Author: Redaksi

  • A n g i n     T i m u r

    A n g i n T i m u r

    A n g i n     T i m u r
                                     buat Ignas Kleden

     

     

    Oleh Eto Kwuta

     

    Dari Larantuka, angin perlahan berhembus
    Berziarah menuju singgahsana Eropa
    Lalu, kembali ke Indonesia dan memilih:
    “Dari Jakarta, kepalaku berangkat menuju kepalamu.”

     

    Oh, betapa kamu di ibu kota
    Kepalamu berlayar kembali ke timur
    Menyinggung kepala-kepala kami
    Lalu sabda pun menjelma daging

     

    Kau, angin timur merdu menghembus
    Menembus lekuk-lekuk ziarah
    Dengan matahari mendidih di kepala
    Sementara kami berkaca pada cuaca

     

    Ah, betapa jauh berumah di tanah orang
    Di kampung, masih ada desau berhembus
    Menghembus namamu kepada cakrawala
    Menyimpan angin pada daging, menjelma puisi

     

    Sumber:  dari Buku Antologi Puisi Penyair NTT 2016, Penerbit Kandil Semesta

     

  • Kepemimpinan Politik Maritim

    Kepemimpinan Politik Maritim

    Ignas Kleden, Sosiolog

                                                                                                                           

    SEBELUM resmi menjadi presiden, Jokowi sudah melakukan kampanye tentang perlunya Indonesia melakukan reorientasi dari darat ke laut, dari kebiasaan memperlakukan negeri ini sebagai negara kontinental ke pengertian yang lebih realistis bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang terdiri atas lautan luas dengan selingan pulau-pulau. Pada pidato pelantikannya sebagai Presiden Republik Indonesia, dia menegaskan kembali bahwa sudah terlalu lama kita membelakangi laut, teluk, dan selat, tetapi sejak sekarang laut, teluk, dan selat akan menjadi masa depan Indonesia.

    Sebagai contoh soal, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan bahwa  potensi ekonomi sektor kelautan  bisa mengganti penerimaan dari sektor minyak dan gas bumi. Pendapatan dari sektor laut bisa mencapai 18,7 miliar dollar AS per tahun atau sekitar Rp 200 triliun. Ini dikatakannya berdasarkan pengalamannya di Pangandaran yang bisa mengekspor 20-30 juta dollar AS per tahun meskipun garis pantainya hanya sepanjang  91 kilometer, sementara garis pantai Indonesia panjangnya 85.000 kilometer. (Koran Tempo, 9/11/2014)

    Reorientasi ini akan membawa serta perubahan radikal dalam berbagai sektor. Akan terjadi pergeseran pusat perhatian dari pertanian dan peternakan ke perikanan, dari kehutanan ke kelautan, dari perhubungan darat ke perhubungan laut, dari pariwisata darat ke pariwisata laut, dari produksi darat ke produksi laut, dari pertahanan dan keamanan darat ke pertahanan dan keamanan laut, dari dimensi ketinggian gunung ke dimensi kedalaman laut, dari keindahan sawah dan nyiur melambai ke estetika kaki langit, dan dari cara memandang laut dari daratan ke cara memandang daratan dari laut. Di antara semuanya, satu hal lain akan mengalami pergeseran juga, yaitu dari budaya politik dan kepemimpinan politik berlandaskan pertanian ke budaya politik dan kepemimpinan politik maritim.

    Kita tahu, feodalisme adalah susunan masyarakat yang berlandaskan kepemilikan atau akses kepada feud atau sebidang tanah. Seorang raja atau kaisar menuntut pelayanan berupa upeti dan perlindungan militer dari bawahannya yang dinamakan vasal dan sebagai kompensasi memberikan  sebidang tanah sebagai daerah kekuasaan vasal itu. Pengaturan hubungan di antara raja dan vasalnya tidak selalu sama dan dapat terlihat perbedaannya di Eropa, India, Turki, atau Jepang.

    Seorang vasal biasanya menguasai sebidang tanah (feud) sebagai daerah kekuasaannya yang diberikan oleh raja atau kaisar dan sebagai imbalannya dia harus membayar upeti dan memberikan pelayanan militer. Dia berfungsi sekaligus sebagai penguasa teritorial dan komandan militer bagi raja. Pelayanannya memberikan dia status kehormatan sebagai bangsawan sekalipun hal ini tidak selalu terjadi. Persoalan timbul kalau fungsi penguasa teritorial dan komandan militer ini terpisah. Ini terjadi dalam feodalisme Jerman ketika raja mengangkat seorang Graf (atau count dalam bahasa Inggris) sebagai gubernur distrik dan seorang Herzog (atau duke) sebagai komandan militer.

    Ketegangan juga terjadi antara Graf  sebagai penguasa teritorial dan baron sebagai kelompok bangsawan dengan garis aristokrasi yang jelas. Dalam feodalisme Jepang ketegangan muncul di antara daimyo sebagai penguasa teritorial di bawah kaisar dan samurai sebagai satuan dengan keahlian militer.

    Di Indonesia, selama masa penjajahan Belanda, diberlakukan sistem pemerintah indirect  rule atau pemerintahan tak langsung. Dalam sistem ini pemerintah kolonial tidak memerintah penduduk koloninya secara langsung, tetapi memerintah rakyat di suatu daerah melalui bangsawan daerah itu—pangeran, adipati, atau tumenggung—yang mempunyai legitimasi secara tradisional untuk memerintah rakyat di daerahnya. Dalam fungsi ini mereka diangkat sebagai bupati dalam kabupatennya, dan memerintah atas nama gubernur jenderal, sebagai vasal meskipun tidak mempunyai kekuatan militer sendiri untuk mendukung kekuasaannya.

    Ketegangan sering muncul di antara asisten-residen sebagai pejabat Belanda yang menguasai sebuah distrik dan bupati sebagai bangsawan setempat yang dipatuhi rakyatnya. Pengarang Max Havelaar dalam bukunya, Multatuli,  bercerita  bahwa dalam ketegangan antara asisten-residen dan bupati, Pemerintah Belanda cenderung memihak bupati karena asisten-residen bisa diganti dengan segera oleh seorang pejabat lain, tetapi bupati dengan kewibawaan dan legitimasinya tak dapat diganti begitu saja. Ini juga sebabnya, penghasilan seorang bupati jauh lebih tinggi daripada gaji seorang asisten-residen. Penghasilan bupati, menurut Max Havelaar, terdiri atas empat komponen, yaitu 1) gaji tetap bulanan, 2) jumlah tetap pembayaran bagi hak-hak mereka yang dibeli Pemerintah Belanda, 3) premi dari hasil produksi kabupaten berupa kopi, gula, indigo, kayu manis, dan lain-lain, 4) hak menggunakan tenaga dan harta benda rakyat kabupaten secara tak terbatas.

     

    Kepemimpinan kapitan perahu

    Dalam sistem pemerintahan tak langsung, semuanya diberi dari atas. Kekuasaan tumenggung atau adipati diterima dari gubernur jenderal dalam bentuk jabatan bupati, dengan kehidupan yang dijamin secara lebih dari cukup dan dengan kemewahan yang menjadi atribut statusnya. Kekuasaan bupati dengan sendirinya akan diturunkan ke anak laki-lakinya dan ketentuan ini dihormati oleh Pemerintah Belanda.

    Dapatlah dipahami mengapa kemerdekaan nasional Indonesia pada 1945 tak serta-merta menyingkirkan pola-pola pemerintahan tak langsung ini, yang telah berakar dan meresap ke dalam psikologi politik dan bawah sadar kebudayaan banyak komunitas di Indonesia. Kolonialisme sebagai akar-tunjang bagi batang pohon bernama negara kolonial, dan feodalisme sebagai akar-serabut yang tumbuh dari politik tradisional dan memperkuat tegaknya kolonialisme, masih tetap menyabot dari dalam tanah pohon baru bernama Republik Indonesia yang hanya berakar pada kehendak untuk merdeka.

    Suasana politik dan kebudayaan seperti ini jelas asing bagi kepemimpinan maritim yang oleh antropolog Prof Mattulada dinamakan kepemimpinan kapitan perahu. Seorang kapitan perahu hanya mungkin tumbuh dari bawah dan tak mungkin didrop dari atas. Dia harus terlebih dahulu mengumpulkan pengalamannya di atas perahu tentang teknik berlayar, membaca arah angin, dan melakukan navigasi dengan melihat bintang di langit, dan belajar bekerja sama dengan awak perahu dan akhirnya memimpin mereka.

    Kompetensi seorang kapitan perahu akan selalu transparan, sementara inkompetensinya tak dapat disembunyikan. Ujian akan diberikan oleh alam sendiri. Kalau dia hendak membawa perahunya dari Surabaya ke Banjarmasin, tetapi perahunya kemudian mendarat di Cilacap, maka dia akan langsung dicopot dari kepemimpinannya sebagai kapitan perahu. Seorang tidak bisa berpura-pura dengan kemampuannya, atau menciptakan citra seorang kapitan perahu, karena kebohongan akan tersingkap dalam waktu singkat.

    Pola pengambilan keputusan di atas perahu sangat berbeda dari pola kepemimpinan feodal. Keputusan harus diambil dengan sangat cepat dan harus dikoreksi dengan sama cepatnya kalau terbukti salah. Dalam menghadapi topan di laut, pemimpin perahu tidak bisa bermusyawarah dengan para awaknya  selama satu dua jam atau membentuk komisi-komisi untuk membahas perkembangan topan. Kalau ini dilakukan, sangat mungkin perahunya sudah tenggelam sebelum musyawarah dimulai. Dalam hal ini keselamatan perahu dan awaknya tergantung seluruhnya pada keputusan yang dibuat kapitan perahu dan ketegasannya dalam mendorong agar perintah-perintahnya dilaksanakan dengan cepat dan cermat. Jelas bahwa kewibawaannya muncul dari berbagai ketepatan perhitungannya dalam menghadapi bahaya di laut pada waktu-waktu sebelumnya, dan keyakinan awak perahu bahwa kapitan mereka tak akan membiarkan perintah-perintahnya diabaikan.

    Kalau perahunya ternyata karam juga, maka ada etos yang menetapkan bahwa sang kapitan harus bertahan sebagai orang terakhir di perahunya, sampai penumpang dan awak kapal sudah selamat atau mendapat pertolongan yang dibutuhkan. Seorang kapitan perahu bisa saja mengabaikan ketentuan ini dan menyelamatkan dirinya pada kesempatan pertama dengan meninggalkan penumpang dan awak kapal berjuang melawan arus dan gelombang. Kalau ini dilakukan, kepengecutan sang kapitan akan menjadi ejekan di kampung halamannya dan meninggalkan aib yang harus ditanggung anak-cucu dan kerabatnya selama beberapa turunan.

     

    Kendala egosentrisme

    Etos ini seakan menetapkan bahwa kapitan perahu adalah orang yang harus menyelamatkan orang lain dan bukan menyelamatkan dirinya sendiri. Ini kebajikan yang amat sulit karena egosentrisme  adalah pembawaan tiap orang sejak bayi hingga menjadi lansia. Egosentrisme adalah dorongan instingtif pada seseorang untuk melihat dirinya sebagai pusat dunia, entah pusat kepentingan berupa egoisme, atau pusat kemuliaan dan kehormatan berupa narsisisme.

    Rupanya para pelaut Indonesia sudah tahu sejak dulu kala bahwa egosentrisme akan membuat kapitan perahu mengabaikan tugasnya dan menyebabkan perahunya luluh lantak diterjang angin topan dan mengakibatkan awak dan penumpang perahu sia-sia menyabung nyawa melawan arus dan gelombang yang mengempas mereka. Karena itu, dalam etosnya kapitan perahu dituntut membuang egosentrismenya, dan memberi dirinya demi keselamatan orang lain, sekalipun dia sendiri harus menjadi korban tugas dan tanggung jawabnya.

    Tentu saja watak kapitan perahu sebagaimana dilukiskan dalam uraian ini lebih merupakan suatu ideal type atau tipe ideal  sebagaimana dimaksud oleh sosiolog Jerman, Max Weber. Dalam arti itu, tipe ideal adalah suatu konstruksi pikiran yang jarang terdapat dalam kenyataan sehari-hari, tetapi konstruksi ini bertujuan membangun gambaran tentang suatu tipe orang atau kelompok orang yang secara logis sempurna dalam semua cirinya yang terpenting. Tipe ideal bermanfaat bagi peneliti untuk melihat jarak dan perbedaan di antara kenyataan empiris yang ditelitinya, dan konstruksi logis yang sudah dibangun. Dalam istilah yang populer sekarang, tipe ideal dapat berfungsi sebagai referensi yang menjadi ukuran melalui perbandingan atau benchmark bagi kenyataan yang kita amati.

    Dalam arti itu, kapitan perahu yang satu bisa unggul dalam kompetensinya, tetapi tidak begitu besar nyalinya, sementara kapitan perahu yang lain amat tegas dalam mengambil keputusan, tetapi tak begitu gemilang kompetensinya.

    Tidak seorang manusia pun yang dapat unggul dalam semua kebajikan. Meski demikian, kapitan perahu sebagai pemimpin sudah menetapkan keutamaan apa saja yang membuat seorang anak manusia menjadi pemimpin di atas perahu. Tiga kebajikan yang harus ada padanya adalah kompetensi yang harus dibangun dari bawah dan membuatnya menjadi a man of competence. Kedua, kemampuan mengambil keputusan  dan membuat keputusannya terlaksana. Dia harus berdiri di atas perahunya sebagai a man of resolution. Ketiga, dia menyediakan diri sebagai tumbal kalau kecelakaan menimpa perahunya, dan berusaha dengan segala cara menyelamatkan para awak dan penumpang meskipun dia sendiri akan kehilangan nyawanya sendiri. Dia mendapat penghormatan sebagai a man of dignity.

    Membangun suatu politik dan ekonomi maritim akan terwujud dengan hasil yang maksimal apabila ditunjang oleh kepemimpinan politik maritim dengan kapitan perahu sebagai modelnya. Juga, kepemimpinan politik maritim  akan lambat laun membongkar akar-akar patrimonialisme yang memperlakukan negara dan warga negara  sebagai milik pribadi seorang kepala keluarga, dan membebaskan politik Indonesia dari feodalisme yang memandang negara sebagai lahan yang bisa dibagi-bagi kepada siapa pun yang mau mempersembahkan upeti.

    Laut adalah masa depan kita, Indonesia adalah perahu kita, dan pemimpin politik adalah kapitan perahu kita. ●

     

    —————————————————————

     

     Sumber Tulisan Kompas, 18 November 2014

     

     

  • Jokowi dan Gunung Jamurdipa

    Jokowi dan Gunung Jamurdipa

     Sindhunata 
    Tahun 2015 adalah 200 tahun meletusnya Gunung Tambora. Untuk mengenang kebesaran Tambora, beberapa saat lalu pemerintah mengadakan kegiatan berslogan “Tambora Menyapa Dunia”. Mendukung kegiatan itu, harian Kompas dan lembaga budayanya, Bentara Budaya Jakarta, mengadakan pameran, pergelaran, dan perbincangan bertajuk “Kuldesak Tambora”.

    Sementara di Bentara Budaya Yogyakarta diselenggarakan pameran foto Maha Pralaya untuk mengenangkan letusan dahsyat Gunung Merapi di zaman Mataram Hindu, lebih kurang 1.000 tahun lalu. Mengiringi pameran itu, diadakan merti atau selamatan gunung di Omah Petroek, Karang Klethak, Pakem, di mana dipentaskan jatilan, sendratari, dan pertunjukan wayang kulit dengan lakon Dumadining Gunung Merapi atau terjadinya Gunung Merapi. Dikisahkan, pada waktu itu Nusa Jawa gonjang-ganjing, terbawa arus lautan ke sana kemari. Batara Guru, raja segala dewa, bersabda, Nusa Jawa akan kembali tenang apabila dipaku dengan Gunung Jamurdipa. Maka ia pun memerintahkan para dewa mengusung Gunung Jamurdipa dari Tanah Hindi ke Nusa Jawa. Gunung Jamurdipa kemudian dipakukan di sisi timur Nusa Jawa.

