Category: BIOGRAFI

  • Guru Penggerak dan Seni Mendidik Membentuk Budaya Sekolah

    Guru Penggerak dan Seni Mendidik Membentuk Budaya Sekolah

    Oleh Eulis Saputra (Komunitas Cinta Indonesia /KACI)

    BANDUNG, DISDIK JABAR – Seni dalam mendidik ibarat memberi warna pada kanvas kehidupan siswa. Setiap peserta didik sudah tentu memiliki keunikan yang khas. Dengan memahami setiap jiwa yang memiliki kemampuan berbeda maka akan lebih mudah memfokuskan pada bidang pendidikan yang sesuai potensi siswa. Oleh sebab itu, tes potensial sangat penting dilaksanakan pada awal pembelajaran guna mendeteksi bakat alam yang bisa menentukan pilihan pendidikan bagi masa depan peserta didik.

    Ada berbagai teori pembelajaran kreatif yang banyak ditulis para ahli. Mulai dari metode, teknik, dan strategi dipadu kajian teori kecerdasan. Secara umum, dalam penanganan peserta didik dapat diklasifikasikan pada beberapa kelompok kecerdasan. Semua ini menjadi data empiris temuan di ruang kelas. Setiap strategi mengajar bisa dikolaborasikan dalam satu pertemuan kegiatan pembelajaran. Sehingga, peserta didik memiliki suguhan pembelajaran yang heterogen pada setiap tahap kegiatan (proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi).

    Strategi mengajar dengan menyuguhkan pancingan multikecerdasan; kecerdasan linguistik, logis matematis, visual, musikal, kinestetik, interpersonal, dan naturalis. Namun, pernahkan terpikirkan bahwa semua itu adalah ilmu, seni dalam mendidik? Marilah kita sedikit menelisik bagaimana padu padan seni dalam mendidik dikaitkan dengan teori seni itu sendiri. Dimana kita bertemu dengan pendidik yang jenius dan mengagumkan, guru penggerak yang bisa mengajak belajar menciptakan keceriaan sesuka hati serta menciptakan pabrik kegembiraan.

    Sejarah estetika romantis memusatkan perhatiannya pada diri seniman dan proses kreatifnya dalam seni. Kebebasan berkreasi dalam seni secara autodidak/alamiah/bakat alami dari setiap individu. Penekanannya ada pada konsep “alam”. Lingkungan alam yang menggugah rasa kegembiraan karena keindahannya memberi kedamaian dan kenyamanan.

    Begitu pula bagi seorang pendidik, ibarat seniman yang membuat suatu keindahan saat mengajar. Berdasarkan konsep ini, pada dasarnya seni mendidik akan berkembang kreatif jika dilakukan secara alami oleh pendidik penggerak sebagai seniman didik. Pemahaman terhadap jiwa-jiwa pembelajar dengan ilmu pedagogisnya. Dengan pendekatan alami inilah, pembelajaran akan terasa lebih dekat, menyamankan, dan manusiawi.

    Contoh analogi lainnya; sebuah karya seni tidak akan lepas dari latar belakang (sejarah) pengalaman sang seniman itu sendiri. Begitu pula karya seni, akan mewakili keberadaan pada zamannya yang bercerita tentang situasi dan kondisi pada masa tersebut. Sifatnya kontekstual (sesuai pada zamannya) yang berbicara tentang kekinian. Walau mungkin bisa bercerita tentang masa lalu atau mungkin juga relevan sepanjang masa, tapi jiwanya akan kosong jika tidak menyentuh objek yang relevan, kemungkinan ada istilah bahasa yang tidak sesuai lagi.

    Maksud dari pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa seni dalam mendidik tidak terlepas dari pengalaman, keilmuan, dan kepribadian para pendidik itu sendiri. Pendidik sebagai seniman didik mengajarkan kepada siswa didiknya tentu dipengaruhi oleh pengalaman masa lalunya. Peserta didik adalah objek karya seni mendidik. Dengan gaya kekolotan dipadukan dengan cara pandang kekinian dalam mendidik, jika dikolaborasikan dengan baik, diharapkan perubahan dari zaman manual ke digital akan berjalan mulus. Pendidikan masa kini di zaman milenial tentu harus diposisikan sesuai tuntutan zaman. Mau tidak mau, semua stakeholder pendidikan harus hadir menjadi pendamping yang bisa memberikan bimbingan dan rasa percaya diri, baik bagi dirinya maupun bagi para pendidik dan peserta didiknya. Semua digiring ke masa kekinian.

    Mungkin perlu pengakuan budaya kolonial, dengan adanya unggah-ungguh sangatlah penting dalam penguatan pembentukan karakter peserta didik. Yang tidak boleh adalah feodalisme dalam keilmuan. Kita harus terbuka dalam ilmu. Yang bisa jadi, kita bertambah ilmu dari pengalaman empiris ketika bertemu anak kecil yang lugu dan masih jauh penalarannya terhadap dunia. Ilmu anak kecil sangatlah sederhana, penuh mimpi namun faktual.

    Seni mendidik selain menghadirkan rasa estetis/keindahan, juga bisa membuat peserta didik sebagai penikmatnya merenung (berkontemplasi), menafakuri hakikat hidup dan kehidupan apa adanya. Ada gejolak positif-negatif berupa keterkejutan yang menarik.

    Seni mendidik merupakan perpaduan antara estetika keselarasan dan pertentangan. Melalui seni mendidik, bisa menggerakkan hati manusia untuk mendekat dan mengenal Sang Mahaseni. Tangan-tangan Tuhan turut andil dalam bentuk komunikasi religi. Contohnya, menggerakkan orang untuk giat belajar, berbuat kebaikan, ibadah, beramal, menolong, sidqoh, membantu sesama, cepat tanggap, mengerti bahasa isyarat, lambang, dan simbol serta membuat orang menjadi lebih bijak (paham).

    Pernyataan-pernyataan dalam materi pembelajaran sifatnya dapat terukur dan dipahami, walau kita tidak menyaksikan nyata/langsung. Tetapi, logika kita langsung bekerja mengembangkan penafsiran yang terukur/logis. Ketakjuban akan mekanisme komputerisasi/digital yang memberi ruang keindahan, seni mendidik harus masuk pada semua bidang keilmuan. Sehingga, jiwa-jiwa tidak kering, semua tertata indah dalam mata pelajaran agama, PKn, bahasa, IPA, IPS, matematika, olahraga, seni budaya, dan prakarya.

    Dengan seni, wawasan menjadi luas, penalaran pun akan berkembang. Karena, seni tidak pernah mati, akan selalu membawa kegairahan dan kreasi. Seni yang bijak yang mengajak kita untuk mengenal jati dirinya, mengenalkan, dan mengakrabkan pada Sang Mahaseni, Allah SWT.

    Panjangkan dan lebarkanlah keilmuan kita. Cobalah untuk mengenal dan memasuki dunia seni dalam pendidikan. Caranya, dengan melibatkan diri dalam pendidikan seni itu sendiri. Dengan demikian, kita terlatih berapresiasi dan berekspresi dari cipta, karsa, dan karya. Misalnya membaca, menulis, mendeklamasikan,dan mendengarkan puisi.

    Seni India begitu indah karena pelaku seni memahami tugas dan fungsinya untuk memberikan suguhan seni yang agung secara total. Setiap gerak, ekspresi, dan pakaian memiliki makna. Sehingga, penikmat seni terhanyut dalam permainannya dan memberi penilaian sebagai bentuk apresiasinya. Tubuh dihias, tidak kosong dari bawah sampai atas. Setiap sesuatu ada hal yang ingin disampaikan sebagai bentuk komunikasi. Contohnya, angin yang berembus meniup tubuh kita merupakan bentuk komunikasi kita dengan udara yang harus dimaknai dan dihayati.

    Seni adalah kehalusan jiwa. Yang menata keindahan rasa dalam bentuk karya. Seni mendidik mengajak pendidik penggerak untuk membentuk karakter peserta didik yang kreatif (bagus dalam memikirkan cara baru untuk melakukan sesuatu), ingin tahu (memiliki minat mengeksplorasi dan meneliti), berpikiran terbuka (mau melihat masalah dari beberapa perspektif), keberanian (tidak lari dari ancaman dan tantangan), ketekunan (bertahan saat keadaan menjadi sulit), vitalitas (menjalani hidup dengan semangat dan energi), cinta (bisa membentuk hubungan dekat dengan orang lain), kebaikan (senang memberi kepada orang lain), citizenship (menjadi pemain dan pendukung orang-orang di sekitar), kepemimpinan (mengambil tanggung jawab dan melangkah maju), pemaaf (bisa memaafkan orang yang telah melakukan kesalahan), kerendahan hati (tidak menarik perhatian dengan pencapaian diri), kehati-hatian (menunjukkan kontrol diri dan tidak terlalu menurut kata hati), bersyukur (berterima kasih untuk hal-hal baik dalam kehidupan), harapan (mengharapkan hal baik untuk berusaha mencapainya) serta humor (melihat sisi lucu dari kehidupan dan riang).

