Author: Redaksi

  • Memaknai Kisah Nostalgia Uskup Emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr

    Memaknai Kisah Nostalgia Uskup Emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr

    Oleh  Rofinus  Pati

     

    Acara syukuran purna tugas Yang Mulia Uskup Fransiskus Kopong Kung, Pr di Desa Lewomuda, Selasa, 17 Februari 2026, berjalan lancar dan sangat berkesan. Setelah sambutan dari Ketua Panitia Romo Wilhelmus Ola Baga, Pr dan Bapak Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen, tibalah giliran Bapak Uskup emeritus untuk memberikan sambutan. Tidak seperti kedua pembicara terdahulu, Bapak Uskup emeritus lebih memilih menggunakan kesempatan ini untuk bernostalgia. Pengalaman hidupnya dinarasikan secara cair dan gembira seperti baru kembali dari rumah masa lalu.

    Kisah indah penuh warna bersama orangtua pada sebuah kampung di atas bukit. Bersama teman-teman sekolah, teman sepermainan atau teman berburu rusa dan babi hutan. Di sana ada kerja keras, ketekunan, kontrol diri, kesabaran dan kesetiaan. Ada senyum dan air mata. Namun, di sana juga selalu ada harapan, meski masa lalu itu telah menjadi rekam jejak yang tak akan terhapuskan.

     

    Tiga Kisah Pengalaman

    Dari riwayat yang dipaparkan oleh Bapak Uskup emeritus, di sini khusus diambil tiga kisah pengalamannya, yang kemudian akan coba dimaknai sebagai upaya menarik benang merah, sebuah imajinasi biblis atau fantasi elok yang dapat diselaraskan dengan peristiwa-peristiwa nyata yang dialami sepanjang kehidupan Bapak Uskup emeritus. Ada pun ketiga kisah tersebut sebagai berikut :

    Pertama, pengalaman masuk seminari setelah menamatkan Sekolah Dasar. Pengalaman ini cukup unik bagi Bapak Uskup emeritus. Beliau ditolak oleh Pater Herman Josef Kremers, SVD (1901-1973) saat mau mendaftar ke SMP Seminari Hokeng karena mempunyai nama Kopong yang sama dengan nama seorang imam yang menjadi semacam “advocatus diaboli” (iblis pengganggu) bagi hierarki pada waktu itu dan dinilai melanggar Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik Roma. Uskup Antonius H. Thijssen, SVD akhirnya membantunya masuk ke Seminari Hokeng.

    Saat tiba di pelataran seminari, pembesar di seminari bersama semua staf berdiri menerima beliau dengan sukacita karena tambahan satu orang murid baru. Setelah itu, beliau dibawa ke kamar makan. Saat memasuki kamar makan, semua orang berdiri menyambutnya dengan gembira seperti halnya tadi di halaman depan. Beliau mengaku merasa gugup dan bingung, apalagi sebagai seorang murid yang terlambat masuk seminari beberapa bulan.

    Kedua, pengalaman berburu di kawasan Lewomuda dan sekitarnya. Bapak Uskup emeritus mengaku mengetahui atau menghafal sangat baik, bukit-bukit dan lembah-lembah di sekitar kawasan Lewomuda, termasuk sampai di Likotuden dan Kawalelo.

    Sejak kecil, beliau sudah mengikuti bapaknya dan orangtua umumnya, pergi berburu rusa dan babi hutan, menaiki bukit dan menuruni lembah. Kegiatan ini selalu dilakukan, sehingga tingkat pengenalan medan atau arena berburu, tidak perlu diragukan. Di zaman itu, populasi hewan-hewan liar di hutan masih banyak, sehingga tidak terlalu sulit mendapatkannya.

    Kisah menarik terjadi di saat berburu pada usia Kelas III Sekolah Dasar. Bersama beberapa temannya, beliau ‘diusir’, diperintahkan oleh orangtua untuk pulang, tidak perlu mengikuti orangtua yang sedang berburu di hari itu. Perintah ini mungkin karena mereka masih dini usia, mereka masih belum berpengalaman dalam berburu atau belum mengetahui seluk-beluk dalam dunia berburu. Mereka masih terlalu kecil untuk memahami tantangan dan risiko yang bisa menimpa kapan saja.

    Di saat mereka sendirian, sedang beristirahat sebagai anak-anak yang dilarang berburu bersama dengan orang dewasa, suara anjing pemburu terdengar seperti sedang mengejar mangsa. Di telinga, tertangkap bunyi hewan sedang berlari mendekat ke arah beliau. Tak lama kemudian, apa yang didengar dan dilihat bukanlah fatamorgana. Seekor rusa sedang berlari agak ketakutan.

    Rusa itu terus berlari dan melompat cukup tinggi di dekat beliau. Ketika posisi rusa sedang melompat itulah, beliau segera melemparkan tombaknya ke arah rusa tanpa ada persiapan, tanpa ada keyakinan bahwa tombak itu tepat mengenai sasaran. Tak dinyana, rusa itu terkena tombak dan jatuh tersungkur di depan beliau. Betapa senang hatinya sebagai seorang anak Kelas III Sekolah Dasar, yang pertama kali membuang tombaknya ke arah mangsa, namun sungguh jitu dan berhasil menamatkan riwayat hidup rusa.

    Kebahagiaannya semakin bertambah besar, sebab perburuan sepanjang hari itu hanya mendapatkan satu ekor rusa dan juru tombaknya adalah beliau sendiri. Juru tombak seperti ini, setibanya di kampung akan diberikan hadiah istimewa. Inilah yang menambah kebahagiaan sekaligus kebanggaan tersendiri bagi beliau di masa kanak-kanaknya.

    Ketiga, Yang Mulia Bapak Uskup emeritus mempunyai bapak yang tidak hanya hidup dari berladang dan berburu, tetapi juga melaut. Bapaknya memiliki sebuah perahu untuk menangkap ikan dan mengangkut barang-barang kebutuhan hidup di hari pasar maupun hari-hari biasa. Perahu itu diberi nama “Bintang Kejora” dan dua kata itu dituliskan pada bagian samping perahu. Setiap orang mudah membacanya.

    Dengan perahu ini, pilihan untuk berangkat ke Larantuka dan sekitarnya menjadi lebih mudah lewat jalur laut daripada jalur darat yang lebih banyak berjalan kaki. Selain itu, membeli maupun berjualan gading, arak, hasil-hasil ladang dan kebutuhan lain, amat terbantu dengan hadirnya perahu ini.

     

    Memaknai Kisah Nostalgia

    Ketiga kisah nyata yang diangkat di atas merupakan pengalaman yang telah terjadi puluhan tahun lalu. Upaya yang dilakukan sekarang adalah menghubungkan dan menyatukan serpihan-serpihan pengalaman itu ke dalam satu bingkai makna. Dengan perkataan lain, coba ditarik benang merah atau “titik sambung” untuk menempatkan pengalaman-pengalaman itu pada konteks makna tertentu sehingga dapat dimengerti secara keseluruhan.

    Upaya mencari dan menemukan makna ini juga, dalam segi tertentu, melibatkan imajinasi elok atau fantasi biblis untuk menghubungkan pengalaman-pengalaman serupa dari Kitab Suci, sehingga ketiga pengalaman masa kecil tersebut bisa dipahami sebagai intervensi dan penyelenggaraan Ilahi serta leluhur sebagai kondisi awal. Proses ini kemudian berlanjut seiring perjalanan waktu, yang pada akhirnya menjadikan Bapak Uskup emeritus seperti yang ada sekarang ini.

    Pertama, pengalaman diterima pertama kali saat tiba di Seminari Hokeng. Dikisahkan oleh Bapak Uskup emeritus bahwa pejabat seminari dan semua staf berdiri di pelataran, berjejer menyambut kedatangan beliau, meskipun terlambat beberapa bulan. Kemudian, ketika dibawa masuk ke kamar makan, semua orang berdiri, bertepuk tangan menyambut kehadiran beliau.

    Kita tahu bahwa mengambil sikap berdiri untuk menyambut kedatangan seseorang merupakan tanda hormat dan penghargaan. Selain itu, sikap berdiri juga merupakan tanda sopan-santun, terutama kalau orang yang datang lebih tua dalam usia atau mempunyai jabatan lebih tinggi. Bertepuk tangan juga merupakan bentuk apresiasi dan kegembiraan atas kehadiran seorang.

    Oleh karena itu, kita boleh bertanya, gambaran atau petunjuk apakah yang terjadi saat pembesar Seminari Hokeng dan semua staf berdiri di pelataran dan menyambut kedatangan seorang anak tamatan Sekolah Dasar? Apakah itu sebuah petunjuk atau gambaran awal bahwa di kemudian hari, umat di pulau Flores bagian timur, Solor, Adonara dan Lembata akan berdiri menyambut kedatangannya sebagai Uskup?

    Kedua, saat paling membanggakan sekaligus menarik bagi seorang anak Kelas III Sekolah Dasar adalah menghentikan langkah seekor rusa dan ini menjadi pengalaman perdana dalam hidupnya.

    Berburu memang merupakan bagian dari tradisi dan budaya orang-orang di pedesaan. Berburu juga merupakan identitas sekaligus memperkuat ikatan sosial. Hasil buruan akan dibagi-bagikan secara adil. Dalam dunia perburuan, pengendalian diri dan disiplin sangat diperhatikan sebab medan laga biasanya sulit dan binatang buruan pun bisa berbahaya, bahkan mengancam jiwa.

    Namun demikian, yang menarik dari pengalaman di atas yaitu rusa yang datang, memberikan dagingnya untuk lauk-pauk orang-orang Lewomuda. Tanpa ada perjuangan atau perlawanan luar biasa, rusa itu tersungkur di depan beliau. Rusa itu seperti gampang datang ke hadapan beliau untuk “menyerah” dan tombak yang dilemparkan ke arah rusa tampak sebagai sebuah alasan amat sederhana.

    Hal yang mau dimaknai di sini yakni binatang yang datang, “tunduk” atau “menyerah” di hadapan seseorang menunjukkan bahwa orang yang berada di depannya itu penting. Binatang ada atau datang untuk “menghormati”, “melayani” figur atau orang penting dimaksud. Ada beberapa cerita Kitab Suci bisa menjadi rujukan terkait hal ini.

    Di dalam Kitab Bilangan 22:22-27 diceritakan Bileam dengan keledainya. Setelah tiga kali keledai menghindar dari hadapan Malaikat Tuhan dalam perjalanan di pagi hari bersama dengan pemuka-pemuka Moab dan dua orang pembantu, akhirnya keledai itu tidak bisa luput dari hadangan Malaikat Tuhan. Keledai pun menyerah, bertiarap di depan figur suci itu. Peristiwa ini terjadi, bukan karena keledai Bileam selalu suka bertiarap di depan siapa saja, melainkan karena figur suci itu adalah utusan Tuhan sendiri.

    Selain itu, kisah dalam 1Raja-Raja 17:4-6, tentang nabi Elia dan burung gagak. Nabi Elia diperintahkan Tuhan untuk pergi menetap di tepi sungai Kerit yang terletak di sebelah timur sungai Yordan karena musim susah. Pada waktu pagi dan sore, burung-burung gagak datang membawa roti dan daging kepada Elia untuk dimakan dan minum dari air sungai Kerit. Peristiwa ini terjadi, bukan karena burung gagak sudah terlatih membawa roti dan daging setiap pagi dan sore, melainkan karena Elia adalah figur pilihan Tuhan untuk karya pewartaanNya.

    Satu lagi kisah serupa tertulis dalam Kitab Daniel 6:16-28. Raja Nebukadnezar memerintahkan pengawal mengambil dan melemparkan Daniel ke dalam gua singa. Sepanjang malam, raja tidak tidur, berpuasa dan berharap agar keesokan harinya bisa melihat sisa-sisa daging Daniel setelah dilahap singa. Namun demikian, singa-singa di dalam gua itu tidak menyerang Daniel, melainkan ‘hormat’, sebab mulut-mulut singa telah ditutup oleh malaikat yang diutus Tuhan. Peristiwa ini terjadi, bukan karena singa tidak bisa memangsa Daniel, melainkan karena Daniel adalah seorang figur istimewa.

    Dari kisah di atas, jelaslah bahwa binatang datang, “menyerah”, “melayani” figur atau orang penting, orang pilihan dan kesayangan Allah seperti Elia dan Daniel. Seekor rusa berlari ke hadapan seorang anak Sekolah Dasar Kelas III, bukan karena rusa itu jinak atau peliharaan. Juga bukan karena anak Sekolah Dasar Kelas III itu sudah hebat berburu, cepat berlari dan ahli menombaki rusa. Bukan! Lalu, apakah kita boleh memaknai bahwa rusa yang membawa dirinya datang “menyerah” dan “menghadap” seorang anak Kelas III Sekolah Dasar merupakan petunjuk awal bahwa kelak anak itu akan menjadi orang istimewa, pilihan Tuhan dan leluhur untuk menjadi Uskup Larantuka?

    Ketiga, nama Bintang Kejora muncul penuh pesona. Kita tidak mengetahui alasan nama ini dipilih dan ditulis di perahu saat itu. Tetapi, pertanyaan kita adalah: mengapa nama itu yang dipilih dan bukan nama lain? Apakah ini sebuah kebetulan? Atau ada pesan terpendam, tanpa disadari, yang kemudian baru tersingkap menjadi kenyataan?

    Bintang Kejora merupakan sebutan bagi satu dari sembilan planet, yakni planet venus. Kekhasannya bahwa planet ini paling terang di langit. Planet venus muncul di langit pada pagi hari maupun petang. Karena tampak paling terang dari bumi, disebut juga “bintang besar”.

    Bagi para pelaut, bintang kejora ini menunjukkan arah, agar para pelaut menemukan jalan yang benar di saat belum ditemukan kompas seperti sekarang, sehingga mereka bisa aman dalam berlayar di lautan dan tiba di pelabuhan tujuan dengan selamat.

    Karena cahayanya yang terang dan stabil, bintang kejora dianggap sebagai simbol harapan dan kebijaksanaan yang menuntun para pelaut dalam mengatasi setiap kesulitan dan tantangan di laut. Sampai di sini kita boleh bertanya, apakah nama bintang kejora itu merupakan petunjuk awal untuk sesuatu yang kelak lebih dari sekedar nama itu? Apakah nama bintang kejora tersebut, pada waktunya bertransfigurasi, berubah menjadi figur seorang Uskup yang tampil sebagai kompas iman, harapan dan cinta kasih bagi umat keuskupan Larantuka?

    Kalau demikian, ibarat bintang kejora, Bapak Uskup emeritus Fransiskus Kopong Kung, Pr tidak benar-benar pergi. Seperti bintang kejora yang tetap berada di langit dengan cahaya terang benderang, di pagi maupun petang hari, demikian pula beliau tetap berada di Bukit Fatima dengan doa yang semakin kuat, kebijaksanaan dan cinta yang semakin besar kepada Uskup pengganti dan seluruh umatnya.

     

    Akhirul Kalam

    Refleksi sederhana ini hanyalah suatu upaya mengumpulkan kembali serpihan-serpihan pengalaman masa lalu yang dikisahkan oleh Bapak Uskup emeritus pada saat acara syukuran purna bakti. Setelah itu, pengalaman-pengalaman tersebut dibingkai dalam satu makna secara umum untuk kita renungkan bersama bahwa hidup dan apapun pengalaman manusia, tidak terlepas dari penyelenggaraan Ilahi yakni Tuhan dan restu leluhur Lewotanah.

