MOANEMANI – Bupati Kabupaten Dogiyai, Papua, Yakobus Dumupa, Rabu (3/3 2021) memberikan bantuan berupa beras dua ton untuk pengungsi konflik di Kabupaten Intan Jaya.
Bantuan itu diberikan menyusul meletus perang terbuka antara aparat Tentara Nasional Indonesia-Kepolisian Republik Indonesia (TNI-Polri) dengan Tentara Nasional-Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) di wilayah Intan Jaya.
“Bantuan ini saya berikan atas nama rasa kemanusiaan yang dialami warga. Saya prihatin dengan warga sipil yang menjadi korban akibat konflik atau perang terbuka antara TNI-Polri dan TPN-OPM. Warga sipil adalah pihak yang tidak bersalah dalam konflik. Mereka adalah korban konflik tersebut sehingga mereka harus ditolong,” ujar Dumupa dalam keterangan tertulis sebagaimana diterima berandanegeri.com, Rabu (3/3/2021).
Menurut Dumupa, bantuan beras sebesar 2 ton atau 2000 kilogram untuk korban konflik Intan Jaya tersebut diserahkan melalui KAPP Intan Jaya di Nabire. Sejumlah warga sipil korban konflik Intan Jaya mengungsi ke Nabire, Papua.
Ket. Foto: Beras Bantuan Bupati Dogiyai untuk Korban Konflik Intan Jaya
Yakobus,
mantan anggota Majelis Rakyat Papua, menambahkan pihaknya berharap bantuan yang
diberikan tersebut dapat disalurkan dengan baik kepada sebagian korban yang
saat ini berada di pengungsian.
“Saya
berharap kiranya bantuan ala kadarnya ini membantu meringankan beban pengungsi.
Saya juga meminta para korban tetap memiliki semangat hidup. Sebagai umat
beriman, saya juga mendoakan warga semoga Tuhan bersama mereka,” katanya.
Bupati
yang baru saja menyelesaikan studi S-2 di Sekolah Tinggi
Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta
Yogyakarta ini juga mengajak semua pihak untuk mengulurkan tangan membantu
warga korban konflik Intan Jaya. Bantuan sekecil apapun, ujar Bupati Dumupa,
sangat membantu meringankan beban penderitaan yang tengah dialami warga korban
konflik Intan Jaya.
Ia
memandang, konflik atau perang terbuka di Intan Jaya sebenarnya tak mesti
terjadi di tengah kerja keras pemerintah pusat dan pemerintah daerah menangani
virus korana global (pandemik) yang nyaris membuat ekonomi warga di daerah
kelimpungan.
Sejak
pekan
pertama Februari 2021 pecah konflik antara TNI-Polri dan TPM-OPM di Intan Jaya.
Menyusul konflik tersebut, sekitar 600 orang warga korban dilaporkan mengungsi
korban. Mereka sempat bertahan di gereja Gereja Katolik St Misael Bilogai,
Intan Jaya Bilogai, Intan Jaya.
Sebagian warga korban
mengungsi di sejumlah kabupaten tetangga seperti Nabire. Jumlahnya dilaporkan terus
meningkat di tengah eskalasi konflik. Konflik Intan Jaya dikhawatirkan
mengganggu umat Kristiani yang tengah bersiap merayakan Paskah.
Informasi yang
diperoleh dari Nabire menyebutkan, seorang imam Katolik Pastor Benyamin
Sugiyatanggu Magay di Nabire menemui warga dari Intan Jaya yang mengungsi ke
Kabupaten Nabire menyusul eskalasi konflik di tempat asal mereka di Intan Jaya
yang terus meningkat.
“Kekerasan hanya hanya akan melahirkan kekerasan baru. Peperangan dalam bentuk apapun tidak menyelesaikan masalah. Saya berharap agar para pihak yang bertikai atau berperang segera duduk bersama mencari solusi damai dan bermartabat. Saya juga turut berduka atas meninggalnya sejumlah warga masyarakat, anggota TNI dan Polri, dan anggota TPN-OPM akibat konflik dan perang tersebut. Semoga mereka mendapatkan tempat yang layak di Surga,” kata Dumupa.***
DUA minggu lalu, saat saya sedang minum kopi sore, inung kopi mane, dalam dialek Manggarai handphone berdering. Biasanya saya duduk disamping dapur rumah yang berdindingkan pelupuh bambu. Tertera nama yang kontak saya, Yorit Poni, seorang pengurus PDI Perjuangan Kabupaten Manggarai Timur. Saya tekan tombol jawab, dari seberang menyapa saya, selamat sore Kakak. Apa kabar. Reme ape pande (lagi buat apa), lagi-lagi dengan dialek bahasa Manggarai. Memakai bahasa ibu sebagai bagian dari kecintaan kami sebagai orang yang dilahirkan dan dilatih dari kecil dengan didikan untuk berbicara dalam bahasa Manggarai. Sapaan dari Yorit Poni, saya jawab satu per satu, kabar baik, reme inung kopi mane (lagi minum kopi sore). Saya balik bertanya, apa kabar. Nia e? (Dimana ?) Yorit Poni, kabar baik, saya lagi di Kota Ruteng. Sui perlu e? Apa perlunya. Ini komunikasi awal sebagai sesama orang Manggarai Raya. Yorit Poni menyampaikan lewat saluran kabel lunak di handphone, begini Kakak, Ketua PKK Kabupaten Manggarai ( Bupati terpilih Kabupaten Manggarai) ingin bertemu relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) peduli orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Mendengar kabar ini, hati saya bergembira dan bersyukur. Dalam hati saya bertanya, siapakah saya ini sampai Ketua PKK Kab. Manggarai mau bertemu? Saat itu saya langsung menanggapi dengan kesanggupan, tapi lagi-lagi terhalang oleh meningkatnya kasus Covid19 di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Sebagai manusia rapuh dan tak berdaya, ada semacam kekuatiran dan kepanikan dengan serangan covid19 yang tidak mengenal orang baik dan orang kurang baik, orang berstatus sosial. Penularan Covid19 sangat membingungkan dan meresahkan. Saya sampaikan kepada Yorit, saya siap beri kabar lagi kalau kondisi Covid19 menurun kasusnya. Kemudian saya berpesan, tolong diatur waktu yang baik sebab kita tahu kesibukan Ketua PKK dengan agenda yang padat.
Tibalah Waktu Yang Tepat di Tengah Pandemi Covid19
Selasa, (23/2/2021), saya berangkat dari tempat tinggal di Kompleks Mabako, Kota Waelengga, Ibukota Kec. Kota Komba jam 09.00 wita dengan angkutan umum. Nama angkutan umum itu Bemo Cahaya Surya Rute Waelengga-Borong yang dikemudi oleh Om Nobi. Dengan menempuh jarak kurang lebih 40 KM dengan waktu tempuh satu setengah jam. Saya tiba di rumah Om Rosis, seorang wartawan dan relawan KKI Manggarai Timur jam 10.30 wita. Saya disambut dengan gembira karena om Rosis sudah anggap saya sebagai keluarga. Sewaktu ada di Borong, saya tidur di kos mereka di Kampung Peot, Kelurahan Peot, Kec. Borong. Selain itu saya biasa tidur di rumah keluarga atau rekan jurnalis yang tinggal di Borong.
Bicara Saat Makan Malam
Saat hidangan makan malam sudah diatas meja, saya membuka pembicaraan dengan Om Rosis dengan menyampaikan informasi dari Om Yorit Poni bahwa Ketua PKK Kabupaten Manggarai ingin bertemu relawan KKI Manggarai Timur untuk sharing (berbagi) pengalaman tentang penanganan dan pencegahan penderita disabilitas mental yang dilakukan secara sukarela oleh sekelompok relawan KKI di Manggarai Timur. Ambrosius Adir yang sering disapa om Rosis, menjawabnya, kita atur waktu besok, Rabu, (24/2/2021). Saya memberikan tanggapan, kalau ke Ruteng, kita butuh kendaraan roda empat karena saat ini lagi musim hujan. Dan juga kita tetap waspada dengan Covid19 karena di Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai terus meningkat kasus Covid19. Kemudian Om Rosis bilang coba Kae (Kakak) kontak Kae Mensi Anam (Ketua Partai Hanura Manggarai Timur), barangkali kae Mensi Anam ada waktu agar kita sama-sama dengan mobilnya. Saat pembicaraan itu sudah pukul 21.00 wita. Setelah selesai makan malam, saya setuju dengan saran Om Rosis dan langsung mengontak Kae Mensi. Saya lihat nomor kontak kae Mensi Anam di handphone dan mengontaknya. Saya kontak dan diangkatnya. Saya sapa, selamat malam Kae, apa kabar? Dijawabnya, kabar baik. Selanjutnya saya utarakan maksud telepon tersebut, begini Kae, saya dan Om Rosis ada rencana ke Kota Ruteng. Kami diajak oleh Ketua PKK Kab. Manggarai untuk sharing pengalaman tentang penanganan ODGJ di Manggarai. Kae tahu bahwa kalau ke Kota Ruteng di musim hujan begini membutuhkan mobil dan kami ajak kae (Kakak) juga ikut berbagi pengalaman bersama-sama. Kae Mensi jawab, bisa dengan saya besok ke Kota Ruteng karena saya bersama keluarga ke Kota Ruteng. Tapi, tepat jam 06.00 wita kita berangkat dari Borong. Saya dan Om Rosis jawab, siap Kae (kakak).
Berangkat Tepat Waktu
Rabu, (24/2/2021), tepat jam 06.00 wita, mobil Kae Mensi Anam bersama keluarganya parkir di pinggir jalan di Jalan Raya Peot-Borong. Dia kontak saya. Saya jawab, kami siap ke jalan Kae. Sebelumnya kami sarapan pagi. Minum air hangat, minum kopi dan makan pagi. Kami siapkan segala sesuatu seperti masker, minyak kayu putih, pembersih tangan, (handsanitizer). Akhirnya kami berangkat. Laju kendaraan dari Peot menuju ke jalan Trans Flores, Borong-Ruteng. Waktu lenggang karena belum ada kendaraan yang lalulalang. Paling satu dua kendaraan yang berpapasan. Tibalah kami di Kompleks Waso Ruteng sekitar jam 08.00 wita. Tak lama kemudian, kami disuguhkan minuman kopi dan kue kompiang oleh tuan rumah. Selanjutnya tuan rumah hidangkan sarapan pagi. Terima kasih banyak kae Mensi. Tuhan memberkati kae sekeluarga. Ungkapan saya kepadanya.
Kontak Yorit Poni Sewaktu di Ruteng
Saya kontak Yorit Poni untuk mengabarkan bahwa kami sudah tiba di Ruteng. Yorit Poni menjawab jam 10.00 wita waktu sharingnya. Saya bilang ke dia bahwa kami tak ada kendaraan. Lalu dia bilang ada dua motor. Kemudian, sekitar 09.30 wita, dia dan saudaranya jemput kami di Kompleks Waso, Kelurahan Waso, Kecamatan Langke Rembong.
Kota Ruteng, Kota Terdingin di Flores Barat
Hujan gerimis ditambah dengan cuaca dingin di Kota Ruteng tidak mematahkan semangat kami untuk bertemu Ketua PKK Kab. Manggarai. Hati kami penuh semangat dan gembira karena ini hal baru yang kami alami. Seorang Ketua PKK dengan rendah hati mengajak kami untuk berbagi pengalaman tentang penangan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Saya dan Om Rosis lupa bawa jaket. Laju kendaraan roda dua dari arah Kompleks Waso menuju Kota Ruteng, selanjutnya menuju jalan trans flores Ruteng-Labuan Bajo. Udara dingin sangat terasa dalam tubuh kami yang hanya ditutupi baju dan celana. Kaki ditutupi sepatu. Kita ke Kompleks Perumnas Mena. Disana Ketua PKK Kab. Manggarai menunggu kita. Kami tiba di Kediaman Ketua PKK Kab. Manggarai sekeluarga.
Sharing Pengalaman Selama 4 Jam
Saat itu, saya, Om Rosis dan Yorit Poni menunggu beberapa menit di depan rumah. Kami dipersilahkan masuk di salah satu ruangan tamu. Tak lama kemudian, Ketua PKK Kab. Manggarai tiba.
Ia menyapa kami dengan penuh persaudaraan. Ketua PKK menyapa kami dengan baik sekali. Kesan awal kami, Ketua PKK, Meldiyanti Hagur, sederhana, ceria, penuh semangat menyambut kami. Ramah. Sangat berbeda. Ketua PKK orang kerja. Bukan tas yang ditentengnya melainkan laptop notebook. Sapaan pertama saat menyambut kami dengan goet, dialek Manggarai, Nana bao meu ko (Nana sudah dari tadi). Selanjutnya, Ketua PKK persilahkan kami masuk di ruangan yang sudah disiapkan. Tertata rapi, bersih, atur jarak kursi, ada meja kerja. Kemudian Ketua PKK duduk dan langsung membuka laptopnya. Selanjutnya Yorit Poni memperkenalkan kami. Setelah perkenalan, Ketua PKK memulai pembicaraan. Saya bawa dengan laptop untuk mencatat semua sharing kita pagi ini. Saya kerja dengan menggunakan data yang akurat. Belum lama ini saya diajak berkunjung ke Panti Renceng Mose Ruteng. Saya mengumpulkan data tentang penanganan orang dengan gangguan jiwa. Setelah pulang dari sana, saya merefleksikan bahwa penderita disabilitas mental juga bisa pulih. Dengan temuan itu, merubah cara pandang saya tentang penderita disabilitas mental. Yah, kita tahu bahwa pandangan secara luas penderita disabilitas mental tidak bisa pulih. Ternyata, pandangan itu keliru, dimana penderita disabilitas mental bisa pulih dan kembali beraktivitas seperti biasa. Untuk itu, program prioritas dalam PKK untuk lima tahun kedepan dengan berpihak pada pemulihan mereka serta penanganan pasca pemulihan dari tempat rehabilitas. Peran itu akan ditangani oleh PKK Kab. Manggarai. Ketua PKK mengatakan pembangunan manusia di Kabupaten Manggarai akan dilakukan secara bertahap. Penanganan dan pencegahan penderita disabilitas mental siap dilakukan dengan berbagai pihak.
Kemudian saya dan Om Rosis menceritakan pengalaman penanganan penderita disabilitas mental di Manggarai Timur sejak Juli 2017 lalu. Semua kami sharingkan. Cerita apa adanya walaupun bermodalkan panggilan hati nurani dan nekat. Semua yang sharingkan dicatat dalam laptop Ketua PKK. Kita memiliki keprihatinan yang sama bagi pemulihan penderita disabilitas mental karena mereka juga memiliki martabat yang sama. Penderita disabilitas mental juga manusia bermartabat dan memiliki hak yang sama untuk memperoleh perawatan medis. Terakhir saya ungkapkan penderita disabilitas mental pulih. Kita sehat. Negara hadir.
***********
Penulis adalah wartawan dan koordinator relawan KKI Kab. Manggarai Timur, NTT.
PEMUDA KATOLIK Komda Jabar melakukan kunjungan silaturahmi ke Paroki Santa Maria Para Malaikat di Jl. Raya Cimacan No.93, Cipanas, Cianjur, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Minggu, (28/02/2021).
Kunjungan
silaturahim Ketua Pemuda Katolik Komisariat Jawa Barat Edi Silaban yang
didampingi oleh Wakil Sekretaris Bidang Hukum Eduardus Estuaji Enggar Bawono,
S.H. merupakan kunjungan kali pertamanya sejak dilantik oleh Mgr. Antonius Bunjamin
Subianto, OSC pada 2019 lalu.
Silaturahmi Pemuda Katolik
“Kunjungan
silaturahim ini sudah di rencanakan sebulan lalu. Karena, Pengurus Paroki
sedang fokus pada protokol kesehatan memasuki masa Prapaskah. Ucapan terima
kasih kami dapat berkunjung wilayah Kabupaten Cianjur khususnya Paroki
Cipanas” kata Edi Silaban.
Kedatangan
Pemuda Katolik menemui RP Ignatius Widiaryarso, OFM untuk silaturahmi sekaligus
memperkenalkan kembali organisasi Pemuda Katolik di wilayah Kabupaten Cianjur.
Edi Silaban
menegaskan bahwa berkomitmen untuk menjalin komunikasi serta memperluas
jaringan sosial kemasyarakatan termasuk menghadirkan Pemuda Katolik di
Kabupaten Cianjur.
“Menghadirkan
Pemuda Katolik di Kabupaten Cianjur menjadi prioritas utama. Lalu kedepan akan
mengembangkan komunikasi serta menumbuhkan hubungan Sosial Masyarakat bersama
berbagai stakeholder di Cianjur ” ujar Edi.
Pastor Santa
Maria Para Malaikat Gereja RP Ignatius Widiaryarso, OFM menyambut baik
silaturahmi Pemuda Katolik di Kab. Cianjur.
“Selamat
datang di Cipanas. Paroki ini sendiri mencakup 11 lingkungan mencakup dari 2
wilayah dengan jumlah umat terbaru 292 KK” paparnya.
Dalam
konteks kepemudaan, lanjut Romo Widi, memiliki konsen yang sama agar tak ada
munculnya istilah alergi pada isu sosial masyarakat.
“Orang
muda kita memang perlu di dorong membangun sebuah kesadaran bersama terkait isu
sosial kemasyarakatan. Maka, mendukung langkah silaturahmi Pemuda Katolik dan
mendorong isu-isu nasionalisme” ujarnya.
Romo
berharap kedepan Pemuda Katolik dapat hadir di Kabupaten Cianjur sekaligus
memberikan warna baru di daerah ini.
Dalam pertemuan ada beberapa pokok pembahasan antara lain terkait situasi kebangsaan di Cianjur, masalah sosial kemasyarakatan, isu politik, hukum dan berbagai pembahasan lainnya. Kegiatan ditutup dengan komitmen bekerja sama dalam berbagai animasi kegiatan.
Saat ini seluruh dunia sedang menuju pada sebuah tatanan dunia baru dengan berbagai macam perkembangan ilmu-pengetahuan, teknologi, informasi dan komunikasi. Pasca Covid-19 yang melanda secara global, kehidupan umat manusia mengalami perubahan secara signifikan bahwa ada harapan dan tantangan sebagai akumulasi perubahan dan perkembangan zaman.
Mengenai tatanan dunia baru ini-kita harus menariknya ke belakang tentang peristiwa historical atau akar dari tatanan dunia baru ini bagaimana. Bahwa Pasca perang dingin (perang ideologi) yang ditandai dengan kemenangan kapitalisme-liberal (baca: Samuel P. Huntington & Francis Fukuyama) dan melahirkan konsep demokrasi sebagai sistem bernegara di era tatanan dunia baru.
Pasca itu kemudian muncul perang ekonomi antar negara-negara yang menghasilkan lahirnya negara-negara pasar (welfare state)- seperti seteru Amerika Serikat vs China saat ini, dimana Indonesia sangat merasakan dampaknya sebagai negara yang berada tepat di jalur perdagangan dunia secara geografis.
Dari peristiwa-peristiwa persaingan itulah muncul berbagai agenda dengan kepentingannya persoalan ekonomi para elit global, seperti munculnya Covid-19 sampai adanya Vaksin Covid-19 yang saya yakin sungguh adalah bagian dari agenda elit global persoalan ekonomi dunia. Dalam buku Committee 300 yang ditulis John Coleman (2014), jelas bahwa untuk memahami bahwa perubahan-perubahan yang terjadi di dunia itu merupakan bagian dari rencana yang dirancang saksama untuk menimbulkan kekacauan dan gangguan parah, dan bahwa peristiwa-peristiwa itu tidak terjadi secara kebetulan. Tetapi ada rencana-konspirasi tersistematis yang dilakukan dibalik semua itu.
Indonesia sebagai negara berkembang yang masih tertinggal jauh pada aspek perbaikan kualitas pembangunan sumber daya manusia (SDM), rendahnya mutu pendidikan, dan berbagai masalah sosial masyarakat yang lain terlihat memprihatinkan membuat kita akan kewalahan menghadapi dinamika arus globalisasi dan perkembangan zaman menuju tatanan dunia baru yang dengan tanda-tandanya sudah dan sedang berlangsung.
