Tag: Semana santa

  • Cegah Corona, Haruskah Semana Santa Ditunda?

    Cegah Corona, Haruskah Semana Santa Ditunda?

    Oleh Benjamin Tukan

    Sebagian orang masih berpendapat demikian : Covid 19 atau virus korona masih rumor dan korban pun masih belum banyak; media hanya menebar kepanikan; pemerintah dinilai berlebihan.

    Masih dalam pandangan semacam ini, orang pun mengatakan: buktinya kami masih aman-aman saja; korona terjadi hanya di kota besar dan tidak mungkin sampai di kampung yang jauh dari keramaian. Di kampung nun jauh dari kota, orang masih bisa mengenal satu dengan yang lain, mengetahu riwayat mereka dan siapa saja yang datang dan pergi dalam beberapa waktu belakangan ini.

    Negara Italia barangkali contoh negara dan masyarakat yang menganggap  enteng dengan penyebaran virus ini. Awalnya masyarakat di negara itu menanggapi korona dengan biasa-biasa saja, enteng-enteng saja. Tapi apa yang terjadi, Italia menjadi Negara dengan jumlah kematian tertinggi. Hingga Jumat (20/3) malam sudah 3.405 orang yang meninggal. (Kompas, 21/3/2020).

    Berbeda dengan Italia, Presiden Jokowi selalu menunjukkan keseriusan dalam menanggapi penyebaran corona ini. Beberapa waktu lalu, Senin (16/3/2020) Presiden kembali menegaskan untuk mengurangi mobilitas orang dari satu tempat ke tempat lain, menjaga jarak dan mengurangi kerumunan orang yang membawa risiko lebih besar pada penyebaran Covid-19. Kebjiakan Jokowi diikuti seluruh pemerintahan daerah.

    Bagaimana dengan perayaan Semana Santa (Pekan Suci jelang Paskah) di Larantuka? Wajar bila orang bertanya demikian lantaran perayaan ini sudah menjadi tradisi berabad silam dan mengundang perhatian orang datang ke Larantuka setiap tahun. 

    Perayaan Semana Santa pun yang dijalankan masyarakat selalu dibingkai dalam upaya melindungi diri dari segala penyakit dan marah bahaya.  Lanjutan pertanyaannya, akankah semana santa dilanjutkan, ditunda atau dibuat sederhana dalam situasi semacam ini?

    ***  

    Semana santa berhubungan dengan patung-patung yang dianggap keramat berhubungan pula dengan prosesi Jumat Agung yang selalu diikuti ribuan umat.  

    Bukan berlebihan orang meyakini bahwa semana santa adalah ritus yang dilakukan umat untuk mendekatkan diri pada sang khalik dalam menyampaikan permohonan agar terbebas dari segala marah bahaya dan penderitaan yang selalu mendera.

    Saat orang Portugis meninggalkan Malaka dan Makasar, ketika jatuhnya benteng Portugis di Malaka, sekelompok umat katolik panik dan tak tahu mau kemana. Dalam kepanikan itu, hanya satu-satunya yang membuat mereka memiliki harapan adalah kembali ke patung-patung yang dibawa dari negeri asalnya dan  melalui sarana itu mereka berdoa. 

    Ketika mereka harus pergi meninggalkan Malaka dan Makasar, sebagaimana mereka pernah mengarungi lautan dari negeri asalnya  Portugis, di lautan lepas serba tidak pasti mereka hanya memiliki kepastian bahwa melalui patung-patung yang dibawanya itu mereka akan tiba ke suatu tempat yang lebih baik.   

    Saat tiba di Larantuka, pengalaman itu kembali diceritakan termasuk kepada penduduk lokal. Ceritra itu  kemudian dipercaya dan mulai diwariskan. Di jaman Belanda, Jepang dengan segala pertikaian dan kepanikan, mereka hanya tahu bahwa mereka memiliki patung-patung dan melalui  sarana  itu mereka bisa kembali berlindung dan meminta belas kasih dari yang kudus.

    Begitu banyak soal, dari bencana alam yang memporakporandakan negeri, kasus-kasus kelaparan hingga konflik dalam keluarga,  kesusahan yang dialami anak  di perantauan, sakit yang tak sembuh, semuanya selalu membawa mereka datang ke kapel-kapel tempat patung-patung itu diletakan termasuk mengikuti prosesi-prosesi yang sudah menjadi tradisi.

    Sekarang ada Korona. Korona itu menakutkan dan membawa kegelisahan dan rasa panik dunia. Namun, di Larantuka, belum terdengar sirene ambulans yang membawa jenazah yang mati akibat korona. Lonceng gereja tanda ada umat yang meninggal memang selalu saja berbunyi, tapi belum ada yang mengatakan “yang meninggal”itu karena korona.

    Sulit menyakini bahaya korona kalau sirene ambulans dan lonceng gereja belum berbunyi. Tapi satu yang pasti dan tak bisa bisa dihindarkan adalah ajakan untuk berjaga-jaga. Berjaga-jagalah,karena korona sudah dekat.

    Dalam serba tanda tanya dan keraguan ajakan untuk menjaga diri agar tetap sehat bisa dapat diterima, tetapi ajakan untuk tidak berkumpul kembali pada sang kudus merupakan suatu yang masih perlu  direnungkan. Jika melarang mereka berjumpa dengan yang kudus, bukankah ketika sirene ambulans pembawa pasien covid 19 berbunyi, yang disalahkan adalah mereka yang melarang untuk berkunjung secara bersama-sama  kepada patung-patung yang menjadi sarana menuju  kekudusan itu?

    ***

    Corona terus menyebar. Salah satu upaya membatasi virus korona ini adalah menghindari diri dari acara kumpul-kumpul. Kebijakan di sejumlah negara menutup wilayahnya bahkan membatasi  dan mengawasi arus perpindahan orang. Tapi ini pun belum menjelaskan secara baik hubungan manusia dengan Tuhan dalam perayaan keagamaan. “Di pintu Mu, aku mengetuk, aku tak mungkin berpaling,” demikian Charil Anwar dalam puisinya.

    Tanpa harus menjelaskan aspek teologis, Vatikan dan negara Arab Saudi, pusat –pusat keagamaan dunia menjadi contoh yang baik untuk memudahkan orang menerima penjelasan soal-soal ini. Arab Saudi menutup perbatasan, hingga memenjarakan mereka yang nekat berkumpul sekalipun dengan alasan shalat jemaah di masjid.

    Vatikan pun melakukan pembatasan dan dalam hubungan Ibadah “Pekan Suci” dan Paskah yang dipimpin oleh Paus Fransiskus dilakukan tanpa kehadiran jemaat demi mencegah penyebaran jenis baru virus corona.

    Di Jakarta dan beberapa tempat lain di Indonesia, shalat jemaah di masjid mulai dibatasi, demikian di beberapa gereja  sudah membatasi umat untuk datang ke gereja mengadakan misa mingguan.   

    ***

    Kembali ke Semana Santa. Perayaan yang tinggal beberapa minggu ini selalu dikuatirkan tetap berjalan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Surat Bupati Flores Timur yang dikeluarkan 17 Maret 2020 tidak menyebutkan secara jelas apakah perayaan semana santa ditunda atau tidak. Bupati tegas menyampaikan prosedur pembatasan penyebaran korona, namun terkait Semana Santa, Bupati hanya menyebutkan : membatasi orang yang datang ke semana santa.

    Surat itu kalau dibaca bisa juga berhubungan dengan semana santa, bisa juga tidak. Bupati sepertinya tidak  mengurusi detail semana santa karena dari perayaan semana santa sebelumnya, pemerintah memang dibatasi untuk  mengurusi Semana Santa. Raja Larantuka, Gereja lokal adalah pihak-pihak yang secara langsung terlibat mengatur semana santa.

    Di hari dan tanggal yang sama Selasa, 17 Maret 2020 dengan surat edaran Bupati Flores Timur, Raja Larantuka Don Tinus melalui media EkoraNTT mengatakan semana santa tetap dilakukan. Kutipan pernyataan : “Berkaitan dengan Semana Santa, kami suku pemilik Semana Santa dan pihak Gereja mau supaya Devosi Semana Santa ini tetap dilakukan. Tanpa umat peziarah dari luar daerah pun tetap, kami lakukan sebab dari dulu tradisi ini tetap kami laksanakan,” jelas Don Tinus.

    Beberapa hari kemudian, diselenggarakan rapat di paroki katedral. Beberapa info hasil dari rapat itu segera menyebar.  Rapat mempertegas Surat Edaran Bupati dan penyelenggaraan semana santa hanya untuk umat  paroki katedral Larantuka. Ini artinya perayaan semana santa dibuat sederhana dan melarang semua keluarga menerima tamu siapa saja yang datang dri luar larantuka. Sementara untuk ritus cium Tuan Ma dan Tuan Ana akan dibagi per lingkungan dan akan diatur jarak 1  meter per orang dan tidak masuk kapela tapi hanya menunduk dan menghormati di depan pintu

    ***

    Jelas semana santa tidak ditunda, tapi penyelenggaran disesuaikan dengan kondisi, terutama dalam upaya membatasi penyebaran virus corona. Penundaan itu tidak mungkin. Semana santa tidak bisa digeser ke bulan lain juga ke tahun depan,karena bulan lain dan tahun depan punya agenda perayaannya sendiri. Perayaan semana santa tahun depan adalah agenda tahun depan, bukan agenda tahun ini yang dilaksanakan tahun depan.

    Pilihannya hanya ditiadakan atau dilakukan sesederhana mungkin. Sampai di sini, tidak ada yang mesti diperdebatkan apalagi bersikukuh untuk tetap menyelenggarakan semana santa seperti dalam kondisi normal, atau meminta untuk tidak mengubah dengan alasan sudah mentradisi.

    Perubahan penyelenggaraan semana santa merupakan hal yang biasa-biasa saja. Bahkan meniadakan semana santa untuk tahun ini juga hal yang biasa saja asal dengan pertimbangan yang bisa diterima dan diputuskan oleh otoritas seperti Gereja dan kerajaan. Jangankan dalam babakan sejarah semana santa telah mengalami perubahan yang radikal, setiap tahun saja selalu terjadi perubahan. Siapa pun tahu tentang semana santa tahu bahwa ritus ini terus berkembang menyesuaikan dengan perubahan zaman. Umat tahu mana yang utama dan mana yang sekedar tambahan.

    Hal yang tidak berubah adalah umat tetap kembali kepada yang kudus melalui patung-patung dan perayaaan  keagamaan dalam keadaan apapun apalagi dalam saat mengalami kekalutan hidup. “Tiap hari tetap berdoa, dalam tori dalam kapela,” demikian hidup yang dilalui umat katolik setempat.

    Masyarakat Larantuka, umat keuskupan Larantuka yang meliputi Flores Timur daratan, Adonara, Solor dan Lembata bukanlah masyarakat tertutup, yang menutup  telinga  dari perkembangan di sekitarnya. Apalagi dunia kini sudah menuju pada masyarakat baru yang mengubah secara radikal watak individu ekonomi (ingat diri) manusia menjadi mahkluk sosial yang berbagi (ingat orang lain).

    Dari masyarakat berbagi semacam ini, orang mulai sadar penderitaan yang terjadi di belahan wilayah lain adalah juga menjadi penderitaan orang-orang di wilayah sini. Begitupun manusia semakin dihargai,karena itu tidak penting berapa banyak jumlah kematian, tapi kematian itu sendiri adalah suatu permasalahan bersama. Inilah sebabnya mengapa orang perlu menjaga dirinya untuk tidak mengorbankan orang lain.

    Di tengah korona yang membatasi pertemuan dan keramaian, semana santa dan kehidupan iman umat diajak untuk kembali ke asali. Seperti yang terjadi dengan berbagai persoalan yang sering melilit masyarakat, orang kembali pada yang kudus , meletakan kembali patung-patung itu di rumah masing-masing, datang sendiri ke kapel dan tetap berdoa termasuk dalam masa semana santa.

    Inilah solidaritas yang dibutuhkan dari umat lokal  untuk tetap berdoa tapi mematuhi arahan yang telah diberikan untuk tetap membatasi penyebaran corona dan menyadari akan ancaman korona. Tak perlu beramai-ramai kalau sekedar pertunjukan . Hanya kembali pada patung di rumah, kontas di tangan, orang Larantuka dapat tetap meyakini “torang mati di kaki Tuhan” atau “sampai mati tetap bersama Tuhan”.

  • Semana Santa,  Ajakan Pencegahan Corona Jangan Bikin Masyarakat Panik

    Semana Santa, Ajakan Pencegahan Corona Jangan Bikin Masyarakat Panik

    BERANDANEGERI.COM,- Koordinator MBSS (Mari Bale Semana Santa), Benty Aliandu mengatakan menyebarnya virus corona merupakan ujian buat masyarakat dan Pemerintah Flores Timur menghadapi perayaaan besar keagamaan Semana Santa di Larantuka- Flores Timur April mendatang.