    Lebih mendasar lagi, refleksi yang dituangkan ini tidak bermaksud melebih-lebihkan pengalaman hidup seseorang yang barangkali pengalaman-pengalaman itu sebenarnya biasa saja. Sekaligus juga, tidak ada upaya kultus individu dalam memaknai kisah nostalgia dari Bapak Uskup emeritus. Sebab, terhadap siapa saja, Tuhan bisa menarik garis lurus, di antara titik-titik yang bengkok.

    ************************

  • Konflik Israel – Palestina dan Latar Belakang Sejarahnya

    Konflik Israel – Palestina dan Latar Belakang Sejarahnya

     

    Oleh  Agus  Widjajanto

     

    Bahwa banyak sekali saudara saudara kita di tanah air yang salah persepsi dalam menilai soal perang Arab Israel, khususnya Palestina dengan Israel, seolah-olah merupakan konflik agama. Bahwa Perang Arab-Israel, termasuk perang antara Palestina dan Israel, lebih banyak berlatar belakang perebutan wilayah pendudukan yang dianggap tidak adil dan bukanlah perang karena agama.

    Perang Arab-Israel pada tahun 1948, yang dikenal sebagai Perang Kemerdekaan Israel, sesungguhnya merupakan konflik antara bangsa Palestina yang ingin mempertahankan wilayah mereka dan bangsa Yahudi yang ingin mendirikan negara Israel di wilayah yang sama.

    Konflik ini kemudian berkembang menjadi perang antara Israel dan negara-negara Arab sekitar, seperti Mesir, Yordania, Suriah, dan Lebanon, yang ingin membantu bangsa Palestina mempertahankan wilayah mereka.

    Faktor agama memang ada, tetapi lebih banyak sebagai faktor yang memperkuat identitas dan motivasi masing-masing pihak, ketimbang sebagai penyebab utama konflik.

    Dalam beberapa dekade terakhir, konflik Israel-Palestina telah berkembang menjadi konflik yang kompleks, dengan faktor-faktor seperti:

     

    1. Perebutan wilayah: Konflik atas wilayah yang dianggap sebagai tanah air oleh kedua bangsa.
    2. Hak-hak bangsa Palestina: Konflik atas hak-hak bangsa Palestina, termasuk hak untuk kembali ke rumah mereka dan memiliki negara merdeka.
    3. Keamanan Israel: Konflik atas keamanan Israel dan perlindungan warga Yahudi di seluruh dunia.
    4. Faktor agama: Konflik atas tempat-tempat suci dan simbol-simbol agama, seperti Masjid Al-Aqsa dan Kuil Raja Salomo.

     

    Jadi, konflik Israel-Palestina adalah konflik yang kompleks, dengan banyak faktor yang berperan, tetapi perebutan wilayah pendudukan yang dianggap tidak adil adalah salah satu faktor utama.

    Dalam wilayah Palestina dan juga Israel memiliki penduduk yang beragam dalam hal agama, termasuk Kristen dan Muslim.

    Di Palestina, mayoritas penduduknya adalah Muslim (sekitar 98%), tetapi ada juga minoritas Kristen (sekitar 1-2%) dan lain-lain.

    Di Israel, mayoritas penduduknya adalah Yahudi (sekitar 74%), tetapi ada juga minoritas Muslim (sekitar 18%), Kristen (sekitar 2%), dan lain-lain.

    Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi peningkatan jumlah penduduk Kristen di Palestina dan Israel, terutama karena migrasi dari negara-negara lain.

    Namun, perlu ditegaskan sekali lagi bahwa konflik Israel-Palestina bukanlah konflik agama, melainkan konflik politik dan teritorial yang kompleks.

    Berikut adalah perkiraan persentase penduduk berdasarkan agama di Palestina dan Israel:

     

    Palestina:

    – Muslim: 98%

    – Kristen: 1-2%

    – Lain-lain: 1%

     

    Israel:

    – Yahudi: 74%

    – Muslim: 18%

    – Kristen: 2%

    – Lain-lain: 6%

     

    Perlu diingat bahwa angka-angka ini dapat berbeda-beda tergantung pada sumber dan metode pengumpulan data.

    Negara Israel didirikan pada tanggal 14 Mei 1948. Latar belakang pendirian negara Israel adalah sebagai berikut:

    – Gerakan Zionisme: Gerakan Zionisme yang dimulai pada akhir abad ke-19 oleh Theodor Herzl, yang bertujuan untuk menciptakan negara Yahudi di Palestina, yang saat itu merupakan wilayah kekuasaan Ottoman.

    – Holocaust: Pembunuhan massal terhadap orang Yahudi oleh Nazi Jerman selama Perang Dunia II, yang membuat banyak orang Yahudi kehilangan tempat tinggal dan meningkatkan kebutuhan akan negara Yahudi.

    – Deklarasi Balfour: Deklarasi Balfour pada tahun 1917, yang menyatakan bahwa pemerintah Inggris mendukung pendirian “tanah air” bagi orang Yahudi di Palestina.

    – Mandat Britania: Setelah Perang Dunia I, Liga Bangsa-Bangsa memberikan mandat kepada Inggris untuk mengelola Palestina, yang termasuk janji untuk mendirikan negara Yahudi di wilayah tersebut.

     

    Pada tanggal 29 November 1947, Majelis Umum PBB mengadopsi Resolusi 181, yang membagi Palestina menjadi dua negara, yaitu negara Yahudi dan negara Arab. Pada tanggal 14 Mei 1948, David Ben-Gurion, pemimpin gerakan Zionisme, memproklamasikan kemerdekaan negara Israel di Tel Aviv.

    Namun, deklarasi kemerdekaan Israel tidak diterima oleh negara-negara Arab, yang menyebabkan Perang Arab-Israel 1948. Israel berhasil mempertahankan kemerdekaannya dan memperluas wilayahnya, tetapi konflik dengan Palestina dan negara-negara Arab masih berlanjut hingga hari ini.

    Pada saat mandat Britania dari Liga Bangsa-Bangsa dan Resolusi PBB nomor 181, wilayah yang didirikan Israel tersebut sudah ada yang menduduki terlebih dahulu, yaitu bangsa Palestina.

    Pada tahun 1947, ketika Resolusi PBB nomor 181 disahkan, populasi Palestina terdiri dari sekitar 1,3 juta orang Arab (Palestina) dan 600.000 orang Yahudi. Bangsa Palestina telah menduduki wilayah tersebut selama ribuan tahun dan memiliki kebudayaan, bahasa, dan identitas yang unik.

    Resolusi PBB nomor 181 membagi Palestina menjadi dua negara, yaitu negara Yahudi (Israel) dan negara Arab (Palestina). Namun, pembagian ini tidak mempertimbangkan hak-hak bangsa Palestina yang telah menduduki wilayah tersebut terlebih dahulu.

    Pada saat itu, bangsa Palestina menolak Resolusi PBB nomor 181 dan memprotes pembagian wilayah mereka. Mereka merasa bahwa mereka dipaksa untuk menerima pembagian yang tidak adil dan tidak mempertimbangkan hak-hak mereka sebagai penduduk asli.

    Setelah deklarasi kemerdekaan Israel pada tahun 1948, banyak bangsa Palestina yang terpaksa meninggalkan rumah mereka dan menjadi pengungsi. Peristiwa ini dikenal sebagai Nakba (katastrofe) dalam bahasa Arab, yang berarti “bencana” atau “kehancuran”.

    Konflik Israel-Palestina masih berlanjut hingga hari ini, dengan bangsa Palestina terus memperjuangkan hak-hak mereka untuk memiliki negara merdeka dan kembali ke rumah mereka.

    Bahwa keputusan PBB untuk mengesahkan Resolusi 181 dapat dianggap sebagai keputusan yang gegabah dan tidak mempertimbangkan hak-hak bangsa Palestina.

    Pada saat itu, PBB masih merupakan organisasi internasional yang baru didirikan, dan negara-negara pemenang Perang Dunia II memiliki pengaruh besar dalam pengambilan keputusan. Resolusi 181 disahkan pada tanggal 29 November 1947 dengan 33 suara mendukung, 13 suara menentang, dan 10 suara abstain.

    Namun, keputusan ini tidak mempertimbangkan beberapa faktor penting, seperti:

     

    1. Hak-hak bangsa Palestina: Bangsa Palestina telah menduduki wilayah tersebut selama ribuan tahun dan memiliki kebudayaan, bahasa, dan identitas yang unik.
    2. Kepentingan ekonomi dan politik: Pembagian wilayah Palestina dapat memicu konflik dan ketidakstabilan di Timur Tengah.
    3. Keterlibatan negara-negara besar: Negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet memiliki kepentingan politik dan ekonomi di wilayah tersebut dan dapat mempengaruhi pengambilan keputusan.

    Dengan demikian, keputusan PBB untuk mengesahkan Resolusi 181 dapat dianggap sebagai keputusan yang gegabah dan tidak mempertimbangkan hak-hak bangsa Palestina. Hal ini telah memicu konflik Israel-Palestina yang masih berlanjut hingga hari ini.

    Bahwa keputusan  mandat dari PBB saat itu disebabkan karena  faktor kepentingan negara besar sebagai pemenang Perang Dunia II, seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet, sangat dominan dalam berdirinya negara Israel pada tahun 1948.

    Setelah Perang Dunia II, Amerika Serikat dan Uni Soviet menjadi dua negara adidaya yang dominan di dunia. Mereka memiliki kepentingan politik, ekonomi, dan strategis di Timur Tengah, termasuk Palestina.

    Amerika Serikat, yang dipimpin oleh Presiden Harry S. Truman, memiliki beberapa alasan untuk mendukung berdirinya negara Israel, antara lain:

     

    1. Lobi Yahudi: Lobi Yahudi di Amerika Serikat memiliki pengaruh besar dalam politik AS dan mendukung berdirinya negara Israel.
    2. Kepentingan strategis: Amerika Serikat ingin memiliki basis strategis di Timur Tengah untuk menghadapi Uni Soviet dan mengamankan jalur minyak.
    3. Idealisme: Amerika Serikat juga memiliki idealisme untuk mendukung hak-hak bangsa Yahudi setelah Holocaust.

     

    Uni Soviet, yang dipimpin oleh Joseph Stalin, juga memiliki kepentingan dalam berdirinya negara Israel, antara lain:

     

    1. Mengurangi pengaruh Inggris: Uni Soviet ingin mengurangi pengaruh Inggris di Timur Tengah dan menciptakan negara baru yang dapat menjadi sekutu.
    2. Menciptakan konflik: Uni Soviet ingin menciptakan konflik di Timur Tengah untuk mengalihkan perhatian Amerika Serikat dan Inggris.

     

    Dengan demikian, faktor kepentingan negara besar sebagai pemenang Perang Dunia II, seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet, sangat dominan dalam berdirinya negara Israel pada tahun 1948. Namun, perlu diingat bahwa faktor-faktor lain, seperti lobi Yahudi dan idealisme, juga berperan dalam pengambilan keputusan.

     

    Tanah Perjanjian dan Greater Israel

    “Greater Israel” atau “Eretz Yisrael HaShlema” dalam bahasa Ibrani atau Tanah Israel Raya, adalah konsep yang merujuk pada wilayah Israel yang lebih luas daripada batas-batas negara Israel saat ini. Konsep ini berakar pada narasi biblikal dan ambisi Zionis awal, yang mengklaim bahwa wilayah Israel seharusnya mencakup area dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Euphrat di Irak.

     

    Tujuan Utama:

     

    – Membangun negara Yahudi yang lebih besar dan kuat

    – Mengamankan wilayah strategis untuk pertahanan

    – Merealisasikan janji biblikal tentang tanah yang dijanjikan kepada bangsa Yahudi

     

    Wilayah yang Diklaim:

     

    – Tepi Barat (West Bank)

    – Jalur Gaza (Gaza Strip)

    – Dataran Tinggi Golan (Golan Heights)

    – Bagian dari Lebanon, Suriah, dan Yordania

    – Beberapa wilayah di Mesir dan Irak

     

    Kontroversi:

     

    – Konsep Greater Israel dipandang sebagai ancaman oleh negara-negara Arab dan Palestina

    – Banyak yang menganggapnya sebagai upaya untuk menganeksasi wilayah Palestina dan mengganggu keseimbangan regional

     

    Memang sesuai keyakinan dari bangsa Istael bahwa Tanah perjanjian yang diklaim Israel tertulis dalam Alkitab, khususnya dalam kitab Kejadian, Keluaran, dan Yosua. Beberapa ayat yang relevan adalah:

    – Kejadian 12:7: Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.”

    – Kejadian 15:18: Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat.”

    – Keluaran 23:31: “Aku akan menentukan batas daerahmu dari Laut Teberau sampai Laut Filistin dan dari padang gurun sampai sungai Efrat”.

     

    Batas-batas Tanah Perjanjian yang disebutkan dalam Alkitab adalah dari Sungai Mesir (Sungai Nil) hingga Sungai Efrat, yang mencakup wilayah Israel modern, termasuk Gaza dan Tepi Barat, serta bagian dari Mesir, Suriah, dan Yordania

    Namun tanah yang diperjanjikan dalam Alkitab, khususnya dalam kitab Kejadian, Keluaran, dan Yosua, selama ribuan tahun telah diduduki oleh bangsa-bangsa lain ribuan tahun, termasuk Mesir, Palestina, Yordania, Irak, dan sebagian Turki. Hal ini merupakan salah satu titik kontroversi dalam konflik Israel-Palestina.

     

    Fakta Sejarah:

     

    – Tanah Kanaan (Palestina) telah dihuni oleh berbagai bangsa, termasuk Kanaan, Filistin, dan Israel.

    – Mesir telah menjadi pusat kekuasaan di wilayah tersebut selama ribuan tahun.

    – Yordania dan Irak telah menjadi bagian dari berbagai kekaisaran, termasuk Kekaisaran Babilonia dan Kekaisaran Persia.

    – Turki telah menjadi pusat kekuasaan Kekaisaran Ottoman selama beberapa abad.

     

    Perspektif Hukum Internasional:

     

    – Hukum internasional mengakui hak-hak bangsa-bangsa yang telah menduduki suatu wilayah selama ribuan tahun.

    – Deklarasi Kemerdekaan Palestina pada tahun 1988 dan pengakuan internasional terhadap Palestina sebagai negara merdeka pada tahun 2012 telah memperkuat hak-hak Palestina atas wilayah tersebut ¹.

     

    Perspektif Sejarah:

     

    – Bahwa tanah tersebut telah berdiri kerajaan Mesir dan Kekaisaran Ottoman Turki Usmani , selama ratusan tahun, dan bangsa Persia yang hidup selama ribuan tahun sejak kejayaan Yunani kuno dan Romawi dan Kekaisaran Babilonia yang menguasai wilayah  Irak selama ratusan tahun . Jadi alur sejarah nya jelas, tidak bisa begitu saja  diambil paksa begitu saja, karena dalam perspektif sejarah tertulis secara runtun dan jelas.

    Hal inilah yang mengakibatkan konflik Palestina Israel sulit untuk diselesaikan karena adanya keyakinan berdasarkan Kitab Suci dan situasi kondisi yang sudah berubah dan  yang menibulkankan komplesitas  Namun, perlu diingat bahwa konflik Israel-Palestina merupakan isu yang kompleks dan sensitif, dan tidak ada jawaban yang sederhana  untuk menjawabnya  karena faktir keyakinan agama tadi.

