Author: Redaksi

  • Pimpin Apel Bersama, Apolos Bagau : “Sekolah Yayasan Berperan Tingkatkan Mutu Pendidikan di Intan Jaya”

    Pimpin Apel Bersama, Apolos Bagau : “Sekolah Yayasan Berperan Tingkatkan Mutu Pendidikan di Intan Jaya”

    BERANDANEGERI.COM,- Peningkatan kualitas mutu pendidikan di Intan Jaya harus dimulai dari  program yang diterapkan dalam satuan pendidikan terutama dari jenjang pendidikan dasar yang kemudian berkembang ke pendidikan menengah.

    Itulah sebabnya, sekolah-sekolah  yang berada di bawah naungan Yayasan YPPK maupun YPPGI di Intan Jaya diharapkan menjadi penentu kualitas dan mutu pendidikan.

    Hal tersebut disampaikan kepala dinas pendidikan Kabupaten Intan Jaya, Apolos Bagau,S.T saat memimpin Apel bersama TK,SD,dan SMP YPPK di Bilogai- Intan Jaya,  Senin,(19/09 ).

    “Mutu pendidikan sangat ditentukan oleh kebijakan, kepemimpinan kepala sekolah, infrastruktur, dan proses pembelajaran yang terjadi di sekolah, sehingga sebagai YPPK dan YPPGI yang banyak mengelola jenjang pendidikan dasar di Intan Jaya diharapkan dapat berperan dalam peningkatan mutu pendidikan di Intan Jaya,” kata Apolos Bagau.

    Apolos menyampaikan apresiasi kepada semua tenaga guru maupun anak-anak sekolah yang telah bertahan menjalankan aktivitas pendidikan di kabupaten Intan Jaya.

    Menurut mantan kepala dinas pekerjaan umum Intan Jaya ini , sekolah-sekolah yayasan dikenal sebagai pioner pendidikan terutama untuk daerah-daerah yang sulit dijangkau karena minimnya infrastruktur dan dana.

    “Saya menyampaikan banyak terima kasih kepada para guru-guru dan anak-anak sekolah yang selama ini bisa menjalankan proses belajar mengajar meski sebelumnya pernah mengalami situasi Covid_19 maupun konflik bersenjata,namun aktivitas pendidikan tetap berjalan,” ucap Apolos.

    Sebagai pemimpin dinas pendidikan kabupaten Intan Jaya, Bagau meminta kepada guru-guru yang bertugas di kabupaten Intan Jaya agar dapat melaksanakan tugas sesuai SK yang ditetapkan.

    Kadis Pendidikan Intan Jaya Apolos Bagau, ST (Bertopi) saat memimpin Apel bersama bersama TK,SD,dan SMP YPPK di Bilogai pada Senin,( 19/09 )

    “Kepada guru-guru, supaya aktifkan sekolah-sekolah yang selama ini belum aktif. Saya akan turun cek di setiap sekolah untuk memastikan keberadaannya,” tegas Apolos.

    Apolos mengharapkan, sekolah-sekolah yayasan tetap menjadi contoh bagi siswa-siswi maupun orang tua murid terutama dalam hal kelangsungan dan mutu pendidikan.

    Apolos menyinggung soal bantuan pemerintah terhadap sekolah yayasan yang masih terbatas, sehingga membutuhkan upaya kemandirian yayasan dalam mengelola pendidikan.

    “Kita [Pemerintah] hanya membantu dari bantuan otonomi. Hal ini Penggurus yayasan perlu mengetahui dan sehingga yayasan bisa bermandiri,” ujarnya. .

    Dalam kondisi ini, ia menghimbau  kepada penggurus yayasan maupun kepala-kepala sekolah agar tidak mengharapkan bantuan lebih dari pemerintah.

    “Sekolah yayasan itu tidak bisa mengharapkan bantuan semuanya dari pemerintah kecuali sekolah-sekolah Negeri,” ucapnya.

    Akhir dari sambutanya, Apolos mengajak semua pihak yang peduli pendidikan,untuk bersama memajukan mutu pendidikan kabupaten Intan Jaya dengan caranya masing-masing.

    “Akhirnya, saya selaku pimpinan dinas pendidikan menagajak semua pihak yang peduli pendidikan agar bersama bekerja demi pendidikan dan masa depan anak-anak kita.Pembangunan daerah ini ada di tangan mereka [anak sekolah] di beberapa tahun nanti”, tutupnya.  (kb/*bn)

  • Artha Graha Group Berpartisipasi Selesaikan Pembangunan Gereja Katedral Jayapura

     

    BERANDANEGERI.COM,– Artha Graha Group  sebagai salah satu kelompok bisnis terkemuka di Indonesia yang didirikan Tomy Winata telah memutuskan  berpartisipasi  dalam proses penyelesaian pembangunan Gereja Katolik Katedral Kristus Raja, Keuskupan Jayapura yang terletak di jantung Kota Jayapura, ibukota  Provinsi Papua.

    Seperti dikutip dari  tiffanews.com, ,  Sabtu (17/9), kepastian dukungan  PT Artha Graha Group untuk berpartipasi dalam proses penyelesaiaan pembangunan Gereja Katedral itu disampaikan pemimpin umat Katolik Keuskupan Jayapura, Uskup Leo Laba Ladjar, OFM dan  Pastor Robertus Lamba Tangdilinting selaku  penanggungjawab pembangunan Gereja Katedral Kristus Raja setelah pihaknya mendapatkan pemberitahuan dari utusan pimpinan Artha Graha Group belum lama ini.

    “Benar, bahwa Artha Graha Group sudah bersedia membantu dalam proses penyelesaian pembangunan Gereja Katedral Jayapura dalam bentuk sumbangan material bangunan. Pihak Pantia pembangunan sedang mengurus semua itu,” kata Uskup Leo Laba Ladjar.

    Di tempat terpisah,  Pastor Robertus mengatakan, pihaknya telah  menginformasikan kabar yang menggembirakan dari pimpinan Artha Graha Group kepada semua anggota pantia pembangunan gereja Katedral Kristus Raja.

    “Tentu saja  umat sudah mengetahui kabar baik ini. Kepada Artha Graha kami mengusulkan agar mereka memilih salah satu dari beberapa  jenis material bangunan  yang kami tawarkan untuk dibantu seperti marmer  untuk panti imam di dalam kapel dan gereja, atau granit untuk lantai badan gereja dan kapel,  serta AC. Terserah, pihak Artha Graha Group  mau membantu material bangunan yang mana,” kata Pastor Robertus.

