi yang tinggi atas  terealisasinya  kerjasama penyelenggaraan Pos Militer  Angkatan Darat dengan JNE”, ungkapnya.

    Menurutnya kerjasama ini di nilai cukup penting dan strategis karena menyangkut pendistribusian dokumen TNI AD.

    “Besar harapan JNE dapat memberikan layanan yang terbaik sehingga penyelenggaraan pos militer dapat berjalan sesuai dengan harapan kita semua”, pungkasnya. (Athick)

  • Lamafa  – untuk Umbu Landu Paranggi

    Lamafa – untuk Umbu Landu Paranggi

     

     Bara  Pattyradja

     

    di musim lefa

    kau tombak sisikmu

    dengan puisi

    diri pun jadi asing

    seperti perahu dijauhkan dari dermaga

    siapa sanggup lunasi

    nganga luka-lukamu?

     

    baleo baleo

    baleo umbu

     

    sebelum ombak oktober mendekat

    sebelum peledang-peledang

    mengirim buih perih

    ke ceruk mata ina di uma sunyi

    kau tulis nasibmu

    disirip dayung ulir jati

     

    kau tabuh genderang di laut asin

    sebab waktu adalah seekor paus pemburu

    dan seorang laki-laki

    bukanlah siapa-siapa

    sebelum diburu dan memburu

     

    baleo baleo

    umbu baleo

     

    lamafa yang merobek peta

    dan menyulam rasi-rasi bintang

    di keningnya sendiri

    2016

    ————————————————

    *Sumber Puisi: Pacar Gelap Puisi, Penerbit Cenale Nusantra, 2016

    *Bara Pattyradja,  penyair, lahir di Lamahala-Flores Timur, 12 April 1983. Karya-karya puisinya yang telah terbit: Bermula dari Rahim Cinta, Sebuah Renungan atas Matinya Makna (2005), Samudera Cinta Ikan Paus (2013).

     

     

     

     

  • LARS Apresiasi 10 Rumah Sakit yang Mencapai Hasil Akreditasi “Paripurna”

    LARS Apresiasi 10 Rumah Sakit yang Mencapai Hasil Akreditasi “Paripurna”

     

    Bertempat di kantor sekretariat LARS (Lembaga Akreditasi Rumah Sakit), Menara Salemba, Jakarta Pusat, pada hari Kamis (12/1/2023), Pkl. 11.00 WIB, dilakukan penyerahan sertifikat secara resmi oleh dr. Hanibal Hamidi, M.Kes selaku Direktur Eksekutif LARS, kepada sepuluh direktur Rumah Sakit (RS), yang mendapat penilaian Paripurna. Rumah sakit tersebut antara lain: RSUD Alimuddin Umar (Way Kanan), RS. Primaya (Semarang), RS. Permata Keluarga (Karawang), RS. Primaya (Sukabumi), RSUD Bung Karno (Surakarta), RS Permata Keluarga (Jababeka), RS. Primaya Betang Pambelum (Palangkaraya), RS Khusus Mata SMEC (Medan), RS. Dewi Sri (Kerawang), dan RSUD Zainal Abidin Pagaralam (Lampung Barat).

    Lembaga Akreditasi Rumah Sakit (LARS), memiliki 4 nilai budaya organisasi yang dijunjung tinggi oleh seluruh anggota LARS dengan menanamkan moto kerja; “Profesional, Integritas, Kredibelitas, dan Etika“. Moto kerja tersebut ditujukan bagi terwujudnya mutu pelayanan kesehatan rumah sakit dalam pemenuhan hak dasar kesehatan seluruh masyarakat Indonesia yang memenuhi unsur; “Ketersediaan, Keterjangkauan, Keberterimaan dan Kualitas”, yang sejalan dengan kesepakatan PBB bagi pemenuhan hak azasi kesehatan. Mengingat rekomendasi WHO bagi tata kelola rumah sakit yang berkualitas melalui pendekatan tentang PATH, yang dikembangkan menjadi MATH oleh dr. Budi Hartono, SE, MARS sebagai salah satu pendiri dan pengurus LARS. Selain seluruh ketentuan Standar Akreditasi Rumah Sakit oleh Kemekes tahun 2022 yang menjadi acuan dalam penyelenggaraan akreditasi oleh LARS, yang didukung dengan berbagai tools strategis tersebut di atas, juga dilengkapi 4 tools ISO sebagai berikut; ISO 14001ISO 14001 (manajemen lingkungan), ISO 22000 (yang dimodifikasi sebagi tata kelola keamanan makanan bagi pasien), ISP/IEC 27001 (atau Information Security Management System (ISMS). Berbagai tool manajerial yang saling mempengaruhi secara linear tersebut, dintegrasikan dalam Platform Instrumen akreditasi digital LARS, yang dinamakan H-DIVA. Sehingga pengendalian berbagai informasi strategis tentang seluruh tools tersebut dapat terpantau dan terkendali dari dasbord H-DIPA.