    Setidaknya memberikan gambaran pemahaman pada kita semua bahwa konflik Palestina Israel bukan konflik dan perang agama, melainkan konflik wilayah pendudukan yang dijustifikasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa saat itu, sedangkan wilayah tersebut telah diduduki dan didiami bangsa Palestina selama ratusan bahkan ribuan tahun secara turun temurun , agar diri kita lebih bijak dan cerdas dalam menilai situasi. Jangan mau terprovokasi bahwa masalah kompleksitas ini semata mata kesalahan negara negara besar pemenang Perang Dunia kedua, yang punya kepentingan.

    ———————–

     

    Penulis adalah pemerhati sosial budaya dan sejarah bangsanya

  • Dunia Diambang Ketidak Pastian, Pasca Amerika dan Israel Menyerang Iran

    Dunia Diambang Ketidak Pastian, Pasca Amerika dan Israel Menyerang Iran

    Oleh Agus Widjajanto

     

    Pada hari  Sabtu situasi di Timur Tengah sangat tegang hari ini, 28 Februari 2026. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran, dengan target utama infrastruktur militer, situs nuklir, dan sistem pertahanan udara. Presiden AS Donald Trump mengumumkan operasi ini sebagai langkah defensif setelah negosiasi program nuklir Iran gagal.

     

    Detail Serangan:

    – Target: Lima kota besar Iran, termasuk Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah.

    – Keterlibatan Israel: Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menjalankan operasi “Roaring Lion” untuk melumpuhkan ancaman rudal strategis Iran.

    – Respons Iran: Serangan balasan dengan gelombang rudal dan drone ke Israel dan basis militer AS di Timur Tengah.

     

    Dampak Global:

    – Delapan negara di Timur Tengah menutup ruang udara, menyebabkan gangguan besar pada penerbangan global

    – Sistem pertahanan udara di negara-negara Teluk diaktifkan untuk menghadapi serangan Iran

     

    Situasi ini masih berkembang, dan dunia internasional memantau dengan cermat. Presiden Donald Trump menyatakan serangan militer skala penuh dilakukan untuk menghukum orang jahat yang bisa membahayakan keamanan Amerika, dan harus di akhiri, pertanyaan selanjutnya, dalam kontek kepentingan dan sudut pandang yang mana bisa di sebut antara terang melawan gelap, antara benar melawan salah? yang ada adalah hukum rimba, siapa yang kuat akan melibas yang lemah dalam hukum politik kekuasaan untuk mencapai hegemoni adi daya dunia.

    Seorang pakar ekonomi dan akademisi  Jeffrey Sachs, seorang ekonom dan akademisi Amerika, memang pernah menyebutkan bahwa Amerika Serikat telah melakukan intervensi politik dan penggulingan rezim pemerintahan di negara lain sebanyak 70 kali antara tahun 1947 hingga 1989.

    Namun, perlu diingat bahwa angka ini tidak dapat diverifikasi secara independen dan mungkin berbeda-beda tergantung pada sumber dan definisi “intervensi” yang digunakan.

    Beberapa contoh intervensi Amerika Serikat yang terkenal termasuk:

    – Iran (1953): CIA membantu menggulingkan pemerintahan Mohammad Mossadegh dan mengembalikan Shah Iran ke tampuk kekuasaan.

    – Guatemala (1954): CIA membantu menggulingkan pemerintahan Jacobo Arbenz dan menggantinya dengan pemerintahan militer.

    – Kongo (1960): CIA membantu menggulingkan pemerintahan Patrice Lumumba dan menggantinya dengan pemerintahan Mobutu Sese Seko.

    – Chili (1973): CIA membantu menggulingkan pemerintahan Salvador Allende dan menggantinya dengan pemerintahan Augusto Pinochet.

     

    Intervensi Amerika Serikat di negara lain seringkali dipicu oleh kepentingan geopolitik, ekonomi, dan keamanan nasional. Namun, intervensi ini juga seringkali dikritik karena melanggar kedaulatan negara lain dan menyebabkan kerugian bagi masyarakat lokal.

    Demikian juga seorag pakar ekonomi ternama John Perkins dalam bukunya “Confessions of an Economic Hit Man” membahas tentang bagaimana Amerika Serikat menggunakan strategi ekonomi untuk menguasai negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Perkins, yang merupakan seorang “Economic Hit Man” (EHM), menjelaskan bagaimana ia dan timnya menggunakan laporan keuangan yang berputar, pemilihan yang curang, penyuapan, dan pemerasan untuk mempengaruhi kebijakan ekonomi negara-negara tersebut.

    Dalam buku ini, Perkins juga membahas tentang bagaimana Amerika Serikat menggunakan lembaga-lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia dan IMF untuk mengendalikan perekonomian negara-negara yang sedang berkembang. Ia juga menjelaskan bagaimana negara-negara berkembang dijebak dalam utang yang tidak dapat dibayar, sehingga mereka terpaksa mengikuti kebijakan ekonomi yang diinginkan oleh Amerika Serikat.

    Perkins juga membahas tentang bagaimana Indonesia menjadi salah satu korban dari strategi EHM, dan bagaimana negara ini dijebak dalam utang yang besar untuk proyek-proyek pembangunan yang tidak menguntungkan bagi rakyat Indonesia

    Dalam situasi yang tidak menentu ini tentu akan berdampak pada ekonomi global, termasuk Indonesia, ditengah baru saja ditanda tanganinya penyelesaian secara damai soal jalur gaza untuk palestina merdeka rasanya akan sangat berpengaruh , dan sulit untuk dilaksanakan mengingat secara mengejutkan Tiba tiba Amerika serikat dan israel melancarkan serangan udara dalam skala penuh ke wilayah Iran.

    Nasib Board of Peace (BoP) antara Amerika Serikat dan Indonesia di jalur Gaza pasca serangan Israel dan Amerika ke Iran sedang dipertanyakan. Serangan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa BoP tidak memiliki misi yang tulus untuk perdamaian, melainkan lebih kepada perluasan konflik dan serangan militer ke negara lain.

    Indonesia telah berkomitmen untuk mengirimkan 8.000 pasukan ke Gaza sebagai bagian dari upaya stabilisasi dan rekonstruksi, dengan BoP menjanjikan dana sebesar US$ 5 miliar untuk rekonstruksi Gaza. Namun, serangan ini dapat menghambat upaya meredakan ketegangan di Jalur Gaza.

    Beberapa legislator Indonesia, seperti TB Hasanuddin, meminta pemerintah Indonesia untuk menentukan sikap yang jelas terhadap invasi Israel dan Amerika Serikat ke Iran, dan mempertanyakan apakah BoP benar-benar memiliki misi perdamaian yang tulus.

    Indonesia harus berhitung dengan cermat menyikapi situasi ini. Selat Hormus telah ditutup Iran seluruh perdagangan minyak dunia dari Timur Tengah lewat selat Hormuz, maka harga minyak akan melambung tinggi, dan gejolak ekonomi akan terjadi, pesawat terbang akan melonjak tinggi, dan dunia di ambang resesi.

     

    Teori Domino

    Teori domino memang bisa menjadi faktor yang memperluas konflik antara Iran dan Amerika Serikat/Israel, yang berpotensi melibatkan Rusia, China dan sekutunya mengingat sebagian besar minyak di impor dari Timur Tengah untuk menghidupi industri China. Teori ini awalnya dikembangkan pada masa Perang Dingin, yang menyatakan bahwa jika satu negara jatuh ke dalam pengaruh komunis, negara-negara sekitarnya akan mengikuti jejaknya, dan harus belajar dari meletus nya perang dunia kedua dimana jepang membutuh kan sumber daya energi untuk industri nya saat itu, dan sejarah selalu akan berulang.

    Dalam konteks saat ini, jika Iran berhasil mempertahankan diri dari serangan Amerika Serikat/Israel, hal ini bisa meningkatkan pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah dan meningkatkan kemungkinan negara-negara lain di kawasan tersebut untuk meningkatkan kerja sama dengan Iran. Rusia, yang telah memiliki hubungan baik dengan Iran, mungkin akan semakin terlibat dalam konflik ini untuk melindungi kepentingannya di kawasan tersebut.

    Namun, perlu diingat bahwa teori domino bukanlah kepastian, dan banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi jalannya konflik ini, seperti kepentingan nasional, diplomasi, dan kekuatan militer. Selain itu, Rusia juga memiliki kepentingan sendiri di kawasan tersebut, dan mungkin tidak ingin terlibat dalam konflik yang dapat memperburuk hubungannya dengan Barat.

    Indonesia sebagai negara non blok dengan politik luar negeri bebas aktif harus mencermati betul situasi ini, walaupun berdampak secara ekonomi tapi harus dijaga jangan sampai berdapak pada politik baik secara geo politik maupun geo strategis yang bisa merugikan bangsa ini ke depan.

    Peperangan selalu membawa dampak kehancuran baik secara ekonomi, maupun secara peradaban manusia bisa musnah , akibat kepentingan dari pemimpin pemimpin negara adi daya yang punya agenda dan pertimbangan politik dimana perang sebagai ajang bisnis demi keuntungan ekonomi , dan hegemoni global.

    —————–

    Penulis adalah pengamat sosial budaya, politik dan hukum

     

  • Masa Lalu sebagai Oase untuk Masa Depan

    Masa Lalu sebagai Oase untuk Masa Depan

     

    Oleh  Rofinus  Pati

     

    Masa lalu dinilai dari pelbagai segi sejauh pemaknaan yang diberikan setiap orang. Bagi sebagian orang, masa lalu dikunci dalam sebuah ruang waktu dan tidak perlu dibuka lagi. Yang lalu dibiarkan berlalu, jangan dikenang lagi. Sejarah ditutup rapat.

    Ada sebagian lagi menilai masa lalu sebagai sebuah peristiwa yang dapat menimbulkan luka, namun sekaligus dijadikan obat untuk menyembuhkan luka itu. Masa lalu adalah gudang pengalaman yang dapat menjadi perpustakaan hidup. Setiap orang boleh belajar dari pengalaman itu dan menjadi lebih baik lagi dalam merangkai hari-hari hidup selanjutnya.

     

    Rumah Masa Lalu

    Kita menyaksikan di media sosial setiap hari, banyak video reels yang menayangkan kembali suasana pedesaan seputar tahun 1980-an dan 1990-an, bahkan ada yang lebih awal lagi pada era 1970-an. Divideokan pondok-pondok di pedesaan yang sedang kosong dan sepi, dinding-dinding tua dan sedang lapuk, kebun dan sawah menghijau dengan air jernih mengalir, udara segar dan bersih.

    Selain itu, ada pondok sederhana yang merupakan istana cinta bagi seorang kakek-nenek yang saling setia. Masa lalu juga khas dengan alat-alat musik, mode pakaian, gaya berpacaran, lagu-lagu yang viral di saat itu, suasana keramaian dalam keluarga, maupun sarana teknologi yang dinikmati kala  itu seperti “tape” menggunakan batrei, kaset menggunakan pita yang sering diputar manual untuk mencari lagu-lagu yang hendak dimainkan.

    Ada jenis permainan anak-anak, teknologi, termasuk merek sandal tertentu yang masih berdenyut dalam memori. Ada sandal lily, ada lampu pelita, obor,  lampu petromax, ada permainan petak umpet, lompat tali  merdeka, bermain mobil-mobilan,  perang-perangan, engklek, dan seterusnya.

    Celana khas saat itu bermerek antara lain Levi’s, Lee, Wrangler, Diesel dan Guess. Bajunya bermerek Nike, Adidas, Reebok, Calvin Klein, dan lain-lain. Di saat mencari hiburan, tampak semangat  bergelora dalam diri anak-anak yang senang bermain debu dan masak-memasak, membangun rumah-rumahan. 

    Juga saat menonton televisi hitam putih di rumah tetangga. Menonton sambil  duduk maupun berdiri dari jarak tertentu, disertai  malu-malu, bahkan ada yang mengintip dari lubang dinding disertai rasa takut ketahuan dan diusir tuan rumah. Ada juga yang menonton televisi hitam putih beramai-ramai di rumah kepala desa, sebab hanya  kepala desa yang memiliki fasilitas  itu.

     

    Selalu Ingin Pulang

    Para netizen yang memberikan jempol suka dan komentar dalam video reels tentang suasana pedesaan itu berkisar minimal ratusan bahkan ribuan orang. Melihat lokasi pedesaan dan panoramanya yang khas, banyak orang merasakan rindu menyesakkan dada, ingin pulang ke masa lalu dalam angan. Kenangan pribadi maupun bersama dibuka kembali dan orang rindu pulang.

    Pulang dalam hal ini tidak hanya kembali ke  kampung, melainkan ke keadaan atau suasana di masa lalu yang penuh keceriaan, ramai oleh canda dan tawa anggota keluarga yang masih utuh, termasuk kakek nenek masih ada. Utuh karena belum dipisahkan oleh pekerjaan atau mendahului ke alam kubur. Sejarah memanggil mereka pulang ke ruang waktu, di sudut masa silam untuk melebur rasa rindu, untu sejenak boleh merasa lega di kala menjalani hidup yang semakin kompleks.

    Martin Heidegger (1889-1976), seorang filsuf dalam bukunya “Being and Time” (1927) menulis bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki masa lalu. Peristiwa atau pengalaman masa lalu itu turut mempengaruhi kehidupannya pada saat ini. Karena berdampak sampai pada masa   sekarang, maka manusia tidak sepenuhnya  melepaskan diri dari peristiwa-peristiwa sebelumnya.

    Masa lalu berdampak panjang dan selalu membersamai  hidup seseorang. Heidegger pernah berkata, “Die Vergangenheit ist nicht vergangen, sondern ist noch unserem Sein gegenwartig”. “Masa lalu tidaklah berlalu, tetapi masih hadir dalam keberadaan kita”. Badan kita adalah produk masa lalu dan sifatnya  menyejarah, walau  hidup di masa kini.

     

    Hati dan Ingatan akan Kemapanan

    Alat untuk menghadirkan masa lalu itu adalah hati dan ingatan. Ingatan memanggil kembali semua pengalaman hidup pada tahun-tahun yang telah pamit dan hati merangkulnya erat-erat dan  merenungkannya dalam-dalam. Dunia yang telah jauh berubah karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi beserta seluruh dampaknya yang positif sekaligus negatif, hidup manusia terasa sedang berlari tunggang-langgang seperti ditegaskan Anthony Giddens.

    Banyak tantangan yang dihadapi, pelbagai pilihan harus diambil, beraneka  informasi datang  menyerbu. Dunia nyata semakin ramai. Dunia maya, lebih gaduh lagi. Pada titik tertentu,  manusia merasa hidupnya jenuh, kerontang, hampa dan merana sendiri di tengah dunia yang semakin tidak ramah. Di saat itulah, muncul kerinduan untuk menelusuri kembali lorong-lorong waktu, yang pernah membuatnya merasa nyaman, tenang dan stabil. Ada keinginan untuk mengulangi  kembali kenangan-kenangan indah dalam  lembaran hidup terdahulu.

    Bagi Heidegger, manusia adalah makhluk yang dalam konsepnya  disebut “Geschichtlichkeit”.  Artinya, manusia adalah makhluk yang masuk dalam keadaan historis; menyejarah. Heidegger berpendapat, “Wir sind geschichte Wesen und unsere Geschichte ist nicht nur eine Abfolge von Ereignissen, sondern eine Weise des Seins”. “Kita adalah makhluk historis dan sejarah kita bukanlah hanya urutan peristiwa, tetapi cara keberadaan kita”. 

