Category: PUSTAKA

  • Tubuh yang Dipertukarkan, Hidup yang Dipertahankan: Kritik Sosial dalam Film Pangku

    Tubuh yang Dipertukarkan, Hidup yang Dipertahankan: Kritik Sosial dalam Film Pangku

    Oleh Maharani Yahya, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    IDENTITAS FILM 

    Judul Film: Pangku (International Title: On Your Lap)

    Sutradara: Reza Rahadian

    Tahun Rilis: 2025

    Durasi: 1 jam 40 m

    Rumah Produksi: Gambar Prima Gerak

    Genre: Drama / Kritik Sosial

     

    Dalam masyarakat, kemiskinan sering kali dipandang sebagai persoalan individu. Mereka yang hidup dalam keterbatasan dianggap kurang bekerja keras, kurang berusaha, atau mengambil keputusan yang salah dalam hidupnya. Akibatnya, masyarakat lebih mudah memberikan penilaian moral daripada mencoba memahami kondisi yang sebenarnya dialami seseorang. Padahal, bagi sebagian orang, kemiskinan bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan situasi yang membatasi pilihan hidup hingga pada titik di mana bertahan hidup menjadi satu-satunya tujuan yang tersisa.

    Realitas tersebut diangkat dalam film Pangku (2025), debut penyutradaraan Reza Rahadian yang berani menyoroti kehidupan masyarakat pinggiran dengan pendekatan yang realistis dan manusiawi. Film ini tidak berusaha menawarkan kisah yang manis atau menghibur, melainkan mengajak penonton menyaksikan bagaimana tekanan ekonomi, stigma sosial, dan ketimpangan gender dapat membentuk jalan hidup seseorang. Melalui kisah Sartika, seorang ibu yang berjuang demi masa depan anaknya, Pangku hadir sebagai kritik sosial yang mempertanyakan kembali cara masyarakat memandang kemiskinan, perempuan, dan moralitas.

     

    Tolong Beli Kopi Saya, Mas

    Film ini berpusat pada kehidupan Sartika, seorang ibu yang tinggal di kawasan pesisir Pantura dan berusaha mempertahankan hidup di tengah keterbatasan ekonomi. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi anaknya, Sartika bekerja di sebuah warung kopi pangku milik Bu Maya. Namun, pekerjaan tersebut tidak hanya menuntut tenaga dan waktu, tetapi juga mengharuskannya berhadapan dengan berbagai stigma yang melekat pada perempuan yang bekerja di ruang-ruang semacam itu.

    Melalui perjalanan Sartika, film ini memperlihatkan bahwa perjuangan hidup tidak selalu berlangsung dalam bentuk yang heroik. Kadang-kadang, perjuangan justru hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang menyakitkan dan harus diambil setiap hari. Di sinilah kekuatan naratif Pangku mulai terasa. Film ini tidak menempatkan Sartika sebagai sosok yang sepenuhnya benar ataupun sepenuhnya salah, melainkan sebagai manusia biasa yang berusaha bertahan di tengah keadaan yang tidak memberinya banyak pilihan.

     

    Menukar Harga Diri, Menyambung Nasi

    Salah satu kekuatan utama Pangku terletak pada cara film ini menggambarkan kemiskinan sebagai persoalan yang kompleks. Kemiskinan tidak hadir hanya sebagai latar belakang cerita, melainkan menjadi kekuatan yang menggerakkan hampir seluruh konflik dalam film. Sartika harus berhadapan dengan kenyataan bahwa kebutuhan hidup sering kali menuntut pengorbanan yang tidak sederhana. Dalam kondisi tertentu, seseorang tidak lagi memiliki kebebasan untuk memilih apa yang diinginkan, melainkan hanya dapat memilih apa yang memungkinkan agar hidup tetap berjalan.

    Melalui penggambaran tersebut, Pangku menunjukkan bahwa kemiskinan bukan hanya tentang kurangnya uang, tetapi juga tentang sempitnya pilihan yang tersedia bagi seseorang. Film ini mengajak penonton untuk melihat bahwa keputusan yang sering dianggap salah oleh masyarakat bisa jadi lahir dari keadaan yang tidak memberikan alternatif lain. Dengan demikian, fokus cerita tidak lagi berada pada tindakan tokohnya semata, melainkan pada sistem sosial yang membuat tindakan tersebut seolah menjadi satu-satunya jalan yang tersedia.

     

    Tubuh Perempuan di Bawah Kuasa Patriarki

    Selain membicarakan kemiskinan, Pangku juga menghadirkan kritik yang kuat terhadap posisi perempuan dalam masyarakat. Sartika tidak hanya harus menghadapi tekanan ekonomi, tetapi juga menghadapi penghakiman moral yang jauh lebih keras dibandingkan laki-laki. Dalam banyak situasi, perempuan sering kali menjadi pihak yang pertama disalahkan ketika berada dalam kondisi rentan, sementara faktor-faktor sosial yang menyebabkan kerentanan tersebut justru diabaikan.

    Melalui tokoh Sartika, film ini memperlihatkan bagaimana tubuh perempuan kelas bawah sering kali ditempatkan dalam posisi yang rentan terhadap eksploitasi. Tubuh tidak lagi dipandang sebagai bagian dari identitas manusia yang utuh, melainkan sebagai sesuatu yang dapat dipertukarkan demi memenuhi kebutuhan hidup. Di sinilah Pangku menghadirkan kritik gender yang tajam. Film ini menunjukkan bahwa eksploitasi tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan yang kasatmata, tetapi juga melalui sistem sosial yang membatasi pilihan hidup perempuan dan membuat mereka harus menanggung beban yang lebih berat dibandingkan kelompok lainnya.

     

    Bahasa Visual yang Sunyi

    Dari sisi sinematografi, Pangku membangun atmosfer yang kuat melalui pendekatan visual yang realistis. Lingkungan pesisir Pantura yang sederhana, ruang-ruang sempit, serta nuansa visual yang cenderung suram memperkuat gambaran tentang kehidupan yang penuh tekanan. Kamera tidak berusaha mempercantik realitas, melainkan menghadirkannya apa adanya sehingga penonton dapat merasakan kedekatan dengan kehidupan tokoh-tokohnya.

    Pilihan visual tersebut membuat film terasa lebih jujur dan emosional. Penggunaan komposisi gambar yang sederhana justru mampu memperlihatkan kesepian, keterasingan, dan perjuangan yang dialami Sartika tanpa harus bergantung pada dialog yang berlebihan. Dengan demikian, sinematografi dalam Pangku tidak hanya berfungsi sebagai unsur estetis, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat kritik sosial yang ingin disampaikan film.

     

    Sebuah Tamparan untuk Nurani Kita

    Pada akhirnya, Pangku bukan sekadar kisah tentang perjuangan seorang ibu menghadapi kemiskinan. Film ini merupakan refleksi mengenai bagaimana masyarakat memandang perempuan, kemiskinan, dan moralitas. Melalui cerita yang sederhana tetapi menyentuh, film ini mengingatkan bahwa di balik setiap pilihan hidup yang tampak salah di mata masyarakat, sering kali terdapat perjuangan panjang yang tidak pernah benar-benar terlihat.

    Kelebihan utama film ini terletak pada keberhasilannya menghadirkan kritik sosial yang kuat tanpa terasa menggurui. Karakter-karakternya dibangun secara manusiawi sehingga penonton dapat memahami kompleksitas situasi yang mereka hadapi. Selain itu, pendekatan visual yang realistis berhasil memperkuat suasana emosional dan pesan sosial yang diusung film.

    Meski demikian, tempo cerita yang cenderung lambat mungkin menjadi tantangan bagi sebagian penonton. Atmosfer yang muram dan tema yang berat juga membuat film ini kurang cocok bagi mereka yang mencari hiburan ringan. Namun, justru melalui pendekatan tersebut, Pangku mampu mempertahankan fokusnya pada realitas sosial yang ingin diangkat.

    Sebagai karya debut penyutradaraan, Pangku menunjukkan keberanian dalam mengangkat isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat tetapi jarang dibicarakan secara terbuka. Film ini sangat direkomendasikan bagi mahasiswa, pemerhati isu sosial, penikmat film drama, serta siapa pun yang ingin melihat realitas kemiskinan dan ketimpangan gender dari sudut pandang yang lebih empatik. Lebih dari sekadar tontonan, Pangku merupakan kritik sosial yang mengajak penonton untuk memahami sebelum menghakimi.

  • Aletheia: Bukit Batu Karang – Cerpen Sany Tukan

    Aletheia: Bukit Batu Karang – Cerpen Sany Tukan

     

    Oleh Sany Tukan_@Wisma Rafael Ledalero

     

     

    Mentari di atas langit Flores sedang garang-garangnya. Angin kencang bertiup dari arah lautan, membawa aroma garam dan debu jalanan yang tak kunjung tenang diaspal jalanan. Terlihat di sebuah terminal bus kayu yang riuh hiruk-pikuk, Floren muncul melepas rindu. Ia bukan pejabat dari Jakarta, bukan Politisi dari seberang kota Medan, bukan pula pengusaha tambang dan kelapa sawit yang datang membawa janji. Ia datang hanya mengenakan kemeja tenun ikat kusam warnanya pudar dan ber-alaskan sandal jepit tipis ala kadarnya. Floren tidak membawa proposal proyek. Ia hanya membawa telinga yang mau mendengar dan tangan yang mau merangkul. Di pasar-pasar tradisional, di bawah rindangnya pohon cendana, Floren duduk berbicara sekaligus berseru curhat perihal sesuatu yang aneh didengar bagi telinga orang-orang zaman sekarang. Ia bercerita tentang mencintai musuh, tentang membagi moke, jagung titih dan jagung bose kepada mereka yang lapar, dan tentang berhentinya dendam perang antar suku.

    Berhenti memaki sama saudaramu karena beda pilihan Politik.” katanya di suatu sore di sebuah pangkalan Ojek.

    Tuhan tidak tinggal di dalam kotak suara, Ia tinggal di dalam hati orang jujur.” ujarnya lebih jauh.