    Ternyata beban gunung di sisi timur ini membuat Nusa Jawa njomplang, sisi baratnya naik ke atas menyundul langit. Untuk menyeimbangkan, para dewa diperintahkan mencabut separuh Gunung Jamurdipa dan dipakukan di sisi barat. Dalam perjalanan ke barat, Gunung Jamurdipa itu rontok. Rontokannya menjadi gunung-gunung di Nusa Jawa, seperti Topongan, Pasundan, Hula-Hulu, Cerme, Prau, Kendheng, Sindoro, Sumbing, Slamet, Kendil, Petarangan, Merbabu, Lawu, Kelud, Arjuna, dan Sumeru.

    Sementara para dewa berlelah-lelah mengusung Gunung Jamurdipa, ada seorang empu dewa, Hempu Ramadi, yang asyik membuat keris di atas perapiannya. Para dewa jengkel lalu menjatuhkan sebagian Gunung Jamurdipa ke Hempu Ramadi. Hempu Ramadi menghindar, dan sempalan gunung itu jatuh ke atas perapiannya dan dari sana terjadilah Gunung Merapi. Itulah sebabnya, Gunung Merapi selalu berapi sampai kini. Nusa Jawa tenang kembali. Tetapi, ketenangan itu tak bertahan lama akibat ulah manusia yang hanya memburu kenikmatan nafsunya. Nusa Jawa gonjang-ganjing lagi. Namun, ke manakah sekarang harus dicari Gunung Jamurdipa untuk dijadikan pakunya?

     

    Gonjang-ganjing sosial

    Selamatan dengan pementasan mitos di atas bermaksud mengingatkan agar kita sadar bahwa sekarang pun kita sedang menghuni tanah air yang rawan, mudah gonjang-ganjing dan terterpa pelbagai cobaan. Pada musim hujan, di mana-mana banjir. Pada musim kemarau, di banyak tempat terjadi kekeringan dan mengering pula sumber-sumber air. Di pantai Gunung Kidul, DIY, tiba-tiba ada tanah longsor, yang memakan korban jiwa. Laut Selatan seakan ikut marah. Beberapa hari lalu beberapa turis lokal ditelan ombak Parangtritis. Belum lagi berita tentang aktivitas gunung berapi yang mengancam keselamatan penduduk di sekitarnya.

    Cobaan alam itu dibarengi situasi sosial yang meresahkan. Ekonomi susah, nilai rupiah anjlok drastis, investasi usaha di dalam negeri jadi lesu, dan banyak orang terancam kehilangan kerja. Situasi wong cilik seperti gabah diinteri, pontang-panting ke sana kemari untuk mencukupi nafkah, tetapi tak juga jalan keluar terbuka bagi mereka. Harga-harga naik, mulai dari kebutuhan-kebutuhan pokok sampai gas melon, apalagi menjelang Lebaran ini.

    Bencana alam, kesengsaraan rakyat kecil, ketidakberdayaan penguasa, itu yang dalam bahasa mitos Jawa sering dianggap gejala dan tanda-tanda bahwa Nusantara sedang diterpa gara-gara dan gonjang-ganjing. Agar gonjang-ganjing mereda, ibaratnya Nusantara harus dipaku dengan Gunung Jamurdipa. Adakah paku itu sebenarnya? Ada, Presiden Jokowi sendiri. Kalau mau, Presiden bisa jadi paku itu. Untuk itu, ia perlu berbalik melihat masa lalu, memahami siapa dia sebenarnya.

     

    Anugerah sejarah

    Waktu itu Jokowi belum siapa-siapa. Ia “hanyalah” Wali Kota Solo yang kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta. Setelah melihat kiprah dan sifatnya, banyak rakyat bersimpati kepadanya. Begitu ia diajukan jadi calon presiden, rakyat pun serentak bergembira mendukungnya. Menjelang pilpres muncullah gerakan rakyat besar-besaran, dan puncaknya adalah Konser Dua Jari yang menggemparkan itu.

    Bagi sejarah bangsa Indonesia, fenomena dukungan fantastis itu merupakan sebuah kairos. Dalam filsafat sejarah, kairos dibedakan dari chronosChronos adalah waktu biasa, semacam urut-urutan waktu belaka, sementara kairos adalah waktu yang luar biasa, waktu yang dinanti-nantikan, waktu yang punya daya dobrak, semacam waktu sejarah yang bisa mengubah bahkan menjungkirkan keadaan yang usang dan rusak menjadi keadaan yang total baru. Baik filsuf eksitensialis religius, misalnya Paul Tillich, maupun filsuf kiri ateis, seperti Walter Benyamin, sama-sama yakin, dalam kairos tersembunyi harapan, dan begitu kairos datang, harapan itu menguak jadi kekuatan yang bisa mengubah masyarakat secara drastis dan revolusioner.

    Fenomena Jokowi adalah fenomena kairos itu. Kalau harapan rakyat tertumpah padanya, itu tak berarti dia memang luar biasa, tetapi bahwa daya kairos sedang turun atasnya sehingga ia dianggap mampu memperbarui sejarah. Dalam arti itu, kairos adalah berkah dan anugerah yang tak boleh disia-siakannya. Tetapi ini juga tak berarti kairos itu seluruhnya mistis. Kairos ada di dalam kehidupan individual dan membuat orang menanti-nantikan perubahan. Begitu melihat Jokowi sebagai fenomen kairoskairos yang individual itu berkumpul jadi satu, menjadi sebuah kairos kolektif yang bersama-sama ingin menjungkirkan keadaan dan mengubahnya menjadi keadaan yang penuh harapan.

    Jadi, Jokowi jadi hebat bukan karena kekuatan politik, melainkan karena kairos itu. Maka kalau sekarang merasa ragu, lemah, dan tak berdaya, adalah keliru jika Jokowi sambat pada kekuatan-kekuatan dan melakukan kompromi dengan mereka. Dalam keadaan demikian, Jokowi seharusnya berpaling pada kairos, yang menyimpan kekuatan dan tren pembaruan sejarah itu. Dalam sejarah penjadian bangsa-bangsa telah terbukti, kekuatan sejarah yang kolektif dan bersifat anugerah jauh lebih ampuh dan “sakti” daripada potensi-potensi yang dibangun secara artifisial oleh jaringan kekuatan politik. Sekarang rakyat sedang tak percaya kepada DPR sebab lembaga perwakilan rakyat itu lumpuh dalam menjalankan fungsi representasi kepentingan rakyat karena hanya memperjuangkan kepentingan pribadi dan kelompok. Kata ahli hukum dan politik Ernst Fraenkel: di mana ada rakyat tak percaya terhadap kemampuan parlemen dalam menjalankan fungsi representasinya, di sana rakyat sesungguhnya sedang menderita minderheid-kompleks.

    Adalah tragis, rakyat yang mayoritas itu menjadi minoritas yang minder. Sebagai presiden, Jokowi bertanggung jawab mengembalikan rakyat sebagai mayoritas dan menghilangkan minderheid-kompleksnya. Untuk itu, Jokowi perlu meraih kembali momen kairos dan percaya bahwa dalam kairos terhimpun kekuatan politik rakyat yang punya satu-satunya kehendak, yakni perubahan. Jika mau melakukan ini, Jokowi berpeluang besar merebut kembali kepercayaan rakyat, yang kini sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap para wakilnya di DPR. Revolusi mental Jokowi mandul dan berhenti di tempat karena tak mengorientasikan diri pada kekuatan rakyat. Di sini pun Jokowi perlu kembali pada kairos, yang telah membawanya ke kursi pimpinan tertinggi di negeri ini. Kairos itu adalah kekuatan sejarah, yang dalam arti tertentu “liar” dan bernalurikan “petualangan”. Jokowi perlu menyuntikkan daya dobrak kairos itu ke dalam revolusi mentalnya, supaya revolusi mentalnya memperoleh “darah segar” untuk menabrak dan mengubah kemapanan demi tercapainya cita-cita tanah air Nusantara baru yang adil, damai, dan tenteram seperti diinginkan rakyat.

     

    Ziarah gunung

    Jadi, jika mau, dengan bantuan kairos itu, Jokowi berpeluang bisa menjadi paku Gunung Jamurdipa bagi tanah air Nusantara yang sedang gonjang-ganjing ini. Gunung Jamurdipa telah menjadikan gunung-gunung di Nusa Jawa. Bagi orang Jawa, ini semua simbol laku yang punya makna. Gunung itu dhuwur, tinggi. Sementara rakyat biasanya sering disebut sebagai wong gunung. Gunung lalu jadi simbol kekuatan rakyat yang keluhuran dan tingginya bahkan melebihi keluhuran raja atau priayi. Jokowi bukanlah ketua partai, keturunan raja, atau priayi. Ia rakyat biasa, wong gunung. Tetapi justru dalam dirinya tersimpan martabat luhur rakyat. Karena itu, ia jangan minder terhadap kekuasaan mana pun.

    Untuk memperkuat keyakinannya sebagai wong gunung, Jokowi perlu menjalani kembali laku gunung. Dari Gunung Prau di barat, ia harus naik perahu, ke timur, ke Gunung Slamet. Di sana ia akan dicerahkan, bahwa rakyat sesungguhnya hanya punya cita-cita amat sederhana, yakni slamet. Dengan menjalani laku Gunung Slamet, rakyat akan merengkuhnya untuk bersama-sama meraih slamet, hingga akan selamat pula pemerintahannya. Dari Gunung Slamet ia mesti melanjutkan laku Gunung Kendil. Di sinilah ia dapat mempertajam intuisinya, bahwa rakyat itu kendil atau periuk bagi pemerintahannya. Tak mungkin pemerintahannya berjalan tanpa periuk rakyat itu. Namun, sebagai imbalannya, ia tak boleh membiarkan rakyat sengsara dan mati karena periuknya mati asap. Maka, dengan hikmah Gunung Kendil, Jokowi bisa menggali kembali program-programnya yang pro rakyat, agar periuk rakyat cepat berasap.

    Dari Gunung Kendil, Jokowi harus melanjutkan laku Gunung Petarangan. Petarangan adalah tempat induk ayam bertelur dan mengeraminya. Maka laku Gunung Petarangan mengingatkan, jangan Jokowi lupa akan asal-usulnya. Ia bukan jenderal, ketua partai, atau anak raja. Tetapi begitu jadi presiden, Jokowi mungkin lupa bahwa ia adalah wong cilik, atau rakyat biasa. Maklum, kekuasaan mudah membuat lupa. Karena itu Jokowi tidak perlu menaikkan martabatnya karena martabat rakyat itu adalah terluhur. Juga ia tak perlu mengenakan predikat apa-apa lagi. Ia tak perlu, misalnya, memakai seragam dan baret tentara, yang di zaman Orde Baru telah demikian menakut-nakuti rakyat. Ibaratnya, ia cukup memakai kemeja rakyatnya, “kemeja putih”, di mana terpantul cahaya ketulusan, kejujuran, kesederhanaan, martabat luhur rakyatnya.

    Dengan laku Gunung Petarangan ini Jokowi boleh teringat kembali saat ia mengumumkan deklarasi pencapresannya. Deklarasi itu dilakukannya di Rumah Si Pitung, Marunda Pulo, Cilincing, Jakarta Utara. Si Pitung adalah pendekar Betawi yang mati-matian membela rakyat melawan kompeni. Jokowi kiranya ingin terkena aura roh perlawanan rakyat itu. Maka, setelah jadi presiden, janganlah ia hanya berani menghukum mati, tapi juga “berani mati” seperti Si Pitung yang berani mati dihukum gantung oleh kompeni. Sekarang banyak sekali kompeni di sekitar Jokowi: kompeni-kompeni bisnis, kompeni-kompeni politik, kompeni-kompeni partai, dan kompeni-kompeni kepentingan. “Perlawanan”, kata Jokowi saat di Rumah Si Pitung itu. Sekarang Jokowi sungguh ditantang, untuk bersama rakyat melawan kompeni-kompeni di sekitarnya itu. Maka, demi rakyat dan karena roh perlawanan Si Pitung, ia juga harus berani melawan jika ia dijadikan boneka atau petugas partai oleh kekuasaan oligarkis partai pendukungnya sekalipun.

    Dari Gunung Petarangan, Jokowi harus meneruskan laku Gunung Merapi. Sampai sekarang di sana masih menyala api dari perapian Hempu Ramadi. Di perapian itu Jokowi boleh menghangatkan dan membakar kembali semangat gunungnya, semangat kerakyatannya, yang akhir-akhir ini sempat padam atau dipadamkan. Jokowi harus terus menyalakan api perjuangan rakyatnya. Untuk itulah akhirnya ia perlu kembali ke asalnya, ke Gunung Lawu. Jokowi adalah anak Solo yang terletak di kaki Gunung Lawu. Maka laku Gunung Lawu akan mengajak dia ngawu-awu atau bertanya tentang asal-usulnya. Asal-usulnya rakyat kecil biasa. Di Solo ia thukul, tumbuh sebagai wong Solo seperti Wiji Thukul. Maka, seperti Wiji Thukul yang tumbuh di kaki Gunung Lawu, Jokowi pun seharusnya hanya punya satu kata untuk pemerintahannya: Lawan! Dengan satu kata “lawan” itu, ia harus berani melawan siapa saja dan apa saja yang membungkam, memperbudak, menyengsarakan rakyat. Pada kata “lawan” itu, sesungguhnya Jokowi bisa menemukan inti terdalam dari kata kairos.

    Jelas laku atau ziarah gunung itu sesungguhnya adalah ziarah rakyat yang bermuatan kairos. Jokowi tak boleh berlambat dengan kairos. Sebab lain dengan waktu biasa, kairos adalah waktu sejarah dan waktu anugerah, karenanya waktu itu takkan berlangsung lama dan hanya datang sekali. Jokowi belum terlambat untuk kembali memeluk kairos itu. Namun, bila berlambat-lambat, dalam sekejap Jokowi akan kehilangan kesempatan menjadi Paku Gunung Jamurdipa bagi Nusantara yang sedang membutuhkannya. Kalau demikian, dalam sekejap Nusantara akan dilanda gonjang-ganjing lagi.

     

    ——————————–

     

    Sumber Tulisan Kompas, 29 Juni 2015

     

  • Sapardi: Geometri dan Memori

    Sapardi: Geometri dan Memori

    Oleh  Nirwan Ahmad Arsuka

     

    aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
    dengan kata yang tak sempat diucapkan
    kayu kepada api yang menjadikannya abu

    aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
    dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
    awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

    (1989)

     

    Puisi Aku Ingin memang tak terelakkan akan mengangkat nama Sapardi Djoko Damono jadi abadi. Tapi yang membuat puisi itu, dan sederet karya terkenal Sapardi lainnya, jadi punya kekuatan untuk menancapkan diri di kenangan dan memfanakan gergaji waktu adalah “lima tak ingin.”

    Lima tak ingin itu adalah: tak ingin heroik, tak ingin erudite, tak ingin kosmopolit, tak ingin eksperimental, dan tak ingin religius.

    Kekuatan sajak-sajak Sapardi langsung terlihat begitu kaidah “tak ingin” itu ditegakkan. Ketika terbit kumpulan puisi pertamanya, Duka-Mu Abadi, Goenawan Mohamad menyambutnya dengan sebuah ulasan panjang di Majalah Horison, No. 2 Th. IV Februari 1969, dengan judul Nyanyi Sunyi Kedua. Buat Goenawan, kumpulan Duka-Mu Abadi  adalah suatu perkembangan baru, pembebasan dan penemuan kembali, tanda pertumbuhan puisi Indonesia yang sedang melepaskan diri dari masa lalunya. Masa lalu yang ingin ditinggalkan adalah masa lalu yang dipenuhi oleh sajak-sajak heroik dan “berdjoeang.”

