Author: Redaksi

  • Gema Kekuasaan dan Ilusi Mendengar Rakyat

    Gema Kekuasaan dan Ilusi Mendengar Rakyat

     

    Oleh  Agus  Widjajanto

     

    Melihat kondisi berbangsa dan bernegara saat ini, di mana Pemerintahan Kabinet Merah Putih di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto telah berjalan hampir dua tahun, muncul berbagai catatan kritis dari masyarakat. Banyak kebijakan maupun pernyataan pidato Presiden yang dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil rakyat di lapangan. Situasi tersebut memunculkan dugaan bahwa Presiden menerima masukan yang kurang tepat dari sebagian para pembantunya, yang tidak melakukan kroscek langsung kepada masyarakat secara menyeluruh dan objektif.

    Dalam panggung sandiwara politik, kondisi seperti ini sering dikaitkan dengan pemikiran Jacques Derrida, khususnya dalam ceramah atau kuliahnya yang berjudul “Memoirs of the Blind: The Self-Portrait and Other Ruins”, atau dalam bahasa Prancis Mémoires d’aveugle: L’autoportrait et autres ruines (1990).

    Perlu dipahami, karya tersebut sejatinya bukan pidato politik, melainkan kuliah Derrida untuk sebuah pameran di Museum Louvre tentang representasi kebutaan dalam sejarah seni Barat. Namun, pemikiran Derrida dalam karya itu kerap dipinjam sebagai metafora untuk menjelaskan situasi politik modern, terutama terkait pemimpin yang terjebak dalam ruang gema kekuasaan.

    Frasa populer “orang buta hanya mendengar gema suaranya sendiri” sebenarnya bukan kutipan literal dari Derrida. Kalimat itu merupakan interpretasi atas gagasan Derrida mengenai auto-affection dan trace. Meski demikian, substansi pemikirannya tetap relevan untuk membaca fenomena politik kontemporer.

    Derrida memulai argumennya dengan mengkritik asumsi besar dalam tradisi filsafat Barat bahwa “melihat” identik dengan “mengetahui kebenaran”. Dalam tradisi pemikiran Plato, Descartes, hingga Husserl, penglihatan dianggap sebagai indra paling jujur dan paling dekat dengan kebenaran. Akibatnya, orang buta diposisikan sebagai pihak yang dianggap “kurang” dalam memahami realitas.

    Namun, Derrida justru membalik logika tersebut. Menurutnya, orang yang dapat melihat pun sesungguhnya terjebak dalam ilusi. Mata hanya menangkap permukaan, bukan esensi. Sebaliknya, orang buta justru mengandalkan pendengaran, sentuhan, dan memori yang dalam beberapa hal lebih reflektif dan jujur.

    Akan tetapi, Derrida kemudian menunjukkan adanya jebakan lain. Saat manusia berbicara, sesungguhnya ia juga mendengar dirinya sendiri berbicara. Dalam konsep auto-affection, seseorang merasa dirinya hadir secara utuh karena mendengar suaranya sendiri. Di situlah muncul analogi tentang “gema suara sendiri”.

    Maknanya sangat dalam: manusia sering kali mengira sedang mendengar dunia, padahal yang didengarnya hanyalah pantulan dari konstruksi pikirannya sendiri. Kita merasa memahami realitas, padahal yang hadir hanyalah gema dari persepsi, kepentingan, dan keyakinan yang terus diputar ulang dalam ruang tertutup kesadaran.

    Dalam konteks politik, situasi itu menjadi sangat relevan. Seorang pemimpin dapat terjebak dalam ilusi bahwa dirinya telah memahami rakyat, padahal yang diterimanya hanyalah laporan-laporan yang disusun agar menyenangkan telinga penguasa. Kritik disaring, fakta dipoles, dan realitas sosial dipersempit menjadi sekadar data administratif atau narasi pencitraan.

    Fenomena ini kemudian melahirkan apa yang hari ini sering disebut sebagai echo chamber politik: ruang tertutup di mana pemimpin hanya mendengar suara-suara yang sejalan dengan dirinya. Para pembantu, penasihat, dan lingkaran kekuasaan berlomba menyampaikan laporan “asal bapak senang”, sementara suara riil masyarakat perlahan menghilang dari pusat pengambilan keputusan.

    Padahal, sebagaimana ditegaskan Derrida, manusia tidak pernah benar-benar bersentuhan langsung dengan realitas secara utuh. Kita hanya membaca “jejak-jejak” realitas. Karena itu, kekuasaan seharusnya membuka diri terhadap kritik, koreksi, dan suara-suara yang berbeda. Tanpa itu, pemerintah akan hidup dalam ilusi keberhasilan yang dibangun oleh gema suaranya sendiri.

    Judul karya Derrida, Memoirs of the Blind: The Self-Portrait and Other Ruins, juga mengandung makna filosofis yang sangat kuat. Self-portrait atau potret diri, menurut Derrida, selalu gagal menghadirkan diri secara utuh. Seseorang tidak pernah benar-benar bisa melihat dirinya sendiri tanpa bantuan cermin, sementara cermin itu sendiri adalah “yang lain”. Dengan kata lain, manusia membutuhkan refleksi eksternal untuk memahami dirinya.

    Begitu pula negara dan kekuasaan. Pemerintah tidak akan pernah mampu memahami dirinya sendiri tanpa mendengar rakyat secara langsung. Kritik publik, protes sosial, dan suara masyarakat sipil sesungguhnya adalah “cermin” yang membantu kekuasaan melihat kenyataan yang tidak tampak dari balik meja birokrasi.

    Sementara istilah ruins atau “reruntuhan” dalam pemikiran Derrida menggambarkan bahwa pengetahuan, identitas, dan ingatan manusia selalu tidak utuh. Semuanya rapuh, retak, dan terbuka untuk ditafsirkan ulang. Dalam politik, hal ini menjadi pengingat bahwa legitimasi kekuasaan pun tidak pernah permanen. Ia dapat runtuh ketika pemerintah gagal membaca realitas sosial yang sebenarnya.

    Karena itu, persoalan terbesar dalam pemerintahan modern bukan semata-mata soal niat baik atau buruknya seorang pemimpin, melainkan apakah sistem di sekelilingnya memungkinkan suara rakyat benar-benar sampai tanpa distorsi. Sebab ketika kekuasaan terlalu lama hanya mendengar gema dari lingkarannya sendiri, maka yang lahir bukan lagi kebijakan yang berpijak pada kenyataan, melainkan ilusi tentang kenyataan itu sendiri.

    ——————————

    *Penulis adalah pemerhati sosial budaya dan sejarah bangsa

  • Saya Menulis Maka Saya Ada

    Saya Menulis Maka Saya Ada

    Oleh  Julia  Utami

     

    Adakah yang belum pernah dengar ada seorang filsuf yang kalimat pendeknya Cogito ergo sum – Saya berpikir, maka saya ada? Pemikiran ini telah membuat banyak orang mengkloning ungkapan ini untuk berbagai hal. Contohnya judul buku saya ini, Aku Menulis, maka Aku Ada. Ya, beliau adalah filsuf Rene Descartes (1509-1650). Beliau tidak banyak meninggalkan karya tetapi banyak sumbangannya di bidang filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal itu masih terasa hingga sekarang.

    Berbicara tentang menulis, rasanya perjalanan hidupku sangat berwarna. Sejak SD sering mengikuti lomba-lomba baca puisi di kecamatan, jarang menang tapi tak surutkan langkah. Saat di SMP N 1 Sukoharjo, Lampung menulis puisi di mading. Lanjut sekolah di SMA Xaverius Pringsewu. Kampus Sanata Dharma seperti memanggilku. Saya kuliah di Sanata Dharma untuk S1 dan lanjut ke S2 di UPH. Kesempatan studi ini dengan biaya penuh dari Yayasan Satya Bhakti. Saat duduk di kuliah itulah saya mencoba untuk beberapa kali menulis. Panggilan menulis ini, mungkin yang membuat saya memutuskan pindah jurusan saat kuliah. Sempat merasakan kuliah di Pendidikan Akuntansi Sanata Dharma pada tahun 1990 tapi tak merasa itu panggilanku. Ya, akhirnya saya memutuskan pindah jurusan ke Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Di sanalah hati saya berpuisi setiap hari.

    Saat di kelas kuliah Apresiasi Sastra, ada pembahasan tentang cerpen “Orang-Orang Bloomington” karya Budi Darma. Salah satu cerpen berjudul OREZ. Saya menjawab OREZ adalah sebuah cerita omong kosong saja atau tak nyata. Kalau dibalik menjadi ZERO. Ternyata Pak Rahmanto bilang, “ Ternyata ada anak pinter di kelas ini.” Senanglah saya lalu semakin cinta sastra. Ditambah di semua mata kuliah Pak Alex Sudewa nilai saya A+. Dan saat itu beliau terkenal berikan nilai sampai F, kalau jawaban kita tak bunyi. Saat di semester 3 mengirimkan analisis cerpen Pelajaran Mengarang dari Kompas ke Seno Gumira Ajidarma (SGA). Dan dibalas. Lanjut proposal seminar, lanjut ajukan beasiswa skripsi kumpulan cerpen Saksi Mata dan lolos, dipanggil P Swantoro dan Daniel Dhakidae ke Kompas, lalu jumpa pertama kali dengan SGA (1996). Pak Dewa mengajak saya memborong semua buku SGA.
    Setelah sekian lama lulus kuliah dan mengajar, tetiba hatiku terpanggil kembali menulis. Hal ini semakin subur karena ada undangan menulis dari banyak komunitas. Memang kiprah di jalan puisi baru dimulai awal Januari 2016 namun setiap tanggal 28 Mei bertepatan dengan ulang tahun saya akan ada buku baru saya. Semacam tradisi self reward, akan terbit satu buku baru untuk hadiahi diri sendiri. Buku ini karya tunggal bukan antologi bersama. Maka sudah ada 10-an buku karya tunggal saya.

