Category: BUMI MANUSIA

  • Mengenal Kekayaan Seni Budaya Melinting Di Desa Nibung

    Mengenal Kekayaan Seni Budaya Melinting Di Desa Nibung

    Gunung Pelindung, (KOMINFO LAMTIM) –  Desa Nibung adalah desa yang terletak di kecamatan Gunung Pelindung Kabupaten Lampung Timur Provinsi Lampung. Desa Nibung merupakan salah satu desa dari ketujuh desa yang masuk dalam marga Melinting. Budaya Melinting adalah budaya yang masih menjadi dasar dan acuan di desa Nibung. Tak hanya budaya dalam kehidupan sehari-hari saja, namun seni menjadi salah satu hal yang menarik untuk kita ketahui.

    Seni musik Melinting adalah salah satu seni yang menarik pada kesenian Melinting. Seni musik yang termasuk kedalam seni tradisional yang menjadi jati diri masyarakat desa Nibung sebagai masyarakat Melinting yang memadupadakan beberapa alat musik yakni gamelan, kolintang, gong, derep (sejenis kendang) dan lainnya dalam alunan melodi yang sahdu nan menarik. Seni musik Melinting yang sering dipakai pada acara-acara yang bersifat seremonial keadatan dan acara-acara masyarakat Melinting seperti acara pernikahan, khitanan, dan hajad lainnya atau bahkan untuk menghibur diri menjadikannya khas sebagai kesenian yang patut dikembangkan dan dilestarikan. Dalam seni musik tabuh gamelan Melinting ada dua belas macam alunan lagu atau tabuh tradisional yang dimiliki, yakni Tabuh Arus, Cetik, Kedanggung (Tabuh Ratu), Recik, Semani, Sebai, Samang Embuk, Majuw Ngekes, Keniluw Sawik, Balauw Seretaw, Sanak Miwang di Jami, dan Siang Tunang.

    Di desa Nibung ada satu sanggar musik dan tari yang masih menjadi pengembang dan pelestari kesenian Melinting yakni sanggar Melinting Waway. Sanggar seni Melinting Waway yang saat ini masih menggeluti kesenian Melinting yang dipimpin oleh Husin Saputra yang mengajarkan kesenian Melinting yakni seni tari dan seni musik Melinting. Tak hanya mengajarkan pada masyarakat ramai, bapak Husin juga mengajarkan kesenian Melinting kepada anak-anaknya yakni kepada Dwi Purnama Indah (Putri ke-dua) dan Alfatir Defa Saputra (Putra Pertama). “dengan perkembangan zaman saat ini budaya yang kita miliki tidak boleh tergerus oleh zaman dan budaya lain, dengan saya tetap mengajarkan kepada masyarakat dan kepada anak-anak saya, itu adalah bentuk kepedulian saya kepada pengembangan dan pelestarian budaya Melinting sebagai jati diri budaya saya yang memiliki ciri khas tersendiri, harapan saya dengan tetap mempertahankan budaya Melinting serta mengembangkan dan melestarikannya dapat memperkenalkan dan membuat eksistensi kebudayaan melinting khususnya di bidangn seni musik dan tari agar dapat dikenal khalayak ramai dan tak kalah dengan budaya-budaya yang lainnya” ujar Husin Saputra, 30 Mei 2020 Sabtu malam

    Kedua anaknya sangat mahir dalam memainkan alat musik dan memainkan lagu yang menjadi lagu pengiring dalam setiap kegiatan masyarakat melinting dan perlu diketahui Dwi Purnama Indah adalah satu-satunya pemain gamelan perempuan yang ada di desa Nibung bahkan dari ketujuh marga melinting yang ada. Dengan itu desa Nibung memiliki aset yang sangat penting guna menjaga dan melestarikan kebudayaan dan kesenian Melinting agar terus tetap eksis dan tidak hilang tergerus oleh zaman. “menjadi satu-satunya perempuan yang pandai memainkan alat musik Melinting menjadikan saya spesial, karena merasa bangga akan potensi yang bisa saya unggulkan dibandingkan orang lain, harapan saya adalah dengan saya menjadi satu-satunya perempuan yang pandai memaikan alat musik melinting semoga bisa memotivasi yang lain agar tidak ketinggalan dalam belajar, baik belajar secara akademis maupun kesenian dan kebudayaan yang perlu kita kembangkan dan lestarikan sebagai jati diri kita sebagai warga Melinting”.