    Hal itu berarti bahwa kita setiap hari hidup dan berada dalam alur sejarah setelah mengalami apa yang oleh Heidegger disebut “Geworfenheit” atau “keterlemparan ke dalam dunia” saat eksodus dari rahim ibu ke dalam sebuah dunia yang sudah lebih dahulu ada. Hari-hari yang kita lalui adalah perjalanan, ziarah  dan pengalaman yang akan menggumpal menjadi kenangan dan tersimpan rapih dalam museum masa lalu.

    Kerinduan akan masa lalu yang tenang dan membahagiakan  oleh Sigmund Freud (1856-1939), seorang psikoanalis asal Austria, dinilainya  seperti keadaan dalam kandungan ibu. Keadaan itu dianggap sebagai “oceanic feeling” (perasaan samudra). Walaupun Freud sendiri tidak memakai istilah itu dan konsep itu diperdebatkan oleh para ahli psikoanalisis, namun perasaan nyaman kembali ke masa lalu ibarat suasana nyaman dan kesatuan yang dialami seorang bayi dalam rahim ibu. Bayi tidak membedakan dirinya dengan lingkungan rahim namun ia melayang bebas di lautan air ketuban.

    Masa lalu yang tetap segar, tidak busuk oleh zaman,  dianggap Erich Fromn (1900-1980) sebagai “paradisical state”. Suatu keadaan seperti di “Taman Firdaus” waktu penciptaan awal. Perasaan serba lengkap, penuh, serba ada, dilindungi, dicintai. Fromm melihat suasana ini bisa menjadi sumber motivasi bagi manusia untuk menikmati kebebasan dan kemandirian, meskipun tidak tanpa risiko. Orang bebas mengekspresikan diri agar semakin bermakna hidupnya, tetapi juga bisa meninabobokan, memanjakan orang  sehingga santai dan malas berjuang.

     

    Tanggungjawab Masa Depan

    Namun, ada hal yang menimbulkan keprihatinan dan perlu menjadi peringatan. Banyak orang kembali mencumbui masa lalu dan sulit pulang ke masa kini. Masa lalu menjadi semacam tempat pelarian, yang memenjarakan  angan, mengikat rasa, bahkan memasung diri. Terlanjur sayang dan nyaman dengan masa lalu dan takut berpaling darinya. 

    Hal ini yang oleh Fromm disebut sebagai regresi (regression) dan ketergantungan (dependence). Orang mundur kembali ke masa lalu dan asyik berada di sana, menikmatinya,  bergantung padanya, merasakan  keadaan seperti di rahim ibu dan melupakan jalan untuk pulang pada kekinian.   

    Di dalam bukunya “The Art of Loving” (1956), Fromm menulis: “The desire to return to the womb is the desire to return to the state of being one with the mother, to be protected, to be loved and to be free from responsibility”. Suasana rahim ibu penuh persatuan, perlindungan dan cinta serta bebas dari semua tanggung jawab.

    Siapa pun boleh bernostalgia, asalkan tidak kehilangan fokus untuk terus maju dan melaju. Kembali ke masa lalu perlu dihayati sebagai datang ke oase, kembali ke sumber dan menimba “air” kehidupan, membaharui energi, menegaskan  motivasi untuk terus melangkah. Mundur dan disandera masa lalu bisa menghalangi perkembangan manusia ke arah yang sehat dan mandiri. Terjebak oleh kenyamanan masa lalu dapat mengaburkan fokus, menciptakan ketergantungan,  dan daya juang rendah dalam menghadapi kompleksitas hidup di zaman ini. 

    Meskipun semua pengalaman masa lalu turut membentuk seseorang ada seperti sekarang ini, namun manusia tidak hidup untuk masa lalu. Manusia  menimba masa lalu untuk hidup, bukan hidup untuk masa lalu. Sebab, kemapanan “Taman Firdaus” dan suasana melayang bebas dalam air ketuban di rahim ibu, sudah lama pamit.

    Karena itu, mari sejenak kita  memandang di sekeliling kita. Setiap saat, dunia nyata terus gaduh, apalagi dunia maya. Dunia berlari dengan kecepatan tak terbendung. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tetap datang seperti sinar matahari dengan segala risiko yang menyertainya. Setelah kembali dari oase masa lalu, kita sudah mendapatkan  motivasi dan energi baru untuk kembali ke masa kini dan tetap bertanggung jawab melanjutkan karya pelayanan menuju masa depan yang lebih baik.

    ——————-

  • “Gerakan Rumah Bela Rasa Caritas”: Pulihkan Martabat Penyintas Banjir Sumatra

    “Gerakan Rumah Bela Rasa Caritas”: Pulihkan Martabat Penyintas Banjir Sumatra

     

    Tapanuli Tengah Caritas Indonesia – Jaringan Caritas Indonesia (KARINA-KWI) resmi memulai “Gerakan Rumah Bela Rasa” di Desa Kebun Pisang, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, 26 Februari 2026. Launching “Gerakan Rumah Bela Rasa” ini ditandai dengan penyerahan dua hunian yang sudah selesai dibangun kepada dua keluarga penyintas bencana di Desa Pangaribuan dan Desa Sijungkang, keduanya di Kec. Andam Dewi, Tapanuli Tengah (Tapteng).

    Serah terima hunian ini dihadiri Uskup Sibolga, Mgr. Fransiskus Tuaman Sinaga; Sekretaris Badan Pembina Yayasan Karina-KWI, Mgr. Siprianus Hormat; dan Direktur Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk. Program ini merupakan upaya pemulihan hunian bagi penyintas bencana banjir yang terjadi di Sumatra pada akhir November 2025.

    Bencana banjir dan tanah longsor tersebut mengakibatkan kerusakan masif di tiga provinsi. Berdasarkan data, tercatat sebanyak 158.088 rumah mengalami kerusakan berat atau hilang. Kondisi ini memaksa ribuan keluarga tinggal di pengungsian dalam waktu lama. Kehilangan rumah berdampak buruk pada keamanan dan kesehatan keluarga.

    Sebagai respon nyata, Jaringan Caritas Indonesia dan Caritas-PSE Keuskupan Sibolga menginisiasi program Emergency Appeal (EA) 23/2025 dan program “Gerakan Rumah Bela Rasa”. Dalam program ini, Caritas Indonesia menjadi pengarah dan penanggungjawab, sementara implementor program adalah Caritas-PSE Keuskupan Sibolga. Program ini juga berjalan sebagai wujud nyata kerja sama lintas keuskupan di Indonesia. Target utama adalah membangun atau merehabilitasi rumah-rumah bagi penyintas bencana banjir di Sumatra.

     

    Menyediakan Hunian

    Jaringan Caritas Indonesia hadir di Tapanuli Tengah untuk membantu saudara-saudara penyintas bencana banjir dengan menyediakan hunian bagi mereka. Mgr. Sipri menyampaikan Jaringan Caritas Indonesia hadir untuk mendukung pemerintah dalam upaya menyediakan hunian bagi para penyintas bencana yang kehilangan rumahnya.

    “Dengan kerja sama ini akan memaksimalkan bantuan kemanusiaan kita untuk saudara-saudara kita yang mengalami bencana,” tegas Mgr. Sipri.

    Mgr. Sipri menambahkan, bahwa Caritas hadir bagi mereka yang rapuh, yang karena bencana ini kehilangan rumah mereka, tempat untuk kembali dan pulang. Ia menyampaikan, Caritas hadir untuk mewujudkan hunian yang layak dan bermartabat. Mgr. Sipri juga berterima kasih kepada semua pihak, para donatur, para imam di Keuskupan Sibolga, para imam Kapusin, dan semua yang terlibat membantu dan mendukung terwujudnya hunian bagi para penyintas bencana.

    Sehari sebelumnya dilaksanakan penandatangan Memorandum of Understanding (MoU), antara Caritas Indonesia, yang diwakili Romo Fredy dan Pemerintah Kabupaten Tapteng yang diwakili, Sekda Tapteng, Binsar Sitanggang. Penandatanganan ini untuk menegaskan kerja sama antara Jaringan Caritas Indonesia dan Pemerintah Tapteng dalam mendukung dan membantu penyintas bencana banjir.

    Pada saat penandatangan MoU ini, Binsar menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran Jaringan Caritas Indonesia dan Caritas-PSE Keuskupan Sibolga yang telah hadir dan membantu pada masa pemulihan pasca bencana di wilayah Tapteng. Ia menyampaikan, kehadiran Caritas semakin mempercepat upaya pemulihan, sehingga masyarakat dapat semakin cepat beraktivitas secara normal kembali.

     

    Membangun Lebih Baik

    Direktur Caritas-PSE Keuskupan Sibolga, Romo Walter Manurung pada saat serah terima menyampaikan Gambaran umum pembangunan “ Rumah Bela Rasa” Caritas Indonesia  ini. Proses ini dimulai dari asesmen menyeluruh, berdasar data dari pemerintah, tim Caritas mendatangi setiap penerima manfaat. Dari asesmen ini kemudian didapatkan data penerima manfaat yang akan dibantu penyediaan hunian tetap.

    Romo Walter melanjutkan, untuk kriteria penerima manfaat pembangunan hunian adalah mereka yang kehilangan rumah mereka selama bencana banjir di Sumatra. Sesuai kebijakan pemerintah, pembangunan hunian dilakukan di lokasi yang berada di luar Zona Rawan Bencana (ZRB). Untuk penyintas yang sebelumnya memiliki rumah di dalam ZRB, pembangunan hunian baru akan dilakukan dengan cara relokasi di lahan mandiri, yang mensyaratkan adanya surat kepemilikan lahan yang sah.

    Pembangunan rumah dalam “Gerakan Rumah Bela Rasa” ini akan berlangsung selama 18 bulan ke depan. Estimasi biaya pembangunan mencapai Rp 60.000.000 per unit rumah. Setiap rumah akan dibangun dengan spesifikasi tahan gempa. Rumah dibangun dengan tipe 36 serta dilengkapi 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Gambaran ini sesuai dengan standar minimum hunian layak dari pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

    Romo Walter menambahkan, rumah akan dibangun dengan struktur baja ringan dengan atap berbahan zincalume yang anti karat. Untuk dinding rumah dibangun dengan bata ringan. Ia memastikan, desain hunian ini dibuat, sehingga memungkinkan bagi setiap penerima manfaat untuk dapat mengembangkan hunian ini, dengan tambahan fasilitas baru atau memperluas dan memperbesar kapasitasnya.

    “Proses pembangunan huntap ini mengusung prinsip “building back better” atau membangun kembali dengan lebih baik. Desain rumah telah disesuaikan dengan risiko bencana di setiap wilayah,” ujar Romo Walter.

     

    Hunian Bermartabat

    Gerakan ini bermula dari kunjungan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC ke lokasi respons kebencanaan Caritas Indonesia di Tapanuli Tengah, dari pertemuan reflektif pada 23 Desember 2025. Pada kesempatan ini, Mgr. Anton menyampaikan kegelisahan serta gagasannya untuk segera memberikan solusi nyata berupa pembangunan rumah permanen yang bermartabat bagi warga Sumatra yang terdampak bencana.

    Gagasan ini disambut baik, jaringan Caritas Indonesia kemudian bergerak menyatukan semangat untuk mewujudkan hunian bagi para penyintas bencana. Gerakan ini bercita-cita membangun rumah yang dirancang sebagai hunian tetap (huntap) yang memenuhi standar keamanan dan kenyamanan.

    Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk menyampaikan, gerakan ini adalah wujud solidaritas untuk saudara-saudara yang terdampak bencana, terutama untuk keluarga yang kehilangan tempat tinggal selama banjir terjadi. Ia menyampaikan, “rumah ini nantinya akan menjadi benteng martabat dan rasa aman keluarga”.

    Romo Fredy mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut terlibat aktif dalam mendukung berjalannya “Gerakan Rumah Bela Rasa” ini. Caritas Indonesia menyadari, bahwa mewujudkan rumah bagi ratusan bahkan ribuan penyintas bencana bukanlah tugas kecil. Oleh karena itu, gerakan ini merupakan ajakan terbuka bagi umat, masyarakat umum, sektor swasta, maupun komunitas yang berkehendak baik untuk ikut berpartisipasi.

    “Ini adalah gerakan bela rasa. Setiap bantuan yang diberikan akan sangat berarti untuk membangun kembali kehidupan sesama kita di Sumatra yang terdampak bencana,” kata Romo Fredy.

    Gerakan ini membuka kesempatan bagi para donor dan mitra untuk berkolaborasi menciptakan masa depan yang lebih aman bagi para penyintas. Sebab, keamanan dan ketahanan hidup penyintas adalah prioritas utama bersama. Oleh karenanya, melalui program ini, Caritas tidak hanya membangun rumah, tetapi juga memulihkan martabat, rasa aman, dan ketahanan hidup keluarga serta komunitas terdampak.

     

    ——————

    Foto Launching  Gerakan Rumah Bela Rasa di Kec. Andam Dewi, Tapanuli Tengah.

    Dok. Caritas Indonesia

     

    Keluarga penerima manfaat rumah perdana yang sudah selesai dibangun dalam Gerakan Rumah Bela Rasa di Kec. Andam Dewi, Tapanuli Tengah.

    Dok. Caritas Indonesia

     

    Foto Penandatangan MoU antara Caritas Indonesia dengan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah.

    Dok. Caritas Indonesia

     

     

     

     

     

  • Pahlawan, Jasa, dan Pengorbanan

    Pahlawan, Jasa, dan Pengorbanan

     

    Ignas Kleden,  Sosiolog

     

    Dia pernah menduduki berbagai kursi menteri. Dia pernah pula mengisi pos Kepala Badan Pemeriksa Keuangan. Selama 27 tahun, Johannes Baptista Sumarlin giat menyangga kabinet Soeharto. Dia anggota  mafia Berkeley  dan menjadi salah satu arsitek terpenting ekonomi Orde Baru.

    Hiruk-pikuk politik yang muncul sepeninggal mantan presiden Soeharto dipicu salah satunya oleh usul untuk memberi Soeharto gelar pahlawan. Mereka yang mengusulkan beranggapan bahwa gelar pahlawan adalah tanda penghormatan yang pantas untuk jasa-jasa Soeharto selama 32 tahun memerintah Indonesia. Sebaliknya, pihak yang menolak berkeberatan karena perkara hukum mantan presiden itu belum selesai, apalagi kalau diingat berbagai kekerasan politik yang pernah dilakukannya, dan berbagai tindakannya yang bisa dianggap sebagai pelanggaran hak asasi manusia.

    Tulisan ini tidak mempersoalkan apakah benar Soeharto mempunyai jasa yang demikian besar sehingga layak diberi gelar pahlawan. Yang hendak dipersoalkan adalah apakah besarnya jasa seseorang dapat menjadi alasan tepat untuk menghormatinya sebagai pahlawan. Sebagai suatu perbandingan saja, kita dapat mengambil contoh Jerman Barat selepas Perang Dunia II. Negeri itu luluh-lantak secara fisik dan mental setelah kalah perang dengan ekonomi yang berantakan. Dalam pemerintahan Konrad Adenauer, kanselir pertama selepas perang, menteri ekonomi Prof. Ludwig Erhard memperkenalkan gagasan Soziale Marktwirtschaft (ekonomi pasar sosial) dan menerapkannya secara konsekuen.