    Tahun ini tepat satu dasawarsa maka buku ini juga menandai 10 tahun saya menulis. Saya menulis banyak genre. Ada jenis puisi, pantun, haiku, tanka, karmina, akrostik, tatika, pentigraf, cerpen, novel, obituari, juga kritik sastra. Saat membaca kembali dan membukukan, di sana otomatis akan bermunculan nama-nama para pahlawan saya dalam dunia kepenulisan ini.

    Pertama-tama pastilah nama guru menulis sekaligus komandan saya. Beliau adalah Mas Kurniawan Junaedhie (KJ). Mas KJ yang selalu membimbing dan mengajari banyak hal berkaitan dengan sastra, bahkan juga penerbitan. Lalu ada Mas Adri Darmadji Woko, Dokter Handrawan Nadesul, Prof. Prijono Tjiptoherijanto, bahkan sekarang saya bersama para beliau dalam Yayasan Dari Negeri Poci.

    Awal sekali ada nama B Rahmanto (Alm.), Doktor Alex Sudewa (Alm), mereka dua dosen kebanggaan saya. Kemudian saya bertemu Bunda Dhenok Kristianti, Ibu Nana Ernawati, Nia Samsihono, Alexander Aur, Siwi Dwi Saputro, Windu Setyaningsih, Wikan Sawitri (Alm), Badri, Ezra Tuname, Paskalis Bataona, JB Kleden, Eka Budianta, Asrizal Nur, Eddy Pramduane, Remmy Novaris dan Riri Satria (dulu di DSJ), Kurnia Effendi, Frid Dacosta, Joko Pinurbo, Seno Gumira Ajidarma, dan juga Om Sutardji Calzoum Bachri. Terima kasih pada penyair Sapardi Djoko Damono melalui puisi-puisinya terutama “Aku Ingin”, menjadikan guru yang dikenal suka menyanyi. Kapan dan di mana pun, para alumni akan menyanyikan “Aku Ingin” begitu jumpa dengan saya. Mereka selalu memberi tahu saya kalau ada Jokpin, atau SDD di Mata Najwa, atau acara TV lainnya. Pak Maman S. Mahayana, Tengsoe Tjahjono, dan Ons Untoro juga berjasa pada saya. Salam untuk teman semua yang selalu menjadi sahabat dalam menulis bersama serta kumpul-kumpul. Tak cukup apabila semua didaftarkan. Itulah beberapa nama yang menjadi tolakan pertama kecemplung di sastra.

    Sampai sekarang, saya tetap menulis karena saya ADA. Saya menulis terus maka saya ADA. Sebagai guru pun saya terus mendampingi anak-anak menulis. Banyak buku karya mereka sudah diterbitkan. Agar anak-anak mempunyai kecintaan membaca puisi mereka dapat melihat youtube saya. Secara usia tahun depan saya akan memasuki masa purnabakti, saya ingat kata Pramudya Ananta Toer, “Menulis adalah melukis keabadian”. MSaya boleh selesai tugas dari sekolah ini karena pensiun, tapi buku-buku saya yang berbicara di perpustakaan sekolah. Itu adalah warisan intelektual dan rasa cinta. Saya akan ada terus di sini melalui buku. Prinsip saya harus terus menulis dari rumah. Bersama Aksi Swadaya Menulis (ASMDR).

    Terima kasih Tuhan, atas kasih-Mu aku dapat terus menulis. Terima kasih Bapakku Paulus Sukamdi dan Ibundaku Elisabeth Siti Rejeki. Terima kasih Mas Daniel Boli Kotan, anak Roseline Danelia Kotan, Victor Descartes Dalo Kotan. Bukan suatu kebetulan nama anakku ada Descartes-nya. Ada harapan yang masih impian, tapi telah dihayati anakku. Dia harus tahu siapa nama yang melekat dalam dirinya. Semoga semua akan baik-baik semua.
    Terima kasih Suster Moekti Gondosasmito, OSU selaku Ketua II Yayasan Satya Bhakti, dan Miss Vina Agustin dan teman guru SMP Santa Ursula, Jakarta. Mas Kurniawan Junaedhie yang tak pernah lelah memberikan ilmu yang begitu kerennya untuk pemula seperti saya. Terima kasih Penerbit Kosa Kata Kita, dan juga semua anggota komunitas Aksi Swadaya Menulis dari Rumah (ASMDR) karena Anda semua saya dan Mas KJ tak pernah berhenti berpikir membuat tantangan baru menulis yang ajeg ada setahun minimal 3 kali terbitkan buku baru.
    Dalam buku ini ada beberapa lampiran. Ada foto dan catatan media. Hal ini untuk jejak saja sudah 10 tahun sudah menulis serius. Setiap ulang tahun ada hasil karya berupa buku baru. Kadang terpikir untuk apa, nanti siapa yang mau membacanya. Dari semua pertanyaan itu, tempat terbaik untuk buku-buku baru adalah di pangkuan Anda. Buku ini dapat dinikmati sambil bersantai. Percayalah, sedikit banyak dari yang Anda baca akan menginspirasi Anda.

    Sekian uneg-uneg saya, dan saya akan terus menulis. Kalau mulai lelah saya akan baca judul tulisan ini lagi. Niscaya semangat terbangun lagi. Saya menulis maka saya ada.

     

  • Si “Penyair Kereta” yang Selama Bertahun-Tahun Menulis Cinta di Atas Kereta

    Si “Penyair Kereta” yang Selama Bertahun-Tahun Menulis Cinta di Atas Kereta

     

    Oleh  Kurniawan  Junaedhie

     

    Selama bertahun-tahun, Julia Utami, penulis buku ini, menulis di atas kereta yang tengah melaju. Di antara derak suara roda kereta dan hiruk pikuk penumpang yang berjejalan, diam-diam ia menulis banyak puisi, cerpen, haiku, dan beratus-ratus catatan kecil lainnya yang ditulisnya dengan jujur tentang apa yang dialami dan dirasakannya sebagai seorang perempuan, seorang ibu dan seorang guru.

    Buku ini sesungguhnya sebuah buku kumpulan tulisan dan kiprah perjalanan seorang penulis yang di dunia sastra dijuluki ‘Si Penyair Kereta’, selama 10 tahun terakhir, yang diawali tanpa sengaja sejak 2016. Mulai dari menulis untuk mengusir jenuh di perjalanan, hingga akhirnya menemukan suara untuk mengobarkan semangat berliterasi di sekitarnya.

    Selain menghimpun ratusan karya yang pernah dituliskannya, buku ini juga menghimpun aneka kliping dan foto yang mendokumentasikan perjalanan kepengarangannya selama ini sebagai seorang manusia yang tak pernah berhenti belajar.

    Julia Utami memang dikenal sebagai penulis yang sangat produktif. Tapi ia tidak menulis untuk panggung besar. Ia menulis karena cinta: cinta pada kehidupannya, pada profesinya, dan pada keyakinan bahwa setiap orang berhak menulis kisahnya sendiri.

    Buku ini pun diterbitkan dengan tujuan sederhana, mensyukuri usianya yang tahun ini genap berusia 54 tahun, pada 28 Mei 2026. Ia mensyukuri atas umur panjang, atas kesempatan, dan atas api kecil yang masih menyala untuk berbagi. Suatu tradisi self reward yang bukan kebetulan sudah dilakukannya selama ini pada setiap ulang tahunnya.

    Buku ini kiranya mampu mengingatkan kita semua bahwa kisah besar sering lahir dari rutinitas kecil yang kita tekuni dengan cinta. Selamat ulang tahun, Bu Jul. Menulislah terus, selama dengan menulis engkau merasa hidup. Seperti ungkapan Latin cogito, ergo sum, ‘Aku berpikir, maka aku ada’ maka buku ini sangat tepat berjudul, Aku Menulis maka Aku Ada.

     

     

  • Antara “Resilience”, “IQ”, dan Ajaran Tri Dharma di Tengah Persaingan Global

    Antara “Resilience”, “IQ”, dan Ajaran Tri Dharma di Tengah Persaingan Global

     

    Oleh  Agus  Widjajanto

     

    Dunia saat ini sedang bergerak dalam ketidakpastian yang nyaris tanpa jeda. Pandemi Covid-19 pada 2020–2022, perang Ukraina-Rusia, konflik Amerika-Iran dan Israel, kenaikan harga minyak dunia, hingga kemerosotan ekonomi global menjadi bukti bahwa stabilitas bukan lagi sesuatu yang bisa dianggap permanen. Di saat yang sama, derasnya pengaruh budaya asing akibat kemajuan teknologi informasi membuat batas teritorial negara seolah memudar dan memicu degradasi moral yang sulit difilter.

    Dalam situasi seperti itu, kecerdasan intelektual atau IQ saja tidak lagi cukup. Yang jauh lebih menentukan adalah resilience, yakni ketangguhan mental seseorang dalam menghadapi tekanan, kemampuan untuk bangkit kembali, beradaptasi, dan tetap kuat setelah mengalami kegagalan maupun situasi sulit. Resilience bukan sekadar bertahan hidup, tetapi kemampuan untuk belajar dan berkembang dari pengalaman pahit.

    Kecerdasan membuat seseorang tahu apa yang harus dilakukan ketika dunia stabil. Namun resilience membuat seseorang tetap berdiri ketika stabilitas itu hilang tiba-tiba.

    Fenomena dunia hari ini menunjukkan bahwa resilience menjadi lebih penting dibanding sekadar kecerdasan otak. Dunia sudah berubah menjadi non-linear. Jika dulu perubahan terjadi dalam hitungan puluhan tahun, kini perubahan dapat terjadi hanya dalam hitungan hari. Perang dagang, munculnya teknologi AI baru, putusnya rantai pasok global, hingga cepat matinya tren media sosial menunjukkan bahwa keadaan bisa berubah sangat cepat.

    Dalam kondisi demikian, orang yang hanya mengandalkan kecerdasan tetapi berpikir kaku akan mudah terjebak pada “plan A”. Sebaliknya, mereka yang memiliki resilience mampu bergerak cepat ke “plan C, D, atau E” tanpa kehilangan arah. Selain itu, data saat ini begitu cepat basi. Informasi yang dianggap benar tiga bulan lalu bisa jadi menyesatkan hari ini. Karena itu, resilience tidak menunggu kesempurnaan data. Ia bergerak, mengukur, lalu mengoreksi. Ini adalah pola trial and error cepat, bukan analysis paralysis yang membuat seseorang terlalu lama berpikir tanpa bertindak.

