Category: TEROPONG

  • Peluncuran Dua Buku tentang Ingatan Kolektif Timor Leste Pascakonflik di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta: Apa yang Mau Kita Wariskan?

    Peluncuran Dua Buku tentang Ingatan Kolektif Timor Leste Pascakonflik di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta: Apa yang Mau Kita Wariskan?

     

    Jakarta berandanegeri.com.  Di luar hal-hal yang bersifat teknis dan formal dalam upaya rekonsiliasi Indonesia – Timor-Leste pascakonflik, pertanyaan substansial yang perlu direfleksikan secara serius dan mendalam adalah, Apa yang mau kita wariskan dari semua peristiwa konflik dan kekerasan ini kepada anak-cucu kita kelak? Pertanyaan ini sangat penting karena konflik dan permusuhan juga dapat diwariskan ke generasi-generasi berikutnya,” demikian disampaikan Hilmar Farid, B.A., M.A., Ph.D., Mantan Dirjen Kebudayaan Indonesia, sebagai final reviewer dalam acara Peluncuran Dua Buku tentang Ingatan Kolektif Timor Leste Pasca Konflik di Jakarta.

    Acara peluncuran dan diskusi buku yang berfokus pada sejarah Timor-Leste berlangsung dalam dialog hangat dan akademis di Ruang Seminar Lt. 3, Gedung AB, Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta pada Kamis, 21 Agustus 2025. Acara ini menjadi wadah penting bagi para akademisi, sejarawan, dan publik untuk menggali lebih dalam kisah-kisah masa lalu Timor-Leste dan memori kolektifnya melalui dua buku “Jejak Jejak Ingatan” dan “Meraih Cahaya“.

    Acara yang berlangsung dari pukul 13.00 hingga 16.30 WIB ini menghadirkan serangkaian pembicara ternama yang memiliki latar belakang dan keahlian mendalam terkait isu Timor-Leste. Mereka adalah: Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. (penulis buku dan pembicara utama), Hugo Maria Fernandes (Direktur Eksekutif Centro Nacional Chega! I.P., Penanggap), Rev. Arlindo F. Marcal (Centro Nacional Chega! I.P., Penanggap), Teguh Prasetyo, M.Hum. (Dosen UKI, Penanggap), Prof. Dr. Asvi Warman Adam (Purna Bakti Peneliti BRIN, Penanggap), Basilio Dias Araujo, S.S., S.H., M.H. (Alumni UKI Jakarta, Penanggap), dan Hilmar Farid, B.A., M.A., Ph.D. (Mantan Dirjen Kebudayaan Indonesia, Final Reviewer).

    Selain itu, dalam momen penting diskusi ini hadir pula Jaime  Andre Simoes, Atase Pendidikan Kedutaan Besar RDTL bagi Indonesia, Dr. F.X. Baskara T. Wardaya, SJ, pendiri Pusdema, dan  Eurico Guterres, Ketua DPP Forum Komunikasi Pejuang Timor-Timur (FKPTT) yang turut mendukung sejak awal upaya-upaya rekonsiliasi yang saat ini sedang dikerjakan bersama. Acara peluncuran dan diskusi buku disambut dan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UKI Dr. rer.po. Ied Veda R. Sitepu, S.S., M.A.

     

    Hegemoni Sejarah

    Diskusi yang dipandu oleh Susanne A.H. Sitohang, S.S., M.A. sebagai moderator ini berlangsung interaktif dan membuka wawasan-wawasan baru. Para pembicara secara bergantian membedah isi kedua buku, menyoroti pentingnya merekam sejarah dari perspektif yang beragam, serta relevansinya bagi generasi saat ini dan mendatang. Topik-topik yang dibahas tidak hanya mencakup catatan historis, tetapi juga implikasi sosial, budaya, dan politik dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di Timor-Leste.

    Teguh Prasetyo mengawali tanggapannya dengan memanggil memori masa kecilnya tentang Timor-Leste yang disebut sebagai hegemoni Orde Baru, ketika melihat tidak ada masalah di Timor-Leste. Namun, memasuki usia dewasa, Teguh memasuki atmosfer pembacaan ulang narasi dan periode kritis. Transformasi ini ditemuinya ketika berjumpa dengan cerpen Saksi Mata, Jazz Parfume, Insiden, dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara.

    “Ada yang tidak baik-baik saja. Ada historisitas, kontestasi narasi, ini adalah hegemoni politik yang kemudian saya tangkap. Secara khusus dari kedua buku ini saya melihat ambiguitas dan strategi naratif dalam karya yang menarik. Buku ini berfokus pada pembacaan memori kolektif yang disusun sebagai upaya narasi rekonsiliasi dan pengingat bahwa kejahatan perang tidak boleh sampai terulang.  Di sisi lain, narasi yang ditawarkan juga mencoba untuk menyuarakan yang lirih dan selama ini kurang terdengar agar menjadi tinjauan bersama membentuk pemahaman intersubjektif yang berujung pada kemanusiaan yang adil dan beradab,” simpul Teguh dalam paparannya.

    Situs-Situs Ingatan

    “Membaca kedua buku ini membuat saya teringat dengan karya Les Lieux de Mèmoire yang hampir serupa. Dengan menghadirkan berbagai situs ingatan baik fisik maupun non-fisik, sebagai ruang atau simbol bagi memori kolektif suatu kelompok, bangsa, atau komunitas. Situs ini dipilih dan diberi makna khusus karena dianggap penting dalam membentuk identitas dan ingatan bersama,” ujar Asvi.

    Salah satu situs ingatan yang menarik untuk dilihat bersama adalah keberadaan peringatan Hari Pemuda Nasional Timor-Leste setiap 12 November. Bagi Asvi, hal ini memiliki sebuah titik balik yang menarik bagaimana sebuah peristiwa tragedi Pembantaian Santa Cruz 12 November 1991, ditransformasikan sebagai Hari Pemuda Nasional sebagai upaya merawat ingatan bersama tersebut. Selain itu Asvi juga menyoroti perihal rekonsiliasi setengah hati ketika keadilan atas tragedi HAM di masa lalu belum mampu ditegakkan.