    (Riki/ikh)

    Sumber : http://lampungtimurkab.go.id

  • Kapal Memiliki Jenis Kelamin

    Kapal Memiliki Jenis Kelamin

    Bira-Kapal itu setinggi hampir 3 orang laki-laki dewasa. Panjangnya mencapai 30 meter. Tampak 12 kayu penyangga kapal menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri, menjaga agar badan raksasanya tidak roboh. Perlu usaha yang agak payah untuk naik menuju buritan kapal yang baru akan selesai dibuat 2 bulan lagi tersebut.

    Diatas tampak 3 orang sedang membengkokkan kayu sepanjang 2 meter untuk dipasang di ujung haluan. Salah satu pekerja menjelaskan bahwa kami tidak sedang berdiri di geladak utama. Mengejutkan, rupanya kapal ini akan lebih tinggi lagi. Tempat yang tadinya kami kira geladak utama nantinya akan menjadi restoran didalam kapal.

    Kapal yang sedang digarap oleh Muhammad Djafar dan anaknya ini adalah jenis Padewakang, salah satu model kapal khas Sulawesi Selatan selain Pinisi. Kapal Padewakang berusia lebih tua dari kapal Pinisi. Deperkirakan, kapal ini telah dipergunakan oleh orang Makassar pada abad ke-16 untuk mencapai benua Australia. Keunikan dari kapal padewakang adalah layarnya berbentuk segi empat. Bentuk kapal dengan layar seperti ini juga terdapat dalam relief kapal pada candi Borobudur.

    Melihat pembuatan kapal tradisional disini cukup mengejutkan. Tidak seperti teknologi modern saat ini dalam membuat kapal, disini semua dilakukan dengan cara yang masih tradisional. Semua peralatan yang digunakan berasal dari kayu. Terlihat hanya sebuah bor dan las listrik alat modern yang digunakan.

    Bagi seorang Panrita Lopi (tokoh adat ahli perahu), ilmu pasti dalam pembuatan kapal tidak sepenuhnya berlaku. Mereka lebih mengandalkan pengalaman dan perasaan. Perahu yang sedang dibuat sekarang misalnya, Muhammad Djafar tidak membutuhkan design atau gambar. Hanya mengandalkan perasaan. Demikianlah yang dilakukan nenek moyangnya selama berabad abad dan turun temurun. Kecuali jika ada permintaan design khusus dari si pemesan kapal.

    Metode yang bertolak belakang dengan metode modern juga masih lekat dengan tradisi pembuatan kapal di wilayah Tanahberu ini. Bahkan, ritual-ritual khusus sebelum dan sesudah pembuatan masih dilakukan. Misalnya ritual Sambung Lunas, pelarungan lunas dan upacara Selamatan.

    Menurut Rahma Djafar, anak ke enam dari Muhammad Djafar, para Panrita Lopi memperlakukan sebuah kapal seperti tubuh manusia dan kadang meyakini sebuah kapal memiliki jenis kelamin.“Berdasarkan perasaannya, seorang ahli kapal dapat mengatakan jenis kelamin sebuah kapal ketika sudah setengah jadi, apakah ini kapal laki-laki atau perempuan,” ujarnya.