    Tekanan hidup modern juga membuat resilience semakin penting. Risiko PHK, inflasi, dan banjir informasi menciptakan stres kronis yang dapat menurunkan kemampuan berpikir seseorang. Orang yang memiliki resilience tinggi tetap mampu berpikir jernih di bawah tekanan, sementara orang pintar tanpa resilience justru mudah mengalami freeze atau lumpuh mengambil keputusan.

    Dalam kajian psikologi dan sistem, resilience bukan sekadar “mental tahan banting” ala motivator. Resilience terdiri dari empat kemampuan utama, yaitu anticipation, absorption, adaptation dan recovery.

    Anticipation adalah kemampuan membaca tanda-tanda sebelum krisis benar-benar datang. Absorption adalah kemampuan menyerap guncangan tanpa hancur. Adaptation berarti kemampuan mengubah diri dengan cepat mengikuti perubahan situasi. Sedangkan recovery adalah kemampuan bangkit kembali dengan lebih kuat setelah mengalami krisis.

    Kecerdasan memang berperan pada aspek anticipation. Namun tiga aspek lainnya lebih banyak berkaitan dengan laku hidup daripada logika semata.

    Era sekarang juga menjadi era yang menghukum orang-orang yang hanya mengandalkan kecerdasan. Teknologi AI seperti ChatGPT, misalnya, mampu menghasilkan strategi marketing level konsultan hanya dalam hitungan detik. Artinya, kemampuan intelektual mulai menjadi komoditas yang mudah ditiru. Yang sulit digantikan AI adalah kemampuan mengambil keputusan di tengah ketidakjelasan, tekanan, dan ambiguitas.

    Di sisi lain, krisis kini menjadi mode default kehidupan modern. Pandemi, perang, krisis energi, hingga perubahan iklim datang silih berganti. Dalam situasi seperti ini, yang bertahan bukan mereka yang paling pintar memprediksi, melainkan mereka yang paling cepat pulih ketika prediksinya salah.

    Bahkan modal sosial kini lebih penting daripada modal intelektual. Dalam situasi tidak pasti, jaringan, kepercayaan, dan kemampuan berkolaborasi sering kali menjadi faktor penyelamat. Semua itu merupakan hasil dari resilience, bukan semata-mata IQ.

    Karena itu, membangun resilience menjadi kebutuhan mendesak, baik bagi individu maupun negara. Pada tingkat individu, resilience dibangun melalui pengelolaan energi, bukan hanya manajemen waktu. Tidur cukup, olahraga, dan membatasi paparan layar menjadi penting karena otak yang lelah akan membuat resilience runtuh.

    Selain itu, seseorang perlu melatih cognitive flexibility, yakni kemampuan melihat persoalan dari sudut pandang berbeda, termasuk berani berdebat dengan pandangan yang tidak disukai. Masyarakat juga perlu membangun safety net seperti keterampilan tambahan, komunitas, dan tabungan agar tetap memiliki penyangga ketika satu aspek kehidupan runtuh.

    Pada level organisasi dan negara, resilience berarti memiliki cadangan pangan, cadangan devisa, dan rantai pasok alternatif. Redundancy bukan pemborosan, melainkan premi asuransi menghadapi krisis. Sistem juga harus dirancang agar kegagalan kecil tidak langsung menghancurkan keseluruhan sistem. Di saat yang sama, budaya psychological safety perlu dibangun agar orang berani melaporkan masalah sebelum berubah menjadi krisis besar.

    Meski demikian, bukan berarti kecerdasan harus dibuang. Kecerdasan tetap penting sebagai kompas, sementara resilience menjadi kaki yang membuat seseorang terus bergerak. Kompas tanpa kaki hanya membuat seseorang tahu arah tanpa pernah sampai tujuan. Sebaliknya, kaki tanpa kompas hanya membuat seseorang berjalan cepat tanpa arah yang jelas.

    Di era stabil, kompas mungkin lebih penting. Namun di era penuh kabut seperti sekarang, kaki menjadi jauh lebih menentukan.

    Persoalannya, resilience justru minim dimiliki sebagian generasi muda, termasuk generasi Z dan milenial, yang dalam banyak hal tumbuh terlalu nyaman dan kurang terlatih menghadapi kerasnya pertarungan hidup global. Padahal Indonesia dapat bertahan hingga hari ini bukan hanya karena kecerdasan, tetapi karena kombinasi antara resilience dan IQ yang menjadi penuntun dalam perjalanan bangsa.

    Generasi Z / Milenial beda dan jauh secara mental dengan generasi pendobrak saat 1945, yang memang ditempa dalam kekuatan resilience.

    Menariknya, konsep resilience sebenarnya sudah lama hidup dalam ajaran lokal Nusantara, salah satunya melalui Tri Dharma yang diwariskan . Meski tidak menggunakan istilah resilience, ajaran tersebut memiliki substansi yang sejalan dengan empat pilar resilience modern: anticipation, absorption, adaptation, dan recovery.

    Tri Dharma terdiri atas Dharma Agama, Dharma Negara, dan Dharma Masyarakat.

    Dharma Agama mengajarkan manusia menjaga batin tetap tenang dan memiliki pegangan nilai ketika dunia kacau. Orang yang memiliki pegangan nilai tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi krisis. Hal itu terlihat pada sosok yang tetap bertahan meski berkali-kali kalah perang dan dikejar Belanda karena perjuangannya didasarkan pada dharma, bukan kepentingan pribadi.

    Dharma Negara berkaitan dengan kemampuan menjaga sistem agar tidak mudah runtuh. membangun sistem pajak, militer, dan irigasi yang mandiri sehingga mampu bertahan menghadapi tekanan kolonial. Ketika situasi berubah, ia juga mampu beradaptasi dari strategi gerilya menuju diplomasi dan pembangunan ekonomi.

    Sementara Dharma Masyarakat menekankan pentingnya hubungan sosial dan kepercayaan publik. Dalam sejarahnya, dukungan rakyat menjadi faktor utama kekuatan . Rakyat bukan hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi juga sumber kekuatan sosial yang menyerap guncangan krisis.

    Di era ketidakpastian seperti sekarang, Tri Dharma menjadi semakin relevan. Kecerdasan hanya menjawab apa yang benar secara teknis. Namun Tri Dharma menjawab apa yang benar secara manusiawi.

    Ketika masyarakat kehilangan pegangan nilai, Dharma Agama menjadi penting. Ketika institusi rapuh dan mudah runtuh, Dharma Negara menjadi kebutuhan. Ketika polarisasi dan krisis kepercayaan meningkat, Dharma Masyarakat menjadi fondasi utama.

    Karena itu, orang pintar tanpa pegangan nilai berpotensi menjadi oportunis. Organisasi yang cerdas tetapi kehilangan ruh kemanusiaan juga akan mudah rapuh saat diuji krisis.

    Pada akhirnya, kekuatan terbesar sebuah bangsa bukan hanya kecerdasan intelektual, melainkan kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit kembali. Sejarah membuktikan bahwa mampu bertahan puluhan tahun menghadapi tekanan kolonial bukan semata karena kejeniusannya, tetapi karena fondasi nilai yang membuat dirinya, pasukannya, dan rakyatnya tahan guncang.

    Tri Dharma pada akhirnya bukan hanya tentang bertahan hidup. Ia adalah resilience yang memiliki ruh dan tujuan yang lebih besar daripada kepentingan diri sendiri.

     

    ——————————-

    *Penulis adalah pemerhati sosial budaya dan sejarah bangsa

  • Agama di “Era Post”-Antroposen:  Alarm dari Kota Ruteng

    Agama di “Era Post”-Antroposen: Alarm dari Kota Ruteng

    Oleh  Benny  K. Harman

     

    Jumat, 8 Mei 2026 di Kota Ruteng, di Unika Santu Paulus, Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Maksimus Regus, dikukuhkan menjadi guru besar atau profesor. Pengukuhan seorang profesor pada dasarnya adalah peristiwa akademik biasa. Namun dalam konteks tertentu, ia dapat melampaui seremoni dan menjelma menjadi refleksi zaman. Itulah yang tampak ketika seorang imam Katolik yang juga uskup dari Labuan Bajo, seorang doktor dalam bidang sosiologi agama, menyampaikan pidato pengukuhan profesor dengan tema: “Meneropong Agama di Era Post-Antroposen: Kajian Sosiologi Agama dan Multikulturalisme.”

    Pidato ini muncul pada saat yang tepat. Tema yang diangkat bukan sekadar soal akademik. Ia menyentuh persoalan paling mendasar dari peradaban kita: di manakah posisi agama ketika kehidupan manusia semakin ditentukan oleh teknologi, kapital, dan logika pasar?

    Kita hidup di zaman yang penuh paradoks. Dunia dalam paradoks. Agama tetap hadir secara formal—rumah ibadah berdiri, ritual berjalan, simbol keagamaan bahkan semakin terlihat di ruang publik. Namun pengaruh substantif agama terhadap cara manusia berpikir dan bertindak justru semakin melemah. Bahkan makin kehilangan arah. Agama tidak dihapus, tetapi dipinggirkan, dimarginalkan.

    Konsep “post-antroposen” yang diangkat Profesor Uskup Maks Regus dalam pidato tersebut menandai telah terjadi bahkan sedang berlangsung perubahan besar dalam cara manusia memahami dirinya. Pada era antroposen, manusia dipandang sebagai pusat dan penentu utama kehidupan di bumi. Namun dalam fase yang disebut post-antroposen, dominasi itu mulai dipertanyakan. Mulai dipertanyakan klaim manusia sebagai subyek tunggal yang menentukan segalanya.

    Teknologi berkembang begitu cepat melampaui kapasitas etis manusia. Algoritma tidak hanya membaca, tetapi membentuk preferensi. Kecerdasan buatan mengubah cara berpikir dan mengambil keputusan. Pada saat yang sama, krisis ekologis menunjukkan bahwa eksploitasi tanpa batas telah membawa konsekuensi serius.