    Patut diketahui bahwa pucuk pimpinan Artha Graha Group, Tomy Winata, memutuskan untuk berpartisipasi dalam proses penyelesaaian pembangunan Gereja Katedral Jayapura setelah Uskup Leo Laba Ladjar, OFM pada awal Juli 2022 mengirimkan surat kepada Tomy Winata selaku Pendiri Yayasan “Artha Graha Peduli”.

    “Pada kesempatan yang baik ini, kami mengetuk Hati Bapak Tomy Winata bersama keluarga dan seluruh rekan usaha yang Bapak Pimpin untuk berkenan  ikut serta bergotong-royong, berat sama dipikul – ringan sama dijinjing dalam rangka menyelesaikan pembangunan Gereja Katedral Kristus Raja, Jayapura, Provinsi Papua,” tulis Uskup Leo Laba Ladjar,OFM.

    Lebih lanjut, Uskup Leo menulis, sambil berdoa dengan tekun  dalam penantian  datangnya keputusan Paus Fransiskus di Vatikan dalam rangka purna tugas   karya bakti selaku  Uskup Keuskupan Jayapura,  kami sangat mendambakan dipercepatnya penyelesaian pembangunan Gereja Katedral Kristus Raja yang sudah dimulai sejak Agustus  2016.

    Bantuan tulus dari Bapak Tomy bersama keluarga dan segenap karyawan perusahaan, lanjut Uskup Leo  dapat diberikan dalam bentuk material (bahan) bangunan atau dana tunai yang dikirim ke : “Pembangunan Gereja Katedral”  Bank Mandiri Nomor Rek: 154 – 00 – 9900000 – 6 atau  “Pembangunan Gereja Katedral Kristus Raja” BRI No.Rek: 2141 – 01 – 001556 – 50 – 3, atau, “Panitia Pemb. Gereja Katedral” Bank Papua, No.Rek: 1000202018340.

    Mengakhiri suratnya, Uskup Leo mengatakan, segala budi baik Bapak Tomy Winata bersama keluarga dan segenap karyawan perusahaan akan selalu  didoakan   umat Katolik  saat mereka beribadah khusuk di Gereja Katedral ini dan dikenang abadi  seluruh masyarakat  di Tanah Papua.

    Salah seorang tokoh umat Katolik Tanah Papua, drg. Aloysius Giyai, M.Kes mengatakan, masyarakat seluruh Tanah Papua terutama  masyarakat Asli Tanah Papua tentu saja menyatakan rasa gembira sembari mengucapkan terimakasih  yang tulus kepada pendiri Artha Graha Group, Tomy Winata yang dalam kesibukan mengurus bisnisnya yang bertaraf internasional, masih juga meluangkan  sedikit waktu dan perhatian serta memberikan sumbangan tulus kepada umat Katolik di Tanah Papua khususnya di Keuskupan Jayapura.

    “Hanya dengan ucapan terimakasih yang tulus saja yang dapat disampaikan masyarakat asli di Tanah Papua kepada  bapak Tomy Winata bersama keluarga dan semua karyawan perusahaannya. Kebaikannya hanya dapat dibalas oleh Tuhan Yang Maha Esa. Kami berdoa agar diberikan kesehatan dan umur panjang bagi bapak Tomy sekeluarga serta diberikan  kemudahan dan  kelancaran usaha bisnisnya di tingkat nasional dan internasional,” kata Aloysius Giyai.

    Aloysius mengatakan, Tomy Winata itu bukanlah orang baru bagi masyarakat Papua di Tanah Papua ini.

    “Tomy Winata adalah salah satu pengusaha sukses yang punya Hati untuk orang kecil, miskin dan terpinggirkan. Dia punya Hati untuk Papua. Dia punya ikatan emosional sangat kental dengan masyarakat dan Tanah Papua karena ketika masih berusia muda,  pemuda gagah Tomy Winata sudah berlanglang buana merintis usaha bisnis di Tanah Papua. Beliau kenal baik orang Papua dan memahami secara baik karakter orang asli Papua. Kita patut berdoa untuknya dan berterimakasih kepadanya,” katanya.

    Sebagai informasi, Gereja Katedral Jayapura adalah Gereja Induk yang berada di Keuskupan Jayapura, Papua. Selain Keuskupan Jayapura di Tanah Papua masih terdapat  empat Keuskupan lainnya yaitu Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Agats, Keuskupan Timika dan Keuskupan Sorong Manokwari.

    Sebagai Gereja Induk di Provinsi Papua, dengan menyadari pesatnya perkembangan jaman mulai dirasakan kepasitas Gereja Katedral Jayapura sudah tidak representative lagi sehingga  umat mulai memikirkan membangun Gedung Gereja yang baru yang lebih luas dari bangunan sebelumnya agar dapat menampung umat yang jumlahnya semakin banyak dari tahun ke tahun.

    Berdasarkan perencanaan, total biaya yang diperlukan untuk membangun gereja ini  sebesar  Rp88 Milyar lebih.

    Sumber biaya pembangunan diawali dengan kegiatan penggalangan dana di antara umat sendiri melalui system “Ebamukai” yaitu membentangkan  tikar di tanah  untuk kumpulkan  uang koin secara spontanitas ala tradisi masyarakat asli Papua, kemudian sumbangan para donatur dalam bentuk material bangunan maupun uang dan juga bantuan dari berbagai instansi pemerintah dan swasta. * (ade/bn)

  • Optimalkan Kegiatan Belajar, Dinas Pendidikan Intan Jaya Bersama Yayasan YPPK Lakukan Evaluasi

    Optimalkan Kegiatan Belajar, Dinas Pendidikan Intan Jaya Bersama Yayasan YPPK Lakukan Evaluasi

    Dinas pendidikan Kabupaten Intan Jaya melaksanakan evaluasi bersama guru -guru dan sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan YPPK Intan Jaya beserta penggurusnya di ruang SMP YPPK St.Fransiskus Asisi Bilogai, Intan Jaya Jumat,(16/09).

     

    BERANDANEGERI.COM,-  Dalam rangka optimalkan kegiatan belajar mengajar di sekolah, dinas pendidikan Kabupaten Intan Jaya melaksanakan evaluasi bersama guru -guru dan sekolah yang berada di bawah naungan  Yayasan YPPK Intan Jaya beserta penggurusnya di ruang SMP YPPK St.Fransiskus Asisi Bilogai,  Intan Jaya Jumat,(16/09).