    Ahmad Abdul, Penyusun Dokumentasi dan Publikasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar, bahkan mengatakan dahulu seorang Panrita Lopi dapat mengetahui nasib kapal yang dibuatnya.”Menurut cerita, mereka bisa tahu kapal yang dibuatnya akan tenggelam oleh apa atau karam dimana”.

    kebudayaan.kemdikbud.go.id

  • Mengembalikan Visi Kelautan Sebagai Jati Diri Bangsa

    Mengembalikan Visi Kelautan Sebagai Jati Diri Bangsa

    Indonesia bukan pulau-pulau dikelilingi laut. Tetapi, laut yang ditaburi pulau-pulau” – AB Lapian

    Beranjak dari pernyataan tersebut tidak dapat dipungkiri bahwa negara Indonesia disebut juga sebagai negara kepulauan atau Archipelago State. Archipelago state berasal dari Bahasa Yunani yang terdiri dari dua suku kata, Arche yang berarti utama dan Pelago yang artinya laut, jadi laut adalah yang utama. Atau dengan kata lain Archipelago State sendiri mempunyai arti negara yang terdiri dari banyak pulau, dimana laut, udara, dan daratan adalah satu kesatuan Nusantara.

    Laut sebagai penghubung antar pulau tersebutlah yang menjadikan bangsa kita sebagai bangsa maritim dengan memanfaatkan laut selain sebagai jalur transportasi juga sebagai tempat untuk perdagangan. Julukan sebagai negara maritim tidak terlepas dari fakta sejarah yang terjadi pada masa lampau, dimana nenek moyang kita melakukan pelayaran untuk menjelajahi Samudera, salah satunya ialah para pelaut Bugis yang melakukan pelayaran dengan kapal tradisionalnya yang bernama pinisi menjelajahi Samudera Pasifik. Hal itu dibuktikan dengan penemuan peta pelayaran berdasarkan Kajian Le Roux yang ditemukan di perkampungan bajak laut di Santhel yang teletak di Teluk Sekana di Pulau Singkep tahun 1854. Dalam peta tersebut menggambarkan peta-peta wilayah di seluruh Nusantara, sebagian Asia Tenggara, Australia Utara, dan wilayah Cina yang mana dari nama-nama yang ada dalam peta inilah menunjukkan luasnya pengetahuan tentang daerah-daerah di Asia Tenggara, Pilipina Selatan, Australia Utara dan Cina. Peta itu juga menggambarkan rute dan tujuan pelayaran kapal-kapal Bugis sebelum petengahan abad ke-19.[1]

    DCIM100MEDIADJI_0019.JPG
    DCIM100MEDIADJI_0019.JPG

    Jiwa kemaritiman mulai memudar tatkala kolonialisme dan imperialism mulai memasuki Nusantara. Kekayaan alam yang dianugerahkan Tuhan kepada tanah Nusantara telah memancing Pemerintah Belanda untuk menerapkan sistem Cultuur Stelsel atau yang biasa dikenal sebagai Tanam Paksa pada tahun 1833. Sistem ini mewajibkan setiap desa untuk menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanami tanaman tanaman yang hasilnya kemudian dijual ke Eropa. Rempah-rempah menjadi komoditi yang berharga bagi orang Eropa, selain sebagai bahan bumbu masakan untuk mengawetkan daging dan juga rempah-rempah juga menjadi bahan ramuan obat dan untuk memperkuat daya tahan tubuh yang sangat dibutuhkan bagi orang Eropa mengingat cuaca disana yang dingin.