    Di tengah perubahan ini, agama sering kali tertinggal. Ia tidak selalu hadir sebagai sumber refleksi kritis terhadap krisis yang dihadapi manusia modern. Bahkan, dalam banyak kasus, agama terjebak dalam rutinitas simbolik yang kehilangan daya transformasi.

    Pendekatan sosiologi agama dan multikulturalisme yang ditawarkan dalam pidato tersebut menjadi penting. Agama tidak lagi cukup dipahami sebagai sistem keyakinan, tetapi sebagai kekuatan sosial yang harus mampu merespons perubahan zaman yang begitu kompleks dan beragam.

    Tantangan besar lain bagi agama adalah dominasi kapitalisme yang telah melampaui fungsi ekonominya. Ia kini menjadi kerangka yang membentuk cara hidup manusia. Nilai-nilai pasar tidak hanya mengatur produksi dan distribusi, tetapi juga memengaruhi cara manusia memahami kebahagiaan, kesuksesan, bahkan identitas diri.

    Dalam logika ini, manusia cenderung direduksi menjadi konsumen. Nilai diukur dari daya beli. Waktu dilihat sebagai peluang produksi. Relasi sosial pun semakin bersifat transaksional. Kemajuan teknologi telah mempercepat proses ini. Melalui algoritma, keinginan manusia tidak hanya dipenuhi, tetapi juga dibentuk. Apa yang kita anggap sebagai pilihan pribadi sering kali merupakan hasil rekayasa sistem yang kompleks.

    Dalam situasi seperti ini, agama menghadapi tantangan serius. Ia tidak lagi berhadapan dengan penolakan ideologis, melainkan dengan marginalisasi struktural. Ia tidak diserang secara langsung, tetapi dibuat tidak relevan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Agama tidak lagi menjadi sumber mata air kebahagiaan tapi acap kali menjadi beban.

    Namun, persoalan tidak hanya datang dari luar. Agama sendiri kerap kehilangan daya kritisnya. Ia tetap hidup dalam ritual, asyik dengan dirinya, tetapi melemah dalam fungsi profetiknya.

    Ketika ketimpangan sosial semakin tajam, suara agama tidak selalu terdengar kuat. Ketika korupsi merajalela di tubuh negara, aura agama terdengar sayup-sayup. Ketika eksploitasi lingkungan berlangsung atas nama pembangunan, respons keagamaan sering kali terbatas. Ketika manusia terjebak dalam logika konsumsi tanpa batas, agama tidak selalu hadir sebagai penyeimbang. Malah terhanyut

    Akibatnya, krisis menimpa dan agama berisiko mengalami reduksi mendalam dari kekuatan transformasi menjadi sekadar simbol identitas.

    Dalam konteks ini, pengukuhan Profesor Maks Regus yang juga pemimpin agama, Uskup Keuskupan Labuan Bajo, sebuah calon kota global yang multikultural, memiliki arti strategis. Ia berada di persimpangan antara iman dan ilmu, antara refleksi normatif dan analisis empiris. Ia memiliki posisi untuk mengembalikan agama sebagai kekuatan moral yang relevan di ruang publik. Di ruang publik Labuan Bajo yang tumbuh dan akan terus tumbuh menjadi kota dunia dengan segala harapan dan tantangannya.

    Dimensi multikulturalisme dalam pidato Uskup Profesor Maks Regus juga penting dalam konteks tidak hanya Labuan Bajo tapi Indonesia. Labuan Bajo adalah miniatur Indonesia yg majemuk. Sebagai masyarakat majemuk, agama tidak hanya berfungsi sebagai sistem keyakinan, tetapi juga sebagai identitas sosial dan bahkan, ini penting, politik.

    Dalam situasi ini, agama memiliki potensi ganda: sebagai perekat sekaligus sebagai pemecah. Ia dapat memperkuat solidaritas, tetapi juga berisiko menjadi alat eksklusi jika tidak dikelola dengan bijak. Pendekatan sosiologi agama membantu melihat agama secara lebih kritis dan kontekstual. Ia mendorong agama untuk tidak terjebak dalam politik identitas yang sempit, tetapi hadir sebagai basis etika publik yang inklusif.

    Peran akademisi yang juga pemimpin agama menjadi penting dalam menjembatani dua dunia ini: dunia nilai dan dunia realitas sosial. Ia tidak hanya berbicara dari perspektif normatif, tetapi juga memahami kompleksitas masyarakat yang terus berubah.

    efleksi ini menjadi semakin menarik karena datang dari Kota Ruteng, kota indah dan dingin. Kota yang ditengarai terjadi banyak kasus bunuh diri. Selama ini, wacana besar tentang agama, kapitalisme, dan modernitas sering didominasi oleh pusat-pusat kekuasaan dan akademik. Namun dampak konkret dari sistem global justru paling terasa di daerah-daerah yang berada di pinggiran. Di sana, interaksi antara pembangunan ekonomi, budaya lokal, dan lingkungan hidup terlihat lebih nyata.

    Dari perspektif ini, suara dari Kota Ruteng adalah ‘wake up call’ untuk dunia. Pidato Profesor Maks Regus menghadirkan sudut pandang yang lebih kontekstual. Ia tidak hanya berbicara dalam kerangka teori, tetapi juga berangkat dari pengalaman sosial yang konkret.

    Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: masih adakah peran agama di era post-antroposen? Jawabannya bergantung pada kemampuan agama untuk melakukan refleksi dan transformasi. Agama perlu kembali pada fungsi profetiknya—sebagai suara moral yang mengingatkan batas-batas etis dari kekuasaan, teknologi, dan pasar. Pada saat yang sama, agama juga perlu membuka diri terhadap dialog dengan ilmu pengetahuan. Tantangan zaman tidak dapat dijawab hanya dengan pendekatan normatif. Diperlukan analisis yang tajam dan pemahaman yang mendalam terhadap realitas sosial.

    Dengan demikian, agama tidak hanya berhenti  sebagai simbol, tetapi hadir sebagai kekuatan yang memberi arah. Agama seharusnya menjadi pedoman arah untuk dunia yang lagi gagap dan bingung menghadapi tekanan kemajuan teknologi yang begitu dahsyat.

    Sebagai penutup saya ingin menyampaikan Proficiat untuk Uskup Profesor Maks Regus. Salam hangat juga buat orang tua. Tentu mereka sangat bahagia. Meraih gelar profesor tentu bukan sekadar pencapaian akademik individual. Ia merupakan momentum reflektif bagi masyarakat luas.

    Pidato pengukuhan Profesor Maks Regus telah mengingatkan kita semua bahwa dunia kini sedang mengalami perubahan besar yang tidak hanya bersifat teknologis dan ekonomis, tetapi juga moral dan kultural. Dalam perubahan itu, agama tidak boleh sekadar hadir secara formal, tetapi harus mampu memberi makna. Jika tidak, kita berisiko membangun masyarakat yang maju secara materi, tetapi kehilangan arah secara nilai.

    Di tengah dunia yang semakin ditentukan oleh teknologi dan kapital, pertanyaannya bukan lagi apakah agama masih ada. Pertanyaannya adalah: apakah agama masih memiliki keberanian untuk berbicara—dan apakah masyarakat masih bersedia mendengarkannya. Apakah agama tetap diam dan menutup mata menyaksikan kerusakan dunia sedang terjadi di depan kita. Itu pertanyaan  sekaligus kado saya untuk Profesor Yang Mulia Uskup Maks Regus.

    Congratulation.

    Kota Ruteng, 07 Mei 2026

  • Lamalera – Miniatur Dunia yang Diimpikan Tuhan

    Lamalera – Miniatur Dunia yang Diimpikan Tuhan

     

    Oleh RP. Mikhael Molan Keraf CSsR

     

     

    Pembuka:

    Panggilan dari Laut dan Sabda

     

    Ema, Bapa,

    Belle, Kaka Ari, Opu Lake,

    Nara Kajak Levo Lamalera,

    Saudara-saudari terkasih,

     

    Hari ini kita berdiri di ambang waktu baru — Tahun Baru Levo Lamalera;

    seperti kaki yang menapak pasir

    sebelum perahu — peledang kita ditarik — didorong ke laut.

     

    “Leo” telah dipintal … panno-berkat-nekaro kae …

    perahu telah disiapkan … “blobos” sudah dibuka …

    layar siap menerima angin …

     

    “Leva” ma’je tite fakahae …

     

    dan bersama dengan para leluhur, narakajak, kide kenuke, levo Lamalera pune tou kae, mari kita hening dan mendengar sabda-Nya:

     

    Hilibe!

    Duc in Altum!

     

    🌊 Dari Tunggul ke Laut: Allah Bekerja dari kemungkinan kecil — yang tersisa.

     

    Nabi Yesaya berkata:

    “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai.”

     

    Bukan dari pohon yang utuh,

    melainkan dari tunggul — dari kemungkinan kecil — yang tersisa.

     

    Itulah cara Allah bekerja.

     

    Dan itu bukan sekadar memoriale pasif, bukan sekadar kenangan masa lalu.

    Itu pengalaman umat — dan itu pengalaman riil Lamalera.

     

    Bukankah kita sering hidup dari:

    👉 laut yang tidak selalu ramah —-> ge tite mari mi, leva na hukku tite

    👉 hasil yang tidak selalu cukup; atau yang kita sengaja “lepas” untuk diambil esok

    👉 tenaga yang terkuras dan terbatas

    👉 tekanan dunia luar yang tidak selalu mengerti kita

     

    Namun Sabda Tuhan hari ini menegaskan:

     

    👉 Allah menumbuhkan masa depan dari kesetiaan yang kecil dan terus dijaga dengan tawakal.

     

    Seperti tunas dari tunggul.

    Seperti hidup yang tumbuh dari laut Lamalera yang garang, dan dari tanah Lamalera yang keras berbatu cadas.

     

    🌊 Dari Kelelahan ke Ketaatan: Titik Balik Iman

     

    Dalam Injil Lukas, Petrus berkata:

    “Kami telah bekerja keras semalam suntuk…”

    Itu suara nelayan.

    Itu suara kita Lamalera.

