Category: BIOGRAFI

  • Neno Maria Yosefina, SSpS, “Kisah Misionaris asal Timor di Negeri Sri Paus”

    Neno Maria Yosefina, SSpS, “Kisah Misionaris asal Timor di Negeri Sri Paus”

    Saat diutus ke Polandia, Suster Neno Maria Yosefina SSpS, terdiam. Sempat muncul pertanyaan dalam hati, apakah Polandia negara misinya. Pertanyaan berkelebat dalam dinding memori kepala.

    PADAHAL, dalam formasi awal Suster Neno -sapaan akrab Suster Neno Maria Yosefina SSpS- dan para calon lainnya sudah dibekali sejarah, visi, dan misi kongregasi sehingga ia sendiri enjoy mau menjadi misionaris di luar negeri. Ia baru tahu saat menerima kabar dari Provinsial SSpS Timor Suster Kristin Maria Nahak, SSpS bahwa Suster General dan para anggota Dewan General mengutusnya ke Polandia. Saat itu, ia hanya terdiam. Perasaannya campur aduk: menolak, bersyukur, sedih bahkan merasa tidak sanggup. “Jika itu kehendak Tuhan, saya terima,” kata Suster Neno di hadapan suster provinsial.

    Suster Neno sedang belajar bersama anak-anak TK di rumah anak milik kongregasi SSpS di Polandia. (Foto-foto: Istimewa)

    Kehendak Tuhan terjadi. Saat ini Suster Neno bertugas di sebuah rumah untuk anak di Polandia, negeri mendiang Santo Paus Yohanes Paulus II. Rumah ini merupakan salah satu unit kerasulan kongregasi. Pengaruh rezim komunis yang kuat di masa lalu menyulitkan para suster dan kongregasi membangun unit kerja sendiri seperti sekolah dan rumah sakit untuk karya sosial. Pilihannya, hanya rumah untuk anak. “Rumah ini menjadi tempat penitipan anak dari keluarga pecandu alkohol, broken home, dan kurang mampu untuk belajar. Setiap hari mereka datang untuk dibantu menyelesaikan pekerjaan rumah dan menyiapkan materi baru untuk keesokan harinya,” kata Suster Neno saat dihubungi melalui surat elektronik (e-mail) dari Polandia, beberapa waktu lalu.

    Tertarik

    Menurut Suster Neno, ia mulai tertarik menjadi biarawati saat duduk di bangku sekolah menengah pertama di Mamsena, Keuskupan Atambua. Saat itu ia senang dan bangga melihat suster-suster yang mengenakan pakaian putih-putih. “Seingat saya saat itu ada aksi panggilan. Hanya saja saya juga tidak tahu apa kongregasi mereka. Saya berpikir mungkin mereka itu suster SSpS karena di Kiupukan ada komunitasnya. Apalagi, jarak Kiupukan dengan rumah kami di Sekon sekitar 7 kilo meter,” ujar Suster Neno mengenang.

    Seiring perjalanan waktu ketertarikan menjadi suster selalu muncul. Tapi tak pernah terlintas kelak menjadi misionaris. Pikirannya hanya jadi suster. Ketertarikan itu kian terbuka saat ia sekolah di SMA St Joseph Dili, Timor Leste. Saat itu para siswa SMA St Joseph juga belajar bersama frater-frater. Kebetulan letak biara susteran di depan sekolah sehingga dengan mudah melihat kegiatan harian para suster. Dari sinilah ia makin tertarik.

    Suster Neno pun meminta ijin orangtuanya untuk tinggal di Asrama Susteran Canosian, Dili. Ia pamit pada saudaranya untuk tinggal di asrama. Cuma, sang ayah khawatir jangan sampai Neno malah memantapkan keinginannya jadi suster. “Di asrama engkau hanya ikut pembinaan menjadi sahabat Magdalena De Cannosa. Bukan pembinaan untuk calon suster,” kata Suster Neno menirukan ayahnya. Peringatan sang ayah bagi Neno beralasan. Ibu asrama juga setuju. Saat itu, menurutnya, Roh Kudus membimbing dirinya dalam mewujudkan impiannya itu.