    Kepala Dinas Pendidikan Intan Jaya, Apolos Bagau mengatakan, proses belajar akan berjalan lancar bila ada kerja sama dari semua pihak.Bila tidak demikian,pencapaian dan proses belajar akan menurun.

    “Di sekolah harus ada kegiatan belajar, supaya anak-anak ke sekolah tetap semangat juga perlu ada kerja sama dari para guru dan orang tua juga pihak-pihak yang peduli pendidikan. Dengan demikian proses belajar – mengajar akan tercipta”, ujar Apolos.

    Apolos meminta kepada  yayasan YPPK maupun YPPGI agar mengontrol sekolah-sekolah yang berada di bawah naungannya,sehingga keaktifan guru-guru dapat terawasi.

    “Saya selaku kepala dinas pendidikan minta kepada PSW YPPK maupun YPPGI yang ada di daerah Intan Jaya supaya bersama menjaga, mengawasi dan melindungi tenaga guru maupun anak sekolah yang berada di bawah naungan gereja,baik itu gereja Katholik maupun Kristen.

    Apolos berharap semakin hari wajah pendidikan bisa nampak dan menyelamatkan masa depan anak negeri.

    Kepada pengurus Penggurus PSW YPPK baru yang diketuai, Pastor Dekan,Yanuarius Yance Yogi,Pr, Apolos meyakini beberapa sekolah yang selama ini belum ada aktifitas belajar. dapat diaktifkan kembali.

    “Saya minta kepada Pastor dekan selaku ketua PSW YPPK baru supaya dapat mengkoordinir guru-guru di beberapa sekolah yang selama ini tidak menjalankan kegiatan belajar. Saya yakin ,proses pendidikan akan berjalan baik karena di bawah naungan gereja”, harap Apolos yang juga mantan kepala dinas PU Kabupaten Intan Jaya.

    Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Intan Jaya Apolos Bagau ST

    Apolos mengatakan, dinas pendidikan Intan Jaya akan mengadakan evaluasi pendidikan yang sama bersama lembaga yayasan YPPGI dalam waktu ke depan.

    Dalam kesempatan itu, Apolos kembali menghimbau para guru yang ada di luar kabupaten Intan jaya,agar kembali bertugas di sekolah masing-masing.

    “Bila mengabaikan himbauan dan perintah dari dinas maupun yayasan,akan dikenai sanksi, tegas Apolos.

    Ketua Penggurus Yayasan PSW  YPPK, Pastor Yanuarius Yance Yogi,Pr mendukung program dinas pendidikan serta akan mengaktifkan dan menertibkan keaktifan guru-guru di bawah naungannya.

    “Saya mendukung program dinas pendidikan terkait kemajuan pendidikan di daerah Intan Jaya. Juga akan saya perintahkan supaya ada beberapa sekolah yang selama ini tidak  aktif karena tenaga guru tidak ada, dapat berusaha supaya aktifkan”, ujar Pastor Yogi

    “Juga kepada kepala sekolah maupun guru-guru yang selama ini mengabaikan tugas akan saya tindak tegas.Dengan demikian,meskipun situasi intan jaya belum tentu kondusif namun proses pendidikan dapat dijalankan guna masa depan anak-anak daerah”, tutup Pastor Yogi . (*kb/bn)

  • 20 Punggawa Reggae Lokal Dipastikan Tampil dalam “Flores Reggae Festival” 10 November

     

    BNC,- Sebanyak 20 punggawa Reggae lokal dipastikan akan unjuk penampilan sekaligus meramaikan Flores Reggae Festival yang akan digelar pada 10 November 2021 bertepatan dengan hari Pahlawan.

    Sederet nama-nama yang sudah dikenal, telah tercatat dalam daftar line up, seperti Conrad Good Vibration, Arye De Siul n Fraterny Soul, Postman, R2, Gutty Lazar, Lembata Hip Hop Foundation, Leis Plang, Benald Abar N Charles Dafosa, Uncle Be N Joseph, NonkQ NongkraY, Invia, Yohma Ragga Poli, Big Lion dan masih banyak lagi.

    Dalam rilis dari panitia Flores Reggae Festival  yang diterima berandanegeri.com (BNC), Senin (1/11), menyebutkan bahwa Flores Reggae Festival digelar bertepatan dengan Hari Pahlawan untuk mendorong semangat  kaum muda dan milenial Flores dan Indonesia agar mendayagunakan potensi lokal untuk kemajuan bersama.

    Sebagaimana tema hari pahlawan 2021, ‘Pahlawanku Insipirasiku’, yang ditujukan kepada para pemuda di Tanah Air agar dapat meneladani dan mengimplementasikan nilai-nilai luhur pahlawan dalam kehidupan sehari-hari, Flores Reggae Festival menggerakan kembali potensi musik lokal sebagai dasar memajukan nilai budaya masyarakat di tengah zaman yang terus berubah.

    Penyebutan “Flores” pada Flores Reggae Festival, karena musik reggae kini menjadi pilihan banyak kelompok band yang bermuculan di Flores dan menyumbang bagi kekhasan tersendiri untuk wilayah ini. Dari Flores,  musik asal Jamaika ini menyebar dan diminati kalangan milenial.

    Di samping itu, Flores juga dikenal dengan keindahan alamnya, keramatamahan budaya serta ragamnya suku, Bahasa dan etnik. Masyarakat Flores juga dikenal sebagai masyarakat  terbuka, yang dengan mudah menyerap unsur-unsur luar kebudayaannya, untuk padu dengan budayanya sendiri.

    Secara khusus Flores Reggae Festival, yang akan digelar secara online tepat di hari Pahlawan pada hari Rabu 10 November 2021 melalui kanal Youtube: Flores Reggae Festival mengusung tema, “Flores untuk Indonesia”.

    Festival ini, tidak hanya menyajikan musik reggae, tapi juga akan menampilkan visual keindahan bentang alam Flores serta beragam UMKM yang menjadi ciri khas Nusa Tenggara Timur di kalangan masyarakatnya.

    Sebelumnya telah digelar pre-event Road to Flores Reggae Festival, di Jakarta,  Minggu 24 Oktober 2021, yang menampilkan beberapa musisi seperti Denny Frust, NonkQ NongkraY, Big Lion, Nath The Lions, Yella Sound System, Radit Echoman dan lainnya.