    Dengan dukungan rakyat Jerman Barat (waktu itu) yang terkenal suka bekerja keras, pada 1960-an Jerman Barat muncul sebagai suatu Wirtschaftswunder (keajaiban ekonomi) yang membawa kemakmuran yang nyata bagi rakyat Jerman Barat dan mengundang rasa hormat dari negara-negara lain. Tidak terdengar bahwa arsitek ekonomi Jerman Barat itu pernah melakukan kekerasan politik atau terlibat dalam pelanggaran hak asasi atau terkena dugaan korupsi. Namun, dengan tetap menghormati jasanya sebagai orang yang membangun kemakmuran untuk bangsanya dari reruntuhan perang dunia, tak pernah ada usaha orang-orang di sana untuk menjadikannya pahlawan.

    Kita tahu para penemu besar dalam bidang ilmu pengetahuan tentulah besar jasanya, bukan hanya untuk orang-orang di negerinya sendiri tetapi juga untuk seluruh umat manusia. Penemu mesin uap, pesawat telepon, atau penemu penisilin dan berbagai obat untuk penyakit yang sebelumnya tidak terobati, demikian pula penemuan di bidang fisika dan teknologi, telah mengubah nasib jutaan orang, tetapi para penemu itu tidak dijadikan pahlawan. Jasa mereka mungkin dihargai dengan hadiah Nobel pada masa sekarang, atau dengan mengabadikan nama mereka pada gedung-gedung penting, jalan, institusi pendidikan, atau lembaga penelitian. Mengapa mereka tak diberi gelar pahlawan, dan mengapa pula tak ada partai politik di negara-negara tersebut yang mau mengusulkan gelar pahlawan bagi mereka?

    Salah satu sebabnya ialah karena pahlawan bukanlah terutama seseorang yang memberikan jasa khusus, tetapi seseorang yang melakukan suatu pengorbanan khusus. Dalam banyak kasus apa yang dikorbankan adalah milik terakhir yang tak tergantikan, yaitu hidup dan nyawa yang bersangkutan sendiri. Dari segi itu kita dapat memahami bahwa Jose Rizal dipuja sebagai pahlawan Filipina bukan karena kepandaian dan jasa-jasanya sebagai seorang dokter, bukan juga lantaran kemahirannya menguasai beberapa bahasa Barat dengan baik, atau karena bakat seninya yang luar biasa. Dia menjadi pahlawan karena bersedia mati demi keyakinannya bahwa perjuangan rakyat Filipina untuk merdeka adalah sah dan benar, dan penjajahan Spanyol merupakan praktek yang harus diakhiri.

    Dalam kasus mantan presiden Soeharto kita tak tahu pengorbanan khusus seperti apa yang telah diberikannya sehingga dia pantas menjadi pahlawan. Orang bisa menyebut rentetan jasanya selama berkuasa: pertumbuhan ekonomi, swasembada pangan, pertumbuhan penduduk yang terkendali, stabilitas politik yang relatif mantap, dan keamanan umum yang terjamin. Akan tetapi, demi kebenaran sejarah, patut sekali dipertanyakan harga apa yang telah dibayar oleh rakyat Indonesia untuk semua yang dianggap sebagai prestasi dan jasa tersebut.

    Keamanan memang terjamin karena pada masa itu siapa saja bisa  diamankan  setiap saat tanpa harus melalui proses hukum apa pun. Gedung sekolah bertambah di mana-mana tetapi yang hilang adalah kemampuan belajar peserta didik, karena indoktrinasi telah menerobos ke dalam didaktik dan metodik pengajaran. Stabilitas politik terjamin karena partai politik telah dipangkas jumlahnya menjadi hanya tiga, dengan Golkar yang harus menjadi pemenang dalam setiap pemilihan umum. Pertumbuhan ekonomi memang terjadi tetapi kemakmuran umum meningkat dengan seret sekali, karena hasil pertumbuhan langsung digerogoti oleh korupsi, kolusi, dan nepotisme yang tak terkendali. Hasilnya adalah suatu keadaan yang seakan membenarkan apa yang diucapkan Presiden John Kennedy dalam pidato inaugurasinya: if a free society cannot help the many who are poor, it cannot save the few who are rich (jika suatu masyarakat bebas tak dapat menolong banyak orang yang miskin, masyarakat itu tak dapat juga menyelamatkan segelintir orang yang kaya).

    Jadi mengapa Soeharto harus menjadi pahlawan? Masuk akal belaka bahwa orang-orang yang pernah mengalami kebaikan dan kemurahan hatinya, ingin membalas budi dengan menganugerahinya gelar tersebut. Akan tetapi gelar itu jika diberikan akan membawa akibat yang disintegratif secara nasional, karena kroni Soeharto akan menjadi pahlawan-pahlawan kecil, sementara para lawan politiknya sangat mungkin akan dilihat sebagai musuh para pahlawan, dan barangkali juga dalam keadaan terburuk akan dianggap pengkhianat.

    Bukan kebetulan bahwa usul memaafkan Soeharto yang telah mendapat banyak kritik dan resistensi yang luas kini hendak diganti dengan usul tentang kepahlawanan Soeharto. Tujuannya tak banyak berbeda: memberikan konfirmasi kepada publik bahwa jasa-jasa mantan presiden ini sedemikian besarnya sehingga sanggup menghapus semua kesalahannya. Akan tetapi untuk berlaku adil: siapa gerangan yang memaafkan Soekarno setelah kejatuhannya, dan apakah jasanya kurang besar untuk bangsa dan rakyat Indonesia? Dilihat dari segi pengorbanan, sangat mungkin Soekarno telah memberikan pengorbanan yang lebih besar: dibuang ke pengasingan selama bertahun-tahun, dipenjara oleh penjajah Belanda, dan kemudian pada akhirnya ditinggal seorang diri menjelang ajalnya oleh bangsa dan rakyatnya sendiri, sekalipun untuk rakyat inilah dia telah mempertaruhkan diri dalam perjuangan kemerdekaan.

    Memang kita sebaiknya berpikir kembali tentang kenyataan ini: pahlawan bukanlah orang yang memberikan jasa khusus tetapi mereka yang memberikan pengorbanan khusus. Berjasa berarti memberikan sesuatu, tetapi berkorban berarti kehilangan sesuatu. Seorang bisa berjasa karena menyerahkan sebuah rumah atau sebuah mobilnya kepada yang tidak berpunya. Akan tetapi pedagang ikan hias dan penjual kembang di Jalan Barito, Kebayoran Baru, Jakarta, memberikan pengorbanan dengan kehilangan pekerjaan, setelah tempat mereka berdagang selama bertahun-tahun digusur oleh Pemerintah DKI untuk suatu keperluan lain.

    Nelson Mandela pahlawan Afrika Selatan telah dihukum penjara seumur hidup oleh pengadilan orang putih, karena berjuang menentang apartheid. Karena gencarnya protes dunia internasional, dia akhirnya dibebaskan pada 1990 setelah meringkuk 26 tahun dalam penjara. Dalam sebuah pidatonya yang terkenal setelah ia lepas dari penjara dan setelah larangan untuk partai ANC dicabut, Mandela berkata,  Selama hidup saya telah membaktikan diri kepada perjuangan rakyat Afrika. Saya berjuang menentang dominasi putih, seperti juga saya berjuang menentang dominasi hitam. Telah saya jaga cita-cita untuk suatu masyarakat yang demokratis dan bebas, tempat semua orang hidup bersama dalam harmoni dengan kesempatan yang sama. Inilah sebuah cita-cita yang untuknya saya ingin hidup dan yang ingin saya capai. Namun, bila harus terjadi, inilah sebuah cita-cita yang untuknya saya bersedia mati.  Siapa pun yang belum paham tentang siapa itu pahlawan atau berpura-pura belum paham tentang pahlawan, sebaiknya mendengar kata-kata tersebut.

    ————————–

     

    Sumber  Tulisan Majalah Tempo 17  Februari 2008

     

  • Penerima Beasiswa Studi ke Luar Negeri dan  Nasionalisme yang Luntur

    Penerima Beasiswa Studi ke Luar Negeri dan  Nasionalisme yang Luntur

     

    Oleh  Agus  Widjajanto

     

    Di media sosial lagi viral dan ramai diperbincangkan, dimana ada seorang wanita Indonesia yang telah kawin di luar negeri, dan wanita ini adalah penerima beasiswa LPDP dari pemerintah yang dibiayai dari uang pajak rakyat, yang melukai rasa nasionalis dan harga diri bangsa, yang dulu diperjuangkan dengan darah air mata, nyawa dari para pejuang agar bisa merdeka, sejajar dengan bangsa lain. Viral tersebut menunjukan begitu rendah nya kesadaran cinta tanah air berbangsa dan bernegara, yang bukan saja kesalahan dari pribadi tapi juga didikan orang tua dan kita semua sebagai anak bangsa.

    Penerima beasiswa LPDP yang jelek-jelekin bangsa sendiri memang sedang viral di media sosial. Kasus ini bermula dari pernyataan seorang alumni LPDP yang memamerkan paspor Inggris milik anaknya, dengan komentar “Cukup saya WNI, anak jangan”. Pernyataan ini memicu reaksi keras dari warganet dan akademisi, yang menilai tindakan tersebut sebagai pengingkaran terhadap identitas nasional dan rasa cinta tanah air.

    LPDP adalah program beasiswa yang didanai oleh uang rakyat, dengan tujuan mencetak SDM unggul yang akan membangun Indonesia. Oleh karena itu, penerima beasiswa LPDP diharapkan dapat kembali ke Indonesia dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa.

    Kasus ini juga menyinggung kewajiban moral dan etika yang seharusnya diemban oleh para penerima beasiswa LPDP. Beberapa pihak berpendapat bahwa anak memiliki hak untuk memilih kewarganegaraannya sendiri, namun orang tua memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air kepada anak sejak dini.

    Pihak LPDP dan pemerintah telah memberikan tanggapan terkait isu ini, dengan menyatakan bahwa mereka akan melakukan evaluasi dan mengambil tindakan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku

    Seperti kita tahu bahwa Oxford University menawarkan beberapa beasiswa untuk pelajar internasional, termasuk Indonesia. Beberapa contoh beasiswa yang tersedia adalah:

    – Beasiswa Chevening: Beasiswa dari Pemerintah Inggris untuk lulusan S1 yang ingin melanjutkan studi S2 di Inggris.

    – Beasiswa LPDP: Beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan untuk pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studi S2 atau S3 di luar negeri, termasuk Oxford University.

    – Beasiswa Clarendon: Beasiswa dari Oxford University untuk pelajar internasional yang ingin melanjutkan studi S2 atau S3 di universitas tersebut.

    – Beasiswa CIMB ASEAN Scholarship: Beasiswa dari Bank CIMB untuk pelajar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang ingin melanjutkan studi di universitas luar negeri.

     

    Tiongkok sebelum mencapai kemajuan seperti saat ini melalui refolusi kebudayaan dimana pemimpin china saat itu , yakni Deng Xiaoping memang dikenal sebagai salah satu pemimpin China yang berhasil mengubah negaranya menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Pada tahun 1978, Deng Xiaoping meluncurkan program “Reformasi dan Pembukaan” yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi China dan membuatnya lebih terbuka terhadap dunia luar.

    Salah satu langkah yang diambil oleh Deng Xiaoping adalah mengirimkan ribuan mahasiswa China ke luar negeri untuk belajar ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru. Mahasiswa-mahasiswa ini kemudian diharapkan dapat kembali ke China dan membantu membangun industri dan ekonomi negara tersebut.

    Strategi ini terbukti sangat sukses, karena mahasiswa-mahasiswa China yang belajar di luar negeri kemudian kembali ke negara mereka dan membawa serta pengetahuan, keterampilan, dan jaringan internasional yang mereka peroleh. Mereka kemudian menjadi pemimpin-pemimpin industri dan pemerintah yang membantu China mencapai kemajuan ekonomi yang pesat.

    Deng Xiaoping juga menekankan pentingnya belajar dari pengalaman negara lain dan mengadopsi teknologi dan ide-ide baru untuk meningkatkan ekonomi China. Ia juga mendorong investasi asing dan kerjasama internasional untuk membantu China mencapai tujuannya.

    Contoh Deng Xiaoping ini dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya dan mencapai kemajuan ekonomi. Dengan mengirimkan mahasiswa ke luar negeri untuk belajar dan kemudian kembali ke Indonesia, kita dapat membangun industri dan ekonomi yang lebih kuat dan kompetitif.

    Namun, perlu diingat bahwa keberhasilan China juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti kebijakan ekonomi yang tepat, investasi infrastruktur, dan dukungan pemerintah. Olehb karena itu, kita perlu mempelajari dan mengadaptasi strategi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Indonesia.

    Jaman Pemerintahan Orde Lama pun Presiden Soekarno juga mengirim ratusan mahasiswa ke Eropa Timur Rusia, untuk belajar, demikian juga saat Orde Baru, dimana telah menghasilkan tokoh tokoh ekonomi yang dikenal dengan lulusan barclay university, adalah sebagai upaya untuk bagaimana alumni yang telah selesai belajar di luar negeri bisa membangun bangsa ini, untuk pengabdiannya.

    Contoh mahasiswa penerima beasiswa LPDP yang jelek-jelekin bangsa sendiri memang menunjukkan bahwa membangun karakter bangsa yang dimulai dari didikan orang tua telah gagal dalam beberapa kasus. Didik anak tidak hanya tentang memberikan pendidikan formal, tetapi juga tentang menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan cinta tanah air.

    Dalam kasus ini, orang tua yang seharusnya menjadi contoh bagi anaknya, malah menunjukkan perilaku yang tidak pantas dan tidak patriotis. Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya tentang apa yang diajarkan di sekolah, tetapi juga tentang apa yang dipraktikkan di rumah.

    Pendidikan karakter harus dimulai dari keluarga, karena keluarga adalah tempat pertama anak belajar tentang nilai-nilai dan norma-norma. Orang tua harus menjadi contoh yang baik bagi anaknya, dengan menunjukkan perilaku yang positif dan patriotis.

    Namun, kita juga harus mengakui bahwa pendidikan karakter tidak hanya tanggung jawab orang tua, tetapi juga tanggung jawab masyarakat dan pemerintah. Sekolah dan lembaga pendidikan lainnya juga harus memainkan peran penting dalam membentuk karakter anak.

    Dalam konteks ini, LPDP sebagai lembaga yang memberikan beasiswa kepada mahasiswa Indonesia, juga harus mempertimbangkan aspek pendidikan karakter dalam proses seleksinya. Mereka harus memastikan bahwa penerima beasiswa LPDP tidak hanya memiliki kemampuan akademis yang baik, tetapi juga memiliki karakter yang baik dan cinta tanah air.

    Untuk itu perlu dipikirkan saat ini dimana harus  Membuat regulasi yang mewajibkan penerima beasiswa pemerintah untuk kembali ke negara asal setelah selesai pendidikan di luar negeri dapat membantu memastikan bahwa investasi pendidikan yang diberikan oleh pemerintah dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi negara dan masyarakat.

     

    Beberapa alasan yang mendukung ide ini adalah:

    1. Pengembalian investasi: Beasiswa yang diberikan oleh pemerintah adalah uang pajak dari rakyat, sehingga wajar jika pemerintah meminta penerima beasiswa untuk kembali ke negara asal dan memberikan kontribusi bagi pembangunan negara.
    2. Keterampilan dan pengetahuan: Penerima beasiswa telah memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang berharga di luar negeri, dan diharapkan dapat menggunakan keahlian tersebut untuk membantu memajukan negara asal.
    3. Pembangunan nasional: Dengan kembalinya penerima beasiswa ke negara asal, maka dapat membantu meningkatkan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia di negara tersebut, yang pada akhirnya dapat membantu memajukan pembangunan nasional.