    Detik menit kehidupannya awal-awal dicintai oleh banyak orang, karena ia sering membantu banyak orang, berbela rasa, dan menyembuhkan seorang nenek tua yang buta di pelosok Timor hanya dengan membasuh matanya dengan air kelapa. Ia membuat kepala-kepala desa, para politisi, dan para koruptor di kantor-kantor camat merasa panas dingin hanya karena tatapan matanya yang sangat jernih. Namun, perlahan-lahan, kenyamanan para penguasa kecil mulai terganggu, mulai mengadu. Para tuan tanag yang serkah, oknum-oknum yang suka memotong dana bantuan sosial, dan mereka yang menggunakan agama untuk kepentingan pribadi mulai merasa terancam. Floren terlalu jujur. Dan di zaman ini, kejujuran sekian sering dianggap sebagai ancaman keamanan.

    ***

    Malam itu, di bawah lampu jalanan yang redap-redup di pusat kota ditemani teriakan kicauan burung malam yang melantangkan kebenaran dan angin malam yang menghantarkan harapan akan selimut perdamaian, Floren ditangkap. Bukan oleh tentara Romawi dengan pedangnya, bukan oleh anak-anak STM, melainkan oleh suara-suara fitnah di media sosial dan laporan-laporan palsu. Ia dibawa kehadapan Tuan Besar yang duduk di atas kursi empuk berhiaskan rintihan rakyat jelata.

    Apakah engkau ini yang katanya mau mengubah tanah ini menjadi Surga?” tanya Tuan Besar sambil menghisap sebatang rokok.

    Floren hanya terdiam bisu menanggung peluh. Diamnya bukan karena takut, tetapi karena ia tahu bahwa kata-kata tidak ada gunanya bagi hati yang sudah tertutup oleh gila hormat. Orang-orang lain disekitarnya masih terus menafsir keterdiamannya, bertanya-terus bertanya di dalam memori barangkali ada ketersembunyian yang tidak layak disembunyikan.

    Keesokan harinya, di sebuah lapangan luas nan tandus dekat pelabuhan, Floren dipukuli. Bukan oleh prajurit berziarah layaknya peziarah yang dilukiskan oleh Paulo Caelho dalam bukunya Sang Peziarah, tetapi oleh ketidakpedulian orang banyak. Mereka yang dulu pernah diberi makan, kini hanya menonton sambil merekam kejadian itu dengan ponsel mereka demi kebahagian FB-pro. Sebagian lagi berteriak, “Hajar dia! Dia merusak adat kita! Dia membuat kita merasa bersalah.”

    Floren dipaksa memikul sebuah palang kayu yang besar dan kasar, sebuah kayu jati tua yang beratnya minta ampun. Ia harus berjalan mendaki bukit batu karang yang tajam. Jalanan itu panas, penuh kerikil yang melukai kakinya. Setiap kali ia jatuh, orang-orang bukannya lekas menolong, malah sibuk memberikan komentar jahat di kolom live streaming. Di tengah perjalanan menuju puncak bukit batu karang, seorang pemuda kampung bernama Baranusa, seorang penambang pasir yang baru pulang kerja, dipaksa oleh petugas untuk membantu memikul kayu jadi tua tebangan liar itu. Baranusa melihat mata Floren. Di mata itu, Tobi tidak melihat kebencian, melainkan sebuah kasih yang sangat dalam, seolah-oleh Floren sedang memikul seluruh beban penderitaan orang NTT di puncak pundaknya.

    ***

    Ketika tiba di puncak bukit batu karang yang dulu sering disebut Bukit Cinta, di bawah langit cakrawal yang tiba-tiba berubah mendung pekat, Floren direntangkan. Paku-paku besar menembus tangannya yang biasa dipakai untuk memberi pelukan kasih sayang kepada anak-anak kecil yang menagih kasih sayang dari kedua orang tuanya, yang merantau entah pergi kemana, lalu meninggalkan luka. Saat palang kayu itu ditegakkan, Floren tergantung di antara langit dan bumi NTT. Dari atas bukit itu, Ia bisa melihat ladang-ladang jagung yang kering, pohon-pohon tumbang ditebang, hutan-hutan digundul, dan rumah-rumah beratap alang-alang yang penghuninya masih bergumul dengan kemiskinan.

    Bapa,” bisik-Nya dengan suara parau di tengah deru angin, “Ampuni mereka. Mereka tidak mengerti apa yang mereka lakukan di group-group WhatsApp dan di FB-FB Pro itu, di kantor-kantor itu, dan di jalan-jalanan ini.”

    Tepat pukul tiga sore, bumi berguncang. Gunung Lewotobi dan Ile Lewotolok di seberang laut merunduk tak kuasa membendung amarah. Floren menghembuskan napas terakhirnya. Orang-orang yang tadi mencemooh tiba-tiba terdiam. Ponsel-ponsel diturunkan. Suasan menjadi sunyi senyap, bisu memandang ulah kebencian, hanya deruan angin berkecamuk meminta keadilan. Seorang Tuan tanah didampingi Perwira Polisi berlutut di atas karang tajam, memandang. “Sungguh,” katanya pelan, “Orang ini benar-benar Orang Baik. Ia mati supaya kita berhenti saling membenci.”

    Floren meninggal di atas bukit batu karang yang dulu katanya disebut Bukit Cinta, tetapi entah cintanya kemana, dari siapa, dan untuk siapa. Di dalam hati Baranusa, di dalam hati nenek tua yang sembuh, dan di dalam jiwa tanah NTT, sebuah benih baru telah ditanam di sela-sela batu karang keegoisan diri. Benih itu bukan tentang kematian, melainkan tentang pengorbanan yang takkan pernah usang; sebuah sejarah amerta yang membuktikan bahwa cinta selalu lebih kuat daripada paku dan kayu, cinta lebih kuat daripada janji yang diumbar tanpa ada bukti.

     

    #Rekontekstualisasi Imajinasi dari suara-suara yang seringkali terlupakan#

  • Dari Hutan Bakau ke Surga: Ketika Iman Bernegosiasi dengan Budaya

    Dari Hutan Bakau ke Surga: Ketika Iman Bernegosiasi dengan Budaya

     

    Oleh Maria D. Andriana

     

     Buku“Dari Bakau ke Surga: Tuhan Tak Pernah Jauh” menawarkan sesuatu yang jarang hadir dalam narasi tentang Asmat di Papua Selatan. Tidak mengutamakan eksotisme suku, bukan pula laporan konflik, melainkan pembacaan spiritual atas ruang hidup.

    Di tengah wacana yang kerap memotret Papua sebagai wilayah terluar atau terbelakang, buku ini berusaha menempatkan tanah bakau itu sebagai pusat pengalaman iman baik oleh umat maupun pemuka agama.

    Karya ini menghimpun aktivitas pastoral Uskup Agats, Mgr. Aloysius Murwito, OFM, bersama esai dari penulis utama, yakni etnolog Evi Aryati Arbay dan tulisan warga setempat, John Ohoiwirin. Struktur tersebut membuat buku ini tidak berdiri sebagai laporan tunggal, melainkan sebuah mozaik atas suara pastoral, antropologis, dan seruan lokal. Kombinasi ini menjanjikan dialog yang kaya.

    Secara visual, rangkaian foto yang dikurasi oleh Arbain Rambey memperkaya narasi dan menghadirkan atmosfer ruang hidup Asmat. Lebih dari enam puluh persen foto menampilkan aktivitas pastoral, sementara sisanya berupa lanskap dan potret keseharian yang estetik tentang Asmat. Komposisi ini mempertegas fokus buku pada pengalaman perutusan, namun sekaligus membatasi ruang visual bagi representasi budaya yang lebih luas.

    Ketiadaan teks foto membuat konteks visual kurang terjelaskan. Selain itu, absennya keterangan kredit fotografer serta pembedaan antara karya fotografi profesional dan arsip dokumentasi menyisakan pertanyaan editorial.

    Dalam buku yang mengangkat kebudayaan, aspek visual bukan sekadar pelengkap estetis, melainkan bagian dari tanggung jawab representasi.

    Beberapa adegan yang digambarkan dalam teks, seperti papan-papan licin penutup lumpur atau sosok orang Asmat yang mendayung sambil berdiri, justru tidak muncul dalam dokumentasi visual buku. Padahal, kehadiran foto-foto tersebut dapat memperkaya pengalaman pembaca sekaligus memperkuat daya representasinya.

    Secara tematik, buku ini bertumpu pada tiga simpul alam, budaya, dan spiritualitas. Alam tidak diposisikan sebagai latar yang pasif, melainkan sebagai ruang hidup yang membentuk kesadaran kolektif.

    Budaya bukan sekadar ornamen etnografis, tetapi media tafsir iman. Sementara spiritualitas tidak hadir sebagai doktrin yang turun dari langit, melainkan sebagai pengalaman yang tumbuh dari lumpur bakau, dari rumah panggung, juga dari ritme sungai yang pasang surut.

    Di sinilah kekuatan buku ini, yang mencoba menghadirkan iman yang berinkarnasi. Tuhan tidak digambarkan sebagai institusi yang mengatur dari atas, tetapi sebagai kehadiran yang belajar bersama komunitas.

    Perspektif ini penting dalam diskursus budaya Indonesia yang masih sering terjebak pada relasi pusat dan daerah. Buku ini, setidaknya secara intensi, berupaya membalik sudut pandang tersebut.

    Namun, justru pada titik itu pula muncul pertanyaan kritis. Sejauh mana suara warga Asmat benar-benar berdiri setara dalam buku ini? Meski ada kontribusi penulis lokal, narasi tetap kuat berada dalam bingkai pastoral dan refleksi gerejawi. Pembaca yang mencari pembacaan antropologis yang sistematis atau suara warga yang lebih dominan mungkin akan merasa ruang itu masih terbatas.

    Bagian surat-surat gembala Mgr. Murwito memperlihatkan pendekatan Gereja yang selaras dengan semangat Konsili Vatikan II yakni pembaruan Gereja yang mendorong penghormatan terhadap kebudayaan setempat sebagai entitas yang utuh.

    Dalam konteks Papua yang sarat dinamika sosial-politik, sikap ini signifikan. Buku ini tidak menutup mata terhadap realitas kekerasan dan kegelisahan yang mengemuka, tetapi memosisikan Gereja pada landasan kemanusiaan, bukan politik. Di sini, buku berani menyentuh konteks tanpa terjebak dalam retorika.

    Aktivitas pastoral menyentuh harkat dan martabat warga yang masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia, pelayanan pendidikan, kesehatan dan penguatan ekonomi, terbaca melalui teks maupun rangkaian foto.