    Budaya sekolah terbentuk dari kompetensi seni mendidik setiap seniman didiknya. Jadilah guru penggerak yang memiliki kebebasan dan kekuatan dalam berekspresi serta berapresiasi. Mengembangkan kemampuan menata siswa dengan hati yang mulia. Menjauh dari keangkuhan. Melebur dalam ilmu yang subur menuju kemakmuran pendidikan dalam kesantunan.***

    Sumber : http://disdik.jabarprov.go.id/news/2208/guru-penggerak-dan-seni-mendidik-membentuk-budaya-sekolah

  • E.F.E Douwes Deker

    E.F.E Douwes Deker

    Di dalam tubuhnya mengalir darah Belanda, Perancis, Jerman, dan Jawa, tapi ia seorang penggerak revolusi Indonesia yang melampaui zamannya. Namanya Ernest Prancois Eugene Douwes Dekker. Di tengah kekecewaan sebagian kalangan terhadap sikap elitis Boedi Oetomo.  Douwes Dekker hadir menyodorkan gagasan segar. Ia mendirikan partai politik pertama di Indonesia, yang bercita-cita memperjuangkan kesetaraan hak bagi semua ras yang ada di Hindia .

    Kehadiran Indische Partij meniupkan roh di awal pergerakan. Kemunculannya di sambut gegap-gempita. Tour propaganda yang digerakkan Douwes Dekker merupakan rapat akbar politik pertama di Hindia. Inilah tonggak pergerakan dengan strategi pengerahan massa dalam jumlah besar – strategi yang kemudian diterapkan Tjokroaminoto untuk mengorganisir massa Sarekat Islam.

    Tak bisa dipungkiri, Indische Partij meletakkan fondasi penting bagi nasionalisme Hindia. Organisasi politik ini jauh lebih radikal daripada Boedi Oetomo. Tak cuma menyeruhkan perombakan di bidang pelayanan administrasi, Douwes Dekker mengusung reformasi politik pertanian dan perpajakan sebagai salah satu program partai. Tindak-tanduk Douwes Dekker diawasi karena menolak diskriminasi. Ia dicap sebagai agitator  berbahaya. Douwes Dekker menjadi figur menggetarkan bagi pemerintah Hindia Belanda.

    Di usianya yang singkat karena dipaksa bubar oleh Belanda, Indische Partij berhasil menyuburkan semangat juga harapan. Organisasi politik ini meniupkan napas panjang bagi aksi pergerakan setelah itu.

    Nasionalisme Indonesia pada hakekatnya ialah suatu gejala baru yang harus dibedakan dari gerakan-gerakan perlawanan sebelumnya terhadap kekuasaan Belanda. Perang Jawa  1825 – 1930 misalnya, pada waktu Pangeran Diponogoro melawan kekuasaan Belanda di Jawa Tengah  selama lima tahun, merupakan suatu gerakan setempat yang mencerminkan ketidakpuasan lokal dan sangat berbeda sifatnya dari arus perlawanan baru  yang muncul abad ke-20. Nasionalisme baru itu adalah hasil imperialisme baru. Ia harus dipandang sebagai bagian dari gerakan yang lebih besar  yang melibatkan banyak bagian tanah jajahan baru yang diciptakan Eropa di Asia dan Afrika pada penghujung abad ke-19.

    Rasa kebangssann ditempa dalam pengalaman bersama melawan penindasan kolonial, namun gagasan-gagasan tentang kebangsaan dan kemudian penciptaan suatu tatanan politik baru – suatu negara modern –  yang dapat digunakan untuk mengungkapkan gagasan itu, pada dasarnya merupakan konsep baru, yang melampui aspek-aspek negatif  dari perjuangan kemerdekaan. Dan ini pun menyangkut penyusunan saluran-saluran baru bagi kekuasaan dalam masyarakat-masyarakat tradisional serta  perumusan harapan-harapam baru. Semua ini mempunyai kesamaan-kesamaannya di mana pun di India, di bagian-bagian lain Asia Tenggara dan di Afrika – dan ini sangat berbeda dari gerakan perlawanan araris “ pra-nasiolis “ yang umum terdapat dalam masyarakat Indonesia, atau dari pemberontakan di bawah pemimpin tradisional yang berdasarkan keluhan-keluhan tertentu.

    Sebab-sebab nasionalisme abad ke-20 harus dicari pada terganggunya keseimbangan masyarakat-masyarakat tradisional sebagai akibat dari dampak penuh industri modern Eropa. Dengan munculnya kaum cendikiawan baru, rasa tidak puas massa dapat disalurkan dan diorganisasikan ke dalam gerakan-gerakan kekuatan politik yang menentang rezim kolonial, memandang ke depan secara positif untuk membangun suatu negara merdeka yang didasarkan pada nilai-nilai pola-pola tatanan lama  tradisional

    Ernest Renan mengatakan bahwa etnisitas tidak diperlukan untuk kebangkitan nasionalisme. Jadi nasionalisme bisa terjadi  dalam komunitas multietnis. Persatuan agama juga tidak diperlukan untuk kebangkitan nasionalisme. Dalam hal nasionalisme, syarat mutlak dan utama adalah adanya kemauan dan tekad bersama. Kedouri mengaksenkan masalah self-determinitaion (penentuan nasib sendiri) sebagai salah satu tujuan dari nasionalisme. Plamenatz menfokuskan diri pada self-determination ( pemerintahan sendiri sebagai unsur sentral dalam pembahasannya mengenai nasionalisme  dan kolonialisasi. Salah satu fokus Gellner adalah persatuan budaya sebagai hubungan antarorang yang merupakan landasan nasionalisme, terlebih lagi Guibermau yang lebih mengunggulkan budaya sebagai kekuatan pemersatu.

    Nasionalisme adalah paham dan proses di dalam sejarah saat sekelompok orang merasa menjadi anggota dari suatu nasion (bangsa) dan mereka ingin mendirikan satu state (negara) yang mencakup semua anggota dari kelompok itu. Teori nasionalisme  tentu saja lebih luas lagi, akan tetapi tidak di bahas di sini karena tulisan ini tidak bertujuan menulis suatu karya teoritis mengenai nasionalisme pada umumnya.

    Akan tetapi selain dari faktor-faktor itu juga ada beberapa faktor kontekstual yang perlu diperhatikan. Nasionalisme hanya dapat berkembang jika beberapa faktor-faktor pendorong itu ada. Smith membahas teori Gellner yang mengatakan bahwa modernisasi dan industrialisasi adalah faktor-faktor yang menyebabkan munculnya nasionalisme. Smith dalam interprestasinya terhadap teori Gellner menyatakan bahwa peran kaum elit dan krisis yang terjadi di kalangan mereka akibar modernisasi dan industrialisasi dianggap sebagai faktor sentral dalam kebangkitan nasionalisme. Industrialisasi mengakibatkan posisi elit tidak bisa ditempati oleh sembarangan bangsawan. Hanya mereka atau orang biasa yang berbakat saja akan berhasil mendapatkan posisi elit  itu dalam apparatus pemerintahan . Hal ini mengakibatkan suatu krisis pada diri kaum elit lama yang kemudian merasa terancam.

    Masalah nasionalisme Hindia jelas tidak dapat dilepaskan dari Sang Inspirator Revolusi. Ia adalah Ernest Francois Douwes Dekker yang dilahirkan di Pasuruan, Jawa Timur pada tanggal 8 Oktober 1879 . Ia adalah anak kedua dari pasangan Auguste  Douwes Dekker dan Luoise Margaretha Neumann. Kakeknya dari pihak ayah, Jan Douwes Dekker adalah kakak dari penulis terkenal Eduard Douwes Dekker adalah kakak dari penulis terkenal Eduard Douwes Dekker atau Multatulli, sehingga Ernest adalah cucu-kemenakan Multatulli

    Keluarga Douwes Dekker adalah kreol ( Eropa murni yang tinggal di Hindia Belanda). Sementara itu ibunya adalah keturunan campuran Jerman dan Jawa, dengan demikian termasuk dalam golongan Indo-Eropa . Pada masa remajanya, Douwes Dekker menempuh pendidikan HBS di Batavia di mana salah saru rekan seangkatannya adalah calon regent di Serang, Banten, Achmaf Djajadiningrat.

    Ia memulai karirnya sebagai pegawai pada perkebunan kopi di Sumber Duren di kaki Gunung Semeru. Pengalamannya bekerja di perkebunan tersebut membuatnya untuk pertama kalinya menyaksikan realitas eksploitasi kolonial, Douwes Dekker muda yang mengindentifikasikan diri sebagai orang Jawa, merasa terusik dengan keadaan tersebut dan karenanya ia cenderung mengesampingkan status Eropanya dan lebih membela kelompok pekerja bumiputera. Oleh R Jesse, atasannya di perkebunan tersebut, ia dianggap tidak memperhatikan batas yang tepat dalam hubungannya dengan para pekerja. Hal ini sudah merupakan suatu alasan untuk memberhentikannya.

