Category: PUISI

  • Nyanyian Anak Timor di Bulan Kemerdekaan –  Puisi  JB Kleden

    Nyanyian Anak Timor di Bulan Kemerdekaan –  Puisi  JB Kleden

    JB Kleden

     

    I

    Langkah yang Tak Bisa Dihentikan

    Kami bukan bayang-bayang di balik layar,
    Kami adalah suara yang tak bisa dibungkam.
    Ketika janji tinggal kata,
    Kami hadir sebagai gema yang mengguncang.

    Tak perlu senjata, cukup keberanian,
    Tak perlu panggung, cukup jalanan.
    Kami tak datang untuk bertanya,
    Kami datang untuk menyatakan:

    Langit boleh gelap,
    Tapi tekad kami lebih pekat.
    Jika mereka tutup telinga,
    Kami akan bicara dengan langkah.

    Tak ada aba-aba,
    Hanya kesadaran yang menyala.
    Dan ketika kaki kami menyatu,
    Tak satu pun tembok mampu berdiri tegak.

    Kami bukan sekadar marah,
    Kami adalah arah.

     

    II

    Gong yang Membuka Mata

    Kami bukan bayang di balik batu lulik,
    Kami adalah gema dari gong yang dibunyikan leluhur.
    Tanah ini bukan sekadar ladang dan bukit,
    Ia adalah darah kami, tempat kami berdiri tegak.

    Tais tak hanya membalut tubuh,
    Ia membalut sejarah yang tak boleh dilupakan.
    Jika suara kami tak didengar di rumah adat,
    Kami akan bicara di jalan, dengan langkah yang berani.

    Kami anak-anak Timor,
    Tahu bahwa natoni bukan sekadar ucapan,
    Ia adalah sumpah,
    Bahwa kami tak akan diam saat keadilan dilupakan.

    Tak perlu tombak,
    Cukup warisan keberanian dari amaf dan inaf.
    Tak perlu teriakan,
    Cukup nyanyian dari hati yang tak bisa dibungkam.

    Kami bukan sekadar marah,
    Kami adalah suara dari batu, dari tanah, dari langit Timor.
    Dan ketika kami melangkah bersama,
    Bahkan angin dari gunung Mutis pun akan bertanya:
    “Siapa yang membangunkan roh tanah ini?”

     

    III

    Kami Bukan Batu yang Bisa Digeser

    Di tanah ini,
    Pemimpin bukan raja,
    Ia pelayan adat,
    Ia penjaga lulik, bukan perusak martabat.

    Tapi kini,
    Ia duduk di kursi tinggi,
    Melihat kami seperti boneka-boneka,
    Yang bisa dimainkan tanpa rasa, tanpa tanya.

    Oh betapa luruhnya hati kita di sini
    Dalam ruang duduk terpaku
    Menunggu pengumuman nasib sendiri.

    Apakah di sini bisa berlega lega
    Menyambut pagi dan melepas senja?

    Kami bukan batu yang bisa digeser sesuka hati,
    Kami adalah akar dari pohon tua,
    Yang tahu kapan angin datang membawa dusta,
    Dan kapan gong harus dibunyikan untuk membangunkan jiwa.

    Ia lupa bahwa jabatan bukan warisan,
    Ia lupa bahwa kekuasaan bukan hak mutlak.
    Ia lupa bahwa kami punya suara,
    Yang bisa menggema dari rumah bulat sampai ke kantor megah.

    Kami anak-anak Timor,
    Yang tahu bahwa tais bukan hanya kain,
    Ia adalah simbol harga diri,
    Dan kami tak akan biarkan ia diinjak oleh kesombongan.

    Jika Pemimpin tak tahu malu,
    Maka kami akan bicara dengan langkah,
    Dengan nyanyian dari tanah,
    Dengan tatapan yang tak bisa dibeli.

    Kami bukan sekadar marah,
    Kami adalah peringatan,
    Bahwa kekuasaan tanpa hati,
    Akan runtuh seperti rumah tanpa tiang.

    Dan ketika kami berdiri,
    Bukan untuk membalas,
    Tapi untuk mengingatkan:
    Bahwa pemimpin yang lupa asalnya,
    Akan hilang arah di tengah badai.
    Meski menggenggam erat singgasana
    Kekuasaannya tak memiliki sauh batiniah!