    Keberhasilan 10 RS tersebut berkat efektifitas kerjasama kemitraan LARS dan berbagai Rumah Sakit, juga merupakan hasil kerja keras seluruh komponen RS dibawah bimbingan PT Takelars yang profesional dalam mempersiapkan Rumah Sakit melalui bimbingan yang berkualitas. 10 RS mendapat nilai Paripurna ini merupakan bukti atas keberhasilan kerjasama kemitraan dalam melaksanakan “Program Kemitraan Akreditasi Rumah Sakit Paripurna LARS”, yang dilaksanakan melalui 4 kegiatan strategis yang berjalan lancar dan berkualitas melalui; a) Bimbingan Akreditasi, b)Simulasi Akreditasi, c) Akreditasi RS, dab d) Pendampingan pasca akreditasi selama masa aktif 4 tahun sertifikat akreditasi, sebagai jaminan mutu dari LARS bagi RS yang bermitra dengan LARS dalam memastikan performonce kinerja RS meningkat secara signifikan dan berkelanjutan. Yang mana semua capaian kinerja akan diukur berdasarkan berbagai indikator tata kelola RS al; input, proses, output, sekaligus outcome kinerja RS, dilakukan secara obyektif dan terukur, antara lain peningkatan jumlah kunjungan pasien, sekaligus juga peningkatan pendapatan RS menjadi indikator kinerja dalam kesepakatan bersama. Hal ini sesuai dengan prasyarat bagi suksesnya industri pelayan kesehatan yang universal, dapat dipastikan melalui kepastian adanya kualitas pelayanan kesehatan yang berdaya saing tinggi secara kewilayahan, atau nasional, dan internasional.

     

    Paripurna berkat Kerja Keras Rumah Sakit

    Direktur Lembaga Akreditasi Rumah Sakit (LARS), dr. Hanibal Hamidi, M.Kes, dalam sambutannya mengucapkan proficiat dan ucapan selamat kepada kesepuluh Rumah Sakit, yang telah diakreditasi oleh LARS di akhir tahun 2022 yang lalu dan mencapai angka PARIPURNA.

    “Selamat atas kelancaran acara penyerahan sertifikat akreditasi kepada kesebelas Rumah Sakit, baik di antaranya Rumah Sakit Swasta maupun Rumah Sakit Negeri. Kesebelas Rumah Sakit tersebut telah berkenan mempercayakan kami (LARS-red) sebagai Lembaga Penyelenggara Akreditasi hingga mencapai hasil PARIPURNA, tutur Hanibal.

    Foto: Direktur LARS, dr, Hanibal Hamidi, K.Kes bersama salah satu pendiri LARS, DR. dr. M. Natsir Nugroho, SpOG, M. Kes

    Ia pun mengapresiasi bahwa pencapaian hasil yang Paripurna ini berkat kerja keras dan keuletan Rumah Sakit. LARS sebagai sebagai Lembaga Akreditasi, hanya menambahkan apa yang belum dicapai oleh Rumah Sakit, dan menyempurnakannya. Harapannya, LARS tetap berkomitmen untuk menjadi Lembaga Akreditasi Rumah Sakit yang terbaik di kemudian hari, dengan rencana kerja pada tahun 2023 dapat terakreditasi oleh berbagai lembaga internasional, antara lain Isqua, dan ISO.

    “Penilaian Paripurna berkat kerja keras Rumah Sakit, kami LARS hanya melengkapi apa yang belum dicapai rumah sakit agar menjadi sempurna. Kita terus mendorong Rumah Sakit dalam melaksanakan kegiatannya dalam kerangka pemenuhan hak dasar kesehatan yang menjadi investasi paling strategis bagi negara, bangsa dan juga untuk dunia, di kemudian hari”. Jelas, Pak Hanibal

    Ketua dewan Pendiri LARS, Dr. dr. H. M. Natsir Nugroho, SpOG, M.Kes, turut hadir pula, beserta para utusan staf dari kesebelas Rumah Sakit yang juga mengabadikan momen penyerahan sertifikat secara resmi. Para staf sekretariat LARS pun secara teknis ikut membantu melancarkan kegiatan dimaksud.

     

    LARS Mengedepankan Jaminan Mutu bagi Rumah Sakit

    Dr. dr. H. M. Natsir Nugroho, SpOG, M.Kes selaku salah satu Dewan Pendiri LARS, mengungkapkan, LARS memiliki konsep tersendiri terkait akreditasi dibanding LIPA yang lain, yang penekanannya ada pada jaminan mutu.

    “Kami selalu berupaya untuk mengedepankan jaminan mutu kepada setiap rumah sakit yang kami akreditasikan dan juga jaminan mutu saat melaksananakan pendampingan pasca akreditasi. Hal ini ditekankan agar Rumah Sakit dapat meningkatkan mutu pelayanan dan kinerjanya sehingga menjadi rumah sakit yang berkualitas di negara ini”. Ujar dr. Natsir

    Ia pun mengucap profisiat dan selamat kepada kesepuluh rumah sakit yang berhasil lulus secara paripurna.

    “Pada hari ini kami (LARS-red) telah menyerahkan sertifikat kepada kesepuluh rumah sakit. Saya ucapkan proficiat dan selamat kepada kesebelas rumah sakit yang sudah selesai berakreditasi bersama LARS dan mencapai hasil Paripurna”. ungkap Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta tersebut.

    Foto: Penyerahan Cinderamata Ucapan Terima Kasih dari RS. Zainal Abidin kepada LARS
    Foto: Penyerahan Cinderamata Ucapan Terima Kasih dari RS. Dewi kepada LARS

    LARS merupakan Lembaga Akreditasi Rumah Sakit yang bekerja profesional, independen, non- profit yang berbasis sistem intekoneksi digital dan komunitas. LARS dipercaya oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai lembaga penyelenggara akreditasi Rumah Sakit di Indonesia berdasarkan Surat Keputusan menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/ MENKES/6604/2021 tentang Lembaga Independen Penyelenggara Akreditasi Rumah Sakit.