    Demikian pula ketika Ernst menjadi pegawai laboratorium dan kemudian menjadi ahli kimia di pabrik gula Pajarakan, Probolinggo, ia tak dapat menahan diri ketika melihat adanya kecurangan pada pembagian air irigasi antara perkebunan tebu dengan sawah milik penduduk. Administratur pabrik gula tersebut kemudian memperingatkannya untuk tidak mencampuri hal-hal yang bukan urusannya. Seperti halnya Multatulli, ia memilih mundur demi mempertahankan prinsip dan harga dirinya.

    Kehidupannya sebagai “ petualang “ dimulai pada usia puluh.. Dalam bulan Februari 1900, Ernest Douwes Dekker bertolak dari Batavia menuju Transvaal, Afrika Selatan. Pada saat itu di Afrika Selatan sedang terjadi perang antara kelompok penduduk keturunan Belanda yang menamakan dirinya Zuid Afrikaner atau orang-orang Broer dengan Inggris yang juga  ingin memperluas wilayah koloninya. Pada abab ke-18 golongan keturunan Belanda di Afrika itu membentuk Republik Transvaal di bawah Paul Kruger, tetapi keberadaan negara tersebut  terus terancam oleh ekspansi Inggris. Dalam perang Broer pertama (1877-1889), golongan Broer memperoleh kemenangan sehingga kekuasaan Republik Transvaal dipulihkan. Setelah adanya penemuan tambang emas di Transvaal, pihak Inggris kembali melanjutkan upaya-upaya aneksasi mereka terhadap wilayah Republik Transvaal, sehingga peperangan pecah kembali  pada akhir tahun 1899.

    Kenyataan adanya suatu kelompok minoritas – yang notabene merupakan bangsa leluhurnya, Belanda – sedang terancam oleh kekuasaan kolonialis yang lebih kuat, membuat semangat nasionalis Douwes Dekker tergerak. Bersama beberapa rekannya dari Hindia Belanda seperti J.G Van Ham dan lain-lain, Douwes Dekker berangkat sebeagai sukarelawan ke Afrika Selatan membantu orang-orang  Broer melawan orang-orang Inggris

    Tidak terlampau siginifikan untuk mendeskripsikan panjang lebar peperangan di Afrika Selatan tersebut. Akan tetapi, cukup jelas bahwa pengalaman perang tersebut sangat mempengaruhi pemikiran-pemikiran Douwes Dekker  sewlanjutnya sebagai tokoh pergerakan  Indis, dan memang terdapat kesejaharan antara bangsa Broer di Afrika Selatan  dengan orang-orang keturunan campuran di negerinya. Keduanya mewakili jenis nasionalisme kreol, atau golongan keturunan Eropah dan tersebar dan membentuk koloni-koloni di benua lain.  Hal yang ia sesalkan kemudian adalah bahwa peperangan tersebut tidak kurang dan tidak lebih merupakan perang perebutan koloni antar dua bangsa kulit putih yang berbeda, tetapi mereka sama-sama tidak menaryh perhatian atau cenderung terasing dari komunitas bumiputera yang lebih besar, yaitu penduduk asli Afrika Selatan.

    Orang-orang Eropa di Afrika memberlakukan batasan rasial yang ketat dan tidak memungkinkan pembauran atau perkawinan hibrida. Ini membawanya pada suatu pemikiran mengenai arti pengenai keberadaan komunitas Indo di Hindia Belanda, potensinya sebagai faktor pemersatu dalam menciptakan identitas suatu bangsa mutli-etnik yang mengatasi perbedaan  dan pemisahan rasial dan etnik yang selama ini dipelihara oleh rezim kolonial.

    Dengan kekalahan pihak Boer, Republik Transvaal jatuh kepada kekuasaan Inggris. Pada April 1902 Douwes Dekker dan kawan-kawannya ditahan oleh pemerontah Inggris di Pretoria dan kemudian dipindahkan ke Kolombo, Sri Langka. Tidak lama ia menjalani penahanan karena tahun yang sama  ia kembali ke Hindia Belanda dan memulai debutnya dalam dunia politik dan jurnalisme. Pada tahun 10-3, Douwes Dekker mulai bergabung dengan redaksi De Loomotif di bawah P Brooscholt yang berpusat di Semarang . Surat kabar ini merupakan salah satu pendukung gagasan Politik Etis, di samping Brooscholf sendiri adalah seorang pendukung aliran sosial-demokrat.  Kemudian ia bergabung dengan Soerabaiasch Handelsblad, sebelumnya akhirnya bergabung di Bataviaasch Nieuwsblad  tempat sebelumnya ia pernah menulis opini dan pengalamannya sehubungan dengan Perang Broer  di Afrika Selatan. Keterlibatan Douwes Dekker dalam redaksi surat kabar terakhir inilah yang terpenting dalam perjalanan karir intelektual dan politiknya.

    Bergabungnya Douwes Dekker dalam surat kabar tersebut segerea memberi nuansa tersendiri dalam kancah pergerakan Indis. Secara umum idealisme dan gagasannya bersesuaian dengan Karel Zallbergh, pemimpin Bataviaasch Nieuwsblad yang menjadi kawan dekat dan mentornya. Akan tetapi, menurut pandangan mentornya ini, Douwes Dekker sedikit “ kurang matang dan cenderung lebih mengikuti perasaan daripada perhitungan yang rasional dan cermat.”

    Kedua tokoh tersebut sama-sama terinspirasi oleh Ernst Haeckel, seorang ahli biologi asal Jerman penganut teori Darwin. Bagi Douwes Dekker, hal yang menarik dari pemikiran  Haeckel  adalah oposisinya terhadap wacana kekristenan yang telah berhasil menjadi salah satu kekuatan pendorong imperialisme Barat. Bagi Haeckel, Tuhan lebih identik dengan kekuatan alam dan pandangan ini menyerupai konsep spiritual orang Timur. Sebagaimana kita ketahui Douwes Dekker mengindentifikasikan orang Indo atau Indis sebagai bangsa Timur  dan ia cukup tertarik pada berbagai wacana  tandingan terhadap wacana kolonial yang Eurosentris. Sementara Zaalberg, di samping sudah lama tertarik pada evolusioner juga mengagumi Haeckel sebagai seorang penganjur kebebasan berfikir, anti dogmatisme, dan konservatisme Darwinisme atau Haeckelianisme merupakan titik temu pertma pemikiran Zaalberg dan Douwes Dekker.

    Dengan demikian, tidak mengherankan bahwa antara Douwes Dekker dan Zaalberg terjadi kerja sama erat dalam kampanye-kampanye melawan diskriminasi terhadap golongan Indo. Hanya saja Douwes Dekker lebih menekankan sifat antikolonial, sehingga hubungan itu harus diputuskan  Sikap anti-kolonial Douwes Dekker terlihat terutama melalu tulisannya. “ Hoe kan Holland he Spoedigst zijn Kolonial verliezen ? ( Bagaimana cara Belanda cepat-cepat melepaskan jajahannya ? ) yang dimuat dalam Niuewe Arahemsche Courant pada bulan Juli 1908.

    Tulisannya tersebut mengingatkan orang pada tulisan tokoh recolusi Amerika Benyamin Franklin “ Seni untuk menghilangkan sebuah jajahan “. Inggris telah menerapkan hal itu, dan membuat koloni mereka di Amerika melepaskan diri. Ia mempersoalkan kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang tampaknya tidak belajar dari situasi tersebut, dan menyatakan bahwa Politik Etis atau modernisasi bukanlah cara tepat untuk memperkuat loyalitas koloni Hindia. Yang lebih tepat ialah membebaskannya, atau dengan menciptakan pemerintahan sendiri oleh rakyat Hindia.

    Gagasan tersebut sangatlah radikal dalam konteks Hindia Belanda waktu itu. Akan tetapi, jika kita melihat perkembangan nasionalisme di negara-negara terjajah lainnya, hal demikian sama sekali tidak mengherankan. Douwes Dekker merupakan seseorang tokoh pertama yang sungguh sungguh tertarik pada fenomena nasionalisme Asia dan telah mengadakan studi mendalam mengenai itu. Ide nasionalisme Indis-nya dalam banyak hal sangat sangat dipengaruhi okeh gerakan kaum mestizo di Filipina. Pada tahun 1898, di bawah pimpinan Aguinaldo, para nasionalis Filipina yang sebagian besar adalah berasal ras campuran ini berhasil mengadakan revolusi dan mendirikan sebuah republik merdeka.