    Dari sisi gaya, tulisan bergerak dalam tempo yang pelan dan meditatif. Pembaca tidak diajak berlari menyusuri data, melainkan berjalan menyusuri pengalaman. Kualitas reflektif ini menjadi daya tarik sekaligus batas.

    Bagi pembaca umum yang tidak akrab dengan wacana teologi kontekstual, beberapa bagian mungkin terasa terlalu internal dan gerejawi. Buku ini lebih dekat pada kesaksian batin ketimbang analisis ilmiah.

    Kehadiran Evi Aryati Arbay sebagai etnolog memberi warna tersendiri. Rekam jejaknya dalam menulis komunitas adat dari Baduy Dalam hingga Papua, menunjukkan konsistensi pendekatan yang empatik.

    Pendekatan tersebut lebih banyak berfungsi sebagai jembatan refleksi spiritual ketimbang penggalian etnografis yang mendalam. Namun buku ini memang tidak diniatkan sebagai studi antropologi, dan itu perlu disadari pembaca sejak awal.

    Penulis dengan sadar memberi ruang spiritual dan pastoral, alih-alih kajian antropologis yang mengemukakan struktur sosial masyarakat dan budayanya.

    Dia juga menjaga keseimbangan dengan tidak mereduksi pengalaman iman menjadi suguhan data, sebaliknya juga tidak membiarkan refleksi-refleksi ini kehilangan pijakan kulturalnya.

    Representasi Asmat disampaikan dengan hati-hati dengan pemahaman bahwa Papua bukan ruang kosong yang bisa ditafsir sesuka hati. Di situ ada sejarah luka yang perlu dirawat. ada martabat yang mesti dijunjung, dan, ada suara yang harus dihormati.

    Tantangan dalam buku ini adalah untuk tidak memberbicarakan mereka dari kejauhan, melainkan berjalan bersama.

    Pada akhirnya, “Dari Bakau ke Surga: Tuhan Tak Pernah Jauh” adalah tawaran tafsir mengenai iman yang tumbuh dari akar budaya tanpa harus mencabutnya. Ini menjadi penting dalam perbincangan tentang relasi agama dan kebudayaan di Indonesia. Sebagai suatu karya, buku ini lebih kuat sebagai refleksi pastoral daripada sebagai eksplorasi budaya yang kritis dan menyeluruh.

    Buku ini layak dibaca oleh mereka yang tertarik pada inkulturasi iman dan dialog budaya. Isi buku tidak menawarkan peta akademik yang rinci, tetapi menghadirkan kesadaran bahwa spiritualitas bisa lahir dari tanah yang jauh dan sering luput dari perhatian.

    *****************

  • Dari Hutan Bakau ke Surga: Ketika Iman Bernegosiasi dengan Budaya

    Dari Hutan Bakau ke Surga: Ketika Iman Bernegosiasi dengan Budaya

     

    Oleh  Maria  D.  Andriana 

     

     Buku Dari Bakau ke Surga: Tuhan Tak Pernah Jauh menawarkan sesuatu yang jarang hadir dalam narasi tentang Asmat di Papua Selatan. Tidak mengutamakan eksotisme suku, bukan pula laporan konflik, melainkan pembacaan spiritual atas ruang hidup.

    Di tengah wacana yang kerap memotret Papua sebagai wilayah terluar atau terbelakang, buku ini berusaha menempatkan tanah bakau itu sebagai pusat pengalaman iman baik oleh umat maupun pemuka agama.

    Karya ini menghimpun aktivitas pastoral Uskup Agats, Mgr. Aloysius Murwito, OFM, bersama esai dari penulis utama, yakni etnolog Evi Aryati Arbay dan tulisan warga setempat, John Ohoiwirin. Struktur tersebut membuat buku ini tidak berdiri sebagai laporan tunggal, melainkan sebuah mozaik atas suara pastoral, antropologis, dan seruan lokal. Kombinasi ini menjanjikan dialog yang kaya.

    Secara visual, rangkaian foto yang dikurasi oleh Arbain Rambey memperkaya narasi dan menghadirkan atmosfer ruang hidup Asmat. Lebih dari enam puluh persen foto menampilkan aktivitas pastoral, sementara sisanya berupa lanskap dan potret keseharian yang estetik tentang Asmat. Komposisi ini mempertegas fokus buku pada pengalaman perutusan, namun sekaligus membatasi ruang visual bagi representasi budaya yang lebih luas.

    Ketiadaan teks foto membuat konteks visual kurang terjelaskan. Selain itu, absennya keterangan kredit fotografer serta pembedaan antara karya fotografi profesional dan arsip dokumentasi menyisakan pertanyaan editorial.

    Dalam buku yang mengangkat kebudayaan, aspek visual bukan sekadar pelengkap estetis, melainkan bagian dari tanggung jawab representasi.

    Beberapa adegan yang digambarkan dalam teks, seperti papan-papan licin penutup lumpur atau sosok orang Asmat yang mendayung sambil berdiri, justru tidak muncul dalam dokumentasi visual buku. Padahal, kehadiran foto-foto tersebut dapat memperkaya pengalaman pembaca sekaligus memperkuat daya representasinya.

    Secara tematik, buku ini bertumpu pada tiga simpul alam, budaya, dan spiritualitas. Alam tidak diposisikan sebagai latar yang pasif, melainkan sebagai ruang hidup yang membentuk kesadaran kolektif.

    Budaya bukan sekadar ornamen etnografis, tetapi media tafsir iman. Sementara spiritualitas tidak hadir sebagai doktrin yang turun dari langit, melainkan sebagai pengalaman yang tumbuh dari lumpur bakau, dari rumah panggung, juga dari ritme sungai yang pasang surut.

    Di sinilah kekuatan buku ini, yang mencoba menghadirkan iman yang berinkarnasi. Tuhan tidak digambarkan sebagai institusi yang mengatur dari atas, tetapi sebagai kehadiran yang belajar bersama komunitas.

    Perspektif ini penting dalam diskursus budaya Indonesia yang masih sering terjebak pada relasi pusat dan daerah. Buku ini, setidaknya secara intensi, berupaya membalik sudut pandang tersebut.

    Namun, justru pada titik itu pula muncul pertanyaan kritis. Sejauh mana suara warga Asmat benar-benar berdiri setara dalam buku ini? Meski ada kontribusi penulis lokal, narasi tetap kuat berada dalam bingkai pastoral dan refleksi gerejawi. Pembaca yang mencari pembacaan antropologis yang sistematis atau suara warga yang lebih dominan mungkin akan merasa ruang itu masih terbatas.

    Bagian surat-surat gembala Mgr. Murwito memperlihatkan pendekatan Gereja yang selaras dengan semangat Konsili Vatikan II yakni pembaruan Gereja yang mendorong penghormatan terhadap kebudayaan setempat sebagai entitas yang utuh.

    Dalam konteks Papua yang sarat dinamika sosial-politik, sikap ini signifikan. Buku ini tidak menutup mata terhadap realitas kekerasan dan kegelisahan yang mengemuka, tetapi memosisikan Gereja pada landasan kemanusiaan, bukan politik. Di sini, buku berani menyentuh konteks tanpa terjebak dalam retorika.

    Aktivitas pastoral menyentuh harkat dan martabat warga yang masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia, pelayanan pendidikan, kesehatan dan penguatan ekonomi, terbaca melalui teks maupun rangkaian foto.

    Dari sisi gaya, tulisan bergerak dalam tempo yang pelan dan meditatif. Pembaca tidak diajak berlari menyusuri data, melainkan berjalan menyusuri pengalaman. Kualitas reflektif ini menjadi daya tarik sekaligus batas.

    Bagi pembaca umum yang tidak akrab dengan wacana teologi kontekstual, beberapa bagian mungkin terasa terlalu internal dan gerejawi. Buku ini lebih dekat pada kesaksian batin ketimbang analisis ilmiah.

    Kehadiran Evi Aryati Arbay sebagai etnolog memberi warna tersendiri. Rekam jejaknya dalam menulis komunitas adat dari Baduy Dalam hingga Papua, menunjukkan konsistensi pendekatan yang empatik.

    Pendekatan tersebut lebih banyak berfungsi sebagai jembatan refleksi spiritual ketimbang penggalian etnografis yang mendalam. Namun buku ini memang tidak diniatkan sebagai studi antropologi, dan itu perlu disadari pembaca sejak awal.

    Penulis dengan sadar memberi ruang spiritual dan pastoral, alih-alih kajian antropologis yang mengemukakan struktur sosial masyarakat dan budayanya.

    Dia juga menjaga keseimbangan dengan tidak mereduksi pengalaman iman menjadi suguhan data, sebaliknya juga tidak membiarkan refleksi-refleksi ini kehilangan pijakan kulturalnya.

    Representasi Asmat disampaikan dengan hati-hati dengan pemahaman bahwa Papua bukan ruang kosong yang bisa ditafsir sesuka hati. Di situ ada sejarah luka yang perlu dirawat. ada martabat yang mesti dijunjung, dan, ada suara yang harus dihormati.

    Tantangan dalam buku ini adalah untuk tidak memberbicarakan mereka dari kejauhan, melainkan berjalan bersama. Pada akhirnya, “Dari Bakau ke Surga: Tuhan Tak Pernah Jauh” adalah tawaran tafsir mengenai iman yang tumbuh dari akar budaya tanpa harus mencabutnya. Ini menjadi penting dalam perbincangan tentang relasi agama dan kebudayaan di Indonesia. Sebagai suatu karya, buku ini lebih kuat sebagai refleksi pastoral daripada sebagai eksplorasi budaya yang kritis dan menyeluruh.

    Buku ini layak dibaca oleh mereka yang tertarik pada inkulturasi iman dan dialog budaya. Isi buku tidak menawarkan peta akademik yang rinci, tetapi menghadirkan kesadaran bahwa spiritualitas bisa lahir dari tanah yang jauh dan sering luput dari perhatian.

    *************************

  • Akhir Kisah Bersama Mario – Fabio H.Seran

    Akhir Kisah Bersama Mario – Fabio H.Seran

    Oleh Nia Samsihono

     

    Kehadiran buku Akhir Kisah Bersama Mario karya Fabio H. Seran terasa istimewa dalam peta sastra Indonesia mutakhir. Buku ini bukan sekadar kumpulan 12 cerita pendek, melainkan sebuah ruang perjumpaan antara iman, budaya, dan pengalaman hidup yang berakar kuat di tanah Nusa Tenggara Timur (NTT). Cerpen-cerpen di dalamnya lahir dari tangan seorang Imam Katolik yang mengabdikan diri dalam pelayanan misionaris, namun juga memelihara kecintaan yang mendalam pada dunia sastra.

