Tag: Larantuka

  • Cegah Corona, Haruskah Semana Santa Ditunda?

    Cegah Corona, Haruskah Semana Santa Ditunda?

    Oleh Benjamin Tukan

    Sebagian orang masih berpendapat demikian : Covid 19 atau virus korona masih rumor dan korban pun masih belum banyak; media hanya menebar kepanikan; pemerintah dinilai berlebihan.

    Masih dalam pandangan semacam ini, orang pun mengatakan: buktinya kami masih aman-aman saja; korona terjadi hanya di kota besar dan tidak mungkin sampai di kampung yang jauh dari keramaian. Di kampung nun jauh dari kota, orang masih bisa mengenal satu dengan yang lain, mengetahu riwayat mereka dan siapa saja yang datang dan pergi dalam beberapa waktu belakangan ini.

    Negara Italia barangkali contoh negara dan masyarakat yang menganggap  enteng dengan penyebaran virus ini. Awalnya masyarakat di negara itu menanggapi korona dengan biasa-biasa saja, enteng-enteng saja. Tapi apa yang terjadi, Italia menjadi Negara dengan jumlah kematian tertinggi. Hingga Jumat (20/3) malam sudah 3.405 orang yang meninggal. (Kompas, 21/3/2020).

    Berbeda dengan Italia, Presiden Jokowi selalu menunjukkan keseriusan dalam menanggapi penyebaran corona ini. Beberapa waktu lalu, Senin (16/3/2020) Presiden kembali menegaskan untuk mengurangi mobilitas orang dari satu tempat ke tempat lain, menjaga jarak dan mengurangi kerumunan orang yang membawa risiko lebih besar pada penyebaran Covid-19. Kebjiakan Jokowi diikuti seluruh pemerintahan daerah.

    Bagaimana dengan perayaan Semana Santa (Pekan Suci jelang Paskah) di Larantuka? Wajar bila orang bertanya demikian lantaran perayaan ini sudah menjadi tradisi berabad silam dan mengundang perhatian orang datang ke Larantuka setiap tahun. 

    Perayaan Semana Santa pun yang dijalankan masyarakat selalu dibingkai dalam upaya melindungi diri dari segala penyakit dan marah bahaya.  Lanjutan pertanyaannya, akankah semana santa dilanjutkan, ditunda atau dibuat sederhana dalam situasi semacam ini?

    ***  

    Semana santa berhubungan dengan patung-patung yang dianggap keramat berhubungan pula dengan prosesi Jumat Agung yang selalu diikuti ribuan umat.  

    Bukan berlebihan orang meyakini bahwa semana santa adalah ritus yang dilakukan umat untuk mendekatkan diri pada sang khalik dalam menyampaikan permohonan agar terbebas dari segala marah bahaya dan penderitaan yang selalu mendera.

    Saat orang Portugis meninggalkan Malaka dan Makasar, ketika jatuhnya benteng Portugis di Malaka, sekelompok umat katolik panik dan tak tahu mau kemana. Dalam kepanikan itu, hanya satu-satunya yang membuat mereka memiliki harapan adalah kembali ke patung-patung yang dibawa dari negeri asalnya dan  melalui sarana itu mereka berdoa. 

    Ketika mereka harus pergi meninggalkan Malaka dan Makasar, sebagaimana mereka pernah mengarungi lautan dari negeri asalnya  Portugis, di lautan lepas serba tidak pasti mereka hanya memiliki kepastian bahwa melalui patung-patung yang dibawanya itu mereka akan tiba ke suatu tempat yang lebih baik.   

    Saat tiba di Larantuka, pengalaman itu kembali diceritakan termasuk kepada penduduk lokal. Ceritra itu  kemudian dipercaya dan mulai diwariskan. Di jaman Belanda, Jepang dengan segala pertikaian dan kepanikan, mereka hanya tahu bahwa mereka memiliki patung-patung dan melalui  sarana  itu mereka bisa kembali berlindung dan meminta belas kasih dari yang kudus.

    Begitu banyak soal, dari bencana alam yang memporakporandakan negeri, kasus-kasus kelaparan hingga konflik dalam keluarga,  kesusahan yang dialami anak  di perantauan, sakit yang tak sembuh, semuanya selalu membawa mereka datang ke kapel-kapel tempat patung-patung itu diletakan termasuk mengikuti prosesi-prosesi yang sudah menjadi tradisi.

    Sekarang ada Korona. Korona itu menakutkan dan membawa kegelisahan dan rasa panik dunia. Namun, di Larantuka, belum terdengar sirene ambulans yang membawa jenazah yang mati akibat korona. Lonceng gereja tanda ada umat yang meninggal memang selalu saja berbunyi, tapi belum ada yang mengatakan “yang meninggal”itu karena korona.

    Sulit menyakini bahaya korona kalau sirene ambulans dan lonceng gereja belum berbunyi. Tapi satu yang pasti dan tak bisa bisa dihindarkan adalah ajakan untuk berjaga-jaga. Berjaga-jagalah,karena korona sudah dekat.

    Dalam serba tanda tanya dan keraguan ajakan untuk menjaga diri agar tetap sehat bisa dapat diterima, tetapi ajakan untuk tidak berkumpul kembali pada sang kudus merupakan suatu yang masih perlu  direnungkan. Jika melarang mereka berjumpa dengan yang kudus, bukankah ketika sirene ambulans pembawa pasien covid 19 berbunyi, yang disalahkan adalah mereka yang melarang untuk berkunjung secara bersama-sama  kepada patung-patung yang menjadi sarana menuju  kekudusan itu?

    ***

    Corona terus menyebar. Salah satu upaya membatasi virus korona ini adalah menghindari diri dari acara kumpul-kumpul. Kebijakan di sejumlah negara menutup wilayahnya bahkan membatasi  dan mengawasi arus perpindahan orang. Tapi ini pun belum menjelaskan secara baik hubungan manusia dengan Tuhan dalam perayaan keagamaan. “Di pintu Mu, aku mengetuk, aku tak mungkin berpaling,” demikian Charil Anwar dalam puisinya.

    Tanpa harus menjelaskan aspek teologis, Vatikan dan negara Arab Saudi, pusat –pusat keagamaan dunia menjadi contoh yang baik untuk memudahkan orang menerima penjelasan soal-soal ini. Arab Saudi menutup perbatasan, hingga memenjarakan mereka yang nekat berkumpul sekalipun dengan alasan shalat jemaah di masjid.

    Vatikan pun melakukan pembatasan dan dalam hubungan Ibadah “Pekan Suci” dan Paskah yang dipimpin oleh Paus Fransiskus dilakukan tanpa kehadiran jemaat demi mencegah penyebaran jenis baru virus corona.

    Di Jakarta dan beberapa tempat lain di Indonesia, shalat jemaah di masjid mulai dibatasi, demikian di beberapa gereja  sudah membatasi umat untuk datang ke gereja mengadakan misa mingguan.   

    ***

    Kembali ke Semana Santa. Perayaan yang tinggal beberapa minggu ini selalu dikuatirkan tetap berjalan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Surat Bupati Flores Timur yang dikeluarkan 17 Maret 2020 tidak menyebutkan secara jelas apakah perayaan semana santa ditunda atau tidak. Bupati tegas menyampaikan prosedur pembatasan penyebaran korona, namun terkait Semana Santa, Bupati hanya menyebutkan : membatasi orang yang datang ke semana santa.

    Surat itu kalau dibaca bisa juga berhubungan dengan semana santa, bisa juga tidak. Bupati sepertinya tidak  mengurusi detail semana santa karena dari perayaan semana santa sebelumnya, pemerintah memang dibatasi untuk  mengurusi Semana Santa. Raja Larantuka, Gereja lokal adalah pihak-pihak yang secara langsung terlibat mengatur semana santa.

    Di hari dan tanggal yang sama Selasa, 17 Maret 2020 dengan surat edaran Bupati Flores Timur, Raja Larantuka Don Tinus melalui media EkoraNTT mengatakan semana santa tetap dilakukan. Kutipan pernyataan : “Berkaitan dengan Semana Santa, kami suku pemilik Semana Santa dan pihak Gereja mau supaya Devosi Semana Santa ini tetap dilakukan. Tanpa umat peziarah dari luar daerah pun tetap, kami lakukan sebab dari dulu tradisi ini tetap kami laksanakan,” jelas Don Tinus.