    Dalam kunjungannya ke Eropa antara 1910 hingga pertengahan 1911, Douwes Dekker sempat menemui beberapa tokoh nasionalis dari India –Inggris (British-India), di antaranya ialah tokoh radikal Shyamaji Krishnawarma, pemimpin redaksi majalah The Indian Sociologist. Pertemuan ini cukup sifnifikan bagi perkembangan pemikiran Douwes Dekker, karena kemudian sangat jelas terlihat bagaimana pengaruh nasionalisme India ini bagi gerakan India yang dipimpinnya. Sepulangnya dari perjalanan itulah, Douwes Dekker baru mengemukakan ide untuk membentuk sebuah partai politik, di mana model dan sifat gerakannya banyak di dasarkan pada Kongres Nasional India (Indian National Congres ), organisasi nasionalis India yang telah berdiri sejak tahun 1895.

    Perkembangan lainnya adalah diadakannya Kongres Ras Universal di London (1911) yang untuk pertama kalinya membicarakan ras campuran sebagai kategori etnisitas. Kongres ini merupakan senjata ampuh bagi pemikiran Douwes Dekker selanjutnya mengenai indentifikasi diri orang Indo. Hingga saat ini orang-irang Indo. Hingga saat itu orang-orang Indo secara hukum memang diklasifikasikan sebagai Eropa karena sebagai anak, mereka otomatis mewarisi nama keluarga Eropa dari garis ayah. Dengan demikian, jarang di antara mereka menyadari bahwa status Eropanya sebagai kontruksi kolonial yang membedakan mereka dari penduduk lainnya di Kepulauan Hindia.

    Douwes Dekker sendiri telah sering memberi penekanan pada pembaca Indo-nya bahwa mereka akan “berkhianat“ pada ibu jawa mereka jika mengambil sikap superior tersebut. Oleh karenanya ia mendesak khalayak Indo untuk mengindentifikasikan diri mereka sebagai “ orang-orang Hindia “ (de Indiers), tempat mereka lahir dan dibesarkan. Sejauh itu, pengertian orang Hindia atau Indo hanya dipergunakan di kalangan Indo-Eropa, karena 0rang-orang Indonesia biasa menyebut diri mereka menurur identitas etnik dan regional (kedaerahan). Dalam sebuah tulisannya, ia menyatakan bahwa orang-orang Indo – berbeda dengan orang Jawa, Sunda, Batak, dan kelompok etnis lain- tidak memiliki indentitas regional sehingga mereka tidak akan merasa kehilangan identitas dengan mengadopsi konsep kebangsaan yang meliputi seluruh kepulauan Hindia.

    Sebagai langkah berikutnya, ia mendefinisikan orang Indis tidak sebatas Indo melainkan segenap penduduk yang lahir dari bertempat tinggal di Hindia tanpa memandang ras dan etnisitas. Dalam idealiisme Douwes Dekker masyarakat Indis baru akan terbentuk melalui asosiasi golongan Indo-Eropa dengan orang Indonesia, bukan sebaliknya orang bumiputera diasimiliasi mengikuti Eropa seperti keinginan para pendukung Politik Etis.

    Banyak orang Indo – Eropa yang memerlukan sebuah gerakan dengan lebih banyak karakter politik. Karena hal itu, kemudian didirikan Insulinde pada tahun 1907. Organisasi ini banyak mengupayakan perbaikan terhadap keadaan orang Eropa yang lahir di Hindia Belanda dengan menggunakan “ semua alat yang diperkenankan dan sah menurut hukum” Oleh sebab itu, Insulinde terbuka untuk semua orang Eropa berumur 18 atau lebih yang mengakui Hindia Belanda sebagai tanah airnya.

    Elemen politik itu semakin menguat berkat usaha salah seorang elite Indo-Eropa yang paling penting. Ia adalah wartawan, penulis, dan aktivis politik bernama Ernst Douwes Dekker. Pada tahun 1912, ia mendirikan Indische Partij yang merupakan organisasi politik. Para indo-Eropa dalam organisasi ini memang menenuhi peran mereka sebagai pelopor tapi mereka juga memiliki visi tujuan kelompok yang lebih besar. Dengan semboyan Indie voor Indies (Hindia Belanda orang-orang Indies) partai ini juga terbuka untuk prang Indonesia dan orang Tionghoa. Mereka akan berjuang bersama-sama untuk kemerdekaan Hindia Belanda. Demikian usaha mereka pada waktu itu.

    Namun kenyatannya tidak pernah sejauh yang mereka inginkan. Sebelum gagasan-gagasannya sempat diendapkan, Indische Partij dilarang oleh pemerintah kolonial pada 1913. Pengaruh partai yang tertinggal ini juga hanya sedikit. Indische Partij adalah partai bagi orang Indo-Eropa karena 70 % pengikutnya merupakan orang Indo-Eropa. Hal yang membuat perkembangan partai ini terlihat adalah sikap masyarakat Eropa di koloni yang menjadi radikal. Mereka mencari sarana pelampiasan politik atas ketidakpuasan mereka. Mereka berupaya agar pencapaian kesetaraan bagi sebagian orang Eropa dapat memberi tempat bagi keinginan mereka untuk merdeka, jika bahkan melalui kekerasaan.

    Ernset Douwes Dekker merupakan seotrang penting bagi kelompok yang tidak banyak berpendapat ini. Pendapat-pendapat politik tertutama dituangkan lewat kedudukannya sebagai wartawan majalah Het Tijdschrift dan De Express  Dari artikel-artikelnya terungkap kenapa gubernur jenderal pada waktu itu, A.W.F Idenburg, memerintahkan untuk mengawasinya dengan seksama. Douwes Dekker adalah orang yang menciptakan propaganda, pemogokan, sabotase dan bahkan revolusi sebagai sarana mewujudkan harapan kemerdekaan. Ia pun menulis tentang tema-tema yang banyak dibicarakan seperti “ ras-ras campur “ dan : keunggulan ras.” Namun akhirnya ia memiliki kesimpulan-kesimpulan yang berbeda. Dari sudut pandangnya, para keturunan hubungan campur justru menyatakan karakter terbaik dari dua dunia di dalam diri mereka.  Oleh karena itu, orang Indo-Eropa sangat cocok berperan sebagai pemimpin dalam perjuangan kemerdekaan.

    Namun gagasan-gagasan Douwes Dekker terlalu radikal bagi Indo-Eropa. Di samping itu, kebanyakan dari mereka membutuhkan pergerakan yang khusus mewakili kepentingan mereka, bukan kepentingan orang Indonesia dan Tionghoa. Pendapat yang sama juga diutarakan oleh orang-orang Indonesia yang kemudian bernaung di bawah Sarekat Islam dan Partai Komunis Indonesia.

    Gagasan Douwes Dekker  tentang Indier sebagai konsep kewarganegaraaan dan kebangsaan multik-etnik yang menghapuskan masyarakat berdasarkan kualifikasi bertingkat menurut aras adalah sebuah serangan langsung terhadap hubungan kolonial. Walaupun gagasan-gagasannya berakar sepenuhnya pada kesadaran orang Indo atau Indis sebagai masyarakat pemukim majemuk, penekanan gerakan Indis Douwes Dekker sudah mengarah pada sesuatu yang lebih radikal yaitu kemerdekaan.

    Namun, gagasan revolusioner Douwes Dekker tampil terlalu prematur dan tampaknya gagal ketika Indische Partij yang didirikannya bubar dan para pemimpinnya dibuang. IP dituduh sebagai organisasi revolusioner yang “ menyebarkan permusuhan dan tentangan di antara kelompok-kelompok penduduk. Benarkah demikian ? Jika dianalisis lebih lanjut gagasan yang ia munculkan memang sedikit banyak mengandung kelemahan baik dalam hubungannya dengan orang-orang Indo-Eropa maupun orang-orang Indonesia.

    Nasionalisme Indie sebagai gerakan politik sebagaimana diusung oleh Indische Partij dan mengambil bentuk sebagai gerakan Indo-Eropa, khususnya para elitenya.  Mayoritas dari mereka seharusnya lebih diprioritaskan pada terjaminnya hak-hak seluruh warga Indo di Hindia. Secara umum, gerakan itu juga akan mendukung penciptaan masyarakat sipil Hindia Belanda yang menuju kemandirian politik secara evolusioner, tanpa merusak sendi-sendi masyarakat kolonial. Masyarakat elite Indo-Eropa pada dasarnya menganggap Hindia Belanda sebagai keluarga besar, maka harmoninya harus dijaga sepenuhnya dan jangan sampai menimbulkan pertentangan antara kelompok, apalagi di antara “kita“, sesama orang Indies. Pengertian Indis yang umum diterima adalah Indies sebagai masyarakat pemukim Eropa, keturunannya dan atau orang-orang yang memiliki hubungan secara kekeluargaan dengannya. Paling luas pengertian  Indis mencakup pula orang-orang Indonesia yang terbaratkan (meliputi  komunitas Kristen dan kaum Teosofis Jawa ).