HMI sebagai organisasi modern harus berupaya menjelaskan ke publik dengan kapasitas intelektualnya tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan dunia dengan pendekatan-pendekatan sejarah, ilmu-pengetahuan, dan setelah itu HMI secara organisasi dan secara etis juga harus mempersiapkan diri dan mencari peran untuk bagaimana menghadapi tatanan dunia baru ini. Sehingga apa yang menjadi kesiapan dan ikhtiar kader HMI dalam menghadapi tantangan ini dapat mewabah ke seluruh sendi-sendi kehidupan manusia Indonesia.
Fokus HMI
Sejarah perjalanan HMI sejak berdiri pada 5 Februari 1947 sampai sekarang tahun 2021 (sudah 74 tahun usianya) telah banyak menghadapi berbagai macam fase dan tantangan dalam lingkup keindonesiaan. Agussalim Sitompul[1] dengan sangat rapi mengurutkan fase-fase perjuangan HMI diantaranya: ada fase konsolidasi spiritual, berdirinya (1946-1947), fase perjuangan bersenjata (1947-1949), fase pembinaan dan pengembangan organisasi (1950-1963), fase tantangan (1964-1965), fase kebangkitan (1966-1968), fase partisipasi dalam pembangunan (1969-1970), fase pergolakan dan pembaharuan pemikiran (1970-1998), serta fase reformasi (1998-2000).
Sedangkan di era kekinian HMI sedang menghadapi tantangan global. Olehnya itu, HMI mesti fokus untuk menghadapinya. Sehingga perlu langkah strategis berjangka panjang agar bisa keluar sebagai pemenang menghadapinya derasnya arus peradaban abad 21. Pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting dan esensial untuk menghadapi itu dengan memperkuat jenjang dan tahapan pendidikan kader secara formal maupun universal. Dunia pendidikan di HMI disebut dengan dunia perkaderan yang dimana ada; a) training atau latihan kader I, II, dan III sebagai pendidikan formal di HMI, b) kegiatan di dalam aktivitas HMI dan forum perjuangan yang sangat luas, c) kegiatan individual dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, ada pula langkah-langkah untuk menghadapi era tatanan dunia baru bisa dilakukan dengan: 1) memperkuat pola perkaderan di HMI. Perkaderan di HMI merupakan sebuah keniscayaan, ia tidak bisa dilepas pisahkan. Kita sering menyebut perkaderan adalah jantung organisasi-hidup atau matinya sebuah organisasi ada pada perkaderan. 2) memperbanyak melihat realitas dalam pandangan kader HMI untuk di diskusikan sebagai wacana kritis. 3) secara intens mengadvokasi persoalan kebangsaan yang paling urgen dan prinsipil, seperti kemiskinan, kesejahteraan, pendidikan, serta kesehatan yang masih menghantui negeri ini demi kepentingan dan masa depan keumatan dan kebangsaan.
Sedangkan yang harus ditinggalkan HMI adalah kebiasaan untuk berdebat sampai menimbulkan konflik dalam tubuh organisasi, saya menyebutnya sebagai konflik struktural yang hanya menguras energi tetapi tidak mempunyai asas kebermanfaatan baik untuk HMI sendiri maupun di luar HMI yakni untuk umat dan bangsa.
Perkuat Literasi
Istilah literasi bukanlah sesuatu yang baru bagi HMI. Apalagi untuk para kader dan aktivis HMI, sebab literasi sangat erat dengan kegiatan-kegiatan HMI-bahkan telah menjadi sebuah budaya yang tertanam kuat sejak lama, sejak HMI didirikan oleh Lafran Pane dan kawan-kawan. Kita bisa melihat itu dalam bukunya Agussalim Sitompul tentang “Sejarah Perjuangan HMI”, yang dimana salah satu latar belakang berdirinya HMI adalah menyelamatkan umat Islam dan umat Indonesia dari kebodohan, kemujudan, serta kemunduran berpikir.
Namun untuk hari-hari ini dan menjadi fakta sekaligus catatan buruk bahwa budaya-budaya literasi itu hampir hilang atau literasi sebagai sebuah budaya dalam tubuh HMI telah mengalami kenihilan. Karena budaya dalam pandangan Kuntowijoyo adalah suatu kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum ,adat-istiadat , kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang di dapatkan oleh manusia seagai anggota masyarakat.[2]
Budaya literasi yang sering dilakukan HMI pada masa-masa sebelumnya sangat kental sekali, namun perlahan mulai hilang. Hal demikian juga digambarkan dalam buku 44 Indikator Kemunduran HMI. Misalkan memudarnya “tradisi intelektual HMI”. Kegiatan-kegiatan keilmuan HMI yang sebelumnya menjadi andalan HMI, kini Nampak redup dan memudar.[3]
Bahwa literasi adalah modal dan kekuatan berharga untuk kalangan pemuda-mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa dan pemimpin masa depan untuk merespon tantangan zaman yang identik dengan high teknologi ini untuk lepas landas menuju tatanan dunia baru ini. Literasi yang dimaksud adalah membaca literatur-fenomena, menganalisa realitas-fakta, mengkaji wacana, dan berdiskusi suatu persoalan secara intens.
Perjelas Ideologi
Akar dari ideologi itu kalau kita mengkaji bahwa ia berawal dari kekuatan logika yang dimiliki-bahwa dalam buku Logic and Longuage of Education, logika disebut sebagai penyelidikan tentang dasar-dasar dan metode-metode berpikir benar[4]. Dari kekuatan logic itu kemudian kita akan dapat menerima pengetahuan dari berbagai macam subjek dan objeknya atau epistemologi. Epistemologi dapat didefenisikan sebagai sebuah ilmu yang menjadikan pengetahuan manusia sebagai pokok kajian utama dan menjelaskan jenis-jenis pengetahuan, benar-salahnya, serta menyajikan standarisasi kebenaran sebuah pengetahuan.[5]
Dari epistemologi inilah akan membentuk sebuah pandangan dunia (world view) dalam melihat realitas. Pada dasarnya dalam menjalani kehidupan, manusia sangat bergantung pada pola atau kerangka pikir yang kemudian disebut sebagai pandangan dunia atau world view. Secara sederhana pandangan dunia adalah kerangka yang kita buat untuk melihat dunia dan berbagai kejadian yang menyertainya. Berbagai kejadian dan peristiwa kita beri makna dalam kerangka ini[6]. Menurut Murtadha Muthahhari, pandangan dunia inilah yang kemudian menjadi dasar dari ideologi yang dianut oleh setiap individu dan golongan. Perbedaan pada ideologi yang dianut oleh setiap manusia disebabkan perbedaan dalam hal menyusun kerangka pandangan dunia Pandangan dunia, adalah bentuk dari sebuah kesimpulan, penafsiran, dan hasil kajian yang ada pada seseorang berkenaan dengan Tuhan, alam semesta, manusia, dan sejarah.[7]
Kemudian
dari world view itulah yang membentuk
ideologi seseorang. Ideologi menjadi “kebutuhan” manusia yang paling mendasar
untuk memberi arah atau petunjuk dalam mengungkap kebenaran sampai ke tingkat
melakukan verifikasi atas tindakan masyarakat serta kondisi-kondisi sosial yang
melingkupinya. Secara sederhana, ideologi berperan dalam pemberian cara
pandang, membentuk pemahaman, serta mengarahkan prilaku manusia dalam
berinteraksi dengan dunianya. Berkebalikan dengan pandangan Marx dan Weber yang
berpandangan ideologi dibentuk oleh struktur masyarakat. Syari’ati justru
menyatakan bahwa, dengan kesadaran diri (ideologi) inilah manusia membentuk
masyarakat.[8]
Untuk
berjuang dalam melawan kezoliman, penindasan tentu kita sebagai kader HMI
memerlukan ideologi sebagai pedoman, acuan, sumber dalam melakukan
perjuangan-perjuangan atas nama dan kepentingan umat dan bangsa. Ideologi
merupakan instrumen perjuangan untuk mencapai suatu tujuan. Bagi Ali Syariati
mengatakan bahwa ideologilah yang mampu mengubah masyarakat, karena
sifat dan keharusan ideologi yang meliputi keyakinan, tanggung jawab, dan keterlibatan
untuk komitmen[9]. Pandangan Ali Syari’ati ini, senada dengan pandangan Antonio
Gramsci, yang menyatakan bahwa ideologi, lebih dari sekedar sistem ide.
Ideologi secara historis memiliki keabsahan yang bersifat psikologis (ideologi
memberikan spirit perjuangan). Selain itu, ideologi mengatur dan memberikan
tempat bagi manusia untuk bergerak dan, mendapatkan kesadaran mengenai posisi
mereka maupun perjuangan mereka dalam kehidupannya.[10]
Tentu ideologi harus digunakan HMI adalah NDP (nilai-nilai dasar perjuangan) yang di dalamnya sarat akan nilai-nilai keislaman yakni Al-Qur’an dan Hadis sebagai pedoman hidup umat Islam. Dengan lengkapnya bisa dilihat pada buku Islam Mazhab HMI yang menjelaskan bahwa NDP sebagai ideology perjuangan HMI harus dipahami dengan baik.
Bahwa NDP itu adalah kumpulan nilai-nilai Qur’ani yang
disistematisasikan sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah konsep yang utuh.
Jadi nilai yang ada pada NDP itu: bersifat abstrak dan universal. Dikatakan
abstrak karena nilai itu sendiri tidak bisa diukur secara pasti. Dikatakan
universal karena nilai tersebut diturunkan dari kitab suci al-Qur’an, maka
sudah barang tentu nilai itu berlaku untuk seluruh masa dan tempat dan menjadi
kebutuhan semua manusia. Begitu juga dengan NDP. Karena ia merupakan kumpulan
nilai maka NDP tetap relevan dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun.[11]
Selain
itu, NDP yang dimaksud sebagai ideologi dapat juga dijadikan bentuk ikhtiar HMI
untuk mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Swt dengan tetap
berlandaskan terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan
Islam.
Kesimpulan
HMI merupakan organisasi besar dan sangat
cukup tua, telah menginjak usia 74 tahun sejak berdiri pada tahun 1947. Bahwa
HMI boleh sudah tua, tapi jiwa dan pikiran-gagasannya harus tetap muda. HMI
yang bertempat di Indonesia yang merupakan negara berkembang tentu akan menjadi
tantangan tersendiri dalam mengawal dan turut serta berkontribusi dalam
membentuk SDM Indonesia yang berkualitas agar bisa menghadapi lajunya
perkembangan zaman menuju tatanan dunia baru. Bahwa kita mesti terus-terus
menjadi bangsa yang tertinggal di tengah semakin berkembangnya ilmu-pengetahuan
dan teknologi yang semakin modern ini.
Kemudian di tengah kondisi bangsa seperti
ini, yang selalu penuh dengan banyak permasalahan, maka HMI harus hadir dengan
resolusi untuk mengatasi masalah Indonesia kekinian sebagai upaya mengokohkan
komitmen keislaman dan kebangsaan. Tugas HMI adalah memberikan edukasi dan
penjelasan kepada bangsa Indonesia untuk menjadikan tatanan dunia baru ini
sebagai sebuah harapan menuju kehidupan masyarakat adil makmur yang diridhoi
Allah Swt. Sebab HMI bukan saja Himpunan Mahasiswa Islam, tetapi HMI adalah
Harapan Masyarakat Indonesia sebagai kata Jendral Soedirman.
DAFTAR PUSTAKA
Ali Syariati. 1989. Ideologi Kaum Intelektual: Suatu Wawasan Islam. Bandung: Mizan.
Azhari Akmal Tarigan. 2007. Islam
Mazhab HMI. Jakarta: Kultura.
Golam
Reza Fayyadhi. 2016. Buku Daras
Epistemologi Islam. Yogyakarta: Jaringan Aktivis Filsafat Islam (JAKFI)
SEJAK tahun 1970-an iman
Katolik mulai dirintis di wilayah Bojonggede dan sekitarnya. Para pionir waktu
itu berjumlah sekitar 12 KK. Sebagian mereka bekerja sebagai guru di
sekolah-sekolah Inpres. Hari ini (22/2) benih iman Katolik yang telah lama
ditanam itu mulai menampakan buah-buah nyata. Diresmikannya paroki baru dengan
nama Paroki Santa Faustina Kowalska Tajurhalang, Keuskupan Bogor merupakan
salah satu buah dari penaburan benih iman Katolik di masa lalu.
Kehadiran Bapak
uskup Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM selaku gembala umat yang meresmikan
paroki Santa Faustina dan sekaligus
melantik para pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Dewan Keuangan
Paroki (DKP) memberi semangat baru bagi semua yang hadir.
“Pada peristiwa seperti ini saya selalu mengatakan kembali apa
yang pernah disampaikan Paus Yohanes Paulus II bahwa inilah sejarah kita dengan tiga dimensinya. Sejarah
masa lalu yang mengingatkan kita untuk selalu bersyukur. Masa kini mendorong
kita untuk memiliki semangat antusias. Selalu berada bersama Allah dan
mengikuti kehendak-Nya sekalipun kita sedang menghadapi wabah. Sedangkan masa
depan membuat kita selalu memilik harapan besar akan cita-cita kebaikan
bersama”, ujar Monsignor Paskalis.
Acara peresmian yang
berlangsung dalam suasana protokol ketat ini diawali dengan perayaan ekaristi
yang dipimpin langsung oleh Bapak Uskup Paskalis dan didampingi oleh Pastor
Paroki Santa Faustina Romo Mikail Endro Susanto dan Pastor Vikaris Romo Christo
Lamensani.
Sejumlah tamu undangan juga turut hadir para perayaan iman tersebut. Di antaranya Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Bapak Yohanes Bayu Samodro, S.Pd, MPd, Anggota DPR RI F-PDIP Ibu My Esty Wijayati, dan Anggota DPRD F-PDIP Kabupaten Bogor Bapak Sitorus Robinson Sitorus.
“Gereja berpelindungkan
Santa Faustina ini menunjukan sebuah komunitas beriman yang saling meneguhkan,
seorang Santa yang telah mewariskan keutamaan rohani dalam gereja katolik.
Semoga umat bertumbuh dalam iman yang kokoh”, ujar Yohanes.
Yohanes
menambahkan bahwa sekarang perjuangan umat Katolik di Bojonggede ini bukan
hanya sekedar perjuangan tapi sebuah peziarahan. Ziarah umat beriman yang ditandai dengan komunitas
beriman yang telah berjalan dan terbina dengan baik, tertata rapi wilayah
teritorialnya, ketersediaan rumah pastoral, serta komitmen untuk melaksanakan
pancatugas gereja seperti liturgia, koinonia, kerygma, diakonia, dan martyria.
Puncak acara persemian ditandai dengan penandatangan prasasti oleh Bapak Uskup Paskalis. Sebuah prasasti dengan tulisan “Dengan Rahmat Allah yang Maha Rahim Yang Mulia Bapak Uskup Sufragan Bogor Mgr. Paskalsi Bruno Syukur OFM Berkenan Meresmikan Paroki Santa Faustina Kowalska Tajurhalang , Bogor, 22 Februari 2021” senantiasa mengingatkan umat akan momentum bersejarah ziarah iman umat Katolik di wilayah Bojonggede, Bogor.
Sebelum ke acara puncak peresmian, dilaksanakan pula acara peluncuran buku Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Iman Katolik di Tatar Bojonggede. Penulis buku, Thomas Ataladjar didampingi dua editor yakni Daniel Mangu dan Frans Asisi Datang, membacakan resensi buku dan sekaligus menyerahkan beberapa buku kepada Romo Endro untuk ditandatangani Uskup Bogor dan Dirjen Bimas Katolik. Dari beberapa buku yang ditandatangani, tiga buku berhasil dilelang ke umat yang hadir. ***
MEMULAI itu sungguh berat. Apalagi memulai ditengah wabah Covid19 sungguh-sungguh sangat berat. Beratnya tak bisa ditimbang dengan alat timbangan. Kekuatiran, ketakutan, kepanikan, kegoncangan bahkan kebingungan merasuki alam bawah sadar, alam setengah sadar, alam sadar.
Berani memulai untuk melawan kepanikan dalam diri sendiri itu sangat utama. Butuh iman yang kuat untuk berani keluar dari berbagai macam pikiran yang muncul. Berani melawan pikiran yang kacau balau membutuhkan ketenangan batin. Iman yang kuat dan berani. Tentu, berani itu harus bersumber dari penyelenggaraan ilahi. Roh Tuhan menggetarkan kebekuan iman apabila mengandalkan kemampuan diri sendiri. Roh Tuhan tetap hidup. Disini kepekaan manusia rapuh untuk mengandalkan Roh Tuhan. Selama Januari-hingga pertengahan Februari 2021, saya semacam terkurung di dalam rumah karena meningkat kasus Covid19 di Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang awalnya menular di anggota masyarakat yang pertama kali di 2020, kini Januari 2021 menular kepada pemimpin daerah. Saya tahu bahwa ketatnya protokol kesehatan di level pemimpin daerah, namun virus corona ini juga menular pertama kali dalam pribadi mereka. Jadi virus corona tidak mengenal siapa saja. Menularnya saja tanpa memandang status sosial. Namanya saja virus corona. Virus Corona memporakporandakan segala sendi kehidupan manusia. Tidak kepada alam. Virus Corona menular ke dalam tubuh manusia.
Selama Januari 2021, saya hanya berada di rumah bersama anak-anak dan istri. Walaupun istri tetap ke kantor dengan ketatnya protokol kesehatan sementara anak-anak belajar dari rumah atau belajar di rumah (bdr). Anak-anak mengerjakan tugas yang diberikan guru dari sekolahnya. Sementara saya juga bekerja dari rumah. Beruntung memiliki handphone android yang memudahkan untuk bekerja. Namun tidak maksimal.
Menunggu sampai menurunnya penularan Covid19 terus saya refleksikan, renungkan dan bawa dalam doa. Saya bertanya dalam hati dan pikiran, sampai kapan menunggu sementara saya menerima banyak informasi tentang warga yang menderita disabilitas mental ? Entah sampai kapan saya menunggu di rumah karena Covid19? Selama Januari 2021, saya memberanikan diri bepergian ke Kota Borong dengan angkutan umum. Intinya jalan-jalan sambil survei keadaan di Kota Borong. Memang kelihatan sepi. Kemudian bepergian kedua kali karena ada urusan keluarga yang tak bisa ditunda. Jalan-jalan ini tentu dengan protokol kesehatan yang super ketat. Memakai masker, membawa pembersih tangan (handsanitizer) dan membawa minyak kayu putih. Untuk meningkatkan daya tahan tubuh dengan minum ramuan tradisional. Saat jalan-jalan itu tak lupa berdoa sebagai modal utama dalam diri agar Tuhan melindungi saya dan terhindar dari wabah Covid19. Keberanian ketiga, ketika kepala bagian protokol komunikasi pimpinan (Prokopim) Setda Kabupaten Manggarai Timur undang saya dan semua wartawan di Manggarai Timur dengan agenda Temu Media. Ada ungkapan yang menarik, Kita duduk, kita bicara. Temu media dilangsungkan di Cafe Rana Loba, Kelurahan Rana Loba, Kec. Borong, Jumat, 19 Februari 2021. Saya berani hadir karena ini agenda bersejarah sejak Manggarai Timur terbentuk sebagai daerah otonom. Bahkan menuju usia 14 Kabupaten Manggarai Timur, karena 2020 sudah merayakan usia 13 tahun Kabupaten tersebut. Saat itu amatan saya di lapangan ada semacam kelonggaran karena Manggarai Timur masih kategori zona hijau.