    Mulanya, ia melamar ke Provinsi SSpS Timor dengan bantuan para suster SSpS di komunitas Kiupukan. Pada 17 Juli 1995, ia bersama sekitar 34 calon memulai masa aspiran selama setahun di Besikama, Keuskupan Atambua. Setahun kemudian ia menjalani masa postulan dan dua tahun masa novisiat di Halilulik. Ia lalu menjalani masa praktek novisiat selama enam bulan di Lahurus, Atambua. “Sesudah itu baru memutuskan bergabung bersama suster-suster dalam Kaul Pertama pada 2 Juli 1999 di Halilulik. Tugas pertama saya itu membantu Provinsial SSpS Timor di Atambua sebagai sekretaris provinsial. Tugas ini saya jalani selama setahun. Tahun kedua saya memulai tahun yuniorat di Kiupukan,” kata Suster Neno, biarawati kelahiran, Sekon, TTU tanggal 27 Maret 1973 ini.

    Sesudah itu ia diutus studi komunikasi di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang sambil membantu administrasi komunitas. Setelah tamat, ia memulai masa probasi di Hokeng, Flores Timur, Keuskupan Larantuka. Selanjutnya, menjalani masa persiapan sebagai misionaris di Provinsi SSpS Jawa. “Saya probasi di Hokeng bersama delapan suster lainnya. Saat probasi kami harus mengajukan lagi permohonan untuk misi di tiga negara di mana ada karya kongregasi,” ujar Suster Neno.

    Menurutnya, Polandia merupakan pilihan kedua selain Amerika Serikat dan Inggris. “Saya tidak punyai gambaran tentang Polandia. Dalam benak hanya terpikir bahwa Paus Yohanes Paulus II itu orang Polandia. Begitu juga sosok Santa Faustina Kowalska yang berjumpa dengan Tuhan Yesus beserta Doa Koronka (Kerahiman Ilahi) setiap jam tiga,” jelas Suster Neno.

    Suster Neno sedang belajar bersama anak-anak TK di rumah anak milik kongregasi SSpS di Polandia. (Foto-foto: Istimewa)

    Setelah Kaul Kekal dan persiapan sebelum terbang ke Polandia, Suster Neno mengikuti kursus singkat selama sebulan di Batu, Malang, Jawa Timur. Kursus ini untuk menambah pengetahuan yang sudah dimulai sejak bergabung dengan SSpS. Kursus itu juga ada sharing pengalaman para suster yang pernah bertugas di negara tujuan. “Selesai dari Batu, saya menuju Irlandia sebelum ke Polandia. Di Irlandia saya tinggal selama setahun lebih untuk belajar Bahasa Inggris.” jelas Suster Neno, anak ketujuh dari delapan bersaudara pasangan petani kecil Dominikus Ele dan Maria Nese.

    Murah hati

    Dalam menunaikan tugas-tugas di rumah khusus anak-anak di Polandia, Suster Neno merasakan kebaikan hati umat. Umumnya, orang Polandia juga murah hati pada gereja. Mereka tak segan menyumbang atau membantu. Mereka terbuka pada misionaris asing. Kesan ini ia tangkap saat menghadiri pertemuan-pertemuan yang diadakan. Atau saat bersama rombongan umat ziarah ke tempat-tempat suci dan bersejarah. “Mereka bangga karena ternyata jendela telah terbuka bagi Polandia dengan hadirnya misionaris asing. Bukan hanya orang Polandia menjadi misionaris di negara lain,” katanya. Saat ini di Polandia baru ada tiga misionaris asing asal Indonesia. Dua orang suster SSpS dan seorang lagi dari Kongregasi Santa Birgita dengan rumah pusat di Italia.

    Umat Polandia juga sangat antusias dan menerima kalau misionaris asing berbicara dalam bahasa setempat. Kebaikan hati umat juga dialami dalam sharing bersama. “Saya pernah hadir dalam doa malam di Santuarium Black Madona di Częstochowa. Saya diminta sharing pengalaman. Saya sedikit gugup karena ditayangkan TVTRAM dan ditonton masyarakat Polandia. Stasiun televisi Katolik ini milik pastor Redemptoris,” katanya.