    LARS saat ini dipimpin oleh dr. Hanibal Hamidi, M.Kes selaku Direktur, Dr. HP Bastaman, MPH, FISQua (Sekretaris Eksekutif) dan Ilham Nasai, M.AP (Bendahara).

    Berbagai informasi dapat dilihat pada web site LARS: lars.or.id, atau berbagai informasi di youtube dengan mengentikkan 4 kata “LARS” maka dapat diketahui apa saja yang telah diproduk oleh LARS. Salam LARS. (Ricky Hayon).

  • Potret Kesejahteraan dan Kekerasan di Papua

    Potret Kesejahteraan dan Kekerasan di Papua

     

    Oleh Hipolitus Wangge, Peneliti Australian National University dan Anggota Forum Academia NTT

     

    Di akhir 2022 terdapat dua peristiwa penting di Papua, yakni pembentukan sejumlah provinsi baru yang diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan inisiasi jeda kemanusiaan untuk mengurangi eskalasi kekerasan akibat konflik bersenjata di wilayah tersebut.

    Meskipun revisi Undang-Undang Otonomi Khusus Nomor 21 Tahun 2001 dari pemerintah pusat dan DPR mendapat penolakan dari sejumlah elemen masyarakat di Papua, revisi itu melahirkan empat provinsi baru di Papua.

    Keempat provinsi tersebut ialah Provinsi Papua Barat Daya, Provinsi Papua Pegunungan, Provinsi Papua Tengah, dan Provinsi Papua Selatan.

    Pembentukan keempat provinsi ini diharapkan jadi penggerak peningkatan kesejahteraan, penurunan kemiskinan, dan penghentian konflik.

     

    Kesejahteraan selektif

    Empat provinsi baru ini berpotensi menjadi sentra-sentra perekonomian rakyat dengan model pembangunan berbasis pendekatan budaya sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 di wilayah Papua.

    Yang jadi catatan penting ialah provinsi-provinsi baru ini harus dilengkapi dengan upaya perlindungan hak-hak orang asli Papua (OAP), pelestarian lingkungan, serta penguatan sektor-sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat asli Papua.

    Pembentukan provinsi-provinsi baru juga ditopang oleh tren positif pertumbuhan ekonomi di Papua. Pertumbuhan ekonomi di Provinsi Papua dan Papua Barat pada triwulan II-2022 masing-masing 14,38 persen dan 6,07 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan nasional yang sebesar 5,44 persen.

    Tiga sektor penyerap tenaga kerja tertinggi di Papua adalah pengolahan, transportasi, dan pergudangan. Peningkatan koneksitas melalui proyek ”tol laut” di wilayah Indonesia timur menjadi pemicu meningkatnya aktivitas di tiga sektor itu.

    Sejauh ini, sektor pelayanan jasa menjadi alternatif penggerak pertumbuhan ekonomi di Papua, selain pertambangan, minyak dan gas bumi. Daerah- daerah di mana jumlah penduduk asli Papua semakin menurun, seperti Merauke, Timika, Jayapura, dan Manokwari, masih menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di wilayah Papua.

    Di tengah sejumlah capaian itu, Papua masih dikategorikan sebagai wilayah termiskin di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang ditopang sektor pelayanan jasa dan ekstraktif belum mencerminkan kondisi riil masyarakat asli Papua yang masih mengandalkan pertanian, perikanan, dan perkebunan rakyat.

    Ketiga sektor ini masih menjadi mata pencarian utama masyarakat asli Papua, khususnya di wilayah dataran tinggi dan pegunungan tempat mayoritas orang asli Papua berdiam.

    Di wilayah-wilayah ini, kehadiran negara masih terbatas. Akses ke pelayanan dasar dan infrastruktur masih minim, termasuk jalan antardistrik yang menjadi salah satu kebutuhan utama masyarakat asli Papua.

    Kondisi keamanan juga tak stabil. Keterbatasan-keterbatasan ini menjadi salah satu penghambat utama meningkatkan kesejahteraan di Papua.

    Sekalipun secara struktural pertumbuhan ekonomi di Papua meningkat, eskalasi konflik bersenjata dan kekerasan di sejumlah wilayah ini tetap tinggi.

    Sekalipun secara struktural pertumbuhan ekonomi di Papua meningkat, eskalasi konflik bersenjata dan kekerasan di sejumlah wilayah ini tetap tinggi.

    Sejumlah insiden pembunuhan dan penembakan oleh kelompok bersenjata dan aparat keamanan masih menghiasi potret kekerasan di Papua.

    Dalam dua tahun terakhir, wilayah pegunungan tengah masih menjadi episentrum konflik, bersama sejumlah daerah di dataran rendah, khususnya Papua Barat.

    Ribuan pengungsi, khususnya perempuan dan anak-anak, juga masih terekam di sejumlah titik, seperti di Kepulauan Yapen, Maybrat, Jayawijaya, Nabire, dan Puncak. Para pengungsi tersebut masih sulit mengakses layanan kesehatan dan pendidikan.

     

    Jeda kemanusiaan

    Satu inisiatif penghentian konflik dilakukan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Dewan Gereja Papua, Majelis Rakyat Papua, dan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) dengan penandatanganan nota kesepahaman jeda kemanusiaan (humanitarian pause) pada 11 November 2022 di Geneva, Swiss.