Pertengahan Februari 2021, handphone saya berdering, seorang anggota relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI), Ambrosius Adir, menginformasikan bahwa dia menerima informasi dari masyarakat di Kecamatan Elar Selatan tentang penderita disabilitas mental. Saat komunikasi itu saya minta dia untuk memastikan nama penderita, alamat kampung, dan desanya. Kemudian, keesokan harinya dia menginformasikan bahwa penderita disabilitas mental itu tinggal di Kampung Kotatunda-Sopang Rajong, Desa Nanga Meje, Kecamatan Elar Selatan. Saat komunikasi itu saya memberikan tanggapan bahwa kita atur waktu kalau penularan Covid19 di Manggarai Timur menurun. Titik. Di tengah ketatnya kondisi tidak bisa jalan-jalan karena meningkatnya kasus penularan Covid19, hati saya tersayat mendengar informasi tentang sesama warga yang derita disabilitas mental yang tinggal di pedalaman Manggarai Timur. Ingin berontak dalam hati namun kondisi tidak memungkinkan saya untuk melakukan pelayanan kasih karena informasi seputar kasus Covid19 terus meningkat di awal 2021 ini. Saya juga penuh kehati-hatian untuk melakukan pelayanan Kasih bagi penderita disabilitas mental. Bertumpuk informasi yang saya catat dalam buku harian. Relawan KKI yang tersebar di sejumlah Kecamatan terus menginformasikan tentang penderita disabilitas mental. Untuk menghibur diri, saya selalu berdiskusi dengan teman-teman relawan lewat media whatsapp. Tak lama kemudian, di pertengahan Februari 2021, seorang saudara menelepon saya bahwa ada orang baik di Kabupaten Manggarai untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman tentang pelayanan relawan KKI di Manggarai Timur saat menangani dan mencegah penderita disabilitas mental. Lewat saluran telepon seluler, saya beri tanggapan bahwa relawan KKI sanggup bertemu di Kota Ruteng, tetapi lagi-lagi alasan Covid19 agenda diskusi ini belum terlaksana. Selain itu, saya informasikan bahwa ada warga di pelosok Kabupaten Manggarai yang sedang derita disabilitas mental. Saya beritahu kepada saudara itu untuk secepatnya melakukan pelayanan medis bagi warga tersebut. Kemudian, saya informasikan bahwa ada warga di Kecamatan Elar Selatan yang derita gangguan jiwa. Kebetulan saya itu berasal dari Kecamatan Elar Selatan. Tentu kalau berkunjung ke Kecamatan Elar Selatan membutuhkan kendaraan double gardan. Saya sampaikan kepada relasi bahwa relawan KKI hanya bermodalkan jalan kaki atau dengan sepeda motor dalam kunjungan Kasih bagi penderita disabilitas mental dari 2017 lalu. Jadi untuk menjangkau ke Kecamatan Elar Selatan membutuhkan kendaraan yang double gardan karena topografi sangat berat. Apabila ada orang yang baik hati dan memiliki kendaraan double gardan, kami relawan siap tenaga untuk melakukan kunjungan Kasih.
Biasanya apabila ada informasi dari warga tentang orang dengan gangguan jiwa, saya selalu informasikan di group whatsapp KKI Manggarai Timur. Berkaitan dengan informasi itu, seorang relawan KKI memberikan komentar bagaimana kita tancap gas ke sana ( Kec. Elar Selatan) dengan sepeda motor. Saya balas komentarnya, tahan dulu, maunya kita carter oto colt yang mampu menerobos topografi di Elar Selatan. Kemudian staf dari Dinkes Manggarai Timur yang membidangi seksi penanganan ODGJ meneruskan informasi ke Puskesmas Runus. Dan 11 Februari 2021, perawat dari Puskesmas Runus melakukan kunjungan rumah. Saya mendengar kabar itu hanya menyampaikan rasa syukur atas kerja sama lintas sektor. Dalam hati saya mengungkapkan bahwa Tuhan terus menggerakan semua orang yang berhati baik dan mulia.
Datang Kabar Gembira
Jumat, 19 Februari 2021, nada dering handphone berbunyi, terlihat nama Mantan Kapolres Manggarai yang sekarang Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Manggarai Timur, Marselis Sarimin menelepon. Saya kaget. Saya tekan tombol jawab, terdengar sapaannya, Sobat, selamat sore. Apa kabar? Saya jawab, selamat sore, kabar baik. Lalu saya melemparkan pertanyaan balik, apa kabar. Di jawab, kabar baik. Lalu melanjutkan pembicaraan, Besok, Sabtu, (20/2/2021) kita kunjung keluarga yang sakit di kampung Kotatunda-Sopang Rajo, Kecamatan Elar Selatan. Sobat besok tunggu di pinggir jalan di Kota Waelengga. Saya terharu dengan niat baik untuk mengunjungi orang sakit. Kita sekalian lakukan aksi puasa pembangunan (APP) di masa prapaska 2021 ini ditengah pandemi Covid19. Kita hadir sambil melihat kondisi keluarga yang sakit tersebut. Kita tetap dengan menaati protokol kesehatan. Sebelum menutup telepon, saya sampaikan siap. Sesudah itu kami melakukan aktivitas masing-masing antara Borong dan Waelengga. Sore itu juga saya menelepon seorang anggota relawan KKI untuk sama-sama mengunjungi keluarga yang sakit. Saya sampaikan besok, Sabtu (20/2/2021) kita berangkat dengan rute Borong-Waelengga-Marokima-Gurung-Lete-Ritapada-Sopang Rajong. Dia bersedia karena kami sama-sama memiliki hati bagi orang yang sedang menderita sakit, khususnya sakit gangguan jiwa. Saya bersyukur kepada Tuhan karena Ia menggerakkan hati relawan dari pribadi ke pribadi untuk menyapa sesama yang sedang menderita disabilitas mental. Sejak dibentuk relawan KKI Manggarai Timur 2017, Ambrosius Adir hadir dengan keprihatian yang sama. Awalnya bermodalkan nekat untuk bergabung tanpa memiliki ilmu pengetahuan tentang ilmu sakit gangguan jiwa. Semua kami merasakan sentuhan kasih Tuhan.
Waktu yang dinantikan tiba, Kendaraan yang saya tumpangi berhenti di pinggir jalan di Jalan Trans Flores di Kota Waelengga. Saya kaget, pintu mobil dibuka oleh mantan orang satu di Kepolisian Resor Manggarai itu. Jam menunjukkan 10.00 Wita. Laju kendaraan belok kiri di pertigaan Waelengga menuju ke rute yang sudah diagendakan. Jalan raya sudah aspal, walaupun kerusakan terjadi di sepanjang. Jalan berlupang karena aspal terkelupas. Hingga kami tiba di Kampung Ritapada. Dari Ritapada, kami melintasi jalan aspal yang baru usia satu tahun pengerjaan, namun ada sebagian yang rusak. Kemudian laju kendaraan melaju di jalan berbatu dengan tumbuhan alang-alang ditengah jalan. Bahkan kiri kanan jalan juga tumbuhan liar alang-alang. Hati mulai kuatir dengan kondisi jalan bebatuan tersebut hingga istirahat di sebuah jembatan permanen. Kami bertemu warga yang sedang istirahat di jembatan tersebut. Jembatan di tengah hutan. Warga itu menyampaikan bahwa di jalan tanjakan ada tiga titik yang longsor. Kalau butuh sekop, ada warga yang sedang berada di kebun di pinggir tersebut. Kami bersyukur atas peristiwa yang tak terduga tersebut. Tuhanlah yang mengatur semuanya karena kami memiliki niat baik untuk mengunjungi keluarga yang sakit. Bersyukur mobil yang saya tumpangi mampu melintasi jalan yang bebatuan. Di lokasi longsor, kami turun. Mengambil batu untuk menutupi jalan berlubang. Kemudian di tikungan ada longsor. Kami dibantu oleh seorang petani yang memiliki alat sekop. Membersihkan tanah longsor agar kendaraan bisa melewati lokasi tersebut. Bersyukur berjalan dengan lancar. Lalu kami tiba di jalan beraspal menuju ke Kotatunda-Sopang Rajong. 2018 lalu, jalan itu belum diaspal. Jalan bebatuan. Di dalam mobil saya berkisah bahwa 2018 lalu, jalan ini belum diaspal. Ada yang memberitahu bahwa mungkin diaspal 2019 lalu. Tepat pukul 14.00 wita, kami tiba di Kampung Kotatunda-Sopang Rajong. Kami istirahat sebentar di rumah keluarga dan disuguhkan minuman kopi dan buah rambutan. Buah rambutan lagi musim panen. Selanjutnya kami menuju rumah keluarga yang sakit. Rumah keluarga itu sangat sederhana. Bagian depan dipagari. Kami semua mengangkat bingkisan kasih dan masuk ke rumah. Rumah berlantai tanah. Bapak Marselis Sarimin masuk didampingi Om Yori. Melihat keadaan rumah dan menyapa bapak yang derita lumpuh di kamarnya, sementara istrinya sedang tidur beralaskan papan lima lembar. Kami bertemu seorang nenek yang lanjut usia dan anak sulung dari keluarga itu yang kelas VI Sekolah Dasar. Nenek dan anak sulung itu yang setia merawat, memberikan makan bagi pasangan suami istri yang sakit tersebut. Selanjutnya bingkisan kasih diserahkan oleh Bapak Marselis Sarimin. Bapak Sarimin mengungkapkan, Kasihan dan menyedihkan sekali kondisi suami istri ini. Ini bingkisan Kasih untuk keperluan harian bagi pasangan suami istri ini. Bingkisan ini tak seberapa, namun kami hadir untuk memberikan perhatian. Semoga Tuhan memberikan kesembuhan bagi pasangan suami istri ini. Kemudian kami pamit pulang. Bersyukur dalam keadaan mendadak keluarga menyediakan hidangan makan siang. Sebelum makan kami berdoa. Selanjutnya kami balik Waelengga dan Borong dengan rute yang sama. Titik
Elar Selatan Semacam Dilupakan
Menyebut Elar Selatan bulu kuduk saya merinding. Kenapa, karena saya pernah beberapa kali ke Elar Selatan dengan mobil menerobos topografi sulit. Jalan rusak berat. Bahkan pengalaman pahit 2018, mobil super bagus rusak ditengah jalan. Saat saya menumpang di mobil untuk tugas jurnalistik. Alami lapar ditengah hutan ditambah lagi jalan rusak. Bahkan karena jalan rusak, as mobil patah. Upaya ditengah hutan untuk menyambung as mobil yang patah itu dengan kayu. Potong kayu tengah malam dengan modal senter. Sang pengemudi memasang kayu itu di bawah badan mobil. Benar-benar sengsara. Sejak saat itu terbayang terus dalam pikiran tentang keterisolasian, keterbelakangan Kecamatan Elar Selatan. Listrik tidak ada. Jalan raya terus dibenahi. Signal internet susah. Kalau air minum terpenuhi secukupnya. Saya ingat pengalaman pahit 2018, saya dan teman yang menyetir kendaraannya makan siang dengan mie coto kuah. Kami singgah di rumah keluarga. Saat itu hujan lebat. Kami istirahat sejenak menunggu hujan berhenti. Saat itu kami mau ke Kampung Runus. Benar-benar pengalaman pahit. Namun, mau bagaimana lagi, kami orang kecil. Tak punya kemampuan untuk mengatasi kesulitan tersebut. Yang ada hanya kepasrahan dengan keadaan nyata tersebut. Di benak saya saat ini, apakah anak-anak di sekolah di pedalaman Elar Raya (Kec. Elar dan Elar Selatan) melaksanakan Belajar Dari Rumah (bdr) ditengah pandemi Covid19 atau mereka bisa diperlakukan khusus untuk tetap belajar mengajar secara tatap muka.
Cerita Covid19
Meningkatnya penularan kasus Covid19 di Kabupaten Manggarai Timur saat Januari 2021 menambah deretan kegoncangan yang bermunculan di alam pikiran. Pertanyaan demi pertanyaan terus dilontarkan untuk diri sendiri, keluarga, rekan kerja, di berbagai group whatsapp.
Semua tahu bahwa awal Maret 2020, mendengarkan cerita, membaca berita di berbagai media mainstream, media online, apalagi media sosial, diskusi lepas selalu memenuhi ruang berbagi di kelompok (group) whatsapp. Saat itu semua orang panik dengan penularan virus corona yang sangat cepat. Video cara penularan Covid19 tersebar luas. Awalnya dua kasus terus meningkat dari hari ke hari dari Maret sampai Desember 2020 hingga Januari 2021. Selama 2020, gencar lockdown, social distance, pakai masker, cuci tangan, cek suhu hingga ke pelosok-pelosok. Anehnya, saat penularan Covid19 meningkat di Januari 2021 di seluruh Indonesia, tak ada lagi lockdown. Hanya menekankan ketat dengan protokol kesehatan 5 M (Memakai masker, mencuci tangan, menjaga Jarak, menghindari kerumunan massal dan mengurangi mobilitas).
************************
Penulis adalah Wartawan Lepas dan Relawan KKI di Manggarai Timur, NTT
POSTER bugil Madonna. Parfum-parfum dari Loris Azzaro. Tempat tidur bambu. Lemari kayu. Sebuah ruang yang sederhana.
Dari kamar 3 x 3 meter persegi itu ia kerap melihat hujan lewat jendela. Ia selalu mendahuluinya dengan ritual kecil, tanpa suara; mematikan lampu, berbaring dalam gelap.
Ia senang mendengar jejak hujan pada atap, turun bergemericik di kolam kecil.
Sebelum lelap sebotol bir Bintang diteguknya. Jumlah botol yang kosong makin bertambah bila ia sulit memejamkan mata. Sebentar kemudian ia turun ke lantai bawah, membuka kulkas di dapur dan mengambil sebotol bir lagi. Rumah begitu sunyi. Ia menyalakan televisi, lalu duduk di sofa. Keponakannya, Ferri, sudah tidur sejak tadi. Joko, pembantunya, sudah pulas. Petman, anjingnya yang blasteran Chow Chow dan anjing kampung sudah mendengkur.
Pengaruh alkohol mulai terasa. Matanya mengantuk. Adegan televisi mulai mengabur. Ia bangun dengan susah-payah, lalu mendaki anak-anak tangga menuju kamarnya.
Dalam lelap ia tak bermimpi apa-apa. Dunia menjadi ringan.
Namun, malam ini tak ada hujan. Langit hitam pekat. Jalan aspal di muka rumah sunyi. Udara terasa bersih dan dingin.
Ia juga tak minum bir. Seorang perempuan menemaninya di perpustakaan.
“Setelah di Kompas saya nggak mau kerja di mana-mana lagi. Saya ingin pensiun, lalu menulis. Saya nggak mau diperbudak,” katanya.
Bre Redana meluruskan punggungnya di kursi, menghela napas dalam-dalam. Ia menggerai rambutnya yang keriting, panjang, dan beruban, lalu mencopot kacamatanya.
“Sekarang ini saya cuma pengrajin tulisan saja. Semua tulisan saya kerjakan dalam waktu singkat, sesuai permintaan, kayak gitu. Ya, pengrajin tulisan.” Ia terkekeh.
Ruangan ini dipenuhi musik. Suara penyanyi Cina—yang ia tak hapal namanya—bersenandung dalam irama tenang. Suara itu seperti denting pada dawai kecapi, bening dan tinggi.
Hampir tiga tahun ini ia tak punya waktu luang di hari Sabtu, bekerja sampai tengah malam, menyiapkan Kompas edisi Minggu. Ia menyunting tulisan sampai memeriksa tata letak. Ia juga bertanggung jawab terhadap feature di halaman pertama dan profil di halaman 12 suratkabar itu, dari Senin sampai Jumat. Ia redaktur budaya sekaligus kepala desk Kompas Minggu.
Di kantor tadi ia menunggu kabar terakhir dari Ambon pasca penangkapan Ja’far Umar Thalib dari Laskar Jihad. Ja’far ditangkap polisi di bandar udara Surabaya, Jawa Timur. Ia dituduh membakar emosi massa lewat pidatonya, selain dianggap menghina pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Pendukung Ja’far di Ambon protes. Mereka membuat rusuh. Dua orang meninggal. Sebelas luka-luka.
Berjam-jam Bre menunggu. Tak ada perkembangan baru. Ia lelah sekali, tapi mencoba bertahan sampai pukul 23.00. Ya, sudah, itu kabar terakhir. Berita ini pun menjadi headline.
Seringkali menjelang tengah malam terjadi perkembangan drastis di lapangan. Ia tak boleh luput. Urusannya bisa ramai nanti.
“Don, mau ke mana?” tanya Soelastri, salah seorang staf redaksi, ketika melihatnya bersiap meninggalkan ruangan di lantai tiga itu.
“Ke Tanamur,” serunya, menyebut salah satu diskotik Jakarta, seraya menyambar ransel.
Ia hanya bergurau.
Bre masuk ke dalam lift. Nissan Terrano hitamnya menunggu di tempat parkir, pasti berembun. Ia ingin segera pulang, bukan ke kafe. Besok ia berangkat ke luar kota dengan penerbangan pukul 09.45.
“Untuk mewawancarai calon-calon wartawan di daerah. Ini yang melelahkan saya sebetulnya, melebihi pekerjaan rutin saya. Beban psikologisnya berat. Karena ini menentukan masa depan seseorang. Jangan sampai kita membuat kesalahan pada nasib orang, kayak-kayak gitu.”
***
BRE Redana baru saja lulus sarjana muda Bahasa Inggris dari Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, pada 1981 saat harian Kompas membuka lowongan wartawan. Ia nekad ke Jakarta untuk melamar.
Kereta api ekonomi jurusan Semarang-Jakarta itu berhenti di stasiun Gambir. Seorang pemuda kurus bercelana jins lusuh menggendong ransel terseret dalam arus penumpang turun. Ia melangkah ke luar stasiun, menyeberang ke arah jalan Merdeka Selatan. Ia terpaksa berjalan agak jauh untuk mencapai halte bus. Tak ada uang untuk naik taksi.
Kecemasan mampir juga di benaknya, “Keterima nggak, ya di Kompas?”
Seorang pemuda berambut gondrong melangkah di jalan yang sama. Mereka berpapasan. Keduanya sama-sama kaget. Mereka saling kenal. Akrab.
“Ariel! Eh, ngapain kamu?”
Ariel Heryanto adalah dosen dan temannya main teater di Satya Wacana.
“Kamu ngapain di Jakarta?”
“Ngelamar di Kompas.”
“Kamu ngapain kerja di Kompas? Jadi alat kapitalis,” sergah Ariel.
“Ya, saya nyoba-nyoba.”
“Udah, kamu pasti diterima.”
“Masak, sih?”
“Memangnya dites apa?”
“Bahasa Inggris sama psikotes.”
“Ya, udah, pasti lulus kamu.”
Ariel pun mengajak Bre menginap bersamanya di Hotel Transaera. Hotel tua, sederhana, punya kamar lumayan besar dengan dua ranjang, dekat stasiun. Bre menerima tawaran itu dengan senang hati. Tentunya, mereka tak lapor penjaga untuk menghindari tambahan biaya hotel. Ariel Heryanto tengah mengikuti tes beasiswa Fulbright untuk kuliah di Amerika Serikat. Semua biaya transportasi dan akomodasi para calon penerima beasiswa ini ditanggung Fulbright.
Niat Bre agak aneh di mata Ariel. Ketika itu lembaga swadaya masyarakat sebagai counter argument terhadap pemerintah sedang ngetren dan anak-anak muda yang cerdas serta kritis memilih bergabung di dalamnya. Pemerintah Presiden Soeharto sedang jaya dan sewenang-wenang. Tak suka orang punya pendapat berbeda. Otoriterisme ini harus dilawan bersama.
Tetapi, Bre punya cita-cita lain. Ia ingin bakat menulisnya berkembang. Suratkabar adalah salah satu wadah.
Kata-kata Ariel terbukti. Bre diterima di Kompas. Pertama kali bekerja, ia ditugaskan di desk kebudayaan, lalu dipindahkan ke desk olah raga, dan terakhir di desk metropolitan, sebelum kembali ke desk kebudayaan lagi.