    Ditunggu gelaran acaranya, Info lebih lanjut, dapat dipantau melalui akun Instagram: Flores Reggae Festival. (CHE)

  • Cerita Gadis 12 Tahun Bertemu Kera di Pulau Waibalun

    Oleh Oa Chella Tukan

    Siswa Kelas VI SD Marsudirini – Jakarta Timur

    Sudah hampir sebulan Oa libur di Larantuka. Sudah kemana-mana tapi baru Selasa, 4 Mei 2021, Oa pergi melihat dari dekat Pulau Waibalun. Pulau Waibalun terletak di kelurahan Waibalun- Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

    Di Jakarta, Oa sempat nonton Yutube yang meceritrakan pulau ini. Entah siapa yang buat. Lupa. Pokoknya KEREN de. Jadi penasaran sekali waktu bisa lihat sendiri pulau ini.

    Sebelum berangkat, sehari sebelumnya, kaka-kaka Oa, sudah buat rencana ke Pulau Waibalun. Kebetulan hari Selasa, 4 Mei 2021, bertepatan dengan acara nikahan famili Bapa di Waibalun. Kata kaka-kaka, setelah dari pulau Waibalun siang, sorenya kita mampir di acara pernikahan, biar sekalian jalan.

    Hari Selasa, pagi-pagi kami sudah bersiap-siap pergi. Dari rumah, kami ada empat orang, yakni Oa, kaka Chelin, Kaka Oa dan Kaka Oni. Kaka Oa itu sepupuku. Di rumah dipanggil Oa juga. Jadi kita panggil Kaka Oa.

    Kami berangkat ke Waibalun. Di Waibalun kami bertemu dengan Kak Titin, teman Kaka Oa. Kami bersama pergi ke pulau Waibalun dengan menumpang perahu motor yang biasa mengantar orang-orang pergi-pulang pulau itu. Berapa ongkosnya? Oa ga ngerti. Kaka Oa yang mengatur semuanya. Tapi sebelum berangkat kita mampir di warung beli makanan kacang buat bekal di jalan.

    Sampai ke Pulau Waibalun, saat mau foto-foto dan mau naik ke atas bukit, kita lihat ada Kera. Pertama satu ekor, tapi lama-lama banyak. Kita takut dan akhirnya memutuskan untuk tidak naik ke bukit, tapi hanya foto foto aja di bawah.

    Selang 15 menit kita foto, ada kera bapa bapa,  tidak besar tapi juga tidak kecil, melintas sekitar kita.  Dia kayak liatin kita terus.  Untung kita udah beli kacang, sehingga makanan itu sebagian kita kasih ke kera itu.

    Kita lanjutin foto lagi sambil main laut nya.  Bagus banget tempatnya. Tapi tiba tiba ada satu kera lagi datang. Dia datang lewat kolong jembatan tempat perahu yang mengantar kita tadi berhenti . Sepertinya kera itu mau sembunyi di bawah kolong sambil liat liat kita.

    Kita lanjut foto lagi. Tapi tanpa kita tahu, kera yang bersembunyi itu sepertinya panggil kera yang lain. Tiba tiba ada sekitar 7 kera yang menghampiri kita.  Ya udah, kita kasih makan dengan kacang yang masih sisa.

    Kera kera itu seperti sedang lapar. Mereka makan kacang kacang itu begitu cepatnya. Setelah kacang-kacang itu habis,  terus mereka pergi.

    Dari kejauhan terlihat kera nya kayak nunjukin gigi taring mereka. Kera-kera yang tadi makan kacang ternyata tidak hanya mereka. Mulai datang makin banyak kera yang bergabung.

    Kera yang baru datang ini keliahatan berani berani dan ganas. Mereka menghampiri kita dan mau menerkam kita.  Oa takut, Cheline, Kaka Oa, Kak Oni takut tapi kata kak Oa kita kalem aja

    Abis itu kita duduk beristirahat di salah satu pojok jembatan.  Kera kera itu terus minta makan ke kita. Mereka mengepung kita. Kita kewalahan menghadapi mereka. Salah satu cara, kita harus meninggalkan tempat ini.

    Kak Titin mulai angkat telpon dan menelpon orang yang punya kapal yang tadi mengantar kita ke pulau ini. Kaka Titin minta agar bapa itu datang kembali menjemput kita.

    Sambil tunggu kapal datang, Ka Titin itu ngomong pake bahasa Waibalun kepada kera kera itu. Kera itu sepertinya mengerti.  Kera-kera itu langsung mundur pelan pelan. Tidak lama, saat kita lihat ke belakang udah ga ada mereka. Mereka sudah naik ke pohon

    Di atas pohon,  kera kera itu kayak teriak gitu. Mereka tunjuk lagi gigi mereka. Walau jauh, kita juga takut.  Tapi kita tidak boleh bergerak, karena kalau kita bergerak, mereka mendekat lagi.

    Kapal nya datang.  abis itu kita turun mau ke kapal. Kera itu pun melompat dari ranting pohon, membuntuti kita. Kera-kera berdiri di ujung jembatan, saat kita di atas perahu motor. Kera-kera terus liatin kita sambil terus teriak teriak gitu.

    Wah, pokonya seru d. Oa mau ke pulau itu lagi, kalau kaka-kaka tidak sibuk untuk mengantarnya.

    sampai jumpa.

  • Ikatan Notaris Indonesia Beri Donasi untuk Korban Bencana Lembata

    BERANDANEGERI.COM,- Ikatan Notaris Indonesia (INI) di bawah Nahkoda Yualita Widyadhari selaku Ketua Umum memberikan bantuan kepada korban badai seroja di Kabupaten Lembata. Bantuan berupa uang tunai 50 juta dikonversi menjadi sembako, alat-alat dapur dan bahan bangunan. 

    Bantuan disalurkan melalui Pemuda Katolik Lembata untuk diserahkan kepada korban bencana di desa Leudanung Kecamatan Omesuri dan  Desa Dikesare, Kecamatan Lebatukan Kabupaten Lembata.

    Pemuda Katolik Lembata, melalui rilisnya yang diterima berandanegeri.com, (Minggu (2/5) mengatakan, donasi yang diperuntukan bagi korban bencana banjir bandang di Kecamatan Omesuri dan Lebatukan melalui Pemuda Katolik telah disalurkan dengan baik kepada korban pada Sabtu (2/5).