    Profil Penulis: Antara Iman dan Sastra

    Fabio H. Seran menempuh pendidikan filsafat di STFK Ledalero-Maumere (kini IFTK), lalu melanjutkan studi teologi di Università Pontificia Salesiana, Roma. Ia ditahbiskan menjadi Imam Serikat Panggilan Ilahi (Vokasionis) pada 2017 di Ruteng. Sejak 2018, ia bertugas di Kota Ho Chi Minh, Vietnam.

    Jauh sebelum menjadi Imam, Fabio sudah jatuh cinta pada sastra sejak bangku SMA. Cerpen dan puisinya kerap dimuat di media lokal seperti Pos Kupang dan majalah asuhan STFK Ledalero. Akhir Kisah Bersama Mario adalah buku sastra pertamanya yang dipublikasikan, sebuah persembahan penuh cinta untuk mendiang saudara kandung, yaitu sang kakak Mario Frengky Klau, yang meninggal pada tahun 26 September 2006, bersamaan dengan ulang tahun ke-19 Fabio, ketika itu. Dengan demikian, membaca cerpen-cerpen Fabio berarti juga memasuki ruang batin seorang penulis yang hidup di persimpangan iman religius, pengalaman duka personal, dan akar budaya lokal.

    Dunia dalam 12 Cerpen

    Cerpen-cerpen Fabio menghadirkan panorama kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur: pedesaan yang bersahaja, ritual adat, persinggungan tradisi dan agama, hingga alam yang hadir sebagai latar sekaligus tokoh. Judul-judul cerpennya, seperti Ketika di Bukit Wemer, Akhir Kisah Bersama Mario, Elegi Cika, Bintang Terkubur, Suara-Suara dalam Gelap, Bunga Penutup Abad, Aku Kenal Dia, Perempuan Angin, Roswita, Memori Bersama Kampung, Di Sada Watu Manu, dan Biarawan Muda Bersayap menggambarkan betapa kuatnya keterikatan penulis dengan tanah kelahirannya.

    Mario F. Lawi salah seorang penulis sastra yang lahir di Kupang, kota di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, dalam endorsemennya pada buku karya Fabio ini mengatakan, kisah-kisah dalam buku cerpen ini berdenyut dengan pengalaman hidup masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT)—penuh kesederhanaan, namun sarat pergulatan eksistensial. Budaya lokal tidak hadir sekadar ornamen, melainkan sebagai sumber nilai yang membentuk cara pandang tokoh-tokoh cerpen.

    Tema-Tema Utama: Kehilangan, Iman, dan Kebudayaan

    Salah satu inti dari buku ini adalah tema kehilangan. Judul buku sendiri, Akhir Kisah Bersama Mario, adalah bentuk penghormatan pada sang kakak yang telah tiada. Kehilangan pribadi itu menjelma menjadi energi naratif, menjelajah dalam kisah-kisah tentang kematian, kerinduan, dan harapan.

    Selain itu, iman Katolik menjadi denyut lain. Sebagai seorang Imam, Fabio menghadirkan doa, refleksi spiritual, dan perjumpaan manusia dengan misteri transendensi, tetapi tidak pernah terjebak pada dogmatisme. Iman di sini membumi—berdialog dengan tanah, adat, dan sejarah hidup tokoh-tokoh yang sederhana.

    Budaya Nusa Tenggara Timur juga tampil dengan kuat. Alam Flores, adat istiadat, bahasa, hingga relasi sosial masyarakat pedesaan muncul dalam narasi yang jujur. Cerpen-cerpen ini bisa dibaca sebagai dokumentasi kultural, sekaligus upaya menyuarakan identitas daerah yang sering terpinggirkan dari pusat wacana sastra Indonesia. Coba perhatikan lukisan latar dalam narasi yang diungkap dalam salah satu cerpennya berikut.

    Kau tentu masih ingat waktu kita berjalan bersama di pematang sawah yang sempit saat kita pulang dari kebun. Waktu itu turun gerimis. Dengan hati-hati sekali kita berlari-lari kecil melewati pematang-pematang sempit itu dengan daun pisang di tangan kanan kita masing-masing. Kau masih ingat kan? Kau bilang waktu itu bahwa kampungmu, di Manggarai sana, ada hamparan sawah yang pematang-pematangnya jalin-menjalin hingga menyerupai jaring laba-laba. …..   (Dari cerpen berjudul “Memori Bersama di Kampung”, hlm. 63 Fabio H. Seran di buku Akhir Kisah Bersama Mario, Jakarta: Penerbit KKK, 2025).

    Paragraf cerpen itu merekam keintiman kenangan melalui lanskap alam Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Manggarai. Ada beberapa hal yang dapat kita lihat.

    1. Alam sebagai latar emosional
    Kenangan tentang berjalan di pematang sawah yang sempit, diiringi gerimis, menekankan kedekatan manusia dengan lingkungan sehari-hari. Alam hadir bukan hanya sebagai latar, melainkan sebagai bagian dari pengalaman batin yang mengikat tokoh-tokoh dalam cerita. Gerimis dan daun pisang menjadi simbol sederhana dari perlindungan dan keakraban.

    2. Ciri khas lanskap Manggarai
    Penyebutan pematang sawah di Manggarai yang “jalin menjalin menyerupai jaring laba-laba” langsung merujuk pada fenomena sawah lingko, salah satu kekhasan budaya agraris masyarakat Manggarai. Sawah berbentuk seperti jaring laba-laba itu tidak hanya unik secara visual, tetapi juga menyimpan makna sosial: pembagian lahan pertanian yang adil di antara anggota masyarakat. Dengan begitu, cerpen ini memunculkan identitas lokal melalui lanskap alam.

    3. Alam sebagai memori kolektif dan identitas
    Sawah, gerimis, dan daun pisang berfungsi sebagai penanda memori. Alam menjadi arsip kenangan, tempat hubungan personal terikat dengan identitas kampung. Cerpen ini menegaskan bagaimana alam Nusa Tenggara Timur bukan hanya ruang fisik, melainkan juga ruang kultural dan emosional yang membentuk ingatan bersama.

    4. Nuansa puitis dalam penggambaran alam
    Kalimat yang menyandingkan pematang dengan “jaring laba-laba” bukan sekadar deskripsi geografis, melainkan metafora yang memperkaya imajinasi pembaca. Alam Nusa Tenggara Timur dipersonifikasi, diberi “bentuk bahasa” yang indah, sehingga menghadirkan citra khas sekaligus memikat.

    Paragraf cerpen yang saya kutip ini memperlihatkan bahwa alam di Nusa Tenggara Timur (khususnya sawah lingko Manggarai) bukan hanya lanskap, melainkan warisan budaya, identitas, dan ruang kenangan yang memperkuat ikatan emosional tokoh-tokohnya.
    Sebagai sebuah karya, Akhir Kisah Bersama Mario menunjukkan kematangan emosional dan kedalaman refleksi. Dari sisi teknik, gaya bahasa Fabio relatif sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya: ia menulis dengan kejujuran. Tidak ada ambisi estetis yang berlebihan, melainkan keinginan untuk berbagi pengalaman hidup dengan pembaca.

    Buku ini memiliki nilai ganda:

    1. Sastra – menghadirkan cerita pendek dengan latar lokal yang kuat, memperkaya khazanah sastra Indonesia dengan suara dari timur.

    2. Kultural dan spiritual – menyuarakan tradisi, iman, dan pergulatan eksistensial masyarakat NTT, menjadikannya bacaan yang relevan bagi siapa saja yang ingin memahami perjumpaan agama, adat, dan modernitas.

    Akhir Kisah Bersama Mario adalah buku yang lahir dari hati seorang imam, seorang penyair, sekaligus seorang saudara yang masih menyimpan luka duka. Cerpen-cerpen di dalamnya adalah upaya untuk merawat kenangan, sekaligus menyalakan cahaya pengharapan di tengah kehidupan yang rapuh. Kehadirannya membuktikan bahwa sastra bisa menjadi jembatan antara iman dan budaya, antara luka pribadi dan pengalaman kolektif. Fabio H. Seran menghadirkan suara yang jernih dari Nusa Tenggara Timur, sebuah suara yang pantas mendapat tempat dalam percakapan sastra Indonesia kontemporer. Pasti daerahnya indah, Fabio H. Seran dilahirkan di Betun, Kabupaten Malaka, yaitu Pulau Timor bagian Barat Nusa Tenggara Timur yang menyebut areal persawahan mereka dengan kata “bakateu”.

    *****************************

    Nia Samsihono, Penulis Indonesia

     

  • Sejarah Intelektual Indonesia dalam Perspektif Ilmu Sosial

    Sejarah Intelektual Indonesia dalam Perspektif Ilmu Sosial

     

    Oleh Sarah Nuraini Siregar

     

     

     

    Judul Buku: Fragmen Sejarah Intelektual : Beberapa Profil Indonesia Merdeka

    Penulis: Ignas Kleden

    Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

    Cetakan: Pertama, Desember 2020

    Tebal: 460 hlm

    ISBN: 978-602-433-687-5

     

     

    Secara umum, buku ini menyuguhkan narasi singkat karya para intelektual Indonesia sejak era kemerdekaan hingga pasca-Orde Baru. Para tokoh intelektual yang dibahas dalam buku ini terdiri atas dua kelompok. Pertama, tokoh intelektual (pemikir) politik Indoneisa, dan kedua, tokoh-tokoh yang cukup terkenal di garis sastra dan kebudayaan.

    Buku ini menarik, penulis menjelaskan dan menganalisis karya para tokoh melalui pendekatan teori-teori ilmu sosial yang cukup komprehensif. Ini menjadi salah satu kelebihan dalam buku ini. Ulasan penulis menunjukkan pendalaman secara ilmiah mengenai pemikiran, karya, ataupun sisi intelektual para tokoh tersebut.

    Pernyataan apologia mengawali pernyataan penulis yang mengakui dua sisi kelemahan karyanya. Kelemahan pertama adalah pengelompokan para intelektual berdasarkan post factum, yaitu tersusunnya pengelompokan setelah ulasan para tokoh sudah diterbitkan di tempat lain. Ini menjadi alasan mengapa buku ini tidak begitu detail membahas sisi intelektual para tokoh tersebut.