    Beberapa hari kemudian, diselenggarakan rapat di paroki katedral. Beberapa info hasil dari rapat itu segera menyebar.  Rapat mempertegas Surat Edaran Bupati dan penyelenggaraan semana santa hanya untuk umat  paroki katedral Larantuka. Ini artinya perayaan semana santa dibuat sederhana dan melarang semua keluarga menerima tamu siapa saja yang datang dri luar larantuka. Sementara untuk ritus cium Tuan Ma dan Tuan Ana akan dibagi per lingkungan dan akan diatur jarak 1  meter per orang dan tidak masuk kapela tapi hanya menunduk dan menghormati di depan pintu

    ***

    Jelas semana santa tidak ditunda, tapi penyelenggaran disesuaikan dengan kondisi, terutama dalam upaya membatasi penyebaran virus corona. Penundaan itu tidak mungkin. Semana santa tidak bisa digeser ke bulan lain juga ke tahun depan,karena bulan lain dan tahun depan punya agenda perayaannya sendiri. Perayaan semana santa tahun depan adalah agenda tahun depan, bukan agenda tahun ini yang dilaksanakan tahun depan.

    Pilihannya hanya ditiadakan atau dilakukan sesederhana mungkin. Sampai di sini, tidak ada yang mesti diperdebatkan apalagi bersikukuh untuk tetap menyelenggarakan semana santa seperti dalam kondisi normal, atau meminta untuk tidak mengubah dengan alasan sudah mentradisi.

    Perubahan penyelenggaraan semana santa merupakan hal yang biasa-biasa saja. Bahkan meniadakan semana santa untuk tahun ini juga hal yang biasa saja asal dengan pertimbangan yang bisa diterima dan diputuskan oleh otoritas seperti Gereja dan kerajaan. Jangankan dalam babakan sejarah semana santa telah mengalami perubahan yang radikal, setiap tahun saja selalu terjadi perubahan. Siapa pun tahu tentang semana santa tahu bahwa ritus ini terus berkembang menyesuaikan dengan perubahan zaman. Umat tahu mana yang utama dan mana yang sekedar tambahan.

    Hal yang tidak berubah adalah umat tetap kembali kepada yang kudus melalui patung-patung dan perayaaan  keagamaan dalam keadaan apapun apalagi dalam saat mengalami kekalutan hidup. “Tiap hari tetap berdoa, dalam tori dalam kapela,” demikian hidup yang dilalui umat katolik setempat.

    Masyarakat Larantuka, umat keuskupan Larantuka yang meliputi Flores Timur daratan, Adonara, Solor dan Lembata bukanlah masyarakat tertutup, yang menutup  telinga  dari perkembangan di sekitarnya. Apalagi dunia kini sudah menuju pada masyarakat baru yang mengubah secara radikal watak individu ekonomi (ingat diri) manusia menjadi mahkluk sosial yang berbagi (ingat orang lain).

    Dari masyarakat berbagi semacam ini, orang mulai sadar penderitaan yang terjadi di belahan wilayah lain adalah juga menjadi penderitaan orang-orang di wilayah sini. Begitupun manusia semakin dihargai,karena itu tidak penting berapa banyak jumlah kematian, tapi kematian itu sendiri adalah suatu permasalahan bersama. Inilah sebabnya mengapa orang perlu menjaga dirinya untuk tidak mengorbankan orang lain.

    Di tengah korona yang membatasi pertemuan dan keramaian, semana santa dan kehidupan iman umat diajak untuk kembali ke asali. Seperti yang terjadi dengan berbagai persoalan yang sering melilit masyarakat, orang kembali pada yang kudus , meletakan kembali patung-patung itu di rumah masing-masing, datang sendiri ke kapel dan tetap berdoa termasuk dalam masa semana santa.

    Inilah solidaritas yang dibutuhkan dari umat lokal  untuk tetap berdoa tapi mematuhi arahan yang telah diberikan untuk tetap membatasi penyebaran corona dan menyadari akan ancaman korona. Tak perlu beramai-ramai kalau sekedar pertunjukan . Hanya kembali pada patung di rumah, kontas di tangan, orang Larantuka dapat tetap meyakini “torang mati di kaki Tuhan” atau “sampai mati tetap bersama Tuhan”.

  • Belanda Tiba di Larantuka : “Menunggu dalam Harap-harap Cemas”

    Belanda Tiba di Larantuka : “Menunggu dalam Harap-harap Cemas”

    Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020  hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel Kedelapan. Semoga berguna.

    Penulis : Benjamin Tukan

    Lain Portugis, lain Belanda. Berita jatuhnya Benteng Malaka ke tangan Belanda tahun 1641 seakan membawa kecemasan bahwa sebentar lagi kepulauan Solor pun bakal dikuasai oleh Belanda. Apa yang akan diperbuat Belanda di kepulauan Solor? Tak ada yang dapat memastikan. Semua serba spekulasi.

    Namun, kedatangan para pengungsi dari Malaka kemudian dari Makasar akibat kekalahan perang Portugis sepertinya mulai memberi kekuatiran di tengah masyarakat.

    Mendahului kedatangan pengaruh politik Belanda di kepulauan Solor, dari segi ekonomi, pelayaran-pelayaran perdagangan nusantara kala itu perlahan mulai dikuasai Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). VOC yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 adalah perusahaan Belanda yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia.

    Di Indonesia VOC memiliki sebutan populer Kompeni atau Kumpeni. Istilah ini diambil dari kata compagnie dalam nama lengkap perusahaan tersebut dalam bahasa Belanda. VOC yang menjadi kampiun perdagangan saat itu, sangat berambisi menguasai sentra-sentra perdagangan.

    Hingga kedatangan pengaruh politik Belanda, tidak ada pengetahuan sedikit pun tentang kompeni ini. Namun kenyataan yang terjadi, kekuasaan Portugis mulai terdesak. Blokade di jalur perdagagan yang dilakukan VOC, mulai menuai protes dan perang pun tak terhindarkan terjadi di hampir seluruh nusantara.

    Pelabuhan Larantuka

    Sebagaimana yang terjadi di kepulauan Solor, pada 27 Januari 1613 sebuah armada Belanda datang ke Solor dan tiga bulan kemudian tepatnya 18 April 1613 benteng Solor pun jatuh ke tangan Belanda.

    Rupanya prospek perekonomian di kepuluaan Solor terlalu diabaikan oleh Belanda. Belanda pun anggan menghabiskan waktu menghadapi pertikaian yang sering terjadi di masyarakat lokal.

    Hanya tiga tahun Belanda menduduki benteng, tahun 1616 Belanda meninggalkan benteng. Politik ekonomi VOC lebih mefokuskan daerah Jawa, dengan pola pertanian skala besar. Apa yang terjadi ? Daerah-daerah yang jauh dari Jawa-Sumatera mulai tidak diperhatikan oleh Belanda.

    Tapi lagi-lagi, kedatangan Belanda tidak hanya semata-mata mengumpulkan hasil-hasil bumi untuk didagangkan, tapi jauh lebih mendesak yakni mengamankan jalur perdagangan. Konsekuensinya begitu serius karena penaklukan wilayah yang otonom harus dilakukan, sekalipun korban peperangan adalah kelanjutannya.

    Lagi-lagi Belanda tetap menginginkan konsolidasi teritori di seluruh nusantara. Di kepulauan Solor, Belanda bolak balik hanya membuat Portugis tidak leluasa menguasai wilayah ini. Upaya penguasaan wilayah terutama di kepulauan Solor oleh Belanda baru mulai serius pada tahun 1851.

    Kali ini Belanda memang serius. Di bulan Desember 1851, kapal Belanda Merapie melabuhkan jangkarnya di pelabuhan Larantuka. Saat itu Belanda mengumumkan pada upacara penyambutan di Larantuka bahwa agama tetap dipertahankan. Dari 1851 hingga 1859 Belanda melakukan serangkaian perundingan dengan Portugis dan 20 April 1859, seluruh kepulauan Solor menjadi milik Belanda.

    ***

    Kendati sebelumnya politik Belanda, menempatkan kepulauan di luar Jawa sebagai Buitengewesten (wilayah di luar, wilayah luaran), atau juga buitenbezittingen (milik-milik di luar sana). Namun perubahan baru tengah dihadapi masyarakat baik dari segi politik maupun dalam wilayah keagamaan.

    Dari segi politik, Belanda mulai memperkenalkan struktur pemerintahan baru yang semuanya berpusat pada Gubernur Jendral yang ada di Batavia. Pada 1915 Belanda membagi wilayah pemerintahan yang terdiri dari Residen, afdeling, onderafdeling, dan beberapa district (distrik) atau gemeente di bawahnya. Pembagian wilayah yang demikian juga berdampak pada semakin melemahnya kekuatan masyarakat lokal.