     

    Dan justru di situlah Yesus datang —

    bukan saat kita kuat,

    tetapi saat kita lelah.

    Bukan saat kita berkelimpahan, tetapi saat kita hanya punya sedikit.

     

    Dan Ia berkata:

     

    👉 “Bertolaklah ke tempat yang dalam!”

     

    Ini panggilan yang mengguncang kita, mengajak Levo Lamalera untuk sigap:

    👉 saat lelah → tetap mendayung

    👉 saat gagal → tetap percaya

    👉 saat takut → tetap melaut

     

    Dan Petrus menjawab:

     

    👉 “Karena Engkau berkata demikian…”

     

    Inilah inti iman kita anak Lamalera:

     

    bekerja sepenuh tenaga,

    berserah sepenuh iman.

     

    (Refrain – dapat dihidupkan bersama umat)

     

    Hilibe! — Dayung lagi!

    Duc in Altum! — Masuk lebih dalam! Berlayar lebih jauh!

     

    🌊 Roh Tuhan: Nafas Kehidupan, Bukan Nafsu Penguasaan

     

    Yesaya berkata: Roh Tuhan adalah roh kebijaksanaan dan pengertian.

     

    Bukan roh keserakahan.

    Bukan roh penaklukan.

     

    Dunia hari ini bukan kekurangan ilmu —

    tetapi kekurangan Roh.

    👉 ilmu tanpa Roh → merusak

    👉 ekonomi tanpa Roh → menindas

    👉 kemajuan tanpa Roh → mengosongkan manusia

     

    Namun dalam tradisi Lamalera:

    • ada batas
    • ada hormat
    • ada keseimbangan

     

    👉 Itulah Roh yang menjaga kehidupan.

     

    Maka kita berdoa:

     

    Tuhan, jangan ambil Roh-Mu dari kami.

     

    🌊 Liturgi Kehidupan: Gereja Bagai Bahtera

     

    Saudara-saudari,

     

    Apa yang kita rayakan hari ini adalah liturgi yang hidup:

    • tali → persekutuan
    • perahu → perjalanan bersama
    • dayung → kerja keras
    • layar → keterbukaan pada Roh
    • laut → misteri kehidupan
    • alat tangkap → tanggung jawab, bukan keserakahan
    • pesisir → tempat berbagi
    • pembagian hasil → keadilan nyata

     

    👉 Seluruh hidup Lamalera adalah altar liturgis.

     

    🌊 Berkat yang Dibagi: Ekonomi Injil

     

    Ketika hasil melimpah,

    para murid tidak menyimpan —

    mereka memanggil yang lain.

     

    👉 Berkat tidak untuk dimiliki, tetapi dibagikan.

     

    Untuk:

    • janda
    • yatim
    • yang lemah
    • yang menunggu di pesisir

     

    Di sini Lamalera memberi kesaksian:

    bahwa ekonomi bisa tetap manusiawi.

     

    🌊 Lamalera: Miniatur Dunia yang Diimpikan Tuhan

     

    Nabi Yesaya berkata:

     

    “Serigala akan tinggal bersama domba…

    tidak ada yang berbuat jahat di seluruh gunung-Ku yang kudus.”

     

    Ini bukan dongeng.

    Ini adalah mimpi Allah tentang dunia.

     

    Dan hari ini kita berani berkata:

     

    👉 Lamalera adalah miniatur dunia yang diimpikan Tuhan.

     

    Apa arti mimpi itu dalam hidup kita?

     

    Tidak ada yang lapar, tidak ada yang ditinggalkan

     

    Hasil laut tidak berhenti di perahu —

    ia mengalir ke seluruh kampung.

    • janda tidak dilupakan
    • yatim tidak ditinggalkan
    • yang lemah tidak disisihkan

     

    👉 Lapar satu orang adalah luka seluruh kampung.

     

    Tidak ada yang disingkirkan

     

    Dalam roh Lamalera:

     

    👉 setiap orang punya tempat

    👉 setiap hidup punya nilai

     

    Tidak ada yang terlalu kecil untuk dihitung.

     

    Semua duduk sejajar sebagai saudara

     

    Kita hidup dalam semangat:

     

    koro kaka — koro ari

    koro hama hama

     

    👉 tidak ada yang lebih tinggi dalam martabat

    👉 tidak ada yang lebih rendah dalam kemanusiaan

     

    Semua bergandengan tangan.

    Semua berjalan bersama.

     

    Satu kehidupan yang dibagi bersama

     

    Satu pantai.

    Satu blapa lolo.

    Satu mata gapu.

    Satu kara.

     

    👉 Hidup tidak dimiliki — tetapi dibagikan.

     

    Seruan Profetik

     

    Saudara-saudari,

    Ina – Ama,

    Kaka Ari,

     

    Jika ini miniatur dunia yang diimpikan Tuhan,

    maka kita dipanggil untuk setia:

     

    👉 Jangan biarkan kebersamaan berubah jadi persaingan

    👉 Jangan biarkan adat kehilangan jiwa

    👉 Jangan biarkan Leva Nuâ dijual demi untung sesaat

     

    Karena jika itu terjadi—

    yang hilang bukan hanya tradisi,

    tetapi masa depan Lamalera.

     

    Perutusan untuk Dunia

     

    Dunia hari ini sedang krisis:

    • banyak makanan, tetapi orang lapar
    • banyak kekayaan, tetapi orang tersingkir

     

    👉 Lamalera dipanggil menjadi tanda:

    bahwa dunia lain yang adil, damai, utuh lintas sekat itu mungkin.

     

    🌊 Mendayung di Tengah Badai: Harapan yang Bertindak

     

    Surat Kedua Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus berkata:

     

    “Kami dihimpit… tetapi tidak putus asa.”

     

    Inilah iman para pendayung:

     

    ombak boleh tinggi

    badai boleh datang

     

    👉 tetapi kita tetap mendayung.

     

    Karena harapan adalah keberanian untuk tetap bergerak.

     

    Penutup 

    Perutusan Tahun Baru

     

    Saudara-saudari,

    Ema Bapa,

    Kaka Ari, Levo Lamalera terkasih ….

     

    Tahun Baru ini adalah janji:

    • hidup dengan hormat
    • bekerja dengan iman
    • berbagi dengan adil
    • menjaga kehidupan

     

    Kristus adalah Tunas itu.

    Dan kita adalah ranting-ranting-Nya.

     

    Klimaks Liturgis

     

    Dayunglah… dengan iman…

    Dayunglah… dengan cinta seluas Leva Lamalera …

    Dayunglah… untuk kide kenuke,

    Dayunglah … Untuk Allah Yang Maha Kuasa

     

    Jangan biarkan yang kecil tertinggal…

    Jangan biarkan yang lemah dilupakan…

     

    Seruan Bersama

     

    Hilibe!

    Duc in Altum!

    Hilibe!

    Duc in Altum!

     

    Doa Penutup

     

    Tuhan,

    Engkau yang hadir dalam laut kami,

     

    ajar kami mendayung dengan iman,

    berbagi dengan adil,

    dan menjaga kehidupan dengan hormat.

     

    Jadikan perahu kami tempat keselamatan,

    dan Lamalera tanda harapan-Mu bagi dunia.

    Amin.

     

    ——————————-

    Tulisan ini adalah Kotbah Misa Arwah dan Misa Syukur buat Leva Lamalera -Tahun Baru Levo Lamalera 2 Mei 2026, Kapel Vinsentius Putra, Kramat Jakarta.

    Jakarta,  2 Mei 2026

     

     

     

  • Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru

    Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru

    Oleh  Agus Widjajanto

     

    Pidato presiden Prabowo Subiyanto yang berbicara Indonesia Gelap yang kerap dilontarkan para pengkritik, padahal Indonesia nyatanya terang hingga terucap jika ingin pergi maka pergilah ke Yaman, adalah kritik pedas seorang Kepala Negara sekaligus kepala Pemerintahan yang harus dimaknai sebagai warning, bahwa dalam kritik juga harus relevan dan santun, kebebasan berpendapat tetap terjamin namun juga harus ada rasa tanggung jawab, itu makna dibalik pidato presiden kemarin yang menghebohkan media sosial ditanah air hingga Manca Negara.

    Setiap bangsa memiliki cara untuk membaca dirinya sendiri. Dalam tradisi filosofi  Jawa, salah satu alat baca itu adalah Serat Darmo Gandul dan Gatoloco—dua simbol yang bukan sekadar cerita, melainkan pisau analisis untuk membedah watak kekuasaan, moralitas, dan keberpihakan pada saat kolonial .

    Di masa lalu, Darmo Gandul adalah sindiran halus terhadap elite yang tampak luhur, berbicara atas nama nilai, tetapi hidup “menggantung”—bergantung pada kekuasaan kolonial. Mereka tidak terlihat sebagai penjajah, tetapi justru menjadi jembatan yang menghubungkan penjajah dengan rakyat yang dijajah itu mungkin makna dari pada “Silahkan kalau pergi ke Yaman”.

    Sementara Gatoloco adalah antitesisnya: liar, kasar, tidak santun, tetapi jujur dan tidak mau tunduk pada kepentingan luar. Hari ini, konfigurasi itu tidak hilang. Ia hanya berganti wajah.

    Jika dahulu yang dikritik adalah elite agama dan birokrat kolonial, maka hari ini pola yang sama dapat dibaca dalam sebagian praktik aktivisme modern. Ada kelompok yang tampil dengan narasi moral tinggi—hak asasi manusia, keadilan, demokrasi bahkan dibungkus dengan Agama dan nazab keturunan yang kerap memandang rendah kaum pribumi —namun dalam praktiknya, sering kali menimbulkan pertanyaan: kepada siapa mereka sebenarnya berpihak?

    Fenomena ini menjadi semakin terlihat dalam kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. Sejak awal, kasus ini tidak hanya menjadi persoalan hukum, tetapi juga arena pertarungan narasi dan Framing

    Sejumlah aktivis dan lembaga swadaya masyarakat tampil  sangat vokal, bahkan cenderung membela secara total tanpa memberi ruang pada proses pembuktian yang utuh di pengadilan militer.