“Hampir seluruh karir saya di Kompas di desk itu. Nggak tahu, kenapa nggak dipindah-pindah.”
Bre menulis apa saja, dari ketoprak keliling sampai tayub.
“Sejak pertama masuk Kompas, saya lebih tertarik pada kebudayaan massa ketimbang adiluhung, seperti teater rakyat, ketoprak, sandiwara keliling. Ini kesenian yang hidup di masyarakat dan saya menulis kesenian lebih untuk menulis masyarakat ketimbang keseniannya sendiri,” katanya.
Ia segera terseret dalam irama kerja yang cepat dan rutin. Tapi, tujuh tahun kemudian, mata rantai ini terputus. Penyebabnya, situasi politik Indonesia.
Pada 1988, terjadi ketegangan dalam pemilihan wakil presiden, antara Sudharmono dan Try Sutrisno. Sudharmono dari Golongan Karya, orang sipil. Try jendral bintang empat dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, militer aktif. Masing-masing, punya kepentingan dalam kancah politik nasional. Puncaknya, Sudharmono dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia. Meski ia kemudian terpilih jadi wakil presiden, dampak tuduhan tersebut meluas. Orang-orang yang dianggap “tak bersih lingkungan” di instansi pemerintahan diberhentikan. Ibarat epidemi, orang-orang media pun tak luput dari serangan. Harmoko, menteri penerangan ketika itu, gencar mengkampanyekan “bersih diri” dan “bersih lingkungan.” Pernyataan resminya dikutip koran-koran, “Ada PKI dalam tubuh pers kita.” Momok komunisme dihidupkan kembali.
Jakob Oetama, pemimpin redaksi Kompas, suatu hari memanggil Bre. Mereka bertemu di ruang kerja Oetama pagi itu. Hanya berdua.
“Keadaannya begini, kamu dianggap tak bersih lingkungan,” kata Oetama, agak enggan.
“Ya, sudah, kalau mau dikeluarin,” batinnya.
“Kamu sekarang nggak nulis dulu aja. Ya, kamu bantu-bantu apa, tapi nggak nulis.”
Ia sedih. Frustasi. Tak punya bayangan tentang hidup tanpa menulis.
“Kemungkinan Pak Jakob juga berpikir, itu bukan salah saya. Salah negeri ini, pemerintah ini. Tapi, mau bilang apa,” katanya, mencoba memahami keputusan Oetama.
Situasi semacam ini bahkan pernah terjadi di sebuah negara demokrasi, seperti Amerika Serikat. Pada 1945 senat Amerika menyetujui pembentukan House Committee on Un-American Activities, sebuah komite untuk memburu anggota atau simpatisan partai komunis. Komite tersebut lahir atas prakarsa Joseph McCarthy, seorang senator anti komunis. Di masa awal Perang Dingin negara-negara kapitalis dengan negara-negara komunis, Presiden Harry Truman membuat program penangkalan “subversi komunis” dan melibatkan komite tadi. Pada Maret 1947 sampai Desember 1952 sekitar 6,6 juta pegawai pemerintahan diperiksa. Program ini merembet ke berbagai sektor, seperti industri film dan media lain.
Komite menyebarkan jutaan pamflet yang diberi tajuk “One Hundred Things You Should Know About Communism (Where can Communists be found? Everywhere).” Komite menyusun daftar orang-orang yang dianggap sesuai kriteria mereka. Hasilnya? Banyak seniman, aktor, dan penulis tamat karirnya.
“Anti komunis, anti PKI ini legitimasi Orde Baru, sehingga untuk mempertahankan kekuasaan ia harus melakukan move ini, kalau mengendor, harus cari move lain. Stigma ini dipakai terus-menerus, kayak gitu,” kata Bre Redana.
***
BRE Redana berusia delapan tahun ketika ayahnya pergi. Ketika itu puluhan
burung emprit terbang meninggalkan pohon kenari di muka rumah besar berdinding
kayu milik keluarganya. Setiap hari ia melihat mereka pulang di sore hari.
Pohon kenari menjadi sarang mereka. Cericit burung-burung itu riuh. Kelepakan
sayap mereka menjauh pada pukul enam pagi.
Lalu-lintas masih sepi. Hanya derap andong dan langkah pejalan kaki terdengar
sesekali. Udara dingin dari kota kecil Salatiga yang tenang mengalir dalam
rumah.
Bulan Maret 1966. Angkatan Darat tengah merayakan kemenangan. Dipa Nusantara
Aidit, ketua komite sentral Partai Komunis Indonesia ditembak mati pasukan yang
dipimpin Kolonel Jasir Hadibroto. Pembersihan orang-orang komunis di seluruh
Pulau Jawa dan Bali tengah berlangsung di bawah komando Kolonel Sarwo Edhie
Wibowo dari Resimen Para Komando Angkatan Darat. PKI dituduh merencanakan
kudeta terhadap pemerintahan Presiden Soekarno.
Para pembantu di rumah keluarga Gondo Waluyo tengah sibuk di dapur. Anak-anak
belum berangkat ke sekolah. Tiba-tiba pintu ruang muka terpentang lebar.
Orang-orang tak dikenal, tetangga, polisi, dan tentara berseragam memenuhi
halaman. Mereka mengepung rumah.
Seakan sudah siap, Gondo Waluyo sudah mengemasi pakaiannya ke dalam tas. Ia
menenteng tas yang biasa dibawanya ke kantor itu, lalu menghampiri sang istri.
“Saya mau diambil.” Ia pamit.
Semua berjalan amat cepat. Bre melihat ayahnya melewati ambang pintu.
Orang-orang membawanya pergi.
Ibunya menutup pintu dengan kalut dan gugup, lalu berkata, “Papa dijemput
teman-temannya.”
Pada siang hari Yutinem mengajak tiga putranya menjenguk ayah mereka di kantor
polisi. Namun, sore hari pria yang dicintainya itu sudah tak ada lagi.
Seseorang memberitahu, “Sudah dibunuh.” Puluhan tahun kemudian, Yutinem masih
merasa pedih tiap mengenang suaminya, membayangkan ia hilang. Kebencian telah
berakar dalam hatinya pada kekuasaan.
Setelah itu para tetangga menjadi sinis serta menjauh. Rumah mereka yang dulu
ramai kini sunyi. Orang-orang takut mendekat. Bahkan, ada yang tega
menakut-nakuti dan berteriak pada anak-anaknya, “Ada polisi!”
Situasi ini juga berlangsung di sekolah Bre. Pandangan mengejek terlihat di
wajah sebagian anak. Mereka saling berbisik tiap melihat ia datang. Ia tak
mendengar apa yang mereka katakan, tapi merasa dirasani.
Ia tumbuh menjadi anak pemalu, agak minder..
Namun, keadaan tersebut tak berlangsung lama. Orang-orang perlahan melupakan
peristiwa itu, seperti tak pernah terjadi. Kehidupan berlangsung bagai
sediakala.
***
MUSIM semi di Darlington, Inggris, 1990. Bunga-bunga crocus putih bermekaran. Seluruh kota seperti bersalju. Pohon-pohon oak dan pinus berbaris di sisi-sisi jalan Southend Avenue. Di muka rumah induk semangnya ada sebuah monumen kecil dari granit hitam. Ia membaca tulisan keemasan yang terukir di situ: crocus ini untuk mengenang cinta saya pada istri saya.
Bunga-bunga crocus putih adalah tanda cinta J Douglas Chilton untuk istrinya, Maude. Chilton, seorang bangsawan kaya, yang hidup pada abad ke-19. Ia tak memiliki keturunan, lalu mewariskan seluruh hartanya pada walikota Darlington. Namun, ia berpesan agar sebagian hartanya itu dibelikan bibit bunga crocus putih dan ditanami di seluruh kota. Chilton ingin semua orang mengenang cintanya pada sang istri saat mereka melihat bunga-bunga crocus mekar di musim semi.
Bre baru saja memenangkan lomba menulis pariwisata tentang kota Darlington. Potretnya sedang berjabat tangan dengan walikota dimuat koran setempat, Evening Chronicle. Rasa percaya dirinya kembali pulih. Ia bisa menulis lagi!
Dalam kamar sewaannya di lantai atas rumah kuno berkamar empat milik Maureen Vasarheley, seorang janda, Bre tercenung. Ia bersyukur menerima beasiswa dari pemerintah Inggris untuk kuliah Media Studies selama dua tahun di Darlington College of Technology. Setidaknya, kuliah bisa mengobati kekecewaan akibat situasi politik di Indonesia. Ia mengambil cuti tanpa tanggungan dari Kompas. Gaji tetap dibayar, tapi tunjangan hilang.
Darlington hanya berpenduduk sekitar 10 ribu jiwa. Jarang sekali orang asing bermukim di sini. Dari mereka yang sedikit itu, ia satu-satunya orang Indonesia.
“Kota ini saya impikan setiap saat, kota kecil, seperti Salatiga. Di sana ada buku kecil tipis yang dijual murah, sehingga kalau kita beli, kita akan tahu seluruh Darlington. Kita juga jadi tahu, angkutan kereta api pertama untuk penumpang ada di kota ini. Ada sejarah pasar, pedagang tertua, pemilik warung Capuccino paling enak,” ujar Bre.
Ia menikmati waktu senggang sepulang kuliah dengan minum Capuccino di kafe atau minum-minum sampai pagi dengan teman-temannya.
“Sampai jam dua pagi,” kenangnya, terkekeh lagi.
Ia menjejakkan kaki ke Inggris pada musim panas, Juni 1989. Ia tak langsung ke Darlington, tapi mampir di New Castle Upon-Tyne. Banyak klub musik di kota tersebut. Di tepi sungai Tyne itu pemusik dunia macam Sting pernah berpentas sebelum terkenal dengan kelompok The Police. Di belakang asrama mahasiswa tempat ia tinggal, ada sebuah stadion sepak bola. Ia pernah menonton pertunjukan Rolling Stones di sana, lalu mengirim ulasannya untuk Kompas.
Sepulang dari Inggris, ia kembali bekerja di Kompas. Namun, tema-tema artikelnya mulai berkembang, dari kesenian rakyat ke budaya massa.
“Saya melihat masyarakat kita sudah berubah. Menurut saya yang paling mencerminkan masyarakat kontemporer adalah mall, kafe, bioskop 21. Saya menulis budaya pop atau budaya massa, agar orang mengerti kapitalisme itu apa, sadar terhadap keburukannya, sehingga mereka tak begitu terlena amatlah, kayak-kayak gitu.”
***
COFFEE Club, kafe yang terkenal dengan sajian Capuccinonya di sudut lantai pertama Plaza Senayan, Jakarta Barat. Di salah satu ruangan coklat yang sejuk itu, di tepi jendela kaca berbingkai coklat, yang melapangkan pandangan ke arah para pengunjung, perempuan-perempuan berdandan funky serta wangi, yang hilir-mudik mencari kursi, seorang pria perlahan membuka halaman daftar menu. Ia sering menikmati Capuccino di sini, sendirian. Percakapan dan derai tawa menggemuruh, tapi keramaian justru memberinya rasa asing yang nyaman. Ia tak perlu bertegur sapa atau berbasa-basi dengan siapa pun, berbeda dengan kebiasaan saat bertemu tetangga di kampung halamannya di Salatiga, kota kecil di bagian tengah Pulau Jawa.
“Irish, ya. Tapi, kopinya sedikit saja,” katanya dalam nada tenor yang sopan pada pelayan, yang menunggu di sisi meja kayu sewarna ruang tersebut.
“Kopinya sedikit saja.” Ia mengulangi permintaan itu, seraya mengatur jarak sempit di antara jempol dan telunjuknya yang ramping.
Irish, sejenis minuman dari ramuan whisky yang dicampur kopi dan krim.
Ah, sebetulnya ia tak boleh minum kopi. Dokter melarangnya. Ia punya penyakit maag. “Sedikit aja masak nggak boleh?” pikirnya, nakal.
Sore itu ia kembali mengamati orang-orang yang datang melalui kaca jendela di sisi kirinya, sebentar-bentar menoleh dan tersenyum. Seorang pria berkemeja hitam dan berambut gondrong terlihat memasuki kafe, menarik perhatiannya. Ia tertawa sambil melambaikan tangan pada Dimas Jayadiningrat, sutradara videoklip Indonesia. Jayadiningrat membalas lambaian dan tawanya, tapi mereka tak saling mendekat.
Pelayan datang membawa pesanan, Irish dan Capuccino, lalu menaruh cangkir-cangkir yang mengepulkan aroma pahit itu di atas meja. Bre meraih pot gula dan membubuhkan dua sendok kecil serbuk manis tersebut ke dalam Irishnya dengan tenang.
“Belum diberi gula,” katanya, menunjuk Capuccino teman wanitanya.
Sepotong cinnamomum burmani, kayu manis, menggeletak di sisi cangkir. Keras, harum, coklat.
“Itu untuk mengaduk,” katanya, lagi.
Ia suka minum kopi di sini, kalau bete di kantor. Jarak kantornya ke Plasa Senayan dekat, cuma 10 menit. Inilah tempat yang membuatnya merasa berada di sebuah unikum dari kelahiran seni kontemporer.
Gaya rambut, busana, selera musik, makanan, dan pemikiran anak-anak muda yang nongkrong di situ berbeda, khas, bahkan terputus dari generasi sebelumnya. Mereka nonton MTV, makan Big Mac, dan gemar surfing atau chatting di internet. Mereka inilah generasi yang mencipta film Ada Apa dengan Cinta, Jelangkung, atau Pasir Berbisik. Dari mereka pula lahir Dewi Lestari, penyanyi yang menulis novel Supernova atau Ayu Utami yang menulis Saman. Karya-karya mereka tak bisa dinilai dengan kerangka orang menilai karya Pramoedya Ananta Toer atau Achdiat Kartamiharja. Tak ada keterkaitan sejarah, tak ada keterikatan nilai dengan masa lampau.
***
BRE tiba-tiba mematikan lampu, berjalan ke jendela, menggesernya. Ia sering melihat bulan purnama dalam gelap. Namun, tak ada bulan kali ini, walau sepotong. Ia kembali menyalakan lampu, menuju kursinya dan bertelekan di meja.
Ia terlahir sebagai Tri Sabdono. Bre Redana bukan nama sebenarnya, hanya nama untuk berdamai dengan sejarah.
Di usia yang hampir 45, Bre masih melajang. Ibunya khawatir ia akan sendirian selamanya.
“Punya pacar?” tanya saya.
“Kadang ada, kadang nggak.”
“Ibu bilang, banyak.”
“Ibu sebutkan semuanya?” Tawanya berderai
Bre merasa ia mungkin seperti Tomas, tokoh dalam Unbearable Lightness of Being. Ini salah satu novel Milan Kundera, penulis Cekoslovakia yang ia suka.
Tomas adalah orang yang ingin melepaskan diri dari semua ikatan yang berlaku, termasuk dengan perempuan. Ia menjalin hubungan erotis dengan Sabina dalam waktu yang panjang, tapi mereka sama sekali tak menyebut cinta di sana.
Suatu hari Tomas berjumpa perempuan lain di bar hotel, Teresa. Mereka saling jatuh cinta. Tapi, cinta pun ternyata bukan penyelesaian buat Tomas. Ia kaget melihat Teresa berdiri di muka pintu apartemennya, menjinjing dua koper. Tomas merasa dalam dua koper itu tersimpan seluruh hidup Teresa, yang hendak diserahkan padanya.
“Rumus hubungannya dengan perempuan itu kira-kira begini: Kamu memilih hubungan yang mana? Kamu bertemu dengan seorang perempuan, jatuh cinta habis-habisan, kemudian kalian pulang ke rumah bersama, bercinta selama seminggu atau dua minggu, setelah itu kalian ternyata bosan, merasa tidak cocok, dan tidak ketemu lagi seumur hidup. Atau pola yang kedua, ketemu wanita dalam sebuah petang di kafe, pulang ke rumah bersama, tidur bersama, terus pagi harinya kaget karena ternyata jam delapan pagi ini ada appointment, si cewek juga terkaget-kaget ternyata ada meeting. Masing-masing kabur ke tempat kerja, dan seharian itu tidak sempat bertelepon, besoknya juga tidak bertelepon, hari ketiganya makin lupa, hari keempatnya sudah tidak merasa kenal lagi, tapi dua minggu kemudian, mereka saling ingat, bertemu dan bercinta lagi. Dalam hubungan Tomas dan Sabina sebetulnya ada komitmen yang sangat mendalam, sampai akhir hayat Tomas. Jadi, dalam karya yang kelihatan hubungan manusia itu amburadul ada sebuah nilai yang sangat dahsyat.”
Tokoh Tomas yang dokter bedah ini tersingkir dari negerinya, Cekoslowakia, akibat invasi Rusia. Ia melarikan diri ke Prancis. Sebagai intelektual bebas, Tomas tak ingin mengikuti doktrin negara komunis yang menyeragamkan semua hal.
“Tomas tak mengecam komunisme, karena yang diperjuangkannya bukan ideologi apa pun, tapi kebebasan,” kata Bre.
Ia juga tak menaruh dendam pada masa lalu, juga tak menyesali apa pun. Ia penganut historisisme, salah satu mazhab besar pemikiran. Manusia jadi pahlawan atau pemberontak akibat konsekuensi sejarah.
“Jadi, ada sebuah insiden sejarah, sebuah kecelakaan sejarah, yang menjadikan satu pihak sebagai pahlawan, yang satu pihak yang lain menjadi korban. Ayah saya, sayangnya, berada di pihak yang jadi korban.”
Pukul tiga pagi. Sebuah rumah mungil berjendela kaca patri warna-warni di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, berjaga sejak malam. Lampu masih menyala di perpustakaan. Suara penyanyi wanita Cina masih terdengar. Empat jam lagi ia harus sampai di bandara. *
***
Linda Christanty, menulis certa pendek, esai, puisi, dan reportase yang meliputi isu politik, sejarah, sastra, dan gender. Meraih Katulistiwa Literaty Award tahun 2004 untuk buku cerita pendeknya, Kuda Terbang Mario Pinto. Buku-bukunya yang telah terbit: Kuda Terang Mario pinto, Dari Jawa menuju Atjeh, Rahasia Selma, Jangan Tulis Kami Teroris.
Sumber Tulisan Buku Dari Jawa Menuju Atjeh, Linda Chritanty, Penerbit KPG
GEREJA di Indonesia pada zaman milenial
ini memiliki tantangan yang khas. Konteks yang pluralis dan posisi gereja
sebagai kelompok minoritas di Indonesia, tidak bisa dipungkiri bahwa gereja
seperti seekor domba yang hidup di tengah kawanan serigala. Terhadap kondisi
tersebut, secara internal gereja harus terus berintrospeksi, berinovasi dan
berintegrasi, agar mampu memerankan tugas sebagai garam, ragi dan terang.
Gereja pun ada berbagai kelompok, maka yang mau saya refleksikan hanya terbatas
dalam Gereja Katholik di Indonesia.
Potret NKRI dan Sejarah Gereja Katholik di Indonesia
Wilayah NKRI saat ini adalah bagian
dari sejarah masa lalu yang dikenal sebagai Nusantara pada zaman Majapahit.
Kemudian menjadi wilayah koloni dari bangsa barat antara lain Portugis,
Spanyol, Jepang, dan paling lama Belanda selama sekitar 350 tahun oleh VOC.
Dalam zaman kerajaan, khususnya
Kerajaan Majapahit, di Nusantara sudah mengenal Gereja Katholik. Data sejarah
menulis bahwa sekitar abad 7-8, Gereja Katholik sudah dikenal di Nusantara
yakni di Barus – Sumatera. Kemudian, lebih luas di kenal pada masa kedatangan
Portugis di Nusantara untuk mencari rempah. Maka banyak pelabuhan yang
disinggahi Portugis, ada komunitas masyarakat yang berkenalan dengan para
Pastor yang dibawa dalam perjalanan saudagar Portugis. Mungkin dipengaruhi
semboyan 3G: Gold, Glory, Gospel;
maka kemana perjalanan Portugis mencari koloni untuk mendapatkan emas dan obyek
dagang serta kemasyuran, mereka pun sekalian melakukan pewartaan injil – Gereja
Katholik. Hal yang sama dilakukan oleh bangsa Spanyol. Artinya sejak
pertengahan abad 15, masyarakat di Nusantara sudah mengenal adanya Gereja
Katholik.