    Berbekal keterlibatan lembaga negara dan dukungan dari Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, jeda kemanusiaan ini menjadi ”pintu masuk” untuk menurunkan intensitas dan dampak kekerasan di sejumlah daerah konflik di Papua.

    Jeda kemanusiaan diharapkan dapat membantu para pengungsi internal untuk mendapatkan pelayanan dasar, perawatan kesehatan, terutama penanganan trauma, tempat berlindung yang aman, dan jika memungkinkan, bisa kembali ke tempat asal mereka.

    Agar bisa efektif, jeda kemanusiaan ini memerlukan komitmen bersama dari para aktor konflik untuk menghentikan sementara perselisihan mereka demi menyelamatkan masyarakat sipil yang terperangkap dalam zona konflik.

    Dari sisi substansi, kepercayaan antarpara aktor konflik dan masyarakat yang terdampak konflik menjadi kunci utama. Dari sisi teknis, jeda kemanusiaan mensyaratkan durasi waktu dan lokasi penyaluran bantuan kemanusiaan.

    Dari sisi substansi, kepercayaan antarpara aktor konflik dan masyarakat yang terdampak konflik menjadi kunci utama.

    Dalam nota kesepahaman yang ditandatangani sejumlah pihak di atas, jeda kemanusiaan di Papua dilakukan pada Desember 2022 hingga Februari 2023 dengan lokasi pemantauan untuk intervensi kemanusiaan masih terbatas pada pengungsi di Kabupaten Maybrat.

    Para pihak yang menandatangani nota kesepahaman itu juga menyetujui adanya tim pemantau kemanusiaan yang berasal dari Papua dan pemerintah pusat. Ini berbeda dengan jeda kemanusiaan di beberapa negara yang mengalami konflik internal, seperti Bosnia, Rwanda, Yaman, dan Suriah, yang melibatkan pihak internasional sebagai pemantau.

     

    Persoalan komitmen bersama

    Sejauh ini, dua aktor konflik utama, yakni aparat TNI-Polri dan Kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), tidak merespons positif jeda kemanusiaan itu.

    Puluhan ribu anggota pasukan keamanan masih terus diterjunkan dengan tugas pengamanan perbatasan, obyek vital nasional, dan terutama respons terhadap konflik bersenjata.

    Pihak TPNPB juga melakukan sejumlah serangan di wilayah Pegunungan Bintang, Puncak, dan Kepulauan Yapen pada Desember lalu.

    Tidak adanya jaminan keamanan dari kedua aktor konflik tersebut dapat membahayakan keselamatan anggota tim pemantau yang akan mendistribusikan bantuan kemanusiaan di Papua dan menghambat keberhasilan dari jeda kemanusiaan itu sendiri.

     

    Belajar dari Aceh

    Eskalasi kekerasan yang masih meningkat ini mengingatkan kita akan jeda kemanusiaan yang tidak efektif di Aceh pada Mei 2000 karena adanya persoalan komitmen dari pihak TNI-Polri dan organisasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

    TPNPB dan sejumlah kelompok politik di Papua, seperti Petisi Rakyat Papua (PRP), justru lebih mengharapkan keterbukaan negara untuk mengizinkan Komisi Tinggi HAM PBB melakukan investigasi kondisi HAM di Papua.

    Bagi mereka, jeda kemanusiaan dengan inisiatif lembaga negara Indonesia hanya akan dipakai Pemerintah Indonesia sebagai alasan untuk menyatakan konflik dan krisis kemanusiaan bisa ditangani oleh lembaga-lembaga pemerintah nasional tanpa melibatkan pihak internasional, sekalipun hasilnya masih diragukan.

    Langkah ini dapat menggerus kepercayaan masyarakat Papua dan komunitas internasional terhadap Pemerintah Indonesia yang sejauh ini dinilai tidak efektif dalam menangani dan memperbaiki kondisi HAM di wilayah ini.

    Putusan bebas kasus pelanggaran HAM berat Paniai 2014 menjadi bukti terakhir gagalnya perbaikan HAM di Papua.

    Di pihak pemerintah sendiri, semangat jeda kemanusiaan belum menjadi agenda bersama sejumlah kementerian terkait.

    Masyarakat di kawasan Pasifik hingga kini masih terus mempertanyakan dan mengkritisi penanganan kondisi HAM di Papua yang cenderung masih ditutupi.

    Kementerian Luar Negeri melalui Forum Pembangunan Indonesia-Pasifik (Indonesia- Pacific Development Forum) dan Forum Demokrasi Bali (Bali Democracy Forum) tidak menyebutkan inisiatif jeda kemanusiaan ataupun rencana aksi lainnya sebagai langkah progresif penyelesaian kekerasan di Papua.

    Para pemimpin negara-negara kepulauan Pasifik hadir dalam kedua forum ini, termasuk Sekretaris Jenderal Forum Regional Pasifik (Pacific Island Forum). Masyarakat di kawasan Pasifik hingga kini masih terus mempertanyakan dan mengkritisi penanganan kondisi HAM di Papua yang cenderung masih ditutupi.

    Pertumbuhan ekonomi tidak serta-merta membawa kesejahteraan dan perdamaian di tanah Papua. Inisiatif jeda kemanusiaan ini perlu diapresiasi sebagai sebuah upaya penyelesaian konflik di tengah stagnasi upaya penyelesaian konflik yang melibatkan pihak Pemerintah Indonesia dan kelompok politik Papua.