     

    Lanskap Spiritual Timor Leste

    Arlindo, menyoroti bagaimana agama memiliki peran dalam proses rekonsiliasi di Timor-Leste. “Agama tidak hanya menjadi penopang spiritual, tetapi juga bertindak sebagai kekuatan fundamental yang mendorong perdamaian dan keadilan.” Selama masa konflik, Gereja menjadi salah satu institusi terpenting yang memberikan perlindungan dan tempat aman bagi masyarakat. Lebih dari itu, Gereja juga menjadi suara non-kekerasan yang dapat menjadi ruang  kritis atas kekejaman dan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi.

    Dalam tanggapannya Hugo menguraikan latar belakang proyek penelitian kerjasama antara CNC dan PUSDEMA ini dikerjakan sebagai salah satu langkah untuk merawat ingatan kolektif dan usaha-usaha rekonsiliasi. “Untuk memperkuat hubungan Timor-Leste dengan Indonesia, salah satunya dapat ditempuh dengan menulis sejarah bersama,” ungkapnya dalam penutup tanggapan. Lain halnya dengan Basilio, yang melihat proses rekonsiliasi ini masih memiliki pekerjaan rumah (PR). Dialog yang penuh persaudaraan, melihat bahwa setiap pihak juga sama-sama menderita menjadi hal yang perlu diperhatikan pula.

    Warisan Kekerasan

    Menurut salah satu panitia, acara ini bertujuan untuk melestarikan memori kolektif dan mendorong dialog yang konstruktif tentang masa lalu. Buku-buku ini diharapkan dapat menjadi sumber referensi berharga bagi para peneliti dan mahasiswa yang tertarik pada studi sejarah dan hubungan internasional.

    Sebagai sebuah penutup, Hilmar Farid merangkum segala dinamika dalam diksusi melalui sebuah refleksi mendalam berangkat dari sebuah pertanyaan mendasar. “Apa yang ingin kita wariskan pada generasi selanjutnya di Timor-Leste dan Indonesia? Apakah kemarahan? Kesedihan? Ketidaktahuan? Atau harapan? Lalu mengapa kita mau melakukan ini? (upaya-upaya rekonsiliasi).”

    Menurutnya, generasi muda Timor-Leste maupun Indonesia perlu diberikan akses untuk saling mengenal satu sama lain, hal ini dapat ditempuh setelah pertanyaan mendasar tentang apa yang ingin diwariskan kepada generasi mendatang itu dapat terjawab. Selain itu, Hilmar Farid juga memberikan saran bahwa perlu untuk memperharikan berbagai situs ingatan yang ada, tidak hanya tentang keberadaan situsnya melainkan juga bagaimana situs ini mampu membangkitkan ‘suasana’. Hal ini penting karena situs-situs ini hidup dalam keseharian masyarakat dan memberikan ruang bagi ingatan bersama ini hidup dan diwariskan untuk menjadi sebuah refleksi bersama.

    Acara yang terselenggara berkat kerja sama CNC!I.P, PUSDEMA dan UKI ini menarik perhatian puluhan peserta.  Peluncuran dua buku ini menjadi pengingat bahwa sejarah adalah fondasi penting untuk memahami identitas suatu bangsa dan membangun masa depan yang lebih baik, di mana cahaya pemahaman dan rekonsiliasi dapat terus diraih.

    Peluncuran dua buku ini menjadi pengingat bahwa sejarah adalah fondasi penting untuk memahami identitas suatu bangsa dan membangun masa depan yang lebih baik, di mana cahaya pemahaman dan rekonsiliasi dapat terus diraih. (Patria Budi Suharyo)

     

  • Jalan Memperpanjang Ingatan

    Jalan Memperpanjang Ingatan

     

    Oleh Herlambang Jaluardi dan Mohammad Hilmi Faiq

     

    Ungkapan “selembar foto melebihi 1.000 kata” dihayati fotografer Oscar Motuloh (64) melebihi apa pun. Dalam setiap lembar foto terkandung citra, kata, bahkan irama yang memperkaya cerita dalam foto tersebut. Pemahaman dan laku ini memberinya gelar Empu Ageng – setara doktor honoris causa bidang Fotografi Jurnalistik dari kampus ISI Yogyakarta.

     

    Dua pekan berlalu sejak Indonesia memilih presiden kedelapan. Obrolan tentang iklim demokrasi pascapemilu masih hangat. Belum lama pula seorang fotografer senior berkomentar miring tentang Aksi Kamisan yang rutin digelar di depan Istana Presiden sejak 2007 menuntut penuntasan kasus kejahatan berat HAM.

    Oscar tak mengikuti ributribut di jagat maya itu. Dia memang menjaga jarak dengan perangkat ponsel dan segala rupa media sosial. Melalui kawan-kawan di sekitarnya, keriuhan itu sampai juga di telinganya, yang terselip di antara helai-helai rambut panjangnya. Keriuhan itu, kata Oscar, buntut dari ingatan pendek yang menjangkiti orang-orang sekarang ini.

    “Semua (informasi) yang dibutuhkan hadir secara instan di sini (mengangkat ponselnya). Karena mudah didapat, informasi itu tidak (benar-benar) menempel di memori. Dampaknya, kejadian besar cepat dilupakan. Reformasi itu, kan, baru terjadi sekitar 25 tahun lalu,” kata Oscar, Rabu (28/2/2024), di ruang perpustakaan Yayasan Matawaktu, Jakarta Selatan.

    Ruangan itu dipenuhi sekitar 4.000 judul buku aneka topik, mulai dari biografi, sejarah, musik, hingga komik. Terpampang tulisan besar-besar kutipan dari Proklamator Mohammad Hatta, “Dengan buku aku bebas”.