    Kelemahan kedua adalah semua tokoh intelektual yang disajikan dalam buku ini adalah laki-laki, tanpa ada representasi intelektual perempuan.

    Penulis mengawali paparan secara teoretis dan terulas dengan baik mengenai definisi intelektual. Penulis menguraikan konsep intelektual dari berbagai tokoh yang berasal dari daratan Eropa dan juga Amerika. Julian Benda, Gramsci, Arnold, Rousseau, Hegel, Orwell, Paine, Hedge, hingga Thomas Jefferson menjadi para tokoh yang diulas oleh penulis. Ulasan ini menekankan perdebatan makna atau hakikat intelektual.

    Dalam narasi perdebatan tersebut, penulis mencoba membedakan antara intelektual dan ilmuwan, serta peran apa saja yang semestinya diemban para intelektual.

    Baginya, intelektual dan ilmuwan sama-sama bekerja dengan informasi dan pengetahuan sebagai sarana dan fasilitas. Namun yang membedakannya, antara lain, ilmuwan mengubah kepercayaan dan nilai menjadi informasi dan pengetahuan, sementara intelektual mengubah pengetahuan dan informasi menjadi nilai, komitmen politik, dan keyakinan ideologis atau sikap moral. Ilmuwan membatasi kerjanya dalam disiplin ilmu berdasarkan keahliannya, sementara intelektual menerobos disiplin keilmuannya karena memikirkan atau membela kepentingan publik (hlm 12).

    Dalam pandangan berbagai tokoh yang membahas makna intelektual, ada beberapa konsekuensi logis para intelektual dalam konteks sosial politik. Dalam kehidupan para intelektual, tentu akan menghadapi serangan politik, kerap menantang status quo, serta mengutamakan dan membela kebebasan (berpikir) sebagai kemerdekaan individu. Ketiga aspek ini selalu berkelindan dalam pembahasan para tokoh intelektual pada pembabakan selanjutnya dalam buku ini.

    Pada kategori intelektual bagian politik, beberapa tokoh disandingkan oleh penulis. Melalui ulasan para tokoh ini, kutub pemikiran yang ingin ditampilkan oleh penulis adalah Nasionalis (Soekarno), Sosialis (Hatta dan Sjahrir), Marxis (Tan Malaka). Penulis juga menyertakan garis pemikiran yang menonjolkan prinsip penting dalam politik, yaitu moral dalam kekuasaan, kebebasan, dan persamaan (Soedjatmoko, Seda, Gus Dur, dan Sultan HB IX). Uraian pada bagian ini kental dengan narasi biografi dan sepak terjang para tokoh tersebut.

    Namun, hal menarik pada bagian ini adalah ketika penulis menyertai analisisnya melalui karya-karya para tokoh tersebut. Analisis ini untuk memberikan penilaian terhadap peran dan kontribusi pemikiran mereka.

    Saya mengambil contoh Hatta, yang disebut penulis sebagai intelektual yang konsisten, memiliki keberanian filosofis, keberanian moral, dan keteguhan hati saat berhadapan dengan kesulitan politik. Gus Dur, tokoh pluralis yang gigih membela hak-hak minoritas dan sanggup memberikan jalan kepada kalangan sipil untuk menjadi pemeran utama dalam politik nasional. Demikian pula Sultan HB IX, sosok yang mendobrak reduksi kepemimpinan aristokrat hanya pada seni dan budaya menjadi pada urusan ekonomi dan politik.

    Lalu, pada kategori intelektual sastra dan kebudayaan, tokoh-tokoh yang diangkat adalah Sutan Takdir Alisjahbana (STA), Ajip Rosidi, Asrul Sani, Mochtar Lubis, Rendra, Goenawan Mohamad, Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, Sardono W Kusumo, Jakob Oetama, dan Pramoedya Ananta Toer.

    Jika dibandingkan dengan kategori bagian politik, bagian ini menampilkan cukup banyak tokoh sastra dan kebudayaan walau ulasan pemikiran beberapa tokoh di dalamnya tidak begitu mendalam. Akan tetapi, kelebihan yang cukup menonjol dan jarang ditemukan pada karya lain adalah penulis turut mengulas karya-karya sastra para tokoh tersebut. Pembaca dapat menikmati cuplikan puisi, deskripsi singkat buku dan novel, yang kemudian didiskusikan secara lugas melalui pemahaman keilmuan penulis.

    Sama halnya di bagian politik, penulis juga memberikan penilaian terhadap karakter pemikiran mereka. STA, misalnya, melalui karya tiga novelnya (Layar TerkembangGrotta AzzuraAnak Perawan di Sarang Penyamun) dianggap tidak begitu menonjol dalam menyampaikan makna-makna sosial kepada publik.

    Terhadap karya-karya Rendra, penulis menilai sangat spektakuler dalam menyampaikan tema-tema alam, masyarakat, dan politik. Demikian pula sosok Pramoedya, yang sangat lugas menyampaikan pandangan materialisme historis atas pemikiran Marx. Kelugasan ini diungkap oleh penulis berdasarkan empat novelnya, tetralogi Pulau Buru. Keempat novel ini menyampaikan pesan bahwa emansipasi pribumi dan perempuan dapat lebih berhasil apabila merebut tempat yang lebih kuat dalam hubungan produksi.

    Secara keseluruhan, buku ini sangat baik dalam menyampaikan intisari pemikiran intelektual bangsa, terutama di bidang sastra dan kebudayaan. Hal ini karena tidak banyak buku yang menguraikan secara lugas peta khazanah para intelektual sastra dan kebudayaan melalui karya mereka. Uraian ini turut memberikan pesan kepada pembaca, bahwa kritik dalam karya-karya para intelektual ini turut berkontribusi dalam mendorong perubahan.

    Sementara pada bidang politik, kelebihan buku ini terletak pada tinjauan kritis penulis berdasarkan ulasan teoretis ilmu sosial dalam membahas pemikiran para tokoh tersebut. Namun, untuk mendapatkan pemahaman secara utuh pemikiran para intelektual ini, tentu buku ini belum cukup komprehensif. Seperti judul buku ini, ulasan pemikiran para intelektual sebatas fragmen (cuplikan) dari berbagai karya mereka. Untuk mendalaminya, tentu perlu membaca lagi karya-karya orisinal para tokoh tersebut.

    __________________________

     

    Sarah Nuraini Siregar,Peneliti di Pusat Penelitian Politik LIPI

     

     

  • Kisah Sederhana Sarat Makna

    Kisah Sederhana Sarat Makna

     

     

    Oleh Dina Tuasuun

     

     

    Bermula dari Cerita Biasa

    Hidup kita dipenuhi cerita. Dari pagi hingga petang, kita membaca, mendengar, menyaksikan, melakonkan, bahkan mungkin mengarang cerita. Cerita sendu yang membuat terharu. Cerita duka yang menguras air mata. Cerita bahagia yang membuat tertawa. Di antara sekian banyak cerita kehidupan, ada cerita istimewa yang melekat dalam ingatan. Ada cerita biasa yang kita biarkan berlalu begitu saja. Saat seorang sahabat datang berkeluh kesah, saat kita memandang bunga mekar mendengar kicau burung di pagi hari, merasakan teriknya matahari, adalah saat-saat yang kerap terlewat dan tampak biasa.

    Namun, cuplikan pengalaman sehari-hari itu berubah menjadi perenungan yang mendalam di tangan Stephie Kleden-Beetz dalam bukunya yang berjudul Cerita Kecil Saja. Buku setebal 131 halaman Ini memuat 51 kisah yang melukiskan perjumpaan Stephie dengan Tuhan, sesama, dan alam sekitarnya. Dari tulisan-tulisan dalam buku ini, terpancar keluasan pengetahuan dan kedalaman pengalaman penulisnya. Stephie pernah menjadi responden Deutsche Welle-radio nasional Jerman. Selama hampir dua dasawarsa, ia juga pernah menjadi wartawan lepas yang giat menulis pada sejumlah media di Indonesia.

     

    Hikmat yang Nikmat

    Penulis dengan jeli memilih kisah-kisah hidup yang dekat dengan keseharian, meraciknya dalam kalimat yang hemat kata, kemudian menyuguhkannya dengan ilustrasi berwarna yang memanjakan mata. Pembaca pun diajak mencicipi tiap cerita dengan cita rasanya. Pahitnya pengkhianatan, manisnya persahabatan, getirnya luka, legitnya cinta, semua diramu menjadi satu dalam buku ini. Dalam tiap kisah terselip hikmat yang tersaji nikmat. Oleh Anton Sudiarja SJ dalam kata pengantar buku ini, gaya penulisan Stephie dijelaskannya demikian, “mengajak (pembaca) untuk tidak menelan begitu saja apa yang ditulisnya, tetapi mengunyah dan merenungnya” (hlm. xii).

    Dalam buku ini pembaca juga dapat menemukan berbagai kutipan kata-kata atau kisah dari orang-orang bijak, sastrawan, ilmuwan, bahkan juga pepatah dari berbagai negeri. Simak saja apa kata Stephle tentang senyum, “kita berkomunikasi tanpa kata-kata lewat jembatan paling pendek: senyum…. Rugi bila dijemput sang ajal, padahal sesama belum melihat betapa manisnya senyum kita. “Tuhan sudah memberimu sebuah wajah, senyum harus kita lakukan sendiri’ (pepatah Irlandia)” (hlm. 27).

    Di lain tempat, sebelum bertutur tentang buku, penulis mengawalinya dengan cerita saat Bernard Shaw, seorang dramawan, mengunjungi rumah mewah milik seorang kaya. Saat tuan rumah bertanya bagaimana kesan sang tamu tentang barang-barang antik dan mahal yang ada di dalam rumah itu, Shaw menjawab bahwa ia merasa seperti ada di museum, tetapi sayangnya yang paling penting justru tidak ada di situ. Orang kaya itu pun terkejut dan bertanya, “Apa?” Shaw menjawab, “Buku” (hlm. 80). Tentang pendidikan, Stephie menulis demikian, “Betapa pendidikan telah mengubah sebuah negeri yang hancur lebur karena perang…itulah yang ditunjukkan oleh Jepang. Saat itu Kaisar Hirohito tidak bertanya berapa tentara yang tersisa, melainkan berapa guru yang masih hidup? (hlm. 113).