    Namun, dengan kurangnya dukungan, keterlibatan, dan kesamaan visi di antara para pihak yang berkonflik, jeda kemanusiaan ini hanya akan mengulangi upaya-upaya serupa pada masa lalu, yang bergaung di awal pembentukan, tetapi tidak berkelanjutan dalam pelaksanaan.

                                              ***********************

     

    Sumber Tulisan  Kompas,  9 Januari 2023

     

     

  • Joseph Ratzinger – “Yesus dari Nazaret”

    Joseph Ratzinger – “Yesus dari Nazaret”

     

    Oleh  Paul Budi Kleden

     

    Menjadi seorang penulis sudah merupakan bagian dari hidupnya”, demikian kata Kardinal Karl Lehmann, Uskup Mainz, Jerman, pada kesempatan peluncuran buku Yesus dari Nazaret versi Jerman yang diterbitkan oleh Penerbit Herder[1]. Joseph Ratzinger adalah seorang teolog yang menulis sejumlah buku, kendati dalam jumlah dan bobot dia harus ditempatkan di bawah teolog lain dalam wilayah berbahasa Jerman seperti Karl Rahner, Hans Urs von Balthasar atau Hans Kung. Namun, yang memberi nilai khusus bagi Ratzinger adalah bahwa dia menulis  dan menerbitkan buku tentang Yesus dari Nazaret saat menjadi pemimpin tertinggi Gereja Katolik. “Dalam kenyataan hal yang mengejutkan adalah bahwa Paus tidak menerbitkan dalam suatu bunga rampai buku tentang Yesus Kristus dari berbagai katekese dan khotbah yang sudah sering disampaikannya, melainkan suatu karya besar dalam bentuk yang cukup sistematis”[2]. Pertanyaan kita adalah: apa nilai sebuah buku teologis yang ditulis seorang teolog serentak paus?

    Ratzinger sendiri menulis pada pendahuluan bukunya: “Pastilah saya tidak perlu secara khusus menyatakan bahwa buku sama sekali bukan merupakan ajaran resmi Gereja, melainkan hanya merupakan pencarian pribadi saya dalam menemukan Wajah Tuhan (bdk. Mzm. 27:8). Oleh sebab itu, setiap orang boleh membantah saya.”[3] Juga mereka yang hendak membantahnya Ratzinger meminta agar bantahan terjadi tanpa mengabaikan simpati, sebab “simpati merupakan prasyarat saling memahami.”[4] Maksudnya, agar orang tidak menolak buku hanya karena penulisnya adalah Ratzinger atau juga menerimanya tanpa sikap kritis karena obsesi pada penulisnya.

    Dengan ungkapan di atas posisi buku Ratzinger sebenarnya sudah cukup jelas, yakni sebagai bahan diskusi mengenai Yesus dari Nazaret yang menjadi pusat iman Kristen. Iman Kristen bukanlah iman yang takut akan perbedaan. Surat Petrus sudah memberikan dorongan untuk memberikan pertanggungjawaban atas harapan yang mendasari kehidupan orang-orang beriman (1 Petr 3:15). Dan Ratzinger, dan juga sebagai paus, menunjukkan melalui buku ini tetap perlunya refleksi kritis dari teologi terhadap kenyataan keimanan dan berbagai fenomen historis dalamnya iman itu hidup dan dirayakan.

    Sebagai sebuah teologi, gagasan-gagasan yang diwakili di dalam buku ini merupakan salah satu pendapat yang mungkin di tengah percaturan ide. Sebab itu, gagasan-gagasan ini tidak hanya bisa dibantah, tetapi juga ditolak kalau orang memiliki argumentasi yang dipandang jauh lebih kuat dan meyakinkan. Dalam arti itu, buku ini, kendati ditulis sebagai hasil “permenungan pribadi”, merupakan suatu sumbangan teologis yang sangat berarti, karena sarat dengan refleksi mendalam yang merujuk dari pengenalan yang luas akan tradisi Gereja dan pergumulan-pergumulan teologis yang lebih modern. Ratzinger memiliki khazanah pengetahuan yang luas dan keberanian untuk secara tegas mengambil posisi teologis tertentu.

    Walaupun demikian, bukan tanpa resiko bahwa seseorang paus turun dari cathedra Petri dan menempatkan diri dalam arena perdebatan para penulis dan pemikir. Ada dua hal yang patut dipertimbangkan. Pertama, reaksi terhadap gagasan seorang paus yang teolog yang tidak selalu memperhatikan distingsi antara keduanya. Kuliah di Regensburg pada pertengahan September 2006 mestinya mengingatkan bahaya yang dapat terjadi ketika seorang paus menggunakan podium ilmuwan untuk menyampaikan gagasan-gagasannya. Kuliah adalah satu kegiatan akademis yang terbuka untuk sanggahan, kritik dan penolakan. Reaksi yang diberikan terhadap kuliah tersebut tidak membedakan kapasitas dan bentuk yang dipakai ketika paus menyampaikan gagasannya.[5]

    Kedua, konsistensi paus dalam sikapnya terhadap gagasan yang dilawannya secara teologis. Apakah paus sungguh tidak akan menggunakan otoritas magisterial pastoralisnya untuk mempersempit ruang gerak konsep-konsep teologis yang dibantah dan ditolaknya sebagai ilmuwan? Membiarkannya tanpa tindakan disipliner magisterial berarti paus tidak memperhatikan konsistensi antara apa yang diyakini dan diajarkannya secara pribadi, dan apa yang dinilainya benar sebagai pemimpin Gereja. Dari buku ini publik mengetahui apa yang ditolak dan dianggap bahaya, serta apa yang didukung Ratzinger. Kalau sejumlah gagasan itu dianggap berbahaya dan mengancam iman, mengapa paus tidak menggunakan kuasanya untuk mencegah perluasan lebih lanjut dari gagasan itu? Namun, mengambil langkah disipliner terhadap gagasan-gagasan tersebut berarti paus tidak konsisten dengan pengakuan dan jaminan yang diberikan di dalam bukunya.