    Ketua Pemuda Katolik Lembata Heryanto Wijaya, SH,MKn mengatakan, Ikatan Notaris Indonesia (INI) di bawah Nahkoda Yualita Widyadhari selaku Ketua Umum memberikan bantuan kepada korban badai seroja di Kabupaten Lembata.

    Bantuan berupa uang tunai 50 juta rupiah dan dari dana ini telah dikonversi menjadi sembako,alat-alat dapur dan bahan bangunan.

    “Untuk Sembako telah kita serahkan ke beberapa posko yang ditunjuk Pemerintah Daerah. Alat-alat dapur kita fokuskan pada pengungsi mandiri, sedangkan bahan bangunan kita fokuskan di Desa Dikesare dengan mendirikan 1 unit rumah milik Yoseph G. Lewolein,” kata Heryanto Wijaya yang juga salah satu notaris di Lembata ini.

    Dia menjelaskan, pertimbangan memilih Desa Dikesare karena hingga saat ini masyarakat belum memperoleh bantuan perumahan dari Pemerintah kabupaten (Pemkab) Lembata.

    Donasi dari Aliansi Pemuda Kepulauan Riau berupa sembako, alat masak, alat mandi. Bantuan juga diberikan kepada korban meninggal di Leudanung Kecamatan Omesuri yang diterima Ali Kedang.

    Bantuan dari Aliansi Pemuda Kepulauan Riau

    “Terimakasih ibu Ketum dan rekan-rekan Notaris atas donasinya. Semoga apa yang kita beri ini dapat mengurangi beban saudara-saudara kita dan Lembata harus lebih cepat bangkit, sebagaimana harapan yang disampaikan ibu Ketum,” ungkap Herryanto.

    Herryanto juga menyampaikan terima kasih kepada Pemuda Katolik Komcab Lembata dan Alegra Lembata yang telah membantu menyalurkan donasi ini.

    Perlu Perhatian Pemkab Lembata

    Wakil Ketua Pemuda Katolik Lembata Antonius Loli Ruing menambahkan, pemerintah Lembata perlu segera memberikan perhatian pada desa Dikesare karena 6 rumah yang hancur tidak masuk dalam SK Bupati Lembata tentang bantuan perumahan.

    “Saat terjadi bencana banjir bandang, ada 6 rumah di Desa Dikesare, Kecamatan Lebatukan yang hancur, namun dalam SK Bupati Lembata tentang bantuan perumahan tidak satu pun yang diakomodir,  padahal sudah ada staf dari Kecamatan, Kabupaten dan OPD Perumahan Rakyat dan Pertanahan sudah turun ke lokasi,” kata Loli sapaan Antonius Loli Ruing.

    Dikatakan Loli, Kades Dikesare Rafael Suban Ikun bahkan tiga hari setelah bencana sudah memberikan laporan dan data ke semua instansi Pemerintah. Laporan itu menyatakan semua jenis kerugian akibat banjir bandang termasuk 1 unit rumah yang rata dengan tanah,” katanya.

    Lebih lanjut dijelaskan Loli yang juga ketua Partai PSI Lembata ini, karena dalam SK Bupati Lembata tidak diakomodir maka Kades kemudian mendatangi Instansi Pemerintah yakni Camat Lebatukan dan OPD Perumahan Rakyat dan Pertanahan, namun dijawab dengan alas an human error, selanjutnya dijanjikan akan diakomodir di SK Bupati susulan.

    “Hal ini perlu diperhatikan oleh Pemerintah Lembata, karena menjanjikan bahwa akan  diakomodir pada SK susulan jelas memberi harapan sekaligus ketidakpastian kepada masyarakat, apalagi kita juga tidak tahu kapan dikeluarkan SK susulan,” kata ATR.

    Loli berharap pemerintah segera memberikan kepastian kapan enam rumah itu dibangun, sehingga masyarakat tidak bersepekulasi yang pada akhirnya akan menambah beban mereka.

    “Pemerintah harus segera turun tangan menyelesaikan persoalan ini dan tidak boleh saling melempar tanggung jawab di tengah penderitaan masyarakat,” tutupnya (Ben)

  • Merawat Nalar Demokrasi dengan Kuatkan Nilai Pancasila

    BERANDANEGERI.COM,- Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Benny Susetyo mengajak kalangan generasi muda untuk memperkokoh  nalar demokrasi dan memperkuat pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila.

    Ajakan itu disampaikan Romo Benny saat menghadiri acara diskusi terkait kegaduhan yang terjadi di Media Sosial. Diskusi bertajuk “Sinergi Pembumian Pancasila” ini, dihadiri oleh peserta dari organisasi masyarakat bidang kepemudaan dan kebangsaa di The Tribrata Convention center, Jakarta (22/4/2021).

    Dalam penjelasannya Romo Benny disebutkan bahwa fakta yang terjadi di lapangan, generasi muda mudah sekali terjebak untuk melakukan tindakan negatif di media sosial.

    “Generasi muda seringkali melakukan tindakan bermotif kebencian seperti menyebar berita hoax, isu isu negatif terkait SARA dan bahkan tindakan radikalisme dan terorisme seperti terbukti pada kasus terorisme di Katedral Makassar dan Mabes Polri yang para pelakunya berusia relatif muda, di bawah 30 tahun dan merupakan generasi muda/millenial,” jelas Romo Benny.

    Di alam demokrasi yang semakin berkembang, Romo Benny menjelaskan bahwa sekarang ini generasi muda justru terjebak dalam tindakan memecah belah, merundung dan membenci dengan dalih demokrasi dan kebebasan berekspresi. Padahal sebenarnya tidak demikian.

    “Padahal nalar demokrasi yang justru menjadi titik utama dari keberadaan demokrasi itu jauh dari tujuan perpecahan atau menang dan kalah. Nalar dan tujuan demokrasi sendiri adalah win win solution dimana semua masalah dapat diselesaikan dengan diskusi dan gotong royong, sehingga tidak ada pihak yang merasa terlalu diuntungkan atau dirugikan,” jelas Romo Benny.

    Tentunya sejalan dengan nilai Pancasila yaitu gotong royong dimana hak dan kewajiban ada dalam satu nafas

    “Kaum Muda harus dapat menjadi penjaga keseimbangan dan nalar demokrasi dalam Masyarakat dengan menerapkan nilai nilai Pancasila,” tuturnya.