    Mungkin kita tak butuh waktu lama membaca seluruh kisah dalam buku ini. Namun justru setelah membacanya, kita pun tergugah untuk membuka mata dan telinga, menikmati dan menghayati tiap kisah hidup kita sendiri. Buku ini mengajak kita untuk mencari makna dari tiap peristiwa, menarik pelajaran dari tiap kejadian, bahkan dari yang tampak biasa dan sederhana sekalipun.

    _—————–
    Sumber Tulisan Majalah Inspirasi, September 2009

     

  • Asmariah Supriyadi, Pegiat Literasi :  Cerdaskan Anak Bangsa dan Berantas Buta Huruf Dengan Menjamin Ketersediaan Bahan Bacaan

    Asmariah Supriyadi, Pegiat Literasi :  Cerdaskan Anak Bangsa dan Berantas Buta Huruf Dengan Menjamin Ketersediaan Bahan Bacaan

     

    “Alhamdulillah proses demokrasi Pemilu  2024 yang telah dijalani rakyat Indonesia berjalan dengan lancar dan sukses. Bagi kami, siapapun presidennya tetap kami dukung , terpenting support dan dukung penuh dari pemerintah akan kegiatan dunia literasi di Indonesia,” ujar Asmariah Supriyadi, Pegiat Literasi Indonesia yang juga seorang Penyair Perempuan Indonesia (PPI) dari Kota Yogjakarta dalam wawancara khusus  di Jakarta, Jumat (1/3/2024).

     Terlebih kami -perpanjangan dari pemerintah- sifatnya membantu dalam mencerdaskan anak bangsa serta memberantas buta huruf dengan menjamin ketersediaan sumber bahan bacaan yang layak baca.

    Menurutnya gagasan Free Cargo Literacy (FCL) diserukan dan disetujui Presiden RI, Joko Widodo.

    “Semoga bisa dilanjutkan oleh presiden terpilih dan sekaligus dibuatkan payung hukumnya,” pinta penyair wanita-berwajah manis dan murah senyum ini -yang karya puisinya telah diterbitkan lebih dari 100 buku antologi puisi bersama penyair seluruh Indonesia.

    Sementara itu memperingati hari Buku Nasional Asmariah Supriyadi mengatakan ada beberapa hal yang penting dan perlu disampaikan yakni  tingginya minat baca rakyat Indonesia yang terhambat oleh akses bacaan bermutu.

    “Sejak dahulu mungkin sebelum tahun 2016, telah mengundang kepedulian sekelompok masyarakat untuk membantu mengatasinya dengan cara melakukan kerja sama pengiriman buku dengan biaya seminimal mungkin, bahkan gratis jika perlu,” ucap Founder sekaligus Ketua Taman Baca Temon Yogja.

    Seperti telah dilakukan sejumlah pengusaha kargo, antara lain Aziz, Direktur Cargonesia Utama Trans yang menggratiskan pengiriman buku ke wilayah manapun, khususnya yang memiliki pelabuhan kargo di Pulau Sulawesi dan Papua .

    Kemudian  Keri Sui Malau yang menggratiskan pengiriman buku sepanjang jalur yang dilewati  armada kargo-nya di Pulau Sumatera dan Jawa.

    Selain itu juga kelompok relawan penggiat literasi seperti ONE (Our Nation’s Education) yang dibantu sebuah perusahaan farmasi dengan jaringan distribusi yang luas, sampai mencapai  1001 buku, serta yang melakukan pengiriman buku dengan menanggung biaya sendiri.

     

    Menerima Paket Buku

    Mengingat perlunya pemecahan yang relatif menyeluruh  atas problem akses-agar semua warga bisa berpartisipasi dan mengambil manfaat- agar setiap orang yang memenuhi syarat dapat mengirim dan menerima paket buku di wilayah mana pun di  Indonesia.

    “Maka pada tanggal 20 Mei 2017 dilakukan pengiriman pertama kali Free Cargo Literacy melalui PT. Pos Indonesia. Dimana selanjutnya akses mengirim bahan bacaan ke wilayah yang sulit dijangkau ini dibuat menjadi lebih mudah yakni setiap tanggal 17, semua orang bisa mengirim buku donasi secara gratis tanpa membayar ongkos kirim sepeser pun, dengan mengirimkannya langsung ke kantor pos pusat,” kilahnya.

    Namun, lanjutnya, gerakan pengiriman buku gratis tiap tanggal 17 yang disambut gembira oleh semua lapisan masyarakat ini dan ditahbiskan sebagai “Hari Raya Pustaka”, mulai tersendat pada bulan Oktober 2018.

    Hal ini dikarenakan PT. Pos Indonesia selaku pelaksana pengirim buku belum mendapat kejelasan berupa legalitas formal maupun pembagian beban pengiriman yang telah dilakukan.

    Untuk merespon hal ini maka Kemdikbud melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, pada tanggal 23 Januari 2019, menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan PT. Pos Indonesia.

    Melalui PKS ini, maka urusan pendanaan dan mekanisme pembiayaan program Free Cargo Literacy menjadi tanggung jawab Kemdikbud.

    Pada bulan Februari 2019, diperoleh kabar bahwa mekanisme pengiriman buku donasi akan mengalami perubahan dari yang biasanya dilakukan.

    Dimana hal ini selanjutnya menjadi keprihatinan kita bersama, dengan terbitnya Surat Edaran dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa No. 0009/G/BS/2019 tentang Program Pengiriman Buku dalam Pelaksanaan Gerakan Literasi Nasional, yang diperkuat dengan Surat Edaran dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan No. 3381/G1/TU/2019 tanggal 2 April 2019, justru menghambat dan mempersulit akses masyarakat untuk melakukan pengiriman buku donasi.

    Menurut Mbak Asma-panggilan akrabnya-mekanisme pengiriman buku donasi dari masyarakat-yang semula mudah- kini menjadi rumit.

    Jika sebelumnya donatur buku dapat mengemas dan mengirim buku langsung ke kantor pos, kini mereka diwajibkan datang ke salah satu dari 32 Satker Kemdikbud yang telah ditunjuk untuk menerima buku donasi.

    Selanjutnya, Satker Kemdikbud -lah yang akan menentukan dan mengirim ke alamat tujuan, dimana alamat tujuan itupun dibatasi hanya dalam 1 provinsi dan yang sudah terdaftar di aplikasi Donasi Buku daring Kemdikbud.

    Atas perubahan mekanisme tersebut, maka “Hari Raya Pustaka” yang biasanya dirayakan secara meriah tiap tanggal 17 dengan saling berbagi buku, menjadi tak bermakna. Kini masyarakat harus kembali dihadapkan pada kesulitan akses akan bahan bacaan.

    “Para donatur buku, relawan dan penggiat literasi, harus kembali mengeluarkan biaya lebih untuk melanjutkan gerakan donasi buku jika tak mau repot dengan mekanisme yang telah diatur Kemdikbud. Kita semua kembali ke titik awal sebelum gagasan Free Cargo Literacy diserukan dan disetujui Presiden RI, Joko Widodo,” pungkas ibu satu anak ini.

     

    *Asmariah Supriyadi

    Kontak  : 087839765352 (WA)

    Email   : asmariah592@gmail.com

    Facebook   : Asmariah Supriyadi

    Instagram  : Asmariah Supriyadi.

     

     

    Asmariah  Supriyadi, salah satu tokoh wanita pegiat literasi di

    Indonesia yang juga adalah Founder dan

    Ketua Taman Baca Temon Sleman Yogya.

    (Foto : Ist/Lasman Simanjuntak

     

    Kontributor : Lasman Simanjun

  • Bergulat dengan Kebenaran

    Bergulat dengan Kebenaran

    Oleh Reza A. A Wattimena, Pendiri Rumah Filsafat

     

    “Kebenaran itu tak pernah murni. Ia juga tidak pernah sederhana.” Demikian tulis Oscar Wilde di dalam bukunya “The Importance of Being Earnest”. Kutipan itu, kiranya, sesuai menggambarkan semangat dari buku ini. Kita diajak untuk bergulat dengan beragam ide kebenaran, sambil berpetualang di dalam alam pikir Eropa yang mendalam dan penuh tikungan tajam.

     

    Sejujurnya, tak banyak pemikir mendalam di Indonesia. Fransisco Budi Hardiman adalah salah satunya. Di awal 2023 ini, ia kembali menerbitkan buku untuk menyebarkan ide-ide pencerahan di Indonesia. Judulnya adalah Kebenaran dan Para Kritikusnya: Mengulik Ide Besar yang Memandu Zaman Kita, yang diterbitkan oleh Kanisius Yogyakarta. Ada tujuh hal penting yang kiranya layak diperhatikan.

     

    Tujuh Tesis

    Pertama, buku ini adalah sebuah diskursus tentang kebenaran. Ia tidak langsung menunjuk pada kebenaran, tetapi pada beragam diskusi yang lahir tentang kebenaran. Budi Hardiman menyentuh pemikiran para filsuf Barat kontemporer, seperti Richard Rorty, Michel Foucault, Jürgen Habermas dan Hans Georg Gadamer. Dengan berpijak pada pemikiran mereka, Budi Hardiman mengingatkan kita, bahwa ide tentang kebenaran itu berpijak para ruang dan waktu tertentu, sehingga tak pernah bisa menjadi universal secara utuh.

    “Konsep-konsep seperti dunia sosio-historis, aletheia, atau Wirkungsgeschichte”, demikian tulis Budi Hardiman, “mengacu pada kenyataan bahwa kebenaran, tentang apapun itu, berubah lewat waktu karena berada dalam waktu.” (hal.123) Apapun yang berada di dalam waktu pasti sementara. Ia terus berubah sejalan dengan perubahan sungai sejarah. Pola ini berlaku untuk semua bentuk klaim kebenaran manusia, baik yang berada di dalam sains, agama, filsafat ataupun budaya. Menuhankan satu ide kebenaran tertentu, terutama di dalam sains dan agama, hanya akan bermuara pada kesesatan berpikir.

    Dua, maka dari itu, tidak ada kebenaran yang bersifat solid seutuhnya, abadi serta layak diperjuangkan dengan kekerasan. Setiap klaim kebenaran selalu tertanam di dalam arus sungai sejarah. Klaim universalitas sebuah pandangan adalah sebentuk partikularitas tertentu. Namun, di dalam partikularitas tersebut terkandung universalitas di dalamnya. Inilah paradoks universalitas dan partikularitas kebenaran, sebagaimana ditangkap oleh Budi Hardiman.