Pertumbuhan Gereja Katholik semakin pesat sejak abad 18 dengan hadirnya sejumlah pusat Gereja Katholik; baik di Maluku, Timor, Flores, Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera. Dimana ada pusat koloni dan kota perdagangan, sudah mulai tumbuh pusat pekabaran Gereja Katholik.
Dua bidang yang menjadi fokus
pekabaran Injil adalah pendidikan dan kesehatan. Hubungan para misionaris
memang dekat dengan para koloni Belanda dan Portugis, sehingga secara umum
pertumbuhan Gereja Katholik berjalan baik.
Dalam konteks pewartaan Injil oleh
para misonari Gereja Katholik, penting digarisbawahi adalah masyarakat
Nusantara sudah memiliki religiositas lokal sesuai adat budayanya. Dan di
Nusantara telah hidup aneka suku bangsa dan adat budaya, sejak para leluhur.
Yang berbeda adalah pencapan – stigma bahwa masyarakat Nusantara disebut
sebagai orang kafir kalau belum dibaptis dalam Gereja Katholik.
Selain Gereja Katholik, ada juga
berbagai kelompok Gereja Kristen, yang juga diperkenalkan para Zending –
Pendeta dari dunia Barat; khususnya Belanda, yang dibawa oleh kolonial Belanda.
Hal utama yang patut ditegaskan
dalam refleksi ini adalah: Gereja Katholik dan Kristen bekerjasama dan didukung
oleh kolonial Belanda dan Portugis. Juga Gereja Katholik dan Kristen berasal
dari bangsa di Barat, lalu disebarkan di masyarakat Nusantara yang sudah
memiliki tradisi religiositas sesuai adat budayanya yang beraneka ragam;
meskipun dijuluki ‘kafir’ oleh Gereja Katholik dan Kristen, jika belum dibaptis
mengikuti ajaran Gereja Katholik dan Kristen.
Yesus Kepala Gereja, Umat dan Hirarkhi Anggota Tubuh
Dalam ajaran iman Gereja Katholik,
Gereja adalah persekutuan umat yang percaya kepada Yesus Kristus karena
pembaptisan; dimana Yesus Kristus adalah Kepala Gereja dan segenap umat adalah
anggota tubuhnya. Yesus Kristus dan umatNya adalah satu kesatuan yang disebut
Gereja yang hidup.
Secara organisatoris, pusat Gereja Katholik ada di Roma, dan wilayah kegembalaan di seluruh dunia yakni Keuskupan dan Paroki. Ada juga forum kegembalaan di setiap negara dan wilayah benua, namun semuanya mengakui pimpinan tertinggi Gereja Katholik adalah Paus, yang sekaligus uskup Roma, sebagai penerus penggembalaan Gerejawi sejak zaman St. Petrus.
Untuk Indonesia, sejak zaman kolonial hingga kemerdekaan dan awal masa Orde Baru, Gereja Katholik berkembang pesat serta memberikan banyak peran positif bagi kemajuan di bidang pendidikan, kesehatan, informasi dan juga politik. Peran para misionaris barat bagi generasi muda Gereja Katholik di Indonesia sungguh besar. Kemudian, lahirlah jumlah umat yang makin bertambah besar, ditandai dengan perkembangan wilayah gerejawi yakni Keuskupan dan Paroki di seluruh wilayah NKRI hingga saat ini.
Sejak masa Orde Baru, patut dicatat
bahwa tenaga misionaris barat semakin berkurang dan digantikan oleh para imam,
bruder dan suster Indonesia untuk meneruskan tugas pelayanan gerejawi bagi
umat.
Gereja lokal Indonesia memasuki
kemandirian. Jadi, anggota tubuh Gereja, yang kepalanya adalah Yesus Kristus,
terdiri dari para religius – pejabat hirarkhi yang mengemban tugas kegembalaan
dan umat. Dari para religius asal Indonesia, tidak saja bertugas untuk melayani
umat dalam negeri, tetapi ada banyak yang sudah menjadi misionaris untuk diutus
kepada berbagai bangsa lain demi mewartakan Injil. Dewasa ini, meskipun Gereja
Katholik Indonesia masih kekurangan tenaga imam – bruder dan suster untuk
melayani umat, namun justru semakin banyak para religius yang menjadi
misionaris. Saat yang sama lahirlah kondisi Gereja Katholik semakin berdikari
sebagai gereja lokal.
Yesus Kristus Sang Revolusioner Kepala
Gereja
Jika kepala gerejanya revolusioner,
bagaimana seharusnya anggota tubuhnya ? Secara prinsip, Yesus Kristus adalah
pokok anggur, maka anggota gereja sebagai tubuhnya, maka harus tetap bersatu
dengan pokoknya agar bisa berbuah. Dan pokok anggur yang revolusioner, pastilah
cabang dan buahnya harus revolusioner.
Revolusioner yang dimaksud adalah
mengatakan benar jika benar dan menyatakan salah jika salah sesuai kehendak
Bapa Surgawi. Prinsip kebenaran hakiki sesuai Sabda Kasih Allah. Yesus Kristus,
Sang Kepala Gereja, revolusioner berarti tidak kompromi dengan prinsip dunia
yang plin-plan dan munafik. Yesus menegaskan bahwa apa yang menjadi hal kaiser
harus diberikan kepada kaiser, apa yang menjadi haka Allah harus diberikan
kepada ALLAH. Sebuah penegasan agar hak Allah, prinsip iman, gereja yang hidup
jangan dikorbankan demi kepentingan kaisar, politik dan ekonomi dunia. Gereja
yang hidup tidak boleh diabdikan kepada urusan duniawi yang sifatnya sementara
dan prakmatis.
Dalam perspektif ini, gereja sang revolusioner, maka bisa dicatat bahwa awal pewartaan injil dari barat maupun pengaruhnya dengan gereja lokal sekarang tidak revolusioner. Pewartaan gereja dari barat sudah terkontaminasi dengan spirit gold glory gospel, artinya pewartaan Injil yang berbaur dalam perjalanan dagang serta oencaraian koloni. Selanjutnya gereja lokal di Indonesia pun tumbuh dalam spirit singkretis dan mencari aman dengan multi pihak, agar bisa bertumbuh kembang. Apalagi dalam jumlah, gereja Katholik adalah minoritas di antara kelompok agama lain.
Pernah ada semboyan dari para pendahulu gereja lokal, seperti Mgr. Soegijapranata dan I.J. Kasimo, mengatakan bahwa umat Katholik adalah 100% warga negara dan 100% warga gereja. Semangat yang khas untuk mengaskan posisi umat yang harus setia kepada ALLAH sekaligus taat kepada Negara, sesuai haknya masing-masing. Namun, dalam prakteknya, karena NKRI wilayahnya luas dan majemuk, maka terkesan ada warna-warni karakter umat sesuai kondisi masing-masing wilayah. Misalnya hirarkhi dan umat gereja di Jawa, sangat berbeda dengan umat di luar Jawa; ( Sumatera, Kalimantan, NTT, Maluku, Papua).
Suka duka gereja di Indonesia sangat diwarnai oleh relasi gereja lokal dengan konteks sosial politik dan ekonominya masing-masing di satu pihak, dan di lain pihak soal pengaruh relasi organisasi gerejawi di tingkat nasional dengan pemerintah pusat. Karena kebijakan NKRI selama ini sangat dominan tergantung kebijakan politik di tingkat Nasional, maka pengaruhnya kepada gereja Indonesia pun sangat dipengaruhi oleh kebijakan politik Nasional. Dan justru karena kondisi ini, maka pilihan aman selama ini adalah Gereja mencari posisi aman dengan negara, bahkan terkesan menjadi loyal kepada negara demi kenyamanan organisatoris serta pihak tertentu dalam gereja (hirarkhi maupun politisi dan pebisnis Katholik).
Dampak dari situasi tersebut, maka
anggota tubuh Gereja Katholik di berbagai wilayah NKRI mengalami nasib berbeda.
Pertama gereja di Jawa dan luar Jawa, apalagi di Kalimantan dan Papua. Kedua
soal peran profetis gereja dalam kebijakan negara oleh politisi Katholik dengan
berbagai kolaborasi pragmatis yang terjadi, dimana korupsi merajalela serta
banyak masalah sosial budaya yang semakin tak terkendali; kemiskinan dan
ketidakadilan sosial. Salah satu contohnya adalah soal sikap organisasi gereja
nasional – KWI, terhadap masalah lingkungan di Kalimantan dan terakir masalah
kemanusiaan di Papua. Mengapa Gereja memilih jalan ‘aman dan diam’ dalam
masalah lingkungan di Kalimantan dan kemanusiaan di Papua ?
Sebagai gereja Universal, Gereja
Katholik Indonesia terpanggil untuk melakukan tugas utama profetisnya yakni
menjadi garam, ragi dan terang di tengah dunia. Gereja Indonesia sebagai tubuh
Kristus harus revolusioner kontekstual dengan kekuatan iman dan cinta, dalam
kesaksian hidup. Harapan ini mengingat bahwa peran profetis gereja selama ini
kurang maksimal. Bahkan terkesan oportunis untuk mencari aman dalam percaturan
politik di NKRI, demi amannya organisasi gereja dan kelompok tertentu dalam
gereja (kelompok hirarki serta politisi dan pebisnis tertentu). Lalu nasib umat
yang sederhana di berbagai wilayah menjadi kurang mendapat perhatian, bahkan
menjadi korban. Contohnya yang dialami umat di wilayah Papua hingga saat ini.
Hemat saya, untuk mengemban tugas perutusan gereja, seperti domba di tengah kawanan serigala di wilayah NKRI, perlu ada introspeksi dan evaluasi serius, khusus dalam prinsip Yesus Kristus Sang Revolusioner sebagai kepala gereja serta umat dan hirarkhi sebagai anggota tubuhNya. Bagaimana anggota tubuh dari Yesus Kristus harus revolusioner di tengah bangsa dan NKRI ? Bagaimana peran hirarkhi, politisi dan pebisnis Katholik, serta pelaku media massa dapat menjadi garam – ragi dan terang ? Perjuangan ini memang tidak mudah, tetapi dengan prinsip iman dan mengandalkan kekuatan kasih Sang Revolusioner, kiranya peran kenabian dapat diwujudkan.
Semoga didukung oleh kemajuan teknologi infomasi milenial, ada ruang terbuka untuk komunikasi, sekaligus peluang pewartaan dan advokasi untuk keadilan sosial. Secara internal, media teknologi milenial kiranya dapat menjadi sarana peningkatan kualitas iman dan solidaritas kemanusiaa sesama umat gereja Katholik Indonesia. Dengan demikian, moto semangat bahwa gereja Indonesia harus jadi alat kesaksian dan pewartaan, 100% warga gereja – 100% WNI semakin diwujudkan. Yesus Kristus Sang Revolusioner adalah kepala gereja, maka anggota tubuhnya, umat dan hirarkhi di Indonesia, harus juga revolusioner. Bukan gereja cari aman atau oportunis, demi keuntungan pihak tertentu; oknum hirarkhi, politisi, pebisnis dan profesional. Semoga.
*****************
* Simply da Flores, Direktur Harmoni Institut dan Pemerhati Masalah Sosial
PRIA 68 tahun itu sudah digerogoti uban, setengah botak. Namun,
ingatannya masih tajam. Nada bicaranya tegas. Terkadang dia berapi-api,
lalu menyurut sedikit untuk soal-soal yang memedihkan hati dan sepasang
mata tuanya ikut merah berkaca-kaca. Gendang telinga pria ini sudah
rusak dihantam popor senapan, sehingga membuat orang harus berbicara
keras padanya. Dia tuli. Untuk lebih aman, biarkan dia saja yang
bercerita. Suaranya lantang, lebih agar dia sendiri bisa mendengar
ketimbang tamu-tamunya yang berpendengaran normal.
“Nasution (Jenderal Abdul Haris Nasution yang dianugerahi bintang
lima di masa Soeharto, kini sudah almarhum) telah membunuh teman saya,
membuat teman saya mati. Waktu itu kami sedang mempertahankan Bekasi,
tepatnya di daerah Lemah Abang. Nasution dan Soeharto itu sama saja,
sama-sama KNIL,” tuturnya, pahit, teringat pengalaman berjuang melawan
Belanda.
Di tengah emosi yang campur-aduk tadi tak bisa disembunyikannya rasa
benci terhadap penguasa Orde Baru yang telah mengirimnya ke Pulau Buru,
tanpa pengadilan, dan memaksanya hidup seperti Rubashov, seorang
Bolshevik yang dihukum partainya sendiri. Rubashov tak lain tokoh dalam
novel Arthur Koestler, Gerhana Tengah Hari. Pram, pria tua itu, menyukai
novel tersebut.
Pada September 1965 pertikaian Angkatan Darat dengan Partai Komunis
Indonesia mencapai puncak. Sejumlah perwira tinggi tiba-tiba diculik.
Partai Komunis Indonesia dituding bertanggung jawab. Ketika itu presiden
Soekarno sendiri kurang mesra dengan tentara dan dianggap bersimpati
pada sayap kiri di parlemen. Di tengah pertikaian elite politik inilah
intrik dan kasak-kusuk terjadi. Soeharto—seorang jenderal Angkatan
Darat—memancing di air keruh, merebut kekuasaan dan memerintahkan
pembersihan terhadap orang-orang partai komunis di Indonesia. Pram yang
menjadi pengurus lembaga kebudayaan partai itu ikut diburu.
Empat belas tahun dia menjalani hukuman, mulai dari sel penjara Salemba, Nusakambangan, sampai daerah gersang Buru. Sudah ditulisnya dua jilid otobiografi berdasarkan catatan pribadi selama di Buru, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Catatan ini berbentuk surat pada putrinya yang baru saja menikah saat dia akan dibuang ke pulau tersebut, surat-surat yang tiada pernah terkirim. Barangkali, hidup tanpa hak-hak layak sebagai manusia membuat Pram ingat pada Rubashov, tokoh novel Koestler. Dan ternyata, penindasan ada dalam sistem manapun, kapitalisme juga sosialisme yang korup.
Dalam rumah beton dua lantai yang dibangun dari buku-bukunya yang laris di luar negeri, Pram belum bisa tidur nyenyak. Dia masih diawasi, wajib lapor, dan tak bisa pergi ke luar negeri untuk menerima penghargaan terhadap novel-novelnya. Di Indonesia, tahun 1993, tak satu pun buku Pram boleh beredar. Buku-bukunya dituduh mengandung ajaran Marxisme-Leninisme. Untuk membaca buku Pram orang harus sembunyi-sembunyi. Buku-bukunya beredar dari tangan ke tangan. Tiga aktivis pernah mendekam di sel gara-gara menyebarluaskan karya-karya Pram. Namun, Pram termasuk beruntung. Dia panjang umur, bisa memperjuangkan kemanusiaan lewat tulisan, dan menjadi saksi dari berbagai zaman. Ratusan kawan senasibnya mati di kamp kerja paksa Buru dan yang selamat, sebagian sakit jiwa; tinggal seonggok daging bernyawa tempat jiwa membusuk. Lebih sial lagi, nasib mereka yang terjebak di luar negeri. Pemerintah Soeharto sudah siap menangkap mereka yang kembali. Namun, di atas segala derita, rakyat kebanyakanlah yang paling naas. Jutaan mereka tumpas dibunuh tentara dan tangan-tangan pemuda yang menjadi kacung. Barangkali, untuk mereka yang terakhir inilah novel-novelnya dipersembahkan.
Tokoh-tokoh utama dalam novel-novel Pram selalu orang biasa, rakyat jelata, dan bahkan, mereka yang hanya dikategorikan “massa” dalam sejarah resmi Indonesia. Orang-orang ini tak bakal ditemukan namanya dalam buku-buku pelajaran sejarah kita, yang hanya mencatat nama raja, pangeran, pejabat, atau jenderal belaka sebagai pahlawan atau pengkhianat. Sejarah Indonesia adalah sejarah penguasa, bukan sejarah kuli yang mendirikan candi atau serdadu yang memberontak dan memimpin pasukan. Pram mencoba berbicara tentang sejarah dari sisi lain, melalui gundik (Bumi Manusia), anak petani (Arus Balik), ataupun pelacur (Larasati). Dia ingin berkata bahwa kaum yang hina itu juga punya andil untuk tanah yang merdeka di beragam zaman.
Soekarno, tokoh perjuangan sekaligus presiden pertama Indonesia yang
Pram kagumi, pernah berucap tak ada perubahan besar di muka bumi ini
tanpa melibatkan massa. Jangan pernah meremehkan massa. Dari sanalah
kekuatan perubahan berpusat dan menyebar. Pramoedya Ananta Toer tentu
memahami ucapan Soekarno, mungkin melebihi siapa pun. Dia kemudian
menulis tentang mereka.
Dalam tetralogi Bumi Manusia, Nyai Ontosoroh—gundik seorang Belanda—menampilkan sosok pribumi pantang menyerah. Ontosoroh mengangkat martabat hidupnya yang setaraf budak menjadi perempuan yang menguasai ilmu dagang, pintar menulis dan bercakap dalam bahasa penjajahnya. Ada pula tokoh pelarian dari negeri Cina, perempuan yang mengajari Minke—tokoh utama novel ini—tentang perlawanan terorganisasi, bernama Ang San Mei.
Ontosoroh sekuat tenaga melawan hukum-hukum Belanda yang sah merebut
anak perempuannya dan semua harta dari kerja kerasnya. Ang San Mei ikut
gerakan bawah tanah melawan kaisar perempuan Ye Si yang disokong
penjajah Barat di Tiongkok. Ontosoroh kalah. Ang San Mei meninggal dunia
di tanah pelarian. Namun, yang terpenting mereka sudah melawan.
Selain tetralogi Bumi Manusia yang melegenda itu, ada satu lagi novel Pram yang selalu diingat orang, Arus Balik. Novel ini berlatar abad ke-16 dan Pram kembali menokohkan orang biasa di dalamnya; Wiranggaleng, pemuda desa, juara gulat kadipaten Tuban.
Wiranggaleng dikisahkan punya pacar cantik, juara tari, bernama
Idayu. Kedua anak muda desa Awis Krambil ini terlempar ke tengah
hiruk-pikuk kekuasaan ketika Adipati Tuban, Wilwatikta, mengangkat
Galeng sebagai syahbandar muda Tuban. Galeng dan Idayu menetap di Tuban,
padahal mereka cuma bercita-cita punya huma di desa.
Tuban, kota pelabuhan yang telah seribu tahun dikunjungi kapal-kapal
dari barat, timur, dan utara. Para pedagang membawa rempah-rempah dari
Maluku dan cendana dari Nusa Tenggara Barat, lalu mengambil beras, gula,
garam, dan minyak tumbuhan dari bumi Tuban. Dulu Tuban taklukan
Majapahit, tapi setelah kerajaan itu runtuh akibat intrik dan perang
saudara, Tuban merdeka, bahkan meluaskan wilayah sampai Jepara. Konon,
Wilwatikta, ikut bersekongkol menjatuhkan Majapahit. Dia keturunan
Ranggalawe, gubernur Tuban yang memberontak pada Majapahit.
Pada 1511 terjadi perubahan arus modal dan perniagaan di Nusantara.
Malaka, bandar besar di Asia, jatuh ke tangan Portugis. Malaka adalah
wilayah strategis di Semenanjung yang pernah dikuasai dua kerajaan
besar, Sriwijaya dan Majapahit. Kejatuhan Malaka bukan sekadar hilangnya
sebuah wilayah, tapi menandai perubahan arus perdagangan dunia di Asia.
Kapal-kapal niaga dari Arab, Eropa, dan India tak berani singgah di
bandar itu lagi, menghindari Portugis. Ini berarti ancaman juga buat
Tuban. Kapal-kapal dagang asing tak berlabuh lagi di pelabuhan Tuban.