    Yang menarik bukan sekadar sikap membela—karena advokasi memang bagian dari demokrasi—melainkan pola yang muncul: narasi dibangun lebih dulu, kesimpulan ditarik lebih cepat daripada fakta, dan opini publik digiring sebelum proses hukum selesai. Ini menggambarkan Darmo Gandul pada masa kini .

    Di titik ini, pertanyaan menjadi relevan: apakah ini murni dorongan keadilan, atau ada sesuatu skenario  yang lebih besar di baliknya?

    Dalam kerangka Darmo Gandul, pola semacam ini bisa dibaca sebagai bentuk ketergantungan baru. Bukan lagi kepada kekuasaan kolonial secara langsung, tetapi pada ekosistem global yang membentuk arah wacana. Aktivisme tidak lagi sepenuhnya organik, melainkan berpotensi menjadi bagian dari jaringan yang lebih luas—yang memiliki agenda, kepentingan, dan arah tertentu secara global, atau penjajahan gaya baru, dengan menggiring opini seperti Indonesia tidak akan merda tanpa golongan ras tertentu , yang dibungkus keturunan Nazab, yang dianggap lebih unggul. Dan ini sejarah pernah tertulis soal gerakan Ras di Eropa sebelum meletus perang dunia kedua.

    Kecurigaan publik terhadap kemungkinan adanya keterkaitan dengan pendanaan asing pun bukan tanpa alasan, meskipun tentu membutuhkan pembuktian yang jelas. Dalam geopolitik modern, bantuan dan pendanaan sering kali tidak berdiri di ruang hampa. Ia membawa nilai, perspektif, bahkan kepentingan. Ketika sebuah gerakan terlalu konsisten selaras dengan narasi global tertentu, tetapi kurang sensitif terhadap konteks lokal, maka wajar jika publik mulai mempertanyakan independensinya pada kelompok yang di golongkan Darmo Gandul tadi.

    Di sinilah Gatoloco menjadi relevan kembali. Dalam konteks hari ini, “Gatoloco” bukan berarti sosok yang serampangan atau tanpa etika, tetapi representasi dari keberanian untuk berpikir mandiri. Ia mungkin tidak populer, tidak dibungkus dengan jargon internasional, bahkan bisa dianggap “tidak progresif”, tetapi ia berdiri tanpa bergantung. Benar benar jujur demi kebaikan Bangsa nya  tidak punya kepentingan .

    Sebaliknya, “Darmo Gandul” gaya baru justru tampil rapi, sistematis, dan terdengar benar. Ia menguasai bahasa global, memahami cara membangun opini, dan mampu memanfaatkan momentum isu. Namun satu hal yang menjadi pembeda tetap sama seperti dulu: apakah ia berdiri sendiri, atau menggantung pada kekuatan lain demi kepentingan kekuasaan?

    Maka kita harus menengok ke belakang dalam sejarah bangsa dimana Pelajaran yang diwariskan oleh R.M.P. Sosrokartono kepada Soekarno bukanlah sekadar strategi politik, melainkan kemampuan membaca manusia dan kepentingan di baliknya. Ia mengajarkan bahwa dalam perang pikiran, yang paling berbahaya bukan musuh yang terlihat, tetapi pengaruh yang menyamar sebagai kebaikan.

    Serat Darmo Gandul dan Gatoloco itu senjata kritik paling Sun Tzu dari Sosrokartono. Tidak  frontal, nggak bisa ditangkap Belanda, tapi nusuk ke ulu hati kaum agama dan pemimpin pribumi yang jadi “jongos” penjajah saat itu di era pra kemerdekaan , bedah lengkap nya :

     

    1. Asal-usul: Serat Darmo Gandul dan  Gatoloco

     

    1. Bukan karangan Sosrokartono, tapi dipopulerkan dia

    Serat Darmo Gandul naskah anonim abad 19, Gatoloco tokohnya. Isinya sindiran buat raja Jawa & ulama yang kolaborasi sama Belanda.

    Sosrokartono tahun 1920-an yang hidupin lagi naskah ini di Bandung. Dia pakai buat ngajar murid-muridnya, termasuk Soekarno, buat bedah karakter pemimpin & agama.

     

    1. Kenapa pakai serat?

    Ini don’t lie, but don’t tell the truth. Kalau Sosrokartono teriak “ulama ini antek Belanda”, besok ditangkap. Tapi kalau bahas “Gatoloco”, semua paham tapi Belanda bingung. Perang pikiran lewat wayang.

     

    1. Isi Kritik Darmo Gandul vs Gatoloco

    *Tokoh*  *Makna Sosrokartono*  *Kritik ke Kaum Agama & Pemimpin Zaman Itu*

    *Darmo Gandul*     Pemimpin/Politik maupun agamawan  yang ngaku suci, ngaku luhur, tapi hidupnya *gandul = numpang* ke kekuasaan asing. Dalilnya dipakai buat legitimasi penjajah. Ulama & Bupati yang fatwanya pro-Belanda*: “Taat sama Gubermen itu bagian dari iman”. Padahal dibayar. Jual agama buat jabatan. Ini yang ditakutin Kartini: perempuan disuruh nerima pingitan atas nama agama, padahal itu pesanan feodal.

    Gatoloco  Tokoh ugal-ugalan, omongannya kasar, kelakuannya nyleneh, tapi jujur ke rakyat & nggak mau didikte asing.Sindiran ke pemimpin yang “nggak alim” tapi berani*: Samin Surosentiko, petani-petani yang nolak bayar pajak ke Belanda. Walau dicap “kafir” sama Darmo Gandul, Gatoloco justru bela rakyat.

    Kalimat kunci Sosrokartono ke Soekarno:

    “Zaman edan pilihannya cuma dua: jadi Darmo Gandul atau jadi Gatoloco. Tapi pemimpin sejati harus bikin jalan ketiga: ambil jujurnya Gatoloco, ambil wibawanya Darmo, buang numpang & ugal-ugalannya.”

    Jalan ketiga itu yang dipakai Soekarno: Satyam Eva Jayate — pakai sarung & peci kayak santri, tapi pidatonya bakar London.

     

    1. Relevansi Sebelum Merdeka & Sekarang

     

    1. Sebelum 1945

    Darmo Gandul = kaum yang bilang “jangan lawan Belanda, nggak kuat, nanti kualat”.

    Gatoloco = kaum menengah yang diam  yang kerap dicap nggak beragama karena rata rata kaum terdidik ”.

    Sosrokartono bongkar: yang teriak agama dan bela rakyat belum tentu bela rakyat. Yang dicap nakal belum tentu salah. Ukurannya satu: memihak ke asing atau ke bangsa sendiri? Ini  politik tingkat tinggi.

     

    1. Tahun 2026

    Darmo Gandul gaya baru = tokoh/tokoh politik /influencer yang pakai dalil & nasionalisme, tapi endorse-nya produk luar, FYP-nya disetir asing, ngamuk kalau impor dibatasi. Sugih banda, kere pikiran.

    Gatoloco gaya baru = yang dicap “radikal/nyinyir” karena bela kebenaran aturan hukum, padahal datanya bener & nggak mau duit asing.

    Perang pikiran Bapak: kalau rakyat nggak ngerti bedanya, kita milih Darmo Gandul terus. Kelihatan alim, selalu teriak Bela Rakyat  padahal gandul.

     

    1. Kenapa Ini “Terang” ala Sosrokartono

     

    Habis Gelap Terbitlah Terang = gelapnya pikiran karena nggak bisa bedain mana Aktifis  beneran, mana Aktifis  gandul.

    Sosrokartono kasih senter: lihat jejak uang dan keberpihakannya, jangan dengar sorbannya.

    Itu imunitas pikiran yang bapak tulis. Emansipasi Kartini gagal kalau perempuannya nurut sama Darmo Gandul. Kemerdekaan Soekarno gagal kalau rakyatnya milih pemimpin gandul.

    Jadi kritik Darmo Gandul-Gatoloco itu pondasi karakter bangsa dimana Sosro Kartono adalah peletak dasar Membangun Karakter Anak Bangsa.

    Dalam konteks ini, aktivisme yang kehilangan pijakan pada realitas objektif justru berisiko menjadi alat, bukan kekuatan. Ketika advokasi berubah menjadi pembelaan tanpa kritik, ketika empati berubah menjadi alat tekanan, dan ketika narasi lebih cepat daripada fakta, maka yang terjadi bukan lagi pencarian keadilan, melainkan pembentukan persepsi.

    Kartini berbicara tentang terang—tentang keluar dari kegelapan pikiran. Namun terang itu tidak datang dari suara yang paling keras, melainkan dari kejernihan dalam membedakan. Membedakan antara perjuangan dan kepentingan, antara keberpihakan dan ketergantungan, antara Pelajaran penting dari Kartini dan Sosrokartono bukan sekadar tentang emansipasi atau kecerdasan intelektual, tetapi tentang keberpihakan yang jernih.

    Kartini melawan ketidakadilan dengan pikiran yang merdeka, sementara Sosrokartono memastikan bahwa perjuangan itu tidak mudah dipatahkan oleh kekuatan yang lebih besar. Ia mengajarkan bahwa dalam membaca realitas, yang harus dilihat bukan hanya kata-kata, tetapi juga arah kepentingan di baliknya. Siapa membiayai, siapa diuntungkan, dan ke mana narasi itu digiring.

    “Habis Gelap Terbitlah Terang” dalam konteks hari ini bukan lagi sekadar metafora pencerahan, melainkan kemampuan untuk membedakan mana aktivisme yang lahir dari nurani dan mana yang tumbuh dari ketergantungan. Terang itu bukan datang dari suara paling keras, tetapi dari kejernihan dalam melihat struktur di balik suara tersebut. Jika publik gagal membedakan keduanya, maka kita hanya berpindah dari satu bentuk ketergantungan ke bentuk lainnya—dari penjajahan fisik menuju penjajahan pikiran.

     

    Yang suara rakyat dan gema dari luar

    Hari ini, tantangan terbesar bukan kekurangan aktivis, melainkan kejelasan arah aktivisme itu sendiri. Apakah ia benar-benar lahir dari kebutuhan rakyat, atau justru menjadi bagian dari arus global yang lebih besar?