    Pergeseran pandangan dari laut menjadi darat mengubah jati diri bangsa Indonesia dari negara maritim menjadi negara agraris. Sejarah sebagai bangsa maritim tidak hanya dipandang sebagai sejarah kejayaan di masa lampau. Sudah sepatutnya laut yang kita miliki menjadi potensi dasar untuk memperkuat untuk negeri ini agar bisa menjadi bangsa yang maju baik dari segi politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang disegani oleh bangsa lainnya di masa mendatang. (Wanti)

    [1] Le Roux, C.C.F.M., A.A. Cense, ‘Boegineesche Zeekaarten van den Indischen Archipel’, Tijdschrift van het Koninlijk Nederlandsch Aardrijkskunding Genootschap, Tweede Serie, Deel LII, Leiden, E. Brill, 1935, hal. 706-714. (Dilihat dariDidik Pradjoko, M.Hum, Kasijanto, M.Hum, Dr. Suharto, dkk. Modul I Sejarah Indonesia: Hibah Modul Pengajaran: Content Development Tema BI. 2008. Hal. 68.)

  • Seno Gumira Ajidarma : Indonesia Cukup Panik dengan Revolusi 4.0

    Seno Gumira Ajidarma : Indonesia Cukup Panik dengan Revolusi 4.0

    BERANDANEGERI.COM, Sastrawan Seno Gumira Ajidarma tampil memukau saat membawakan pidato kebudayaan berjudul  “kebudayaan dalam bungkus tusuk gigi”. Berangkat dari hal yang remeh temeh seperti tusuk gigi, ia kemudian mengomentari persoalan penting dan actual akhir-akhir ini yakni revolusi industri 4.0.

    Seno Gumira Ajidarma membacakan pidato kebudayaannya, di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM) , Jakarta, Minggu (10/11). Pidato yang menjadi agenda rutin tahunan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), diadakan bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November sekaligus peringatan 51 tahun berdirinya Taman Ismail Marzuki (TIM).

    Dalam refleksinya, mantan jurnalis ini melihat kebudayaan layaknya “tusuk gigi” yang dibungkus oleh beban makna ganda: konotasi dan denotasi. Dalam makna konotasi, kebudayaan tidak mengutamakan “tusuk gigi” yang dibungkusnya, melainkan rancangan visual yang sama sekali lain, atau boleh dikatakan sebagai “komodifikasi” atau “jualan”.

    Sebaliknya, kebudayaan sebagai makna denotasi lebih mementingkan isinya, yaitu “tusuk gigi” itu sendiri. Baginya, kebudayaan itu adalah produk ilmu pengetahuan, peradaban dan teknologi.

    Meski, demikian, bungkus-bungkus yang berideologi komodifikasi (konotasi) maupun kebenaran tunggal (denotasi) diaduk secara acak, maka artikulasi atas ideologi masing-masing akan menghasilkan pertarungan konotasi.

    Lantas, apa yang tersahihkan sebagai denotasi, toh pada kenyataannya merupakan konotasi yang paling dominan, paling hegemonik dan paling berkuasa.

    Seno Gumira kemudian merambah pada pemikiran relasi dan konstruksi kuasa. “Kita bisa melihat bahwa adanya institusi pendidikan, tradisi, agama, regulasi, media institusi militer dan negara sekalipun menyodokkan peran dan posisi dalam kepentingan setiap kelompok, yang dominan maupun pinggiran, sehingga berlangsungnya kebudayaan merupakan proses hegemoni,” ujarnya.

    Dalam tataran ini, kata Seno Gumira, kuasa sejatinya sudah terlepas dari genggaman klasikal negara karena kekuasaan kini sudah tersirkulasi di antara khalayak: antarmanusia, antargolongan dan antarbudaya.

    Mengomentari masyarakat urban, menurut Seno Gumira, kuasa dan relasi antarmanusia ini akan selalu bernegosiasi dan maknanya tidak akan pernah stabil dan mapan. Hubungan kuasa seperti ini membuat pribadi manusia merasa terawasi dan menanamkan satu disiplin kepada diri sendiri, yang melibatkan politik identitas yang berkepanjangan.

    Dalam khazanah bahasa, problem ini dapat terlacak dalam konteks urban sebagai ruang kehidupan pluralistik yang meruntuhkan kelompok-kelompok statis dan homogen. Atau yang disebut Pieterse sebagai “perjalanan”, sehingga kebudayaan lebih dipandang sebagai isu relokasi dan hibridisasi.