Lalu-lintas dagang mereka telah diputus Portugis di Malaka.
Dua tahun setelah Malaka jatuh, Adipati Unus, putra Raden Fatah dari
Demak, mencoba merebut bandar tersebut dengan mempersatukan Nusantara.
Wilwatikta menolak membantu, karena Adipati Unus sebelumnya telah
merampas Jepara dan menjadikan kota pelabuhan itu wilayah taklukan
Demak. Adipati Tuban sengaja memperlambat kiriman pasukannya. Ketika
gabungan pasukan Tuban-Banten datang, dua puluh ribu tentara laut
Aceh-Jambi-Riau-Demak-Jepara yang dipimpin Adipati Unus telah kalah
dihajar meriam Portugis di perairan Semenanjung itu.
Wiranggaleng, kepala gugusan Tuban, tak habis pikir. Penyebab
kekalahan itu masih samar baginya. Namun, lama-kelamaan dia mengerti.
Konflik-konflik internal di Nusantara telah memecah-belah kekuatan
mereka. Aceh disebutkan ingin memiliki Malaka untuk diri-sendiri. Tuban
mengingkari janji lantaran kasus Jepara, terlambat lima hari sampai di
Semenanjung. Kekalahan Adipati Unus justru menerbitkan rasa kagum
Wiranggaleng, pemuda desa yang lugu, buta politik, yang semata-mata
orang suruhan penguasa Tuban.
Adipati Unus satu-satunya orang yang berani berusaha mempersatukan kekuatan melawan Portugis, dan berani melaksanakan penyerangan. Kekalahan yang terjadi bukan kekalahan perang, tetapi kegagalan dalam mengatur kekuatan sendiri. Kemudian ia menyimpulkan: armada gabungan itu semestinya tidak kalah. (hlm. 206).
Arus Balik mengungkap seputar intrik dan permainan politik yang berujung pada runtuhnya kejayaan Tuban. Letupan-letupan konflik agama lama, Hindu-Budha, dan agama baru, Islam juga muncul. Wiranggaleng tidak ingin perbedaan agama membuat orang merestui penindasan terhadap yang lain. Adipati Tuban sudah memeluk Islam, sedang Galeng beragama Hindu.
Suatu hari, seorang mata-mata Portugis, Sayid Habibullah Almasawa,
datang ke Tuban dan berkat kelicikannya dia diangkat menjadi syahbandar.
Adipati Tuban nekad memelihara musuh yang tengah dicari-cari utusan
Sultan Mahmud Syah, penguasa lama Malaka, diincar orang-orang
Demak-Jepara dan pedagang-pedagang Cina Lao Sam—daerah otonomi khusus
orang-orang Cina. Baginya, kehadiran Almasawa yang fasih bahasa Portugis
dan Spanyol itu bisa membuka kontak dagangnya dengan Portugis, bisa
menguntungkan Tuban serta menghidupkan kembali pelabuhan yang sepi.
Baginya, Tuban harus makmur. Persetan wilayah atau kota lain. Watak
Adipati Tuban yang lokalis ini berakibat fatal di kemudian hari.
Di Jepara tengah terjadi pergantian kepemimpinan. Adipati Unus
mangkat. Dia digantikan Trenggono, adik kandungnya. Trenggono punya
ambisi berbeda dengan Unus. Dia menjadikan strategi merebut Malaka
sebagai kamuflase tujuan sejatinya untuk merebut Sunda Kelapa, Cimanuk,
Cirebon, bahkan Tuban, kota-kota pelabuhan di Jawa. Trenggono
mencetuskan perang saudara. Ratu Aisah, sang ibunda, menentang putranya
dan tak digubris Trenggono. Adipati Tuban yang terkecoh oleh muslihat
Trenggono kembali mengirim Wiranggaleng dan pasukannya ke Semenanjung.
Tetapi, kali ini Demak-Jeparalah yang berkhianat. Tentara Demak justru
menyerang Tuban ketika pasukan Tuban tengah terombang-ambing di laut
menuju Malaka. Trenggono memimpin langsung pasukan Demak menyerbu
kadipaten Tuban.
Di lain pihak, armada Portugis bergerak ke Maluku dan Nusa Tenggara
Barat, membinasakan armada dagang Tuban dan Blambangan yang selama ini
memonopoli Maluku. Portugis ingin menguasai sumber rempah-rempah.
Sementara itu, kapal Portugis juga mulai masuk ke perairan Jawa,
mendirikan benteng di Pamanukan dan mengintai Tuban. Arus sudah
berbalik. Masa kejayaan kerajaan Nusantara telah lewat,
ekspansi-ekspansi melewati samudra telah berhenti. Sebagai gantinya,
armada laut asing muncul dari ujung selatan dan memasuki wilayah
Nusantara, merebut kota-kota pelabuhan dan niaga. Inilah babak awal
kapitalisme perdagangan di Nusantara.
Wiranggaleng, senapati Tuban, sebenarnya punya peluang untuk menahan
arus balik itu. Dia memperoleh restu Ratu Aisah dari Jepara, ibunda
Adipati Unus. Dia berhubungan baik dengan penguasa Lao Sam. Dia sudah
mengusir Demak dari Tuban. Tetapi, Galeng justru memilih tinggal di desa
dan menjadi petani. Dia tak mau jadi raja. Di hadapan pasukannya yang
berharap, Galeng membuat keputusan.
“Telah aku baktikan masa mudaku dan tenagaku dan kesetiaanku. Biar
pun hanya secauk pasir untuk ikut membendung arus balik dari utara. Arus
balik itu ternyata tak dapat dibendung. Kekuatan untuk itu ada pada
Trenggono, dan Sultan Demak itu tidak bisa diyakinkan untuk
menggunakannya. Arus tetap datang dari utara, yang selatan tetap
tertindih. Ya, Dewa Batara, kau tak beri aku kekuatan untuk menyedarkan
raja dan sultan sehingga jadi gelombang raksasa, bukan sekedar mendesak
arus balik dari utara, bukan saja untuk jaman kemerosotan ini, juga
kelangsungannya untuk selama-lamanya. Gajah Mada, anak desa itu telah
berhasil. Ia gerakkan tangannya dan semua jadilah yang dipegangnya,
semua bangun yang disentuhnya. Pergilah dia, pergi untuk selama-lamanya,
meninggalkan kebesaran dan arus besar yang mengimbak-imbak megah
berpendaran damai ke utara. Aku bukan Gajah Mada. Tiada sesuatu hasil
apalagi kebesaran kutinggalkan kecuali kesakitan dan kekecewaan dalam
diri dan terhadap diri-sendiri.” (hlm. 749)
Tetapi, tahukah Galeng bahwa Gajah Mada pun telah dibinasakan
kekuasaan? Patih Majapahit ini dibunuh Hayam Wuruk gara-gara peristiwa
Bubat. Banjir darah di Bubat terjadi setelah Raja Padjadjaran menolak
mempersembahkan putrinya (Dyah Pitaloka) sebagai upeti, melainkan
sebagai wanita yang hendak dipersunting Hayam Wuruk. Pasukan Gajah Mada
membunuh sang raja yang tak mau tunduk berserta pengikutnya. Asal-usul
Patih Gajah Mada sengaja disembunyikan penulis babad agar keluarganya
tak ikut dihabisi penguasa Majapahit itu.
Arus Balik sering disebut-sebut sebagai karya terbesar Pram. Namun, novel ini bukan tanpa cacad. Dalam karya yang dijuluki “literatur maritim Nusantara” tadi, Pram justru bertolak dari kota pelabuhan Tuban, yang tak sebanding dengan kebesaran Majapahit apalagi Sriwijaya. Novel ini seolah mengatakan seluruh perubahan iklim modal dan politik Nusantara bertumpu pada sebuah kota kadipaten.
Pram juga terlalu melebih-lebihkan Majapahit sebagai kerajaan laut
terbesar di Nusantara. Apakah lantaran dia meminjam mulut Wiranggaleng,
pemuda desa, sehingga penjelasannya yang sembarangan ini bisa diterima?
Apakah lantaran tokoh rekaannya itu cuma orang desa yang tak punya
pengetahuan luas, sehingga pernyataannya bisa dimaklumi? Jelaslah di
sini betapa kejayaan Nusantara dipandang dari sudut orang desa pedalaman
Jawa.
“Tunggu,” tegah Wiranggaleng, “biar aku ceritai kalian. Dahulu, di
jaman kejayaan Majapahit, arus bergerak dari selatan ke utara, dari
Nusantara ke Atas Angin. Majapahit adalah kerajaan laut terbesar di
antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi ini …” (hlm. 746)
Pram lupa bahwa kerajaan Majapahit yang mulai berdiri pada abad ke-13
tersebut hanya mengalami 70 tahun masa jaya. Sriwijaya yang menguasai
samudra sejak abad ke-7 sampai awal abad ke-13 tak disinggung
sebagaimana mestinya. Tahukah Pram bahwa perang laut terbesar di Asia
Tenggara terjadi ketika Sriwijaya mengerahkan seratus ribu tentara laut
melawan Funan?
Namun, selebihnya Pram cukup jeli menghadirkan situasi sesuai zaman.
Kosa kata bahasa Melayu yang jadi lingua franca waktu itu muncul di
sana-sini, seperti seluar (celana), ditunu (dibakar), para-para (lekukan
kayu di dinding), tegah (cegah), dan sebagainya. Ini juga jejak-jejak
Sriwijaya, bukan?
Ah, pria itu kini menjelang 78 tahun usianya. Dia sudah pindah dari
rumah beton berlantai dua. Tentu saja ke rumah yang lebih megah,
berlantai lima, dekat kota hujan Bogor. Dia sudah bebas ke luar negeri
sekarang, karena pemerintah Soeharto tumbang lima tahun lalu.
Buku-bukunya bebas dicetak ulang. Dia sudah kaya-raya. Dia sudah menang.
“Apa rahasia Pak Pram menjaga stamina?” tanyaku, hampir sepuluh tahun lalu.
“Berolah raga teratur. Dan kamu kenapa kurus begitu? Jaga kesehatan,
makan vitamin C 500 miligram sehari. Kalau badan lemah, bagaimana bisa
menang lawan Soeharto,” jawabnya, terkekeh.
Lupa kutanyakan mengapa dia menulis begitu banyak buku dan tebal-tebal. Namun, terbersit juga sebaris kalimat catatan harian Rubashov dalam novel Koestler itu: Tiap pikiran salah yang kita turut berarti kejahatan terhadap generasi-generasi yang akan datang. Barangkali, itulah sebab dia menulis, ingin mengungkap apa yang dulu disembunyikan atau tersembunyi dari pengetahuan angkatan kemudian.
***************
Linda Christanty, menulis certa pendek, esai, puisi, dan reportase yang meliputi isu politik, sejarah, sastra, dan gender. Meraih Katulistiwa Literaty Award tahun 2004 untuk buku cerita pendeknya, Kuda Terbang Mario Pinto. Buku-bukunya yang telah terbit: Kuda Terang Mario pinto, Dari Jawa menuju Atjeh, Rahasia Selma, Jangan Tulis Kami Teroris, Para Raja dan Revolusi.
Sumber: buku Dari Jawa Menuju Atjeh, Linda Christaty, Penerbit KPG.
TEOLOGI PEMBEBASAN atau lebih simpatik Teologi Pemerdekaan adalah suatu teologi. Artinya: refleksi nalar manusia tentang penerimaan Wahyu yang mendahuluinya, sehingga tidak hanya kemauan atau emosi, melainkan pikiran (manusia beriman) diikutsertakan dalam pertanggung jawaban suatu sikap beriman, sebab walaupun hidup beriman pada esensinya bukan semata-mata prestasi kenalaran belaka, namun nalar sebagai potensi hakiki manusiawi yang maha berharga adalah anugerah Tuhan juga. Jadi sewajarnya nalar/pikiran manusia harus diaktualisasi pula selaku instrument pertanggung jawaban sikap manusia yang beriman terhadap diri-sendiri, sesama manusia dan Tuhan.
Setiap manusia sebenarnya sudah berteologi, hanya secara spontan, baru implisit dan kadang-kadang. Sebaliknya, Teologi adalah satu “ilmu pengetahuan”, karena bekerja refleksip, sistematis dan dengan hukum-hukum logika yang sah. Namun tidak seperti sains atau ilmu-ilmu eksperimental yang disebut (ideologis sejak A. Comte) ilmu-ilmu positif. Teologi pun positif, bukan khayalan belaka atau puisi perasaan. Ia bekerja baik secara deduktif maupun deduktif dari pengalaman dan sumbangan ilmu-ilmu eksperimental juga. Teologi maupun sains punya instrument sendiri-sendiri karena obyek formal dan tujuannya tidak sebidang, walapun sering seperkara, tetapi kedua-duanya mempunyai tujuan yang sama, ialah pengetahuan.
Manusia tahu dalam beberapa lapis, dalam beberapa tingkat abstraksi dan dimensi. Dimensi teologi dan dimensi sains memang tidak sama, namun satulah yang menghubungkan mereka, ialah pemenuhan hasrat manusia yang terdalam, ialah hasrat “tahu”, dan garansi pada “tahu” itu, ialah kemungkinan mencapai “kebenaran”. Kebenaran pada manusia memang hanya mungkin secara pengumpulan batu-batu mosaik atau pijar-pijar kebenaran. Tidak pernah seutuhnya secara total sempurna, lagi harus berkembang secara historis. Pijar satu disusun di samping pijar yang lain, sehingga dalam perkembangan sekian abad pengetahuan, ibarat peta angkasa bintang-bintang dan galaksi semakin lengkap. Tentulah itu sering melalui trial and error, namun justeru itulah: secara manusiawi. Perumusan dogma agama apa pun dan dalil sains apa pun tidak mungkin bernilai mutlak komprehensip sempurna, lebih merupakan “pendekatan” daripada “pencapaian” esensi perkara. Hal itu akan selamanya begitu karena keterbatasan manusia menghalang-halanginya meraih sekian milyar galaksi universum kebenaran dengan sekali tangkap. Demikianlah teologi pemerdekaan adalah suatu teori, bukan ajaran agama, atau jawaban atas Wahyu, atau sikap iman sebagai iman, dan tafsiran manusia terhadap yang diajarkan oleh agama.
Sejak Nabi Ibrahim
Di kalangan Katolik, teologi pemerdekaan sebenarnya sudah setua Injil Yesus dari Nasaret, bahkan tanah tumbuh awalnya sudah ada dalam penghayatan ke-Tuhanan Yang Maha Esa bangsa Hibrani sejak Nabi Ibrahim. Namun secara reflektif metodis, teologi pemerdekaan baru tumbuh di sekitar tahun tujuh puluan di Amerika Latin. Teologi selalu berjalan kemudian di belakang penghayatan praksis iman; in hoc casu, teologi pemerdekaan adalah De-fleksisistematis dari “praksis pemerdekaan” di Amerika Latin yang telah berjalan sejak kekejaman-kekejaman para conquistadores Spanyol yang menindas dan membunuh orang-orang pribumi Indian di abad-16, seperti yang dipendekari para rahib Dominikan Antonio de Montesinos dan Bartholome de las Casas. Jadi rahib-rahib Katolik melawan militer Katolik. Para rahib itu ingin konsekuen melaksanakan Hukum Cinta Kasih Injil dengan membela suku-suku India melawan kaum politisi imperial yang berkedok agama. Namun pada hakekatnya, teologi pemerdekaan pada instansi terakhir bukan pertama dan terutama persoalan kemerdekaan politik ataupun ekonomi (walaupun itu merupakan unsur-unsur bagian juga) akan tetapi pemerdekaan manusia secara “total utuh sejati” dari kedosaannya, kekejaman, keserakahan dan exploitation de I’homme par I’homme, tak peduli kedudukan, kepandaian, kemampuan, kulit, bangsa maupun agama. Bahkan di dalam praktek pemerdekaan di Amerika Latin itu, sering terjadi Gereja yang terbelah menjadi Gereja yang bekerjasama dengan kaum penindas, dan disisi lain Gereja yang memihak serta membela kaum tertindas.
Polarisasi itu tentu tidak simple hitam putih begitu saja dalam praktek, sebab cukup kompleks strukturnya.
Pengaruh Figur Yesus
Dari sejarah sering muncul fakta bahwa, dari pihak satu, agama (selaku lembaga, jadi lain dari pijar-pijar beberapa agamawan yang saleh) secara prinsipil membina kesalehan dan pemuliaan jiwa manusia, akan tetapi de facto sering terjadi, secara kolektif selaku lembaga mapan agama menjadi demon kefanatikan, kekejaman dan pembunuhan merajalela ”atas nama Tuhan”. Citra Miryam ibu Yesus (Isa) dan citra Yesabel atau Herodias, kedua-duanya dikenal dalam Kitab Suci. Pembunuh-pembunuh Yesus justeru adalah imam-imam agung dan ahli-ahli Kitab Suci. Realita ini sebenarnya terjadi di mana-mana, akan tetapi di Amerika Latin tragedi macam itu berjalan sangat dramatis. Orang-orang Amerika Latin memang jenis orang Spanyol-Protugis yang emosional dengan percampuran macam-macam darah yang mudah mendidih dalam kawah warisan kolonial.
Sebaliknya, dalam Injil yang menjadi makanan sehari-hari orang Amerika Latin yang Katolik, figur Yesus adalah citra pemuda rakyat jelata biasa pencinta damai, yang dalam kata dan perbutannya tidak pernah mengidentifikasi diri dengan kaum kaya atau penguasa (dunia maupun lembaga agama), tetapi yang bergaul intim dengan rakyat jelata sampai ia mengatakan tentang Diri-Nya:
“Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Putera Manusia (Yesus) tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk.9:58)
Bahkan dalam klimaks hidupnya Yesus berhadapan dengan penguasa dunia dan agama hanya untuk difitnah, divonis, didera, dan disalib. Maka Pendidikan Katolik defacto, dengan tradisi Hibrani sejak Nabi Ibrahim, Nabi Musa yang bertema dasar “pemerdekaan Manusia”, mulai dari belenggu-belenggu tahayul, dari penjajahan Mesir sampai ke pengakuan Tuhan Maha Esa dan “Tanah Perjanjian Allah”. Jadi sejak kecil secara sadar dan di bawah sadar, pewartaan yang diresapkan pada setiap anak kuli maupun anak jenderal di Amerika Latin sudah digenangi dengan tema: pemerdekaan dari segala bentuk belenggu yang berasal dari dosa manusia, melewati pembaptisan (lambang penenggelaman diri dalam air laut Merah agar bebas dari “hidup lama”, lalu bangkit ke dalam “hidup baru” menurut konsepsi Cinta- Kasih Tuhan).
Di Eropa permasalahan intern agama Katolik secara historis sangat diwarnai oleh hal-hal dogmatis dan politik nasional, perebutan kekuasaan kaum borjuasi melawan kaum ningrat dan politik nasioanal yang menyertai proses masyarakat agrarian berubah menjadi industrial. Sejajar dengan itu taufan antiklerikalisme dan reformasi meruntuhkan kerajaan duniawi Vatikan, sedangkan sekularisme yang radikal memisahkan kehidupan publik dari agama, dengan segala akibat berbentuk kapitalisme, kolonialisme imperialisme yang berorientasi eksteren ke benua-benua lain. Tetapi perkembangan di Amerika Latin menjurus ke pemerdekaan kaum kolonis yang sudah berpanca-darah melawan negeri-negeri “ibu” Spanyol dan Portugal. Namun semua masih tetap dalam kerangka agama warisan dan kebudayaan katolik. Setelah kaum kolonial membebaskan diri dari raja-raja Spanyol-Portugal dan bergilir menjadi kaum tuan tanah yang kejam terhadap rakyat kecil yang seagama, maka tradisi perang kemerdekaan melawan Spanyol dan Portugal beralih ke pergulatan kaum tani dan buruh kecil menghadapi tuan-tuan “pribumi” mereka. Kaum yang paling pribumi, ialah suku-suku Indian (ditambah Negro) dalam perkembangan itu menjadi golongan yang paling menderita, akibat penjajahan pangkat dua itu. Amerika Latin pada dasarnya belum pernah mengalami keadaan negara hukum. Setiap jenderal diktator setiap saat dapat digulingkan oleh kelompok militer lain. Celakanya, setiap kaum penguasa dan kapitalis besar di Amerika Latin, dengan perkecualian Kuba dan Chilli Allende dan Nicaragua Sandinista adalah komprador (kaki tangan) sistem kapitalisme Amerika Serikat, sehingga biang keladi segala penindasn di Amerika Latin bukan rahasia lagi, justru adalah Amerika Serikat (yang ironis, selalu membanggakan diri sebagai pendekar “Dunia Bebas”).