    Setelah setengah abad lebih sejak terbitnya Duka-Mu Abadi disusul dengan munculnya sejumlah kumpulan puisi lain, dapatlah dikatakan bahwa Sapardi menarik bukan hanya karena responnya terhadap masa silam, yang ikut membebaskan puisi Indonesia dari desakan pengaruh sajak-sajak heroik waktu lampau. Puisi-puisi terbaik Sapardi itu menarik bukan hanya karena mengembalikan lirisisme ke kancah perpuisian, tapi juga karena antisipasinya atas masa depan penciptaan. Bisa ditambahkan bahwa yang istimewa pada sajak-sajak Sapardi itu bukanlah karena sikap ingin leburnya dengan Tuhan, seperti yang diperlihatkan Amir Hamzah dalam Nyanyi Sunyi, tapi pada penjarakan intelektualnya terhadap Tuhan.

    Di esai bertajuk Permainan Makna yang terkumpul dalam buku Sihir Rendra: Permainan Makna (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999) Sapardi mengenang masa kecilnya, dan kebutuhannya untuk menciptakan permainan makna. Ia mengaku permainan makna yang disusun dari kata-kata itu membuat ia bisa menghadapi kenyataan yang tak masuk akal. Tapi ia juga menyebut ketakinginannya menjadi kanak-kanak yang hanya asyik dengan permainan tanpa makna, sekaligus ketakinginannya untuk menjadi nabi yang cuma menyampaikan pesan makna tapi tanpa permainan. Ia hanya ingin jadi penyair yang baik. Sapardi yang konon berpikir dalam Bahasa Jawa, tentu harus mengatur kata-katanya sebaik mungkin dalam Bahasa Indonesia. Dan bersamaan dengan itu, sadar atau tidak, ia menerjemahkan ketakinginan menjadi kanak-kanak atau nabi itu ke dalam bentuk-bentuk puisi yang perlahan-lahan memenuhi “lima tak ingin” itu.

    Kelak akan tampak bahwa puisi-puisi terkenal Sapardi menegakkan kaidah “lima tak ingin” itu karena mereka membantunya menciptakan ruang kosong untuk menghadapi kenyataan alam yang tak masuk akal, sekaligus mempermudah pembacanya ambil bagian untuk mengabadikan sajak-sajaknya. Selain esai Permainan Makna, sajak Catatan Masa Kecil, 3 dan Catatan Masa Kecil, 4 dapat memberi petunjuk tentang asal-usul lima tak ingin itu.

     

    Catatan Masa Kecil, 3

            Ia turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendela
    lalu menatap bintang-bintang seraya bertanya-tanya apa gerangan
    yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar luar semesta
    dan terus saja menunggu sebab serasa ada yang akan lewat
    memberitahukan hal itu padanya dan ia terus bertanya-tanya
    sampai akhirnya terdengar ayam jantan berkokok tiga kali dan
    ketika ia menoleh nampak ibunya sudah berdiri di belakangnya
    berkata “biar kututup jendela ini kau tidurlah saja setelah semalam
    suntuk terjaga sedang udara malam jahat sekali perangainya”

    (1971)

     

    Catatan Masa Kecil, 4

         Ia tak pernah sempat bertanya kenapa dua kali dua hasilnya
    sama dengan dua tambah dua sedangkan satu kali satu lebih
    kecil dari satu tambah satu dan tiga kali tiga lebih besar dari
    tiga tambah tiga. Sejak semula ia sayang pada angka nol. Dan
    setiap kali ia menghitung dua tambah tiga kali empat kurang
    dua ia selalu teringat waktu terjaga malam-malam ketika
    ibunya sakit keras dan ayahnya tidak ada di rumah dan di
    halaman terdengar langkah-langkah bakiak almarhum neneknya
    dan ia ingin kencing tetapi takut ke kamar kecil yang dekat
    sumur itu dan lalu kencing saja di kasur.
             Sungguh, sejak semula ia hanya mempercayai angka nol.

    (Sajak tanpa titimangsa, dimuat dalam kumpulan Sihir Hujan yang terbit 1984).

     

    Pertanyaan yang diajukan di Catatan Masa Kecil, 3, dan bilangan nol yang dipercaya di  Catatan Masa Kecil, 4, adalah bekal Sapardi membangun kaidah “lima tak ingin” yang dibuat jadi batu penjuru sebuah arena permainan. Ke dalam arena itu, saya bayangkan Sapardi menarik masuk dan menghadapi kekuatan besar yang membuat Amir Hamzah bersaksi dan menyeru dalam sajak Padamu Jua yang terhimpun dalam Nyanyi SunyiEngkau cemburu/Engkau ganas/Mangsa aku dalam cakarmu.

    Bisa juga dikatakan bahwa lima tak ingin itu adalah dinding-dinding limas piramid yang dibangun untuk menjadi — meminjam larik Chairil Anwar dalam sajak Di Mesjid — ruang gelanggang  kami berperang.  Perang Sapardi memang tak sekeras Chairil yang  Binasa-membinasa, Satu menista lain gila. Sapardi tak punya potongan untuk perang yang meledak-ledak seperti itu.  Jika kita membaca sajak Catatan Masa Kecil, 3 bisa kita katakan bahwa sikap Sapardi kurang lebih adalah sikap berjarak, sikap seorang ilmuwan yang penuh perhitungan:

    Ia yang turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendela lalu menatap bintang-bintang itu mungkin saja masih seorang kanak-kanak, tapi ia sudah memperlihatkan bakat kritis dan tak gampang terhanyut. Ia memang bertanya-tanya, tapi pertanyaan yang diajukannya adalah apa gerangan yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar luar semesta.  Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang bertahap dan terukur, yang mengenali batas dan mencoba melampaui batas: karakter pertanyaan yang kerap diajukan para ilmuwan.

    Seperti seorang ilmuwan tulen, ke dalam piramid berdinding dan berlantai “lima tidak” itu Sapardi menarik masuk Sumber Tanya beserta dunia yang tak masuk akal itu dan menghadapinya dengan penuh perhitungan. Dan selaiknya penyair tulen, Sapardi menghadapinya dengan mengalirkan dua arus pemberian yang meski bergerak tenang namun mengandung kekuatan penampik waktu.

    Pemberian pertama, yang memang dikerjakan oleh semua penyair besar, adalah pemberian “hidup” pada benda-benda sepele: pada angin, pada burung, lampu jalan, kabel telepon, dll. Pemberian “hidup” ini bisa juga dilihat sebagai penciptaan tandingan — yang meskipun hanya rekaan, namun berwatak puitik dan intelektual —atas ciptaan nyata yang lebih besar yang berasal dari kekuatan yang ada di luar semesta, dan di luar luar semesta.

    Personifikasi Sapardi atas benda-benda itu tak cuma menghidupkan benda-benda itu, tapi juga memberi mereka laku yang subtil. Semesta kenyataan yang kita terima secara intuitif, jadi berubah radikal dalam sajak-sajak Sapardi. Diri pembaca yang semula jadi subyek, jadi pusat, yang menentukan dunia, bisa bergeser tiba-tiba jadi obyek yang tak berarti dan ditentukan oleh dunia. Sajak-sajak ini seperti mencopot mata pembaca dan meletakkan di sebuah tempat dengan perspektif yang merangsang kerja otak.

    Sajak-sajak Sapardi memang bisa jadi contoh yang bagus tentang kemampuan puisi untuk memberi manusia mata ketiga dan keempat. Sains dan teknologi juga memberi manusia mata tambahan. Dengan mikroskop yang kian canggih dan teleskop yang bahkan di tempatkan di langit, manusia bisa melihat kenyataan-kenyataan baru yang menakjubkan. Hal yang sama juga dilakukan Sapardi dan para penyair besar lain. Bedanya adalah puisi mengajak kita melihat dunia ajaib yang subyektif personal, sementara sains memberi kita mata untuk menjelajahi semesta fantastis yang obyektif universal. Perbedaan ini menegaskan bahwa semesta yang disingkap dan dibentuk oleh sains dan teknologi akan jadi lebih lengkap dan memukau, makin kaya dan berharga, buat mereka yang juga bisa mengapresiasi puisi.

    Selain mata, Sapardi juga memberi kita sepasang telinga atau sebuah stetoskop kebudayaan dan politik untuk menyimak detak dan percakapan yang lirih dari berbagai macam benda-benda, bukan hanya yang selama ini setia melayani manusia, entah itu Sepasang Sepatu TuaBola LampuTopeng misalnya.

    Sapardi memang mengerjakan dengan sangat bagus teknik yang sudah dilakukan oleh para penyair sejak dahulu kala: menjadi tukang sihir yang memberi hidup lewat kata dan dengan itu memperkaya dunia. Tapi ia tak cuma memberi hidup pada benda-benda mati, ia juga membuat kehidupan benda-benda itu bisa bertahan lama di benak pembacanya. Para penyair memang mengandalkan teknik mnemonik seperti rima, tapi Sapardi tak cuma menggunakan perangkat literer yang sudah ada. Ia menemukan perangkat literer baru, yang lebih canggih dari rima. Perangkat literer temuan Sapardi itu agaknya berasal dari khazanah matematika, karena jelas sejajar dengan sejumlah konsep matematis, khususnya barisan geometri dan simetri terbalik.

    Penggunaan perangkat matematis ini punya kaitan yang menarik dengan sajak Catatan Masa Kecil, 4. Di larik keempat bait pertama, tertulis: Sejak semula ia sayang pada angka nol. Sajak ini ditutup dengan penegasan di bait kedua yang hanya berisi satu baris kalimat: Sungguh, sejak semula ia hanya mempercayai angka nol.

    Angka nol yang disayang dan dipercaya itu memang tak hadir telanjang di sajak-sajak Sapardi, tapi ia muncul memukau dalam bentuk barisan geometri, yang tampak jelas pada sajak-sajaknya yang sederhana dan rapi.  Barisannya memang tidak horizontal dengan suku yang sejajar dalam larik, tapi vertikal dengan suku yang berurut turun dari bait ke bait. Dalam satu sajak, bisa terlihat beberapa barisan. Karena suku barisan literer Sapardi ini berubah pada tingkat dimensi dan kualitas, bukan sekedar penambahan atau pengurangan kuantitas, maka barisan itu lebih dekat ke barisan geometri dan bukan ke aritmetika. Barisan ini umumnya memang bergerak dari dimensi yang besar ke yang kecil dan menyarankan langkah menuju ke nol, atau dari yang fisik ke non fisik bergerak menuju ke kekosongan.

    Sajak Aku Ingin mengandung empat barisan yang masing-masing terdiri dari dua suku, sesuai dengan jumlah baitnya. Suku baris pertama adalah kata (bait pertama) dan suku berikutnya adalah isyarat (bait kedua). Kata adalah satuan yang masih mengandung bunyi dan intonasi yang menuntut gerak, setidaknya gerak otot bicara; sementara isyarat adalah satuan yang tak lagi mengandung bunyi dan intonasi, dan mungkin hanya tersisa gerak. Suku baris kedua adalah kayu (bait pertama) yakni benda fisik yang masih bisa disentuh, diikuti oleh awan (bait kedua) yakni massa yang terbentuk dari uap air yang mengambang di cakrawala dan tak lagi bisa dijamah. Suku-suku baris ke tiga, yakni api dan hujan, memang tak langsung terlihat aspek barisannya, tapi kita bisa melihat gerak menurun dalam hal temperatur. Barisan menurun itu tampil kuat pada baris keempat, yang sukunya adalah abu (bait pertama) yakni benda yang masih mungkin dijamah dan dicerap indra, yang kemudiaan diikuti tiada (bait kedua) yang sama sekali sudah tak lagi bisa dicerap.

    Kehadiran barisan itu muncul paling jelas dan paling indah dalam sajak Pada Suatu Hari Nanti, yang saya cantumkan di halaman akhir.  Pada tiga bait sajak itu, kita lihat subyek berubah dari fisik ke non-fisik, yakni dari jasadku di bait pertama, ke suaraku di bait kedua, dan akhirnya ke impianku di bait penutup. Jasad adalah massa yang masih bisa dijamah, dan jika diusap masih mungkin menimbulkan bunyi. Suara adalah fenomena sekuder yang tak lagi bisa dijamah, sedangkan impian sudah benar-benar tak tercerap secara indrawi. Sejajar dengan subyek yang berubah bentuk dari yang indrawi ke non-indrawi itu, obyek sajak juga berubah secara berurut, dari satuan yang besar ke satuan yang kecil, yakni dari bait di untai pertama, lalu larik di untai kedua, dan dengan huruf  di untai penutup. Buat saya, sajak Pada Suatu Hari Nanti  adalah sebutir berlian yang diasah dengan sangat bagus, dan di dalam struktur yang keras, rapi dan bening itu, tampaklah bagai tarian dua barisan Sapardi dengan indah bergerak pelan menuju kekosongan.

    Selain barisan yang bergerak konsisten menurun dari awal menuju kekosongan, ada juga barisan yang tampak bergerak datar, tapi akhirnya juga mengarah ke kekosongan. Barisan datar seperti ini tampak misalnya pada sajak yang tak kalah terkenal di bawah ini:

     

    Hujan Bulan Juni

    tak ada yang lebih tabah
    dari hujan bulan juni
    dirahasiakannya rintik rindunya
    kepada pohon berbunga itu

    tak ada yang lebih bijak
    dari hujan bulan juni
    dihapusnya jejak-jejak kakinya
    yang ragu-ragu di jalan itu

    tak ada yang lebih arif
    dari hujan bulan juni
    dibiarkannya yang tak terucapkan
    diserap akar pohon bunga itu

    (1989)

     

    Baris pertama yang menyusun Hujan Bulan Juni adalah baris yang sejajar karena suku-sukunya punya arti yang hampir sama. Baris ke dua juga boleh dikata sejajar, dan suku-sukunya adalah kata kerja pasif. Rintik rindu dan jejak kaki adalah citraan tentang hal-hal yang pernah menjadi bagian diri, yakni rintik yang sudah terlepas dari himpunan, dan jejak kaki yang juga sudah bukan bagian dari  diri. Adapun yang tak terucapkan adalah sesuatu yang bahkan tak sempat untuk menjadi sesuatu, tak sempat atau tak mungkin menggumpal jadi kata yang bisa terlepas dari sumbernya. Suku yang tak terucapkan ini memberi semacam anjlokan yang mempertegas kekosongan yang kehadirannya sudah disarankan dengan sangat kuat oleh dua suku baris ketiga sebelumnya, dan dua baris yang lainnya. Tiga barisan ini gampang mengingatkan kita pada gagasan wu wei dalam khazanah pemikiran Tiongkok, yakni “nir-tindak,” inaction, yang konon dianggap sebagai puncak kekuatan dan kebijaksanaan.

    Barisan dalam sajak-sajak Sapardi ini, yang dapat kita katakan sebagai perangkat literer temuan Sapardi yang istimewa, sungguh lebih canggih dari rima.  Satuan dasar pembentuk rima adalah bunyi pada suku kata, sementara satuan dasar pembentuk barisan Sapardi adalah arti pada kata. Yang pertama auditoris, yang kedua semantik. Meskipun sama-sama perangkat mnemonik untuk membantu memori, rima itu umumnya bekerja mengejar efek bunyi dan musikal, kadang juga efek emosional. Barisan Sapardi, yang juga bisa mengandung rima, bekerja lebih jauh lagi menjangkau efek kognitif yang merangsang penalaran, bahkan efek epistemik yang menggugah pengetahuan. Yang menarik adalah bahwa Sapardi tak pernah menulis tentang perangkat literer temuannya ini, meskipun ia menggunakannya dalam banyak puisinya.  Barisan sejajar yang saling mempertegas, terlihat juga misalnya pada:

     

    Dalam Doaku

    dalam doa subuhku ini kau menjelma langit yang semalaman tak
                memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima
                cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan
                menerima suara-suara

    ketika matahari mengambang di atas kepala, dalam doaku
                kau menjelma pucuk pucuk cemara yang hijau senantiasa,
                yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil
                kepada angin yang mendesau entah dari mana

    dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang
                mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di
                ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang
                tiba tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

    maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat
                perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan kecil itu, 
                menyusup di celah-celah jendela dan pintu, dan
                menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi,
                dan bulu-bulu mataku

    dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang
                dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah
                batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang
                tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

    aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai
                mendoakan keselamatanmu

    (1989)

     

    Ada paduan dua barisan yang segera tampak pada sajak Dalam Doaku. Yang pertama adalah barisan setara yang merujuk pada waktu yang bergerak dari saat menjelang fajar hingga ke puncak malam. Yang kedua adalah barisan geometri yang bermula dari langit yang maha luas dan berada di luar si aku lirik, kemudian menurun ke pucuk cemara. Suku barisan selanjutnya memang tampak bergerak ke atas menjadi burung (bait ketiga) bahkan angin (bait keempat), namun pada akhirnya barisan itu menurun, mengerut dan memadat. Pada saat lingkaran waktu berdoa lima kali sehari itu melengkapkan diri, langit pun menggumpal menjadi denyut jantung.