    Namun demikian, Seno Gumira memandang, dengan kehadiran ruang urban ini, maka populasi suatu tempat menjadi sangat multi-etnik dan multi-kultural, dengan kehadiran manusia-manusia yang kian tidak tetap dan stabil.

    Hal ini menyebabkan pertarungan kembali atas makna-makna dengan kepentingan masing-masing, sehingga kebersamaan arkais suku-suku yang memudar tertandingi oleh apa yang disebut komunitas, di mana tiap komunitas memiliki bahasanya sendiri, termasuk bahasa kesenian.

    “Jika memang cara berbahasa komunitas tidak hanya menunjukkan siapa diri mereka, tapi juga segenap wacana yang melekat padanya, maka ruang itu diperjuangkan agar terlihat nyaman dan memenuhi kepentingannya,” katanya.

    Bagi Seno Gumira, klaim kebenaran terhadap bahasa kesenian komunitas harus melewati pengujian: apakah ia lebih argumentatif, relevan dan mengantisipasi masa depan, ketimbang dianggap sebagai sesuatu yang sakral dan romantik serta penuh ilusi.

    Akhirnya, Seno Gumira menyentil soal kepanikan moral pemerintah yang, alih-alih mengadaptasi hingar-bingar revolusi industri 4.0, justru tampak panik dan waspada terhadap perubahan zaman, dengan merangkul kebudayaan elektronik secara total.

    Hal ini berdasar pada asumsi bahwa Indonesia akan gagal dan terbelakang jika tidak mampu mengadaptasi kehadiran kebudayaan tersebut.Ia melihat, sebenarnya revolusi industri bagi Indonesia tidak pernah berjalan linear, melainkan saling tumpang tindih dan tampak absurd serta kacau.

    Jika memang revolusi industri 4.0 sebagai gejala kebudayaan,  Indonesia cukup panik untuk tenggelam dalam mitos bahwa yang terbaik adalah yang tercepat.

    Ia mencontohkan dongeng Melayu tentang adu lari Kancil dan Siput, yang diadopsi dari mitos Aesop purba, memperlihatkan bahwa justru bukan yang tampak cepat yang menjadi pemenang, melainkan strategi untuk memenangkannya.

    “Dalam akhir pertualangan di belantara tanda-tanda, bahasa, susastra, aksara, maupun dongeng kanak-kanak sederhana, saya akan kembali kepada temuan dari perbincangan bungkus tusuk gigi: bahwa bersama kebenaran, kebudayaan terlalu sering terpahami sebagai ilusi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” tutupnya.

    Seno Gumira Ajidarma dikenal sebagai penulis generasi baru sastra Indonesia. Beberapa karyanya adalah ‘Atas Nama Malam’, ‘Wisanggeni-Sang Buronan’, ‘Sepotong Senja untuk Pacarku’, ‘Biola tak Berdawai’, ‘Kitab Omong Kosong’, ‘Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi’, dan ‘Negeri Senja’.

    Tulisannya tentang Timor Timur dituangkan dalam trilogi buku ‘Saksi Mata’ (kumpulan cerpen), ‘Jazz, Parfum, dan Insiden’ (roman), dan ‘Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara’ (kumpulan esai). (*)

  • Kampung Bena Magnet Ekowisata

    Kampung Bena Magnet Ekowisata

     Bukan hanya pesona alamnya yang elok dan magis, di kampung adat yang berlokasi di lereng Gunung Inerie ini potensial untuk dijadikan lokasi ekowisata. Pariwisata berbasis konservasi lingkungan dan budaya. Seperti apa?

