Blog

  • Operasi Senyap di Bosnia oleh Indonesia, Bagian dari Sejarah Bangsa

    Operasi Senyap di Bosnia oleh Indonesia, Bagian dari Sejarah Bangsa

     

    Oleh  Agus Widjajanto, Pemerhati Sosial Politik

     

    Salah satu operasi superrahasia yang pernah dilakukan oleh intelijen Indonesia adalah Operasi Alpha. Operasi Alpha merupakan misi superrahasia yang dilakukan oleh ABRI saat itu, atau TNI Angkatan Udara saat ini, pada tahun 1979 hingga 1982 untuk mendatangkan 32 pesawat A-4 Skyhawk dari Israel. Operasi ini diprakarsai oleh Panglima ABRI saat itu yang juga tokoh intelijen Indonesia, Leonardus Benny Moerdani.

    Operasi tersebut sangat menantang karena Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel. Misi itu mengharuskan penyamaran identitas para pilot serta pengiriman pesawat melalui kapal laut. Operasi tersebut merupakan salah satu operasi intelijen paling sukses yang pernah ada di dunia dan menjadi bagian dari sejarah bangsa Indonesia yang menorehkan tinta emas dalam dunia intelijen.

    Salah satu kisah heroik operasi intelijen lainnya terjadi pada awal 1990-an saat pecahnya negara Yugoslavia dalam Perang Bosnia. Ada kisah yang sangat spektakuler yang pernah dilakukan oleh insan intelijen Tanah Air, yakni operasi senyap pengiriman senjata secara rahasia ke Sarajevo agar pihak yang dianggap paling lemah dan paling banyak menjadi korban pembantaian dapat mempertahankan diri. Kisah tersebut sering disebut sebagai “Misi Senyap Soeripto ke Bosnia” pada medio awal 1990-an. Operasi intelijen tersebut kemudian terungkap berdasarkan penuturan Soeripto sendiri serta berbagai catatan media.

     

    Latar Belakang: Embargo Senjata PBB ke Bosnia 1992–1995

    Saat Yugoslavia pecah, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberlakukan embargo senjata untuk seluruh wilayah bekas Yugoslavia. Masalah yang paling kompleks saat itu adalah pihak Bosnia yang paling minim persenjataan justru menjadi pihak yang paling terdampak. Sementara itu, Serbia dan Kroasia jauh lebih siap dalam konflik bersenjata. Akibatnya, banyak warga sipil Muslim Bosnia, baik perempuan, anak-anak, maupun orang tua lanjut usia, menjadi korban.

     

    Di sinilah kisah itu dimulai

    Peran Soeripto, Perwira Intelijen Senior Soeripto merupakan mantan staf Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) hingga tahun 1970. Saat misi dilaksanakan, usianya sekitar 53 tahun dan telah memasuki masa purna tugas.

    Soeripto ditemui dan didekati oleh Probosutedjo, adik Presiden Soeharto yang saat itu menjabat Ketua Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Bosnia. Probosutedjo bertanya, “Apakah kamu sanggup melaksanakan misi yang negara tidak akan pernah mengakui jika kamu tertangkap?”

    Soeripto menjawab singkat, “Sanggup.” Motivasi utamanya adalah kemanusiaan. Kalimat dari pejuang Bosnia kepada dunia Muslim saat itu sangat membekas:

    “Kami kenyang makanan, tetapi Serbia terus membantai kami, sedangkan kami tidak memiliki senjata untuk membela diri.”

    Kalimat itulah yang membuat Soeripto lebih fokus mengirimkan senjata, bukan hanya bantuan logistik berupa makanan.

     

    Jalannya Misi: Menembus Blokade

    1. Jaringan

    Soeripto menghubungi Ustaz Hilmi Aminuddin, tokoh PKS. Dari sanalah ia terhubung dengan broker senjata di Kroasia.

    1. Pembelian

    Di Zagreb, Soeripto bertemu utusan Bosnia. Adi Sasono mengurus jalur diplomasi resmi untuk bantuan makanan dan obat-obatan, sementara Soeripto mengurus pengadaan senjata berupa senapan AK-47, M-16, granat, peluncur roket antitank, dan berbagai perlengkapan lainnya.

    1. Penyelundupan

    Senjata dibawa masuk ke Bosnia menggunakan kedok Bulan Sabit Merah Mesir. Pengiriman harus melewati sedikitnya sembilan pos pemeriksaan, baik milik Bosnia, Serbia, maupun PBB. Risikonya sangat besar. Jika diketahui oleh PBB, mereka dapat dicap sebagai pelanggar embargo dan dianggap penjahat perang. Jika tertangkap oleh Serbia, nyawa menjadi taruhannya karena bisa langsung ditembak di tempat.

    Soeripto baru merasa lega setelah seluruh senjata berhasil sampai kepada pihak yang membutuhkan. Setelah itu, ia selamat kembali ke Tanah Air.

     

    Restu Presiden Soeharto

    Operasi intelijen tersebut mendapat restu Presiden Soeharto. Dalam catatannya, Soeripto menyebut Presiden Soeharto mengetahui adanya misi tersebut, tetapi menghindari keterlibatan langsung karena pertimbangan diplomasi. Prabowo dan Sri Edi Swasono melaporkan keberhasilan misi rahasia tersebut kepada Presiden Soeharto.

    Pada 11 Maret 1995, Soeharto berani berkunjung ke Sarajevo tanpa mengenakan rompi antipeluru. Ia bertemu Presiden Bosnia, Alija Izetbegovic.

    Alija berkata, “Bantuan seperti itulah yang kami perlukan, Paduka. Senjata, bukan hanya pakaian, makanan, dan obat-obatan.” Seperti biasa, Presiden Soeharto hanya tersenyum dengan ciri khasnya.

    Menteri Sekretaris Negara Moerdiono yang mendampingi kemudian bertanya kepada Soeharto dalam bahasa Jawa,

    “Pak, kapan kita bantu senjata?”

    Soeharto menjawab,

    “Wis… wis, meneng wae.”

    Artinya, “Sudah… sudah, diam saja.”

    Jawaban tersebut mengisyaratkan bahwa misi tersebut merupakan operasi rahasia negara.

     

    Catatan Akhir

    Soeripto wafat pada usia 89 tahun. Ia juga dikenal sebagai pendiri KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina). Bahkan hingga usia 87 tahun, ia masih menyatakan fokus pada misi bantuan kemanusiaan untuk Palestina dan perjuangan kemerdekaan Palestina.

    Kisah ini menjadi contoh dedikasi insan intelijen yang berlandaskan solidaritas sesama Muslim dan rasa tanggung jawab terhadap negara. Operasi tersebut memang melanggar embargo senjata PBB, tetapi dilakukan atas dasar pertimbangan kemanusiaan agar pihak yang lemah memiliki kemampuan untuk membela diri.

     

    Catatan Penting tentang Soeripto

    Soeripto telah pensiun dari BAKIN ketika misi Bosnia berlangsung pada tahun 1992. Statusnya saat itu adalah purnawirawan yang menjalankan misi melalui jalur nonformal negara, yakni melalui Probosutedjo. Presiden Soeharto mengetahui misi tersebut, tetapi tidak melibatkan negara secara langsung agar apabila terbongkar tidak menimbulkan persoalan diplomatik maupun politik luar negeri Indonesia.

    Para generasi muda, khususnya kalangan milenial dan Gen Z, perlu mengetahui sejarah dan peran intelijen negara. Dengan pemahaman yang memadai, mereka tidak mudah memberikan vonis maupun stigma yang keliru terhadap profesi intelijen. Betapa beratnya peran para patriot tersebut dalam menjalankan tugas negara.

     

    Kodrat kerja intelijen adalah: “Tak terlihat, tak disebut, tetapi harus berhasil.”

    1. Mati dalam tugas tidak diakui.

    Karena operasinya bersifat senyap. Namanya tidak akan masuk berita, bendera tidak dikibarkan setengah tiang. Bahkan keluarga terkadang hanya diberi tahu bahwa yang bersangkutan meninggal dalam tugas negara.

    1. Gagal dicaci maki.

    Sekali bocor atau tertangkap, seluruh beban ditanggung sendiri. Negara tidak dapat membela secara terbuka. Publik pun tidak mengetahui konteks sebenarnya sehingga yang muncul hanyalah cap sebagai pihak yang gagal.

    1. Berhasil tidak disambut pesta kemenangan.

    Seperti Soeripto di Bosnia. Senjata berhasil sampai dan warga dapat bertahan. Presiden Bosnia, Alija Izetbegovic, menyampaikan terima kasih secara langsung. Namun, di Indonesia tidak ada parade kemenangan. Jawaban Soeharto kepada Moerdiono hanya, “Wis… wis, meneng bae.” Sudah, diam saja.

    Itulah perbedaan intelijen dengan militer konvensional ataupun kepolisian. Jika TNI memenangkan perang, akan ada upacara kemenangan dan kenaikan pangkat. Sebaliknya, jika intelijen berhasil, berkas ditutup, nama disamarkan, dan misi dilupakan.

     

    Inti pengabdian mereka adalah:

    “Aku bekerja untuk negara, bukan untuk tepuk tangan.”

    Sumpahnya bukan kepada kamera, melainkan kepada Garuda di dadanya sendiri.

    Karena itu, Soeripto mengatakan bahwa yang paling diperlukan warga Bosnia adalah hak untuk membela diri. Ia tidak pernah mengharapkan medali. Yang dipikirkannya hanyalah dampak bagi kemanusiaan.

    Dunia intelijen Indonesia mempunyai perjalanan panjang sejak masa kemerdekaan. Tokoh seperti Kolonel Zulkifli Lubis dikenal sebagai Bapak Intelijen Indonesia. Pada masa Orde Baru, terdapat nama-nama seperti Ali Moertopo, Yoga Sugama, dan Leonardus Benny Moerdani sebagai tokoh-tokoh intelijen. Memasuki era Reformasi, terdapat nama H.M. Hendropriyono sebagai salah satu tokoh intelijen. Di luar itu, masih banyak tokoh lain yang bekerja di balik layar secara senyap demi menjaga keamanan negara tanpa henti.

    Dunia intelijen dituntut untuk selalu beradaptasi dengan perkembangan ancaman global. Institusi intelijen kini dihadapkan pada tantangan keamanan siber, spionase internasional, serta dinamika politik dan ekonomi global.

    Pengabdian sebagai insan intelijen memang sangat berat. Namun, apabila tidak ada orang yang bersedia “mati rasa” demi menjalankan misi negara, banyak hal tidak akan berjalan. Stabilitas dan keamanan akan terganggu, bangsa berpotensi mengalami disintegrasi, serta mudah terpengaruh oleh framing intelijen asing yang dapat memengaruhi generasi muda sehingga rasa nasionalismenya mudah digoyahkan. Pada akhirnya, negara tidak lagi aman, rakyat tidak dapat hidup dengan tenang, roda ekonomi terganggu, serta masyarakat mudah diprovokasi dan diadu domba.

    Di sinilah peran intelijen mengambil tempat, yang diwujudkan melalui tindakan aparat keamanan hingga tingkat paling bawah, baik Babinsa maupun Bhabinkamtibmas, dalam menjalankan tugas menjaga keamanan dan keutuhan negara.