    Daerah Flores menjadi satu afdeling dan berpusat di Ende. Sementara Afdeling Flores tergabung dalam satu residen Timor yang berpusat di Kupang. Residentie Timor tergabung ke dalam propinsi Grote Oost, Timur Besar dengan ibukotanya Makasar.

    Keresidenan Timor dan daerah takluknya dipimpin oleh seorang residen, sedangkan afdeeling di pimpin oleh seorang asisten residen. Asisten residen ini membawahi Kontrolir atau Controleur dan Geraghebber sebagai pemimpin Onder afdeeling. Asisten residen, kontrolir dan gezaghebber adalah pamong praja Kolonial Belanda.

    Para kepala onder afdeeling yakni kontrolir dibantu oleh pamong praja bumi putra ber pangkat Bestuurs assistant.Kepala distrik atau kepala hamente mendapat nama yang berbeda di tiap wilayah.

    Pembagian dari segi kelompok etnik dengan bahasa dan budaya sendiri yang dilakukan Belanda kurang lebih menyesuaikan dengan wilayah kerajaan yang ada saat itu. Dengan menempatkan penguasan sipil (zelfbestuurder) di setiap onder afdeeling tentu semakin mengurangi kekuasaan raja yang sebelumnnya sangat otonom.

    Belum lagi dalam perkembangan kemudian raja harus menandatangi hak dan kewajibannya untuk tunduk pada pemerintahan Belanda. Namun, pola kekuasan pemerintah Belanda ketika itu masih menerapkan pola sentralisme dan semua harus tunduk pada Batavia.

    Aksi-aksi militer Belanda dan penertiban atas pemerintah lokal yang sebelumnnya otonom telah pula membawa goncangan di masyarakat. Ada perkembangan yang cukup baik dengan kebijakan politik etis dengan mulai dibangunnya sarana jalan yang menghubungkan satu kota dengan kota yang lain dalam wilayah ini yang mulai dibangun 1909 . Begitupun jalan lintas Flores dari Reo ke Larantuka mulai dibangun pada 31 Agustus 1915 dan selesai 31 Agustus 1925, dimana berdampak bagi penduduk untuk membangun pemukiman di sekitar wilayah yang berdekatan dengan jalan.

    ***

    Anda Boleh Berganti Bendera, Namun Anda Tidak Boleh Pernah Berganti Agama”.

    Pernyataan diatas, adalah pernyataan Imam Portugis, Gregorio Maria Barreta kepada umatnya di Larantuka ketika masa peralihan itu berlangsung.

    Ini tentu berhubungan sekali dengan perjanjian Portugis dan Belanda yang mengharuskan agar pemerintah Belanda harus mengakui keberadaan agama katolik di wilayah ini.

    Di wilayah keagamaan khususnya perkembangan misonaris yang datang, justru terlihat ada perhatian serius di masa ini akan perkembangan gereja lokal. Para misonaris diberi kebebasan untuk menangani pendidikan dan jumlah pelayanan umat pun semakin baik karena misonaris yang datang lebih banyak dari sebelummnya.

    Sebagai pusat misi tempat subur tumbuh kembangnya benih iman Katolik kala itu, kedatangan Belanda mau tidak mau juga menjadi perhatian misonaris dan gereja saat itu. Dengan dukungan pemerintahan gubernur Belanda, tahapan misi kedua di Larantuka mulai ditata lagi. Namun kali ini, misi yang dibawah lebih bernuasa sistemastis dengan pandangan yang lebih visoner ke depan.

    Postoh-Lanrantuka (Foto 10 tahun lalu)

    Kendati melewati serangkaian perdebatan di Parlemen Belanda yang akhirnya pada 23 Agustus 1860 disepakati rumusan “kebebasan agama diberikan secara timbal balik kepada para penduduk di wilayah-wilayah yang diserahkan perjanjian ini”, namun Belanda tetap harus memenuhi kewajibannya.

    Pada 12 September 1859 sepucuk surat dari Larantuka kepada Mgr Petrus Maria Vrancken Pr, Vikaris Apostolik Batavia untuk mengirim imam ke Larantuka. Uskup Vrancken kemudian mengirimkan Pater Johanes Petrus Nicolaus Sanders, imam diosesan, asal Leiden Belanda dan telah menjadi misonaris di Hindia Belanda sejak 1847 ke Larantuka pada 1860.

    Pater Johanes Petrus Nicolaus Sanders merupakan tokoh penting ketika itu karena mulai dengan suatu tradisi yang baru namun tak selamanya bisa cepat diterima oleh umat. Perbedaan sikap yang seringkali ditunjukan raja dan umat terhadap pastor memang akhirnya dapat dimengerti mengingat begitu lamanya umat ditinggalkan pastor.

    Bagaimanapun, selama ketidak hadiran pastor di wilayah ini, umat sudah merasa nyaman dengan apa yang dilakukan, terutama yang berhubungan dengan perayaan-perayaan kegerejaan.

    ***

    Suatu perubahan besar baik politik, sosial kemasyarakatan, pendidikan dan agama sedang terjadi di Larantuka saat itu. Suatu era baru mulai diperkenalkan yang pengaruhnya hingga saat ini. Barangkali pembicaraan tentang Larantuka kemudian berhubungan dengan suatu integrasi baru yang menamakan diri Flores Timur termasuk Lembata, perlu dilihat dalam konteks ini.

    Di luar itu masih terdapat begitu banyak sejarah lokal yang juga berlangsung di masa-masa ini, yang belum banyak terungkap. Sejarah kerajaan Islam di daerah ini pun belum banyak terungkap.

    Kita perlu belajar dari sejarah yang menjadikan kita seperti hari ini. (*)

  • Portugis di Larantuka, Kenangan yang Tersisa

    Portugis di Larantuka, Kenangan yang Tersisa

    Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020  hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel ketujuh. Semoga berguna.

    Penulis : Benjamin Tukan

    Portugis pindah dari Solor ke Larantuka dan membangun benteng di Sandominggo 18 April 1613. Tapi jangan dikira dengan membangun dua benteng sekaligus di Larantuka, benteng Sandominggo dan kemudian Benteng Postoh tahun 1620, Portugis sudah melupakan Solor. Justru di Larantuka, Portugis lebih serius untuk kembali ke Solor menata puing-puing peninggalan yang telah porak poranda itu.

    Portugis tahu, sekalipun Belanda telah mengambil benteng Solor, Belanda sepertinya tidak serius mengurus benteng itu apalagi terlibat dalam perdagangan antar pulau di kepulauan Solor. Belanda sempat meninggalkan Lohayong –Solor 1616 dan baru kembali lagi ke tempat ini dua tahun kemudian yakni 1618. Dalam tahun 1629-1630 Belanda juga meninggalkan benteng itu.

    Tapi kembali Solor itu tidak mudah. Dari Sandominggo di Larantuka, Solor hanya sejauh mata memandang. Namun, bagi Portugis untuk ke sana harus berpikir dua tiga kali karena ancaman selalu saja datang baik dari Belanda maupun dari penduduk lokal.

    Tahun 1598 penduduk lokal pernah menunjukan kemarahan dan memporakporandakan benteng, lantaran Panglima Benteng Antonio Viegas memenjarakan seorang Bangsawan Lamakera D. Diogo. Belum lagi sewaktu-waktu Belanda bisa datang dan mengerahkan kekuatannya.

    Kalau saja dendam terlalu kuat untuk memelihara ingatan, barangkali orang yang tak pernah dilupakan Portugis adalah seorang Belanda bernama Apolonius Scotte. Dia lah yang tahun 1613 memimpin pasukan Belanda untuk merebut Benteng Lohayong di Solor. Dengan jatuhnya Benteng inilah disusul penyerahan kekuasan Portugis ke Belanda atas Solor.

    Usaha untuk kembali ke Solor memang selalu ada, namun usaha itu selalu gagal, karena Portugis sudah tidak lagi diterima di sana. Portugis sudah tidak mendapat dukungan masyarakat baik dari agama maupun perdagangan. Kenyataan ini harus diterima, hingga tahun 1636 Portugis benar-benar meninggalkan Lohayong-Solor dan selanjutnya menetap di Larantuka.