    BERADA di ketinggian sekitar 750 meter di atas permukaan laut (dpl) tidak terlalu sulit untuk menjangkau Kampung Adat Bena yang berjarak sekitar 19 kilometer arah Selatan kota Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Jalan hotmiks selebar 4 meter berkelok-kelok dengan perkebunan kopi di sisi jalan menjadi teman perjalanan yang mengasyikkan sebelum tiba di gerbang kampung yang secara administratif masuk wilayah Desa Tiworewu, Kecamatan Cerebe’u, Kabupaten Ngada ini.

    Kampung seluas kurang lebih 3 hektar ini di sebelah Utara berbatasan dengan Desa Beja, Kecamatan Bajawa dan Desa Rakateda, Kecamatan Golewa. Di Selatan berbatasan dengan Desa Watumanu, di Timur dengan Desa Dariwali dan di Barat menjulang Gunung Inerie, atau orang setempat menyebut sebagai gunung mama. Salah satu gunung paling ‘megah’ di daratan Flores.

    Begitu tiba di Kampung Bena, jarum jam seolah berhenti berdetak. Kita akan dibawa melayang ke masa peradaban megalitikum. Kampung yang berdiri di atas bukit berfondasi bebatuan besar yang disusun rapi ini memiliki sekitar 45 rumah adat yang terpelihara dengan baik.

    Bisa jadi, pendirian kampung di atas bukit dengan dilapisi bebatuan ini sebagai bentuk pertahanan diri terhadap musuh. Seluruh rumah berdiri membujur di sisi kanan dan kiri dan menyisakan tanah lapang di tengahnya. Di tempat inilah didirikan dua rumah kecil untuk pemujaan nenek moyang yang disebut bhaga. Terdapat juga compang yang menjadi altar persembahyangan kepada leluhur.

    Rumah pemujaan untuk menghubungkan dengan leluhur laki-laki disebut nga’dhu yang bercirikan atap jerami berbentuk payung, dengan ukiran kuda di bawah pintu. Sedangkan rumah untuk berhubungan dengan leluhur perempuan dinamai sakapu’u yang memiliki ciri khas, boneka dari jerami di ujung atapnya.

    Selain itu, media pemujaan kepada nenek moyang dilakukan di timbunan bebatuan yang menyangga batu pipih lebar yang berfungsi sebagai panggung atau biasa disebut sebagai terse

    Suasana kian magis, karena di kampung ini terdapat empat menhir yang hingga sekarang dipuja karena di titik inilah masyarakat Bena terhubung dengan para leluhur mereka.

    Lima menhir yang dikeramatkan itu adalah ine thegu yang merupakan perwujudan perempuan penyihir (black magic women), jhoga sebagai perwujudan perempuan penumbuk padi, dhegu geke sebagai pelindung, serta dhela lere simbol kekuatan. Menhir dhegu geke ini berlokasi di tubir jurang dan melekat tipis dengan batu penyangga dasarnya. Konon, saat gempa dahsyat menggoyang Flores pada 1992, menhir ini tidak bergoyang, bergeser seinci pun tak.

    Rumah kecil untuk pemujaan kepada nenek moyang yang disebut bhaga. (Foto: FBC/Pudji)

    Terakhir, watu wisu noa yang berbentuk mesin kapal dan merupakan ruh sekaligus jantung kampung ini. Hanya sepelemparan batu dari menhir terakhir ini terdapat gua kecil dengan patung Bunda Maria yang diletakkan di anak bukit di mana kita bisa memandang seluruh kampung dari sisi belakang. Dari lokasi ini, kita bisa menatap gagahnya Gunung Inerie yang menjulang.

    Sementara di lokasi tanah lapang yang lebih ke belakang akan ditemui sejenis meja batu atau dolmen, dengan cekungan seukuran piring. “Dari cekungan seukuran piring inilah nama Bajawa bermula. Ba artinya piring, jawa ya Jawa. Bajawa artinya piring dari Jawa,” kata Yoseph Rojagale (87), Ketua Lembaga Adat Bena sembari mengambil pecahan piring celadon era Dinasti Song (960-1279) dari balik tumpukan lempengan batu.