    Semana santa yang merupakan perayaan keagamaan umat Katolik Larantuka yang mentradisi berabad silam, kini menjadi tujuan tetap ribuan pesiarah seantero dunia untuk berziarah ke Larantuka jelang perayaan Paskah.

    “Di satu sisi kita melaksanakan Semana Santa sudah menjadi tradisi masyarakat atau umat Katolik Larantuka, namun di sisi lain kita juga harus merespon aturan mengenai pencegahan virus ini,”kata Benty Aliandu yang menghubungi berandanegeri.com, Jumat (13/3).

    Benty mengatakan, upaya pencegahan virus korana ini sudah menjadi masalah nasional bahkan dunia, yang berarti semua orang sudah tahu dan bersedia menjaga dirinya, sehingga hal ini pun sudah tentu menjadi perhatian masyarakat Larantuka dan para peziarah yang datang.

    ” Kita tidak perlu panik dengan menyebarkan informasi kekuatiran karena itu akan membuat perayaan menjadi tidak lagi bermakna,”ujar Benty.

    Menurut Benty, hal yang terpenting adalah memberi kepercayaan kepada masyarakat dan semua pihak yang akan mengikuti semana santa untuk menjaga diri sendiri dan melaksanakan tugasnya masing-masing secara maksimal dalam hal pencegahan virus corona dan demi suksesnya perayaan Semana Santa.

    “Semua harus sudah bisa menerima kondisi ini. Coba bayangkan jika semua datang dalam ketakutan dan kekuatiran dan para petugas pun overacting mengawasi umat dan peziarah,maka perayaan ini menjadi tidak bermakna,” ujar Benty.

    Benty mengatakan standar prosudur pengamanan corona dilaksanakan sebagaimana mestinya dan ini harus diikuti semua pihak baik pemerintah, gereja dan umat yang terlibat menyelenggarakan.

    Benty menyayangkan sejumlah berita yang mulai mengkaitkan Semana Santa dengan corona, yang awalnya bertujuan menyampaikan saran dan ajakan untuk antisipasi, tapi malahan berdampak memberi ketakutan dan kekuatiran.

    “Sekali lagi kita harus percaya masyarakat dan pihak-pihak penyelenggara. Corona itu bukan hanya masalah Larantuka, masalah negara ini dan masalah dunia. Jangan menakut-nakutkan orang. Mari bale semana santa, mari datang ke Larantuka,” ucap Benty.  (Che)

  • Belanda di Larantuka : Perubahan yang Terlampau Cepat

    Belanda di Larantuka : Perubahan yang Terlampau Cepat

    Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020 hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Tulisan ini merupakan artikel kesembilan. Semoga berguna.

    Penulis : Benjamin Tukan

    Kedatangan Belanda mengubah segalanya. Mengubah sesuatu yang dibangun selama masa Portugis, mengubah pola perdagangan, tradisi dan mempraktikan cara-cara baru membangun masyarakat.

    Kata kunci untuk mendapatkan gambaran dari sepak terjang Belanda di Larantuka dan sekitarnya adalah politik sentralisme khas Belanda. Suatu politik baru yang mulai diperkenalkan kepada kerajaan-kerajaan lokal yang sebelumnya sangat otonom.

    Kenyataan dihadapi tidaklah mudah. Sentralisme yang di dalamnya mengandung ambisi untuk mempersatukan bukan hanya soal kompromi di tingkat penguasa dan pemimpin lokal, tapi juga masalah integrasi sosial di antara penduduk yang sebelumnya sama sekali tidak memiliki perasaan untuk bersatu.

    Tidak mudah bagi Belanda menerapkan politik sentralisme yang memperkuat penguasaan teritorial. Politik devide et impera yang merupakan “senjata” ampuh melemahkan kekuatan-kekuatan lokal seperti yang dipraktikan di seantero nusantara mau tidak mau dipraktikan disini. Belanda harus bersekutu dengan kekuatan lokal untuk menghadapi kekuatan lokal yang lain, termasuk bersekutu dengan kekuatan lokal untuk menghadapi sisa-sisa kekuatan Portugis di wilayah ini.

    Di masa awal Belanda menancapkan pengaruhnya di wilayah ini, untuk politik dan pertahanan, ketegangan dan pertikaian memang sering terjadi di antara penduduk lokal juga antara penduduk lokal dengan Belanda. Sepertinya semua sedang mencari jalan terbaik untuk berhadapan dengan sistem baru.

    Di tengah pergolakan menuju penyatuan itu, politik etis tengah berkembang di pusat pemerintahan Belanda di Batavia juga di Parlemen Belanda. Mau tidak mau berpengaruh juga di wilayah ini. Belanda harus menerapkan politik untuk membangun masyarakat pribumi.

    Dalam kerangka ini dua hal yang mau dikemukakan dari tulisan ini adalah politik penyatuan dalam kerangka sentralime dan politik etis dalam mendorong perubahan di tengah masyarakat dimana pihak gereja dilibatkan.

    ***

    Belanda menggantikan Portugis. Pertikaian demi pertikaian yang masih terjadi di wilayah ini menghendaki Belanda harus mencari jalan keluar yang lebih baik. Pada 28 Juni 1861, Belanda mengikat kontrak dengan Kerajaan Larantuka dan para pembesar di wilayah Solor. Sebelumnya, Belanda dan Portugis pada 20 April 1859 sudah melakukan perjanjian untuk menyerahkan wilayah ini ke tangan Belanda dari Portugis. Kontrak 28 Juni 1861 menjadikan Kerajaan Larantuka menjadi bagian dari pemerintahan Belanda, sekalipun tidak memiliki kekuasaan langsung. Raja masih memiliki kekuasaan.

    Tapi bagaimana model kekuasaan itu diterapkan? Sudah bisa dibayangkan bahwa tidak mudah Raja Larantuka memiliki kekuasaan yang otonom di tengah bayang-bayang kekuasaan Belanda. Belanda boleh memiliki taktik dan strategi, tapi Raja Larantuka pun harus punya taktik dan strateginya sendiri.

    Apa yang terjadi? Raja Larantuka juga ketika itu menerapkan strategi politik “sekutu dan seteru”(Lihat : Disertasi Didik Pradjoko). Konsekuensinya, suatu waktu Raja bisa bersekutu dengan pihak gereja untuk melawan pemerintah Belanda, di waktu yang lain Raja bisa bersekutu dengan pemerintahan atau masyarakat lokal untuk menghadapi pihak gereja. Berputar-putar terus di titik yang sama hanya untuk mempertahankan kekuasaan.

    Di tengah pergualatan demi pergulatan untuk menemukan pola kekuasaan yang pas untuk Kerajaan Larantuka, politik kolonial terus menancapkan pengaruhnya di wilayah ini. Di pusat kerajaan Larantuka mulai mucul pertikaian yang semakin melemahkan pengaruh raja. Demikian juga Raja mulai berhadapan dengan aturan baru pemerintahan yang berarti raja pun dapat ditindak.

    Perlahan-lahan, struktur kerajaan yang menempatkan pemimpin-pemimpin lokal di bawah kerajaan Larantuka seperti kekakangan mulai dikoptasi dalam kepentingan Belanda. Kekakangan mulai berubah menjadi hamente yang mempengaruhi seluruh dinamika kekuasaan Belanda di sini pada waktu itu.

    Politik penyatuan terus terjadi. Mulai bergabungnya beberapa kerajaan kecil dalam suatu lanskap kerajaan Larantuka, yang nota bene di bawah pemerintahan Belanda yang berada di Larantuka. Hubungan-hubungan baru dengan Kerajaan Adonara pun mulai menunjukkan arah yang jelas untuk sebuah proses penyatuan pemerintahan Belanda di kemudian hari. Belanda membuat sebuah lanskap yang meliputi Flores daratan bagian Timur, Adonara, Solor, Lembata.

    Dalam pemerintahan, Belanda mulai memperkenalkan cara-cara baru mengadministrasikan kekuasaan kerajaan dan adat yang sebelumnya otonom. Maka di sini mulai ada praktik-praktik pemungutan pajak, hingga persoalan gaji untuk pejabat-pejabat di lingkungan Hamente. Kunjungan wakil pemeritah Belanda ke pelosok-pelosok desa mulai memberikan laporan pada kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat. Demikian pertikaian-pertikaian di antara penduduk lokal mulai diambil alih oleh Belanda kerangka menjaga keamanan wilayah.

    Oleh pemerintahan Belanda, perhatian mulai diberikan kepada penataan pemukiman penduduk. Di sini mulai ada cerita tentang “kampung lama” dan “kampung baru” yang terjadi hampir merata di Flores daratan, Adonara, Solor dan Lembata. Masyarakat pun mulai belajar hidup dalam kampung. Soalnya sederhana, bahwa kampung atau Lewo dalam bahasa lokal, tidak seperti yang dimaksudkan Belanda atau seperti yang dialami saat ini. Lewo dalam masyarakat setempat ketika itu lebih menyerupai rumah besar (lango belen) yang berada dekat dengan kebun dan tempat penyembahan (Korke dan Nubanara). Pemukiman jenis ini umumnya juga mempertimbangkan sisi pertahanan, sehingga umumnya berada di atas ketinggian.

    Berhubungan dengan penataan kampung, mulai diterapkan kebijakan untuk memindahkan penduduk dari gunung ke daerah pesisir pantai. Beberapa wilayah kampung di pantai kemudian dipindahkan kembali ke gunung karena pertimbangan wabah malaria yang menyerang daerah pantai. Perpindahan yang terjadi juga dikarenakan kebijakan untuk mengurangi perang antar penduduk.

    Pembangunan pemukiman baru, membawa konsekuensi lain tentang pembangunan bentuk-bentuk rumah. Mulai ada pembangunan rumah dengan fondasi, atau juga berlantai batu. Baik pemukiman dan bentuk rumah yang mulai ditata, tidak lain menunjukkan arti penting kekuasaan itu yang mulai masuk dalam kehidupan masyarakat sampai dalam kehidupan rumah tangga.

    ***

    Lain pemerintahan, lain juga Gereja yang diwakili para misionaris. Kedatangan Belanda juga disertai dengan masuknya misi katolik. Namun dalam hal politik etis misionaris juga menerima mandat dari pemerintah Belanda untuk mengelola pendidikan sekolah dasar.

    Salah satu Kapela di Larantukan (Foto : Dok FBC)

    Di wilayah pelayanan gereja, kehadiran misionaris Belanda, awalnya begitu menegangkan, tapi lama kelamaan mereka dapat diterima. Menegangkan karena dalam masa yang begitu lama umat tidak dilayani oleh misionaris, tapi kini harus kembali dengan misionaris yang nota bene segala bentuk peribadatan, harus kembali mendengar apa kata misionaris.

    Hal yang menegangkan itu termasuk hubungan gereja dan Raja Larantuka kemudian bisa diatasi. Misionaris yang baru datang ini umumnya lebih bersahaja dan mau menyelami kehidupan masyarakat yang dilayani. Perselisihan awal pun bisa diatasi, dan tidak berlebihan di kemudian hari misionaris-misionaris ini menjadi panutan masyarakat.

    Misionaris mulai menata perayaan-perayaaan keagamaaan termasuk semana santa dan prosesi Jumat Agung ke arah peribadatan yang memusatkan pada ibadah gereja. Rumah-rumah adat berubah menjadi kapela-kapela seiring dengan perkembangan umat. Mulai ada kunjungan tetap ke wilayah-wilayah di luar kota Larantuka, dan mulai ada pembangunan paroki dan stasi. Begitu pun peran raja dalam bidang keagamaan, termasuk konfreria juga mendapat perhatian yang baik.

    Perkembangan gereja yang dimotori para misionaris ini perlahan mulai memberi perhatian pada bidang pendidikan, dan kesehatan. Pada 3 Desember 1862 misionaris mendirikan sekolah pertama di Larantuka. Kedatangan Pastor Gregorius Mets, Sj ke Larantuka 17 Maret 1863 secara khusus memberi perhatian untuk meletakan dasar-dasar pengelolaan sekolah.

    Pendidikan mulai diperkenalkan, belajar pun mulai teratur. Tidak hanya di sekolah, di rumah pun mulai terbiasa dengan kebiasaan belajar. Anak-anak pribumi mulai dikumpulkan belajar dan dikirim untuk belajar di sekolah formal. Sementara bahasa Melayu dipaksa untuk dipergunakan dalam pendidikan dan ibadah.

    Tidak saja lembaga pendidikan yang dibangun dekat dengan masyarakat, anak-anak ini pun mulai diperkenalkan dengan sekolah-sekolah favorit yang ada di luar bahkan hingga Eropa. Tidak berlebihan jika orientasi pendidikan adalah keluar dan titel pendidikan memberi label khusus akan hadirnya kelas baru dalam masyarakat.