    Obrolan iklim politik Indonesia tahu-tahu berbelok ke cerita masa silam di Chile tahun 1973. Saat itu, terjadi kudeta berdarah yang dilakukan rezim militer Augusto Pinochet pada Pemerintahan Salvador Allende. Oscar menuturkan, kudeta itu bernama operasi “The Jakarta Method”. Penamaan itu, katanya, merujuk pada metode perebutan kekuasaan yang berlumur darah di Indonesia pada periode 1965-1966.

    Oscar mempelajari kisah itu dari buku berjudul The Jakarta Method Wushington’s Anticommunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World (2020). Buku tebal rmuansa merah yang disusun mantan koresponden The Washington Post di Indonesia, Vincent Bevins, itu tergeletak di hadapannya ketika dia bercerita. Kopi hitam menghangatkan obrolan.

    Oscar juga memutar lagu “They Dance Alone” dari Sting yang bercerita tentang para ibu di Chile yang kehilangan suami dan anak dalam masa pergolakan itu. Kisah lagu itu dekat dengan Aksi Kamisan yang  digerakkan Sumarsih, ibu dari Bernardinus Realino Norma Irawan, mahasiswa yang tewas tertembak dalam Tragedi Semanggi 1998.

    ”Wartawan foto ada di garis depan saat peristiwa-peristiwa besar itu terjadi. Mereka ibarat tiang dekat gawang. Kepekaan para jurnalis foto memengaruhi cerita yang mereka laporkan dari garis depan. Cerita pada foto jadi pemantik yang mengingatkan pada peristiwa tertentu,” kata Oscar.

    Kembali ke buku

    Buku adalah salah satu sumber untuk mempertajam kepekaan jurnalis foto, dan tentu saja, jurnalis pada umumnya. Ketika dia masih menjadi penanggung jawab dan kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara, Oscar menyediakan buku referensi. Pembukaan pameran pun diiringi pertunjukan musik, yang menurut Oscar perlu untuk memperkaya horizon pewarta foto. |

    Dalam dua tahun terakhir, ketika purnatugas, Oscar melanjutkan pola itu pada Yayasan Matawaktu, yang dia dirikan dan jalankan bersama sejumlah temannya. Yayasan ini adalah organisasi nirlaba yang mengemban misi pengarsipan, penelitian dan publikasi terkait seni visual khusunya fotografi.

    Ketika didatangi di ujung Februari itu, Matawaktu sedang menggelar pameran buku-buku foto bertajuk Pentas Buku Foto. Kuratornya empat perempuan fotografer. Sebagian buku yang dipajang dicetak mandiri.

    Gue mengampanyekan kembali ke buku. Seniman visual, khususnya fotografi, itu merekam waktu, peristiwa dari detik ke detik. Peristiwa ini jadi pengetahuan, yang nanti akan menjadi sejarah. Rangkuman cerita melalui foto akan menjadi catatan sejarah,”kata Oscar yang sore itu berkaus The Godfather, film yang diangkat dari novel karya Mario Puzo.

    Kantor yayasan itu juga menjadi ruang diskusi topik-topik terkini yang berhubungan dengan fotografi. Di akhir pekan sebelumnya, Matawaktu membedah perspektif fotografi dari pelaku yang berada di setiap pasangan kandidat presiden. Cerita-cerita dibalik “punggung” kandidat bergulir tanpa penghakiman instan—berkebalikan dengan kolom komentar di media sosial.

    Kantor Matawaktu yang mengontrak unit ruko di ITC Fatmawati itu, kata Oscar, tak hanya mewadahi disiplin fotografi saja. Beberapa waktu silam, mereka pernah memamerkan karya ilustrasi. April mendatang, bulan yang dikaitkan dengan perayaan Record Store Day di seluruh dunia, mereka juga berencana memajang karya-karya penting ranah musik Indonesia.

     
    Landasan musik

    Selain fotografi, musik adalah unsur penting dalam hidup Oscar. Dia mewarisi banyak koleksi piringan hitam dari ayahnya, yang mantan karyawan PT Pos Indonesia. Bukan sekadar mengumpulkan, Oscar juga menyusunnya dalam kategori spesifik. Penyimpanannya tak cuma dipisahkan berdasarkan genre, tetapi juga tahun perilisan dan asal musisinya. Dengan begitu, Oscar jadi tahu konteks peristiwa dan tempat apa dari sebuah album.

    Album-album musik itu tersumpan dj lantai tiga bangunan itu. ruangan yang tak dibuka untuk umum. Jumlahnya tak terkira. Ada yang disimpan di rak, ada yang ditumpuk dilantai. Ada pula rak kaca yang menyimpan patung-patung kecil musisi kawakan, seperti Slash dan Michael Jackson. Logo Rolling Stones dan Pink Floyd ada di beberapa tempat, termasuk di klosetnya.

    ”Zaman gue SD, bokap mengajak kami (Oscar dan saudara-saudaranya) mendengar lagu dari piringan hitam. Kami selalu punya ruang mendengar musik. Gue juga sempat lihat, tuh, bokap ngajak yokap dansa diiringi irama waltz,” kata Oscar yang semasa hidup berpindah-pindah karena mengikuti penempatan dinas sang ayah.

    Jalan hidupnya tak pernah lepas dari music. Catatan pengantar album (liner notes) di sampul piringan  hitam biasa jadi referensi baginya ketika menulis artikel. Ketika menjadi wartawan, pemutar musik dan album tak pernah ketinggalan setiap bepergian. Ingatan pada lagu memberinya imajinasi ketika memotret.

    “Kalau memotret pasar yang riuh, misalnya, gue ingat lagu-lagu karya Pat Metheny Trio,” kata Oscar yang juga bisa main gitar ini. Beberapa perjalanan panjang yang pernah ia lakoni lekat memorinya dengan referensi musik. Pat Metheny Trio itu, khususnya album Bright Size Life, misalnya, adalah salah satu yang mengiringinya ke Oslo, Norwegia, pada 2002.