    Dengan demikian, Douwes Dekker bersama konsepsi Indernya melangkah terlalu jauh (dan terlalu awal) karena ia ingin merangkul  semua orang. Di samping itu ia dengan gerakan Indische Partij-nya dianggap menyebarkan kebencian orang Indo kecil terhadap orang-orang Eropa pendatang dan pemerintah kolonial, sehingga ia dianggap pula menyebarkan permusuhan di antara “ kita “. Sebagai reaksi terhadap aliran pemikiran ini kemudian  beberapa tokoh Indo-Eropa di bawah pengaruh Zaalberg mendirikan Indo Europeesch Verbond (IEV), yang menegaskan kembali konsep Indies sebagai Indische Nederlands atau orang Belanda berkarakter Hindia, orang Eropa tetap berbudaya “tropis’. Dalam anggaran dasarnya IEV secara tergas menyatakan bahwa definisi Indis adalah masyarakat keturunan Eropa yang lain, dan semua hubungan dengan kaum revolusioner ditolak.

    Konsep nasionalisme menurut Douwes Dekker dengan gagasan tentang Indier multirasial dan multi-etnik itu juga mengandung beberapa kelemahan jika dihadapkan dalam konteks pergerakan Indonesia. Alur pemikiran maupun gerakan politik yang digagasnya cukup jelas mengimplikasikan adanya sentralitas kedudukan kaum Indo-Eropa dalam identitas kebangsaan yang ingin dibangun. Karena ide-ide yang dibawanya, konsep-konsepnya tentang bangsa, hak-hak kewarganegaraan, kesetaraan dan sebagainya berasal dari Barat, maka tentunya orang-orang Indo-Eropa sendirilah yang memegang peran, atau paling tidak orang orang-orang Indonesia yang berpendidikan dan berorientasi Barat.

    Indische Partij didirikan pada tanggal 6 September 1912 di Bandung dan partai itu, berganti nama menjadi Nationale Indische Partij dan dibubarkan pada Mei 1923. Tahun 1913 asas dasar Indische Partij tidak diterima oleh Gubernur Jenderal Belanda di Hindia Belanda dan Indische Partij dilarang oleh pemerintahan kolonial Belanda. Para pengikut Indische Partij bergabung dalam Isulinde, yaitu suatu organisasi orang Indo yang didirikan pada tahun 1907. Pada tahun 1919, Nationale Indische Partij didirikan sebagai pengganti Isulinde. Ide mengenai kerja sama antar golongan masyarakat di Hindia Belanda berkembang pada awal ke-20, meskipun akhirnya tidak berhasil karena terjadi perpecahan antara kaum bumiputera dan kaum Eropa serta kaum Indo.

    sumber : Peter Kasenda

    Biodata

    Peter Kasenda dilahirkan di Bandung. Ia belajar di Jurusan Perancis dan Sejarah di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI.  Sekarang dosen Ilmu Politik di  Kampus  Merah  Putih  Universitas  17  Agustus  1945 Jakarta. Ia menjadi dosen terbang dan mengajar di sejumlah SMA (Malang, Kediri, Solo dan Purwokerto). Lima tahun terakhir, ia menulis buku, diantaranya,  Sukarno Muda Biografi Pemikiran 1926 – 1933 (Komunitas Bambu, 2010); Heldy Cinta Terakhir Bung Karno (Penerbit Buku Kompas, 2011); Zulkifli Lubis Kolonel Misterius di Balik Pergolakan TNI AD (Penerbit Buku Kompas, 2012); Hari-Hari Terakhir Sukarno (Komunitas Bambu, 2012); Soeharto – Bagaimana Ia Bisa Melanggengkan Kekuasaan Selama 32 Tahun ? ( Penerbit Buku Kompas, 2013); Bung Karno Panglima Revolusi ( Galang Pustaka, 2014); Sukarno, Marx & Leninisme. Akar Pemikiran Kiri &Revolusi Indonesia (Komunitas Bambu, 2014); Sarwo Edhie dan Tragedi 1965 (Penerbit Buku Kompas, 2015); Hari-Hari Terakhir Orde Baru. Menelusuri Akar Kekerasaan Mei 1998 (Komunitas Bambu 2015) Soekarno Dibawah Bendera Jepang (Penerbit Buku Kompas dan segera terbit Manusia Dalam Sejarah Sejarah ( Beranda, 2016)

    kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Butet Manurung, Sebuah Kisah Kartini Muda Indonesia

    Butet Manurung, Sebuah Kisah Kartini Muda Indonesia

    Raden Ajeng Kartini, sebuah nama yang sangat tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Hari kelahirannya, 21 April, selalu disambut dengan sukacita, tidak hanya kaum perempuan, namun juga seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Perjuangan RA Kartini untuk mengangkat derajat perempuan Jawa saat itu melalui pendidikan berdampak besar sampai saat ini. Baginya, pendidikan adalah jalan utama bagi setiap manusia untuk dapat hidup dengan layak.

    Semangat itu juga yang dibawa oleh seorang Saur Marlina Manurung, atau lebih dikenal dengan Butet Manurung. Perempuan yang lahir di Jakarta, 21 Februari 1972 ini menaruh perhatian besar bagi pendidikan masyarakat pendalaman. Hal ini Ia buktikan dengan Sokola Rimba bagi suku asli Orang Rimba, Jambi pada tahun 2004 lalu.

    Kepedulian Butet Manurung dalam usahanya untuk memberikan pendidikan bagi masyarakat Rimba dimulai dari kegemarannya menonton film-film petualangan semasa kecil. Film-film seperti Indiana Jones memotivasi dirinya untuk menamatkan pendidikan sarjana Antropologi dan Sastra Indonesia dari Universitas Padjajaran Bandung. Selepas meraih gelar sarjana, Butet Manurung sempat berkerja sebagai pemandu wisata di Taman Nasional Ujung Kulon. Sampai pada tahun 1999, sebuah iklan lowongan kerja dari Lembaga Swadaya Masyarakat Warung Infromasi Konservasi (Warsi) di Harian Kompas menarik perhatiannya. Lowongan kerja sebagai fasilitator pendidikan alternatif bagi suku asli Orang Rimba, Jambi itu menggetarkan hatinya dan merasa inilah pekerjaan yang Ia cari selama ini.

    Selepas 3 tahun bersama Warsi, Butet Manurung beserta rekan-rekannya membentuk LSM pendidikan bagi suku terasing, yang dimulai dari suku Rimba. Butet berpendapat bahwa pendidikan yang diajarkan kepada masyarakat Suku Rimba dapat mengatasi masalah saat masyarakat Rimba berhadapan dengan masyarakat luar. Dengan pendidikan, meskipun sebatas baca dan tulis, masyarakat Suku Rimba dapat setahap lebih maju dan tidak lagi merasa dirugikan.

    Usaha Butet Manurung dan rekan-rekannya tidaklah mudah. Penolakan dan pengusiran kerap diterima oleh Butet Manurung karena dianggap sebagai orang luar dan dapat membawa malapetaka di bagi masyarakat setempat. Namun Butet Manurung tidak patah semangat. Ia terus menerus berusaha untuk mencuri hati orang Rimba dengan pendekatan budaya setempat. Sampai suatu saat tiga orang anak kecil menghampirinya untuk belajar angka dan huruf. Mulai dari saat itu, masyarakat Suku Rimba menerima Butet Manurung dan mendapatkan pendidikan layaknya masyarakat Indonesia pada umunya.

    Setelah sukses dengan Sokola Rimba, Butet membuka sejumlah sekolah untuk suku-suku terasing di Indonesia, seperti di Pulau Besar, Sikka, NTT, suku Asmat di Papua, dan suku Kajang di Sulawesi Selatan. Butet Manurung membuktikan bahwa semangat juang Kartini untuk memajukan sesama manusia akan tetap ada di dalam tubuh masyarakat Indonesia.

    Sumber:

    Profil Penerima Penghargaan Kebudayaan 2015

    kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Sekilas Tentang Perempuan – Perempuan Hebat Pada Masa Klasik Nusantara

    Sekilas Tentang Perempuan – Perempuan Hebat Pada Masa Klasik Nusantara

    Hampir seluruh dunia kini paham, jika perempuan merupakan bagian dari roda pergerakan zaman, dan banyak perempuan yang menorehkan namanya dalam sejarah. Pandangan terhadap permpuan kini mungkin sedikit berubah. Pada masa lalu, bahkan mungkin masih terjadi pada masa kini, perempuan dinilai sebagai makhluk lemah, inferior, dan sebagainya. Kartini menjadi tonggak perjuangan kaum perempuan di Indonesia, walaupun fakta sejarah mencatat banyak pejuang pejuang perempuan jauh sebelum kartini.