    Tiga, yang kiranya menjadi titik utama pandangan Budi Hardiman adalah kritik terhadap kebenaran faktual di dalam sains modern. Fakta dianggap sebagai kebenaran mutlak yang bersifat istimewa. Ia dianggap lebih tinggi dari agama dan filsafat. Padahal, senada dengan para filsuf ilmu pengetahuan kontemporer, fakta bukanlah sesuatu yang netral, melainkan dibungkus dalam kerangka pandangan dunia tertentu, dan selalu berubah di dalam aliran sungai sejarah. Tentang ini, Budi Hardiman menulis.

    “Supremasi kebenaran faktualah yang sedang sedang kita persoalkan di sini dan kita identifikasi sebagai pangkal krisis-krisis makna dalam modernitas. Sains modern bekerja dalam teritorium epistemis yang tepat dengan upaya-upaya pencarian kebenaran faktual, tetapi cara-cara berpikir sains yang melampaui teritorium itu dan anggapan bahwa kebenaran faktual sains adalah seluruh kebenaran adalah keyakinan berlebihan yang kita sebut sebagai saintisme (scientism).” (Hal. 25)

    Sains modern mengalami luber epistemologis. Metodenya diterapkan untuk segala hal dalam kehidupan. Dengan cara ini, sains modern mengancam beragam klaim kebenaran di dalam filsafat dan agama yang, sesungguhnya, masih sangat dibutuhkan manusia. Sesat berpikir ini disebut sebagai saintisme, yakni pandangan yang menuhankan kebenaran faktual di dalam sains modern sebagai satu-satunya kebenaran.

    Empat, dengan berpijak pada pemikiran Foucault, Budi Hardiman melihat kaitan langsung antara kebenaran dan kekuasaan. Semua pembicaraan tentang kebenaran selalu diwarnai dengan kekuasaan. Dalam arti ini, kekuasaanlah yang membentuk kebenaran, serta segala proses yang menjadi latar belakangnya. Kekuasaan menyempitkan kenyataan, lalu menghasilkan pengetahuan tertentu, termasuk segala ranah kehidupan manusia, seperti moralitas, pendidikan, hukum, agama dan sebagainya.

    “Diskursus apapun”, demikian tulis Budi Hardiman, “entah itu dalam sains, agama, seni ataupun politik, menetapkan batas-batas pemikiran, sehingga – seperti kata Foucault – mengontrol, menyeleksi dan mengeksklusi.” (hal. 150) Pengetahuan adalah hasil dari pembatasan. Pembatasan hanya mungkin dengan adanya kekuasaan. Dunia, dengan demikian, adalah kumpulan pembatasan-pembatasan. Pembatasan tersebut tidak selalu murni, melainkan dilumuri beragam kepentingan yang ada di dalam masyarakat.

    Lima, Budi Hardiman membuat pembedaan penting antara fakta dan makna. Fakta adalah apa yang ditemukan di dalam kenyataan. Inilah ranah kesibukan dari sains modern. Sementara, makna adalah proses manusia menafsirkan dunia, kerap kali dengan cara yang bersifat subyektif. Ini adalah ranah dari agama, budaya, seni dan, dalam batas tertentu, filsafat.

    Fakta lebih terlihat sederhana. Sementara, makna itu rumit dan kaya akan warna. Di dalam kehidupan, keduanya bertaut begitu erat, seolah tak terpisahkan. Budi Hardiman mengajak kita merayakan semua itu, tanpa terjatuh pada pemutlakan bentuk fakta atau makna tertentu, atau mencampurkan secara sembarangan antara ranah fakta dan ranah makna.

    Enam, lebih jauh, Budi Hardiman membedakan tiga macam dunia. Yang pertama adalah dunia obyektif, dimana fakta dan kajian sains modern mendapat tempat. Yang kedua adalah dunia intersubyektif, yakni dunia sosial, dimana manusia saling berkomunikasi untuk bisa saling memahami di dalam dunia sosial. Produk dari dunia intersubyektif adalah hukum, agama dan norma sosial yang berlaku di masyarakat, yang bisa diubah sejalan dengan kebutuhan manusia. Yang ketiga adalah dunia subyektif, yakni dunia pengalaman batin manusia yang bersifat pribadi.

    Ketiga dunia tersebut harus ditempatkan sesuai tempatnya. Irisan ketiganya boleh terjadi, tetapi tumpang tindih selayaknya dihindari. Manusia memerlukan fakta di dalam hidupnya, supaya ia tidak terjebak pada kesesatan berpikir takhayul yang penuh khayalan, dan merugikan hidupnya. Namun, manusia juga adalah mahluk pemberi makna. Ia mewarnai pengalaman hidupnya dengan cerita dan tafsiran yang begitu kaya. Semuanya perlu diberikan tempat secukupnya di dalam ruang-ruang kehidupan.

    Tujuh, Budi Hardiman kiranya juga mengembangkan pandangannya sendiri. Ia melihat, bahwa hidup manusia terdiri dari beragam ontologi. Dalam arti ini, ontologi adalah pandangan menyeluruh tentang kenyataan, dan memiliki klaim kebenaran tertentu. Ada empat bentuk ontologi yang dirumuskannya, yakni ontologi pelampauan, ontologi pelepasan, ontologi penerimaan dan ontologi penyingkapan.

    Dengan keempat bentuk ontologi ini, Budi Hardiman merangkum semua pendekatan yang telah ia pelajari di dalam filsafat. Detil dari teori tipologi ontologi ini bisa dibaca langsung di dalam bukunya, supaya memperoleh pemahaman lebih dalam. Teori tipologi ontologi ini merupakan bentuk-bentuk penghayatan manusia tidak hanya pada kebenaran, tetapi pada kehidupan sebagai keseluruhan. Buah dari pemahaman ontologi ini adalah keterbukaan pada kebenaran yang terus mengalir di dalam sungai sejarah dan perubahan itu sendiri.

     

    Relevansi

    Buku ini kiranya mengajak kita untuk menjadi cair dalam hidup. Artinya, kita diajak untuk menari di dalam keindahan warisan budaya manusia, yakni filsafat, agama dan sains. Kita menjadi kaya secara pribadi, dan berwarna di dalam penghayatan hidup. Kita menikmati semuanya, tanpa terjebak di dalam salah satu klaim kebenaran, dan menjadi keras, apalagi merusak hidup bersama.

    Di dalam politik, kita juga diajak untuk menjadi cair. Kita tidak fanatik pada satu aliran politik tertentu. Kita tidak menjadi buta dan diperbudak oleh satu partai tertentu. Sikap cair, terbuka dan sehat di dalam memandang politik amat penting, terutama menjelang pemilihan umum yang berlangsung 2024 nanti. Jika kita tertutup dan salah memilih, kita menggiring seluruh Indonesia ke arah kehancuran.

    Di dalam agama, kita perlu sikap serupa. Agama adalah produk budaya. Ia hidup dan berubah di dalam ruang dan waktu. Menuhankan agama berarti menyangkal ciri historis agama tersebut, dan membuat kita terjebak di dalam kesesatan yang berbuah kehancuran hidup bersama.

    Budi Hardiman juga mengajak kita tidak menuhankan sains. Sains memang telah mengubah seluruh hidup manusia. Cara berpikir kita tentang dunia, termasuk tentang diri kita sendiri, berubah total, akibat penemuan-penemuan menakjubkan di dalam sains. Namun, itu bukan berarti, sains layak menjadi satu-satunya kebenaran di dalam hidup. Sains perlu ditempatkan pada tempat yang tepat, sambil bersanding dengan filsafat, budaya, seni dan agama di dalam mewarnai hidup manusia.

    Buku Kebenaran dan Para Kritikusnya: Mengulik Ide Besar yang Memandu Zaman Kita adalah karya penting untuk Indonesia. Buku ini perlu dibaca masyarakat luas, dan menjadi bahan diskusi mendalam. Tantangan yang lahir dari buku ini akan membuat kita berkembang di dalam dunia pemikiran. Secara perlahan namun pasti, kebijaksanaan pun bisa digenggam di tangan.

     

    Beberapa Catatan

    Ada lima catatan kritis yang bisa diberikan atas buku ini. Pertama, buku ini bisa menjadi autokritik atas dirinya sendiri. Buku ini membahas beragam klaim kebenaran dan ontologi, sambil menggunakan klaim kebenaran dan ontologinya sendiri. Artinya, proses kekuasaan dan penyempitan juga terjadi di dalam buku ini, ketika membahas soal kebenaran dan unsur-unsurnya di dalam hidup manusia. Pendek kata, jika buku ini benar, maka buku ini juga “salah”.

    Dua, peyempitan paling terasa di dalam pandangan Budi Hardiman soal Filsafat Asia. Secara sederhana, Budi Hardiman menyempitkan filsafat Asia sebagai filsafat Timur, atau kebijaksanaan Timur, yang menolak dunia (ontologi pelepasan). Padahal, filsafat Asia memiliki banyak sekali aliran. Ontologi filsafat Asia juga amat beragam, dan jauh lebih kaya daripada yang dipaparkan oleh Budi Hardiman, terutama di dalam teorinya soal tipologi ontologi-ontologi.

    Tiga, Budi Hardiman tidak berbicara tentang kebenaran. Ia berbicara tentang beragam wacana tentang kebenaran. Ini seperti sedang berada di restoran, tetapi hanya membaca menu, tetapi tidak memesan, apalagi makan. Ini adalah proses yang mengasyikan secara intelektual, tetapi tidak akan membuat hidup manusia lebih kaya dan lebih mendalam secara keseluruhan. Dengan kata lain, buku ini bersifat tanggung di dalam memahami dan mendalami kebenaran.

    Empat, apa yang dilakukan Budi Hardiman memang sangat brilian. Tetapi, ini juga menunjukkan dengan jelas keterbatasan pendekatan Filsafat Eropa, atau Barat, secara keseluruhan. Filsafat Eropa terjebak pada apa yang saya sebut sebagai “obsesi pada bahasa dan konsep”. Buahnya adalah kebingungan dan keletihan epistemik, yakni kelelahan di dalam merumuskan konsep, guna memahami kenyataan serta kehidupan sebagai keseluruhan yang, sesungguhnya, tak pernah bisa ditangkap di dalam konsep. Satu pertanyaan terjawab, puluhan pertanyaan muncul, tanpa pernah berhenti. Yang tersisa hanyalah rasa letih dan tak terpuaskan.