    Saat meliput tragedi di Dili, Timor Timur (sekarang Timor Leste), pada 1991, Oscar diiringi Sting album The Dream of the Blue Turtles dan Nothing Like the Sun, Rolling Stones (Sticky Fingers), serta Santana (Abraxas dan Caravanserai).

    Sementara perjalanan ke tanah spiritual Golan, Jerusalem, pada 2000 ditemani album Brain Salad Surgery dari Emerson, Lake & Palmer: Ravi Shankar dan Philip Glass (Passages), The Beatles (Revolver dan Abbey Road): serta Metallica dan Michael Kamen (S & M).

    Foto-foto dari perjalanan itu seperti punya dimensi lain: tak sekadar gambar dua dimensi. Setiap foto seperti punya nada, ada kesan puitis yang menjadikannya lebih dari laporan jurnalistik. Kebiasaan itu masih dilakukan sampai sekarang. Oscar membawa pemutar CD jinjing, atau pelantang Bluetooth. Album yang nyaris selalu diangkut, misalnya, Kind of Blue dari Miles Davis, Dark Side of the Moon dari Pink Floyd, dan Nothing Like the Sun dari Sting. Di atas semua itu, Bob Marley wajib ada.  Ketika mengasuh Galeri Foto Jurnalistik Antara, Oscar sering mengundang band untuk tampil di pameran. “Selain berjejaring, gue mau jurnalis foto menjadikan musik sebagai referensi untuk merangsang imajinasi,”ujarnya.

     

    Gaya jurnalistik

    Karier Oscar di Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara bermula dari 1988. Setelah mengikuti pendidikan jurnalistik selama setahun, Oscar diterima jadi pekerja magang sebagai wartawan tulis. Pada 1990, atasannya meminta dia menjadi fotografer meski dia mengaku tak punya dasar foto- grafi. ”Asal tunjuk aja itu,” katanya terkekeh.

    Teknik fotografi ia pelajari sembari menjalani tugas barunya. Namun, kepekaan pada karya visual telah dipupuk sejak kecil dari banyak menonton film. Saat menonton di bioskop, Oscar mencatat adegan menarik, juga istilah-istilah perfilman. Dia mempelajari ciri khas gambar dan cara bertutur sutradara ternama, seperti Francis Ford Coppola, Martin Scorsese, atau Steven Spielberg.

    Selain dari bioskop, referensi tontonan dia dapat dari koleksi perpustakaan Kedutaan Besar Amerika Serikat karena dia menjadi anggota di situ semasa kuliah di Akademi Hubungan Internasional, Jakarta, Buku dan komik juga dia lahap. Khazanah teks dan visualnya jadi lengkap. Musik memperkuatnya.

    Maka, ketika bertugas sebagai fotografer Antara, Oscar memberi warna baru. Foto-foto yang dihasilkan tak melulu dokumentasi seremonial. Dia membubuhkan cita rasa seni. Foto jurnalistik jadi bersemiotika. Gaya ini dia kembangkan dan ia jadikan sebagai kurikulum di program pendidikan foto jurnalistik Antara mulai 1993.

    “Sejak itu, calon fotografer Antara harus ikut dua brevet pendidikan sebelum diangkat. Mereka wajib ikut pelatihan jadi wartawan tulis, baru belajar jadi wartawan foto,” katanya. Sejak jadi divisi sendiri bernama Antara Foto pada 2005, karya foto esai banyak dihasilkan pewarta foto Antara.

    Kiprah puluhan tahun Oscar di foto jurnalistik mendapat pengakuan akademis dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada September 2019, menjelang masa purnatugasnya di Antara.

    Pengetahuan, pengalaman, dan keakraban yang tercurah selama bekerja di Antara diteruskan di Yayasan Matawaktu. Penikmat fotografi, tak terbatas pada jurnalis saja, berinteraksi di sana. Jangan mencari Oscar di Instagram apalagi Tiktok. “Gue realitas person. Gue bukan insan dunia maya,” katanya.

    Mampir saja ke Matawaktu. BO, alias Bang Oscar—panggilan dari para yuniornya—akan menyambut dengan senyum dan jabat erat sebelum ”air kata-kata” mengalir sambil memutarkan lagu yang asyik-asyik.

     

    OSCAR   MOTULOH

     

    Lahir:  Surabaya, 17 Agustus 1959

    Beberapa pameran tunggal:

    -Voice of Angkor (1995)

    – Art of Dying (1997)

    – Soulscape Road (2007)

    Beberapa penghargaan:

    – Empu Ageng Foto Jumalistik dari ISI Yogyakarta (2019)

    – Lifetime Achievement Anugerah Pewarta Foto Indonesia (2018J

    – Pelopor Fotografi Jumalistik dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2015)

    – 30 Most Influential Photographers in Asia dari Asia Invisible Photographer Asia (2014)

    ————————————–

    Sumber Tulisan: Kompas, Minggu, 24 Maret 2024 

  • Mendulang Cinta Tuhan – Sebuah Kado Pernikahan Premy dan Esty

    Mendulang Cinta Tuhan – Sebuah Kado Pernikahan Premy dan Esty

     

    Oleh Paskalis Liko Bataona

     

    Jumat, 14 Juli 2023 adalah hari yang sangat indah buat  Pius Terong Bataona (Premy) dan Yustina Lelo Duli (Esty). Pada hari itu bertempat di Kapel Dua Ferong, Premy dan Esty “mengikrarkan janji perkawinan” mereka.  Dengan Perayaan Ekaristi Perkawinan ini, Premy dan Esty berkomitmen untuk tetap bersama membangun bahtera rumah tangga mereka. Premy dan Esty ingin meletakkan Tuhan sebagai fondasi membangun rumah tangga mereka. Tuhan ingin mereka jadikan jurumudi untuk bahtera perjalanan hidup perkawinan mereka. Seluruh rangkaian acara perkawinan Premy  dan Esty dimotori oleh Komunitas 47 Arus Tanjung.

