Blog

  • Sejarah Intelektual Indonesia dalam Perspektif Ilmu Sosial

    Sejarah Intelektual Indonesia dalam Perspektif Ilmu Sosial

     

    Oleh Sarah Nuraini Siregar

     

     

     

    Judul Buku: Fragmen Sejarah Intelektual : Beberapa Profil Indonesia Merdeka

    Penulis: Ignas Kleden

    Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

    Cetakan: Pertama, Desember 2020

    Tebal: 460 hlm

    ISBN: 978-602-433-687-5

     

     

    Secara umum, buku ini menyuguhkan narasi singkat karya para intelektual Indonesia sejak era kemerdekaan hingga pasca-Orde Baru. Para tokoh intelektual yang dibahas dalam buku ini terdiri atas dua kelompok. Pertama, tokoh intelektual (pemikir) politik Indoneisa, dan kedua, tokoh-tokoh yang cukup terkenal di garis sastra dan kebudayaan.

    Buku ini menarik, penulis menjelaskan dan menganalisis karya para tokoh melalui pendekatan teori-teori ilmu sosial yang cukup komprehensif. Ini menjadi salah satu kelebihan dalam buku ini. Ulasan penulis menunjukkan pendalaman secara ilmiah mengenai pemikiran, karya, ataupun sisi intelektual para tokoh tersebut.

    Pernyataan apologia mengawali pernyataan penulis yang mengakui dua sisi kelemahan karyanya. Kelemahan pertama adalah pengelompokan para intelektual berdasarkan post factum, yaitu tersusunnya pengelompokan setelah ulasan para tokoh sudah diterbitkan di tempat lain. Ini menjadi alasan mengapa buku ini tidak begitu detail membahas sisi intelektual para tokoh tersebut.

    Kelemahan kedua adalah semua tokoh intelektual yang disajikan dalam buku ini adalah laki-laki, tanpa ada representasi intelektual perempuan.

    Penulis mengawali paparan secara teoretis dan terulas dengan baik mengenai definisi intelektual. Penulis menguraikan konsep intelektual dari berbagai tokoh yang berasal dari daratan Eropa dan juga Amerika. Julian Benda, Gramsci, Arnold, Rousseau, Hegel, Orwell, Paine, Hedge, hingga Thomas Jefferson menjadi para tokoh yang diulas oleh penulis. Ulasan ini menekankan perdebatan makna atau hakikat intelektual.

    Dalam narasi perdebatan tersebut, penulis mencoba membedakan antara intelektual dan ilmuwan, serta peran apa saja yang semestinya diemban para intelektual.

    Baginya, intelektual dan ilmuwan sama-sama bekerja dengan informasi dan pengetahuan sebagai sarana dan fasilitas. Namun yang membedakannya, antara lain, ilmuwan mengubah kepercayaan dan nilai menjadi informasi dan pengetahuan, sementara intelektual mengubah pengetahuan dan informasi menjadi nilai, komitmen politik, dan keyakinan ideologis atau sikap moral. Ilmuwan membatasi kerjanya dalam disiplin ilmu berdasarkan keahliannya, sementara intelektual menerobos disiplin keilmuannya karena memikirkan atau membela kepentingan publik (hlm 12).

    Dalam pandangan berbagai tokoh yang membahas makna intelektual, ada beberapa konsekuensi logis para intelektual dalam konteks sosial politik. Dalam kehidupan para intelektual, tentu akan menghadapi serangan politik, kerap menantang status quo, serta mengutamakan dan membela kebebasan (berpikir) sebagai kemerdekaan individu. Ketiga aspek ini selalu berkelindan dalam pembahasan para tokoh intelektual pada pembabakan selanjutnya dalam buku ini.

    Pada kategori intelektual bagian politik, beberapa tokoh disandingkan oleh penulis. Melalui ulasan para tokoh ini, kutub pemikiran yang ingin ditampilkan oleh penulis adalah Nasionalis (Soekarno), Sosialis (Hatta dan Sjahrir), Marxis (Tan Malaka). Penulis juga menyertakan garis pemikiran yang menonjolkan prinsip penting dalam politik, yaitu moral dalam kekuasaan, kebebasan, dan persamaan (Soedjatmoko, Seda, Gus Dur, dan Sultan HB IX). Uraian pada bagian ini kental dengan narasi biografi dan sepak terjang para tokoh tersebut.

    Namun, hal menarik pada bagian ini adalah ketika penulis menyertai analisisnya melalui karya-karya para tokoh tersebut. Analisis ini untuk memberikan penilaian terhadap peran dan kontribusi pemikiran mereka.

    Saya mengambil contoh Hatta, yang disebut penulis sebagai intelektual yang konsisten, memiliki keberanian filosofis, keberanian moral, dan keteguhan hati saat berhadapan dengan kesulitan politik. Gus Dur, tokoh pluralis yang gigih membela hak-hak minoritas dan sanggup memberikan jalan kepada kalangan sipil untuk menjadi pemeran utama dalam politik nasional. Demikian pula Sultan HB IX, sosok yang mendobrak reduksi kepemimpinan aristokrat hanya pada seni dan budaya menjadi pada urusan ekonomi dan politik.

    Lalu, pada kategori intelektual sastra dan kebudayaan, tokoh-tokoh yang diangkat adalah Sutan Takdir Alisjahbana (STA), Ajip Rosidi, Asrul Sani, Mochtar Lubis, Rendra, Goenawan Mohamad, Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, Sardono W Kusumo, Jakob Oetama, dan Pramoedya Ananta Toer.

    Jika dibandingkan dengan kategori bagian politik, bagian ini menampilkan cukup banyak tokoh sastra dan kebudayaan walau ulasan pemikiran beberapa tokoh di dalamnya tidak begitu mendalam. Akan tetapi, kelebihan yang cukup menonjol dan jarang ditemukan pada karya lain adalah penulis turut mengulas karya-karya sastra para tokoh tersebut. Pembaca dapat menikmati cuplikan puisi, deskripsi singkat buku dan novel, yang kemudian didiskusikan secara lugas melalui pemahaman keilmuan penulis.

    Sama halnya di bagian politik, penulis juga memberikan penilaian terhadap karakter pemikiran mereka. STA, misalnya, melalui karya tiga novelnya (Layar TerkembangGrotta AzzuraAnak Perawan di Sarang Penyamun) dianggap tidak begitu menonjol dalam menyampaikan makna-makna sosial kepada publik.

    Terhadap karya-karya Rendra, penulis menilai sangat spektakuler dalam menyampaikan tema-tema alam, masyarakat, dan politik. Demikian pula sosok Pramoedya, yang sangat lugas menyampaikan pandangan materialisme historis atas pemikiran Marx. Kelugasan ini diungkap oleh penulis berdasarkan empat novelnya, tetralogi Pulau Buru. Keempat novel ini menyampaikan pesan bahwa emansipasi pribumi dan perempuan dapat lebih berhasil apabila merebut tempat yang lebih kuat dalam hubungan produksi.

    Secara keseluruhan, buku ini sangat baik dalam menyampaikan intisari pemikiran intelektual bangsa, terutama di bidang sastra dan kebudayaan. Hal ini karena tidak banyak buku yang menguraikan secara lugas peta khazanah para intelektual sastra dan kebudayaan melalui karya mereka. Uraian ini turut memberikan pesan kepada pembaca, bahwa kritik dalam karya-karya para intelektual ini turut berkontribusi dalam mendorong perubahan.

    Sementara pada bidang politik, kelebihan buku ini terletak pada tinjauan kritis penulis berdasarkan ulasan teoretis ilmu sosial dalam membahas pemikiran para tokoh tersebut. Namun, untuk mendapatkan pemahaman secara utuh pemikiran para intelektual ini, tentu buku ini belum cukup komprehensif. Seperti judul buku ini, ulasan pemikiran para intelektual sebatas fragmen (cuplikan) dari berbagai karya mereka. Untuk mendalaminya, tentu perlu membaca lagi karya-karya orisinal para tokoh tersebut.

    __________________________

     

    Sarah Nuraini Siregar,Peneliti di Pusat Penelitian Politik LIPI

     

     

  • Orang dalam Perahu – Sajak Asrul Sani

    Orang dalam Perahu – Sajak Asrul Sani

     

    Hendak ke mana angin
    buritan ini membawa daku
    sedang laut tawar tiada mau tahu
    dan bintang, tiada
    pemberi pedoman tentu.

     

    Ada perempuan di sisiku
    sambil tersenyum
    bermain-main air biru
    memandang kepada panji-panji
    di puncak tiang buritan
    dan berkata
    “Ada burung camar di jauhan!”

     

    Cahaya bersama aku.
    Permainan mata di tepi langit
    Akan hilang sekejap waktu.
    Aku berada di bumi luas,
    Laut lepas

     

    Aku lepas
    Hendak ke mana angin
    Buritan membawa daku

    *********************

     

  • Agama Jawa dalam Perspektif  Kajian Antropologi

    Agama Jawa dalam Perspektif  Kajian Antropologi

     

     

    Oleh  Agus Widjajanto

     

     

    Buku klasik Agama Jawa, tulisan dari Clfford Geertz, seorang ahli dan peneliti Antropologi dari Amerika Serikat yang meneliti kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa pada tahun 1952 hingga 1954, saat Pemerintahan Orde Lama berkuasa, yang mengetengahkan ide  pembagian dalam beragama yang berkaitan dengan budaya di Jawa menjadi:  Abangan, Santri, Priyayi. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Clifford Geertz, terus menimbulkan perdebatan dan pembahasan baik secara akademis maupun dikalangan praktisi pemerhati sosial budaya dan ahli-ahli agama diselutuh dunia.  