  • Postkolonialisme dalam “Bumi Manusia”: Representasi Identitas, Kekuasaan, dan Perlawanan Pribumi pada Masa Kolonial

    Postkolonialisme dalam “Bumi Manusia”: Representasi Identitas, Kekuasaan, dan Perlawanan Pribumi pada Masa Kolonial

     

    Oleh Afrilia Ekayanti Ayuwandira Lamanele, Mahasiswa Program Studi Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

     Kajian postkolonialisme adalah salah satu metode yang muncul untuk menganalisis pengaruh kolonialisme terhadap komunitas yang pernah dijajah. Metode ini tidak hanya menganalisis penjajahan sebagai suatu peristiwa historis, tetapi juga meneliti bagaimana kolonialisme membentuk identitas, budaya, bahasa, pengetahuan, dan relasi kekuasaan yang masih berlanjut meskipun periode kolonial telah berakhir. Di Indonesia, kajian pascakolonial menjadi sangat relevan karena pengalaman kolonial yang berkepanjangan telah meninggalkan banyak jejak dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

    Salah satu sastra dalam negeri yang sering diperiksa dengan metode postkolonial adalah Bumi Manusia yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1980 dan menceritakan kehidupan Minke, seorang pribumi berpendidikan di era Hindia Belanda yang berjuang menemukan siapa dirinya di tengah sistem kolonial yang penuh diskriminasi. Karya ini kemudian diubah menjadi film oleh Hanung Bramantyo pada tahun 2019. Baik dalam novel maupun film, terdapat gambaran yang mendalam tentang hubungan antara penjajah dan masyarakat lokal serta usaha individu dalam melawan ketidakadilan yang muncul akibat kolonialisme.

    Melalui tokoh-tokohnya, Bumi Manusia menunjukkan bahwa kolonialisme tidak hanya berkaitan dengan penguasaan wilayah dalam aspek politik dan ekonomi, tetapi juga mencakup pengaruh terhadap pola pikir, sistem hukum, pendidikan, dan pembentukan identitas masyarakat. Karya ini mengangkat beragam masalah yang menjadi perhatian dalam kajian pascakolonial, seperti perasaan rendah diri pribumi, penguasaan budaya Barat, pencampuran identitas, serta usaha melawan kekuasaan kolonial.

    Esai ini bertujuan untuk menganalisis representasi pascakolonial dalam Bumi Manusia dengan menekankan tiga hal utama, yaitu pembentukan identitas lokal dalam sistem kolonial, tindakan hegemoni dan diskriminasi yang terjadi selama masa kolonial, serta cara-cara perlawanan yang ditunjukkan oleh para tokoh terhadap kekuasaan kolonia.

    Kajian postkolonial muncul dari pemikiran tokoh-tokoh seperti Edward Said, Homi K. Bhabha, dan Gayatri Chakravorty Spivak. Dalam karyanya yang berjudul Orientalism, Edward Said mengungkapkan bahwa kolonialisme dilakukan tidak hanya lewat kekuatan militer dan politik, tetapi juga melalui penciptaan pengetahuan. Negara-negara Barat menciptakan citra bahwa Timur adalah masyarakat yang mundur, tidak rasional, dan memerlukan petunjuk. Gambar ini kemudian dimanfaatkan untuk membenarkan tindakan kolonial.

    Homi Bhabha menggambarkan konsep mengenai hibriditas dan mimikri. Dia berpendapat bahwa masyarakat yang terjajah biasanya mencontoh budaya dari penjajah sebagai cara untuk beradaptasi. Namun, usaha peniruan ini tidak pernah sepenuhnya berhasil, sehingga muncul identitas baru yang bercampur. Situasi ini menghasilkan ruang ambivalensi yang bisa menjadi bentuk penolakan terhadap kekuasaan kolonial.

    Sementara itu, Gayatri Spivak membahas isu mengenai kelompok subaltern, yang merupakan kelompok yang sering kali tidak diperhitungkan dalam struktur kekuasaan yang lebih besar. Dalam konteks masyarakat kolonial, orang-orang asli sering kali menjadi bagian dari kelompok subaltern yang tidak diberikan peluang untuk berbicara serta menentukan masa depan mereka sendiri.

    Ketiga konsep tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengerti berbagai masalah yang muncul dalam Bumi Manusia. Karakter-karakter dalam karya ini menghadapi konflik identitas, ketidakadilan kekuasaan, dan usaha untuk meraih kesempatan berbicara dalam sistem kolonial yang menekan.

     

    Salah satu isu penting dalam Bumi Manusia adalah identitas. Karakter utama, Minke, adalah seorang pribumi yang mendapatkan pendidikan dari Belanda dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Pendidikan yang diterimanya memberinya peluang untuk mengakses dunia modern, yang pada waktu itu hanya dapat dinikmati oleh sebagian kelompok. Namun, posisi sosial Minke masih belum setara dengan orang Eropa. Ia terjebak dalam keadaan yang membingungkan. Di satu sisi, ia mengagumi pengetahuan dan kemajuan yang dicapai melalui pendidikan Barat. Di sisi lain, ia menyadari bahwa sistem kolonial terus melihatnya sebagai pribumi yang lebih rendah dibandingkan orang Eropa.

    Kondisi ini menggambarkan bagaimana kolonialisme membentuk identitas yang terfragmentasi. Minke tidak sepenuhnya diterima dalam komunitas Eropa meskipun ia memiliki pendidikan yang setara. Ia juga merasakan jarak dengan masyarakat lokal karena perbedaan dalam latar belakang pendidikannya. Situasi ini mencerminkan gagasan hibriditas yang diajukan oleh Homi Bhabha. Minke menjadi lambang bagi generasi lokal yang terpelajar yang mulai mempertanyakan sistem kolonial. Pendidikan yang diberikan oleh pemerintah kolonial sebenarnya bertujuan untuk menciptakan tenaga kerja yang mendukung pemerintahan Belanda. Namun, pendidikan tersebut justru membuka kesadaran kritis yang memicu lahirnya perlawanan terhadap kolonialisme.

    Dalam berbagai bagaian cerita, Minke kerap mengajukan pertanyaan mengapa seseorang layak dihormati atau dipandang rendah hanya berdasarkan ras dan latar belakangnya. Pertanyaan itu mencerminkan perkembangan kesadaran bahwa jati diri manusia seharusnya tidak ditentukan oleh klasifikasi kolonial yang membedakan antara Eropa, Timur, dan penduduk asli.

    Aspek penting lainnya dalam Bumi Manusia adalah ilustrasi tentang dominasi kolonial. Dominasi adalah bentuk penguasaan yang tidak hanya terjadi melalui kekuatan fisik, tetapi juga melalui penerimaan nilai-nilai oleh masyarakat yang dianggap normal. Dalam sistem kolonial Hindia Belanda, masyarakat dikelompokkan ke dalam berbagai kategori sosial dengan hak yang berbeda-beda. Orang Eropa berada di puncak hierarki, diikuti oleh kelompok Timur Asing, sedangkan penduduk asli berada di posisi terendah. Stratifikasi ini tidak hanya berdampak pada kehidupan sosial, tetapi juga memengaruhi akses terhadap pendidikan, sistem hukum, dan kekuasaan.

    Diskriminasi ini terlihat secara jelas dalam perjalanan hidup Minke dan Nyai Ontosoroh. Walaupun Minke adalah siswa yang pintar dan berprestasi, statusnya sebagai pribumi menjadi kendala dalam mendapatkan pengakuan yang setara dengan orang Eropa. Di sisi lain, Nyai Ontosoroh menghadapi bentuk diskriminasi yang lebih rumit. Sebagai perempuan pribumi yang juga seorang nyai, ia tidak memiliki legitimasi hukum yang kuat dalam sistem kolonial. Kendati berhasil dalam mengelola bisnis dan menunjukkan bakat manajerial yang luar biasa, status sosialnya tetap dianggap rendah.

    Melalui sosok Nyai Ontosoroh, Pramoedya menggambarkan bagaimana penjajahan tidak hanya menekan berdasarkan ras, tetapi juga berdasarkan jenis kelamin. Perempuan lokal mengalami marginalisasi ganda karena mereka berada di posisi lebih rendah baik sebagai wanita maupun sebagai bagian dari kelompok yang terjajah. Kisah perjuangan untuk hak Annelies menjadi contoh nyata tentang bagaimana sistem hukum kolonial beroperasi dengan cara yang diskriminatif. Pengadilan tidak mempertimbangkan ikatan emosional, kemampuan merawat, atau kontribusi Nyai Ontosoroh dalam mendidik anaknya. Keputusan hukum lebih memprioritaskan peraturan kolonial yang mengutamakan orang Eropa sebagai pihak yang memiliki otoritas.

    Peristiwa itu menunjukkan bahwa hukum yang diterapkan pada masa kolonial tidaklah bersifat netral. Hukum digunakan sebagai sarana untuk menjaga kekuasaan kolonial dan memastikan bahwa otoritas tetap dipegang oleh para penjajah.

     Di antara semua karakter dalam Bumi Manusia, Nyai Ontosoroh adalah simbol paling kuat dari perlawanan terhadap kolonialisme. Karakter ini menolak pandangan umum yang mengatakan bahwa perempuan pribumi tidak bisa berpikir dan bertindak mandiri. Walaupun tidak mendapatkan pendidikan formal yang cukup, Nyai Ontosoroh sukses mendidik dirinya sendiri. Dia belajar membaca, menulis, mengelola usaha, serta memahami banyak aspek bisnis. Kemampuannya bahkan melebihi banyak karakter pria dalam cerita.

    Perlawanan yang dilakukan oleh Nyai Ontosoroh tidak dilakukan dengan cara kekerasan, melainkan dengan menguasai pengetahuan dan kemampuan intelektual. Dia menunjukkan bahwa kolonialisme dapat dilawan dengan menunjukkan potensi diri yang selama ini dianggap tidak ada pada masyarakat lokal. Saat menghadapi proses pengadilan, Nyai Ontosoroh tidak menyerah begitu saja. Dia terus memperjuangkan haknya meskipun menyadari bahwa sistem hukum kolonial kemungkinan besar akan mendukung pihak Eropa. Sikapnya tersebut menunjukkan bentuk perlawanan yang penting dalam perspektif pascakolonial, yaitu keberanian untuk menolak menganggap ketidakadilan sebagai hal yang wajar.

    Karakter Nyai Ontosoroh juga bisa dilihat sebagai representasi dari suara yang terpinggirkan yang berupaya untuk bersuara di dalam sistem yang menekannya. Walaupun pada akhirnya ia tidak berhasil dalam jalur hukum, usaha yang dilakukannya memiliki arti simbolis yang signifikan karena menampilkan bahwa kelompok yang terasing bisa melawan kekuasaan kolonial.

    Perjalanan kehidupan Minke dalam Bumi Manusia juga mencerminkan perkembangan munculnya rasa nasionalisme. Di awal cerita, Minke lebih cenderung memuja budaya Barat dan meyakini bahwa pendidikan dari Eropa adalah kunci menuju kemajuan. Namun, pengalaman diskriminasi yang ia alami menyadarkan bahwa kolonialisme tidak pernah benar-benar menghadirkan kesetaraan bagi masyarakat lokal. Kesadaran ini mendorongnya untuk mengubah perspektifnya terhadap komunitas dan negerinya sendiri.

    Dalam sudut pandang pascakolonial, hal ini bisa dilihat sebagai usaha untuk mendekolonisasi pemikiran. Minke mulai melepaskan pandangan yang dipengaruhi oleh kolonialisme dan berupaya menciptakan kesadaran baru sebagai bagian dari komunitas lokal. Perubahan ini sangat penting karena mengisyaratkan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme tidak hanya terjadi dalam bentuk perlawanan fisik, tetapi juga melalui perubahan pola pikir. Kesadaran terhadap ketidakadilan merupakan langkah pertama menuju pembentukan identitas nasional yang lebih berdaulat.