    Berhadapan dengan kebutuhan masyarakat, pendidikan yang diterapkan di Larantuka,mulai menyentuh bidang pertanian, pertukangan juga sekolah putri untuk keterampilan rumah tangga dan perkantoran. Perkebunan misi, misalnya perkebunan kopi mulai dibangun untuk memperkenalkan cara-cara baru pertanian dan perkebunan ke tengan masyarakat. Demikian pertukangan dengan dibukanya bengkel-bengkel misi dan pembangunan sekolah dan gereja yang dilakukan misi.

    Berbagai kerajinan tangan mulai diperkenalkan. Salah satunya yang dilakukan Bruder Henricus Adan di halaman bengkel. Di tempat ini dilatih pembuatan kerajinan pahat khusus dari kayu, seperti patung-patung para orang kudus, serta altar yang dikirim ke berbagai tempat misi di Indonesia. Selain memimpin bengkel kayu, Bruder Adan juga adalah seorang musisi berbakat yang memimpin sebuah kelompok musik tiup yang dimainkan para siswa di sekolah Larantuka. Dalam tahun 1874 di Larantuka sudah ada tiga guru, Bruder Biggelaar, Guru musik tamatan kursus musik di surabaya Torco Fernandez dan Petrus Suplanit asal Ambon.

    Di kemudian hari, dua bruder misionaris SVD berkebangsaan Belanda dan Jerman, Br. Conradus, SVD dan Br. Stanislaus, SVD mulai merintis sebuah sekolah pertukangan bagian kayu dan besi di Keuskupan Larantuka dengan nama Ambachschool yang selanjutnya dikenal dengan nama Pertukangan St. Yusuf Larantuka.

    Sejalan dengan tugas pokok yakni mentrampilkan para karyawan dalam bidang bangunan besi dan kayu, kedua bruder tersebut membina juga bakat mereka dibidang musik khususnya Musik Trompet yang disebut Musik Fanfare melanjutkan tradisi para pendahulunya.

    Pada 29 April 1879 datang suster Fransiskanes ke Larantuka dan dibulan Mei 1879 mereka mendirikan sekolah Putri di Balela.  Kepada remaja-remaja putri, Suster Ambrosia, Sr Ernestine, Sr Pelagia, Sr Fransisca, Sr Cunegonde, dan Sr Marceline yang merupakan suster-suster pertama yang datang ke Larantuka, mengajarkan membaca, berhitung, katakismus.

    Sementara sore hari diajarkan keterampilan berkebun, memintal benang, mewarnai benang, menenun kain dan menjahit pakaian. Mereka juga diajarkan kesehatan tubuh, kebersihan rumah dan halaman, dan berbagai keterampilan rumah tangga, praktek agama dan tata krama.

    Dalam bidang kesehatan, juga mulai diperkenalkan pengobatan-pengobatan gratis yang tidak membedakan suku agama. Pada tahun 1869 mereka mengirim Michael Lobato ke Batavia untuk belajar di sekolah Dokter Jawa selama 2 tahun dan kembali ke Larantuka.

    Memang misonaris SVD yang menggantikan Serikat Yesus tidak memiliki relasi yang erat dengan raja Larantuka, mereka jauh lebih banyak bergerak di bidang pendidikan. Piet Noyen bisa dipandang sebagai seorang arsitek besar, yang merancang strategi untuk misi ketika itu. Ia menjadikan Ende sebagai pusat misi baru dan menghendaki sebuah misi yang terpusat bagi kaum muda yang didik dalam sekolah misi.

    Kehadiran para misonaris turut pula berperan dalam membangun dan menata kota. Meski di bawah kaki gunung, mereka mampu menata kota untuk menjadi lebih apik. Di tempat tersebut, ada lapangan sepak bola , toko, dll.

    Sebuah sumur air lengkap dengan instalasi pipa yang memompa air minum ke rumah para pejabat pemerintahan Belanda di kaki gunung ile mandiri. Satu pembangkit listrik tenaga diesel juga dibangun dan listrik pun mengaliri pelabuhan, kawasan pergudangan, dan semua permukiman di Kota Larantuka.

    Infrastruktur penunjang pulau itu juga dibangun. Beberapa kapal ditangkan untuk melayani rute antar pulau. Pelabuhan-pelabuhan kecil dibangun lebih permanen. Selain untuk memudahkan pelayanan gereja, pelabuhan-pelabuhan kecil ini juga sebagai sarana menjemput anak-anak yang hendak bersekolah ke luar.

    Penghargaan akan pentingnya pendidikan, dan kebutuhan untuk mengisi tenaga administrasi pemerintahan dan gereja, menyebabkan penduduk daerah ini mulai memahami arti penting sekolah. Dengan pembukaan beberapa model pendidikan baru termasuk seminari, orang-orang semakin mengenal akan pendidikan diluar.

    Suatu cara baru kehidupan mulai diperkenalkan. Pentingnya pendidikan formal dengan melatih kemampuan dasar tentu saja, tapi lebih dari itu adalah kerja keras, ketekunan dan kesetiaan adalah cara ampuh yang diperkenalkan agar masyarakat sanggup menghadapi perubahan.

    Etos kerja baru kemudian menjadi semacam rujukan tentang manusia yang ideal. Orang berbangga kalau anaknya bisa bersekolah ke pendidikan yang lebih tinggi, bahkan menempuh pendidikan di Eropa. Perlahan masyarakat wilayah ini dikenal sebagai masyarakat yang menghargai arti penting pendidikan, berpikir rasional dan sistematis, berbahasa Indonesia yang baik, pekerja keras, memiliki hati yang kuat dan sanggup hidup dalam masyarakat yang beragam.

    Dasar-dasar pendidikan sudah diperkenalkan , demikian dasar-dasar adminsitrasi pemerintahan. Memang banyak postif yang belum tersentuh lagi dari perkembangan yang dibawa Belanda ini. Itu pula sebabnya, menghadapi kebutuhan saat ini yang membutuhkan sikap dan nilai dasar yang mumpuni, orang bisa berujar : Belanda di Larantuka: perubahan terlampau cepat”. Barangkali juga terlalu singkat (*)

  • Belanda Tiba di Larantuka : “Menunggu dalam Harap-harap Cemas”

    Belanda Tiba di Larantuka : “Menunggu dalam Harap-harap Cemas”

    Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020  hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel Kedelapan. Semoga berguna.

    Penulis : Benjamin Tukan

    Lain Portugis, lain Belanda. Berita jatuhnya Benteng Malaka ke tangan Belanda tahun 1641 seakan membawa kecemasan bahwa sebentar lagi kepulauan Solor pun bakal dikuasai oleh Belanda. Apa yang akan diperbuat Belanda di kepulauan Solor? Tak ada yang dapat memastikan. Semua serba spekulasi.

    Namun, kedatangan para pengungsi dari Malaka kemudian dari Makasar akibat kekalahan perang Portugis sepertinya mulai memberi kekuatiran di tengah masyarakat.

    Mendahului kedatangan pengaruh politik Belanda di kepulauan Solor, dari segi ekonomi, pelayaran-pelayaran perdagangan nusantara kala itu perlahan mulai dikuasai Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). VOC yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 adalah perusahaan Belanda yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia.

    Di Indonesia VOC memiliki sebutan populer Kompeni atau Kumpeni. Istilah ini diambil dari kata compagnie dalam nama lengkap perusahaan tersebut dalam bahasa Belanda. VOC yang menjadi kampiun perdagangan saat itu, sangat berambisi menguasai sentra-sentra perdagangan.

    Hingga kedatangan pengaruh politik Belanda, tidak ada pengetahuan sedikit pun tentang kompeni ini. Namun kenyataan yang terjadi, kekuasaan Portugis mulai terdesak. Blokade di jalur perdagagan yang dilakukan VOC, mulai menuai protes dan perang pun tak terhindarkan terjadi di hampir seluruh nusantara.

    Pelabuhan Larantuka

    Sebagaimana yang terjadi di kepulauan Solor, pada 27 Januari 1613 sebuah armada Belanda datang ke Solor dan tiga bulan kemudian tepatnya 18 April 1613 benteng Solor pun jatuh ke tangan Belanda.

    Rupanya prospek perekonomian di kepuluaan Solor terlalu diabaikan oleh Belanda. Belanda pun anggan menghabiskan waktu menghadapi pertikaian yang sering terjadi di masyarakat lokal.

    Hanya tiga tahun Belanda menduduki benteng, tahun 1616 Belanda meninggalkan benteng. Politik ekonomi VOC lebih mefokuskan daerah Jawa, dengan pola pertanian skala besar. Apa yang terjadi ? Daerah-daerah yang jauh dari Jawa-Sumatera mulai tidak diperhatikan oleh Belanda.

    Tapi lagi-lagi, kedatangan Belanda tidak hanya semata-mata mengumpulkan hasil-hasil bumi untuk didagangkan, tapi jauh lebih mendesak yakni mengamankan jalur perdagangan. Konsekuensinya begitu serius karena penaklukan wilayah yang otonom harus dilakukan, sekalipun korban peperangan adalah kelanjutannya.

    Lagi-lagi Belanda tetap menginginkan konsolidasi teritori di seluruh nusantara. Di kepulauan Solor, Belanda bolak balik hanya membuat Portugis tidak leluasa menguasai wilayah ini. Upaya penguasaan wilayah terutama di kepulauan Solor oleh Belanda baru mulai serius pada tahun 1851.

    Kali ini Belanda memang serius. Di bulan Desember 1851, kapal Belanda Merapie melabuhkan jangkarnya di pelabuhan Larantuka. Saat itu Belanda mengumumkan pada upacara penyambutan di Larantuka bahwa agama tetap dipertahankan. Dari 1851 hingga 1859 Belanda melakukan serangkaian perundingan dengan Portugis dan 20 April 1859, seluruh kepulauan Solor menjadi milik Belanda.

    ***

    Kendati sebelumnya politik Belanda, menempatkan kepulauan di luar Jawa sebagai Buitengewesten (wilayah di luar, wilayah luaran), atau juga buitenbezittingen (milik-milik di luar sana). Namun perubahan baru tengah dihadapi masyarakat baik dari segi politik maupun dalam wilayah keagamaan.

    Dari segi politik, Belanda mulai memperkenalkan struktur pemerintahan baru yang semuanya berpusat pada Gubernur Jendral yang ada di Batavia. Pada 1915 Belanda membagi wilayah pemerintahan yang terdiri dari Residen, afdeling, onderafdeling, dan beberapa district (distrik) atau gemeente di bawahnya. Pembagian wilayah yang demikian juga berdampak pada semakin melemahnya kekuatan masyarakat lokal.

    Daerah Flores menjadi satu afdeling dan berpusat di Ende. Sementara Afdeling Flores tergabung dalam satu residen Timor yang berpusat di Kupang. Residentie Timor tergabung ke dalam propinsi Grote Oost, Timur Besar dengan ibukotanya Makasar.

    Keresidenan Timor dan daerah takluknya dipimpin oleh seorang residen, sedangkan afdeeling di pimpin oleh seorang asisten residen. Asisten residen ini membawahi Kontrolir atau Controleur dan Geraghebber sebagai pemimpin Onder afdeeling. Asisten residen, kontrolir dan gezaghebber adalah pamong praja Kolonial Belanda.

    Para kepala onder afdeeling yakni kontrolir dibantu oleh pamong praja bumi putra ber pangkat Bestuurs assistant.Kepala distrik atau kepala hamente mendapat nama yang berbeda di tiap wilayah.

    Pembagian dari segi kelompok etnik dengan bahasa dan budaya sendiri yang dilakukan Belanda kurang lebih menyesuaikan dengan wilayah kerajaan yang ada saat itu. Dengan menempatkan penguasan sipil (zelfbestuurder) di setiap onder afdeeling tentu semakin mengurangi kekuasaan raja yang sebelumnnya sangat otonom.

    Belum lagi dalam perkembangan kemudian raja harus menandatangi hak dan kewajibannya untuk tunduk pada pemerintahan Belanda. Namun, pola kekuasan pemerintah Belanda ketika itu masih menerapkan pola sentralisme dan semua harus tunduk pada Batavia.

    Aksi-aksi militer Belanda dan penertiban atas pemerintah lokal yang sebelumnnya otonom telah pula membawa goncangan di masyarakat. Ada perkembangan yang cukup baik dengan kebijakan politik etis dengan mulai dibangunnya sarana jalan yang menghubungkan satu kota dengan kota yang lain dalam wilayah ini yang mulai dibangun 1909 . Begitupun jalan lintas Flores dari Reo ke Larantuka mulai dibangun pada 31 Agustus 1915 dan selesai 31 Agustus 1925, dimana berdampak bagi penduduk untuk membangun pemukiman di sekitar wilayah yang berdekatan dengan jalan.