     

    Namun, perlu diingat bahwa regulasi ini harus dibuat dengan hati-hati dan mempertimbangkan beberapa hal, seperti:

     

    1. Kebebasan individu: Penerima beasiswa harus memiliki kebebasan untuk memilih tempat tinggal dan bekerja setelah selesai pendidikan.
    2. Kesempatan kerja: Pemerintah harus memastikan bahwa ada kesempatan kerja yang tersedia bagi penerima beasiswa yang kembali ke negara asal.
    3. Kondisi negara: Jika kondisi negara asal tidak kondusif bagi penerima beasiswa untuk kembali, maka regulasi ini mungkin tidak efektif.

     

    Contoh negara yang telah menerapkan regulasi serupa adalah Singapura, yang mewajibkan penerima beasiswa pemerintah untuk kembali ke negara asal dan bekerja selama beberapa tahun setelah selesai pendidikan.

    Tujuan dari diberikan beasiswa ke luar negeri dari pemerintah adalah agar penerima beasiswa dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang dapat membantu meningkatkan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia di negara asal.

     

    Dengan demikian, penerima beasiswa dapat memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara dengan cara:

     

    1. Meningkatkan ekonomi: Dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, penerima beasiswa dapat membantu meningkatkan ekonomi negara dengan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan mengembangkan industri.
    2. Meningkatkan politik: Penerima beasiswa dapat membantu meningkatkan politik negara dengan memberikan kontribusi bagi pembangunan demokrasi, meningkatkan kesadaran politik, dan membantu menciptakan kebijakan yang lebih baik.
    3. Meningkatkan budaya: Penerima beasiswa dapat membantu meningkatkan budaya negara dengan memperkenalkan budaya negara asal ke dunia internasional, serta membantu melestarikan dan mengembangkan budaya negara asal.

     

    Dengan demikian, tujuan dari diberikan beasiswa ke luar negeri dari pemerintah adalah untuk menciptakan generasi yang lebih baik, yang dapat membantu meningkatkan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia di negara asal, serta memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.

    Namun, seperti yang kita lihat dari contoh sebelumnya, tidak semua penerima beasiswa dapat memenuhi harapan ini. Oleh karena itu, pemerintah harus terus memantau dan mengevaluasi program beasiswa, serta membuat regulasi yang lebih efektif untuk memastikan bahwa penerima beasiswa dapat memberikan kontribusi yang maksimal bagi bangsa dan negara.

    Untuk itu  perlu dipertimbangkan. Jika penerima beasiswa LPDP tidak memenuhi kewajiban mereka untuk kembali ke Indonesia dan memberikan kontribusi bagi bangsa, maka mereka harus bertanggung jawab atas biaya yang telah dikeluarkan oleh negara.

    Pencekalan permanen dan mencabut Kewarganegaraan  dan pengembalian biaya beasiswa dapat menjadi salah satu cara untuk memastikan bahwa penerima beasiswa LPDP memenuhi kewajiban mereka. Namun, perlu diingat bahwa keputusan ini harus dibuat dengan hati-hati dan mempertimbangkan beberapa hal, seperti:

     

    1. Keadilan: Apakah keputusan ini adil bagi penerima beasiswa yang telah memenuhi kewajiban mereka?
    2. Efektivitas: Apakah keputusan ini efektif dalam mencegah penerima beasiswa LPDP tidak memenuhi kewajiban mereka?
    3. Dampak: Apakah keputusan ini memiliki dampak yang tidak diinginkan, seperti merusak reputasi Indonesia di mata internasional?

     

    LPDP harus memiliki mekanisme yang jelas dan transparan untuk menangani kasus-kasus seperti ini, serta memastikan bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik bagi bangsa dan negara.

    Contoh regulasi yang serupa dapat dilihat pada beberapa negara, seperti Singapura yang memiliki kebijakan “bond” bagi penerima beasiswa pemerintah. Jika penerima beasiswa tidak memenuhi kewajiban mereka, maka mereka harus membayar kembali biaya beasiswa yang telah dikeluarkan.

    Pembelajaran bagi generasi milenial, bijaklah dalam menggunakan media sosial, memang dengan kemajuan tehnologi komunikasi seakan tiada sekat batas negara, namun Sebagai anak bangsa dan tumpah darah , maka rasa nasionalis  tetap harus dijaga karena itu yang memvedakan kita denngan bangsa lain, baik karakteristik, budaya, bahasa, adat istiadat dan ras sebagai bangsa .

    Belum lagi fenomena di media sosial tik tok, yang dipenuhi dengan berbagai generasi baik muda bahkan tua berjoged joged, hanya untuk mencari validasi, adalah hal yang sangat memprihatinkan , bagi pembangunan katakter anak bangsa, memberikan contoh dan suri tauladan yang tidak elok, sudah hilang katakter Tut Wuri Handayani, Ing Ngarso Sung Tulodo, dan ini tugas kita semua untuk berbenah diri agar generasi Z lebih tahu sejarah bangsa nya, karakter bangsanya, dan budaya bangsanya, untuk Indonesia kedepan , karena hancurnya negara selalu di mulai dari dalam.

    —————————-

     

    Penulis adalah pemerhati masalah sosial budaya

  • Menepis Beban di Leher Zaka

    Menepis Beban di Leher Zaka

     

    Oleh  Mariana  Sogen,  Misionaris NTT, Berkarya di Timor Leste

     

    Di tengah amis pasar dan hiruk-pikuk manusia yang saling sikut berebut rezeki, Zaka berjalan menyamping, menyelip di antara keranjang sayur dan bau keringat. Di lehernya, sampo rentengan bergelantungan seperti kalung nasib yang berat. Setiap Rabu pagi, saat lonceng sekolah seharusnya memanggil namanya, ia justru memilih berkutat dengan debu pasar, menjajakan dagangan yang ia ambil dari toko kecil di sudut sana.

    Zaka adalah murid kelas satu SMP di sekolahku. Baru dua bulan ia terdaftar sebagai siswa baru tahun ini, namun kursi kelasnya lebih sering kosong saat hari pasar tiba.

    “Zakarias Tamo Ama,” kutepuk bahunya dari belakang.

    Ia tersentak, berpaling dengan wajah yang seketika pucat meski kulitnya sepekat malam. Matanya yang bening memancarkan kilat kaget sekaligus takut. Di sekolah, aku adalah sosok yang ditakuti—sosok yang setiap pagi mengontrol kelas, memastikan setiap sudut bersih dan setiap murid patuh pada aturan. Dan di sini, ia tertangkap basah melanggar aturan paling dasar: hadir untuk belajar.

    “Jualan apa?” tanyaku dengan nada datar, berusaha menyembunyikan getar emosi di balik wajah tanpa ekspresi.

    “Ini, Suster,” sahutnya lirih, nyaris tertelan bising pasar. Ia menunjukkan rentengan sampo di lehernya dengan jemari yang kasar—tangan seorang pekerja keras yang dipaksa dewasa oleh keadaan.

    Kami sempat berbicara sejenak. Dengan jujur yang polos, tanpa rasa bersalah yang dibuat-buat, ia menjelaskan modal dan keuntungan receh yang ia kejar. Ia bercerita dengan semangat yang menyayat hati, seolah membolos adalah satu-satunya cara untuk menyambung napas.

    “Saya mau beli semua jualanmu, Zaka,” kataku.

    Perlahan, ia menurunkan beban plastik itu dari lehernya. Mulutnya komat-kamit menghitung, memperlihatkan barisan gigi rapi yang kontras dengan kulit gelapnya. Di bawah terik matahari, matanya bersinar serupa bintang—begitu lugu dan tanpa cela.

    “Dua puluh lima ribu, Suster,” ucapnya malu-malu saat menerima uang dariku. Kutambahkan lagi dua puluh lima ribu rupiah ke telapak tangannya. “Untuk membeli sepatu sekolahmu,” bisikku.

    Sebab aku tahu, Zaka bukan hanya absen di hari Rabu. Ia juga sering menghilang saat apel bendera hari Senin. Bukan karena malas, tapi karena ia takut dihukum guru piket lantaran hanya memiliki sepasang sandal untuk membungkus kakinya yang penuh debu pasar.

    “Zaka, kamu hebat sudah bisa membantu orang tua. Tapi sekolah adalah jalanmu untuk memiliki masa depan,” ujarku sambil menatap sosoknya yang pendek gempal.

    Ia menatapku lama sekali. Tatapan itu bukan sekadar tatapan anak SMP; itu adalah tatapan seseorang yang memikul beban dunia di pundak kecilnya. Sorot mata bening itu seolah bicara padaku: “Suster, jika aku tak di sini, siapa yang akan memberi makan adik-adikku hari ini?”

    “Suster,” suaranya bergetar, namun bukan karena takut, melainkan permohonan yang lahir dari desakan perut yang lapar. “Aku akan tetap ke sekolah, tapi izinkan aku ke pasar setiap Rabu. Aku harus mencari uang untuk makan adik-adikku. Mama baru saja melahirkan, dan Bapak… ia pergi merantau saat adik bungsuku masih dalam kandungan. Sampai detik ini, tak ada kabar, tak ada kiriman, tak ada jejak.”

    Kami terpaku dalam keheningan yang menyesakkan. Di kepalaku, ribuan kata pujian berebut ingin keluar; aku ingin meneriakkan betapa bangganya aku pada pundak kecil itu. Aku tak kuasa melarangnya mencari nafkah, aku hanya ingin ia tak kehilangan masa mudanya di antara tumpukan sampah pasar.

    “Zaka, aku tak bisa memberimu jawaban sekarang,” ucapku, mencoba menjaga wibawa yang mulai retak. “Aku hanya ingin berkunjung ke rumahmu.”

    Ia menunduk, seolah malu mengakui dunianya yang sempit. “Suster, kami tidak punya rumah. Kami hanya menumpang di bekas dapur orang, sebuah ruang sempit yang dipaksakan jadi tempat tinggal.”

    Aku mengangguk cepat, lalu segera membalikkan badan. Aku tak boleh membiarkan Zaka melihat pertahananku runtuh. Aku, yang selama ini dipandang sebagai karang yang tak bisa patah, yang tak pernah menyerah, apalagi menangis, kini harus menyerah pada air mata yang membanjir tanpa henti.

    Pikiranku berkecamuk. Bagaimana mungkin seorang bocah sekecil itu sudah memikul nakhoda ekonomi untuk ibu dan adik-adiknya? Di hadapan penderitaan yang begitu murni, aku sadar tugas utamaku bukan lagi sekadar mengontrol kebersihan kelas, melainkan memberi api pada semangat hidupnya yang mulai redup.

    “Apa yang harus kuperbuat untukmu, muridku?” tanyaku pada angin pasar yang membawa aroma duka.

    ***

    Motor tuaku terbatuk sebelum akhirnya bungkam di depan sebuah gubuk reyot yang lebih mirip rongsokan daripada hunian. Bangunan itu hanyalah bekas dapur milik kerabat jauh keluarga Zaka—sebuah kotak kayu tanpa jendela maupun ventilasi. Di dalamnya, udara terasa mati, berputar-putar membawa hawa panas yang berkelindan dengan aroma sampah dari luar. Pakaian-pakaian kecil yang kotor berserakan di sana-sini, melukiskan kemiskinan yang akut.

    “Mohon maaf, Suster. Rumah kami gelap,” suara Mama Zaka menyambutku dari balik bayang-bayang. Bahkan wajah bayi dalam gendongannya pun nyaris tak terlihat, terkubur dalam pekatnya ruangan. Sambil membagikan beberapa bungkus biskuit kepada adik-adik Zaka, pandanganku mencari sosok sang pahlawan kecil itu.

    “Mana Zaka?” tanyaku.

    “Ia sedang menjajakan sampo di pasar senja. Kalau Rabu, dia harus ke pasar besar,” jawab ibunya. Aku terpaku dalam kekaguman yang pedih; bocah itu benar-benar telah menjadi tulang punggung yang menopang seluruh beban keluarga ini.

    Dengan ketegasan yang kupaksakan, aku berujar, “Zaka harus sekolah di hari Rabu. Ia butuh masa depan. Nanti, setelah lulus SMA, barulah ia bisa bekerja lebih layak untuk membantu Mama dan adik-adiknya”. Itulah impian yang kupeluk untuknya.

    Namun, jawaban Mama Zaka meruntuhkan keyakinanku. “Suster, Zaka boleh sekolah, tapi aku belum bisa mandiri. Hanya di hari Rabu itulah jualan samponya bisa membawa untung besar”. Pikiranku buntu. Bagaimana mungkin aku menuntutnya mengejar ilmu sementara adik-adiknya terancam tak makan?

    Aku pamit dengan hati yang berat. Di atas motor tua yang bergetar, kalimat Mama Zaka terus terngiang seperti kutukan: “Hari Rabu itu hasilnya cukup untuk membeli sekilo beras”. Aku sadar, menyelamatkan Zaka berarti harus menyelamatkan keluarganya terlebih dahulu.

    Malam itu, badai mengamuk di luar biara. Suara hujan menghantam atap seng dengan bising yang menyiksa, namun pikiranku justru terbang ke gubuk Zaka yang beratap ilalang tua. Aku terjaga dalam doa dan cemas, membayangkan bangunan rapuh itu akan rata dengan tanah.

    Keesokan harinya, kursi Zaka di kelas kosong. Itu bukan hari Rabu. Kabar buruk segera menyebar dari mulut ke mulut—sebuah “telepon gaib” khas anak-anak yang menyebutkan bahwa rumah Zaka luluh lantak diterjang angin kencang semalam. Aku hanya mampu mengangguk pelan, merasai duka yang kini bukan lagi sekadar berita, melainkan luka yang nyata.

    ***

    Sore itu, langkahku kembali membawaku ke rumah Zaka. Tidak ada keranjang sampo di lehernya; ia absen dari pasar senja. Di halaman, ia hanya duduk terpaku, matanya kosong menatap adik-adiknya yang bermain tanpa beban, sementara di belakangnya, gubuk itu telah menjadi bangkai yang porak-poranda. Atap ilalang berserakan dan dinding bambunya terkelupas, menyerah pada amukan badai semalam.

    “Mama, rumah kami hancur…” ucapnya lirih dengan mata yang berkaca-kaca menahan bendungan air mata.

    Aku berdiri mematung. Zaka yang biasanya tegar kini tampak begitu rapuh, wajahnya lesu seolah baru saja kehilangan segala-galanya dalam satu pertaruhan hidup. Tubuhnya kotor oleh sisa-sisa puing yang ia bersihkan seharian. Pemandangan itu menyayat hati; bagaimana mungkin tubuh sekecil itu sanggup memikul beban yang begitu kolosal?.

    Satu hal yang membuat dadaku sesak: ia mengubah panggilannya kepadaku menjadi “Mama”. Sebuah isyarat bisu bahwa ia butuh sandaran, bahwa punggung kecilnya telah retak dan ia membutuhkan rahim emosional untuk berlindung. Matanya yang dulu cemerlang bak bintang kini meredup, seolah cahaya di dalamnya ikut padam bersama robohnya gubuk itu.

    “Sabar, Zaka. Tuhan pasti punya jalan,” bisikku di sela senja yang mulai jatuh.

    Tangis bayi yang kedinginan membelah kesunyian, memicu belas kasih sang pemilik tanah untuk memanggil mereka berteduh. Namun, Zaka bersikukuh tetap tinggal. Ia memilih menjaga sisa-sisa kehidupan keluarganya—panci dan pakaian yang berserakan—di dalam reruntuhan itu.