    Banyak nama pejuang perempuan di Indonesia perlahan mulai terangkat sejarahnya, semisal Dewi Sartika, Malahayati, Maramis dan sebagainya, namun masih sedikit yang kurang mengenal para perempuan hebat dari masa Klasik Nusantara (Hindu – Budha) jauh sebelum nama Indonesia dikenal, berikut adalah ulasannya:

    1. Ratu Shima dari Kerajaan Kaliŋga

    Walaupun banyak bercampur kisah mitos, kisah penguasa kerajaan kalingga sekitar 674-732 M memiliki banyak sumber sejarah. Ratu Shima yeng bergelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara, merupakan ratu yang sangat adil, hingga berita Cina menyebutkan sampai sampai tidak ada satupun yang berani menyentuh pundi pundi emas yang terjatuh di jalan. Ratu Shima juga kelak merupakan nenek dari pendiri wangsa Sanjaya.

    1. Pramodawardhani dari Kerajaan Mdaŋ

    Sosok Pramodawardhani sebenarnya sudah disinggung dalam prasasti Kayumwungan dalam peresmiannya pada bangunan yang disibut Jinalaya yang bertingkat-tingkat (yang pada akhirnya ditafsirkan sebagai borobudur). Pramodawardani merupakan putri mahkota wangsa Çailendra, pada akhirnya ia menikah dengan Rakai Pikatan yang beragama Hindu, namun dengan adilnya pada kerajaan Mdaŋ ada dua agama yang hidup berdampingan dan bahkan memiliki candi yang besar yakni Hindu Pada Candi Prambanan (Agama Rakai Pikatan) dan Buddha Pada Candi Sewu (Agama Pramodawardhani).

    1. Tribhuwanatunggadewi dari Kerajaan Majapahit

    Gayatri adalah Istri yang tersisa dari Raden Wijaya. Ketika Suaminya mangkat Gayatri seharusnya memegang tahta atas Raden Wijaya, sayangnya ia tidak mau dan memilih menjadi petapa. Tribhuwanatunggadewi adalah satu satunya anak Gayatri, pada akhirnya dia yang terpilih menggantikan ibunya memimpin Majapahit dengan gelar Sri Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani. Pada masa kepemimpinan Tribhuwanatunggadewi Majapahit mengalami awal masa kejayaan dengan melakukan perluasan kekuasaan yang merupakan sumpah Palapa. Pada masanya Majapahit berhasil menaklukkan Sumatera dan Bali. Tribhuwanatunggadewi memerintah dari tahun 1328 hingga tahun 1351. Tribhuwanatunggadewi merupakan ibu dari Hayam Wuruk.

    1. Suhita dari Kerajaan Majapahit

    Menjelang keruntuhan Majapahit, tercatat ada Permaisuri yang gigih menumpas pemberontakan, ia bernama Suhita. Tidak begitu jelas perihal asal usul Suhita, karena ia hanya diceritakan menjelang perang Paregreg. Saking terkenalnya Suhita disebut dalam kronik Cina di Kuil Sam Po Kong dengan ejaan Su King Ta.

    Penulis: Indra Eka Widya Jaya.

    Sumber:

    Poesponegoro, M.D., Notosusanto, N. (editor utama). Sejarah Nasional Indonesia. Edisi ke-4. Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka, 1990.

    Slamet Muljana. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara, 1979.

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Mengenal Bapak Pers Nasional, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo

    Mengenal Bapak Pers Nasional, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo

    Setiap tanggal 9 Februari, media massa Indonesia bersuka cita merayakan Hari Pers Nasional. Tanggal ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden No. 5 Tahun 1985 yang menyatakan “bahwa pers nasional Indonesia mempunyai sejarah perjuangan dan peranan penting dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila.” Jauh sebelumnya, tanggal 9 Februari juga sudah dianggap sebagai hari pers yang bertepatan dengan hari lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia. Namun, tahukah kamu siapa Bapak Pers Nasional Indonesia?

    Raden Mas Tirto Adisuryo, atau biasa dipanggil Tirtoadisuryo merupakan sosok yang dikenal sebagai Bapak Pers Nasional Indonesia. Beliau yang lahir di Blora pada tahun 1880 ini merupakan anak dari Raden Ngabehi Muhammad Chan Tirtodipuro dan cucu dari Raden Mas Tumenggung Tirtonoto. Sebagai seorang priyayi, Tirto Adisuryo seharusnya melanjutkan sekolah di bidang pemerintahan, namun Ia lebih memilih untuk melanjutkan sekolah dokter di Stovia Batavia pada tahun 1893 – 1900.

    Karir Tirtoadisuryo dibidang jurnalistik dimulai ketika Ia memimpin surat kabarnya sendiri, Soenda Berita pada tahun 1901. Soenda Berita merupakan surat kabar pertama yang dibiayai, dikelola, disunting, dan diterbitkan oleh pribumi. Selepas Soenda Berita, Tirtoadisuryo kemudian mendirikan mingguan Medan Priyayi pada tahun 1909 namun sayangnya mingguan ini berhenti terbit pada tahun 1912. Di tahun yang sama dengan kemunculan mingguan Medan Priyayi, Tirtoadisuryo juga mendirikan perusahaan penerbitan pertama di Indonesia, N.V Javaansche Boekhandelen Drukkerij “Medan Priyayi” pada tahun 1909 bersama Haji Mohammad Arsjad dan Pangeran Oesman.

    Menurut Tirtoadisuryo, tugas pers haruslah memajukan dan memahami hak-hak dan martabat rakyat. Beliau sangat aktif mengelola media massa, baik sebagai penulis maupun pemimpin, seperti Pembrita Betawi, Soenda Berita, Medan Priyayi, Soeloeh Keadilan, Poetri Hindia, Sarotomo, Soeara B.O.W, Soeara Spoor dan Tram, serta Soeraaurna dan melihat tugasnya sebagai sarana untuk menyadarkan masyarakat dalam menjawab persoalan yang timbul.

    Tirtoadisuryo adalah seorang yang memberi inspirasi bagi masyarakat yang gamang dan tidak memiliki pijakan visi yang luas, dan cenderung kacau. Ia tidak hanya sebagai jurnalis namun juga sebagai penulis berita, perumus gagasan dan pengarang karya-karya non-fiksi. Atas hasil karya dan perjuangan Beliau dalam dunia jurnalistik Indonesia, Tirtoadisuryo kemudian ditetapkan sebagai Bapak Pers Nasional oleh Dewan Pers RI pada tahun 1973.

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Pengumpul Data Kebudayaan Membuat Bianglala

    Pengumpul Data Kebudayaan Membuat Bianglala

    Pada waktu itu, sepulang saya dari Lembaga Sensor Film melewati daerah Pasar Rumput Jakarta dan macet. Saat melihat pemandangan sekitar, tatapan saya tak bisa berpaling dari bianglala yang bagus sekali. Disitu kemudian berpikir untuk menambahkan kata Bianglala untuk judul buku saya.

    Ya, berawal dari kepuasan mata memandang sesimpel itu makna Bianglala dalam judul buku ini. Meskipun beberapa pembedah buku mengemukakan Bianglala bermakna penghubung dua dunia, keanekaragaman antar etnis, garis pemisah warna budaya, dan masih banyak lagi.

    Berawal pada 2001, saat Nunus membaca buku katalog pameran foto ‘Java Instituut dalam Foto’ di Yogyakarta. Ia melihat foto-foto kongres kebudayaan yang dipamerkan. Sejak saat itu, hatinya pun terdorong untuk mengetahui lebih jauh mengenai Kongres Kebudayaan (KK).

    Pemerhati Budaya Nunus Supardi

    Nunus Supardi, penulis buku Bianglala Budaya: Rekam Jejak 95 tahun Kongres Kebudayaan 1918-2013 juga seorang pemerhati budaya. Seorang yang tidak mau disebut sejarawan ini, menyebut dirinya seorang pemulung. Memulung berbagai data Kongres Kebudayaan yang menyebar, merapikan dan menyusunnya menjadi sebuah naskah.

    Buku ini pun disebutnya bukanlah buku sejarah namun hanya sebuah dokumentasi atau kompilasi Kongres Kebudayaan yang merupakan salah satu peristiwa budaya. Buku ini terbagi menjadi 5 bagian. Berikut penjelasannya:

    1. Bagian I berjudul “Kongres Kebudayaan”

    Pada bagian ini berisi penjelasan mengenai tujuh kongres yang diselenggarakan sebelum Indonesia merdeka pada 1918 (Surakarta), 1919 (Surakarta), 1921 (Bandung), 1924 (Yogyakarta), 1926 (Surabaya), 1929 (Yogyakarta), 1937 (Bali). Delapan kongres yang diselenggarakan setelah Indonesia merdeka. Dimulai dari KK 1948, 1951, 1954, 1957, 1960, 1991, 2003, dan 2008. Kongres pertama yang menjadi penggerak diberi nama Congres voor de Javaansche Cultuur Ontwikkeling atau Kongres Guna Membahas Pengembangan Kebudayaan Jawa.

    1. Bagian II berjudul “Kongres Pancasila, Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan”

    Pada bagian ini menjelaskan hasil Kongres Pancasila, Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan serta penyelenggaraan Kongres Diaspora Indonesia yang telah berlangsung dua kali di Los Angeles (2012) dan Jakarta (2013).