    Barisan yang bergerak itu memang juga dimainkan oleh Sapardi. Ia tak selalu membiarkan barisannya berhenti di nol atau kekosongan, tapi memutar balik suku barisan terakhir dan mengembalikannya ke suku barisan pertama. Dengan cara seperti ini, barisan pun — meminjam larik-larik dari sajak Melipat Jarak — jadi melengkung seperti tanda tanyaburu memburu dengan jawabannya. Sajak-sajak semacam ini menciptakan sirkuit, seperti misalnya pada puisi:

     

    Bayangkan Seandainya

               Bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    bukan wajahmu tetapi burung yang terbang di langit yang sedikit
    berawan, yang menabur-naburkan angin di sela bulu-bulunya;
               bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    bukan wajahmu tetapi awan yang menyaksikan burung itu
    menukik ke atas kota kita dan mengibas-ibaskan asap pabrik dari
    bulu-bulunya;
               bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    bukan wajahmu tetapi pohon rambutan di halaman rumahmu
    yang menggoda burung itu untuk hinggap di lengannya;
               bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    wajahmu sendiri yang itu juga, yang tak kunjung habis meski
    telah kaukupas dengan ganas selembar demi selembar setiap hari.

    (2009)

     

    Sirkuit yang terbentuk di sajak ini bermula, tentu tak perlu dikatakan, pada “wajahmu” yang terpampang di cermin pagi ini. Tapi sajak ini membujuk kau di bait pertama untuk membayangkan bahwa wajah yang terlihat di cermin itu bukan wajahmu tetapi burung yang terbang di langit. Di bait kedua si kau dibujuk untuk membayangkan wajah yang terlihat di cermin itu bukan wajahmu tetapi awan yang menyaksikan burung itu. Di bait ketiga si kau kembali dibujuk untuk membayangkan wajah yang terlihat di cermin itu bukan wajahmu tetapi pohon rambutan di halaman rumahmu yang menggoda burung itu untuk hinggap di lengannya. Setelah si kau dibawa terbang melayang-layang, bermain dan menari menyusur barisan geometri yang bergerak turun dari langit ke awan, dari atas kota ke halaman rumah, mendadak di bait terakhir si kau dibujuk untuk membayangkan wajah yang terlihat di cermin itu adalah wajahmu sendiri yang itu juga, yang tak kunjung habis meski telah kaukupas dengan ganas.

    Bait terakhir ini melengkungkan barisan dan membuatnya jadi sirkuit tertutup yang bisa berubah menjadi siklon kognitif yang dengan ganas mengangkat pikiran pembaca yang imajinatif terburai dan terlepas dari pengetahuan dirinya yang dikira mapan. Sajak ini mengubah kebenaran yang sudah sangat jelas dan karena itu tak pernah dipertanyakan, menjadi problem yang minta dipikirkan, menjadi gatal yang menuntut digaruk. Dan karena tak ada jawaban bagi problem yang dihamparkan itu, maka problem itu, tepatnya sajak itu, dapat menjadi godaan yang terus berputar dan bertahan di otak selama otak tersebut bisa bekerja normal.

    Jika barisan yang menuju nol atau kekosongan itu mengendapkan perasaan suwung, nyaman dan mantap, maka barisan yang menjadi sirkuit ini adalah strategi untuk menciptakan pain, nyeri, untuk memicu badai, brainstorming.

     

    Di Restoran

    Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
    ilalang panjang dan bunga rumput —
    kau entah memesan apa. Aku memesan
    batu di tengah sungai terjal yang deras —

    kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
    saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
    yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
    memesan rasa lapar yang asing itu.

    (1989)

     

    Sajak di atas menghadirkan cara lain Sapardi menorehkan nyeri. Ironi yang tajam sudah terasa di bait pertama dimana si Aku (dengan A kapital) dan si kau, ke restoran berdua, tapi seperti tak punya koneksi satu sama lain. Keduanya ada di dalam gelembung masing-masing meski mungkin duduk berdekatan, mungkin berhadapan. Si Aku mungkin ingin membangun suasana romantis dengan mula-mula memesan ilalang panjang dan bunga rumput. Tapi usahanya tak berbalas karena pasangannya entah memesan apa. Nyeri mulai menggores kuat ketika si Aku kembali memesan sesuatu yang jauh dari restoran itu yakni batu di tengah sungai terjal yang deras. Di untai kedua, si Aku yang mestinya jadi subyek penentu itu bahkan akhirnya hanya memesan sesuatu yang haram ada di restoran itu, sesuatu yang tak terpikirkan dan justru ingin dihilangkan ketika orang mengunjungi restoran, yakni rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya, rasa lapar yang asing itu.

    Simetri terbalik antara judul dan isi sajak ini, dengan kontrasnya yang menusuk itu bisa meninggalkan efek kognitif yang tak putus di benak pembaca. Dan buat mereka  yang merindukan cinta dan kebersamaan, yang terikat dengan pasangan yang kehadirannya justeru membuatnya merasa kian terasing, efek itu bisa  nyaring lengkingnya.

    “Lima tak ingin” yang ditopang bentuk-bentuk matematis bersahaja, telah mengarahkan Sapardi membuat komposisi yang juga sederhana, lalu menggarap dua unsur yang mempengaruhi memori manusia dan sangat penting bagi keberlangsungan hidup organisme: pain dan pleasure. Sajak-sajak Sapardi itu kerap menghadirkan dua hal penting ini sekaligus, tapi dengan timbangan yang berbeda. Sajak Aku Ingin atau Hujan Bulan Juni adalah jenis yang lebih berat ke pleasure, sementara MetamorfosisTopengCatatan Masa Kecil 2 atau Tiga Percakapan Telepon adalah sajak yang lebih berat ke pain.

    Selain dengan jenis memori yang berhubungan dengan persepsi indrawi, puisi-puisi terkenal Sapardi sungguh bisa juga dikaitkan dengan memori semantik, yakni bagian dari memori eksplisit atau deklaratif. Jika jenis memori pertama itu membuat sajak-sajak Sapardi jadi mudah tertancap di ingatan lewat pencerapan indrawi, maka memori jenis kedua itu bisa membantu sajak-sajak tersebut tercipta ulang dan berkembang di benak para pembacanya lewat bantuan khazanah kebudayaan dan pengetahuan.

    Puisi bagus yang gampang diingat adalah benda ajaib yang sangat berharga bukan hanya buat mereka yang ingin mencipta. Buat mereka yang terutama ingin mencipta, dengan penuh cinta, dan tak gentar pada keharusan cinta, puisi bagus yang sederhana dan mudah diingat itu mirip rumus matematis sederhana yang memang juga sebuah ekspresi estetis, dan mungkin diterapkan di seluruh jagad.  Tentang keharusan cinta, termasuk cinta kepada Pencipta, Sapardi menuliskan sajak berikut:

     

    Sajak-sajak Kecil Tentang Cinta

    /1/
    mencintai angin
    harus menjadi siut
    mencintai air
    harus menjadi ricik
    mencintai gunung
    harus menjadi terjal
    mencintai api
    harus menjadi jilat

    /2/
    mencintai cakrawala
    harus menebas jarak

    /3/
    mencintai-Mu
    harus menjelma aku

    (Sajak tak bertitimangsa dimuat dalam kumpulan Arloji  yang terbit 1998).

     

    Sajak ringkas ini menegaskan lagi jarak intelektual yang terentang ke arah Sang Mu — penjarakan yang membuat Sapardi Djoko Damono jadi berbeda dari Amir Hamzah dan Chairil Anwar, seperti yang sudah disinggung di depan. Bagi sajak ini, mencintai-Mu memang harus menjelma aku, di mana aku adalah semacam bayangan dari sekaligus koreksi atas Mu, meski dengan magnitude yang berbeda. Si aku memang tak mungkin menyamai Mu dalam hal kebesaran, tapi ia mungkin bisa menandingi dalam hal kemasukakalan, keadilan dan keabadian ciptaan. Kemasukakalan telah coba dibangun dengan sajak-sajak yang indah dan terukur. Kemasukakalan itu mencakup keadilan juga. Jika pun keadilan tak dapat diciptakan sepenuhnya dalam sajak-sajak Sapardi, setidaknya keadilan dan harapan terhadapnya telah dihadirkan dengan indah dan subtil.

    Seraya menjadi pencipta yang adil dan masuk akal, Sapardi juga ingin jadi pencipta dengan ciptaan yang abadi. Sapardi tentu tahu bahwa mustahil ia abadi di dunia, tapi ia tahu, dan berjuang, untuk membuat karya-karyanya abadi di tengah kehidupan pembacanya. “Lima tak ingin” yang dibantu dengan struktur matematis yang membantu kerja memori itu adalah senjata Sapardi untuk menjadi abadi.

    Selain pemberian kehidupan pada benda-benda mati yang membangkitkan berbagai sensasi kognitif, ada satu pemberian lagi yang tak semua tukang sihir, penyair, atau bahkan Tuhan (dalam pemahaman sebagian umatnya) sanggup berikan. Yakni memberikan diri sendiri, menghapus jejak keagungan dan kebesaran diri, untuk membesarkan sesuatu yang bukan diri sendiri.  Sajak-sajaknya yang memanfaatkan deret yang bermula dari satuan besar menuju satuan kecil, dari subyek yang fisik menuju non-fisik, menyarankan gerakan menuju kekosongan, dari ada menjadi tiada, dari gunung menjulang yang merobohkan diri jadi lapangan hijau berumput yang maha luas. Di kekosongan itulah sajak-sajaknya membuka diri bagi pembacanya untuk menciptakan semesta makna baru.

    Puisi-puisi terbaik Sapardi, yang cerdik memanfaatkan khazanah matematis itu, tak hanya memberi kita momen puitik, tapi juga petunjuk menangkap dan menciptakan sendiri momen-momen puitik itu. Kaidah “lima tak ingin” itu kembali menjadi penting karena kaidah itu mempermudah pembaca untuk juga jadi penyair, jadi pencipta. “Tak ingin erudite, tak ingin kosmopolit dan tak ingin eksperimental” itu misalnya telah menghasilkan sajak-sajak dengan kata-kata yang sangat sederhana, bukan kata-kata sulit atau jargon akademis dengan bentuk yang tampak liar. Pembaca jadi nyaris tak punya kesulitan, tak perlu buka kamus, untuk memahami puisi-puisi Sapardi. Kaidah “lima tak ingin” itu bahkan mungkin membantu pembaca kreatif yang ingin coba menciptakan ulang atau membayang-bayangi puisi Sapardi.

    Seiring dengan itu, kaidah “tak ingin religius” yang mencegah sajak-sajak Sapardi menempelkan lambang dan ungkapan dari khazanah agama yang dianutnya itu, jelas membuka diri seluas-luasnya pada semua pembaca tak peduli apapun keyakinan dan ketakyakinannya. Yang menarik adalah bawa sajak-sajak yang tak ingin religius itu justru berhasil menunjukkan bahwa religiusitas itu sungguh bisa juga direngkuh bukan lewat jalan agama.

    Ringkasnya, jika sebelumnya kaidah “lima tak ingin” itu telah membantu Sapardi menjinakkan chaos dan merapikan dunia, maka kini, kaidah “lima tak ingin” itu sekaligus membantu Sapardi menurunkan palang pintu bahasa sehingga sebanyak mungkin pembaca bisa masuk ke kancah penciptaan yang ikut dihamparkan oleh puisi-puisinya. Tentang apakah “Barisan Sapardi” itu benar-benar temuan yang orisinal, atau hasil pencurian kreatif yang memang watak penulis besar, seperti kata TS Eliot, biarlah telaah lain yang akan uji. Yang jelas adalah bahwa dengan cara yang memukau, puisi-puisi Sapardi telah ikut menunjukkan kemampuan kata sebagai pembebasan. Kata, yang demikian biasa dan sederhana, yang dapat dihimpun oleh siapa pun dengan melimpah bahkan sejak masih kanak-kanak, memang modal kultural manusia yang paling berharga karena punya kekuatan luar biasa untuk diolah menyiasati dan menyusun ulang dunia.

    Pembaca yang terus mencipta adalah hal penting dan berharga buat Sapardi, sehingga bahkan seorang pensiunan yang tinggal menyongsong mati pun, seperti yang dikisahkan dalam Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro, masih juga terus digoda untuk tidak memadamkan indra, untuk kembali mencipta: membayangkan dirimu pangeran yang lain dari yang dulu dibayangkan nenekmu tentangmu. Hanya dengan penciptaanlah memang, Kita abadi: memungut detik demi detik, ciptaan demi ciptaan, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa, lupa ruang dan waktu, tenggelam dalam keasyikan yang intens. Yang fana memang adalah waktuCiptaan abadi.

    Jika pun Sapardi dan kuasanya tak dapat hilang sama sekali dari sajak-sajaknya, ia jelas menyingkir dari pusat dan memilih jadi kawan bahkan mungkin abdi yang mendampingi pembaca untuk maju ke tengah dan menduduki tahta penciptaan. Entah sebagai abdi, sebagai kawan, atau sebagai guru besar yang dicinta, sajak-sajak terbaik Sapardi takkan merelakan kita sendiri, akan tetap mensiasati dan tak letih-letihnya mencari, agar kita tetap mencipta dan memfanakan waktu.  Saya bayangkan Sapardi Djoko Damono akan tersenyum senang jika karya-karyanya membuat pembacanya, yang telah mendapat mata tambahan dari seni dan sains, tumbuh jadi pencipta yang bahkan lebih besar dari si penyair sendiri.

     

    Pada Suatu Hari Nanti

    pada suatu hari nanti
    jasadku tak akan ada lagi
    tapi dalam bait-bait sajak ini
    kau takkan kurelakan sendiri

    pada suatu hari nanti
    suaraku tak terdengar lagi
    tapi di antara larik-larik sajak ini
    kau akan tetap kusiasati

    pada suatu hari nanti
    impianku pun tak dikenal lagi
    namun di sela-sela huruf sajak ini
    kau takkan letih-letihnya kucari

    (1991)

     

    Jakarta, 17 Agustus 2020

     

    ———————————————

     

    Sumber Tulisan sastraindonesia.com

    Daftar Pustaka

    * K.A. Stroud. Matematika untuk Teknik, Jakarta: Erlangga, 1991. Alih bahasa: Erwin Sucipto
    * Sapardi Djoko Damono. Hujan Bulan Juni: Pilihan Sajak, Jakarta: Grasindo, 1994
    * Sapardi Djoko Damono. Hujan Bulan Juni: Pilihan Sajak, Jakarta: Editum, 2000
    * Sapardi Djoko Damono. Mata Jendela, Jakarta: Editum, 2010
    * Sapardi Djoko Damono. Kolam, Jakarta: Editum, 2010
    * Sapardi Djoko Damono. Ayat-Ayat Api, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000
    * Sapardi Djoko Damono. Sihir Rendra: Permainan Makna, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999

     

  • Belajar dari Perang Paragreg, sebuah Refleksi Sejarah Bangsa ke Depan

    Belajar dari Perang Paragreg, sebuah Refleksi Sejarah Bangsa ke Depan

    Oleh Agus Widjajanto

     

    MELIHAT situasi geopolitik dan geostrategis di Asia Tenggara dan global saat ini, membenarkan analisa bahwa dalam politik tidak ada yang namanya istilah kawan maupun lawan abadi. Apalagi dalam politik erat kaitannya dengan kekuasaan, baik itu kekuasaan dalam sebuah negara maupun kekuasaan kawasan.