    Dengan menulis buku tersebut, paus sebenarnya membawa diri ke dalam sebuah dilema. Kendati demikian, Ratzinger memilih jalan untuk menulis buku teologis ini, tampaknya karena dia hendak menunjukkan perbedaannya dengan pendahulunya mendiang Yohanes Paulus II. Yang terakhir ini dikenal sebagai paus peziarah, yang mengunjungi banyak negara, dengan ritual yang selalu berulang: membungkuk mencium tanah. Benediktus tidak mencium tanah, dan agaknya dia bukanlah orang yang suka mengadakan perjalanan. Tekanan yang hendak diberinya pada masa kepemimpinannya adalah peran sebagai ilmuwan. Dia membawa otoritas ilmuwan dan dosen ke dalam otoritasnya sebagai paus. Dia adalah seorang paus teolog.[6] Dan justru dalam persenyawaan ini terkandung bahaya personalisasi kuasa magisterial Gereja. Bukan mustahil, apa yang dipikirkan dan dikatakan teolog Ratzinger menjadi ajaran resmi Gereja Katolik.[7] Bahaya ini hanya dapat diatasi apabila tanggapan kritis atas buku Ratzinger terus dilakukan, tentu saja dalam bingkai simpati yang dimintanya. Hanya apabila terus diingatkan bahwa tidak semua konsepsinya dapat diterima begitu saja, dapat diharapkan bahwa godaan untuk secara implisit menetapkan regulasi dalam dunia para teolog dapat dicegah.

    Ratzinger menulis buku tentang Yesus dari Nazaret karena merasa prihatin akan kian melebarnya jurang antara Yesus historis dan Kristus yang diimani. Dan Ratzinger tahu, kenapa jurang itu kian melebar. Dengan jelas dia menunjuk pada metode historis kritis yang dikembangkan di dalam Gereja Katolik sejak tahun 1950-an.[8] Menurut Ratzinger, penggunaan metode historis kritis dalam tafsir Kitab Suci telah menghadirkan banyak gambaran tentang Yesus yang saling bertentangan. Banyak orang bingung menghadapi demikian banyak potret Yesus yang direkontruksikan oleh metode historis kritis. “Situasi ini terasa dramatis bagi iman karena menjadi kurang tegas titik acuan khasnya: Pershabatan mesra dengan Yesus, padanya segala sesuatu bergantung, berada dalam bahaya merengkuh udara tipis.”[9]

    Selain berargumentasi dari prespektif konsekuensi metode ini bagi iman, Ratzinger juga membuat penilaian ilmiah. Metode historis kritis berorientasi pada masa lampau, menyelisik makna kata dan peristiwa pada yang lalu. “Ia berupaya membedah dan memahami masa lampau – sebagaimana adanya dalam dirinya sendiri – dengan tingkat ketepatan sebesar mungkin, guna kemudian menemukan apa yang dapat dikatakan dan apa yang hendak dikatakan sang pengarang seturut konteks mentalita serta peristiwa-peristiwa pada zamannya.”[10] Namun, dengan orientasi seperti ini metode ini tidak memiliki kecukupan di dalam dirinya untuk membedah teks yang merupakan teks iman. Iman hidup dan dihidupi di dalam setiap konteks. Iman bukan hanya orientasi ke masa lalu, melainkan selalu juga berarti kesekarangan. Maka, orientasi pada masa lampau tanpa memperhatikan keseluruhan maksud dari teks sebagaimana dilihat dan dialami sekarang, merupakan satu bentuk pengkianatan terhadap teks Kitab Suci. Secara tegas Ratzinger menjatuhkan putusannya terhadapa metode ini: “Hal yang tidak dapat dilakukannya adalah menjadikan firman alkitabiah itu sebagai suatu hal yang hadir pada saat sekarang ini, hari ini – hal itu niscaya melanggar batas-batasnya”.[11]

    Ratzinger juga menilai bahwa klaim keabsahan historis objektif tidak dapat dipertahankan secara konsisten. Bagaimanapun, para ahli Kitab Suci yang menggunakan metode historis kritis terlepas dari minat dan kepentingan mereka sendiri. Maka, sepertinya mengulangi apa yang telah dikatakan Albert Schweitzer seratus tahun yang lalu.[12] Ratzinger mengatakan bahwa berbagai gambaran Yesus historis yang disajikan metode historis kritis itu “jauh lebih serupa dengan potret foto tentang para pengarangnya beserta gagasan-gagasan yang mereka punyai.”[13]