    Melalui karakter Minke, Pramoedya menunjukkan munculnya generasi cendekiawan lokal yang nantinya akan turut serta dalam perjuangan kebangsaan Indonesia. Dengan cara ini, Bumi Manusia tidak sekadar mengisahkan pengalaman seseorang, tetapi juga menggambarkan proses sejarah yang lebih besar dalam kemajuan nasionalisme Indonesia.

    Film Bumi Manusia yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo mencoba untuk mengadaptasi berbagai isu postkolonial yang ada dalam novel ke dalam bentuk visual. Dengan penggunaan lokasi, pakaian, percakapan, dan teknik pengambilan gambar, film ini menyuguhkan sebuah gambaran tentang lapisan sosial dalam masyarakat pada masa kolonial. Gambar yang menunjukkan perbedaan tempat antara orang Eropa dan penduduk asli memperkuat kesan adanya jarak sosial yang ditimbulkan oleh kolonialisme. Penonton dapat menyaksikan bagaimana pengaruh kekuasaan kolonial terwujud dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari.

    Karakter Nyai Ontosoroh yang diperankan dengan kuat juga membantu memperlihatkan kompleksitas posisi perempuan pribumi dalam masyarakat kolonial. Film berhasil menunjukkan kecerdasan, keberanian, dan keteguhan karakter tersebut sehingga pesan perlawanannya tetap terasa relevan. Meskipun terdapat beberapa penyederhanaan dibandingkan novel, film tetap mempertahankan tema utama mengenai ketidakadilan kolonial dan perjuangan memperoleh martabat sebagai manusia. Dengan demikian, adaptasi ini berhasil memperluas jangkauan gagasan postkolonial kepada generasi penonton yang lebih luas.

    Meskipun kolonialisme secara formal telah berakhir, berbagai persoalan yang dibahas dalam Bumi Manusia masih memiliki relevansi hingga saat ini. Salah satunya adalah persoalan ketimpangan sosial dan budaya yang merupakan warisan dari sistem kolonial. Dalam berbagai bidang, masih terdapat kecenderungan untuk menganggap budaya Barat sebagai standar utama kemajuan. Pola pikir tersebut menunjukkan bahwa kolonialisme tidak hanya meninggalkan dampak material, tetapi juga dampak psikologis yang terus memengaruhi masyarakat.

    Selain itu, persoalan mengenai suara kelompok marginal juga tetap menjadi isu penting. Banyak kelompok masyarakat yang masih menghadapi kesulitan untuk memperoleh akses yang setara terhadap pendidikan, hukum, dan representasi politik. Melalui pembacaan postkolonial terhadap Bumi Manusia, pembaca diajak untuk lebih kritis dalam memahami hubungan kekuasaan yang masih berlangsung dalam masyarakat modern. Kajian ini membantu mengungkap bagaimana berbagai bentuk ketidaksetaraan sering kali memiliki akar sejarah yang panjang.

    Bumi Manusia merupakan karya sastra yang sangat kaya untuk dianalisis melalui pendekatan postkolonial. Novel dan film ini memperlihatkan bahwa kolonialisme tidak hanya berkaitan dengan penguasaan wilayah, tetapi juga dengan pembentukan identitas, produksi pengetahuan, serta struktur sosial yang diskriminatif. Melalui tokoh Minke, pembaca melihat bagaimana kolonialisme menciptakan krisis identitas sekaligus melahirkan kesadaran kritis yang menjadi dasar perlawanan. Melalui tokoh Nyai Ontosoroh, karya ini menghadirkan figur perempuan pribumi yang mampu menantang stereotip kolonial dan memperjuangkan martabatnya sebagai manusia.

    Representasi hegemoni kolonial dalam sistem pendidikan, hukum, dan hubungan sosial menunjukkan bagaimana kekuasaan bekerja secara kompleks dalam kehidupan masyarakat. Namun, karya ini juga menegaskan bahwa dominasi tersebut tidak pernah sepenuhnya berhasil karena selalu ada ruang untuk resistensi dan perjuangan. Dengan demikian, Bumi Manusia bukan hanya sebuah kisah tentang masa kolonial, melainkan juga refleksi mengenai pentingnya kesadaran kritis terhadap berbagai bentuk ketidakadilan yang masih hadir hingga sekarang. Kajian postkolonial terhadap karya ini membantu memahami bagaimana sejarah kolonial terus memengaruhi masyarakat Indonesia sekaligus menunjukkan pentingnya upaya dekolonisasi pikiran dalam membangun identitas yang lebih merdeka dan setara.

    ———————————–

     

    DAFTAR PUSTAKA

    Toer, Pramoedya Ananta. Bumi Manusia. Jakarta: Lentera Dipantara, 2005.

    Bramantyo, Hanung, dir. Bumi Manusia. Jakarta: Falcon Pictures, 2019.

    Spivak, Gayatri Chakravorty. “Can the Subaltern Speak?” In Marxism and the Interpretation of Culture, edited by Cary Nelson and Lawrence Grossberg, 271–313. Urbana: University of Illinois Press, 1988.

    Ashcroft, Bill, Gareth Griffiths, and Helen Tiffin. The Empire Writes Back: Theory and Practice in Post-Colonial Literatures. 2nd ed. London: Routledge, 2002.

    Bhabha, Homi K. The Location of Culture. London: Routledge, 1994.

  • Analisis Karakter Pribumi dalam Novel “Max Havelaar” Perspektif Pascakolonia

    Analisis Karakter Pribumi dalam Novel “Max Havelaar” Perspektif Pascakolonia

    Oleh Albertus Mario Valerian Odje, Mahasiswa prodi sejarah,fakultas sastra, universitas sanata dharma- Yogyakarta

     

    Pendahuluan

    Sejarah sering kali ditulis oleh para pemenang, dan dalam konteks bangsa yang pernah dijajah, “pemenang” tersebut adalah kekuatan kolonial. Selama berabad-abad, narasi tentang bangsa-bangsa Dunia Ketiga dikonstruksi melalui kacamata imperialisme. Masyarakat pribumi kerap digambarkan dalam teks-teks sejarah kolonial sebagai entitas yang tidak berkontribusi, eksotis, tidak beradab, atau sekadar figuran di tanah air mereka sendiri. Akibatnya, ingatan kolektif sebuah bangsa yang merdeka sering kali cacat sejak dalam kandungan, karena fondasi sejarahnya dibangun di atas bias kolonial. Ketika kemerdekaan fisik berhasil direbut, tantangan terbesar berikutnya bukanlah membangun infrastruktur, melainkan memerdekakan isi kepala dan merebut kembali kedaulatan atas sejarah sendiri.

    Di sinilah sastra pascakolonial hadir bukan sekadar sebagai hiburan estetis, melainkan sebagai tindakan politik yang radikal. Sastra menjadi medan pertempuran epistemologis—sebuah ruang di mana bangsa yang pernah dijajah dapat “menulis balik ke pusat . Melalui fiksi, puisi, dan drama, para penulis pascakolonial tidak hanya membongkar kebohongan narasi kolonial, tetapi juga menghidupkan kembali suara-suara yang selama ini dibungkam dan diabaikan oleh sejarawan resmi. Sastra memiliki kelenturan yang tidak dimiliki oleh buku teks sejarah; ia mampu menyusup ke dalam ruang-ruang domestik, merekam trauma psikologis kolektif, dan menampilkan kompleksitas manusia yang terjajah secara utuh. Dan pada pembahasan ini saya akan menulis tentang tokoh tokoh pribumi yang ada dalam novel Max havelaar

     

    Pembahasan

    Novel Max Havelaar yang ditulis oleh Eduard Douwes Dekker dengan nama Multatuli merupakan salah satu karya sastra paling berpengaruh di duni yang terbit pada tahun 1860 ini berhasil membuka mata publik di Eropa, khususnya di Belanda, mengenai kekejaman sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) yang terjadi di Hindia Belanda atau yang sekarang dikenal dengan Indonesia. Meskipun tokoh utamanya adalah Max Havelaar yaitu seorang asisten residen Belanda yang idealis dan membela rakyat kecil kekuatan narasi novel ini justru bertumpu pada gambaran penderitaan masyarakat bumiputera. Lewat penggambaran tokoh-tokoh pribumi, Multatuli memperlihatkan bahwa penjajahan tidak hanya dilakukan oleh bangsa asing, melainkan juga terjadi akibat pengkhianatan dari para pemimpin bangsa sendiri. Tokoh-tokoh pribumi dalam novel ini dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu golongan penguasa yang korup dan golongan rakyat jelata yang menjadi korban penindasan.

    Tokoh pribumi pertama yang memiliki peran paling penting dalam menciptakan penderitaan rakyat Lebak adalah Raden Adipati Karta Nata Negara. Ia menjabat sebagai Bupati Lebak, seorang penguasa feodal bumiputera yang menjadi perpanjangan tangan pemerintah kolonial Belanda. Dalam struktur pemerintahan saat itu, pemerintah kolonial menerapkan sistem pemerintahan tidak langsung. Belanda sengaja memanfaatkan rasa hormat, kepatuhan, dan kesetian tradisional rakyat jelata kepada para bangsawan lokal untuk mengeruk keuntungan ekonomi. Raden Adipati digambarkan sebagai sosok priayi yang hidup dalam kemewahan ekstrem di tengah-tengah kemiskinan rakyatnya yang kelaparan. Demi mempertahankan gaya hidupnya yang mewah, membiayai pesta-pesta, serta membayar utang-utangnya yang menumpuk, sang Bupati tega melakukan pemerasan terhadap rakyatnya sendiri.

    Tindakan kriminal Raden Adipati yang paling kejam adalah penyitaan hewan ternak, khususnya kerbau-kerbau milik petani, dengan dalih upeti atau pajak untuk keperluan bupati. Ia juga memaksa rakyat Lebak untuk melakukan kerja rodi atau kerja bakti tanpa upah demi membangun dan merawat kepentingan pribadinya. Melalui tokoh Bupati Lebak ini, Multatuli ingin membongkar kemunafikan sistem feodalisme Jawa. Alih-alih bertindak sebagai pengayom dan pelindung rakyat sesuai dengan nilai luhur budayanya, Raden Adipati justru menjelma menjadi predator bagi bangsanya sendiri. Hubungannya dengan pejabat Belanda atasannya, seperti Residen Brest van Kempen, didasarkan pada sikap saling menguntungkan sekaligus saling menutupi kebusukan. Selama sang Bupati bisa menyetor hasil bumi yang melimpah kepada Belanda, maka segala tindakan pemerasan yang ia lakukan terhadap rakyat kecil akan selalu dianggap legal dan dibiarkan begitu saja.

    Bertolak belakang dengan kemewahan bupati, Multatuli menghadirkan gambaran tragis rakyat jelata melalui kisah ikonik dua sejoli, yaitu Saijah dan Adinda. Tokoh Saijah adalah penggambaran sempurna dari pemuda desa pribumi yang jujur, pekerja keras, namun hidupnya hancur lebur akibat keserakahan penguasa. Saijah tumbuh dalam kemiskinan di sebuah desa di Lebak. Kehidupan keluarganya sangat bergantung pada seekor kerbau yang mereka gunakan untuk membajak sawah. Kerbau ini bukan sekadar alat produksi bagi keluarga Saijah, melainkan sahabat dekat yang pernah menyelamatkan nyawa Saijah dari serangan harimau. Namun, kebahagiaan sederhana itu direnggut paksa ketika kerbau milik ayahnya disita oleh kaki tangan Bupati Lebak demi memenuhi gaya hidup sang penguasa. Kehilangan alat mata pencaharian membuat ayah Saijah terjerat utang, kehilangan tanah, dan akhirnya meninggal dunia dalam kemiskinan dan keputusasaan yang mendalam.