    Kita bisa melihat bagaimana perang Ukraina dan Rusia yang sebelumnya sudah diprediksikan banyak pihak benar-benar terjadi, Hamas Palestina dan Israel, Taiwan yang selalu mewaspadai invasi militer dari Tiongkok.

    Di negara kita, konflik atau sengketa di Natuna hingga kini belum menemui titik terang. Saling klaim dan tumpang tindih (nine dase line) atas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) beradu pengaruh antara China dan Amerika bersama sekutunya Australia dan United King Dom. Belum lagi pangkalan militer negara adidaya yang mengelilingi wilayah Indonesia.

    Di Filipina, Presiden Marcos Jr mengijinkan dibukanya pangkalan militer di 9 titik. Dari Pulau Palawan di utara Kalimantan, Darwin Australia yang berdekatan dengan Nusa Tenggara Timur, Pulau Kokos yang berdekatan dengan Sumatra, Diego Garcia di Samudera Hindia. Berikut Singapura uang menjadi ‘pangkalan logistik’ bagi Amerika Serikat.

    Melalui adagium “tidak ada kawan dan lawan yang abadi dalam politik”, kami menganggap bahwa sejarah masa lalu di Nusantara yakni Imperium Majapahit, sangat relevan untuk dihadirkan kembali. Khususnya pada puncak meletusnya Perang Paragreg yang menghancurkan Imperium Majapahit, medio 1400 Masehi.

    Perang kerap tidak bisa diprediksa kapan datang dan meletus nya , kadang dipicu hal hal sepele yang punya implikasi besar terhadap peradapan manusia, dan perang merupakan sejarah awal adanya sebuah negara di muka bumi ini akan selalu ada, maka kewaspadaan harus tetap terjaga, lebih lebih negara kita dikaruniai sumber Daya alam yang begitu melimpah, letak Demografis yang sangat strategis, walau tidak selama nya invasi sebuah negara selaku menggunakan kekuatan militer, dimana Neo Imperalisme Modern juga menggunakan budaya, Hak asasi manusia,  Ekonomi melalui lembaga Keuangan Dunia IMF , World Bank dan kurs mata uang asing  dan Demokrasi untuk mencengkeram pengaruh nya dalam menguasai sebuah bangsa. Ini yang harus diwaspadai dimana penghancuran dari dalam kepada sebuah Bangsa merupakan modus lama dengan tema dan strategi baru yang dibungkus dengan Demokrasi, Hak asasi manusia dan  budaya serta bantuan ekonomi tersebut .

    Belajar dari suasana debat calon presiden semalam tgl 7 Desember dimana pasangan calon capres  menyerang pasangan calon lain , menyangkut data pertahanan yang harus dibuka didalam debat terbuka, menunjukan kekerdilan cara berpikir jauh dari sifat kenegarawanan yang melindungi kerahasiaan negara , yang hanya punya tujuan politik kekuasaan praktis semata, bisa mrmbahayakan pertahanan dan kerahasiaan negara sendiri, dan ini pembelajaran bagi kita bagi generasi kita, apapun yang terjadi jangan mengorbankan kepentingan bangsa dan negara. Harus punya jiwa Nasionalis sejati yang dilandasi cinta tanah air. Dan kita harus belajar dari sejarah bangsa ini, mengapa bisa dijajah bangsa asing hingga ratusan tahun .

    Kembali kilas sejarah kebelakang dalam sejarah bangsa ini,  seperti tertulis dalam Sejarah,  Raja terbesar dari kerajaan Majapahit yaitu Hayam Wuruk membawa Majapahit mencapai masa kejayaan, dengan menguasai Nusantara yang saat ini meliputi seluruh wilayah NKRI ditambah, semenanjung Malaya, tumasik atau Singapure,  Kamboja, Philippines, Brunai Darussalam, sebagian Thailand, Vietnam  yang saat ini meliputi hampir seluruh Wilayah Asia Tenggara. Yang saat itu Maha Patih Gajah Mada Atau Perdana Menteri dari pada Raja  Hayam Wuruk, dengan Sumpah Amukti palapanya, akan mempersatukan seluruh Nusantara dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit.  Dan benar terjadi dalam kekuasaan Majapahit, yang mempunyai Armada Angkatan Laut terbesar dan terkuat di Asia tenggara saat itu.

    Usai kekuasaan Hayam Wuruk, Majapahit sendiri mengalami perpecahan akibat terjadinya perebutan kekuasaan di lingkungan kerajaan saat itu, yang dikenal dalam sejarah dengan Perang Paragreg .

    Perpecahan Majapahit, usai wafatnya Hayam Wuruk juga ditulis dalam kitab Pararaton, dimana Majapahit terbelah menjadi dua yakni wilayah Barat dan wilayah Timur.  Bre Wirabumi  memimpin Majapahit di sisi Timur, usai perang Paragreg, dikutip dari “Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Leluhur Majapahit”  Raja Hayam Wuruk mempunyai dua orang saudara perempuan yakni, Bre Lasem yang kawin dengan Raden Larang dari Metahun, dan Bre Panjang yang kemudian kawin dengan Raden Sumana yang bergelar Bre Paguhan. Perkawinan Bre Lasem dengan Bre pajang tidak melahirkan keturunan .

    Kakawin Negara Kertagama juga menyinggung dua adik perempuan Dyah Hayam Wuruk tersebut yakni Bre Lasem dan Bre Pajang, dimana dalam kakawin Negara Kertagama mencatat lebih jelas, bahwa Bre Lasem sebenarnya adalah anak putri Daha, lahir dari perkawinan Bre Daha Dyah Wiyat Sri Rahadewi Maharajasa, dengan Bre Wengker Hyang Parameswara yang bergelar WijayaRajasa.

    Jadi sebenarnya Bre Lasem adalah saudara sepupu dari Raja Dyah Hayam Wuruk, Bre Lasem bernama Rajasa duhitendu Dewi dia adalah putri tunggal Bre Daha yang berhak menggantikan ibunya Dyah Wiyat Sri Rahadewi, sebagai Bre Daha. Sedang kan  Bre Pajang kawin dengan Sri Singawardana dari Paguhan.

    Oleh karena Empu Prapanca, pengarang kitab Nagara Kertagama yang hidup pada saat zaman Raja Dyah Hayam Wuruk kiranya uraian sejarah nya lebih bisa diterima dan dipercaya dari pada uraian Pararaton, namun pada hakekatnya uraian Nagara Kertagama dan Pararaton itu dalam banyak hal saling melengkapi satu dengan yang lain.

    Menurut catatan dalam Pararaton dari perkawinan Bre Pajang dan Singawardana dari Paguhan lahir Raden Gagak sali alias Aji Wikrama atau Wikrama Wardhana yang bergelar Bre Mataram.

    Sementara dalam Negara Kertagama, Bre Lasem kawin dengan Bre Wrabhumi  putra dari Dyah Hayam Wuruk dari selir (Binihaji ), sedang kan Bre Kahuripan yang kemudian kawin dengan Raden Sumirat alias Bre pandan alas.

    Pararaton menyatakan bahwa Bre Wirabumi diaku putra oleh Bre Daha, yang dimaksud  dengan Bre Daha disini bukan Dyah Wiyat Sri Rahadewi, bibik Dari Dyah Hayam Wuruk, karena Dyah Wiyat hidup dua generasi lebih tua, akan tetapi Rajasa Duhitandu Dewi, karena perkawinannya dengan Bre Matahun tidak membuahkan keturunan. Dyah Wiyat Sri Rahadewi wafat pada tahun 1371 di buatkan candi di Adilangu. Nama candinya bukit purwawisesa, kiranya sepeninggal Bre Daha Dyah Wiyat Sri Rahadewi tersebut, Rajasa Duhitendu Dewi berpindah dari Lasem ke Daha, berkat perpindahan tersebut ia bergelar Bre Daha, Rajasa Duhitundudewi ialah putri tunggal yang berhak menguasai tahta kerajaan Daha .

    Pada waktu itu ayahnya Sri Wijaya Rajasa yang bergelar Bre Pamotan Hyang Parameswara masih hidup, dan menguasai Kerajaan Timur yang ber ibukota di Pamotan,  Bre Pamotan Hyang Parameswara wafat pada tahun 1338 M, satu satunya pewaris Kerajaan Timur ialah Bre Daha Rajasa Duhitundadewi, ibu angkat dari Bre Wirabumi.

    Sejak tahun 1388 M Rajasa Duhitundadewi berpindah dari Daha ke Pamotan, sedangkan Bre Wirabumi secara resmi menjadi Bre Daha, dalam berita dari Pengembara Tiongkok disebutkan Bre Wirabhumi itu disebut Put Ling Ta ha translate China dari putri Daha atau Bre Daha.

    Berkat pengangkatannya sebagai putra Bre Daha, Bre Wirabhumi berhak mewarisi kerajaan majapahit sebelah timur, yang sejak tahun 1388 dikuasai Bre Daha Rajasaduhitjndadewi.

    Tidak mengherankan jika pada tahun 1403 berita China itu menyebut Bre Wirabhumi yang sejak tahun 1388 menjadi Bre Daha, penguasa kerajaan Timur.

    Bre Daha ( put Ling Ta ha ) pada tahun itu mengirim utusan ke negeri China untuk meminta pengakuan dari kaisar Yunglo , dari situlah Bre Wirabhumi dapat menjadi penguasa Timur yang telah dirintis oleh Hyang Parameswara WijayaRajasa sejak tahun 1377.

    Bahwa kekuasaan Majapahit mengalami kemunduran dan pecah menjadi dua wilayah disebabkan oleh tiadanya Raja yang disegani dan berwibawa saat itu, yang kedua akibat Tiadanya Mahapatih atau perdana menteri sekaliber Gajah Mada untuk membantu pemerintahan yang ada, yang ketiga terjadi perang Paragreg atau perang saudara yang saling  mengklaim lebih berhak berkuasa, karena tidak adanya keturunan dari Hayam Wuruk saat itu.

    Sejarah mencatat, meletusnya perang paregrek dalam kekuasaan internal Majapahit diduga kuat akibat dari pengakuan kedaulatan dari Dinasti Tiongkok saat itu pada medio tahun 1400, Masehi oleh kaisar Yung Lo, dari Dinasti Ming  dimana dinasti Tiongkok memberikan stempel berlapis emas sebagai pengakuan resmi kedaulatan atas Istana Majapahit Timur, yang mana utusan Tiongkok saat itu dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho. Saat itu dikatakan bahwa pada tahun 1405 M, Laksamana Cheng Ho berkunjung kepada Bre Wirabumi di Istana Majapahit Timur, dan atas dasar pengakuan kedaulatan sepihak itulah maka, Istana Majapahit Barat yang Rajanya Bhre Wirakrama Wardhana, tidak terima dan menyerbu satu tahun kemudian sejak Laksamana Cheng Ho berkunjung, Tarikh yang ditulis oleh utusan China Tiongkok sama dengan yang tertulis dalam pararathon. Dan peristiwa perang Saudara yang dikenal dengan perang Paregrek itulah menjadi pemicu runtuhnya kekuasaan Majapahit dikemudian hari.

    Maka jangan sekali kali melupakan sejarah Bangsa, Kita harus Belajar dari sejarah atas perang paregrek, dimana menjadi pembelajaran kita dalam mengambil kebijakan dalam politik hukum, agar peristiwa tersebut tidak terulang lagi dimasa kini.

    Kebesaran suatu Bangsa akan mengalami siklus naik turunnya kekuasaan berdasarkan Tjokro manggilingan atau siklus tiga ratusan tahunan, dan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya Kertarajasa, juga mengalami hal sama. Demikian kekuasaan Dari Imperium Imperium besar di belahan Bumi lainya, cuma kita berdoa semoga Tuhan yang Esa, akan memberikan siklus tersebut kepada Negeri tercinta Indonesia ini, dilahirkan pemimpin yang besar yang akan membawa kejayaan dan dihormati Dunia internasional, menuju masyarakat adil makmur, gemah ripah loh jinawe, toto tentrem kerto rahardjo.

     

    Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangraw

     

    Jakarta , 19, Juni 2023

     

    *Penulis adalah Praktisi Hukum dan  Penulis  Sejarah Budaya, Politik dan Hukum
  • Kebudayaan dan Antisipasi

    Kebudayaan dan Antisipasi

     

    Oleh  Ignas Kleden

     

    KALAU dikaji agak mendalam, akan kelihatan bahwa antisipasi dan sikap reaktif merupakan dua watak dasar dalam suatu kebudayaan.

    Kebiasaan untuk melakukan antisipasi muncul dari pengandaian (eksplisit atau laten) bahwa dalam tiap keadaan, rencana, dan program akan selalu muncul kesulitan, hambatan, dan masalah yang sepatutnya dihadapi dengan semacam persiapan. Kesiapan menghadapi perkiraan tentang masalah dan kesulitan yang bakal muncul dilakukan dengan mengalkulasi beberapa jenis masalah berdasarkan kategori yang disusun untuk keperluan ini, dan sekaligus menyiasati sejumlah ikhtiar untuk mengatasi kesulitan-kesulitan itu apabila benar-benar muncul.

    Pertama, masalah dapat muncul dari pelaksanaan suatu program atau kebijakan sekalipun program itu dilaksanakan dengan baik sesuai dengan rencana. Hampir selalu muncul akibat-akibat yang tak sengaja dan tak terduga dari pelaksanaan suatu program. Sosiologi menyebutnya unintended results atau akibat yang muncul di luar rencana. Pelaksanaan otonomi daerah sejak Januari 2001 dimaksudkan untuk mengurangi sentralisme kekuasaan pemerintah pusat dan desentralisasi pemerintahan ke daerah, melalui delegasi wewenang yang lebih besar kepada kepala daerah (bupati atau wali kota).

    Akibat yang tak diduga ialah penerapan otonomi daerah kemudian mengakibatkan menguatnya sentimen-sentimen kedaerahan, baik menurut garis etnis, garis wilayah, garis agama, maupun garis kekerabatan. Konflik-konflik sosial dalam banyak pilkada telah turut disulut oleh sentimen-sentimen ini.

    Kedua, masalah dapat muncul karena sebuah program atau kebijakan diselewengkan melalui sejumlah intervensi dalam pelaksanaannya. Pemilihan kepala daerah secara langsung tentu dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada masyarakat lokal untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan aspirasi dan harapan mereka dan tingkat keterpilihannya dapat mereka pengaruhi melalui suara yang mereka berikan dalam pemilihan. Dengan kata lain, memberi peranan lebih besar kepada partisipasi politik masyarakat setempat. Namun, dalam pelaksanaan, partisipasi pemilih itu dikacaukan penggunaan uang untuk menyogok para pemilih, dengan akibat pemilih menjadi tidak bebas dalam memberikan suara, dan tidak memilih pemimpinnya menurut pertimbangan dan hati nurani mereka. Ketiga, masalah dapat juga timbul karena muncul perkembangan baru yang memengaruhi pelaksanaan suatu kebijakan dan program, yang disusun pada waktu perkembangan baru itu belum terjadi. Contoh yang paling mutakhir ialah berubahnya banyak kerja sama dalam hubungan Indonesia–Australia, dalam bidang diplomasi, politik, ekonomi, dan pertahanan setelah terungkap penyadapan telepon Presiden Indonesia dan beberapa petinggi RI lainnya pada 2009 oleh pihak intelijen Australia.