    ***

    Anda Boleh Berganti Bendera, Namun Anda Tidak Boleh Pernah Berganti Agama”.

    Pernyataan diatas, adalah pernyataan Imam Portugis, Gregorio Maria Barreta kepada umatnya di Larantuka ketika masa peralihan itu berlangsung.

    Ini tentu berhubungan sekali dengan perjanjian Portugis dan Belanda yang mengharuskan agar pemerintah Belanda harus mengakui keberadaan agama katolik di wilayah ini.

    Di wilayah keagamaan khususnya perkembangan misonaris yang datang, justru terlihat ada perhatian serius di masa ini akan perkembangan gereja lokal. Para misonaris diberi kebebasan untuk menangani pendidikan dan jumlah pelayanan umat pun semakin baik karena misonaris yang datang lebih banyak dari sebelummnya.

    Sebagai pusat misi tempat subur tumbuh kembangnya benih iman Katolik kala itu, kedatangan Belanda mau tidak mau juga menjadi perhatian misonaris dan gereja saat itu. Dengan dukungan pemerintahan gubernur Belanda, tahapan misi kedua di Larantuka mulai ditata lagi. Namun kali ini, misi yang dibawah lebih bernuasa sistemastis dengan pandangan yang lebih visoner ke depan.

    Postoh-Lanrantuka (Foto 10 tahun lalu)

    Kendati melewati serangkaian perdebatan di Parlemen Belanda yang akhirnya pada 23 Agustus 1860 disepakati rumusan “kebebasan agama diberikan secara timbal balik kepada para penduduk di wilayah-wilayah yang diserahkan perjanjian ini”, namun Belanda tetap harus memenuhi kewajibannya.

    Pada 12 September 1859 sepucuk surat dari Larantuka kepada Mgr Petrus Maria Vrancken Pr, Vikaris Apostolik Batavia untuk mengirim imam ke Larantuka. Uskup Vrancken kemudian mengirimkan Pater Johanes Petrus Nicolaus Sanders, imam diosesan, asal Leiden Belanda dan telah menjadi misonaris di Hindia Belanda sejak 1847 ke Larantuka pada 1860.

    Pater Johanes Petrus Nicolaus Sanders merupakan tokoh penting ketika itu karena mulai dengan suatu tradisi yang baru namun tak selamanya bisa cepat diterima oleh umat. Perbedaan sikap yang seringkali ditunjukan raja dan umat terhadap pastor memang akhirnya dapat dimengerti mengingat begitu lamanya umat ditinggalkan pastor.

    Bagaimanapun, selama ketidak hadiran pastor di wilayah ini, umat sudah merasa nyaman dengan apa yang dilakukan, terutama yang berhubungan dengan perayaan-perayaan kegerejaan.

    ***

    Suatu perubahan besar baik politik, sosial kemasyarakatan, pendidikan dan agama sedang terjadi di Larantuka saat itu. Suatu era baru mulai diperkenalkan yang pengaruhnya hingga saat ini. Barangkali pembicaraan tentang Larantuka kemudian berhubungan dengan suatu integrasi baru yang menamakan diri Flores Timur termasuk Lembata, perlu dilihat dalam konteks ini.

    Di luar itu masih terdapat begitu banyak sejarah lokal yang juga berlangsung di masa-masa ini, yang belum banyak terungkap. Sejarah kerajaan Islam di daerah ini pun belum banyak terungkap.

    Kita perlu belajar dari sejarah yang menjadikan kita seperti hari ini. (*)

  • Portugis di Larantuka, Kenangan yang Tersisa

    Portugis di Larantuka, Kenangan yang Tersisa

    Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020  hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel ketujuh. Semoga berguna.

    Penulis : Benjamin Tukan

    Portugis pindah dari Solor ke Larantuka dan membangun benteng di Sandominggo 18 April 1613. Tapi jangan dikira dengan membangun dua benteng sekaligus di Larantuka, benteng Sandominggo dan kemudian Benteng Postoh tahun 1620, Portugis sudah melupakan Solor. Justru di Larantuka, Portugis lebih serius untuk kembali ke Solor menata puing-puing peninggalan yang telah porak poranda itu.

    Portugis tahu, sekalipun Belanda telah mengambil benteng Solor, Belanda sepertinya tidak serius mengurus benteng itu apalagi terlibat dalam perdagangan antar pulau di kepulauan Solor. Belanda sempat meninggalkan Lohayong –Solor 1616 dan baru kembali lagi ke tempat ini dua tahun kemudian yakni 1618. Dalam tahun 1629-1630 Belanda juga meninggalkan benteng itu.

    Tapi kembali Solor itu tidak mudah. Dari Sandominggo di Larantuka, Solor hanya sejauh mata memandang. Namun, bagi Portugis untuk ke sana harus berpikir dua tiga kali karena ancaman selalu saja datang baik dari Belanda maupun dari penduduk lokal.

    Tahun 1598 penduduk lokal pernah menunjukan kemarahan dan memporakporandakan benteng, lantaran Panglima Benteng Antonio Viegas memenjarakan seorang Bangsawan Lamakera D. Diogo. Belum lagi sewaktu-waktu Belanda bisa datang dan mengerahkan kekuatannya.

    Kalau saja dendam terlalu kuat untuk memelihara ingatan, barangkali orang yang tak pernah dilupakan Portugis adalah seorang Belanda bernama Apolonius Scotte. Dia lah yang tahun 1613 memimpin pasukan Belanda untuk merebut Benteng Lohayong di Solor. Dengan jatuhnya Benteng inilah disusul penyerahan kekuasan Portugis ke Belanda atas Solor.

    Usaha untuk kembali ke Solor memang selalu ada, namun usaha itu selalu gagal, karena Portugis sudah tidak lagi diterima di sana. Portugis sudah tidak mendapat dukungan masyarakat baik dari agama maupun perdagangan. Kenyataan ini harus diterima, hingga tahun 1636 Portugis benar-benar meninggalkan Lohayong-Solor dan selanjutnya menetap di Larantuka.

    Ada semacam penyesalan sebagaimana ditulis Miguel Rangel, seorang arsitek pembangunan Benteng Solor, yang ditulisnya di Malaka tahun 1633. Ia menulis : “jika orang Beladnda tidak menghalangnya, benteng Solor telah menjadi sebuah kota yang dikunjungi semua orang dari daerah sekitarnya dan dari Malaka dan Tiongkok, dari mana pada musim hujan 1633 terakhir ini baru datang empat kapal ke Solor untuk memuat kayu cendana.”

    (Catatan : Perlu diingat Miguel Rangel ini nama yang saat ini diabadikan untuk jalan di sekitaran Sandominggo kelurahan Larantuka. Miguel Rangel adalah seorang bruder Dominikan yang pada 1630 memutuskan untuk memperbaiki benteng di Pulau Solor yang telah ditinggalkan oleh orang Belanda.)

    Tapi lagi-lagi Belanda terus membuntuti Portugis. Tidak saja mendesak Portugis keluar dari Solor, tapi juga dari Larantuka juga dari Flores. Pertikaian demi pertikaian terus terjadi. Tahun 1846 Belanda menyerang Flores. Pada tahun 1648 terjadi gempa bumi yang meruntuhkan benteng Solor semakin membuat Portugis tidak lagi menghiraukan Solor dan hanya berkonsentrasi di Larantuka.

    Belanda tetap menginginkan konsolidasi teritorinya di seluruh wilayah Nusantara. Tahun 1850 Belanda membeli sisa-sisa benteng Portugis di Flores dan mulai berkuasa di Larantuka sejak 1851 melalui penandatanganan traactaat Dili. Bersamaan dengan itu pada 1851 datang tawaran dari Portugis Dili kepada Belanda mengambil alih benteng Larantuka dan Wureh sebagai jaminan atas pinjaman sebesar f. 80.000 kepada gubernur Portugal di Koloni Timor-Timur.

    Seluruh kepulauan Solor menjadi milik Belanda sejak 20 April 1859, dengan Belanda membayar tambahan f. 120.000. Pada 1856 Portugis meninggalkan kepulauan ini termasuk Larantuka, sekalipun ratifikasi atas perjanjian itu baru terjadi pada 20 April 1859 di Lisabon. Suatu perjanjian untuk melepaskan pos-pos Portugis yang jauh dan klaim-klaimnya atas Flores dan Solor kepada Belanda, dan mempertahankan haknya atas Timor Portugis.

    Sejak itu Portugis pun meninggalkan Larantuka dan tak kembali lagi.

    ***

    Urusan masyarakat punya cerita sendiri, kemauan politik punya ceritanya juga. Di tengah pergulatan politik-ekonomi yang dialami Portugis kala itu, sejak jatuhnya Malaka ke tangan Belanda 1641, penduduk Melayu Kristen/katolik dipaksa harus keluar dari Malaka. Dalam tahun 1641 terjadi migrasi besar-besaran penduduk Melayu ini ke Larantuka.

    Seiring dengan berpindahnya penduduk ke Larantuka dan Larantuka dipandang sebagai tempat yang cocok untuk pengembangan misi, maka banyak barang Portugis yang berada di Malaka dialihkan ke Larantuka termasuk benda-benda gereja.

    Pada tahun 1665 mengungsi pula orang-orang Portugis dari Makasar menuju Larantuka. Para pengungsi Makasar ini menyebar lagi di Larantuka, dan beberapa tiba di Konga 20 kilometer arah barat Larantuka, dan Wureh di Pulau Adonara. Dalam pengungsian ini Frei Lucas da Cruz berhasil menyelamatkan benda-benda ibadah yang sangat berharga dari Gereja S. Domingos de Surian di Makasar dan dialihkan ke Larantuka. Kemungkinan pengungsi dari Makasar inilah yang telah mendirikan Gereja Santo Domingo dan mengawali ibadah “Senyora Rosari” serta perayaan Paskah di Larantuka.

    Orang Portugis yang mengungsi ini, kemudian mulai membangun perkampungan. Mereka membangun perkampungan baik di Larantuka, Konga dan Wureh. Orang-orang yang tinggal di Larantuka, Konga dan Wureh menyebut diri mereka dengan sebutan Larantuqueiros atau orang dari Larantuka.

    Repro

    Ketika itu, kehidupan iman umat katolik memang sungguh menantang, lebih-lebih karena kurangnya imam. Kurangnya pelayan para imam ini selain karena banyak misionaris Portugis terhalang masuk karena pertikaian politik, persoalan yang dihadapi imam-imam ordo Dominikan di Portugis, juga karena dihapusnya keuskupan Malaka dan dikembalikan ke Keuskupan Goa. Selama abad ke 17 dan 18, hanya ada dua kapal angkut Portugis yang berlayar dari Goa (India) ke Larantuka. Dalam serba keterbatasan inilah sesekali umat Larantuka mendapat kunjungan imam diosesan dari Dili. Tidak ada seorang pun wakil resmi kerajaan Portugal yang berkunjung ke Larantuka selama periode tersebut.

    Kendati hidup dalam pertikaian dan keadaan serba terbatas, orang-orang Portugis yang ada di Larantuka, Konga dan Wureh ini mulai banyak memberikan pengaruh yang besar untuk daerah ini. Di antara mereka banyak yang kawin dengan penduduk setempat. Nama-nama ahli waris kerajaan Larantuka diberi gelar Don dan diikuti dengan serangkaian nama aristrokrasi Portugis.

    Tidak hanya nama kerajaan, beberapa suku kecil di wilayah ini juga menggunakan nama-nama Portugis. Sebanyak 13 suku di Larantuka yang tadinya menggunakan nama suku Lamaholot berubah menjadi suku Fernandez, suku Da Silva, suku De Rosari, suku Da Costa. Juga Da Santo, Gonzales, Ribeiru, Skera, atau De Ornay. Namun demikian ada beberapa suku memang keturunan langsung Portugis.

    Dalam hal penyebutan nama, di wilayah ini mulai dikenal dengan penyebutan nama keluarga bagi mereka yang dibaptis. Nama bapak menjadi nama belakang dan yang kemudian dipakai secara turun temurun. Beberapa bahasa dan istilah yang dipakaipun masih juga menggunakan nama-nama Portugis.

    Bekas diplomat Portugal di Indonesia, Antonio Pinto da Franca, menginventarisasi paling tidak ada 75 kata Indonesia berasal dari Portugis. Beberapa kata mungkin terasa asli Indonesia. Sebut misalnya,- sisa dari sisa, terigu dari terigo, tempo dari tempo.Kata lain, misalnya, bangku dari banco, berandadari varanda, boneka dari boneca, kaldu dari caldo,meja dari mesa, pesta dari festa. Ada juga sekolah dari escola, pigura dari figura, dan sepatu dari sapato. Kata-kata ini pun mudah dijumpai di Larantuka.