    Tulisan dan penelitian dari Clifford Gaardz dipandang sebagai salah satu kajian kebudayaan yang paling berpengaruh dan terus menbulkan perdebatan dan menginspirasi kajian kajian baru baik ditingkat nasional maupun international. Bahkan baru-baru ini terbit jurnal yang berjudul: Journal of Social Issues in Southest Asia dinyatakan sebagai The Most Unfluinteal Books of Southeast Asian Studiest, dimana buku ini berasal dari disertasi Clifford Geertz pada tahun 1952 hingga 1954 yang ditulis dan diteliti menyimpang dari tradisi Antropologi pada umumnya yang memberi perhatian utama kepada komunitas kecil petani atau penggembala juga suku suku terasing yang diperkirakan akan hilang. Salah satu kota kecil di Jawa timur disebut dalam tulisan Clifford Geertz adalah “Modjokutho” yang dimaksut mungkin Mojokerto saat ini, dimana telah terjadi benturan budaya, dimana agama mayoritas yakni Islam  dengan agama lama Hinduisme dan tradisi animisme berbaur dalam satu sistem sosial.

    Atas penelitiannya Geertz dijuluki penemu ilmu pengetahuan baru  yakni “Antropologi Spekulatif” dan Geertz dinobatkan sebagai salah seorang teoritikus Antropologi paling terkemuka di dunia akademis karena penelitiannya mengenai Agama Jawa.

     

    Apakah diterima atau tidak oleh kaum agama di Indonesia, yang pasti memang terjadi kaum agama masih kental menjalankan tradisi secara kebudayaan seperti bulan suro diawali dengan puasa yang merupakan bulan suci dan keramat bagi orang Jawa, yang sebetulnya mengadopsi dari peristiwa Azzura terbunuhnya cucu-cucu Nabi Muhammad di kota Karbala. Banyak sekali kaum terpelajar hanya menjalankan ibadah, sholat, puasa , zakat dan haji tapi belum bisa membaca kitab suci dalam huruf arab atau huruf alquranul Kharim, ini adalah fenomena yang terjadi hingga saat ini.

    Membicarakan agama dan kepercayaan yang ada di Nusantara khususnya Jawa, yang sudah ada ribuan tahun sebelum datang nya agama-agama besar baik dari Agama  Samawi maupun dari Hindustan India, tidak bisa dilepaskan akan sejarah dari bangsa ini, yang diyakini para ahli disekitar pulau-pulau yang jumlahnya ribuan pulau di Nusantara ini pernah ada benua yang hilang, yang tenggelam karena mencairnya es di kutub Utara, yang berakibat Dunia mengalami banjir besar, dimana daratan menjadi terpisah dan membentuk pulau-pulau, yang oleh peneliti Inggris Stephen OpenHeimer tahun 1998  dengan teorinya daratan tersebut  dulu disebut Sunda Land, atau Benua Sunda dimana antara Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Timur serta  Kalimantan merupakan satu hamparan daratan, yang saat itu kosong karena tenggelamnya benua yang hilang lalu terjadi migrasi besar besaran dari Utara ke Selatan dan mendiami pulau-pulau di Nusantara ini, yang apabila dikaitkan dengan Firman Tuhan dalam Kitab-Kitab Suci agama Samawi mungkin berkaitan saat banjir Bandang Nabi Nuh.

    Bahwa sebelum ada bangsa ini di Nusantara, ditanah Nusantara ini telah ada suatu bangsa yang sangat tinggi peradaban dan budaya serta penguasaan teknologi saat itu, disebut bangsa LeMuria, yang konon merupakan bangsa yang ada sebelum bangsa Atlantis, yang oleh para ahli berkaitan dengan wilayah disekitar Gunung Muria di Kudus,  Jawa Tengah yang merupakan pusat peradaban tersebut yang hidup diperkirakan pada sekitar 75 000. – 11 000 sebelum Masehi.

    Para ahli meyakini berdasarkan penelitian Geologi, ada daratan yang Bernama “Argolen” sebutan atas benua besar yang terpisah dari Australia Barat dan menghilang, yang merupakan satu misteri terbesar di dunia Geologi yang akhirnya sedikit terpecahkan dimana Argolen Benua yang hilang yang menjadi kunci untuk menjelaskan asal-usul keanekaragaman fauna di Indonesia, yang artinya Indonesia dulu bukan merupakan negara kepulauan tapi sebuah daratan benua besar yang terpecah karena pergeseran lempeng bumi dan adanya banjir besar karena mencairnya kutub Utara, dan ini siklus ribuan tahun yang diyakini akan kembali terjadi karena merupakan hukum alam.

    LeMuria sendiri adalah benua hopotetis yang diusulkan oleh ahli Zoologi, Philip Sclaters pada tahun 1864 yang berteori tentang tenggelamnya sebuah benua dibawah Samudera Hindia yang kemudian teori ini diambil alih dan dijabarkan oleh ahli Okultis dengan  teorinya asal usul manusia. Hal ini agar para pembaca mempunyai gambaran yang jelas, tentang kondisi sebelum negeri ini terpecah menjadi ribuan pulau-pulau.

    Bahwa menyangkut agama dan kepercayaan dari orang-orang Nusantara pada umumnya dan Jawa khususnya telah disepakati oleh para sejarawan dan para ahli  sosiologi  bahwa pada jaman kuno masyarakat Jawa menganut kepercayaan Animisme dan Dinamisme, padahal yang terjadi sesungguhnya dari kepercayaan Animisme-Dinamisme tersebut masyarakat Jawa saat itu telah memiliki kepercayaan akan adanya kekuatan yang bersifat tak terlihat (ghaib) yang sangat besar dan menakjubkan. Yang dalam perkembangannya agama orang Jawa tersebut disebut agama “Kapitayan” yaitu agama kuno yang diyakini oleh orang Jawa sebelum datangnya atau masuknya agama Hindu dan Budha dari tanah Hindustan India, pada abad ke-2 Masehi, dengan adanya kerajaan tertua pertama di pulau Syang Yang Sirah (kepala) yaitu Kerajaan Salaka Nagara, di Ujung Kulon lalu bergeser ke timur di Priangan dengan nama Taruma Nagara. Tuhan agama Kapitayan sendiri disebut “Sang Hyang Taya” yang mana Taya sendiri bermana kosong atau suwung, awang awung, kesunyatan yang dalam agama-agama besar dari Samawi disebut Tuhan Allah, yang berdiri sendiri tanpa wujud yang merupakan Dzat yang Esa, yang kekuasaan-Nya meliputi seluruh alam semesta, dimana sesungguhnya mempunyai makna yang hampir sama, beda nya dari agama-agama besar baik Islam, Kristen, ditulis dalam kitab suci secara dogmatis,  sedang agama Jawa Kuno Kapitayan merupakan ajaran leluhur yang turun-temurun tanpa dibukukan dalam sebuah kitab yang dianggap firman Illahi.

    Pembawa dan penyebar agama Kapitayan menurut keyakinan para penganutnya adalah Dang Hyang Semar, keturunan dari Sang Hyang Ismoyo yang berasal dari bangsa LeMuria  yang dianggap Nabinya Orang Jawa dari sejak jaman Jawa Kuno hingga kini masih diyakini yang  dulu berdiri dan bersemayam dipusat pemerintahannya di Jawa disekitar gunung Muria hingga gunung Lawu di Jawa Tengah.

    Secara Etimologi kata Kapitayan merupakan istilah berasal dari Jawa Kuno yang memiliki kata dasar “Taya” (huruf caraka kuno) yang berarti tak terbayangkan tak terlihat dan mutlak benar.

    Disini agar para pembaca bisa mengerti bahwa bangsa ini mempunyai peradaban yang agung dan besar sebelum datangnya agama-agama besar di dunia modern saat ini, hanya saja karena sifat dari orang-orang Nusantara, khususnya Jawa yang selalu bisa menerima hal-hal baru dan dipadukan dengan hal-hal lama, termasuk dalam hal agama dan kepercayaan, maka tidak mengherankan mengapa Islam bisa diterima dan berkembang begitu cepatnya pasca Sunan Ampel Raden Rahmatullah, yang telah dianggap keluarga oleh Raja Brawijaya ke-5, karena memang ada darah Singosari dari  jalur keturunan ibundanya, karena ajaran agama Samawi tersebut sama dan identik dengan Tuhan dalam agama Kapitayan bahwa Tuhan tidak terlihat dan Mempunyai kekuasaan sangat besar, yang digambarkan dengan suwung atau kosong penuh kesunyatan, maka tidak mengherankan bahwa orang-orang penganut Kejawen selalu mencari suwung atau susuhing angin (rumah angin) agar bisa mengenal Tuhan Yang Esa , yang laku dijabarkan dengan penemuan Manunggaling Kawulo lan Gusti, dalam perspektif tasawuf Jawa oleh Syech Abdul Jalil atau Siti Jenar, dan Hingga Ronggo Warsito. Yang merupakan perpaduan antara agama Jawa Kuno berdasarkan ajaran tutur tinular dari leluhur secara turun temurun dengan ajaran sesuai kitab suci dalam agama Islam, walaupun sesungguhnya kejawen sendiri tidak hanya bagi pemeluk agama Islam saja tapi ada juga Kristen Kejawen, Budha dan Hindu Kejawen, hanya saja sudah terlanjur identik Hanya Islam Kejawen karena mayoritas dalam masyarakat Jawa saat ini adalah memeluk agama Islam.

    Kembali kepada Tuhan dari Agama Jawa Kuno Kapitayan, adalah Syang Hyang Taya, yang orang Jawa mendefinisikan dalam satu kalimat “Tan Keno Kinoyo Ngopo” yang artinya tidak bisa digambarkan seperti apa yang bersifat Ghaib atau tidak terlihat tapi dirasakan setiap kehadirannya.