    Ada semacam penyesalan sebagaimana ditulis Miguel Rangel, seorang arsitek pembangunan Benteng Solor, yang ditulisnya di Malaka tahun 1633. Ia menulis : “jika orang Beladnda tidak menghalangnya, benteng Solor telah menjadi sebuah kota yang dikunjungi semua orang dari daerah sekitarnya dan dari Malaka dan Tiongkok, dari mana pada musim hujan 1633 terakhir ini baru datang empat kapal ke Solor untuk memuat kayu cendana.”

    (Catatan : Perlu diingat Miguel Rangel ini nama yang saat ini diabadikan untuk jalan di sekitaran Sandominggo kelurahan Larantuka. Miguel Rangel adalah seorang bruder Dominikan yang pada 1630 memutuskan untuk memperbaiki benteng di Pulau Solor yang telah ditinggalkan oleh orang Belanda.)

    Tapi lagi-lagi Belanda terus membuntuti Portugis. Tidak saja mendesak Portugis keluar dari Solor, tapi juga dari Larantuka juga dari Flores. Pertikaian demi pertikaian terus terjadi. Tahun 1846 Belanda menyerang Flores. Pada tahun 1648 terjadi gempa bumi yang meruntuhkan benteng Solor semakin membuat Portugis tidak lagi menghiraukan Solor dan hanya berkonsentrasi di Larantuka.

    Belanda tetap menginginkan konsolidasi teritorinya di seluruh wilayah Nusantara. Tahun 1850 Belanda membeli sisa-sisa benteng Portugis di Flores dan mulai berkuasa di Larantuka sejak 1851 melalui penandatanganan traactaat Dili. Bersamaan dengan itu pada 1851 datang tawaran dari Portugis Dili kepada Belanda mengambil alih benteng Larantuka dan Wureh sebagai jaminan atas pinjaman sebesar f. 80.000 kepada gubernur Portugal di Koloni Timor-Timur.

    Seluruh kepulauan Solor menjadi milik Belanda sejak 20 April 1859, dengan Belanda membayar tambahan f. 120.000. Pada 1856 Portugis meninggalkan kepulauan ini termasuk Larantuka, sekalipun ratifikasi atas perjanjian itu baru terjadi pada 20 April 1859 di Lisabon. Suatu perjanjian untuk melepaskan pos-pos Portugis yang jauh dan klaim-klaimnya atas Flores dan Solor kepada Belanda, dan mempertahankan haknya atas Timor Portugis.

    Sejak itu Portugis pun meninggalkan Larantuka dan tak kembali lagi.

    ***

    Urusan masyarakat punya cerita sendiri, kemauan politik punya ceritanya juga. Di tengah pergulatan politik-ekonomi yang dialami Portugis kala itu, sejak jatuhnya Malaka ke tangan Belanda 1641, penduduk Melayu Kristen/katolik dipaksa harus keluar dari Malaka. Dalam tahun 1641 terjadi migrasi besar-besaran penduduk Melayu ini ke Larantuka.

    Seiring dengan berpindahnya penduduk ke Larantuka dan Larantuka dipandang sebagai tempat yang cocok untuk pengembangan misi, maka banyak barang Portugis yang berada di Malaka dialihkan ke Larantuka termasuk benda-benda gereja.

    Pada tahun 1665 mengungsi pula orang-orang Portugis dari Makasar menuju Larantuka. Para pengungsi Makasar ini menyebar lagi di Larantuka, dan beberapa tiba di Konga 20 kilometer arah barat Larantuka, dan Wureh di Pulau Adonara. Dalam pengungsian ini Frei Lucas da Cruz berhasil menyelamatkan benda-benda ibadah yang sangat berharga dari Gereja S. Domingos de Surian di Makasar dan dialihkan ke Larantuka. Kemungkinan pengungsi dari Makasar inilah yang telah mendirikan Gereja Santo Domingo dan mengawali ibadah “Senyora Rosari” serta perayaan Paskah di Larantuka.

    Orang Portugis yang mengungsi ini, kemudian mulai membangun perkampungan. Mereka membangun perkampungan baik di Larantuka, Konga dan Wureh. Orang-orang yang tinggal di Larantuka, Konga dan Wureh menyebut diri mereka dengan sebutan Larantuqueiros atau orang dari Larantuka.

    Repro

    Ketika itu, kehidupan iman umat katolik memang sungguh menantang, lebih-lebih karena kurangnya imam. Kurangnya pelayan para imam ini selain karena banyak misionaris Portugis terhalang masuk karena pertikaian politik, persoalan yang dihadapi imam-imam ordo Dominikan di Portugis, juga karena dihapusnya keuskupan Malaka dan dikembalikan ke Keuskupan Goa. Selama abad ke 17 dan 18, hanya ada dua kapal angkut Portugis yang berlayar dari Goa (India) ke Larantuka. Dalam serba keterbatasan inilah sesekali umat Larantuka mendapat kunjungan imam diosesan dari Dili. Tidak ada seorang pun wakil resmi kerajaan Portugal yang berkunjung ke Larantuka selama periode tersebut.

    Kendati hidup dalam pertikaian dan keadaan serba terbatas, orang-orang Portugis yang ada di Larantuka, Konga dan Wureh ini mulai banyak memberikan pengaruh yang besar untuk daerah ini. Di antara mereka banyak yang kawin dengan penduduk setempat. Nama-nama ahli waris kerajaan Larantuka diberi gelar Don dan diikuti dengan serangkaian nama aristrokrasi Portugis.

    Tidak hanya nama kerajaan, beberapa suku kecil di wilayah ini juga menggunakan nama-nama Portugis. Sebanyak 13 suku di Larantuka yang tadinya menggunakan nama suku Lamaholot berubah menjadi suku Fernandez, suku Da Silva, suku De Rosari, suku Da Costa. Juga Da Santo, Gonzales, Ribeiru, Skera, atau De Ornay. Namun demikian ada beberapa suku memang keturunan langsung Portugis.

    Dalam hal penyebutan nama, di wilayah ini mulai dikenal dengan penyebutan nama keluarga bagi mereka yang dibaptis. Nama bapak menjadi nama belakang dan yang kemudian dipakai secara turun temurun. Beberapa bahasa dan istilah yang dipakaipun masih juga menggunakan nama-nama Portugis.

    Bekas diplomat Portugal di Indonesia, Antonio Pinto da Franca, menginventarisasi paling tidak ada 75 kata Indonesia berasal dari Portugis. Beberapa kata mungkin terasa asli Indonesia. Sebut misalnya,- sisa dari sisa, terigu dari terigo, tempo dari tempo.Kata lain, misalnya, bangku dari banco, berandadari varanda, boneka dari boneca, kaldu dari caldo,meja dari mesa, pesta dari festa. Ada juga sekolah dari escola, pigura dari figura, dan sepatu dari sapato. Kata-kata ini pun mudah dijumpai di Larantuka.

    Penyebutan untuk Nama-nama portugis dalam upacara keagamaan masih dipertahankan hingga kini, demikian juga pakaian-pakaian dan asesoris peribadatan, masih juga menggunakan warisan Portugis. Di kota ini, beberapa nama tempat memberi kesan akan tradisi Portugis termasuk menjadikan POSTO untuk sebutan pusat kota.

    Dalam kehidupan rumah tangga, keluarga-keluarga yang dipengaruhi Portugis mulai menyamakan kehidupannya dengan keluarga di tempat asalnya di Portugis. Rumah mulai ditata dengan halaman rumah yang di tumbuhi bunga-bunga. Sementara dalam rumah, ibu menjadi penentu membesarkan anak-anak dan mendidik anak-anak mencintai pekerjaan rumah tangga. Patung ditempatkan di tempat khusus untuk berdoa.

    Larantuka seakan menjadi tempat pertukaran kebudayaan termasuk kebudayaan Eropa abad pertengahan dengan kebudayaan Malayu dan kebudayaan Lamaholot dari masyarakat setempat. Kewajiban menjaga agama kalau pastor tidak ada diserahkan kepada “persekutuan Reinja Rosario’ dengan tugas mengajarkan katekhismus, melakukan Pembatisan , mejaga pemeliharaan kapel-kapel serta menyelenggarakan prosesi-prosesi.

    ***

    Sekali pun melalui tradisi dan perjumpaan masyarakat tempo itu, sedikit banyak menunjukkan pengaruh Portugis atas wilayah ini, namun menurut studi yang dilakukan Didik Pradjoko, tidak pernah ada perasaan bahwa mereka dikuasai oleh pemerintah Portugal. Sesungguhnya mereka adalah kekuatan yang merdeka dan berdiri sendiri.