    Darmo Gandul tidak pernah memberi jawaban hitam-putih. Ia hanya memberi alat: lihat siapa yang diuntungkan, lihat ke mana arah gerakan, dan lihat apakah ia berdiri tegak atau menggantung. Di situlah publik diuji.

    Karena dalam dunia yang penuh narasi, kebenaran tidak selalu datang dengan suara paling lantang-tetapi sering kali bersembunyi di balik kesunyian, seperti yang diajarkan Sosrokartono.

     

    ————————-

    Penulis adalah pemerhati sosial budaya dan sejarah bangsa

  • Gerakan Buruh, “May Day”, dan Ujian Kedewasaan Kolektif di Tengah Krisis Global

    Gerakan Buruh, “May Day”, dan Ujian Kedewasaan Kolektif di Tengah Krisis Global

    Oleh Agus Widjajanto

     

    Setiap peringatan Hari Buruh Internasional seharusnya tidak hanya menjadi panggung artikulasi tuntutan, tetapi juga cermin kedewasaan kolektif: sejauh mana buruh, serikat pekerja , dan pengusaha mampu membaca situasi zaman dan bertindak dengan kebijaksanaan.

    Kita sekarang sedang hidup dalam fase dunia yang sulit dan tidak stabil—ketegangan geopolitik dan Geo Strategis , perang proxi, gangguan rantai pasok, serta volatilitas harga energi dan pangan. Banyak industri bekerja di bawah tekanan margin yang menipis. Dalam lanskap seperti ini, setiap keputusan—baik oleh buruh maupun pengusaha—memiliki konsekuensi berantai. Tuntutan yang melampaui kapasitas riil perusahaan bukan hanya berisiko ditolak, tetapi juga berpotensi mempercepat penutupan usaha.

    Di sinilah pentingnya menggeser cara pandang: dari sekadar “berapa yang harus didapat” menjadi “bagaimana agar semua bisa tetap berjalan dan meningkat secara bertahap.sesuai keadaan ” Ini bukan ajakan untuk menyerah, melainkan strategi bertahan dan bertumbuh bersama dalam negara Pancasila, Bukan negara Liberal maupun negara Sosialis.

    Ajaran Bapak Bangsa Peletak Pembangun karakter Bangsa , KRM Sosrokartono,  memberi tiga pilar etika yang bisa menjadi kompas ( petunjuk rrah ) dalam laku berbangsa  kepada kita bersama :

    Pertama : Sugih tanpo bondo — kaya tanpa harta.

    Buruh yang kuat bukan hanya yang memperoleh kenaikan upah, tetapi yang memiliki kelapangan nalar untuk menimbang kondisi perusahaan, sektor, dan ekonomi makro. Kekayaan di sini adalah kemampuan membaca data, memahami laporan keuangan sederhana, dan menyadari bahwa keberlanjutan usaha adalah prasyarat kesejahteraan jangka panjang.

    Kedua: Menang tanpo ngasorake — menang tanpa merendahkan.

    Perjuangan yang efektif tidak memosisikan pengusaha sebagai musuh yang harus dikalahkan, melainkan mitra yang harus diajak naik bersama. Menang bukan berarti memaksa pihak lain terpojok, melainkan mencapai kesepakatan yang adil dan bisa dijalankan. Kemenangan yang membuat perusahaan limbung bukan kemenangan—itu awal dari kekalahan bersama.

    Ketiga: Ngeluruk tanpo bolo — bergerak tanpa gegap gempita yang membutakan akal.

    Aksi tetap sah. Namun aksi yang baik adalah yang berbasis data, target jelas, dan strategi bertahap: mulai dari dialog bipartit, mediasi, hingga advokasi publik jika diperlukan. Aksi yang emosional, tanpa perhitungan dampak, sering kali justru melemahkan posisi tawar karena mengabaikan fakta paling penting: daya tahan perusahaan.

    Bayangkan skenario yang kerap terjadi: permintaan global turun, biaya bahan baku naik, dan kurs berfluktuasi. Di saat yang sama, tuntutan kenaikan upah diajukan tinggi dan serentak. Perusahaan yang tidak mampu menyerap kenaikan biaya akan melakukan apa? Mengurangi tenaga kerja, mengurangi jam kerja, atau menutup lini produksi. Pada titik ini, tuntutan yang dimaksudkan untuk memperbaiki kesejahteraan justru menggerus kesempatan kerja.

    Pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur: lebih baik kenaikan tinggi namun berisiko PHK massal, atau kenaikan bertahap yang menjaga keberlangsungan kerja? Kebijaksanaan tidak selalu terasa heroik, tetapi sering kali lebih menyelamatkan.

    Namun, keadilan tidak boleh berat sebelah. Pengusaha juga wajib berbenah. Kisah seorang direktur bank yang turun ke cabang dan justru “dimarahi” teller yang menyatakan kamu bilang bos mu, kami harus nahan kencing dan nahan lapar karena waktu istirahat nasabah tetap berjejer yang tidak mungkin kami tinggalkan , menjadi pelajaran penting. Teller itu menanggung beban melayani ratusan nasabah per hari, sampai harus menahan lapar dan kebutuhan dasar. Respons sang direktur—tidak marah, justru mengakui kesalahan sistem dan memperbaiki manajemen antrean—adalah teladan nyata.

    Di sini berlaku prinsip yang sama: memanusiakan manusia. Buruh bukan mesin. Penataan shift, waktu istirahat, target layanan, hingga jumlah personel harus selaras dengan kapasitas biologis dan psikologis manusia. Perbaikan sistem sering kali lebih berdampak daripada sekadar menaikkan angka upah tanpa mengubah beban kerja.

    Karena itu, jalan tengah yang rasional perlu dibangun:

    Transparansi bertahap: perusahaan membuka indikator kinerja utama (tanpa membocorkan rahasia dagang) agar buruh memahami ruang fiskal yang ada.

    Skema kenaikan adaptif: kenaikan upah dikaitkan dengan produktivitas dan kinerja sektor—naik saat mampu, tertahan saat berat, dengan komitmen jelas.

    Perbaikan kondisi kerja: pengaturan beban, keselamatan, dan waktu istirahat sebagai prioritas setara dengan upah.

    Dialog berjenjang: dari bipartit hingga mediasi, dengan tenggat dan target yang disepakati.

    Pendidikan serikat: memperkuat literasi ekonomi agar tuntutan tajam, relevan, dan bisa dieksekusi.

    Dengan kerangka ini, peringatan “May Day” tidak kehilangan ruh perjuangannya. Ia justru naik kelas—dari sekadar mobilisasi massa menjadi arsitektur solusi.

    Akhirnya, membangun bangsa tidak hanya melalui regulasi, tetapi melalui karakter dalam relasi kerja. Buruh yang bijak dalam menuntut dan pengusaha yang adil dalam mengelola adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Jika salah satu sisi retak, mata uang itu kehilangan nilai.

    Sosrokartono mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu ditunjukkan dengan kerasnya suara, tetapi dengan jernihnya akal dan lapangnya hati. Di tengah dunia yang tidak pasti, itulah fondasi yang membuat kita tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh—tanpa harus saling menjatuhkan. Jangan mau dipolitisir dan digiring  untuk kepentingan politik praktis sesaat, kita punya keluarga yang harus dihidupi , harus terjadi keseimbagan baik makro kosmos maupun mikro kosmos , sebagai hamba Tuhan, sekaligus warga negara yang bertanggung jawab dalam masyarakat bagi bangsa dan negaranya. Gerakan tanggung jawab moral berbangsa tidak ada salah nya justru dimulai dari kaki (bawah) ke atas hingga kepala (pemimpin) karena tingkat kesadaran kolektif sejarah menulis  kerap  terjadi justru  dimulai dari  bawah (akar rumput).

     

    ———————–

    Penulis adalah pemerhati masalah sosial politik

     

  • Syed Abdul Rahim di Asian Games 1962 Jakarta dalam Film Maidaan

    Syed Abdul Rahim di Asian Games 1962 Jakarta dalam Film Maidaan

     Oleh Yohanes Maria Prayoga Pangestu, Mahasiswa S1 Sejarah Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta; Sejarawan Mentah

     

     

    Hingga Kini, Syed Abdul Rahim dikenang Sebagai Bapak Sepak Bola Modern India

    Film Maidaan (2024) oleh Amit Sharma adalah film biografi bertemakan olahraga yang mengangkat kisah nyata dari Syed Abdul Rahim, pelatih legendaris sepak bola tim nasional India. Maidaan mengambil latar waktu antara tahun 1952 hingga 1962, dikenal sebagai periode keemasan sepak bola India.

    Alur cerita berfokus pada tokoh utama Syed Abdul Rahim, diperankan oleh Ajay Devgn, yang berjasa besar menempatkan The Blue Tigers dalam peta sepak bola dunia. Film ini menyorot keikutsertaan tim sepak bola India dalam kompetisi internasional, diantaranya Olimpiade 1960 Roma dan Asian Games 1962 Jakarta.

    Dalam tugasnya menangani tim nasional, Abdul Rahim menghadapi berbagai rintangan silih berganti. Mulai dari tekanan politik internal dalam asosiasi sepak bola India (IAFF) hingga masalah kesehatan pribadinya. Berbicara soal masalah kesehatan, Abdul Rahim mengidap kanker paru-paru sebagai efek samping dari kebiasaan menghisap puntung rokok dan kurangnya waktu istirahat.

    Ranah Bollywood menawarkan genre baru dalam industri perfilman mereka, yakni olahraga. Meskipun produk Bollywood, Maidaan mematahkan stereotip bahwa film sejarah India kental dengan adegan tari-tarian dan percintaan kedua sejoli. Maidaan lebih berfokus sepenuhnya pada imajinasi sejarah daripada sisi komersial, menitikberatkan kisah pengorbanan sang juru latih yang memberikan sisa nafasnya bagi kemajuan sepak bola negaranya.