    Penyebutan untuk Nama-nama portugis dalam upacara keagamaan masih dipertahankan hingga kini, demikian juga pakaian-pakaian dan asesoris peribadatan, masih juga menggunakan warisan Portugis. Di kota ini, beberapa nama tempat memberi kesan akan tradisi Portugis termasuk menjadikan POSTO untuk sebutan pusat kota.

    Dalam kehidupan rumah tangga, keluarga-keluarga yang dipengaruhi Portugis mulai menyamakan kehidupannya dengan keluarga di tempat asalnya di Portugis. Rumah mulai ditata dengan halaman rumah yang di tumbuhi bunga-bunga. Sementara dalam rumah, ibu menjadi penentu membesarkan anak-anak dan mendidik anak-anak mencintai pekerjaan rumah tangga. Patung ditempatkan di tempat khusus untuk berdoa.

    Larantuka seakan menjadi tempat pertukaran kebudayaan termasuk kebudayaan Eropa abad pertengahan dengan kebudayaan Malayu dan kebudayaan Lamaholot dari masyarakat setempat. Kewajiban menjaga agama kalau pastor tidak ada diserahkan kepada “persekutuan Reinja Rosario’ dengan tugas mengajarkan katekhismus, melakukan Pembatisan , mejaga pemeliharaan kapel-kapel serta menyelenggarakan prosesi-prosesi.

    ***

    Sekali pun melalui tradisi dan perjumpaan masyarakat tempo itu, sedikit banyak menunjukkan pengaruh Portugis atas wilayah ini, namun menurut studi yang dilakukan Didik Pradjoko, tidak pernah ada perasaan bahwa mereka dikuasai oleh pemerintah Portugal. Sesungguhnya mereka adalah kekuatan yang merdeka dan berdiri sendiri.

    Ini pun dibuktikan pada tahun 1679, Larantuka menolak menjadi jajahan Portugis, (*)

  • Portugis di Larantuka : Dari Solor ke Sandominggo

    Portugis di Larantuka : Dari Solor ke Sandominggo

    Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020  hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel keenam. Semoga berguna.

    Penulis : Benjamin Tukan

    Untuk Larantuka, Portugis bukanlah ceritra masa lampau saja, tapi hingga kini jejak-jejak Portugis banyak berbicara mengenai perkembangan kota ini. Kendati demikian, Larantuka bukanlah Makau yang dibangun Portugis yang saat ini cukup dikenal itu. Kecuali tradisi keagamaan, hingga kini peninggalan-peninggalan Portugis di Larantuka masih terus dikumpulkan dan coba untuk diberi makna.

    Menelusuri kembali perjalanan Portugis yang singgah di Larantuka, tidak lepas dari budaya bangsa pelaut ini dalam menjelajahi dunia termasuk datang ke daerah Nusantara yang banyak menghasilkan rempah-rempah.

    Sungguh petualangan model ini adalah hal yang paling menakjubkan untuk negara sekecil Portugal. Jika bukan karena pembawaan dari bangsa Iberia yakni kecendrungan aneh untuk bermimpi, kesenangan untuk mengambil resiko berbahaya, juga idealisme religus, tidak mungkin mereka tiba di Larantuka.

    Petualangan yang begitu sederhana dalam perkembangan kemudian kedatangan Portugis ini didorong oleh tujuan yang lebih besar yakni feitoria, fortaleza, dan igreja atau emas, kejayaan, dan gereja atau perdagangan, dominasi militer, dan penyebaran agama Katolik.

    Sebagai negara kecil yang dulunya masih menjadi satu dengan Spanyol adalah negara di bagian paling barat Eropa dengan komunitas agama Katolik. Portugis dikenal sebagai masyarakat penjelajah dunia dengan kebudayaan maritim yang cukup baik.

    Perjalanan mengilingi dunia dimulai pada 1488 melalui ekspedisi Bartolomeus Dias. Dia yang menjangkau hingga Tanjung Harapan, Afrika. Vasco da Gama melanjutkan ekspedisi Bartolomeus. Sayang ia juga hanya sampai India 1498. Kemudian pada 1503, Armada yang dipimpin Alfonso de Albuqueque berangkat dari Sungai Tagus yang bermuara ke Samudra Atlantik, mengarungi samudra Atlantik dan masuk melewati Tanjung Harapan Afrika lalu haluan kapal diarahkan menuju Goa India. Baru April 1511 ia ke Malaka dan tiba di Malaka dalam bulan yang sama.

    Saat itu Malaka telah menjadi satu tempat di Nusatara yang cukup ramai. Dari Malaka, sebuah akspedsi dikirim oleh Alfonso de Albuqueque. Dibawa pimpinan Antonio de Abreu dan Francisco Serrao mereka berlayar ke arah timur. Pelayaran melewati pesisir pantai Sumatera, Jawa,Bali, Lombok, Sumbawa dan Flores kemudian memutar haluan ke utara dan mencapai Banda pada 1512. Portugis juga mengirimkan armada ke arah China. Pada 1513 armada tiba China dan mencapai Jepang tahun 1543.

    Setiap kali mereka tiba di suatu tempat, orang-orang Portugis selalu memegaruhui kehidupan komunitas masyarakat yang disinggahi. Dari tempat yang disinggahi mereka selalu memperkenalkan bahasa, makan, cara berpakaian,dan jenis musik. Orang-orang Portugis sangat menghargai seni baik musik maupun tari-tarian.

    Di tempat asalnya, masyarakat Portugis dikenal sebagai bangsa yang sangat menghargai leluhur serta selalu menjaga kebiasaan secara turun temurun. Kehidupan masyarakatnyapun sangat ramah dan saling menghargai antar sesama.

    Dalam keluarga tradisional Portugis hubungan antara orangtua dan anak sangat kuat. Tradisi kumpul bersama menjadi kebiasaan yang selalu dipertahankan. Orang-orang Portugis mengajarkan dan mendidik anak mereka untuk menyukai pekerjaaan yang berkaitan dengan rumah termasuk mengurusi halaman rumah dengan tanaman.

    Dalam keluarga-keluarga Portugis, ibu memegang peran yang penting menentukan berlangsung hidup keluarga. Di rumah selain tarian dan musik, khususnya anak perempuan dilatih menyulam baju, selimut, taplak meja, saputangan dan lainnya .

    Portugis selalu meninggalkan jejak di setiap tempat yang kunjungi lebih-lebih pada kehidupan yang dekat dengan keseharian manusia, membuat bangsa ini selalu diingat. Ini juga yang dilupakan oleh Belanda dalam konflik Belanda dengan Portugis di Nusantara. Belanda mengira Portugis akan pergi dan tak pernah kembali atau meninggalkan jejak di Nusatarara, tetapi kenyataan di beberapa tempat termasuk Flores Portugis meninggalkan jejak itu.

    Di luar persaingan perdagangan tempo itu, di Nusantara umumnya dan Larantuka khususnya, Portugis selain dikenang melalui tradisi agama katolik, juga melalui musik, bahasa, pola hidup dalam rumah maupun jenis-jenis sayuran dan buah-buahan.

    ***

    Pelayaran Portugis mengarungi nusantara yang melewati perairan Nusa Tenggara, membawa mereka pada suatu waktu di masa lalu untuk tiba di Larantuka dan kepulauan Solor. Sebelum tiba di kepulauan Solor, dalam perjalanan itu, mereka menemukan sebuah pulau yang kemudian dinamakan “Cabo da Flores” yang berarti Tanjung Bunga yang mana nama tersebut dipakai hingga saat ini menjadi Pulau Flores.

    Letak kepulauan Solor yang terbilang strategis untuk menghindari dari amukan gelombang laut, membuat perahu-perahu Portugis memilih untuk berlabuh di daerah ini. Begitu pun hasil-hasil alam dari kepulauan ini cukup untuk memasok perbekalan perjalanan mereka selanjutnya.

    Pada 1515 pelayaran Portugis membuka perdagangan di kepulauan nusantara tiba di kepulauan Solor dan Timor. Lima tahun kemudian, pada 1520 pedagang Portugis mulai menetap dan tinggal di Solor, pulau kecil di depan Larantuka. Mulai saat itu, Solor dijadikan tempat pertama untuk aktivitas perdagangan wilayah kepulauan.

    Di Solor, mereka membangun rumah-rumah sederhana dan karena mereka beragama Katolik, maka mereka mulai berdoa dengan cara dan tradisi Katolik. Pada 1522 seorang imam yang menyertai rombongan pedagang itu tinggal dan menetap di Solor. Ia bekerja dengan tekun, melayani umat baik di kepulauan Solor maupun Timor.

    Laporan seorang imam Dominikan P. Antonio de Taveria, OP pastor kapal Portugis, ketika menyinggahi Lohayong di Pulau Solor dan Larantuka di Pulau Flores, beliau mendapati banyak orang katolik disana. Dia juga berkesempatan mempermandikan banyak orang.

    Perkembangan umat katolik yang dibawa pedagang Portugis di wilayah kunjungan mereka, mendapat respon dari Paus sebagai pemimpin Gereja katolik. Pada 1529 Paus menyerahkan tugas menyebarkan agama katolik kepada misionaris Portugis.

    Perkembangan dan pertumbuhan umat yang pesat diketahui juga oleh Uskup Malaka Mgr. Jorge da Santa Lucia, OP. Pada 1561. Uskup menugaskan tiga imam Ordo Dominikan dari Melaka ke Solor. Ketiga missionaris tersebut adalah Pater Antonio da Cruss OP, Pater Simao das Chagas, dan Bruder Alexsius. Ketiga imam Dominikan ini pergi dan menetap di Solor. Oleh karenanya, tahun ini ditetapkan sebagai tahun resmi awal karya Misi Katolik di kawasan ini.

    Pada 1566, Pater Antonio da Cruz mulai membangun sebuah benteng di Solor dengan pendanaan dari Maukau. Benteng yang dibangun, kemudian menjadi pusat aktivitas misi Katolik. Di dalam banteng itu dibangun asrama, gereja dan seminari. Pada tahun 1600 tercatat sedikitnya ada 50 siswa seminaris. Benteng ini kemudian oleh Belanda diberi nama benteng Fortaleza (benteng pertahanan), “Henricus”.

    ***

    Kepulauan Solor dulunya ditumbuhi hutan-hutan cendana yang sangat bernilai harganya pada perdagangan kala itu. Dari Lohayong -Solor hubungan baru mulai tercipta. Perkembangan dari sisi ekonomi perdagangan dan agama katolik di wilayah ini, membuat Solor berhubungan langsung dengan pusat-pusat perdagagan dan pusat-pusat misi seperti Maluku dan Ternate, Malaka dan Maukao bahkan hingga ke Goa India.

    Sementara itu terjadi persaingan di tingkat perdagangan yang melibatkan pedagang yang melintasi Larantuka, juga perlawanan dari penduduk lokal sendiri dengan kehadiran agama baru tersebut. Sebagai akibatnya, pada masa itu terjadi pembunuhan dan lahirlah para Martir Katolik pertama. Meraka adalah Pater Antonio Pestana, Pater Simao de Montanhas, Pater Simao da Chagas, dan Pater F. Calassa.

    Harapan untuk menancapkan pengaruh yang semakin kuat,pada kenyataannya harus menghadapi ancamanan dari kedatangan Belanda. Pada 27 Januari 1613 sebuah armada Belanda datang ke Solor dan tiga bulan kemudian pada 18 April 1613 benteng Lohayong pun jatuh ke tangan Belanda.

    Jatuhnya Benteng ke tangan Belanda mengakibatkan banyak orang Portugis meninggalkan Solor menuju Larantuka, bahkan ada yang memilih untuk kembali ke Malaka. Pater Agustino de Magdalena dan Kapitan Fransiskus Fernandes memimpin beberapa pengikut yang setia berserta orang-orang Portugis hitam (Indo) menuju Larantuka.

    Pater Agustino de Magdalena memilih sebuah tempat yang bagus dan strategis untuk pertahanan Keamanan,yakni di Sandominggo (sekarang istana Uskup Dioses Larantuka). Jadi jika orang bertanya kapan ulang tahun kota Larantuka, maka bisa saja diambil dari tanggal 18 April (18 April 1613), kecuali ada pertimbangan lain. (*)

  • Larantuka, Kota Pelabuhan Tempo Dulu

    Larantuka, Kota Pelabuhan Tempo Dulu

    Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020  hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel kelima. Semoga berguna.

    Penulis: Benjamin Tukan

    Pelabuhan tempat kapal berlabuh, sesungguhnya bukan sekadar dapat berlabuh, tapi bagaimana tempat itu memberikan rasa aman, terlindung dari ombak besar, angin dan arus yang kuat.

    Sejarahwan Maritim, AP. Lapian menuliskan “Pelabuhan harus mempunyai daya tarik yang besar bagi kapal-kapal dari luar, misalnya pasar yang ramai tempat hasil hutan dari pedalaman diperdagangkan serta bahan makanan dan air minum disediakan untuk konsumsi di kapal”.