    Pemuda harus mampu menjadi intelektual organik yang tidak hanya menjadi penyeimbang tetapi penyumbang ide yang dapat meningkatkan kesadaran dan nalar demokrasi masyarakat, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    Lanjut, Romo Benny refleksinya dalam acara yang dibesut oleh BPIP serta dihadiri oleh dari beberapa unsur organisasi pemuda seperti HIKMABUDHI, KMHDI, GDN, KMM dan GMM tersebut  dengan menyatakan bahwa Kaum Muda harus bisa mengisi ruang publik.

    “Kaum muda harus mengisi ruang publik dengan konten positif dan bijak dengan kesadaran untuk hidup etis dan menjaga nalar demokrasi hingga kewarasan dan keseimbangan dalam berdemokrasi dapat terlaksana,” ungkap Benny.

    Pondasi  negara yang digali dari kekayaan budaya lokal dan nilai-nilai agama di indonesia. Peserta diskusi yang terdiri dari berbagai organisasi kepemudaan berkeinginan agar demokrasi selalu dirawat salah satunya dengan memasukan kurikulum Pendidikan Moral  Pancasila di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)- Perguruan Tinggi. (ben)

  • Budayawan Radhar Panca Dahana Meninggal Dunia

    Budayawan Radhar Panca Dahana Meninggal Dunia

    BERANDANEGERI.COM,- Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana meninggal dunia pada Kamis (22/4) malam, pukul 20.00 WIB di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. 

    Kabar duka disampaikan kakak Radhar Panca Dahana, Radhar Tribaskoro melalui Facebook pribadinya.

    “Innalillahi wainnailaihi rajiun. Telah berpulang malam ini pukul 20.00 WIB, adik saya tercinta Radhar Panca Dahana,” tulis Radhar Tribaskoro.

    Tribaskoro yang mengumumkan kabar duka itu memohon teman, kerabat dan kenalan membukakan pintu maaf atas segala kesalahan adiknya. Dia juga meminta doa untuk Radhar Panca Dahana.

    Ungkapan duka mengalir dari warganet untuk budayawan kelahiran 26 Maret 1965 itu di Twitter. “

    Nama Radhar Panca Dahana dikenal lewat karya-karyanya di bidang sastra, esai, cerita pendek, hingga puisi. Dia merupakan lulusan Sosiologi FISIP Universitas Indonesia (UI) dan studi Sosiologi di École des Hautes Études en Science Sociales, Paris, Prancis (2001).

    Sejak usia 5 tahun ia sudah mulai menulis. Kepiawaian dalam bidang tersebut kemudian membawa Radhar Panca Dahana menjadi seorang cerpenis.

    Dia diketahui memulai debut sebagai seorang sastrawan pada usia 10 tahun lewat cerpen Tamu Tak Diundang. (Ben)

    Sebagian buku karya Radar Panca Dahana
  • Taman Bacaan Pelangi Beri Beasiswa untuk Siswi SMP Berprestasi di Flores

    Taman Bacaan Pelangi Beri Beasiswa untuk Siswi SMP Berprestasi di Flores

    BERANDANEGERI.COM, Memperingati Hari Kartini, hari ini Taman Bacaan Pelangi meluncurkan Girls’ Scholarship Program, sebuah program beasiswa khusus untuk siswi perempuan di Flores, Nusa Tenggara Timur.

    Beasiswa jangka panjang ini  diberikan untuk siswi-siswi yang saat ini berada di jenjang SMP di kabupaten Ende dan Nagekeo, Flores, hingga mereka lulus SMA.

    Di Indonesia, sebanyak 4,5 juta anak putus sekolah. Data yang dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) 2019 menyebutkan bahwa jumlah anak usia 7-12 tahun di Indonesia yang tidak bersekolah adalah sebanyak 1.228.792 anak.

    Untuk anak usia 13-15 tahun jumlahnya sebanyak 936.674 anak. Sementara usia 16-18 tahun ada 2.420.866 anak yang tidak bersekolah. Sehingga total di 34 provinsi di Indonesia ada 4.586.332 anak yang tidak bersekolah.

    Mereka adalah anak-anak dari keluarga prasejahtera, penyandang disabilitas, dan anak-anak yang tinggal di daerah terpencil.

    Dari data tersebut terlihat bahwa angka tertinggi anak yang tidak sekolah terjadi pada anak berusia 16-18 tahun..

    Program pemerintah wajib belajar sembilan tahun cukup membantu anak-anak yang berada di daerah terpencil dan berasal dari keluarga prasejahtera untuk bersekolah setidaknya hingga jenjang SMP. Namun, jutaan anak di daerah terpencil tidak dapat melanjutkan ke jenjang SMA dan mayoritas terjadi pada anak perempuan.

    Data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) 2019 menyebutkan bahwa rata-rata angka lama sekolah penduduk 15 tahun ke atas adalah 7.99 tahun. Data ini mengungkapkan bahwa mayoritas penduduk di NTT hanya bersekolah selama 8 tahun, yaitu hingga di jenjang SMP kelas 2.

    Program Girls’ Scholarship dari Taman Bacaan Pelangi ini merupakan program dengan komitmen panjang. Program ini ditujukan khusus untuk siswi-siswi perempuan yang saat ini berada di jenjang SMP kelas 2, berprestasi, dan berasal dari keluarga prasejahtera.

    Beasiswa diberikan hingga mereka lulus SMA. Hal ini disesuaikan dengan data tingkat putus sekolah yang ada di Indonesia secara umum, maupun data di NTT secara khusus.

    Bupati Kabupaten Nagekeo Johanes Don Bosco mengatakan, “Atas nama pemerintah Kabupaten Nagekeo, kami mengapresiasi kepedulian Taman Bacaan Pelangi terhadap kemajuan anak-anak perempuan di daerah kami. Beasiswa ini sangat berarti bagi para siswi-siswi dan keluarga mereka. Hal ini juga secara tidak langsung sudah berkontribusi positif terhadap peningkatan kualitas masyarakat di Nagekeo”. 

    Mengapa fokus pada anak perempuan?

    Data yang dilansir oleh BPS Provinsi NTT 2017 mencatat bahwa anak perempuan yang mampu menamatkan pendidikan dasar (SD) di NTT hanya sebesar 37,58%. Jumlah anak perempuan yang kemudian melanjutkan pendidikan dari sekolah dasar terus mengalami penurunan secara drastis untuk tingkatan jenjang yang lebih tinggi.