    Sebagai tawaran yang melampaui metode hostoris kritis, Ratzinger mempromosikan metode tafsir kanonis yang sudah mulai berkembang di Amerika sekitar 30 tahun yang lalu. Metode ini memperhatikan keseluruhan makna dari Kitab Suci, yang dipakai sebagai terang untuk membaca dan menafsir masing-masing teks. Keyakinan dasar dari metode ini adalah, sebuah teks ditulis sebagai bagian utuh dari sebuah bangunan kesaksian iman karya Allah di tengah sejarah. Mengambil satu teks terlepas dari keseluruhan maksud Kitab Suci adalah satu bentuk ketidakadilan terhadap teks tersebut. Dan sebagai buku iman, Kitab Suci “mengacu pada tiga subjek yang saling berinteraksi”, yakni penulis, umat dan Allah sendiri.[14] Kitab Suci bukan hanya pengalaman iman pribadi penulis. Umat dari dan kepadanya Kitab Suci ditulis, mesti juga diperhatikan sebagai subjek Kitab Suci. Dan akhirnya Allah sebagai inspirator. Sebab itu penafsiran yang mengabaikan iman umat, tidak dapat dipertanggungjawabkan.

    Dengan menggunakan metode kanonis ini Ratzinger membuat kristologinya berdasarkan sumber historis yang paling dekat yakni injil-injil. Di dalam buku tersebut yang dimaksudkan sebagai yang pertama dari dua bagian, Ratzinger menguraikan sepuluh elemen penting dari kristologinya, yakni pembabtisan, pencobaan, Kerajaan Allah, khotbah di bukit, doa Bapa Kami, para murid, perumpamaan-perumpamaan, gambaran-gambaran dari Injil Yohanes, pengakuan Petrus dan transfigurasi serta ucapan-ucapan Yesus tentang diri-Nya sendiri. Tema-tema ini dibicarakan, bukan sekadar sebagai satu pemaparan biografi Yesus, melainkan sebagai satu teologi. Bertolak dari teks injil Ratzinger menjelajah khazanah para bapa Gereja, Perjanjian Lama, hingga dasar keberagamaan manusia dalam kosmos.

    Dengan corak yang sedikit banyak polemis, Ratzinger membahas konsep-konsep teologis modern. Saat menulis Kerajaan Allah sebagai tema sentral pewartaan Yesus, dia membuat penilaian yang terkesan memojokkan konsep teologis yang menjadikan gagasan “Kerajaan” sebagai pengertian kunci (regnosentrisme). Menurut Ratzinger, konsep ini adalah perkembangan terakhir dalam aliran teologi setelah beralih dari eklesionsentrisme, Kristosentrisme dan teosentrisme. Kini diyakini bahwa konsep Kerajaan Allah mewakili secara paling memadai apa yang hendak diwartakan Yesus. Di dalam Kerajaan ini semua tradisi religius bersatu untuk mewujudkan perdamaian, keadilan dan pelestarian ciptaan. Melalui pengertian ini agama-agama disadarkan akan tugas bersama mereka demi kedatangan Kerajaan Allah. Namun, demikian penilaian Ratzinger, di dalam konsep ini ternyata yang hilang adalah Allah. Manusia sebagai “satu-satunya pelakon yang tersisa di atas panggung pementasan.”[15] Padahal, yang dimaksudkan Yesus adalah Kerajaan Allah, dan itu berarti satu kerajaan batiniah, yang tersembunyi.”[16] Dengan pola pikir seperti ini Ratzinger juga mengkritisi semua teologi sosial dan mengutamakan pembebasan manusia dalam situasi sosio-politis tertentu.[17]

    Tolle, lege, ambil dan bacalah, demikian seruan Eberhard Jungel, teolog Protestan dan mantan rekan Ratzinger di Tubingen, kepada semua orang, baik Kristen yang setia, Kristen yang abangan  maupun orang-orang ateis, untuk membaca dan mendalami buku Ratzinger. Jungel segera menambahkan, “juga kalau yang hendak dibaca itu bukan Kitab Suci, sebagaimana konteks awal ungkapan tolle lege pada, Agustinus, melinkan hanya buku dari seorang paus”. Kendati tetap tidak menyembunyikan kritiknya, Jungel sadar bahwa seruan seperti itu merupakan pengakuan terbesar yang bisa diberikan terhadap sebuah buku teologi.[18]

    Tidak dipungkiri bahwa buku Ratzinger tentang Yesus dari Nazaret kaya akan gagasan teologis untuk diwacanakan dan mampu menawarkan banyak impuls spiritual untuk direnungkan. Kendati demikian, dari uraian singkat mengenai buku tersebut di atas, kiranya sudah menjadi jelas juga titik krusial buku itu. Kritik yang tajam ke alamat metode historis pasti mengundang reaksi dari para ahli Kitab Suci. Kendati pada bagian akhir bukunya Ratzinger sekali lagi menegaskan bahwa “buku ini tidak bermaksud untuk masuk dalam debat tentang penelitian historis kritis”[19], namun sudah semestinya para ekseget menyampaikan tanggapannya. Para pembaca perlu dan mempunyai hak untuk mengetahui apa sebenarnya metode itu dan apakah sungguh demikian permasalahan dan kesulitan yang dibawanya untuk orang beriman, seperti yang ditulis Ratzinger. Dan apakah versi yang dipromosikan Ratzinger sendiri sungguh bebas dan beragam kesulitan yang dialamatkannya ke arah metode historis kritis.