     

    IV

    Epilog

    Dari batu lulik sampai puncak Mutis,
    Dari tais yang ditenun hingga suara yang ditanam,
    Kami bukan bayang-bayang di bawah kuasa,
    Kami cahaya dari tanah yang tak bisa dibungkam.

    Gong telah dibunyikan,
    Langkah telah disatukan,
    Suara telah digemakan –
    M E R D E K A

     

    Kupang, Agustus 2025
  • Antena Kosong – Sajak JB Kleden

    Antena Kosong – Sajak JB Kleden

     

     

     

    Kita duduk di bawah rimbunan pepohonan
    sibuk menggulir kisah
    satu jempol, satu ilusi.
    Pikiran tak lagi berjalan,
    hanya melayang pada sinyal
    yang tak tahu arah.
    Kata-kata jadi hiasan,
    bukan landasan,
    Makna dijual dalam paket mingguan.
    Di mana letak gelisah kita?
    Di mana pertanyaan
    yang dulu membakar dada?
    Mari kita rangkai ulang
    makna dalam sunyi.
    Sebab berpikir bukan sekadar menerima,
    tapi berani mempertanyakan cahaya.

    Ke mana matahari bulan Juli?

    Kupang, Akhir Juli 2025
  • Sajak Taman Kasih Tak Bertepi 

    Sajak Taman Kasih Tak Bertepi 

     

    Oleh Albertus Muda

     

     

    Di hamparan kasih-Mu yang tak bertepi, Tuhan,
    kami taburkan benih-benih sesal,
    dari jiwa yang merunduk.
    Dengan setia Engkau menimang, merawat,
    hingga tunas-tunas tobat kami menetaskan kelopak harapan,
    mekar mewangi di batas fajar.

     

    Panji-panji doa kami tegakkan, menjulang,
    seperti tiang-tiang niat yang takkan tumbang.
    Terukir simpul puasa yang mengikat nafsu,
    dan pantang yang mengikis ego,
    agar pada saatnya, kami membuahkan sedekah sejati,
    mengalir tak terbatas, serupa sungai anugerah-Mu.

     

    Tak henti Engkau mengairi akar-akar iman kami,
    yang menjalar mencari arah,
    menembus relung hati yang rapuh.
    Agar kami tegak berdiri,
    di atas bumi subur, makmur,
    berkat sentuhan jemari-Mu yang Ilahi.

     

    Tuhan, sandaran jiwa kami,
    kami hanyalah serpihan debu,
    yang mungkin mengotori jejak kasih-Mu.
    Namun dalam rimbunnya harap,
    kami berpasrah, menyerahkan seluruh jiwa.
    Semoga ziarah hidup ini,
    menjadi untaian asa yang tak pernah putus,
    mengikat kami pada kekekalan-Mu.

     

    Lembata, 6 Maret 2025

  • Surat untuk Tuhan – Sajak P. Leo Kleden, SVD

    Surat untuk Tuhan – Sajak P. Leo Kleden, SVD

     

    Pada suatu pagi yang biasa
    Dari musim yang sudah kulupa
    Kutemukan namamu bersama cahaya
    Dan sejak itulah aku ‘ngembara
    Mencari engkau tanpa alamat

     

    Mula-mula aku bertanya
    Pada seorang tua yang bijaksana
    Apakah ia mengenal engkau?
    Ia cuma menggeleng kepala dan berkata:
    Ah dia,
    Lebih tua dari gurun lebih muda dari embun
    Mungkin langit masih mengenalnya.

     

    Aku melihat kanak-kanak
    Begitu muda seperti fajar
    Main kejaran di pantai pasir dan bertanya:
    Adakah mereka melihat engkau?
    Semua heran dan berkata:
    Ia belum tiba di sini
    Engkau datang terlalu dini.