    Filsuf Gabriel Marcel, seprang filsuf yang sangat intens membicarakan cinta,  melihat cinta sebagai pengalaman yang sifatnya intersubyektif. Cinta, menurutnya merupakan pengalaman yang amat personal, sangat pribadi dari mereka yang saling mencintai. Hanya mereka yang pernah terlibat dalam pengalaman mencintai dan dicintai yang bisa memahami dengan sepenuhnya makna cinta; kehangatan, dan kemesraan.

    Di dalam Kitab Suci, Allah juga dilukiskan sebagai Sang Pemberi Cinta terhadap umat-Nya. Allah mengambil peranaan pada familia (keluarga) manusia di dalam pembebasan Israel dari penjajahan di Mesir. Allah tidak hanya menempatkan manusia di dalam relasi dengan diri-Nya melainkan juga relasi dengan sesama sebagai suatu keluarga. Pada Kitab para nabi juga kita melihat gambaran Allah  sebagai pengantin:“Aku akan menjadi suamimu selama-lamanya: Aku menjadi suamimu di dalam kebenaran dan keadilan di dalam cinta dan belas kasih” (Hos 2:21).

    Perkawinan menurut pengertian kristiani adalah kontrak dan janji oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk membentuk suatu kebersamaan seluruh hidup. Komitmen untuk membangun rumah tangga bersama adalah aplikasi dari pernyataan Yesus sendiiri, “Mereka bukan lagi dua melainkan satu”.

    Yang mesti dirawat dalam hidup perkawinan adalah  nasihat dari Rasul Paulus bahwa kasih suami istri adalah sebuah kasih agape di mana cinta itu benar-benar harus ditampilkan secara sempurna: pemberian diri satu sama lain. Mereka yang ada didalam kasih akan memandang sesamanya sebagai subyek yang terus disenangkan, dijaga, didewasakan dan dihargai sebagai manusia.

    Perkawinan menjadi sebuah persahabatan yang sempurna kalau cinta kasih itu diwujudkan secara tulus dan murni. Jami Beding, seorang bapak yang sudah berpengalaman menempuh lautan gelombang kehidupan perkawinan memberikan tanda kasihnya kepada keluarga baru Premy dan Esty dengan sebuah puisi. Jami, yang juga penasihat Komunitas 47 Arus Tanjung, meyakini bahwa puisi adalah kisah cinta yang dirangkai dalam bahasa iman. Kita baca  puisinya:

    Ungkapan Rasa Bersamamu

    Siapakah dia yang muncul dari padang gurun
    Yang bersandar pada kekasihnya
    Dibawah pohon apel kubangunkan engkau
    Disanalah ibumu telah mengandung engkau
    Disanalah ia mengandung dan melahirkan engkau
    Tarulah aku seperti meterai pada hatimu
    Seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut
    Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta
    Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta
    Sungai sungai tak dapat menghangatkannya
    Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta
    Namun…, ia pasti akan dihina
    Saat ini…. ditangan teman temanmu ini…
    ada perabot rumah tangga yang tak berarti bagimu…
    terimalah dengan senyum kebanggaan
    sebagai kenang kenangan yang berarti
    dalam menapaki bahtera berumah tangga…
    karena hari ini, detik ini juga,
    arus di tanjung yang kita pijaki ini lagi tidak bersahabat….

    Lamalera, 14 Juli 2023

     

     

     

     

  • LEGISLATOR NTT : Anita Jacoba Gah, SE

    LEGISLATOR NTT : Anita Jacoba Gah, SE

    No.Anggota : 566

    Fraksi : Fraksi Partai Demokrat

    Daerah Pemilihan : NUSA TENGGARA TIMUR II

    Tempat Lahir / Tgl Lahir: Jakarta / 09 Maret 1974

    Riwayat Pendidikan

    SD , SD Negeri I Bonipol . Tahun: 1981 – 1988

    SMP , SMP Negeri 1 Kupang . Tahun: 1988 – 1991

    SMA , SMU Negeri 46 . Tahun: 1991 – 1994

    DIPLOMA Musik Gereja , DIII STT Jakarta . Tahun: 1994 – 1997

    S1 ekonomi , STIENI Jakarta . Tahun: 2005 – 2008

    Riwayat Pekerjaan

    DPR RI, Sebagai: Anggota. Tahun: 2004 – 2009

    Musik & Vokal di Sanggar Ananda Jakarta, Sebagai: Pengajar.

    Gerakan Pemuda di OPIB Effatha, Sebagai: Pengurus.

    Persekutuan Taruna di OPIB Effatha, Sebagai: Pengajar.

    Paduan Suara Wanita di OPIB Effatha, Sebagai: Pengajar.

    Riwayat Organisasi

    Gerakan Pemuda GPIB Effatha, Sebagai:

    Karang Taruna Kel. Palsi Gunung Selatan, Cimanggis Depok- Kelapa Dua, Sebagai:

    Ikatan Guru-Guru Seni Suara Indonesia, Sebagai: Sekretaris.

    Riwayat Pergerakan

    Organisasi Pemuda Gereja

    Organisasi Sanggar Seni

  • LEGISLATOR NTT : Ratu Ngadu Bonu Wulla, S.T.

    LEGISLATOR NTT : Ratu Ngadu Bonu Wulla, S.T.

    No.Anggota : 387

    Fraksi : Fraksi Partai NasDem

    Daerah Pemilihan : NUSA TENGGARA TIMUR II

    Tempat Lahir / Tgl Lahir: Waikabubak / 12 Oktober 1979

    Riwayat Pendidikan

    SD , SDN WAIKABUBAK I. Tahun: 1986 – 1991

    SMP , SMPN II Waikabubak . Tahun: 1991 – 1994

    SMA ipa, sman I Waikabubak . Tahun: 1994 – 1997

    DIPLOMA , . Tahun: –

    S1 teknik sipil , Univ Mataram . Tahun: 1997 – 2002

    Riwayat Pekerjaan

    CV Dwi Matahari Sumba, Sebagai: Direktris . Tahun: 2003 – 2009

  • LEGISLATOR NTT : Kristiana Muki, S.Pd., M.Si.