Maka di kalangan rakyat Amerika Latin telah lama orang sadar bahwa, masalah penindasan rakyat bersumber pada imperialisme ekonomi Amerika Serikat. Dengan akibat, bahwa praksis perlawanan rakyat kecil sudah lama diwarnai oleh kesadaran perjuangan melawan kapitalisme selaku sistem ekonomi sosial-politik, yang dikongkritsasikan dalam solidaritas antara kaum tani dan buruh kecil, dengan dukungan moral dan faktual dari sebagian besar rohaniwan katolik serta uskup-uskup sebagai pemimpin-pemimpin non formal. Namun juga tak terelakkan, perlawanan rakyat itu berkembang dalam suatu rasa simpati (yang sukar dipersalahkan) terhadap analisis serta metode Karl Marx, yang historis memang merupakan satu-satunya teori yang berklaim ilmiah dan meyakinkan, membuka kedok sistem kapitalisme-liberal yang jahat.
Dimulai dari Praxis Paguyuban Umat Basis
Demikianlah di tengah penderitaan rakyat selama berabad-abad, perlahan-lahan tumbuh suatu sistem yang disebut Umat-umat Basis, yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil kaum beriman dengan sebentuk agama rakyat miskin. Kendati praksis umat-umat basis itu berlainan menurut sikon kedaerahan, akan tetapi ada 5 prinsip dasar yang dapat dicatat: 1. Keyakinan bahwa segala ketidakadilan harus digugat; 2. Bahwa untuk itu dibutuhkan proses yang oleh Paulo Freire disebut conscientizacao (penyadaran berupa proses belajar, di mana manusia semakin tau dan sadar tentang mekanisme-mekanisme apa yang “membuat” mereka miskin); 3. Bahwa situasi kemiskinan “dapat” berubah. Namun hanya oleh perjuangan “mereka kaum miskin sendiri” secara gotong-royong; 4. Demi semua itu dibutuhkan solidaritas (gotong royong) antara kaum sadar yang punya kedudukan (intelektual, struktural lebih mampu, rohaniwan, pimpinan Gereja, sarjana-sarjana, sukarelawan-sukarelawan terpelajar dan lain sebaginya) dengan yang tidak punya kedudukan, kaum lemah, tuna keadilan dan sebagainya; 5. Dan yang menjadi kunci vital: kaum miskin sendiri, biar sudah naik tingkat, jangan sekali-sekali “bergiliran” menginjak kaum yang lebih miskin lagi.
Begitulah semakin terorganisasi suatu gerakan protes, baik insidentil maupun sistemis, melawan struktur-struktur kekuasaan masyarakat (termasuk Gereja sendiri bila bersikap menindas atau menjadi kolaborator kaum penindas) demi pembentukan suatu tata masyarakat yang lebih adil.
Bagaimanakah Sikap Pimpinan Hirarki Gereja?
Dukungan tak ternilai kuatnya selaku tanggapan terhadap gerakan paguyuban-paguyuban umat basis tersebut untuk merefleksikan serius masalah penderitaan rakyat datang dari pimpinan hirarki Gereja Amerika Latin sendiri. Pada tahun 1968 sekitar 180 uskup dari Amerika Latin dengan inti dari Brazil yang paling berpengaruh berkumpul di Medelline.
Dalam sidang historis itu Pimpinan Gereja seluruh Amerika Latin secara besar-besaran menyatakan diri “tidak netral”. Dengan resmi dinyatakan, bahwa Gereja Katolik terang-terangan memihak pada mereka yang miskin dan tuna hukum dalam bidang kemasyarakatan serta ekonomi; mendukung rakyat kecil yang sebenarnya merupakan mayoritas massa Rakyat, menurut dokumen Medellin, semakin lama semakin tenggelam oleh kekuasaan-kekuasaan struktural dan institusional, oleh perusahan-perusahan transnasional serta kekuasaan keuangan internasional. Keadaan semacam itu, demikian keyakinan Majelis Wali-wali Gereja seluruh Amerika Latin, menuntut suatu perubahan pembaruan yang global, berani segera dan radikal. Dengan demikian sekali lagi Gereja Amerika Latin, dalam konteks moderen, menggemakan lagi Firman Tuhan yang tertera dalam Kitab Exodus:
“Aku telah melihat kesengsaraan bangsaku……tangis dan resah mereka karena ditindas. Ya, aku tahu penderitaan rakyat. Aku (Tuhan), turun ke bawah untuk memerdekakan rakyat-Ku” (Ex. 3: 7-8).
Tergugah oleh keputusan Majelis Wali-wali Gereja mereka, para imam, umat dan khususnya para ahli teologi mulai merefleksikan kembali sikap teologis mereka. Perintis pertama teori sistematis mengenai panggilan pembebasan rakyat kecil mengikuti jiwa Medellin ialah seorang imam teolog dari Lima, Gustavo Gutierres, yang sampai sekarang menjadi dermaga tolak dari pemikiran penerbitan buku-buku dan artikel-artikel lebih dari 600 buah. Tentulah sikap Gereja yang begitu terang-terangan memihak kepada rakyat kecil sama sekali tidak disukai oleh para dewa kuasa, kaum kapitalis dan sekutu mereka, kaum militer. Kekuatan-kekuatan konservatif yang masih sangat kuat mendapat backing dari dunia usaha Amerika Serikat sudah lama merumuskan dalih penindasan mereka atas prinsip Securidad Nacional (Hankam Nasional) dan Anti-Komunisme, sebagai dalih-dalih yang sudah lama tidak dipercaya oleh massa rakyat maupun dunia internasional, sehingga tidak pernah efektif. Oeh karena itu kaum penguasa Amerika Latin memperdahsyat represi teror mereka yang merupakan praksis sehari-hari di Amerika Latin, dan yang memuncak antara lain dengan pembunuhan Uskup-Agung Oscar A. Romero dari El Savador. “We theorize today within the sound of guns”, demikianlah keluh sosiolog A. Gouldner. Menurut ahli sosiologi tenar E. Schillebeekx keluhan itu dinyatakan lebih relevan untuk para teoritisi teologi pembebasan.
Praxis dulu, baru Teori
Salah satu jasa dan sumbangan unik dari para teolog Amerika Latin kepada dunia teologi Kristen seumumnya ialah: Pertama, penemuan bahwa, teologi, apalagi Gereja pada hekekatnya bukanlah kumpulan dogma-dogma yang abstrak, tetapi sistematisasi sikap serta peristiwa kongkrit, kontekstual”. Manusia yang wajar selalu berteori teologis (beragama dan beriman) sesudah berpraktek dalam suatu sikon, suatu pengalaman suka-duka kongkrit dari fakta-fakta ekonomik, sosial, politis dan sebagainya. Dengan kata lain, historis, sebagai proses. Teologi pun seharusnya bukan kumpulan toeri abstrak, melainkan sebagian dari proses-proses historis. Karena itu ia selalu harus diuji dan ditinjau kembali di dalam dan oleh pengalaman serta penghayatan peristiwa-peristiwa dunia, bangsa, maupun perorangan. Dengan kata lain lagi: Hakekat Gereja adalah identitas historisnya. Prinsip kedua, bahwa teologi pemerdekaan pun bukan segugusan resis-tesis abstrak yang tugas pertamanya harus dikuliahkan, melainkan sesuatu yang “dikerjakan”, dalam suatu perjalanan praktis kongkrit dalam dialog dan proses meremaja diri dengan fakta dan data-data; sekaligus suatu “sumbangan hidup” demi sejarah pemerdekaan manusia yang tertindas dan terbelenggu.
Kritik dan Debat tentang Teologi Pemerdekaan
Tentulah bisa dibanding dengan tradisi berabad-abad berteologi di Eropa dan dunia Barat seumumnya, yang (terpengaruh konteks jiwa abstrak analitis Barat) lazimnya berciri deduktif, spekulatif, abstrak dan mengklaim diri zeitlos (tak terpengaruh oleh perubahan saman), cara berteologi ahli-ahli Amerika Latin itu sangat menggoncangkan. Maka berkobarlah suatu debat besar (debat di dunia ilmu pengetahuan internasional adalah suatu gejala yang normal dan wajar saja, bahkan diharapkan; jadi lain dari di Indonesia) yang berkisar pada dua pertanyaan fundamental.
Apakah dengan begitu, para teolog itu tidak main-main api, terperangkap dalam suatu godaan teologi (dan Gereja) yang dipolitisir? Apalagi bila seorang teolog ternama dari Jerman, J.B. Metz melontarkan suatu teori baru yang terang-terngan diberi nama Politische Theologie? Apakah dengan demikian Gereja nanti tidak akan terseret kembali ke dalam kesalahan vital selama lebih dari 100 tahun, yaitu Gereja yang aktif berpolitik-praktis menjadi kekuasaan politik sehingga berakibat fatal sekali? Gereja akan muncul murni dan lebih mendekati kekhasan panggilannya apabila abstain dari soal-soal duniawi yang praktis, khususnya dunia politik. Tidakkah lebih arif bila Gereja mengkhususkan diri dalam ajaran, prinsip-prinsip serta pertanyaan-pertanyaan universal yang berlaku untuk segala zaman, situasi dan kondisi? Segala-gala telah termaktub dalam Alkitab dan ajaran tradisional Gereja. Petiklah buah-buah prinsipnya karena buah-buah ini berlaku abadi. Demikian kurang lebih reaksi terhadap teologi yang berkontes dan mengidentifikasi diri sebagai bagian proses historis, walau proses yang paling mulia pun seperti pemerdekaan manusia tertindas. Terhadap keberatan itu, para teolog Amerika Latin, seperti misalnya Segundo Galileo dalam bukunya “Contemplaciony Apostolado” menguraikan bahwa, dimensi praksis (duniawi, peristiwa, pengalaman kongkrit) dengan dimensi rohani ataupun mistika justeru harus bergandengan tangan. Tuhan menolong manusia tidak abstrak tetapi kongkrit, dengan dan ciri kemanusiawian di sini justeru: kongkrit, historis, eksistensial, di dalam konteks. Orang Barat yang berwatak analitis dan kuat daya abtraksinya terlalu mudah memilah-milah dan mengurai perkara dalam unsur-unsur yang lepas-lepas, serta selalu cenderung berkata “atau ini atau itu”. Sedangkan orang Amerika Latin (seperti orang Indonesia juga) lebih suka berkata “ya ini ya itu,” jangan hendaknya memandang segala-gala serba dualistis. Dualisme boleh dalam konstruksi abtraksi atau analisa teoritis, tetapi dalam kehidupan kongkrit, segala dimensi menyatu dalam pengalaman yang unik dan sintetis.
Oleh karena itu istilah Politsche Theologie bukan nomor satu, Teologi selaku backing ideologis sesuatu kebijaksanaan (atau ketidak-bijaksanaan) program politik partai ini atau itu, tetapi suatu sumbangan refleksi nalar manusia beriman Kristen demi peneguhan sikap menyeluruh, yang sadar akan historitas dan data realita, bahwa manusia beriman pun adalah manusia yang selalu dan tidak bisa lain kecuali hidup dalam suatu konteks historis, beriman dalam suatu konteks historis, bertanya dan bergulat dalam suatu konteks historis. Konteks yang jelas mengenai segala yang berhubungan dengan kawan-kawan manusia lain, jadi tak bisa lain: sosia politis juga (politik dalam arti asli: kearifan bertindak dalam kebersamaan orang-orang lain demi kepentingan umum). Seperti Tuhan pun menolong, membina dan mendampingi manusia tidak secara abstrak teoritis saja, tetapi kongkrit, historis, dalam konteks juga.
Tetapi selain itu, bukanlah sikap memihak pada kaum miskin berlawanan dengan ajaran autentik Yesus dari Nasaret, bahwa kita secara prinsipil “semua” orang, termasuk musuh-musuh kita pun, tidak terkecuali orang-orang kaya dan kuasa? Juga, bukankah prinsip cinta kasih autentik Kristiani tidak pernah ingin memakai segala bentuk kekerasan? Bukankah Yesus sendiri berkata:
“Barang siapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang!” (Mat. 26:52).
Keberatan ini tidak sulit dijawab. Cinta kasih pun tidak abstrak.
Cinta kasih bukan sesuatu yang buta berdalih netral (sebentuk sikap pengecut yang bertopeng di belakang “hukum-hukum universal yang abadi dan berlaku di segala situasi maupun zaman). “Cinta-kasih manusia pun harus ditempatkan dalam konteks. Bila ada orang sadis memukul anak yang tak berdaya, cinta kasih dalam konteks (dan begitulah selalu reaksi spontan setiap manusia normal berakal sehat) tidak akan “netral”. Kita akan spontan melindungi anak itu dan terpaksanya menendang si penjahat dengan kekerasan agar tangan anak tak berdaya itu lepas.
Demi pembelaan korban tak bersalah, seorang bandit dalam situasi darurat terpakasa akan ditembak penegak Hukum. Maka berkatalah Uskup agung Helder Camara yang merupakan eksponen prinsip Kristen mengikuti Yesus yang serba non-violence, dan sejajar dengan yang dikerjakan oleh Martin Luther King di Amerika Serikat dan seorang non-Kristen Mahatma Gandhi dengan “satyagraha” (Daya Batin).
“Bila orang (dengan bersikap a-politis) memelihara suatu tata masyarakat yang tidak adil, apakah itu bukan sebentuk politik (praktis) juga?” Dalam konteks penindasan dan penghisapan, menurut Helder Camara, “Netral artinya pengkhianatan.”
Sanggahan ketiga: Bukankah konsep pemerdekaan menurut ajaran Gereja tidak boleh ditafsir sebagai suatu gerakan “langsung” berpolitik, berekonomi dan sebagainya? Bukankah pemerdekaan yang secara tradisional dijarkan Gereja adalah penebusan dari dosa, penyelamatan ilahi Kerajaan Allah dari dosa yang menjerumuskan manusia jauh dari panggilan sejatinya menuju ke Tuhan? Bukan kerajaan dunia! Para penyangga menunjuk pada larangan disiplin Gereja Katolik bagi para uskup, pastor, biarawan, biarawati untuk langsung berpolitik praktis atau menduduki jabatan-jabatan negara. Sebab tugas primer Gereja adalah “persaksian” mengenai dimensi-dimensi “terakhir”, tentang eskhatologi Dunia atas Koderati, persaksian tentang Kristus dan dimensi penebusan-Nya. Bolehlah itu disebut pemerdekaan, namun pemerdekaan dari “dosa”, dari “akar-akar eksistensial” yang mengatasi dimensi-dimensi dunawi belaka, fana, politik praktis, ekonomi, sosiologi, bahkan kebudayaan apa pun. Tugas Gereja primer dan khas adalah tugas pernyataan dan pembelaan “prinsip-prinsip”, bukan penerjemahan langsung prinsip-prinsip itu dalam bahasa dan langkah konkret operasional langsung sosial-politis. Apalagi bila bahasa dan langkah operasioanal itu adalah memakai atau berbau kekerasan ala Marx, atau “pedang”, karena keraslah peringatan Yesus kepada Petrus (baca Gereja):
“Barang siapa menggunakan pedang, akan binasa dengan pedang juga”.
Yang telah terbukti pula di abad-abad lampau, nyaris Gereja sebagai kekuatan spiritual binasa karena langsung berpolitik praktis sebagai kekuasaan duniawi.
Sanggahan ketiga ini adalah kritik yang paling berat untuk para teolog pemerdekaan, sebab hampir tak mungkin argument yang begitu berbobot dan yang begitu menyangkut prinsip-prinsip terdalam dari Kristianitas dibantah, juga memang sudah dibuktikan secara nyata oleh sejarah pahit Gereja lebih dari 1000 tahun sejak Kaisar Konstantin Byzantium. Betapa berbahaya dan betapa mudah terlampaui batas-batas antara “cinta kasih kontekstual dalam situasi penindasan” dengan ketergelinciran dalam jerat “rasionalitas murni” perlawanan politik yang akhirnya tidak berbeda dari yang sudah dilakukan oleh setiap partai politik atau badan negara. Konflik batin yang disebabkan oleh dilema ini untuk orang-orang yang beragama lain barangkali tidak sulit penyelesainnya. Akan tetapi bagi orang Kristen yang ingin mengikuti Yesus sang Lemah-Lembut dan Juru Damai, masalah penggunaan kekerasan memang persoalan yang tidak mudah.
Dalam hubungan itu Kuba, dengan imam bersenjata Camilio Torres dan imam-imam/biarawan yang menjadi mentor-mentor kabinet Nicaragua-Sandinista sangat berhikmah. Untuk rakyat Amerika Latin, eksperimen Kuba di bawah pimpinanan Fidel Castro (dan prestasi Sandinista Nicaragua) merupakan sumber inspirasi kepahlawanan yang historis luar biasa hebatnya. Analog dengan kemenangan Jepang lawan Rusia di abad yang lampau bagi seluruh bangsa Asia. Kita harus melihat peristiwa kuba tidak sempit di dalam kerangka Marxis atau anti-Marxis melulu, tetapi dalam tradisi dan dambaan ratusan juta orang-orang kecil Amerika Latin yang menderita luar biasa di bawah penghisapan kapitalisme Amerika Serikat dengan para kompradornya. Maka dalam konteks gerakan berabad tentang pemerdekaan manusia jelata itulah tidak mengherankan bila seorang pastor Camilo Torres bergabung dengan Che Guevarra dalam perang gerilya rakyat Bolivia menantang pemerintah komprador. Peristiwa Camilo Torres mendapat pengikut di Filipina melawan rezim Marcos (baca kapitalis komprador) dan memang menimbulkan debat sengit dan luas dikalangan Gereja Katolik, yang masih bergema dalam musyawarah Besar Majelis Wali-wali Gereja 1981 di Puebla, Meksiko sebagai konperensi besar semua uskup Amerika Latin, follow-up dari Medellin 1968.
Secara resmi Gereja tidak merestui langkah Torres untuk mengangkat senjata, walaupun dengan maksud-maksudnya mulia. Namun rakyat biasa umat Katolik Amerka Latin dan opini publik generasi muda Barat menghormati Torres (ia terbunuh dalam operasi gerilya) sebagai martir pembela rakyat, bahkan tidak sedikit rakyat kecil menganggapnya orang suci. Namun Gereja resmi memang harus bersikap prinsipil.
Satu-satunya jalan yang direstui adalah jalan non violence, seperti yang sudah diteladani oleh Yesus dari Nasaret dan yang mendapat peneguhan misalnya dari Martin Luther King, juga seorang non-Kristen Mahatma Gandhi. Tetapi itu dalam taraf ajaran “resmi” atau boleh disebut pada tingkat “obyektif”. Secara pribadi “subyektif”, menurut konsensus ahli moral Katolik sekarang, orang tidak bersalah bila ia tidak mempersalahkan perbuatan sesituasi Camilo Torres.