    Kisah cinta Saijah dengan kekasihnya, Adinda, menjadi inti emosional yang menguras air mata pembaca novel ini. Adinda digambarkan sebagai seorang gadis desa yang setia, anggun, dan penuh harapan. Ketika kondisi ekonomi keluarganya semakin memburuk akibat penindasan yang sama, Saijah memutuskan untuk merantau ke Batavia demi mencari uang agar bisa membeli kerbau baru dan menikahi Adinda. Mereka berjanji untuk bertemu kembali di bawah sebuah pohon ketapang di tepi desa setelah jangka waktu tertentu. Perjalanan Saijah ke Batavia mencerminkan perjuangan keras pemuda pribumi yang mencoba bertahan hidup di bawah sistem kolonial yang tidak adil. Ia bekerja keras, mengumpulkan setiap sen uang, dan selalu menjaga cintanya pada Adinda sebagai satu-satunya alasan untuk terus bertahan hidup.

    Tragedi mencapai puncaknya ketika masa penantian itu berakhir. Setelah bertahun-tahun merantau, Saijah kembali ke desanya sesuai dengan waktu yang dijanjikan, namun ia tidak menemukan Adinda di bawah pohon ketapang. Ketika ia mendatangi rumah Adinda, kampung halaman mereka sudah menjadi desa mati yang hangus terbakar. Keluarga Adinda, sama seperti banyak keluarga petani lainnya di Lebak, telah melarikan diri dari desanya untuk menghindari pemerasan pajak bupati yang sudah di luar batas kemanusiaan. Mereka mengungsi ke wilayah Lampung di Pulau Sumatra untuk bergabung dengan para pejuang yang melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda.

    Mendengar kabar tersebut, Saijah yang patah hati dan kehilangan arah memutuskan untuk menyusul Adinda ke Lampung. Namun, alih-alih menemukan akhir yang bahagia, Saijah justru dihadapkan pada realitas perang kolonial yang sangat brutal. Di Lampung, ia menemukan kenyataan bahwa kampung pengungsian tersebut telah diserang secara membabi buta oleh tentara kolonial Belanda. Saijah menemukan jenazah Adinda yang telah tewas secara mengenaskan akibat kekejaman tentara. Di dekatnya, ia juga menemukan jasad ayah Adinda dan saudara-saudaranya. Menyaksikan seluruh dunianya hancur dan orang yang paling dicintainya terbunuh secara sadis, Saijah kehilangan akal sehat dan keinginan untuk hidup. Dengan memegang sebilah belati, ia melemparkan dirinya ke arah barisan bayonet tentara Belanda, memilih mati menyusul Adinda daripada harus terus hidup tertindas.

    Melalui penggambaran tokoh Saijah dan Adinda, Multatuli tidak hanya menyajikan sebuah cerita fiksi romantis yang tragis, melainkan sebuah laporan kemanusiaan yang sangat akurat mengenai dampak nyata dari kebijakan politik Tanam Paksa dan feodalisme. Tokoh-tokoh ini mewakili jutaan rakyat pribumi yang tidak memiliki suara pada masa abad ke-19. Mereka adalah korban-korban tak bernama dari roda kapitalisme global dan kolonialisme yang hanya mementingkan keuntungan materi tanpa memedulikan nilai-nilai kemanusiaan. Tragisnya nasib Saijah dan Adinda berhasil menyentuh hati nurani masyarakat Eropa kala itu, memicu perdebatan politik yang sengit di parlemen Belanda, dan akhirnya mendorong dihapuskannya sistem Tanam Paksa untuk digantikan dengan kebijakan yang lebih memperhatikan kesejahteraan bumiputera.

     

    Kesimpulan

    Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa penggambaran tokoh-tokoh pribumi dalam novel Max Havelaar merupakan cerminan dari realitas sosiologis dan penderitaan berlapis yang dialami masyarakat Indonesia di bawah sistem kolonial abad ke-19. Melalui karakter Raden Adipati Karta Nata Negara, Multatuli berhasil membongkar kemunafikan sistem feodalisme Jawa, di mana penguasa lokal bertindak sebagai kaki tangan penjajah yang memeras rakyatnya sendiri demi kemewahan pribadi. Sebaliknya, melalui kisah tragis Saijah dan Adinda, novel ini memberikan wajah kemanusiaan bagi jutaan rakyat jelata yang tidak bersuara (the subaltern), yang kehilangan mata pencaharian, hak hidup, hingga nyawa akibat brutalnya sistem Tanam Paksa dan keserakahan kekuasaan. Pada akhirnya, penokohan yang kuat ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis dalam fiksi, melainkan menjadi laporan kemanusiaan radikal yang berhasil menggugah kesadaran politik dunia internasional dan mendorong perubahan kebijakan kolonial di masa itu.

     

     

  • Dari Subaltern Menuju Subjek Sejarah: Agensi Pribumi dalam Novel “Jalan Tak Ada Ujung” Karya Mochtar Lubis Perspektif Postkolonial

    Dari Subaltern Menuju Subjek Sejarah: Agensi Pribumi dalam Novel “Jalan Tak Ada Ujung” Karya Mochtar Lubis Perspektif Postkolonial

    Oleh Awang Budiman, Mahasiswa Sejarah, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    Dalam historiografi kolonial posisi pribumi dalam narasi sejarah sering diposisikan sebagai objek sejarah yang pasif, sementara penjajah sebagai pelaku utama yang menentukan arah perubahan sosial dan politik. Melalui karya sastra, perspektif tersebut dapat dipertanyakan kembali dengan melihat bagaimana tokoh-tokoh pribumi direpresentasikan sebagai individu yang memiliki kemampuan bertindak dan menentukan nasibnya sendiri. Hal ini tercermin pada novel Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis, yang menghadirkan kehidupan masyarakat Indonesia pada masa Revolusi Kemerdekaan. Penokohan pribumi yang ditampilkan memperlihatkan proses transformasi dari kelompok subaltern yang terpinggirkan menuju subjek sejarah yang memiliki kemampuan menentukan jalannya sejarah.

    Gayatri Spivak menjelaskan kelompok subaltern adalah kelompok yang suaranya tidak memperoleh ruang dalam struktur kekuasaan dominan. Mereka hadir dalam sejarah, namun sering kali tidak memiliki kesempatan untuk mendefinisikan diri dan pengalaman mereka sendiri. Dalam konteks novel Jalan Tak Ada Ujung Tokoh Guru Isa dapat dipahami sebagai representasi subaltern tersebut. Ia adalah seorang guru biasa yang hidup di tengah kekacauan revolusi. Guru Isa tidak memiliki kekuasaan politik maupun militer yang memungkinkannya menentukan arah peristiwa. Ia lebih sering menjadi korban dari berbagai perubahan yang terjadi di sekitarnya. Rasa takut yang terus menghantuinya menunjukkan bagaimana kolonialisme telah meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Ketakutan Guru Isa mencerminkan posisi masyarakat pribumi yang selama berabad-abad ditempatkan dalam struktur subordinasi kolonial. Meskipun Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan, warisan mental kolonial masih membentuk cara pandang dan perilaku individu.

    Sedangkan Homi Bhabha berpendapat mengenai Agensi yaitu kemampuan kelompok terjajah untuk menciptakan ruang perlawanan melalui tindakan-tindakan. Agensi menunjukkan bahwa kelompok terjajah bukanlah pihak yang sepenuhnya pasif, melainkan memiliki kapasitas untuk bertindak dan mengubah situasi yang dihadapinya. Dalam konteks novel ini direpresentasikan pada tokoh Hazil. Sebagai pemuda revolusioner, Hazil mengambil peran aktif dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ia tidak menerima keadaan sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah. Sebaliknya, ia memilih untuk terlibat dalam gerakan perlawanan dan mengambil risiko demi cita-cita kemerdekaan.

    Melalui Hazil, Mochtar Lubis memperlihatkan bahwa pribumi bukan sekadar objek yang menerima dampak kolonialisme. Mereka juga merupakan aktor yang berupaya menentukan arah sejarah bangsanya sendiri. Keberanian Hazil menjadi bentuk penolakan terhadap citra kolonial yang sering menggambarkan pribumi sebagai masyarakat yang pasif, irasional, dan tidak mampu mengatur dirinya sendiri. Dengan demikian, Hazil merepresentasikan munculnya subjek postkolonial yang memiliki kesadaran politik dan kemampuan bertindak. Ia menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan merupakan hasil tindakan aktif masyarakat pribumi, bukan sekadar akibat perubahan politik global.

    Konsep hibriditas juga dikemukakan oleh Homi Bhabha. Ia berpendapat kolonialisme menghasilkan identitas yang tidak sepenuhnya kolonial maupun sepenuhnya pribumi. Identitas tersebut terbentuk melalui pertemuan berbagai budaya, nilai, dan pengalaman yang saling berinteraksi. Konsep hibriditas dapat ditemukan pada karakter Guru Isa. Sebagai seorang guru yang memperoleh pendidikan modern, ia berada di antara berbagai pengaruh budaya. Di satu sisi, ia hidup dalam masyarakat Indonesia yang sedang memperjuangkan identitas nasional. Di sisi lain, pengalaman kolonial telah membentuk cara berpikir dan perilakunya. Kondisi ini menciptakan krisis identitas yang membuat Guru Isa sulit menentukan posisinya dalam revolusi. Ia tidak sepenuhnya menjadi pejuang revolusioner seperti Hazil, tetapi juga tidak lagi berada dalam posisi masyarakat kolonial yang tunduk pada kekuasaan penjajah. Posisi “di antara” tersebut merupakan bentuk hibriditas yang banyak ditemukan dalam masyarakat pascakolonial. Melalui karakter Guru Isa, Mochtar Lubis menunjukkan bahwa proses menjadi pelaku sejarah tidak berlangsung secara sederhana. Individu harus terlebih dahulu berhadapan dengan konflik identitas yang merupakan warisan dari pengalaman kolonial.

    Jika dilihat secara keseluruhan, Jalan Tak Ada Ujung tidak menempatkan pribumi semata-mata sebagai objek sejarah. Novel ini justru memperlihatkan proses perubahan dari posisi objek menuju posisi subjek sejarah. Pada awal cerita, Guru Isa digambarkan sebagai individu yang pasif dan terjebak dalam ketakutan. Namun, perkembangan karakter yang dialaminya menunjukkan upaya untuk keluar dari kondisi tersebut. Perubahan itu menunjukkan bahwa dekolonisasi bukan hanya proses politik, melainkan juga proses psikologis. Kemerdekaan sejati tidak hanya berarti berakhirnya penjajahan secara formal, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk membebaskan diri dari rasa inferior dan ketidakberdayaan yang diwariskan kolonialisme. Dalam perspektif postkolonial, transformasi Guru Isa merupakan bentuk peralihan dari subaltern menuju subjek sejarah. Sementara itu, Hazil merepresentasikan subjek sejarah yang telah memiliki kesadaran politik dan kemampuan bertindak secara penuh. Kedua tokoh tersebut menunjukkan tahapan yang berbeda dalam proses dekolonisasi masyarakat Indonesia.