    Founder Taman Bacaan Pelangi Nila Tanzil mengatakan, “Taman Bacaan Pelangi mencanangkan Girls’ Scholarship Program ini untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak perempuan yang berprestasi namun berasal dari keluarga prasejahtera untuk dapat terus mengenyam pendidikan hingga lulus SMA. Kami percaya jika mereka diberikan kesempatan untuk maju dan berkembang, anak-anak perempuan akan mampu menjadi penggerak dan agen perubahan di lingkungan sekitar mereka”.

    Lebih lanjut menurut Survei Angkatan Kerja Nasional Tahun 2016, sebanyak 53.07% perempuan NTT berusia 15 tahun ke atas hanya mampu bekerja di sektor primer (bidang pertanian). Status mereka pun merupakan pekerja keluarga atau pekerja tak dibayar.

    Untuk itulah Taman Bacaan Pelangi mencanangkan Girls’ Scholarship Program ini. Anak perempuan adalah yang paling rentan putus sekolah. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari faktor ekonomi, hingga faktor budaya di Indonesia, terutama di daerah pelosok, yang masih kental dengan patriarki. Pada akhirnya, banyak anak perempuan di NTT terpaksa harus putus sekolah untuk membantu mengurus rumah tangga atau bahkan menikah dini.

    “Dengan adanya program Girls’ Scholarship ini, kami ingin membantu mengurangi angka putus sekolah di Indonesia, khususnya bagi anak-anak perempuan. Dan ini bukan program beasiswa biasa. Penerima beasiswa tidak hanya diberikan biaya untuk keperluan sekolah, namun juga ada berbagai program lainnya untuk mengembangkan kemampuan mereka. Kami merancang program ini sedemikian rupa agar anak-anak perempuan ini tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang penuh percaya diri dan berdaya. An empowered girl will empower her family and her society”, tambah Nila Tanzil.

    Program Girls’ Scholarship dari Taman Bacaan Pelangi ini terdiri dari tiga komponen, yaitu: a) Beasiswa Pendidikan (SPP – Sumbangan Pembinaan Pendidikan, uang komite, uang seragam sekolah, biaya ekstra kurikuler, dana untuk membeli buku, dsbnya); b) Pelatihan pengembangan kapasitas diri – para penerima beasiswa akan menerima berbagai pelatihan yang bertujuan untuk mengembangkan soft skills mereka, misalnya pengembangan rasa percaya diri, public speaking, literasi keuangan, dan lain sebagainya; c) Mentoring – para penerima beasiswa akan mendapatkan mentor khusus yang merupakan perempuan sukses di berbagai bidang.

    Para mentor dicocokkan dengan cita-cita dari masing-masing anak agar dapat menjadi sumber inspirasi dan pemberi semangat mereka.

    Untuk gelombang pertama, sebanyak 20 siswi sudah lolos dan terpilih sebagai penerima beasiswa dan diumumkan hari ini.

    Proses seleksi kandidat penerima beasiswa sudah berlangsung sejak Oktober 2020 dan melibatkan berbagai pihak, antara lain Dinas Pendidikan di Kabupaten Nagekeo dan Ende, kepala sekolah, serta para pemuka masyarakat. Mereka dilibatkan sebagai juri dalam proses seleksi kandidat.

    Proses seleksi yang berlangsung cukup lama  dan detail dilakukan melalui berbagai tahap, yaitu: 1) review dokumen (rapor siswa); 2) penilaian essay siswi; 3) wawancara; 4) kunjungan rumah- home visit untuk memastikan kondisi keluarga kandidat dan interview dengan anggota keluarga.

    “Kami telah mengumumkan hasil seleksi kepada para kandidat yang lolos program beasiswa ini. Semoga ini menjadi hadiah terbaik bagi mereka di Hari Kartini ini”, pungkas Nila Tanzil.

    Untuk diketahui, Taman Bacaan Pelangi adalah yayasan sosial yang bergerak di bidang pendidikan yang fokus di bidang literasi dengan tujuan untuk mengembangkan kebiasaan membaca anak-anak di daerah pelosok di Indonesia Timur.

    Didirikan pada 2009, Taman Bacaan Pelangi telah mendirikan 134 perpustakaan anak-anak yang tersebar di 18 pulau di Indonesia Timur, memberikan akses lebih dari  243.000 buku bacaan kepada lebih dari 33.000 anak, serta memberikan pelatihan kepada lebih dari 2.000 guru di Indonesia Timur. 

    Tujuan Taman Bacaan Pelangi adalah untuk mengembangkan kebiasaan membaca anak-anak dan menyediakan akses buku bacaan yang berkualitas untuk anak-anak di daerah pelosok di Indonesia bagian Timur.

    Untuk info lebih lanjut, kunjungi: www.tamanbacaanpelangi.com | Instagram & Twitter: @pelangibook | Facebook Page: www.facebook.com/pelangibook. (bn)

  • Ikan Paus “Bawa” Raja Dasion Raih Gelar Doktor di UGM

    Ikan Paus “Bawa” Raja Dasion Raih Gelar Doktor di UGM

    BERANDANEGERI.COM,- Dr. Agustinus Gergorius Raja Dasion, SS. MA, putera Lembata, Nusa Tenggara Timur kelahiran kampung nelayan Lamalera, Kecamatan Wulandoni, berhasil meraih gelar doktor sosiologi di bawah bimbingan Promotor Prof Dr Heru Nugroho dan Ko-Promotor Dr Hakimul Ikhawan, MA di Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Kamis (15/4/2021) pagi.

    Gusti Dasion, sapaan akrabnya, mempertahankan disertasi berjudul “Merebut” Paus di Laut Sawu: Analisa Wacana Konservasi Paus di Lamalera, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan predikat Sangat Memuaskan dalam Sidang Terbuka Ujian Promosi Doktor di bawah tim penguji Prof Dr Suharko, Dr Sugeng Bayu Wahyono, Dr Arie Sujito, dan Dr Oki Rahadiato.

    Prof Heru dalam pertanyaan pemantik pengantarnya meminta Agustinus Gergorius Raja Dasion menjelaskan apa yang menarik dari term “merebut paus di Laut Sawu” dalam disertasinya. Apalagi, persoalan perburuan paus bukan hanya persoalan lokal Lamalera namun juga global. Persoalan ini juga sudah diekspos oleh media dunia seperti British Broadcasting Channel maupun National Geographic.