     

    Aku pergi ke taman kota
    Melihat sepasang anak muda
    Asyik-masyuk dimabuk asmara
    Mungkinkah mereka mengenal engkau?
    Yang laki-laki itu berkata:
    Ia hidup dalam dongeng dari beribu tahun lalu
    Sisa namanya masih tercatat dalam sebuah perkamen tua.
    Yang perempuan lalu menambah:
    Sungguhpun hidup begitu indah
    Riwayat kita teramat singkat.

     

    Pengembara,
    Mengapa mencari yang sia-sia?
    Aku mencatat sementara:
    Lebih tua dari gurun lebih muda dari embun
    Engkau hidup dalam dongeng dari beribu tahun lalu
    Apakah namamu sia-sia
    dan aku datang terlalu dini?

     

    Bertahun-tahun kemudian aku mencari seorang filsuf yang berjalan siang hari dengan lampu menyala di tangan, Karena bertarung mencari yang benar.
    Mungkinkah dia mengenal engkau?
    Sewaktu kami di jalan bertemu, ia besarkan nyala lampu lalu mendugai lubuk mataku, berseru:
    Pengembara, kita sama pejalan jauh menuju langit yang tak terjangkau.
    Tentang dia, aku hanya bisa bertanya, filsuf tak pernah punya jawaban. Mungkin sang nabi lebih tahu?

     

    Aku pergi kepada sang nabi dan berkata dengan takzim:
    Salam padamu pewarta firman. Aku yakin, wahai nabi, engkau tahu yang kucari, ceritakan padaku tentang dia.
    Ia menjawab:
    Aku bukan seorang nabi. Pewarta sabda hanyalah suara yang berseru di padang gurun: Siapkanlah jalan Tuhan luruskanlah lorong-lorongnya.
    Aku belum melihat wajahnya dan para nabi sepanjang zaman tidak pernah melihat dia.
    Dialah cahaya mahacahaya yang memijari matahari dan menyinari lubuk hati.
    Ia menuntun orang buta, membimbing langkah pengembara.
    Sedang mata kita yang fana tak bisa menangkap mahacahaya.

     

    Kudengar dentang lonceng gereja, memanggil umat beribadah.
    Aku pergi membawa namamu lalu bertanya kepada pendeta.
    Ia menjawab:
    Gereja mewarisi nama ini, memanggil dia dalam ibadah, tapi maknanya tetap rahasia.
    Coba tanya si ahli kitab, mungkin dia yang lebih tahu.

     

    Aku pergi ke ahli kitab, mengucapkan salam dan bertanya, tapi dia tak sempat mendengar.
    Rupanya sudah berabad-abad ia menggali ayat suci, dan sekarang terperangkap dalam guanya sendiri.
    Ketika akhirnya kami bertemu kata-katanya begitu pelik sampai aku tak dapat mengerti:
    Mengapa mesti sekian sulit, membuat namamu rumpil rumit.
    Adakah relung luka di gua menyesatkan dia dari firmanmu?

     

    Aku berpikir, sebaiknya pergi kepada penyair.
    Dia menyambutku dalam diam, menggumam sajak yang tak selesai:
    Pada mulanya adalah Sunyi dan Sunyi itu melahirkan Kata dan Kata menciptakan alam semesta dan alam semesta menyanyikan madah.
    Dan semua madah kembali ke Sunyi di baris terakhir semua puisi.
    Tapi tak pernah seorang penyair berhasil menulis bait itu.
    Mungkin pertapa lebih mengenal rahasia Sunyi?

     

    Aku pergi ke padang gurun lalu menemui sang pertapa.
    Ia dulunya seorang kaya, menjual tuntas semua harta dan hidup menyepi mencari Sunyi.
    Sebelum kutanyakan sepatah kata, ia mendengar debur jantungku, dan berkata:
    Lebih kaya dari cinta, lebih miskin dari rindu. Itulah dia.
    Makanya harta yang habis terjual tidak cukup membayar jalan untuk sampai ke hadiratnya. Mungkin sekali fakir miskin lebih mengenal wajah itu.