     

    Antisipasi dan kesiapan

    Orang-orang yang terbiasa pada antisipasi terbiasa juga menghitung dan membayangkan masalah dan kesulitan yang mungkin muncul dalam pelaksanaan suatu program serta menanggapinya sebagai hal yang tidak luar biasa dan tidak harus mengejutkan, tetapi patut dihadapi dengan ikhtiar yang sepadan. Inilah sebabnya monitoring dan evaluasi selalu ditetapkan sebagai bagian penting dalam manajemen suatu proyek. Monitoring berfungsi melihat berhasil atau gagalnya suatu proyek pada tingkat implementasinya, sementara evaluasi melihat kelayakan proyek itu berdasarkan kebutuhan yang ada, kemungkinan yang tersedia, dan hambatan-hambatan yang timbul, bukan saja secara teknis, melainkan juga secara strategis dan mungkin juga politis. Yang satu mengecek doing things right, yang kedua memeriksa doing the right things.

    Sebaliknya, tidak kurang pula orang-orang yang lebih cenderung tidak melihat masalah, acuh terhadap kesulitan yang timbul, dan mengandaikan bahwa program akan berjalan mulus dan lancar, selama dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Sikap ini dapat dilihat dalam kebiasaan untuk memulai suatu proyek dengan ritual yang meriah, yang dihadiri pejabat-pejabat tinggi dan rendah, yang memperlakukan awal suatu kerja besar bagaikan perayaan ulang tahun, yang penuh karangan bunga dan tepuk tangan disertai kehangatan ciuman pipi kiri dan kanan.

    Kebiasaan memulai pekerjaan besar dengan suasana yang riuh rendah dan bukan dengan penuh kehati-hatian, perhitungan dan kesiapan menghadapi rintangan, merefleksikan semacam alam pikiran, di mana kesulitan dan masalah tidak ditanggapi sebagai sesuatu yang normal dan harus diterima dengan wajar dan waras, tetapi merupakan penyimpangan atau deviasi dari rencana yang seharusnya berjalan serba mulus. Masalah dan kesulitan tidak dilihat sebagai bagian dari pelaksanaan program, tetapi sebagai keadaan eksternal yang tidak normal, dan bahkan merupakan contingency yaitu keadaan tak pasti yang muncul mendadak secara serba kebetulan.

    Untuk mudahnya, bisa dikatakan, kelompok pertama memasukkan antisipasi dalam sikap budaya mereka, sedangkan kelompok kedua cenderung hanya bersikap reaktif terhadap keadaan yang dikiranya muncul mendadak dan kebetulan. Dilihat dalam perspektif waktu, mereka yang berantisipasi mempunyai mekanisme kejiwaan untuk melihat hidupnya pada masa sekarang selalu dalam hubungan erat dengan masa depan, dan dampak masa depan terhadap keadaan sekarang. Sebaliknya, mereka yang memandang hidupnya tanpa persoalan cenderung membatasi perhatiannya pada masa sekarang saja, sedangkan masa depan berada jauh di luar masa sekarang dan tidak banyak sangkut pautnya dengan masa sekarang.

    Dalam kehidupan sosial-politik di Indonesia, ada beragam contoh yang memperlihatkan dengan cukup jelas sikap tanpa antisipasi dan kebiasaan untuk memberikan reaksi sekadarnya apabila memang muncul masalah dalam pelaksanaan program atau kebijakan. Dalam kaitan ini, sangat mungkin bahwa kepemimpinan Jokowi-Ahok di DKI Jakarta mendapat banyak dukungan dan simpati karena keduanya, secara sengaja atau tidak, telah mengubah kebiasaan pemerintah yang hanya reaktif terhadap masalah yang timbul, melalui antisipasi yang terukur dan diperhitungkan dalam rencana dan kinerja mereka.

    Masalah banjir umpamanya telah muncul selama puluhan tahun di Jakarta, tetapi Pemerintah DKI seperti kelabakan setiap kali menghadapinya, dan akhirnya menyerahkan saja kepada warga untuk menyelamatkan diri dengan caranya masing-masing. Bagi orang yang bukan ahli pun sudah jelas antisipasi apa yang perlu dilakukan untuk menghadapi masalah banjir. Memang, banjir di Jakarta adalah masalah amat besar yang perlu ditangani dengan kebijakan nasional dan dukungan pemerintah pusat. Namun, kalau banjir belum bisa dihentikan segera, ada banyak hal lain yang dapat dilakukan untuk memperkecil akibatnya dan mengurangi risiko yang menimpa penduduk.

    Pemerintah Jokowi-Ahok membaca situasi itu dengan baik dan mengambil tindakan yang langsung dirasakan manfaatnya oleh penduduk Jakarta. Tanpa banyak pidato mereka mengamankan daerah penyerapan hujan, seperti Pluit, setelah berhasil membujuk penduduk pindah ke tempat baru yang disediakan Pemerintah DKI. Ini dilakukan dengan tegas, tetapi sopan.

    Gorong-gorong dibersihkan dan diperlebar, serta sungai dan kali digali, diperdalam dan diperlebar, yang semuanya dilakukan dalam dialog yang terus-menerus dengan penduduk Jakarta agar menerima dan mendukung kebijakan mereka. Mereka juga tidak meributkan yang dilalaikan pemerintah sebelum mereka karena orientasi adalah masa sekarang yang dibangun berdasarkan antisipasi ke masa depan.

    Pada tingkat nasional, pemerintah mengalami kesulitan dalam mempertahankan dan melanjutkan subsidi bahan bakar minyak. Anehnya, tidak ada regulasi tentang pembelian dan pemakaian mobil dengan mesin yang ukurannya banyak menyedot bahan bakar minyak (BBM). Pasar mobil dibiarkan bergerak dengan sangat liberal, padahal sudah ada contoh yang baik dan bisa ditiru dari zaman pemerintahan Presiden Soeharto. Ketika terjadi krisis energi pada tahun 1970-an, dikeluarkan peraturan oleh Pemerintah Orde Baru, yang melarang impor dan produksi mobil dengan mesin yang melebihi 3.000 cc.

    Sekarang ini pembelian dan pemakaian mobil seakan diserahkan saja kepada kemampuan keuangan dan preferensi gaya hidup setiap orang dan bukan berdasarkan pertimbangan tentang kemampuan negara dalam melakukan suplai BBM berdasarkan stok yang ada. Muncul kemudian reaksi ad hoc seperti bantuan langsung tunai yang boleh dikata tidak lebih fungsinya daripada menjadi pain killer untuk penderitaan rakyat karena naiknya harga BBM, tetapi pastilah bukan resep untuk mengatasi kesulitan menyangkut BBM.

    Hal yang sama dapat dikatakan tentang listrik. Jusuf Kalla, ketika masih menjabat Wakil Presiden dalam periode pertama pemerintahan Presiden SBY, pernah mengemukakan gagasan bahwa Indonesia memerlukan pembangkit tenaga listrik yang dapat menghasilkan tambahan 10.000 MW listrik untuk mengatasi gejala byarpet yang berulang kali terjadi. Setelah Jusuf Kalla tidak lagi menjadi wakil presiden, gagasan itu seperti dibawa angin lalu dan tidak kelihatan usaha untuk merealisasikannya. Bangsa kita tidak terbiasa dengan antisipasi dan kembali kepada kebiasaan lama untuk memberikan reaksi-reaksi ad hoc, seperti pemadaman bergilir dari tempat yang satu ke tempat yang lain, dan memberi kesan Jakarta yang mentereng, berubah menjadi desa di pedalaman pada waktu malam.

    Contoh-contoh seperti ini dengan mudah dapat dipungut dari kebijakan pemerintah kita dalam sektor mana pun, tetapi intinya relatif sama, yaitu kecenderungan untuk hanya memberikan reaksi kalau sudah muncul masalah dan bukannya menyambut masalah secara kreatif karena ada antisipasi yang memperhitungkan kemunculan masalah-masalah dalam suatu kebijakan.

     

    Pergeseran mental

    Sebetulnya antisipasi bukanlah sesuatu yang susah-susah amat untuk dilakukan. Untuk dapat menginternalisasi kebutuhan dan kebiasaan antisipasi, dibutuhkan beberapa pergeseran secara mental.

    Pertama, perlu diubah anggapan mengenai kebudayaan ataupun mengenai ekonomi dan politik. Kebudayaan tidak saja mengandung harmoni, tetapi juga mengandung potensi-potensi konflik, yang harus dikelola secara produktif. Ekonomi dan politik tidak selalu berjalan mulus, tetapi mengundang masalah dan kesulitan yang harus dihadapi dengan persiapan dalam antisipasi yang memperhitungkannya dan komitmen untuk mengatasi masalah apabila benar-benar muncul dalam perjalanan waktu.

    Kedua, perspektif waktu dalam kebudayaan Indonesia perlu dipertajam, baik mengenai masa lampau, masa sekarang, dan masa depan serta kaitan yang ada di antaranya. Bahasa Indonesia tidak banyak menolong menanamkan perspektif waktu karena dalam sintaksis bahasa kita yang ada hanya masa sekarang, dan tidak ada masa lampau dan masa depan. Ini juga barangkali sebabnya kalau seorang pemimpin mengatakan akan menurunkan tingkat kemiskinan, karena tipuan bahasa, dia cenderung percaya bahwa dia sudah atau sedang menurunkan tingkat kemiskinan karena perspektif masa lampau dan masa depan hanya ditunjuk dengan kata keterangan seperti “sudah”, “akan”, dan semacam itu.

    Kemampuan antisipasi pada akhirnya adalah indikator kebudayaan tentang kedewasaan suatu bangsa, apakah dia akan menghadapi masalah dengan terkejut dan emosional atau dia akan menanggapinya secara rasional dan siap mengatasinya.****

     

    —————————

     

    Ignas Kleden, Sosiolog

    Sumber Tulisan  Kompas, Kamis, 28 N9venber 2013.

     

     

     

     

  • Prof. Dr. Wahyu Wibowo: Karya Puisi Pulo Lasman Simanjuntak Penuh dengan Teknik Pembentukan Imaji Liar

    Prof. Dr. Wahyu Wibowo: Karya Puisi Pulo Lasman Simanjuntak Penuh dengan Teknik Pembentukan Imaji Liar

    Jakarta berandamegeri.com. “Karya puisi Pulo Lasman Simanjuntak penuh dengan teknik  pembentukan imaji liar,” ujar Prof. Dr. Wahyu Wibowo, Dosen Fakultas Sastra Universitas Nasional, di Jakarta, Rabu (3/1/2024).

    Menurutnya, maksud liar di sini, menyuguhkan diksi yg dianggap tidak umum. “Misalnya, memilih kata “janin” untuk dikatakan bahwa janin tersebut lahir dari pecahan rahim rembulan. Penggunaan kata “rahim rembulan” yang disandingkan dengan kata “janin” melahirkan imaji liar tersebut,” ucapnya.

    Prof. Dr. Wahyu Wibowo, Guru Besar Sastra Universitas Nasional (UNAS) Jakarta, (Foto: Lasman}

     

    Karena maknanya menjadi ambigu (jika tidak hendak disebut gelap), pembaca akan menabrak ke sana kemari untuk mencari makna benarnya.

    “Dan, gaya ini ditekuni Pulo Lasman Simanjuntak sepanjang karier berpuisinya yang berlangsung sejak lama. Jadi kiranya inilah gaya ucap  Pulo Lasman Simanjuntak sebagai penyair,” tegasnya.

    Coba simak bait puisinya, “kuburan berbatu-batu disinari matahari murtad”, lalu renungi apa maknanya.

    “Tapi, memang, Pulo Lasman Simanjuntak  mencerminkan semangat litentia poetica sejati,” pungkasnya.

    “Ibarat sedang berada di  kebun apel, Pulo Lasman Simanjuntak tinggal memetik apel-apel itu dengan bahagia dan riang lalu memasukkannya ke dalam keranjang,” ucap Penyair dan Sastrawan  Herman Syahara di Jakarta, Rabu (3/1/2024).

    Dikatakan, begitu apel-apel itu berada di keranjangnya, maka semua orang akan bersepakat, itu adalah apel hasil petikan Pulo Lasman Simanjuntak.

    Ada yang merah tua,  merah muda kehijauan, berukuran sedang,  kecil,  atau besar.

    “Begitulah saya melukiskan bagaimana perlakuan Pulo Lasman Simanjuntak terhadap puisi-puisinya.Juga puisi berjudul Janin Rembulan ini,” ucapnya.

    Menulis puisi, lanjutnya, bagi Pulo  Lasman Simanjuntak  seperti tak terbebani oleh pilihan diksi. Dia tinggal memetik kata-kata itu lalu menyusunnya ke dalam puisi yang sedang ditulisnya.

    “Pembaca pun mafhum,  itulah puisi Pulo Lasman Simanjuntak, berhias majas-majas yang rapat dan rimbun seperti tak tertembus indra san rasa,” ujarnya.

    Namun,  bagi yang paham siapa Pulo Lasman Simanjuntak,   dia akan segera tahu bahwa  selain sebagai rohaniawan yang mengenal apa itu makna  podium  dan jemaat, dia juga seorang jurnalis yang terlatih memilah dan memilih diksi.  Perpaduan antara jurnalis dan pengkhotbah ini nampak berkelindan,  berjejak jelas pada puisi-puisi Pulo Lasman Simanjuntak,” tegasnya.

    Sementara itu Penyair Nanang R Supriyatin mengatakan  puisi karya Pulo Lasman Simanjuntak menemui diksi yang baru dan bagus.

    “Narasinya dan estetika harus dibangun terus. Diksi, dan tema, sudah menciptakan inspirasi buat pembaca.Diksi dan tema dalam puisi Pulo Lasman Simanjuntak sudah terbangun sangat kuat, ” pungkas Nanang R Supriyatin di Jakarta, Rabu (3/1/2024).

    Berikut di bawah ini 4 sajak/puisi karya Pulo Lasman Simanjuntak

     

    JANIN REMBULAN

    janinnya lahir dari pecahan rahim rembulan
    pada malam mencemaskan Sajak
    bahkan darahnya mengalir ganjil
    menyusuri mataair
    bermuara pada sebuah gua rahasia
    teramat dalam
    disimpan sekian waktu
    ada jarak keras
    sampai angin dinihari berlalu

    ke sana dimulai titik perzinahan
    sungguh menjijikkan, katamu
    mengurai dua musim
    menguliti tubuhnya
    tanpa warna obat
    di meja operasi berbayar

    seperti pendatang asing
    yang mau ziarah sunyi
    di kuburan berbatu-batu
    disinari matahari murtad
    sampai tiba di bumi ini
    tangisan lelaki perkasa
    tanpa airmata kedunguan

    Jakarta, Minggu, 3 Desember 2023

     

    MENULIS SAJAK DENGAN AIR LUMPUR

    menulis sajak dengan air lumpur
    tubuhku harus turun perlahan
    ke kaki-kaki bumi
    jaraknya dibatasi ribuan paralon
    kadang tak puasa seharian
    menelan perkakas biji besi
    sampai bersekutu
    dengan kegelisahan
    tak mandi matahari

    nyaris tiga tahun
    aku buas memperkosa
    apa saja binatang liar
    yang menyusup dalam air tanah

    menulis sajak dengan air lumpur
    tak kunjung selesai
    sampai bait ketiga

    lalu kutebar kemarau
    di area persawahan yang berkabut
    baunya sangat membusuk
    racunnya tiba-tiba membentuk
    sebuah ritual yang menyebalkan
    sehingga kulitku gatal dan keruh
    membabi buta siang dan malam

    maka menulis sajak dengan air lumpur
    harus diselesaikan dengan tuntas

    Jakarta, 2023

     

    PRIA TANPA KELAMIN

    pria tanpa kelamin
    rajin menyapa
    hujan sorehari
    sambil tertidur pulas
    menjelma jadi hewan pemalas

    dari atas ranjang tembaga
    ditularkan ribuan kuman
    tumbuh subur
    dalam akar panas bumi
    perlahan dimatikan
    angan-angan terjebak di atas dahan

    setiap pergi pagi buta
    ingin menembus belantara kota jakarta

    hari-hari selanjutnya
    makin mengerikan
    paru-parunya kini terinfeksi
    bakteri takut dewa matahari
    bahkan hatinya
    hanya mengalahkan dua kali
    semakin gelap
    ingin pergi ke planet
    dunia orang mati

    pria tanpa kelamin
    memiliki sepotong ginjal
    yang telah membuat bengkak
    seluruh rumah suci
    tempat orang berdoa
    mengumpulkan dosa
    masa lalu paling menyakitkan

    pria tanpa kelamin
    pingsan sejenak
    lalu bangun lagi
    tabur mawar
    di tempat tidur penyakit menular
    benar-benar liar

    apakah masih ada harapan
    karena kemelaratan
    berlanjut untuk waktu yang lama

    Jakarta, 2023

     

    RUMAH SAKIT BERTINGKAT

    dari muka tulisan suci
    tubuhnya terus membengkak
    berubah menjadi bangunan
    rumah sakit bertingkat

    lalu menatap langit sepanjang hari
    yang menelan
    kuman diagnosis penyakit
    menyebarkan
    kesepian berdahak
    dari perawan yang tidak memiliki sperma berkepanjangan

    jam berapa sekarang, tanyanya
    bau infus telah menyebar
    ke kuburan basah
    air mata merah
    kemarahan
    telah menyebarkan kebohongan

    “Jika kematianku datang, biarlah dibungkus dengan kain kafan tua, karena peti mati itu terlalu mahal untuk dijual di bawah bumi tak berpenghuni,” pesanmu

    lalu sebelum pulang
    telah melewati ranjang kematian ini
    tepat di bawah perutmu yang berlubang
    disuntikkan ke dalam terowongan berair
    tembus ke liang lahat
    memang mengerikan!