    Selain itu, dalam menunaikan tugas di rumah khusus anak-anak, ia tetap menjaga relasi yang harmonis agar anak-anak merasa senang. Anak-anak pun kerap menyapa ia suster coklat karena warna kulitnya. Namun, hal itu tak membuatnya tersinggung. Ia hanya mengatakan, kalau coklat pasti enak. “Saya kadang guyon. ‘Kamu itu putih jadi bisa diminum seperti susu.’ Akhirnya, kami semua tertawa. Inilah suasana yang sengaja kami hadirkan untuk menumbuhkan saling percaya dan menghargai satu sama lain,” jelas Suster Neno, yang memilih motto Kaul Tinggallah Dalam Kasih-Ku yang dikutip dari Injil Yohanes, 15:9.

    Kini, Suster Neno makin menyadari arti panggilannya bahwa semua itu untuk Tuhan. Tatkala mengalami kesulitan dalam pelayanan, ia berserah dalam doa di hadapan Sakramen Maha Kudus. Tak lupa, ia sharing dengan pimpinan dan rekan-rekannya agar membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi. “Saya melakukan devosi kepada Santu Yosef pelindung saya dan novena khusus Kerahiman Allah agar tetap merasa sanggup di hadapan Tuhan,” ujarnya.

    Ansel Deri

  • Guru yang Tulus Melayani

    Guru yang Tulus Melayani

    Oleh Josef Bataona 

    “The teacher who is indeed wise does not bid you to enter the house of his wisdom but rather leads you to the threshold of your mind.”  (Kahlil Gibran)

    NEGARA INDONESIA baru berusia 2.5 tahun, tepatnya 30 Januari 1948. Di desa nelayan Lamalera Lembata NTT, lahirlah seorang anak laki2 kecil dan lemah, lewat perjuangan tragis dramtis ibunya, yang ngidam “Memahat batu kali menjadi lesung.”

    Nama yang tepat sudah diberikan orang tuanya: “Laba Lefet Vato” (LABA artinya alat untuk memahat batu). Dalam nama itu ada doa yang kelak sangat memotivasi hidupnya dalam memahat hati orang yang terkadang sudah membatu, Nama lengkapnya, Fransiskus Laba Bataona.

    Hari ini, 28 Juli 2019, kami semua diundang untuk merayakan perjalanan beliau sebagai guru, genap 50 tahun. Dan perayaan itu hendaknya dibaca sebagai perayaan komitmen beliau sebagai seorang guru dan karya melayani.

    Dengan bekal ijazah SMA dan PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama), bapa Frans (demikian dia disapah muridnya) mulai karyanya sebagai guru, Bahasa Latin dan Musik Gregorian di SMP dan SMA Seminari Hokeng pada tahun 1969. Perayaan misa hari itu dipimpin Pater Fransiskus Asisi Labi Bataona CSsR dan dimeriakan oleh Koor Mudika Lamalera, INA LEFA.

    Persiapan Secara Sungguh-sungguh

    Perjalanan pa Frans sebagai Guru, dipersiapkan dengan sepenuh hati. Karena itu berbagai Pendidikan formal maupun non formal dilakukan untuk tujuan itu.

    Cita-citanya saat itu ingin menjadi Pertapa, maka diapun melangkah ke Biara Pertapaan Rawaseneng, namun Tuhan punya rencana lain.

    Dia mengikuti Pendidikan di Institute Filsafat Teologi Kentungan, Jogya. Kemudian dia mengikuti Pendidikan Guru di Fakultas Pendidikan Sastra Seni, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Sanata Dharma Jogya.

    Beberapa Pendidikan informal juga diikutinya demi persiapan masa depannya: Kursus dasar kataketik; Kursus Penulisan Ilmiah dan Jurnalistik di Kompas Gramedia Jakarta; Pelatihan menjadi composer dan arranger lagu oleh Pusat Musik Liturgi Yogyakarta.

    Kiprah di Kota Pelajar

    Ditengah kesibukan kuliah, pak Frans juga mengisi waktu luang dengan mengajar Agama Katolik di SD Pangudi Luhur dan SMP Marsudi Luhur Jogya. Dosen teologi & Liturgi dan Musik Gereja di Biara Pertapaan Rawa Seneng. Guru Bahasa Inggeris di Ganeza Course Jogyakarta

    Akhirnya Jogya dia tinggalkan dan mulai merambah karya di Ibu Kota sejak 1981. Tapi Jogya tetap jadi kota istimewa, karena disana dia membentuk diri sebagai insan professional. Dan lebih istimewa lagi, disana dia bertemu sosok yang Terpuji diantara Wanita yang dia temui. Namanya Maria Adriana Pudjiati yang lebih memilih dan melirik seorang guru sederhana. Lamaran diterima dan dia dipersunting bapa Frans ditahun 1985

    Di balik sukses seorang pria, demikian kata orang bijak, ada seorang wanita Tangguh, dan dialah Maria Adriana Pudjiati. Berikut foto pa Frans bersama istri dan anaknya Hosse.