    Hakekat dari pencarian urip atau hidup dalam agama Jawa, adalah menemukan Kayu Gung Susuhing Angin, yang merupakan pencarian jati diri, dimana plong, bolong, dan suwung sebagai wujud nyata pekerti keagamaan, untuk bisa memahami sejatinya hidup dan kehidupan, sejatinya kita dilahirkan dari mana asalnya (sang kan paraning dumadi) dan setelah lahir didunia harus mengapa, dan bertindak bagaimana sebagai bekal nanti di alam kekal, setelah kita tiada kita kemana? Itu adalah filosofi Jawa yang terkandung dalam huruf Honocoroko, yang merupakan lanjutan dan pendarmabaktian dari pada agama Jawa Kapitayan, yang memandang utusannya yaitu Ki Semar sebagai Kadewatan (dunia dewa) yang lebih memfokuskan pada laku kita, darma bakti sebagai mahluk hidup yang merupakan bagian dari alam semesta , Jagad Cilik dan Jagad Gede. Dan itu sudah ada ribuan tahun sebelum datangnya agama-agama besar ke Nusantara khususnya Jawa. Jadi salah jikalau hanya memandang nenek moyang kita hanya mempunyai kepercayaan Animisme Dinamisme, dan tidak berbudaya.

    Maka tidak heran karena antara Tuhan Allah dalam Alquranul kharim punya makna yang sama dengan Tuhannya Agama Jawa Kuno Kapitayan, dengan demikian wajar apabila perkembangannya sangat pesat dan cepat di Nusantara ini khususnya Jawa.

    Apabila dikaitkan dengan agama Kapitayan dengan Agama Budi seperti yang diramalkan dalam Ramalan Jaya Baya, akan datangnya Agama Budi bersenjatakan Trisula Weda, akan nagih janji sesuai janji perjanjian Sabdo Palon Noyogenggong dengan Syech Subakir ditanah Jawa, maka bisa dijelaskan disini, yang mempunyai makna, segala tindakan kita dalam ibadah yang bersifat Mu’ amallah , harus manunggal atau satu antara hati manusia, ucapan manusia dan tindakan manusia yang harus berbudi luhur sesuai ajaran ajaran luhur , yang digambarkan sebagai sebuah pusaka atau senjata Trisula Wedha. Yang bisa menyelamatkan manusia. Kadang pada jaman modern ini, manusia hanya menonjolkan Akidah dan Ritual ibadah seperti Sholat, puasa, zakat, haji,  akan tetapi tidak ditransformasikan akidah-akidah tersebut dalam tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat (Mu’ amllah) itu yang kerap menjadikan kita sebagai manusia yang gagal paham dalam memahami sebuah ibadah secara utuh, dan yang lebih miris lagi terjadi fenomena, bahwa bangsa ini dulu bangsa penyembah berhala, yang apabila tidak datang agama-agama besar samawi maka bangsa ini tetap akan jadi bangsa penyembah animisme dinamisme, hal ini karena kekerdilan cara berpikir dan tidak tahu secara utuh sejarah masa lalu bangsa ini. Sebuah bangsa yang mempunyai peradaban yang sangat besar dimana dibelahan dunia lain masih primitif, bangsa di tanah Nusantara ini sudah berbudaya tinggi dan mempunyai peradapan yang sangat luar biasa agung dan besar.

    ———————

     

    Penulis, Pemerhati Masalah Sosial, Budaya, Hukum dan Politik, Tinggal di Jakarta

     

  • Tantangan Integrasi STEM dan Sosial dalam Pendidikan

    Tantangan Integrasi STEM dan Sosial dalam Pendidikan

     

     

    Oleh Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan

     

     

    Berapa waktu lalu saya mengunjungi beberapa lab komputer SD di daerah Jakarta dan sekitarnya. Ada perasaan gembira dan sekaligus khawatir. Karena kemajuan zaman berpotensi mempengaruhi cara pandang anak-anak muda belia. Kekhawatiran tersebut tentu saja dipicu oleh pertanyaan mendasar, apakah cara berpikir teknologis dapat diimbangi dengan kepekaan sosial dalam realitas keseharian?

    Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pendidikan dasar dan menengah dihadapkan pada dilema konkret dalam menyeimbangkan pengajaran ilmu sosial dan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). STEM sering kali menjadi prioritas karena adanya relevansi kebutuhan di era digital dan dunia kerja masa depan.

    Akan tetapi pengutamaan STEM secara berlebihan berisiko mengabaikan ilmu sosial yang berperan dalam membangun empati, nilai budaya, serta kemampuan berpikir kritis. Padahal pendidikan sejati tidak sekadar bertujuan menghasilkan tenaga kerja yang terampil secara teknis, tetapi juga individu yang memiliki pemahaman sosial dan kepekaan terhadap isu-isu kemasyarakatan.

    Di Indonesia, diskursus mengenai integrasi STEM dan ilmu sosial nampak jelas semakin mengemuka, terutama dengan adanya wacana penerapan mata pelajaran kecerdasan buatan (AI) dan peng-kodean (coding) sejak tingkat sekolah dasar (SD) dan menengah.

    Langkah ini merupakan respons terhadap tuntutan global yang semakin menekankan keterampilan berbasis teknologi. Kendati demikian, muncul kekhawatiran oleh banyak pihak bahwa upaya tersebut berpotensi menimbulkan ketimpangan dalam pendidikan, khususnya terhadap pembentukan karakter dan wawasan kebangsaan siswa.

    Salah seorang pakar pendidikan Indonesia, dalam suatu kesempatan, menegaskan bahwa keseimbangan antara penguasaan STEM dan ilmu sosial sangat krusial. Individu yang mampu mengintegrasikan kedua bidang tersebut dapat menjadi generasi emas yang bermartabat. Sebaliknya, tanpa pemahaman ilmu sosial memadai, generasi muda berisiko menjadi apatis terhadap isu-isu sosial yang berdampak luas pada masyarakat.

    Porsi pendidikan STEM yang dominan tanpa didampingi pendidikan ilmu sosial berkualitas dapat melahirkan individu dengan keterampilan teknis tinggi tetapi minim sensitivitas sosial. Hal demikian berpotensi memunculkan inovasi teknologi yang kurang mempertimbangkan aspek etika dan keadilan sosial.

    Selain itu, penerapan mata pelajaran seperti AI dan coding sejak SD perlu dirancang dengan cermat agar tidak menjadi beban tambahan bagi siswa. Pada usia dini, anak-anak masih dalam tahap eksplorasi dasar terhadap berbagai bidang ilmu, termasuk literasi dan numerasi. Jika materi kompleks seperti coding tidak diajarkan dengan pendekatan yang sesuai, dikhawatirkan efektivitas pembelajaran menurun dan minat belajar anak melemah.

    Pendekatan inter-disipliner dapat menjadi solusi dalam menjembatani kesenjangan antara STEM dan ilmu sosial. Dengan metode ini, siswa tidak hanya belajar teknologi, tetapi juga memahami implikasi sosial di baliknya.

    Misalnya, pengajaran coding dapat dikaitkan dengan simulasi perencanaan kota ramah lingkungan, atau AI dapat digunakan untuk menganalisis pola sosial dan ekonomi berkelanjutan. Integrasi semacam ini sejalan dengan prinsip Merdeka Belajar yang menekankan konektivitas lintas disiplin.

    Peran guru menjadi kunci dalam memastikan keberhasilan integrasi ini. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan komprehensif agar guru dapat menyampaikan materi secara interdisipliner dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kurikulum pun harus dirancang agar mencerminkan keseimbangan antara STEM dan ilmu sosial, dengan memberikan perhatian yang proporsional terhadap kedua bidang tersebut.

    Untuk memastikan implementasi dapat berjalan sukses, ada beberapa langkah yang dapat diambil oleh pemerintah dan pemangku kepentingan. Pertama, kurikulum mencakup materi STEM yang relevan dengan kehidupan sehari-hari dan dikaitkan dengan nilai-nilai sosial. Misalnya, proyek kelompok yang mengajak murid memecahkan masalah sosial dengan pendekatan teknologi.

    Kedua, guru perlu dilatih memahami pendekatan interdisipliner dalam pengajaran STEM dan ilmu sosial. Pelatihan ini sebaiknya disertai dengan panduan praktis dan dukungan teknologi. Ketiga, pemerintah perlu memastikan bahwa seluruh sekolah, termasuk di daerah terpencil, memiliki akses memadai terhadap perangkat teknologi guna menghindari kesenjangan dalam penerapan STEM.

    Keempat, kebijakan pendidikan perlu dievaluasi secara berkala untuk mengukur dampaknya terhadap siswa. Umpan balik dari guru, siswa, dan orang tua dapat dijadikan dasar dalam menyempurnakan kebijakan.

    Kelima, pendidikan STEM perlu dilengkapi dengan pendidikan nilai dan etika agar siswa memiliki kesadaran terhadap dampak sosial dari teknologi yang mereka pelajari. Diskusi kelas mengenai isu nyata seperti privasi data dan kesenjangan digital dapat menjadi sarana efektif dalam menanamkan kesadaran ini.

    Pada akhirnya, dilema integrasi STEM dan ilmu sosial dalam pendidikan dasar perlu mendapat perhatian serius. Seperti yang diungkapkan oleh Iradat Wirid (2024), generasi emas hanya dapat terwujud jika terdapat keseimbangan antara penguasaan STEM dan ilmu sosial. Pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam merancang kebijakan yang memastikan integrasi kedua aspek ini berjalan seimbang.

    Dengan pendekatan inter-disipliner, pelatihan guru yang tepat, serta pembaruan kurikulum yang berorientasi pada keseimbangan, Indonesia dapat melahirkan generasi yang tidak melulu unggul dalam bidang teknologi, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan sosial yang berdaya guna bagi bangsa dan dunia.

    ———————–

     

  • Upacara “Loi Glete” Mengawali Program Perbaikan Rumah, Menyediakan Hunian Bermartabat bagi Masyarakat Penyintas Bencana di Larantuka

    Upacara “Loi Glete” Mengawali Program Perbaikan Rumah, Menyediakan Hunian Bermartabat bagi Masyarakat Penyintas Bencana di Larantuka

     

    Larantuka Caritasindonesia.  Caritas Indonesia bersama  Caritas Larantuka memulai program Perbaikan Rumah (Retrofitting) pasca Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki dengan upacara adat Loi Glete bertempat di Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur (Flotim), NTT, 26 Februari 2025. Pada Program Retrofitting ini, Caritas akan membantu perbaikan rumah untuk 220 keluarga di empat dusun dalam wilayah Keuskupan Larantuka.