    LEGISLATOR NTT : Kristiana Muki, S.Pd., M.Si.

    No.Anggota : 386

    Fraksi : Fraksi Partai NasDem

    Daerah Pemilihan : NUSA TENGGARA TIMUR II

    Tempat Lahir / Tgl Lahir: Kefamenanu / 03 Oktober 1974

    Pendidikan terakhir

    S2 Administrasi

    Pekejaan :

    Wiraswasta.

    BERITA TERKAIT

    Kristiana Muki Optimis Lolos ke Senayan Wakili NTT

    Redaksi Figurnews Saturday, April 13, 2019

    Kupang (NTT), FN — Calon legislatif (Caleg) DPR RI Partai NasDem dari Dapil NTT 2,  Kristiana Muki, optimis lolos ke Senayan mewakili NTT. Keyakinan ini didasarkan pada antusias warga yang mendorong dirinya agar kaum perempuan bisa duduk di legislatif memperjuangkan aspirasi warga NTT.

    Kristina Muki yang juga guru honorer pada salah satu sekolah di Kefamenanu, Ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), menyampaikan hal ini usai berkampanye di Kelurahan Lasiana dan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, NTT, Jumat (12/4/2019) Kemaren.

    Kristina Muki mengatakan, alasan utama dirinya memberanikan diri untuk bersaing pada pemilu tanggal 17 April karena perempuan diberi ruang dan porsi bertarung dengan caleg kaum laki-laki. Kuota 30 persen buat kaum perempuan harus betul-betul dimanfaatkan karena saat inipun beberapa kaum perempuan NTT juga sudah duduk di legislatif. Mereka sudah berjuang maksimal dalam dunia politik dan ketika diberi peluang, kenapa disia-siakan. Atas dasar itu maka sudah waktunya berbuat sebanyak-banyaknya untuk masyarakat.

    “Seperti halnya visi-misi Partai NasDem maka sayapun menjalankan itu yang diimplementasikan dalam visi misi saya. Berjuang untuk membantu rakyat yang membutuhkan sentuhan pelayanan demi meningkatkan kesejahteraan,” ujar istri Bupato TTU, Raymundus Fernandes, S.Pt ini.

    Ditanya soal strategi yang digunakan dalam menarik simpatik pemilih karena saat inipun caleg incumben-pun cukup banyak yang maju, Kristina dengan santai menjawab bahwa tidak ada keraguan sedikitpun dalam bersaing dengan caleg lain. Konsepnya sederhana dimana setiap saat bertemu warga, bertutur sapa, ikut terlibat dalam kesehariannya maka secara tidak langsung ikut melihat, mendengar serta merasakan apa yang menjadi harapan warga.

    “Pola pendekatan saya dari hati ke hati. Saya tidak hanya sekedar kirim stiker, tapi saya bersama mereka. Mendengar dan melihat apa kekurangan yang dialami. Dengan menunjukan keberadaan kita, warga akan menilai sendiri. Setiap hari kita bersama-sama saling bertegur sapa, maka saya yakini hati wargapun tergerak. Walaupun satu suara tetapi itu sangat berharga,” kata guru matematika ini.

    Dirinya sangat optimis karena sudah berbuat selama ini sehingga masyarakat sudah mengetahuinya. Ini merupakan kerja bersama, saling gotong royong untuk meraih kemenangan bersama.

    “Apa yang saya buat di TTU, itulah yang akan saya lakukan, tidak berubah. Makanya saya selalu mengajak warga untuk mari kita sama-sama bergandengan tangan berjuang khususnya warga di Dapil NTT 2. Sudah waktunya kaum perempuan ikut bicara di Senayan,” katanya.

    Apakah optimisme ini karena membawa pamornya suami selaku bupati, Kristina menepis hal ini. Selama ini dirinya berjuang sendiri tanpa didampingi suaminya sebagai kepala daerah. Dalam keyakinannya bahwa sosok perempuan itu hebat dalam mengemban tugas yang besar walaupun dalam kesendirian. Dirinyapun tidak pernah meminta jabatan apapun pada sang suami dan tetap menjadi orang wiraswasta.

    “Tanpa didampingi suami saja saya merasa didukung penuh, apalagi suami ada di belakang pasti lebih kuat lagi. Tapi saya mau bekerja sendiri dan saya yakin semua warga di Dapil NTT 2 sangat mendukung saya karena kursi yang akan diperebutkan adalah kursinya rakyat. Saya ajak warga supaya jangan golput dan datang ke TPS menjatuhkan pilihan pada caleg yang dinilai mampu berjuang bersama rakyat,” harap Kristina yang merupakan caleg NasDem nomor urut 7 (tujuh) ini.(Amperawati).