    Merambah karya di Ibu Kota

    Nama Frans Laba Bataona dan kiprahnya ternyata membuat beberapa sekolah di Jakarta mengangkatnya sebagai Guru Tetap. Tapi ada juga yang memintanya sebagai guru yang diperbantukan, diselah-selah kesibukan utamanya.

    Sebagai Guru Tetap:

    SMA/SMP Tarakanita II Pluit: Guru Bahasa Jerman; sastra Indonesia dan Musik;

    SMA Bunda Hati Kudus: Guru Bahasa Jerman; Bahasa dan Sastra Indonesia; Music; Teknik debat; Majelis Pembina OSIS dan Motivator Spiritualitas Kelompok Rohani OSIS.

    SMA/SMP Bellarminus, Guru Bahasa dan Sastra Indonesia; Teknik Debat; Musik; Logika

    Berikut foto mereka yang hadir dan turut merayakan.

    Diperbantukan

    Sekolah Perawat Atma Jaya: Guru Agama Katolik; Music; Public Speaking; Teknik Debat,

    SMEA Pancaran Berkat: Guru Bahasa, Korespondensi dan Public Relations

    Lembaga Pendidikan Sekretaris dan Management St. Ursula: Guru Bahasa, Korespondensi dan Public Speaking,

    SMA Dharma Budhi Bhakti Sunter sebagai guru Bahasa dan Sastra Indonesia, Teknik Debat; Music/Tari; Public Speaking;

    SMA Kristen Karunia Pasar Baru: Guru Bahasa dan Sastra Indonesia,

    Dosen Tidak tetap

    AKSEMA Budhi Bhakti Cabang BSD Jakarta, sebagai Dosen Linguistik dan Perbandingan Agama

    Universitas Perjuangan 45 Cabang Sunter & Gunung Putri sebagai Dosen Linguistik; Psikologi Didaktik; Filologi; Logika

    AKSEMA Dharma Budhi Bhakti, cabang Gunung Putri: Dosen Linguistik; public speaking; Teknik debat

    ATI Gunung Putri: dosen Filsafat Pancasila; Etika Kepemimpinan

    Akademi Pariwisata Cigombong Sukabumi: dosen Linguistik; Public Speaking,

    Manfaat Bagi banyak Orang

    Laba dalam Bahasa Indonesia juga berarti keuntungan, manfaat. Tapi dalam perjalanan karya bapa Frans Laba sebagai guru, manfaat ini diberikan kepada banyak orang, kepada ribuan muridnya. Foto berikut, saat kami memaparkan perjalanan karya Frans Laba Bataona sebagai guru yang tulus mengabdi.

    Oprah Winfrey suatu hari menyampaikan kepada Penyair Maya Angelou, bahwa dia sudah membangun sekolah di Afrika Selatan: “Ini akan menjadi Legacy saya yang terbesar.”

    Maya menjawab, kamu tidak paham apa makna legacy sesungguhnya.

    “Your legacy is every life you have touched. Fill everything with love. Because every moment you are building your legacy.”

    Bapa Frans Laba Bataona, telah mendemonstrasikan kepada kita sepanjang 50 tahun perjalanan karyanya sebagai Guru, dia telah menyentuh kehidupan dari ribuan anak didiknya, yang saat ini telah sukses di berbagai bidang kehidupan. Dan beberapa diantaranya hadir bersama kita hari ini.

    Terima kasih kepada bapa guru Frans Laba Bataona yang telah menginspirasi kami semua untuk terus melayani di karya kehidupan kami masing-masing.

    “A teacher affects eternity: he can never tell where his influence stops.” (Henry Adams)

    Sumber : https://www.josefbataona.com

  • Herman Yosef Loli Wutun: Tiga Periode Memimpin Induk KUD

    Herman Yosef Loli Wutun: Tiga Periode Memimpin Induk KUD

    Tak pernah terbayang dalam benak Herman Yosef Loli Wutun terpilih menjadi Ketua Umum Induk KUD untuk ketiga kali. “Saya hanya pelaksana tugas, Yesus ketua umum saya.”