    Ini pun dibuktikan pada tahun 1679, Larantuka menolak menjadi jajahan Portugis, (*)

  • Portugis di Larantuka : Dari Solor ke Sandominggo

    Portugis di Larantuka : Dari Solor ke Sandominggo

    Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020  hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel keenam. Semoga berguna.

    Penulis : Benjamin Tukan

    Untuk Larantuka, Portugis bukanlah ceritra masa lampau saja, tapi hingga kini jejak-jejak Portugis banyak berbicara mengenai perkembangan kota ini. Kendati demikian, Larantuka bukanlah Makau yang dibangun Portugis yang saat ini cukup dikenal itu. Kecuali tradisi keagamaan, hingga kini peninggalan-peninggalan Portugis di Larantuka masih terus dikumpulkan dan coba untuk diberi makna.

    Menelusuri kembali perjalanan Portugis yang singgah di Larantuka, tidak lepas dari budaya bangsa pelaut ini dalam menjelajahi dunia termasuk datang ke daerah Nusantara yang banyak menghasilkan rempah-rempah.

    Sungguh petualangan model ini adalah hal yang paling menakjubkan untuk negara sekecil Portugal. Jika bukan karena pembawaan dari bangsa Iberia yakni kecendrungan aneh untuk bermimpi, kesenangan untuk mengambil resiko berbahaya, juga idealisme religus, tidak mungkin mereka tiba di Larantuka.

    Petualangan yang begitu sederhana dalam perkembangan kemudian kedatangan Portugis ini didorong oleh tujuan yang lebih besar yakni feitoria, fortaleza, dan igreja atau emas, kejayaan, dan gereja atau perdagangan, dominasi militer, dan penyebaran agama Katolik.

    Sebagai negara kecil yang dulunya masih menjadi satu dengan Spanyol adalah negara di bagian paling barat Eropa dengan komunitas agama Katolik. Portugis dikenal sebagai masyarakat penjelajah dunia dengan kebudayaan maritim yang cukup baik.

    Perjalanan mengilingi dunia dimulai pada 1488 melalui ekspedisi Bartolomeus Dias. Dia yang menjangkau hingga Tanjung Harapan, Afrika. Vasco da Gama melanjutkan ekspedisi Bartolomeus. Sayang ia juga hanya sampai India 1498. Kemudian pada 1503, Armada yang dipimpin Alfonso de Albuqueque berangkat dari Sungai Tagus yang bermuara ke Samudra Atlantik, mengarungi samudra Atlantik dan masuk melewati Tanjung Harapan Afrika lalu haluan kapal diarahkan menuju Goa India. Baru April 1511 ia ke Malaka dan tiba di Malaka dalam bulan yang sama.

    Saat itu Malaka telah menjadi satu tempat di Nusatara yang cukup ramai. Dari Malaka, sebuah akspedsi dikirim oleh Alfonso de Albuqueque. Dibawa pimpinan Antonio de Abreu dan Francisco Serrao mereka berlayar ke arah timur. Pelayaran melewati pesisir pantai Sumatera, Jawa,Bali, Lombok, Sumbawa dan Flores kemudian memutar haluan ke utara dan mencapai Banda pada 1512. Portugis juga mengirimkan armada ke arah China. Pada 1513 armada tiba China dan mencapai Jepang tahun 1543.

    Setiap kali mereka tiba di suatu tempat, orang-orang Portugis selalu memegaruhui kehidupan komunitas masyarakat yang disinggahi. Dari tempat yang disinggahi mereka selalu memperkenalkan bahasa, makan, cara berpakaian,dan jenis musik. Orang-orang Portugis sangat menghargai seni baik musik maupun tari-tarian.

    Di tempat asalnya, masyarakat Portugis dikenal sebagai bangsa yang sangat menghargai leluhur serta selalu menjaga kebiasaan secara turun temurun. Kehidupan masyarakatnyapun sangat ramah dan saling menghargai antar sesama.

    Dalam keluarga tradisional Portugis hubungan antara orangtua dan anak sangat kuat. Tradisi kumpul bersama menjadi kebiasaan yang selalu dipertahankan. Orang-orang Portugis mengajarkan dan mendidik anak mereka untuk menyukai pekerjaaan yang berkaitan dengan rumah termasuk mengurusi halaman rumah dengan tanaman.

    Dalam keluarga-keluarga Portugis, ibu memegang peran yang penting menentukan berlangsung hidup keluarga. Di rumah selain tarian dan musik, khususnya anak perempuan dilatih menyulam baju, selimut, taplak meja, saputangan dan lainnya .

    Portugis selalu meninggalkan jejak di setiap tempat yang kunjungi lebih-lebih pada kehidupan yang dekat dengan keseharian manusia, membuat bangsa ini selalu diingat. Ini juga yang dilupakan oleh Belanda dalam konflik Belanda dengan Portugis di Nusantara. Belanda mengira Portugis akan pergi dan tak pernah kembali atau meninggalkan jejak di Nusatarara, tetapi kenyataan di beberapa tempat termasuk Flores Portugis meninggalkan jejak itu.

    Di luar persaingan perdagangan tempo itu, di Nusantara umumnya dan Larantuka khususnya, Portugis selain dikenang melalui tradisi agama katolik, juga melalui musik, bahasa, pola hidup dalam rumah maupun jenis-jenis sayuran dan buah-buahan.

    ***

    Pelayaran Portugis mengarungi nusantara yang melewati perairan Nusa Tenggara, membawa mereka pada suatu waktu di masa lalu untuk tiba di Larantuka dan kepulauan Solor. Sebelum tiba di kepulauan Solor, dalam perjalanan itu, mereka menemukan sebuah pulau yang kemudian dinamakan “Cabo da Flores” yang berarti Tanjung Bunga yang mana nama tersebut dipakai hingga saat ini menjadi Pulau Flores.

    Letak kepulauan Solor yang terbilang strategis untuk menghindari dari amukan gelombang laut, membuat perahu-perahu Portugis memilih untuk berlabuh di daerah ini. Begitu pun hasil-hasil alam dari kepulauan ini cukup untuk memasok perbekalan perjalanan mereka selanjutnya.

    Pada 1515 pelayaran Portugis membuka perdagangan di kepulauan nusantara tiba di kepulauan Solor dan Timor. Lima tahun kemudian, pada 1520 pedagang Portugis mulai menetap dan tinggal di Solor, pulau kecil di depan Larantuka. Mulai saat itu, Solor dijadikan tempat pertama untuk aktivitas perdagangan wilayah kepulauan.

    Di Solor, mereka membangun rumah-rumah sederhana dan karena mereka beragama Katolik, maka mereka mulai berdoa dengan cara dan tradisi Katolik. Pada 1522 seorang imam yang menyertai rombongan pedagang itu tinggal dan menetap di Solor. Ia bekerja dengan tekun, melayani umat baik di kepulauan Solor maupun Timor.

    Laporan seorang imam Dominikan P. Antonio de Taveria, OP pastor kapal Portugis, ketika menyinggahi Lohayong di Pulau Solor dan Larantuka di Pulau Flores, beliau mendapati banyak orang katolik disana. Dia juga berkesempatan mempermandikan banyak orang.

    Perkembangan umat katolik yang dibawa pedagang Portugis di wilayah kunjungan mereka, mendapat respon dari Paus sebagai pemimpin Gereja katolik. Pada 1529 Paus menyerahkan tugas menyebarkan agama katolik kepada misionaris Portugis.

    Perkembangan dan pertumbuhan umat yang pesat diketahui juga oleh Uskup Malaka Mgr. Jorge da Santa Lucia, OP. Pada 1561. Uskup menugaskan tiga imam Ordo Dominikan dari Melaka ke Solor. Ketiga missionaris tersebut adalah Pater Antonio da Cruss OP, Pater Simao das Chagas, dan Bruder Alexsius. Ketiga imam Dominikan ini pergi dan menetap di Solor. Oleh karenanya, tahun ini ditetapkan sebagai tahun resmi awal karya Misi Katolik di kawasan ini.

    Pada 1566, Pater Antonio da Cruz mulai membangun sebuah benteng di Solor dengan pendanaan dari Maukau. Benteng yang dibangun, kemudian menjadi pusat aktivitas misi Katolik. Di dalam banteng itu dibangun asrama, gereja dan seminari. Pada tahun 1600 tercatat sedikitnya ada 50 siswa seminaris. Benteng ini kemudian oleh Belanda diberi nama benteng Fortaleza (benteng pertahanan), “Henricus”.