    Sepanjang jalan pulang, batinku mengerang. Ingin rasanya kubawa ia ke asrama biara, namun ia punya adik-adik yang harus ia jaga. Ia dipaksa dewasa sebelum waktunya, berjalan cepat menuju sekolah dengan perut kosong hanya agar bisa segera pulang dan bekerja. Zaka telah menjadi bagian dari napas hidupku.

    Tiga hari aku bergulat dengan pikiran, hingga Zaka datang membawa secercah harapan: ada tanah pinjaman. Melalui perjanjian singkat dan gotong royong warga, sebuah pondok kecil kembali berdiri. Zaka kembali menjajakan sampo di pasar senja, mencoba merajut kembali hari-harinya yang koyak. Namun, takdir rupanya masih ingin menguji ketabahannya. Tak lama berselang, sebuah “pil pahit” kembali harus ia telan; pemilik tanah meminta tanah itu kembali, memaksa mereka harus segera angkat kaki sekali lagi.

    ***

    Aku mengerahkan seluruh daya agar Zaka tak lagi menjadi pengembara di atas tanah orang. Sebidang tanah mungil, sepuluh kali sepuluh meter, berhasil kubeli dari kemurahan hati para donatur. Zaka, yang saat itu masih duduk di kelas dua SMP dan belum paham benar arti kepemilikan, membubuhkan tanda tangannya di atas sertifikat itu sebagai pemilik sah. Kepindahan kali ini terasa berbeda; langkahnya ringan, tanpa bayang-bayang pengusiran yang menghantui. Di atas tanah itu, sebuah rumah sederhana dari dinding bambu berdiri—sempit, namun sehat dan merdeka.

    Zaka bangkit dari penderitaan panjangnya. Meski jarak ke sekolah kian menjauh, ia tak pernah terlambat; semangatnya telah pulih. Ia tak lagi menjajakan sampo renteng. Berkat bantuan orang tua asuh dan pekerjaan ibunya sebagai tukang cuci di pastoran, roda nasib mereka mulai berputar ke arah yang lebih baik.

    Waktu berlalu hingga Zaka berdiri di hadapanku dengan selembar ijazah SMA. “Mama, aku sudah lulus. Lalu, aku harus ke mana?” tanyanya dengan nada yang begitu ringan, seolah seluruh beban dunia telah menguap dari pundaknya. Ia memilih jalan sebagai tukang ojek untuk melunasi kredit motornya sendiri, sebuah rencana yang telah ia susun dengan matang.

    Lima tahun kemudian, Zaka kembali dengan kabar yang mengejutkan: ia ingin menikah. Di usianya yang hampir tiga puluh tahun, ia telah menemukan tambatan hati— Adriana Tallu,  seorang guru yang sering menjadi langganan ojeknya. Untuk pertama kalinya, aku melihat Zaka tersenyum begitu manis; kulitnya yang hitam manis tampak bersinar dengan ketampanan yang matang.

    Pernikahan itu berlangsung khidmat di kapela kecil biara kami, hanya dihadiri keluarga inti. Air mataku tumpah tak terbendung saat Zaka memeluk kakiku, memohon restu. Kutumpangkan tangan di atas kepalanya dengan suara terbata-bata: “Anakku, engkau bukan lagi milikku yang harus kugenggam erat. Engkau adalah suami bagi istrimu. Berjalanlah, raihlah kebahagiaanmu. Tuhan menuntunmu selalu”.

    Beberapa bulan kemudian, sebuah mobil Avanza parkir di halaman biara. Zaka turun dengan penampilan yang berubah total—bersih, rapi, dan tanpa beban. Ia datang memohon restu untuk usaha rental mobilnya. Aku tersenyum, sebuah senyuman paling tulus yang lahir dari kedalaman hatiku, melihat ia telah menjelma menjadi pebisnis yang mandiri.

    Kuberikan seutas Rosario dari sakuku. “Gantungkan ini di mobilmu. Biarkan Tuhan dan Bunda-Nya menjagamu di jalan”. Aku melepasnya pergi dengan kekaguman yang membuncah. “Engkau telah memenangkan kehidupan ini, Nak. Engkau adalah pemenang sejati”.

    Saat mobil itu bergerak menjauh, mataku tertuju pada bagian belakangnya. Di sana, tertempel berbagai merek sampo—pengingat bisu akan tahun-tahun penuh peluh di pasar. Sampo renteng yang dulu melilit lehernya kini telah bermetamorfosis menjadi sebuah kendaraan menuju masa depan yang cerah.

     

     

  • “Board of Peace” Antara Tantangan dan Keberadaan PBB

    “Board of Peace” Antara Tantangan dan Keberadaan PBB

     

    Oleh  Agus  Widjajanto

     

    Board Of Peace yang digagas oleh presiden Amerika Serikat Dinald Trump, adalah badan international baru yang dibentuk pada tanggal 22 jauari 2026, di Davos Swiss  yang bertujuan untuk mengawasi perdamaian, rekontruksi, dan stabilitas di Gaza Palestina.

    Tujuan Amerika Serikat membentuk Board of Peace (BoP) dan menggandeng Indonesia adalah untuk menciptakan stabilitas dan perdamaian di wilayah-wilayah yang terdampak konflik, khususnya di Gaza, Palestina. BoP bertujuan untuk mengawasi transisi pemerintahan, rekonstruksi, dan demiliterisasi di Gaza, serta mempromosikan perdamaian jangka panjang di wilayah tersebut.

    Indonesia bergabung dengan BoP pada 22 Januari 2026, sebagai bentuk komitmennya dalam mendukung perdamaian dan kemerdekaan Palestina. Keikutsertaan Indonesia dalam BoP juga diharapkan dapat memperkuat posisinya di forum internasional dan meningkatkan peranannya dalam diplomasi global.

    Namun, perlu dicatat bahwa pembentukan BoP juga menimbulkan kekhawatiran dari beberapa pihak, yang khawatir bahwa inisiatif ini dapat menggeser peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menangani konflik global.

    Amerika Serikat membentuk Board of Peace (BoP) untuk menangani konflik Israel-Palestina, yang dianggap sebagai upaya untuk menggeser peran PBB. Beberapa alasan yang mungkin menyebabkan Amerika Serikat melakukan ini adalah:

     

    – Veto Rusia dan China: Rusia dan China memiliki hak veto di Dewan Keamanan PBB, yang dapat menghambat upaya Amerika Serikat untuk mengesahkan resolusi yang mendukung Israel.

    – Kepentingan nasional: Amerika Serikat memiliki kepentingan strategis di Timur Tengah, termasuk keamanan Israel dan akses ke sumber daya energi.

    – Pengaruh lobi pro-Israel: Lobi pro-Israel di Amerika Serikat, seperti American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), memiliki pengaruh besar dalam menentukan kebijakan luar negeri AS.

    – Kekecewaan terhadap PBB: Amerika Serikat mungkin merasa bahwa PBB tidak efektif dalam menangani konflik Israel-Palestina, sehingga mereka memilih untuk membentuk organisasi sendiri.

     

    Namun, pembentukan BoP juga menimbulkan kekhawatiran bahwa Amerika Serikat akan mengabaikan hak-hak Palestina dan mengutamakan kepentingan Israel. Beberapa negara, termasuk Prancis dan Norwegia, telah menyatakan kekhawatiran tentang potensi BoP untuk menggantikan peran PBB.

    Kekawatiran Hamas tentang Indonesia digunakan untuk menghantam mereka dan melindungi Israel cukup beralasan. Hamas ingin pasukan penjaga perdamaian internasional yang memantau gencatan senjata, memastikan pelaksanaannya, dan bertindak sebagai penyangga antara tentara Israel dan rakyat Gaza, tanpa mencampuri urusan internal Gaza.

    Juru bicara Hamas, Qassem, menyatakan bahwa posisi Hamas mengenai pasukan internasional sudah jelas, yaitu ingin pasukan penjaga perdamaian yang tidak mencampuri urusan internal Gaza. Ini menunjukkan bahwa Hamas khawatir jika Indonesia dan pasukan internasional lainnya digunakan untuk menghantam mereka dan melindungi Israel.

    Namun, perlu diingat bahwa Indonesia telah menyatakan kesiapan untuk mengirimkan pasukan perdamaian ke Gaza dengan tujuan untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas di wilayah tersebut. Indonesia juga telah ditunjuk sebagai wakil komandan Pasukan Stabilitas Internasional (ISF) yang akan dikirim ke Gaza.

    Harus dipastikan bahwa TNI memiliki beberapa jaminan untuk menghadapi potensi agenda tersembunyi di lapangan, antara lain:

     

    – Mandat yang jelas: Indonesia telah menerima mandat sebagai Wakil Komandan International Stabilization Force (ISF) dan memiliki batasan atau kondisi khusus (national caveat) dalam partisipasinya.

    – Koordinasi dengan pihak terkait: Pemerintah Indonesia telah berkoordinasi dengan Palestina dan memastikan bahwa misi ini sejalan dengan kepentingan mereka.

    – Fokus pada stabilitas sipil dan kemanusiaan: Misi Indonesia dalam ISF difokuskan pada menjaga stabilitas sipil dan memberikan bantuan kemanusiaan, bukan pada operasi militer ofensif.

    – Netralitas: Indonesia harus menjaga netralitasnya dalam konflik antara Palestina dan Israel.

     

    Namun, perlu diingat bahwa PBB tidak dilibatkan dalam misi ini, sehingga ada kekhawatiran tentang legitimasi dan potensi konflik hukum dan politik internasional. Pakar studi perdamaian, Idham Badruzaman, menekankan pentingnya mandat PBB untuk memastikan keberadaan pasukan tidak dipandang sebagai ancaman oleh pihak mana pun.

    Dalam hal ini, pemerintah Indonesia perlu memastikan bahwa misi ini dijalankan dengan hati-hati dan profesionalisme, serta memiliki dukungan dari masyarakat Indonesia dan komunitas internasional.

    Pasukan zeni (yang punya keahlian rekontruksi kembali bangunan akibat perang) kemungkinan besar akan menjadi bagian dari kontingen Indonesia yang dikirim ke Gaza, Palestina, untuk pemulihan akibat perang. Mereka akan bertugas membersihkan puing-puing, memperbaiki infrastruktur, dan membuka akses jalan untuk memudahkan distribusi bantuan kemanusiaan.

    Selain itu, pasukan zeni juga akan membantu dalam membangun fasilitas-fasilitas dasar seperti rumah sakit lapangan, depot air, dan jalur distribusi pangan. Mereka akan bekerja sama dengan tim kesehatan, logistik, dan pengamanan untuk memastikan bahwa bantuan kemanusiaan dapat disalurkan dengan aman dan efektif.

    Bahwa pembentukan BoP yang di inisiatif Amerika Serikat dengan menggandenng Indonesia yang sangat fokal terhadap kemerdekaan Palestina akibat dari pada Peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)yang makin tidak bergigi dan  memang sedang menghadapi tantangan besar. Banyak yang merasa bahwa PBB tidak lagi efektif dalam menjaga perdamaian dan keamanan dunia, terutama karena kurangnya otoritas dan kekuasaan untuk menjadi penengah yang adil.

    Beberapa faktor yang menyebabkan penurunan legitimasi PBB antara lain:

    – Hak Veto: Lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB memiliki hak veto yang dapat menghambat pengambilan keputusan.

    – Ketergantungan pada Negara Anggota: PBB sangat bergantung pada negara anggotanya untuk menyediakan sumber daya dan dukungan.

    – Kurangnya Transparansi dan Akuntabilitas: PBB sering dikritik karena kurangnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan.

     

    Namun, perlu diingat bahwa PBB masih memiliki peran penting dalam menjaga perdamaian dan keamanan dunia. Indonesia, sebagai salah satu anggota PBB, telah menunjukkan komitmennya dalam memajukan perdamaian dan keamanan dunia melalui kontribusi pasukan penjaga perdamaian dan bantuan kemanusiaan.

    Untuk meningkatkan efektivitas PBB, perlu dilakukan reformasi yang komprehensif, termasuk perubahan struktur keanggotaan Dewan Keamanan dan peningkatan transparansi dan akuntabilitas. Dengan demikian, PBB dapat kembali menjadi organisasi yang efektif dalam menjaga perdamaian dan keamanan dunia.

    Bahwa Reformasi secara konprenhensif adalah dengan Menghapus hak veto dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah salah satu usulan reformasi yang sering dibahas. Hak veto yang dimiliki oleh lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (Amerika Serikat, Rusia, China, Perancis, dan Inggris) sering dianggap sebagai hambatan dalam pengambilan keputusan yang efektif.

     

    Beberapa alasan untuk menghapus hak veto:

    – Ketidakadilan: Hak veto dapat membuat keputusan Dewan Keamanan tidak adil, karena lima negara anggota tetap dapat memblokir keputusan yang tidak sesuai dengan kepentingan mereka.

    – Inefektivitas: Hak veto dapat membuat PBB tidak efektif dalam menangani krisis global, karena keputusan dapat diblokir oleh satu negara saja.

    – Kurangnya representasi: Hak veto hanya dimiliki oleh lima negara anggota tetap, sedangkan negara-negara lain tidak memiliki suara yang sama.

     

    Namun, menghapus hak veto juga memiliki tantangan:

    – Kesulitan dalam mencapai kesepakatan: Menghapus hak veto memerlukan kesepakatan dari semua negara anggota PBB, yang sangat sulit dicapai.

    – Ketidakpastian: Menghapus hak veto dapat menciptakan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan Dewan Keamanan.

     

    Beberapa alternatif untuk menghapus hak veto:

    – Membatasi hak veto: Membatasi hak veto hanya untuk keputusan yang sangat penting, seperti penggunaan kekuatan militer.

    – Menciptakan sistem voting yang lebih representatif: Menciptakan sistem votigng yang lebih representatif, seperti sistem voting yang berdasarkan pada jumlah penduduk negara-negara anggota.

     

    Reformasi PBB adalah proses yang kompleks dan memerlukan waktu, namun menghapus atau membatasi hak veto dapat menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan efektivitas PBB dalam menjaga perdamaian dan keamanan dunia.

    Bahwa sejarah telah menunjukan pada masa lalu  yang mana dalam Sejarah memang menunjukkan bahwa Liga Bangsa-Bangsa (LBB) gagal dalam menjaga perdamaian dunia dan akhirnya digantikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah Perang Dunia II. LBB memiliki beberapa kelemahan, seperti kurangnya otoritas dan kekuasaan untuk mengambil tindakan yang efektif.

    Mencari format baru organisasi yang lebih baik dan memiliki kapabilitas yang lebih bagus untuk perdamaian dunia adalah ide yang menarik. Beberapa kemungkinan format baru yang bisa dipertimbangkan:

     

    – Organisasi Perdamaian Dunia: Sebuah organisasi yang fokus pada pencegahan konflik, mediasi, dan rekonstruksi pasca-konflik.

    – Dewan Keamanan Global: Sebuah dewan keamanan yang lebih representatif dan efektif dalam menangani ancaman keamanan global.

    – Parlemen Global: Sebuah parlemen yang terdiri dari perwakilan dari semua negara, yang dapat membahas isu-isu global dan membuat keputusan yang lebih demokratis.

     

    Namun, perlu diingat bahwa menciptakan organisasi baru juga memiliki tantangan, seperti:

    – Kesulitan dalam mencapai kesepakatan: Menciptakan organisasi baru memerlukan kesepakatan dari semua negara, yang sangat sulit dicapai.