    HERMAN Wutun mengakhiri masa jabatan Ketua Umum Induk KUD pada 22 Juni 2013. Untuk itu, digelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2012 di sebuah hotel di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat. RAT merupakan forum resmi dan tertinggi untuk memberikan laporan pertanggungjawaban pengurus kepada 30 Pusat Koperasi Unit Desa (Puskud) seluruh Indonesia.

    Setelah laporan kepengurusannya diterima, pengurus demisioner. Kemudian peserta melakukan pemilihan pengurus baru. Mayoritas mengarahkan pilihannya kepada pria kelahiran Uruor, Lembata, Nusa Tenggara Timur, 8 Juli 1954. Maklum, selama memimpin ia memiliki andil membuka jejaring Induk KUD hingga ke lima benua di dunia. Dari 33 Pusat Koperasi Unit Desa peserta RAT, 20 mencalonkan Herman Wutun sebagai Ketua Umum Induk KUD. Sementara, 10 suara memlih calon lain, lalu memilih walk out, lantaran calonnya tak menang.

    Herman pun terpilih kembali sebagai Ketua Umum Induk KUD. Kepercayaan ini telah ia genggam sejak 2005. Namun, satu tantangan muncul, karena 10 Pusat Koperasi Unit Desa yang tidak memilihnya dalam RAT membentuk “kepengurusan tandingan”. “Kepengurusan ganda berjalan hampir satu setengah tahun. Namun, bagi saya ini bukan masalah besar, semua bisa dikomunikasikan secara kekeluargaan,” ujar Herman saat ditemui di kantornya, Graha Induk KUD, Warung Buncit, Jakarta Selatan, Selasa 18/11.

    Menyatukan perbedaan

    Perbedaan pendapat dalam tubuh lembaga yang ia pimpin membuatnya tak bisa tinggal diam. Ayah empat anak ini terus berupaya merangkul mereka yang berbeda pandangan. Selama satu tahun, ia mengusahakan agar perbedaan pendapat tersebut tidak berujung kepada perpecahan dalam lembaga yang ia pimpin. Maka, saat RAT Tahun Buku 2013, 29 Oktober 2014, ia mengundang semua pihak yang berbeda pendapat.

    RAT pada Oktober lalu, menjadi peristiwa bersejarah bagi Herman. Pasalnya, forum ini juga menjadi ajang penyatuan dua pihak yang berbeda pandangan. Sebanyak 29 pengurus Pusat Koperasi Unit Desa dari seluruh Indonesia hadir. Pada saat itu, dilakukan pemilihan pengurus baru lagi.

    Lagi-lagi, Herman mendapat dukungan dan masuk bursa calon ketua umum bersaing dengan Ketua Puskud Jawa Timur Marjito dan Ketua Puskud Kalimantan Timur Pahlevi Pangerang. Pada tengah proses penjaringan calon ketua, Pahlevi Pangerang mengundurkan diri.

    Saat proses pemilihan, Herman meraup 15 suara, selisih satu suara dengan Marjito yang meraih 14 suara. Herman pun disahkan menjadi Ketua Umum Induk KUD, sekaligus menyudahi perbedaan pendapat dalam tubuh lembaga ini. Proses pemilihan ini juga dihadiri Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga.

    Herman tak menyangka dirinya akan terpilih kembali. Tapi, ia meyakini, semua kejadian dirinya ada karena campur tangan Tuhan. “Saat pertama kali dipercaya menjadi Ketua Umum Induk KUD, saya merasa peristiwa itu tidak masuk akal. Tapi saya juga merasakan ada gerakan kehendak Tuhan, ada rekayasa Ilahi. Saya ini kan hanya pelaksana tugas, Yesus ketua umum saya,” ujar Herman sembari menebar senyum.

    Herman mengatakan, “Sehelai daun yang jatuh ke tanah, itu pasti karena ijin Tuhan. Menjadi Ketua Umum Induk KUD sampai tiga periode, itu juga karena Tuhan,” kata Ketua Lingkungan St Ignasius de Loyola, Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Kota Wisata Cibubur, Keuskupan Bogor ini.