    Melalui perspektif postkolonial, novel Jalan Tak Ada Ujung memperlihatkan bahwa masyarakat pribumi tidak dapat dipahami hanya sebagai objek sejarah. Tokoh Guru Isa merepresentasikan posisi subaltern yang masih dibayangi trauma kolonial, sedangkan Hazil menunjukkan munculnya agensi sebagai bentuk perlawanan terhadap warisan kolonial. Selain itu, krisis identitas yang dialami tokoh-tokohnya mencerminkan kondisi hibriditas yang menjadi ciri masyarakat pascakolonial. Dengan demikian, novel ini menggambarkan proses transformasi masyarakat Indonesia dari kelompok yang dibungkam dan dimarginalkan menjadi pelaku sejarah yang mampu menentukan masa depannya sendiri. Dalam konteks kajian sastra postkolonial, Jalan Tak Ada Ujung merupakan narasi penting yang mengembalikan posisi pribumi sebagai subjek utama dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

     

  • Keris: Warisan Budaya Adiluhung yang Menyimpan Teknologi Metalurgi Tingkat Tinggi

    Keris: Warisan Budaya Adiluhung yang Menyimpan Teknologi Metalurgi Tingkat Tinggi

    Oleh Agus Widjajanto, Pemerhati Sosial dan Budaya Bangsa

     

    Jangan Biarkan Generasi Muda Terjebak Framing Kolonial tentang Keris

    Keris selama ini sering dipersepsikan hanya sebagai senjata tradisional, benda pusaka, atau bahkan sekadar simbol mistik. Cara pandang seperti itu telah lama berkembang, sebagian dipengaruhi oleh narasi kolonial yang lebih menonjolkan sisi spiritualnya daripada nilai ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Akibatnya, banyak generasi muda Indonesia mengenal keris hanya sebagai benda museum, tanpa memahami bahwa di balik sebilah keris tersimpan warisan teknologi material yang sangat maju pada zamannya.

    Keris selalu diidentikan dengan klenik dan kekuatan magis karena akar sejarahnya sebagai benda spiritual dan pusaka kerajaan. Proses pembuatan nya yang sakral dengan metalurgi tinggi , serta keyakinan masyarakat Kita terhadap tuah yang dibawa, sebagai simbul kewibawaan dan status sosial , dimana dalam keyakinan agama tertentu penghormatan yang berlebihan dianggap berhala hingga dilarang , dalam aturan dogma , menimbulkan pola pikir masyarakat menjahui keris , padahal keris sebagai simbul budaya kita dimana keilmuan dalam metalurgi tiada tanding yang diakui oleh dunia barat (International).

    Sudah saatnya generasi muda melihat keris dari sudut pandang yang lebih utuh. Keris bukan sekadar warisan budaya, melainkan bukti kecerdasan intelektual nenek moyang Nusantara dalam bidang metalurgi, teknik material, seni, dan filsafat kehidupan.

    Sejak berabad-abad lalu, para empu Nusantara telah mengembangkan teknik penempaan logam yang sangat kompleks. Salah satu buktinya adalah teknik pembuatan pamor, yaitu proses menyatukan berbagai jenis logam melalui pelipatan berulang hingga ratusan bahkan ribuan lapisan. Teknik ini menghasilkan bilah yang kuat, lentur, dan memiliki motif alami yang indah.

    Dalam ilmu material modern, teknik tersebut dikenal sebagai pattern welding, metode yang juga ditemukan pada pedang Damascus. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa teknik serupa telah berkembang di Nusantara sejak masa kerajaan-kerajaan kuno.

    Empu juga telah memahami prinsip heat treatment atau perlakuan panas. Melalui proses sepuh dan warangan, mereka mampu menciptakan perbedaan tingkat kekerasan pada bilah keris sehingga bagian tertentu menjadi sangat keras, sementara bagian lainnya tetap lentur. Dalam dunia teknik material modern, metode seperti ini dikenal sebagai differential hardening.

    Yang lebih mengagumkan lagi, seluruh proses tersebut dilakukan tanpa termometer, tanpa mikroskop, maupun tanpa alat ukur modern. Para empu menentukan kualitas logam melalui pengalaman, pengamatan warna bara api, bunyi pukulan palu, serta pengetahuan empiris yang diwariskan turun-temurun.

    Tidak sedikit keris pusaka yang menggunakan besi meteorit sebagai bahan pamor. Kandungan nikel dalam meteorit menghasilkan motif-motif khas seperti Pamor Beras Wutah, sekaligus meningkatkan ketahanan logam terhadap korosi. Kini dunia ilmu pengetahuan memahami fungsi nikel dalam baja, tetapi para empu Nusantara telah memanfaatkannya jauh sebelum ilmu metalurgi modern berkembang.

    Penelitian yang dilakukan oleh lembaga-lembaga ilmiah Indonesia terhadap keris-keris kuno bahkan menunjukkan komposisi karbon yang mendekati standar baja modern. Hal ini membuktikan bahwa para empu memiliki penguasaan luar biasa terhadap proses pengolahan logam, meskipun seluruhnya dilakukan secara tradisional.

    Pengakuan dunia akhirnya datang ketika UNESCO menetapkan keris sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada tahun 2005. Pengakuan tersebut bukan hanya karena nilai seni dan filosofinya, tetapi juga karena sistem pengetahuan, teknik pembuatan, serta tradisi yang menyertainya.

    Sayangnya, selama masa kolonial, narasi mengenai keris lebih banyak diarahkan pada unsur mistik. Laporan-laporan kolonial sering menggambarkan keris sebagai benda bertuah atau jimat, tetapi hampir tidak pernah mengulas kecanggihan teknik pembuatannya. Akibatnya, warisan ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam keris seolah tenggelam di balik stigma “klenik”.

    Inilah bentuk framing kolonial yang masih membekas hingga sekarang. Ketika dunia Barat membanggakan Revolusi Industri dan perkembangan metalurginya pada abad ke-19, pencapaian teknologi para empu Nusantara yang telah hadir jauh sebelumnya yakni seribu tahun sebelum abad ke 19. justru nyaris tidak mendapat tempat dalam narasi sejarah global.

    Generasi muda Indonesia perlu memahami bahwa kebanggaan terhadap keris bukan berarti menolak ilmu pengetahuan modern. Sebaliknya, keris justru menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan telah berkembang di Nusantara dengan pendekatan yang berbeda. Apa yang kini disebut sebagai material science, dahulu dipraktikkan melalui pengalaman empiris, tradisi, dan filosofi hidup.

    Salah satu contoh yang sangat dikenal adalah Pamor Beras Wutah. Secara filosofi, pamor ini melambangkan kemakmuran dan rezeki yang melimpah. Namun, dari sisi metalurgi, motif tersebut merupakan hasil pengaturan komposisi logam yang sangat presisi sehingga kandungan nikel mampu membentuk pola menyerupai butiran beras yang tersebar di seluruh bilah.

    Demikian pula pamor Nagasasra dan Nogo Siluman, yang bukan sekadar karya seni, tetapi menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mengendalikan aliran logam selama proses penempaan agar menghasilkan pola sesuai rancangan. Di balik keindahan visualnya tersimpan pengetahuan teknik yang tidak sederhana.

    Sejarah juga mencatat bagaimana Pemerintah Belanda beberapa tahun lalu mengembalikan Keris Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro yang selama lebih dari satu abad berada di negeri tersebut. Peristiwa itu mengingatkan bahwa keris bukan sekadar benda antik, melainkan bagian penting dari identitas dan sejarah bangsa yang harus dijaga.

    Oleh karena itu, cara terbaik menghormati keris bukan hanya dengan menyimpannya di museum atau menganggapnya sebagai benda pusaka, melainkan menjadikannya objek penelitian, kajian akademik, dan sumber inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Mahasiswa teknik material, metalurgi, sejarah, arkeologi, hingga budaya seharusnya menjadikan keris sebagai laboratorium hidup yang menunjukkan betapa tingginya peradaban Nusantara pada masanya.

    Generasi muda jangan mudah menerima narasi yang menyederhanakan keris hanya sebagai benda mistis atau simbol feodalisme. Di balik setiap bilah keris terdapat perpaduan antara ilmu pengetahuan, teknologi, seni, etika, filosofi, dan spiritualitas yang membentuk satu kesatuan peradaban.

    Bangsa yang besar adalah bangsa yang memahami warisan intelektual leluhurnya. Keris membuktikan bahwa jauh sebelum istilah material science, engineering, atau metallurgy dikenal luas di dunia modern, para empu Nusantara telah menghasilkan karya yang hingga kini masih mengundang kekaguman para peneliti.

    Keris bukan sekadar senjata. Ia adalah manuskrip ilmu pengetahuan yang ditulis dengan bara api, palu, dan ketekunan para empu. Tugas generasi muda hari ini adalah membaca kembali manuskrip itu dengan kacamata ilmu pengetahuan, bukan terjebak pada framing yang selama berabad-abad telah mengaburkan makna sesungguhnya.

  • Herman Yoseph Fernandez: Mengorbankan Jiwa Raganya untuk Kemerdekaan Indonesia – Pahlawan Muda yang Patut Dicontoh Generasi Muda

    Herman Yoseph Fernandez: Mengorbankan Jiwa Raganya untuk Kemerdekaan Indonesia – Pahlawan Muda yang Patut Dicontoh Generasi Muda


    Oleh Yoseph Yapi Taum

     

    Setiap generasi mempunyai pahlawannya sendiri. Generasi 1945 memiliki tokoh-tokoh muda yang mempertaruhkan masa depan demi lahirnya Indonesia merdeka. Namun, generasi muda Indonesia hari ini justru tumbuh di tengah kelimpahan informasi tanpa cukup mengenal sosok-sosok sebaya yang pernah mengorbankan hidupnya bagi republik ini. Di sinilah kisah Herman Yoseph Fernandez menjadi sangat relevan. Ia bukan jenderal, bukan politikus, bukan pula tokoh yang menikmati hasil kemerdekaan. Ia hanyalah seorang tentara pelajar berusia 22 tahun yang memilih mengorbankan nyawanya agar orang lain dapat hidup dan Indonesia tetap berdiri.

    Di tengah derasnya budaya digital yang sering mengukur keberhasilan melalui jumlah pengikut media sosial, kekayaan, atau popularitas, Herman menghadirkan ukuran yang berbeda: hidup yang berarti adalah hidup yang dipersembahkan bagi orang lain.

     

    Pahlawan dari Flores

    Herman Yoseph Fernandez yang berdarah Larantuka, lahir di Ende, Flores, pada 3 Juni 1925. Masa mudanya dihabiskan di Ende, kemudian bersekolah di HIK Muntilan (sekarang SMA Van Lith), salah satu sekolah guru paling bergengsi pada zamannya. Di sekolah inilah ia bertemu dengan pelajar-pelajar dari berbagai daerah Nusantara. Mereka datang dari Jawa, Sulawesi, Maluku, Sumatra, Kalimantan, Timor, dan Flores. Di tengah keberagaman itu, mereka belajar bahwa Indonesia bukan sekadar gugusan pulau, melainkan sebuah cita-cita bersama. Pengalaman inilah yang membentuk nasionalisme Herman jauh sebelum republik benar-benar mapan.

    Nasionalisme Herman tidak lahir dari slogan. Ia lahir dari perjumpaan. Ketika Jepang menutup sekolahnya, Herman tidak pulang ke Flores. Ia memilih tetap tinggal di Jawa, menjadi romusha di Tambang Bayah, lalu bergabung dengan Tentara Pelajar ketika Belanda kembali menyerbu Indonesia. Pilihan itu menunjukkan bahwa tanah air baginya bukan sekadar tempat kelahiran, melainkan ruang kehidupan yang harus dipertahankan bersama.

    Inilah pelajaran pertama bagi Generasi Z: cinta tanah air bukanlah retorika, melainkan kesediaan memikul tanggung jawab bersama. Pada zaman Herman, tanggung jawab itu berupa mengangkat senjata. Pada zaman sekarang, bentuknya tentu berbeda. Ia hadir dalam kejujuran, prestasi, kerja keras, kepedulian terhadap lingkungan, literasi digital, serta keberanian melawan korupsi, hoaks, dan politik kebencian. Nasionalisme hari ini tidak lagi diukur dari keberanian menghadapi peluru, tetapi dari keberanian menjaga Indonesia tetap utuh dalam kehidupan sehari-hari.