    1. Bagian III berjudul “Kongres Kebudayaan Daerah dan Kongres Lainnya”

    Pada bagian ini berisi unsur-unsur kebudayaan termasuk kebudayaan daerah. Kongres Kebudayaan Melayu yang diselenggarakan oleh pemerintah Malaysia yang mempunyai hubungan sejarah dengan budaya Melayu di Indonesia juga dipaparkan.

    1. Bagian IV berjudul “Kongres Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah”

    Pada bagian ini menjelaskan seluruh kongres Bahasa dan sastra Indonesia, serta Kongres Bahasa dan Persuratan Melayu yang diselenggarakan oleh pemerintah Malaysia yang kita ketahui Bahasa Indonesia berakar dari Bahasa Melayu-Riau.

    1. Bagian V berjudul “Catatan Rekam Jejak”

    Pada bagian ini menjelaskan ‘benang merah’ dari kongres sebelum Indonesia merdeka dan sesudah Indonesia merdeka. Realisasi dari keputusan dan rekomendasi KK seperti tidak ada tindak lanjut dari keputusan, tidak ada langkah realisasi yang konkrit, tidak ada evaluasi pelaksanaan keputusan, dan tidak ada pula laporan pada kongres berikutnya.

    Menjelang KK 2013, penulis ingin melakukan revisi buku dengan memasukkan hasil KK 2003 dan 2008 namun karena dirasa ingin memberikan informasi yang lengkap bagi pembaca, Nunus pun juga menjelaskan kongres lainnya yang terikat erat dengan kebudayaan.

    Harapannya ‘Bianglala’ menjadi sumber referensi mengenai peristiwa budaya yang selama ini masih terabaikan dan mendapat deskripsi yang lengkap mengenai perjalanan Kongres Kebudayaan yang pernah terjadi di negeri tercinta. Begitu banya ide, gagasan, saran, pendapat yang dihasilkan dalam kongres. Adapun bahan tersebut dapat dijadikan referensi untuk kemajuan budaya. KK tak hanya membahas masalah budaya semata namun juga masalah ekonomi, politik, sosial, pendidikan, karakter bangsa, dan masih banyak lagi.

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Musik Dan Hidup Seorang Purwacaraka

    Musik Dan Hidup Seorang Purwacaraka

    Belgrade, Yugoslavia. Lima puluh lima tahun yang lalu, tepatnya tanggal 31 Maret 1960, seorang Purwa Caraka dilahirkan. Piano memasuki dunianya pada usia tujuh tahun, dan Ia mempelajari piano selama 6 tahun. Hingga kini, tiap jari jemarinya menyentuh tuts piano, melodi indah menguar dengan sendirinya, dari dalam dirinya. Keahliannya di bidang teknik industri turut berpengaruh terhadap inspirasinya dalam bermusik. Berbagai ilustrasi musik dan aransemen lagu pun telah diciptakannya, cipta rasa yang diolah sedemikian elok lewat kecintaannya terhadap musik.

    purwa

    Tekad yang kuat dalam bermusik tidak semata hanya berhasrat untuk menghasilkan melodi, tetapi juga mendidik lewat musik. Purwa Caraka mendirikan sekolah musik PCMS (Purwa Caraka Music Studio) pada 1 Oktober 1988, yang berlokasi di Jalan Mangga No. 12 Bandung, Jawa Barat. Kini, sekolah musik PCMS telah tersebar di seluruh Indonesia sebanyak 93 cabang, dengan ribuan guru dan puluhan ribu murid, bersama-sama mendalami musik dalam alunan mimpi dan cita, menjadikan dunia lebih permai.

    purwa-school

    Program Belajar Bersama Maestro yang melibatkan sosok Purwacaraka sebagai pendidik dan figur inspiratif bagi sepuluh siswa-siswi SMA seluruh Indonesia yang terpilih, telah mengukir cerita sarat makna untuk bekal masa depan generasi Indonesia. Mereka mengemukakan opini masing-masing tentang sosok Purwacaraka yang akrab disapa ‘babeh’ ini.

    purwacaraka

    “Sebuah bentuk yang tak dapat dijelaskan, karena musik ada di dalam diri saya. Dan sehari-hari saya adalah bagian dari musik itu sendiri. Musik adalah diri saya, bagian dari diri saya, sepanjang hidup saya. Kesan saya menjadi seseorang yang dianggap maestro, yang harus memberikan motivasi pendidikan dan arti bagi anak-anak, saya merasa bahwa kita sebagai orang tua diberi tanggung jawab untuk memberikan nilai, suatu arti, di dalam masyarakat. Saya merasa bahwa ini sebuah kepercayaan dan saya merasa tanggung jawab ini memang sangat berat. Saya ingin sepuluh anak ini kelak menjadi orang-orang hebat, orang yang punya arti dalam hidupnya, hidupnya juga berarti untuk orang lain, dan berpikir besar, menjadi orang hebat kelak,”.

    Purwacaraka menyatukan sepuluh anak berbakat dengan beragam kemampuan bermusik dan ciri khasnya masing-masing. Melalui bakat memainkan instrumen musik dan olah vokal yang telah ditempa selama hari, Purwacaraka mampu mengiringi dan mengarahkan mereka dalam perjalanan meraih mimpi dan cita, menemukan diri dan arti hidupnya, menghasilkan sebuah album Medley Nusantara yang berisi 6 buah lagu daerah mewakili kebudayaan Indonesia dari Sabang hingga Merauke, antara lain lagu Bolelebo, Bubuy Bulan, Suwe Ora Jamu, Lir Ilir, Si Patokaan, dan Paris Barantai.

    purwacaraka-maestro

    Integritas haruslah ditanam sejak dini di dalam diri generasi penerus. Tidak hanya sekedar integritas, tetapi juga dedikasi terhadap bangsa dan negara. Sumbangsih apa yang dapat diberikan pada negeri ini, merupakan manfaat dalam peran tiap insan muda Indonesia. Musik hanya salah satu dari sekian banyak jalan penghubung menuju cita-cita. Musik bukan segalanya, tapi segalanya berawal dari inspirasi bermusik.

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Nya Abbas Akup, Bapak Film Komedi Indonesia

    Nya Abbas Akup, Bapak Film Komedi Indonesia

    Siapa yang tidak kenal dengan Nya Abbas Akup? Nama Nya Abbas Akup sangat dikenal di kalangan para sineas perfilman. Sutradara komedi berdarah Aceh yang berjaya pada era 1970-an ini lahir di Malang pada 22 April 1932. Lahir dan besar di kota Malang membuat Ia mengenal dan memahami seni pertunjukkan, seperti ludruk dan sandiwara. Kecintaannya terhadap seni itulah yang membuat ia terjun dalam dunia perfilman. Tiga puluh tiga karya film berhasil Ia gagas dan 28 film diantaranya adalah film komedi.

    Karirnya bermula dari seorang clapper boy, scriptman, dan unit manager. Usmar Ismail mengamati bakat yang dimiliki oleh Nya Abbas, Usmar pun mengangkat Nya Abbas Akup menjadi asisten sutradara di film garapannya, Kafedo (1953). Sejak Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) berdiri, Nya Abbas menghasilkan film pertamanya Heboh di tahun 1954. Ia memasuki puncak kejayaannya pada tahun 1970-an dengan menghasilkan 15 film komedi.

    Komedi menjadi salah satu genre yang banyak mewarnai perfilman nasional pada saat itu, namun pada masa ini penciptaan komedi berubah menjadi kegiatan yang serius ketika adanya kesadaran bahwa kekuasaan negara di bawah Orde Baru semakin reperesif dan otoriter. Pada masa Orde Baru, tidak sembarang orang dapat membuat film yang mengangkat sebuah realita, terlebih realita tersebut berupa kritik terhadap pemerintahan. Apapun realita yang ditunjukkan kepada publik tetap harus atas pengawasan badan pemerintah khusunya dalam hal ini BSF.

    inem karya Nya Abbas Akup

    Ruang gerak para sineas untuk berkreatifitas terus diawasi dan dibatasi oleh koridor-koridor untuk tidak menjamah persoalan politik yang dianggap akan memunculkan sensitivitas penguasa. Hal ini disadari betul oleh Nya Abbas Akup saat membuat film yakni dimasa Pemerintah akan memberikan perhatiannya secara khusus kepada orang-orang yang berani melakukan kritik secara keras baik bagi pemerintah maupun kritik terhadap kondisi ekonomi, sosial, dan masyarakat.

    Hal tersebut terlihat dari minimnya film-film pada masa ini yang menghadirkan sebuah realita dan peristiwa yang tidak lazim yang terjadi disekitarnya, baik tentang masyarakat maupun pemerintahannya. Menyadari hal tersebut, Nya Abbas Akup mencoba merepresentasikan keadaan yang Ia lihat disekitarnya melalui film komedi, karena melalui komedi semua orang yang menonton tidak akan sadar bahwa apa yang mereka tertawai merupakan gambaran realita kehidupan masyarakat sehari-hari.