    Jakarta 2023

     

    Kontributor : Eykel Lasflorest

  • Apakah Partai Politik Mewakili Suara Rakyat adalah Suara Tuhan (“Vox Populi Vox Dei”)?

    Apakah Partai Politik Mewakili Suara Rakyat adalah Suara Tuhan (“Vox Populi Vox Dei”)?

    Oleh  Agus Widjajanto

     

    Pendapat Filsuf Yunani Kuno dalam bahasa Latin Vox Populi Vox Dei yang apabila  diterjemahkan dalam bahasa kita yang artinya ‘Suara Rakyat adalah Suara Tuhan’, yang awalnya hanya dikenal dalam dunia peradilan diseluruh dunia yang menganut Demokrasi , dimana posisi Hakim sebagai pemutus perkara diibaratkan Suara Tuhan yang harus menjaga Marwah keadilan atas nama Rakyat.

    Dalam perkembangannya istilah ‘Suara Rakyat adalah Suara Tuhan’ sangat erat kaitannya dengan dunia politik yang diadopsi oleh negara-negara seluruh dunia untuk kepentingan politiknya , termasuk Indonesia .

    Proses politik yang melibatkan rakyat secara langsung seperti pemilihan presiden dan wakilnya, pemilihan gubernur kepala daerah , bupati walikota , dan anggota DPR-DPRD propinsi dan DPRD kota madya kabupaten, dianggap paling ideal, dibandingkan melalui sistem perwakilan yang sering terjadi  transaksional, yang dianggap tidak sesuai aspirasi rakyat.

    Yang jadi pertanyaan besar kita , bahwa sesuai pasal 6A ayat 2 “Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik, peserta Pemilu”  apakah pasangan Calon Presiden dan Wakil presiden yang diajukan oleh Partai Politik atau gabungan dari Partai Politik , merupakan aspirasi rakyat atau aspirasi dari yang diwakili partai ? Apakah memang sudah kehendak rakyat, dimana ‘Suara Rakyat adalah Suara Tuhan’?

    Belajar dari pemilu tahun-tahun  yang sudah berlalu, partai besar pun harus realistis apakah tetap mendorong seorang  tokoh yang ternyata kurang dikehendaki rakyat.

    Karena kenyataannya keputusan politik ada ditangan partai , tergantung kebijakan partai, bahkan ada yang terus terang bilang tergantung dari ketua umum partai, hingga ada istilah ‘petugas partai’ bagi calon presiden . Ini fenomena yang terjadi, yang tidak bisa kita pungkiri. Mekanimse pencalonan yang terjadi saat ini membuat rakyat seolah dipaksa untuk memilih calon yang sudah ditentukan oleh partai politik atau gabungan partai politik.

    Apabila mengacu ke sila keempat dari Pancasila yang berbunyi “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” dalam sila tersebut sejatinya tidak ada kata-kata yang butuh penafsiran, selain  bahwa rakyat memberikan mandat kepada permusyawaratan perwakilan melalui sebuah majelis, yang merupakan lembaga tertinggi selaku wakil rakyat, selaras prinsip Vox Populi Vox Dei (suara rakyat adalah suara Tuhan) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Sistem perwakilan, dimana negara ini dibentuk dari awal oleh para pendiri bangsa, dan kondisi sistem ketatanegaraan kita saat ini khususnya dalam  kaitan pemilu langsung dan kedudukan MPR yang tidak jelas,  merupakan pengingkaran dari soko guru yang telah dibangun dari awal oleh pendiri bangsa.

    Bahwa dikarenakan dalam hukum dasar kita kedudukan MPR sudah bukan lagi lembaga tertinggi, maka GBHN pun tidak lagi jadi acuan dalam rencana pembangunan kedepan baik lima tahunan, sepuluh tahunan maupun jangka menengah dan jangka panjang, yang berakibat kita kehilangan kompas ( petunjuk arah tujuan ) yang bisa kita lihat sekarang ini, tanpa perencanaan, warga negara dipaksa menonton apa pun yang akan dan sedang dibangun, karena memang konstitusi tidak memberikan mandat kompas dan perencanaan yang jelas dan baku. Ini yang harus dipahami para generasi muda, bahwa sistem ketata negaraan kita ada yang pincang.

    William J. Chambliss dan Robert B. Seidman dalam sebuah penelitiannya , menemukan sebuah dalil, The Law of Non Transferability of Law  yang artinya hukum suatu bangsa tidak bisa dialihkan begitu saja kepada bangsa lain. Sejalan dengan itu, Cicero menyatakan ubi societas ibi ius, dimana ada masyarakat, disitu ada hukum, sehingga masyarakat suatu bangsa memiliki karakteristik yang berbeda. Maka, Indonesia sebagai bangsa, juga mempunyai karakteristik sendiri dalam hukum walaupun diakui bahwa Indonesia merupakan laboratorium hukum yang kaya, bertalian dengan adanya kesenjangan antara das sollen dengan das sein.

    Indonesia mempunyai karakter sendiri yang mengacu pada budaya bangsanya, sebagai pengejawantahan seluruh nilai yang dikandung sila-sila Pancasila, termasuk di dalamnya budaya musyawarah dan mufakat, budaya gotong-royong, budaya guyub, namun sayangnya budaya tersebut tidak lagi tampak dari isi pasal dalam UUD kita yg telah diamandemen. Melalui pemilihan presiden dan kepala daerah secara langsung oleh rakyat, yang diajukan oleh partai politik peserta pemilu  mengajarkan masyarakat akan budaya kebebasan atau liberal, dengan alasan partisipasi langsung oleh rakyat, sebagai pengejawantahan ‘Suara Rakyat adalah Suara Tuhan’.

    Pertanyaan selanjut nya apabila rakyat sebagai pemilik suara berkehendak kembali pada sistem perwakilan dengan mengembalikan kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai Lembaga Tertinggi Negara, yang mana Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh MPR sebagai mandataris nya, dan menghidupkan lagi GBHN agar arah tujuan Negara diketahui dengan jelas dan sistematis, apakah partai-partai politik dengan multi partai yang saat ini mencapai zona aman , dengan tinggi nya biaya politik dalam Pemilu, yang terpaksa  memanfaatkan para konglomerat sebagai pendukung dalam demokrasi yang berakibat berlakunya hukum ekonomi, hukum dagang karena tidak ada makan siang yang gratis, yang dalam dunia modern disebut para  Oligarki.

    Benar apa yang pernah diramalkan oleh Prabu Jayabaya dalam jangka yang disadur oleh Pujangga penutup Ronggo Warsito, bahwa jaman ini jaman Kolo Bendu ( jaman ketidak pastian/jaman morat maret), dengan ketidak aturan yang hanya berpegang pada kepentingan bisnis dalam semua lini, layaknya sistem demokrasi liberal, bukan demokrasi kita yang bernafaskan nilai-nilai luhur Pancasila, yang saling asah-asih-asuh, saling  menghormati, dengan mussyawarah mufakat.***

    —————————————

    *Penulis adalah Pemerhati Masalah-masalah Hukum, Sosial-Budaya, Politik, dan Kearifan Lokal

  • Perlunya Menghidupkan Lagi Eka Prasetya Pancakarsa pada Era Reformasi dan Globalisasi

    Perlunya Menghidupkan Lagi Eka Prasetya Pancakarsa pada Era Reformasi dan Globalisasi

     

    Oleh  Agus Widjajanto

     

    Pada era globalisasi seperti saat ini, dimana batas negara seakan sudah tidak ada lagi, pertukaran budaya sudah menjamah keseluruh dunia sulit dibendung karena pengaruh kemajuan Teknologi Informasi , yang tentu akan menimbulkan dampak pada generesi muda milenial dimana dengan mudah akan terpengaruh budaya luar, yang berakibat kehilangan jati diri sebagai bangsa yakni ke Indonesian nya, akan pudar. Yang berakibat rasa nasionalisme juga sangat rendah dan rentan disusupi ideologi lain yang  bisa menggoyahkan stabilitas nasional.

    Untuk itu harus dilakukan penguatan dan upaya mengfilter pengaruh budaya dan ajaran serta idiologi yang bertentangan dengan nilai-nilai ke Indonesiaan yaitu Pancasila, sebagai pandangan hidup, dan  sumber dari segala sumber hukum , serta falsafah Bangsa.

    Demikian juga menjelang hajatan besar setiap lima tahun diselenggarakan nya Pemilihan Umum, baik pemilu Pilpres maupun Pemilu Kada, dan pemilu memilih anggauta DPR Pusat , DPRD Propinsi dan Kabupaten Kota, maka segenap warga negara harus berpetan aktif dalam pemilu, dengan tetap menjaga keharmonisan dan persatuan Nasional, untuk stabilitas Nasional itu sendiri, jangan sampai terjadi adanya kampanye Politik Identitas, seperti halnya pada pemilu lalu dalam sebuah pemilu kada di Ibukota Negara, yang tentu sangat mencederai Demokrasi itu sendiri .

    Dan juga menjelang merayakan Natal bagi saudara-saudara kita yang beragama Nasrani baik Protestan maupun Katolik, tentu perlu suasana toleransi dari antar umat beragama, saling asah asih asuh dalam bingkai Kesatuan Negara Republik Indonesia. Jangan ada lagi penghujatan terhadap pemeluk agama lain maupun sesama agama yang dipandang beda aliran. Karena Negara ini berdiri berkat adanya perbedaan untuk memcapai cita cita bersama, sebagai negara berketuhanan tapi bukan Negara Agama .

    Mari kita tengok ke belakang sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Setelah Pancasila ditetapkan secara konstitusional pada tgl 18 Agustus oleh PPKI sebagai dasar negara, maka Pancasila memiliki kedudukan penting dalam tatatanan kehidupan bangsa. Karena maha pentingnya kedudukan  Pancasila kemudian memberikan kesadaran kepada bangsa Indonesia untuk menjadikannya rujukan mutlak bagi tatatan kehidupan baik dalam sosial masyarakat, politik, beragama, maupun dalam bidang hukum. Dalam tatanan hukum kedudukan Pancasila dipertegas sebagai sumber tertib hukum atau dikenal dengan sebutan sumber dari segala sumber hukum melalui ketetapan MPR nomor XX / MPRS / 1966 junto ketetapan MPR no V / MPR / 2973 junto ketetapan MPR no IX / MPR / 1978.

    Dalam perkembangannya keberadaan Pancasila sebagai sumber segala sumber hukum ditentukan oleh setiap rezim yang berkuasa. Ketika Orde Baru jaman Presiden Soeharto berkuasa Pancasila menjadi dogma statis karena dikultuskan menerapkan Pancasila dan Undang undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen, yang mana secara kestabilan nasional baik dari segi pertahanan dan keamanan, sosial kemasyarakatan kehidupan beragama, sangat stabil, dimana mendudukan Pancasila sebagai Dasar Negara ibarat Pondasi gedung mercusuar, dan UUD 1945 sebagai tiang utama atau soko guru dari bangunan tersebut yang bersifat dwi tunggal, yang tidak bisa dipisahkan saling isi dan punya hubungan integral satu sama lain yang memang sejak awal dibuat dan diciptakan para pendiri bangsa, sebagai filosofi hidup dan dogma dalam berbangsa dan bernegara.

    Terlepas dari itu semua memang ada kekurangan dalam masa pemerintahan Orde Baru, di mana Pancasila dijadikan alat legitimasi yang sahih bagi kekuasaan, terkait hal ini, Mahmud MD menuliskan bahwa “pengkultusan Pancasila merupakan puncak penggalangan yang dilakukan secara terus menerus sejak tahun 1966/1967 dalam rangka integrasi nasional sebagai mana diputuskan dalam seminar II Angkatan Darat tahun 1966 yang menghasilkan mandat akan membayar berapapun untuk terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa, serta menjamin stabilitas politik sebagai prasyarat untuk membangun bangsa”, dan pemikiran ini sangat wajar menurut penulis  untuk melakukan penggalangan dalam suatu masyarakat yang pluralisme seperti Indonesia,  setelah melihat situasi dan kondisi pada masa Reformasi saat ini.

    Pada masa Reformasi, keberadaan Pancasila sebagai sumber segala sumber hukum dilegitimasi melalui TAP MPR no III / MPR /2000, tentang sumber hukum dan tata urutan perundangan, akan tetapi dalam TAP MPR ini tidak lagi ditegaskan secara eksplisit tentang Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum dalam sistem hukum nasional .

    Jadi, walaupun Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum memiliki legitimasi yuridis baik melalui TAP MPR maupun Undang-Undang tetap saja tidak memberikan jaminan kepastian hukum dalam tata urutan peraturan perundang undangan , yang berakibat Pancasila tidak lagi mempunyai sifat daya mengikat dalam herarki perundang undangan, hal ini lah yang menjadi persoalan yang harus dikembalikan lagi kedudukan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum termasuk dalam herarki perundang undangan, karena kalau tidak akan timbul disharmonisasi antar peraturan perundang undangan.

    Presiden kedua Jenderal Besar Soeharto, memandang bahwa Pancasila sejatinya digali dan diciptakan dari nilai nilai luhur ajaran para leluhur kita, seperti yang terdapat dalam aksara Jawa yang lahir pada satu saja, yaitu dalam huruf Honocoroko . Aksara Jawa tidak sekedar digunakan media menulis oleh orang Jawa pada jaman dulu , akan tetapi aksara Jawa juga sebagai media untuk bisa memahami konsep ketuhanan, dimana setiap abjad aksara Jawa mempunyai makna yang berkaitan dengan konsep ketuhanan, dimana terdapat tiga unsur yaitu Tuhan, manusia, dan kewajiban manusia sebagai mahluk hamba yang diciptakan,  bahwa huruf Ha : adalah diartikan Hurip atau Urip yaitu hidup , sifat Dzat Yang Maha Esa atau Tuhan, sedang Na , adalah Hana artinya ada yaitu adanya kita manusia dan adanya alam semesta ( selaku sunatullah ), huruf Caraka, yang artinya utusan , dari kata Ca: cipta, pikir,  nalar kita, akal kita, sedang Ra: adalah Rasa Budi kita olah rasa kita, sedang Ka adalah kehendak atau Karsa kehendak dari yang Maha Esa , atas kehidupan kita bagian dari alam semesta.

    Dengan memahami konsep aksara Jawa Honocoroko, kita bisa menjadi manusia berbudi luhur, awalnya kita dari mana (sang kan paraming dumadi), lalu setelah dilahirkan di dunia harus bagaimana, dan setelah tiada kita mau kemana ?

    Dengan memahami diri kita maka kita bisa tahu jati diri kita, dengan demikian kita bisa memahami bagian dari alam semesta diluar diri kita, itu semua harus harmonisasi itulah nilai nilai dari Pancasila, yang diaktualkan melalui Eka Prasetya Panca Karsa.