    ***

    Kepulauan Solor dulunya ditumbuhi hutan-hutan cendana yang sangat bernilai harganya pada perdagangan kala itu. Dari Lohayong -Solor hubungan baru mulai tercipta. Perkembangan dari sisi ekonomi perdagangan dan agama katolik di wilayah ini, membuat Solor berhubungan langsung dengan pusat-pusat perdagagan dan pusat-pusat misi seperti Maluku dan Ternate, Malaka dan Maukao bahkan hingga ke Goa India.

    Sementara itu terjadi persaingan di tingkat perdagangan yang melibatkan pedagang yang melintasi Larantuka, juga perlawanan dari penduduk lokal sendiri dengan kehadiran agama baru tersebut. Sebagai akibatnya, pada masa itu terjadi pembunuhan dan lahirlah para Martir Katolik pertama. Meraka adalah Pater Antonio Pestana, Pater Simao de Montanhas, Pater Simao da Chagas, dan Pater F. Calassa.

    Harapan untuk menancapkan pengaruh yang semakin kuat,pada kenyataannya harus menghadapi ancamanan dari kedatangan Belanda. Pada 27 Januari 1613 sebuah armada Belanda datang ke Solor dan tiga bulan kemudian pada 18 April 1613 benteng Lohayong pun jatuh ke tangan Belanda.

    Jatuhnya Benteng ke tangan Belanda mengakibatkan banyak orang Portugis meninggalkan Solor menuju Larantuka, bahkan ada yang memilih untuk kembali ke Malaka. Pater Agustino de Magdalena dan Kapitan Fransiskus Fernandes memimpin beberapa pengikut yang setia berserta orang-orang Portugis hitam (Indo) menuju Larantuka.

    Pater Agustino de Magdalena memilih sebuah tempat yang bagus dan strategis untuk pertahanan Keamanan,yakni di Sandominggo (sekarang istana Uskup Dioses Larantuka). Jadi jika orang bertanya kapan ulang tahun kota Larantuka, maka bisa saja diambil dari tanggal 18 April (18 April 1613), kecuali ada pertimbangan lain. (*)

  • Larantuka, Kota Pelabuhan Tempo Dulu

    Larantuka, Kota Pelabuhan Tempo Dulu

    Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020  hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel kelima. Semoga berguna.

    Penulis: Benjamin Tukan

    Pelabuhan tempat kapal berlabuh, sesungguhnya bukan sekadar dapat berlabuh, tapi bagaimana tempat itu memberikan rasa aman, terlindung dari ombak besar, angin dan arus yang kuat.

    Sejarahwan Maritim, AP. Lapian menuliskan “Pelabuhan harus mempunyai daya tarik yang besar bagi kapal-kapal dari luar, misalnya pasar yang ramai tempat hasil hutan dari pedalaman diperdagangkan serta bahan makanan dan air minum disediakan untuk konsumsi di kapal”.

    ***

    Apa yang dituliskan AP Lapian, baik juga untuk memotret kembali keadaan Larantuka tempo dulu, ketika tempat ini disebut memiliki pelabuhan yang cukup ramai, sekaligus penghubung perdagangan di antara kerajaaan besar di nusantara abad 16 terutama dalam lintasan perdagangan yang menghubungkan zona perdagangan di sekitarnya seperti Bima-Sumbawa, Lombok, Ende, Waingapu dan Kupang.

    Sebelumnya, pada jaman Majapahit dengan ekspansi armada ke nusantara, sebenarnya wilayah ini sudah cukup dikenal. Dalam buku M. Yamin tentang Gadjah Mada dituliskan bahwa daerah Mananga adalah daerah yang cocok untuk melabuhkan kapal.

    Mananga sendiri letaknya di Pulau Solor, tidak jauh dari Larantuka dan sama-sama berada dalam teluk. Hingga memasuki jaman pelayaran Portugis di nusantara, Solor dan Larantuka menjadi tempat persingahan yang cukup aman.

    Menjadi menarik di sini Larantuka dan sekitarnya (kepulauan Solor) yang dulu menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal yang melintasi perairan Flores dan sekitarnya tidak sekadar memiliki teluk yang tenang dan aman tapi juga memiliki potensi lain yang menunjang aktivitas kepelabuhanan.

    Jika Larantuka dilihat dari satu bentangan peta Nusantara yang berhubungan dengan pelayaran kapal-kapal dagang yang melintasi perairan dari timur ke Barat demikian sebaliknya, maka satu tempat yang tidak bisa dilupakan adalah Tanjung Bunga. Sebuah tanjung paling ujung timur pulau Flores. Di tempat inilah atau di perairan ini, klasi kapal memutuskan untuk memutar haluan menuju tempat yang dituju.

    Jika pelayaran itu datang dari arah barat, maka lautan di Tanjung Bunga adalah tempat yang tepat untuk memutar haluan ke arah Banda dan Ternate, atau juga bisa ke arah selatan menuju Kupang dan Dili. Sebaliknya kapal yang datang dari arah timur, di tempat inilah haluan kapal diarahkan entah ke Makasar, Jawa, ataupun meneruskan perjalanan ke Malaka sebagai bandar yang ramai ketika itu.

    Tanjung Bunga memberi daya tarik terendiri. Pemandangan pantai nan indah yang banyak ditumbuhi pohon-pohon flamboyan dan berbagai tanaman berbunga merah seperti pohon dadap dan kapuk hutan, selalu menggoda para pelaut untuk menghampiri. Tak berlebihan keindahan yang disuguhkan oleh alam inilah yang oleh pelaut Portugis menyebut pulau ini Cabo da Flora, pulau bunga, yang menjadikan nama pulau Flores hingga saat ini.

    Letak yang strategis dari wilayah Tanjung Bunga untuk memasuki daerah kepulauan Solor, dapat juga dilihat dari perjalanan kapal Victoria pada bulan Desember 1521. Kapal sisa armada Magelhaes ini berlayar dengan misi menemukan tempat-tempat penghasil rempah. Dari Amerika selatan, kapal ini tiba di Filiphina terus ke Ambon pada 8 Januari 1522 dan kemudian memasuki perairan kepulauan Solor menuju Timor. Kapal melewati perairan antara pulau Lembata dan pantar menuju Pulau Timor dan dari ujung pulau Timor, mengarahkan haluannya ke Tanjung Pengharapan dan terus ke Spanyol.

    Tapi soalnya bagaimana dengan Larantuka? Jika posisi kapal sungguh berada persis di ujung Tanjung Bunga dengan haluan kapal arah timur, maka Larantuka sebenarnya tidak jauh dari situ. Memutar haluan ke arah barat, kapal-kapal akan memasuki sebuah teluk dengan apitan pulau-pulau dengan penghuni yang terbilang cukup banyak. Inilah yang dilakukan armada Portugis yang dipimpin Antonio de Aberu pada pada tahun 1511. Armada yang dikirim Alfonso de Albuquerque ini menyinggahi wilayah ini untuk beberapa lama.

    Selat Larantuka memang dikenal dengan arusnya yang deras. Jika waktu yang tepat, para pelaut tak butuh banyak kerja, cukup mendayung ataupun memasang layar pelayaran akan juga tiba. Arus selat yang deras, cukup dapat membantu mengantarkan perahu hingga ke dalam teluk Larantuka.

    Dengan memilih berlabuh di Larantuka atau teluk-teluk di perairan kepulauan Solor merupakan pilihan yang tepat untuk menghindar dari amukan badai di utara atau selatan Flores. Di sinilah, kapal-kapal yang melintasi perdagangan tempo itu berlabuh menunggu mengisi perbekalan dan menunggu redahnya badai musim barat. Letak yang strategis ini juga sebagai tempat para pelaut, berteduh untuk menambah perbekalan di perjalanan kemudian. Hasil-hasil bumi juga merupakan daerah barteran yang cukup terkenal.

    Karena itu, bukan satu yang berlebihan, bila laporan pendeta Jesuit Balthasar Dias yang mengunjungi Solor pada tahun 1559 melaporkan adanya 200 pedagang dan pelaut Portugis yang beristirahat selama bulan Desember dan Januari untuk menghindari badai yang ganas.

    Perhatian lebih terarah lagi, saat Benteng Portugis di Malaka di ambil oleh VOC pada 1541. Solor kemudian menjadi alternatif Portugis untuk mengantikan Malaka. Hal ini pun dikaitkan dengan Peta Dunia yang dipublikasikan Mercator dalam tahun 1569 yang menempatkan Flores sebagai tempat yang penting di sebelah timur Malaka.