     

    Sesampai ke pondok fakir miskin, aku langsung melupakan namamu. Yang kulihat, yang kuingat, hanyalah wajah kanak-kanak, dengan igauan dalam demam, menjerit pedih minta nasi sedang ibunya menjual diri untuk membeli sepotong roti.
    Pernah sang ayah mengedar ganja untuk memanen uang murah, tapi semua tinggal mimpi, ia pergi tak pernah kembali.
    Maka di sini di laut derita, bisakah seorang mengelak teriak dari kapal yang sedang karam?
    Apa makna semua doa, madah puji dan nyanyi ibadah bagi mereka yang kini tenggelam?
    Sungguh, di laut duka aku telah melupakan engkau. Namamu – tak lagi penting untuk diriku, dan mungkin namaku tak pernah berarti untukmu jua.

     

    Tapi mengapa di siang ini, ketika hibuk dalam letih, sesudah hilang semua pamrih, tiada terduga engkau tiba:
    O Cahaya mahacahaya, Sunyi suci yang melahirkan Kata,
    lebih kaya dari cinta lebih miskin dari rindu,
    di tengah wajah kanak-kanak lapar,
    aku sujud menyembah engkau.

    ——————————

  • Emmak  Matte

    Emmak Matte

    Oleh Yoseph Arakie Ulanaga Bruno Dasion

     

     

    Goe gamit emak ka lettaro mi
    “muku mari goe nue tou”
    Nae tegel goe
    Na matte kperek, lebo
    Benek tai blebuk
    Sama kelle kofa tnakeng

     

    — Aku menggamit lengan ibuku dan memintanya
    “berikanlah aku pesan kehidupan”
    Tetapi ibuku hanya menatapku
    Dengan tatapan matanya yang teduh dan bening
    Teduh bagai laut tak bergelombang
    Bening bagai langit tak berawan —

    ———————-

    Sumber Puisi dari Buku Kumpulan Puisi Pukeng Moe Lamalera, Yoseph Arakie Ulanaga Bruno Dasion, Penerbit Lamalera 2011

  • H a r a p a n – Sajak  Alexis  Valdes

    H a r a p a n – Sajak Alexis Valdes

     

    H  a  r  a  p  a  n

     

     

    Bila badai telah berlalu
    dan jalanan menjinak
    dan kitalah penyintas
    dari karam kapal massal.

     

    Dengan hati penuh tangis
    dan berkat atas takdir kita
    kita akan rasakan sukacita
    sekadar atas hidup.

     

    Dan kita akan beri peluk
    untuk orang asing pertama
    dan syukur atas kemujuran
    bahwa kita masih punya kawan.

     

    Lantas kita akan mengenang
    segala yang telah hilang
    dan akhirnya belajar
    segala yang tak pernah kita pelajari.

     

    Kita takkan merasa iri
    sebab kita semua telah menderita
    dan kita tak akan berpangku tangan
    berbalik jadi bela rasa.

     

    Akan kita hargai milik semua
    lebih dari capaian orang per orang.
    Kita akan jadi makin murah hati
    dan jauh lebih berkomitmen.

     

    Kita akan mengerti betapa rapuhnya hidup.
    Kita akan kerahkan segenap empati
    buat mereka yang masih bersama kita dan mereka
    yang telah pergi.

     

    Kita akan rindukan si orang tua yang
    minta-minta di pasar
    yang namanya tak pernah kita tahu
    yang selalu ada di sampingmu.

     

    Dan mungkin si tua miskin itu
    adalah Allahmu yang tersamar.
    Tapi kau tak pernah bertanya siapa namanya
    sebab kau tak pernah punya waktu.

     

    Dan segalanya akan jadi mukjizat.
    Dan segalanya akan jadi warisan.
    Dan kita akan hargai hidup,
    hidup yang telah kita peroleh.

     

    Bila badai ini berlalu
    kumohon kepadamu Tuhan, dengan hati yang remuk
    supaya kaukembalikan kami jadi lebih baik,
    seperti dulu kauimpikan atas kami.