    Tani sejahtera

    Dalam forum RAT yang dihadiri Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI, Herman meminta pemerintah agar mengembalikan distribusi pupuk bersubsidi melalui KUD. Selama ini, KUD memang tidak diberi akses untuk menyalurkan kebutuhan pupuk bersubsidi.

    Ide ini diluncurkan Herman menanggapi beragam keluhan yang kerap dilontarkan para petani. Menurut Herman, para petani sering resah terkait pasokan kebutuhan pupuk. Padahal pupuk yang dibutuhkan petani harus memenuhi “enam tepat”: tepat jenis, tepat mutu, tepat harga, tepat waktu, tepat tempat, dan tepat jumlah. Maka, KUD sebagai unit koperasi yang menjangkau hingga daerah pedesaan bisa kembali menjadi lembaga yang menyalurkan pupuk bagi para petani.

    Selain penyaluran pupuk, Herman juga berinisiatif untuk mengembalikan KUD sebagai penyedia bibit padi padi serta penyalur utama besar untuk stok kebutuhan nasional. “Kami meminta agar pemerintah juga memberi kesempatankepada KUD membeli beras dari petani kemudian diserahkan dan disimpan di Bulog. KUD harus menjadi mitra strategis pemerintahan dalam meningkatkan kesejahteraan petani,” tekad Herman.

    Herman Yosef Loli Wutun

    Lahir   : Uruor, Lembata, NTT, 8 Juli 1954

    Istri     : Petronela Peni Sanga

    Anak-anak:

        ·MB Mawarni Gelu Wutun

        ·Hermawati Rose LT Wutun

        ·Pedro Sarmento Aster Pehan Wutun

        ·Mathilda Oliander Nogo Mukang Wutun

    Pendidikan :

        ·SDK Uruor, Lembata, NTT

        ·SMEPK St. Pius Lewoleba, Lembata

        ·SMEAK St. Gabriel Maumere, Flores

        ·Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Nusa Cendana Kupang

    PengalamanKerja :

        ·Direktur Pusat Koperasi Unit Desa, NTT (1991-2003)

        ·Anggota dan Ketua Dekopinwil NTT (1993-2003)

        ·Anggota MPR RI (1999-2004)

        ·Pimpinan Paripurna Dekoppin Pusat (1998-2005)

        ·Pjs Ketua Umum Induk KUD (2004-2005)

        ·Pimpinan Harian Dekoppin Pusat (2005-2008)

        ·Anggota Dewan Pertimbangan Pusat Kadin (2003-2008)

        ·Ketua Umum Induk KUD (2005-2008; 2008-2013; 2014-2017)

    Ansel Deri

    Sumber: HIDUP  No. 49, 7 Desember 2014

  • Mengenang Guru John Domaking

    Mengenang Guru John Domaking

    NAMANYA Yohanes Kletor Domaking. Kami, murid-muridnya di SMA Kawula Karya Lewoleba, menyapa guru kami ini dengan Pak John atau Pak John Domaking. Ia mengajar kami mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Tahun 1987, saya tercatat sebagai siswa baru semester dua pindahan dari Sekolah Pendidikan Guru Kemasyarakatan (SPGK) Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

    Di SMA Kawula Karya, saya bergabung dengan rekan-rekan lintas jurusan. Baik jurusan IPA (A-2), IPS (A-3), dan Bahasa (A-4). SMA ini meminjam gedung SD Inpres Lewoleba di kawasan Nusa Tadon, tak jauh dari kantor Polisi maupun kantor Pembantu Bupati Wilayah Lembata. Tahun 1990-1994, pak guru John Domaking dipercaya sebagai kepala SMA Kawula Karya setelah jabatan ini berturut-turut diemban guru Bernardus Bae Wator dan Martinus Penana.

    Di jurusan A-4 seangkatan tahun 1987, saya bertemu rekan-rekan baik yang berasal dari Lembata maupun Pulau Adonara. Sekadar menyebut beberapa di jurusan seperti John Uring Botoor, Yohanes Mosa Making, Yasinthus Beda Kobun, Awaludin Amir, Fransiskus Kamilus Wuri Ujan, Hamdan Mangu Laga, Regina Palang Making, Baharudin Pata Duli, dll.