    Hunian layak merupakan kebutuhan mendasar dan mendesak bagi masyarakat terdampak bencana erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki. Caritas Indonesia bersama dengan Caritas-PSE Keuskupan Larantuka dan Caritas-PSE Keuskupan Maumere memasukkan retrofitting ini sebagai bagian dari Program Pemulihan Pasca Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki yang dilaksanakan dalam satu tahun ke depan.

    Sebanyak 220 keluarga menjadi penerima manfaat program ini yang tersebar di empat dusun di Kecamatan Wulanggitang yaitu, Dusun Riangwulu, Dusun Gemente, Dusun Klobong Barat, dan Dusun Klobong Timur. Penerima manfaat ini akan menerima bantuan untuk perbaikan hunian mereka yang mengalami kerusakan parah akibat letusan gunung.

    Keempat dusun ini meski hanya berjarak 6 km dari pusat erupsi, namun berada di luar Kawasan Rawan Bencana (KRB), sehingga warganya tidak di relokasi. Warga di dua dusun lainnya di wilayah Desa Boru, yakni Dusun Podor dan Dusun Kampung Baru harus direlokasi karena terletak di dalam KRB.

     

    Simbol Kekuatan dan Gotong Royong

     Upacara Loi Glete menyiratkan simbol kekuatan, gotong royong, solidaritas, dan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan atas keselamatan dan limpahan berkat-Nya. Upacara ini menandakan semangat kebersamaan masyarakat untuk dapat membangun kembali rumah (kehidupan) mereka. Upacara ini juga sebagai bentuk ungkapan terimakasih kepada semua pihak yang peduli dan membantu masyarakat membangun kembali rumah mereka.

    Setelah serangkaian upacara adat, selanjutnya Kepala Paroki St. Maria Ratu Semesta Alam Hokeng, Pastor Stefanus Damur SVD memberkati material bangunan yang akan diserahterimakan kepada warga penerima manfaat. Upacara ini juga dihadiri oleh Pastor Gabriel Unto da Silva (Wakil dari Keuskupan Larantuka); Pastor Pey Hurint (Direktur Caritas-PSE Keuskupan Larantuka); Alfons Kelasa Soge (Kepala Desa Boru); Petrus Pehan Tukan (Pemerintah Kabupaten Flotim); perwakilan Polres Larantuka, Danramil Wulanggitang, dan Nelwan Harahap (Direktur Penanganan Korban dan Pengungsi BNPB).

    Pada kesempatan ini, Alfons mengungkapkan, bahwa sebelum bencana Desa Boru merupakan desa mandiri yang ekonominya terus meningkat, bahkan menjadi kota kecil sebagai pintu masuk Kabupaten Flores Timur. Namun, erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki mengubah semuanya. “Warga harus menunda mimpi mereka dan berjuang keras untuk dapat melewati masa-masa sulit pasca bencana,” ujarnya. Alfons mengapresiasi kehadiran Caritas dan berharap dapat menumbuhkan kehidupan warga menjadi lebih baik lagi.

    Dalam sambutannya, Nelwan menyatakan bahwa pemerintah menghadapi berbagai tantangan dalam penyediaan hunian yang layak dan bermartabat bagi warga terdampak. Ia melihat, pembangunan hunian sementara (huntara) ini telah memperlihatkan progres yang jelas. Ia mengatakan, pembangunan hunian tetap (huntap) bagi warga yang harus direlokasi, saat ini belum bisa terlaksana, karena masalah pembebasan lahan.

    Shelter adalah kebutuhan dasar yang mendesak pada masa pemulihan ini. Sudah banyak pihak yang mengulurkan tangan untuk membantu kebutuhan dasar lainnya, namun Caritas melakukan hal besar melalui program retrofitting ini. Oleh karena itu, tetaplah semangat dan yakinlah bahwa kasih Tuhan hadir disini melalui Caritas,” tegasnya lagi.

    Pemerintah Kabupaten Flotim mengakui peran besar Caritas yang selalu terlibat dalam pelayanan kemanusiaan dan penanganan tanggap darurat sejak awal hingga saat ini. Hal ini disampaikan Petrus yang mewakili Pemerintah Flotim. Ia melanjutkan, pemerintah berterima kasih dan bersyukur bahwa banyak pihak yang peduli dan membantu di pasca kejadian bencana ini.

    Bentuk Belarasa

     Kehadiran Caritas di tengah masyarakat yang terdampak bencana menjadi tanda kehadiran Gereja. Pastor Gabriel menegaskan, bahwa Caritas adalah wakil dari Gereja Katolik, yang merupakan bagianl dari perhelatan besar dalam penanganan bencana Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki. Ia menegaskan, Caritas sendiri tidak dapat menyelesaikan persoalan kemanusiaan tanpa bekerjasama dengan pihak lain, baik pemerintah, lintas lembaga, maupun warga masyarakat.

    “Solidaritas dan kekompakan adalah kunci dalam penanganan bencana. Ini adalah bentuk belarasa yang berarti panggilan kemanusiaan untuk melayani orang-orang yang dalam kesusahan,” ujarnya. Pastor Gabriel menyampaikan, bahwa Caritas hadir melalui program-program kemanusiaan ini karena menanggapi panggilan belarasa.

     

    Foto – Masyarakat hadir dalam upacara adat Loi Glete yang menandai dimulai program Perbaikan Rumah (Retrofitting) yang dijalankan Caritas-PSE Keuskupan Larantuka untuk penyintas Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur (Flotim), NTT, 26 Februari 2025. Dok. Caritas Indonesia

     

    Dalam kesempatan yang sama juga dilaksanakan serah terima secara simbolik material retrofitting kepada masing-masing perwakilan dari empat dusun. Acara lalu dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara serah terima barang antara Keuskupan Larantuka kepada warga desa Boru. Acara bertajuk ‘Seremonial Retrofitting Perdana’ ini diakhiri dengan pemasangan atap seng baru oleh pemilik rumah dan perwakilan dari Caritas-PSE Keuskupan Larantuka. (Wahyu Wijaya).

     

  • Paus Fransiskus dan Harapan Wajah Baru Bumi Kita

    Paus Fransiskus dan Harapan Wajah Baru Bumi Kita

     

     

    “Jangan takut akan perbedaan! Persaudaraan membuat kita menyadari bahwa perbedaan adalah kekayaan, hadiah bagi kita semua! Sebuah persaudaraan sepanjang hidup” – Paus Fransiskus –

     

    Bertempat di Auditorium Gedung Yustinus lantai 15, Kampus Semanggi, Unika Atma Jaya, pada Selasa, 25 Februari 2025,  Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya bersama  Frans Seda Foundation (FSF) menggelar Kolokium dan Bedah Buku “Salve Peregrinans Spei!” . Acara yang juga merupakan salah satu rangkaian peringatan Lustrum XIII Atma Jaya, selain merefleksikan kunjungan Apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia (3-6 September 2024 juga memotret pemikiran-pemikiran Paus Fransiskus tentang iman, persaudaraan, dan bela rasa, sebagaimana diuraikan dalam buku yang merangkum perspektif 33 tokoh Islam Indonesia terhadap kunjungan tersebut.

    Acara dihadiri oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., yang merupakan keynote speakers dalam acara ini, Prof. Dr H. Biyanto, M.Ag., Staf Ahli Menteri Pendidikan Dasar & Menengah Republik Indonesia, Bidang Regulasi, dan Hubungan Antar Lembaga, Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC, Managing Director Frans Seda Foundation, Stefanus Ginting, juga hadir sebagai pembicara beberapa dari para penulis buku “Salve Peregrinans Spei!” seperti Irfan Amali, Savic Ali, Dr.phil. Mikhael Dua, Prof. Dr. Al Makin, Prof. Dr. Alimatul Qibtiyah, Ust. Miftah Fauzi Rahmat, Laila Nihayati, dan Rian Fahardi yang membahas berbagai tema terkait toleransi, perdamaian, serta keberagaman di Indonesia, sekaligus menegaskan bahwa kunjungan Paus Fransiskus membawa pesan penting tentang persatuan dalam perbedaan serta pentingnya dialog antaragama yang lebih mendalam.

     

     

     

    Paus Fransiskus dan Toleransi  

    Dalam pandangannya menyangkut kehidupan bersama yang diwarnai pluralisme, Paus mengatakan bahwa kita tak perlu memaksakan keyakinan kita pada orang lain. Hormatilah keyakinan orang lain! Cukupkanlah diri dengan menginspirasi orang lain melalui kesaksian hidup sehingga kita bisa hidup bersama dalam komunikasi yang sehat. Yang terburuk ialah penyebaran agama yang memaksa atau dengan kata lain, “Saya berbicara dengan Anda untuk menghasut Anda”. Hal ini tidak boleh! Setiap orang berdialog, dimulai dengan identitas dirinya sendiri.

    Dialog sejati selalu memerlukan satu kemampuan untuk berempati. Kita ditantang mampu mendengarkan, bukan hanya kata-kata yang diucapkan orang lain, melainkan juga komunikasi yang tak terucapkan dari pengalaman, harapan, aspirasi, perjuangan, dan keprihatinan terdalam mereka.

    Menurut Paus Fransiskus, empati merupakan sesuatu yang lahir dari wawasan rohani dan pengalaman pribadi, yang menuntun seseorang “melihat yang lain sebagai saudara. Dalam hal ini, dialog menuntut suatu semangat keterbukaan dan penerimaan akan yang lain. Seseorang tidak bisa  terlibat dalam dialog jika menutup diri terhadap yang lain.