    Dr. Agustinus Gergorius Raja Dasion, SS. MA

    “Disertasi saya ‘Merebut” Paus di Laut Sawu. Diksi ‘merebut’ paus sesungguhnya menggambarkan keseluruhan studi saya. Yaitu bagaimana wacana konservasi direbut negara bersama aparatusnya yang dibuat di laut Sawu dengan wacana konservasi dengan masyarakat lokal yang berburuh paus secara tradisional,” kata Raja Dasion dalam keterangan tertulis Ata Lembata, komunitas Lembata Diaspora Sedunia di Jakarta, Jumat (16/4 2021).

    Menurut Raja Dasion ada dua hal penting dari term ‘merebut” paus di Laut Sawu dalam disertasi itu. Pertama, terjadi gap pengetahuan antara konservasi global dengan konservasi lokal dalam hal ini masyarakat Lamalera. Kedua, saat negara dan aparatusnya hadir dengan konsep konservasi global ada antagonism, penolakan masyarakat Lamalera dengan wacana konservasi lokal tradisi berburuh paus di laut Sawu hingga saat ini.

    Ia menambahkan ada banyak subyek dalam kontestasi ‘merebut’ paus di laut Sawu. Subyek dimaksud adalah negara dan aparatusnya, juga beberapa lembaga konservasi global seperti World Wildlife for Nature (WWF) dan The Nature Concervancy (TNC). Kemudian aparatus negara seperti Dinas Pariwisata dan Dinas Kelautan dan Perikanan baik Kabuaten Lembata maupun Provinsi Nusa Tenggara Timur. Berikut di tingkat lokal ada banyak subyek yang begitu cair seperti para tetua adat, nelayan, dan organisasi-organisasi yang mendukung upaya lefa nuang atau tradisi berburuh paus yang hingga saat ini bertahan dan dilakukan masyarakat lokal Lamalera.

    Tatkala paus dilarang diburuh oleh negara melalui aparatusnya karena takut terhadap tekanan global, maka posisi masyarakat lokal juga tentu berpengaruh. Namun, hal ini menurut Raja Dasion, masyarakat Lamalera menggantungkan konservasi dengan mempertahankan kearifan lokal karena sejak dulu konsep konservasi masih sama.

    Perbedaannya, kata Raja Dasion, terletak pada beberapa cara. Pertama, sejak dulu masyarakat Lamalera menggunakan tombak atau peralatan tradisional, traditional tools untuk menikam paus. Kedua, sebelum melakukan ritus lefa nuang, ada beragam ritus yang harus dilakukan. Hal ini wajib karena paus tak sekadar urusan kepentingan ekonomi tetapi juga masalah teologis, filosofis, sosial, dan keseluruhan sistem hidup masyarakat lokal dalam hal ini Lamalera.

    Foto dari Google

    Ko-Promotor Hakimul Ikhawan di saat memulai bertanya lebih jauh, menyampaikan duka mendalam bagi warga Nusa Tenggara Timur, khususnya Lembata, tanah kelahiran promorendus Raja Dasion, tim penulis buku Membangun Tanpa Sekat, yang diterpa bencana banjir lahar dingin dan badai Seroja bebepa minggu belakangan.

    Hakim di pengantar ujian dengan sedikit guyon mengatakan, riset Gusti barangkali terbawa mimpi. Ia memuji Gusti yang berusaha mencari signal telekomuniasi dari Kupang untuk dapat mempertahankan disertasi secara daring melalui zoom meeting di hadapan tim penguji dari kampus Bulaksumur dan dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. “Terima kasih atas atensi, perhatian Pak Hakim atas bencana alam yang belakangan melanda NTT, khususnya Lembata,” kata Raja Dasion.

    Nelayan tangkap 5 ekor paus

    Joseph Boli Batafor, seorang warga Lamalera di Jakarta mengatakan, pihaknya mengapresiasi Raja Dasion, seorang putra asli Lamalera yang menulis disertasi tentang lefa nuang dalam kajian akademiknya di Departemen Sosiologi Fisipol Universitas Gajah Mada. Jejak akademik ini mulai digeluti banyak putra-puteri lokal seperti Dr Jakobus Blikololong yang menulis disertasi tentang pasar barter di Desa Wulandoni, Kecamatan Wulandoni.

    “Kamis (15/4) kemarin, nelayan Lamalera berhasil menangkap lima ekor paus dari perairan laut Sawu dan langsung ditarik ke bibir pantai. Peristiwa ini dalam keyakinan kami di Lamalera adalah rekayasa Alepte teti Kova Lolo, Tuhan penguasa alam semesta karena knato, berkat lima ekor paus itu ditikam nelayan bersamaan dengan ujian disertasi promorendus Raja Dasion,” ujar Boli Batafor.

    Lima ekor paus raksasa itu ditangkap nelayan dengan menggunakan perahu Teti Heri milik suku Batafor, Mula Blolo dari suku Keraf Lamalera A, Nara Tena milik suku Keraf Lamalera B, Soge Tena dari suku Tapoona, dan Java Tena dari suku Bataona. “Rabu (15/4) sekitar jam 09.00 hingga 10.00 WITA, nelayan berteriak, ‘Baleo…..baleo…’. Nelayan rame-rame mendayung perahu dan mulai berburu. Mereka berhasil menangkap lima ekor paus berbobot besar namun ada satu ekor sangat besar dibanding empat lainnya,” kata Boli Batafor lebih lanjut. 

    Foton Doug Clark

    Doktor Raja Dasion lahir di Lewoleba, Lembata, 5 April 1984. Lahir dari pasangan suami-isteri guru, Fransiskus Atakebelen Dasion dan Maria Bulu Batafor. Raja Dasion sekolah di Taman Kanak-kanak (TK) Ade Irma Suryani Nasution Lamalera, Wulandoni dan SD Inpres Labalimut (Boto), Kecamatan Nagawutun, SMP Sanctissima Trinitas Hokeng, Kabupaten Flores Timur dan SMA Seminari San Dominggo, Hokeng. Ia menyelesaikan studi S-1 di Fakultas Filsafat Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Kemudian S-2 bidang Sosiologi diraih dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Sejak 2016 menempuh studi S-3 bidang Sosiologi di Departemen Sosiologi Fisipol UGM.(*ben)