    Sumber : https://www.figurnews.com

  • LEGISLATOR NTT : Emanuel Melkiades Laka Lena

    LEGISLATOR NTT : Emanuel Melkiades Laka Lena

    No.Anggota : 331

    Fraksi : Fraksi Partai Golongan Karya

    Daerah Pemilihan : NUSA TENGGARA TIMUR II

    Tempat Lahir / Tgl Lahir: Kupang / 10 Desember 1976

    Riwayat Pendidikan

    SD , SDK DON BOSKO 3 KUPANG . Tahun: 1983 – 1989

    SMP , SEMINARI NDAO ENDE NTT . Tahun: 1989 – 1990

    SMA , SMP KUPANG NTT . Tahun: 1990 – 1992

    DIPLOMA , . Tahun: –

    S1 FARMASI , UNIV SANATA DHARMA DIY . Tahun: 1996 – 2001

    Riwayat Pekerjaan

    DPR RI JAKARTA , Sebagai: STAF KHUSUS KETUA . Tahun: 2014 – 2018

    ST MARS COLLEGE JAKARTA , Sebagai: KETUA YAYASAN . Tahun: 2013 –

    DPR RI JAKARTA , Sebagai: TA KETUA FRAKS PARTAI . Tahun: 2012 – 2013

    GSM KONSEP JAKARTA , Sebagai: KONSULTAN . Tahun: 2010 – 2016

    DEPARTEMEN ENERGI & SUMBER DAYA , Sebagai: TIM KUSUS MENTERI . Tahun: 2005 – 2009

    PURI CONSULTING ENERGY JAKARTA , Sebagai: KONSULTAN . Tahun: 2005 – 2010

    MINERAL JAKATA , Sebagai: . Tahun: –

    Riwayat Organisasi

    PPK KOSGORO , Sebagai: KETUA . Tahun: 2017 – 2020

    DPD I PARTAI GOLKAR PROV NTT , Sebagai: KETUA . Tahun: 2017 – 2020

    PP ANGKATAN MUDA PARTAI GOLKAR , Sebagai: KETUA . Tahun: 2015 – 2016

    PP GABUNGAN PENGUSAHA FARMASI , Sebagai: ANGGOTA BID ADVOKASI . Tahun: 2011 –

    ORMAS NASIONAL DEMOKRAT , Sebagai: SEKLARATOR. Tahun: 2010 – 2010

    FORUM KOMUNIKASI ALUMNI PMKRI , Sebagai: KETUA . Tahun: 2010 –

    PENGURUS PUSAT PMKRI JAKARTA , Sebagai: SEKJEN . Tahun: 2002 – 2004

    IKATAN KELUARGA FLOPAMORA NTT DIY, Sebagai: KETUA . Tahun: 2000 – 2002

  • LEGISLATOR NTT : Yohanis Fransiskus Lema, S.IP., M.Si.

    LEGISLATOR NTT : Yohanis Fransiskus Lema, S.IP., M.Si.

    No.Anggota : 239

    Fraksi : Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan

    Daerah Pemilihan : NUSA TENGGARA TIMUR II

    BERITA

    Mengenal Lebih Dekat Sosok Jubir Ahok, Ansy Lema yang Siap Menuju Senayan Lewat Pintu PDI Perjuangan.

    Tanggal Terbit : August 14, 2018 | Seputar NTT

    Kupang, seputar-ntt.com – Baru saja Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan Daftar Calon Legislatif Sementara (DCS) di sejumlah daerah di Indonesia.

    Dalam DCS tersebut, ada hal yang menarik khususnya di daerah pemilihan (dapil) Nusa Tenggara Timur (NTT) 2. Dari ratusan caleg terdata di DCS, ada Putra Daerah yang sosoknya sudah tak asing di kancah nasional yakni Yohanis Fransiskus Lema, SIP, M.Si.

    Siapa sebenarnya Yohanis Fransiskus Lema, Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPR RI dari PDI Perjuangan di dapil NTT 2 yang meliputi 12 kabupaten/kota yang tersebar di Pulau Timor, Pulau Sumba, Pulau Rote dan Pulau Sabu?

    Yohanis Fransiskus Lema yang populer dengan sapaan Ansy Lema sebelumnya pernah menjadi Presenter TVRI Nasional dan sosoknya sangat tidak asing, apalagi bagi pemirsa peminat dialog-dialog politik. Selain sebagai Pembaca Berita, Ansy sangat diandalkan sebagai Pemandu Talk-Show Politik di stasiun televisi milik negara tersebut. Bahkan, saat Debat Kandidat Calon Gubernur/Wakil Gubernur NTT tahun 2013 silam, Ansy tampil sebagai moderator kala itu.

    Tak hanya itu saja, Yohanis Fransiskus Lema adalah Pengamat Politik nasional juga Konsultan Politik dan pernah dipercaya sebagai Juru Bicara (Jubir) Tim Pemenangan Ahok dalam Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017 lalu. Pada momentum itu, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nasional Jakarta ini kerap tampil mengesankan dengan ide-ide cerdas-bernas saat menjelaskan rekam jejak (track-record) kinerja Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat memimpin Jakarta.

    Hampir tiap hari, Ansy diundang berbagai stasiun TV nasional untuk berbicara mewakili Pasangan Calon Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat. Ansy Lema adalah satu-satunya Jubir Tim Ahok kala itu yang bukan berasal dari perwakilan Partai Politik (Parpol). Selain karena kapasitasnya dalam bidang politik, Ansy dipercaya sebagai Jubir karena kedekatan personalnya dengan Ahok.

    Ansy telah berteman dengan Ahok jauh sebelum Gubernur fenomenal itu dikenal luas publik seperti saat ini, bahkan sebelum Ahok menjadi Wagub DKI Jakarta.

    Minat Ansy dalam politik diwariskan ayahnya, Raymundus Lema, yang oleh insan politik di NTT dikenal sebagai Politisi senior berlatar belakang birokrat. Ayah Ansy pernah beberapa periode menjadi Anggota DPRD Provinsi NTT dan sebelumnya adalah Ketua KNPI NTT.

    Darah politik Ansy mengalir dari ayahnya. Namun, kiprah politik Yohanis Fransiskus Lema dimulai sejak ia mengenyam pendidikan di Universitas Nasional, Jakarta, salah satu kampus paling progresif di era Orde Baru (Orba).

    Ansy yang adalah Mantan Ketua Senat FISIP Universitas Nasional tahun 1997-1998 juga dikenal sebagai Tokoh Aktivis 98, sekaligus Pendiri Forum Kota (Forkot). Ia segenerasi dengan Adian Napitupulu dan Masinton Pasaribu, dua aktivis 98 yang telah lebih dulu terjun ke politik praktis dengan menjadi anggota DPR RI dari PDI Perjuangan.

    Kini, intelktual muda kelahiran kota Kupang ini mengikuti jejak kedua temannya sesama aktivis 98. “Setelah berkuang lewat ‘parlemen jalanan’ semasa mahasiswa, kini saatnya berjuang lewat Parlemen Senayan”, ujarnya.