    Kemampuan berempati memungkinkan terjadinya dialog manusiawi yang sejati, di mana kata-kata, ide-ide dan pertanyaan-pertanyaan muncul dari pengalaman persaudaraan dan kemanusiaan yang dibagikan. Empati menuntut kita untuk sampai pada perjumpaan sejati sehingga kita dapat berbicara dari hati ke hati. Kita diperkaya dengan kebijaksanaan yang lain. Kita menjadi terbuka untuk berjalan bersama di jalan menuju pengertian, persahabatan, dan solidaritas yang lebih besar.

     

    Paus Fransiskus dan Pentingnya Bertemu Wajah

    Ada sebuah kisah berdasarkan pengakuan Eugenio Scalfari, pendiri harian Italia La Republica, seorang yang oleh publik Italia dikenal sebagai orang yang tak percaya pada Tuhan alias ateis. Sebelum kejadian ini, Scalfari pernah mendapat surat khusus dari Paus Fransiskus. Dari situlah muncul keinginan untuk bisa bertemu. Akhirnya, ia membuat janji untuk pertemuan itu, yakni pada hari Selasa di Casa Santa Marta. Janji itu didahului sebuah telepon yang tidak akan pernah dilupakan Scalfari seumur hidupnya.

    Hari itu pukul setengah tiga sore, suara telepon di kantor berdering. Dengan suara agak gemetar, sekretarisnya berseru, “Bapa Paus menelepon Anda. Silakan segera diangkat di sambungan Anda!”.

    Scalfari masih tertegun setengah tidak percaya ketika mendengar suara Paus di sambungan telepon, yang mengatakan, “Halo, ini Paus Fransiskus.”

    “Halo, Yang Mulia,” sahutnya kemudian. “Saya tidak mengira Anda menelpon saya.”

    Paus Fransiskus pun menimpali agar Scalfari tidak perlu terkejut. Ini normal saja, seperti seseorang menelepon seorang temannya.

    Paus Fransiskus pun mengaku bahwa ia memiliki keinginan yang sama. Jadj wajar saja jika fa menelepon untuk membuat janji guna mewujudkan pertemuan itu.

    “Coba saya lihat buku agenda, Rabu saya tidak bisa, begitupun Senin, apakah kalau hari Selasa Anda bisa?” tanya Paus. Tanpa banyak kata Scalfari menjawab bahwa hari itu ia bisa.

    “Tapi waktunya agak tanggung, pukul tiga sore. Apakah Anda bisa? Jika tidak, kita bisa menggesernya ke hari lain,” sahut Paus Fransiskus dari ujung telepon.

    Sekali lagi, Scalfari menegaskan bahwa ia setuju. Jadilah mereka menyetujui waktu pertemuan itu: Selasa, tanggal 24, pukul tiga sore, di Casa Santa Marta, Vatikan. Paus Fransiskus mempersilakan Scalfari masuk lewat pintu Sant’Uffizio.

    Scalfari mengaku sempat merasa canggung bagaimana ia harus mengakhiri telepon. Akhirnya, ia bertanya apakah ia boleh memeluk Paus Fransiskus melalui telepon. “Tentu saja, pelukan dari saya juga. Nanti kita akan melakukannya secara langsung waktu bertemu. Sampai jumpa!” sahut Paus Fransiskus.

    Saat pertemuan hari Selasa itu berakhir dan Scalfari berpamitan, Paus Fransiskus berkata, “Sampaikan berkat saya untuk keluarga Anda dan sampaikan juga pada mereka agar berdoa untuk saya. Pikirkan saya, pikirkanlah saya sesering mungkin!” Keduanya berjabat tangan. Sesudah itu, Paus Fransiskus mengangkat tangannya dan memberikan berkat. (Kisah ini diambil dari buku 99 Cara Belajar Hidup ala Pope Francis, Elis Handoko, Grasindo, 2016).

    Bertemu, bertatap muka dan berdialog, itulah fakta Paus Fransiskus ketika menemukan keretakan dalam relasinya. Kehendaknya untuk berdialog didorong suatu kesadaran bahwa orang lain mempunyai sesuatu untuk diberikan kepadanya jika kita tahu bagaimana mendekati mereka dengan semangat keterbukaan dan tanpa prasangka.

    Yakinlah bahwa semua orang memiliki sesuatu yang baik untuk dibagikan dan semua orang bisa menerima kembali sesuatu yang baik. Apa pun Situasinya, kita diajak untuk berbuat baik.

     

    Paus  Fransiskus dan Iklim

    Isu iklim juga menjadi perhatian Paus Fransiskus. Hal ini ditunjukkannya dengan Ensiklik-nya yang monumental Laudati Si’ (Terpujilah Engkau) 24 Mei 2015. Melalaui Ensiklik ini, Paus menngajak umat Katolik dan semua manusia bergerak ikut ambil bagian menyelamatkan kehidupan dari krisis lingkungan hidup global.

    Paus dalam Ensiklik-nya Laudato Si’ menyerukan sebuah jalan baru menyelematkan bumi yakni Pertobatan Ekologis. “Harta kekayaan soiritualitas Kristiani, hasil dua puluh abad pengalaman pribadi dan komunal, memberi sumbangan berharga kepada upaya untuk memperbarui kemanusiaan. Saya ingin menawarkan kepada umat Kristiani suatu kerangka spiritualitas ekologis yang berakar dalam keyakinan iman kita, karena apa yang diajarkan Injil keapada kita memiliki konsekuensi terhadap cara kita berpikir, berperasaan, dan hidup. Yang penting bukanlah berbicara tentang ide-ide, tetapi terutama tentang motivasi yang lahir dari spiritualita, untuk menumbuhkan semangat pelestarian dunia. Tidak akan mungkin melibatkan diri dalam hal-hal besar hanya dengan doktrin, tanpa mistik yang menggerakan kita, atau tanpa ‘dorongan batiniah yang mendorong, memotivasi, menyemangati dan memberikan makna kepada kegiatan individu dan komunal kita. Kita harus mengakui bahwa kita, umat Kristiani, tidak selalu menyerap dan mengembangkan kekayaan yang diberikan Allah kepada Gereja, di mana kehidupan rohani tidak terpisah dari tubuh kita sendiri, atau dari alam, atau dari realitas dunia ini, tetapi justru dihayati bersamanya dan di dalamnya, dalam persekutuan dengan semua yang mengelilingi kita” (Laudato Si’).  

    Apa yang dapat kita lakukan sekarang? Di mana tempat kita dalam masa depan bumi dan apa yang dapat kita  lakukan untuk mewujudkannya? Paus Fransiskus dalam bukunya Mari Bermimpi – Jalan Menuju Masa Depan yang Lebih Baik,  memberikan ajakan kepada kita untuk menyelamatkan bumi kita ini dari krisis ekologis,  dengan dua ajakan, “bergeser dari pusat” (decenter) dan “melampaui”(trancend).

    Cermati di mana kita berpusat, dan geserlah diri kita dari pusat itu Tugas kita di sini adalah membuka pintu dan jendela, dan bergerak ke luar. Yang harus kita hindari adalah godaan berpusat pada diri kita sendiri.

    Krisis memaksa kita untuk bergerak, tetapi kita bisa bergerak tanpa pergi ke mana pun. Kita tidak boleh bergerak seperti seorang wisatawan yang pergi ke laut atau pegunungan selama seminggu untuk bersantai, tetapi kemudian kembali ke rutinitasnya yang menyesakkan. Ia bergerak, tetapi seraya menghindar, hanya untuk kembali lagi ke tempatnya semula.

    Paus Fransiskus lebih menganjurkan jalan yang ditempuh oleh seorang peziarah. Seorang peziarah, yang meminggirkan dirinya dari pusat sehingga ia mampu melampuinya. Seorang peziarah mampu keluar dari dirinya sendiri, membuka diri terhadap horizon baru, dan ketika ia pulang, ia tak lagi sama, dan dengan demikian rumahnya pun tak lagi sama.

    Berhadapan dengan krisis Bumi, Paus mengingatkan, “Yang diminta dari kita tidak lain adalah tanggung jawab tertentu atas warisan yang akan kita tinggalkan setelah perjalanan kita di bumi ini (Laudato Si’).” Kita mesti mewujudkan aksi nyata mewujudkan pertobatan ekologis, budaya ekologis, dan spiritualitas ekologis.

    Paus Fransiskus juga memberikan kita inspirasi dalam menghadapi sebuah krisis,  lewat sebuah puisi karya aktor dan komedian Kuba di Miami, Alexis Valdes. Puisi Alexis Valdes, menurut Paus Fransiskus mampu memotret jalan menuju masa depan yang lebih baik. Mari kita membaca puisi itu dan membiarkan puisi itu dengan keindahannya memberikan kesimpulan, membantu kita bergeser dari pusat dan melampauinya sehinggga bumi kita memiliki wajah baru.

     

    Harapan

     

    Bila badai telah berlalu
    dan jalanan menjinak
    dan kitalah penyintas
    dari karam kapal massal.

    Dengan hati penuh tangis
    dan berkat atas takdir kita
    kita akan rasakan sukacita
    sekadar atas hidup.

    Dan kita akan beri peluk
    untuk orang asing pertama
    dan syukur atas kemujuran
    bahwa kita masih punya kawan.

    Lantas kita akan mengenang
    segala yang telah hilang
    dan akhirnya belajar
    segala yang tak pernah kita pelajari.

    Kita takkan merasa iri
    sebab kita semua telah menderita
    dan kita tak akan berpangku tangan
    berbalik jadi bela rasa.

    Akan kita hargai milik semua
    lebih dari capaian orang per orang.
    Kita akan jadi makin murah hati
    dan jauh lebih berkomitmen.

    Kita akan mengerti betapa rapuhnya hidup.
    Kita akan kerahkan segenap empati
    buat mereka yang masih bersama kita dan mereka
    yang telah pergi.

    Kita akan rindukan si orang tua yang
    minta-minta di pasar
    yang namanya tak pernah kita tahu
    yang selalu ada di sampingmu.