    Baik SPGK Lewoleba maupun SMA Kawula Karya, berada di bawah naungan Yayasan Kawula Muda. Yayasan ini dirintis Alex Murin, seorang guru tua dan politisi kawakan Flores Timur asal Kedang, Lembata.

    Ikwal kepindahan saya dari SPGK ke SMA Kawula Karya juga sepele tapi saya memutuskan pindah untuk melanjutkan sekolah. Mau kembali kampung, tanggung. Kalaupun balik kampung, ada banyak kemungkinan. Bisa mencoba betah setahun berada di kebun sembari menunggu tahun depan baru mendaftar. Atau menjadi petani mengikuti jejak ayah-ibu. Godaan besar juga bisa muncul: ‘melarat’ (merantau) ke negeri Jiran Malaysia mengikuti jejak saudara dan saudari sekampung. Tapi semua itu saya abaikan.

    Pilihan bulat pindah sekolah. Mengapa? Karena saya sudah tinggalkan kampung di Boto ke Lewoleba berjalan kaki sejauh 24 kilo meter. Jarak yang harus saya tempuh bolak balik setiap akhir pekan untuk mengambil bekal. Ya, karena itu harus sekolah.

    “Ya, engkau tida boleh brenti sekolah. Ingat bahwa orangtua sudah berpanas-panas bahkan mandi hujan di kebun, itu karena ingin kamu juga sekolah. Kamu harus mengejar mimpi mewujudkan cita-citamu,” kata John Domaking suatu waktu.

    Sungguh mulia pak guru John Domaking. Kala itu saya menghadapi seorang guru yang bekerja, mengabdi penuh cinta. Teladan dan ilmu yang ia bersama rekan-rekan guru berikan, menghasilkan banyak anak didik yang mengabdi di berbagai bidang profesi. Ada juga menjadi imam, biarawan dan biarawati.

    Benar kata Kahlil Gibran, penyair Libanon dalam puisinya, Kerja. Kata Gibran, kerja adalah wujud nyata cinta. Bila kita tidak dapat bekerja dengan kecintaaan, tapi hanya dengan kebencian, lebih baik tinggalkan pekerjaan itu. Lalu, duduklah di gerbang rumah ibadat dan terimalah derma dari mereka yang bekerja dengan penuh sukacita.

    Saya berterus terang kepada beliau mengapa saya pindah di SMA Kawula Karya. Di hadapan kepala sekolah, Martin Penana, saya sampaikan pindah. “Saya pindah di SMA Kawula Karya agar bisa pake seragam satu pasang saja. Cukup putih abu. Kalau di SPGK ada beberapa seragam mesti saya beli lagi. Kalau beli, saya tak mampu lagi. Bayar SPP saja sudah terancam setiap semester,” kata saya kepada pak guru John Domaking.

    Alasan ini juga saya sudah kemukakan sebelumnya kepada pak guru Martin Penana mengapa memilih pindah sekolah. ketua yayasan kala itu, Pak Ignasiu Begaju, juga menyarankan saya tak boleh keluar tapi pindah saja di SMA Kawula Karya karena sekolah itu masih di bawah yayasan yang sama.

    Pak John Domking, Pak Karel Lamawuran, Pak Petrus Olak Ujan, Pak Aloysius Koten, ibu Maria Duan, pak guru Sirilus Sara, Abdul Majid Lamahoda, Yos Gere Tukan, adalah beberapa guru yang mendidik dan mengajar kami. Puji Tuhan. Saya berhasil menyelesaikan studi. Setelah mengubur niat menjadi buruh migran di Malaysia, saya kemudian melanjutkan studi di Undana Kupang hingga lulus sarjana.

    Sebagian guru ini adalah guru-guru di SMA Negeri Lewoleba yang mengajar kami di sela-sela mengajar di SMAN Lewoleba. Mereka adalah guru-guru berdedikasi tanpa memikirkan honornya. Dedikasi mereka mengajar luar biasa besar. Banyak muridnya hingga kini menyebar ke mana-mana.

    John Domaking adalah guru Bahasa dan Sastra yang luar biasa hebat bila ia sudah berada di depan kelas. Pengetahuannya di bidang sastra sangat luas. Menjelaskan periodisasi sastra mulai dari jaman Balai Pustaka, Angkatan 46 sampai Angkatan 66 sangat menarik.