    ***

    Apa yang dituliskan AP Lapian, baik juga untuk memotret kembali keadaan Larantuka tempo dulu, ketika tempat ini disebut memiliki pelabuhan yang cukup ramai, sekaligus penghubung perdagangan di antara kerajaaan besar di nusantara abad 16 terutama dalam lintasan perdagangan yang menghubungkan zona perdagangan di sekitarnya seperti Bima-Sumbawa, Lombok, Ende, Waingapu dan Kupang.

    Sebelumnya, pada jaman Majapahit dengan ekspansi armada ke nusantara, sebenarnya wilayah ini sudah cukup dikenal. Dalam buku M. Yamin tentang Gadjah Mada dituliskan bahwa daerah Mananga adalah daerah yang cocok untuk melabuhkan kapal.

    Mananga sendiri letaknya di Pulau Solor, tidak jauh dari Larantuka dan sama-sama berada dalam teluk. Hingga memasuki jaman pelayaran Portugis di nusantara, Solor dan Larantuka menjadi tempat persingahan yang cukup aman.

    Menjadi menarik di sini Larantuka dan sekitarnya (kepulauan Solor) yang dulu menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal yang melintasi perairan Flores dan sekitarnya tidak sekadar memiliki teluk yang tenang dan aman tapi juga memiliki potensi lain yang menunjang aktivitas kepelabuhanan.

    Jika Larantuka dilihat dari satu bentangan peta Nusantara yang berhubungan dengan pelayaran kapal-kapal dagang yang melintasi perairan dari timur ke Barat demikian sebaliknya, maka satu tempat yang tidak bisa dilupakan adalah Tanjung Bunga. Sebuah tanjung paling ujung timur pulau Flores. Di tempat inilah atau di perairan ini, klasi kapal memutuskan untuk memutar haluan menuju tempat yang dituju.

    Jika pelayaran itu datang dari arah barat, maka lautan di Tanjung Bunga adalah tempat yang tepat untuk memutar haluan ke arah Banda dan Ternate, atau juga bisa ke arah selatan menuju Kupang dan Dili. Sebaliknya kapal yang datang dari arah timur, di tempat inilah haluan kapal diarahkan entah ke Makasar, Jawa, ataupun meneruskan perjalanan ke Malaka sebagai bandar yang ramai ketika itu.

    Tanjung Bunga memberi daya tarik terendiri. Pemandangan pantai nan indah yang banyak ditumbuhi pohon-pohon flamboyan dan berbagai tanaman berbunga merah seperti pohon dadap dan kapuk hutan, selalu menggoda para pelaut untuk menghampiri. Tak berlebihan keindahan yang disuguhkan oleh alam inilah yang oleh pelaut Portugis menyebut pulau ini Cabo da Flora, pulau bunga, yang menjadikan nama pulau Flores hingga saat ini.

    Letak yang strategis dari wilayah Tanjung Bunga untuk memasuki daerah kepulauan Solor, dapat juga dilihat dari perjalanan kapal Victoria pada bulan Desember 1521. Kapal sisa armada Magelhaes ini berlayar dengan misi menemukan tempat-tempat penghasil rempah. Dari Amerika selatan, kapal ini tiba di Filiphina terus ke Ambon pada 8 Januari 1522 dan kemudian memasuki perairan kepulauan Solor menuju Timor. Kapal melewati perairan antara pulau Lembata dan pantar menuju Pulau Timor dan dari ujung pulau Timor, mengarahkan haluannya ke Tanjung Pengharapan dan terus ke Spanyol.

    Tapi soalnya bagaimana dengan Larantuka? Jika posisi kapal sungguh berada persis di ujung Tanjung Bunga dengan haluan kapal arah timur, maka Larantuka sebenarnya tidak jauh dari situ. Memutar haluan ke arah barat, kapal-kapal akan memasuki sebuah teluk dengan apitan pulau-pulau dengan penghuni yang terbilang cukup banyak. Inilah yang dilakukan armada Portugis yang dipimpin Antonio de Aberu pada pada tahun 1511. Armada yang dikirim Alfonso de Albuquerque ini menyinggahi wilayah ini untuk beberapa lama.

    Selat Larantuka memang dikenal dengan arusnya yang deras. Jika waktu yang tepat, para pelaut tak butuh banyak kerja, cukup mendayung ataupun memasang layar pelayaran akan juga tiba. Arus selat yang deras, cukup dapat membantu mengantarkan perahu hingga ke dalam teluk Larantuka.

    Dengan memilih berlabuh di Larantuka atau teluk-teluk di perairan kepulauan Solor merupakan pilihan yang tepat untuk menghindar dari amukan badai di utara atau selatan Flores. Di sinilah, kapal-kapal yang melintasi perdagangan tempo itu berlabuh menunggu mengisi perbekalan dan menunggu redahnya badai musim barat. Letak yang strategis ini juga sebagai tempat para pelaut, berteduh untuk menambah perbekalan di perjalanan kemudian. Hasil-hasil bumi juga merupakan daerah barteran yang cukup terkenal.

    Karena itu, bukan satu yang berlebihan, bila laporan pendeta Jesuit Balthasar Dias yang mengunjungi Solor pada tahun 1559 melaporkan adanya 200 pedagang dan pelaut Portugis yang beristirahat selama bulan Desember dan Januari untuk menghindari badai yang ganas.

    Perhatian lebih terarah lagi, saat Benteng Portugis di Malaka di ambil oleh VOC pada 1541. Solor kemudian menjadi alternatif Portugis untuk mengantikan Malaka. Hal ini pun dikaitkan dengan Peta Dunia yang dipublikasikan Mercator dalam tahun 1569 yang menempatkan Flores sebagai tempat yang penting di sebelah timur Malaka.

    Kehadiran Portugis di wilayah ini pada abad XVI membuka hubungan perdagangan antara Malaka dan Solor, juga terjadi kontak antara Solor dengan pos-pos perdagangan Portugis di Cina Makao. Apa yang terjadi dengan ini semua tidak lain, kepulauan Solor dan Larantuka khususnya dijadikan tujuan para pengungsi Portugis di Malaka ini. Dalam berbagai tahapan, para pengungsi mulai berdatangan ke Larantuka.

    Sejak abad 16 daerah ini telah menjadi perhatian para pedagang yang meramaikan perdagangan di kepulauan Nusa Tenggara. Ketika itu, rempah-rempah dan kayu Cendana termasuk barang mahal dan dibutuhkan di daratan Eropa. Dan permintaan ini dapat terjawab dari wilayah-wilayah di Flores, Maluku, Ternate yang banyak menghasilkan rempah-rempah.

    Menurut I Gde Parimartha, pada tahun 1756 ditemukan banyak pedagang pribumi yang berlayar dari Makasar menuju Flores. Mereka membawa barang-barang seperti: ikan mas, ikan salem, ikan haring, gading gajah, porselin, dan barang-barang dari tembaga, kain lena, porselin, parang. Sebaliknya dari timur mereka kembali ke Makassar dengan membawa sarang burung, karet, barang anyaman dan budak.

    Selain barang-barang itu, di kepulauan ini ikut juga diperdagangkan teripang. dari Flores juga dibawakan kain tenun dan anyaman, mede, cendana, buah asam, kapas, jagung, minyak ikan paus, sirip ikan, dan balerang, atau jalur seltn lewat timor. Catatan sejarah juga menyebutkan daerah ini memiliki pasar-pasar pada hari tertentu.

    Dituliskan bahwa, pada abad XVII, kain tenun dari Nusa Tenggara ada yang dikirim sampai Maluku. Semua ini memberi gambaran bagaimana gugusan kepulauan Nusa Tenggara telah berada di tengah-tengah jaringan perdagangan yang luas. Flores termasuk dalam zona perdagangan Laut Jawa,juga terletak di antara zona perdagangan yang ramai seperti antara Makassar dan Maluku. Bima dan Solor merupakan jalur utara perdagangan di Nusa Tenggara.

    Perahu-motor yang membawa barang antar pulau bersandar di Pelabuhan Larantuka ( Foto : Dok FBC)

    Ada pengaruh lain dari pelintasan perdagangan semacam ini,adalah proses asimilasi dan kawin-mawin, juga pertukaran budaya serta  masuknya pengaruh agama-agama besar seperti Islam dan Katolik ke wilayah ini. Seperti pengaruh Portugis terhadap masuknya agama Katolik di daerah ini, datangnya para mubalik melalui jalur perdagangan, bahkan jauh sebelum itu  sekitar abad 14-15 M, memberikan pengaruh bagi perkembangan agama Islam di wilayah ini.

    Kembali ke Larantuka, pertikaian dan persaingan yang terjadi dalam merebut benteng Solor yang berlangsung hampir seabad, menjadikan Larantuka pilihan yang terbaik untuk melabuhkan kapal dan menjadi tempat yang ramai untuk perdagangan di wilayah tenggara nusantara.

    Runtuhnya benteng dan pemberotakan penduduk Solor 1598, menyebabkan seluruh kegiatan kepelabunanan dipindahkan ke Larantuka. Sementara dalam masa-masa ini sudah mulai terbentuk wilayah-wilayah di Adonara Barat dan Timur, termasuk semakin berpengaruhnya kerajaan lima pantai yakni Adonara, Terong, Lamahala, Lawayong, dan Lamakera.

    Larantuka di abad XVII seperti diteliti Didik Pradjoko, merupakan pelabuhan alam yang bagus karena terlindungi dari amukan badai. Daerah sekitar pantainya cukup subur, sehingga tanaman jagung yang ditanam oleh orang-orang Portugis tumbuh dengan baik di sana. Di lihat dari sisi pertahanan Larantuka juga sangat baik, karena meskipun ada blokade laut, penduduk dapat melintasi pedalaman dan menuju daerah pantai yang lain.

    Dengan teluknya yang tenang karena dilindungi oleh dua buah pulau kecil, Adonara dan Solor, Larantuka yang sebelumnya hanya sebagai tempat persingahan, lama kelamaan daerah ini berkembang semakin pesat lebih-lebih dengan masuknya kapal-kapal dari Jawa dan Cina secara rutin.

    Di luar perkembangan agama, secara ekonomi kehadiran pedagang-pedagang yang meramaikan wilayah ini cukup membantu perkembangan ekonomi.  Dalam perkembangan selanjutnya, hubungan-hubungan perdagangan mulai berpindah ke Timur seiring dengan jatuhnya benteng Portugis di Kupang ke tangan Belanda pada 1653.

    Dengan perpindahan wilayah kekuasaan Portugis, berakibat Larantuka perlahan mulai tidak dilirik para pedagang. Penduduk wilayah ini yang semula dikenal  sebagai pelaut, mulai memilih hidup bertani. Larantuka hingga 1915 berangsur-angsur sepi, menyusul pola pelayaran dan perdagangan telah berubah. Hubungan perdagangan baru yang diperkenalkan oleh Belanda lebih menyerupai suatu hubugan yang terintegrasi di bawah satu sistem kekuasaan.(*)

  • Orang Nagi Larantuka, “Dari Masyarakat Benteng ke Masyarakat Terbuka”

    Orang Nagi Larantuka, “Dari Masyarakat Benteng ke Masyarakat Terbuka”

    Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020  hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel keempat Semoga berguna.

    Oleh : Benjamin Tukan

    Larantuka pada awal perkembangannya, cenderung memusat hanya pada daerah Postoh di bagian timur hingga Sandominggo, kelurahan Larantuka di sebelah barat, yang merupakan pergerakan wilayah misi Katolik, kerajaan dan pemerintahan.

    Di Postoh ada gereja Katedral, rumah para pastor, sekolah dan pertukangan misi, kompleks tentara, penjara, pasar dan pelabuhan. Di Sandominggo ada rumah Uskup Larantuka yang sebelumnya pada masa portugis terdapat sebuah gereja, juga ada sekolah. Di antara timur dan barat, ada rumah jabatan bupati, kantor pemerintahan, rumah raja, dan beberapa kapela.

    Dari timur hingga barat, Larantuka menyerupai sebuah benteng. Segala keperluan penduduk dipenuhi di dalam “benteng” itu. Postoh mungkin lebih dikenal sebagai benteng sesungguhnya karena fasilitasnya yang lebih lengkap yang berhubungan dengan pusat militer (tansi tentara) dan penjara.

    Wilayah dari Postoh hingga Sandominggo, itulah poros perkembangan penduduk Larantuka. Oleh karena kehidupan begitu terkonsentrasi di dalam “benteng” itu, maka melekat pula perasaan sebagai “orang dalam” untuk membedakan dari “orang luar”. Perasaan-perasaan semacam ini masih terbawa hingga saat ini.