     

     Mode Emplotment Dominan

    Sejarawan Hayden White dalam karyanya Metahistory (1973) memperkenalkan istilah emplotmen (emplotment), yakni proses memasukkan peristiwa kedalam struktur cerita sejarah. Dalam menjelaskan istilah emplotmen, Hayden meminjam tipologi Northrop Fyre, antara lain Romansa, tragedi, komedi, dan satir. Melalui tipologi ini, Hayden menyatakan bahwasannya dalam proses penafsiran sejarah cenderung mengikuti pola-pola imajinasi dalam dunia sastra.

    Mode emplotmen dominan yang digunakan dalam film Maidaan adalah romansa. Amit Sharma menampilkan karakter Syed Abdul Rahim sebagai sosok yang stoikisme. Stoikisme Abdul Rahim disini dilukiskan sebagai orang yang sangat hemat bicara di depan publik.

    Ia lebih banyak mengamati melalui asap rokok yang dihisapnya. Tak peduli batang rokok dihisap membawa ia dekat dengan tangga kematian. Baginya, hisapan rokok adalah teman yang membawa ketenangan jiwa di tengah kesibukannya sebagai pelatih sepak bola.

    Di mata para pemain, Syed Abdul Rahim tidak hanya dikenal sebagai seorang pelatih. Hubungan Rahim dengan para pemain layaknya ayah dan anak secara biologis (paternalistic). Ia cenderung melindungi anak asuhnya dari tekanan pihak media, sehingga para pemain rela ‘mati’ di lapangan demi pelatihnya.

    Kontingen tim sepak bola India sebenarnya sempat terancam tidak diberangkatkan ke Asian Games 1962 Jakarta karena masalah sokongan dana. Mengatasi hal tidak diinginkan, Abdul Rahim turun tangan membujuk kementerian keuangan negara dibawah Jawaharlal Nehru untuk memberangkatkan timnya. Bujukan sang pelatih berhasil, tim India berangkat dengan terpaksa mencoret satu nama di skuad India. Nama itu adalah Shahid Hakim, putra dari sang pelatih.

     

    Sisi Romansa: Mengubah Teror di Jakarta Menjadi Medali Kemenangan

    Pernyataan keras Guru Dutt Sondhi, tokoh olahraga India, mengenai isu politik dicampuradukkan kedalam pesta olahraga sebesar Asian Games 1962 memicu kemarahan lapisan masyarakat Indonesia. Publik yang tersulut melampiaskan emosinya kepada para atlet India yang masih tinggal di Indonesia. Timnas sepak bola India sukses melenggang ke final Asian Games 1962 tak luput dari bidikan.

    Bus kontingen India menuju stadion Gelora Bung Karno dilempari batu dan dicemooh di sepanjang jalan. Puncaknya adalah sorakan kebencian dari puluhan ribu penonton di GBK. Publik lebih menjagokan lawannya India di final, Korea Selatan. Alih-alih menyerah, Abdul Rahim menggunakan “teror” di GBK sebagai bahan bakar untuk memotivasi para pemainnya.

    Menurut saya, sisi romansa yang sebenarnya ditampilkan dalam Maidaan adalah fakta dimana kondisi kesehatan sang pelatih semakin payah. Abdul Rahim mengawal timnya sambil menahan sakit dada yang luar biasa akibat kanker paru-paru. Di Jakarta, penonton bisa melihat seorang bapak-bapak India secara rutin batuk berdarah di pinggir lapangan. Namun tetap berusaha berdiri tegak dan berteriak memberi arahan kepada pemainnya.

    Tim India pada akhirnya berhasil memenangkan pertandingan atas Korea Selatan dengan skor akhir 2-1. Kemenangan atas Korsel membawa India meraih medali emas di cabor sepak bola.  Faktanya, raihan medali emas di Asian Games 1962 ini merupakan prestasi tertinggi sepak bola India hingga sekarang.

     

    Ket. Foto: Syed Abdul Rahim bersama Tim India yang memenangkan medali emas sepak bola di Asian Games 1962 (Sumber Dok. StarsUnfolded)

     

    Romansa Syed Abdul Rahim, Sebuah Kesimpulan

    Sisi Romansa yang dipersembahkan Abdul Rahim kepada negaranya telah meremukkan tubuhnya secara total. Tetapi semangatnya di pinggir lapangan tetap utuh hingga peluit akhir pertandingan. Sayangnya tak lama setelah kesuksesan di Jakarta, Syed Abdul Rahim meninggal dunia pada 11 Juni 1963 setelah berjuang melawan kanker yang dideritanya.

    Menonton film sejarah membutuhkan kedewasaan dalam membedakan kebenaran puitis dan kebenaran historis. Film sejarah yang diproduksi oleh suatu negara cenderung memiliki bias nasionalisme. Pernyataan Guru Dott Sondhi memang memicu demonstrasi besar di Jakarta.

    Namun, penonton harus menyadari bahwa aksi publik Indonesia digambarkan sebagai perbuatan anarki yang harus ditaklukkan oleh sang pahlawan, dalam ini Syed Abdul Rahim. Penggambaran ini membuat motif dari aksi protes masyarakat Indonesia terkesan hitam-putih.

    Dalam film Maidaan, teror verbal di GBK dimunculkan sebagai adegan tambahan yang menggugah emosional penonton. Film Maidaan mengemasnya dengan tujuan utama menonjolkan sisi heroik Abdul Rahim dan tim India. Penonton yang kritis menjadikan film sebagai pintu masuk untuk membaca literatur sejarah.

  • Jejak Peninggalan Kolonial Hindia Belanda dalam Hal Transportasi Kereta Api di Daerah Bogor pada Abad-19

    Jejak Peninggalan Kolonial Hindia Belanda dalam Hal Transportasi Kereta Api di Daerah Bogor pada Abad-19

     

    Oleh Albertus Mario Valerian Odje, Mahasiswa Prodi Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma- Yogyakarta

     

    Kopi merupakan jenis tanaman yang laku di pasaran Eropa. Kopi yang pernah diujicoba ditanam di Batavia dan Karawang hasilnya kurang memuaskan dibandingkan dengan kopi yang ditanam di dataran Sukabumi. Selain kopi, tanaman yang laku di pasaran Eropa adalah teh,kapas, dan nila. Dengan produk hasil bumi yang melimpah danlaku di pasaran Eropa tersebut belum didukung adanya sarana transportasi yang mamadai, pasalnya jenis transportasi yang ada masih menggunakan hewan beban, dan sarana jalan yang ada masih jalan setapak. Dari permasalahan tersebut, para pemilik perkebunan memikirkan adanya jenis transportasi kereta api yang dapat mengangkut hasil bumi dari gudang penyimpanan ke pelabuhan.

    Pada akhir tahun 1799 sebuah perusahaan terbesar yang bernama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang dari negeri belanda datang ke nusantara untuk mencari rempah rempah dibubarkan dan daerah yang kekuasaannya diberikan kepada pemerintah belanda untuk dikelola. Maka dari itu sejak tahun 1800 bekas jajahan VOC di Indonesia di perintah oleh Gupernemen Hindia belanda atau bahasa lainya gouvernement van nedelandschindie. Pada saat itu seluruh beban hutang yang ditinggal oleh VOC,yang juga diambil alih pada waktu itu berjumlah 134 juta gulden. Pada akhir abad ke 18 itu beban rakyat di pulau jawa sudah terlalu berat dan rupanya di anggap sudah terlalu berat dan kelihatannya telah mencapai batas yang telah ditentukan. Bermacam-macam desakan akan barang dan jasa oleh VOC,para pegawainya,para raja, para bupati dan orang-orang cina terus mengalami peningkatan. VOC juga mengalami kerugian yang jumlah nya tidak sedikit, karena penyerahan penyerahan oleh penduduk setempat terhadap pihak lain. Penghasilan-penghasilan yang di dapat oleh para pegawainya secara tidak resmi dalam yang besar sangat merugikan VOC. Penghasilan gelap para pegawainya itu merupakan salah satu alasan mengapa VOC bisa bubar.

    Setelah VOC bubar  masuklah sebuah sistem pemerintah kolonial yang dimana di daerah jajahan belanda mulai menciptakan negara baru yang disebut hindia belanda. Belanda mulai membangun berbagai macam infrastruktur seperti dibuatnya sebuah jalur kereta api. Pada awalnya yang membangun jalur perkeretapian pertama kali ialah sebuah perusahaan swasta yaitu NISM (Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij).  NISM berdiri pada tahun 27 Agustus 1862 di semarang. NISM berfokus pada bidang logistik yaitu pengangkutan rempah-rempah

     

    Kantor Pusat NISM di Semarang Tahun 1909

    sumber: https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/806575?solr_nav%5Bid%5D=a62c32185cff44e78ea1&solr_nav%5Bpage%5D=0&solr_nav%5Boffset%5D=1

     

    Setelah 80 tahun berdiri munculah sebuah perusahaan milik pemerintah kolonial hindia belanda yaitu SS (Staatsspoorwegen) yang berpusat di bandung. Perusahaan SS sendiri berfungsi untuk membawa para pegawai kolonial dan membantu militer untuk memindahkan tentara dan perlengakapan persenjataan bagi pemerintah hindia belanda.

    Setelah sekian lama Indonesia berada dalam pemerintahan hindia belanda dan pada akhirnya Indonesia memprolamasikan merdeka dan bebas dari penjajah menjadi babak baru bagi Indonesia untuk mencari bagaimana negara Indonesia bisa memanfaatkan peninggalan belanda seperti jalur kereta api. Ada beberapa stasiun kereta api yang masih tersisa sampai hari ini. Bukan hanya stasiun tetapi kantor juga masih berdiri dan menjadi cagar budaya dan bisa di pergunakan bagi masyarakat indonesia. Contohnya seperti bangunan stasiun di daerah bogor yang pada awalnya sebuah kantor cabang SS.

     

    Bangunan Stasiun Bogor Saat Ini

    Sumber: RRI/ https://rri.co.id/bogor/berita-foto/3840/stasiun-bogor-lebih-dari-sekadar-stasiun-kereta-api

     

    Bangunan kantor Staatsspoorwegen tahun 1881

    sumber: KITLV-ledien university libraries/ http://hdl.handle.net/1887.1/item:783151