    Dan mungkin si tua miskin itu
    adalah Allahmu yang tersamar.
    Tapi kau tak pernah bertanya siapa namanya
    sebab kau tak pernah punya waktu.

    Dan segalanya akan jadi mukjizat.
    Dan segalanya akan jadi warisan.
    Dan kita akan hargai hidup,
    hidup yang telah kita peroleh.

    Bila badai ini berlalu
    kumohon kepadamu Tuhan, dengan hati yang remuk
    supaya kaukembalikan kami jadi lebih baik,
    seperti dulu kauimpikan atas kami……….

     

    (Paskalis Liko Bataona)

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Hadiri Sidang Disertasi, Kepala BNN RI Memberi Dukungan Jajarannya

    Hadiri Sidang Disertasi, Kepala BNN RI Memberi Dukungan Jajarannya

     

     

    Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI), Marthinus Hukom menghadiri Sidang Terbuka Promosi Doktor Kepala BNN Provinsi Sumatera Barat, Riki Yanuarfi, yang digelar di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasila, Jakarta Selatan, Senin (24/2).

    Turut hadir dalam sidang tersebut, Kepala BNN RI periode 2009-2012, Gories Mere, serta Kepala BNN RI pertama yang juga Koordinator Kelompok Ahli BNN RI, Ahwil Luthan. Kehadiran para petinggi BNN RI pada masanya dalam sidang ini merupakan bentuk dukungan moral bagi jajarannya dalam meningkatkan kapasitas intelektual.

    Di era yang penuh ketidakpastian, instansi pemerintah dituntut untuk lebih adaptif dalam menghadapi tantangan global yang dinamis. Konsep VUCA—Volatility (gejolak), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (kompleksitas), dan Ambiguity (ambiguitas)—menggambarkan bagaimana perubahan sosial, teknologi, dan ekonomi terjadi dengan cepat serta sulit diprediksi. Untuk tetap relevan dan efektif dalam menjalankan tugasnya, instansi pemerintah, dalam hal ini BNN, harus mengembangkan strategi yang fleksibel, berbasis data, dan mampu merespons perubahan dengan sigap.

    Hal tersebut disampaikan Riki Yanuarfi, dalam disertasinya yang bertajuk “Agilitas Organisasi BNN di Era Revolusi Industri 4.0”. Menurutnya Agilitas organisasi BNN di era Revolusi Industri 4.0 dan VUCA sangat penting untuk meningkatkan kinerja serta menyesuaikan arah strateginya agar tetap relevan. Ia meyakini dengan mengusung visi kepemimpinan digital (digital leadership) dan manajemen inovasi (innovation management), BNN dapat lebih fleksibel dan responsif dalam menghadapi perubahan.

    Kepala BNN RI mengapresiasi gagasan yang diangkat dalam disertasi tersebut. Menurutnya, dalam dinamika perubahan, selalu ada individu atau kelompok yang ingin mempertahankan status quo, terutama ketika inovasi membawa dampak besar dan mengubah cara berpikir yang sudah mapan.

    Lebih lanjut Kepala BNN RI mengatakan, penting untuk mendorong individu yang terjebak pada zona nyaman agar terbuka terhadap perubahan. Hal tersebut mendorongnya untuk memastikan kemampuan anggotanya dalam beradaptasi dan menerapkan teknologi secara efektif di lapangan.

    Kepala BNN RI menganggap disertasi ini merupakan kekayaan ilmiah yang dapat dikembangkan dan bermanfaat tidak hanya bagi civitas akademika tetapi juga wawasan internal BNN. Dengan cara ini, profesionalisme pimpinan serta staf dapat terus ditingkatkan dalam mendukung transformasi organisasi yang lebih inovatif dan adaptif.

    —————————-

     

    Sumber Tulisan: Humas BNN

  • Suaramu Jalan Pulang yang Kukenali – Sajak Adimas Immanuel

    Suaramu Jalan Pulang yang Kukenali – Sajak Adimas Immanuel

     

     

    Suaramu bernaung di bawah sayap
    burung-burung sebelum malam siap.

    Membuatku harus menajamkan telinga
    ketika cahaya bulan memadu mata.

    Suaramu menjagai keseimbangan cuaca
    ketika hujan jadi orkestrasi flu dan batuk.

    Membuatku menyandarkan kepala
    pada dinding yang tak lagi menyalin
    debar pergulatan-pergulatan kita.

    Suaramu lindap di antara celah tanya
    ketika aku bertanya: inikah masanya?

    Suaramu menggariskan sebuah cahaya
    di jalan pulang menuju yang baka.

    ——————————

     

    Sumber Puisi: Dari Buku Puisi Suaramu Jalan Pulang yang Kukenali, Gramedia, 2019.

     

  • Merayakan Indonesia

    Merayakan Indonesia

     

    Oleh Agus Widjajanto

     

     

    Nama Indonesia yang dulu disebut Hindia Belanda  selalu dihati setiap sanubari para wisatawan yang datang ke negeri kita, demikian juga para pejabat dan tentara Hindia Belanda yang dulu pernah berdomisili di negeri kita, namun jarang yang tahu bahwa siapa penemu pertama kali kata Indonesia, yang lalu digunakan Soekarna dan Mohammad Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan dengan nama Bangsa Indonesia.

    Indonesia pertama kali dicetuskan oleh warga negara Inggris yakni “James Richardson Logan”  dan “George Samuel Windsor Earl ” pada tahun 1850. Saat itu George Samuel Windsor Earl mengusulkan nama “Malayunesia” sedangkan James Richardson Logan milih nama “Indunesia” yang kemudian  Logan mengganti Huruf u dalam kata Indunesia,diganti dengan huruf o menjadi Indonesia. Logan Berpendapat bahwa “Indonesia” lebih cocok untuk menjadi istilah geografis bukan etnografis dimana Logan membagi Indonesia menjadi 4 kawasan mulai dari Formosa hingga Taiwan. Setelah itu dalam dunia penelitian geografis dalam pemetaan dunia, seorang ilmuwan Jerman Adolf Bastian seorang  etnolog menulis setiap jurnalnya dengan kata “Indonesia” (Archipelago Eastern Asia, Jurnal of the Indian, Indonesien Order Die Inselin Des Malayschen Archypelago). Dalam buku sejarah Modern Indonesia, yang diterbitkan kalangan terbatas, Pramoedya Ananta Toer, juga menyebut nama Logan yang pertama menemukan sebutan kata Indonesia.

    Nama Indonesia mulai digunakan oleh para nasionalis dan intelektual pribumi pada awal abad ke-20, dimana istilah Indonesia digunakan dalam berbagai organisasi dan publikasi tertulis saat pra kemerdekaan, termasuk pada saat 28 Nopember 1928 saat Soempah Pemuda dikumandangkan saat itu. Bahkan salah satu tokoh revolusi dan pendiri bangsa yakni GSSJ Ratulangi, menamakan perusahaan asuransi jiwa di bandung yang terletak di jalan Braga, yang pada papan tertulis saat Bung Karno ada acara perkumpulan pemuda di bandung saat itu berbunyi “Levensverzekering Maatschaappij Indonesia” yang ternyata sebuah perseroan asuransi jiwa yang didirikan GSSJ Ratulangi pada tahun 1918 sebelum Sumpah Pemuda dan sesudah berdirinya Boedi Oetomo pada tahun 1908 .

    Geografis dan garis katulistiwa dengan curah hujan setiap tahun dengan flora fauna yang paling lengkap didunia yang merupakan paru-paru nya dunia, sejak jaman dahulu kala saat bangsa Portugis, Vasco de Gama bahkan Ibnu Batutah seorang ilmuwan dunia  Islam paling terkemuka, pernah meneliti di daerah sumatera ujung bagian samudera pasifik, hingga kota Barus penghasil kapur barus, serta Muara Enim Sumatera Selatan yang sejak jaman prasejarah dan abad ke-7 berkuasanya kerajaan Sriwijaya disebut Swarna Dwipa atau pulau emas, karena memang hampir diseluruh Sumatera saat itu dan hingga saat ini sebenarnya merupakan sumber kandungan emas, dan pulau Jawa sendiri mengapa disebut Jawa Dwipaya karena sejak dulu sebagai pusat peradaban dunia dan pusat lumbung pangan Nusantara dengan beras dan bahan pokoknya untuk kehidupan orang-orang Nusantara yang kalau itu masih berupa hutan belantara yang ada pada pulau-pulau besar, baik Sumatera, Kalimantan, Sulawesi.

    Bahkan seorang Ilmuwan pakar genetika dari Oxford Inggris  yang bernama Stepen Oppenheimer dalam teori penelitian nya menyatakan bahwa didaerah Hindia Belanda dulu hingga Malaysia, Singapure, Kamboja, Vietnam, Thailand, Philippines, hingga Taiwan pulau Formosa  merupakan sebuah daratan yang menyatu berupa Benua yang dinamakan Sunda Land (Benua Sunda) teori dari Stepent Oppenheimer ini dipublikasikan dalam buku nya yang berjudul Eden in the East: The Drowned Continent of Southeast Asia pada tahun 1998. Sementara kata dan istilah  Sunda Land pertama kali digunakan oleh peneliti Reinout Willem Van Bemmelen dalam buku Geografi Indonesia pada tahun 1949.

    Teori Sunda Land menyatakan bahwa Sunda Land adalah daratan cikal bakal kepulauan Nusantara. Sunda Land tenggelam akibat banjir besar yang terjadi antara tahun 14.000 hingga 7000 Sebelum Masehi, setelah Benua Sunda Land tenggelam penghuninya menyebar keberbagai daerah dan menurunkan ras dan suku-suku baru di bumi. Teori ini dipandang sebagai Teori Kontraversi sebagai studi sejarah manusia  yang bertentangan dengan teori sebelumnya seperti Teory Out of Taiwan.