    Penduduk yang mendiami wilayah Larantuka ini sering menamakan diri mereka orang Nagi. Kata “Nagi” sering diidentikkan dengan “Nagarai” pengaruh kosa kata Melayu, yang sama artinya dengan kampung  atau sama dengan “Lewo” dalam bahasa Lamaholot. Orang Nagi menggunakan bahasa Nagi atau bahasa Melayu dialek Larantuka.

    Aktivitas warga Larantuka

    Dalam kehidupan keseharian, orang nagi  terbiasa  menjalankan tradisi keagamaan  yang ditinggalkan Portugis. Setiap kampung memiliki kapela, dengan kewajiban bagi setiap warga atau umatnya untuk selalu membersihkan dan memelihara tempat dan ornamento termasuk menyelenggarakan kegiatan keagamaan. Tradisi prosesi Jumat Agung dan tradisi semana santa merupakan tradisi bersama di antara orang nagi.

    Selain aktif di gereja, orang Nagi pun dekat dengan kerajaan dan juga dengan pemerintahan modern. Ini juga membawa konsekuensi lain, bahwa penduduk yang tinggal di dalam wilayah ini lebih dahulu berkembang atau minimal dapat lebih dahulu tahu akan kebijakan yang datang dari pusat kekuasaan. Dalam hubungan dengan akses terhadap pendidikan juga lowongan untuk menjadi pegawai, tentu orang nagi lebih banyak memiliki peluang. Di antara tamatan-tamatan dalam pendidikan awal, banyak orang nagi yang menjadi guru dan duduk di lembaga pemerintahan.

    Sebagai sebuah komunitas kota yang tumbuh dan berkembang dekat dengan pusat kekuasaan, konsekuensi lain yang tidak bisa dihindarkan adalah perasaan untuk mengidentifikasikan diri sebagai yang paling tahu, terpelajar dan punya kebudayaan tinggi. Tidak jarang pula dalam kehidupan sosial muncul anggapan tentang keterbelakangan yang dialami oleh masyarakat di sekitarnya, sebagai sesuatu yang terberi.

    Jika sejarah mau dilihat lagi, perasaan-perasaan yang merasa paling tahu ini kadang menciptakan gap antara masyarakat yang ada di dalam dan di luar “benteng”. Kota tetap dimaknai  hanya milik mereka yang kebetulan punya akses dengan sumber-sumber kekuasaan ataupun pengetahuan.  

    Perkembangan masyarakat memang tak terhindarkan. Cepatnya perubahan pasca kemerdekaan, membuat kehidupan orang nagi mulai bercampur baur dengan penduduk lain yang datang ke ibukota Kabupaten dan yang datang ke pusat misi. Pendidikan yang diperoleh beberapa anak di luar orang nagi, akibat peluang yang dibuka gereja dan pemerintahan, memungkinkan tamatannya bekerja di Larantuka. Kendati ada perasaan untuk memiliki tradisi yang diwariskan, otoritas gereja setempat dan pemerintah tidak mungkinkan untuk membeda-bedakan satu dengan yang lain, jika tidak pada pertimbangan khusus atau berdasarkan kompetensi.

    Orang nagi yang tamatan sekolah guru dan pertukangan dikirim untuk bekerja di di desa-desa sekitarnya ataupun dikirim ke perkampungan-perkampungan di Flores, Sumba dan Timor. Hal ini telah juga jauh sebelum kemerdekaan. Tapi mau dikatakan di sini bahwa orang nagi tidak saja mengenal budaya lain dari kedatangan penduduk ke Larantuka, tapi juga mengenal budaya lain karena ditugaskan untuk bekerja di wilayah lain. Terjadi proses kawin mawin, juga bentuk-bentuk pembauran yang terjadi membuahkan makna-makna baru pada kehidupan orang nagi.

    Bencana banjir 1979, yang memporak-porandakan kota Larantuka membuka lembaran baru untuk mereka yang tinggal di dalam “benteng” untuk menerobos keluar dan berbaur dengan masyarakat sekitarnya.  Mereka yang menjadi korban dibangun pemukiman baru di luar kota/benteng yang berakibat berubah pula pola interaksi masyarakat.

    Sebagaimana contoh, di perkampungan baru Weri (pemukiman untuk korban banjir yang dibangun pemerintah pasca banjir 1979) orang nagi mulai lebih intens berbaur dengan masyarakat umumnya. Apalagi pemukiman korban banjir ini, dalam perkembangan kemudian, lebih menyerupai perumahan perumahan baru bagi siapa saja yang hendak tinggal di Larantuka.

    Pelabuhan Larantuka (Foto : FBC)

    Dari Weri di ujung timur, jika hendak kembali ke Larantuka (wilayah Postoh -Sandominggo) maka orang akan melewati berbagai kampung kecil seperti kota Sau, Kota Rowidho, Kampung tengah, Lebao , dan seterusnya hingga Amagarapati dan Ekasapta. Tak berlebihan kampung-kampung kecil ini dengan sendirinya terdongkrak untuk diperhatikan. Perkembangan kota terjadi juga di Barat pada desa-desa selepas Sandominggo yakni Pante Besar, Lewolere dan Waibalun. Mulai terjadi pergerakan untuk keluar dari benteng, sekaligus menorobos masuk ke dalam benteng.

    Pasca banjir 1979, banyak kantor dibangun kembali di luar benteng. Kantor Bupati dan kantor-kantor lainnya yang dibangun di tempat baru menyerupai kompleks perkantoran itu, semakin meninggalkan Larantuka sebagai sebuah benteng. Larantuka perlahan mulai menjemput perkembangan kota modern yang didalamnya harus pula merayakan pluralitas.

    Sedikit berkembang dari kota yang hanya dalam benteng, kini sedikit mulai meluas, sekalipun masih terkesan sangat sempit untuk menampung segala fasilitas perkotaan. Namun, ada optimisme bahwa masyarakat kota yang lebih plural dapat saja segera terwujud. Sementara beberapa perkampungan tradisional yang berada di sekitar pegunungan Ile mandiri mulai ditata sekaligus menjanjikan suasana pembangunan kota yang lebih baik dan bernilai untuk jangka panjang.

    Berhadapan dengan perkembangan masyarakat tanpa harus meninggalkan kekhasan tradisi yang dimiliki masyarakat, maka pekerjaan rumah yang besar adalah mencari formula yang pas agar kehidupan itu bisa mendatangkan kebahagian bagi semua orang tanpa ada yang merasa tersisih dari perkembangan yang ada. Perayaan Semana Santa, misalnya, di satu sisi adalah perayaan orang nagi Larantuka dengan segala aturan yang ditetapkan, tapi sebagai perayaan keagamaan harus terus membuka diri untuk keterlibatan pihak lain.

    Diskusi masih terbuka. Gereja, Pemerintah, dan Kerajaan, tokoh masyarakat, akademisi mestinya selalu duduk bicara menghadapi perubahan yang terus datang. (*)

  • Mengawali Perkembangan Kota Larantuka: Gereja, Kerajaan dan Pemerintahan

    Mengawali Perkembangan Kota Larantuka: Gereja, Kerajaan dan Pemerintahan

    Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020  hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel ketiga Semoga berguna.

    Penulis :  Benjamin Tukan

    Dari sejarah yang ditutur-lisankan secara turun temurun  dari penduduk Flores bagian timur khususnya Larantuka dan sekitarnya, asal usul penghuni wilayah ini datang dari penduduk asli yakni suku ile jadi,  dan para pendatang yang berasal dari wilayah nusantara bagian Barat dan Timur. Suku pendatang berasal dari Barat disebut dengan istilah “Sina Jawa Malaka” dan yang datang dari Timur disebut “Keroko Puken” dan “Tena Mao”.

    Sebutan “Sina Jawa Malaka” sering diasosiasikan orang  sebagai berikut : Sina dimaksudkan suku dari Cina bagian selatan, Jawa ialah suku Hindu Jawa dan Malaka yaitu berasal dari suku Melayu termasuk Portugis indo dan Portugis hitam yang sebelumnya pernah tinggal di Malaka.

    Sedangkan “Keroko Puken”   berasal dari sebuah pulau di timur Lembata yang tenggelam. Suku dari timur pun termasuk suku Seram Goran yang datang dari Maluku, Arafuru dan Banda. Kedatangan penduduk dari luar wilayah ini dalam hal pembauran dengan penduduk asli telah menghasilkan kekhasan tersendiri dalam corak budayanya.

    Jika dilihat lebih jauh lagi ke dalam masyarakat Lamaholot, penduduk yang mendiami wilayah timur Flores ini dapat dikatakan bahwa penduduk Lamaholot merupakan suatu masyarakat yang dibentuk dari proses perjumpaaan, kawin mawin dan asimilasi kebudayaan antara masyarakat asli atau yang datang lebih dahulu dengan masyarakat yang datang kemudian ke wilayah ini.

    Perpindahan suku-suku ke wilayah ini telah dimulai sekitar abad ke 3 hingga abad 5 dari migrasi Melayu yang diperkirakan telah mencapai wilayah Timur dan termasuk daerah  timur Flores. Namun, jika berpatokan pada imigrasi manusia dari Afrika ke bumi nusantara, tentu hitungan tahun dapat mundur jauh ke belakang.  

    Salah satu teluk berpasir putih di Kota Larantuka (Foto : BN)

    Gelombang berikutnya,  pada era kejayaan kerajaan Sriwijaya, juga terjadi migrasi yang mencapai daerah Flores bagian timur termasuk  daerah Timor dan Maluku. Selanjutnya, terjadi pada era perdagangan nusantara termasuk pada era kerajaan Majapahit  yang membawa misi mempersatukan nusantara.  

    Dalam perkembangan masyarakat wilayah ini, dapat dikatakan tempat ini mendapat pengaruh  dari  kerajaan-kerajaan nusantara baik Sriwijaya, Majapahit dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya di nusantara, juga pengaruh dari Portugis, Belanda dan Jepang yang datang kemudian.

    Pengaruh yang dibawa dari luar tentu saja mempengaruhi kehidupan masyarakat di wilayah ini. Selain bentuk dan struktur suku, kampung dan kerajaan, tradisi yang dijalani hingga sekarang pun merupakan hasil dari pencampuran dengan unsur budaya luar atau budaya yang datang kemudian.

    Bukan berlebihan bila dikatakan kebiasaan hidup masyarakat Larantuka merupakan pencampuran yang cukup sempurna antara kebudayaan asli, dan pendatang Malayu dan Eropa. Dalam masyarakat Lamoholot pun terjadi hal yang sama. Dapat kita lihat berbagai kemiripan yang bisa dijumpai dengan penduduk di tenggara Maluku bahkan sampai Papua bagian barat.

    Kembali ke Larantuka. Sebagai kota yang pernah dijadikan pusat misi Katolik,  Paderi Portugis dan umat Katolik awal, terus menghidupkan  tradisi katolik yang tersisa, entah tersisa dari tanah asalnya di Eropa, maupun tersisa dari pelarian setelah runtuhnya benteng Malaka, benteng Makasar maupun benteng Solor.

    Ketika memulai kehidupan awal di Larantuka dari suatu perjalanan panjang sebelumnya, orang nasarani Larantuka memulai dengan menata patung dan segala ornamento perayaan keagamaan Katolik untuk disimpan pada tempat yang lebih baik. Tradisi yang merupakan warisan dari masyarakat Eropa abad pertengahan ini berhubungan pula dengan devosi kepada yang Kudus yang terus dirayakan, dipertahankan bahkan terus diwariskan kepada keturuanannya hingga saat ini.

    Patung, ornamento dan tradisi berdevosi, bukanlah sekadar hadir menyemarakan perayaan keagamaan dalam tradisi Katolik. Ada suatu yang lebih dari itu yakni untuk menghadapi ancaman yang terus datang  baik dari Belanda maupun penduduk lokal juga termasuk persaingan dagang tempo itu. Ornamento dan tradisi dijadikan sarana perlindungan sekaligus jalan pengharapan akan datangnya mukjizat dan keselamatan. Semakin banyak dijumpai kesulitan, semakin umat merasa dekat dengan yang kudus.

    Larantuka ketika itu, memang jauh dari pembicaraan politik para pengambil keputusan. Pergolakan politik yang terjadi di luar sana, sepertinya tidak pernah memikirkan tentang keberadaan masyarakat Larantuka. Larantuka bahkan semakin jauh dari perhatian, juga ketika kedatangan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) di Nusantara dalam tahun 1602 atau setelah hancurnya Benteng Portugis di Ambon 1605.

    Walau Portugis pernah menjadikan Solor sebagai pusat misi, yang kurang lebih berhubungan dengan perdagangan cendana, itupun tidak menjadi pertimbangan VOC untuk melihat lebih jauh akan potensi ekonomi wilayah ini. Politik VOC yang tidak memperhatikan daerah-daerah di luar Jawa, semakin menjauhkan Larantuka dari percaturan perdagangan masa VOC Belanda yang dampaknya hingga saat ini.