    Setelah memiliki pengalaman dan pengetahuan cukup dalam politik, mulai dari Dosen Politik, Presenter Talk-Show Politik, Pengamat Politik, Konsultan Politik dan Jubir Ahok, di tahun politik 2019, alumnus Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) ini memutuskan terjun langsung sebagai Politisi dengan maju sebagai Caleg PDI Perjuangan Nomor Urut 2 di Dapil NTT 2.

    Memilih PDIP bagi Ansy sudah keputusan tepat. Betapa tidak, di matanya, partai ini memiliki kesamaan ideologi perjuangan dengan visi pribadinya. “PDI Perjuangan adalah Partai Politik paling konsisten dalam menjaga pluralisme dan menghidupkan nilai-nilai Pancasila”, ujarnya.

    Kata dia, PDI Perjuangan juga memiliki kepedulian kuat terhadap orang kecil atau kaum miskin yang bersumber dari ajaran Marhaenisme Bung Karno. Apalagi, PDI Perjuangan telah mempersebahkan dua pemimpin terbaik untuk negeri, yakni Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama. Kedua pemimpin berkarakter negarawan ini sangat didukung PDI Perjuangan.

    Tak hanya itu, ungkap Ansy Lema, PDI Perjuangan selalu konsisten mendukung Jokowi, mulai dari periode pertama Jokowi maju sebagai Walikota Solo, juga saat maju pada periode kedua, lalu PDI Perjuangan mengusungnya sebagai Gubernur ibu kota negara, mencalonkannya sebagai Capres periode pertama dan kembali mengusung Jokowi sebagai Capres di tahun 2019.

    “Saya kagum pada integritas dan kapasitas kepemimpinan Presiden Jokowi, dan karenanya saya mantap memilih partainya Pak Jokowi sebagai rumah politik saya”, papar Ansy.

    Tentu bagi masyarakat NTT di dapil 2 tidak salah memilih sosoknya. Sebab, Ansy Lema lah yang juga menjadi Konsultan Politik sehingga mengantarkan Pasangan Prof. Dr. Nurdin Abdullah, M.Agr-Andi Sudirman Sulaiman sebagai Gubernur-Wakil Gubernur Sulawesi Selatan.(*)

    Sumber : http://www.seputar-ntt.com

  • LEGISLATOR NTT : Edward Tannur, SH.

    LEGISLATOR NTT : Edward Tannur, SH.

    No.Anggota : 53

    Fraksi : Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa

    Daerah Pemilihan : NUSA TENGGARA TIMUR II

    Tempat Lahir / Tgl Lahir: Atambua / 12 Februari 1961

    Riwayat Pendidikan

    SD , SD Tiga Gemit, atambua. Tahun: 1967 – 1973

    SMP , SMP Don Bosco, Atambua. Tahun: 1973 – 1976

    SMA , SMA Surya, Atambua. Tahun: 1976 – 1979

    S1 Hukum, Universitas PGRI, Kupang. Tahun: 2006 – 2009

    Riwayat Pekerjaan

    Tulip FC, Sebagai: Ketua. Tahun: 2000 – 2004

    Sasana Tulip, Sebagai: Ketua. Tahun: 1997 – 2003

    Wiraswasta Jasa Konstruksi, Sebagai: Owner. Tahun: 1983 – Skrg

    Swalayan Tulip, Sebagai: Direktur. Tahun: 1980 – Skrg

    Riwayat Organisasi

    Caleg DPR RI, Sebagai: . Tahun: 2009 – 2014

    DPC PKB Kab. Timor Tengah Utara, Sebagai: kETUA. Tahun: 2006 – sKRG

    Anggota DPRD Kab. Timor Tengah Utara, Sebagai: Anggota. Tahun: 2005 – 2009

    KONI Kab. Timor Tengah Utara, Sebagai: Ketua. Tahun: 2004 – 2005

    Pemuda Katholik (PMKRI), Sebagai: Pembina . Tahun: 2004 – 2005

    DPRD Kab. Timor Tengah Utara, Sebagai: Ketua Komisi C. Tahun: 2004 – 2007

    Fraksi PKB, Sebagai: Ketua Fraksi PKB. Tahun: 2004 – 2009

    GAPEKNAS Kab. Timor Tengah Utara, Sebagai: Ketua. Tahun: 2000 – 2004

  • LEGISLATOR NTT : Herman Hery

    LEGISLATOR NTT : Herman Hery

    No.Anggota : 238

    Fraksi : Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan

    Daerah Pemilihan : NUSA TENGGARA TIMUR II

    Tempat Lahir / Tgl Lahir: Flores / 26 Nopember 1962

    Riwayat Pendidikan

    SD , SD KATOLIK ENDE. Tahun: – 1975

    SMP , SMP KATOLIK. Tahun: –

    SMA IPS, SMA (PAKET C). Tahun: – 2003

    SMA , SMA Katholik Ende. Tahun: – 1982

    Riwayat Pekerjaan

    DPR RI, Sebagai: Anggota. Tahun: 2009 – Seka

    DPR RI, Sebagai: Anggota. Tahun: 2004 – 2009

    Dwi Mukti Group, Sebagai: CEO/OWNER. Tahun: 1995 – 2004

    PT.Sarang Teknik, Sebagai: Marketing Director. Tahun: 1989 – 1994

    PT.Aneka Spring, Sebagai: Sales Supervisor. Tahun: 1984 – 1989

    PT.Bumi Asih Group, Sebagai: Sales Marketing. Tahun: 1980 – 1984

    Riwayat Organisasi

    KADIN NTT, Sebagai: Anggota. Tahun: 1994 – 2004

    HIPMI, Sebagai: Anggota. Tahun: 1989 – 1994

    DPP BMI, Sebagai: Ketua. Tahun: – – –

    Badiklat PDI Perjuangan, Sebagai: Bendahara. Tahun: – – –

    Harley Owner Group, Sebagai: Ketua Umum. Tahun: – – –