    Karena alasan tersebut di atas, maka di dalam buku yang sedang anda hadapi ini kami mengumpulkan sejumlah tanggapan dari para ekseget. Nadanya bervariasi, ada yang setuju dengan pendapat Ratzinger, yang lainnya berkeberatan terhadapnya. Artikel-artikel ini dipilih untuk mendorong sebuah diskusi lanjut mengenai bagimana semestinya memahami dan menafsir dokumen-dokumen iman dan sebuah tradisi religius. Dari prespektif ini tentu saja artikel-artikel ini tidak hanya bermaanfaat bagi para pembaca Kristen, tetapi juga bagi orang beriman pada umumnya, yang tidak jarang berhadapan dengan kesulitan penjembatanan antara fakta historis dengan aktualitas keberimanan, antara peristiwa masa lalu yang menjadi rujukan iman dan kehidupan sekarang.  Sebenarnya yang sedang diperdebatkan adalah masalah hermenuitika, yang merupakan satu persoalan kunci dalam agama-agama.

    Selain itu, buku teologi Ratzinger melahirkan sejumlah pertanyaan karena dia mewakili secara lugas posisi teologis tertentu. Pertanyaan pokoknya adalah bagaimana memahami hakekat Allah dan manusia dalam satu pribadi Yesus dari Nazaret. Dogma Kekristenan ini harus terus menerus diberi isi dalam setiap konteks historis. Karena itu, terkait erat dengan pertanyaan di atas adalah pertanyaan berikut: sejauh mana konteks sosio-politis-historis berperan dalam penataan sebuah kristologi? Artinya, sejauh mana konteks tertentu itu boleh direfleksikan di dalam kristologi, dan bagaimana kristologi dapat memancarkan terang untuk melihat, menilai dan mentransformasi konteks tersebut?

    Untuk menanggapi persoalan dan pertanyaan-pertanyaan ini, kami menerbitkan pula sejumlah tanggapan teologis atas karya Ratzinger. Dua artikel di antaranya (Felix Wilfred dan John Sobrino) memang tidak secara eksplisit menyebut dirinya sebagai sebagai tanggapan atas buku Ratzinger. Namun, isi kedua artikel tersebut yang diterbitkan di dalam edisi majalah Concilium yang dimaksudkan sebagai tanggapan atas buku Ratzinger  – demikian pengantar dari para editor edisi tersebut,[20] jelas menunjuk pada gagasan Ratzinger sebagai sasaran tembaknya. Maka kedua artikel diterbitkan di sini.

    Harapan kami, kiranya kumpulan artikel-artikel tanggapan atas buku Yesus dari Nazaret karya Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI ) ini menjadi pendamping yang tepat dalam membaca buku itu sendiri. Pendamping yang tepat bukanlah pendamping yang hanya menegaskan dan mengiyakan apa yang ditulis di dalam buku tersebut. Semakin besar sebuah karya, semakin besar pula kebutuhan akan catatan-catatan kritis atasnya. Semakin besar seorang pengarang, semakin banyak pula tanggapan yang perlu diberikan kepadanya. Semuanya dilakukan sekali lagi, dalam simpati, seperti yang diminta Ratzinger, simpati terhadap seorang teolog yang kini mengemban tugas kepemimpinan dalam Gereja Katolik.

                                             

    Ledalero, medio April 2009

     

    ———————————————————–

     

    *Tulisan ini adalah “Kata Pengantar” buku Joseph Ratzinger-Yesus dari Nazaret – Pelbagai Tanggapan, Penerbit Ledalero, 2009.

     

    *Catatan  Kaki

    [1] Karl Kardinal Lehmann, “Erste Hinfurung zum neuen Buch von Joseph Ratzinger/Benedikt xvI,” dalam Karl Lehman at al., “Jesus von Nazareth kontrovers. Rickfragen an Joseph Ratzinger, Munster: LIT Verlaag2007, hlm. 3

    [2] Ibid

    [3] Joseph Ratzinger, Yesus dari Nazareth, Gramedia 2008

    [4] Ibid

    [5] Tentang tanggapan atas kuliah tersebut, baca Jurnal Ledalero VI/2/2007

    [6] Karl Gabriel, “Die Versuche des Papstes, in der Welt der Gegenwart Autoriat zu gewinnen” dalam Concilium 44/Agustus 2008, hlm 365-366

    [7] Bdk. Erik Borgman, “Jezu von Nazareth: de Anfang einer neuen Geschichte” dalam Concilium 44/Agustus 2008, hlm 323.

    [8] Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI, op. cit., hlm xi

    [9] Ibid, hlm xii

    [10] Ibid, hlm xvi

    [11] Ibid,

    [12] Bdk. Thomas Soding, “Notwendige Geschichtswahrhelten, Ratzingers Hermeneutik und die exegetische Jesusforschung”

    [13] Ibid, hlm xii

    [14] Ibid, hlm, xx-xxi

    [15] Ibid,  hlm 54

    [16] Ibid,  hlm 61

    [17]Ibid,  hlm 132

    [18] Eberhard Jungel, “Der hypothetische Jesus, Anmerkungan zum Jesus-Buch des Paptes” dalam Jan- Reiner Tuck (ed) op cit, hlm 94

    [19] Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI, op cit.  hlm 387

    [20] Maria Clara Luccheti Bimenger et al., “Jesu – eine nicht reduzierbare Vielfat von Erzahlunger”, dalam Concilium 44/Agustus 2008, hlm,  259-262