    – Biaya dan sumber daya: Menciptakan organisasi baru memerlukan biaya dan sumber daya yang signifikan.

     

    Reformasi PBB masih merupakan pilihan yang lebih realistis, karena PBB telah memiliki infrastruktur dan keanggotaan yang luas. Namun, mencari format baru organisasi juga dapat menjadi alternatif yang menarik jika reformasi PBB tidak dapat mencapai hasil yang diinginkan.

    Belum terlambat untuk mempersiapkan berbagai skenario terburuk yang ada jangan sampai kita dikorbankan oleh negara Adi Daya , dalam skenario tersembunyi, yang pada akhir nya sesal tak berguna kemudian , sedangkan rakyat terbelah suara nya , dan perlu mendengarkan suara dari legiskatif dan Organisasi keagamaan yang punya jalur khusus ke pihak palestina sebagai pihak yang akan dijadikan obyek .

    ————————

    Penulis adalah pemerhati politik sosial

     

  • Soekarno, Wahyu Cakraningrat dan Mistik Pemimpin Indonesia

    Soekarno, Wahyu Cakraningrat dan Mistik Pemimpin Indonesia

     

    Oleh  Agus  Widjajanto

     

    Masa Perang Kemerdekaan melawan Imperalisme yang masih bercokol menduduki wilayah Hindia Belanda yang lalu di kenal dengan Teritorial Wilayah Indonesia, baik semasa pra kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan, seorang tokoh politik sang Proklamator dan presiden pertama Republik ini, bernama Soekarno dengan nama kecil Kusno, anak seorang bangsawan Bali, dikenal sangat Kharismatik mempunyai karisma mistik yang begitu besar yang bisa mempengaruhi massa dalam pergolakan revolusi saat itu, hingga majalah Time edisi 10 maret 1958 mengulas khusus tentang sisi karismatik mistik ini dalam diri sang proklamator yang disebut Putra Sang Fajar, yang lahir pada Kamis pon, dimana hari kelahiran para nabi , yang diyakini dalam hitungan jawa hari kelahiran yang tiada tanding dalam sisi spriritualisme jawa.

    Dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid 1 pada halaman penutup yang ditulis Soekarno dan dalam tulisan tangan beliau dinyatakan hanya yang berjiwa Wahyu Cakraningrat dan mendapat amanahnya yang mampu membawa bangsa ini bangsa yang besar menjadi mercusuar dunia sebagai kiblat dunia. Lalu apa itu Wahyu Cakraningrat atau Wahyu Tjokroningrat?

    Wahyu Cakraningrat dalam lakon wayang kulit yang di ciptakan oleh Sunan (Guru Spriritual Jawa) Kalijaga atau RM Said, salah satu penyebar agama islam di Jawa pada medio abad ke-14 Masehi, yang melambangkan anugerah atau rahmat bagi seseorang calon pemimpin yang berhati mulia dari Yang Kuasa yang berjuang demi masyarakat banyak dan bangsanya yang bisa mengayomi seluruh rakyat dan seluruh agama kepercayaan yang dianutnya, merupakan manifestasi dari sisi kehidupan  nyata dalam spuritualisme Jawa yang merupakan ciri khas kepemimpinan Indonesia dari masa ke masa yang membedakan antara Indonesia dengan negara lain di dunia.

    Dalam budaya Jawa wahyu ini merupakan syarat datangnya pemimpun atau  Ratu Adil yang akan membawa rakyat mencapai kesejahteraan dan keharmonisan menuju adil makmur gemah ripah loh jinawe, toto tentrem kerto raharjo.

    Pesan dari pada Wahyu Tjokroningrat (Cakraningrat) adalah selalu diberikan kepada seseorang yang amanah, yang merupakan hak prerogratif yang kuasa atas kehendaknya dan atas usulan permohonan dari para leluhur negeri ini  yang telah menjaga Nusantara ini dari waktu kewaktu.

    Konsep wahyu bagi pemimpin Indonesia menurut Ronggowarsito adalah tentang seorang pemimpin yang memiliki hubungan dekat dengan Tuhan dan rakyat. Wahyu di sini bukan hanya tentang pengetahuan spiritual, tapi juga tentang kemampuan untuk memahami dan menjalankan kebijaksanaan dalam memimpin.

    Ronggowarsito menulis tentang konsep ini dalam karyanya, seperti Serat Centini dan Serat Paramayoga. Ia menekankan pentingnya seorang pemimpin memiliki sifat-sifat seperti sabar, adil, dan bijaksana, serta mampu memahami dan menjalankan kehendak Tuhan.

    Dalam konteks kepemimpinan Indonesia, konsep wahyu ini dapat diartikan sebagai kemampuan seorang pemimpin untuk memahami dan menjalankan kehendak rakyat, serta memiliki kebijaksanaan untuk membuat keputusan yang tepat.

    Ronggowarsito juga menulis tentang tujuh Satrio Piningit yang akan memimpin Nusantara, yaitu:

    – Satria Kinunjara Murwa Kuncara: pemimpin yang akrab dengan penjara.

    – Satria Mukti Wibawa Kesandhung Kesampar:pemimpin yang memiliki harta dan wibawa, tapi sering dipersalahkan.

    – Satria Jinumput Sumela Atur: pemimpin yang diangkat karena situasi.

    – Satria Lelana Tapa Ngrame: pemimpin yang memiliki kemampuan spiritual.

    – Satria Piningit Hamong Tuwuh: pemimpin yang memiliki charisma.

    – Satria Boyong Pambukaning Gapura: pemimpin yang membuka jalan bagi kemajuan.

    – Satria Pinandito Sinisihan Wahyu: pemimpin yang memiliki hubungan dekat dengan Tuhan dan rakyat.

     

    Konsep wahyu ini masih relevan dengan kepemimpinan Indonesia saat ini, karena menekankan pentingnya seorang pemimpin memiliki kebijaksanaan, keadilan, dan kemampuan untuk memahami dan menjalankan kehendak rakyat.

    Majalah Time edisi 10 Maret 1958 memang memuat artikel tentang Soekarno yang membahas sisi mistisnya. Artikel tersebut menggambarkan Soekarno sebagai seorang pemimpin yang memiliki kepercayaan kuat terhadap mistis dan spiritualitas.

    Dalam artikel tersebut, Soekarno disebutkan memiliki hubungan dengan beberapa tokoh spiritual dan sering menggunakan intuisi spiritual dalam mengambil keputusan penting. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa Soekarno memiliki kepercayaan terhadap konsep “wahyu” atau ilham spiritual yang membimbingnya dalam kepemimpinannya.

    Artikel tersebut juga menggambarkan Soekarno sebagai seorang pemimpin yang karismatik dan memiliki kemampuan untuk memotivasi rakyat Indonesia dengan pidato-pidatonya yang penuh semangat dan spiritualitas.

    Namun, perlu diingat bahwa artikel tersebut ditulis pada tahun 1958, dan mungkin tidak sepenuhnya akurat atau objektif dalam menggambarkan Soekarno dan kepercayaan mistisnya.

    Soekarno dikenal sebagai pemimpin yang penuh mistis di dunia Barat karena beberapa alasan:

    1. Keterlibatan dengan spiritualitas: Soekarno memiliki kepercayaan yang kuat terhadap spiritualitas dan mistis. Ia sering menggunakan intuisi spiritual dalam mengambil keputusan penting dan memiliki beberapa tokoh spiritual yang mempengaruhi dirinya.
    2. Penggunaan simbol-simbol mistis: Soekarno sering menggunakan simbol-simbol mistis dalam pidato dan kebijakan politiknya, seperti penggunaan lambang Garuda Pancasila dan konsep “Pancasila” yang memiliki makna spiritual.
    3. Keterlibatan dengan tokoh spiritual: Soekarno memiliki hubungan dengan beberapa tokoh spiritual, seperti Raden Mas Pandji Sosrokartono dan KH Hasyim Asy’ari, yang mempengaruhi keputusannya.
    4. Penggunaan bahasa yang puitis: Soekarno dikenal memiliki kemampuan bahasa yang puitis dan metaforis, yang sering kali diinterpretasikan sebagai bahasa mistis oleh dunia Barat.
    5. Kebijakan yang tidak konvensional: Soekarno memiliki kebijakan yang tidak konvensional, seperti kebijakan “Konfrontasi” dengan Malaysia dan “Pemberontakan” terhadap imperialisme Barat, yang membuatnya tampak sebagai pemimpin yang penuh misteri dan mistis di mata dunia Barat.

     

    Namun, perlu diingat bahwa Soekarno adalah seorang politikus yang sangat pragmatis dan memiliki visi yang jelas untuk Indonesia, dan bahwa mistisismenya lebih merupakan bagian dari konteks budaya dan spiritualitas Indonesia saat itu.

    Beberapa tokoh spiritual yang mempengaruhi Soekarno adalah:

    – Raden Mas Pandji Sosrokartono: seorang tokoh kebatinan yang sangat dihormati di Bandung dan guru spiritual Soekarno.

    – Abdurrahman: seorang tokoh agama di Petojo Selatan, Jakarta Pusat, yang memberi referensi tentang tasawuf.

    – Syeikh Musa Sukanegara: seorang ulama sufi dari Ciamis.

    – KH Abdul Mu’thi: seorang ulama sufi dari Madiun.

    – KH Hasyim Asy’ari: seorang ulama sufi dan pendiri Nahdlatul Ulama.

    – Syeikh Abbas Abdullah: seorang ulama sufi yang memberi wejangan kepada Soekarno terkait sila pertama Pancasila.

    – Syekh Kadirun Yahya: seorang mursyid Tarekat Naqsabandiyah yang memberi nasehat kepada Soekarno tentang kedekatan dengan Tuhan

     

    Dan beberapa tokoh spiritual Jawa yang tentu sangat dirahasiakan namanya tidak pernah tertulis dan disebut ke pihak luar hanya Soekarno yang tahu .

    Soekarno memiliki keyakinan yang kuat terhadap dunia mistis dan sering menggunakan intuisi spiritual dalam mengambil keputusan penting untuk negara dan bangsa Indonesia.

    Sedangkan Guru Politik Soekarno saat jadi pelajar di Surabaya adalah HOS Tjokroaminoto beliau adalah seorang tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia lahir pada 16 Agustus 1882 di Ponorogo, Jawa Timur, dan meninggal pada 17 Desember 1934 di Yogyakarta.

    Tjokroaminoto adalah salah satu pendiri Sarekat Islam (SI), organisasi pergerakan nasional pertama di Indonesia. Ia menjadi ketua SI pada tahun 1912 dan berhasil mengubah organisasi ini menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Indonesia saat itu.

    Tjokroaminoto juga dikenal sebagai guru bagi beberapa tokoh penting Indonesia, seperti Soekarno, Semaun, Musso, dan Kartosuwiryo. Ia mengajarkan mereka tentang nasionalisme, politik, dan agama.

    Rumah Tjokroaminoto di Surabaya sekarang menjadi Museum HOS Tjokroaminoto, yang menyimpan berbagai benda bersejarah terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

    Tjokroaminoto diangkat sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno pada tahun 1961. Ia dikenal sebagai “Guru Bangsa” karena kontribusinya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

    Dalam perjalanan bangsa ini menuju pintu gerbang kemerdekaan yang sesungguhnya yang menurut hitungan berdasarkan jangka Jayabaya dan kitab Paramayoga Ronggo Warsito akan datang setelah 2029 menjelang tahun 2030 , yang mempunyai arti luas, merdeka dalam arti mencapai kemandirian dalam bidang ekonomi, kemandirian dalam.bidang Politik, kemandirian dalam bidang budaya, hingga Soekarno dalam salah satu pidato nya yang sangat terkenal menyatakan, jikalau kalian ingin jadi seorang Moelim jadi lah moeslim Indonesia yang berbudaya dan berdasarkan adat istiadat serta katakter Ke Indonesiaan, demikian juga jika kalian jadi orang Hindu dan Budha , serta Kristani tetaplah jadi insan manusia Indonesia yang berbudaya dan berkarakter Indonesia, jangan jadi orang asing .

    Hubungan antara Wahyu Cakraningrat dan Sabdo Palon Nagih Janji terletak pada mitologi kepemimpinan Jawa dan siklus sejarah, di mana keduanya menggambarkan momen pergantian kekuasaan yang sah dan kembalinya nilai-nilai asli nusantara.

    Secara garis besar, hubungannya dapat dijelaskan melalui beberapa poin berikut:

    Wahyu Cakraningrat sebagai Simbol Legitimasi Raja: Wahyu Cakraningrat adalah wahyu kepemimpinan dalam pewayangan Jawa yang turun kepada satria yang memiliki sifat adil, jujur, dan rendah hati (seperti Abimanyu) untuk menjadi raja besar. Wahyu ini menandakan sahnya seorang pemimpin yang dipercaya membawa kemakmuran.

    Sabdo Palon sebagai Penguasa/Penasihat Tanah Jawa: Sabdo Palon adalah penasihat Prabu Brawijaya V (Majapahit) yang diyakini sebagai sosok spiritual pendamping tanah Jawa.

    Nagih Janji (Kembalinya Kebudayaan Asli): Dalam legenda “Sabdo Palon Nagih Janji”, Sabdo Palon meninggalkan Brawijaya V karena raja masuk Islam dan berjanji akan kembali setelah 500 tahun untuk menagih janji, yaitu mengembalikan kejayaan nilai-nilai spiritual Jawa/Nusantara.

    Hubungan Simbolis: Wahyu Cakraningrat adalah cahaya atau legitimasi yang dicari, sementara Sabdo Palon Nagih Janji adalah waktu atau momentum kapan pemimpin yang berhak menerima wahyu sejati tersebut akan muncul kembali setelah era transisi (setelah 500 tahun).

    Dengan kata lain, Wahyu Cakraningrat adalah “isyarat” pemimpin yang sah, sementara kembalinya Sabdo Palon (Nagih Janji) adalah tanda bahwa zaman yang menuntut pemimpin dengan karakteristik tersebut telah tiba kembali. Keduanya merujuk pada konsep Ratu Adil dalam mitologi Jawa.

    Apalah nanti dipenghujung sesuai jangka Jayabaya dan Ramalan Ronggo Warsito dalam serat Paramayoga indonesia masih seperti sekarang? Tentu akan mengikuti situasi Geo Politik dan Geo Strategis kawasam dan Global, sistem Negara boleh berubah , Bentuk dan desain negara boleh berubah tapi Karakter dan budaya adat istiadat dan keyakinan sebagai Bangsa Indonesia tetap harus bertahan dan menjadi mercusuar Dunia, karena bangsa ini adalah bangsa yang besar ibarat Raksasa yang sedang tertidur yang harus dibangunkan dari tidur panjang nya , dimana butuh sosok pemimpin yang bisa memberikan aspirasi dan petunjuk bagi masyarakat Dunia, bahwa Dunia ini bukan milik kita tapi titipan dari Syang Hyang Agung, yang harus kita jaga kita lestarikan dengan kasih dan sayang terhadap sesama dan alam semestanya.

    Lalu apakah saat ini merupakan pemimpin yang  sesuai tulisan Ronggo Warsito dalam tahap pemimpin Satrio Pinandito Sisihane Wahyu? Silahkan para pembaca menafsirkan sendiri dari ulasan tulisan d iatas, yang pasti hidup harus jalan terus . MERDEKA.

    —————————-

    Penulis adalah pemerhati masalah sosial budaya