    “Di Universitas Flores, mahasiswa leluasa membaca berbagai literatur dengan mudah. Kita harus membaca dan membaca agar banyak ilmu kita peroleh dan teruskan di kemudian hari,” kata Pak guru John Domaking suatu waktu.

    Pak John kabarnya pernah kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra di Universitas Flores, Ende. Hal yang juga selalu diingatkan Pak guru Thomas Tokan Pureklolon, guru Bahasa Inggris saya, saat masih di SPGK Lewoleba kala itu. Guru Thomas Pureklolon kini jadi guru Ilmu Politik di Universitas Pelita Harapan, Tangerang, Banten, setelah sebelumnya mengajar di Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

    Tiap hari, setelah memarkir sepeda tuanya di depan kelas, ia akan menyapa kami semua, murid-muridnya, sebelum kami semua masuk kelas. Tak ada jarak antara kami. Rasanya kami teman sebaya. Tapi, urusan ilmu dialah guru yang hebat.

    Bila ada teman yang tak masuk sekolah, ia seolah memastikan bahwa teman itu pulang kampung untuk ambil bekal hidup di kos. Ini bisa dipahami karena sebagian besar kami tinggal jauh dari Lewoleba bahkan ada yang di luar pulau seperti Adonara.

    “Materi saya yang lalu, bisa ditanyakan kepada teman lain. Kalau belum paham dan butuh penjelasan lebih lanjut, nanti kita diskusikan lagi,” begitu kata Pak guru John Domaking kepada teman yang tak hadir dalam kelas.

    Di bawah bimbingan Pak John Domaking, saya bersama dua rekan: Ramly Raya dan Kamrin Bunga, menjadi utusan sekolah mengikuti lomba cerdas cermat tingkat SLTA se-kota Lewoleba tahun 1989. Berkat diskusi dan bimbingan beliau, tim kami meraih juara 2 setelah takluk dari SMA Negeri Lewoleba yang masuk juara 1. Kami harus mengakui keunggulan tim sahabat saya, Marsel Ruben Payong. Sahabat Dr Ruben Payong, kini jadi guru di Universitas Katolik Indonesia St Paulus Ruteng.

    Sejak SMA Kawula Karya ditutup sekitar tahun 1994, pak guru John Domakin istirahat beberapa tahun. Ia kemudian mengabdi sebagai guru honorer komite di SMA PGRI Swasthika Lewoleba. Beberapa tahun setelah Lembata menjadi daerah otonom pada 1999, tahun 2000 ia setia menjadi honorer di sekolah ini.

    Tahun 2005, ia diangkat menjadi tenaga kontrak provinsi. Kemudian pada 2010, kontrak diperpanjang. Mestinya ia diangkat jadi PNS tetapi terganjal usia dan syarat lainnya. Pengangkatan beliau sebagai tenaga kontrak provinsi boleh jadi sebuah bentuk penghargaan Pemerintah Provinsi NTT.

    Pada Rabu, 14 Agustus 2019 sekitar pukul 21.00 WITA saya mendengar kabar Pak John Domaking, guru Bahasa dan Sastra dan Bahasa Jerman yang bisa menulis dan melafalkan bahasa Arab itu berpulang. Ia menutup mata selamanya di kediamannya, Wangatoa, Lewoleba.

    Sahabat saya Dionisius Ola Wutun, dari jurusan IPS di SMA Kawula Karya, mengabarkan Pak John Domaking sudah berpulang. Ia menyusul beberapa rekannya, guruku baik semasa di SPG maupun SMA, yang sudah kembali duluan ke rumah-Nya seperti Piet Olak Ujan, Sirilus Sara, Yos Demon Wutun, Yos Dasi Bumi.

    Selamat jalan, guruku John Domaking. Selamat jalan pahlawan tanpa tanda jasa. Doa tulus muridmu. Terima kasih telah membuat saya jadi orang. Semoga pula isteri, anak-anak dan keluarga besarmu beroleh penghiburan. Sekali lagi, terima kasih guruku.

    Jakarta, 14 Agustus 2019.

    Ansel Deri

    mantan murid John Domaking, lulusan SMA Kawula Karya tahun 1990

    Ket foto: Yohanes Kletor Domaking atau John Domaking

    Sumber foto: Fb guru Peten Philipus