    Dalam Teory Out of Taiwan, diyakini bahwa penyebaran masyarakat penutur rumpun bahasa Austronesia berpindah dari pantai timur Tiongkok bagian selatan melalui Taiwan yang berpindah dengan cara berimigrasi besar-besaran ke arah kepulauan Nusantara pada tahun 7000 Sebelum Masehi.

    Berdasarkan Teory Out of Taiwan, asal usul nenek moyang bangsa Indonesia yang dulu disebut Nusantara, diyakini datang dari pulau Formosa Taiwan , teori yang didukung oleh Hari Truman Simanjuntak tersebut didasarkan pada ketidak samaan pola genetika antara kromosom manusia Indonesia dengan bangsa Tiongkok China daratan. Salah satu bukti arkeologi dan sejarah dalam Teory Out of Taiwan adalah kegemaran bercerita dan melukis didinding gua-gua , teori ini semakin diperkuat lewat riset genetika, bahwa dalam Teory Out of Taiwan ini diyakini bahwa nenek moyang bangsa kita berawal dari Yunan  Tiongkok bagian Selatan, yang berimigrasi melalui dua gelombang yakni gelombang pertama disebut gelombang Proto Melayu berimigrasi dari Yunan China Selatan pada sekitar tahun 3000- 1500 SM. Dan memiliki budaya neo Litikum serta perahu bercadik satu. Sedangkan yang kedua adalah gelombang yang disebut Deutro Melayu berimigrasi dari daerah Indochina bagian Utara sekitar tahun 1500 hingga 500 tahun SM, yang membawa kebudayaan dongson atau perkakas senjata besi. Selain Proto Melayu dan Deutro Melayu ada juga nenek moyang kita bangsa Indonesia dari Ras Melanesoid, Negrito, dan Weddid.

    Dan Teory Out of Taiwan ada kelemahan dimana keberadaan penyebaran bangsa Austronesia di Indonesia melalui pendekatan genetika masih terlalu beragam dan belum ada titik temu. Dari beberapa ahli peneliti mengenai asal-usul nenek moyang Nusantara, setidaknya ada 4 teori yakni Teory Yunnan, Teory Out of Taiwan , Teory Nusantara, dan Teory Out of Afrika. Jikalau mengacu pada Teory Out of Afrika maka nenek moyang kita berimigrasi dimulai pada paruh waktu 72.000 tahun SM dimana sekelompok homo sapiens atau manusia modern melakukan perjalanan ke selatan dari benua Afrika ke semenanjung Arab menuju India. Keturunan gelombang pertama  Homo Sapiens yang pertama tiba ditempat yang sekarang disebut Indonesia dan mendiami pulau-pulau  yang berjumlah ribuan pulau ini pada sekitar 50.000 tahun SM, penulis Teory Out of Afrika adalah James Watson. Teory Out of Afrika dari James Watson ini diragukan setelah ditemukannya fosil homo Erectus yang berusia jauh lebih tua dari pada manusia modern dari Afrika yakni sekitar 1 juta tahun SM lebih tua dariTeory Out of Afrika sendiri.

    Fosil yang ditemukan oleh Arkeologi modern di daerah Situs  Trinil Ngawi, Jawa Timur, adalah manusia purba Homo Erectus atau Pithecantropust Erectus yang ditemukan oleh peneliti Eguene Dubois seorang peneliti manusia purba asal Belanda. Fosil-fosil yang ditemukan di Trinil berupa kerangka  menyerupai manusia berbuntut  kera, dimana Dubois berargumen bahwa fosil situs Trinil Pithecantropust Erectus merupakan mising link atau mata rantai yang hilang antara perkembangan kera dan manusia. Dan lalu diteliti oleh ilmuwan genetika Charles Darwin yang lalu menulis teori evolusi manusia yang disebut teori Charles Darwin.

    Apabila dikaitkan dengan kepercayaan leluhur bangsa ini dalam agama Kapitayan yang akan bermuara pada Sunda Wiwitan, yang mana dipercaya sebagai agama asli bangsa ini ribuan  sebelum masehi, yang dibawa Begawan Ismoyo atau Ki  Semar yang dianggap nabinya para leluhur asli bangsa ini yang diyakini merupakan seorang bengawan yang masih hidup dan bersemayam secara astral dari jaman imperium kerajaan bangsa Le Moria, yang hidup sebelum bangsa Atlantis, maka teori Charles Darwin tentang Teori Evolusinya sudah terbantahkan secara keilmuan baik dari sisi genetika dan Arkeologi maupun dari sisi Sosiologi.

    Disinllah yang menjadi  tantangan baru bagi peneliti generasi milenium, untuk bisa menguak sejarah asal-muasal kejadian baik secara teori terjadinya alam semesta sendiri maupun menyangkut keberadaan manusia pertama dan nenek moyang dari bangsa ini, yang menurut penulis merupakan siklus peradaban dan kehidupan pada setiap masa milenial dan suatu bangsa, bahwa dimuka bumi ini selalu silih berganti peradaban dan telah terjadi kiamat besar maupun kecil pada setiap bangsa berdasarkan hitungan waktu, cokro manggilingan, berdasarkan penemuan arkeologi yang telah hidup jutaan tahun sebelum generasi kita sesungguhnya ada peradaban dan kehidupan yang silih berganti.

    Bahwa pada setiap jaman akan selalu berkembang dan berputar sesuai alamiah, dengan gerakan semesta, dimana teori-teori baru akan selalu ditemukan, yang akan membantah atau melengkapi dan memperbaiki teori-teori sebelumnya yang merupakan bagian dari sunatullah ( hukum alam kodrat dan ikrodhat) bahwa hukum-hukum keharmonisan alam semesta akan selalu bergerak dan berputar searah jarum jam. Dimana misteri kosmos hingga saat ini belum terpecahkan, dimana kekuasaan Tuhan adalah semesta itu sendiri, wajah Tuhan ya seluruh alam semesta itu sendiri dengan segala perbedaan mahluk tapi  dituntut agar terjadi  keharmonisan keseimbangan alam itu sendiri, sebagai hukum.

    Yang pasti Nenek moyang kita yang mendiami ribuan pulau-pulau di Nusantara ini hingga tertulis dalam manuskrip pernah berdiri kerajaan-kerajaan besar yang menguasai  Asia Tenggara hingga masuknya bangsa Portugis, Belanda hingga Inggris yang awalnya adalah berdagang mencari rempah-rempah, yang dulu dikenal dengan nama Hindia  Belanda dan  sekarang bernama Indonesia, sebagai negara kesatuan yang berbentuk Republik (Vide pasal 1 ayat 1 UUD 1945) adalah manusia-manusia yang beradab dan menjunjung tinggi demokrasi, sesuai diamanatkan pada pembukaan Preambule dari Kontitusi kita, bahwa sejatinya musyawarah untuk mencapai mufakat, berdiri sama tinggi, duduk Sama rendah adalah manifestasi dari demokrasi itu sendiri ala Indonesia, yang digali berdasarkan local wisdom berdasarkan budaya asli bangsa sendiri. 

    Jagalah ke-Indonesiaan dari budaya asing dari demokrasi asing dari sistem ekonomi asing, cintailah negeri jangan bertanya apa yang bisa diberikan oleh negaram kepadamu, tapi betanyalah pada setiap diri  kalian apa yang bisa dirimu persembahkan kepada bangsa dan negaramu.  Walau sekecil apapun yang bermanfaat bagi sesama bagi keluarga dan lingkunganmu .

    …………………………………

     

    Penulis, Pemerhati Masalah-masalah Sosial Budaya, Hukum Politik dan Sejarah

     

  • Paradoks Kepemimpinan

    Paradoks Kepemimpinan

     

    Oleh B. Herry Priyono

     

     

    MUSIM gempita membandingkan dua calon presiden dan wakil presiden hampir usai. Negeri ini akan segera memasuki pucuk waktu. Kita hendak berdiri beberapa menit di bilik pemungutan suara untuk menerobos momen genting yang akan memberi nama hari esok Indonesia.

    Apa yang berubah sesudah kedua kubu menjajakan rumusan visi dan misi, program, serta mematut-matut diri dalam debat di televisi? Tidak banyak, kecuali emosi politik yang terbelah ke dalam pertarungan abadi antara ”memilih dari keputusasaan” dan ”memilih bagi harapan”. Setelah berbagai timbangan nalar dikerahkan, yang tersisa adalah tindakan memilih yang digerakkan dua daya itu. Mungkin kita bahkan tidak menyadarinya.

    Namun, dengan itu dua kubu juga kian membatu. Masih tersisa beberapa hari bagi kita untuk menimbang pilihan dengan akal sehat. Barangkali tiga pokok berikut dapat dipakai untuk menambah aneka kriteria yang telah banyak diajukan.

     

    Nafsu berkuasa

    Kekuasaan dan kepemimpinan terkait integral secara paradoksal. Tidak setiap nafsu kekuasaan menghasilkan kepemimpinan, tetapi setiap kepemimpinan mensyaratkan kekuasaan. Seberapa hasrat kekuasaan yang dibutuhkan untuk kepemimpinan sejati? Di sinilah tersembunyi paradoks penting. Paradoks adalah kondisi atau pernyataan yang terdengar bertentangan atau tak masuk akal, tetapi sesungguhnya menyimpan kebenaran lebih utuh.

    Orang yang sangat haus kekuasaan tidak pernah menjadi pemimpin baik. Sebaliknya, orang yang ditandai keengganan dan kesangsian yang sehat terhadap kekuasaan biasanya jauh lebih sanggup menjadi pemimpin baik. Sebabnya sederhana. Hanya sosok yang dapat merelatifkan atau membuat jarak dari kekuasaan yang sanggup menghidupi tugas agung bahwa kursi kekuasaan tidak identik dengan dirinya, tetapi sarana perwujudan mandat.