    Karya Nya Abbas hampir seluruhnya berangkat dari realita sosial masyarakat yang diamati dari keadaan lingkungan sekitar. Mulai dari lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, hingga tempat umum. Film-filmnya banyak pula yang menceritakan tingkah laku manusia atau masyarakat Indonesia lengkap dengan gaya tutur masyarakatnya.

    Contohnya dalam film Semua Karena Ginah (1985) bercerita tentang praktek monopoli dalam dunia ekonomi, film Drakula Mantu (1974) menceritakan permasalahan penggusuran yang sedang marak pada tahun 70-an, Bing Slamet Koboi Cengeng (1974) sebagai sikap protesnya mengenai banyaknya film-film Hollywood, Inem Pelayan Sexy 1-3 kehidupan pekerja sektor informal seperti pembantu rumah tangga pada masa Orde Baru, lengkap dengan permasalahan mengenai sistem pengupahan dan regulasi hukum yang belum jelas.

    Melalui film-filmnya, Ia tak hanya menampilkan humor semata namun juga bentuk representasi keadaan sosial masyarakat pada zamannya. Ia menerapkan salah satu fungsi film, yaitu sebagai arsip sosial yang dapat menangkap jiwa zaman atau zeitgeistmasyarakat saat itu atau dengan kata lain fim hadir sebagai manifestasi yang jujur dari apa yang tengah bergejala di masyarakat. (Wanti)

    Sumber: Hidayah, Wanti. 2015. Representasi Mobilitas Sosial Pembantu Rumah Tangga dalam Film Komedi Inem Pelayan Sexy 1-3 Karya Nya Abbas Akup.

    Suara Karya Minggu, 31 Juli 1988 (foto)

    Filmindonesia.or.id (foto)

    Sumber Artikel : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Oei Tiong Ham, Penguasa Gula Asia Tenggara Dari Semarang

    Oei Tiong Ham, Penguasa Gula Asia Tenggara Dari Semarang

    Gula pernah menjadi salah satu komoditas unggulan Nusantara pada masa penjajahan terdahulu. Setelah mengalami penurunan harga secara drastis, posisi Pulau Banda Neira sebagai penghasil rempah utama dunia tergeser oleh Pulau Jawa sebagai salah satu penghasil gula terbaik saat itu. Pada rentang tahun 1800 – 1930, gula menjadi produk olahan alam terpenting di dunia.

    Salah satu saudagar gula saat itu adalah seorang Tionghoa bernama Oei Tiong Ham. Kesuksesan pria yang lahir pada 1866 sampai 1924 ini berasal dari sang ayah, Oei Tjie Sien yang memiliki perusahaan Kian Gwan. Dirinya menjadi proklamator Oei Tiong Ham Concern (OTHC) yang dikemudian hari menjadi salah satu perusahaan terbesar di Asia. Dengan kantor pusat yang berada di Semarang, Oei Tiong Ham melebarkan sayap bisnisnya dari Hongkong, London, hingga New York. Bahkan Koran De Locomotief pernah menyebut Ia sebagai “orang terkaya di antara Shanghai dan Australia.”

    Oei Tiong Ham memulai bisnis pertamanya dengan hasil bumi, seperti kopi, karet, kapuk, gambir, tapioka, serta opium. Bisnisnya mulai berkembang pesat ketika saat itu Ia mengakuisisi 5 pabrik gula yang akan bangkrut, yaitu pabrik gula Pakis di Pati, Rejoagung di Madiun, Ponen di Jombang, Tanggulangin di Sidoarjo, dan Krebet di Malang.

    Kini, jejak peninggalan Oei Tiong Ham Concern masih dapat dijumpai di kawasan Kota Lama Semarang. Terdapat 3 bangunan eks-kantor OTHC, yaitu yang terletak di Jl Kepodang No 25, di sudut pertemuan antara Jalan Kepodang dan Jalan Suari, dan di Jalan Kepodang No 11 – 13.

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Ahmad Tohari: Memberi Asa Dalam Sastra

    Ahmad Tohari: Memberi Asa Dalam Sastra

    Memori puluhan tahun itu masih bersarang di benak Ahmad Tohari. Suatu ketika, koran yang tengah ia baca ditarik oleh sang bibi sambil berkata “Kayak kamu mau jadi apa baca-baca koran!”.

    Kejadian tersebut tentunya menyayat hati. Ditambah lagi kala itu masih umum terdengar hanya mereka yang ingin menjadi priayi, atau bahkan cukup priayi saja, yang dianggap pantas membaca koran.

    “Perasaan saya ya cuma sakit saja” ucapnya.

    Ahmad Tohari merasakan lompatan budaya yang luar biasa dalam hidupnya. Duduk di bangku sekolah, bercengkerama dengan buku dan menghabiskan waktu berjam-jam lamanya hanya untuk membaca menjadi barang mahal yang ia rasakan. Bukan tanpa alasan, pria asal Banyumas ini lahir di tengah-tengah keluarga yang saat itu belum sadar sepenuhnya budaya literasi.

    “Ibu saya masih buta huruf, apalagi kakek saya. Jadi kalau sekarang saya jadi penulis itu sungguh lompatan budaya yang sangat jauh,” jelas sastrawan Ahmad Tohari, yang ditemui di kediamannya, di Banyumas, Jawa Tengah.

    Tohari muda hampir menghabiskan sebagian waktunya di tanah kelahirannya. Ia lalu melanjutkan hidup di Purwokerto untuk menyelesaikan pendidikan SMA. Perkenalan dengan buku jauh terasa lebih syahdu di kota tersebut. Buku demi buku yang ia jelajahi seolah membuka cakrawala pengetahuan yang berujung pada lembaran cerita tentang tokoh-tokoh dalam karya sastranya.

    Sastra dan Tohari bak menjadi dua sisi yang tak pernah terpisahkan. Jatuh cinta kepada dunia sastra sudah dirasakan Tohari sejak ia duduk di bangku SMA. Barulah selepas SMA pria yang pernah mendapatkan penghargaan di tingkat Asean ini mengirimkan karyanya ke berbagai media massa. Cerpennya yang berjudul Jasa-jasa Buat Sanwirya berhasill mengantongi Hadiah Harapan Sayembara Kincir Emas yang diselenggarkan Radio Nederlands Wareldomroep (1977). Tak lama kemudian, Kubah (1980) dan Ronggeng Dukuh Paruk (1982) terbit bergiliran dan  memberikan sejarah baru di dunia sastra.

    “Ada bermacam alasan kenapa saya menulis, karena saya ‘hamil’ tulisan. Sederhananya, kenapa kamu melahirkan karena ada bayi di dalam perutmu. Saya pun demikian, saya hamil sastra. Siapa yang menghamili? tentu lingkungan saya. Jadi harus dilahirkan,” tegasnya.

    Cerita Untuk “Wong Cilik”

    Tokoh-tokoh yang dilahirkan Tohari tak jauh dari sebuah realitas kehidupan. Ia tak hanya mengandalkan imajinasi, namun menghidupkan fenomena-fenomena yang pernah terjadi sebagai keutuhan cerita. Tentu dikemas sebagai karya sastra dengan fondasi pijar imajinasi dan bahasa yang memikat.

    Itulah mengapa tokoh-tokoh yang dihadirkan Tohari sebagian besar merupakan potret kehidupan masyarakat miskin, seperti gelandangan, pelacur, pengemis yang diceritakan dengan penuh deskriptif. Dirinya berprinsip, menjadi penulis realisme merupakan kekukuhan hati yang tak bisa ditawar.

    “Aliran saya realisme. Saya hanya mampu menulis berdasarkan pengalaman yang saya lihat, dengar, baca tentang kenyataan. Jadi kalau menulis sebetulnya mengekspresikan diri saya sambil beridealis. Saya tidak bisa menulis di luar masyarakat kecil, lebih nikmat menulis tentang gelandangan, orang gila, pelacur dan pengemis. Saya sadar karya ini melawan pasar, tapi ini mewakili jiwa saya” ujar pria yang tahun ini menginjak usia ke-70.

    Tohari percaya, dengan menulis sebenarnya turut andil memberikan kontribusi terhadap kehidupan. Kata demi kata yang ia uraikan dalam sebuah kalimat sastra nantinya mampu membangkitkan secercah jiwa pembaca. Selain itu, sastra juga dapat mengasah daya kepekaan terhadap sesama.

    “Karena sastra mengisi jiwa kita dengan kepekaan, sensitivitas. Orang yang banyak membaca sastra lebih peka terhadap sensitivitas sosial dibandingkan yang tidak sama sekali. Saya berharap anak-anak muda dapat memberikan kontribusi dan membangun bangsa ini, supaya mereka tidak melulu pintar dan cerdas namun juga peka,” tukasnya.

    Foto: Ahmad Bagwi

    Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id