    Kehadiran Portugis di wilayah ini pada abad XVI membuka hubungan perdagangan antara Malaka dan Solor, juga terjadi kontak antara Solor dengan pos-pos perdagangan Portugis di Cina Makao. Apa yang terjadi dengan ini semua tidak lain, kepulauan Solor dan Larantuka khususnya dijadikan tujuan para pengungsi Portugis di Malaka ini. Dalam berbagai tahapan, para pengungsi mulai berdatangan ke Larantuka.

    Sejak abad 16 daerah ini telah menjadi perhatian para pedagang yang meramaikan perdagangan di kepulauan Nusa Tenggara. Ketika itu, rempah-rempah dan kayu Cendana termasuk barang mahal dan dibutuhkan di daratan Eropa. Dan permintaan ini dapat terjawab dari wilayah-wilayah di Flores, Maluku, Ternate yang banyak menghasilkan rempah-rempah.

    Menurut I Gde Parimartha, pada tahun 1756 ditemukan banyak pedagang pribumi yang berlayar dari Makasar menuju Flores. Mereka membawa barang-barang seperti: ikan mas, ikan salem, ikan haring, gading gajah, porselin, dan barang-barang dari tembaga, kain lena, porselin, parang. Sebaliknya dari timur mereka kembali ke Makassar dengan membawa sarang burung, karet, barang anyaman dan budak.

    Selain barang-barang itu, di kepulauan ini ikut juga diperdagangkan teripang. dari Flores juga dibawakan kain tenun dan anyaman, mede, cendana, buah asam, kapas, jagung, minyak ikan paus, sirip ikan, dan balerang, atau jalur seltn lewat timor. Catatan sejarah juga menyebutkan daerah ini memiliki pasar-pasar pada hari tertentu.

    Dituliskan bahwa, pada abad XVII, kain tenun dari Nusa Tenggara ada yang dikirim sampai Maluku. Semua ini memberi gambaran bagaimana gugusan kepulauan Nusa Tenggara telah berada di tengah-tengah jaringan perdagangan yang luas. Flores termasuk dalam zona perdagangan Laut Jawa,juga terletak di antara zona perdagangan yang ramai seperti antara Makassar dan Maluku. Bima dan Solor merupakan jalur utara perdagangan di Nusa Tenggara.

    Perahu-motor yang membawa barang antar pulau bersandar di Pelabuhan Larantuka ( Foto : Dok FBC)

    Ada pengaruh lain dari pelintasan perdagangan semacam ini,adalah proses asimilasi dan kawin-mawin, juga pertukaran budaya serta  masuknya pengaruh agama-agama besar seperti Islam dan Katolik ke wilayah ini. Seperti pengaruh Portugis terhadap masuknya agama Katolik di daerah ini, datangnya para mubalik melalui jalur perdagangan, bahkan jauh sebelum itu  sekitar abad 14-15 M, memberikan pengaruh bagi perkembangan agama Islam di wilayah ini.

    Kembali ke Larantuka, pertikaian dan persaingan yang terjadi dalam merebut benteng Solor yang berlangsung hampir seabad, menjadikan Larantuka pilihan yang terbaik untuk melabuhkan kapal dan menjadi tempat yang ramai untuk perdagangan di wilayah tenggara nusantara.

    Runtuhnya benteng dan pemberotakan penduduk Solor 1598, menyebabkan seluruh kegiatan kepelabunanan dipindahkan ke Larantuka. Sementara dalam masa-masa ini sudah mulai terbentuk wilayah-wilayah di Adonara Barat dan Timur, termasuk semakin berpengaruhnya kerajaan lima pantai yakni Adonara, Terong, Lamahala, Lawayong, dan Lamakera.

    Larantuka di abad XVII seperti diteliti Didik Pradjoko, merupakan pelabuhan alam yang bagus karena terlindungi dari amukan badai. Daerah sekitar pantainya cukup subur, sehingga tanaman jagung yang ditanam oleh orang-orang Portugis tumbuh dengan baik di sana. Di lihat dari sisi pertahanan Larantuka juga sangat baik, karena meskipun ada blokade laut, penduduk dapat melintasi pedalaman dan menuju daerah pantai yang lain.

    Dengan teluknya yang tenang karena dilindungi oleh dua buah pulau kecil, Adonara dan Solor, Larantuka yang sebelumnya hanya sebagai tempat persingahan, lama kelamaan daerah ini berkembang semakin pesat lebih-lebih dengan masuknya kapal-kapal dari Jawa dan Cina secara rutin.

    Di luar perkembangan agama, secara ekonomi kehadiran pedagang-pedagang yang meramaikan wilayah ini cukup membantu perkembangan ekonomi.  Dalam perkembangan selanjutnya, hubungan-hubungan perdagangan mulai berpindah ke Timur seiring dengan jatuhnya benteng Portugis di Kupang ke tangan Belanda pada 1653.

    Dengan perpindahan wilayah kekuasaan Portugis, berakibat Larantuka perlahan mulai tidak dilirik para pedagang. Penduduk wilayah ini yang semula dikenal  sebagai pelaut, mulai memilih hidup bertani. Larantuka hingga 1915 berangsur-angsur sepi, menyusul pola pelayaran dan perdagangan telah berubah. Hubungan perdagangan baru yang diperkenalkan oleh Belanda lebih menyerupai suatu hubugan yang terintegrasi di bawah satu sistem kekuasaan.(*)

  • Mengawali Perkembangan Kota Larantuka: Gereja, Kerajaan dan Pemerintahan

    Mengawali Perkembangan Kota Larantuka: Gereja, Kerajaan dan Pemerintahan

    Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020  hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel ketiga Semoga berguna.

    Penulis :  Benjamin Tukan

    Dari sejarah yang ditutur-lisankan secara turun temurun  dari penduduk Flores bagian timur khususnya Larantuka dan sekitarnya, asal usul penghuni wilayah ini datang dari penduduk asli yakni suku ile jadi,  dan para pendatang yang berasal dari wilayah nusantara bagian Barat dan Timur. Suku pendatang berasal dari Barat disebut dengan istilah “Sina Jawa Malaka” dan yang datang dari Timur disebut “Keroko Puken” dan “Tena Mao”.

    Sebutan “Sina Jawa Malaka” sering diasosiasikan orang  sebagai berikut : Sina dimaksudkan suku dari Cina bagian selatan, Jawa ialah suku Hindu Jawa dan Malaka yaitu berasal dari suku Melayu termasuk Portugis indo dan Portugis hitam yang sebelumnya pernah tinggal di Malaka.

    Sedangkan “Keroko Puken”   berasal dari sebuah pulau di timur Lembata yang tenggelam. Suku dari timur pun termasuk suku Seram Goran yang datang dari Maluku, Arafuru dan Banda. Kedatangan penduduk dari luar wilayah ini dalam hal pembauran dengan penduduk asli telah menghasilkan kekhasan tersendiri dalam corak budayanya.

    Jika dilihat lebih jauh lagi ke dalam masyarakat Lamaholot, penduduk yang mendiami wilayah timur Flores ini dapat dikatakan bahwa penduduk Lamaholot merupakan suatu masyarakat yang dibentuk dari proses perjumpaaan, kawin mawin dan asimilasi kebudayaan antara masyarakat asli atau yang datang lebih dahulu dengan masyarakat yang datang kemudian ke wilayah ini.

    Perpindahan suku-suku ke wilayah ini telah dimulai sekitar abad ke 3 hingga abad 5 dari migrasi Melayu yang diperkirakan telah mencapai wilayah Timur dan termasuk daerah  timur Flores. Namun, jika berpatokan pada imigrasi manusia dari Afrika ke bumi nusantara, tentu hitungan tahun dapat mundur jauh ke belakang.  

    Salah satu teluk berpasir putih di Kota Larantuka (Foto : BN)

    Gelombang berikutnya,  pada era kejayaan kerajaan Sriwijaya, juga terjadi migrasi yang mencapai daerah Flores bagian timur termasuk  daerah Timor dan Maluku. Selanjutnya, terjadi pada era perdagangan nusantara termasuk pada era kerajaan Majapahit  yang membawa misi mempersatukan nusantara.  

    Dalam perkembangan masyarakat wilayah ini, dapat dikatakan tempat ini mendapat pengaruh  dari  kerajaan-kerajaan nusantara baik Sriwijaya, Majapahit dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya di nusantara, juga pengaruh dari Portugis, Belanda dan Jepang yang datang kemudian.