    —————————

     

    *Sajak ini dipersembahkan untuk Paus Fransiskus oleh Penulis Puisinya, Alexis Valdes

    *Sumber Puisi dari Buku Mari Bermimpi – Jalan Menuju Masa Depan yang Lebih Baik, Gramedia 2020

  • Perempuan dari Magdala – Puisi Nirwan Dewanto

    Perempuan dari Magdala – Puisi Nirwan Dewanto

     

    Pergilah, perempuan

     la tak berada di sini

     la merepotkan kami belaka –

    Para serdadu itu berkata

    Dengan laras bedil terarah

    Tepat pada dada kiriku –

    Pastilah ia bukan juru selamat

    Sebab sejumlah pengikutnya

    Mencuri senjata dan mesiu

    Dari barak-barak kami –

    Tapi aku telah melihatnya

    Berdarah-darah menyeret tiang

    Palang ke puncak bukit ini –

    Janganlah buta, perempuan

    Kami tak menjajah negerimu

    Kami hendak melindungi kaummu

    Dan segala kaum di sekitarmu

    Dari rajamu yang mahaganas

    Dan membela puaknya sendiri –

    Ia pasti bukan lawan kalian

    la pengaji kitab-kitab belaka

    Ia kadang merakit meja-kursi

    Ia menebar jala di Laut Galilea

    Ia menempel poster di mana saja

    la mengampuniku meski aku

    Tidur dengan sejumlah lelaki –

    Kalau kau bertahan di sini

    Kami akan menembakmu

    Barangkali ada di antara 12

    Muridnya menggalang gerilya

    Melawan Roma, Roma milikmu —

    Di Roma kami menjunjung tinggi

    Hak asasi, sehingga siapa belaka

    Boleh beriman atau tak beriman –

    Jadi kenapa kalian menangkapnya

    Jika ia hanya rajin menjadi guru

    Di berbagai madrasah dan asrama

    Jalanan dan plaza dan kebun zaitun

    Jika ia hanya berhujah tentang

    Kerajaan damai untuk para jelata

    Kenapa ia dianggap berbahaya? –

    Rajamu sendiri yang membencinya

    Sebab ia tak berasal dari puaknya

    Rajamu mengira ia merancang kudeta

    Sambil menampik para brahmana

    Percayalah, kami hanya mencegah

    Perang saudara di tanah airmu –

    Tapi aku telah melihat kalian

    Begitu ganas melecut tubuhnya

    Dan memasang mahkota duri

    dalam-dalam pada kepalanya –

    Puan, sungguh kau terlalu kerap

    Membaca isyarat dan nubuat

    Sehingga matamu rabun sungguh

    Tak sanggup melihat kerumun

    Lebah di tampuk kembang kurma –

    Lalu aku mendengar gemuruh

    Regu tank merobohkan kampungku

    Dan mendekat cepat ke arahku

    Sehingga aku pun melepaskan

    Gelung rambut dan gaun panjangku

    Menyurungkan jasad murniku –

    Janganlah mubazir, perempuan

    Bacalah kitab undang-undang

    Supaya kau tau supaya rakytamu

    Jangan lagi dikelabui kaum brahmana

    Jelajahi museum supaya negerimu

    Jangan lagi dikendalikan kitab wahyu –

    Jadi kalian telah memindahkan

    Jenazahnya ke mausoleum nun di kota? –

    Jasadmu sungguh menyilaukan

    Dan kami terlalu haus melihatmu

    Maka izinkan kami pergi segera

    Menuju Kandahar atau Karbala

    Demi mencegah perang saudara

    Berikutnya, dan berikutnya –

    Musim semi terlalu cepat tiba

    Dan betapa aku lupa di mana

    Kampung halamanku saat pasukan itu

    Masuk ke lambung helikopter biru –

    Selamat datang, perempuan

    Percayalah, kami sangat bangga

    Pada lelaki yang kaucari itu

    Lelaki yang membuat kami

    Mampu mencintaimu juga –

    Dan menjelang badai senjakala

    Hanya seorang pelukis di sisiku

    Mengubah tiga tiang palang

    Kosong, kosong menjulang

    Bagimu belaka

    Bagi-Mu belaka

    (2009)

    **********************

    Sumber Puisi Buku Buli-Buli Lima Kaki, Nirwan Dewanto, Gramedia 2010 

  • Puisi: Kamus Kecil – Karya Joko Pinurbo

    Puisi: Kamus Kecil – Karya Joko Pinurbo

     

    Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar dan lucu
    Walau kadang rumit dan membingungkan
    Ia mengajari saya cara mengarang ilmu
    Sehingga saya tahu
    Bahwa sumber segala kisah adalah kasih
    Bahwa ingin berawal dari angan
    Bahwa ibu tak pernah kehilangan iba
    Bahwa segala yang baik akan berbiak
    Bahwa orang ramah tidak mudah marah
    Bahwa untuk menjadi gagah kau harus menjadi gigih
    Bahwa seorang bintang harus tahan banting
    Bahwa orang lebih takut kepada hantu ketimbang kepada Tuhan
    Bahwa pemurung tidak pernah merasa gembira
    Sedangkan pemulung tidak pelnah merasa gembila
    Bahwa orang putus asa suka memanggil asu
    Bahwa lidah memang pandai berdalih
    Bahwa kelewat paham bisa berakibat hampa
    Bahwa amin yang terbuat dari iman menjadikan kau merasa aman

     

    Bahasa Indonesiaku yang gundah
    Membawaku ke sebuah paragraf yang merindukan bau tubuhmu
    Malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk yang hangat
    Dimana kau induk kalimat dan aku anak kalimat

     

    Ketika induk kalimat bilang pulang
    Anak kalimat paham
    Bahwa pulang adalah masuk ke dalam palung
    Ruang penuh raung
    Segala kenang tertidur di dalam kening

     

    Ketika akhirnya matamu mati
    Kita sudah menjadi kalimat tunggal
    Yang ingin tinggal
    Dan berharap tak ada yang bakal tanggal.

    ———————-

     

    Sumber: Buku Latihan Tidur (2017)

  • Sajak untuk Ibu – Sajak untuk Ayah – Sajak-sajak Yoseph Yapi Taum

    Sajak untuk Ibu – Sajak untuk Ayah – Sajak-sajak Yoseph Yapi Taum

     

    SAJAK UNTUK IBU

     

    Ibu, jika hari ini kau dengar kabar itu,
    kuharap kembang di jantungmu tak luruh.
    Langit belum memberiku pelangi,
    tetapi seikat kembang dariku hiburkan hatimu.

    Ibu, jika hari ini kau tak melihatku di ujung jalan itu,
    kuharap senyummu tak surut.
    Ombak laut belum memberiku perahu,
    tetapi layarku kini sudah terkembang untukmu.

    Rinduku padamu, Ibu,
    adalah rindu kanak-kanak
    menantimu pulang dari ladang.
    Cintaku padamu, Ibu,
    adalah keriangan kanak-kanak
    saat membuka tudung saji mejamu.

    Ibu, jika malam ini kau tak mendengar kabar itu,
    bulan di ujung bukit masih tetap di sana.
    Jarak sudah kulipat dan aku datang padamu,
    mencium tanganmu memeluk dirimu.

    Yogyakarta, 4 November 2017

    ——————————————–

     

     

    SAJAK UNTUK AYAH

     

    Ayah, kupetik kenangan dari hitungan waktu
    yang tak pernah dapat dihentikan.
    Pahatan-pahatan yang membentang di matamu,
    tenggelam dalam kesunyian langitku.

    /1/
    Saputangan bersulam bunga, celana panjang putih,
    cahaya pertama yang samar di desa Mulandoro.
    Sanak keluarga datang berhimpun 1972,
    sujud pertama sambut baruku di kaki altar!

    Malam-malam panjang di perahu menuju Kedang,
    percakapan di bawah ombak mengkhawatirkanmu.
    Pagi di musim terang awan tiba, sekolah dan gereja,
    adalah ruang pengabdian penanda nasib keluargamu.

    /2/
    Barangkali kerdip bintang di malam Natal 1977
    yang terlambat membangunkanmu
    punya makna: kekhawatiran menghadirkan
    anak-anakmu di seputar kandang Bethlehem
    tak perlu setinggi itu, sedang mereka sudah
    berada di lautan kasihmu.

    Barangkali kuda putih yang membawamu
    mencariku ke desa tanjung yang jauh di 1978
    merasakan degup jantungmu yang kencang.
    Waktu mendapatkan anak yang hilang
    engkau tertawa: perjalanan tak pernah sia-sia.