    Masih menurut Yoseph, kota Bajawa sebelum digeser sejauh 19 kilometer ke arah Utara dari Kampung Bena, semula ada di kampung tersebut.

    Asal-Usul

    Berdasar sejarah lisan seperti dituturkan Yoseph, Kampung Bena yang berbentuk perahu dengan ujung layar tertinggi di depan, dan ruang mesin serta buritan di belakang atau sisi Selatan itu berasal dari imigran Jawa. Tepatnya berasal dari Pati, Jawa Tengah, yang bermigrasi sekitar 1.200 tahun lalu.

    “Kampung ini dibangun oleh Bena lelaki asal Pati, Jawa Tengah, yang bermigrasi sekitar 1.200 tahun lalu bersama sembilan saudaranya: Ngadha, Wato, Deru, Siga, Dizi, Raba, Kopa, dan Ago. Sembilan bersaudara inilah yang akhirnya membentuk klan (suku) di sini sesuai namanya dan tinggal bersama di Bena. Mereka berlayar dari Pelabuhan Juwana, Pati, Jawa Tengah. Karena badai merusak perahu mereka lalu berganti perahu di Pelabuhan Tuban, Jawa Timur. Makanya perahu yang kemudian berubah wujud menjadi kampung ini kami namai perahu tuban,” kata Yoseph yang begitu meyakinkan.

    Yoseph yang mengaku pernah menjadi asisten pribadi Mgr. Soegijapranata Uskup Agung Semarang pada tahun 1950-an ini menduga, Bena dan saudaranya terusir dari Pati karena perbedaan keyakinan dalam kepercayaan Kejawen dengan warga kebanyakan.

    “Ketika tinggal di Semarang, saya sempat menelusuri jejak kampung saya di Pati. Saya bertemu sesepuh penghayat kepercayaan, namanya Pak Cokro yang menjelaskan kepada saya, memang demikian ceritanya. Persembahan kepada leluhur berupa hati ayam dan nasi putih yang melambangkan keberanian dan kesucian yang ada di Pati juga ada di Bena,” kata Yoseph yang mahir beragam bahasa mulai Bena, Jawa, Latin, Belanda, dan tentu Inggris ini. Yoseph sendiri beristrikan orang Jawa asal Purworejo, Jawa Tengah.

    Sementara menurut Paul Arndt, SVD (2009: 457) Bena (bi bena) yang maknanya bertumbuh atau bertambah banyak merupakan bagian dari klan Jawa Ledo yang berasal dari Nebe Meze yang merupakan nama julukan Ngadha, sebagai ibu asal.

    Salah satu menhir dari empat menhir yang berada di kampung tersebut. (Foto: FBC/Pudji)

    Klan-klan lain kemudian bergabung membentuk kampung besar yang disebut loka di Kampung Bena yang sekarang ini. Hingga kemudian terjadi pembagian tanah dan Bena mendapat hak milik atas tanah serta hak pakai atas tanah Tewe Au di lembah Jere Buu.

    Masih menurut Arndt, orang yang bertugas membagi tanah ini adalah Jawa Lizu (lizu: langit; Jawa: Jawa). Selain itu, Bena mendapat hak pimpinan tertinggi atas pesta reba. Dahulu dalam ‘permulaan zaman’, klan-klan itu sudah menetapkan tata aturan pesta reba, dan mereka sudah membentuk satu persatuan dan berjanji menaati peraturan pesta reba itu. Sebagai ungkapan dan kenangan akan janji tersebut didirikanlah bangunan batu, yang hingga hari ini masih ada di jalan keluar Kampung Bena, ulu nua. Entah informasi mana yang sahih, yang pasti Kampung Bena hingga kini masih setia merawat kebiasaan nenek moyang mereka, dan selalu disambangi puluhan wisatawan setiap harinya.

    Penulis: EC. Pudjiachirusanto

    Sumber : Floresbangkit.com