     

    Lintas Etnis dan Agama

    Pelajaran kedua justru lebih menarik. Herman berasal dari Flores dan dibesarkan dalam tradisi Katolik yang kuat. Namun, sahabat-sahabat seperjuangannya berasal dari berbagai suku dan agama. Salah seorang yang paling dekat dengannya adalah Alex Rumambi dari Sulawesi. Di medan Sidobunder, ia juga bertempur bersama La Sinrang, pemuda Bugis Muslim yang berasal dari Sulawesi Selatan. Mereka tidak pernah bertanya siapa berasal dari mana atau memeluk agama apa. Yang mereka tahu hanya satu: mereka adalah orang Indonesia.

    Persahabatan lintas identitas itu mencapai puncaknya pada Pertempuran Sidobunder, 2 September 1947. Ketika Alex Rumambi terluka parah akibat tembakan Belanda, Herman kembali ke medan tempur yang telah dikuasai musuh. Ia mengangkat tubuh sahabatnya, membopongnya melintasi sawah dan sungai, lalu menyembunyikannya agar tidak ditemukan tentara Belanda. Dalam proses penyelamatan itulah Herman tertembak, ditangkap, dan akhirnya diadili oleh pengadilan militer kolonial. Alex Rumambi selamat. Herman tidak pernah kembali. Kesaksian Alex Rumambi, Frans Seda, dan rekan-rekan seperjuangan kemudian menjadi bagian penting dalam rekonstruksi sejarah perjuangannya.

    Bukankah kisah itu terasa sangat kontras dengan kenyataan hari ini? Kita hidup pada zaman ketika perbedaan agama, suku, bahkan pilihan politik sering dijadikan alasan untuk saling mencurigai. Padahal republik ini justru lahir karena anak-anak muda seperti Herman mampu melampaui sekat-sekat identitas tersebut. Mereka tidak memperjuangkan Flores, Jawa, Sulawesi, atau Maluku. Mereka memperjuangkan Indonesia.

    Karena itu, pelajaran kedua dari Herman adalah bahwa persahabatan adalah fondasi kebangsaan. Persatuan tidak dibangun pertama-tama oleh pidato politik, melainkan oleh kesediaan melihat sesama sebagai saudara, apa pun latar belakangnya.

     

    Pengorbanan Herman Yoseph Fernanadez

    Pelajaran ketiga merupakan puncak seluruh kisah Herman Yoseph Fernandez: pengorbanan. Sesudah ditangkap Belanda, Herman dihadapkan ke pengadilan militer (krijgsraad). Dalam persidangan itulah terjadi salah satu episode paling menggetarkan dalam sejarah revolusi Indonesia. Ketika Belanda mencari penembak seorang perwira mereka, Herman mengakui tuduhan tersebut, meskipun berbagai kesaksian menunjukkan bahwa pengakuan itu dilakukan untuk melindungi rekan seperjuangannya. Ia memahami konsekuensinya. Pengakuan itu berarti hukuman mati.

    Malam hari kemudian ia dieksekusi oleh Belanda. Hingga kini lokasi makamnya pun tidak diketahui secara pasti. Arsip-arsip Belanda mengenai krijgsraad dan praktik standrecht menunjukkan bahwa eksekusi terhadap pejuang Republik memang dilakukan dalam kerangka hukum kolonial yang menganggap mereka sebagai “pemberontak”, bukan sebagai tentara dari sebuah negara yang sedang memperjuangkan kemerdekaannya.

    Di sinilah Herman memberikan pelajaran yang paling sulit tetapi sekaligus paling penting bagi generasi sekarang: harga sebuah kehidupan bukan ditentukan oleh berapa lama seseorang hidup, melainkan untuk siapa ia hidup.

     

    Yang Dicari Remaja Indonesia

    Generasi Z tentu tidak diminta mengorbankan nyawa di medan perang. Namun mereka tetap menghadapi medan juang yang tidak kalah berat: krisis integritas, individualisme, polarisasi sosial, intoleransi, dan hilangnya kepercayaan terhadap institusi publik. Dalam menghadapi tantangan itu, Indonesia membutuhkan lebih banyak teladan daripada sekadar influencer. Indonesia memerlukan figur muda yang menunjukkan bahwa keberanian, solidaritas, dan pengabdian masih mungkin diwujudkan.

    Herman Yoseph Fernandez tidak pernah menjadi menteri, tidak pernah menjadi jenderal, bahkan tidak sempat menikmati kemerdekaan yang diperjuangkannya. Ia gugur pada usia ketika sebagian besar anak muda hari ini baru menyelesaikan pendidikan tinggi atau memulai karier. Namun justru karena usianya yang sangat muda itulah kisahnya terasa dekat dengan Generasi Z. Ia membuktikan bahwa usia muda bukan alasan untuk menunda pengabdian.

    Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mengenang para pahlawannya, melainkan bangsa yang terus melahirkan semangat kepahlawanan baru. Herman Yoseph Fernandez mengingatkan kita bahwa Indonesia membutuhkan pahlawan-pahlawan muda bukan untuk mengangkat senjata, melainkan untuk mengangkat martabat bangsanya. Dan mungkin, di tengah zaman yang semakin gaduh oleh kepentingan diri sendiri, itulah cahaya paling terang yang dapat diwariskan seorang tentara pelajar kepada generasi Indonesia hari ini.

     

    ——————————–

    Tentang Penulis

    *Yoseph Yapi Taum lahir di Ataili, Lembata, NTT, 16 Desember 1964. Saat ini menjadi ketua Program Studi Magister Sastra di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Pendidikan: (1) SMA Seminari San Dominggo, Hokeng (1984), (2) Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta (1984-1985) dari biara Oblat Maria Imaculata (OMI). (3) S-1 dari di IKIP Sanata Dharma (1990); (4) S-2 dari Universitas Gadjah Mada (1995); (5) S-3 dari FIB Universitas Gadjah Mada (2013) dengan disertasi berjudul Representasi Tragedi 1965: Kajian New Historicism atas Teks-teks Sastra dan Nonsastra Tahun 1966-1998. Melakukan penelitian tentang Konflik dan Kekerasan di Papua (2015-2016). Antologi puisinya Ballada Arakian (2015), Ballada Orang-orang Arfak (2019), dan Kabar dari Kampung (2023).

     

  • Kebudayaan dan Kebangsaan – 100 Tahun Kebangkitan Nasional

    Kebudayaan dan Kebangsaan – 100 Tahun Kebangkitan Nasional

     

    Oleh  Ignas  Kleden

     

    Ketika kesadaran kebangsaan dicetuskan di Indonesia pada awal abad ke-20, wacana politik berlangsung di atas atau di luar kebudayaan. Dengan istilah sekarang, nasionalisme yang digerakkan oleh para pemimpin pada waktu itu menghindari setiap kemungkinan identity politics (politik identitas). Seluruh rakyat dikerahkan untuk bersatu padu dan seakan harus ”melupakan” buat sementara waktu asal-usulnya, suku bangsanya, dan kelompok budayanya.

    Berlainan dengan nasionalisme di Barat yang berkembang dari kesadaran kebudayaan (berdasarkan Blut und Boden, darah dan tanah), nasionalisme Indonesia yang datang bagaikan puting beliung dari negeri-negeri yang jauh, diharap menggoyahkan sendi-sendi pemerintahan oleh penjajah asing. Nasionalisme Indonesia datang dengan watak suprakultural.

    Mohammad Yamin dan Roestam Effendi bolehlah dianggap sebagai penyair modern awal dalam sastra Indonesia Baru yang paling nasionalis. Keduanya berusaha menyanyikan Tanah Air dan kemerdekaan dalam sajak-sajak mereka, sudah pada awal tahun 1930-an, tetapi dengan menumpang metafora-metafora yang serba halus dan romantis, yang tak akan segera mengingatkan pembaca pada hasrat kemerdekaan.

    Yamin merindukan tanah airnya, tetapi itu seakan rindu seorang muda remaja untuk pulang kampung ke Sumatera dan Bukit Barisan meskipun pada akhir sebuah sajak keluar juga pemberontakan itu: ”Aduhai diriku sepantun burung/Mata lepas badan terkurung” (sajak ”Sungguhkah?”). Roestam Effendi melukiskan hasrat kemerdekaan dalam perjuangan cinta antara Bujangga dan gadis idamannya, Bebasari, yang berkata kepada kekasihnya: ”Akh untungku putung/Bilakan lepas dari dikurung”. Bujangga dan Bebasari tentulah variasi yang dibuat dari kata bujang dan bebas.

    Memang ada berbagai gerakan pemuda yang terhimpun dalam Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes, atau Jong Ambon, tetapi jelas itu bukanlah perhimpunan etnis untuk gerakan kebudayaan, melainkan komponen dari suatu gerakan besar nasionalis di kalangan pemuda di seantero negeri. Di kalangan pendidikan Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Siswa, tetapi itu bukanlah pendidikan berasaskan kebudayaan Jawa, melainkan berdasarkan kepercayaan diri seorang nasionalis, yang enggan bahwa pendidikan dijadikan alat kolonial. Di Sumatera, MS Latif mendirikan INS Kayutanam sebagai alternatif terhadap pendidikan kolonial, tetapi asasnya bukanlah kebudayaan Melayu, tetapi kemandirian orang merdeka.

    Di kalangan pemikir kebudayaan, S Takdir Alisjahbana mengumumkan penolakannya secara kategoris terhadap semua kebudayaan tradisional sebagai dasar masyarakat baru yang akan merdeka. Kembali ke kebudayaan tradisional adalah identik dengan kembali ke masa pra-Indonesia, yang akan membawa pertentangan etnis yang tak habis-habisnya di antara berbagai kelompok budaya.

    Usulnya untuk mengambil kebudayaan Barat sebagai model kebudayaan baru di Indonesia mendapat banyak pertentangan, tetapi sangat dapat dipahami sebagai bagian dari gerakan nasionalis yang bersifat suprakultural. Tidak ada kebudayaan di Indonesia yang melahirkan nasionalisme dan karena itu tidak ada kebudayaan di Indonesia yang dapat menjadi dasar masyarakat baru dalam alam kemerdekaan.

    Dalam sejarah politik Indonesia, kebudayaan barulah menjadi referensi kebangsaan pada saat penguasa menghadapi kesulitan karena politik yang mereka jalankan mulai bertentangan dengan kebangsaan dan kemerdekaan. Ketika Soekarno memberlakukan Demokrasi Terpimpin, dia mulai berbicara tentang kebudayaan sebagai kepribadian bangsa. Ketika Soeharto menghapuskan oposisi politik, dia juga rajin berbicara tentang nilai-nilai harmoni dalam kebudayaan.

    Sekarang ini otonomi daerah telah membuat setiap provinsi dan kabupaten giat mencari ekspresi dan simbol-simbol kebudayaan lokal sebagai ikon bagi otonomi politiknya. Pejabat dan politisi di tingkat nasional masih juga mengulang dalil bahwa politik nasional haruslah berdasarkan nilai-nilai budaya Indonesia, sementara korupsi berkembang biak dan berjalan mulus tanpa dipersoalkan apakah itu bagian kebudayaan Indonesia atau bukan.