    Menarik disimak perkembangan masyarakat di wilayah ini terutama dalam hal kegalauan menghadapi kebijakan politik dan ekonomi kala itu. Persaingan Portugis dan Belanda, sungguh mempengaruhi keberadaan misonaris yang melayani umat saat itu.Misonaris Portugis terpaksa pergi meninggalkan Larantuka  seiring dengan kemauan politik yang menghendaki Portugis harus pergi, menyebabkan umat  harus berjuang sendiri lepas dari para misionaris. Di sinilah mulai muncul peran raja Larantuka yang semakin luas untuk mengambil alih kepemimpinan agama saat itu. 

    Bersama raja, penduduk Larantuka melewati hari-hari dalam kesepian, menjadi sendiri bagai “yatim piatu” jauh dari persinggungan arus perkembangan perdagangan nusantara dan atau terpengaruh menjadi koloni dari para penguasa jalur rempah. Barangkali hubungan-hubungan kerajaan-kerajaan kecil Islam di wilayah ini dengan Ternate dan Tidore, Gowa dan Bima sedikit banyak menghidupkan perdagangan di wilayah ini tempo itu.

    Larantuka baru kembali menjadi perbincangan ketika datangnya misonaris Belanda dan mulai membuka lembaga-lembaga pendidikan.  Sekalipun di wilayah pemerintahan, sentralisme Belanda tetap menjauhkan Larantuka, justru dalam soal agama, Larantuka tetap menjadi awal sejarah pendidikan dan misi di Flores.

    Pendidikan yang diselenggarakan dalam banyak hal lebih ditujukan untuk melayani pengembangan misi dimanapun dibutuhkan. Bisa dikatakan, Larantuka hidup dan berkembang tidak secara khusus untuk masyarakatnya sendiri melainkan selalu berhubungan dengan sesuatu di luarnya.

    Perkembangan lain yang cukup menarik disimak adalah dalam hubungan dengan kekafiran (istilah untuk orang yang belum beragama formal) ataupun dalam kerangka agama lokal menghadapi datangnya agama-agama baru yang dibawa orang Eropa.  Ada yang cukup menarik lantaran tempat inipun menjadi awal perjumpaan antara agama baru dan agama lokal.

    Selat Larantuka bagai sebuah danau, tempat warga menghabiskan waktu untuk memancing ikan (Foto : FBC)

    Dapatkah mereka bersanding? Itu pertanyaan yang mungkin ada. Tapi bagaimana pun kemauan awal dari perjalanan yang sungguh jauh di belahan Eropa sana tidak mudah menerima semuanya bisa bersama berjalan secara mulus. Keinginan  untuk melawan kekafiran di sekitarnya merupakan sebagian sedikit sejarah yang menandakan keberadaan kota ini. 

    Perlawanan untuk mempertahankan kebenaran yang diyakini, segera mencari jalan baru untuk membawa daerah ini pada suatu perlindungan dalam tradisi yang dihayati. Oleh para misonaris, kota Larantuka berada dalam perlindungan santo Philipus dan Yakobus, kendati hingga kini orang lebih mengenal sebagai kota Maria atau dijuluki ‘Kota Reinha’.

    Patahan demi patahan sejarah terus dialami penduduk wilayah ini. Kehidupan yang mulai tertata harus diiklaskan untuk tidak dilanjutkan, lantaran politik yang ditentukan di luar sana menghendaki suatu yang lain sama sekali. Apa yang dialami umat ketika peralihan Portugis ke Belanda, kembali terulang dalam peralihan Belanda ke Jepang. Segalanya harus mulai secara baru lagi. Lagi-lagi untuk bisa bertahan, kembali ke tradisi adalah jawabannya.

    Perkembangan terus berjalan. Sebagai akibat dari pertumbuhan umat yang semakin pesat, sejak 1951 Larantuka dan sekitarnya menjadi  satu wilayah keuskupan yakni Keuskupan Larantuka. 

    Larantuka dijadikan tempat kediaman Uskup Larantuka yang berarti juga menjadi pusat keuskupan. Ini juga membawa pengaruh yang cukup besar dan berarti bagi perkembangan kota ini. Hilir mudik para imam dan biarawan yang mengunjungi rumah keuskupan di Sandominggo menjadikan kota ini mulai terasa kian ramai dan mulai ada kesibukan baru.  

    Sementara di wilayah pemerintahan yang ketika itu sudah menjadi bagian dari NKRI, Larantuka dijadikan  ibukota kabupaten  Flores Timur, sebagaimana masa Belanda yang menempatkan satu komandan di sini.

    Sebagai ibukota Kabupaten Flores Timur, mulai ada permintaan tenaga kerja untuk mengisi pos-pos dalam pemerintahan. Perpindahan penduduk ke pusat kekuasaan adalah suatu hal yang tak bisa dihindarkan. Larantuka mulai bertumbuh sebagai sebuah ibu kota kabupaten dengan segala konsekuensinya.

    Larantuka, wilayah yang kecil itu, adalah tempat tinggal uskup Larantuka, tempat tinggal raja Larantuka dan tempat tinggal dan bekerja dari seorang bupati. Semuanya ada di sini dan semuanya memiliki “suara” yang sama nyaringnya. Karenanya tidak heran, saat sebuah isu diperbincangkan di wilayah publik, orang pun bertanya, “ini suara siapa?”.

    Larantuka masih terus berkembang. (*)

  • Larantuka, Dari Dulu Sudah Jadi  Perhatian

    Larantuka, Dari Dulu Sudah Jadi Perhatian

    Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com akan menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020 ini hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Artikel Rabu 26 Februari 2020 berjudul : “Rabu Abu-Awal Prapaskah, Saatnya Bersiap-siap Pergi ke Larantuka”. Semoga berguna.

    Penulis: Benjamin Tukan

    Di hadapan saya terlihat laut biru. Serta berbagai pulau, yaitu Pulau Adonara dan Solor, tempat orang Portugis meninggalkan berbagai benteng, gereja, dan senjata berat. Di belakang saya terdapat permadani hijau yang terdampar hingga ke pucuk gunung Ile Mandiri, ke arah selatan , suatu kawasan yang setengah hancur, tempat beberapa remaja serta botol plastik beristirahat, menempati pantai yang menurut lagenda pernah ditemukan patung Bunda Maria Rosari dan terukir kata “Mater Dolorosa” di atas pasir“.

    Sepenggal kalimat diatas adalah tulisan Jurnalis Lepas asal Portugis Joaquim Magalhaes de Castro dalam bukunya Lautan Rempah Peninggalan Portugis di Nusantara”, tentang pengalamannya saat pertama kali menginjakan kakinya di Larantuka.

    ***

    Terletak di ujung Timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT),  kota Larantuka terbilang relatif kecil  hanya memanjang dari timur ke barat kira-kira 10 km. Sisi utara kota ini langsung merebah di lereng gunung Ile Mandiri dan sisi selatannya langsung bertemu dengan pinggir pantai Selat  Larantuka.  

    Di depan kota ini, dalam jaraknya yang sangat dekat berjejer dua pulau yakni Pulau Solor dan Pulau Adonara yang menjadikan laut di depannya bagai sebuah danau yang indah. Tersembunyi di balik kedua pulau ini, dalam jarak tempuh pelayaran  dengan kapal motor selama 30 menit segera dapat terlihat sebuah pulau yang cukup besar dan kaya yakni pulau Lembata. Gugusan  pulau ini termasuk Alor dan Pantar di timur Lembata, sering dinamakan kepulauan Solor. 

    Sebagai daerah yang terletak di pulau Flores bagian timur, Larantuka berada dalam rumpun budaya  Lamaholot, umumnya dianut masyarakat penghuni kepulauan Solor. Kendati  batasan selalu tidak tegas membedakan,  penduduk  Lamaholot sering diasosiasikan  dengan penduduk  yang  mendiami  Flores Timur daratan, Pulau Solor, Adonara, Lembata dan sebagian Alor-Pantar.

    Kota Larantuka di Waktu sore. (Foto tahun 2011)

    Sebutan Lamaholot untuk wilayah ini memang cukup beralasan. Dalam bahasa setempat Lamaholot berasal dari kata Lama yang berarti bagian atau kampung, atau piring (lamak) dan holo berarti sambung, diartikan sebagai gugusan pulau atau kampung yang bersambung. Suatu masyarakat dimana antar kampung juga pulau yang berbeda mempunyai jalinan kekarabatan.

    Sebagaimana kehidupan setiap kampung yang otonom dalam kebudayaan ini, dapat saja terjadi perbedaan aturan dan budaya, namun tetap saja memiliki satu kesamaan dalam  pandangan tentang alam kodrati dan sesama masyarakat.  Dalam hal ini, masyarakat Lamaholot juga telah lama mengenal kehidupan masyarakat dalam bentuk organisasi  yang khas.  Hal ini dapat dilihat di hampir setiap kampung memiliki struktur kesukuan yakni yakni Koten, Kelen, Hurit dan Maran yang memiliki peran masing-masing dalam menjaga keharmonisan kehidupan kampung. 

    Sebenarnya wilayah yang disebut kepulauan Solor atau juga tanah Lamaholot, dari sisi bahasa bukanlah satu bahasa. Dari segi bahasa, umumnya penduduk di wilayah ini menggunakan   bahasa Lamaholot, tapi juga dibeberapa tempat seperti Larantuka, menggunakan bahasa Melayu,  bahasa Kedang untuk wilayah Kedang, bahasa krowin  untuk wilayah yang berbatasan dengan kabupaten Sikka dan bahasa Bajo untuk beberapa wilayah di pesisir Pantai.    

    Larantuka terletak pada 8,4 derajat lintang selatan dan 123 derajat bujur timur beriklim sub tropis dengan musim kemarau yang panjang rata-rata 8-9 bulan, Musim hujan hanya terdapat pada bulan Desember-hingga Maret.   Namun perubahan iklim saat  ini yang tidak menentu, seringkali membuat kota ini mengalami curah hujan yang ekstrim baru pada bulan januari dan  Februari bahkan Maret.

    Pada musim kemarau, suhu udara di Larantuka terbilang cukup panas. Suhu udara yang panas ini  menyebabkan siang hari berada di kota ini selalu disinari matahari yang menyengat.  Pemandangan lahan tandus  pada punggung gunung ile Mandiri juga perbukitan-perbukitan kecil yang ada di pulau Solor dan Adonara, menjadikan suasana terasa begitu gersang.

    Kota Larantuka memang berada di dalam teluk dan siapa pun yang pernah ke sana akan terkesima menyaksikan indahnya panorama teluk.  Sebagai daerah berteluk, tempat ini pun sejak abad 16 sudah menjadi perhatian dari berbagai orang yang melintasi pelayaran nusantara dari barat ke timur dan dari timur ke barat. Amukan gelombang laut di perairan Flores bagian utara dan Laut Sawu bagian selatan Flores, mau tidak mau  menjadikan Larantuka tempat alternatif untuk berteduh sekaligus mengisi perbekalan untuk perjalanan selanjutnya. 

    Kapal Motor Penyeberangan antar pulau dari pelabuhan Larantuka

    Bagai bersambut gayung, wilayah teluk yang banyak terdapat di  kepulauan  Solor menjadi tempat yang aman  untuk bersembunyi dari perompak-perompak laut yang selalu hadir di tengah ramainya perdagangan nusantara tempo itu. Kerasnya persaingan dalam perdagangan, menjadikan Larantuka bagai kota yang siap untuk memberi ketenangan, menyusun strategi untuk melanjutkan atau bertahan dari gejolak persaingan yang ada.

    Sebagai daerah berteluk, selain Larantuka sebagai pelabuhan yang cukup ramai, di kepulauan Solor terdapat juga  pelabuhan-pelabuhan kecil diantaranya, Balauring, Hadakewa, Lewoleba, Waiteba, Labala, Wulandoni, Lamalera, Mingar, Loang (Semuanya di Lembata), Mananga, dan Lamakera (pulau Solor),   Waiwerang,  Lamahala, Terong, Sagu, Waiwuring (di pulau Adonara) ; Konga, Paihaka, Pantai Oa, Pantai Konga, Pantai Wotan, Pantai Kelambu  dan Rako di Wilayah Flores Timur daratan.

    Seiring perkembangan yang terjadi,  persingahan demi persinggahan dan juga lintasan perahu layar yang keluar masuk teluk,  menyebabkan Larantuka menjadi pelabuhan yang ramai di bandingkan pelabuhan di sekitarnya. Dari perkembangan demi perkembangan Larantuka yang sebelumnya bernama Lewonama  (tempat orang berkumpul) berubah nama menjadi Larantuka (Laran = jalan, tukan = tengah) yang dapat diartikan sebagai tempat persinggahan atau jalan tengah. (*)