    Lima, Budi Hardiman kiranya perlu melampaui filsafat. Perjalanannya sudah panjang, dan sangat berharga, tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga kita, para pembaca dan muridnya. Atau mungkin, ia sudah tahu tentang hal ini, tetapi memutuskan untuk tetap bermukim di ranah bahasa dan konsep, seperti yang ia lakukan. Untuk memastikan “kebenarannya”, kita perlu bertanya pada beliau langsung.

    Akhir kata, setelah bergulat dengan kebenaran, kita perlu mengalami kebenaran secara langsung. Budi Hardiman mungkin akan berkata, bahwa ini bukan tugas ataupun ranah filsafat. Namun, saya ingin berkata sebaliknya: filsafat berkembang dengan menjangkau jauh ranah-ranah tak bertuan, dan seringkali terlarang. Mari kita tunggu karya-karya beliau berikutnya.

     

    Sumber Tulisan rumahfilsafat.com

     

    ===================================

     

    Tentang  Penulis

     

    Reza A.A Wattimena

    Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Transformasi Kesadaran dan Teori Tipologi Agama. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023).

  • Sebuah Obituari

    Sebuah Obituari

     

    Oleh Kurniawan Junaedhie

     

    Saya menyambut baik ketika Julia Utami merencanakan penerbitan buku puisi tentang biografi Ibu. Saya senang dengan judul yang dipilih Julia Utami: Mata Ibu. Ini mengingatkan saya pada ucapan Mitch Albom, seorang wartawan olahraga di AS: “Saat kamu melihat ke dalam mata ibumu, kamu tahu itu adalah cinta paling murni yang bisa kamu temukan di bumi ini.” Yes, Albom betul. Dan ketika saya membaca semua puisi Julia di buku puisi ini, –yang ditulisnya setiap malam dengan air mata—semakin sadarlah saya, tentang kedalaman cinta seorang Ibu itu.

    Ada kenangan yang tak pernah saya lupakan bersama Ibu Elisabeth. Hari itu, Kamis sore 8 September 2022. Setelah melalui proses yang melelahkan oleh Mbak Tutik, kakak Julia, yang selalu setia merawat dan mengurus surat-surat perawatan dan keperluan tindakan, akhirnya Ibu Elisabeth masuk di kamar rawatnya di sebuah rumahsakit di Jakarta karena Ibu dijadwalkan akan menjalani operasi jantung-nya keesokan paginya. Ini adalah operasi jantung Ibu yang kedua kalinya setelah sebelumnya menjalani operasi. 

    Ketika tahu Ibu sudah berada di kamar rawat, kepada Julia yang saat itu menemaninya, saya minta ber video call dengan beliau.

    Begitu layar gajet terbuka, saya langsung melihat Ibu tertawa melihat saya, dan dengan semangat Ibu melambai-lambaikan tangan. Wajahnya bersemangat, dan suaranya jelas. Ibu langsung menanyakan kabar istri saya yang saat itu sedang sakit. Saya tercekat. Di saat seperti itu Ibu masih ingat dan bersimpati dengan keadaan istri saya. Saya pun cepat-cepat memotong, dan mengatakan, semoga besok pagi operasi lancar, dan meyakinkan bahwa Ibu akan segera sehat seperti sediakala. Beliau mengangguk dengan gembira tanda menangkap kata-kata saya. Alih-alih cemas, saya justru merasa tenang melihat kondisi Ibu itu, sehingga saya tak punya firasat sama sekali  menjelang esok subuh Ibu akan dibawa ke ruang operasi.

    Esok paginya, Jumat pagi, sekitar pukul 10, saya terima WA dari Julia: “Ibu sudah tidak ada.”

    Saya buru-buru angkat telepon: “Tidak ada gimana?

    “Ibu meninggal.”

    Ya Tuhan. Saya lemas. Saya tak menyangka bahwa pertemuan dan percakapan saya dengan Ibu Elisabeth kemarin sore adalah yang terakhir. Mungkin saya ada dalam jepretan mata Ibu, karena saya termasuk orang yang dalam detik-detik terakhirnya berjumpa dan berbincang dengan saya.

    Buat saya Ibu Elisabeth adalah ibu istimewa, yang selama ini mengingatkan saya pada Mami saya almarhum. Melalui cerita-cerita yang dikisahkan Julia kepada saya, dan melalui beberapa kali interaksi saya dengan beliau –meski terbatas melalui video call—Ibu Elisabeth sungguh mirip dengan almarhumah Mami saya. Itu sebabnya mungkin, saya merasa ada jalinan batin dengan Ibu.

    Saya mengagumi kecintaan dan kemandirian Ibu sebagai seorang single mother, utamanya setelah ditinggal almarhum Bapak. Dengan caranya yang khas, saya selalu memperhatikan bahwa beliau selalu mencoba  untuk menjadi pohon pelindung yang rindang dan teduh bagi keenam anak-anaknya. Ibu yang hingga sepuh jago naik motor itu juga sangat kreatif, semangat, terutama saat anak-anak masih kecil, selalu menjadi penopang semangat Bapak untuk bisa membeayai sekolah anak-anaknnya. Meski anak-anaknya sukses di kota berbeda, ia tetap memilih tinggal seorang diri di rumahnya yang luas tapi lengang, di Totokarto, Adiluwih, Lampung Selatan, sambil menemani Bapak, yang makamnya di dekat rumah. Saya melihat Ibu sudah merasa bahagia, selama anak-anaknya berbahagia, meski harus berpisah di kota-kota berbeda. Ibu tak pernah ikut cawe-cawe terhadap rumah tangga anak-anaknnya.

    Saya juga menjadi saksi, betapa beliau berhasil mendidik ke-6 putra-putrinya untuk selalu berempati dan memiliki kepedulian pada sesama. Beliau juga berhasil membuat anak, menantu dan cucu-cucunya untuk selalu rukun dan kompak saling membantu satu sama lain.

    Saya ingat ketika awal mula saya dikenalkan dengan Ibu. Kata Julia: “Ibu itu heran, wong cino karo wong jowo kok melu njawani ya nduk?” Ketika saya bilang saya suka kelanting, dan kerupuk Lampung, Ibu juga heran. “Heran ya, Nduk, Oom KJ kok suka makanan ndeso.”

    Setiap Ibu berkunjung ke Jakarta, atau Julia pulang ke Lampung, Ibu pun selalu tak lupa mengoleh-olehi saya dengan penganan lokal. Seperti lanting, kemplang, pisang kapok mentah, kopi Lampung, kerupuk dan marning jagung kesukaan Maria, istri saya, bahkan khusus ibu membuatkan keripik pisang  untuk kami, Ibu konon membungkusnya secara spesial.

    Saya tak pernah lupa pada senyum Ibu yang tulus, dan matanya itu yang selalu berseri: Mata Ibu. Ya, saya melihat mata Mami, pada mata Ibu. Mata yang penuh kasih sayang yang begitu dalamnnya.

    Ketika Julia Utami terbaring sakit di sebuah rumahsakit di Jakartai selama tiga minggu pada akhir tahun 2022,  suatu hari saya bertemu Ibu di dalam mimpi. Dalam mimpi itu, saya coba memberitahu Ibu, bahwa Julia sakit. Tapi saya hanya melihat Ibu tersenyum. Dan lagi-lagi, mata Ibu, yang lagi-lagi bercahaya.

    Akhir tahun lalu, saya kebagian kiriman beras hasil sawah Ibu Elisabeth almarhumah. Dan setiap kami menikmati beras itu, saya selalu membayangkan saat  Ibu berlari-lari membunyikan kentongan/goprak bambu pengusir burung.

    Buku puisi ini pada akhirnya merupakan sebuah buku puisi cinta – sebuah homage – yang ditulis oleh seorang anak tentang ibu yang dicintainya. Buku puisi ini juga buku puisi biografi karena selain menghimpun foto-foto kenangan, buku puisi ini juga mencatat dengan runtut dan detil tentang kenangan-kenangannya, perasaan-perasaannya dan tentang cintanya yang tak terperi pada sang ibu yang melahirkannya, dalam bahasa puisi serta dalam perspektif berbeda.

    Buat saya buku puisi ini juga meneguhkan keyakinan saya, bahwa cinta ibu itu sepanjang jalan, sedang cinta anak sepanjang galah. Dan saya menjadi saksi mata keluhuran budi Ibu Elisabeth.

    Tahun lalu, ketika keluarga besar Julia Utami mengadakan peringatan genap acara pendhak setahun berpulangnya Ibu, di Lampung, diam-diam saya menulis puisi ini:

     

    CERMIN IBU

    Ibu Elisabeth Siti Rejeki dalam kenangan

     

    Setelah mengancing kutubarunya, Ibu mematut-matut kebayanya di depan cermin. Cermin menatap wajah ibu dengan riang. Ibu sungguh cantik dan  menawan, kata cermin. Ibu jengah. “Kamu berlebihan,” kata Ibu. 

    Ibu lalu merapikan sanggulnya dengan hairnet, dan mengikatnya dengan  karet lalu menguncinya dengan tusuk konde. Cermin itu takjub, tak berkedip  menatap wajah Ibu.   

    Langit suwung. Hari berlalu. Kesibukan meraja seperti putik dan aroma  arumdalu.

    Sekarang Ibu yang baik hati, cantik dan menawan itu telah berpulang. Hampir setahun cermin itu kesepian dan kehilangan. Cermin yang sedih itu bertanya padaku, ke mana peniti, tusuk konde, kebaya dan sanggul ibu itu  harus dilabuhkan. Aku tak bisa menjawab. Aku terlalu sibuk bercermin pada  wajah Ibu. 

    (2023)

     

    Buku ini sungguh buku puisi yang sangat layak dibaca oleh siapa saja  yang merasa dilahirkan oleh seorang ibu.

     

    ———————————————

     

    *Kurniawan Junaedhie, Penerbit KKK, dan Sahabat Keluarga

    *Sumber:  Tulisan ini adalah Kata Pengantar Buku Puisi Mata Ibu, Julia Utami, Penerbit KKK, 2023