    Akan tetapi, dengarlah kesaksian mereka yang benar-benar bekerja membangun kebudayaan: para pendidik, wartawan, ilmuwan, seniman, dan penyair Indonesia. Penyair Taufiq Ismail dalam ”Tirani dan Benteng” mengatakan: ”Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada tapi dalam/kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di/tumpukan jerami selepas menuai padi” (sajak ”Malu (aku) jadi orang Indonesia”).

    Kita jangan berpura-pura terhadap sejarah. Kebudayaan tak pernah melahirkan kebangsaan di bumi Nusantara. Kebangsaan adalah ibu yang harus melahirkan anak-anaknya: kebudayaan baru dalam alam kemerdekaan dan memberi mereka tugas sejarah untuk mewujudkan kemerdekaan bagi semua anggota bangsa. Mengutip Abraham Lincoln dalam sebuah pidatonya tahun 1862: ”Fellow citizens, we cannot escape history. No personal significance or insignificance can spare one or another of us…. We shall nobly save, or meanly lose, the last, best hope of earth” (Sesama warga negaraku, kita tak dapat menghindari sejarah. Penting-tidaknya diri kita tak dapat menyelamatkan siapa pun dari antara kita. Kita akan menyelamatkan secara bermartabat, atau kehilangan secara hina, harapan terakhir dan terbaik yang ada di bumi).

    Dalam kata-kata Chairil Anwar, kewajiban warga negara dan para pemimpin adalah: ”sekali berarti/sudah itu mati” (sajak ”Diponegoro”).

     

    *********************

    *) Ignas Kleden Sosiolog; Ketua Komunitas Indonesia untuk Demokrasi.

    *) Sumbert Tulisan nasional.kompas.com.

  • Dari Objek Menjadi Subjek Sejarah : Representasi Agensi Pribumi  dalam “Max Havelaar”dan “Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Multatuli dan Ahmad Tohari  

    Dari Objek Menjadi Subjek Sejarah : Representasi Agensi Pribumi  dalam “Max Havelaar”dan “Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Multatuli dan Ahmad Tohari  

     Oleh Marsiani Wisti, Mahasiswi Sejarah Universitas Sanata Dharma-Yogyakarta

     

     Sastra sering kali menjadi media untuk menggambarkan kondisi masyarakat pada suatu masa. Melalui karya sastra, pembaca dapat memahami bagaimana kehidupan sosial, budaya, dan politik memengaruhi kehidupan manusia. Salah satu hal yang menarik untuk dikaji dalam sastra adalah representasi tokoh pribumi dan bagaimana mereka digambarkan dalam menghadapi berbagai bentuk kekuasaan. Dalam konteks ini, novel Max Havelaar karya Multatuli dan Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari menjadi dua karya yang menarik untuk dibandingkan karena keduanya sama-sama menceritakan kehidupan masyarakat Indonesia, tetapi lahir dari konteks sejarah yang berbeda. Max Havelaar ditulis pada masa kolonial Belanda, sedangkan Ronggeng Dukuh Paruk ditulis pada masa Indonesia yang telah merdeka. Perbedaan konteks tersebut memengaruhi cara penulis menggambarkan tokoh pribumi dan tingkat agensi yang mereka miliki.

    Agensi dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan, bertindak sesuai kehendaknya, serta memengaruhi jalannya peristiwa meskipun berada dalam berbagai keterbatasan sosial, politik, maupun budaya. Dengan melihat agensi tokoh, kita dapat memahami apakah tokoh tersebut hanya menjadi korban keadaan atau mampu berperan sebagai pelaku yang menentukan nasibnya sendiri. Oleh karena itu, analisis terhadap agensi tokoh sangat penting untuk melihat bagaimana posisi tokoh pribumi dalam kedua novel tersebut.

    Dalam novel Max Havelaar, tokoh-tokoh pribumi umumnya digambarkan sebagai kelompok yang mengalami penderitaan akibat sistem kolonial. Tokoh seperti Saijah dan Adinda hidup dalam kemiskinan dan sering menjadi korban penyalahgunaan kekuasaan. Salah satu contoh yang terkenal adalah kisah kerbau milik keluarga Saijah yang dirampas sehingga keluarganya kehilangan alat utama untuk bertani. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kehidupan rakyat pribumi sangat bergantung pada kekuasaan para pejabat lokal dan pemerintah kolonial. Mereka memiliki keinginan dan harapan, tetapi tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk melawan sistem yang menindas mereka.

     “The Oppressed must be their own wxample in the struggle for their” (Kaum yang tertindas harus menjadi teladan bagi dirinya sendiri dalam perjuangan menuju pembebasan)

     Saijah sebenarnya memiliki agensi dalam kehidupan pribadinya. Ia berusaha bekerja keras dan bercita-cita membangun masa depan bersama Adinda. Namun, segala usaha tersebut terus terbentur oleh kondisi sosial dan politik yang tidak berpihak kepadanya. Akibatnya, Saijah lebih banyak tampil sebagai korban daripada sebagai tokoh yang mampu mengubah keadaan. Hal yang sama juga terlihat pada Adinda. Ia hampir tidak memiliki ruang untuk menentukan nasibnya sendiri dan lebih sering digambarkan sebagai simbol penderitaan rakyat pribumi di bawah kolonialisme.

    Selain itu, tokoh pribumi dalam Max Havelaar tidak menjadi pusat narasi. Cerita lebih banyak disampaikan melalui sudut pandang tokoh Eropa, terutama Max Havelaar. Walaupun Havelaar berusaha membela rakyat pribumi dan mengkritik ketidakadilan kolonial, suara rakyat pribumi tetap hadir melalui perantara tokoh non-pribumi. Dengan kata lain, rakyat pribumi menjadi objek yang diceritakan, bukan subjek yang menceritakan pengalamannya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa representasi tokoh pribumi dalam novel tersebut masih sangat dipengaruhi oleh cara pandang kolonial.

    Berbeda dengan Max Havelaar, novel Ronggeng Dukuh Paruk menampilkan tokoh-tokoh pribumi sebagai pusat cerita. Tokoh utama seperti Srintil dan Rasus digambarkan sebagai individu yang memiliki keinginan, harapan, serta kemampuan untuk mengambil keputusan. Pembaca tidak hanya melihat penderitaan mereka, tetapi juga dapat memahami pikiran dan perasaan mereka secara langsung. Dengan demikian, tokoh pribumi dalam novel ini tampil lebih kompleks dan lebih manusiawi.

    Srintil merupakan tokoh yang menarik karena ia berada di antara dua posisi sekaligus. Di satu sisi, ia memiliki pengaruh besar dalam masyarakat Dukuh Paruk karena statusnya sebagai ronggeng. Di sisi lain, kehidupannya juga dibatasi oleh adat dan harapan masyarakat. Banyak keputusan dalam hidupnya ditentukan oleh tradisi yang sudah mengakar kuat. Meskipun demikian, Srintil tetap berusaha mencari jati dirinya dan memahami apa yang sebenarnya ia inginkan dalam hidup. Hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki agensi, walaupun agensi tersebut tidak sepenuhnya bebas.

    Sementara itu, Rasus merupakan contoh tokoh yang memiliki tingkat agensi yang sangat kuat. Ia memilih meninggalkan Dukuh Paruk, menolak beberapa nilai tradisional yang ada di desanya, dan bergabung dengan militer untuk menentukan masa depannya sendiri. Keputusan-keputusan yang diambil Rasus tidak hanya memengaruhi kehidupannya, tetapi juga memengaruhi perkembangan cerita secara keseluruhan. Oleh karena itu, Rasus dapat dilihat sebagai tokoh yang benar-benar bertindak sebagai subjek sejarah.

    Jika dibandingkan, terdapat perbedaan yang cukup jelas dalam cara kedua novel menampilkan agensi tokoh pribumi. Dalam Max Havelaar, tokoh pribumi memang memiliki kehendak dan tujuan hidup, tetapi kemampuan mereka untuk memengaruhi jalannya sejarah sangat terbatas. Mereka lebih banyak menjadi korban dari sistem kolonial yang menindas. Sebaliknya, dalam Ronggeng Dukuh Paruk, tokoh-tokoh pribumi memiliki ruang yang lebih besar untuk menentukan pilihan hidup dan memengaruhi peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Meskipun masih menghadapi berbagai keterbatasan, mereka tidak sepenuhnya pasif.

    Perbedaan tersebut juga terlihat dari sudut pandang pengarang terhadap tokoh pribumi. Multatuli menulis Max Havelaar sebagai bentuk kritik terhadap kolonialisme Belanda. Ia menunjukkan simpati yang besar kepada rakyat pribumi dan berusaha membela mereka. Namun, sebagai seorang penulis Eropa, ia tetap melihat rakyat pribumi dari luar. Akibatnya, tokoh pribumi lebih sering tampil sebagai pihak yang membutuhkan pembelaan daripada sebagai pihak yang berbicara atas dirinya sendiri.

    Sebaliknya, Ahmad Tohari menempatkan tokoh-tokoh pribumi sebagai pusat pengalaman sejarah. Dalam Ronggeng Dukuh Paruk, pembaca diajak melihat dunia melalui kehidupan masyarakat desa. Tokoh-tokohnya diberi ruang untuk menyampaikan pandangan, perasaan, dan pergulatan hidup mereka. Pengarang tidak hanya menunjukkan penderitaan mereka, tetapi juga memperlihatkan bagaimana mereka berusaha menghadapi dan merespons perubahan sosial yang terjadi di sekitar mereka.

    Perbedaan representasi ini tidak dapat dipisahkan dari konteks sejarah kedua novel. Max Havelaar lahir pada masa kolonial ketika hubungan antara penjajah dan masyarakat pribumi bersifat tidak setara. Dalam situasi tersebut, rakyat pribumi memang memiliki akses yang sangat terbatas terhadap kekuasaan. Oleh karena itu, mereka lebih sering digambarkan sebagai korban eksploitasi dan ketidakadilan.

    Sebaliknya, Ronggeng Dukuh Paruk ditulis pada masa pascakemerdekaan. Fokus cerita tidak lagi berada pada hubungan antara penjajah dan yang dijajah, melainkan pada persoalan yang muncul dalam masyarakat Indonesia sendiri, seperti kemiskinan, tradisi, relasi gender, dan dampak konflik politik tahun 1965. Walaupun tokoh-tokohnya masih menghadapi berbagai bentuk tekanan sosial, mereka memiliki ruang yang lebih besar untuk menentukan sikap dan mengambil keputusan.

    Dari perbandingan tersebut dapat dilihat adanya pergeseran penting dalam representasi tokoh pribumi. Dalam Max Havelaar, tokoh pribumi lebih banyak ditampilkan sebagai objek penderitaan sejarah. Mereka menjadi bukti ketidakadilan kolonial dan berfungsi untuk memperkuat kritik pengarang terhadap pemerintah Belanda. Sementara itu, dalam Ronggeng Dukuh Paruk, tokoh pribumi tidak hanya mengalami sejarah, tetapi juga ikut membentuk sejarah melalui pilihan dan tindakan mereka. Mereka menjadi subjek yang aktif, bukan sekadar korban yang pasif.

    Berdasarkan analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat perubahan yang cukup signifikan dalam cara sastra menggambarkan tokoh pribumi. Max Havelaar masih menempatkan tokoh pribumi sebagai objek penderitaan yang suaranya banyak disampaikan melalui tokoh non-pribumi. Sebaliknya, Ronggeng Dukuh Paruk memberikan ruang yang lebih besar bagi tokoh pribumi untuk berbicara, bertindak, dan menentukan nasibnya sendiri. Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran dari tokoh pribumi sebagai objek sejarah menjadi subjek sejarah yang memiliki suara, pilihan, dan agensi dalam menghadapi berbagai perubahan sosial dan politik. Pergeseran tersebut sekaligus mencerminkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap peran individu dalam sejarah, dari yang semula dipandang sebagai korban keadaan menjadi pelaku yang mampu memberi makna terhadap kehidupannya sendiri.