    Bahwa konsep Pancasila dari pak Harto pun sama, menggali dari ajaran luhur para leluhur bangsa ini sebelum lahirnya  Indonesia merdeka, kita adalah bangsa yang besar dan berbudaya adiluhung .

    Pancasila sebag dasar falsafah (Philosofische Gronslag), pandangan hidup (Weltanchaung) sekaligus Idiologi negara / bangsa, secara filosofis mempunyai makna yang mendalam sebagai guidance line, pijakan, dan dasar dalam kehidupan kita bernegara, berbangsa, dan bermsyarakat, karena diadopsi dari volkgeist/isi jiwa bangsa yang terkristalilsasi ke dalam lima sila Pancasila (moral Ketuhanan, moral Kemanusiaan/humanisme, moral Persatuan/nasionalisme, moral Kerakyatan/demokrasi, dan moral Keadilan sosial (social justice). Lima sila Pancasila itu menjadi atau sebagai landasan moral kita dalam bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat atau dalam kehidupan kita bersama sebagai anak bangsa tanpa tersekat oleh ikatan primordial (suku, agama, daerah, golongan, ras, dllnya).

    Persoalannya sekarang dan ke depan adalah bagaimana “membumikan” lima nilai luhur Pancasila itu dalam tataran praktikal agar Pancasila dapat berfungsi sebagai “filter” atau penyaring atas pengaruh yang timbul dari perubahan ataupun kemajuan zaman di berbagai bidang kehidupan tanpa kita kehilangan jati diri sebagai bangsa, sekaligus kondusif dengan dinamika zaman dengan berbagai perubahan yang menyertainya.

    Untuk membumikan Pancasila dlm tataran das sein agar dapat berfungsi sebagai “filter”, beberapa hal yang mendesak dan urgen dilakukan, yakni:

    1. Lima sila Pancasila itu harus diberikan makna secara verbal (degan bahasa yang sederhana) dan virtual (berupa gambar, foto, video, dllnya) secara utuh, menyeluruh dan mudah dipahami tapi tidak menghilangkan esensi yg terkandung dalam setiap sila (ini menjadi tanggungjawab Badan Pembinaan Idiologi Pancasila/BPIP) ;
    2. ⁠Hasil pemaknaan verbal dan visual itu kemudian di edukasikan dan disosialisasikan secara kontinyu dan masif ke segenap lapisan masyarakat dengan menggunakan media cetak, elektronik, dan media sosial (medsos);
    3. ⁠Perlu juga memasyarakatkan Pancasila dilakukan semacam P4 (masa Orde Baru), hanya metodenya tidak bersifat doktriner atau dogmatis, tapi dialogis dan interaktif.

    Dengan upaya atau langkah-langkah tersebut di atas, Pancasila akan menjadi “membumi” yang secara internalisasi akan tampak ke luar dalam perilaku Pancasilais. Jadi Pancasila jangan hanya “pajangan” atau lip service (sebatas di mulut) tapi tampak prakteknya dlm perilaku dan sikap sehari-hari anggota masyarakat..

    Ini yang harus dimengerti para generasi muda, bahwa bangsa kita adalah bangsa yang sangat beradab dan berketuhanan, bukan negara agama, tapi negara yang melindungi segenap tumpah darah rakyatnya terhadap agama yang dipeluk masyarakatnya.

    ————————————–

     

    *Penulis adalah Praktisi Hukum di Jakarta, Menulis Masalah-masalah Politik, Hukum, Sosial dan Budaya

  • SILSILAH YESUS DALAM INJIL MATIUS: Kisah Kasih Tuhan yang Maha Luas

    SILSILAH YESUS DALAM INJIL MATIUS: Kisah Kasih Tuhan yang Maha Luas

    Oleh  Petrus Lakonawa, S.S., M.TH, Ph.D 

     

     

     Silsilah Penyelamatan

    Silsilah Yesus dalam Injil Matius 1:1-17 adalah silsilah penyelamatan dan pembebasan, peneguhan dan pemberdayaan. Tergambar di dalamnya bahwa genetika Yesus merangkul orang-orang lemah, yang terkucilkan, terpinggirkan dalam masyarakat, orang-orang yang dianggap hina, berdosa serta terbuang dan tertindas.

    Pada zaman di mana orang-orang yang latar belakangnya berbeda dianggap tidak murni, kafir, najis, tidak selamat dan ditolak, teristimewa perempuan-perempuan yang lemah diperlakukan secara tidak adil dan diperdaya, berita gembira dalam Injil Matius membeberkan semangat dan bukti perlawanan Yesus atas budaya yang eksploitatif, diskriminatif, sektarian, etnosentrik, seksis, patriarkal dan penuh kekerasan.

    Litani nama-nama leluhur Yesus dalam silsilah-Nya sangat inklusif dan menohok. Ia mengangkat ke tempat yang tinggi orang-orang yang umumnya direndahkan di masyarakat.

    Dari semua figur leluhur Yesus yang disebut dalam silsilah-Nya, yang paling mencolok adalah disebutkannya perempuan dalam silsilah tersebut. Ada empat perempuan yang disebut yakni Tamar, Rahab, Rut, dan Batsyeba. Keempatnya memiliki track record yang tidak lazim sehingga menimbulkan pertanyaan dan perdebatan serta tidak jarang menimbulkan rasa malu akan aib yang hendak ditutup-tutupi. Ada 4 pertimbangan yang umumnya dijadikan penyebab untuk mengesampingkan mereka dari daftar silsilah: pertama, dalam budaya patriarki biasanya hanya laki-laki yang disebut; kedua, mereka yakni Tamar, Rahab dan Rut adalah orang dari suku lain sedangkan Batsyeba menikah (‘tercampur’) dengan orang asing sedangkan orang Israel cenderung menganggap rendah etnis, ras, budaya dan agama orang lain; ketiga, mereka orang-orang lemah, miskin, janda yang tidak punya pegangan hidup; keempat, kecuali Ruth, mereka bukan perempuan yang baik-baik menurut standar dan ukuran umum penilaian moral manusia.

     

    Siapakah Mereka dan Apa Cerita Mereka?

    Pertama, Tamar, seorang perempuan yang dirundung malang karena ditinggal mati oleh dua suaminya tanpa keturunan serta kemudian diabaikan oleh calon suaminya yang ketiga serta keluarga suaminya hingga akhirnya ia melacurkan diri dengan ayah mertuanya demi mendapatkan anak dan hak sebagai isteri yang sah.

    Dalam Kitab Kejadian 38:1-30 dikisahkan bahwa Tamar semula menikah dengan Er putra sulung Yehuda namun Er meninggal dunia. Menurut tradisi Yahudi yang disebut sebagai perkawinan levirat, saudara laki-laki dari almahrum suami berhak dan wajib menikahi isteri yang ditinggalkannya. Karena itu, adik laki-laki Er bernama Onan harus mengambil Tamar sebagai isterinya namun Onan tidak mau menghamilinya karena tidak ingin kakaknya memiliki keturunan sampai akhirnya Er pun meninggal. Tamar sekali lagi menjanda dan belum mempunyai anak. Harusnya putera ketiga Yehuda menggantikan kedua kakak laki-lakinya untuk menikahi Tamar. Namun Yehuda menunda-nunda untuk memberikan putranya yang ketiga itu kepada Tamar dengan alasan belum cukup umur. Karena itu, Tamar mencari jalan untuk mendapatkan haknya sebagai isteri dan untuk mendapatkan anak yang sah. Ia kemudian menyamar menjadi seorang pelacur untuk menggoda Yehuda menggaulinya dan dengan cerdik mengambil cincin meterai, tali, dan tongkat Yehuda sebagai jaminan. Sewaktu Yehuda tahu bahwa Tamar hamil, ia menyuruh untuk merajam dan membakar Tamar. (Bdk. Yos 7:15, 25.) Tetapi Tamar membuktikan bahwa Yehudalah ayah dari sang bayi tersebut. Yehuda kemudian menyesal dan mengaku bersalah serta menjadikan Tamar sebagai isterinya yang sah. Tamar kemudian melahirkan anak kembar bernama Perez dan Zerah. Perez, menjadi salah satu mata rantai silsilah Yesus.

    Kisah Tamar dengan demikian adalah kisah yang penuh intrik dan drama berisi perjuangan perempuan untuk merdeka dan merebut pengakuan akan hak serta harkat dan martabat kemanusiaannya.

    Kedua, Rahab, seorang pelacur di Yerikho (beretnis non-Yahudi) yang bertobat dan berbalik kepada iman akan Yahweh karena perjumpaan dengan mata-mata Israel yang pada saat itu sedang mengemban tugas dari Yosua untuk mempersiapkan serangan atas Yerikho.

    Mereka menginap di rumah seorang pelacur bernama Rahab. Waktu itu Raja kota Yerikho mendengar tentang mereka maka ia mengutus orang kepada Rahab untuk memerintahkan agar Rahab mengusir mereka dari rumahnya. Rahab berkelit dan menyembunyikan mereka di bawah tumpukan jerami di loteng rumahnya.

    Rahab meminta kepada mata-mata tersebut agar mereka akan melindungi keluarganya ketika mereka menyerang Yerikho suatu saat nanti. Kedua mata-mata itu mengiyakan dan berjanji akan menepatinya. Rahab menyelamatkan mereka dengan cara menurunkan mereka melalui jendela rumahnya yang terletak di tembok kota.

    Ketika Israel menyerang dan menghancurkan Yerikho, Rahab dan keluarganya dilindungi dan diselamatkan oleh orang-orang Israel. Ia kemudian ikut bersama orang-orang Israel dan menikah dengan Salmon. Salmon memperanakkan Boas yang kemudian menikah dengan Rut, perempuan ketiga yang disebut dalam silsilah Yesus menurut Injil Matius.

    Adapun Rut, seorang janda yang berasal dari Moab yang ditinggal mati tanpa anak oleh suaminya dan terpaksa bertahan hidup bersama ibu mertuanya bernama Naomi, yang juga merupakan seorang janda sebatang kara tanpa anak karena suami dan kedua anaknya telah meninggal dunia. Kisah hidup Ruth penuh lika-liku. Dari harus memilih bertahan di negerinya atau harus merantau mengikuti ibu mertuanya ke Israel. Demi mendampingi ibu mertuanya yang juga hidup seorang diri tersebut, Ia rela meninggalkan kampung halamannya dan mencoba peruntungan hidup baru di negeri orang. Ia berusaha bertahan hidup sebagai pekerja kebun, tekun bekerja hingga memikat hati Boas, pemilik kebun garapannya yang pada akhirnya menikahinya. Itu semua dijalaninya dengan penuh intrik: mulai dari bekerja keras dan tekun di kebun, hingga dengan sengaja menyelinap ke kamar Boas yang sedang minum anggur sampai mabuk, tidur di kaki Boas dengan maksud untuk merayu Boas agar bisa menghampiri dirinya dan menikahinya.

    Keempat, Batsyeba isteri dari seorang prajurit setia dan berintegritas tinggi bernama Uriah orang Het. Batseba adalah seorang yang cantik dan seksi. Ia adalah tetangga Raja Daud. Suatu sore ketika Raja Daud sedang mencari angin di atas rumahnya, Ia melihat Batsyeba sedang mandi. Hatinya terpikat. Ia tergoda.

    Waktu itu, suami Batsyeba sedang bertugas di medan perang. Raja Daud memanggil Batsyeba ke istana dan mulai berselingkuh dengan Batsyeba hingga akhirnya Batsyeba mengandung di luar pernikahan.

    Demi menutup aib mereka, Raja Daud menggunakan berbagai cara licik. Pertama, ia memerintahkan Uriah pulang ke rumah dari medan perang supaya kembali ke rumahnya dan tinggal sebagai suami isteri dengan Batseba agar dapat mengelabui Uriah bahwa anak yang dikandung oleh Batseba adalah anaknya namun cara ini tidak berhasil karena Uriah, seorang yang sangat berintegritas dan loyal memegang janji keprajuritannya untuk tidak bersenang-senang bersama isterinya di rumah sementara rekan-rekannya menyabung nyawa di medan perang. Kedua, karena Uriah tidak mau pulang ke rumah maka Daud menyuruh dia kembali ke medan perang dan menyuruh Yoab, panglima perang, untuk menempatkan Uriah ditempatkan di barisan paling depan di medan perang yang paling berbahaya agar Uriah terbunuh. Dan akhirnya berhasil. Uriah wafat di medan perang sedangkan isterinya diambil oleh Daud.

     

    Pesan dan Pembelajaran

    Dari silsilah Yesus dalam Injil Matius ini kita dapat melihat bahwa sejarah leluhur Yesus tidak lepas dari kelemahan manusia. Hidup mereka diwarnai dengan kelicikan, kekerasan, pembunuhan, nafsu dan dosa. Silsilah-Nya mengandung ketidaksempurnaan dan keberdosaan manusia sebagaimana silsilah manusia pada umumnya. Dari sana kita dapat memetik sebuah pembelajaran iman bahwa tanpa Tuhan manusia tidak bisa lepas dari dosa. Manusia membutuhkan rahmat keselamatan dari Tuhan.

    Silsilah Yesus itu berbicara juga tentang pribadi kita masing-masing yang tidak luput dari dosa. Bahwasanya tidak ada keluarga atau leluhur yang sempurna. Latar belakang keluarga Yesus pun tidak sempurna. Tidak murni. Tidak ideal. Namun cinta Allah melampaui keberdosaan, cacat cela, kekurangan manusia. Allah menebus. Allah menyelamatkan. Allah membebaskan manusia dari dosa menuju hidup yang baru. Keberdosaan masa lalu ditransformasikan menjadi kemuliaan karena rahmat dan pertolongan Tuhan. Dari carut marut masa lalu telah lahir sang Juru Selamat, Allah yang hidup di antara manusia untuk menyelamatkan manusia dari kungkungan kuasa dosa.

    Rahmat kasih Yesus maha Luas. Ia menyelematkan semua orang, tidak memandang suku, agama, ras, ataupun golongan. Ia datang untuk seluruh alam ciptaan. Kasihnya bersifat universal. Penyelamatannya menyeluruh.

    Di kala masyarakat Yahudi masih berwawasan sempit dan eksklusif, cenderung memandang rendah orang lain, dari suku lain dan meremehkan orang-orang yang dipandang hina, Injil Matius menunjukkan bahwa Yesus mencintai dan menghargai semua orang. Ketika orang Yahudi pada masa itu menolak keselamatan bagi orang-orang di luar kalangannya, Injil Matius menampilkan cinta Yesus yang sangat inklusif. Yesus datang untuk semua orang. Ia datang dan semua jadi baru. Cinta-Nya mentransformasi hidup manusia. Kasihnya membebaskan semuanya.

    Silsilah Yesus adalah silsilah yang memanusiakan manusia. Ia membela orang-orang lemah. Ia menolak mendiskriminasikan orang-orang ‘lain’ yang berbeda dengan-Nya. Ia pun melawan eksploitasi dan penindasan terhadap orang-orang lemah. Kasih yang universal! Itulah pesan utama hidup Yesus dan ajaran inti iman Kristen.

     

    ______________________________________

     

    *Artikel ini sudah pernah dipublikasikan dalam Wacana Biblika No. 2 (2020)

     

    *Petrus Lakonawa, Ph.D adalah seorang pengajar di BINUS University, Jakarta, Indonesia. Dia adalah seorang Research Fellow di DePaul University, Chicago, Illinois, Amerika Serikat yang menyelesaikan studi doktoral teologi di St. Vincent School of Theology, Adamson University, Manila Philippines dan studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta dan S2 di Maryhill School of Theology, Manila, Filipina serta di Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia, Jakarta.

     

    *Referensi:

    McKenna, Megan. Not Counting Women and Children: Neglected Stories from the Bible. Maryknoll, New York, USA, Maryknoll, New York, USA: Orbis Books, 1994.

    Bellis, Alice Ogden. Helpmates, Harlots, and Heroes. Lousville, Kentucky: Westminster John Knox Press, 2007.