    /3/
    Ada pula masanya kanak-kanak belajar,
    ayah menepikan ruang bermain dalam benakku
    dan memahatkan tanggung jawab dalam jiwaku.
    Meski hatiku pernah retak dalam kesedihan,
    air mata itu berubah menjadi puisi cinta paling murni.

    Kini aku berada di kota yang jauh.
    Hujan seharian membuka genangan kenangan:
    perjalanan panjang bersama ayah,
    adalah puisi cinta yang sempurna.

    Yogyakarta, 12 Februari 2021

     

  • Rosalina dan Hilangnya Harapan Mengeja Huruf Anak-anak Yahukimo

    Rosalina dan Hilangnya Harapan Mengeja Huruf Anak-anak Yahukimo

     

    Puisi Helena Lose Beraf

     

     

    Hai, Rosalina
    Kita tak pernah bertemu dan saling kenal,
    tapi sejak namamu ramai disebutkan di media sosial,
    aku mengenalmu.

    Kamu; guru yang menolak segala bentuk kemapanan.
    Berani mengabdikan diri di tempat jauh terpencil; Papua.
    Sebuah keberanian yang tak pernah ada dalam diriku.

    Aku membayangkan dirimu,
    tiap pagi memekarkan senyum
    menunggu anak-anak itu
    menenteng noken di pundaknya mencari sekolah.

    Dirimu tentu sudah sering
    mengamati matahari yang gemetar,
    menatap lingkar bulan di mata bocah-bocah itu,
    ketika khidmat memberi hormat saat upacara bendera
    di tanah yang katanya sudah merdeka

    Atau adakah kisah
    hari terakhir bocah petani miskin
    berada di sekolah,
    sebab tak cukup biaya untuk melanjutkannya.
    Ditulisnya cita-cita di selembar kertas,
    lalu ia kubur di pekarangan belakang sekolah
    lalu pulang dengan membawa cangkul
    menyusul bapaknya di kebun mencari buah pinang

    Dear Rosalina,
    benarkah bahwa di sana
    negeri yang katanya kaya raya itu;
    tidur di atas emas-berenang di atas minyak
    telah mengaburkan nasib anak-anak itu
    dan sejarah lupa pada nama-nama penguasa
    yang dimakan sumpahsetelah kesaksian
    dan kosong bangku-bangku sekolah
    yang tak mencatat apa-apa ?

    Rosalina, adakah bocah-bocah itu bicara:
    aku lelah bercita-cita. Apa mereka nyata?
    Atau sekadar biodata di buku tulis.

    Rosalina, ketika melihat tubuhmu tak bernyawa
    dalam kantong jenazah
    dan digotong orang -orang keluar dari kampung itu
    aku mengumpat dalam hatiku
    bagaimana bisa, sekian tahun
    kau ajarkan anak-anak itu berhitung,
    mengenal huruf, menulis dan mencintai buku.
    Sekian tahun kau sanggup hidup terpisah dari keluarga.
    Kau abdikan raga, hati, pikiran dan waktumu
    demi sebuah kemerdekaan.

    Kemerdekaan yang katanya sejak dalam pikiran. Kemerdekaan untuk menjadi
    manusia berakhlak dan budi pekerti luhur. Hari ini tubuhmu kembali ke pangkuan lewotana,
    pulanglah Rosalina. Pulang pada palung ina yang menunggumu dengan tangan terbuka.

    Sesungguhnya engkau lahir untuk hal besar;
    membuka mata banyak orang
    bahwa negeri ini sedang tidak baik-baik saja.
    Guru diserang – dibunuh,
    tak seperti ketika Hirosima-Nagasaki dibom,
    Kaisar Hirohito menanyakan jumlah guru yang tersisa. Menandakan betapa pentingnya peran guru dalam pembangunan bangsa.

    Esok setelah kau tiada,
    mungkinkah bocah-bocah itu akan mencarimu, Rosalina.
    Guru mereka yang terbunuh atas nama kemerdekaan.

    Percayalah, setelah semua ini berlalu
    akan ada satu dari mereka yang berkata
    “karena kau yang mengajariku membaca dan menulis,
    maka kutulislah kau; “PAHLAWAN TANPA TANDA JASA”.