    Pengaruh yang dibawa dari luar tentu saja mempengaruhi kehidupan masyarakat di wilayah ini. Selain bentuk dan struktur suku, kampung dan kerajaan, tradisi yang dijalani hingga sekarang pun merupakan hasil dari pencampuran dengan unsur budaya luar atau budaya yang datang kemudian.

    Bukan berlebihan bila dikatakan kebiasaan hidup masyarakat Larantuka merupakan pencampuran yang cukup sempurna antara kebudayaan asli, dan pendatang Malayu dan Eropa. Dalam masyarakat Lamoholot pun terjadi hal yang sama. Dapat kita lihat berbagai kemiripan yang bisa dijumpai dengan penduduk di tenggara Maluku bahkan sampai Papua bagian barat.

    Kembali ke Larantuka. Sebagai kota yang pernah dijadikan pusat misi Katolik,  Paderi Portugis dan umat Katolik awal, terus menghidupkan  tradisi katolik yang tersisa, entah tersisa dari tanah asalnya di Eropa, maupun tersisa dari pelarian setelah runtuhnya benteng Malaka, benteng Makasar maupun benteng Solor.

    Ketika memulai kehidupan awal di Larantuka dari suatu perjalanan panjang sebelumnya, orang nasarani Larantuka memulai dengan menata patung dan segala ornamento perayaan keagamaan Katolik untuk disimpan pada tempat yang lebih baik. Tradisi yang merupakan warisan dari masyarakat Eropa abad pertengahan ini berhubungan pula dengan devosi kepada yang Kudus yang terus dirayakan, dipertahankan bahkan terus diwariskan kepada keturuanannya hingga saat ini.

    Patung, ornamento dan tradisi berdevosi, bukanlah sekadar hadir menyemarakan perayaan keagamaan dalam tradisi Katolik. Ada suatu yang lebih dari itu yakni untuk menghadapi ancaman yang terus datang  baik dari Belanda maupun penduduk lokal juga termasuk persaingan dagang tempo itu. Ornamento dan tradisi dijadikan sarana perlindungan sekaligus jalan pengharapan akan datangnya mukjizat dan keselamatan. Semakin banyak dijumpai kesulitan, semakin umat merasa dekat dengan yang kudus.

    Larantuka ketika itu, memang jauh dari pembicaraan politik para pengambil keputusan. Pergolakan politik yang terjadi di luar sana, sepertinya tidak pernah memikirkan tentang keberadaan masyarakat Larantuka. Larantuka bahkan semakin jauh dari perhatian, juga ketika kedatangan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) di Nusantara dalam tahun 1602 atau setelah hancurnya Benteng Portugis di Ambon 1605.

    Walau Portugis pernah menjadikan Solor sebagai pusat misi, yang kurang lebih berhubungan dengan perdagangan cendana, itupun tidak menjadi pertimbangan VOC untuk melihat lebih jauh akan potensi ekonomi wilayah ini. Politik VOC yang tidak memperhatikan daerah-daerah di luar Jawa, semakin menjauhkan Larantuka dari percaturan perdagangan masa VOC Belanda yang dampaknya hingga saat ini.

    Menarik disimak perkembangan masyarakat di wilayah ini terutama dalam hal kegalauan menghadapi kebijakan politik dan ekonomi kala itu. Persaingan Portugis dan Belanda, sungguh mempengaruhi keberadaan misonaris yang melayani umat saat itu.Misonaris Portugis terpaksa pergi meninggalkan Larantuka  seiring dengan kemauan politik yang menghendaki Portugis harus pergi, menyebabkan umat  harus berjuang sendiri lepas dari para misionaris. Di sinilah mulai muncul peran raja Larantuka yang semakin luas untuk mengambil alih kepemimpinan agama saat itu. 

    Bersama raja, penduduk Larantuka melewati hari-hari dalam kesepian, menjadi sendiri bagai “yatim piatu” jauh dari persinggungan arus perkembangan perdagangan nusantara dan atau terpengaruh menjadi koloni dari para penguasa jalur rempah. Barangkali hubungan-hubungan kerajaan-kerajaan kecil Islam di wilayah ini dengan Ternate dan Tidore, Gowa dan Bima sedikit banyak menghidupkan perdagangan di wilayah ini tempo itu.

    Larantuka baru kembali menjadi perbincangan ketika datangnya misonaris Belanda dan mulai membuka lembaga-lembaga pendidikan.  Sekalipun di wilayah pemerintahan, sentralisme Belanda tetap menjauhkan Larantuka, justru dalam soal agama, Larantuka tetap menjadi awal sejarah pendidikan dan misi di Flores.

    Pendidikan yang diselenggarakan dalam banyak hal lebih ditujukan untuk melayani pengembangan misi dimanapun dibutuhkan. Bisa dikatakan, Larantuka hidup dan berkembang tidak secara khusus untuk masyarakatnya sendiri melainkan selalu berhubungan dengan sesuatu di luarnya.

    Perkembangan lain yang cukup menarik disimak adalah dalam hubungan dengan kekafiran (istilah untuk orang yang belum beragama formal) ataupun dalam kerangka agama lokal menghadapi datangnya agama-agama baru yang dibawa orang Eropa.  Ada yang cukup menarik lantaran tempat inipun menjadi awal perjumpaan antara agama baru dan agama lokal.

    Selat Larantuka bagai sebuah danau, tempat warga menghabiskan waktu untuk memancing ikan (Foto : FBC)

    Dapatkah mereka bersanding? Itu pertanyaan yang mungkin ada. Tapi bagaimana pun kemauan awal dari perjalanan yang sungguh jauh di belahan Eropa sana tidak mudah menerima semuanya bisa bersama berjalan secara mulus. Keinginan  untuk melawan kekafiran di sekitarnya merupakan sebagian sedikit sejarah yang menandakan keberadaan kota ini. 

    Perlawanan untuk mempertahankan kebenaran yang diyakini, segera mencari jalan baru untuk membawa daerah ini pada suatu perlindungan dalam tradisi yang dihayati. Oleh para misonaris, kota Larantuka berada dalam perlindungan santo Philipus dan Yakobus, kendati hingga kini orang lebih mengenal sebagai kota Maria atau dijuluki ‘Kota Reinha’.

    Patahan demi patahan sejarah terus dialami penduduk wilayah ini. Kehidupan yang mulai tertata harus diiklaskan untuk tidak dilanjutkan, lantaran politik yang ditentukan di luar sana menghendaki suatu yang lain sama sekali. Apa yang dialami umat ketika peralihan Portugis ke Belanda, kembali terulang dalam peralihan Belanda ke Jepang. Segalanya harus mulai secara baru lagi. Lagi-lagi untuk bisa bertahan, kembali ke tradisi adalah jawabannya.

    Perkembangan terus berjalan. Sebagai akibat dari pertumbuhan umat yang semakin pesat, sejak 1951 Larantuka dan sekitarnya menjadi  satu wilayah keuskupan yakni Keuskupan Larantuka. 

    Larantuka dijadikan tempat kediaman Uskup Larantuka yang berarti juga menjadi pusat keuskupan. Ini juga membawa pengaruh yang cukup besar dan berarti bagi perkembangan kota ini. Hilir mudik para imam dan biarawan yang mengunjungi rumah keuskupan di Sandominggo menjadikan kota ini mulai terasa kian ramai dan mulai ada kesibukan baru.  

    Sementara di wilayah pemerintahan yang ketika itu sudah menjadi bagian dari NKRI, Larantuka dijadikan  ibukota kabupaten  Flores Timur, sebagaimana masa Belanda yang menempatkan satu komandan di sini.

    Sebagai ibukota Kabupaten Flores Timur, mulai ada permintaan tenaga kerja untuk mengisi pos-pos dalam pemerintahan. Perpindahan penduduk ke pusat kekuasaan adalah suatu hal yang tak bisa dihindarkan. Larantuka mulai bertumbuh sebagai sebuah ibu kota kabupaten dengan segala konsekuensinya.

    Larantuka, wilayah yang kecil itu, adalah tempat tinggal uskup Larantuka, tempat tinggal raja Larantuka dan tempat tinggal dan bekerja dari seorang bupati. Semuanya ada di sini dan semuanya memiliki “suara” yang sama nyaringnya. Karenanya tidak heran, saat sebuah isu diperbincangkan di wilayah publik, orang pun bertanya, “ini suara siapa?”.

    Larantuka masih terus berkembang. (*)