    —————————-

    Referensi :

    Multatuli. (2019) Max Havelaar (Terjemahan H.B. Jassin). Jakarta: Hasta Mitra

    Tohari, A. (2011). Ronggeng Dukuh Paruk. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

    Rumadi, H. (2020). Representasi mitologis budaya dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Equilibrium: Jurnal Pendidikan, 8(1), 30–39. https://doi.org/10.26618/equilibrium.v8i1.3095

     

     

  • Representasi Perlawanan terhadap Kolonialisme dalam Film “Soekarno” (2013)

    Representasi Perlawanan terhadap Kolonialisme dalam Film “Soekarno” (2013)

     

    Oleh Roselina Chelsa Mantur, Mahasiswi Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    Film sebagai media audio visual memiliki kemampuan yang besar dalam menyampaikan peristiwa sejarah kepada masyarakat. Melalui film, suatu peristiwa masa lalu dapat dihadirkan kembali dalam bentuk gambar, dialog, dan alur cerita yang mampu membangun pemahaman sejarah secara lebih mudah. Selain berfungsi sebagai hiburan, film juga menjadi media pendidikan yang dapat menanamkan nilai-nilai perjuangan, nasionalisme, dan kesadaran sejarah kepada penontonnya. Salah satu film sejarah Indonesia yang memiliki peranan tersebut adalah Soekarno (2013) yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo.

    Film Soekarno menceritakan perjalanan hidup Soekarno sejak masa muda hingga peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Di dalam film ini ditampilkan berbagai kondisi masyarakat Indonesia pada masa kolonial Belanda, mulai dari penindasan politik, pembatasan kebebasan, hingga perjuangan tokoh-tokoh nasional dalam memperjuangkan kemerdekaan. Melalui berbagai adegan yang ditampilkan, film ini menghadirkan representasi mengenai perlawanan bangsa Indonesia terhadap kolonialisme.

    Kolonialisme Belanda dalam film digambarkan sebagai sistem kekuasaan yang menempatkan rakyat Indonesia dalam posisi yang tertindas. Pemerintah kolonial melakukan pengawasan terhadap organisasi pergerakan, membatasi kebebasan berbicara, dan menindak para tokoh yang dianggap mengancam kekuasaan mereka. Kondisi tersebut menciptakan ketidakadilan sosial dan politik yang mendorong lahirnya gerakan perlawanan nasional.

    Tokoh Soekarno menjadi pusat representasi perlawanan dalam film ini. Ia digambarkan sebagai seorang pemimpin yang memiliki kemampuan berbicara dan menyampaikan gagasan yang mampu membangkitkan semangat rakyat. Pidato-pidato yang disampaikan Soekarno tidak hanya berisi kritik terhadap penjajahan, tetapi juga menanamkan keyakinan bahwa bangsa Indonesia memiliki hak untuk merdeka dan menentukan nasibnya sendiri.

    Perlawanan yang ditampilkan dalam film tidak hanya berbentuk perjuangan fisik, melainkan juga perjuangan melalui pemikiran dan organisasi. Soekarno bersama tokoh-tokoh pergerakan lainnya berusaha membangun kesadaran nasional melalui pendidikan politik dan semangat persatuan. Mereka meyakini bahwa kemerdekaan hanya dapat dicapai apabila seluruh rakyat Indonesia bersatu melawan kolonialisme.

    Film ini juga memperlihatkan tindakan represif yang dilakukan pemerintah kolonial terhadap para tokoh nasional. Penangkapan dan pengasingan Soekarno menjadi salah satu bentuk upaya Belanda untuk menghentikan pergerakan nasional. Namun, tindakan tersebut tidak mampu memadamkan semangat perjuangan. Sebaliknya, pengalaman pengasingan justru memperkuat tekad Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

    Nasionalisme menjadi salah satu unsur penting yang direpresentasikan dalam film. Semangat persatuan yang melampaui perbedaan suku, agama, dan daerah digambarkan sebagai kekuatan utama dalam melawan penjajahan. Film menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan bukan hanya perjuangan individu, melainkan perjuangan seluruh rakyat Indonesia yang memiliki cita-cita bersama untuk hidup merdeka.

    Puncak perlawanan terhadap kolonialisme dalam film ditampilkan melalui peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pembacaan teks proklamasi menjadi simbol berakhirnya kekuasaan kolonial dan lahirnya bangsa Indonesia sebagai negara yang merdeka. Adegan tersebut menggambarkan hasil dari perjuangan panjang yang dilakukan oleh para tokoh nasional dan rakyat Indonesia.

    Melalui film Soekarno, perlawanan terhadap kolonialisme direpresentasikan sebagai perjuangan yang melibatkan keberanian, pengorbanan, persatuan, dan kesadaran nasional. Film ini memperlihatkan bahwa kemerdekaan tidak diperoleh dengan mudah, tetapi melalui proses panjang yang penuh tantangan dan pengorbanan.

    Pada akhirnya, Soekarno (2013) tidak hanya menjadi film biografi seorang tokoh nasional, tetapi juga menjadi media yang merepresentasikan perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme. Film ini mampu menghadirkan nilai-nilai nasionalisme dan semangat perjuangan yang tetap relevan bagi generasi masa kini. Oleh karena itu, film Soekarno dapat dipahami sebagai media pembelajaran sejarah yang membantu masyarakat memahami makna perjuangan kemerdekaan Indonesia.

     

  • Di Balik Tembok Tradisi, Tumbuh Sebuah Harapan: Perjuangan Kartini dalam Film “Kartini ” (2017) Karya Hanung Bramantyo

    Di Balik Tembok Tradisi, Tumbuh Sebuah Harapan: Perjuangan Kartini dalam Film “Kartini ” (2017) Karya Hanung Bramantyo

     

    Oleh Ceacilia Dewi Paskawati, Mahasiswi Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

     

    Ada masa ketika mimpi seorang perempuan seakan terhenti di hadapan tembok tradisi yang kokoh. Pendidikan dibatasi, pilihan dipersempit, dan masa depan sering kali ditentukan oleh adat yang diwariskan turun-temurun. Namun, setiap perubahan besar selalu berawal dari keberanian untuk mempertanyakan hal-hal yang dianggap wajar. Ketidakadilan ini melahirkan semangat emansipasi yang menuntut kesempatan yang sama bagi perempuan. Emansipasi pada akhirnya menjadi perjuangan untuk memperoleh kebebasan dalam menentukan jalan hidup.

    Dari kegelisahan terhadap ketidakadilan tersebut, lahirlah sosok pelopor emansipasi perempuan di Indonesia, Raden Ajeng Kartini. Melalui pemikiran, tulisan, dan tindakannya, ia berusaha membuka jendela bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan dan kesempatan yang lebih luas dalam mengembangkan diri. Gagasan-gagasannya terus hidup hingga kini dan dihadirkan kembali melalui film Kartini. Film tersebut menggambarkan perjuangan Kartini menghadapi berbagai batasan budaya demi mewujudkan harapan akan kehidupan yang lebih setara.

    Lebih dari sekadar mengisahkan perjalanan hidup seorang tokoh, film Kartini membentuk sejarah menjadi sebuah kisah yang penuh makna. Berbagai peristiwa dalam kehidupan Kartini dirangkai sebagai cerita tentang perjuangan melawan ketidakadilan dan keterbatasan. Melalui narasi romansa, Kartini digambarkan sebagai sosok yang tetap teguh meskipun dihadapkan pada berbagai rintangan, sementara tradisi yang membatasi perempuan hadir sebagai hambatan yang harus dihadapi. Dengan demikian, sejarah Kartini dibangun sebagai kisah yang tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menghadirkan harapan dan inspirasi bagi masa depan.

    Karakter romansa dalam film Kartini mulai terlihat ketika Kartini menghadapi tradisi pingitan dan berbagai aturan yang membatasi kebebasan perempuan. Hambatan tersebut tidak digambarkan sebagai akhir perjalanan, melainkan sebagai awal dari sebuah perjuangan yang panjang. Di tengah keterbatasan, Kartini berani membayangkan kehidupan yang lebih baik dan setara. Perjalanan dari pengekangan menuju harapan inilah yang menjadi ciri utama narasi romansa dalam film.

    Nuansa romansa semakin kuat melalui penggambaran Kartini sebagai perempuan yang berani menentang batas-batas zamannya. Ia memperjuangkan pendidikan, kebebasan berpikir, dan kesempatan yang setara bagi perempuan, sementara tradisi patriarki menjadi hambatan utama yang dihadapinya. Pertentangan tersebut menjadi pusat perjalanan cerita dan menunjukkan keteguhan Kartini dalam menghadapi berbagai larangan. Dengan demikian, film menggambarkan pertemuan antara masa lalu yang ingin dipertahankan dan masa depan yang sedang diperjuangkan.

    Film Kartini membangun keyakinan bahwa perubahan lahir dari gagasan yang diperjuangkan dengan keberanian dan keteguhan hati. Semakin besar rintangan yang dihadapi, semakin kuat pula tekad Kartini untuk memperjuangkan apa yang dianggap benar. Film ini menunjukkan bahwa satu suara dapat mengguncang aturan yang telah lama dianggap mutlak. Karena itu, Kartini hadir sebagai simbol harapan dan inspirasi bagi lahirnya kemajuan.

    Puncak narasi romansa terletak pada makna perjuangan Kartini yang menghasilkan kemenangan moral. Kemenangan tersebut tercermin melalui tumbuhnya kesadaran akan pentingnya pendidikan dan kebebasan bagi perempuan. Meskipun hidup dalam berbagai keterbatasan, gagasan-gagasannya terus memberi pengaruh bagi generasi berikutnya. Melalui hal itu, film membingkai sejarah sebagai kisah tentang keyakinan yang mampu melampaui zamannya.

    Film Kartini tidak hanya mengisahkan perjuangan seorang tokoh sejarah, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai yang tetap relevan hingga kini. Melalui sosok Kartini, penonton diajak memahami pentingnya keberanian dalam memperjuangkan kebenaran dan kesetaraan. Film ini juga menegaskan bahwa pendidikan merupakan jalan penting untuk melawan keterbelakangan dan ketidakadilan. Karena itu, kisah Kartini tidak hanya layak dikenang, tetapi juga direnungkan oleh setiap generasi.

    Meski demikian, narasi romansa dalam film ini memiliki keterbatasan karena terlalu berfokus pada sosok Kartini sebagai pahlawan. Kompleksitas sejarah, seperti konflik sosial dan perbedaan pandangan masyarakat pada masa kolonial, cenderung disederhanakan agar cerita lebih mudah dipahami. Akibatnya, sejarah lebih banyak ditampilkan sebagai kisah yang mengarah pada harapan dan kemenangan moral. Namun, penyederhanaan tersebut justru membuat pesan emansipasi lebih kuat dan mudah diterima penonton.

    Pada akhirnya, kekuatan film Kartini terletak pada kemampuannya mengubah sejarah menjadi kisah yang menyentuh emosi dan membangkitkan refleksi. Melalui narasi romansa, perjuangan Kartini dipahami sebagai pengingat bahwa perubahan selalu berawal dari keberanian melawan ketidakadilan. Meskipun hidup lebih dari satu abad yang lalu, gagasan dan semangat perjuangannya masih relevan hingga kini. Seperti ungkapan “Habis Gelap Terbitlah Terang,” film ini menegaskan bahwa harapan selalu dapat lahir dari perjuangan.