Peristiwa-peristiwa semacam itu tidak bisa dan tidak boleh simple dipukul rata atau diabtraksi dengan suatu hukum yang berlaku mutlak. Karena di sini kita sudah tersentuh pada situasi “pribadi” dalam konteks yang khas. Yesus pun tidak membenarkan pelacuran. Tetapi juga tidak menghakimi seorang (jadi pribadi) pelacur yang oleh kaum agamawan Yahudi dihadapkan pada-Nya untuk menguji Yesus, bagaimana penyelesaian soal terhadap konflik cinta kasih dan hukum agama (resmi). Demikina juga, analog dalam konteks dan sikon Amerika Latin, sungguh tidaklah mudah kasus Pastor Ernesto Cardenal, Pastor Edgard Parrales, Pater Miquel d’Escoto M. M dan Pater Fernando, Cardenal S.J (adik dari Ernosto), masing-masing menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kesejahteraan Sosial, Menteri Luar Negeri dan Menteri Urusan Pemuda dalam pemerintah Sandinista, Nicaragua, yang merupakan eksperimen kedua sesudah Kuba dengan radikal melawan tata kapitalisme Amerika Serikat dengan para kompradornya, tanpa bendera merah Marx.
Roma telah menyerahkan kebijaksanaan mengenai kasus tersebut kepada Pimpinan Hirarki setempat yang merasa wajib menindak keempat pastor itu dengan larangan fungsi pemimpin ibadat dalam Gereja. Konteksnya tidak sederhana. Pertama, karena di Nicaragua betul-betul kekurangan tenaga intelektual untuk memegang jabatan-jabatan tinggi negara. Kedua, karena kader sipil yang ada kebanyakan korup dan kapitalis. Ketiga, karena kaum Sandinista benar-benar ingin berikthiar bahwa, operasi politik pemerdekaan bangsa tidak mutlak harus bersendi pada Marxisme. Keempat, karena dalam pribadi pastor, biarawan-biarawati pun harus diakui dan dimanfaatkan dimensi warga-negara biasa dan kualitas-kualitas manusia normal seperti manusia-manusia lain yang berwajib menanam kebaikan dan pemerdekaan bagi sesama manusia dengan cara-cara normal manusiawi (jadi termasuk segi politik pula). Dan kelima, dan ini menyangkut lebih langsung segi-segi moral selaku konsekuensi teologi pemerdekaan: “dosa” dan “penebusan dari dosa” juga bukan sesuatu yang abstrak, semacam “ide abadi universal” yang insidensil dapat kita petik deduktif dan diterjemahkan ke dalam sikon yang nyata; bagaikan bayangan-bayangan filsafat Plato dunia fana (dan maya). Tetapi kongkrit, historis, mengejahwantah dengan sosok dan wajah yang tampak, teraba dan terasa nyata dalam represi dan exploitationde I’homme secara struktural politis, sosial, ekonomi, kultural yang riil.
Sikon Nicaragua yang khas tidak dapat diukur dengan sikon negeri-negeri lain; justeru karena sedang bereksperimen sperti di Kuba, tetapi sedapat mungkin non-Marxis. Dari pihak lain Hirarki Gereja yang di masa lalu dengan penuh pengorbanan melawan diktator komprador Somoza, merasa wajib untuk memperingatkan keempat imam itu, bahwa untuk sementara hanya dalam awal Revolusi Sandinista mereka boleh menolong grup politik Sandinista, demi rakyat terbanyak dan dalam situasi darurat. Akan tetapi menurut Uskup-agung Obando y Bravo, Gereja tidak boleh dijadikan sebentuk partai politik dan kendaraan gerobak kaum yang sedang menang politik. Dalam macam pemerintahan apa pun, Gereja mengemban tugas yang khusus (Persaksian mengenai yang benar dan yang baik, adil dan pembelaan martabat manusia). Juga di bawah pemerintahan Sandinista, yang seperti setiap lembaga manusia, pasti juga menjalankan kekeliruan-kekeliruan. Gerakan Sandinista untuk menyusun “suatu Gereja Rakyat yang harus menikah dengan mereka (Sandinista)” juga ditentang Hirarki Gereja di Nicaragua. Saat ini Pemerintah Sandinista berciri menghormati Gereja dan berniat lepas dari kapitalisme liberal (yang sejak awal dikutuk Gereja juga). Apakah saat ini suatu sikap keluar dari eselon penentu keputusan tertinggi tidak berakibat pintu bagi Marxisme akan terbuka lebar? Lebih celaka lagi, bila para uskup itu akan dicap sebagai kakitangan kaum kapitalis? Dilema seperti yang terjadi di Nicaragua atau dalam kasus Camilo Torres rupa-rupanya akan terus merupakan “masalah abadi”.
Seperti Yesus yang tidak merestui pelacuran toh tidak menghakimi si pelacur, demikian juga kita dapat berpegangan pada pendirian Uskup agung Brazil di Refice, Dom Helder Camara. Pertama, seluruh dunia-dunia maju maupun belum maju-membutuhkan sautu evolusi struktural. Penindasan tidak hanya terdapat di negara-negara berkembang, tetapi juga di Amerika Serikat dan di Eropa. Namun bangsa-bangsa yang belum maju secara keseluruhan menderita lebih parah di bawah penindasan bangsa-bangsa maju. Kedua, siapa bertanya, apakah revolusi itu harus berjalan dengan kekerasan atau tidak, harus sadar dahulu, bahkan sistem yang sedang berkuasa jelas hanya berdiri dan hanya dapat dipertahankan atas kekuasaan sewenang-wenang. Kekuasaan mapan itu di Amerika Latin menghalang-halangi usaha Pendidikan pada tingkat basis, yang bermaksud memungkinkan persatuan dalam paguyuban-paguyuban dan organisasi-organisasi berdisiplin. Ketiga, pemerintah yang hanya membuat janji-janii elok dengan tata hukum yang tidak mereka taati sendiri dan tinggal tulisan kertas belaka, mereka sendirilah yang menjadi penyebab utama tindakan-tindakan kekerasan. Dengan begitu kaum muda mengambil kesimpulan, bahwa mereka tidak berniat serius dan bahwa semua macet bila bila yang ditempuh jalan Hukum. Keempat, Dom Helder Camara yang berprinsip non violence merasa pribadinya terpanggil mengambil jalan damai untuk menyampaikan cermin kebenaran kepada para penguasa, dan sekaligus membangunan terus-menerus keadaan massa. Akan tetapi beliau menghargai panggilan-panggilan lain seperti diyakini Camilo Torres dan Che Guevara. Bahkan Uskup-agung berhati lemah-lembut itu meramaikan pecahnya suatu revolusi kekerasan kepada para penguasa, jika mereka tidak menyetujui perubahan struktural yang meniadakan keterbelakangan 400 tahun perbudakan dan kolonialisme. Kelima, kepada para muda di Amerika Latin yang mendesakkan suatu revolusi kekerasan, Helder Camara menunjuk pada Revolusi Kebudayaan yang tidak hanya meniru model-model revolusi yang asing dan impor, tetapi mematangkan suatu revolusi khas dan asli.
Konperensi di Puebla, Meksiko
Sebagai penerus Konperensi Medellin 1968, Konperensi Uskup se Amerika Latin di Puebla tahun 1981 tidak lepas dari banyak ketegangan. Menjelang Konperensi Puebla dimulai, banyak kekhawatiran timbul bahwa, para Pemimpin Gereja Amerika Latin akan melunak dan sedikit banyak menyerah kepada para jenderal-diktator pemerintah-pemerintah Amerika Latin yang semaikn mengganas, sedangkan pendapat umum Amerika Serikat semakin keras menjurus ke sebentuk Perang Dingin baru, skeptik terhadap bantuan ke negara-negara dunia ketiga. Memang dari Dokumen Persiapan (Documento de consulta) yang dipersiapkan oleh Sekretaris Jenderal CELAM (Consejo Episcopal Latino-americano). Lopez Trujillo, yang terkenal konservatif, timbullah kesan yang menimbulkan kecurigaan bahwa, inti-persoalan konsensus Medellin 1968 dahulu secara halus akan dibelokkan kearah pembicaraan abstrak tentang “sumbangan umat Katolik di Amerika Latin menghadapi perubahan kebudayaan agraris ke kebudayaan industri” dan sebagainya, sehingga esensi solidaritas Gereja dengan kaum miskin dan tuna-hukum secara diam-diam akan dikesampingkan, sementara pandangan teologis dikembalikan lagi ke konsep tradisional Barat yang abstrak. Ada sebabnya.
Selama duabelas tahun pengalaman sejak 1968, di kalanagan sejumlah uskup (juga Vatikan) timbul kekhawatiran, bahwa keputusan-keputusan Medellin akan dijuruskan ke arah Marxisme, seperti yang pernah terungkap dalam kongres “Kaum Kristen untuk Sosialisme” di Santiago Chili, 1975, di bawah pimpinan teolog Gonzalo Aroyo. Selain itu, di kalangan kaum militer jelas dengan keras diusahakan, agar di Konperensi Puebla nanti, pengaruh Medellin sedapat mungkin harus dibelokkan ke kanan. Bahkan dari CIA pun telah bocor dalam harian Le Monde, Paris suatu instruksi kepada agen-agen CIA bahwa:
“Hanya sayap progresif dari Gerejalah yang boleh ditentang. Jangan Gereja sebagai institusi atau Uskup-uskup sebagai kelompok ……Haruslah bertubi-tubi diulang-ulang bahwa sayap progresif itu berkait dengan komunisme internasional.”
Memang Dokumen Persiapan Konperensi Puebla (1981) titik-tolak lain dari Medellin. Permasalahan tidak lagi diletakkan dalam konteks praktis realita, tetapi abstrak deduktif ditolakkan dari prinsip saran suatu “masyarakat baru” (Nr.212) yang harus berkebudayaan Kristen”. Namun dalam pasal Nr. 357 ternyata bahwa “kebudayaan Kristen” tersebut diidentifikasi dengan kebudayaan Barat, yang tumbuh dari iman kepercayaan kepada Wahyu Tuhan yang menuntut sejarah dari pihak satu berdasar pada Injil, dan di pihak lain pada Teknologi moderen (Nr. 206). Documento de consulta yang datang dari sekretaris jenderala CELAM Alfonso Lopez Trujillo dan penasehat ahlinya seorang Jesuit Belgia Roger Vekkemans, SJ itu sangatlah mengecewakan para pejuang di paguyuban-paguyuban basis, kaum teologi pemerdekaan dan para Uskup, sebab dalam konsepsi yang diusulkan itu, memang betul ditolak model pengembangan masyarakat ala kapitalisme liberal maupun model kolektivis-marxis, sehingga Gereja Kristen, akan tetapi dengan tafsiran teknologi moderen dan kebudayaan industri sebagai salah satu “sendi kebudayaan di hari depan”. Secara implisit Gereja Amerika Latin lalau dianjurkan menerima dan prinsipiil mengakui para pendekar dan protagonist teknologi modern itu, yakni transnational corporations yang melaratkan rakyat, sebagai pendukung kebudayaan Kristen. Untunglah Dokumen Persiapan yang abstrak, apalagi tidak benar itu, tidak diterima sebagai dokumen dasar konperensi Puebla.
Sesudah mendapat kritik dari pelbagai penjuru ahli teologi maupun paguyuban-paguyuban basis, telah disusun suatu pegangan baru , Documento de Trabajo (Dokumen Kerja), yang tidak lagi mengidealkan suatu “kebudayaan Kristen” yang abstrak.
Namun dalam praktek Konperensi Puebla itu dokumen-dokumen dan naskah-naskah pegangan lain tidak, sangat dihiraukan oleh para Uskup. Mereka lebih suka spontan dari hati nurani berbicara dengan semangat dan nada ke Nabi an, artinya Persaksian Kebenaran. Pertama, dengan suara jaya seratus tujuh puluh delapan lawan satu suara abstain, Konperensi Pueba Meksiko 1981 konsekuen meneguhkan segala yang sudah dimulai dan diperkembangkan sejak Medellin, memerdekakan massa miskin dari belenggu-belenggu sosio-ekonomi, politik dan kebudayaan. Kedua, di dalam soal interen Gereja sendiri, para Uskup ingin, agar semakin meninggalkan konsep Gereja “untuk rakyat”, jadi suatu Gereja yang terlalu klerikal dikuasai hirarki (yang tidak ditentang tetapi diletakan dalam proporsi sebenarnya). Sistem piramid sentralistik yang lama diubah ke susunan Gereja “dari” dan “bersama” umat rakyat. Maka sekali lagi diteguhkan praksis dan proses paguyuban-paguyuban basis yang mengulurkan tangan ke massa paling luas di Amerika Latin. “Permasalahan basis ini, demikian ketua CELAM, Kardinal Alosio Lorscheider: “lebih terletak pada soal mentalitas, daripada soal struktur.” Hal yang ketiga adalah pengisian arti pemerdekaan itu. Untuk menghindari salah paham istilah Teologi Pemerdekaan tidak dipakai dalam Dokumen Keputusan Konperensi Puebla, diganti dengan Teologi tentang Pemerdekaan. Jelas seperti yang dikatakan oleh Kardinal A. Lorscheider tadi, arah pokok (konperensi) bagiku ialah Teologia de ia Liberacion, (Teologi tentang Pemerdekaan). Artinya, kami berbicara tentang pemerdekaan “dari” dan pemerdekaan “ke” dari dosa dan segala akibatnya (ketidak-adilan dan sebagainya) dan ke arah kedekatan kita dengan Tuhan dan sesama manusia. Dari situ keluarlah kerukunan solider, dan begitulah kita datang pada “aksi.”
Kami menyebutnya Evangelisacion Liberadora, suatu pewartaan Kabar Gembira yang benar-benar memerdekakan manusia
Perihal ini kekuatan kita yang besar ada pada umat-umat kecil, pada basis-basis rakyat. Di sanalah orang mudah saling mengungkapkan diri dan tolong menolong. Kelompok-kelompok basis itu tidak hanya terbentuk atas dasar Katolik, tetapi Oekumenis (kerukunan antar umat-umat yang berlainan agama). Di samping anggota yang Katolik ada juga yang Protestan atau juga yang tidak bergama sama sekali. Titik tolak selalu masalah-masalah kongkrit. Bagi kami yang tinggal di sini, ada kebutuhan apa, dan apa yang kurang? Bagaimana orang dapat saling menolong, misalnya jika salah seorang terkena sakit? Sebab dengan begitu orang dapat merasa bahwa dia diakui sebagai pribadi. Inilah perbedaan dari susunan “bapakisme”. Tujuan kita ialah agar orang-orang kita menjadi kritis dan berjiwa merdeka. Hal yang keempat ialah masalah inkulturasi bagaimana mengingat kebudayaan kongkrit, Gereja dapat merakyat dan membudaya secara pribumi. Asas-asas Kristen berlaku di seluruh dunia, akan tetapi bagaimana “ungkapannya” dan “penghayatannya”? Bagaimana iman dapat diekspresikan secara autentik, jujur dan benar dalam kerangka, dan iklim kebudayaan Amerika Latin? “Di Medellin dibicarakan permasalahan “kemasyarakatan”, struktur ketidakadilan dan sebagainya. Itu semua tidak kami tinggalkan. Namun di Puebla ada sesuatu yang baru yang tumbuh, ialah pemecahan soal-soal inkulturasi.
Namun Teologi Pemerdekaan bukanlah (tidak akan) sesuatu yang telah bulat selesai, melainkan suatu proses yang selalu berdialektik dengan realitas yang serba berkembang. Ada tiga arus besar di dalamnya, ialah pertama, suatu teologi pemerdekaan yang merakyat berupa perjuangan perubahan radikal dari struktur-struktur kemasyarakatan (khususnya ekonomi dan politik pemebelengguan} berupa pendidikan pemerdekaan mental yang berwarna kritis, nasional dan berhaluan sosialisme Kristen. Kedua, suatu teologi pemerdekaan yang katerogial berorientasi Marxis, dengan inti gerakan “Kaum Kristen untuk Sosialisme.” Ketiga, suatu teologi pemerdekaan dalam arti penghayatan Injil secara konsekuen, antara lain dalam sikap prinsipiil non-violence.
Ketiga arus itu masih serba bergerak dan batas-batasnya sering kabur. Tetapi dalam satu dua hal mereka seia sekata, ialah perihal, menolak dalih “Keamanan Nasional” yang di dengungkan oleh para diktator militer untuk menyelubungi struktur-struktur ketidakadilan serta aksi-aksi teror mereka melawan rakyat yang sering memberontak bela diri. Semua sadar, betapa jahat kapitalisme liberal dengan perusahan-perusahan transnasional sebagai intinya, yang mengurung dan menghisap negeri mereka. Gereja dan umat Katolik dalam struktur ketidakadilan secara prinsipiil tidak boleh bersikap netral, dan bahwa sikap beriman tidak bisa lepas dari sikap politis. Bagaimana sikap politis itu akan diungkapkan, terserah pada sikon dan konteks. Tetapi umumnya diakui bahwa, analisa dan metode praksis yang bersandarkan atas beberapa unsur ajaran Karl Marx dapat berguna. Di Amerika Latin (jadi dalam konteks kongkrit), seorang Katolik “dapat” dan “boleh” dengan beberapa prasyarat, mengakui dan menggunakan alat analisa serta metode Marxis tanpa menjadi seorang atheis. Namun diakui juga, bahwa analisa dan metode Marxs bukan satu-satunya jalan yang dapat dilalui proses pemerdekaan.Teologi pemerdekaan memang tumbuh dalam alam rakyat yang miskin, bodoh dan menderita dan beriklim lain sama sekali dari teologi “Barat” yang banyak mengandung unsur-unsur tak kentara dari kebudayaan borjuis/kapitalis liberal. Pemerdekaan politik dan ekonomi bukanlah tujuan terakhir dari rakyat yang menderita, melainkan hanya dimensi-dimensi bagian saja, namun bersifat azasi bagi kemerdekaan manusia utuh yang harus dibebaskan dari dosa dalam segala akibat dan bentuknya. Demikianlah rakyat harus menuju ke suatu status atau lebih tepat, dinamika kemerdekaan yang dekat dengan Tuhan serta melaksanakan cinta kasih kepada sesama manusia, tanpa memandang ras, agama maupun kedudukan. Kemerdekaan dalam arti sejati baik mendalam/immanen maupun transenden pertama-tama perlu dipraktekkan dahulu sebelum orang berteori.
Bagaimana di Asia?
Di Asia Teologi Pemerdekaan sangat berpengaruh. Di Filipina yang situasinya mirip Amerika Latin dengan mayoritas Katolik, berwarisan kebudayaan agama Katolik-Spanyol dan keadaan ekonomi sosial serta politik yang dikuasai tuan-tuan tanah dan para komprador. Begitu juga di Korea Selatan yang struktur industrialisasinya menanjak seperti di Brasil, namun di bawah tangan besi. Tetapi di kedua negara itu, seperti di Amerika Latin, teologi pemerdekaan di mungkinkan berkat sikap profetic yang tegak prinsipiil dari dua pemimpin berwibawa, Gereja Katolik di Filipina, Kardinal Sin dan di Korea Selatan, Kardinal Kim, yang kedua-duanya tak gentar bersikap kenabian dalam hal melakukan pembelaan bagi keadilan demi kaum tertindas.
Di Indonesia Teologi Pemerdekaan hampir tidak dikenal oleh para imamnya, apalagi oleh umat. MAWI (sekarang KWI) adalah badan pimpinan dari suatu Gereja yang merupakan minoritas di Indonesia, sedangkan para anggotanya kebanyakan terdidik dalam lingkup pengaruh teologi Barat, namun yang dipihak lain sudah banyak diresapi unsur-unsur kebudayaan pribumi yang terkenal sebagai soft nation, dengan segala akibatnya, positif maupun negatif.
Umumnya Gereja Katolik di Indonesia baru berjasa kepada pihak yang miskin dan tertindas dalam bidang caritas, kasih sayang yang menghadiahkan dana dan jasa. Belum pada dimensi struktural. Perkecualian di sana-sini sporadis tentu saja ada, tetapi seperti yang (barangkali keterlaluan tetapi karakteristik) dikatakan oleh seorang wartawan suatu harian di ibu kota: “Gereja Katolik di Indonesia masih Gereja Dang-Dut.”
—————————————————————–
Sumber : Majalah PRISMA, Tahun XI No. 9 September 1982