    Ambillah analogi sederhana. Orang yang sedemikian haus uang tak lagi melihatnya sebagai sarana. Siang dan malam ia kesurupan memeluk uangnya dengan cara apa saja. Begitu pula orang yang punya nafsu menggelegak pada takhta. Ia lebih bernafsu menjadi penguasa, bukan pemimpin. Dari proses ini pula kediktatoran dan tirani dilahirkan. Namun, bagaimana benih tirani itu berkembang biak?

    Pada mulanya adalah harapan. Dan, harapan itu amat cemerlang, sama seperti euforia Reformasi 1998. Setelah pergantian tiga rezim yang singkat, kita menaruh harapan pada rezim yang terpilih tahun 2004. Kita mengira dalam periode pertama rezim itu akan memimpin kita menata porak poranda Indonesia, lalu mengakhiri periode kedua yang mulai tahun 2009 dengan beberapa tonggak pemberadaban. Sampai di mana harapan itu?

    Satu-dua tonggak bisa disebut dan kegemaran akan citra juga berkibar sebagai idiom baru politik. Namun, bukan rahasia lagi rezim ini gagal menjaga jantung kultural Indonesia, yaitu kebinekaan. Terutama lantaran impotensinya mencegah kelompok-kelompok tribal berkeliaran makin ganas dan meremuk siapa saja yang tidak sejalan dengan tafsir agama mereka. Bahkan, polisi yang punya mandat konstitusional monopoli kekerasan lebih sibuk dengan slogan ketimbang kelugasan.

    Dalam arti itulah sakit jiwa kolektif diperanakkan lewat cara rezim ini memerintah. Maka, para korban semakin mencari-cari sosok pelindung, sedangkan kaum tribal agama mencari sosok pemaksa. Orang yang bernafsu kekuasaan meledak-ledak untuk menjadi presiden Indonesia beroperasi melalui patologi kolektif ini. Dalam keterjalinan berbagai arus inilah arti ’tegas’ lalu tidak dibedakan dengan ’tangan besi’ dan ’bengis’.

    Maka, silakan cermati kedua capres dan cawapres. Mana sosok yang ditandai nafsu menggelegak akan kekuasan? Saya berani bertaruh, sosok dengan nafsu kekuasaan yang meledak-ledak tidak akan menjadi pemimpin baik bagi Indonesia. Seandainya maju jadi calon presiden, sosok seperti ini akan mengerahkan puluhan triliun rupiah untuk membeli suara, memakai preman dan operasi-hitam untuk mengancam pemilih, memalsu surat dan kotak suara, serta menggunakan kekerasan dan cara apa saja bagi pemenangan.

    Ringkasnya, sosok ini membuat dirinya sama-dan-sebangun dengan kekuasaan. Dan, caranya berkuasa digerakkan terutama oleh busungan rasa megalomania.

     

    Perkara kecil

    Masalah dengan sosok megalomania bukan hanya karena bermulut besar, tetapi karena orang seperti itu tidak sanggup setia pada urusan kecil dan tugas kepemimpinan yang menuntut kesetiaan mengemban tugas dalam rutinitas; tanpa panggung dan media, tanpa publisitas dan tepuk tangan. Apa yang dilakukan dan semua orang lain hanyalah alat: ia memakai rakyat untuk kekuasaan, bukan memakai kekuasaan untuk rakyat.

    Itulah mengapa orang seperti ini bisa saja menjadi penguasa, tetapi bukan pemimpin. Padahal, memilih presiden Indonesia bukan memilih penguasa atau selebritas, tetapi seorang pemimpin. Tentu saja pemimpin perlu berpikir besar, tetapi bukan sebagai megalomania. Di sinilah tersembunyi paradoks lain. Seorang pemimpin besar hanya dapat kita temukan dengan mengenali bukti kesetiaannya pada perkara dan tugas lebih kecil yang pernah diemban.

    Sebabnya juga sederhana: hanya dia yang telah teruji dan terbukti setia pada perkara kecil yang akan sanggup setia dalam perkara besar. Hanya orang yang teruji dan terbukti setia pada tugas lebih kecil dalam lingkup lebih kecil yang akan sanggup setia pada tugas yang berskala lebih besar. Apakah itu niscaya? Tak ada yang niscaya dalam dunia manusia, kecuali kematian.

    Namun, bolehlah kita pakai kewarasan sederhana. Apakah Anda akan mempercayakan kepemimpinan Indonesia pada sosok yang terbukti tidak setia dalam tugas pada lingkup lebih kecil? Ataukah kepada sosok yang telah terbukti setia pada tugas pemerintahan dalam skala lebih kecil? Segala dalil probabilitas menunjuk pada kewarasan pilihan kedua. Dengan segala hormat, sikap keras kepala memercayakan tongkat kepemimpinan Indonesia pada sosok yang terbukti tidak setia dalam tugas kepemimpinan lingkup lebih kecil adalah pilihan membabi buta.

    Lingkup lebih kecil itu bisa saja kepemimpinan suatu kotamadya atau provinsi. Itu sudah cukup sebagai lingkup ujian sejauh mana calon presiden terbukti setia dalam tugas dan perkara kecil. Boleh saja orang berteriak menggelegar bahwa ia akan melakukan ini dan itu yang serba kolosal untuk Indonesia. Namun, itu kata-kata dan slogan yang mudah dipesan dan cepat dilatihkan. Jarak antara slogan dan kepemimpinan sejati terletak jurang teramat dalam yang tidak terjembatani apa pun, kecuali oleh bukti kesetiaan dalam perkara dan tugas kepemimpinan pada skala lebih kecil yang pernah diemban.

    Sekali lagi, ia yang setia dalam perkara kecil juga akan sanggup setia dalam perkara besar; orang yang telah setia dalam kepemimpinan pemerintahan suatu kota juga akan setia dalam kepemimpinan sebuah negara. Sebaliknya, ia yang tidak setia dalam perkara kecil juga tidak akan sanggup setia dalam perkara sebesar negara.

    Ringkasnya, sosok yang terbukti tidak setia dalam perkara dan tugas berskala lebih kecil bukanlah orang yang layak dipilih memimpin Indonesia.

     

    Habitus kepemimpinan

    Pokok di atas sentral bagi kewarasan pilihan. Mengapa orang yang terbukti setia dalam hal kecil jauh lebih sanggup setia dalam perkara besar? Di sinilah tersimpan pokok kunci lain yang dalam dunia pemikiran dipelajari melalui bidang ”teori tindakan”.

    Intinya, orang boleh membual tentang kehebatan kalkulasi nalar. Namun, penelitian demi penelitian kian membuktikan bahwa dalam sebagian besar tindakan, manusia lebih digerakkan oleh kebiasaan. Jika memakai kata yang agak keren, istilah habitus paling dekat mengungkapkan maksudnya.

    Habitus perilaku manusia tidak mudah berubah, apalagi pada orang yang semakin menua. Tentu, kepemimpinan membutuhkan daya penalaran dan kalkulasi tinggi. Namun, jauh lebih menentukan adalah ciri habitusnya dalam memimpin, juga apabila bukti habitus kepemimpinan itu terjadi pada skala pemerintahan lebih kecil.

    Maka, kita dapat lugas menimbang: sosok mana yang telah terbukti punya habitus kepemimpinan baik? Habitus kepemimpinan baik adalah kebiasaan perilaku memimpin yang secara instingtif tertuju pada kemaslahatan orang biasa dan kebaikan-bersama, ciri tegas dialogis, cemburu merawat kebinekaan, merawat lingkungan hidup, tidak korup, tidak meremuk hak asasi, tidak militeristik dan memakai kekerasan sebagai solusi instan, dan sebagainya. Sebaliknya adalah habitus memerintah yang buruk.

    Bukankah itu nirvana? Ya, tetapi itulah cita-cita Indonesia. Itulah kisah harapan kita, yang jerih payahnya hanya sanggup dirawat oleh pemimpin yang telah terbukti setia dalam tugas lebih sederhana, bukan sosok penuh megalomania. Jerih payah menghidupi kisah harapan itu tidak mungkin mekar kembali tanpa ciri-cirinya juga kita tanam dan lekatkan erat-erat pada ciri habitus sosok calon pemimpin.

    Sebagaimana kita tidak akan mempercayakan benih yang bagus pada tanah yang gersang, begitu pula amat fatal jika kita memercayakan cita-cita luhur Indonesia kepada orang yang justru berkebalikan dengan keluhuran habitus kepemimpinan. Cara menanam jalan harapan itu adalah memilih sosok yang telah lebih terbukti punya keluhuran habitus kepemimpinan. Seperti telah disebut, cukuplah habitus kepemimpinan pemerintahan itu terbukti pada lingkup dan skala lebih kecil.

    Maka, kita berdiri di pucuk waktu ketika pilihan kita akan memberi nama hari esok Indonesia. Setelah digulung riuh rendah kampanye, mungkin kita semakin gundah. Pilihan waras bagi jalan harapan dapat didasarkan pada tiga kriteria sederhana, yang hemat saya tidak lekang digerus kebingungan.

    Pertama, sosok yang bernafsu kekuasaan meledak-ledak tidak akan punya keluhuran memimpin Indonesia. Kedua, hanya sosok yang telah teruji dan terbukti setia memimpin pemerintahan pada skala lebih kecil juga akan setia memimpin suatu negara. Ketiga, hanya sosok yang telah teruji dan terbukti punya habitus luhur kepemimpinan atas lingkup lebih kecil juga sanggup mengemban mandat kepresidenan dengan habitus kepemimpinan luhur yang sama.

    Itulah dasar memilih bagi jalan harapan. Dalam dunia manusia, masa depan bukan hasil ramalan, melainkan kemungkinan untuk dibentuk. Itulah mengapa di pucuk waktu nanti kita mesti membentuk hari esok Indonesia bukan dengan memilih mesin ketakutan masa lalu, melainkan dengan memilih harapan baru. ●

     

    ——————————————

     

    *B Herry Priyono, SJ,  Dosen pada Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

    *Sumber Tulisan: Harian Kompas,  01 Juli 2014